76 | Modul 1.4 - Budaya Positif Tugas Anda: Silakan Anda melakukan kegiatan di bawah ini secara mandiri, berdasarkan pemahaman Anda setelah membaca tentang 5 posisi kontrol. 1. Pada tabel berikut, isilah kolom “Siapa yang Mengatakan” dengan posisi kontrol mana menurut Anda yang sering mengucapkan pernyataan-pernyataan tersebut. Pernyataan/Kalimat Siapa yang Mengatakan? “Saya kecewa sekali dengan kamu…” “Kamu tidak pernah benar melakukannya….” “Ayolah, lakukan demi saya ya….” “Apakah kamu mau mendapatkan stiker bintang hari ini?” “Bagaimana kamu bisa menyelesaikan masalah ini?” “Kamu selalu yang paling terakhir…” “Kamu tidak akan mendapatkan bintang bila tidak menyelesaikan tugas ini ya?” “Berapa kali sih saya sudah mengatakan kepada kamu?” “Ingat bukan, apa yang telah saya lakukan untuk kamu? “Kamu tidak akan pernah berhasil dalam kehidupan ini” “Apa rencanamu untuk menyelesaikan ini?” 2. Saat ini Anda Di mana? Lihatlah kedua garis posisi kontrol di bawah ini. Garis yang pertama adalah posisi kontrol Anda di rumah, mungkin sebagai seorang ibu/ayah/kakak/paman/bibi, dan garis kedua
Modul 1.4 - Budaya Positif | 77 adalah posisi kontrol Anda di tempat kerja sebagai guru/kepala sekolah. Bagaimana posisi kontrol Anda selama ini menjalankan disiplin positif di kedua tempat tersebut. Isi dan refleksikan posisi Anda selama ini di kedua garis tersebut. 1 2 3 4 5 Penghukum Pembuat Rasa Bersalah Teman Pemantau Manajer (Di rumah) 1 2 3 4 5 Penghukum Pembuat Rasa Bersalah Teman Pemantau Manajer (Di tempat kerja/sekolah) Setelah mengisi di mana posisi kontrol Anda selama di rumah maupun di sekolah, tanyakan diri, “Apakah saya berbeda menghadapi anak/keponakan dengan menghadapi murid-murid saya?” Mengapa berbeda? Setelah pelatihan ini, cobalah mengisi garis posisi kontrol ini, dan bandingkan dengan posisi Anda setelah mengikuti pelatihan. Adakah perbedaan? Mengapa? Bagaimana untuk sampai di posisi Manajer, apa yang perlu terjadi? Pembelajaran 2.6: Restitusi - Segitiga Restitusi Tujuan Pembelajaran Khusus: ● CGP menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. ● CGP dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka. ● CGP dapat menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di lingkungannya. Bapak/Ibu calon guru penggerak,
78 | Modul 1.4 - Budaya Positif Setelah Anda mengetahui tentang apa itu restitusi, tentunya Anda ingin mengetahui bagaimana cara melakukannya. Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitusi/restitution triangle. Sebelumnya marilah kita tonton dahulu video sebuah penanganan kasus yang dilakukan guru dengan menggunakan pendekatan Segitiga Restitusi. Setelah melihat video tersebut silakan Anda melihat bagan berikut tentang 3 sisi dari Segitiga Restitusi. Proses tiga tahapan tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip utama dari Teori Kontrol, yaitu: Langkah Teori Kontrol 1 Menstabilkan Identitas Stabilize the Identity Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan 2 Validasi Tindakan yang Salah Validate the Misbehaviour Semua perilaku memiliki alasan 3 Menanyakan Keyakinan Seek the Belief Kita semua memiliki motivasi internal Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi segitiga restitusi. Langkahlangkah tersebut tidak harus dilakukan satu persatu secara kaku. Banyak guru yang sudah menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya mereka masing-masing bahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.
Modul 1.4 - Budaya Positif | 79 Gambar 1. Segitiga Restitusi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity) Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini: ● Berbuat salah itu tidak apa-apa. ● Tidak ada manusia yang sempurna ● Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu. ● Kita bisa menyelesaikan ini.
80 | Modul 1.4 - Budaya Positif ● Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini. ● Kamu berhak merasa begitu. ● Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri? Kalau kita mengatakan kalimat-kalimat diatas, akan sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin, buat anak untuk tetap membangkang. Para guru yang bertugas mengawasi anak-anak saat mereka bermain di halaman sekolah, menyatakan bahwa bila mereka mengatakan kalimat tersebut yang mungkin hanya butuh 30 detik, bisa mengubah situasi yang sulit menjadi kooperatif. Ketika seseorang merasa sedih dan emosional, mereka tidak bisa mengakses bagian otak yang berfungsi untuk berpikir rasional, seperti yang Bapak Ibu CGP telah pelajari di modul 1.2 tentang konsep otak 3-in-1 (Triune). Saat itulah ketika kita harus menstabilkan identitas anak. Sebelum terjadi hal-hal lain yang bisa memperburuk keadaan, kita sebaiknya membantu anak untuk tenang dan kembali ke suasana hati dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa dilakukan. Tentu akan sulit melakukan restitusi bila, anak yang berbuat salah terus berfokus pada kesalahannya. Ada 3 alasan untuk ini, pertama rasa bersalah menguras energi. Rasa bersalah membutuhkan energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk mencari penyelesaian masalah. Kedua, ketika kita merasa bersalah, kita mengalami identitas kegagalan. Dalam kondisi ini, orang akan cenderung untuk menyalahkan orang lain atau mempertahankan diri, daripada mencari solusi. Ketiga, perasaan bersalah membuat kita terperangkap pada masa lalu dimana kita sudah tidak bisa berbuat apaapa lagi. Kita hanya bisa mengontrol apa yang akan terjadi di masa kini dan masa datang.
