The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Kamaruddin Gobin, 2024-04-30 03:07:09

Sejarah Cendikiawan Muslim

Sejarah Cendikiawan Muslim

251 dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda, ia telah hafal Al-Qur'an. Kemampuan beliau dalam menuntut ilmu mulai terlihat pada usia 17 tahun. Dan usia 19, ia telah memberi fatwa dalam masalah masalah keagamaan. Ibnu Taymiyyah amat menguasai ilmu rijalul hadits (perawi hadits) yang berguna dalam menelusuri Hadits dari periwayat atau pembawanya dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Ia memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah atau dalil, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir atau ahli tafsir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filusuf . Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul. Karya-karya beliau yang terkenal adalah Majmu' Fatawa yang berisi masalah fatwa fatwa dalam agama Islam Wafatnya Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya Ibnul Qayyim. Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur dihadiri para pejabat pemerintah, ulama, tentara serta para penduduk. Beliau wafat pada tanggal 20 DzulHijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Pujian Ulama Terhadap Beliau Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya AlKawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: ―Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh AlMizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid AnNas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.


252 Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: ―Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu‘alaihi wa sallam serta lebih ittiba‘ dibandingkan beliau.‖ Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: ―Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: ―Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.‖ Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: ―Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?‖ Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: ―Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..‖ Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya. Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‗Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: ―Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya‖. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Ia tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Ia mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.‖ Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: ―Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu,


253 zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma‘ruf, nahi mungkar, dan banyaknya bukubuku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh. Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: ―Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta‘dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: ―Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist. Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau. 47. Ismail bin Katsir Ismail bin Katsir (Bahasa Arab : ليعامسإ ىب ريثك ( adalah seorang pemikir dan ulama Muslim. Namanya lebih dikenal sebagai Ibnu Katsir, ia lahir pada tahun 1301 di Busra, Suriah dan wafat pada tahun 1372 di Damaskus, Suriah. Tercatat, guru pertamanya adalah Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama penganut mazhab Syafi'i. Ia berguru kepada Ibnu Taymiyyah di Damaskus, Suriah dan kepada Ibnu al-Qayyim. Ibnu Katsir menulis tafsir Qur'an yang terkenal yang bernama Tafsir ibnu Katsir. Hingga kini, tafsir ini merupakan yang paling sering digunakan dalam dunia Islam. Ia mendapat arahan dari ahli hadis terkemuka di Suriah, Jamaluddin alMizzi, yang di kemudian hari menjadi mertuanya. Tak tanggung-tanggung, ia pun sempat mendengar langsung hadis dari ulama-ulama Hejaz serta memperoleh ijazah dari Al-Wani. Tidak hanya sebagai guru, ia pun banyak menulis kitab ilmu hadis. Di antaranya yang terkenal adalah : 1. Jami al-Masanid wa as-Sunan (Kitab Penghimpun Musnad dan Sunan) sebanyak delapan jilid, berisi nama-nama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis;


254 2. Al-Kutub as-Sittah (Kitab-kitab Hadis yang Enam) yakni suatu karya hadis; 3. At-Takmilah fi Mar'ifat as-Sigat wa ad-Dhua'fa wa al-Mujahal (Pelengkap dalam Mengetahui Perawi-perawi yang Dipercaya, Lemah dan Kurang Dikenal); 4. Al-Mukhtasar (Ringkasan) merupakan ringkasan dari Muqaddimmah-nya Ibn Salah; dan 5. Adillah at-Tanbih li Ulum al-Hadits (Buku tentang ilmu hadis) atau lebih dikenal dengan nama Al-Ba'its al-Hadits. Tahun 1366 diangkatlah Ibnu Katsir menjadi guru besar oleh Gubernur Mankali Bugha di Masjid Ummayah Damaskus. Ia memiliki metode sendiri dalam bidang ini, yakni tafsir yang paling benar adalah ; tafsir Alquran dengan Alquran sendiri; bila penafsiran Alquran dengan Alquran tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW--menurut Alquran sendiri, Nabi memang diperintahkan untuk menerangkan isi Alquran; jika yang kedua tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya Alquran; jika yang ketiga juga tidak didapatkan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil. Salah satu karyanya yang terkenal dalam ilmu tafsir adalah yang berjudul : 1. Tafsir Alquran al-Karim sebanyak 10 jilid. Kitab ini masih menjadi bahan rujukan sampai sekarang karena pengaruhnya yang begitu besar dalam bidang keagamaan. Di samping itu, ia juga menulis buku 2. Fada'il Alquran (Keutamaan Alquran), berisi ringkasan sejarah Alquran. Bidang ilmu sejarah juga dikuasainya. Beberapa karya Ibn Katsir dalam ilmu sejarah ini antara lain : 1. Al-Bidayah wa an Nihayah (Permulaan adn Akhir) sebanyak 14 jilid, 2. Al-Fusul fi Sirah ar-Rasul (Uraian Mengenai Sejarah Rasul), dan 3. Tabaqat asy-Syafi'iyah (Peringkat-peringkat Ulama Mazhab Syafii). Kitab sejarahnya yang dianggap paling penting dan terkenal adalah judul yang pertama. Ada dua bagian besar sejarah yang tertuang menurut buku tersebut, yakni sejarah kuno yang menuturkan mulai dari riwayat penciptaan hingga masa kenabian Rasulullah SAW dan sejarah Islam mulai dari periode dakwah Nabi ke


255 Makkah hingga pertengahan abad ke-8 H. Kejadian yang berlangsung setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian tersebut. Tercatat, kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan sumber primer terutama untuk sejarah Dinasti Mamluk di Mesir. Dan karenanya kitab ini seringkali dijadikan bahan rujukan dalam penulisan sejarah Islam. Sementara dalam ilmu fikih, tak ada yang meragukan keahliannya. Bahkan, oleh para penguasa, ia kerap dimintakan pendapat menyangkut persoalan-persoalan tata pemerintahan dan kemasyarakat yang terjadi kala itu. Misalnya saja saat pengesahan keputusan tentang pemberantasan korupsi tahun 1358 serta upaya rekonsiliasi setelah perang saudara atau peristiwa Pemberontakan Baydamur (1361) dan dalam menyerukan jihad (1368-1369). Selain itu, beliau menulis buku terkait bidang fikih didasarkan pada Alquran dan hadis. Ulama ini meninggal dunia tidak lama setelah ia menyusun kitab Al-Ijtihad fi Talab al-Jihad (Ijtihad Dalam Mencari Jihad) dan dikebumikan di samping makam gurunya, Ibnu Taimiyah. Karya Tafsir ibnu Katsir Al Bidayah wa-Nihayah atau Tarikh ibnu Katsir) 48. Jamal-al-Din Afghani Jamāl-al-dīn Asadābādī.


256 Sayyid Muhammad bin Safdar al-Husayn (1838 - 1897) [1](Persia: دیس iagabes lanekid aynmumu ,(ی ٍ ٌس ح فدر ص ي ب هحودSayyid Jamal-Al-Din AlAfghani, (Persia: دیس لامج ىیدلا يىاغفالا (atau Al-Jamal Asadābādī-Din (Persia: لامج ىیدلا یدابآدسا ,(lahir di desa Asadābād dekat Hamadān, Iran [2] terdapat sumber lain mengatakan bahwa Asadabadi sebenarnya lahir di Asadabad, daerah provinsi Kunar di Afganistan, [3][4] merupakan aktivis politik, nasionalis Islam, pencetus, perintis Islamisme dan Pan Islamisme pernah bertempat tinggal di Afganistan, Indonesia, Iran, Mesir, dan Kesultanan Ottoman pada abad ke-19. adalah salah satu pencetus Pan Islamisme, [5] [6] digambarkan sebagai pribadi yang "lebih memperjuangkan kaum muslim terhadap dominasi politik Barat dibandingkan masalah teologi ." banyak menulis dalam majalah al-'Urwat alWuthqa Al-Jamal Asadābādī-Din berusaha memecah tembok eksklusif kaum Muslimin dan membawa mereka memasuki dunia lebih terbuka. Afghani tetap optimis meskipun menghadapi realitas adanya kemajemukan bangsa, budaya dan agama. Baginya agama itu sendiri, khususnya agama rumpun Semitik - Yahudi, Kristen dan Islam - bukan menjadikan faktor perpecahan. Menurutnya perpecahan hanya terjadi bila dieksploitasi oleh kepentingan-kepentingan semata, orang yang berkepentingan. menurut Jamal al-Din perpecahan di kalangan penganut agama lebih banyak dicetuskan oleh para pedagang agama, Merekalah yang menimbulkan isu perselisihan dan memperniagakannya di warung agama masingmasing untuk mengambil keuntungan peribadi. 49. Umar Khayyām Umar Khayyam


257 'Umar Khayyām (18 Mei 1048 – 4 Desember 1131, dalam bahasa Persia يام خ عمر ,(dilahirkan di Nishapur, Iran. Nama aslinya adalah Ghiyātsuddin Abulfatah 'Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri (ثايغ ىيدلا وبا حثفلا عمر bahasa ٍ ًشاب ىري). māyyahK itrareb" taubmep adnet "malad خ يامب ي اب راھ ٍن Persia. Sang matematikawan Pada masa hidupnya, ia terkenal sebagai seorang matematikawan dan astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia. Pada 15 Maret 1079, Sultan Jalaluddin Maliksyah Saljuqi (1072-1092) memberlakukan kalender yang telah diperbaiki Umar, seperti yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada tahun 46 SM dengan koreksi terhadap Sosigenes, dan yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada Februari 1552 dengan kalender yang telah diperbaiki Aloysius Lilius (meskipun Britania Raya baru beralih dari Kalender Julian kepada kalender Gregorian pada 1751, dan Rusia baru melakukannya pada 1918). Dia pun terkenal karena menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran. Sang astronom Pada 1073, Malik-Syah, penguasa Isfahan, mengundang Khayyām untuk membangun dan bekerja pada sebuah observatorium, bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan terkemuka lainnya. Akhirnya, Khayyām dengan sangat akurat (mengoreksi hingga enam desimal di belakang koma) mengukur panjang satu tahun sebagai 365,24219858156 hari. Ia terkenal di dunia Persia dan Islam karena observasi astronominya. Ia pernah membuat sebuah peta bintang (yang kini lenyap) di angkasa. Umar Khayyām dan Islam Filsafat Umar Khayyām agak berbeda dengan dogma-dogma umum Islam. Tidak jelas apakah ia percaya akan kehadiran Allah atau tidak, namun ia menolak pemahaman bahwa setiap kejadian dan fenomena adalah akibat dari campur tangan ilahi. Ia pun tidak percaya akan Hari Kiamat atau ganjaran serta hukuman setelah kematian. Sebaliknya, ia mendukung pandangan bahwa hukum-hukum alam menjelaskan semua fenomena dari kehidupan yang teramati. Para pejabat keagamaan berulang kali meminta dia menjelaskan pandangan-pandangannya


