The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zainalabidin9266, 2021-03-20 09:47:21

Rangkuman Materi Kimia Kelas 10

Rangkuman Materi Kimia Kelas 10

51

Memahami Larutan Elektrolit dan Non
Elektrolit

Tahu nggak sih kalau berdasarkan gaya hantar listrik, kita
bisa lho menentukan larutan elektrolit dan non elektrolit. Nah, tahukah
kamu larutan apa saja yang termasuk larutan elektrolit? Serta larutan
apa saja yang termasuk larutan non elektrolit? Kalau belum tahu, kita
akan bahas di artikel ini. Simak ya!

A. Pengertian Larutan Elektrolit

(sumber: www.bantubelajar.com)
Gambar di atas merupakan hasil pengujian daya hantar listrik terhadap:
(a) Larutan non elektrolit
(b) Larutan elektrolit lemah
(c) Larutan elektrolit kuat
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus
listrik, memberikan gejala berupa menyalanya lampu pada alat uji atau
timbulnya gelembung gas dalam larutan. Sedangkan larutan non
elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus
listrik, sebabnya karena larutan tidak dapat menghasilkan ion-ion.

52

B. Contoh Larutan Elektrolit dan Non elektrolit

Kalau dilihat dari hasil pengujian larutan pada tabel di atas, kita bisa
simpulkan bahwa larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, yaitu
larutan amonia, larutan HCl, larutan cuka, air aki, air laut, air kapur, dan
larutan H2S. Adapun larutan yang tidak menghantarkan arus listrik, yaitu
larutan urea, larutan alkohol dan larutan glukosa.
Sekarang, coba deh perhatikan lagi data larutan yang bersifat elektrolit.
Ternyata, ada larutan elektrolit yang memberikan gejala berupa
menyalanya lampu pada alat uji dan ada pula yang tidak. Tetapi,
semuanya menimbulkan gejala hantaran listrik berupa adanya
gelembung gas. Larutan elektrolit yang memberikan gejala berupa
lampu menyala dan membentuk gelembung gas disebut elektrolit
kuat. Contohnya yaitu HCl, air aki, air laut, dan air kapur.
Adapun elektrolit yang tidak memberikan gejala lampu menyala
tetapi menimbulkan gelembung gas termasuk elektrolit
lemah. Contohnya yaitu larutan amonia, larutan cuka,dan larutan H2S.
Lalu, kalian tahu nggak mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan
arus listrik, sedangkan larutan nonelektrolit tidak?
Jadi, Larutan elektrolit kuat terbentuk dari terlarutnya senyawa
elektrolit kuat dalam pelarut air. Senyawa elektrolit kuat dalam air
dapat terurai sempurna membentuk ion positif (kation) dan ion negatif
(anion). Arus listrik merupakan arus elektron. Pada saat dilewatkan ke
dalam larutan elektrolit kuat, elektron tersebut dapat dihantarkan melalui

53

ion-ion dalam larutan, seperti dihantarkan oleh kabel. Akibatnya, lampu
pada alat uji elektrolit akan menyala.

Okay, supaya lebih jelas, berikut ini contoh larutan elektrolit dan non
elektrolit, secara umum:

54

Mempelajari Konsep Reaksi Redoks
(Reduksi-Oksidasi)

Artikel ini menjelaskan tentang konsep dasar reaksi redoks (reduksi-
oksidasi) berdasarkan pelepasan dan pengikatan oksigen, perpindahan
(transfer) elektron, dan perubahan bilangan oksidasi (biloks).
Di kehidupan sehari-hari, kita banyak menemukan fenomena-fenomena
yang melibatkan reaksi kimia. Misalnya, proses fotosintesis pada
tumbuhan, pengkaratan besi, pembakaran kertas dan logam, proses
respirasi yang terjadi pada tubuh kita, dan masih banyak lagi. Itu
semua nggak terlepas dari yang namanya reaksi kimia.
Nah, kali ini, kita akan membahas tentang salah satu jenis reaksi kimia,
yaitu reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Mulai dari konsep reaksi redoks
berdasarkan pelepasan dan pengikatan oksigen, perpindahan (transfer)
elektron, dan perubahan bilangan oksidasi (biloks).
Sesuai dengan namanya ya, reaksi redoks terdiri dari reaksi reduksi
dan reaksi oksidasi. Berdasarkan pelepasan dan pengikatan
oksigen, reaksi reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen,
sedangkan reaksi oksidasi adalah reaksi pengikatan oksigen.

