The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-guide Mevis: Panduan Elektronik Pengukuran dan Evaluasi Olahraga

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by khoirilanam100, 2022-08-31 12:07:35

E-guide Mevis: Panduan Elektronik Pengukuran dan Evaluasi Olahraga

E-guide Mevis: Panduan Elektronik Pengukuran dan Evaluasi Olahraga

Keywords: Pengukuran,evaluasi,Olahraga

4. SEATED MEDICINE BALL THROW TEST

Tujuan:
Tujuan dari Seated Medicine Ball Throw Test adalah

untuk mengukur Power otot lengan dengan tubuh tetap
menempel pada tembok.

Peralatan dan Bahan:
o Meteran 20 m
o Medicine ball 1-2 kg
o Dinding
o Lantai yang rata
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama, posisikan testee duduk dengan punggung

menempel pada dinding, mengarah kepada daerah di mana
bola harus dilemparkan. Posisi kaki dluruskan dan kaki
dibuka selebar bahu. Selanjutnya bola medicine dipegang di
depan dada, kemudian dilemparkan sekuat mungkin ke arah
depan. Selama pelaksanaan melempar ini, badan harus
selalu menempel pada dinding. Testee diberikan
kesempatan tiga kali pelaksanaan.

45

Gambar 15. Pelaksaan Seated Medicine Ball Throw
Test

Penilaian:
Catat hasil seated medicine ball throw test di formulir

pencatat. Jarak dihitung dari dinding sampai jarak jatuhnya
pertama kali bola. Testee diberikan kesempatan tiga kali
pelaksanaan. Jarak terjauh dari tiga kali percobaan adalah
hasil seated medicine ball throw test yang digunakan.

46

E. PENGUKURAN KELINCAHAN

Kelincahan merupakan kemampuan untuk mengubah
arah dengan cepat, terutama dalam merespon suatu
stimulus tanpa kehilangan suatu keseimbangan (Fox et al.,
2014). Kelincahan juga dapat diartikan sebagai gerakan
seluruh tubuh yang cepat dengan perubahan arah dan
kecepatan dalam merespon suatu stimulus (Usher, 2019;
Young et al., 2015).

Instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur kelincahan dapat diringkas dalam tabel 5 di
bawah ini.

Tabel 5. Daftar Instrumen Kelincahan

No. Nama Tujuan Mengukur

1 Illinois Agility Test Kelincahan dalam berbagai
2 505 Agility Test putaran dan gerakan
Kelincahan dalam merubah
arah 180 derajat

3 Shuttle Run Test Kelincahan merubah arah

Kelincahan dalam

4 SEMO Agility Test menggerakkan tubuh ke
depan, ke belakang, dan ke

samping

5 Hexagon agility Test Kelincahan dengan tetap
menjaga keseimbangan

kelincahan merubah posisi
6 Quadrant Jump Test tubuh

Right Boomerang Kelincahan
7 Run Test

47

1. ILLINOIS AGILITY TEST

Tujuan:
Tujuan dari Illinois Agility Test adalah untuk mengukur

kelincahan seseorang dalam berbagai putaran dan gerakan.
Peralatan dan Bahan:

o Meteran 20 meter
o Stopwatch
o Cone
o Formulir Pencatat
o Alat tulis
Prosedur Pelaksanaan:

Pertama-tama testee bersiap di garis start, setelah
aba-aba “Go” testee berlari secepat-cepatnya menuju garis
finish. Arah gerakan lari testee sesuai dengan arah yang
ditentukan (lihat gambar 16). Bersamaan dengan aba-aba
“Go” petugas waktu menyalakan stopwatch dan setelah
testee melewati garis finish, stopwatch juga dimatikan.

48

Gambar 16. Area Illinois Agility Test

Penilaian:
Catat hasil pelaksanaan Illinois Agility Test di formulir

pencatat. Hasil merupakan waktu tempuh yang dicapai oleh
testee dari mulai aba-aba “Go” sampai garis finish.

49

2. 505 AGILITY TEST

Tujuan:
Tujuan dari 505 Agility Test adalah untuk mengukur

kelincahan dalam merubah arah 180 derajat.