258 yang berbeda tentang Islam. Khayyām akhirnya naik haji ke Mekkah untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang muslim. Omar Khayyam, sang skeptik Dan, sementara Ayam Jantan berkokok, mereka yang berdiri di muka / Rumah Minum berseru - "Bukalah Pintu! / Engkau tahu betapa sedikit waktu yang kami punyai untuk singgah, / Dan bila kami pergi, mungkin kami takkan kembali lagi." Demikian pula bagi mereka yang bersiap-siap untuk HARI INI, / Dan meyangka setelah ESOK menatap, / Seorang muazzin berseru dari Menara Kegelapan / "Hai orang bodoh! ganjaranmu bukan di Sini ataupun di Sana!" Mengapa, semua orang Suci dan orang Bijak yang mendiskusikan / Tentang Dua Dunia dengan begitu cerdas, disodorkannya / Seperti Nabi-nabi bodoh; Kata-kata mereka untuk Dicemoohkan / Ditaburkan, dan mulut mereka tersumbat dengan Debu. Oh, datanglah dengan Khayyam yang tua, dan tinggalkanlah Yang Bijak / Untuk berbicara; satu hal yang pasti, bahwa Kehidupan berjalan cepat; / Satu hal yang pasti, dan Sisanya adalah Dusta; / Bunga yang pernah sekali mekar, mati untuk selama-lamanya. Diriku ketika masih muda begitu bergariah mengunjungi / Kaum Cerdik pandai dan Orang Suci, dan mendengarkan Perdebatan besar / Tentang ini dan tentang: namun terlebih lagi / Keluar dari Pintu yang sama seperti ketika kumasuk. Dengan Benih Hikmat aku menabur, / Dan dengan tanganku sendiri mengusahakannya agar bertumbuh; / Dan cuma inilah Panen yang kupetik - / "Aku datang bagai Air, dan bagaikan Bayu aku pergi." Ke dalam Jagad ini, dan tanpa mengetahui, / Entah ke mana, seperti Air yang mengalir begitu saja: / Dan dari padanya, seperti Sang Bayu yang meniup di Padang, / Aku tak tahu ke mana, bertiup sesukanya. Jari yang Bergerak menulis; dan, setelah menulis, / Bergerak terus: bukan Kesalehanmu ataupun Kecerdikanmu / Yang akan memanggilnya kembali untuk membatalkan setengah Garis, / Tidak juga Air matamu menghapuskan sepatah Kata daripadanya.


259 Dan Cawan terbalik yang kita sebut Langit, / Yang di bawahnya kita merangkak hidup dan mati, / Janganlah mengangkat tanganmu kepadanya meminta tolong - karena Ia / Bergelung tanpa daya seperti Engkau dan Aku. Omar Khayyám, penulis dan penyair Omar Khayyám kini terkenal bukan hanya keberhasilan ilmiahnya, tetapi karena karya-karya sastranya. Ia diyakini telah menulis sekitar seribu puisi 400 baris. Di dunia berbahasa Inggris, ia paling dikenal karena The Rubáiyát of Omar Khayyám dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Edward Fitzgerald (1809-1883). Orang lain juga telah menerbitkan terjemahan-terjemahan sebagian dari rubáiyátnya (rubáiyát berarti "kuatrain"), tetapi terjemahan Fitzgeraldlah yang paling terkenal. Ada banyak pula terjemahan karya ini dalam bahasa-bahasa lain. Aneka ragam Kehidupan Omar digambarkan dalam film tahun 1957 Omar Khayyam dibintangi oleh Cornel Wilde, Debra Page, Raymond Massey, Michael Rennie, dan John Derek. Tampil sebagai salah satu tokoh utama dalam novel Samarcande oleh Amin Maalouf. Baru-baru ini hidupnya digambarkan oleh sutradara Iran-Amerika Kayvan Mashayekh dalam "The Keeper: the Legend of Omar Khayaam" yang diputar di independent theaters sejak Juni 2005 Sebuah kawah bulan Omar Khayyam dinamai sesuai dengan namanya pada 1970. Sebuah asteroid 3095 Omarkhayyam dinamai sesuai namanya pada 1980. 50. Jalaluddin Rumi Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi alBakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka


260 keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan. Karya Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai. Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide. Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah : jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku. MENGENAL TOKOH ULAMA ISLAM DI BIDANG TAFSIR, HADITS DAN FIQIH


261 A. Mengenal Ulama Islam di Bidang Tafsir Quran 1. Ulama Tafsir Abad Kesatu Hijrah Hasbi as-Shiddieqy (1993 : 2) mengemukakan bahwa tokoh-tokoh ilmu yang merintis jalan bagi ilmu-ilmu al-Quran pada abad kesatu hijrah adalah sebagai berikut: a. Dari Golongan Sahabat 1. Khulafa Rasyidin (khalifah yang empat) 2. Ibnu Abbas 3. Ibnu Mas'ud 4. Zaid bin Tsabit 5. Ubay bin Ka'ab 6. Abu Musa al-Asy'arie 7. Abdullah bin Zubair b. Dari Golongan Tabi'in Terkait dengan golongan tabi'in ini, Ashobuni (1985 : 77-88) mengklasifikasikan ahli tafsir dari kalangan tabi'in ini kepada tiga golongan, yaitu : 1. Golongan Mekkah yaitu : Mujahid, Atho', Ikrimah, Thowus, dan Sa'id bin Jubair 2. Golongan Madinah yaitu : Muhammad bin Ka'ab al-Qurhodzi, Abul Aliyah ar-Royahi dan Zaid bin Aslam 3. Golongan Iraq yaitu : Hasan Bashri, Masruq bin al-Azda', Qotadah bin Di'amah, Atho bin Abi Muslim al-Khurasani dan Murroh al-Hamdani. c. Dari Golongan Tabi'ut Tabi'in Diantaranya yaitu Malik bin Anas. Beliau mengambil ilmu ini dari Zaid bin Aslam. 2. Ulama Tafsir Abad Kedua Hijrah Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 3) menyebutkan bahwa diantara tokoh ulama tafsir abad kedua ini yaitu : Syu'bah ibn al-Hajjaj (wafat tahun 160 H), Sufyan bin Uyainah al-Kufy (wafat tahun 198 H) dan Waki' ibn al-Jarrah al-Kufy (wafat tahun 197 H).


262 3. Ulama Tafsir Abad Ketiga Hijrah Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 4) menerangkan bahwa ulama tafsir pada abad ketiga hijrah ini diantaranya yaitu : a. Ali ibnul Madiny (wafat tahun 234 H). Beliau menyusun kitab dalam ilmu Asbabun Nuzul b. Abu Ubaid al-Qosim ibn Salam (wafat tahun 244 H). Beliau menyusun kitab tentang ilmu an Nasikh wal Mansukh, ilmu al-Qiroaat dan tentang ilmu Fadhoil Quran. c. Muhammad ibn Ayyub adl-Dirrisi (wafat pada tahun 294 H). Beliau menyusun kitab tentang ilmu ma nuzzila bi Makkta wa ma nuzzila bil Madinati. d. Muhammad ibn Khalaf ibn al-Marzuban (wafat pada tahun 309 H). Kitabnya bernama al-Hawi fi Ulumil Quran. 4. Ulama Tafsir Abad Keempat Hijrah Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 4-5) menyatakan bahwa diantara tokoh tafsir pada abad keempat ini adalah : a. Abu Bakar ibn al-Qosim al-Anbary (wafat tahun 328 H). Beliau menyusun kitab Aja'ibu 'ulmul Quran. b. Abul Hasan al-Asy'ary (wafat tahun 324 H). Menyusun kitab alMukhtazan fi 'ulumil Quran. c. Abu Bakar as-Sijistaniy (wafat tahun 330 H). Beliau menyusun kitab Gharibul Quran. d. Abu Muhammad al-Qashshab Muhammad ibn Ali al-Karakhi (wafat tahun 360 H). Menyusun kitab Nuqatul Quran ad-Dallatu 'alal Bayani fi Anwa'il ulumi wal Ahkamil Munbiati an ikhtilafil Anam. e. Muhammad ibn Ali al-Adfuwi (wafat tahun 388 H). Menyusun kitab alIstighna fi Ulumil Quran. 5. Ulama Tafsir Abad Kelima Hijrah Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 5) memaparkan bahwa diantara tokoh yang terkemuka pada abad kelima hijrah yaitu :


263 a. Abu 'Amar ad-Dany (wafat tahun 344 H). Kitabnya bernama at-Taisir bil Qiraatis Sab'i dan al-Muhkam Fin Nuqath b. Ali ibn Ibrahim ibn Sa'id al-Hufy (wafat tahun 430 H). Kitabnya bernama al-Burhan fi 'Ulumil Quran dan I'rabul Quran c. Al-Mawardy (wafat tahun 450 H). Ia menyusun tentang ilmu Amtsalul Quran. 6. Ulama Tafsir Abad Keenam dan Ketujuh Hijrah a. Abad Keenam Hijrah Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 6) menyebutkan, diantara tokoh ulama tafsir pada abad keenam hijrah yaitu : 1. Abul Qosim Abdurrahman, yang terkenal dengan nama as-Suhaily (wafat tahun 581 H). Kitabnya bernama Muhammatul Quran atau bernama atTa'rifu wa I'lami bima Ubhima fil Quran minal Asmai wal A'lam. 2. Ibnul Jauzy (wafat tahun 597 H). Kitabnya bernama Fununul Afnan fi 'Ajaib ulumil Quran dan al-Mujtaba fi 'Ulumin Tata'allaqu bil Quran b. Abad Ketujuh Hijrah 1. Alamuddin as-Sakhawy (wafat tahun 643 H). Kitabnya yaitu Hidayatul Mutab fil Mutasyabbih, yang terkenal dengan nama Mandzhumah asSakhawiyyah dan kitab Jamalul Quray wa Kamalul Iqrai 2. Ibnu Abdis Salam, yang terkenal dengan nama Al-Izz (wafat tahun 660 H). Kitabnya bernama Majazul Quran. 3. Abu Syamah Abdurrahman ibn Isma'il al Maqdisy (wafat tahun 665 H). Kitabnya bernama al-Mursyidul Wajiz fima Yata'allaqu bil Quranil Aziz. 4. Ibnu Abil Ishba' yang membahas tentang ilmu bada'iul Quran 5. Najmuddin ath-Thufiy yang membahas tentang Ilmu Hujajil Quran atau Ilmu Jadadil Quran 6. Ibnul Qayyim (wafat tahun 752 H) yang menyusun tentang Aqsamul Quran. 7. Ulama Tafsir Abad Kedelapan dan Kesembilan Hijrah a. Abad Kedelapan Hijrah


