The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lindaast224, 2021-07-28 09:36:32

kls X_Bab 1 Teks LHO

kls X_Bab 1 Teks LHO

BAHASA
INDONESIAKERJA PESERTA

DIDIK

SMA NEGERI 1 KEDUNGREJA

RinTgEkKSaEsKaSPnLANBASAI B 1;
Teks Laporan Hasil Observasi

XA

Linda Astrini, S. Pd.

YAYASAN DARUSSALAM AL-FATTAH
SMK DARUSSALAM KARANGPUCUNG

2021

BAB 1
TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI (LHO)

Teks Laporan Hasil Observasi

adalah teks yang menghadirkan informasi tentang sesuatu seperti bidang pekerjaan, hasil
karya manusia, fenomena sosial, gejala alam, hewan, dan tumbuhan secara apa adanya
berdasarkan klasifikasi berjenjang antara kelas dan subkelas yang ada di dalamnya.

Karakteristik Isi Teks LHO:

1. Berisi fakta tentang suatu objek(tema) tunggal.
2. Informasi yang disajikan merupakan hasil observasi yang sudah terbukti

keberadaan/kebenarannya.
3. Tiap informasi disajikan secara urut dan berjenjang.
4. Tidak ada simpulan dari penulis.

Struktur Teks LHO:

1. Pernyataan umum
a. Definisi
Definisi adalah kalimat yang mengungkapkan rumusan tentang makna, keterangan
atau ciri utama suatu konsep, benda, proses atau aktivitas. Kalimat definisi sering
menggunakan verba relasional (penghubung) seperti: ialah, yaitu, adalah,
merupakan, termasuk, digolongkan, terdiri atas, meliputi, dan disebut.
b. Klasifikasi
Klasifikasi yaitu pernyataan yang memuat dasar klasifikasi dan jumlah
anggota/aspekdari objek yang dilaporkan.

2. Anggota/ Aspek yang dilaporkan
Atau Deskripsi bagian, berisi uraian singkat secara detail tentang bagian-bagian
atau anggota/aspek dari objek yang dilaporkan. Deskripsi bagian harus urut sesuai
dengan urutan dalam pernyataan klasifikasi. Selain itu, juga lengkap yaitu semua
jumlah anggota klasifikasi dijelaskan/diuraikan. Deskripsi masing-masing
anggota/ aspek dapat berupa deskripsi ciri/karakteristik, fisik, perilaku,
lingkungan, dan fungsi/manfaat. Tiap-tiap anggota/aspek itu dapat dirinci
subangggota/ subaspek yang lebih kecil lagi.

Kaidah Kebahasaan Teks LHO

Ciri-ciri kebahasaan teks LHO:
1. Menggunakan laras bahasa baku yang bermakna lugas/denotatif.
2. Diwarnai penggunaan kata-kata/istilah teknis.
3. Menggunakan verba relasional(penghubung) ialah, adalah, merupakan, termasuk,
digolongkan, terdiri atas, meliputi, atau disebut. Verba ini digunakan untuk
menyatakan definisi.
4. Menggunakan verba/frasa verba, misalnya hidup, berenang, makan, bertelur,
menyusui,memasuki, dapat mencapai, dsb.
5. Menggunakan nomina/frasa nomina yang bersifat umum, misalnya rumah adalah
bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal manusia.
Nomina/frasa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda,
konsep atau pengertian yang dapat diingkari dengan kata bukan, dapat diikuti kata
adjektiva, jugakata petunjuk itu, ini.
6. Menggunakan nomina/frasa nomina yang diikuti fakta penjenis dan/atau fakta
pendeskripsi.
Fakta penjenis berperan mengklasifikasikan suatu benda. Fakta penjenis itu tidak
dapat disisipi oleh kata lain. Contoh: Rumah merupakan suatu bangunan dengan
beberapa unsur pembentuknya.
Fakta pendeskripsi berperan mendeskripsikan sifat-sifat benda. Sifat-sifat itu antara
lain tentang ukuran, warna, rasa, atau sifat-sifat fisik lainnya. Contoh: Ruang tamu itu
luas. Diperluas menjadi: Ruang tamu itu sangat luas.

