The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

kumpulan Tugas mahasiswa mata kuliah Struktur Kuda-kuda dan Batu STT STIKMA INTERNASIONAL

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by maulanabare, 2021-11-14 04:01:53

Struktur Kuda-Kuda dan Batu

kumpulan Tugas mahasiswa mata kuliah Struktur Kuda-kuda dan Batu STT STIKMA INTERNASIONAL

Keywords: #struktur #kudakuda #batu

JURUSAN ARSITEKTUR
STT STIKMA INTERNASIONAL
JL. SIMPANG SULFAT UTARA NO. 20
MALANG
2021

STRUKTUR KUDA-KUDA

OLEH:
AKBAR MAULANA / 21210150
DOSEN PENGAMPU:
ANNISA’ CARINA, M.PD

Abstract
Konstruksi kuda-kuda adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap
termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya. Bentuk atap
berpengaruh terhadap keindahan suatu bangunan dan pemilihan tipe atap sebaiknya disesuaikan dengan
iklim setempat, tampak yang dikehendaki oleh arsitek, biaya yang tersedia, dan material yang mudah
didapat.
Keyword: Konstruksi kuda-kuda, bentuk, atap.

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Struktur kayu merupakan suatu elemen struktur yang mendukung konstruksi bangunan.
Sebuah kayu disambung agar memperoleh panjang yang dibutuhkan dan membentuk suatu
konstruksi tertentu. Pada suatu konstruksi sambungan, terdapat titik terlemah dari sambungan
tersebut, sehingga dalam penyambungan harus mengikuti kemampuan ketentuan-ketentuan yang
berlaku.

Atap dapat dikatakan berkualitas jika strukturnya kuat dan tahan lama. Faktor iklim
menjadi salah satu pertimbangan penting dalam merancang bentuk dan konstruksi atap/bangunan.
Keberadaan atap pada bangunan sangat penting mengingat fungsinya seperti payung yang
melindungi seisi bangunan dari gangguan cuaca (panas,hujan dan angin). Oleh karena itu, sebuah
atap harus benar-benar kokoh/kuat dan kekuatannya tergantung pada struktur pendukung atap.

Konstruksi atap pada bangunan sangatlah penting. Atap pada bangunan yang berfungsi
sebagai penutup seluruh ruangan yang ada di bawahnya terhadap pengaruh panas, debu, hujan,
angin atau untuk keperluan perlindungan. Walaupun atap itu ringan, pengaruh dari luar terhadap
konstruksi dan penutupnya baik terhadap suhu (sinar matahari), cuaca (air hujan dan kelembaban

udara), serta keamanan terhahap gaya horizontal (angin dan gempa) dan kebakaran harus tetap
dijamin.

Oleh karena itu makalah ini akan membahas tentang konstruksi kuda-kuda dari segi fungsi,
komponen, bagian-bagiannya dan sampai pada proses pembuatannya.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :

1. Apa itu konstruksi kuda-kuda?
2. Apa fungsi dari konstruksi kuda-kuda?
3. Apa komponen-komponen dari konstruksi kuda-kuda?
4. Apa saja jenis kayu yang digunakan?
5. Bagaimana cara dalam membuat konstruksi kuda-kuda?

1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan makalah ini yaitu :

1. Mengetahui konstruksi kuda-kuda
2. Mengetahui fungsi dari konstruksi kuda-kuda
3. Mengetahui bagian-bagian konstruksi kuda-kuda
4. Mengetahui jenis kayu yang digunakan
5. Mengetahui cara-cara serta langkah dalam membuat konstruksi kuda-kuda

2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konstruksi Kuda-Kuda

Konstruksi kuda-kuda adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung
beban atap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya.
Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Struktur ini termasuk dalam
klasifikasi struktur framework (truss). Umumnya kuda-kuda terbuat dari kayu, bambu, baja,
dan beton bertulang.

Yang dimaksud dengan kuda-kuda adalah bagian dari struktur bangunan yang berfungsi
untuk menopang rangka atap. Bahan yang digunakan untuk pembuatan kuda-kuda ada beberapa
macam, antara lain :

 Kayu
 Beton
 Pasangan Bata
 Kuda-kuda Baja
 Baja Konvensional (WF,Canal,Siku)
 Baja Ringan

Konstruksi atap adalah konstruksi yang terdiri dari balok melintang (yang menerima gaya
tarik), balok sebagai penopang atau tiang (yang menerima gaya tekan) guna menyangga dari
gording serta pelapis atap. Bentuk atap berpengaruh terhadap keindahan suatu bangunan dan
pemilihan tipe atap sebaiknya disesuaikan dengan iklim setempat, tampak yang dikehendaki oleh
arsitek, biaya yang tersedia, dan material yang mudah didapat.

Konstruksi rangka atap yang sering digunakan adalah rangka atap kuda-kuda. Kuda–kuda
adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga
berat sendiri dan sekaligus memberikan bentuk pada atap. Pada dasarnya konstruksi kuda–kuda
terdiri dari rangkaian batang yang membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap
serta bahan penutup atap, maka konstruksi kuda–kuda akan berbeda satu sama lain. Setiap susunan
rangka batang haruslah merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul
beban yang bekerja padanya tanpa mengalami perubahan. Kuda-kuda diletakkan diatas dua tembok
selaku tumpuannya.

Perlu diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gaya horisontal maupun
momen, karena tembok hanya mampu menerima beban vertikal saja. Kuda-kuda diperhitungkan
mampu mendukung beban-beban atap dalam satu luasan atap tertentu. Beban-beban yang dihitung
adalah beban mati (yaitu berat penutup atap, reng, usuk, gording, kuda-kuda) dan beban hidup
(angin, air hujan, orang pada saat memasang/memperbaiki atap).

Atap yang sudah biasa ditemui pada rumah-rumah di Indonesia adalah atap dengan
konstruksi kayu. Belakangan ini marak penyedia konstruksi atap berbahan baja ringan. Baik
konstruksi atap kayu maupun baja ringan memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri-sendiri.

Gambar 1. Gambar potongan bangunan dan detail Kuda-kuda
Sumber: Google.com (diakses 6 oktober 2021)

2.2 Jenis Kuda-Kuda
Terdapat beberapa jenis kuda-kuda yang sering digunakan. Pemilihan jenis kuda-kuda

berdasarkan dari fungsi bangunan, bentangan, ataupun material yang digunakan.
 Kuda-kuda jenis 1
Jenis kuda-kuda berikut ini sering digunakan pada bangunan rumah dan digunakan untuk

bentang sekitar 3 - 4 meter. Bahan yang digunakan terbuat dari kayu dan beton bertulang.

Gambar 2. Kuda-kuda untuk bentang 3-4 meter
Sumber: Google.com (diakses 25 oktober 2021)

 Kuda-kuda jenis 2
Kuda-kuda jenis ini digunakan untuk bentang sekitar 4 - 8 meter. Bahan yang digunakan

terbuat dari kayu dan beton bertulang.

Gambar 3. Kuda-kuda untuk bentang 4-8 meter
Sumber: Google.com (diakses 25 oktober 2021)

 Kuda-kuda jenis 3
Kuda-kuda jenis ini digunakan untuk bentang sekitar 9 - 16 meter. Bahan yang digunakan

terbuat bahan dari baja (double angle).

Gambar 4. Kuda-kuda untuk bentang 9-16 meter
Sumber: Google.com (diakses 25 oktober 2021)

 Kuda-kuda jenis 4
Kuda-kuda jenis ini digunakan untuk bentang lebih dari 20 meter. Bahan yang digunakan

terbuat bahan dari baja (double angle).