264 Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 8) menjelaskan, bahwa diantara tokoh pada abad ini ialah Badruddin az-Zarkasyi (wafat tahun 794). Ia menyusun kitab alBurhan fi 'Ulumil Quran b. Abad Kesembilan Hijrah 1. Muhammad ibn Sulaiman al-Kafiyajy (wafat tahun 873 H). Kitabnya bernama at-Tafsir fi Qawaidit tafsir. 2. Jalaluddin al-Bulqiny (wafat tahun 824 H). Kitabnya bernama Mawaqi'ul 'Ulum min Mawaqi'in Nujum 3. As-Suyuthy (wafat tahun 911 H). Kitabnya bernama at-Tahbir fi 'Ulumit Tafsir dan al-Itqan fi 'Ulumil Quran. 8. Ulama Tafsir Abad Keempat Belas Hasbi as-Shiddiqiey (1933 : 8-9) mengemukakan, diantara tokoh ulama tafsir pada abad keempat belas yaitu : a. As-Syekh Thahir al-Jazairy. Kitabnya bernama at-Tibyan fi Badlil Mabahaitsi al-Muta'alliqati bil Quran. b. Jamaluddin al-Qasimy (wafat tahun 1332 H). Kitabnya bernama Mahasinut Takwil c. Muhammad Abdul Adzhim az-Zarqani. Kitabnya bernama Manahilul Irfan fi 'Ulumul Quran. d. Muhammad Ali Salamah. Kitabnya bernama Manhajul Furqan fi Ulumil Quran e. As-Syekh Thanthawy Jauhary. Kitabnya bernama al-Quran wal ulumul 'Ashriyah f. Al-Ustadz Sayyid Quthub. Kitabnya bernama at-Tashwirul Fanniyyu fil Quran g. Al-Ustadz Malik ibn Naby. Adh-Dhahirarul Quraniyyah h. As-Sayyid al-Imam Muhammad Rasyid Ridha. Kitabnya bernama Tafsirul Quranil Hakim, yang terkenal dengan tafsir al-Manar i. As-Syekh Muhammad Abdullah Darraz. Kitabnya bernama An-Nabaul Azhim 'Anil Quranil Karim j. Muhammad al-Ghazzaly. Kitabnya bernama Nadharat fil Quran.


265 k. Al-Ustadz Muhammad al-Mubarok. Kitabnya bernama Al-Manhalul Khalid l. Asy-Syekh Muhammad Mustafa al-Maraghi B. Biografi Ringkas Ulama Tafsir Terkemuka Manna' Khalil al-Qattan dalam kitabnya yang berjudul Mabahits fi 'Ulumil Quran yang diterjemahkan oleh Mudzakir AS (2004 : 522-532) membahas riwayat hidup secara ringkas tentang para ulama tafsir terkemuka dari berbagai kalangan. Para ulama tafsir yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Ibnu Abbas a. Riwayat Hidup Ia adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisyi al-Hasyimi, putra paman Rasulallah. Ibunya bernama Ummul Fadl Lubanah binti al-Harits al-Hilaliyah. Ia dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di Syi'b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat. Ia wafat di Thaif pada 65 H. pendapat lain mengatakan, pada 67 atah 68 H. Namun pendapat terakhir inilah yang dipandang shohih oleh jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat diantara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi'b ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia 13 tahun. b. Kedudukan dan Keilmuan Ibnu Abbas dikenal dengna julukan Turjumanul Quran (juru tafsir Qura), Habrul Ummah (tokoh ulama umat) dan Raisul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah memperoleh kedudukan istimewa di kalangan para pembesar sahabatnya, sebagai reaslisasi doa Rasulallah kepadanya. Dalam sebuah hadits berasal dari Ibnu Abbas dijelaskan : "Nabi pernah merangkulnya dan mendo'akan, 'Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.'" Dalam Mu'jam yang lainnya, dari Umar,


266 "Bahwa Umar mendekati Ibnu Abbas dan berkata, sungguh saya pernah melihat Rasulallah mendo'akanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa, 'Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ra'wil.'" c. Tafsir Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafisr tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah dihimpun dalam sebuath kitab tafsir ringkas yang campur aduk yang diberi nama Tafsir Ibn Abas. Di dalamnya terdapat macam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad yang paling baik adalah melalui Ali bin Abi Thalhah al-Hasyimi, dari Ibnu Abbas; sanad ini dipedomani oleh Bukhori dalam kitab Shahih-nya. Sedangkan sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari Atha bin as-Sa'ib. 2. Mujahid bin Jabr a. Riwayat Hidup Nama lengkpanya adalah Mujahid bin Jabr al-Makki Abul Hajjaj alMakhzumi al_muqri, maula as-Saib bin Abus Sa'ib. Ia banyak meriwayatkan dari Ali, Sa'd bin Abi Waqqas, empat orang Abdullah, Rafi bin Khudaij, Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairoh, Suraqah bin Malik, Abdullah bin asSa'ib al-Makhzumi dal lainnya. Sedang yang meriwayatkan darinya adalah Atha, Ikrimah, Amr bin Dinar, Qatadah, Sulaiman al-Ahwal, Sulaiman alA'masyi, Abdullah bin Kasir al-Qori dan lain-lain. Ia dilahirkan pada 21 H. Pada masa khilafah Umar, dan wafat pada 102 atau 103 H. Tetapi menurut Yahya al-Qattan, ia wafat pada 104 H. b. Kedudukan Mujahid adalah pemimpin atau tokoh utama mufasir generasi tabi'in, sehingga ada yang menagatakan bahwa ia adalah orang yang paling mengetahui tentang tafsir diantara mereka. Ia mengambil (belajar) dari Ibnu Abbas sebanyak tigapuluh kali. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia berkata, "Saya menyodorkan (belajar) mushaf kepada Ibnu Abbas sebanyak tiga puluh kali. Saya berhenti pada setiap ayat untuk menanyakan tentang pengertiannya, berkenaan dengan apa serta bagaimana pula situasi dan kondisi saat ia


267 diturunkan ?" Sehubungan dengan ini as-Sauri berkta, "jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, cukuplah itu bagimu". Oleh karena itu, kata Ibn Taimiyah "Syafi'i, Bukhari dan ahli ilmu lainnya banyak berpegang pada tafsirnya. 3. At-Thobari a. Riwayat Hidup Nama lengkapnya Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja'far at-Tabari, berasal dari Amol, lahir da wafat di Baghdad. Dilahirkan pada 224 H. Dan wafat pada 310 H. Ia adalah seorang ulama yang sulit dicari bandingannya, banyak meriwayatkan hadits, luas pengetahuannya dalam bidang penukilan dan pen-tarjih-an (penyeleksian untuk memilih yang kuat) riwayat-riwayat, serta mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang sejarah para tokoh dan berita umat terdahulu. b. Karya Tulis At-Tabari mengarang kitab cukup banyak, antara lain : 1. Jami'ul Bayan fi Tafsiril Quran 2. Tarikhul Umam wal Muluk wa Akhbaruhum 3. Al-Adabul Hamidah wal Akhlaqun Nafsiah 4. Tarikhur Rijal 5. Ikhtilaful Fuqoha 6. Tahdzibul Asar 7. Kitabul Basit fil Fiqhi 8. Al-Jami' fil Qiro'at 9. Kitabut Tabsir fil Usul c. Tafsir Kitabnya tentang tafsir, Jami'ul Bayan fi Tafsirul Quran, merupakan tafsir paling besar dan utama serta menjadi rujukan penting bagi para mufasir bil ma'tsur. Ibnu Jarir memaparkan tafsir dengan menyandarkannya kepada sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in. Ia juga mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan sebagian atas yang lain. Para ulama berkompeten sependapat bahwa belum pernah disusun sebuah kitab tafsir pun yang dapat menyamainya. Ibnu Jarir mempunyai keistimewaan tersendiri berupa istinbat yang unggul dan pemberian isyarat terhadap kata-kata yang samar i'robnya.


268 Dengan itulah, antara lain, tafsir tersebut berada di atas tafsir-tafsir yang lain. Sehingga Ibnu Kasir pun banyak menukil darinya. 4. Ibnu Katsir a. Riwayat Hidup Ia adalah Isma'il bin 'Amr al-Qurasyi bin Kasir al-Basri ad-Dimasyqi Imaduddin Abul Fida al-Hafidz al-Muhaddis asy-Syafi'i. Dilahirkan pada 705 H. Dan wafat pada 774 H. Sesudah menempuh kehidupan panjang yang syarat dengan keilmuan. Ia seorang ahli fiqih yang sangat ahli, ahli hadits yang cerdas, sejarawan ulung dan mufasir paripurna. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, "Ia adalah seorang ahli hadits yang faqih. Karangankarangannya tersebar luas di berbagai negri semasa hidupnya dan dimanfaatkan orang banyak setelah wafatnya." b. Karya Tulis Diantara tulisnya ialah : 1. Al-Bidayah wan Nihayah 2. Al-Kawakibud Darari 3. Tafsirul Qur'an; al-Ijtihda fi Talabil Jihad 4. Jami'ul Masanid; as-Sunanul Hadi li Aqwami Sunan 5. Al-Wadihun Nafis fi Manaqibil Imam Muhammad ibn Idris c. Tafsir Tentang tafsirnya ini Muhammad Rasyid Rida menjelaskan : Tafsir ini merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap apa yang diriwayatkan dari para mufasir salaf dan menjelaskan makna-makna ayat dan hukum-hukumnya serta menjauhi pembahasan i'rab dan cabang-cabang balagah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufasir; juga menjauhi pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak diperlukan dalam memahami Quran secara umum atau memahami hukum dan nasehat-nasehatnya secara khusus. 5. Fakhruddin ar-Rozi a. Riwayat Hidup


269 Ia adalah Muhammad bin Umar bin al-Hasan at-Tamimi al-Bakri atTabaristani ar-Razzi Fakhruddin, terkenal dengan Ibnul Khatib asy-Sayfi'i alFaqih. Dilahirkan di Ray pada 543 H, dan wafat di Harah pada 606 H. Ia mempelajari ilmu-ilmu aqliah diniah dan aqliah sehingga sangat menguasai ilmu logika dan filsafat serta menonjol dalam bidang ilmu kalam. Mengenai ilmu-ilmu tersebut ia telah menulis beberapa kitab, syarah dan ta'liqat, sehingga ia dipandang seorang filosof pada masanya. Dan kitab-kitabnya menjadi rujukan penting bagi mereka yang menamakan dirinya sebagai filosof islam. b. Karya Tulis Fakhruddin ad-Razi mempunyai banyak karangan, diantaranya : 1. Mafatihul Gaib (tafsir Qur'an) 2. Asrarut Tanzil wa Anwarut Ta'wil 3. Ihkamul Ihkam 4. Al-Muhassal fi Ushulil Fiqhi 5. Al-Burhan fi Qiroatil Quran 6. Duraratut Tanzil wa Gurratut Ta'wil fil Ayatil Mutasyabihat 7. Syarhul Isyarat wat Tanbihat li Ibn Sina 8. Ibtalul Qiyas 9. Syarhul Qanun li Ibni Sina 10. Al-Bayan wal Burhan fir-Raddi 'ala Ahliz Zaiqi wat Tugyan 11. Ta'jizul Falasifah 12. Risalatul Jauhar 13. Risalatul Hudus 14. Kitab al-Milal wan Nihal 15. Muhassalu Afkaril Mutaqaddimin wal Mutaakhikhirin minal Hukama wal Mutakallimun fi 'Ilmil Kalam 16. Syarkhul Mufassal liz Zamakhsyari c. Tafsir Ilmu-ilmu aqliah sangat mendominasi pemikiran ar-Razi di dalam tafsirnya, sehingga ia mencampuradukan ke dalamnya berbagai kajian mengenai kedokteran, logika, filsafat dan hikmah. Ini semua mengakibatkan kitabnya keluar dari makna-makna Quran dan jiwa ayat-ayatnya serta