Ungkapan dan Peribahasa

a. Ungkapan
Adalah kelompok kata yang digunakan untuk mengungkapkan makna kiasan.
Ungkapansering disebut idiom.
Macam-macam ungkapan:
1. Ungkapan menggunakan nama binatang, contoh: Kambing hitam: orang yang
disalahkan.
2. Ungkapan bagian-bagian tumbuhan, contoh: Naik daun: mendapat nasib baik/naik
pangkat.

3. Ungkapan menggunakan penginderaan, contoh: Perang dingin: perang tanpa senjata,
hanya saling menggertak.

4. Ungkapan menggunakan kata bilangan, contoh: Mendua hati: ragu-ragu, mencintai
orang lain selain istri.

5. Ungkapan menggunakan bagian tubuh, contoh:Tinggi hati: sombong.
b. Peribahasa

Definisi peribahasa menurut arti kata adalah:
- Kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan

maknatertentu.
- Ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan,

nasihat,prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.
Bentuk-bentuk peribahasa adalah sbb.:
1. Pepatah, adalah jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang

tua. Contoh: Air tenang menghanyutkan. Artinya orang pendiam, tetapi
banyak ilmu.
2. Perumpamaan, adalah jenis peribahasa yang berisi perbandingan.
Contoh: Bagai pungguk merindukan bulan.Artinya cintanya tidak terbalaskan.
3. Pemeo, adalah jenis peribahasa yang dijadikan semboyan.
Contoh: Mati satu tumbuh seribu. Artinya selalu tumbuh generasi baru.

Identifikasi Gagasan Pokok Paragraf dan Menyusun Ringkasan (Intisari Teks)

Untuk menemukan ide pokok (gagasan pokok) dalam paragraf, kita perlu menemukan
kalimat utama paragraf. Letak kalimat utama paragraf itu bisa di awal, di tengah, di akhir
paragraf, atau terletak di awal dan akhir paragraf. Bahkan kalimat utama paragraf kadang-
kadangtidak kita temukan dalam satu kalimat saja karena ide utamanya menyebar di kalimat-
kalimat yang mendukung paragraf.
Secara singkat rumusan gagasan pokok paragraf adalah apa dan bagaimana.
Contoh:

Era globalisaasi membawa dampak ganda, di satu sisi membawa iklim yang semakin
terbuka untuk bekerja sama mengisi dan saling melengkapi demi kepentingan bersama pihak-
pihak yang bekerja sama. Di sisi lain, era ini juga sekaligus melahirkan situasi persaingan
yang semakin ketat dan semakin tajam. Era globalisasai menjanjikan masa depan yang
semakin cerah bagi negara yang secara sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi
proses globalisasi.
Paragraf di atas dapat ditemukan gagasan pokok sbb.:

- Era globalisasi membawa dampak ganda. (apa: era globalisasi, bagaimana:
membawadampak ganda)

- Era globalisasi membawa dampak positif dan negatif. (apa: era globalisasi,
bagaimana: membawa dampak positif dan negatif)

- Dampak ganda era globalisasi. (bagaimana: dampak ganda, apa: era globalisasi)

Nomina dan Verba

Jenis kata yang banyak digunakan dalam teks LHO adalah nomina dan verba, baik

berupa kata maupun frasa. Di dalam kegiatan berbahasa kata yang digunakan dapat berupa

kata dasar dan kata turunan (kata bentukan). Proses pengimbuhan (afiksasi) dapat mengubah

jenis kata. Misalnya, kata verba dapat berubah menjadi nomina atau sebaliknya kata nomina

berubahmenjadi kata verba.

Contoh:

Kata dasar Jenis kata Imbuhan Kata turunan Jenis kata

Lempar verba -an lemparan nomina

Makam nomina me-kan memakamkan verba

1. Nomina Turunan
Nomina turunan dapat dibentuk dengan imbuhan berikut ini.
a. Imbuhan –an, misalnya: lautan.
b. Imbuhan pe- (orang yang me-), misalnya: pengirim.
c. Imbuhan per-/pe- (orang yang ber-), misalnya: peternak.
d. konfiks peN-an (proses meN-/hal meN), misalnya penipuan.
e. Konfiks pe(r)-an (proses ber-/hal ber-), misalnya pekerjaan.
f. Konfiks ke-an, misalnya: kelautan.

