The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Analisis Buku. Kehidupan Kaum Menak Priangan Tahun 1800-1942

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MUHAMMAD ARIF WICAKSONO MUHAMMAD ARIF WICAKSONO, 2023-06-28 01:23:55

Analisis Buku. Kehidupan Kaum Menak Priangan Tahun 1800-1942

Analisis Buku. Kehidupan Kaum Menak Priangan Tahun 1800-1942

Keywords: Kaum Menak

ANALISIS BUKU “KEHIDUPAN KAUM MENAK PRIANGAN” 1800-1942 Disusun Oleh MUHAMMAD ARIF WICAKSONO 2288220020 KELAS 2A MAHASISWA PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA


1. Pendahuluan LATAR BELAKANG Buku “Kehidupan Kaum Menak Priangan tahun 1800-1942” merupakan buku yang ditulis oleh Dr. Nina Lubis. Buku ini menceritakan tentang kehidupan kaum Menak Priangan dengan latar waktu tahun 1800-1942 masehi yaitu latar waktu kehidupan pendudukan kolonial Hindia Belanda di Indonesia pada waktu itu. Alasan penganalisis memilih buku ini adalah karena buku ini menceritakan tentang kehidupan kaum Menak di Priangan secara terkronologis, deduktif dan geneologis dalam meneliti kehidupan Kaum Menak Priangan yang dikenal sebagai kaum bangsawan yang masih ada pada era kolonial Belanda. Diketahui bahwa Kaum Menak merupakan kaum bangsawan yang menempati strata sosial tertinggi di kehidupan masyarakat sunda. Mereka memiliki kekayaan sosial, politik, dan ekonomi yang begitu megah sehingga wajar saja jika kaum ini menempati strata sosial tertinggi di kalangan masyarakat Sunda. Golongan status sosial di Jawa Barat pada abad ke-19 dan ke-20 sebagai elite politik dalam masyarakat kolonial telah menarik perhatian para sarjana dibidang ilmu kemasyarakatan (B. Schrieke), Ilmu Antropologi Politik (Palmier), Ilmu Sejarah yang menjadi daya tarik Sutherland dan masih banyak lagi. Penelitian ini juga ingin memperhatikan golongan aristokrasi di Jawa Barat yang umumnya kurang diperhatikan dibandingkan golongan aristokrasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam rangka itu pula, Dr. Nina Herlina Lubis mengidentifikasi kaum ini sebagai kaum yang memegang peran penting dalam sejarah Indonesia Modern, sebagai dramatis personal, kaum elit ini juga berperan sebagai perantara antara penguasa kolonial Belanda dengan rakyat. 2. PEMBAHASAN A. Resensi Buku Judul Buku : Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 Pengarang : DR. Nina H. Lubis Tahun Terbit : 1998 Penerbit : Pusat Informasi Kebudayaan Sunda Jumlah Halaman : 411 Halaman B. Orientasi Buku “Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 merupakan buku yang membahas tentang kehidupan masyarakat Kaum Menak Priangan yang berlatar waktu tahun 1800-1942. Buku ini mengkaji secara detail tentang gaya hidup,