270 membawa nas-nas Kitab kepada persoalan-persoalan ilmu aqliah dan peristilahan ilmiahnya, yang bukan untuk itu nas-nas tersebut diturunkan. Oleh karena itu kitab ini tidak memiliki ruhaniah tafsir dan hidayah islam, sampai-sampai sebagian ulama berkata, "Didalamnya terdapat segala sesuatu selain tafsri itu sendiri". 6. Az-Zamakhsyari a. Riwayat Hidup Ia adalah Abul Qasim Mahmud bin Umar al-Khawarizmi az-Zamakhsyari. Dilahirkan 27 Rajab 467 H. di Zamakhsyar, sebuah perkampungan besar di negeri sendiri, kemudian melanjutka ke Bukhara, dan belajar sastra kepada syaikh Mansur Abi Mudar. Kemudian pergi ke Mekah dan menetap cukup lama sehingga memperoleh julukan Jarullah (tetangga Allah). Dan disana pula ia menulis tafsirnya, al-Kasysyaf an Haqaiqi Gawamidit Tanzil wa 'Uyunil Aqawil fi Wujuhit Ta'wil. Ia meninggal dunia pada 538 H. di Jurjaniah Khawarizm setelah kembali dari Mekah. b. Keilmuan dan Karyanya Zamakhsyari adalah salah seorang imam dalam bidang ilmu bahasa, ma'ani dan bayan. Ia mempunyai banyak karya dalam bidang hadits, tafsir, nahwu, bahasa, ma'ani dan lain-lain. Diantara karayanya ialah : 1. Al-Kasysyaf, tentang tafsir Quran 2. Al-Faiq, tentang tafsir hadits 3. Al-Minhaj, tentang ushul 4. Al-Mufassal, tentang nahwu 5. Asasul Balagah, tentang bahasa 6. Ru'usul Masailil Fiqhiyyah, tentang fiqih c. Madzhab Fiqih dan Akidahnya Zamakhsyari bermadzhab Hanafi dan berakidah Mu'tazilah. Ia mena'wilkan ayat-ayat Quran sesuai dengan madzhab dan akidahnya dengan cara hanya diketahui oleh orang yang ahli; dan menamakan kaum Mu'tazilah sebagai "saudara seagama dan golongan utama yang selamat dan adil". d. Tafsirnya


271 Kitab al-Kasysyaf karya Zamakhsyari adalah sebuah kitab tafisr paling masyhur diantara sekian banyak tafsir yang disusun oleh mufasir bir-ra'yi yang mahir dalam bidang bahasa. Al-Alusi, Abus Su'ud, an-Nasafi dan para mufasir lain banyak menukil dari kitab tersebut, tetapi tanpa menyebutkan sumbernya. 7. Asy-Syaukani a. Riwayat Hidup Nama lengkapnya adalah Qadi Muhammad bin Ali bin Abdullah asySyaukani as-San'ani, seorang imam mujtahid, pembela sunnah dan pembasmi bid'ah. Dilahirkan pada 1173 H. di kampung Syaukan dan dibesarkan di San'a. Ia belajar Quran dengan sungguh-sungguh, menunutut ilmu dan mendengarkan pelajaran dengan tekun dari ulama-ulama serta menghafal tidak sedikit kitab matan tentang nahwu, saraf dan balagah, juga menguasai ilmu ushul dan tatacara meneliti dan berdebat sehingga ia menjadi seorang imam yang layak mendapat acungan jempol. Sepanjang hayat ia bergelut dengan ilmu baik dengan membaca maupun dengan mengajar sampai menemui ajalnya pada 1250 H. b. Madzhab dan Aqidahnya Syaukani memepelajari fiqh madzhab Imam Zaid sampai ia menjadi tokoh kenamaannya, mengarang, berfatwa, dan kemudian belajar hadits hingga mencapai tingkat lebih unggul dari orang sezamannya. Dan akhirnya ia pun melepaskan belenggu taqlid, menjadi pembela sunnah dan menumbangkan musuh-musuhnya. Dalam pandangannya, taqlid adalah haram, dan untuk ini ia menulis sebuah risalah yang diberi nama al-Qaulul Mufid fi Adillatil Ijtihad wat Taqlid. c. Karyanya Ia mempunyai sejumlah karangan bermutu dalam berbagai cabang ilmu. Di antaranya ialah : 1. Fathul Qadir tentang tafsir 2. Nailul Authar sebuah syarah atas Muntaqal Akhbar karya al-Majd ibn Taimiyyah, kakek Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, sebuah hadits terbaik yang disusun menurut sistematika fiqih 3. Irsyadul Fukhul tentang ushul fiqih


272 4. Al-Fathur Rabbani, kumpulan fatwanya. d. Tafsirnya Fathul Qadir karya asy-Syaukani adalah sebuah kitab tafsir yang menggabungkan antara riwayat dengan istinbat dan penalaran atas nas-nas ayat. Dalam tafsir ini asy-Syaukani banyak bersandar pada tokoh-tokoh mufasir seperti an-Nahhas, Ibn Atiyah dan al-Qurthubi. Dan tafsir tersebut kini beredar luas di berbagai penjuru dunia islam. C. Mengenal Ulama Islam di Bidang Hadits Dalam pemaparan ulama hadits ini, penulis terlebih dahulu akan menyebutkan kitab hadits, kemudian penyusunnya. Pemaparan ini berdasarkan abad. 1. Ulama Hadits Abad Kesatu Hijarah Kitab hadits dan ulama yang menyusunnya pada abad ini yaitu : a. Ash-Shahifah oleh Imam Ali bin Abi Thalib. b. Ash-Shadiqah oleh Imam Abdullah bin Amr bin ‗Ash. c. Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim ( 50 - 124 H ). d. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin. 2. Ulama Hadits Abad Kedua Hijrah Kitab hadits dan para penyusunnya pada abad kedua hijrah ini adalah sebagai berikut : a. Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu'man ( wafat 150 H ). b. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas ( 93 - 179 H ). c. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi'I ( 150 - 204 H ). d. Mukhtaliful Hadits oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi'I ( 150 - 204 H ). e. Al-Musnad oleh Imam Ali Ridha al-Katsin ( 148 - 203 H ). f. Al-Jami' oleh Abdulrazaq al-Hamam ash Shan'ani ( wafat 311 H ). g. Mushannaf oleh Imam Syu'bah bin Jajaj ( 80 - 180 H ). h. Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa'ud ( 94 - 175 H ). i. Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‗Uyainah ( 107 - 190 H ).


273 j. As-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‗Amr al-Auza'i ( wafat 157 H ). k. As-Sunnah oleh Imam Abd bin Zubair Isa al-Asadi. 3. Ulama Hadits Abad Ketiga Hijrah Kitab hadits yang disusun pada abad ketiga hijrah dan para ulama yang menyusunnya adalah sebagai berikut : a. Ash-Shahih oleh Imam Muh bin Ismail al-Bukhari ( 194 - 256 H ). b. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj ( 204 - 261 H ). c. As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi ( 209 - 279 H ). d. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'ats ( 202 - 275 H ). e. As-Sunan oleh Imam Ahmad Sya'ab an-Nasai ( 215 - 303 H ). f. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad Damiri ( 181 - 255 H ). g. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah ( 209 - 273 H ). h. Al-Musnad oleh Imam Ahmad bin Hanbal ( 164 - 241 H). i. Al-Muntaqa al-Ahkam oleh Imam Abd Hamid bin Jarud ( wafat 307 H ). j. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn Abi Syaibah ( wafat 235 H ). k. Al-Kitab oleh Muhammad Sa'id bin Manshur ( wafat 227 H ). l. Al-Mushannaf oleh Imam Muhammad Sa'id bin Manshur ( wafat 227 H ). m. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari ( wafat 310 H ). n. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi ( wafat 276 H ) o. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih ( wafat 237 H ). 4. Ulama Hadits Abad Keempat Hijrah Pada abad ini lahir beberapa kitab hadits dan para ulama penyusunnya, yaitu sebagai berikut :


274 a. Al-Mu'jam Kabir, ash-Shagir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani ( wafat 360 H ). b. As-Sunan oleh Imam Darukutni ( wafat 385 H ). c. Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban ( wafat 354 H ). d. Ash-Shahih oleh Imam Abu ‗Awanah Ya'qub bin Ishaq ( wafat 316 H ). e. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq (wafat 311 H) f. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa'id bin'Usman al-Baghdadi (wafat 353 H) g. Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh ( wafat 340 H ). h. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi ( wafat 321 H ). i. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad ( wafat 402 H ). j. Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq ( wafat 313 H ). k. Al-Musnad oleh Imam Hawarizni ( wafat 425 H ). l. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi ( wafat 385 H ). m. Al-Mustadrak ‗ala-Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim an-Naisaburi ( 321 - 405 H ). D. Biografi Ringkas Ulama Hadits Terkemuka Terkait dengan biografi para ulama hadits terkemuka ini, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah (1994 : 35) menjelaskannya secara panjang lebar. Secara singkat dapat pemulis uraikan sebagai berikut : 1. Imam Bukhori Dia adalah Amirul Muminin fil Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits. Gelar ahli hadits tertinggi), Abu Abdullah Muhammad ibn Isma'il ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Ia dilahirkan di Bukhara setelah shalat jum'at, 13 Syawwal 194 H. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Karena itu, dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.