Peralatan dan Bahan:
o Stopwatch
o Meteran 20 meter
o Tempat yang permukaannya rata dan baik
o Cone
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama buatlah area 505 agility test dengan

menandai area dengan cone berjarak 15 meter pada
permukaan yang rata (dengan dibagi menjadi dua jarak,
yaitu 10 meter dan 5 meter). Testee berlari dari garis start
menuju batas cone di 15 meter dan kembali berlari menuju
garis start. Petugas waktu menyalakan stopwatch ketika
testee melewati batas cone di 10 meter pertama dan
menghentikan stopwatch setelah testee berlari dan telah
melewati cone dimana stopwach tanda start dinyalakan tadi
(cone 10 meter dari garis start). Jumlah total jarak yang
ditempuh adalah 10 meter. Testee diberikan kesempatan
dua kali pelaksanaan.

50

Gambar 17. Pelaksanaan 505 Agility Test
Penilaian:

Catat hasil 505 Agility Test di formulir pencatat. Catat
waktu tempuh terbaik yang dicapai oleh testee dari dua kali
kesempatan pelaksanaan.

51

3. SHUTTLE RUN TEST

Tujuan:
Tujuan dari Shuttle Run Test adalah untuk mengukur

kelincahan dalam mengubah arah.

Peralatan dan Bahan:
o Stopwatch
o Meteran 20 meter
o Tempat yang permukaannya rata dan baik
o Cone mangkuk
o Cone kerucut
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama buatlah area Shuttle Run Test dengan

menandai area dengan cone berjarak 10 meter pada
permukaan yang rata. Start dilakukan dengan berdiri. Pada
aba-aba “bersedia” atlet berdiri di belakang garis lintasan.
Pada aba-aba “siap” atlet bersiap dengan start berdiri. Pada
aba-aba “Go” testee segera berlari menuju garis kedua dan
mengambil cone/ balok, kemudian lari kembali ke garis start,
letakkan cone/ balok di belakang garis.

Testee berlari dari garis pertama menuju garis kedua
dan kembali ke garis pertama dihitung 1x, lakukan lari 2x
bolak-balik sehingga testee menempuh jarak 40 meter.

Petugas waktu menyalakan stopwatch setelah aba-
aba “Go” dan setelah testee melewati garis finish, stopwatch
di hentikan.

52

Gambar 18. Pelaksanaan Shuttle Run Test
Penilaian:

Catat hasil Shuttle Run Test di formulir pencatat.
Catat waktu tempuh yang dicapai oleh testee dari mulai
aba-aba “Go” sampai garis finish. Catat waktu persepuluh
detik (0,1 detik) atau perseratus detik (0,01 detik).

53

4. SEMO AGILITY TEST

Tujuan:
Tujuan dari SEMO Agility Test adalah untuk

mengukur kelincahan dalam menggerakkan tubuh ke
depan, ke belakang, dan ke samping.

Peralatan dan Bahan:
o Stopwatch
o Meteran 20 meter
o Tempat yang permukaannya rata dan baik
o Kerucut/Cone
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama buatlah area SEMO Agility Test

dengan menandai area dengan cone berjarak 12 feet (3,66
m) pada cone nomer 1 ke 3 dan cone nomer 2 ke 4, serta
19 feet (5,8 m) pada cone nomer 1 ke 2 dan cone nomer 3
ke 4.

Start dimulai dari cone nomer 1, pada aba-aba “Go”
Testee berlari menuju cone nomer 2 menggunakan gerakan
menyamping, setelah itu memutari cone dan lari mundur ke
cone nomer 3. setelah di cone nomer 3, lari ke depan ke
cone nomer 1, memutari cone dan lari mundur ke cone
nomer 4. Setelah mengelilingi cone nomer 4, lari ke depan
menuju cone nomer 2, kemudian lari ke cone nomer 1 lagi
dengan gerakan menyamping.

54

Gambar 19. Pelaksanaan SEMO Agility Test
Penilaian:

Catat hasil SEMO Agility Test di formulir pencatat.
Catat waktu tempuh yang dicapai oleh testee dari mulai
aba-aba “Go” sampai garis finish. Catat waktu persepuluh
detik (0,1 detik) atau perseratus detik (0,01 detik).

55

5. HEXAGON AGILITY TEST

Tujuan:
Tujuan dari Hexagon Agility Test adalah untuk

mengukur kelincahan dengan tetap menjaga keseimbangan.

