1Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
iEksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Indonesia saat ini sebagai negara yang maju dan negara yang
berkembang, maka lahirlah museum-museum. Museum tidak hanya
sebagai tempat untuk menyimpan koleksi-koleksi tetapi juga sebagai
ruang publik, pengetahuan dan ruang pendidikan. Pendidikan di
Museum merupakan disiplin ilmu permuseuman, (museology) yang
membahas cara menyampaikan informasi tentang koleksi museum
kepada pengunjung untuk memenuhi kebutuhannya yang unik, untuk
itu masyarakat mulai menyenangi museum bahkan merasa perlu akan
keberadaan museum.
Museum Provinsi Kalimantan Barat memiliki ribuan koleksi, satu
diantaranya adalah koleksi Paruu Tambe (Miniatur Koleksi Paruu
Tambe). Ketika Berbicara tentang Paruu Tambe maka yang terlintas
adalah sebuah perahu yang merupakan sarana transportasi sungai.
Pada Tahun 2020, UPT. Museum Provinsi Kalimantan Barat
melakukan Kajian tentang Paruu Tambe suku Dayak Taman Kabupaten
Kapuas Hulu. Ruang lingkup materi dalam kajian ini membahas
tentang Asal Usul Paruu Tambe, Pembuatan Paruu Tambe, Fungsi
Paruu Tambe, Motif, serta Visual Paruu Tambe dari masa ke masa.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya tim kajian
UPT. Museum Provinsi Kalimantan Barat telah rampung
menyelesaikan penulisan buku tentang Paruu Tambe yang diberi judul
“Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu”.
Semoga pesona Paruu Tambe sebagai alat transportasi sungai yang
penuh dengan rangkaian adat selalu melekat dan terjaga agar sebuah
tradisi tetap lestari.
Akhir kata, besar harapan kami semoga buku ini dapat
mengedukasi dan memberi manfaat bagi pembaca.
Kepala UPT. Museum
Provinsi Kalimantan Barat
Hj. Kusmindari Triwati, S.Sn., M.Sn
Pembina
NIP. 19640718 198403 2 007
iiEksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Diterbitkan oleh :
UPT. Museum Provinsi Kalimantan Barat
Penangung Jawab :
Kepala UPT. Museum Provinsi Kalimantan Barat
Peneliti & Penyusun :
Tuti Istini
Nurbaiti, S.Pd
Pembantu Peneliti :
Chaidir, S.Pd
Editor
Hj. Kusmindari, Triwati., S.Sn., M. Sn
Dokumentasi
Dessy Setiati, S.IP
Dian Firmansyah
Tata Letak & Desain Grafis
Chaidir, S.Pd
Narasumber
S. Malung
Yohanes Santuk
Pulo
Eugene Yohanes
Drs. S. Massardy Kaphat
Engelbertus Aprilio Nandung
iiiEksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
i Seuntai Kata
Daftar Isi iv
Latar Belakang 1
A. Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu
B. Asal Usul Paruu Tambe Suku Dayak Taman
Kabupaten Kapuas Hulu 3
Pesona Paruu Tambe
A. Bagaimana Orang Dahulu Membuat Paruu Tambe 17
B. Fungsi Paruu Tambe Suku Dayak Taman 25
Eksistensi Paruu Tambe
A. Motif & Warna Paruu Tambe Suku dayak Taman 37
B. Paruu Tambe dari Masa ke Masa
43
Penutup 50
Simpulan
Daftar Pustaka 52
Lampiran 53
Proses Penelitian 56
Biodata Narasumber
ivEksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
vEksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai"
karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau ini. Pulau Kalimantan
juga memiliki sungai terpanjang di Indonesia yaitu sungai Kapuas yang
terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini menghubungkan
daerah satu ke daerah lain, dari pesisir kota Pontianak Kalimantan
Barat sampai ke daerah pedalaman kota Putussibau di hulu sungai
Kapuas.
Putussibau adalah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat, Indonesia. Putussibau, yang sekaligus sebagai ibu
kota Kabupaten Kapuas Hulu, dapat ditempuh lewat transportasi
Sungai Kapuas. Kota ini terletak di hulu Sungai Kapuas yang memiliki
panjang 1,143 kilometer. Sebelum dipecah Putussibau hanya ada satu
kecamatan, kemudian dipecah menjadi kecamatan Kedamin, terjadi
perkembangan dipecah menjadi Putussibau Selatan dan Putussibau
Utara.
Sub Suku Dayak Taman adalah satu diantara suku Dayak yang
mendiami atau berdomisili di dua kecamatan ini. Dalam Kabupaten
Kapuas Hulu suku Dayak Taman terdapat 21 Sub Suku Dayak, yaitu
suku Dayak Kantuk, Suku Dayak Swarik, Suku Dayak Seberuang,
Suku Dayak Kalis, Suku Dayak Laut, Suku Dayak Sulung, Suku Dayak
Mentebang, Suku Dayak Tamammbaloh, Suku Dayak Ensiat, Suku
Dayak Mayant, Suku Dayak Sekapang, Suku Dayak Desa, Suku Dayak
1Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Punan, Suku Dayak Pukat, Suku Dayak Taman, Suku Dayak Kayant,
Suku Dayak Rambai, Suku Dayak Sebaloh, Suku Dayak Iban, Suku
Dayak Urun Daan, dan Suku Dayak Senganan (Orang Dayak yang
masuk Islam), Suku Koeng, dan Suku Punan.