275 Keunggulan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugrahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hapalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghapal hadits. Ketika berusia sepuluh tahun, ia sudah banyak menghapal hadits. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negrinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hapal kitab susunan Ibnu Mubarak dan Waki', juga mengetahui pendapat-pendapat ahli'l-ro'yi (penganut paham rasional), dasar-dasar dan madzhabnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M). Dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Selama hidupnya Imam Bukhori telah banyak menyusun berbagai karya, yang termasyhur diantaranya yaitu : a. Al-Jami'u as-Shohih (Shahih Bukhari) b. Al-Adab al-Mufrod c. At-Tarikh as-Sagir d. At-Tarikh al-Awsat e. At-Tarikh al-Kabir f. At-Tafisr al-Kabir g. Al-Musnad al-Kabir h. Kitab al-'Ilal i. Raf'ul Yadain fis Salah j. Birrul Walidain k. Kitab al-Asyribah l. Al-Qiro'ah Khalf al-Imam m. Kitab ad-Dhu'afa n. Asami as-Sahabah o. Kitab al-Kuna 2. Imam Muslim Nama lengkapnya adalah Imam Abul-Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi, pengarang kitab as-Shohih dan berbagai karangan berharga lainnnya mengenai ilmu hadits. Ia adalah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada


276 206 H. Menurut pendapat yang shohih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdillah dalam kitabnya Ulama'ul Amshar. Kegiatan Muslim penuh dengan berbagai kegiatan terpuji, mulia, dan lawatan ke berbagai negri untuk mencari hadits dan riwayat. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, dan negara-negara lainnya. Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulai tahun 218 H. setelah mengarungi kehidupannya yang penuh berkah itu, Muslim akhirnya wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nashr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Dalam hidupnya yang cukup singkat itu Muslim menulis berbagai buku yang berharga dan bermanfaat. Diantara karya tulisnya yaitu : a. Al Jami'u as-Shahih b. Al Musnadul Kabir( Kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits ) c. Kitabul Asma wal Kuna d. Kitabul al-Ilal e. Kitabul Aqran f. Kitabu Su'alatihi Ahmad bin Hanbal g. Kitabul Infita bi Uhubissiba' h. Kitabul Muhadramin i. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid j. Kitab Auladis Shahabah k. Kitab Awhamil Muhadditsin 3. Imam Abu Daud Abu Daud ialah Sulaiman bin al-'Asy'ash bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin 'Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang Imam ahli hadits yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadits dan pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H. ( 817 M.) di Sijistan. Sejak kecilnya Abu Daud sudah mencintai ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka untuk dapat mereguk dan menimba ilmunya. Ia belajar hadits dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnyya yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Iraq, Jazirah, Sagar, Khurrasan dan negeri – negeri lain.


277 Setelah mengalami kehidupan penuh berkat yang diisi dengan aktivitas ilmiah, menghimpun dan menyebrluaskan hadits, Abu Daud meninggal dunia di Basrah yang dijadikannya sebagai tempat tinggal atas permintaan Amir sebagaimana telah diceritakan. Ia wafat pada tanggla 16 Syawal 275 H (889 M). Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan rida-Nya kepadanya. Selama hidupnya Abu Daud telah menyusun berbagai karya, diantaranya yaitu a. Kitab As-Sunan b. Kitab Al-Marasil c. Kitab Al-Qadar d. An-Nasikh wal-Mansukh e. Fadhoil al-'Amal f. Kitab Az-Zuhud g. Dala'il an-Nubuwah h. Ibtida' al-Wahyu i. Ahbar al-Khawarij 4. Imam Tirmidzi Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin adhDahhak as-Sulami at-Tirimidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyhur. Lahir pada 279 H di kota Tirimiz. Semenjak kecilnya Abu 'Isa sudsah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk kperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri; Hijaz, Iraq, Khurrasan, dll. Setelah menjalani perjalanan panjang untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukarv pikiran serta mengarang, ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah akhirnya at-Tirmidzi meninggal dunia. Ia wafat pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H. dalam usia 70 tahun. Selama hiupnya Imam Tirmidzi telah menyumbangkan berbagai karya diantaranya yaitu: a. Kitab Al-Jami', terkenal dengan sebutan Sunan Tirmidzi. b. Kitab Al-'Ilal, kitab ini terdapat pada akhir kitab Al-Jami' c. Kitab At-Tarikh.


278 d. Kitab Asy-Syama'il an-Nabawiyyah. e. Kitab Az-Zuhd. f. Kitab Al-Asma wal Kuna. 5. Imam Nasa'i Ia adalah seorang Imam Ahli Hadits Syaikhul Islam sebagaimana diungkapkan az-Zahabi dalam Tazkirahnya Abu Abdurrahman Ahmad bin 'Ali bin Syu'aib bin 'Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi, pengarang kitab Sunan dan kitab-kitab berharga lainnya. Juga ia adalah seorang ulama hadits yang jadi ikutan dan ulama terkemuka melebihi para ulama yang hidup pada zamannya. Dilahirkan di sebuah tempat bernama Nasa' pada tahun 215 H. Ada yang mengatakan pada tahun 214 H. Pada usia remaja ia senang mengembara untuk mendapatkan hadits. Belum lagi berusia lima belas tahun, ia berangkat mengembara menuju Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan Jazirah. Kepada ulama-ulama negri tersebut ia belajar hadits, sehingga ia menjadi seorang yang sangat terkemuka dalam bidang hadits yang mempunyai sanad 'Ali (sedikit sanadnya) dan dalam bidang kekuatan periwayatan hadits. 6. Imam Ibnu Majah Imam Ibnu Majah adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi'i al-Qazwini, pengarang kitab As-Sunan dan kitab-kitab bermanfaat lainnya. Dilahirkan di Qazwin pada tahun 209 H, dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya dilakukan oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah. Untuk mencapai usahanya dalam mencari dan mengumpulkan hadits, ia telah melakukan lawatan berkeliling di beberapa negri. Ia melawat ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kufah, Bashrah dan negara-negara serta kota-kota yang lain, untuk menemui dan berguru hadits kepada ulama-ulama hadits.


279 Ibnu Majah mempunyai banyak karya tulis diantaranya yaitu : Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadits yang Pokok). Tafsir Quran, sebuah kitab tafsir yang besar manfaatnya seperti diterangkan oleh Ibnu Katsir Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibnu Majah. E. Mengenal Ulama Islam di Bidang Fiqih Sebelum penulis memaparkan ulama Islam di bidang fiqih, terlebih dahulu akan penulis jelaskan selintas tentang periodisasi perkembanga fiqh Islam menurut Hasbi as-Shiddieqy, yaitu sebagai berkut : 1. Periode ke I, yaitu periode Rasulallah saw. (13 SH – 11 H) 2. Periode ke II, yaitu periode khulafa Rasyidin (11 H – 40 H) 3. Periode ke III, yaitu periode sahabat kecil dan tabi‘in (41 H – 101 H) 4. Periode ke IV, yaitu masa lahir atba‘ut tabi‘in fuqoha pembangaun madzhab (101 H – 350 H) (masa pembukuan hadits dan hukum-hukum islam) 5. Periode ke V, yaitu masa para ulama murojjihin 350 H – 656 H) 6. Periode ke VI, yaitu periode para murojjihin (656 H – akhir abad 13 H) 7. Periode ke VII, yaitu periode kebangunan ( akhir abad 13 H - ………..) Dari gamabaran global periodisasi tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa pada masing-masing periode akan kita temukan beberapa tokoh ulama fiqh yang berjasa dalam mengembangkan fiqih Islam. Adapun rincian tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut : 1. Tokoh Fiqih Periode Pertama (13 SH – 11 H) Pada periode ini tokohnya adalah Rasulallah saw sendiri sebagai utusan Allah yang ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Berbagai persoalan yang muncul pada periode ini dikembalikan sepenuhnya kepada Rasulallah, dan Rasulallah pun menjawab persoalan yang muncul itu dengan bimbingan wahyu dari Allah, yaitu Alquran dan Hadits.


280 2. Tokoh Fiqih Periode Kedua (11 H – 40 H) a. Abu Bakar Ashshiddieq (lahir tahun 51 s. H., wafat tahun 13 H) b. Umar ibnul Khottob (lahir thaun 40 s. H., wafata tahun 23 H) c. Utsman bin Affan (lahir tahun 47 s. H., wafat tahun 35 H) d. Ali bin Abi Thalib (lahir tahun 23 s. H. wafat tahun 40 H) e. Abdullah bin Mas'ud (wafat tahun 32 H) f. Abu Musa al-Asy'arie (wafat tahun 50 atau 51 H) g. Mu'adz bin Jabal (lahir tahun 20 s. H., wafat tahun 18 H) h. Ubay bin Ka'ab (wafat tahun 21 H) i. Zaid bin Tsabit (lahir 11 s. H., wafat tahun 45) j. Aisyah Ummul Mu'minin (lahir 9 s. H., wafat tahun 58 H) k. Anas bin Malik (lahir tahun 10 s. H., wafat tahun 93 H) l. Abdullah bin Abbas (lahir tahun 3 s.H., wafat tahun 68 H) m. Abdullah bin Amr (lahir 7 s.H., wafat tahun 65 H) n. Abdullah bin Umar (lahir tahun 10 s.H., wafat tahun 73 H) 3. Ulama Fiqih Periode Ketiga (41 H – 101 H) Pada periode ketiga ini lahir dua aliran ulama : Pertama : Aliran ahlul Hadits yang terdiri dari ulama-ulama Hijaz Kedua : Aliran ahlul Ra'yu (ahlul Qiyas) yang terdiri dari ulama-ulama Iraq Diantar tokoh-tokoh ahlul Hadits ahíla : a. Sa'id ibnul Musayyab (wafat tahun 93 H) b. Syuraih ibn al-Harits ibn Qais, yaitu Abu Umayyah al-Kufi (wafat tahun 78 atau 80 H) c. As-Sya'bi, yaitu Abu Amr 'Amit ibn Syuraihil al-Hamdany (wafat tahun 104 H) d. Sufyan ibn Sa'id ibn Masruq as-Saury (wafat tahun 161 H) Diantara tokoh-tokoh ahlul Ra'yu ialah : a. Alqamah ibn Qais an-Nakha'i al-Kufi (wafat tahun 62 H) b. Ibrahim ibn Yazid an-Nakho'i, faqihul 'Iraq (wafat tahun 95 H) c. Hammad ibn Abi Sulaiman al-Asy'arie (wafat tahun 120 H) d. Rabi'ah Ibnu Abi 'Abdur Rahman Farukh (wafat tahun 136) Mufti-mufti yang terkenal pada periode ketiga yaitu :


281 a. Di Madinah Abu Bakar ibn Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam (wafat tahun 94 H) Al- Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar ash-Shiddieq (wafat tahun 107 H) Urwah ibn Zubar ibn Awwam al-Assady (wafat tahun 94) Sa'id ibnul Musayyab (wafat tahun 94 H) Sulaiman ibn Yasir ( wafat tahun 107 atau 104 H) Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat tahun 100 atau 99 H) 'Ubaidah ibn Abdullah ibn 'Utbah ibn Mas'ud (wafat tahun 98 H) b. Di Mekkah Ikrimah Abu Abdillah al-Barbari (wafat tahun 105) Atah ibn Abi Raba' Abu Muhammad (wafat tahun 114 H) Mujahid ibn Jabr Abul Hajjaj al-Makhzumi, maula bani Makhzum (wafat tahun 103 H) c. Di Kufah Iraq 'Alqomah ibn Qais ibn Abdullah (wafat tahun 62 H) Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdany (wafat tahun 63 H) Al-Qadhi Syuraih Abu Umayyah ibn Harits ibn Qais al-Kindi (wafat tahun 78 atau 80 H) Sa'id bin Jubair al-Waliby (wafat tahun 95 H) Asy-Sya'bi Abu 'Amr 'Amir ibn Syurahil al-Hamdany (wafat tahun 114 H) Habib ibn Abi Tsabit al-Kahili (wafat tahun 119 H) d. Di Mesir Abdullah Abu Muhammad dan Abu Abdurrahman ibn Amr ibn Ash (wafat tahun 65 H) Yazid bin Abi Habib Abu Radja al-Azdy (wafat tahun 128 H) Al-Laits ibn Sa'ad al-Fahmi Abdul Harits (wafat tahun 175 H) e. Di Bashrah Abul 'Aliyah Rabi ibn Mihran ar-Rijahi (wafat tahun 90 H) Al-Hasan ibn Abil Hasan Yassar maula Zaid ibn Tsabit al-Bishry (wafat tahun 110 H) Muhammad ibn Sirin maula Anas bin Malik (wafat tahun 110 H)