Modul 1.4 - Budaya Positif | 81 Sisi 2: Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior) Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Kita mungkin tidak suka sikap seorang anak yang terus menerus merengek, tapi bila sikap itu mendapat perhatian kita, maka itu telah memenuhi kebutuhan anak tersebut. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka. ● “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?” ● “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu” ● “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”. ● “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.” Biasanya guru menyuruh anak untuk menghentikan sikap yang tidak baik, tapi teori kontrol menyatakan bahwa resep itu tidak manjur. Mungkin tindakan guru dengan memvalidasi sikap yang tidak baik seperti bertentangan dengan aturan yang ada, namun sebetulnya tujuannya untuk menunjukkan bahwa guru memahami alasan di balik tindakan murid. Restitusi tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar aturan adalah sikap yang baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami alasannya, dan paham bahwa setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di waktu tertentu. Sebuah pelanggaran aturan seringkali memenuhi kebutuhan anak akan penguasaan/power walaupun
82 | Modul 1.4 - Budaya Positif seringkali bertabrakan dengan kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima/love and belonging. Kalau kita tolak anak yang sedang berbuat salah, dia akan tetap menjadi bagian dari masalah, namun bila kita memahami alasannya melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami. Para guru yang telah menerapkan strategi ini mengatakan bahwa anak-anak yang tadinya tidak terjangkau, menjadi lebih terbuka pada mereka. Strategi ini menguntungkan bagi murid dan guru karena guru akan berada dalam posisi siswa, dan karena itu akan memiliki perspektif yang berbeda. Sisi Ketiga: Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief) Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga. ● Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga? ● Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati? ● Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal? ● Kamu mau jadi orang yang seperti apa? Penting untuk menanyakan ke anak, kehidupan seperti apa nantinya yang mereka inginkan? Apakah kamu ingin menjadi orang yang sukses, bertanggung jawab, atau bisa dipercaya? Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.
Modul 1.4 - Budaya Positif | 83 Tugas Mandiri Bacalah skrip di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya: Mario dan Adi merupakan murid kelas 8 di SMP Tunas. Pada jam istirahat makan siang, saat semua anak lain bermain di luar kelas, mereka diajak bicara oleh guru wali kelas mereka, Bapak Joko, di ruang kelas. Pak Joko: Mario, Adi, Bapak tadi dengar laporan dari guru piket di kantin, sepertinya kalian dalam masalah ya. Ada yang bisa Bapak bantu? Apa yang terjadi? Mario dan Adi: Iya Pak. Tadi pada jam istirahat pagi, kami main lemparlemparan makanan di kantin, tapi tidak sengaja malah kelempar kena wajah Ibu Dina, kepala sekolah, ketika beliau sedang berjalan. Pak Joko: Kalian main lempar-lemparan makanan di kantin kena wajah Ibu Dina ketika beliau sedang lewat? Mario dan Adi: Iya Pak (Dengan wajah sedih dan muka menunduk) Pak Joko: Adi, ada informasi yang kamu mau tambahkan? Adi: Kami tidak bermaksud melakukannya, tapi ... Pak Joko: Tapi.. Adi: Tapi kami tidak sengaja Pak Joko: Apakah kalian tahu kalau kalian berada dalam masalah sekarang? Mario dan Adi: Iya Pak Joko: Baiklah. Bapak disini bukan untuk mencari siapa yang salah, Bapak disini untuk mencari penyelesaian samasama, berpikir sama-sama tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki situasi ini. Kalian pasti melakukan itu ada alasannya ya. Pasti seru ya main lempar-lemparan makanan begitu Mario dan Adi: Iya Pak.. Pak Joko: Ya Bapak bisa melihat kalian merasa senang melakukannya, tetapi yang kalian lakukan merugikan
84 | Modul 1.4 - Budaya Positif orang lain, sehingga sekarang kalian dalam masalah. Mario dan Adi: Iya pak Pak Joko: Sekarang mari kita bicara tentang keyakinan kelas dan keyakinan sekolah kita. Apa yang kita percaya? Yang mana yang kalian belum tunjukkan? Mario: Kita harus bersikap baik satu sama lain Ad:i Menghormati orang lain dan menghormati dirimu sendiri. Pak Joko: Kalian berdua ingat dengan baik keyakinan kelas kita Kita kembali pada ketika kalian main lempar-lemparan makanan dan mengenai Ibu Dina, apakah ketika kalian melakukan itu kalian menghormati orang lain dan lingkungan? Mario dan Adi: Tidak Pak Joko: Tapi kalian mendapatkan rasa senang. Menurut Bapak, ada cara untuk mendapatkan rasa senang, tanpa merugikan orang lain. Bagaimana menurut kalian? Mario dan Adi: Iya Pak Pak Joko Nah sekarang mari kita selalu mengindahkan keyakinan kelas kita. besok kita ke kantin, dan kalian bisa berperilaku lebih baik lagi. Setelah tiga tahap itu dilakukan, guru dapat menanyakan pada anak-anak, apa yang ingin mereka lakukan untuk memperbaiki situasi saat itu. Disinilah restitusi dapat dilakukan. Tugas Anda 1. Dari 5 posisi kontrol, posisi mana yang dipraktikkan oleh guru? Jelaskan. 2. Kebutuhan apa yang berusaha dipenuhi oleh Mario dan Adi? 3. Apa yang dikatakan guru dalam tahap Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan yang Salah, dan Menanyakan Keyakinan? 4. Kira-kira sesuai prinsip restitusi, apa yang akan dilakukan Mario dan Adi untuk memperbaiki kesalahan mereka pada Ibu Dina?
Modul 1.4 - Budaya Positif | 85 Peran Fasilitator: 1. memastikan CGP melakukan eksplorasi mandiri mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif 2. memastikan CGP menjawab pertanyaan-pertanyaan pada setiap konsep inti 3. memastikan CGP aktif dalam forum diskusi secara tertulis 4. memberikan umpan balik terhadap respon CGP di forum diskusi tertulis Standar Nasional Pendidikan Dalam penerapan program disiplin positif, hendaknya guru memiliki standar kepribadian, profesional, dan sosial yang baik, dimana guru mampu berefleksi pada posisi kontrolnya saat ini; bagaimana perjalanan dirinya sebagai seorang ‘Among’ (posisi manajer) yang menuntun murid-murid menjadi insan yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab.
