PENGEMBANGAN
JUMPUTAN
Inovif, Cantik, dan Uk
KKN-PPM UGM PRAMBANAN 2021
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas Rahmat dan Karunia-Nya sehingga booklet
Pengambangan Jumputan Inovatif, Cantik, dan Unik dapat
terselesaikan.
Booklet Pengembangan Jumputan Inovatif, Cantik, dan
Unik ini berisi tentang teknik pembuatan jumputan inovasi
disertai motif yang dihasilkan, cara menghasilkan warna,
dan contoh Produk Inovasi.
Penulis harap Booklet ini dapat mudah untuk dipahami dan
penulis harap dapat meningkatkan pengetahuan pelaku
usaha UMKM batik jumputan dapat menambah referensi
tentang pengembangan inovasi batik.
Semoga booklet ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.
Penulis
1
daftar isi
Kata Pengantar ................................................................................ 1
Daftar Isi ............................................................................................ 2
Pendahuluan
Batik ............................................................................................ 3
Motif dan Filosofi Batik ............................................................. 5
Asal Usul si Cantik Jumputan .................................................7
Teknik Jumputan
Alat dan Bahan ......................................................................... 8
Mengenal Jenis Kain ................................................................ 9
Teknik Jumputan ...................................................................... 12
Urutan Proses Pembuatan Kain Tritik Jumputan ............... 16
Resep Pewarnaan Kain
Resep Pewarnaan Kain Alami ................................................ 17
Resep Pewarnaan Kain Sintetik ............................................. 18
Referensi Inovasi Hasil Batik Jumputan ....................................... 20
Tutorial Membuat Kipas Sederhana ............................................. 23
Referensi Pengemasan Produk ...................................................... 24
Daftar Pustaka ................................................................................. 25
2
pendahuluan
Bik
Istilah batik sering dikaitkan dengan suatu metode proses dimulai dari
penggambaran motif hingga proses pelorodan atau proses pelepasan lilin dari kain batik.
Cara penggambaran motif pada kain dapat menjadi salah satu ciri khas kain batik
dengan melalui proses pemalaman yaitu dengan menggoreskan cairan lilin dalam
wadah yang biasa disebut canting dan cap. Batik sebagai bagian dari budaya Indonesia
yang diwariskan oleh nenek moyang Bangsa Indonesia sejak zaman dahulu merupakan
suatu kerajinan dengan nilai seni yang tinggi.
Asal-usul lahirnya batik di Indonesia berkaitan dengan berkembangnya kerajaan
Majapahit, Solo, dan Yogyakarta. Pada mulanya budaya membatik merupakan suatu
adat istiadat yang turun menurun, hal tersebut menyebabkan suatu motif batik biasanya
dapat dikenali dari asal daerah ataupun asal keluarganya. Beberapa motif batik dapat
menandakan status/derajat seseorang, bahkan hingga sekarang beberapa motif batik
tradisional hanya dapat dipakai oleh keluarga kerajaan seperti keluarga keraton
Yogyakarta dan Surakarta. Terdapat banyak sekali jenis dan corak dari suatu batik
tradisional, akan tetapi motif dan ragamnya sesuai dengan filosofi dan budaya dari
masing-masing daerah.
Di masa lampau perempuan-perempuan suku Jawa memanfaatkan keterampilan
mereka dengan cara membatik sebagai suatu mata pencaharian sehingga menjadikan
pekerjaan membatik sebagai suatu pekerjaan eksklusif perempuan pada masa itu. Sejak
industrialisasi dan globalisasi, yang mana teknik otomatisasi diperkenalkan, munculah
batik jenis baru yang biasa disebut dengan batik cap atau batik cetak selagi batik
tradisional yang dibuat dengan tulisan tangan menggunakan alat yang disebut canting
dan malam (lilin) disebut sebagai batik tulis.
3
pendahuluan
Berkembangnya kesenian membatik ini diikuti oleh masyarakat terdekat dan
meluas sehingga membatik menjadi pekerjaan para wanita dalam rumah tangganya.
Selanjutnya, pakaian batik yang awalnya hanya digunakan oleh keluarga kerajaan,
kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh wanita maupun pria. Sedangkan
motif dan warna kain batik dipengaruhi oleh berbagai faktor asing.