Subsuku dayak Taman atau seringkali juga dikenal dengan istilah
orang Taman adalah satu diantara subsuku Dayak yang bermukiman di
hulu Sungai Kapuas. Dayak Taman berdasarkan sejarahnya dari sejak
dulu kala telah memiliki struktur, adat istiadat, nilai, norma, religi,
hukum adat, seni dan budaya yang telah tertata dengan baik, sehingga
wajar saja masyarakat Dayak Taman sejak dulu disebut Turi oleh suku
etnis lain. Turi artinya Tuari atau mentuari yang berarti manusia yang
pola hidupnya telah teratata, terpola dengan suatu tradisi dan budaya
khas (Rami, 2019).
2Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Suku Dayak Taman memiliki keragaman budaya yang
sampai saat ini masih dipertahankan, seperti menganyam manik,
tikar, membuat Mandau, dan tradisi kesenian seperti menari,
bersyair/ menyombang, dan lain sebagainya. Satu diantara
potensi yang mendukung lestarinya budaya pada suku ini ialah
penggunaan Paruu Tambe sebagai media transportasi.
Paruu Tambe merupakan kendaraan berupa perahu yang
dihiasi dengan berbagai jenis bendera bermotif dan berbagai
jenis dedaunan yang dibentuk indah sebagai hiasan perahu.
Perahu dalam Bahasa daerah Dayak Taman itu sendiri disebut
Paruu yang berarti perahu dan Tambe yang berarti bendera.
Dalam bahasa Indonesia Paruu Tambe/ Perahu Tambe disebut
dengan sampan berhias. Jika tidak ada tambe tidak bisa disebut
paruu tambe tapi disebut perahu alat, yang membedakannya
adalah tambenya, dan orang-orang bisa mengenal dari mana
paruu tersebut dengan melihat tambenya saja. Perahu ini dikenal
pertama kali oleh Masyarakat kadolangan (orang taman/ suku
taman), khususnya di daerah Taman Kapuas dan Taman Sibau.
Asal usul paruu tambe sudah ada semenjak orang suku
dayak Taman ada. Saat ini belum ditemukan secara tertulis
siapa yang pertama kali menciptakan dan siapa yang
memberikan istilah paruu tambe itu. Namun, menurut beberapa
3Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Kepala Adat suku Dayak Taman saat ini, bahwa paruu tambe
memang benar-benar berawal dari leluhur suku Dayak Taman
dan saat ini juga belum ditemukan suku dayak lain yang
menggunakan sampan hias ini selain suku Dayak Taman.
Paruu Tambe ini selain di daerah Kapuas Hulu, dapat
juga dilihat didaerah Melawi, Sintang (Bukit Kelam) dan Sibau,
karena perahu ini ada keberadaanya dimana Suku Dayak Taman
berdomisili dengan jumlah yang banyak, karena sifat Paruu
Tambe ini dibuat dengan kegotong-royongan, bukan bersifat
individual. Pada saat acara gawai mereka menggunakan Paruu
Tambe ini, dari sinilih Paruu Tambe mulai dikenal masyarakat
luas. Orang Taman bukan hanya di Kalimantan Barat, di daerah
Serawak juga ada terutama di Sungai Baleh, namun disana
mereka sudah dikatakan Iban dan sudah bertahun-tahun tinggal
menetap tetapi mereka masih mengakui asal Kapuas. Budaya
paruu tambe ada disana, hanya saja tidak seperti di Indonesia,
disana sudah, mulai berkurang karena sudah era moderenisasi.
Dulunya Paruu Tambe ini dibuat dengan perahu buong
dari sebatang kayu panjang 30 m, dihiasi dengan pernak pernik
tambe yang masih sangat sederhana, dan masih menggunakan
sistem dayung. Jumlah pendayung pada Paruu Tambe bisa 10
orang atau lebih, para pendayung ini adalah para pemuda. Ada
juru kemudi, sekitar tahun 1938 Paruu tambe ini digunakan
sebagai alat transportasi untuk berperang.
4Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Paruu Tambe tahun 1938 (Koleksi Yohanes)
5Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Nandung, 2020 Dok. Museum
Paruu Tambe tahun 1981 koleksi Kaphat
Paruu Tambe dihiasi dengan bendera, bendera disini yang
artinya tambe, bentuknya persegi panjang dan berekor dengan
panjang bendera kurang lebih 2-3 meter dan lebar 50-60 cm
selain itu diberi motif dayak, seperti motif naga atau motif jung
(dewa pelindung) dengan warna bendera yang biasa digunakan
hitam, merah, hijau. Tambe merupakan aksesoris adat yang
paling menonjol dan dominan, tambe ini melambangkan
kejantanan, keperkasaan dan kegagahan perahu tambe dapat
terlihat saat paruu tambe bergerak kesungai, maka tambe ini
berkibar-kibar, disinilah tampak kemeriahan.
6Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Tambe dengan motif naga koleksi Kaphat
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Contoh tambe koleksi Kaphat
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Kemudian ada bendera adat yang berwarna merah kuning,
merah putih, merah hijau, namun banyak digunakan perpaduan
merah dan kuning, orang Taman menyebutnya papanji, panjang
papanji 1 meter dan lebar 50 cm. Pada bagian pangkalnya ada
tiang bendera dibuat seribu warna-warni (putih merah, hitam,
hijau) warna putih melambangkan sipemilik atau si pembuat
7Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
punya hati yang bersih, merah artinya berjiwa berani dan
bersemangat tinggi, kuning artinya lahir dari keturunan baik,
hijau melambangkan subur dan makmur sedangkan hitam
melambangkan kematian, karena suatu saat semua orang akan
mati. Ada juga bendera merah putih sebagai bendera
kemerdekaan.
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Contoh papanji koleksi Kaphat
Aksesoris/ hiasan Paruu Tambe lainnya yaitu penggunaan
panggar. Panggar merupakan kayu yang diukir dan diberi motif,
ukuran panggar minimal 3 cm lebar 40 cm, Panjang 6 cm,
disebut panggar karena disepanjang permukaan papan diberi
surat atau ukiran-ukiran sebagai aksesoris utama panggar
dibagian bawah perahu tambe. Panggar ini ditempel untuk
mengelilingi bagian depan, kiri kanan perahu, dimana bagian
8Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
depan perahu dibuat seperti panggung, fungsi panggar itu
sendiri selain sebagai aksesoris juga digunakan sebagai
penghalang air supaya tidak masuk. Panggar itu tidak hanya
dibuat dari kayu, tetapi ada juga namanya panggar kain.
Panggar kain ini mengelilingi badan perahu pada sisi bagian
kanan dan kiri. Panggar kain ini juga di beri motif untuk warna
kain yang biasa digunakan yaitu warna merah dan warna kuning
dan hitam.
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Contoh panggar kain yang ditutupi daun enau , serta bagian bawah
perahu yang di hiasi dengan panggar kayu bermotif
Sumber: Koleksi UPT. Museum Kalimantan Barat
Panggar Kayu
9Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Koleksi UPT. Museum Prov Kalbar
Contoh Panggar Kayu bagian depan Panggung
Aksesoris lainnya adalah Aramban, yaitu seperti janur
bahannya dari daun kelapa muda untuk di daerah kota sedangkan
jika di daerah Kapuas Hulu mengggunakan daun muda dari
pohon enau atau pohon aren, karena sifat dari daun muda ini lebih
tahan lama dibanding dengan daun kelapa muda. Ukuran lebih
Panjang, cukup dibelah dua, digantung disekeliling paruu tambe.
Daun enau ini melambangkan keemasan, kejayaan dan
kegembiraan dalam menyambut tamu atau mengikuti pesta adat.
Dung ribu-ribu atau daun ribu-ribu merupakan aksesoris
yang juga harus ada di paruu tambe. Daun ribu-ribu ini
merupakan jenis tumbuhan tanaman liar yang tumbuh
memanjang dan daunnya halus-halus dan banyak, tumbuh
didaratan yang lebih tinggi atau rawa-rawa. Dipasangkan pada
tonggak-tonggak yang sudah disiapkan dibagian depan paruu
tambe, makna dari daun ribu-ribu inilah adalah walaupun kita
10Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
ramai berada di dalam paruu tambe dan berada dalam gawai yang
sama kita semua tetap satu dalam ikatan keluarga, sehingga tetap
rukun, semua punya tujuan yang sama dalam satu keluarga dan
persaudaraan.
Ada Ginggilang dan Giggirik sebagai aksesoris yang
terbuat dari kayu tertentu yaitu kayu pelaik atau kayu gabus
dibuat tipis dan dipotong sesuai ukuran dan diwarna. Ginggilang
untuk hiasan tengah paruu tambe Ginggilang dibuat gantung
dengan benang. Giggirik dibuat baling-baling dipasang dibagian
atas paling depan paruu tambe dan gakgaris diambil bambu
mudanya untuk dibuat bunga-bunga. Ginggilang dan giggirik jika
ditiup angin akan berkelip kelip dan berputar sehingga menambah
semarak paruu tambe.
Aksesoris selanjutnya yaitu kain tenda yang dipasang diatas
disekeliling paruu tambe. Kain yang biasa digunakan berwarna
merah, kain ini dipasang bukan untuk tempat berlindung dan
aksesoris saja, tetapi melambangkan kebersamaan paruu tambe
yang digunakan dalam pesta adat yang agung mulia dan dihadiri
dan dilaksanakan oleh tamu-tamu agung dan lainnya.
11Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Kain
Tenda
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Penggunaan kain tenda
Tabuh-tabuhan berupa alat musik galentang, gerantung,
babandi, gong/ tawak, gendang 2 buah serta bedil atau badil
merupakan aksesoris tambahan sebagai penyemarak dan pelengkap
dari paruu tambe. Tabuh-tabuhan ini dimainkan oleh pemusik
dengan jumlahnya kurang lebih 5 orang, kemudian badil atau bedil
digunakan sebagai simbol kedatangan. Setelah menempuh
perjalanan dengan paruu tambe dan sudah mendekati tempat
tujuannya maka paruu tambe akan berhenti, para rombongan turun,
mandi bersih-bersih, setelah semua rombongan siap maka badil
tersebut dibunyikan atau ditembakkan melambangkan tanda
kehormatan dan menghormati para tamu siap datang dan
menghadiri acara.
12Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Bedil/Badil koleksi Kaphat
Sekitar tahun 1970-an penggerak perahu dari dayung
beralih menggunakan speed. Paruu Tambe ini digunakan oleh
suku Dayak Taman sebagai kendaraan air untuk membawa tamu
undangan atau rombongan pada serangkaian acara kegiatan
tertentu. Adapun beberapa kegiatan yang menggunakan Paruu
Tambe seperti acara pernikahan suku Dayak Taman, gawai,
buang pantang dan kematian.
Jumlah perahu yang digunakan juga tergantung kebutuhan,
bisa satu perahu 2 bahkan 3 perahu, tergantung untuk keperluan
apa Paruu Tambe tersebut dibuat dan juga tergantung dari
kesanggupan yang membuat gawai. Paruu Tambe ini dibuat,
siapa yang punya gawai atau yang punya hajat yang membiayai
Paruu Tambe ini, namun pembuatannya dengan sistem gotong
13Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
royong masyarakat Dayak Taman, mereka saling membantu
dalam proses pembuatnnya.
Jika Paruu Tambe ini dibuat untuk keperluan pernikahan
adat atau gawai, biasa menggunakan 2 perahu kayu yang di
sejajarkan atau digabungkan. Untuk ukuran perahunya 20 depak
atau kurang lebih 30 m panjangnya, dan untuk lebarnya tidak
ditentukan. Hiasan pada Paruu Tambe ini terdiri dari 8 - 9
bendera/tambe sesuai dengan ukuran panjang perahu.
Penyusunan bendera/tambe dengan jumlah 8 buah terdiri dari,
untuk bagian depan 2 bendera/ tambe, belakang 3 bendera/tambe,
tengah 2 bendera/tambe (kiri-kanan), dengan Panjang galah 4
meter. Sedangkan untuk bendera/tambe yang jumlahnya 9 buah
dapat disusun dengan 3 buah untuk bagian depan, 3 buah bagian
tengah dan 3 buah bagian belakang, kemudian untuk bagian
paling depan sekali diberi umbul-umbul dan bendera merah putih,
Panjang galah untuk papanji kurang lebih 2 meter. Penggunaan
bendera dengan warna kuning dan merah dikarenakan zaman
dahulu untuk mendapatkan kain itu sangat susah, untuk
mendapatkannya masyarakat harus ke Malaysia dulu untuk
membeli bahannya, sehingga alternative penggunaan warna
menggunakan warna yang mudah didapat.
14Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Contoh Tambe (Bendera/Bandera) yang berkibar
Selain bendera/ tambe juga dihiasi dengan papanji berwarna
merah kuning dengan jumlah tergantung panjang perahu, biasa
digunakan 30 buah atau lebih dengan posisi 15 buah disebelah
kanan dan 15 buah disebelah kiri. Papanji di susun atau di
tancapkan diantara tambe.
Contoh papanji yang berjejer di atas tambe
Kemewahan bentuk, ukuran besar atau kecil, serta
hiasan pada Paruu Tambe semuanya menyesuiakan kebutuhan
untuk kegiatan apa perahu tersebut di gunakan serta juga
kesanggupan dari punya gawai.
15Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
16Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Kemewahan bentuk, ukuran besar atau kecil, serta hiasan
pada Paruu Tambe semuanya menyesuaikan kebutuhan serta
juga kesanggupan dari punya gawai. Awal mula Paruu Tambe
dibuat secara sederhana semakin berkembangannya zaman
maka semakin bervariasi pula. Paruu Tambe tidak hanya dibuat
dalam bentuk perahu tapi juga dibuat dalam replica kendaraan
yang lain juga seperti mobil yang dibentuk seperti perahu serta
dihiasi layaknya paruu tambe yang dihias, tetapi itu semua tidak
terlepas dari atau menyesuaikan keperluan serta tidak
menghilangkan estetika atau bentuk asli dari Paruu Tambe itu
sendiri atau perahu hias.
