The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KARYA SRI DARTI, S.Pd.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2021-09-20 09:32:16

CENDRAWASIH

KARYA SRI DARTI, S.Pd.

Keywords: KUMPULAN PUISI,PUISI

Cerah Ceria

Pagi yang cerah ini
Mentari tampak bersinar terang

Menebarkan sejuta rasa
Semua menyambut dengan suka cita

Hari ini aku tampak bahagia
Penuh pesona

Walau semuanya hanya
maya belaka...

Terimakasih Tuhan
atas karunia-Mu
di pagi ini

42

Lukisan Awan

Langit berawan
sejauh mata memandang
Terhampar gumpalan putih
seperti kapas penghias birunya langit
sungguh serasi keindahan alam
diterpa cahaya redup dari sang surya
terlihat awan bergerak bergandengan
begitu indahnya kuingin menggapainya
kuingin awan-awan putih itu
ada dalam genggaman ku

43

Payung

Ketika hujan turun
Banyak orang mencarimu
Semua memerlukanmu
Karena ketika dibawah mu
air hujan tidak bisa membasahi
rambut kepala dan badanku

Saat panas menyengat
Orang juga membawamu
Untuk dipakai berlindung
ternyata ada sesuatu di balik benda ini
kegunaanmu tak lekang dimakan waktu

di semua musim

44

Kebebasan

Kepak sayap burung elang
Kala terbang tinggi

Menembus birunya awan
Terasa bebas lepas kemana kau terbang

Mencari kebebasan diri
Hidupku kini bagai burung elang
Kemana ku terbang tiada penghalang

Bebas tak ada yang melarang
Mencari kehidupan yang bahagia

45

Secercah Riang

Pagi yang cerah
Mentari bersinar penuh kehangatan

Menebarkan sejuta pesona
Semua menyambut gembira
Kini kugapai hidup penuh asa

Di balik kepenatan jiwa
Dengan sejuta liku-liku hidup

Kuberusaha untuk tetap
bertaqwa pada-Nya

46

Tuhan

Tuhan....
Aku hanya manusia biasa

tak luput dari dosa
Banyak khilaf dan salah yang kubuat

Kadang kumerasa hina
Tuhan....

Kuberharap dari ketidak berdayaanku
Mencari hidup yang lebih bermakna

Untuk menggapai asa

47

Deritaku

Inginnya aku...
Merasakan kesenangan

Saat bepergian
seperti teman-temanku
naik mobil, naik bis begitu bahagia

tapi bagiku...
itu sebuah penderitaan

betapa tidak...
begitu masuk mobil
kepala pusing seperti diputar

begitu masuk bis
perut mual seperti diaduk
itulah penderitaanku dan alasanku
kenapa aku tak suka naik mobil

48

Mana Puisinya

Ke tengok sana ku tengok sini
Ku cari kemana–mana
Ku cari diatas meja
Di bawah meja
Tidak ada
belum ketemu jua

Aku berusaha mengingatnya
Tapi dimana?

Apa aku lupa naruh
Mana puisinya?
Baru aku ingat

Ternyata puisi itu baru ada
dalam angan-anganku

49

Benderaku

Warnamu merah putih
Semerah darahku
Seputih tulangku
Kau berkibar
megah di udara

Berkibar gagah di puncak gunung tertinggi
Berkibar pula diantara terumbu karang nan cantik

Lambaian indah merah putihku
Laksana kobaran api semangat dalam jiwa

Tetap berkibarlah di udara
Agar tetap jaya pusaka negara

Karna sang penjagamu
akan selalu memandang

penuh hormat
penuh kebanggaan

50

Cita-citaku

Ku masih ingat
di kala aku kecil
Tak pernah terbersit dalam benak
akan cita citaku
Yang kutahu aku hanya rajin belajar
belajar dan belajar

Menuntut ilmu bersama kawan kawanku
Juga guru guruku yang menyayangiku
yang memperhatikanku
yang dengan sepenuh hati
memberi ilmu padaku