Berminat pada batik, kaum Tionghoa sempat mempopulerkan warna-warna yang
cerah seperti merah serta motif burung api (phoenix) sedangkan Bangsa Eropa
mengenalkan motif berbunga seperti bunga tulip dan juga benda-benda yang biasa
digunakan mereka seperti kereta kuda atau gedung serta warna-warna yang mereka
suka seperti biru. Pada mulanya pakaian batik sering digunakan pada acara resmi
sebagai pengganti jas, namun dalam perkembangannya pada era orde baru pakaian
batik digunakan sebagai pakaian resmi pegawai negeri (batik Korpri) dan siswa sekolah
yang menggunakan seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan batik selanjutnya
mulai beralih menjadi pakaian sehari-hari atau tidak formal terutama digunakan oleh
kaum wanita hingga akhirnya setiap pegawai diwajibkan menggunakan batik pada hari
Jumat.
4
pendahuluan
Motif dan Fili Bik
Tidak hanya jenis motifnya yang sangat beragam, di setiap motif batik juga
memiliki filosofi serta maknanya masing-masing yang tidak sama satu dengan lainnya.
Mayoritas setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki motif batik tersendiri, hal ini
menyebabkan motif tertentu akan diberi nama berdasarkan daerah asalnya. Sebagai
contohnya yaitu batik motif Cirebon, Banyumas, Pekalongan, dan lain-lain. Motif yang
bermacam-macam ini juga akan dipengaruhi oleh ciri khas dan makna yang ingin
disampaikan dari setiap daerah. Jumlah motif kain batik yang tercatat hingga sekarang
adalah 30 jenis motif. Karena setiap motif memiliki makna dan ciri khas tersendiri, dapat
dikatakan bahwa dari selembar kain batik kita bisa belajar banyak tentang seputar
kehidupan dan sejarah masa lalu.
Motif pada kain batik dilahirkan berdasarkan keyakinan masyarakat dimana kain
itu berasal. Konon ada beberapa motif batik yang hanya diperbolehkan untuk
penggunaan oleh keluarga keraton saja, hal tersebut disebabkan oleh adanya filosofi
serta makna tersendiri yang membuat kain ini tak sekedar berfungsi sebagai penutup
tubuh, tetapi memiliki arti yang mendalam bagi manusia.
Dari sekian banyak motif batik nusantara, beberapa diantaranya merupakan motif
yang popular dan dapat ditemukan dengan mudah. Sebagai contoh yaitu motif Sekar
Jagad. Motif yang berasal dari Yogyakarta ini sangat khas Indonesia dikarenakan
adanya bentuk pulau-pulau yang menggambarkan peta dunia dalam motifnya. Kedua,
ada motif Sidomukti Magetan, motif ini bergambar bambu yang berfilosofi akan adanya
ketenangan lahir dan batin. Biasanya batik ini digunakan pada upacara adat ataupun
untuk menghadiri acara resmi. Ada pula motif batik sido asih, motif ini bermakna agar
manusia bisa saling menyayangi dan mengasihi antar sesama manusia dan makhluk
hidup. Motif tersebut biasa digunakan saat acara pernikahan oleh pengantin wanita.
Terdapat motif batik yang kegunaannya sangat unik yaitu motif batik tambal.
5
pendahuluan
Berkaitan dengan namanya, motif batik ini konon dipercaya dapat
menyembuhkan orang sakit dengan cara menyelimutinya pada orang yang sakit. Ada
motif yang disebut batik cuwiri yang memiliki arti 'kecil' maka dari itu motifnya kecil-kecil.
Motif ini biasa digunakan oleh orang yang sedang hamil dalam acara mitoni.
Terdapat pula motif batik keraton, yang mana merupakan asal usul dari batik-
batik yang ada di Indonesia. Para putri keraton dan juga para ahli pembatik dalam
keraton lah yang telah menciptakan motif ini, zaman dahulu batik keraton hanya boleh
dipakai oleh Sultan dan keluarganya saja. Tetapi saat ini batik sudah bebas digunakan
oleh siapapun, batik keraton ini memiliki filosofi dan makna yang hidup.