Peralatan dan Bahan:
o segi enam sama sisi berukuran 2 feet (61 cm)
o Stopwatch
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Testee berdiri di tengah-tengah area segi enam

dengan kedua kaki menyatu di tengah segi enam
menghadap garis depan. Pada aba-aba “GO” stopwatch
dinyalakan dan testee melompat dengan kedua kaki
melewati garis kearah luar area segi enam dan kembali ke
tengah, lalu keluar area segi enam dan kembali ketengah,
dan seterusnya sampai semua enam sisi dilompatinya.
Lanjutkan pola ini selama tiga putaran penuh, terus
menghadap ke depan selama pengujian. Lakukan tes
searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam.

56

Gambar 20. Area Hexagon Agility Test

Penilaian:
Catat hasil waktu pelaksanaan Hexagon Agility Test

di formulir pencatat. Skor atlet adalah waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tiga putaran penuh. Skor
terbaik dari dua percobaan dicatat.

Bandingkan arah berlawanan arah jarum jam dan
searah jarum jam akan menunjukkan jika ada
ketidakseimbangan antara keterampilan gerakan kiri dan
kanan. Jika testee melaksanakan tes tidak sesuai ketentuan
maka tes diulang.

57

6. QUADRANT JUMP TEST

Tujuan:
Tujuan dari Quadrant Jump Test adalah untuk

Mengukur kelincahan merubah posisi tubuh.

Peralatan dan Bahan:
o Pita Pengukur atau meteran
o Kapur atau pita sebagai penanda
o Stopwatch
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama testee memposisikan diri di garis start.

Jika sudah siap, testee melompat ke depan melintasi garis
ke kuadran kedua, lalu secara berurutan ke kuadran 3, 4, 1,
2, 3, 4 dan seterusnya (bergerak searah jarum jam). Jaga
agar tubuh menghadap ke depan dengan arah yg sama
saat testee mengitari kuadran. Lanjutkan pola ini secepat
mungkin selama 15 detik, dan hitung jumlah total lompatan.

Setelah istirahat setidaknya beberapa menit ulangi
percobaan dengan arah yang berlawanan (berlawanan arah
jarum jam), melompat dari kuadran 1 ke 4, lalu 3, 2, 1 ,4, 3,
2, dan seterusnya.

Hitung jumlah lompatan selama 15 detik, jangan
hitung jika menyentuh garis atau mendarat dengan satu
atau kedua kaki di kuadran yang salah.

58

Gambar 21. Area Quadrant Jump Test

Penilaian:
Catat hasil Quadrant Jump Test di formulir pencatat.

Hitung jumlah total lompatan dari arah gerakan searah dan
berlawanan jarum jam, dan jangan hitung jika menyentuh
garis atau mendarat dengan satu atau kedua kaki di
kuadran yang salah.

59

7. RIGHT BOOMERANG RUN TEST

Tujuan:
Tujuan dari Right Boomerang Run Test adalah untuk

mengukur kelincahan.

Peralatan dan Bahan:
o Stopwatch
o Meteran 20 meter
o Tempat yang permukaannya rata
o Cone
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Area tes dibuat dengan memposisikan cone pada 17

feet (5,18 m) dari garis start (sebagai titik tengah area).
Cone yang lain ditempatkan pada 15 feet (4,57 m) di
seberang cone pertama dari garis start.

Pertama-tama testee berdiri di garis start, ketika aba-
aba “Go” testee berlari ke arah titik tengah (cone tengah)
dan berbelok ke arah kanan seperti boomerang, kemudian
kembali lagi ke titik (cone tengah) dan berbelok ke arah
kanan lagi. Lakukan arah gerakan lari ini sampai testee
sampai di garis finis. Petugas waktu menyalakan stopwatch
saat aba-aba “Go” dan dimatikan saat testee mencapai
garis finish.

60

Gambar 22. Arae Right Boomerang Run Test
Penilaian:

Catat hasil Right Boomerang Run Test di formulir
pencatat. Catat waktu tempuh yang dicapai oleh testee dari
mulai aba-aba “Go” sampai garis finish.