Aku juga masih ingat nasihat ayahku
Jadilah seorang guru

agar bapak dan ibu bangga padamu

Kujalani hari demi hari
semangatku menjadi guru semakin kuat

Dengan penuh harapan
aku kejar terus keinginan itu

hingga akhirnya
aku dapat menggapai cita citaku

51

Sampah

Bentukmu menjijikkan
Baumu sangat menyengat
Setiap hari kau semakin menumpuk
Banyak orang nyinyir padamu
Tapi jika kau dimanfaatkan

sungguh luar biasa
Menjadi pupuk organik

menjadi pupuk hijau

Jika kau didaur ulang
bisa menjadi bahan bahan
yang dibutuhkan manusia
Jadi kertas, kardus bahkan gayung

Kau jadi lebih berarti
Ketika tangan tangan pemulung
terampil memilih dan memilah dirimu

52

Putraku

Dulu kau kecil lucu
Ibu mengasihimu dan menyayangimu
Kau bertambah besar menjadi remaja
Ibu tetap menyayangimu dan mengasihimu

Semakin tumbuh dewasa
Tubuh kecilmu

kini tumbuh semakin gagah dan berwibawa
Ibu tetap menyayangimu dan mengasihimu
Putraku jadilah seorang yang dibanggakan

karena kehebatanmu
bukan kesombonganmu

53

Pesawat

Begitu besar dan megah
Bentukmu mirip seekor burung

yang sedang terbang
Terbang di udara dengan suara menderu
Bercengkerama dengan awan awan putih

Kadang dengan berani
engkau menerjang mendung
Bahkan bercanda dengan hujan dan angin

Di dalam badanmu
duduk dengan gagah
seorang pilot handal
membawamu melintas udara
Diatas gunung dan lautan
Lajumu begitu cepat
Kau antar penumpang
sampai tujuan dengan selamat

54

Sepasang Sandal

Sepasang alas kaki
Yang kupakai setiap hari
Tidak pernah mengeluh
Apalagi menjerit mengaduh

Jika kuberjalan
kau beriringan kanan kiri

saling bergantian

Sepasang sandal yang indah
Tetap saja berada di kaki seorang tuan

Sungguh amat berjasa
Karena sepasang kaki
pemiliknya tidak akan terluka

Sepasang sandal begitu berarti
melindungi dari panasnya jalan

dan tajamnya kerikil

55

Batik

Tangan tangan terampil
mulai mengukir

dengan canting diatas kain
Memainkan irama lukisan alam dan khas daerah

Dengan olahan warna yang menarik
Sungguh membanggakan
inilah batikku

Indonesiaku...
dihargai dan dikenal dunia karena batik

Kita boleh berbangga hati
Bangsa ini memiliki ciri unik nan cantik

Mari kita jaga batik
Sebagai warisan budaya dari leluhur
yang tak kan lekang dimakan waktu

56

Cenderawasih

Burung nan cantik
Indah bulu-bulunya
Membuat orang tak berkedip
tatkala melihatnya
Kau berada jauh di sana
Di hutan rimba Papua
Cenderawasih si burung surga
Sungguh indah sebutannya
Dengan kemolekan warnanya

Cenderawasih
Semakin cantik
saat mengepakkan sayapnya
terbang bebas
di angkasa raya
Keindahannya diburu manusia
keberadaannya semakin punah
karena ulah manusia yang serakah
Semoga cenderawasih yang indah
tetap terjaga dan terlindungi

57

Sahabatku

Aku dan dia
Bersahabat sejak kecil
Bermain kemanapun bersama
Berjalan beriringan menuju sekolah
Kuteringat kau paling suka memberiku gulali

Sahabatku...
Kini kita saling berjauhan
Untuk menatapmu mana mungkin
Kirim kabarpun juga tidak