Gambar 5. Kuda-kuda untuk bentang lebih dari 20 meter
Sumber: Google.com (diakses 25 oktober 2021)

 Kuda-kuda jenis 5
Kuda-kuda jenis ini sering digunakan untuk penggunaan gedung yang memerlukan atap

tinggi. Contoh bangunan yang memerlukan atap yang tinggi adalah hanggar, gedung olahraga,
ataupun gudang, dll.

Gambar 1 adalah kuda-kuda dengan batang utama berupa batang tersusun dari baja profil
siku. Sedangkan gambar 2 adalah kuda-kuda dengan batang utama berupa batang utuh dari profil
WF.

Gambar 6. Kuda-kuda Baja
Sumber: Google.com (diakses 25 oktober 2021)

2.2 Bagian Kuda-Kuda
Rangka atap yang berfungsi menahan beban dari bahan penutup atap sehingga umumnya

berupa susunan balok –balok (dari kayu/bambu/baja) secara vertikal dan horizontal – kecuali pada
struktur atap dak beton. Berdasarkan posisi inilah maka muncul istilah gording, kasau dan reng.
Susunan rangka atap dapat menghasilkan lekukan pada atap (jurai dalam/luar) dan menciptakan
bentuk atap tertentu.

Atap dengan konstruksi kuda-kuda kayu termasuk paling banyak digunakan di negeri kita.
Selain karena material kayu yang sangat mudah didapatkan di took-toko material, konstruksi kayu
juga dikuasai oleh tukang-tukang lokal. Desain (perancangan) konstruksi kayu yang dipakai di
kebanyakan bangunan di Indonesia saat ini, sebenarnya diadaptasi dari bangunan-bangunan pada
jaman kolonial Belanda.

Gambar 7. Kuda-kuda kayu
Sumber: Google.com (diakses 6 oktober 2021)

Struktur atap terdiri dari beberapa bagian diantaranya adalah :

A. Gording

Gording merupakan balok atap sebagai pengikat yang menghubungkan antar kuda-kuda.
Gording juga menjadi dudukan untuk kasau dan balok jurai dalam. Gording membagi bentangan
atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil pada proyeksi horisontal. Gording meneruskan beban dari
penutup atap, reng, usuk, orang, beban angin, beban air hujan pada titik-titik buhul kuda- kuda.

Gording berada di atas kuda-kuda, biasanya tegak lurus dengan arah kudakuda. Gording
menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi gording harus disesuaikan dengan panjang usuk yang
tersedia. Gording harus berada di atas titik buhul kuda-kuda, sehingga bentuk kuda-kuda sebaiknya
disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia. Bahan- bahan untuk Gording, terbuat dari kayu,
baja profil canal atau profil WF. Pada gording dari baja, gording satu dengan lainnya akan
dihubungkan dengan sagrod untuk memperkuat dan mencegah dari terjadinya pergerakan.

Posisi sagrod diletakkan sedemikian rupa sehingga mengurangi momen maksimal yang
terjadi pada gording Gording kayu biasanya memiliki dimensi; panjang maksimal 4 m, tinggi 12 cm
dan lebar 10 cm. Jarak antar gording kayu sekitar 1,5 - 2,5 m. Gording dari baja profil canal (light
lip channel) umumnya akan mempunyi dimensi; panjang satu batang sekitar 6 atau 12 meter, tinggi
antara 10 - 12 cm dan tebal sekitar 2,5 mm. Profil WF akan memiliki panjang 6 - 12 meter, dengan
tinggi sekitar 10 - 12 cm dan tebal sekitar 0,5 cm.

B. Jurai
Pada pertemuan sudut atap terdapat batang baja atau kayu atau framework yang disebut

jurai. Jurai dibedakan menjadi jurai dalam dan jurai luar.
 Jurai dalam
Jurai dalam ialah bagian yang tajam pada atap, berjalan dari garis tiris atap sampai

bubungan dan terdapat pada pertemuan dua bidang atap pada sudut bangunan kedalam.
 Jurai luar
Jurai luar ialah bagian yang tajam pada atap, berjalan dari garis tiris atap sampai

bubungan, terdapat pada pertemuan dua bidang atap pada sudut bangunan ke luar.

C. Sagrod
Sagrod adalah batang besi bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua ujungnya

memiliki ulir dan baut sehingga posisi bisa digeser (diperpanjang/diperpendek).

D. Usuk / kaso
Usuk/kaso adalah komponen atap yang terletak di atas gording dan menjadi dudukan untuk

reng. Usuk berfungsi menerima beban dari penutup atap dan reng dan meneruskannya ke gording.
Usuk terbuat dari kayu dengan ukuran 5/7 cm dan panjang maksimal 4 m. Usuk dipasang dengan
jarak 40 - 50 cm antara satu dengan lainnya pada arah tegak lurus gording. Usuk akan terhubung

dengan gording dengan menggunakan paku. Pada kondisi tertentu usuk harus dibor dahulu sebelum
dipaku untuk menghindari pecah pada ujung-ujung usuk.

E. Bubungan (nok)
Merupakan sisi atap yang teratas, selalu dalam keadaan datar dan umumnya menentukan

arah bangunan.

F. Reng
Reng ialah komponen atap yang memiliki profil paling kecil dalam bentuk dan ukurannya.

Posisinya melintang diatas kasau. Reng berfungsi sebagai penahan penutup atap (genteng dan lain-
lain). Pada atap dengan penutup dari asbes, seng atau sirap reng tidak digunakan. Reng akan
digunakan pada atap dengan penutup dari genteng. Reng akan dipasang pada arah tegak lurus usuk
Biasanya Reng berupa batang kayu berukuran 2/3 cm atau 3/5 cm dengan panjang sekitar 3 m.

Reng menjadi tumpuan langsung penutup atap dan meneruskannya ke usuk/kaso. Fungsi
lainnya adalah sebagai pengatur jarak tiap genteng agar rapi dan lebih ―terikat‖. Jarak antar reng
tergantung pada ukuran genteng yang akan dipakai. Semakin besar dimensi genteng, semakin
sedikit reng sehingga biaya pun lebih hemat.

G. Penutup atap

Penutup merupakan bagian yang menutupi atap secara keseluruhan sehingga terciptalah
ambang atas yang membatasi kita dari alam luar. Ada berbagai pilihan penutup atap dengan pilihan
bentuk dan sifat yang berbeda. Dua faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihannya
adalah faktor keringanan material agar tidak terlalu membebani struktur bangunan dan faktor
keawetan terhadap cuaca (angin, panas, hujan). Faktor lain adalah kecocokan/keindahan terhadap
desain rumah.

Ukuran dan desain dari penutup atap juga memberi pengaruh pada struktur, misalnya
konstruksi kuda-kuda, ukuran reng, dan sudut kemiringan. Penutup atap harus mempunyai sifat
kedap air, bisa mencegah terjadinya rembesan air selama kejadian hujan. Sifat tidak rembes ini
diuji dengan pengujian serapan air dan rembesan. Struktur penutup atap merupakan struktur yang
langsung berhubungan dengan beban-beban kerja (cuaca) sehingga harus dipilih dari bahan-bahan
yang kedap air, tahan terhadap perubahan cuaca. Struktur penutup yang sering digunakan antara
lain; genteng, asbes, kayu (sirap), seng, polycarbonat, plat beton, dan lain-lain.

2.3 Sambungan Pada Konstruksi Atap
 Sambungan Bibir Lurus

Merupakan jenis sambungan yang paling sederhana, kekuatan sambungan lemah karena
masing-masing ditakik separo, sehingga digunakan untuk batang yang seluruh permukaannya
tertahan (contoh balok tembok/murplat). Sambungan diperkuat dengan paku atau baut. Jenis
sambungan bibir lurus ini biasanya digunakan untuk penyambungan kayu pada arah memanjang.
(biasanya digunakan untuk kayu balok pada konstruksi bangunan ).