Coba deh kamu perhatikan persamaan reaksi penguraian oksida raksa
pada gambar di atas. Di ruas sebelah kiri reaksi, terdapat senyawa oksida

55

raksa, yaitu HgO. Sementara itu, di ruas sebelah kanan reaksi terdapat
unsur Hg dan gas oksigen (O2). Itu berarti, terjadi perubahan dari HgO
menjadi Hg. Nah, gas oksigen (O2) di ruas sebelah kanan menandakan
terjadinya pelepasan oksigen. Karena ada pelepasan oksigen, maka
reaksi ini merupakan reaksi reduksi.

Sekarang, coba perhatikan persamaan reaksi pembentukan tembaga
oksida. Di ruas sebelah kiri reaksi, terdapat unsur Cu dan gas oksigen
(O2). Sementara itu, di ruas sebelah kanan reaksi terdapat senyawa
tembaga oksida (CuO). Artinya, unsur Cu akan mengikat oksigen dan
berubah menjadi tembaga oksida (CuO). Nah, karena ada pengikatan
oksigen, maka reaksi ini merupakan reaksi oksidasi.

Gampangnya sih, kalau dilihat dari persamaan reaksi kimianya, pada
reaksi reduksi, gas oksigen (O2) akan berada di ruas sebelah kanan,
sebagai produk. Sedangkan, pada reaksi oksidasi, gas oksigen (O2) akan
berada di ruas sebelah kiri, sebagai reaktan.

Gimana, paham, ya? Sekarang kita lanjut ke konsep reaksi redoks
berikutnya.

Berdasarkan perpindahan (transfer) elektron, reaksi reduksi adalah
reaksi penangkapan elektron, sedangkan reaksi oksidasi adalah reaksi
pelepasan elektron.

56

Bisa kamu perhatikan gambar di atas ya, pada reaksi reduksi, elektronnya
berada di ruas sebelah kiri reaksi, sebagai reaktan. Sementara itu, pada
reaksi oksidasi, elektronnya berada di ruas sebelah kanan reaksi, sebagai
produk.
Konsep reaksi redoks yang melibatkan perpindahan elektron ini hanya
bisa terjadi pada senyawa ionik aja, sedangkan senyawa kovalen tidak.
Oleh karena itu, muncul konsep redoks yang ketiga, yaitu berdasarkan
perubahan bilangan oksidasi (biloks).
Hayoo, masih ingat nggak nih dengan bilangan oksidasi
(biloks). Bilangan oksidasi adalah muatan positif dan negatif pada suatu
atom. Unsur yang biloksnya positif, biasanya merupakan atom-atom
unsur logam, seperti Na, Fe, Mg, Ca, dan unsur logam lainnya. Sementara
itu, unsur yang biloksnya negatif, biasanya atom-atom unsur nonlogam,
seperti O, Cl, F, dan unsur nonlogam lainnya.
Berdasarkan konsep perubahan bilangan oksidasi, reaksi reduksi adalah
reaksi yang mengalami penurunan bilangan oksidasi, sedangkan reaksi
oksidasi adalah reaksi yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi.

57

Untuk menentukan reaksi redoks berdasarkan bilangan oksidasi, kamu
harus tahu terlebih dulu bagaimana cara menentukan bilangan oksidasi.
Materi itu sebenarnya sudah dibahas di artikel Cara Menentukan
Bilangan Oksidasi Beserta Contohnya, nih. Jadi, bisa kamu baca dan
pahami kembali supaya kamu jadi lebih mudah memahami konsep yang
satu ini.
Nah, setelah tahu konsep biloks, coba kita tentukan apakah reaksi di
bawah ini reaksi redoks atau bukan. Tapi, kita hitung biloks masing-
masing unsur yang ada pada reaksinya dulu, ya!

Reaksi: CuO(s) + H2(g) ------> Cu(s) + H2O(g)
CuO ------> Cu
Ingat aturan penentuan nilai bilangan oksidasi (biloks), ya. Dalam
senyawa, biloks oksigen (O) itu umumnya bernilai -2, kecuali jika oksigen
berada dalam senyawa peroksida (H2O2), maka nilainya -1. Kemudian,
karena CuO ini senyawa netral, maka biloks total C dan O dalam senyawa
ini adalah nol. Nah, karena biloks O = -2, maka agar total biloks CuO = 0,
biloks Cu harus bernilai +2. Sementara itu, Cu merupakan unsur bebas,
maka biloksnya bernilai 0. Jadi, Cu mengalami penurunan biloks dari +2
ke 0, maka Cu mengalami reaksi reduksi.

58

CuO ------> Cu (reaksi reduksi).