Sahabatku
Dimana dirimu
Kadang terbayang wajahmu
yang kini entah kemana

Sahabatku
Candamu tak bisa terlupakan
Kebaikanmu terpatri di hati

Sahabatku
Kuberdoa selalu semoga kau sehat

dan dalam lindungan
Hyang Maha Kuasa

58

Sang Penari

Lentik jari jemarimu
Lemah gemulai gerakanmu
Lenggak lenggok tubuhmu
Mengikuti alunan musik gamelan
Seirama dengan gerakan kakimu
Membuat mata terpesona

tatkala memandangmu

Dialah sang penari
Wajah cantik penuh pesona
Kau persembahkan tarian
Tuk persembahan tamu kehormatan
Kau kenalkan pada manca negara
Kau lestarikan budaya sakral

Warisan leluhur
Kau pahlawan seni dan budaya

59

Doa untuk Negeri

Indahnya dataran negeri ini
Luasnya samudera biru

Terhampar hutan belantara
Inilah zamrud khatulistiwa
Tempat satwa berkembang

Flora tumbuh nan subur
Dengan pesona penduduk

ramah penuh senyum
Beraneka ragam budaya
Bersatu di bawah ikatan
Bhinneka Tunggal Ika

Janji suci memperkuat tekad
tuk bersatu

Tuhan berikanlah perlindungan
keselamatan
kedamaian
pada negeri ini

negeriku yang elok

60

Epilog

Alhamdulillah, akhirnya hasil karya puisiku dapat aku
selesaikan. Karena dorongan dan motivasi dari seorang
Rustantiningsih, S.Pd., M.Pd., seorang kepala Sekolah
Pendrikan Kidul yang pintar dan cerdas. Seorang penulis
hebat dan berhati bersih, yang menyemangati aku sehingga
kemampuanku dalam menulis muncul lagi dan mulai
terasah.
Selain itu, juga atas motivasi dan bantuan sahabatku,
temanku dan seniorku yang baik hati Dani Murti Asih,
S.Pd., untuk mewujudkan hasil karya ini. Karya sederhana
ini muncul sebagai sarana untuk memberi contoh kepada
teman–teman sejawat bahwa sebetulnya setiap orang itu
punya kemampuan asal kita ada kemauan yang ikhlas tuk
berkarya.
Maaf puisiku belum baik, masih banyak kekurangan tapi
setidaknya aku sudah berusaha untuk belajar dan berkarya,
keinginanku untuk menulis puisi dan dibukukan sebetulnya
sudah lama sejak aku melihat buku puisi hasil karya temanku
SPG yang waktu itu ditunjukkan di media sosial. Kini
keinginanku sudah bisa terwujud. Terima kasih. Semoga
bermanfaat!

Semarang, Maret 2020

61

BIODATA PENULIS

Sri Darti, lahir di Semarang 25
April 1965. Sekolah formalnya
dimulai dari SDN Boom Lama 02
Semarang (1979), SMP Yayasan
Pendidikan Ekonomi (1982),
SPGN Semarang (1985), D2
PGSD Unnes (2001), dan S1
PGSD UT Semarang (2007).
Memulai pengabdian di bidang
pendidikan sebagai guru di SD
Swasta PGRI Bandarharjo Semarang Utara (1985-1990),
SDN Boom Lama 03 Semarang Barat (1990-1997), SDN
Dadap Sari 01 Semarang Utara (1997-2003), dan diangkat
sebagai pegawai negeri sipil di SDN Pendrikan Kidul
Semarang Tengah (2003 s.d. sekarang).
Selain mengajar, Ibu yang hobi menulis dan memasak ini
juga aktif di kegiatan PGRI, PKK, dan Kelompok Pengajian
Nurul Hidayah. Menikah dengan sang suami Lilik Kusno
dikaruniai tiga buah hati yakni Indah Nurvita Santi, Erwin
Noor Ardiansyah, dan Mahda Nur Salatsah. Mereka tinggal
di Jalan Srinindito Timur IV no 19 B RT 04 RW 03
Ngemplak Simongan, Semarang, kode pos 50148.
“Belajar untuk Bisa Berkarya,” demikian motto hidupnya
yang mulai diabadikan dalam sebuah karya perdananya
Kumpulan Puisi “Cenderawasih” (elang).

62


Click to View FlipBook Version