Gambar 8. Sambungan Bibir Lurus
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)
 Sambungan Kait Lurus
Jenis sambungan ini digunakan apabila ada gaya tarik yang timbul pada batang, dan seluruh
permukaan batang tertahan. Sambungan diperkuat dengan paku atau baut.

Gambar 9. Sambungan Kait Lurus
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

 Sambungan Lurus Miring
Sambungan ini digunakan untuk menyambung gording yang dipikul oleh kuda-kuda.Letak

didekatkan kuda-kuda, bukan bibir penutup.

Gambar 10. Sambungan Lurus Miring
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

 Sambungan Kait Miring
Sambungan ini bisa digunakan jika terdapat gaya tarik yang bekerja pada batang.

Gambar 11. Sambungan Kait Miring
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

 Sambungan memanjang kunci sesisi
Jenis sambungan ini digunakan untuk konstruksi kuda-kuda baik balok tarik maupun kaki

kuda-kuda, karena menghasilkan kekuatan tarik maupun desak yang baik. Letak pengunci pada
balok tarik berada diatas, sedangkan pada kaki kuda-kuda berada di atas. Pengunci akan
menyebabkan momen sekunder pada sambungan, oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk
menggunakan sambungan miring.

Gambar 12. Sambungan Memanjang Kunci Sesisi
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

 Sambungan memanjang kunci jepit
Sambungan kunci jepit dapat menetralisir momen sekunder yang terjadi pada sambungan

kunci sesisi.Kekuatan yang dihasilkan juga lebih baik, namun kurang tepat digunakan pada struktur
kuda-kuda.

Gambar 13. Sambungan Memanjang Kunci Jepit
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

 Sambungan purus dan lobang dengan gigi tegak
Tipe sambungan kayu purus dan lobang dengan gigi tegak ini biasa digunakan pada balok

kayu dengan arah memanjang.

Gambar 14. Sambungan Kayu Purus dan Lobang dengan Gigi Tegak
Sumber: Google.com (diakses 7 oktober 2021)

2.4 Jenis Kayu
Jenis kayu yang biasa digunakan untuk konstruksi atap antara lain:

 Kayu rengas burung , kayu Gofasa / leban (Mal.)/ molave (Phil.)
 Kayu duren , kayu sungkai (Sum.,Kal.) / Jurus (Kal. Tengg) / Jati sabrang (Jawa)
 Kayu salimuli , kayu bayur (Mal.) / bayot (Sarawak)/ bayoh (Phil.)
 Kayu sindur atau tampar atau hantu
 Kayu perupuk talang atau perupuk rawang
 Kayu meranti, atau nama setempatnya : damar, seraya, ketuko, kalup, lampong, lanan
 Kayu merawan (Sumatra) atau nama setempatnya : bangkirai bulan, nyerekat, damar putih

(Kalimantan)
 Kayu mersawa atau nama setempatnya : tenam (Palembang), mersawa, keruing, sesawa

(Riau)
 Kayu sintok / kapur (Kalimantan Tenggara)
 Kayu berangan / tunggeureuk / saninten / kihiur (Sunda)
 Kayu bitangur, kapurnaga / bunut (Sumatra) / nyamplung (Jawa) / nangui / penaga

(Kalimantan) / kapuracha
 Kayu mahoni daun kecil, kayu sonokeling/ palisander (Jawa)

3. PENUTUP

Kesimpulan

Rangka kuda-kuda adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung
beban atap termasuk juga beban berat sendiri dan sekaligus memberikan bentuk pada atap.
Konstruksi rangka atap yang sering digunakan adalah rangka atap dan kuda-kuda. Konstruksi atap
adalah konstruksi yang terdiri dari balok melintang (yang menerima gaya tarik), balok sebagai
penopang atau tiang (yang menerima gaya tekan) guna menyangga dari gording dan kasau serta
pelapis atap.

4. REFRENSI

 Sumarni, sri 2007. Struktur kayu. Surakarta : Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS
 Stefford, Jhon. 1986. Teknologi Kerja Kayu. Bandung: Erlangga
 Surya, Priatna Eka. 2007. Aneka Cara Menyambung Kayu. Jakarta: Pustaka Pembagunan

Swadaya Nusantara.
 Suparno. 2008. Teknik Gambar Bangunan Jilid 2 Untuk SMK, Jakarta: Direktorat Pembinaan

Sekolah Menengah Keujuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional

JURUSAN ARSITEKTUR
STT STIKMA INTERNASIONAL
JL. SIMPANG SULFAT UTARA NO. 20
MALANG
2021

SAMBUNGAN KAYU

OLEH:
PANJI SYAMS JIHAD AHMAD / 21210151
DOSEN PENGAMPU:
ANNISA’ CARINA, M.PD

Abstract
Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang saling disambungkan satu sama lain,
sehingga
menjadi satu batang kayu yang panjang
Keyword: Sambungan kayu, Struktur kayu, Kuda-kuda, Rangka atap

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kayu masih diminati sebagai material bangunan dikarenakan daya tahan dan kekuatannya,
karena kayu merupakan bahan bangunan yang berasal dari alam dan mudah untuk diperbaharui,
memiliki sifat kuat, dan mudah dikerjakan. Kayu yang berasal dari pohon dapat dibentuk berbagai
macam ukuran yang dapat menjadi balok dan papan untuk kebutuhan material bangunan.

Material Kayu biasanya digunakan sebagai struktur sebuah bangunan misal sebagai tiang
pondasi, lantai rumah panggung, dinding rumah, kuda-kuda, atap, gording, dan reng.

Kayu dipasaran biasanya dijual dengan ukuran standar antara 3 meter hingga 4 meter jika
dibutuhkan kayu yang lebih panjang dari kayu yang dijual maka diperlukan sambungan kayu.
Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang saling disambungkan satu sama lain
sehingga menjadi satu batang kayu yang panjang.

Oleh karena itu makalah ini akan membahas tentang macam-macam jenis sambungann kayu
dan juga fungsinya.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :

1. Apa itu sambungan kayu ?
2. Apa saja jenis-jenis sambungan kayu ?
3. Apa fungsi atau pengaruh dari sambungan kayu ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui sambungan kayu
2. Mengetahui fungsi dari sambungan kayu
3. Mengetahui jenis-jenis sambungan kayu
4. Mengetahui cara-cara serta mengaplikasikan sambungan kayu
2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sambungan Kayu
Sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang dihubung-hubungkan menjadi satu
benda atau satu bagian konstruksi dalam satu bidang (dua dimensi) maupun dalam satu ruang
berdimensi tiga.
Dalam menyusun suatu konstruksi kayu pada umumnya terdiri dari dua batang atau lebih
masing-masing dihubungkan menjadi satu bagian hingga kokoh. Untuk memenuhi syarat kekokohan
ini maka sambungan dan hubungan-hubungan kayu harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut:

➢ Sambungan harus sederhana dan kuat. Harus dihindari takikan besar dan dalam, karena
dapat mengakibatkan kelemahan kayu

➢ Harus memperhatikan sifat-sifat kayu, terutama sifat menyusut, mengembang dan
tarikan.

➢ Bentuk sambungan dari hubungan konstruksi kayu harus tahan terhadap gaya-gaya yang
bekerja.
Dan sambungan kayu terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan letak kayu, yaitu:

➢ Sambungan kayu arah memanjang

➢ Sambungan Kayu arah melebar

➢ Sambungan Kayu arah menyudut

Sambungan Kayu arah memanjang dapat digunakan pada sambungan balok tekmbok,
gording dan sebagainya, sedangkan untuk sambungan arah melebar biasa digunakan pada bibir
lantai, dinding atau atap.