61

F. PENGUKURAN FLEKSIBILITAS

Fleksibilitas merupakan kemampuan sendi untuk
melakukan berbagai gerakan secara maksimal yang dibatasi
oleh struktur tulang, elastisitas otot, tendon, ligamen, dan kulit
(Womsiwor et al., 2020). Fleksibilitas menjadi salah satu
komponen fisik yang merupakan faktor penting hampir semua
gerakan manusia, khususnya gerakan dalam olahraga.
Dimilikinya fleksibilitas yang baik memungkinkan atlet untuk
melakukan berbagai gerakan dan keterampilan dengan
mudah dan membantu mencegah cedera (Bompa & Michael,
2015). Hal tersebut sejalan dengan yang dijelaskan oleh
Hoerger & Hoeger, (2010) bahwa fleksibilitas mengacu pada
rentang gerak yang dapat dicapai pada sendi atau kelompok
sendi tanpa menyebabkan cedera. Tingkat fleksibilitas yang
rendah dapat menyebabkan buruknya postur tubuh dan rasa
sakit serta nyeri ketika melakukan suatu gerakan, sehingga
mengakibatkan terbatasnya gerak sendi.

Instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur fleksibilitas dapat diringkas dalam tabel 6 di bawah
ini.

62

Tabel 6. Daftar Instrumen Fleksibilitas

No. Nama Tujuan Mengukur

1 Finger Touch Test fleksibilitas bahu

2 Sit and Reach Test fleksibilitas pinggang dan
batang tubuh (togok)

3 Tes Statis Fleksibilitas fleksibilitas pergelangan
Pergelangan kaki kaki

4 Tes Statis Fleksibilitas fleksibilitas tubuh bagian
Tubuh Bagian Atas dan
Leher atas dan leher

63

1. FINGER TOUCH TEST

Tujuan:
Tujuan Finger Touch Test adalah untuk mengukur

tingkat fleksibilitas bahu.
Peralatan dan Bahan:
o Penggaris/ meteran
o Formulir pencatat
o Alat Tulis
Prosedur Pelaksanaan:

Pertama-tama, tangan kanan ke atas bahu kanan dan
raih bagian tengah punggung sejauh mungkin ke bawah
dengan jari-jari direntangkan dan mengarah lurus ke bawah.
Secara bersamaan, tangan kiri diletakkan di belakang
punggung bawah dengan telapak tangan menghadap ke
luar dan secara bertahap geser tangan dengan jari-jari
direntangkan sejauh mungkin.

Tujuan tes ini untuk mendekatkan ujung jari atau
tumpang tindih sejauh mungkin di belakang punggung, dan
menahan posisi akhir yang dicapai selama 2 detik.

64

Gambar 23. Pelaksanaan Finger Touch Test

Penilaian:
Ukurlah hingga setengah inci terdekat jarak antara

ujung jari atau jumlah tumpang tindih di antara jari-jari. Jika
testee tidak dapat menyentuh atau menutupi jari, jarak antar
jari dicatat sebagai skor negatif. Jika jari-jari bersentuhan
tetapi tidak tumpang tindih, skornya sama dengan nol (0).
Jika jari saling tumpang tindih, ukur dengan hati-hati jumlah
tumpang tindih dan laporkan sebagai skor positif. Testee

65

diberikan kesempatan dua kali pelaksanaan, dan rata-rata
dari dua percobaan sebagai skor akhir.

Ulangi tes tersebut di sisi kiri (bawa tangan kiri
melewati bahu kiri dan tangan kanan di belakang punggung
bawah). Lakukan dua percobaan dan rata-rata skor akhir.

66

2. SIT AND REACH TEST

Tujuan:
Tujuan Sit and Reach Test adalah untuk mengukur

tingkat kelenturan pinggang dan batang tubuh (togok)
seseorang.

Peralatan dan Bahan
o Meja sit and reach
o Tembok yang datar
o Formulir pencatat
o Alat Tulis
Prosedur Pelaksanaan

Pertama-tama testee duduk di lantai tanpa alas kaki.
Kaki testee menempel pada bagian bawah meja sit and
reach dengan lutut lurus. Ujung jari dari kedua tangan
menyentuh flexometer di meja sit and reach. Perlahan
badan dibungkukkan dengan posisi tangan lurus. Ujung jari
harus selalu menempel pada sit and reach. Testee hanya
diperbolehkan melakukan sekali dorongan maksimal dan
tidak boleh dilakukan dorongan yang berulang-ulang dalam
satu tes. Lutut tidak boleh menekuk, harus selalu lurus.

67

Gambar 24. Pelaksanaan Sit and Reach Test

Penilaian
Setelah testi berhenti mendorong segera dilihat dan

dicatat hasilnya. Testee diberikan kesempatan dua kali
pelaksanaan.