6
pendahuluan
As Usul Cantik Jumpan
Kain tritik jumputan merupakan produk tekstil kerajinan yang diciptakan dengan
etnik tie and dye. Di Indonesia, istilah tersebut jarang digunakan karena sebagian
masyarakat lebih sering menyebutnya dengan nama kain jumputan. Proses pengerjaan
yang murni buatan tangan dan hasil motif yang unik, kain jumputan yang terkesan
eksklusif menjadi sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang. Teknik tersebut
diduga berasal dari seni bandhu yang usianya sama dengan usia negeri India. Sedangkan
arkeolog menyebutkan sudah ada sejak 5000 tahun lalu di Mesopotamia ,India ,Peru
,Mexico ,Yunani dan juga Roma. bukti diperkuat dengan adanya bukti mumi dari tahun
1000 SM di Mesir dibalut dengan kain unik yang menyerupai jumputan.
Bukti lain adalah Prasasti Sima Abad ke-10. Prasasti menunjukan bahwa di
Indonesia telah berkembang teknologi pembuatan kain hias dengan pola seperti
jumputan.Tiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda. Masyarakat Palembang
menyebutkan itu dengan kain pelangi. Masyarakat Banjarmasin menyebutnya
sasirangan, sedangkan masyarakat Jawa menyebutnya tritik jumputan.
Kepopuleran teknik ini menjadi semakin meningkat ketika kaum hippies Amerika
sering menggunakan kain dengan motif yang sama pada tahun 70an. Motif yang
menggambarkan kehidupan dan kebebasan yang terinspirasi dari sejarah perang nuklir
tahun 50an
Kian ini awalnya identik dengan unsur tradisional seperti pewarna alami yang
diperoleh dari alam. Namun seiring waktu berjalan, teknik tie dye mulai dimodifikasi
menjadi sebuah teknik modern yang diaplikasikan pada berbagai produk fashion seperti
kaos,rompi, jaket, legging dan aksesoris. Meskipun teknik celup ikat dapat diterapkan
pada berbagai macam dan jenis kain, kain berbahan sutra atau katun tetap menjadi
pilihan utama untuk mendapatkan hasil yang maksimal (Fitinline, 2015).
7
TEKNIK JUMPUTAN
Al & Bahan Membu Jumpan
ALAT BAHAN
- Kain jenis mori prima, blaco, atau - Meja desain
primissima - Timbangan neraca
- Gelas ukur
- Zat warna alam (tingi, Jolawe, - Penggaris
togeran, jambal, soga) - Pensil 2b
- Spidol kecil hitam non permanen
- Bahan pembantu pewarnaan alam - Penghapus
(tawas, kapur tohor/kapur aktif, - Gunting
tunjung, TRO, teepol) - Jarum
- Jarum pentul
- Zat warna sintetis (naptol, indigosol) - Kompor
- Bahan pembantu pewarnaan - Panci
- Literan
sintetis (TRO, natrium nitrit, asam - Ember
klorida/HCL) - Baskom
- Kertas pola/irsat - Bak celup
- Kertas duplek - Jemuran
- Benang - Penjepit jemuran
- Tali rafia - Sarung tangan lateks
- Manik-manik - Celemek
- Bahan bakar gas - Masker
8
TEKNIK JUMPUTAN
Mg J Ka
Kain Katun
- Mori primisima
Kain tenun dari benang kapas dengan anyaman polos dan telah diputihkan,
merupakan golongan mori yang paling halus.
- Mori prima
Kain tenun dengan anyaman polos dan telah diputihkan, termasuk golongan
mori kualitas halus setelah mori primisima.
- Mori biru
Kain tenun dari benang kapas dengan anyaman polos yang telah diputihkan.
Merupakan golongan mori yang mutunya paling rendah.
- Kain blaco
Kain yang belum disempurnakan, merupakan golongan mori yang paling
rendah mutunya dan belum disempurnakan dan diputihkan.
- Mori voilissima
Kain tenun dari benang kapas dengan anyaman polos yang telah dimerser
dan diproses pemengkeretan awal. Bahannya tipis, mudah menyerap
keringat sehingga nyaman untuk dikenakan.
- Kain Bercolin
Kain tenun dari benang kapas dengan anyaman polos yang telah di merser
dan diproses pemengkeretan awal serta telah diputihkan. Termasuk jenis
bahan baku dari serat kapas dengan kualitas halus.
9
TEKNIK JUMPUTAN
Kain sutra
- Kain sutra lokal Sulawesi Selatan
Komposisi serat 100% sutra. Kain tipis, ada yang polos dan ada yang bermotif.
Kekuatan tarik kain lebih rendah daripada sutra impor. Kain sebelum diwarnai
harus lebih dulu di proses degumming
- Kain sutra lokal Garut
Kain tebal ada yang polos ada yang bermotif. Kekuatan tarik kain lebih tinggi
daripada kain sutra Sulawesi Selatan.
- Kain sutra impor crinkle
Kenampakan kain bergelombang konstruksi kain tipis, dan mengkeret.