86 | Modul 1.4 - Budaya Positif Pembelajaran 3 - Ruang Kolaborasi Durasi: 6 JP Jenis Kegiatan: Kegiatan forum diskusi dengan CGP lain Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. CGP dapat menganalisis kasus-kasus yang disediakan berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif bersama CGP lain dalam Komunitas Praktisi 2. CGP dapat mempresentasikan hasil analisis studi kasus berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Pada tahap ruang kolaborasi ini, Anda akan berkolaborasi dengan CGP lain untuk membuat komunitas praktisi. Ruang kolaborasi ini akan terbagi menjadi dua bagian yaitu kerja kelompok (3JP) dan forum diskusi sinkronus bersama fasilitator(3JP). 1. Kerja Kelompok (2 JP) Pada sesi ini, CGP akan melakukan kerja kelompok dengan ketentuan sebagai berikut. a. Dalam kelompok masing-masing, pelajari kasus-kasus yang disediakan. b. Lakukan analisis mendalam terhadap kasus-kasus yang disediakan dan jawablah pertanyaan-pertanyaan di tiap kasus yang disajikan. Kasus 1: Guru Matematika dan wali kelas 8, Ibu Santi sakit, sehingga tidak dapat masuk dan mengajar. Akhirnya dicarikan guru pengganti, Ibu Eni. Ibu Eni baru 2 tahun menjadi guru SMP. Beberapa murid perempuan, Fifi dan Natali, mengetahui hal ini dan mulai menggunakan kesempatan dan bersikap seenaknya, tertawa dan tidak mengindahkan kehadiran Ibu Eni. Ibu Eni mencoba menyapa Fifi dan Natali dengan ramah, sambil mengingatkan mereka untuk tetap fokus pada pengerjaan tugas, “Ayolah tugasnya dikerjakan, nanti Ibu ditegur Bapak Kepala Sekolah kalau kalian tidak kerjakan tugas. Tolong bantu Ibu ya?” Namun Fifi dan Natali malah jadi tertawa, “Ah Ibu, santai saja bu”. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dan malah mengobrol. Keesokan harinya, Ibu Santi memanggil Fifi dan Natali serta menanyakan tentang laporan
Modul 1.4 - Budaya Positif | 87 Ibu Eni. Ibu Santi menanyakan apakah mereka bersedia melakukan memperbaiki permasalahan yang ada? Fifi dan Natali sempat ragu-ragu dan membela diri, namun pada akhirnya mengatakan akan meminta maaf. Ibu Santi menanggapi bahwa tindakan itu boleh saja dilakukan bila mereka sungguh-sungguh ingin meminta maaf, namun Ibu Santi menanyakan kembali, apa yang mereka bisa lakukan untuk menggantikan rasa tidak dihormati Ibu Santi? Baik Fifi maupun Natali mengakui bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan Keyakinan Kelas. Ibu Santi melanjutkan kembali apa yang akan mereka lakukan untuk memperbaiki masalah, apakah ada gagasan? Setelah berpikir sejenak, Natali dan Fifi mengusulkan bagaimana kalau mereka mengadakan sebuah diskusi kelompok dengan teman-teman sekelasnya. Tema yang mereka pilih adalah penerapan keyakinan kelas, terutama tentang sikap saling menghormati dan bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari di sekolah. Usulan kedua adalah mengirim email kepada Ibu Eni tentang gagasan mereka tersebut. Mereka pun memberitahu Ibu Eni bahwa mereka telah memberitahu Kepala Sekolah, Pak Hasan, bila lain waktu ada ketiadaan guru, maka mereka akan mengusulkan Ibu Eni sebagai guru pengganti. ● Dalam kasus di atas, langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah dijalankan oleh Ibu Santi? ● Menurut Anda, apakah restitusi yang diusulkan Fifi dan Natali sudah sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuat? Apakah langkah-langkah restitusi yang telah diusulkan mereka? ● Dalam kasus di atas, posisi apakah yang telah diambil oleh Ibu Eni dalam menangani Fifi dan Natali? Jelaskan jawaban Anda. ● Jika Anda adalah Pak Hasan, bagaimana Anda menyikapi langkah yang ditempuh Ibu Santi? Kasus 2: Sabrina hari itu bangun terlambat, dan terburu-buru sampai di sekolah. Dia pun akhirnya sampai di gerbang sekolah, tapi baru menyadari kalau tidak menggunakan sepatu hitam seperti tertera di peraturan sekolah. Di depan pintu kelas, Bapak Lukman memperhatikan sepatu Sabrina yang berwarna coklat. Sabrina berusaha menjelaskan bahwa dia terburu-buru dan salah mengenakan sepatu. Pak Lukman menanyakan Sabrina, apa peraturan sekolah tentang seragam warna sepatu. Sabrina menjawab sudah mengetahui sepatu harus berwarna hitam, namun terburu-buru dan salah mengenakan sepatu, selain tidak mungkin kembali pulang
88 | Modul 1.4 - Budaya Positif karena rumahnya jauh sekali. Pak Lukman tetap bersikeras pada peraturan yang berlaku dan mengatakan, “Ya sudah, kamu sudah melanggar peraturan sekolah. Kamu salah. Sudah terlambat, salah pula warna sepatunya. Segera buka sepatumu kalau tidak bisa mengenakan warna sepatu sesuai peraturan”. Sabrina meminta maaf dan memohon kembali kepada pak Lukman agar tetap dapat mengenakan sepatunya dan berjanji tidak akan mengulang kesalahannya. Namun pak Lukman tidak mau tahu, “Tidak, kamu telah melanggar peraturan sekolah, kalau tidak sanggup ambil sepatu di rumah atau diantarkan sepatu ke sekolah, ya sudah kamu tidak bersepatu saja seharian di sekolah. Sekarang copot sepatumu dan silakan belajar tanpa sepatu seharian.” Sabrina pun dengan berat hati mencopot sepatunya dan memberikannya kepada pak Lukman. Seharian dia tidak berani berkeliling sekolah karena malu, dan lebih banyak berdiam diri di kelas tanpa alas sepatu. ● Dalam kasus di atas, sikap posisi