The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

buku ini mempelajari konsep dasar nyeri

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Indra Simanjuntak, 2020-08-04 23:00:01

Buku ajar nyeri 2017

buku ini mempelajari konsep dasar nyeri

Keywords: keperawatan

e. Alat biofeedback (electromyogram) dapat bermanfaat dengan
instruksi pada managemen stress dan relaksasi otot. Biofeedback
mungkin juga membantu pasien untuk mengendalikan aktifitas
otot, dan sekali mahir, dapat membantu melawan persepsi ke
putus-asa an yang seringkali berkaitan dengan kondisi nyeri
kronik berat.

f. Menilai dan mengobati faktor kognitif, kepercayaan dan
pengalaman nyeri sebelumnya.

g. Testing psikogenik sering dilakukan pada waktu masuk klinik.
Psikologis mengkaji hasil pemeriksaan, mencari kelainan faktor
psikologis, sikap pasien terhadap nyerinya, adanya kecemasan
atau depressi, kemampuan mengatasi, pengaruh lingkunagn pada
perilaku nyeri dan gangguan kepribadian atau psikopatologi
major yang mendasari.

h. Wawancara skrining untuk mendapatkan kedalaman informasi
dan memungkinkan psikologist untuk mengurai problem spesifik
yang harus diselesaikan. Psikoterapi individu atau kelompok
sering direkomendasikan sebagai dasar sesi skrining.

D. Keperawatan
Tenaga keperawatan harus mempunyai kualifikasi unik. Penting
kemampuan lemah lembut bila diperlukan, terutama bila berhadapan
dengan pasienkeadaan anger/denied. Perawat klinik nyeri harus mempunyai
pengetahuan tentang sumber daya yang tersedia di RS atau di masyarakat
dan terampil dalam mengenali dan managemen awal terhadap reaksi buruk
yang terjadi akibat pengobatan yang dilakukan di klinik.

TUGAS PERAWAT KLINIK NYERI
1. Pendataan pasien

a. Pengisian dan pengkajian kuesener nyeri
b. Pengisian testing psikologi
c. Mengumpulkan data tindak-lanjut
d. Mendapatkan anamnesis nyeri dari pasien dan keluarga
2. Edukasi pasien
a. Membicarakan prinsip pengendalian nyeri dengan pasien dan

keluarga
b. Memberikan bahan tertulis atau audiovisual
c. Memberikan instruksi untuk pengobatan dirumah.
3. Kolaborasi pengobatan di klinik
a. Membantu blok syaraf dan suntikan lain.

501 BUKU AJAR NYERI | INDONESIA PAIN SOCIETY

b. Pemantauan pasien sesudah prosedur; memulai tindakan
resusitasi

c. Melakukan beberapa modalitas pengobatan (TENS, biofeedback,
suntikan intramuskular, terapi dingin dan panas)

4. Menyiapkan alat dan obat yang diperlukan
5. Mengatur pelayanan diluar klinik

a. Perawatan dirumah
b. Alat-alat medik (e.g TENS, pompa injeksi, jarum dan spuit)
c. Pelayanan sosial dan vokasional

E. Tugas Perawat Manager Kasus
Disamping tugas keperawatan,perawat manager kasus bertugas:
1. Membuat daftar pengobatan harian
2. Mengatur transportasimenuju dan dari tempat pengobatan
3. Memberikan pengobatan pada pasien sudah dalam program
4. Membantu mengumpulkan data untuk program evaluasi dan penelitian
5. Mengamati perilaku dan kepatuhan pasien
6. Partisipasi pada rapat tim
7. Mengatur dan mengikuti visite tindak lanjut pasien.

F. Kantor Pelayanan Pendukung
1. Reseptionis
a. Jabatan penting dalam klinik, meliputi kontak personal dan tilpun
dengan pasien dan dokter terkait yang membutukan ketrampilan
interaksi personal dan pandai diplomasi.
b. Harus memahami benar kebijakan klinik yang berhubungan
dengan persiapan pasien dan rujukan. Mampu mengenali
rujukan yang tidak tepat dan menentukan apakah perlu menilpon
pasien oleh dokter. Mampu menjawab pertanyaan pasien
karena mempunyai pengetahuan yang luas. Jawaban ke pasien
mencerminkan penguasaan prinsip managemen nyeri mendasar.
c. Penetapan waktu pasien didaftar oleh reseptionis harus berdasar
skala prioritas.
2. Sekretaris
a. Sekretaris bertanggung-jawab memastikan catatan pasien tersedia
dan mutakhir.
b. Bila catatan dalam tulisan tangan, resume terapi yang terbaca
harus dibuat secara periodik.
c. Sekretaris harus memastikan bahwa dokter rujukan memberikan
pengobatan dan laporan kemajuan dibuat tepat waktu.
d. Sekretaris harus menyimpan data asuransi dan pembayaran
secara benar.