68

3. TES STATIS FLEKSIBILITAS
PERGELANGAN KAKI

Tujuan:
Tujuan Tes Statis Fleksibilitas Pergelangan kaki

adalah untuk mengetahui tingkat fleksibilitas pergelangan
kaki seseorang.
Peralatan dan Bahan
o Tembok yang datar
o Penggaris/ Meteran
Prosedur Pelaksanaan

Pertama-tama testee berdiri menghadap dinding.
Ujung jari kaki menyentuh dinding dan badan bersandar
pada dinding.

Sejauh mungkin kaki testee secara perlahan
menjauhi dinding. Ketika kaki berusaha menjauhi dinding,
usahakan dada tetap menempel pada dinding dan
pertahankan kaki tetap berdiri.

69

Gambar 25. Tes Statis Fleksibilitas Pergelangan kaki
Penilaian

Jarak antara ujung kaki dengan dinding diukur,
dengan jarak paling dekat adalah ¼ inchi. Tester diberikan
kesempatan tiga kali pelaksanaan dan catat jarak yang
terbaik.

70

4. TES STATIS FLEKSIBILITAS TUBUH
BAGIAN ATAS DAN LEHER

Tujuan:
Tujuan tes statis fleksibilitas tubuh bagian atas dan

leher adalah untuk mengetahui tingkat fleksibilitas tubuh
bagian atas dan leher seseorang.
Peralatan dan Bahan
o Permukaan yang datar
o Penggaris/ meteran
Prosedur Pelaksanaan

Pertama-tama testee berbaring telungkap dilantai
dengan posisi kedua tangan lurus berada dikedua sisi
kepala. Tubuh diangkat setinggi mungkin dan pinggang
tetap ditahan dilantai.
Penilaian

Catat jarak tertinggi naiknya wajah sampai kelantai,
dengan jarak terdekat ¼ inci. Tester diberikan kesempatan
tiga kali pelaksanaan dan catat jarak terbaik.

71

G. PENGUKURAN KESEIMBANGAN

Keseimbangan didefinisikan sebagai kemampuan
untuk mempertahankan keseimbangan tubuh yang statis
dan dinamis ketika ditempatkan pada berbagai posisi
(Womsiwor et al., 2020). Keseimbangan sangat penting
dalam aktivitas olahraga seperti senam, menyelam,
seluncur es, ski, dan bahkan sepak bola dan gulat, di mana
keseimbangan atlet berusaha diganggu oleh lawan (Hoeger
& Hoeger, 2011).

Instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur keseimbangan dapat diringkas dalam tabel 7 di
bawah ini.

Tabel 7. Daftar Instrumen Keseimbangan

No. Nama Tujuan Mengukur

1 Stork Stand Test Keseimbangan Statis

Modified Bass Test of Keseimbangan Dinamis
2 Dynamic Balance

72

1. STORK STAND TEST

Tujuan:
Tujuan Stork Stand Test adalah untuk mengukur

keseimbangan statis.
Peralatan dan Bahan:

o Permukaan lantai yang datar
o Stopwatch
o Formulir penilaian
o Alat tulis
Prosedur Pelaksanaan:

Pertama-tama testee berdiri dengan satu kaki, yaitu
kaki yg dominan. Sedangkan kaki yg lain diletakkan di lutut
bagian dalam dari tungkai tumpu kedua tangan diletakkan di
pinggang. Dengan aba-aba “YA”, testee mengangkat tumit
kaki tumpu, sehingga ia hanya bertumpu pada bola kaki
(jinjit). Pertahankan posisi selama mungkin, tanpa
menggeser posisi kaki tumpu, dan tumit tidak menyentuh
lantai. Pertahankan posisi tersebut selama mungkin.

73

Gambar 27. Pelaksanaan Stork Stand Test

Penilaian:
Pencatat waktu mulai dihidupkan pada saat testee

mulai mengangkat tumit kaki tumpu (jinjit) sampai ia
kehilangan keseimbangan. Testee diberikan kesempatan
dua kali pelaksanaan.

74

2. MODIFIED BASS TEST OF DYNAMIC
BALANCE

Tujuan:
Tujuan modified Bass Test of Dynamic Balance

adalah untuk mengukur keseimbangan dinamis.