282 Abusya Sya'sya' Jabir ibn Sa'id (wafat tahun 93 H) Qatadah ibn Di'amah Assadusy (wafat tahun 118 H) f. Di Syam Abdurrahman ibn Ghunmin (wafat tahun 78 H) Al-Khaulani Abu Idris ibn Abdullah ad-Dimasyqi (wafat tahun 80 H) Makhul Abu Adullah ibn Muslim al-Huzaly (wafat tahun 113 H) g. Di Yaman Thaus ibn Kaisan al-Yamani (wafat tahun 106 H) Wahab ibn Munabbih as-San'any (wafat tahun 114 H) Yahya bin Abi Katsir (wafat tahun 129 H) 4. Ulama Fiqih Periode Keempat (101 – 350 H) Pada periode ini lahir 13 tokoh-tokoh ijtihad yang telah dibukukan ijtihadnya, ditaqlidi pendapat-pendapatnya, diakui kepemimpinannya dalam bidang fiqih, yaitu : a. Sufyan bin Uyainah di Mekkah b. Malik ibn Anas di Madinah c. Al Hasan al-Bisyri di Bashrah d. Abu Hanifah di Kufah e. Sufyan Tsauri di Kufah f. Al-Auza'i di Syam g. Asy-Syafi'ie di Mesir h. Al-Laits di Mesir i. Ishaq di Naisabur j. Abu Tsaur k. Ahmad l. Daud dan m. Ibnu Jarir di Bagdad Pada periode ini juga lahir beberapa madzhba fiqih dengan para pengikutnya, yaitu : a. Madzhab Hanafy


283 Madzhab Hanafy ialah madzhab yang dibangun oleh Abu Hanifah, anUn'man ibn Tsabit, pemuka ahli qiyas yang besar di masanya (80 – 150 H). Diantara para pengikutnya yang tekenal adalah : Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim al-Anshary (113 – 183 H) Muhammad ibn al-Hasan as-Syaibany (132 – 189 H) Zufar ibnu Huzail ibn Qais al-Qufy (110 – 158 H) Al-Hasan ibn Ziyad al-Lu'lui al-kufy (wafat tahun 204) b. Madzhab Maliky Madzhab Maliky adalah madzhab yang dibangun oleh Malik ibn Anas ibn Abi Amer (92 – 179). Diantara para pengikutnya yang tekenal adalah : Abu Muhammad Abdullah ibn Wahab ibn Muslim al-Qurasyi (125 – 197 H) Abu Abdullah Abdurrahman ibn al-Qosim al-'Utaqiy (wafat tahun 191 H) Asyhab ibn Abdul Aziz al-Qaisyi al-Ja'diy (140 – 204 H) c. Madzhab Syafi'i Madzhab Syafi'i ialah pendapat dan pendirian yang dipegang oleh Muhammad bin Idris as-Syafi'i (150 – 204 H), seorang pemuka hadits dan qiyas. Diantara para muridnya yang terkenal adalah : Ahmad ibn Hanbal (164 – 264 H) Abu Tsaur ibn Ibrahim ibn Khalid ibnul Yamani al-Kalaby (wafat tahun 204 atau 264 H) Al Hasan ibn Muhammad ibn Shabah az-Za'farany (wafat tahun 260 H) d. Madzhab Hanbaly Madzhab Hanbaly ialah madzhab yang dikembangkan oleh Ahmad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad as-Syaibani al-Maruzy (164 – 241 H). seorang imam hadits yang terkemuka. Diantara para muridnya yaitu : Ahmad ibn Muhammad ibn Hamid, yang terkenal dengan nama Abu Bakar al-Atsram (wafat tahun 260 atau 261 atau 273) Ishaq ibn Manssur ibn Bahram, yang terkenal dengan nama Abu Ya'qub al-Kausady al-Marwazy (wafat tahun 251 H)


284 Ishaq ibn Ibrahim ibn Makhlad Abu Ya'qub al-Handzaly at-Taimy alMarwazy, yang terkenal dengan nama Ibnu Rahawaeh (166 – 243H) Selain madzhab tersebut, ada juga beberapa madzhab ahlusunnah yang terkenal pemuka-pemukanya dan menjadi ikutan kita bersama hingga dewasa ini, yang tidak berkembang lagi, yaitu : a. Madzhab Laitsy, yaitu madzhab al-Laits ibn Sa'ad, seorang ulama yang telah diakui kebesarannya oleh segenap para ulama dari serata madzhab b. Madzhab Auza'i, yaitu madzhab yang dipegang oleh Abu Amer Abdurrahman ibn Amer as-Syaibany al-Auza'i c. Madzhab Tsaury, yaitu pendapat dan pendirian Abu Abdullah Sufyan ibn Sa'id ibn Masruq ats-Tsaury al-Kufy d. Madzhab Sufyany, yaitu pendapat dan pendirian yang dipegang oleh Sufyan ibn Uyainah e. Madzhba Ishaqy (Rahawaih, yaitu madzhab yang dikembangkan oleh Ishaq ibn Ibrahim ibn Mukhallad al-Maruzy, terkenal dengan nama Ibnu Rahawaih f. Madzhab Abu Tsaur Ibrahim al Kalaby, yaitu madzhab yang dikembangkan oleh Ibrahim ibn Khalid ibn al Yaman al Kalaby g. Madzhab Dhahiry, yaitu madhzab yang dikembangkan oleh Abu Sulaiman, Daud ibn Ali ibn Khalaf al Ashbahany. h. Madzhab Thabary, yaitu madzhab Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir atThabary i. Madzhab Nakha'i, yaitu madzhab yang dikembangkan oleh Syarik ibn Abdullah ibn Abi Syarik an-Nakha'i al-Kufy j. Madzhab Abdirrahman ibn Abi Laila, yaitu madzhab yang dikembangkan oleh Abdurrahman ibn Abi Laila k. Madzhab Ibnu Syubrumah, yaitu madzhab yang dikembangkan oleh Abdullah ibn Syubrumah as-Shiny al-Kufy. 5. Ulama Fiqih Periode Kelima (350 – 656 H) a. Dari Golongan Hanafiyyah 1. Abul Hasan Ubaidullah ibn Hasan al-Karakhi (260 – 340 H) 2. Abu Bakar Ahmad ibn Ali Ar-Razy al-Jashshas (wafat tahun 370 H)


285 3. Abu Ja'far Muhammad ibn Abdulallah al-Balakhy al-Handawany (wafat 362 H) 4. Abul Laits Nashr ibn Muhammad as-Samarqandy (wafat tahun 373 H) 5. Abu Abdullah Yusuf ibn Muhammad ad-Durjany (wafat tahun 298 H) b. Dari Golongan Malikiyyah 1. Muhammad ibn Yahya ibn Lubabah al-Andalusy (wafat tahun 336 H) 2. Bakar ibn A'la al-Qusyairi (wafat tahun 344 H) 3. Abu Ishaq Muhammad ibn Sya'ban al-'Ansy (wafat tahun 355 H) 4. Muhammad ibn Harits ibn Asad al-Kasyany (wafat tahun 361 H) 5. Abu Bakar Muhammad ibn Abdullah al-Mu'ity al-Andalusy (wafat tahun 367 H) c. Dari Golongan Syafi'iyyah 1. Abu Ishaq Ibrahim ibn Ahmad al-Marwazy (wafat tahun 340 H) 2. Abu Ahmad Muhammad ibn Sa'id ibn Abil Qadhi al-Khawarizmy (wafat tahun 340 H) 3. Abu Bakar Ahmad ibn Ishaq ad-Dllaab'y an-Naisabury (wafat tahun 342 H) 4. Abu 'Ali al-Husain Ibnu Husain (wafat tahun 345 H) 5. Abu Sa'ib 'Utbah ibn 'Ubaidullah ibn Musa (wafat tahun 350 H) d. Dari Golongan Hanbaliyyah 1. Ahmad ibn Ja'far ibn Muhammad al-Munady (256 – 336 H) 2. Ahmad ibn Ja'far ibn Hamdan (247 – 368 H) 3. Ahmad ibn Muhammad ibn Hazm (wafat tahun 311 H) 4. 'Umar ibn Husain ibn 'Abdullah ibn Ahmad (wafat tahun 334 H) 5. 'Ubaidullah ibn Muhammad (304 – 387 H) 6. Ulama Fiqih Periode Keenam (656 hingga akhir abad 13 H) Periode keenam ini dibagi dua : Bagian pertama : dari tahun 650 H hingga permulaan abad ke 10 H. Diantara ulama yang terkenal pada bagian ini yaitu : Khalil al-Maliki, As-Subki, Ar Ramli, Ibnu Rifa'ah, Al Kamal Ibnul Humam, As-Sayuthi dan lain-lain yang mempunyai malakah fiqihiyyah dan istinbath. Bagian Kedua : dari awal abad 10 hingga akhir abad 13 H.


286 Para ulama dalam periode ini menempatkan para ulama madzhab baik yang sebelumnya ataupun yang semasanya beberapa tingkat : Tingkat pertama yaitu Ahlul ijtihad fil madzhab. Diantaranya yaitu : Al Hasan ibn Ziyad dari Hanafiah, Ibnul Qasim dan Asyhab dari Malikiyyah, Al Buwaithi dan Al Muzany dari Syafi'iah. Tingkatan kedua yaitu ahlul ijtihad fil masa'il. Diantaranya yaitu : Al Khashshaf, At Thahawy dan Al Karakhy dari kalangan Hanafiah, Al Lahmy, Ibnul 'Araby dan Ibnul Rasyid dari kalangan Malikiyyah, dan Abu Hamid al Ghazally, Abu Ishaq al Asfarayiny dari kalangan Syafi'iyyah. Tingkatan ketiga yaitu Ahlut Takhriji. Diantaranya yaitu Al Jashshas dari madzhab Hanafiah. Tingkatan keempat yaitu Ahlut Tarjih. Diantara tingkatan ini adalah Al Qadury dari kalangan Hanafiah. Tingkatan kelima yaitu Ahlut Taqlid. F. Biografi Ringkas Ulama Fiqih Terkemuka Uyun Kamiluddin (2006 : 50) mengulas tentang biografi ulama fiqih terkemuka. Secara ringkas dapat penulis paparkan sebagai berikut : 1. Imam Hanafi Imam Hanafi, sebagai peletak dasar pemikiran hukum Mazhab Hanafiyyah, adalah salah seorang ulama yang cukup besar dan luas pengaruhnya dalam pemikiran hukum Islam. Nama kecilnya adalah an-Nu'man bin Tsabit ibn Zauta yang kemudian lebih populer dengan sebutan Abu Hanifah. Beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H/699 M dan wafat 150 H/767 M. Abu Hanifah banyak mengemukakan masalah-masalah baru sehingga ia banyak menetaplan hukum-hukum yang belum terjadi dan menerangkan hukumhukum bagi kejadian-kejadian memungkinkan terjadi.