apakah yang diambil oleh Bapak Lukman? Jelaskan, apakah indikatornya? ● Bila Bapak Lukman mengambil posisi seorang Manajer, apa yang akan dikatakannya, pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang akan diajukan ke Sabrina? Jelaskan. ● Kira-kira bila Anda adalah Kepala Sekolah di sekolah tersebut, - Nilai kebajikan apa yang ingin dituju oleh peraturan harus berwarna hitam? - Bagaimana Anda menyikapi langkah yang diambil Pak Lukman mengenai kasus tersebut? Kasus 3: Ibu Dani sedang menjelaskan pelajaran Bahasa Inggris di papan tulis, namun beliau memperhatikan bahwa Fajar malah tidur-tiduran dan tampak acuh tak acuh pada pelajarannya. “Fajar coba jawab pertanyaan nomor 3. Maju ke depan dan kerjakan di papan tulis”. Fajar pun tampak malas-malasan maju ke depan, dan sesampai di depan papan tulis pun, Fajar hanya diam terpaku, sambil memegang buku bahasa Inggrisnya dan memainkan spidol di tangannya. “Ayo Fajar makanya jangan tidur-tiduran, lain kali perhatikan! Sudah sana, duduk kembali, kira-kira siapa yang bisa?” Fajar pun kembali duduk di bangkunya. Hal seperti ini sudah seringkali terjadi pada Fajar, seperti tidak memperhatikan, acuh tak acuh, dan nilai-nilainya pun tidak terlalu baik untuk pelajaran Bahasa Inggris. Pada saat ditegur oleh Ibu Dani, Fajar hanya menjawab, “Tidak tahu Bu”. Ibu Dani pun menjawab lirih, “Gimana kamu Fajar, kamu tidak kasihan sama Ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan kamu. Tidak kasihan
Modul 1.4 - Budaya Positif | 89 sama Ibu?” dan Fajar pun diam membisu. ● Posisi kontrol apa yang diambil oleh Ibu Dani dalam pendekatannya kepada Fajar? ● Membaca sikap Fajar, kira-kira kebutuhan apa yang diperlukan oleh Fajar? ● Bilamana Ibu Dani mengambil posisi Pemantau, apa yang akan dilakukan atau dikatakan olehnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang akan diajukan? Jelaskan. ● Apabila Anda adalah kepala sekolah di sekolah Fajar dan mengetahui hal ini, bagaimana tindak lanjut Anda? Kasus 4: Anto dan Dino sedang bermain bersama di lapangan basket, dan tiba-tiba terlibat dalam sebuah pertengkaran adu mulut. Dino pun menjadi emosi dan mengadakan kontak fisik, menarik kemeja Anto dengan kasar, sampai 3 kancingnya terlepas. Pada saat itu guru piket langsung melerai mereka, dan membawa mereka ke ruang kepala sekolah. Ibu Suti sebagai kepala sekolah berupaya menenangkan keduanya, terutama Dino. “Dino sepertinya kamu saat ini sedang marah sekali.” Mendengar itu, Dino pun mengalir bercerita tentang kekesalan hatinya. Ibu Suti pun melanjutkan bahwa membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi, dan bahwa mempertahankan diri adalah hal yang penting. Namun meminta Dino memikirkan cara lain yang mungkin lebih efektif, karena saat ini Dino berada di ruang kepala sekolah. Ibu Suti melanjutkan bertanya tentang keyakinan sekolah yang disepakati, serta apakah Dino bersedia memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan terhadap Anto? Dino pun akhirnya perlahan mengangguk. Kemudian Ibu Suti balik bertanya kepada Anto, hal apa yang bisa dilakukan Dino untuk memperbaiki masalah. Anto menjawab, “Saya perlu kancing saya diperbaiki bu. Ibu saya akan sangat marah kalau melihat kancing baju saya sampai copot 3 kancing begini.” Ibu Suti pun kembali bertanya ke Dino apakah yang akan dia lakukan untuk menggantikan 3 kancing Anto yang terlepas? Dino berpikir sejenak, namun menjawab, “Wah tidak tahu bu, saya lem kembali mungkin ya bu?” Ibu Suti berpikir sebentar dan menanggapi, “Kalau di lem akan mudah terlepas kembali Dino. Bagaimana kalau kamu menjahitkan saja, bersediakah kamu?” Dino tampak ragu-ragu dan menanggapi, “Menjahit? Mana saya tau bagaimana menjahit bu.” Ibu Suti meneruskan, “Apakah kamu bersedia belajar menjahit?” Dino berpikir sejenak, memandang kemeja Anto, dan menanggapi, “Yang mengajari saya siapa bu?” Dengan cepat Ibu Suti menjawab, “Pak Irfan, guru Tata Busana”. Dino kembali diam sejenak, memandang kemeja Anto yang tanpa kancing.
90 | Modul 1.4 - Budaya Positif Akhirnya Dino mengangguk tanda menyetujui dan sepanjang siang itu Dino belajar menjahit dan memperbaiki kemeja Anto. Terakhir kali terlihat kedua anak laki-laki tersebut, Dino dan Anto pada jam pulang sekolah, mereka sudah bercengkrama dan bersenda gurau kembali. ● Posisi kontrol apa yang telah dipraktikkan oleh Kepala Sekolah Ibu Suti? Hal-hal apa saja yang dilakukannya sehingga Anda berkesimpulan demikian? ● Dalam kasus tersebut, bagaimana Dino dikuatkan, bagaimana Anto dikuatkan oleh Ibu Suti? ● Kira-kira nilai-nilai kebajikan (keyakinan sekolah) apa yang dituju dalam kasus tersebut? Jelaskan. 2. Forum Diskusi Pada sesi dua di ruang kolaborasi ini, CGP akan berdiskusi secara virtual bersama fasilitator dengan ketentuan sebagai berikut: a. Setiap kelompok akan menyajikan hasil analisis studi kasus yang telah didiskusikan dalam kerja kelompok sebelumnya. b. Setiap kelompok penyaji akan mendapatkan satu kelompok hadirin yang bertugas memberikan tanggapan atau masukan konstruktif atas presentasi kelompok penyaji. Tentunya setelahnya kelompok lain dipersilakan memberikan tanggapan mereka juga. c. Perhatikan rubrik penilaian forum diskusi pada Rubrik Penilaian Ruang Kolaborasi.