Peralatan dan Bahan:
o Permukaan lantai yang datar
o Selotip untuk menandai lantai
o Stopwatch
o Formulir penilaian
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama testee berdiri dengan kaki kanan yang

dilanjut dengan melompat ketanda pertama menggunakan
kaki kiri dan pertahankan sikap tersebut selama 5 detik.
Setelah itu melakukan lompatan ketanda kedua dengan
mempertahankan sikap tersebut. Gerakan tersebut terus
berlanjut dengan kaki bergantian melakukan lompatan
sampai semua tanda terlewati. Pastikan setiap penanda
sudah dilewati.

75

Gambar 28. Area Bass Test of Dynamic Balance

Penilaian:
Tes tersebut dinyatakan sukses apabila dapat

bertahan selama 5 detik disetiap lompatan tanpa menyentuh
lantai dengan tumit atau bagian tubuh lainnya serta
keseimbangan tetap terjaga. Testee akan mendapatkan
poin 5 apabila mampu melakukan lompatan dengan benar.
Apabila tidak dapat melakukan gerakan sesuai prosedur
pelaksanaan maka tidak mendapatkan nilai.

76

H. PENGUKURAN KOORDINASI

Berdasarkan fisiologis koordinasi adalah kerja sistem
saraf pusat dengan otot untuk mendapatkan tenaga yang
maksimal (Nurkadri et al., 2021). Koordinasi merupakan
kemampuan untuk mengontrol anggota tubuh dan untuk
melakukan urutan gerakan dengan lancar dan akurat yang
membutuhkan interaksi yang optimal dari proses syaraf-otot
dalam gerakan olahraga (Hartmann & Fetz-Hartmann,
2012).

Instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur koordinasi dapat diringkas dalam tabel 8 di
bawah ini.

Tabel 8. Daftar Instrumen Koordinasi

No. Nama Tujuan Mengukur

1 Lempar Tangkap Koordinasi Mata dan Tangan
Bola Tenis

2 Soccer Wall Volley Koordinasi Mata dan Kaki serta koordinasi
Test seluruh tubuh dan kelncahan

77

1. TES LEMPAR TANGKAP BOLA TENIS

Tujuan:
Tujuan dari tes lempar tangkap bola tenis adalah

untuk mengukur koordinasi mata dan tangan.

Peralatan dan Bahan:
o Bola tenis
o Dinding sasaran
o Meteran 10 meter
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama posisikan testee berdiri di belakang

garis batas lemparan. Jarak sasaran dan batas lemparan
testee adalah 2,5 meter. Selanjutnya bola dilempar dengan
satu tangan dan ditangkap dengan tangan yang lainnya ke
sasaran lemparan menggunakan underarm. Selain itu,
ketika menangkap testee tidak boleh sampai keluar garis
pembatas. Sasaran lemparan berbentuk lingkaran dengan
diameter 30 cm dan ditempel di tembok dengan ketinggian
menyesuaikan tinggi badan testee

Testee diperbolehkan melakukan percobaan sebelum
melaksanakan sampai terasa terbiasa.

78

Gambar 29. Pelaksanaan tes lempar tangkap bola tenis

Penilaian:
Testee mendapatkan poin satu apabila setiap

lemparan tepat sasaran dan dapat tertangkap sesuai aturan,
yaitu bola harus dilempar dengan underarm dan mengenai
sasaran, serta testee tidak boleh melewati garis pembatas
dalam menangkap bola.

Dari hasil 10 lemparan pertama dengan 10 lemparan
kedua dijumlahkan, sehingga jumlah maksimal yang
diperoleh yaitu 20 lemparan.

79

2. SOCCER WALL VOLLEY TEST

Tujuan:
Tujuan dari soccer wall volley test adalah untuk

mengukur koordinasi mata dan kaki.
Peralatan dan Bahan:
o Dinding sasaran yang rata dengan ukuran panjang 2,44

m dan tinggi dari lantai 1,22 m
o Didepan daerah sasaran dibuat daerah tendangan

yang berbentuk segiempat yang berukuran 3,65 m dan
4,23 m. jarak daerah tendangan dari dinding daerah
sasaran yaitu 1,83 m
o Meteran 10 meter
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Gambar 30. Area soccer wall volley test

80

Prosedur Pelaksanaan:
Pertama-tama testee berdiri di daerah tendangan dan

siap melakukan tendangan bola. Testee mulai menendang
bola sebanyak-banyaknya ketika ada aba-aba “Go”. Testee
menendang bola menggunakan kaki dominan. Ketika bola
kembali, bola segera dikontrol menggunakan kaki yang
lainnya.

