TUNANETRA, TERUTAMA YG KATEGORI BUTA MEMERLUKAN LATIHAN OM, MANGAPA? • KARENA PENGLIHATANNYA SUDAH TIDAK BISA DIFUNGSIKAN. CATATAN= PENGLIHATAN MEMEGANG 80% DARI KEMAMPUAN OM.
OM ADA DUA GARIS BESAR OM= • TEHNIK MANDIRI (INDEPENDENT TECHNIQUE) • TEHNIK PENDAMPING AWAS (SIGHTED GUIDE)
TEHNIK MANDIRI • ALATNYA= TONGKAT, KETAJAMAN INDERA, KEMAMPUAN ANGGOTA TUBUH UNTUK BERGERAK • PENDEKATAN YG PALING UTAMA ADALAH PENDEKATAN KOMPENSATORIS
TONGKAT PUTIH • JENIS, ADA DUA YAITU TONGKAT STANDAR DAN TONGKAT LIPAT • FUNGSI/MANFAAT TONGKAT= 1. Alat untuk mamandu berjalan 2. Alat untuk melindungi badan/anggota badan dari kemungkinan bahaya 3. Sebagai ciri bahwa yg bersangkutan adalah tunanetra
TONGKAT PUTIH ETIKA MENGGUNAKAN TONGKAT= • Tongkat hanya digunakan untuk mendeteksi lingkungan yang tingginya kira2 selutut org dewasa. • Tidak dibenarkan mengulang-ulang memukulkan benda yg terdeteksi dan memukulkan secara keras. • Jika tidak digunakan maka harus dsimpan secara aman (dilipat) • Jika pada saat berdiri harus disimpan sejajar dengan tubuh dan menempel pada tubuh. • Jika terkena benda lain atau terinjak orang lain, maka sebaiknya tongkat dilepas dari genggaman agar tidak patah.
TONGKAT PUTIH CARA MENGGUNAKAN TONGKAT= • Bisa dipegang tangan kanan maupun kiri. • Dipegang pada hampir ujung bagian atas (disisakan kira2 2-5 cm). • Pada saat berjalan biasa, tongkat dipegang oleh ibu jari dan 3 jari, kecuali jari telunjuk. Jari telunjuk mengarah ke bawah. • Pada saat berjalan, tongkat berada di tengah-tengah badan, diayunkan ke kiri dan kekanan lebih lebar dari badan tunanetra (kira-kira 5 cm). Alasan untuk melindingu anggota badan, terutama kaki. • Tongkat diayunkan ke kanan dan ke kiri membentuk setengah lingkaran, ketinggiannya kiri2 5 cm. Alasan agar benda2 yang ketinggiannya paling rendah 5 cm dapat terdeteksi oleh tongkat sehingga tunanetra bisa menghindarinya. • Model berjalannya antara kaki dan tongkat seperti layaknya berjalannya binatang berkaki empat. Tongkat diumpamakan kaki depan binatang. (berjalannya silang).
TONGKAT PUTIH CARA MENGGUNAKAN TONGKAT= • Cara kerja tongkat menggunakan teori INDIRECT (geteran tongkat diterima oleh syaraf raba dengan tidak langsung. Artinya pertama akan disentuh oleh ujung tongkat, kemudian mengalir melalui tongkat dan diterima oleh syaraf raba). Suara sentuhan ujung tongkat dengan benda, bisa dibantu mengenalinya oleh pendengaran. • Lebar ayunan tongkat dideteksi oleh INDERA KINESTETIK (berada di persendian dan otot)
MATERI INDEPENDENT TECHNIGUE • Tehnik mengayunkan tongkat • Tehnik berjalan biasa menggunakan tongkat • Tehnik mendeteksi landmark, Clue dan penomoran • Tehnik kombinasi dengan upper hand dan lower hand. • Tehnik kombinasi dengan menyusuri. • Tehnik naik turun tangga • Tehnik naik eskalator dan lift.