Modul 1.4 - Budaya Positif | 91 Rubrik Penilaian Ruang Kolaborasi Indikator/ Tingkatan Kolaborasi yang Hebat! (4) Sasaran Tercapai (3) Sudah Berkembang dengan Baik (2) Perlu Pembahasan Lanjut (1) Kualitas hasil analisis studi kasus (Bobot: 50%) Analisis studi kasus tajam dan didasarkan pada teori disiplin positif, posisi kontrol guru, dan segitiga restitusi. Ada unsur refleksi dari hasil analisis yang menarik dan/atau mengandung unsur tak terduga. Analisis studi kasus cukup tajam dan terperinci berdasarkan teori disiplin positif, posisi kontrol guru, dan segitiga restitusi. Namun, tidak terlihat unsur refleksi dari para anggota kelompok. Analisis kasus sudah berdasarkan teori disiplin positif, posisi kontrol guru, dan segitiga restitusi. Namun, analisis kurang jelas dan tajam. . Analisis studi kasus tidak tepat, tidak berdasarkan teori disiplin positif, posisi kontrol guru, dan segitiga restitusi. Efektivitas penyampaian/ penyajian studi kasus (Bobot: 25%) Penyampaian kelompok sangat baik. Penggunaan bahasa sangat komunikatif, pemilihan kata dan proyeksi vokal setiap anggota tampak harmonis dan kompak. Setiap anggota kelompok tampak berkontribusi dan bertanggung jawab, terlihat dari presentasi materi yang menjadi bagiannya. Penyajian secara keseluruhan sangat menarik untuk diikuti dan penyampaiannya Penyampaian kelompok sudah baik. Menggunakan bahasa yang komunikatif, pemilihan katakata telah tepat dan tampak ada kerja sama dalam menyajikan materi presentasi. Penyajian secara keseluruhan mudah untuk diikuti. Penyampaian kelompok sudah bisa dilakukan, namun tampak belum utuh atau kurang persiapan. Belum tampak kekompakan anggota kelompok dan proyeksi vokal setiap anggota kelompok belum merata, ada yang dominan dan/atau kurang aktif. Penyampaian kelompok masih sangat kurang. Sepertinya kurang persiapan dan tidak terlihat bentuk kerja sama antara anggota kelompok. Hanya 1-2 orang yang dominan berbicara, dan yang lain tampak tidak menguasai materi atau kurang aktif.
92 | Modul 1.4 - Budaya Positif pun mudah dicerna. Masukan dan/atau Tanggapan (Bobot 15%) Kelompok sangat aktif dan apresiatif dalam memberikan tanggapan dan/masukan konstruktif kepada kelompok penyaji. Seluruh anggota kelompok tampak menyimak dan memberikan perhatian penuh pada saat kelompok penyaji memberikan presentasi. Kelompok aktif memberikan tanggapan konstruktif kepada kelompok penyaji. Sebagian besar anggota kelompok memberikan perhatian kepada kelompok penyaji. Kelompok beberapa kali memberikan tanggapan kepada kelompok penyaji. Sebagian dari anggota kelompok tampak memberikan perhatian kepada kelompok penyaji. Kelompok tampak sedikit sekali atau tidak sama sekali memberikan masukan konstruktif pada kelompok penyaji. Kelompok tampak tidak tertarik sama sekali pada kelompok penyaji. Pengaturan Waktu (Bobot: 10%) Sangat baik dalam pengaturan waktu. Penyampaian materi padat dengan waktu yang sangat efektif. Waktu yang diberikan antara 3- 5 menit dipergunakan dengan sangat baik. Baik dalam pengaturan waktu. Waktu penyajian 3-5 menit dipergunakan dengan baik. Keterampilan pengaturan waktu masih belum efektif. Waktu 3-5 belum terpenuhi; batasan waktu melebihi dari waktu yang disepakati. Keterampilan pengaturan waktu masih sangat kurang. Waktu yang diberikan tampak tidak dipergunakan dengan efektif. Tugas Fasilitator: 1. membagi kelompok CGP untuk tugas Ruang Kolaborasi 2. memastikan CGP mendiskusikan beberapa studi kasus yang diberikan 3. memimpin jalannya sesi pertemuan tatap maya ruang kolaborasi dengan CGP 4. memberikan umpan balik terhadap presentasi CGP saat sesi pertemuan tatap maya 5. menilai tugas Ruang Kolaborasi berdasarkan rubrik penilaian yang disediakan
Modul 1.4 - Budaya Positif | 93 Pembelajaran 5 -Demonstrasi Kontekstual Durasi: 4 JP Jenis Kegiatan: Penugasan mandiri Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat mempraktikan pemahaman mereka tentang penerapan segitiga restitusi dengan murid di sekolahnya. Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Setelah mempelajari konsep-konsep inti dalam modul ini dan melakukan refleksi terbimbing, sekarang saatnya Anda mendemonstrasikan pemahaman Anda secara kontekstual atau di ranah sekolah Anda. Pada tahap demonstrasi kontekstual ini, Anda akan melaksanakan praktik segitiga restitusi terhadap satu murid di sekolah Anda dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. Buatlah skenario lengkap untuk melaksanakan praktik segitiga restitusi terhadap dua (2) kasus mengenai murid yang melanggar peraturan di sekolah Anda. 2. Ajaklah satu murid Anda untuk melakukan praktik segitiga restitusi tersebut. 3. Lakukan praktik segitiga restitusi. Minta tanggapan murid Anda mengenai perasaan mereka ketika Anda melakukan praktik segitiga restitusi itu. 4. Rekamlah praktik segitiga restitusi sesuai dengan skenario yang telah dibuat beserta tanggapan dari murid Anda dalam bentuk video. 5. Unggah video praktik segitiga restitusi ke kanal YouTube Anda dan sematkan tautannya pada LMS. 6. Perhatikan rubrik penilaian untuk demonstrasi kontekstual yang telah disediakan.