2.2 Jenis-Jenis Sambungan Kayu
2.2.1 Sambungan Kayu arah memanjang

Sambungan kayu kearah memanjang merupakann sambungan yang dibuat untuk menambah
panjang kayu. kayu dipasaran pada umumnya mempunyai panjang 3 meter hingga 4 meter sehingga
ketika diperlukan panjang kayu yang melebihi 4 meter maka diperlukan sambungan kayu. Ada
banyak sambungan kayu ke arah memanjang

Sambungan memanjang terdiri dari sambungan mendatar dan tegak lurus:
a. Sambungan Bibir lurus

Sambungan ini digunakan bila seluruh batang dipikul, misalnya balok tembok. Pada
sambungan ini kayunya banyak diperlemah karena masing-masing bagian ditakik separuh
kayu.

Gambar 2.1 . Sambungan Bibir lurus
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

b. Sambungan Bibir lurus berkait
Sambungan kait lurus ini digunakan bila akan ada gaya tarik yang timbul. Gaya tarik
diterima oleh bidang kait tegak.

Gambar 2.2 . Sambungan Bibir lurus berkait
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)
c. Sambungan Bibir miring
Sambungan bibir miring digunakan untuk menyambung gording pada jarak 2.5 - 3.50 m
dipikul oleh kuda-kuda. Sambungan ini tidak boleh disambung tepat di atas kuda- kuda
karena gording sudah diperlemah oleh takikan pada kuda-kuda dan tepat di atas kaki kuda-
kuda gording menerima momen negatif yang dapat merusak sambungan. Jadi sambungan
harus ditempatkan pada peralihan momen positif ke momen negative sebesar = Q. Maka
penempatan sambungan pada jarak 1/7 – 1/9 dari kuda-kuda.

Gambar 2.4 . Sambungan Bibir miring
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

d. Sambungan memanjang balok kunci
Sambungan balok kunci ini digunakan pada konstruksi kuda-kuda untuk menyambung kaki
kuda-kuda maupun balok tarik. Ke dua ujung balok yang disambung harus saling mendesak
rata. Dalam perhitungan kekokohan bantuan baut tidak diperhitungkan.

Gambar 2.4 . Sambungan memanjang balok kunci
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

e. Sambungan memanjang balok kunci jepit
Dengan adanya gaya-gaya, momen yang terjadi akibat adanya sambungan kunci hanya satu
sisi tersebut, maka kita perlu untuk menetralkan momen-momen sekunder tersebut dengan
membuat sambungan kunci rangkap yaitu dikanan dan kiri balok yang akan disambung. Hal
ini dinamakan sambungan balok jepit.

Gambar 2.5 . Sambungan memanjang balok kunci jepit
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

f. Sambungan kayu arah memanjang tegak
Sambungan ini biasa digunakan untuk menyambung tiang-tiang yang tinggi dimana dala
perdagangan sukar didapatkan persediaan kayu-kayu dengan ukuran yang diinginkan. Untuk
itu perlu membuat sambungan-sambungan tiang, hal ini yang disebut sambungan tegak
lurus.

Gambar 2.6 . Sambungan kayu arah memanjang tegak
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

2.2.2 Sambungan Kayu arah melebar
Untuk papan-papan yang akan dipergunakan sebagai lantai atau dinding bangunan,

disambung terlebih dahulu agar lantai maupun dinding kayu dapat rapat dan kelihatan bersih. Akan
tetapi sebelum membuat sambungan hendaknya perlu diperhatikan dahulu sisi mana yang akan
disambung.

Adapun teknik penyambungannya bermacam-macam ada dengan perekat, paku, alur dan
lidah dengan profil. Dengan paku sambungan akan lebih rapat walaupun terjadi susut pada papan
tersebut. Bila dengan sambungan bentuk lain khawatir ada penyusutan sehingga dinding akan
kelihatan jelek, maka dibuat lat atau profil untuk mengelabui, di samping untuk factor keindahan
dalam pemasangan.

Gambar 2.7 . Macam-macam sambungan papan melebar
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

2.2.3 Sambungan Kayu arah menyudut
Hubungan kayu merupakan dua buah kayu yang saling bertemu secara siku-siku, sudut

pertemuan atau persilangan. Hubungan kedua kayu tersebut selain dapat dilakukan dengan takikan
½ kayu dapat pula menggunakan hubungan pen dan lubang. Pen dibuat 1/3 tebal kayu dan lubang
pen lebarnya dibuat ½ tebal kayu yang disambungkan. Untuk memperkuat hubungan kayu tersebut
biasanya menggunakan penguat paku atan pen dari kayu.

Gambar 2.8 . Sambungan kayu menyudut
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

Hubungan pen dan lubang terbuka, karena lubangnya dibatasi dengan 3 bidang. Apabila
pada sambungan di atas bekerja gaya (gaya menekan balok B), maka pada prinsipnya gaya itu
ditahan oleh lebarnya pen supaya pennya kuat, maka bagian pen itu diperlebar masuk ke balok A
dan kayu A di cowak 1/8 - 1/6 lebar balok B. Hubungan ini disebut hubungan pen dan lubang pakai
gigi.

Gambar 2.9 . Sambungan kayu menyudut dengan lubang dan gigi
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

Pada hubungan sudut ada yang memakai istilah ekor burung terbenam. Pemakaian
hubungan ini bila tidak terpaksa karena ada gaya yang bekerja untuk melepaskan hubungan, untuk
itu jangan digunakan selain dalam pengerjaannya lebih sulit.

Gambar 2.10 . Sambungan ekor burung terbenam
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

Hubungan pada pertemuan dapat dibuat dengan menakik setengah tebal kayu atau dapat
juga dibuat hubungan pen dan lubang yang tembus maupun tidak tembus. Bilamana pada balok
tersebut menerima gaya tarik maka dapat dibuat dengan hubungan ekor burung layang. Pada bagian
yang menerima gaya tarik ditakik sebelah kanan dan kiri sebesar 1/8 - 1/6 lebar balok.

Gambar 2.11 . Sambungan ekor burung laying-layang
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

Bilamana hubungan ekor burung agar tidak kelihatan penampangnya dengan maksud agar
kelihatan rapi maka hubungannya dibuat tidak tembus dengan jalan memotong ekor burungnya
sebesar 2 cm. Dan untuk takikan ukurannya sama dengan hubungan ekor burung laying.

Gambar 2.12 . Sambungan ekor burung laying-layang (tidak tembus)
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

Sedangkan bila pada hubungan pertemuan terjadi gaya ungkit yang bekerja maka dapat
dibuat hubungannya dengan ekor burung sorong. Untuk itu bibir ekor burung ditakik ½ tebal kayu
dan pada samping kanan dan kiri dibuat takikan selebar 1/8 - 1/6 lebar balok.

Gambar 2.13 . Sambungan ekor burung sorong
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)
Apabila pada hubungan pertemuan, dapat dibongkar pasang maka hubungan dibuat pen dan
lubang tersebut tembus dan dadanya dibuat takikan untuk tempat penguatan dengan pen.

Gambar 2.14 . Sambungan menyudut dengan lubang dan pen
Sumber: Google.com (diakses 8 oktober 2021)

3. PENUTUP
Kesimpulan
Sambungan kayu merupakan sebuah metode untuk menyambung kayu, dimana masing-masing
metode memiliki kekurangan dan juga kelebihan, jika ingin sambungan kayu bisa kuat maka system
yang digunakan semakin rumit, selain itu kualitas kayu yang dipakai juga dapat memberikan
pengaruh.