silsilah, tempat tinggal, etiket bahasa, upacara adat, perkawinan, tokoh-tokoh dan seluk beluk kehidupan kaum menak secara teoritis dan terstruktur C. Sinopsis Pada abad ke-19, Priangan terdiri atas beberapa kabupaten yang jumlah dan luasnya berubah-ubah sesuai dengan kebijakan pemerintah kolonial di bawah pengawasan pemerintah Hindia Belanda. Dengan diselingi selama enam tahun yaitu antara tahun 1811-1816 oleh pemerintah Inggris. Mereka terdiri dari bupati, bawahan bupati, dan sanak kerabat mereka yang berasal dari keturunan raja-raja Kaum Menak sebagai elite politik yang duduk dalam birokrasi tradisional menggunakan kedudukan politik sebagai salah satu cara untuk mempertahankan status mereka. Dalam hubungan ini perlu dijelaskan bagaimana struktur politik tradisional di kabupaten-kabupaten Priangan. Pada waktu itu kabupaten merupakan pusat birokrasi tradisional yang memiliki kekuasan yang besar dan palling berpengaruh baik untuk kaum kolonial maupun kaum masyarakat mereka sendiri. Status sosial yang tinggi menentukan gaya hidup mereka pula demi menjaga kewibawaan mereka. Namun mereka memiliki permasalahan pada saat pendudukan kaum kolonial Belanda ke Nusantara. Mereka mengalami kesulitan khususnya dalam pemenuhan gaya hidup mereka. D. Analisis Bagian awal buku ini tidak secara langsung menceritakan kehidupan kaum menak sebagai elit politik di Priangan, melainkan terlebih dahulu menceritakan latar belakang dan pokok permasalahan terlebih dahulu. Kemudian menampilkan tinjauan atas studi terlebih dahulu, metode penelitian, dan sumber penulisan apa saja yang dikumpulkan dalam penyusunan buku tersebut. Pada bab dua, penulisan kehidupan kaum menak diawali dengan kondisi geografis dan ekologis wilayah Priangan. Objek kajian Pada bab ini juga meninjau cakupan wilayah Priangan pada abad ke-19 yang mencakup seperenam wilayah Jawa. Pada abad ke-19 wilayah Priangan dijadikan sebagai wilayah kepresidenan. Pada bab ini juga meninjau statistika penduduk Priangan, latar belakang historis silsilah kaum menak yang berakar dari kerajaan Tarumanegara Kemudian pada bab tiga, ditampilkan kehidupan kaum Menak sebagai elit birokarasi tradisional. Pada bab ini mengkaji tentang seluk beluk kehidupan Menak. Objek kajiannya meliputi Geneaologi atau silsilah keluarga-keluarga Menak. Yang berasal dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran kemudian dilanjutkan birokrasi kekuasaan Kaum Menak yang dipandang setara dengan raja padahal hanya dilabeli sebagai Bupati Priangan dari pihak kolonial. Ketika kita membahas


tentang kekuasaan tak luput pula dengan status sosial dan kekayaan Kaum Menak dan hubungan masyarakat Menak dengan Belanda. Pada bab empat, buku ini mengkaji tentang gaya hidup masyarakat menak secara detail dan deduktif. Pada bab ini penulis menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup kaum menak seperti tempat tinggal kaum menak, etiket dan bahasa, pusaka, upacara, pendidikan, perkawinan, kesenian, rekreasi, kebiasaan makanan, dan tentunya kehidupan keagaman dan kepercayaan. Pada bab lima, objek kajian kaum menak mulai bercondong pada unsur politik. Pada bab ini mulai membahas birokrasi, kepemimpinan, dan tokoh-tokoh politik kaum menak. Pada bab enam merupakan bab yang berisi tentang kesimpulan dari materi-materi buku ini. E. Evaluasi Buku ini membahas secara spesifik tentang kehidupan masyarakat kaum menak dari tahun 1800-1942. Secara detail, buku ini menonjolkan kehidupan masyarakat kaum menak sebagai kaum yang memiliki strata sosial yang tinggi. Penulis juga menjelaskan secara spesifik seluk-beluk kehidupan masyarakat kaum menak dan hubungan-hubungannya dengan masyarakat khususnya masyarakat belanda. Namun buku ini kurang menjelaskan tentang situasi dan kondisi masyarakat menak pada saat awal pendudukan Jepang di Indonesia. Pada buku ini juga, sosok kaum menak ditampilkan sebagai kaum elit yang tidak simpatis pada pergerakan nasional karena mengancam kedudukan mereka Buku ini sangat cocok untuk kalangan mahasiswa yang mencari bahan kajian untuk penelitian secara teoritis kehidupan masyarakat menak. F. Informasi tambahan buku Sekedar fakta unik, buku karya Nina Lubis ini telah diwakafkan pada tanggal 12 Juni 2020. Nina Lubis berharap dengan mewakafkan buku tersebut, ada lebih banyak masyarakat yang memetik manfaat dari karya penelitiannya. Nina Lubis juga berkeinginan ilmu yang beliau miliki diketahui masyarakat 3. METODE DAN KERANGKA TEORITIS Prosedur penelitian dilaksanakan sesuai dengan metode sejarah dengan bantuan kerangka pemikiran yang teoritis. Adanya bantuan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, dan ilmu politik sangat dibutuhkan karena selain diakronis, kajian ini juga memerlukan analisis secara sinkronis supaya eksplanasi historis tercapai dengan baik. Kemudian untuk memahami kehidupan Menak dengan baik, diperlukan adanya konsep tipe ideal yang dijabarkan oleh Max Weber. Konsep ini menelaah struktur birokrasi kaum menak yang masih bersifat primordial ditengah desakan kolonial untuk memberlakukan sistem pemerintahan yang modern dan rasional.