2. Verba Turunan
Verba turunan dapat dibentuk dengan imbuhan berikut ini.
a. Imbuhan meN-, misalnya melembaga.
b. Imbuhan meN-kan, misalnya: memanjangkan.
c. Imbuhan meN-I, misalnya: menamai.
d. Imbuhan ber-, misalnya: berteman.
e. Imbuhan ber-kan, misalnya: berpedoman.
f. Imbuhan member-kan, misalnya: memberlakukan.
g. Imbuhan di-ter, misalnya: dijual/terjual.
h. Imbuhan di-i, ter-i, misalnya: disakiti/tersakiti.
i. Imbuhan per-/memper-, misalnya pertinggi/mempertinggi.
j. Imbuhan memper-kan/memper-I, misalnya: mempertahankan.

Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan pesan/gagasan secara
tepat,singkat, jelas, dan sesuai dengan kaidah, serta dapat dimengerti (dipahami pihak lain).
Ciri-ciri kalimat efektif adalah seagai berikut.

1. Jelas/lengkap unsur S-P-nya
Kalimat harus memunculkan subjek (S) dan predikat (P) secara jelas. Contoh:
Di sekolah mengadakan perpisahan.
Kalimat di atas, S didahului kata depan sehinga kalimat itu tidak bersubjek. Agar
menjadikalimat efektif kata di harus dihilangkan sehinga menjadi sbb.:
Sekolah mengadakan perpisahan.

2. Hemat penggunaan kata (tidak menimbulkan gejala pleonasme/kata mubazir)
Kata-kata berikut harus dipakai salah satu agar tidak terjadi gejala pleonasme/mubazir
a. Verba relasional: aadalah, merupakan, yaitu, yakni, ialah, disebut, bernama,
tergolong, menjadi, termasuk, dsb.
Contoh: adalah merupakan
Penggunaan kata tersebut harus memilih salah satu, adalah saja atau merupakan
saja,tidak boleh dipakai bersama-sama.

b. Makna pengulangan dan kata ulang tidak boleh dipakai bersama-sama, misalnya
parabapak-bapak.

c. Kata yang mempunyai makna sama tidak boleh dipakai bersama, misalnya
disebabkan karena.

d. Kata berwarna tidak boleh diikuti macam-macam warna.
Tuti memakai gaun berwarna kuning.
Cukup dikatakan Tuti memakai gaun kuning.

3. Paralel (jika bagian pertama verba me-, bagian kedua juga verba me-,dsb.)
Penggunaan kata berimbuhan dalam kalimat perlu diperhatikan agar paralel. Artinya,
jikabagian satu menggunakan verba aktif, bagian yang lain juga menggunakan verba
aktif. Contoh: Amir menerima surat itu, lalu dibuka sampulnya, kemudian
membacanya. Kalimat ini tidak menggunakan kata secara paralel, seharusnya
menerima, membuka,membaca.

4. Tepat penggunaan konjungsi dan preposisi
a. Kata penghubung jika, karena, sebab, tidak boleh dipergunakan secara bersama-
samadengan kata penghubung maka.
b. Kata depan daripada hanya untuk menyatakan perbandingan dan tidak boleh
dipakaiuntuk menyatakan milik.

c. Kata dari dipergunakan untuk menyatakan hal „sejak‟, „berdasarkan‟,
„arah‟,
„bahan/asal‟

5. Tidak menggunakan tafsiran ganda
Misalnya: Guru baru pergi ke ruang rapat.
Tidak jelas yang baru itu gurunya atau perginya. Agar jelas perlu dikatakan “Guru
yangbaru pergi ke ruang rapat.”

6. Menggunakan kata-kata baku
Misalnya: Anak itu duduk di belakang
sendiri. Seharusnya “Anak itu duduk di
paling belakang.”