BUKU AJAR NYERI | INDONESIA PAIN SOCIETY 502

FASILITAS DIAGNOSTIK
Agar dapat berfungsi secara optimal, maka klinik nyeri membutuhkan
ruangan yang cukup untuk assessmen pasien dan peralatan yang layak
untuk terapi intervensi.
Ruangan untuk konferensi pengobatan pasien yang dapat dihadiri
multidisiplin dan pasien.
Ruang tindakan blok syaraf atau tindakan lain, termasuk obat yang
dibutuhkan,alat untuk blok intervensi, obat dan alat resusitasi (termasuk
alat monitor). Alat ini dapat bervariasi untuk tiap tipe klinik nyeri.

TEST DIAGNOSTIK PADA KLINIK NYERI
1. Monitor suhu kulit (thermistor permukaan, thermografi)
2. Kisaran gerakan sendi (goniometer)
3. Ambang dan toleransi nyeri (test tourniquet iskemik, test rendam air

es, rambut von Frey)
4. Testing kekuatan otot (dynamometer)
5. Testing sensoris (dingin, pinprick, diskriminasi posisi 2-titik, getaran)
6. Konduktifitas kulit, potensial kulit (refleks sympathogalvanic)
7. Tegangan otot (electromyogram permukaan)
8. Diagnostik blok syaraf

TEST DIAGNOSTIK DILUAR KLINIK NYERI

1. Radiografi polos
2. Myelografi
3. Tomografi computerized
4. MRI
5. Pemindaian tulang (termasuk 3-fase) dan tomografi (SPECT)

pemindaian tulang
6. EMG dan pemeriksaan konduksi syaraf
7. Potensial bangkitan sensoris dan motoris.

503 BUKU AJAR NYERI | INDONESIA PAIN SOCIETY

KEBERHASILAN PENGOBATAN
A. Variabel Hasil yang mempengaruhi keberhasilan program pengobatan
1. Karakteristik pasien
a. Pasien yang diobati melalui program multi-disiplin cenderung
berbeda dibanding dengan yang menjalani terapi konvensional
b. Karakteristik spesifik pasien yang berobat di klinik nyeri
multidisisplin adalah level pengobatan, gangguan fungsional
lebih besar, peningkatan pemakaian opioid, dan banyak yang
perlu intervensi bedah.
c. Pasien program multidisiplin nampak ada peningkatan resiko
kegagalan berbagai pengobatan.
2. Pengukuran hasil pengobatan sangat bervariasi diantara
klinik.

HASIL AKHIR PENGOBATAN
A. Beberapa variabel keberhasilan pengobatan:
1. Kembali ke pekerjaan semula
2. Penurunan pemakaian alat/fasilitas kesehatan
3. Peningkatan aktifitas fisik
4. Penurunan pemakaian opioid
5. Penyelesaian klaim kompensasi pekerja
6. Perbaikan peran fungsi dirumah
B. Analisis biaya untuk pengobatan nyeri akut/kronis
Biaya pengobatan pasien nyeri akut/kronis berkaitan dengan:
1. Perlunya kriteria multipel untuk menentukan besarnya biaya
2. Besarnya biaya pengobatan nyeri multidisiplin dibanding terapi
konvensional
3. Selisih besarnya santunan atas pasien setelah menjalani program
multidisiplin dibandingkan dengan terapi konvensional
4. Besarnya penurunan produktifitas pasien karena disabilitas karena
nyeri kronis

BUKU AJAR NYERI | INDONESIA PAIN SOCIETY 504

Daftar Pustaka

1. Lynch NT, Hegman KT. Organization of pain
management in the clinical and workplace settings.
In: Abram SE, ed. Atlas of Anesthesia, vol 6: Pain
Management. Philadelphia: Current Medicine.
1998:12.1-12.13.

2. William L. Johnson, Stephen E.Abram, and N.
Timothy Lynch. Pain Clinic Organization and
Staffing. In : Abram SE and Haddox J. David,
2nd ed. The Pain Clinic Manual. Philadelphia:
Lippincott Wlliams and Wilkins 2000

505 BUKU AJAR NYERI | INDONESIA PAIN SOCIETY


Click to View FlipBook Version