- Kain sutra impor sifon
Kenampakan kain lebih doff, konstruksi kain lebih transparan, tipis, licin.
Perubahan kain setelah pencucian lebih baik dari pada crinkle
- Kain sutra organdi
Kenampakan kain transparan dan sangat kaku. Baik digunakan untuk
selendang, dan sedikit mengkeret
- Kain sutra crepe
Kenampakan kain kusut, transparan. Baik digunakan untuk bahan selendang,
mengkerutnya tinggi.
10
TEKNIK JUMPUTAN
Kain SINTETIS
- Kain Polyester
Kain sintetis yang mirip dengan kain sifon sutra atau lebih tebal lagi. Kain
sintetis ini dapat diwarnai dengan zat pewarna untuk katun dan sutra kecuali
apabila polyester tersebut dicampur dengan katun.
- Kain Nilon
Kain ini tidak dapat dicelup dengan zat warna untuk katun dan sutra. Sifat
bahan yang kurang padat, baik dari konstruksi anyaman maupun dari twist
benang yang rendah akan mudah menyerap zat warna, sehingga motif dan
desain yang dihasilkan kurang jelas dan samar.
11
Tekk JumpanTEKNIKJUMPUTAN
jahit ikat LIPAT
jelujur bunga melati
Kain dibuka lebar, Dengan kain dibuka
ditritik (jahit jelujur) lebar dikerjakan
menurut motif tertentu,
kemudian ditarik dan menggunakan teknik
benang dimatikan. jumputan pada tempat
tertentu dan langsung
diikat.
Kain dilipat dua,
dijelujur sesuai gambar
Kemudian ditarik dan
dimatikan.
12
TEKNIK JUMPUTAN
LIPAT LIPAT LIPAT
MOTIF TIMUN cakra tiga segiempat (1)
Kain dilipat dua, dilpat Kain dilipat dua, Kain dilipat sesuai
kipas sesuai panjang kemudian dilipat gambar
belimbing tiga.
yang dikehendaki,
kemudian diikat
Kain dilipat seperti Kain diplintir searah
gambar, kemudian jarum jam, diikat, dan
dilipat kipas ke arah
bawah dan diikat dimatikan
bagian tepi.
13
TEKNIK JUMPUTAN
LIPAT LIPAT LIPAT
segiempat (2) KAWUNG EMPAT KINCIR ANGIN (1)
Kain lipat dua, Kain dilipat dua Kain dilipat dua,
kemudian dilipat lagu kemudian dilipat kemudian dilipat tiga
belimbing empat menyudut sesuai arah
sesuai arah panah
panah.
Kain dipelintir sesuai Kain dilipat seperti Kedua sisi ditusuk balit
arah jarum jam gambar, kemudian dengan jarak tusukan
(plintiran dilipat kipas ke arah 0,5 cm. Benang ditarik
bawah dan diikat
dipertahankan diatas), dimatikan. Bawah
diikat dan kemudian bagian tepi. ujung sudut diikat
dimatikan.
14
TEKNIK JUMPUTAN
LIPAT bintang LIPAT
kincir angin (2) delapan bunga kertas
Kain dilipat dua, Kain dilipat dua, Kain dilipat dua,
kemudian dilipat kemudian dilipat empat kemudian dilipat
seperti gambar.
empat. seperti gambar.
Kedua sisi ditusuk balut Ujung dilipat seperti Kain dilipat seperti
dengan jarak tusukan gambar kemudian gambar, dijelujur motif
0,5 cm. Benang ditarik dijelujur motif V dan mahkota bunga, dijahit
ditarik da dimatikan.
dimatikan. Bawah dimatikan
ujung sudut diikat. Bagian sudut diikat.