4. REFRENSI
•Stefford, Jhon. 1986. Teknologi Kerja Kayu. Bandung: Erlangga
•Surya, Priatna Eka. 2007. Aneka Cara Menyambung Kayu. Jakarta: Pustaka Pembagunan
Swadaya Nusantara.
•Sumarni, sri 2007. Struktur kayu. Surakarta : Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS
•Frick, Heinz 1982. Ilmu Kontruksi Bangunan kayu. Yogyakarta: Kanisius

JURUSAN ARSITEKTUR
STT STIKMA INTERNASIONAL
JL. SIMPANG SULFAT UTARA NO. 20
MALANG
2021

STRUKTUR BANGUNAN

OLEH:
MUHAMMAD FAKIH PRAYOGA
DOSEN PENGAMPU:
ANNISA’ CARINA, M.PD

Abstract
Secara harfiah, struktur bangunan dapat diartikan sebagai bagian-bagian yang membentuk
berdirinya sebuah bangunan, mulai dari pondasi, sloof, dinding, kolom, ring, kuda-kuda,
hingga atap
Keyword: Konstruksi bangunan

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Struktur bangunan merupakan komponen utama yang menunjang berdirinya suatu
bangunan. Struktur bangunan gedung terdiri dari komponen-komponen di atas tanah dan
komponen-komponen di bawah yang direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat
menyalurkan beban ke tanah dasar.

Konstruksi dari sebuah bangunan merupakan kebutuhan dasar manusia, dimana tingkat
kebutuhan tersebut terus meningkat sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi.

Konstruksi bangunan pada saat ini merupakan suatu objek yang kompleks, dimana
didalam bangunan tersebut diperlukan perhitungan dan analisa yang cermat serta
pertimbangan tertentu yang akan menghasilkan suatu bangunan yang memenuhi syarat kokoh,
ekonomis maupun estetika.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Apa Itu Konstruksi Bangunan?
2. Apa Fungsi Konstruksi Bangunan ?
3. Apa saja Jenis Konstruksi Bangunan ?
4. Bagaimanal langkah – langkah pembuatan Pondasi batu kali, Sloof, Kolom, dan plat
lantai ?

1.3 Tujuan dan manfaat
2. Mengetahui Kontruksi Bangunan.
3. Mengetahui Fungsi Kontruksi Bangunan.
4. Mengetahui Jenis-jenis Kontruksi bangunan.
5. Mengetahui langkah – langkah pembuatan Pondasi batu kali, Sloof, Kolom, dan plat
lantai.

II. Pembahasan

2.1 Pengertian Kontruksi Bangunan

Konstruksi bangunan adalah sebuah cara/teknik untuk mendirikan objek bangunan agar
sesuai dengan beberapa syarat yaitu kuat, indah, awet, ekonomis, dan fungsional. Kata konstruksi
juga bisa diartikan sebagai satuan bangunan atau infrastruktur pada suatu area tertentu.

Selain pengertian di atas, konstruksi juga bisa disebut sebagai model, tata letak, atau
susunan sebuah bangunan. Kata ―bangunan‖ sendiri bukan hanya bentuk gedung, tapi dalam dunia
teknik sipil juga bisa disebut sebagai keseluruhan struktur suatu bangunan.

2.2 Fungsi Konstruksi Bangunan

Konstruksi bangunan tentu saja memiliki fungsi yang begitu bermanfaat bagi pembangunan.
Struktur bangunan dengan perhitungan yang matang memiliki fungsi: Memperkokoh bangunan.
Membuat desain bangunan yang tahan bencana. Menopang keberadaan elemen konstruksi lain.
Membuat masing-masing struktur bangunan saling bekerjasama membentuk suatu kesatuan.

2.3 Jenis Konstruksi Bangunan

Mempelajari konstruksi pada suatu bangunan wajib hukumnya. Tujuannya agar bangunan
yang didirikan bisa tahan terhadap bencana, awet, dan berkualitas. Konstruksi pada bangunan
ternyata terbagi menjadi 2 jenis. Ada konstruksi atas dan bawah bangunan. Berikut penjelasannya:

1. Konstruksi Bagian Bawah

Bagian pertama yang akan dibangun pastilah konstruksi bawahnya. Konstruksi ini nantinya
tidak terlihat dari luar. Namun, konstruksi bangunan bawah memegang peranan penting dari segi
kekuatan. Bagian bawah bangunan berfungsi sebagai penopang beban.

Karena itu, perencanaan pembuatan bagian bawah bangunan juga harus matang.
Perhitungannya harus tepat. Bahan yang digunakan pun harus sesuai spek/standar. Ada beberapa
konstruksi bagian bawah bangunan, yaitu:

a. Bagian Pondasi
Sebagian pondasi berada di dalam tanah, sedangkan badan pondasi ada beberapa
sentimeter dari permukaan tanah. Pondasi memiliki fungsi sebagai penopang beban bangunan
secara keseluruhan. Jadi semakin tinggi bangunan, maka pondasinya harus kuat. Pondasi yang
paling umum dipakai untuk kontur tanah Indonesia adalah tapak, tikar, atau pelat beton lajur.
Kontraktor akan membuat beberapa lubang di beberapa sudut bangunan untuk membuat ―cakar
ayam‖ yang berfungsi meneruskan beban ke dalam tanah.

b. Sloof (Sloop)
Tukang atau orang awam biasa menyebut istilah ini dengan sloop. Sloof/sloop merupakan
struktur beton yang berada di atas pondasi. Sloof memiliki fungsi untuk menahan beban dari bagian
atas pondasi. Fungsi utamanya adalah mendistribusikan beban ke seluruh pondasi.

Jika beban terpusat pada satu titik, maka bisa jadi bangunan akan mudah rusak. Adanya
beban pada satu titik membuat bangunan tidak stabil dan mudah roboh. Maka dari itu, bangunan
jenis apapun pasti membutuhkan sloof/sloop yang kokoh.

Proses pembuatan sloof biasanya dengan menggali tanah dengan kedalaman sekitar 1/2
meter. Lubang tersebut diisi dengan besi anyam, batu, dan juga adonan semen. Batuan beku
menjadi material yang sempurna untuk membuat sloof yang kuat.

2. Konstruksi Atas
Berbeda dengan konstruksi bagian bawah, konstruksi atas jelas terlihat dari luar. Konstruksi
ini meliputi bagian kolom, balok, sampai ke rangka atap. Konstruksi bangunan atas juga harus kuat.
Bahannya harus sesuai spesifikasi. Tentunya material untuk bangunan tinggi pun jelas berbeda. Ada
empat jenis konstruksi bagian atas bangunan. Fungsi masing-masing bagian konstruksi ini berbeda,
yaitu:
 Struktur Kolom
Kolom merupakan bagian bangunan yang berbentuk batang vertikal. Kolom biasanya
terletak pada setiap sudut dinding bangunan. Kolom menyambung langsung dari bagian ―cakar
ayam‖ pondasi. Kekuatan kolom juga menentukan kekuatan bangunan yang dirancang.

Fungsi utama kolom adalah pendistribusi beban dalam bangunan. Kolom juga berfungsi
menahan semua material atau objek yang ada di dalam rumah. Baik material yang menempel dalam
struktur bangunan ataupun perabotan dan manusia di dalamnya dapat ditahan dengan struktur
kolom.

 Balok
Jika kolom memanjang secara vertikal, maka balok adalah struktur horizontal dalam rumah.

Struktur ini biasanya berada beberapa sentimeter dari jendela dan pintu rumah.