INDEPENDENT TECHNIQUE (TEHNIK MANDIRI) • TUNANETRA MELAKUKAN AKTIFITAS TERTENTU DENGAN MANDIRI • SALAH SATU ALAT YG DIGUNAKAN OLEH TUNANETRA YAITU TONGKAT - TONGKAT STANDARD (LURUS DAN UJUNGNYA MEMBTENTUK SETENGAH LINGKARAN) - TONGKAT LIPAT (BERLIPAT 4) • TONGKAT YG PALING BAGUS ADALAH TERBUAT DARI ALUMINIUM. KELEBIHANNYA RINGAN DAN MUDAH MENGHANTARKAN GETARAN. • PENGGUNAAN TONGKAT BAGI TUNANETRA MENGGUNAKAN TEORI KONDUKSI GETARAN. DISAMPING ITU JUGA MEMANFAATKAN GETATARAN YANG MENIMBULKAN BUNYI. • PENGGUNAAN TONGKAT JUGA MENGGUNAKAN TEORI INDIRECT (SENTUHAN TIDAK LANGSUNG) • PENGGUNAAN TONGKAT JUGA MENGGUNAKAN INDERA KINESTETIK • DAPAT DISIMPULKAN BAHWA INDERA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN TONGKAT YAITU INDERA PERABAAN (INDECT), INDERA PENDENGARAN, DAN INDERA KINESTETIK
• Tidak merendahkan tunanetra • Sesuai kebutuhan tunanetra • Saling memahami • Terjadi komunikasi dengan baik • Saling memposisikan dengan benar PRINSIP-PRINSIP SIGHTED GUIDE/ TEHNIK PENDAMPING AWAS
SIGHTED GUIDE • Tehnik berpegangan tunanetra dewasa dan anak kecil • Tehnik berjalan dengan tunanetra. • Tehnik melewati jalan sempit • Tehnik buka tutup pintu • Tehnik naik dan turun tangga • Tehnik berbalik arah • Tehnik pindah pegangan • Tehnik membonceng sepeda motor/ masuk dan keluar mobil • Tehnik mengantar ke tempat duduk • Tehnik berjalan di tempat darurat • dll
MEMBACA DAN MENULIS BRAILLE
BRAILLE DASAR HURUF a b c d e f g h I j a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t k l m n o p q r s t u v w x y z u v w x y z
BRAILLE DASAR 1 4 2 5 3 6 karakter Braille dibentuk berdasarkan kerangka enam titik: dua titik ke kanan dan tiga titik ke bawah. Untuk memudahkan perujukan pada titik-titik dalam kerangka tersebut, masing-masing titik diberi nomor sebagai berikut:
BRAILLE DASAR Abjad Braille dibentuk dengan pola yang logis sehingga mudah dihafal. Sepuluh huruf pertama ( a sampai j ) hanya menggunakan titik 1, 2, 4, dan 5. Dengan kata lain, sepuluh huruf pertama tersebut hanya menggunakan “tanda atas”. A B C D E F G H I J a b c d e f g h i j
BRAILLE DASAR Sepuluh huruf berikutnya ( k hingga t ) dibentuk dengan menambahkan titik 3 pada kesepuluh huruf pertama sebagai berikut. K L M N O P Q R S T k l m n o p q r s t
BRAILLE DASAR Lima huruf berikutnya (u, v, x, y, z) dibentuk dengan menambahkan titik 3- 6 pada huruf a, b, c, d, e. Bagaimana dengan huruf w? Huruf ini tidak dikenal dalam bahasa Perancis (sekurang-kurangnya hingga tahun 1860), sehingga huruf w tidak tercantum dalam abjad Braille yang asli. Huruf w baru ditambahkan kemudian setelah abjad Braille dibawa ke Amerika Serikat. Oleh karena itu, konfigurasinya pun tidak mengikuti pola di atas. Huruf u hingga z selengkapnya adalah sebagai berikut.: U V W X Y Z u v w x y z
TANDA KAPITAL , (titik 6) Sebuah huruf Braille akan dianggap sebagai huruf capital apabila dibubuhi tanda capital a. Tanda capital diletakkan langsung di depan huruf yang akan dijadikan huruf capital. CONTOH = ,BANDUNG Bandung
TANDA KAPITAL , (titik 6) b. Apabila seluruh kata ditulis dengan huruf capital, dua tanda capital dibubuhkan langsung di depan kata itu.. CONTOH = ,,tvri dan ,,rri TVRI dan RRI
TANDA KAPITAL , (titik 6) c. Ketentuan tentang penggunaan tanda kapital di atas berlaku juga pada penulisan angka Romawi. CONTOH = ,I ,,ii ,,iii I II III
TANDA ANGKA # (titik 3-4-5-6) Angka dibentuk dengan membubuhkan “tanda angka” (titik 3-4-5-6) langsung di depan huruf a hingga j (untuk angka 1 hingga 0). Silakan anda pelajari tabel berikut ini. CONTOH = #a #b #c #d #e #f #g #h #i #j 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
TANDA ANGKA # (titik 3-4-5-6) Jika bilangan terdiri dari dua digit atau lebih, tanda angka cukup dibubuhkan satu saja di depan digit pertama. Silakan anda pelajari contoh-contoh pada tabel berikut ini. CONTOH = #aj 10 #bj 20 #aa 11 #bb 22 #ajj 100 #abc 123 #bej 250 #ajjj 1000 #aeej 1550 #ihgf 9876
BEBERAPA TANDA BACA 4 1 2 3 8 6 8 0 7 7 - / ' 59 99 ''' . , ; : ? ! “ ” ( ) - / ‘ ± * …
FUNGSI TANDA BACA Secara umum, tanda-tanda ini mempunyai fungsi yang sama dengan padanannya dalam tulisan awas. Namun demikian, terdapat beberapa kekhasan yang perlu anda perhatikan sebagai berikut = -Tidak seperti dalam tulisan awas, tanda kutip buka dan kutip tutup dalam Braille mempunyai bentuk yang berbeda. -Di pihak lain, Braille tidak membedakan bentuk tanda kurung tutup dan kurung buka. Di samping itu, perlu dicatat bahwa tanda kurung dalam matematika mempunyai bentuk yang berbeda, yang akan anda pelajari pada Modul 6. -Dalam tulisan awas, tanda elipsis sama dengan tiga buah tanda titik, sedangkan dalam Braille, tanda ellipsis sama dengan tiga buah tanda apostrof. -Tanda Tanya dan tanda kutip buka mempunyai bentuk yang sama. Yang membedakannya adalah posisinya dalam teks. Tanda Tanya selalu berada pada akhir teks, sedangkan tanda kutip buka selalu berada pada awal teks.