H2 ------> H2O

H2 merupakan unsur bebas, jadi biloks H2 = 0. Sementara itu, biloks H
pada senyawa H2O bernilai +1. Jadi, unsur H mengalami kenaikan biloks
dari 0 ke +1, sehingga mengalami reaksi oksidasi.

H2 ------> H2O (reaksi oksidasi)

Paham ya dengan penentuan reaksi redoks berdasarkan bilangan
oksidasi. Dalam hal ini, kamu memang perlu paham betul dengan
aturan-aturan penentuan bilangan oksidasi. Nah, karena aturannya
cukup banyak, kamu bisa mengatasinya dengan banyak berlatih soal-
soal. Supaya kamu bisa benar-benar paham dan nggak hanya sebatas
menghafal aja. Oke, kita lanjut ya bahasannya.

Pada reaksi redoks, terdapat unsur-unsur yang bertindak sebagai
reduktor dan oksidator. Zat yang mengalami oksidasi itu
disebut reduktor, sedangkan zat yang mengalami reduksi
disebut oksidator.

Coba perhatikan contoh berikut ini, ya!

Reaksi: Mg(s) + 2HCl ------> MgCl2(aq) + H2(g)

Karena Mg merupakan unsur bebas, jadi biloks Mg = 0. Kemudian, biloks
H pada senyawa 2HCl bernilai +1 karena unsur H berikatan dengan
unsur lain dan H merupakan golongan IA. Selanjutnya, karena H = +1,
berarti Cl = -1 agar total biloks 2HCl = 0.

Di ruas sebelah kanan, biloks Mg pada senyawa MgCl adalah +2 karena
Mg berikatan dan merupakan unsur golongan IIA. Karena Cl memiliki
indeks 2, maka biloks Cl = -1, agar total biloks MgCl2 = 0. Kemudian,

59

karena H2 merupakan unsur bebas, maka biloksnya bernilai 0. Unsur Mg
mengalami kenaikan biloks dari 0 ke +2, sehingga mengalami reaksi
oksidasi. Jadi, unsur Mg disebut sebagai reduktor. Sementara itu, unsur
H mengalami penurunan biloks dari +1 ke 0, sehingga mengalami reaksi
reduksi. Jadi, HCl disebut sebagai oksidator.

Gimana, paham dengan penyelesaian contoh soal di atas? Di bawah ini
ada beberapa latihan soal yang bisa kamu kerjakan, nih. Dicoba, ya!
Itung-itung buat nambah kemampuan kamu. Hihihi…

Oke, itu tadi pembahasan mengenai konsep reaksi redoks berdasarkan
bilangan oksidasi. Nah, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
konsep reaksi redoks ini ada yang melibatkan pelepasan dan pengikatan
oksigen, pelepasan dan pengikatan elektron, serta kenaikan dan
penurunan bilangan oksidasi, ya. dan berpengalaman!

60

Cara Menentukan Bilangan Oksidasi
Beserta Contohnya

Artikel ini menjelaskan tentang cara menentukan bilangan oksidasi
disertai dengan contoh soalnya untuk menambah pemahamanmu
terhadap materi.

Setiap atom terdiri dari inti atom dan elektron yang mengelilinginya.
Elektron pada kulit terluar atom disebut elektron valensi. Apabila atom
memiliki elektron valensi berjumlah 8 atau 2, maka atom itu akan bersifat
stabil, sehingga sulit untuk berikatan dengan atom lain. Contohnya,
seperti atom-atom pada golongan VIIIA (unsur gas mulia). Sementara
itu, atom yang tidak memiliki elektron valensi berjumlah 8 atau 2 akan
bersifat tidak stabil.

61

Atom yang sifatnya belum stabil cenderung ingin stabil. Caranya,
mereka akan melakukan transfer elektron, yaitu melepaskan atau
menerima sejumlah elektron. Akibat dari transfer elektron ini, atom akan
memiliki muatan, bisa positif atau negatif. Atom yang bermuatan positif,
artinya atom itu telah melakukan pelepasan elektron, sehingga
kehilangan beberapa elektron yang dimilikinya. Sementara itu, atom
yang bermuatan negatif, berarti atom itu telah menerima beberapa
elektron dari atom lain.
Muatan atom berbeda-beda jumlahnya, tergantung dari seberapa
banyak elektron yang dilepas atau diterima oleh atom. Nah, jumlah
muatan positif dan negatif pada suatu atom bisa kita sebut dengan
bilangan oksidasi (biloks).