Balok ini biasanya disebut juga dengan lintel. Fungsi utamanya adalah menahan beban dari
tembok. Tembok bagian atas sampai ke atas pasti memiliki beban yang cukup berat. Agar tidak
menekan kusen pintu atau jendela secara langsung, maka diperlukan struktur balok. Selain itu,
fungsi lain dari balok rumah adalah menahan kusen agar tetap kokoh saat ada gempa.

 Plat Lantai
Plat lantai berbeda dengan struktur lantai dasar. Jika pada lantai dasar tidak membutuhkan

besi cor, maka plat lantai wajib menggunakannya. Plat seperti ini ada padalantai yang tidak
menempel di permukaan tanah, misalnya lantai 2 bangunan dan seterusnya.

Lantai bertingkat tersebut membutuhkan struktur khusus. Biasanya harus dilakukan
pengecoran. Ada anyaman besi yang dipasang dengan ukuran berbeda. Semakin tinggi gedung, maka
harus menggunakan besi silinder yang lebih besar. Plat lantai kemudian dicor dengan semen, pasir,
dan batu koral. Plat lantai pada bangunan bertingkat juga mendapatkan bantuan menahan beban
dari balok horizontal. Kedua bangunan ini tersambung dengan besi anyam.

 Rangka Bagian Atap
Rangka atap biasanya dari material kayu atau galvalum. Struktur ini terdiri dari bagian reng

dan usuk yang tertutup genteng. Rangka atap memiliki fungsi untuk menahan genteng agar bisa
stabil. Jika tidak memiliki pengalaman menghitung dan merencanakan struktur bangunan, maka
gunakan jasa ahlinya. Manfaatkan bantuan kontraktor atau drafter profesional. Jangan sampai
membuat bangunan dengan spesifikasi asal-asalan, karena Indonesia sendiri cukup rawan bencana.

Gambar Rangka atap kayu

Gambar Rangka atap baja ringan

3. Langkah – Langkah Pembuatan Pondasi Batu Kali, Sloof, Kolom, Dan Plat Lantai
a. Pondasi Batu Kali

1. pemasangan bowplank
Pada tahap awal pembangunan pondasi batu kali kita akan membersih kan lokasi terlebih

dahulu yang akan kita bangun. Kemudian pemasangan bowplank, fungsi bowplank :
 Sebagai tempat penentuan titik-titik As bangunan yang nantinya digunakan untuk
penentuan jalur/arah pondasi yang membantu bagi proses pembuatan pondasi.
 Sebagai dasar untuk membuat ukuran tinggi, level, peil penentuan ketinggian lantai
bangunan dari permukaan jalan.
 Sebagai pedoman untuk pekerjaan pondasi, kolom, dan pemasangan dinding bata.

Syarat-syarat memasang bowplank adalah sebagai berikut :
 Kedudukan patoknya harus berjarak cukup dari rencana pekerjaan galian, hal ini untuk
menghindari adanya bowplank goyah akibat pelaksanaan pekerjaan galian pondasi.
 Pilih papan kayu sebagai bowplank yang bisa dipakai untuk posisi pemasangan paku pengikat
benang.
 Harus dibuat sisi atas bowplank harus terletak satu bidang rata (horizontal) dengan
sambungan papan bowplank lainnya,
 Letak pemasangan papan bowplank harus seragam (menghadap ke dalam bangunan semua)
 Garis benang yang dipasang pada bowplank merupakan As (garis tengah) dari rencana
pemasangan Pondasi dan Dinding batu bata, jadi harus benar- benar sejajar dan siku.

Alat dan Bahan Pembuatan Bowplank

Alat :

 Patok Kayu atau Patok besi
 Palu kecil, Palu besar, Palu Karet, Palu Konde, dan Palu Kepala Kambing
 Meteran
 Tang Potong 1 buah
 Golok/Parang 1 buah
 Mistar Siku 1 buah
 Unting-unting

Bahan :

 Benang Nilon
 Selang Waterpass
 Paku Kaso sedang dan besar
 Pensil Tukang
 Papan

Langkah – langkah Pembuatan Bowplank

1. Membuat Garis Siku-siku

Langkah pertama untuk membuat bowplank adalah membuat garis siku pada lahan yang
akan dibangun sebuah bangunan. Untuk membuat garis dengan sudutnya siku-siku dapat digunakan
dalil pythagoras. Perhatikan gambar di bawah, perbandingan sisi datar (AC) dan sisi tegak (AB)
dengan sisi miring (BC) berturut-turut adalah AC : AB : BC = 3 : 4 : 5.

Untuk mengontrol hasil pekerjaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

 Buatlah garis BD dengan cara menarik garis dari titik B sejajar dengan AC,
 Tariklah garis dari titik C sejajar dengan AB sehingga terbentuk CD, dan

akan membentuk bidang segi empat ABCD
 Pastikan jarak diagonal BC sama panjang dengan AD, apabila ditemukan

jarak diagonal antara BC dengan AD tidak sama panjang, maka sudut <CAB
belum membentuk siku-siku, dan pekerjaan pengukuran harus diulangi sampai
ditemukan jarak diagonal BC dengan AD sama panjang.
2. Pemasangan bowplank pada sudut siku-siku pertemuan dinding

Patokan sudut siku-siku ini akan menentukan ketepatan berbagai pekerjaan konstruksi
yang meliputi pembuatan pondasi dan dinding, pemasangan ubin dan plafon, dan bahkan suatu saat
nanti juga memengaruhi ukuran pembuatan atau perletakan furnitur.

Titik-titik As bangunan pada papan bowplank ditandai dengan paku yang berfungsi untuk
menarik benang agar tercipta garis yang lurus dan selanjutnya bisa membuat sudut siku 90 derajat
dengan tepat sebagai sumbu tembok.

Benang ini nantinya akan menjadi pedoman untuk pekerjaan pondasi, kolom, dan
pemasangan dinding bata. Untuk menghindarkan kesalahan yang disebabkan letaknya paku, pada
peletakan paku diberi tanda panah dengan cat/meni.

Bidang atas bowplank harus diketam rata agar bidang atas papan dapat membentuk
bidang datar (bidang waterpas). Bidang atas papan bowplank ini biasanya dipasang pada kedudukan
± 0,00 sebagai titik duga lantai. Sudut pertemuan papan bowplank harus benar-benar siku, karena
hal tersebut sebagai acuan untuk kesikuan pertemuan dinding.

Proses pengerjaan pemasangan bowplank harus dilakukan dengan penuh hati- hati dan
teliti, serta memperhitungkan sudut siku-siku dengan benar, karena pemasangan bowplank adalah
langkah awal dalam proses pembangunan. Jika pemasangan bowplank miring, maka akan
menghasilkan bangunan miring pula.

2. Metode Pelaksanaan Pondasi Batu Kali
Pondasi adalah struktur pada bangunan yang terletak paling bawah yang berfungsi untuk

meneruskan beban dari struktur atas ke tanah. Secara garis besar pondasi ada 2 jenis yaitu pondasi
dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal salah satunya jenisnya adalah pondasi batu kali. Ada
beberapa tahapan dalam pelaksanaan pembuatan pondasi batu kali antara lain :

1. Pekerjaan persiapan
2. Pekerjaan galian
3. Pekerjaan urugan pasir
4. Pekerjaan pasangan pondasi

Pekerjaan Persiapan
Rencanakan urutan galian, urutan pemasangan pondasi batu kali, tempat penimbunan

tanah hasil galian sementara sebelum diangkut keluar dari site, juga tempat penimbunan
sementara batu-batu kali tersebut sebelum dipasang.
Pekerjaan Galian
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam peker—jaan galian adalah :

1. Siapkan alat-alat yang diperlukan
2. Menggali tanah dengan ukuran lebar sama dengan lebar pondasi bagian bawah dengan
kedalaman yang disyaratkan.
3. Menggali sisi-sisi miringnya, sehingga diperoleh sudut kemiringan yang tepat.