Awali dengan sikap menendang bola yang benar
setiap menendang bola. Testee diberikan tiga kali
kesempatan pengulangan yang masing-masing berdurasi
20 detik. Bola tidak boleh dihentikan atau dikontrol
menggunakan tangan. Sebelum tes dilakukan, testee
diperbolehkan untuk melakukan percobaan sampai testee
merasa terbiasa.

Penilaian:
Testee mendapatkan nilai satu apabila tendangan

mengenai sasaran dan dapat dikontrol kembali. Testee tidak
boleh keluar dari daerah tendangan. Nilai akan dikurangi
satu apabila teste mengontrol bola menggunakan tangan.
Tidak akan mendapatkan nilai apabila bola tidak mengenai
sasaran. Nilai yang diambil adalah jumlah tendangan
terbanyak dari tiga kali pengulangan.

81

I. PENGUKURAN KECEPATAN REAKSI

Waktu reaksi adalah waktu tercepat dilakukannya
respon terhadap rangsang dari dalam maupun luar. Waktu
reaksi berpengaruh besar pada olahraga yang
membutuhkan kecepatan, seperti olahraga softball,
badminton, sepak bola, bola basket, tenis meja, olahraga
beladiri dan lain sebagainya (Fenanlampir & Faruq, 2015)

Instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur kecepatan reaksi dapat diringkas dalam tabel 9 di
bawah ini.

Tabel 9. Daftar Instrumen Kecepatan Reaksi

No. Nama Tujuan Mengukur

1 Reaction Time kecepatan reaksi terhadap suatu
Ruler Drop Test stimulus

Whole Body kecepatan reaksi terhadap tangan
2 Reaction time dan kaki dengan rangsang
penglihatan dan pendengaran
test

82

1. REACTION TIME RULER DROP TEST

Tujuan:
Tujuan dari Reaction Time Ruler Drop Test adalah

untuk mengukur kecepatan reaksi terhadap suatu stimulus.

Peralatan dan Bahan:
o Penggaris
o Formulir Pencatat
o Alat tulis

Prosedur Pelaksanaan:
Testee duduk di dekat tepi meja, dengan siku

diistirahatkan di atas meja sehingga pergelangan tangan
tester memanjang ke samping. Tester memegang penggaris
secara vertikal di udara antara ibu jari dan jari telunjuk
testee, tetapi tidak menyentuh. Tanda nol pada penggaris
disejajarkan dengan jari testee. Testee melakukan
konfirmasi kepada tester bahwa testee sudah siap. Tanpa
peringatan, penggaris dilepaskan dan dibiarkan jatuh. Pada
saat itu, testee harus menangkap penggaris secepat
mungkin begitu testee melihat penggaris tersebut jatuh.
Catat dalam meter jarak penggaris jatuh. Testee dapat
mengulangi prosedur ini beberapa kali (misalnya 10 kali)
dan ambil skor rata-ratanya.

83

Gambar 31. Reaction Time Ruler Drop Test

Penilaian:
Tester menghitungi jarak rata-rata meteran jatuh

untuk menentukan berapa lama waktu yang diperlukan
dalam menangkap penggaris yang dijatuhkan (jarak dalam
cm, waktu dalam detik). Perhitungan waktu tersebut
didasarkan pada rumus berikut.

84

= √(2 )

t = waktu penggaris jatuh (detik)
d = jarak jatuh penggaris (meter)
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s^2)

85

2. WHOLE BODY REACTION TIME TEST

Tujuan:
Tujuan dari whole body reaction time test adalah

untuk mengukur kecepatan reaksi terhadap tangan dan kaki
dengan rangsang penglihatan dan pendengaran.
Peralatan dan Bahan:
o whole body reaction type II
o Formulir Pencatat
o Alat tulis
Prosedur Pelaksanaan:

Testee berdiri di atas matras karet yang didalamnya
terdapat sensor. Posisi kaki sedikit ditekuk supaya tidak
kesulitan ketika bereaksi setelah diberikan stimulus.
Stimulus berupa cahaya akan keluar ketika tester menekan
tombol. Testee melakukan lompatan dari pijakan matras
yang terdapat sensor. Testee diberi kesempatan 5 kali
pelaksanaan.