94 | Modul 1.4 - Budaya Positif Rubrik Penilaian Demonstrasi Kontekstual Indikator Sangat bagus (skor 4) baik (skor 3) mulai berkembang (skor 2) perlu pembahasan lebih lanjut (skor 1) Isi skenario Skenario percakapan untuk segitiga restitusi lengkap. Pemilihan kalimat sudah tepat yaitu sesuai dengan konsep, runtut dan mudah dipahami. Skenario percakapan untuk segitiga restitusi lengkap. Pemilihan kalimat sudah tepat, yaitu sesuai dengan konsep, tetapi kurang runtut Skenario percakapan untuk segitiga restitusi lengkap, tetapi pemilihan kalimat belum sesuai dengan konsep. Skenario percakapan untuk segitiga restitusi tidak lengkap dan tidak sesuai dengan konsep. Penampilan Melakukan praktik segitiga restitusi secara lengkap, sesuai dengan skenario. Nada suara, ekspresi wajah, dan gestur sangat sesuai dengan segitiga restitusi Melakukan praktik segitiga restitusi secara lengkap, sesuai dengan skenario. Namun, nada suara, ekspresi wajah, dan gestur kurang mendukung untuk praktik segitiga restitusi Melakukan praktik sebagian besar segitiga restitusi dengan nada suara, ekspresi muka, dan gestur yang kurang mendukung Melakukan praktik segitiga restitusi dengan kalimat yang tidak tepat dengan nada suara, ekspresi muka, dan gestur yang tidak mendukung. Peran Fasilitator 1. Memastikan CGP mengerjakan tugas demonstrasi kontekstual mengenai video praktik segitiga restitusi. 2. Menilai dan memberikan umpan balik terhadap tugas yang dikerjakan CGP menggunakan rubrik yang disediakan.
Modul 1.4 - Budaya Positif | 95 Pembelajaran 6 - Elaborasi Pemahaman Durasi : 2 JP Jenis Kegiatan: Diskusi bersama Instruktur Tujuan Pembelajaran Khusus: Setelah berdiskusi bersama instruktur, CGP mendemonstrasikan pemahamannya secara lebih mendalam mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Setelah mempelajari konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif dan melaksanakan berbagai aktivitas untuk mendemonstrasikan pemahaman Anda, sekarang saatnya Anda berdiskusi dengan instruktur untuk mengelaborasi pemahaman Anda. Sebagai persiapan sesi elaborasi pemahaman, kirimkan pertanyaan-pertanyaan yang Anda rasa masih perlu didiskusikan dalam sesi elaborasi pemahaman bersama instruktur. Peran Instruktur: 1. Memimpin jalannya diskusi 2. Memastikan semua CGP memahami aturan dalam forum diskusi 3. Memastikan semua CGP memiliki kesempatan dalam memberikan pendapatnya 4. Membuat kesimpulan dari hasil diskusi dan mengomunikasikan hasil diskusi di akhir sesi.
96 | Modul 1.4 - Budaya Positif Pembelajaran 7 - Koneksi Antarmateri Durasi: 2 JP Jenis Kegiatan: ● Forum Diskusi Tertulis ● Penugasan Mandiri Tujuan Pembelajaran Khusus: 1. CGP memahami keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3. 2. CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Pada tahap ini Anda diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 dan membuat sebuah koneksi antar materi yang sudah Anda pelajari. Anda akan membuat sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya. Bacalah panduan berikut untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut. a. Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak. b. Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Modul 1.4 - Budaya Positif | 97 1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan? 2. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini? 3. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsepkonsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda? 4. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut? 5. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki? 6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 7. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya? 8. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
98 | Modul 1.4 - Budaya Positif Refleksi Anda akan dinilai dengan menggunakan rubrik berikut ini: Aspek Indikator Melebihi Ekspektas i Sangat Baik Baik Cukup Kurang 5 4 3 2 1 Pemikiran reflektif terkait pengalama n belajar Dalam refleksinya, CGP menuliskan poin-poin berikut: 1. pengalaman/materi pembelajaran yang baru saja diperoleh 2. emosi-emosi yang dirasakan terkait pengalaman belajar 3. apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar 4. apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar 5. implikasi terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi CGP mencantu mkan pengalam an atau materi pembelaj aran yang diperoleh nya dan 4 indikator lainnya. CGP mencantu mkan pengalama n atau materi pembelaja ran yang diperolehn ya dan 3 indikator lainnya. CGP mencantu mkan pengalama n atau materi pembelajar an yang diperolehny a dan 2 indikator lainnya. CGP mencant umkan pengala man atau materi pembelaj aran yang diperole hnya dan 1 indikator lainnya. CGP hanya mencantu mkan pengalam an atau materi pembelaj aran yang diperoleh nya. Analisis untuk implement asi dalam konteks CGP Dalam refleksinya, CGP menyampaikan analisis terkait topik dengan indikator sebagai berikut: 1. memunculkan pertanyaan kritis yang berhubungan dengan konsep materi dan menggalinya lebih jauh 2. mengolah materi yang dipelajari dengan pemikiran pribadi sehingga tergali wawasan (insight) baru 3. menganalisis tantangan yang sesuai dengan konteks asal CGP (baik tingkat sekolah maupun daerah) 4. memunculkan alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi 5. menggambarkan rencana implementasi (praktik) sesuai konteks tempat CGP mengajar (baik tingkat sekolah maupun daerah) Refleksi CGP menunjuk kan hasil analisisny a terhadap seluruh indikator yang disebut. Refleksi CGP menunjukk an hasil analisisnya terhadap empat indikator Refleksi CGP menunjukk an hasil analisisnya terhadap tiga indikator Refleksi CGP menunju kkan hasil analisisn ya terhadap dua indikator Refleksi CGP menunjuk kan hasil analisisny a terhadap salah satu indikator
Modul 1.4 - Budaya Positif | 99 Membuat keterhubun gan Refleksi yang CGP buat memunculkan koneksi dari pembelajarannya dengan poin-poin berikut: 1. pengalaman masa lalu 2. penerapan di masa mendatang 3. konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang telah dipelajari 4. informasi yang didapat dari orang atau sumber lain di luar bahan ajar PGP. CGP mengaitk an refleksiny a dengan empat indikator. CGP mengaitka n refleksinya dengan tiga indikator. CGP mengaitkan refleksinya dengan dua indikator. CGP mengaitk an refleksin ya dengan salah satu indikator . CGP tidak mengaitk an refleksiny a dengan satu indikator pun. Setelah membuat koneksi antar materi, Anda juga diminta untuk menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah dengan mengisi Tabel Rancangan Tindakan Aksi Nyata dan mengunggahnya ke LMS: Tabel 3. Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata Judul Modul : Nama Peserta : Latar belakang (Apa yang mendasari Anda membuat rancangan tindakan ini?) Tujuan (Apa dampak pada murid yang ingin dilihat dari rancangan tindakan ini?) Tolok Ukur (Bukti apa yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik?) Linimasa tindakan yang akan dilakukan Dukungan yang dibutuhkan (Apa saja bahan, alat, atau pihak yang Anda butuhkan untuk menjalankan tindakan? Bagaimana Anda akan mendapatkannya?