Teman-teman harus tahu, materi biloks ini merupakan dasar dari materi
reaksi redoks (reduksi-oksidasi) yang akan dipelajari pada pembahasan
berikutnya. Jadi, kakak harap, kamu bisa pahami dengan baik materi ini
agar tidak menemui kendala saat lanjut belajar ke materi berikutnya, ya.

62

Terdapat 8 aturan yang harus kamu ketahui dalam menentukan bilangan
oksidasi suatu atom, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Bilangan oksidasi unsur bebas adalah 0.

Unsur bebas adalah unsur yang tidak bergabung atau berikatan secara
kimia dengan unsur lain. Unsur bebas terbagi menjadi dua, yaitu unsur
bebas berbentuk atom, seperti C, Ca, Cu, Na, Fe, Al, Ne dan unsur bebas
berbentuk molekul, seperti H2, O2, Cl2, P4, S8. Kesemua unsur-unsur
tersebut akan memiliki bilangan oksidasi 0.

2. Bilangan oksidasi ion monoatom (1 atom) dan poliatom (lebih
dari 1 atom) sesuai dengan jenis muatan ionnya.

Contoh:

• Bilangan oksidasi ion monoatom Na+, Mg2+, dan Al3+ berturut-
turut adalah +1, +2, dan +3.

• Bilangan oksidasi ion poliatom NH4+, SO42-, dan PO43- berturut-
turut adalah +1, -2, dan -3.

3. Bilangan oksidasi unsur pada golongan logam IA, IIA, dan IIIA
sesuai dengan golongannya.

Bilangan oksidasi:

IA = H, Li, Na, K, Rb, Cs, Fr = +1.

Contoh: Bilangan oksidasi Na dalam senyawa NaCl adalah +1.

IIA = Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra = +2.

Contoh: Bilangan oksidasi Mg dalam senyawa MgSO2 adalah +2.

IIIA = B, Al, Ga, In, Tl = +3

Contoh: Bilangan oksidasi Al dalam senyawa Al2O3 adalah +3.

4. Bilangan oksidasi unsur golongan transisi (golongan B) lebih dari
satu.

63

Contoh:

Bilangan oksidasi Cu = +1 dan +2.

Bilangan oksidasi Au = +1 dan +3.

Bilangan oksidasi Sn = +3 dan +4.

5. Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur yang membentuk ion =
jumlah muatannya.

Contoh:

NH4+ = +1

Biloks H = +1. Atom H memiliki indeks 4, maka biloks H dikalikan
dengan indeks H = +4. Karena jumlah muatan NH4+ = +1, maka biloks N
haruslah -3, agar ketika biloks N dan H dijumlahkan, hasilnya sesuai
dengan jumlah muatannya, yaitu +1.

6. Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur yang membentuk senyawa
= 0.

Contoh:

H2O = 0

Biloks H = +1. Atom H memiliki indeks 2, sehingga biloks H dikalikan
dengan indeks H = +1 x 2 = +2. Agar jumlah biloks H dan O sama
dengan 0, maka biloks O harus bernilai -2.

7. Bilangan oksidasi hidrogen (H) bila berikatan dengan logam = -1.
Bila H berikatan dengan non-logam = +1.

Contoh:

Biloks H dalam AlH3 = -1.

Bukti:

Atom Al merupakan unsur logam golongan IIIA, sehingga biloks Al =
+3. Ingat aturan biloks poin 6, jumlah biloks unsur-unsur yang

64

membentuk senyawa = 0. Jadi, apabila biloks Al dan H dijumlahkan,
hasilnya harus 0. Agar biloks Al + biloks H = 0, biloks H haruslah -3.
Karena atom H memiliki indeks 3, maka biloks H : indeks H = -3 : 3 = -1.
Terbukti jika biloks H dalam AlH3 adalah -1.

8. Bilangan oksidasi oksigen (O) dalam senyawa proksida = -1.
Bilangan oksidasi O dalam senyawa non-peroksida = -2.

Contoh:

Biloks O dalam BaO2 = -1.

Bukti:

Atom Ba merupakan unsur logam golongan IIA, sehingga biloks Ba = +2.
Jumlah biloks Ba dan biloks O harus 0 (aturan biloks poin 6). Oleh sebab
itu, biloks O harus bernilai -2. Karena atom O memiliki indeks 2, jadi
biloks O : indeks O = -2 : 2 = -1. Terbukti jika biloks O dalam
BaO2 adalah -1.

Bagaimana, teman-teman? Apa kamu paham dengan penjelasan di atas?
Di bawah ini ada beberapa contoh soal yang bisa kamu kerjakan, nih!
Jangan lupa dicoba, ya.


Click to View FlipBook Version