4. Buang tanah sisa galian ke tempat yang telah ditentukan
5. Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya sesuai dengan rencana.

Rencana Galian Pondasi
Pekerjaan Urugan Pasir
Beberapa hal yang harus dilakukan dalam peker—jaan urugan pasir adalah :

1. Pasir urug diratakan pada dasar galian dan disiram air untuk mendapatkan
kelembaban yang optimum untuk pemadatan.
2. Padatkan pasir urug tersebut dengan memakai alat stamper.
3. Jika diperlukan ulangi langkah satu dan dua sehingga didapatkan tebal pasir urug
seperti yang direncanakan.

Pekerjaan Urugan Pasir

Pekerjaan Pasangan Pondasi
Pada pekerjaan pasangan pondasi ada 2 tahap yaitu pembuatan profil dan pemasangan batu kali.
Pembuatan profil :

1. Pasang patok batu untuk memasang profil (2 patok untuk tiap profil). Profil dipasang
pada setiap ujung lajur pondasi.
2. Pasang bilah batu datar pada kedua patok,setinggi profil.
3. Pasang profil benar-benar tegak lurus dan bidang atas profil datar. Usahakan titik
tengah profil tepat pada tengah-tengah galian yang direncanakan dan bidang atas profil
sesuai peil pondasi.
4. Ikat profil tersebut pada bilah datar yang dipasang antara 2 patok dan juga dipaku
agar lebih kuat.
5. Pasang patok sokong, miring pada tebing galian pondasi dan ikatkan dengan profil,
sehingga menjadi kuat dan kokoh.
6. Cek ketegakan / posisi profil dan ukuran-ukurannya, perbaiki jika ada yang tidak
tepat,demikian juga peilnya.
Pemasangan batu kali :
1. Siapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pasang benang pada sisi luar profil untuk setiap beda tinggi 25 cm dari permukaan
urugan pasir.
3. Siapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut.
4. Susun batu-batu diatas lapisan pasir urug tanpa adukan (aanstamping) dengan tinggi
25cm dan isikan pasir dalam celah-celah batu tersebut sehingga tak ada rongga antar
batu kemudian siramlah pasangan batu kosong tersebut dengan air.
5. Naikkan benang pada 25 cm berikutnya dan pasang batu kali dengan adukan, sesuai
ketinggian benang. Usahakan bidang luar pasangan tersebut rata.

Pembuatan Profil Batu Kali

Pondasi Batu Kali

b. Sloof
Setelah pondasi selesai maka langkah selanjutnya pemasangan anyaman sloof yang akan

di letakkan di atas pondasi. Slooh harus masuk kepada kepala tiang kolom sehingga membentuk
anyaman. Biasanya ukuran besi sloof yang di gunakan Ø8 untuk tulangan utama dan Ø6 untuk
tulangan pembagi ( buegel ), semakin besar diameter yang dipakai maka akan semakin kuat dan
tentunya akan semakin bengkak biayanya.

Proses perakitan besi sloof

 Silahkan beli besi tulangan sloof dan kawat untuk mengikat besi tulangan
 Membuat cetakan besi sengkang sesuai ukuran, jika ukuran sloof 15/20 maka besi sengkan

yaitu 13/ 18.
 Kemudian rakit sloof .

Jika sudah selesai merakit sloof, maka langkah selanjutnya membuat bekisting untuk
sloof. Cara pembuatan bekisting untuk sloof, ambil papan sesuai ukuran kemudian satukan dengan
kayu kaso.

Kemudian letakkan bekisting di atas pondasi letakkan besi sloof di tengah bekisting dan
letakkan juga besikolom . Posisi besi sloof harus pas ditengan bekisting dan beri jarak antara
pondasi dan besi sloof untuk selimut betonnya.

Selanjutnya adalah membuat coran takarannya adalah 1 : 2 : 3 . Satu untuk semen, dua
untuk pasir dan 3 untuk split apabila menggunakan mesin molen, apabila manual 1 : 2 : 3 ( 3 nya
diganti pasir dan 2 nya split ) dengan tujuan mempermudah pengadukan. Pergunakan air
secukupnya. Di lapangan takaran air biasanya cukup encer, dengan maksud beton yang encer akan
bisa mengisi ruang-ruang sloof sehingga hasilnya akan lebih mulus.

Setelah melakukan pengcoran langkah selanjutnya di diamkan selama sehari, dan
akan di bongkar setelah dianggap beton sloof keras.

c. Kolom
Apabila sloof telah selesai, maka Untuk langkah – langkah selanjutnya yaitu tahap

pemasangan kolom. Pemasangan kolo hampir sama dengan sloof bedanya kalau sloof di pasang
secara horizontal maka untuk pemasangan kolom dipasang secara vertical. Biasanya untuk
pembesian kolom dan sloof di kerjakan pada awal pekerjaan dan ada sebagian pemborong biasanya
membeli jadinya.

Proses pembuatan beton kolom bertulang

 kolom yang telah terpasang kemudian di tutup dengan bekisting yangtelah di ikat dengan
kayu kaso.

 Kemudian bekisting pada kolom akan di tibang ulang agar kolom lurus dan beri kayu pada
setiap sisi agar waktu pengecoran tidak roboh.

 Kemudian siapkan coran dengan perbandingan 1pc:2ps:3split dan air, campur hingga merata
menggunankan mesin molen . Setelah siap, lalu tuang ke bak penampungan dansiap di
tuang ke bekisting.

d. Plat lantai

Pelaksanaan pekerjaan konstruksi plat lantai beton dilakukan setelah pekerjaan kolom
sudah selesai. Semua pekerjaan plat lantai ini dilaksanakan di tempat kerja atau lokasi yang telah
direncanakan. Pekerjaan-pekerjaan yang perlu dilakukan meliputi pembesian, pemasangan
bekisting, pengecoran, dan perawatan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bagus, semua
pekerjaan ini harus dilaksanakan sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Persiapan dimulai dari pengukuran untuk mengatur dan memastikan tingkat kerataan
ketinggian plat lantai. Oleh karena itu, pelaksanaan pekerjaan ini membutuhkan alat bantu
theodolit. Kemudian pekerjaan dilanjutkan dengan membuat bekisting plat lantai. Bekisting
tersebut harus sesuai dengan gambar kerja. Pemotongan plywood yang akan digunakan sebagai
bekisting harus cermat sehingga hasilnya sesuai dengan luasan plat lantai yang akan dibuat. Setelah
itu, proses pembesian plat lantai dilaksanakan di atas bekisting.

Tahap 2. Pekerjaan
Pekerjaan plat lantai dimulai dari proses pembekistingan plat. Scaffolding disusun secara

berjajar bersama-sama dengan scaffolding untuk balok. Mengingat posisi plat lantai lebih tinggi
daripada balok, maka scaffolding untuk plat pun harus lebih tinggi serta dibutuhkan main frame
tambahan menggunakan joint pin. Anda bisa memperhitungkan ketinggian scaffolding plat dengan
mengatur bagian base jack dan U-head jack.

Langkah berikutnya yaitu pemasangan balok kayu 6/12 sebagai girder sejajar dengan arah
cross brace. Kemudian pasang juga suri-suri dengan arah melintangnya di atas girder tersebut.
Setelah itu, polywood dipasang sebagai alas dari plat lantai. Tak lupa, pasang pula dinding untuk
tepi plat yang dijepit menggunakan siku. Plywood ini harus dipasang serapat mungkin untuk
mencegah terbentuknya rongga yang menyebabkan kebocoran saat dilakukan pengecoran.