100 | Modul 1.4 - Budaya Positif Tagihan: Rancangan Tindakan Aksi Nyata Peran Fasilitator: 1. memastikan CGP mengerjakan tugas Koneksi Antar Materi yang berupa simpulan dan refleksi 2. memberikan umpan balik terhadap tugas Koneksi Antar Materi 3. memastikan CGP membuat rancangan tindakan aksi nyata 4. memberikan umpan balik terhadap rancangan tindakan aksi nyata yang telah dibuat oleh CGP
Modul 1.4 - Budaya Positif | 101 Pembelajaran 8 - Aksi Nyata Durasi: 4 JP Jenis Kegiatan: ● Kegiatan mandiri ● Membuat webinar atau group sharing mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif serta penerapannya. Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP dapat menyampaikan pembelajaran dari penerapan konsep inti dari modul budaya positif serta pemahaman mereka mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Anda telah sampai di penghujung modul 1.4. Sekarang saatnya Anda mengimplementasikan pemahaman Anda terkait budaya positif yang dapat membantu murid belajar dengan aman dan nyaman sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Tidak hanya itu, Anda juga akan mendapat kesempatan untuk membagikan pemahaman dan pengalaman kepada guru-guru di sekolah Anda. Secara rinci, berikut adalah langkah-langkah untuk Aksi Nyata di modul 1.4: 1. Anda mendapat waktu 4 minggu untuk menjalankan dua hal, yaitu: (a) mengimplementasikan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif di lingkungan sekolah atau kelas Anda, sesuai yang dibuat di tahap Koneksi Antarmateri, dan (b) membagikan pemahaman dan pengalaman Anda dalam penerapannya kepada rekan-rekan Anda atau lingkungan kerja Anda. 2. Sepanjang proses penerapan, dokumentasikan proses yang terjadi, terutama pada tahapan-tahapan yang Anda anggap penting. Dokumentasi yang berupa foto atau video ini dapat Anda tunjukkan saat sesi berbagi.
102 | Modul 1.4 - Budaya Positif 3. Anda dapat melakukan sesi berbagi dengan dua moda: a) moda luring, jika situasi memungkinkan, atau b) moda daring, melalui webinar atau berbagi dalam kelompok (group sharing). Dalam webinar ini, Anda dapat mengundang minimal sepuluh (10) orang peserta. 4. Dalam sesi tersebut, Anda akan membagikan dua hal: (a) pemahaman Anda terhadap konsep-konsep kunci dalam Modul Budaya Positif, yaitu tentang teori disiplin positif, nilai-nilai kebajikan universal, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), kebutuhan dasar, posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas dan segitiga restitusi, (b) pengalaman dan pembelajaran yang Anda dapat setelah menerapkan konsep-konsep kunci tersebut, baik di kelas dan/atau rumah Anda. 5. Rekamlah kegiatan ini dan unggahlah ke kanal YouTube Anda. 6. Sematkan tautan YouTube tersebut di LMS agar Anda dapat saling bertukar umpan balik dengan rekan CGP lain. 7. Perhatikan rubrik penilaian Aksi Nyata berikut: Rubrik Penilaian Aksi Nyata Indikator Sangat bagus (skor 4) Bagus (skor 3) Mulai berkembang (skor 2) Perlu peningkatan (skor 1) Pemahaman Konsep CGP terlihat sangat memahami seluruh konsep terkait budaya positif. Setiap penjelasan disertai contoh yang kontekstual dengan CGP terlihat menguasai seluruh konsep mengenai budaya positif. Namun, penjelasan tersebut tidak disertai dengan contoh-contoh CGP menjelaskan sebagian besar konsep dengan tepat. Namun, terdapat 1-2 poin yang tidak sesuai. Penjelasan juga tidak disertai contoh yang CGP tidak mampu menjelaskan konsep terkait budaya positif dengan tepat. Tidak ada contoh yang diberikan untuk memperjelas
Modul 1.4 - Budaya Positif | 103 daerahnya. yang kontekstual. kontekstual. konsep. Pengalaman Penerapan CGP membagikan implementasi yang sudah dilakukan dengan detail. Penjelasan bagian ini dilengkapi dengan respon murid, refleksi CGP dan rencana perbaikan untuk implementasi ke depan. CGP membagikan implementasi yang sudah dilakukan dengan cukup detail. Namun, penjelasan tidak dilengkapi dengan salah satu dari tiga poin berikut: respon murid, refleksi CGP dan rencana perbaikan untuk implementasi ke depan. CGP membagikan implementasi yang sudah dilakukan, namun tidak detail. Penjelasan hanya dilengkapi dengan satu dari tiga poin berikut: respon murid, refleksi CGP dan rencana perbaikan untuk implementasi ke depan. CGP tidak membagikan implementasi yang sudah dilakukan di kelas. Tidak ada penjelasan mengenai respon murid, refleksi CGP dan rencana perbaikan untuk implementasi ke depan.