Orang-orang zaman dahulu, memiliki daya cipta dan
kreasi yang sangat luar biasa, mereka menciptakan sesuatu
menggunakan bahan yang ada disekitar mereka, seperti
membuat paruu tambe. Bahan-bahan yang disiapkan sebagai
berikut:
1. Perahu Kayu 2 buah
2. Bambu
3. Akar bararan/ rotan
4. Kayu Pulang
Aksesoris yang disiapkan sebagai berikut :
1. Papanji
2. Tambe
17Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
3. Panggar (kayu bermotif)
4. Panggar kain (kain bermotif)
5. Dung (daun) ribu-ribu
6. Dung (daun enau)/ daun tuak
7. Giggirik
8. Ginggilang
9. Kain tenda
10. Badil
Perlengkapan tambahan lainnya yaitu tabuhan-tabuhan
berupa alat musik gerantung, gong/tawak, babandi, dan
galentang dan gendang 2 buah.
Langkah awal adalah menggandengkan 2 perahu, perahu
yang digunakan berbahan kayu penyauk(pongo) sebagai
landasan bawah, untuk bagian samping menggunakan kayu
berbahan kayu meranti (rop merah), kemudian di gandeng 2
menggunakan kayu lempong (kayu pulang) sebagai strukturnya/
kerangka jumlah menyesuaikan semakin panjang perahu
semakin banyak digunakan kayu pulang. Kayu pulang di rakit
secara silang (X) dan tegak lurus (horizontal), untuk bagian
yang tegak lurus memiliki ketinggian kurang lebih 1 meter.
18Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Chaidir Dok. Musuem 2020
Sketsa perahu yang digandeng
2 perahu
yang
digandeng
Kayu pulang X Kayu pulang tegak
lurus
Dok. Pribadi Kaphat, 1981
(Museum, 2020)
19Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Setelah itu siapkan bambu panjang yang sudah dibelah
dua dan sudah di lubangkan kemudian di baringkan diletakkan
di bagian atas dan bawah setelah kayu pulang. Bambu
digunakan sebagai wadah untuk tempat menancapkan papanji
dan bendera(tambe) agar berdiri tegak.
Selain itu bambu biasa juga digunakan untuk membuat
bagian depan atau panggung tetapi untuk zaman sekarang
bambu sudah diganti dengan papan, panggung ini dijadikan
sebagai tempat menari dan tamu. Panjang panggung 2,5-3 m,
lebar menyesuaikan. Pada bagian depan panggung dibuat
lengkungan menggunakan bambu kemudian dililit dengan daun
ribu-ribu.
Contoh daun ribu-ribu
20Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
(Dok.Pribadi sampulodigital : 2015)
Posisi bambu yang Bambu yang sudah
sudah di tancapkan dibentuk dan dililit daun
bendera ribu-ribu
Panggung Perahu
21Eksotika Paruu TamTbaemSubkueDayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Pada bagian badan perahu yang sudah di beri kayu
pulang, dihiasi dengan daun enau dan panggar kain atau
panggar kayu bermotif jung atau naga disisi bagian depan dan
kiri kanan badan perahu. Untuk bagian atas perahu boleh
ditutup dengan kain berwarna merah.
Dok. Pribadi Kaphat : 1997 Panggar
(Museum, 2020) Kayu
Daun Enau
Panjang perahu yang biasa digunakan kurang lebih 10-
15 meter, lebar 70 cm- 120 cm. Semakin panjang perahu maka
makin banyak bendera/ tambe yang di tancapkan. Tambe di
tancapkan diantara Papanji, dengan jarak tiap papanji 1-1,5
meter, kemudian pada bagian depan perahu ditancapkan
bendera merah putih, selain itu pada bagian depan dibuat
giggirik (kipas baling-baling) dengan posisi diikat didepan
sebagai hiasan dan dibagian dalam perahu dibuat hiasan
Ginggilang berupa gantungan-gantungan bermotif bentuk petak,
bulat, diwarna, diikat dengan tali rapia dan digantung
sepanjangan interior di dalam Paruu Tambe yaitu di tengah
posisi atas disusun lurus memanjang.
22Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Chaidir, Dok. Museum 2020
Sketsa paruu tambe
23Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
1
4 9
2
8
5
7
36
Dok. Pribadi sampulodigital : 2015
Ket : 1. Bendera/bandera (Bendera Panjang berekor) disebut
tambe
2. Papanji (bendera merak kuning)
3. Panggar Kayu
4. Panggar Kain
5. Dung/ Daun Ribu-ribu
6. Dung/ Daun Enau
7. Giggirik
8. Ginggilang
9. Kain Tenda
24Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Fungsi memiliki kedudukan, tugas, dan kepentingan
tertentu. Setiap sesuatu yang dibuat akan memiliki nilai fungsi bagi
kehidupan. Seperti halnya Paruu tambe, pada masa permulaannya
Paruu Tambe ada saat adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat adat,
seperti Gawai, perkawinan, orang mati, buang pantang dan
membawa tamu agung.
1. Gawai / Gawa
Gawa berarti pesta besar, pesta adat yang sebesar-besarnya
untuk menghormati dan membalas budi para leluhur dari
keluarga yang menyelenggarakan. Gawa biasanya dihubungkan
dengan membalas niat. Tujuannya untuk membalas kebaikan
arwah orang tua yang telah meninggal. Arwah-arwah ini perlu
diberi makan, dihormati dan dimuliakan disamping untuk
mewujudkan terimakasih kepada Jubata.