Agar beton yang sudah jadi nantinya tidak menempel pada bekisting, disarankan untuk
mengolesi solar sebagai pelumas di semua bekisting yang sudah terpasang dengan rapat. Cara ini
akan memudahkan kita dalam melakukan pekerjaan pembongkaran bekisting. Manfaat yang lainnya
yaitu bekisting tersebut akan terhindar dari kerusakan yang fatal dan cenderung utuh sehingga
masih dapat digunakan untuk pekerjaan yang selanjutnya.

Setelah proses pemasangan bekisting plat lantai telah selesai dilaksanakan, proses
selanjutnya yaitu pengecekan hasil kerja. Lakukan pengecekan terhadap bekisting yang telah
dipasang, terutama pemeriksaan tinggi level bekisting tersebut. Di sini Anda membutuhkan alat
bantu yaitu waterpass untuk mengecek ketinggian bekisting. Jika hasilnya sudah sesuai dengan
rencana, maka bekisting tersebut pun telah siap untuk digunakan.

Tahap selanjutnya yaitu pembesian plat lantai yang dilaksanakan setelah pembesian balok.
Proses pembesian ini dilakukan secara langsung di atas bekisting plat. Untuk mempermudah
pekerjaan, tulangan-tulangan besi dapat diangkat menggunakan tower crane untuk dipasang di atas
bekisting plat. Lakukan perakitan tulangan besi ini dengan tulangan bawah terlebih dahulu. Setelah
itu, pasang tulangan besi yang berukuran D100-200.

Pembesian berikutnya dilakukan secara menyilang, lalu ikat menggunakan kawat. Letakkan
beton deking antara tulangan bawah plat dan bekisting alas plat. Kemudian pasang juga tulangan
kaki ayam antara untuk tulangan atas serta bagian bawah plat. Lakukan proses ini sampai pekerjaan
pembesian plat lantai selesai. Kemudian lakukan pengecekan untuk memeriksa hasil kerja
pembesian tulangan.

Periksalah penyaluran pembesian plat terhadap balok, jumlah dan jarak tulangan ekstra,
perkuatan (sparing) pada lubang-lubang di plat lantai, beton decking, kaki ayam, dan
kebersihannya. Pembongkaran bekisting plat dilakukan setelah 4 hari pengecoran. Kemudian
setelah bekisting ini dibongkar, lanjutkan dengan pemasangan sapot sebagai penunjang plat lantai
dan beban yang ada di atasnya.

Tahap 3. Pengecoran

Setelah pekerjaan pembekistingan dan pembesian sudah selesai serta dipastikan sudah siap,
engineer melakukan pengecekan terlebih dulu ke lokasi yang akan dicor. Jika hasilnya bagus,
kemudian engineer membuat surat izin pengecoran untuk diajukan kepada konsultan pengawas.
Konsultan pengawas lalu melakukan survei ke lokasi yang diajukan di dalam surat tersebut. Setelah
dipastikan sudah bagus semuanya, maka konsultan pengawas akan menandatangani surat izin
pengecoran.

Proses pengecoran plat lantai harus dilakukan bersama-sama dengan pengecoran balok.
Peralatan pendukung yang digunakan untuk pekerjaan pengecoran balok antara lain bucket, truck
mixer, vibrator, lampu kerja, dan papan perata. Setelah engineer mendapatkan izin pengecoran
dari konsultan pengawas, engineer kemudian menghubungi pihak beaching plan untuk mengecor
sesuai dengan mutu dan volume yang dibutuhkan.

Pembersihan ulang area yang akan dicor dilakukan menggunakan air kompresor sampai
benar-benar bersih. Bucket disiapkan dan dibersihkan dari debu atau sisa pengecoran sebelumnya.
Setelah itu, siapkan satu keranjang dorong untuk mengambil sampel dan test slump cor yang
diawasi oleh engineer dan pihak pengawas. Apabila sudah dinyatakan bagus, maka pekerjaan
pengecoran pun telah siap untuk dilaksanakan.

Contoh benda uji diambil bersamaan selama proses pengecoran berlangsung. Sampel ini
cukup diambil beton yang keluar dari truk saja. Kemudian sampel dituangkan ke bucket. Dari
bucket ini, sampel tersebut diangkut menggunakan TC. Setelah bucket sudah sampai d tempat yang
akan dicor, selanjutnya petugas bucket akan membuka katup bucket untuk mengeluarkan beton
segar ke area pengecoran.

Pekerjaan dilanjutkan oleh pekerja cor yang akan meratakan beton segar ke bagian balok
terlebih dahulu, lalu dilanjutkan ke plat. Khusus untuk plat lantai, beton diratakan memakai scrub
secara manual. Kemudian lakukan pengecekan level menggunakan waterpass. Tahap berikutnya
yaitu pemadatan dengan vibrator. Tujuannya untuk mencegah terbentuknya rongga-rongga udara
yang dapat mengurangi mutu beton. Pekerja vibrator akan memasukkan alat ini ke dalam adukan
selama 5-10 menit di setiap bagian yang dicor.

Setelah semua area balok dan plat lantai sudah terisi adonan beton, pekerjaan berikutnya
yaitu meratakan permukaan beton segar menggunakan balok kayu yang panjang. Lakukan pekerjaan
ini dengan memperhatikan batas ketebalan plat yang telah ditentukan. Proses ini dilakukan
berulang-ulang kali hingga seluruh area cor telah terisi beton. Untuk mendapatkan hasil yang bagus,
proses pengecoran sebaiknya dilakukan maksimal selama 6-8 jam.

Tahap 4. Pembongkaran

Pembongkaran bekisting harus dilakukan pada waktu yang tepat untuk memperoleh hasil
beton yang berkualitas baik serta agar tidak merusak beton tersebut. Hal ini tidak terlepas dari
fungsi bekisting tersebut, selain sebagai cetakan, berguna juga sebagai penunjang sampai beton
benar-benar mengeras. Untuk pekerjaan plat lantai, pembongkaran bekisting dilaksanakan dalam
waktu 4 hari setelah pengecoran. Sedangkan untuk pekerjaan balok, pembongkaran bekisting
dilakukan setelah 7 hari pengecoran.

Tahap 5. Perawatan

Wajib hukumnya melakukan perawatan terhadap adonan beton selama proses pengeringan
berlangsung. Sebab adonan beton yang mengering terlalu cepat mengakibatkan hasilnya tidak
bagus, retak-retak, dan tidak sesuai rencana. Maka setelah dilaksanakan pengecoran, lakukan
upaya perawatan untuk menjaga mutu beton. Proses perawatan beton ini dilakukan dengan
menjaga agar kondisinya senantiasa basah dengan menyiraminya. Perawatan ini dilaksanakan
selama 7 hari berturut-turut dengan menyirami tanaman sebanyak 2-3 kali/hari.

III.PENUTUP
Suatu struktur bangunan yang kokoh dan kuat tapi juga efisien memerlukan suatu

perencanaan struktur yang baik dengan menggunakan peraturan – peraturan perencanaan secara
tepat dan benar.

IV. Referensi
 Rifana & Kawet. 2018. Konstruksi Bangunan. Yogyakarta: Deepublish.
 https://stellamariscollege.org/konstruksi-bangunan/
 https://asiaarsitek.com/proses-pembuatan-struktur-kolom/
 https://arafuru.com/m/sipil/metode-pelaksanaan-pekerjaan-plat-lantai-beton.html


Click to View FlipBook Version