104 | Modul 1.4 - Budaya Positif Penyampaian CGP terlihat sangat siap dan percaya diri dalam memaparkan. Sesi berbagi berjalan tidak terburu-buru dalam durasi antara 60-120 menit. Presentasi dilengkapi dengan 3-5 dokumentasi dari penerapan CGP terlihat siap dan percaya diri dalam memaparkan. Sesi berbagi berjalan kurang dari 60 menit atau lebih dari 120 menit. Presentasi dilengkapi dengan 1-3 dokumentasi dari penerapan CGP terlihat kurang percaya diri dalam pemaparan. Sesi berbagi berjalan kurang dari 60 menit atau lebih dari 120 menit. Presentasi tidak dilengkapi dengan dokumentasi dari penerapan CGP terlihat tidak siap dalam pemaparan. Sesi berbagi berjalan kurang dari 30 menit atau lebih dari 180 menit. Presentasi tidak dilengkapi dengan dokumentasi dari penerapan. Interaksi dengan Peserta CGP mampu menciptakan suasana yang nyaman sepanjang sesi. CGP mampu mendorong peserta untuk berpartisipasi aktif. CGP mampu menciptakan suasana yang nyaman di sebagian besar sesi. Namun, CGP mampu mendorong peserta untuk berpartisipasi aktif. CGP kurang mampu menciptakan suasana yang nyaman sepanjang sesi. CGP juga kewalahan untuk mendorong partisipasi dari peserta. CGP membuat suasana yang tidak nyaman sepanjang sesi. Tidak tampak usaha dari CGP untuk mendorong partisipasi dari peserta. Peran Fasilitator: 1. Memastikan CGP mengerjakan Aksi Nyata sesuai dengan panduan 2. Memberikan umpan balik terhadap tugas Aksi Nyata 3. Menilai Aksi Nyata CGP dengan menggunakan rubrik penilaian
Modul 1.4 - Budaya Positif | 105 Surat Penutup Teruntuk Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, Selamat! Anda telah berhasil mengikuti rangkaian pembelajaran terkait Budaya Positif di sekolah. Terima kasih sudah dengan antusias mengikuti perjalanan berproses menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik. Membentuk budaya sekolah dengan berfokus pada kebutuhan murid dan pertumbuhan karakter positif bukanlah hal yang mudah, tetapi Anda berhasil melaluinya dan merencanakan yang terbaik untuk murid dan sekolah. Buah dari kerja keras ini dapat terlihat ketika kita menyadari bahwa murid kita telah bertumbuh menjadi seorang dewasa yang sukses di pekerjaan, kehidupan, dan relasinya dengan orang lain dengan karakter yang memiliki integritas tinggi, bertanggung jawab, dapat diandalkan, berbudi pekerti luhur, dan bermanfaat bagi lingkungan dan negara. Materi terkait budaya positif adalah akhir dari paket modul satu, akan tetapi perjalanan Anda menjadi Guru Penggerak baru dimulai. Setelah memahami dan mendalami pondasi yang diperlukan dalam menyusun budaya di sekolah, Anda akan bertemu dengan paket modul lain yang dapat diterapkan secara teknis dalam proses belajar mengajar. Anda akan belajar dan mencoba banyak hal baru yang menarik dan menjadi bekal dalam mengembangkan pendidikan Indonesia yang semakin baik lagi. Selamat berproses! Salam semangat dan salam Guru Penggerak!.
106 | Modul 1.4 - Budaya Positif Daftar Pustaka Center for Curriculum Redesign. (2015). Character Education for the 21st Century: What Should Students Learn?. Boston, Massachusetts, Centre for Justice and Crime Prevention and the Department of Basic Education. (2012). Positive Discipline and Classroom Management-Course Reader. Cape Town. Covey, S.R. (1991). Principle-Centered Leadership. New York: Simon and Schuster. Deal, T. E. & Peterson, K. D. (1999). Shaping school culture: The heart of leadership. San Francisco, CA: Jossey-Bass Dewantara, K.H. (2013). Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima. Durrant, J. (2010). Positive Discipline in Everyday Teaching: A guide for educators. Sweden: Save the Children Fullan, M. (2007). The new meaning of educational change. New York: Routledge. Gossen, D. (1997). It’s Okay To Make Mistakes. Diakses dari https://www.esd.ca/Programs/Restitution/Documents/It's%20Okay%20to%20 Make%20Mistakes%20Article.pdf Gossen, D.C. (1998). Restitution-Restructuring School Discipline, Revised Edition. Chapel Hill, North Carolina: New Vlew Publications. Gossen, D. (2004). It's All About We: Rethinking Discipline Using Restitution. Diakses dari https://www.summiteducation.ca/five-positions-of-control/ Graff, C. E. (2012). The effectiveness of Character Education Programs in Middle and High Schools. Counselor Education Master’s Theses, 127. Kohn, A. (1993) Punished by Rewards, The Trouble With Gold Stars, Incentive Plans, A’s, Praise. Boston-New York: Houghton Mifflin Company,. Lickona, T., Schapsa, E., Lewis, C. (2002). Eleven Principles of Effective Character Education. Character Education Partnership (www.character.org)
Modul 1.4 - Budaya Positif | 107 Nelsen, J. (2021b). Focus On Solutions. Diakses dari https://www.positivediscipline.com/articles/focus-solutions Nelsen, J. (2021a). Mistakes Are Wonderful Opportunities To Learn. Diakses dari https://www.positivediscipline.com/articles/mistakes-are-wonderfulopportunities-learn Nelsen, J, Lott, L., and Glennn, H.S. (2000). Positive discipline in the classroom: Developing Mutual Respect, Cooperation, and Responsibility in Your Classroom. New York: Three Rivers Press. Nofijantie, L. (2012). Peran Lembaga Pendidikan Formal Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Siswa. Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS XII). 2947 - 2970 Positive Discipline. (2020). Positive Discipline: Creating respectful relationships in homes and schools. www.positivediscipline.com/what-is-positive-discipline.html. RAPCAN. (2008). An Educator’s Guide to Positive Discipline. Diakses dari www.rapcan.org.za/File_uploads/Resources/teaching%20positive%20disciplin e%20screen.pdf Stolp, S., and Stuart C. S. (1994). School Culture and Climate: The Role of the Leader. OSSC Bulletin. Eugene: Oregon School Study Council, January 1994. Yayasan Pendidikan Luhur - Foundation for Excellence in Education. (2006). Training for Trainers (TOT) Materi Pembelajaran Kebajikan dan Manajemen Kelas: Dihukum oleh Penghargaan. Jakarta. Yayasan Pendidikan Luhur - Foundation for Excellence in Education. (2007). Training for Trainers (TOT) Pembelajaran yang hakiki; pembelajaran kebajikan: Restitusi. Jakarta.
108 | Modul 1.4 - Budaya Positif