Gawa diikuti oleh seluruh masyarakat dalam lingkungan
satu desa. Besar kecil penyelenggara gawa berkaitan erat
dengan martabat seseorang (keluarga). Dalam Gawa biasanya
diadakan upacara memandung, yaitu memburu hewan korban
dengan tombak atau memotongnya . Memandung itu untuk para
leluhur dan dagingnya untuk lauk-pauk dan dibagikan kepada
tetangga. Selain memandung juga dilakukan mulambu yaitu
membersihkan kuburan para leluhur.
25Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Ada beberapa klasifikasi Gawai yang dilaksanakan oleh
suku Dayak Taman yang menggunakan Paruu Tambe yaitu ada
Gawai Sederhana dan Gawai Raa (gawai besar).
A. Gawai sederhana ada 5 gawai :
1. Mamasiso, merupakan gawai pemberkatan atau
menghormati rumah Panjang, gawai mamasiso ini
bersifat gawai Bersama. Para tamu dari desa lain
diundang, dan mereka datang menggunakan paruu
tambe.
2. Mulambu, merupakan gawai membuat rumah ulambu
(kuburan), gawai ini sifatnya gawai pribadi. Paruu
Tambe disini digunakan untuk mengantarkan peralatan
untuk membuat rumah ulambu.
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Mulambu koleksi Kaphat
3. Manumpang Kulu yaitu menempatkan tengkorak
manusia di atas pelais dari kayu belian.
26Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
4. Mamandu, menyediakan hewan seperti sapi, kerbau,
kambing sebagai korban persembahan.
5. Sisi lobang pandung, dalam perkawinan, dalam
pandung yang boleh menombak binatang adalah
keluarga pihak laki-laki dari mempelai.
B. Gawai Raa (lembak lalo), merupakan gawai yang
bersifat pribadi. Gawai ini gawai besar untuk
menghormati para leluhur dengan membersihkan
kuburan dan mengantarkan peralatan makanan yang
diisi dengan kue-kue tradisional seperti apam, dodol,
babak, kelepon, sansagon (sagon), jarate (cengkarok),
gambang goyang, dan doman (emping pulut). Kue-kue
tersebut diletakkan dikuburan dengan menggunakan
bambu yang dibuat bentuk keranjang.
Pada masyarakat suku Dayak Taman dikenal juga
dengan istilah Dibalasi, dan Menjului. Menjului yaitu contohnya
jika ada seseorang yang punya gawai kemudian yang punya
gawai menyiapkan korban (kerbau), dan mengundang tamu dari
desa lain. Tamu yang diundang datang menggunakan paruu
tambe, Paruu Tambenya dibuat oleh tamu yang datang bukan
dari yang punya gawai.
Begitu juga dengan dibalasi merupakan kebalikannya
orang yang dibalasi yang membuat tambe nya untuk datang ke
acara gawainya. Sistem ini akan selalu berputar, dimana jika
sudah menjului harus membalasi, jika yang menjului atau
membalasi sudah meninggal maka penerus berikutnya (anak,
cucu) nya tetap harus menjului/membalasi.
27Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Penggunaan Paruu Tambe untuk acara gawai dan
perkawinan di dalam perahu, akan diiringi musik dan tari-tarian
untuk menghibur tamu rombongan, sampai di pinggir sungai
(dampean) dan akan disambut juga dengan tari-tarian, begitu
juga saat gawai mengundang tamu dari desa lain, maka akan
disambut dengan bedil, dan musik tradisi gerantung, tawak,
babandi, dan galintang, dengan tabuhan tabak anyut-anyut untuk
irama santai dan pelan, sedangkan jika sudah mendekat akan
ditabuhi dengan tempo pukulan gendang yang semakin naik,
sehingga orang yang menyambut dan menerima kita ikut
bersemangat, dan akan diberi pukulan kangkuang yang terbuat
dari kayu penyauk, pukulan ini menandakan tamu sudah datang.
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Gawai tahun 1997
28Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Iringan Musik (Gawai tahun 1997)
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Gawai bai (kakek) daili di Semangkok tahun 1997, koleksi Kaphat
29Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Rombongan disambut dengan tarian (Gawai baii Daili Semangkok 1997)
(Dok. Pribadi, Kaphat : 1997)
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Gawai Bai Toa membalas ke bai Jangan di Sayut, 1981 koleksi Kaphat
30Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Gawai Mimber Kulambu Sauwe, 1997 koleksi Kaphat
2. Perkawinan
Perkawinan pada suku Dayak merupakan suatu ikatan
suci bertemunya dua insan untuk membina rumah tangga. Pada
acara pernikahan adat dimana peran dari Paruu Tambe ini
adalah membawa calon pengantin pria dan keluarganya
melewati sungai untuk sampai ke persinggahan atau biasa
dikenal dampean. Sorak kegembiran terlihat saat calon
mempelai pria mulai sampai, tabuhan musik pun semakin riuh,
setibanya ditempat persinggahan disambut dengan tarian-tarian
serta ritual adat lainnya dan juga keberangkatan maupun
kedatangan pengantin yang menggunkan paruu tambe diawali
dengan dentuman bedil (sejenis Meriam).
31Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Untuk acara perkawinan tidak diharuskan menggunakan
paruu tambe, bagi yang mampu saja dipersilahkan. Penggunaan
Paruu Tambe untuk perkawinan hanya dilakukan di Sungai,
apabila di darat menggunakan kendaraan darat yang dihiasi
seperti paruu tambe. Paruu Tambe untuk pernikahan dihiasi
selengkap mungkin, biasa ada dibuat tamparak. Tamparak ini
tempat khusus tempatnya lebih tinggi (dibuat seperti level atas
atau tingkat atas), tamparak ini dibuat berdasarkan kesanggupan
dan kemauan saja. Tamparak ini dibuat untuk tempat duduk
pengantin pria atau pun tamu terhormat.
Pada acara pernikahan Pengantin pria pulang ke tempat
perempuannya, maka pengantin pria ini diantar dengan paruu
tambe, jika pengantin perempuan dibawa ketempat pengantin
pria juga dijemput dengan paruu tambe, itu tanda menghormati
satu sama lain. Di bagian depan perahu dibuat Mandau atau
tombak atau kujur kata orang Taman, itu merupakan pertanda
pengantin pria diantar ke tempat pengantin perempuan.
Tamu atau rombongan pengantin yang diantar
menggunakan Paruu Tambe jika sudah akan sampai di
dermaga/dampean/ tepian, maka ada tetua wanita yang akan
menyambut, disambut dengan tarian dan Manyombang/
manimang. Manyombang ini artinya mendoakan atau berdoa
untuk orang yang akan menikah, dan orang yang membawa atau
datang sehat walafiat sampai tujuan.
32Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Pengantin Pria di arak menggunakan Paruu Tambe menuju ketempat
pengantin wanita
(Dok. Pribadi, Yessica : 2020)
3. Buang Pantang
Buang Pantang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk
membuang kesedihan setelah ditinggal oleh orang tua, serta
untuk menghilangkan penyakit. Pada zaman dahulu buang
pantang menggunakan kepala orang, kini membuang pantang
dikenal dengan istilah mamuar dan menyepa umpang.
- Mamuar adalah upacara yang dilakukan di air, dimana para
perempuan menyambut kedatangan Paruu Tambe di
dampean (tempat pemberhentian) dan melakukan upacara
adat membuang air mata kesedihan. Adat ini harus
dilakukan karena apabila tidak dilakukan maka kesedihan
tersebut akan terus berlanjut. Setelah dilakukan adat
mamuar di air selanjutnya dilakukan upacara adat Menyepa
umpang.
33Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
- Menyepa umpang merupakan adat yang dilakukan di darat
yaitu memotong kayu sampai putus yang menandakan gawai
buang pantang selesai dilaksanakan.
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Menyepa Umpang (Memototong kayu sampai putus)
4. Mengantar Orang Mati
Paruu Tambe yang digunakan untuk mengantar orang mati ke
tempat kuburan, dihias secara sederhana. Menggunakan 1
perahu dan hanya menggunakan beberapa bendera dan papanji
saja, dihiasi juga dengan daun enau serta diiringi dengan
tabuhan musik. Tambe dan papanji tersebut ditinggal di
kuburan.
34Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, 2020 Dok. Museum
Paruu Tambe untuk mengantar jenazah koleksi Kaphat
35Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
36Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
1. Motif
Menurut pendapat Sopandi Achmad (1997:59) motif
Dayak di Kalimantan Barat, pada penciptaan idenya tidak lepas
dari lingkungan alam sekitarnya seperti sumber ide manusia,
tumbuh-tumbuhan dan binatang. Motif yang dihasilkan oleh
masing-masing suku dayak berbeda satu sama lain, hal ini
disebabkan adat dan budaya yang berbeda sehingga
mempengaruhi dasar pemikiran dan proses penciptaan sebuah
Motif.
Suku-suku dayak berhubungan erat dengan kehidupan
alam (hutan) sehingga beberapa motif yang dihasilkan berkaitan
dengan binatang dan tumbuhan. Pada Paruu Tambe motif-
motif yang biasa digunakan adalah motif naga dan motif jung.
a. Motif Naga
Sistem kepercayaan atau agama bagi kelompok etnik Dayak
tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya dan
kehidupan sosial ekonomi mereka sehari-hari. Dalam
sistem Kepercayaan nenek moyang dalam masyarakat
Dayak mengenal hubungan antara manusia dengan Tuhan,
manusia dengan manusia, manusia dengan roh nenek
moyang, dan manusia dengan alam beserta isinya.
Motif naga ini melambangkan Tuhan tertinggi yang satu
sebagai penguasa dunia. Selain itu lambang naga ini juga
37Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
merupakan perwujudan dari kekuasaan atau kekuatan.
Motif ini dihadirkan sebagai wujud dan representasi
keperkasaan dan kewibawaan.