15
TEKNIK JUMPUTAN
Uran Pr Pembuan Ka
Trik Jumpan
1. Mendesain motif tritik jumputan
2. Memindahkan desain ke kain atau memola
3. Menjahit tritik
4. Mengikat jumputan
5. Pewarnaan pertama
6. Mengikat atau membuka sebagian tritik jumputan
7. Pewarnaan kedua
8. Membuka ikatan dan jahitan
9. Mencuci bersih dan diangin-anginkan ditempat yang
teduh
16
resep pewarnaan kain
Rep Parnaan Jumpan Ala
RESEP WARNA 1
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
Indigo 5 kali celup menghasilkan - Indigosol Biru 04B: 8g/3Liter
warna biru indigo - Indigosol Abu-abu IBL: 4g/3Liter
- Nitrit: 24g, dicelup 2 kali
menghasilkan
warna biru muda
- Jenis bahan : mori primissima
RESEP WARNA 2
Resep Celupan 1
- Tingi 5 kali celup, fiksasi: tunjung
- Jenis bahan : mori primissima
Keterangan: setelah pencelupan,
ikatan dibuka
RESEP WARNA 3
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Tingi 5 kali celupan - Jambal:Tingi:Tengeran (4:2:1)
- Fiksasi: tawas, menghasilkan dicelup 5 kali
warna coklat tua - Fiksasi: tunjung, menghasilkan
warna coklat tua
- Setelah warna celupan 1, motif
bulat diikat, dilanjutkan ke
warna celupan 2
- Jenis bahan : mori primissima
17
resep pewarnaan kain
RESEP WARNA 4
Resep Celupan 1
- Jolawe di celup 5 kali
- Fiksasi: tunjung, menghasilkan
warna abu-abu kecoklatan
- Jenis bahan : mori primissima
Keterangan: setelah pencelupan, jahitan dibuka
RESEP WARNA 5
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Tegeran 5 kali celup - Tegeran:Secang:Tingi (4:2:1)
- Fiksasi: tawas, menghasilkan dicelup 5 kali
warna kuning
- Fiksasi: tawas-tunjung (6:1),
Keterangan: setelah warna celupan 1, sebagian motif diikat menghasilkan warna kuning
lagi, dilanjutkan ke warna celupan 2 kehijauan
- Jenis bahan : Sutra
18
resep pewarnaan kain
Rep Parnaan Jumpan St
RESEP WARNA 1
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Naptol AS-B0 : 5 g - Indigosol Kuning IGK : 8 g
- Naptol AS : 3 g - Indigosol Green IB : 4 g
- Naptol AS-LB : 2 g - Nitrit : 24 g
- Garam merah B : 20 g Dilarutkan dalam 3 liter air.
- Garam merah R : 7 g Dicelup 2 kali, menghasilkan
- Garam orange GC : 3 g warna hijau pupus/muda
Dilarutkan dalam 3 liter air - Jenis bahan : mori primissima
Dicelup 2 kali, menghasilkan - Motif : bunga lili, segi tiga,
warna merah marun
kawung tiga, tritik
Keterangan: setelah celupan 1, motif kepala kelinci dibuka,
motif bulat diikat lagi bagian bawahnya. Selanjutnya masuk
celupan 2.
RESEP WARNA 2
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Indigosol pink IR: 18 g - Indigosol biru 04B : 18 g
- Nitrit : 36 g - Nitrit : 36 g
Dilarutkan dalam 3 liter air Dilarutkan dalam 3 liter air
Dicelup 2 kali, menghasilkan Dicelup 2 kali, menghasilkan
warna pink warna ungu
- Jenis bahan : mori primissima
Keterangan: setelah celupan 1, motif kepala kelinci dibuka, - Motif : sate, bintang delapan,
motif bulat diikat lagi bagian bawahnya. Selanjutnya masuk bulat
celupan 2.
19
resep pewarnaan kain
RESEP WARNA 3
Resep Celupan 1
- Indigosol violet: 12 g
- Biru 04B: 2 g
- Pink IR: 3 g
- Nitrit 34 g
Dilarutkan dalam 3 liter air
Dielup 2 kali, menghasilkan ungu
tua
RESEP WARNA 4
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Indigosol Blue 04B : 15 g - Indigosol Blue 04B: 10 g
- Nitrit : 30 g - Indigosol Green IB: 8 g
Dilarutkan dalam 3 liter air, - Nitrit: 36 g
menghasilkan warna biru Dilarutkan dalam 3 liter air,
menghasilkan warna biru
Keterangan: setelah celupan 1, motif bulat diikat
RESEP WARNA 5
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Naptol AS-B0 : 9 g - Indigosol Blue 04B : 3 g
- Naptol AS : 3 g - Indigosol Green IB : 3 g
- Kostik : 4,5 g - Indigosol Yellow IGK : 12 g
Dilarutkan dalam 3 liter - Nitrit : 36 g
- Garam Violet B : 24 g Dicelup 3 kali menghasilkan warna
- Garam Biru BB : 3 g hijau muda
Dicelup dua kali, menghasilkan - Jenis bahan : mori primissima
warna violet tua - Motif : kawung empat, daun
Keterangan : kain dilipat-lipat, dijepit, kemudian dicelup dua talas, dan bintang
kali dengan resep celupan 1. Setelah jepitan dibuka,
kemudian dijumput, dan dicelup tiga kali dengan resep
celupan 2
20
resep pewarnaan kain
RESEP WARNA 6
Resep Celupan 1 Resep Celupan 2
- Naptol AS-B0 : 3 g - Indigosol Kuning IGK : 9 g
- Naptol AS : 6 g - Indigosol Green IB : 3 g
- Kostik : 4,5 g - Nitrit : 24 g
Dilarutkan dalam 3 liter air Dilarutkan dalam 3 liter air.