TANDA KOMPOSISI , . # ; Tanda capital Tanda kursif Tanda angka Tanda pugar
TANDA KOMPOSISI Tanda komposisi adalah tanda khusus yang tidak terdapat dalam tulisan awas (tulisan biasa). Tanda ini dimaksudkan untuk mengubah “tampilan” karakter braille. Tanda komposisi itu mencakup tanda capital, tanda kursif, tanda angka, dan tanda pugar. Karakter Braille yang dibubuhi tanda komposisi ini akan mempunyai fungsi lain atau tampilan yang berbeda. Tanda komposisi diperlukan mengingat keterbatasan kemungkinan konfigurasi Braille. (Ingat, sebuah kerangka Braille hanya dapat membentuk sebanyak-banyaknya 63 konfigurasi karakter). Di samping itu, sebuah huruf Braille bersifat “baku dan kaku”. Artinya, bentuk dan ukuran besarnya tidak dapat divariasikan. Bandingkan dengan huruf awas yang dapat divariasikan ukurannya, bentuknya atau tampilannya. Misalnya, di computer anda mempunyai lebih dari 100 pilihan font, ukurannya dapat diperkecil ataupun diperbesar, dicetak miring, digarisbawahi, dll. Hal seperti itu tidak dimungkinkan pada tulisan Braille kecuali dengan membubuhkan tanda lain – tanda komposisi.
1. TANDA KAPITAL , (titik 6) Sebuah huruf Braille akan dianggap sebagai huruf capital apabila dibubuhi tanda capital a. Tanda capital diletakkan langsung di depan huruf yang akan dijadikan huruf capital. CONTOH = ,BANDUNG Bandung
1. TANDA KAPITAL , (titik 6) b. Apabila seluruh kata ditulis dengan huruf capital, dua tanda capital dibubuhkan langsung di depan kata itu.. CONTOH = ,,tvri dan ,,rri TVRI dan RRI
1. TANDA KAPITAL , (titik 6) c. Ketentuan tentang penggunaan tanda kapital di atas berlaku juga pada penulisan angka Romawi. CONTOH = ,I ,,ii ,,iii I II III
2. TANDA KURSIF . (titik 4-6) a. Tanda kursif dipergunakan untuk menunjukkan bahwa kata yang berada di belakangnya perlu mendapat perhatian khusus sebagaimana halnya kata-kata yang dicetak miring (italic), dicetak tebal (bold), atau digarisbawahi b. Tanda kursif diletakkan langsung di depan kata yang perlu mendapat perhatian khusus itu. CONTOH = ,sekali .merdeka tetap .merdeka Sekali merdeka tetap merdeka
2. TANDA KURSIF . (titik 4-6) c. Apabila teks yang “dikursif” itu terdiri dari tiga kata atau lebih, maka dua tanda kursif diletakkan di depan kata pertama, dan satu tanda kursif diletakkan di depan kata terakhir dari teks tersebut. CONTOH = ..sekali merdeka tetap .merdeka sekali merdeka tetap merdeka
2. TANDA KURSIF . (titik 4-6) d. Apabila sebuah teks ditulis dengan huruf capital dan tanda kursif sekaligus, maka tanda kursif dituliskan lebih dahulu, sedangkan tanda capital dituliskan langsung di depan kata yang bersangkutan. CONTOH = .,demi .negara .,,ri Demi negara RI
3. TANDA ANGKA # (titik 3-4-5-6) Angka dibentuk dengan membubuhkan “tanda angka” (titik 3-4-5-6) langsung di depan huruf a hingga j (untuk angka 1 hingga 0). Silakan anda pelajari tabel berikut ini. CONTOH = #a #b #c #d #e #f #g #h #i #j 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
3. TANDA ANGKA # (titik 3-4-5-6) Jika bilangan terdiri dari dua digit atau lebih, tanda angka cukup dibubuhkan satu saja di depan digit pertama. Silakan anda pelajari contoh-contoh pada tabel berikut ini. CONTOH = #aj 10 #bj 20 #aa 11 #bb 22 #ajj 100 #abc 123 #bej 250 #ajjj 1000 #aeej 1550 #ihgf 9876