287 Dalam beristinbath hukum, Abu Hanifah selalul berpegang pada sumber dalil yang sistematis. Dari sistematika atau tertib urutan sumber dalil itu tampak jelas bahwa Abu Hanifah menempatkan Alquran pada urutan pertama, lalu Sunnah, dan seterusnya secara berurutan, yakni Qaul Shahabi, al-Ijma', al-Qiyas, al-Istihsan, dan terakhir al-'Urf. Ketika terjadi pertentangan antara qiyas dan istihsan, sementara qiyas tidak dapat dilakukan, ia mengabaikan qiyas dan berpegang kepada istihsan, karena pertimbangan maslahat. Dengan kata lain, qiyas dapat diterapkan sepanjang memenuhi persyaratan. Jika qiyas tidak mungkin dilakukan terhadap kasus-kasus yang dihadapi, pilihan alternatifnya adalah istihsan karena alasan maslahat. 2. Imam Malik Nama lengkap Imam Malik adalah Malik bin Anas bin Abi Amr. Belaiu dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H dan meninggal pada 179 H di tempat kelahirannya. Diceritakan bahwa Imam Malik tidak pernah pindah atau meninggalkan kota Madinah sampai akhir hayatnya sehingga beliau digelari Imam Dar al-Hijrah. Itulah sebabnya watak corak kehidupannya sangat dipengaruhi oleh suasana lingkungan kota Madinah yang masyarakatnya bersahaja dan jauh dari pengaruh kebudayaan luar ketika itu. Malik adalah seorang yang cerdas dan jenius. Ia mempunyai hafalan yang kyat. Jika ia mendengar sesuatu, ia bisa langsung menghafalnya dan tidak pernah lupa. Suatu kali, ia mendengar empat puluh hadits sekaligus. Esok harinya, ia mengemukakan kembali hapalan tersebut kepada gurunya dan tidak satu pun yang luput dari ingatannya. Kekuatan hapalan Imam Malik memang luar biasa yang melebihi teman-temannya ketika itu. Juga, kebiasaan Malik dalam belajar sangat baik. Ia selalu menulis kembali hapalannya dalam buku catatannya sehingga ini pula yang menjadikannya semakin kuat karena menghapal sekaligus aktif menulis. Dengan kecerdasannya itu, dalam usia yang relatif muda, Malik telah mendapat kepercayaan dan izin dari gurunya untuk mengajar di Masjid Madinah. Pemikiran Imam Malik dan dasar istinbatnya berkembang cukup luas di masyarakat Islam yang menajdi pegangan dan dasar pijakan bagi Mazhab Ushul Maliki. Dasar-dasar istinbath (thuruq istinbath) yang digariskan oleh Imam Malik, seperti yang di kutip oleh Ramli S.A. adalah Alquran, Sunnah, Ijma', Qiyas, amal


288 Ahli Madinah, al-masahalih al-mursalah, Qaul Shahabi, Istihsan, al-Dzara'i, al- 'Urf dan al-Istishab. Dalam prakteknya, dalil-dalil yang disebutkannya menjadi dasar pijakan Mazhab (ushul al-madzhab) Maliki dalam beristinbath hukum. Perbedaannya dengan metodologi pengambilan hukum yang dipakai oleh Imam Hanifah (Mazhab Hanafiyah) bukan saja dari sumber dalil, melainkan juga segi penerapan dalil, terutama berkaitan dengan dalil ijtihadiyah. Misalnya, tentang dalil amal ahli Madinah. Bagi kalangan Malikiyah, dalil ahli Madinah merupakan salah satu dalil yang mereka pegangi. Bahkan, menurut catatan Hassan Abu Thalib, seperti yang dikutip Ramli A.S. kalangan Malikiyyah lebih mendahulukan penggunaan amal ahli Madinah daripada Qiyas. Juga, mereka meninggalkan hadits Ahad bila tidak sejalan atau tidak menguatkan amal ahli Madinah. 3. Imam Syafi'i Imam Syafi'i bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris ibni Abbas ibn Usman ibn Syafi'i. Dilihat dari asal usul keturunannya, beliau berasal dari suku Quraisy. Beliau dilahirkan di Gazah, negri yang termasuk Palestina, pada tahun 150 H, dan wafar pada 204 H di Mesir. Diceritakan, kelahiran Syafi'i bersamaan waktu dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, tokoh pembangun Mazhab Hanafi. Atas usaha dan dorongan ibunya, Syafi'i belajar membaca dan menghapal Alquran. Karena ketekunan dan kecerdasan otaknya, dalam usia yang maíz relatif muda, Syafi'i berhasil menghapal Alquran. Dalam hal prinsip-prinsip beristinbath atas hukum, Syafi'i menetapkan langkah-langkah berikut : Alquran, Sunnah, Ijma', Qiyas dan Istishhab. Dalam hal Sunnah, Syafi'i menggunakan khabar Ahad bila perawinya tsiqah (kyat terpercaya) dan tidak mensyaratkan harus masyhur sebagaimana Imam Malik. Syafi'i tidak menggunakan al-Istihsan sebagaimana Abu Hanifah. Bahkan, beliau mengingkari al-Istihsan sebagai dalil hukum yang dengan tegas mengatakan bahwa man istahsana faqad syarra'a, orang yang berpegang dan menggunakan alIstihsan, ia adalah telah membuat hukum. Menurut A. Hanafi, istinbath hukum yang dilakukan oleh Syafi'i seperti yang disebut olehnya dalam ar-Risalah dan al-Umm adalah Alquran dan Sunnah Rasul yang shahih, termasuk Hadits Ahad, lalu Ijma'. Bila ketiga sumber itu tidak


289 memberi keterangan, pendapat sahabat bisa dipakai jika tidak ada sahabat yang menentangnya. Bila sahabat itu berbeda-beda, pendapat sahabat yang lebih mendekati Alquran dan Hadits atau dikuatkan oleh Qiyas itulah yang dipakai dan tidak meninggalkannya sama sekali. Ia juga memakai Qiyas, yaitu mempersamakan hukum sesuatu perkara atas perkara lain yang sudah ada hukumnya dalam Alquran dan Hadits, atau sudah diijmakan atau sudah diputuskan oleh sahabat dengan syarat tidak ada pendapat lain yang menentangnya. 4. Imam Ahmad bin Hanbal Imam Ahmad bernama lengkap Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibani yang lebih populer disebut Ahmad bin Hanbal. Ia dilahirkan di Baghdad pada 164 H/780 M dan meninggal di kota itu pula pada 241 H/855 M. Diriwayatkan, ayahnya meninggal ketika Ahmad ibn Hanbal masih kecil. Selanjutnya, ia diasuh oleh ibunya. Ayahnya termasuk salah seorang tokoh pejuang. Bahkan kakeknya, Hanbal ibn Hilal, pernah menjabat sebagai gubernur di daerah Sarkhas pada masa Dinasti Umayah, serta menjadi juru dakwah ketika tampilnya golongan Abasiyah. Imam Ahmad lebih dikenal sebagai seorang ulama yang banyak menekuni hadits, meskipun ia juga seorang ahli fiqih dan mujtahid mustaqil (mujtahid yang tidak terkait dengna mazhab pendahulunya). Bahkan, ia mengembangkan mazhab sendiri. Meskipun ia mengembangkan pola pemikiran sendiri, jalan istinbath yang diambilnya lebih dekat dengan apa yang ditempuh oleh gurunya, Imam Syafi'i. Ini tidak heran karena Ahmad ibn Hanbal banyak belajat kepada Imam Syafi'i, baik ketika di Mekah maupun ketika gurunya berada di Baghdad untuk kedua kalinya. Imam Syafi'i sangat kagum kepada Ahmad ibn Hanbal dan memuji kewaraann, kezuhudan dan kedalaman illmunya. Mengutip tulisan Hasan Abu Thalib, Romli A.S. menyebutkan bahwa dalam beristinbath atas hukum, Ahmad ibn Hanbal menggariskan dasar-dasar ushul fiqihnya: Alquran, Sunnah, Ijma', Qiyas, al-Istishab, al-Mashalihul Mursalah, dan Syad al-Dzari'ah. Berkenaan dengan hadits, Ahmad ibn Hanbal dan pengikutnya menggunakan hadits mursal dan hadits dho'if. Penggunaan hadits mursal dan hadits dho'if ini lebih didahulukan daripada Qiyas. Bagi Imam Ahmad,


290 hadits dha'if lebih disenangi daripada Qiyas. Bagi Imam Ahmad, hadits dha'if lebih disenangi daripada pendapat sendiri. Jadi, dapat dikatakan bahwa Ahmad ibn Hanbal tidak akan menggunakan Qiyas, kecuali bila darurat. Jika ia tidak menemukan jawaban dari sesuatu masalah dalam nash Alquran, Hadits meskipun lemah, Ijma', dan pendapat sahabat, Qiyas merupakan terakhir yang digunakannya dalam penetapan hukum. Jelaslah bahwa Ahmad ibn Hanbal lebih mengutamakan nash dan formalistik dalam istinabth hukum. Hasan Abu Thalib seperti yang dikutip oleh Romli A.S. menyebutkan bahwa karakter pemikiran fiqih Hanbali berusaha sejauh mungkin untuk tidak menggunakan ro'yu dalam istinbath hukum. Dengan kata lain, teori pemikiran ushul fiqh lebih banyak mennggunakan pendekatan tekstual dalam menghadapi berbagai persoalan fiqih. A. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, (1909 - 1999) ialah Mufti Agung Arab Saudi. Ia adalah salah seorang da'i Salafi. 1) Biografi Namanya adalah: Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdul Aali Baz. Ia dilahirkan di Riyadh, Arab Saudi pada tanggal 12 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Pada mulanya ia bisa melihat, kemudian pada tahun 1336 H, kedua matanya menderita sakit, dan mulai melemah hingga akhirnya pada bulan Muharram tahun 1350 H kedua matanya mulai buta. 2) Pendidikan Sebagai putra seorang ulama' pendidikannya lebih banyak tertuju pada pelajaran Al-Qur'an dan Hadits dibawah bimbingan keluarganya. Kemudian