86

Gambar 32. Pelaksanaan whole body reaction time test

Penilaian:
Catat hasil whole body reaction time test di formulir

pencatat. Testee diberikan kesempatan lima kali
kesempatan pelaksanaan. Hasil terbaik dari lima kali
kesempatan, merupakan hasil yang dipakai sebagai hasil
dari Whole Body Reaction time test.

87

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, I., & Suharjo. (2018). Bleep Test Countermeasures

Test Using Infrared and Microcontroller Based Computer

System. International Journal of Science and Research

(IJSR), 7(8), 759–761.

https://doi.org/10.21275/ART2019550

Arafat, R. T., Mintarto, E., & Kusnanik, N. W. (2018). The

Exercise Effect Of Front Cone Hops and Zig-zag Cone

Hops Due To Agility and Speed. International Journal of
Scientific and Research Publications, 8(2), 250–255.

Bompa, T. O., & Michael, C. (2015). Conditioning Young
Athletes. In Human Kinetics (Vol. 53, Issue 9).

Dwikusworo, E. P. (2010). Tes Pengukuran dan Evaluasi
Olahraga. Semarang: Widya Karya.

Fenanlampir, A., & Faruq, M. M. (2015). Tes dan Pengukuran
dalam Olahraga. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.

Fox, A., Spittle, M., Otago, L., & Saunders, N. (2014).

Offensive Agility Techniques Performed During

International Netball Competition. International Journal
of Sports Science & Coaching, 9(3), 543–552.

https://doi.org/https://doi.org/10.1260/1747-9541.9.3.543

Gordon, D. (2009). Coaching Science. In Learning Matters.

Hartmann, B., & Fetz-Hartmann, A. (2012). The Importance of

Coordination in Freestyle Wrestling. International
Journal of Wrestling Science, 2(1), 48–52.

https://doi.org/10.1080/21615667.2012.10878944

Hillis, T. L., & Holman, S. (2014). The relationship between
speed and technical development in young speed

88

skaters. International Journal of Sports Science and
Coaching, 9(2), 393–400. https://doi.org/10.1260/1747-
9541.9.2.393

Hoeger, W. W. K., & Hoeger, S. A. . (2011). Fitness and
Wellness. In Wadsworth Cengage Learning.

Hoerger, W. W. K., & Hoeger, S. A. (2010). Lifetime Physical
Fitness & Wellness. Wadsworth, Cengage Learning.

James, C. A., Hayes, M., Willmott, A. G. B., Gibson, O. R.,
Flouris, A. D., Schlader, Z. J., & Maxwell, N. S. (2017).
Defining the determinants of endurance running
performance in the heat. Temperature, 4(3), 314–329.
https://doi.org/10.1080/23328940.2017.1333189

Nurkadri, Daulay, B., & Azmi, F. (2021). Coordination and
agility: How is the correlation in improving soccer
dribbling skills? Journal Sport Area, 6(2), 147–161.
https://doi.org/10.25299/sportarea.2021.vol6(2).6355

Usher, W. (2019). Agility as a predictor of physical literacy,
activity levels and sport involvement. Cogent Education,
6(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2019.1661582

Utomo, A. A. B. (2019). The effect of angled leg pressed and
lying leg curls toward muscle explosive power of of futsal
athletes of universitas pgri madiun. Sport Area, 4(1),
198–210.
https://doi.org/https://doi.org/10.25299/sportarea.2019.v
ol4(1).2366

Wakene, D., Bussa, N., & Mekonnen, S. (2015). Effect of
Short Duration High Intensity and Long Duration Low
Intensity Progressive Aerobic Exercise on Selected
Health Related Fitness Components and Hematological
Parameters on Male Students of Haramaya University.
International Journal of Scientific and Research
Publications, 5(7), 1–6.

Womsiwor, D., Adiputra, N., Bakta, I. M., Purba, A., Jawi, I.

89

M., Ketut Suyasa, I., & Fitria, N. (2020). A Predominant

Physical Component Profile of Persipura Junior Football

Athletes. Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga,
5(1), 55–61. https://doi.org/10.17509/jpjo.v5i1.23792

Young, W. B., Dawson, B., & Henry, G. J. (2015). Agility and

Change-of-Direction Speed are Independent Skills :

Implications for Training for Agility in Invasion Sports.

International Journal of Sports Science & Coaching,

10(1), 159–169. https://doi.org/10.1260/1747-

9541.10.1.159

90

91


Click to View FlipBook Version