Cerah Ceria
Pagi yang cerah ini
Mentari tampak bersinar terang
Menebarkan sejuta rasa
Semua menyambut dengan suka cita
Hari ini aku tampak bahagia
Penuh pesona
Walau semuanya hanya
maya belaka...
Terimakasih Tuhan
atas karunia-Mu
di pagi ini
42
Lukisan Awan
Langit berawan
sejauh mata memandang
Terhampar gumpalan putih
seperti kapas penghias birunya langit
sungguh serasi keindahan alam
diterpa cahaya redup dari sang surya
terlihat awan bergerak bergandengan
begitu indahnya kuingin menggapainya
kuingin awan-awan putih itu
ada dalam genggaman ku
43
Payung
Ketika hujan turun
Banyak orang mencarimu
Semua memerlukanmu
Karena ketika dibawah mu
air hujan tidak bisa membasahi
rambut kepala dan badanku
Saat panas menyengat
Orang juga membawamu
Untuk dipakai berlindung
ternyata ada sesuatu di balik benda ini
kegunaanmu tak lekang dimakan waktu
di semua musim
44
Kebebasan
Kepak sayap burung elang
Kala terbang tinggi
Menembus birunya awan
Terasa bebas lepas kemana kau terbang
Mencari kebebasan diri
Hidupku kini bagai burung elang
Kemana ku terbang tiada penghalang
Bebas tak ada yang melarang
Mencari kehidupan yang bahagia
45
Secercah Riang
Pagi yang cerah
Mentari bersinar penuh kehangatan
Menebarkan sejuta pesona
Semua menyambut gembira
Kini kugapai hidup penuh asa
Di balik kepenatan jiwa
Dengan sejuta liku-liku hidup
Kuberusaha untuk tetap
bertaqwa pada-Nya
46
Tuhan
Tuhan....
Aku hanya manusia biasa
tak luput dari dosa
Banyak khilaf dan salah yang kubuat
Kadang kumerasa hina
Tuhan....
Kuberharap dari ketidak berdayaanku
Mencari hidup yang lebih bermakna
Untuk menggapai asa
47
Deritaku
Inginnya aku...
Merasakan kesenangan
Saat bepergian
seperti teman-temanku
naik mobil, naik bis begitu bahagia
tapi bagiku...
itu sebuah penderitaan
betapa tidak...
begitu masuk mobil
kepala pusing seperti diputar
begitu masuk bis
perut mual seperti diaduk
itulah penderitaanku dan alasanku
kenapa aku tak suka naik mobil
48
Mana Puisinya
Ke tengok sana ku tengok sini
Ku cari kemana–mana
Ku cari diatas meja
Di bawah meja
Tidak ada
belum ketemu jua
Aku berusaha mengingatnya
Tapi dimana?
Apa aku lupa naruh
Mana puisinya?