Motif Naga Pada Panggar Kayu Paruu tambe
Sumber: Rumah betang Lunsa, 2020 Dok. Museum
Motif Naga yang ada di Rumah Betang Lunsa Hilir
38Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
b. Motif Jung
Menurut Bapak Malung motif pada suku Dayak Taman
lebih dominan dengan lingkungan sekitar dan binatang. Pada
suku dayak Taman motif Jung’ yang merupakan roh-roh leluhur
pada suku dayak Taman, biasanya motif ini digunakan pada
busana adat untuk laki-laki dan juga hanya digunakan pada
acara kematian. Motif Jungi ini juga dikenal dengan motif
Dewa Pelindung.
Sumber: Malung, 2020 Dok. Museum
Motif Jung
c. Surat Panggar
Surat panggar dalam bahasa Indonesia berarti gambar
pagar. Motif ini merupakan perlambangan atau simbol dari
39Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
gotong royong dan persatuan antar masyarakat adat Dayak
Taman, biasanya digambarkan berupa objek atau makhluk yang
saling bersambung secara horizontal. Hal ini merupakan
gambaran kehidupan masyarakat adat Dayak Taman yang
memiliki paham musyawarah dan kesetaraan dalam
berpendapat atau dalam masa modern dikenal dengan istilah
demokrasi. Surat panggar biasa diaplikasikan pada benda atau
tempat kegiatan adat masyarakat Dayak Taman.
Sumber : Uriang 2018
Surat Panggar
2. Warna
Warna yang digunakan pada Bendera Paruu Tambe
Dayak Taman adalah warna-warna yang memilki makna simbol
dari sebuah siklus kehidupan manusia. Warna-warna pada suku
Dayak Taman sangat diyakini masyarakat Dayak Taman
sebagai suatu simbol kehidupan dan melambangkan suatu hal
yang mereka percaya berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Warna dalam suku Dayak Taman mempunyai pelafalan
tersendiri yaitu: Merah (Dadara’); Hijau (Ma’mata’); Kuning
(Tantamuan); Hitam (Nan Nanarum) (Rami, 2019).
Merah (Dadara’) warna merah pada suku Dayak
Taman diyakini sebagai lambang suatu keberanian dalam
kehidupan yang beranjak remaja dimana akan bisa memilih hal
40Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
baik dan buruk yang dipilih dalam hidup. Warna merah juga
menyimbolkan rasa semangat keberanian bagi penggunanya
(Tiara Anggraini, 2016:66).
Hijau (Ma’mata’) Menurut (Tiara Anggraini 2016:67)
warna hijau pada suku Dayak disimbolkan sebagai alam,
dimana masyarakat suku Dayak dominan sangat dekat dengan
alam. Warna hijau pada suku Dayak Taman menyimbolkan
suatu wujud syukur dari kehidupan yang dilalui hingga
mencapai suatu kemakmuran dan juga wujud syukur terhadap
alam sekitar (Rami, 2019). Dari pernyataan diatas warna hijau
pada suku Dayak menyimbolkan alam sekitar dan menjadi
simbol wujud syukur dari kehidupan dalam mencapai
kemakmuran serta wujud syukur terhadap alam bagi masyarakat
suku Dayak Taman.
Kuning (Tantamuan) Warna kuning disebut sebagai
bumi karena menyimbolkan suatu penghormatan kepada leluhur
yang menjaga lingkungan sekitar mereka (Tiara Anggraini,
2016:67). Warna kuning pada suku Dayak Taman disimbolkan
sebagai kemuliaan dan bermakna untuk menghargai seisi bumi
dan mengormati roh halus yang diyakini ada. Warna kuning
juga disimbolkan sebagai kemuliaan manusia kepada Tuhan
(jubata) yang telah menciptakan seisi bumi dan kehidupan di
bumi.
Hitam (Nan nanarum) Warna hitam merupakan simbol
alam gaib, hal ini sesuai dengan kepercayaan suku Dayak yang
lainnya yang meyakini bahwa adanya dunia gaib di sekitar
mereka (Tiara Anggraini, 2016:67). Warna hitam pada suku
Dayak Taman menyimbolkan suatu kematian. Warna hitam
41Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
dimaknai sebagai suatu kematian karena diyakini bahwa warna
hitam akhir dari semua siklus kehidupan di dunia (Rami, 2019).
Warna kuning pada bendera menunjukan keagungan
Sang Pencipta sebagai wujud ucapan syukur. Sedangkan warna
merah melambangkan semangat hidup dalam menghadapi
berbagai tantangan di masa depan.
42Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, Dok. Museum 2020
Paruu Tambe Tahun 1981
Sumber: Kaphat, Dok. Museum 2020
Paruu Tambe tampak dari belakang 1981
43Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |
Sumber: Kaphat, Dok. Museum 2020
Paruu Tambe1997 koleksi Kaphat
Sumber: Kaphat, Dok. Museum 2020
Paruu Tambe 1997
44Eksotika Paruu Tambe Suku Dayak Taman Kabupaten Kapuas Hulu |