Nilai-nilai Luhur Budaya Sambatan dalam
Penguatan Karakter Murid
yang Sejalan dengan Pemikiran
Ki Hajar Dewantara
Oleh CGP Angkatan 7 Kelompok B.2
Fasilitator : Drs. Sulhadi, M.Pd.
Pengajar Praktik : Sri Rejeki, S.Pd.
anggota kelompok 2
sEMANGAT MANTAP
Budaya Sambatan gotong royong
sukarela
Sambatan berasal dari kata dasar dalam
bahasa jawa, “sambat” dan akhiran “an”,
"ngudo roso". “Sambat” berarti kalimat
penghibaan atau permintaan bantuan,
“mengeluh”.
Namun sambatan disini merupakan sebuah
tradisi budaya dengan kearifan gotong
royong masyarakat. Dimana secara
bersama-sama warga membantu tenaga
secara sukarela tanpa imbalan atau upah
untuk menolong orang lain.
Budaya
sambatan atau bisa
juga dikatakan
dengan kegiatan
gotong royong
biasa dilakukan
pada daerah jawa
seperti pada
masyarakat Boja
atau dapat kita
jumpai pada daerah
pedesaan
•Sambatan sering dilakukan dalam kegiatan membangun rumah,
sarana fasilitas umum, ataupun kegiatan merenovasi.
•Tentu akan menjadi hal yang sulit dimasa sekarang ini. Ketika
keegoisan masyarakat mulai tinggi.
•Bagaimana tidak, rasa ewuh pekewuh di masyarakat sekarang
mulai luntur.
•Kepentingan pribadi atas keyakinan dan pekerjaan lebih
menguasai. Sebab sambatan hanya akan ada pada lingkungan
masyarakat yang memiliki rasa kekeluargaan dan etika sosial yang
tinggi.
•Selain kekeluargaan, etika sosial, rasa ewuh pekewuh.
Kegotongroyongan merupakan salah satu faktor yang menjadikan
budaya sambatan ini tetap ada.
Nilai luhur budaya yang terkandung
dalam tradisi Sambatan
Kerukunan Gotong royong Religius
berbagi Saling Toleransi
Silaturahmi,
menolong,
kekeluargaan berempati
Nilai luhur budaya yang sejalan
dengan pemikiran
Ki Hajar Dewantara
•Pelestarian budaya daerah (kearifan lokal)
•Menumbuhkan sikap budi pekerti luhur (saling
berbagi, gotong royong, saling membantu)
•Menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman
(mengikuti perkembangan zaman)
Kekuatan pemikiran Ki Hajar JUMAT BERSIH & sholat
Dewantara dalam penebalan laku berjamaah
murid
religius
gotong royong,
bekerja sama dengan orang lain,
empati dan peka dengan orang
lain,
mandiri
tidak egois
PENERAPAN PADA
KEGIATAN MURID
Keg. Kebersihan
lingkungan, keagamaan,
olahraga
PENERAPAN PADA SISWA
SLB
ADL Tuna KemandirianUpacara Hari Santri
Daksa Tuna Netra
TANTANGAN DAN SOLUSI
TANTANGAN SOLUSI
1. Sifat egois siswa 1.Guru memberi teladan atau
2. Malas contoh nyata
3. Tidak peduli pada
2.Memberikan reward sebagai
lingkungan stimulus
4. Kurangnya kepekaan
3.Menciptakan kegiatan yang
terhadap lingkungan menyenangkan agar murid tidak
merasa terpaksa melakukan.
4.Kegiatan pembiasaan dijadwalkan
rutin. dilakukan.
COBA PIKIRKAN
Perkembangan zaman jangan sampai mengikis budaya atau kultur di
daerah kita. Nilai yang terkandung dalam budaya Sambatan mungkin
saja mengalami perluasan makna, tidak sesederhana orang zaman dulu
memaknainya. Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai
pendidik nguri-nguri nilai-nilai budaya lokal dan kita terapkan pada
laku anak di sekolah. Semoga generasi sekarang dan masa yang
datang tetap akan memegang teguh nilai luhur budayanya.
TERIMA KASIH