Mengonstruksi Teks LHO

Mengonstruksi teks LHO dapat diartikan menyusun teks LHO. Untuk mengonstruksi
tekstersebut perlu memperhatikan struktur dan kebahasaan teks LHO.
Langkah-langkah mengonstruksi teks LHO:

1. Menentukan topik/objek yang akan dilaporkan.
2. Mempersiapkan hal-hal yang akan diamati.
3. Mengamati objek yang diobservasi.
4. Mencatat data yang diperlukan.
5. Mengembangkan pernyataan umum/ kategori/ klasifikasi menjadi paragraf klasifikasi.
6. Mengembangkan aspek yang akan dilaporkan berupa uraian subkelas menjadi

paragraf-paragraf aspek.
7. Menyusun penjabaran dari subkelas menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
8. Menyunting atau memperbaiki teks LHO.

Kalimat Simpleks (Tunggal) dan Kompleks (Majemuk)

Sebuah teks dibangun dengan kalimat-kalimat. Kalimat dapat dibentuk oleh satu
klausa, dapat pula oleh dua atau lebih klausa. Klausa adalah bagian kalimat yang memiliki
subjek dan predikat.

1. Kalimat Simpleks
Kalimat simpleks adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola. Satu

konstruksi S-P atau satu klausa, yang dapat diperluas dengan unsur tambahan,
yaitu O, Pel, dan/atau K.

Misal:
Nelayan menjual hasil tangkapan kepada tengkulak. (S-P-O-K)
2. Kalimat Kompleks

Kalimat kompleks adalah kalimat yang memiliki setidaknya dua pola kalimat
atau dua klausa. Hubungan antara klausa-klausanya dapat dinyatakan secara
eksplisit (menggunakan kata hubung), dapat pula implisit (tidak menggunakan
kata hubung).
Berdasarkan hubungan atau keudukan antarklausanya kalimat kompleks terdiri
atas kalimat kompleks setara, kalimat kompleks bertingkat, dan kalimat kompleks
campuran.
a. Kalimat Kompleks Setara

1) Setara penambahan/ gabungan/ penjumlahan. Konjungsi yang
digunakan,misalnya: dan, serta, juga, (baik…, maupun…)

2) Setara urutan. Konjungsi yang digunakan misalnya: lalu, kemudian,
selanjutnya, kedua.., ketiga…, keempat…

3) Setara pertentangan. Konjungsi yang digunakan, misalnya: namun,
sedangkan, padahal, sebaliknya, di lain pihak, (tidal/ bukan saja…,
tetapi/melainkan juga…)

4) Setara pilihan. Konjungsi yang digunakan, misalnya: atau.

b. Kalimat Kompleks Bertingkat

Kalimat kompleks bertingkat ialah kalimat kompleks yang klausa satu

lebih tinggi kedudukannya daripada klausa yang lain. Klausa yang lebih

tinggi kedudukannya disebut induk kalimat dan yang rendah kedudukannya

disebut anak kalimat.

Kalimat kompleks bertingkat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1) Menggabungkan induk kalimat dnegan anak kalimat, misalnya:

Jika Musim Tiba Penjualan jas hujan Akan

Hujan meningkat

Konjungsi S P S P

Anak kalimat Induk kalimat

2) Memperluas salah satu fungsi dari kalimat induk, misalnya:

Nourishing adalah jenis yang digunakan Untuk

minuman memberi

kan

kekuatan

badan

S P Pel konjungsi P K

Induk kalimat Anak kalimat

perluasan Pel

c. Kalimat Kompleks Campuran
Kalimat kompleks campuran ialah kalimat yang terdiri atas minimal

tiga pola kalimat, dan hubungan antarklausanya ada yang setara dan ada yang

bertingkat. Contoh:

Setelah diseduh lalu diminum stimulating dapat Semang

membangkitkan at tubuh

Konjungsi (S) P Konjungsi (S) P S PO

Klausa 1 Klausa 2 Klausa 3

Anak kalimat Induk kalimat

DAFTAR PUSTAKA

Maskurun, dkk. 2017. Bahasa Indonesia XA untuk SMK/MAK dan SMA/MA. Yogyakarta: LP2IP.


Click to View FlipBook Version