Metode penelitian sejarah, terdiri dari empat tahap. Tahap pertama yaitu Heuristik atau pengumpulan data. Peneliti mengumpulkan sumber-sumber baik yang bersifat primer maupun sekunder. Buku ini menggunakan sumber baik secara primer maupun sekunder. Sumber-sumber primer yang dikumpulkan dalam buku ini contohnya arsip-arsip kolonial yang termuat dalam Arsip Departemen Dalam Negeri yaitu, surat keputusan pemerintah berupa OIB (Oost-Indis-che Beskuiten) dan circulaire atau surat edaran: verbal, yaitu proses keputusan mengenai suatu masalah yang dilengkapi dengan suratsurat pertimbangan dari berbagai pejabat yaitu residen/gubernur serta sumber-sumber primer asing lainnya. Sedangkan sumber-sumber lokal yang bersifat primer antara lain otobiografi dan surat pribadi yan g jumlahnya sangat terbatas. Keterbatasan ini dapat dimaklumi karena kaum menak belum terbiasa menulis kehidupannya sendiri. Sedangkan sumber sekunder yang penting adalah surat kabar, salah satu contohnya adalah Padjadjaran, Sipatahoenan, Soenda Berita, Soerapati, dan Kudjang. Kemudian peneliti juga melakukan wawancara terhadap keturunan kaum menak yang masih hidup yang kemudian rekamannya dijadikan sebagai sumber penulisan sekunder. Kemudian setelah melakukan metode heuristik atau pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah melakukan verifikasi atau kritik. Sumber penulisan yang sudah dikumpulkan diverifikasi, baik secara internal maupun eksternal. Verifikasi secara internal merupakan pengecekan terhadap keaslian isi sumber, sedangkan kritik eksternal merupakan pengecekan terhadap kondisi sumber tersebut. Layak atau tidakkah sumber tersebut, rusak atau tidakkah sumber tersebut tujuan dari tahap ini. Setelah melakukan verifikasi, sumber-sumber tersebut dikumpulkan dan kemudian ditafsirkan oleh penulis. Tahap ini merupakan tahap yang tak luput dari unsur subjektivitas manusia yang berbeda. Sehingga memicu adanya dialog yang tidak berkesudahan untuk menyimpulkan sumber-sumber sejarah antar penulis ( Unending dialog) Tahap terakhir dalam penelitian sejarah adalah Historiografi. Setelah sumber-sumber tersebut dikumpulkan, diverifikasi, dan diinterpretasi, hasil dari interpretasi tersebut dituangkan kedalam karya penulisan sejarah. Karya-karya tersebut biasanya berbentuk buku, artikel, dan makalah.