291 Ia belajar ilmu-ilmu syar'i dari para ulama besar di Riyadh, diantaranya : Syaikh Muhammad bin Abdullathif bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (qadhi (hakim) Riyadh), Syaikh Sa‘ad bin Hamd bin Faris bin ‗Athiq (qadhi Riyadh), Syaikh Hamd bin Faris (wakil Baitul Mal Riyadh), Syaikh Sa‘ad Waqqash al-Bukhari (guru tajwidnya pada tahun 1355 H), Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullathif Aalu as-Syaikh (tempat ia menimba berbagai macam disiplin ilmu Syari‘at Islam mulai tahun 1347- 1357 H). 3) Karir Jabatan yang pernah diembannya: Qadhi (Hakim) di daerah al-Kharaj semenjak tahun 1357-1371 H, Mengajar di Ma‘had (Universitas)al ‗Ilmi di Riyadh pada tahun 1372 H dan fakultas Syari‘ah di Riyadh setelah dibentuknya fakultas tersebut pada tahun 1373 H (dalam mata pelajaran ilmu fiqh, tauhid dan hadits, dan jabatan ini ia tekuni sampai tahun 1380 H). Pada tahun 1381 H ditunjuk sebagai wakil Rektor Universitas Islam Madinah hingga tahun 1390 H, diangkat menjadi Rektor Universitas tersebut pada tahun 1390 H setelah wafatnya as-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu as-Syaikh pada bulan Ramadhan 1389 H, kemudian ia tetap memegang jabatan tersebut sampai tahun 1395 H. Pada tanggal 14-10-1395 H keluar Surat Keputusan Kerajaan untuk mengangkatnya sebagai pimpinan umum untuk bagian Pembahasan Ilmiyah, Fatwa Dakwah dan Irsyad (kemudian tersebut berubah menjadi Mufti Umum Kerajaan setelah dibentuknya Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah dan Irsyad pada tahun 1414 H). Selain itu ia menjabat sebagai anggota pada beberapa Majelis Islamiyah yang berskala internasional, seperti:


292 Anggota Perkumpulan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi. Kepala Badan Tetap Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa pada lembaga di atas. Anggota dan kepala majelis pendiri Rabithah Alam Islami. Kepala pada Majma‘ al-Fiqhi al-Islami yang berpusat di Mekkahyang merupakan bagian dari Rabithah Alam Islami. Anggota pada majelis tertinggi di Universitas Islam Madinah. Anggota pada majelis tinggi Da‘wah Islamiyah Kerajaan Arab Saudi. 4) Karya-karya Karangan-karangannya, sebagian kecilnya antara lain: Al-Fawaid al-Jalilah fi al-Mabahits al-Fardhiyah At-Tahdzir minal Bida‘ Al-‗Aqidah ash-Shahihah wamaa Yudhaadhuha Al-Jihad fi Sabilillah Ad-Da‘watu Ilallah wa Akhlaaqu ad-Du‘at Al-Jawabul Mufid fi Hukmi at-Tashwiir Wujuubu Tahkiimi Syar‘illahi wa Nabdzu maa Khaalafahu 5) Wafat Ia wafat pada subuh Kamis 27 Muharram 1420 H di kota Thaif, dishalatkan pada hari Jumat (28 Muharram 1420 H) di Masjid Haram, dan dimakamkan di pemakaman al-‗Adl Makkah. B. Abdul Muhsin bin Hammad al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara‘ asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-‘Abbad al-Badr lahir di Zulfa (300 km dari utara Riyadh) pada 3 Ramadhan tahun 1353H (10 Desember 1934. Ia adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan saat ini beliau masih memberikan pelajaran Sunan Turmudzi. Ia adalah seorang ‗Alim Robbaniy dan pernah menjabat sebagai wakil mudir (rektor)


293 Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Ia sangat dekat dengan al-Imam al-Allamah Abdul Aziz bin Bazz - rahimahullahu-, bahkan karena kedekatan beliau dengan al-Imam, ketika Imam Bin Bazz tidak ada (tidak hadir) maka Syaikh Abdul Muhsinlah yang menggantikan beliau, sehingga tak heran jika ada yang mengatakan bahwa Universitas Islam Madinah dulu adalah Universitasnya Bin Bazz dan Abdul Muhsin. Diantara guru-guru beliau adalah : 1. al-Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim -rahimahullahu2. al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman al-Ghaits -rahimahullahu3. al-Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz -rahimahullahu4. al-Allamah asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithy -rahimahullahu5. al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman al-Afriqy -rahimahullahu6. al-Allamah asy-Syaikh Abdur Razaq Afifi -rahimahullahu7. al-Allamah asy-Syaikh Umar Falatah -rahimahullahuIa memiliki putra yang juga ‗alim yang bernama Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, yang produktif dan cemerlang. Ia memiliki banyak murid, diantaranya adalah : 1. Syaikh al-Allamah Rabi‘ bin Hadi al-Madkhaly 2. Syaikh al-Allamah Ubaid al-Jabiry 3. Syaikh al-Allamah Abdul Malik Ramadhani al-Jazairy 4. Syaikh al-Allamah Sulaiman ar-Ruhaily 5. Syaikh al-Allamah Ibrahim ar-Ruhaily C. Al-Battani Al Battani (sekitar 850- 923) adalah seorang ahli astronomi dan أتى عثذ هللا يسًذ تٍ خاتش تٍ Arab Bahasa (Battani Al. Arab dari matematikawan ٍَانثتاٍ انصاتٍَ انسشاٌ اُع ; nama lengkap: Abū ʿAbdullāh Muḥammad ibn Jābir


294 ibn Sinān ar-Raqqī al-Ḥarrani aṣ-Ṣabiʾ al-Battānī), lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri: Beliau juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus: dan menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen. Al Battani bekerja di Suriah, tepatnya di ar-Raqqah dan di Damaskus, yang juga merupakan tempat wafatnya. D. Al-Biruni Abu Raihan Al-Biruni (juga, Biruni, Al Biruni) (15 September 973 - 13 merupakan) أتى انشَساٌ انثُشوٍَ :Arab ; اتىسَساٌ تُشوَی :Persia) (1048 Desember matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan. Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazm di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.


295 Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah. Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani beliau dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga mengetahui bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber. Dia menulis bukunya dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab. Sebahagian karyanya ialah: Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari. Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar. Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah. Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16). Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku. Sumbangannya kepada matematika termasuk: aritmatika teoritis and praktis penjumlahan seri analisis kombinatorial kaidah angka 3 bilangan irasional teori perbandingan


296 definisi aljabar metode pemecahan penjumlahan aljabar geometri teorema Archimedes sudut segitiga Hasil kerjanya yang bukan matematika termasuk: Kajian kritis tentang ucapan orang India, apakah menerima dengan تسمُك يا نههُذ يٍ يمىنح يعمىنح فٍ انعمم أو Arab bahasa (menolak atau alasan يشرونح - (sebuah ringkasan tentang agama dan filosofi India Tanda yang Tersisa dari Abad Lampau (bahasa Arab ٌانمشوٍ ع حُانثال ثاسِا حُانخان - (kajian komparatif tentang kalender dari berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, dihubungkan dengan informasi mengenai matematika, astronomi, dan sejarah. Peraturan Mas'udi (bahasa Arab ٌغعىدًانٌ ىَانما - (sebuah buku tentang Astronomi, Geografi dan Keahlian Teknik. Buku ini diberi nama Mas'ud, sebagai dedikasinya kepada Mas'ud, putra Mahmud dari Ghazni. dan pertanyaan) - انتفهُى نصُاعح انتُدُى Arab bahasa (Astrologi Pengertian jawaban model buku tentang matematika dan astronomi, dalam bahasa Arab dan bahasa Persia Farmasi - tentang obat dan ilmu kedokteran Permata (bahasa Arab اندىاهش يعشفحٍ ف اهشًاند (tentang geologi, mineral, dan permata, dipersembahkan untuk Mawdud putra Mas'ud URL: (en) Al Beruni "On Stones" online complete text Astrolab Buku ringkasan sejarah Riwayat Mahmud dari Ghazni dan ayahnya Sejarah Khawarazm E. Al-Farabi Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (870-950, Bahasa Persia: فاساتی ذًيس ( atau Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal


297 sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi), juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir adalah seorang filsuf Islam yang menjadi salah satu ilmuwan dan filsuf terbaik di zamannya. Ia berasal dari Farab, Kazakhstan. Sampai umur 50, ia tetap tinggal di Kazakhstan. Tetapi kemudian ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun. Lalu ia pergi ke Alepo (Halib), Suriah untuk mengabdi kepada sang raja di sana. Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Ia dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik. Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara. Setelah mendapat pendidikan awal, Al_farabi belajar logika kepada orang Kristen Nestorian yang berbahasa Suryani, yaitu Yuhanna ibn Hailan. Pada masa kekhalifahan Al-Muta'did (892-902M), Al-farabi dan Yhanna ibn Hailan pergi ke Baghdad dan Al-farabi unggul dalam ilmu logika. Al-Farabi selanjutnya banyak memberi sumbangsihnya dalam penempaan filsafat baru dalam bahasa Arab. Pada kekahlifahan Al-Muktafi (902-908M) dan awal kekhalifahan Al-Muqtadir (908-932M) Al-farabi dan Ibn Hailan meninggalkan Baghdad menuju Harran. Dari Baghdad Al-Farabi pergi ke Konstantinopel dan tinggal di sana selama dealapan tahun serta mempelajari seluruh silabus filsafat. Al-Farabi dikenal sebagai "guru kedua" setelah Aristoteles. Dia adalah filosof islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama)yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui


298 kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah. F. Al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Riwayat Hidup Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Ia berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya. 1) Sifat Pribadi Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat


299 dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya mengusai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengambara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengambaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci yang bertaburan di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi berliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan. Kemegahan, dan kepuran-puraan dan mencari sesuatu untuk mendapat keredhaan dari Allah SWT. Ia mempunyai keahlian dalam pelbagai bidang ilmu terutamanya fiqih, usul fiqih, dan siyasah syariah. Oleh karena itu, beliau disebut sebagai seorang faqih. 2) Pendidikan Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah.


300 Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah. 3) Karya 3. 1. Teologi Al-Munqidh min adh-Dhalal Al-Iqtishad fi al-I`tiqad Al-Risalah al-Qudsiyyah Kitab al-Arba'in fi Ushul ad-Din Mizan al-Amal Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah[1][2] 3. 2. Tasawuf Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[3], merupakan karyanya yang terkenal Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[4] Misykah al-Anwar (The Niche of Lights) 3. 3. Filsafat Maqasid al-Falasifah Tahafut al-Falasifah, [5] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence). 3. 4. Fiqih Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul


Click to View FlipBook Version