- Garam merah B : 20 g Dicelup 2 kali, menghasilkan
- Garam merah R : 7 g warna hijau pupus/muda
- Garam orange GC : 3 g - Jenis bahan : mori primissima
Dilarutkan dalam 3 liter air. - Motif : kepala kelinci, sate,
Dicelup 2 kali, menghasilkan warna
merah marun melati, tritik, bulat
Keterangan: setelah celupan 1, motif bulat diikat.
Kemudian, dicelup ke resep 2
21
Referensi Inovasi Hasil Batik Jumputan
A. Busana
Dalam pembuatan batik jumputan produk apa saja yang dihasilkan? Menjawab dari
pertanyaan ini tentu sangatlah mudah dimata semua yang berhubungan dengan
busana tertentu bisa dibuat dengan batik jumputan seperti blouse, kemeja, gamis,
kulot, rok dan yang lain.
B. Aksesoris
Selain blouse, kemeja, gamis, kulot, dan rok. Batik jumputan dapat kita buat sebagai
aksesoris. Dimana aksesoris merupakan benda pendukung busana. Contoh : Aksesoris
yang dapat dibuat jumputan seperti kalung dan syal.
C. Lain Lain
22
Tutorial Membuat Kipas Sederhana
1. Membuat pola setengah lingkaran pada kain
2. Gunting pola
3. Beri lem kayu pada bambu dan pasang kain yang telah dipola dan rapikan
4. Jemur kipas yang sudah jadi di bawah terik matahari
23
REFERENSI PENGEMASAN PRODUK
Langkah awal dalam proses pengemasan adalah mengidentifikasi produk yang
akan dikemas dan jenis kemasan yang akan dipergunakan. Hal ini dimaksudkan agar
kemasan dapat disesuaikan dengan produk, sehingga kemasan tidak merusak produk.
Identifikasi produk dilakukan berdasarkan: ukuran, model, warna, jenis bahan, kualitas
produk, harga jual, teknik pendistribusian, dan sebagainya.
Sedangkan identifikasi kemasan dilakukan untuk menyesuaikan ukuran lipatan
produk dengan ukuran kemasan dan bahan kemasan. Produk sesuai dengan jenisnya
dikemas dengan cara dilipat, atau digantung dan kemudian dimasukkan dalam
kemasan. Gantungan dan lipatan produk disesuaikan dengan ukurannya dan ukuran
kemasan yang akan digunakan sebagai pembungkusnya. Oleh karena itu dalam proses
melipat dibuat pola atau cetakan yang sesuai dengan ukuran kemasan agar produk
dapat ditata dengan rapi dan sesuai kemasannya. Kemasan produk busana baik bahan
maupun ukurannya disesuaikan dengan jenis bahan, model, serta menunjukkan
spesifikasi atau kekhasan produsennya. Proses pengemasan dimulai pada saat
penyetrikaan atau proses pressing. Pada proses ini produk yang akan dikemas dengan
cara digantung, disetrika secara menyeluruh dengan rata, licin, dan tidak membuat
lipatan karena produk setelah diseterika langsung digantung. Produk yang dikemas
dengan cara dilipat dilakukan pelipatan sesuai dengan ukuran kemasan.
Untuk mendapatkan hasil lipatan yang sama atau sesuai dengan ukuran dan jenis
kemasan, digunakan bahan penunjang yang terbuat dari karton atau mika, sehingga
hasil pengemasan atau lipatan produk rapih, seperti halnya dalam proses melipat
menggunakan cetakan yang terbuat dari karton
24
daftar pustaka
Balai Besar Kerajinan dan Batik. 2020. Teknologi
Pewarnaann dengan Zat Warna Sintetis Untuk Batik.
Yogyakarta: BBKB
25
KKN-PPM UGM PRAMBANAN 2021