Baru aku ingat
Ternyata puisi itu baru ada
dalam angan-anganku
49
Benderaku
Warnamu merah putih
Semerah darahku
Seputih tulangku
Kau berkibar
megah di udara
Berkibar gagah di puncak gunung tertinggi
Berkibar pula diantara terumbu karang nan cantik
Lambaian indah merah putihku
Laksana kobaran api semangat dalam jiwa
Tetap berkibarlah di udara
Agar tetap jaya pusaka negara
Karna sang penjagamu
akan selalu memandang
penuh hormat
penuh kebanggaan
50
Cita-citaku
Ku masih ingat
di kala aku kecil
Tak pernah terbersit dalam benak
akan cita citaku
Yang kutahu aku hanya rajin belajar
belajar dan belajar
Menuntut ilmu bersama kawan kawanku
Juga guru guruku yang menyayangiku
yang memperhatikanku
yang dengan sepenuh hati
memberi ilmu padaku
Aku juga masih ingat nasihat ayahku
Jadilah seorang guru
agar bapak dan ibu bangga padamu
Kujalani hari demi hari
semangatku menjadi guru semakin kuat
Dengan penuh harapan
aku kejar terus keinginan itu
hingga akhirnya
aku dapat menggapai cita citaku
51
Sampah
Bentukmu menjijikkan
Baumu sangat menyengat
Setiap hari kau semakin menumpuk
Banyak orang nyinyir padamu
Tapi jika kau dimanfaatkan
sungguh luar biasa
Menjadi pupuk organik
menjadi pupuk hijau
Jika kau didaur ulang
bisa menjadi bahan bahan
yang dibutuhkan manusia
Jadi kertas, kardus bahkan gayung
Kau jadi lebih berarti
Ketika tangan tangan pemulung
terampil memilih dan memilah dirimu
52
Putraku
Dulu kau kecil lucu
Ibu mengasihimu dan menyayangimu
Kau bertambah besar menjadi remaja
Ibu tetap menyayangimu dan mengasihimu
Semakin tumbuh dewasa
Tubuh kecilmu
kini tumbuh semakin gagah dan berwibawa
Ibu tetap menyayangimu dan mengasihimu
Putraku jadilah seorang yang dibanggakan
karena kehebatanmu
bukan kesombonganmu
53
Pesawat
Begitu besar dan megah
Bentukmu mirip seekor burung
yang sedang terbang
Terbang di udara dengan suara menderu
Bercengkerama dengan awan awan putih
Kadang dengan berani
engkau menerjang mendung
Bahkan bercanda dengan hujan dan angin
Di dalam badanmu
duduk dengan gagah
seorang pilot handal
membawamu melintas udara
Diatas gunung dan lautan
Lajumu begitu cepat
Kau antar penumpang
sampai tujuan dengan selamat
54
Sepasang Sandal
Sepasang alas kaki
Yang kupakai setiap hari
Tidak pernah mengeluh
Apalagi menjerit mengaduh
Jika kuberjalan
kau beriringan kanan kiri
saling bergantian
Sepasang sandal yang indah
Tetap saja berada di kaki seorang tuan
Sungguh amat berjasa
Karena sepasang kaki
pemiliknya tidak akan terluka
Sepasang sandal begitu berarti
melindungi dari panasnya jalan
dan tajamnya kerikil
55
Batik
Tangan tangan terampil
mulai mengukir
dengan canting diatas kain
Memainkan irama lukisan alam dan khas daerah
Dengan olahan warna yang menarik
Sungguh membanggakan
inilah batikku
Indonesiaku...
dihargai dan dikenal dunia karena batik
Kita boleh berbangga hati
Bangsa ini memiliki ciri unik nan cantik
Mari kita jaga batik
Sebagai warisan budaya dari leluhur
yang tak kan lekang dimakan waktu
56
Cenderawasih
Burung nan cantik
Indah bulu-bulunya
Membuat orang tak berkedip
tatkala melihatnya
Kau berada jauh di sana
Di hutan rimba Papua
Cenderawasih si burung surga
Sungguh indah sebutannya
Dengan kemolekan warnanya
Cenderawasih
Semakin cantik
saat mengepakkan sayapnya
terbang bebas
di angkasa raya
Keindahannya diburu manusia
keberadaannya semakin punah
karena ulah manusia yang serakah
Semoga cenderawasih yang indah
tetap terjaga dan terlindungi
57
Sahabatku
Aku dan dia
Bersahabat sejak kecil
Bermain kemanapun bersama
Berjalan beriringan menuju sekolah
Kuteringat kau paling suka memberiku gulali
Sahabatku...