4. BIOGRAFI PENULIS NINA HERLINA adalah Wanita pertama yang meraih gelar doctor sejarah di Jawa Barat: dilahirkan di Bandung pada 8 September 1956. Setelah tamat dari SMUN 3 Bandung, ia diterima di fakultas Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun beliau merasa sedikit kecewa karena pillihannya adalah fakultas Seni Rupa dan Desain. Namun beliau sempat menimba ilmu selama 2 tahun. Kemudian pada tahun 1978 beliau msuk jurusan seujarah Universitas Sumatera Utara (USU)di Medan tapi program S-1 nya ia selesaikan di Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 1984. Skripsinya tentang “Peranan Pangeran Aria Cirebon sebagai Perantara Kompeni dengan para Bupati Priangan pada awal abad ke-18”. Beliau yang memiliki minat di bidang sejarah ini ditekuninya sepenuh hati. Tahun 1990 beliau menyelesaikan program S-2 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan tesis “Bupati RAA Martanegara: Studi Kasus Elite Birokrasi Pribumi di Kabupaten Bandung (1893-1918) dan terpilih sebagai lulusan terbaik. Studinya tentang kehidupan kaum menak Priangan itu lebih dikukuhkannya lagi ketika ia menyelesaikan program S-3 (doktor dalam ilmu sejarah) dan lulus cumlaude. Karyanya adalah buku ini dan dengan karya ini pula ia menjadi doctor termuda di bidangnya. Beliau menikah dengan H. Livian Lubis, beliau pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra universitas Padjajaran sekarang beliau mengajar di Universitas Padjajaran Bandung. Beliau juga merupakan murid dari Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Nina hanya memerlukan waktu 11 semester dalam menyelesaikan kuliahnya 5. GERAK SEJARAH Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif terdapat tiga pola gerak sejarah yaitu a. Sejarah berjalan menelusuri garis lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak ke belakang b. Sejarah berjalan dalam daur kultural yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus, dan dalam berbagai kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daurdaur itu saling berjalin dan berulang kembali c. Gerak sejarah tidak selalu mempunyai pola-pola tertentu Para filsuf sejarah sendiri sering menggabungkan ketiga pola ini dalam menginterpretasikan gerak sejarah yaitu


a. Gerak Sejarah Maju Ide gerak sejarah yang maju ke depan sering dikemukakan para filsof yang cenderung mengukuhkan perbuatan manusia dan pencapaian-pencapaiannya dalam sejarah. b. Gerak Sejarah Mundur Gerak sejarah mundur ke belakang merupakan gerak sejarah yang mundur ke belakang menuju kehancuran c. Gerak Sejarah Daur Kultural Menurut Ibn Khaldun, gerak sejarah mempunyai daur kultural yang mengulang kembali dirinya sendiri dalam satu bantuk atau lainnya Dalam penulisan buku ini, gerak sejarah daur kultural adalah gerak sejarah yang dipakai adalah gerak sejarah maju. Hal ini dbuktikan dengan latar waktu yaitu tahun 1800-1942 yang dimana pada tahun itu tentu saja terjadi beberapa kemajuan dan perubahan yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat menak. 6. KESIMPULAN Buku “Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942” merupakan buku yang menceritakan tentang kaum bangsawan yang terletak di Kawasan Priangan atau Jawa Barat. Buku ini ditulis oleh DR. Nina Lubis sebagai karyanya dalam meneliti kehidupan kaum menak Priangan selama lima tahun. Setelah dianalisis, buku ini terdiri dari 6 bab 411 halaman yang keseluruhan menceritakan seluk beluk kehidupan kaum Menak mulai dari sistem perekonomian, gaya hidup, upacara adat, sistem birokrasi, tempat tinggal, etiket bahasa dan hubungan-hubungannya dengan orang Belanda atau kaum kolonial. Selaku penulis, DR. Nina Lubis merupakan seorang sejarawan yang lulus di Universitas Padjajaran. Dari dulu beliau memang sudah tertarik dengan kehidupan kaum menak priangan. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya skripsinya tentang “Peranan Pangeran Aria Cirebon sebagai Perantara Kompeni dengan para Bupati Priangan pada awal Abad ke-18”.


Daftar Pustaka al-Sharqawi, E. (2007). GERAK SEJARAH, bahan ajar mata kuliah filsafat sejarah. Kuntowijoyo. (2005). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka. LUBIS, D. N. (1998). KEHIDUPAN KAUM MENAK PRIANGAN 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda. Ranawati, N. K. (2020). Sejarawan Nina Lubis Wakafkan buku"Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942".


Click to View FlipBook Version