Kini kita saling berjauhan
Untuk menatapmu mana mungkin
Kirim kabarpun juga tidak
Sahabatku
Dimana dirimu
Kadang terbayang wajahmu
yang kini entah kemana
Sahabatku
Candamu tak bisa terlupakan
Kebaikanmu terpatri di hati
Sahabatku
Kuberdoa selalu semoga kau sehat
dan dalam lindungan
Hyang Maha Kuasa
58
Sang Penari
Lentik jari jemarimu
Lemah gemulai gerakanmu
Lenggak lenggok tubuhmu
Mengikuti alunan musik gamelan
Seirama dengan gerakan kakimu
Membuat mata terpesona
tatkala memandangmu
Dialah sang penari
Wajah cantik penuh pesona
Kau persembahkan tarian
Tuk persembahan tamu kehormatan
Kau kenalkan pada manca negara
Kau lestarikan budaya sakral
Warisan leluhur
Kau pahlawan seni dan budaya
59
Doa untuk Negeri
Indahnya dataran negeri ini
Luasnya samudera biru
Terhampar hutan belantara
Inilah zamrud khatulistiwa
Tempat satwa berkembang
Flora tumbuh nan subur
Dengan pesona penduduk
ramah penuh senyum
Beraneka ragam budaya
Bersatu di bawah ikatan
Bhinneka Tunggal Ika
Janji suci memperkuat tekad
tuk bersatu
Tuhan berikanlah perlindungan
keselamatan
kedamaian
pada negeri ini
negeriku yang elok
60
Epilog
Alhamdulillah, akhirnya hasil karya puisiku dapat aku
selesaikan. Karena dorongan dan motivasi dari seorang
Rustantiningsih, S.Pd., M.Pd., seorang kepala Sekolah
Pendrikan Kidul yang pintar dan cerdas. Seorang penulis
hebat dan berhati bersih, yang menyemangati aku sehingga
kemampuanku dalam menulis muncul lagi dan mulai
terasah.
Selain itu, juga atas motivasi dan bantuan sahabatku,
temanku dan seniorku yang baik hati Dani Murti Asih,
S.Pd., untuk mewujudkan hasil karya ini. Karya sederhana
ini muncul sebagai sarana untuk memberi contoh kepada
teman–teman sejawat bahwa sebetulnya setiap orang itu
punya kemampuan asal kita ada kemauan yang ikhlas tuk
berkarya.
Maaf puisiku belum baik, masih banyak kekurangan tapi
setidaknya aku sudah berusaha untuk belajar dan berkarya,
keinginanku untuk menulis puisi dan dibukukan sebetulnya
sudah lama sejak aku melihat buku puisi hasil karya temanku
SPG yang waktu itu ditunjukkan di media sosial. Kini
keinginanku sudah bisa terwujud. Terima kasih. Semoga
bermanfaat!
Semarang, Maret 2020
61
BIODATA PENULIS
Sri Darti, lahir di Semarang 25
April 1965. Sekolah formalnya
dimulai dari SDN Boom Lama 02
Semarang (1979), SMP Yayasan
Pendidikan Ekonomi (1982),
SPGN Semarang (1985), D2
PGSD Unnes (2001), dan S1
PGSD UT Semarang (2007).
Memulai pengabdian di bidang
pendidikan sebagai guru di SD
Swasta PGRI Bandarharjo Semarang Utara (1985-1990),
SDN Boom Lama 03 Semarang Barat (1990-1997), SDN
Dadap Sari 01 Semarang Utara (1997-2003), dan diangkat
sebagai pegawai negeri sipil di SDN Pendrikan Kidul
Semarang Tengah (2003 s.d. sekarang).
Selain mengajar, Ibu yang hobi menulis dan memasak ini
juga aktif di kegiatan PGRI, PKK, dan Kelompok Pengajian
Nurul Hidayah. Menikah dengan sang suami Lilik Kusno
dikaruniai tiga buah hati yakni Indah Nurvita Santi, Erwin
Noor Ardiansyah, dan Mahda Nur Salatsah. Mereka tinggal
di Jalan Srinindito Timur IV no 19 B RT 04 RW 03
Ngemplak Simongan, Semarang, kode pos 50148.
“Belajar untuk Bisa Berkarya,” demikian motto hidupnya
yang mulai diabadikan dalam sebuah karya perdananya
Kumpulan Puisi “Cenderawasih” (elang).
62