4. TANDA PUGAR ; (titik 5-6) Sebagaimana kini sudah anda fahami, angka dalam Braille dituliskan menggunakan huruf abjad yang didahului tanda angka. Bagaimana kalau anda ingin menuliskan angka dan huruf dalam satu rangkaian? Misalnya 3A? Untuk membedakan huruf dari angka yang mendahuluinya, anda harus menggunakan tanda pugar (atau juga disebut tanda huruf)
4. TANDA PUGAR ; (titik 5-6) a. Tanda pugar dituliskan langsung di depan huruf untuk menunjukkan bahwa huruf tersebut tidak termasuk angka. b. Apabila sebuah huruf harus menggunakan tanda capital dan tanda pugar sekaligus, maka tanda pugar ditulis terlebih dahulu, dan tanda capital dituliskan kemudian, langsung di depan huruf. c. Tanda pugar tidak diperlukan apabila huruf itu dituliskan di depan angka. Misalnya, A3 (,a#c). Lihat contoh penggunaan tanda pugar pada tabel berikut ini. #b;b #b;,b ,b#b #e;,e #ad;d #af;,f 2b 2B B2 5E 14d 16F Contoh Penulisan Rangkaian Angka dan Huruf
PEMBELAJARAN YANG MEMANFAATKAN INDERA LAIN SELAIN PENGLIHATAN
PRINSIP PENGGUNAAN INDERA PADA PEMBALAJARAN SECARA UMUM Belajar yg baik adalah belajar yg semakin banyak melibatkan banyak indera
MENGAPA HARUS LEBIH BANYAK INDERA YG TERLIBAT??? Jawabannya adalah: semakin banyak indera yg terlibat, maka apa yg dipelajari oleh anak akan lebih berkesan dan konsep akan lebih lengkap sehingga yg dipelajari akan lebih berpotensi menjadi memori jangka panjang (long term memory).
INDERA MANUSIA LEBIH DARI 5 (PANCAINDERA) -Telinga: Pendengaran - Mata: Penglihatan - Lidah: pengecap - Hidung: Pembau - Kulit: peraba - Otot dan Persendian: Kinestetik/ gerakan dan merasakan berat - Dsb. Indera adalah alat/bagian tubuh yg berfungsi untuk menerima informasi (reseptif) dari lingkungan. Proses informasi kemudian dikirim ke otak oleh syaraf.
PEMBUATAN MEDIA/ ALAT PERAGA BAGI TUNANETRA BEBERAPA PERTIMBANGAN PEMBUATAN ALAT PERAGA: - Analisis media (mulai dari konkrit, semi konkrit, semi abstrak, abstrak) - Analisis keberfungsian indera - Analisis keamanan anak - Analisis etika - Analisis ketersediaan/keterjangkauan/kemungkinan - Analisis penguatan konsep - Analisis usia perkembangan anak - Analisis efisiensi dan efektifitas - Dsb.
PEMBUATAN ALAT PERAGA SEMI KONKRIT BAGI TUNANETRA - Pembuatan media/alat peraga semi konkrit apabila alat peraga kategori konkrit tidak bisa dihadirkan - Beberapa jenis alat peraga semi konkrit diantaranya: replika, vidio, gambar, dsb. - Mempertimbangkan ketidakfungsian indera/sisa penglihatan dan memanfaatkan indera lain yang masih berfungsi
PEMBUATAN REPLIKA BERDASARKAN UKURANNYA, ADA TIGA JENIS: • Ukurannya sama besar (samaatur) • Ukurannya diperkecil (Miniatur) • Ukurannya diperbesar (besaratur)
SAMAATUR • Alat peraga replika yang ukurannya sama/hampir sama dengan benda aslinya. • Analisis replika yang samaatur yaitu jika alat peraga memenuhi daya jangkau anggota tubuh, terutama tangan. Jika ukurannya tidak terjangkau dan memerlukan lebih banyak gerak maka dikawatirkan akan memecah konsep memadukan/utuh. Misalnya replika kelinci, kambing, ayam dsb.
MINIATUR • Alat peraga berupa replika yang ukurannya diperkecil dari benda aslinya. • Alasan pengecilan bertujuan untuk menyatukan konsep. Jika memakai alat peraga aslinya yang cukup besar, maka anak akan kehilangan konsep yang utuh/konsep memadukan. Misalnya miniatur rumah.
BESARATUR • YAITU sebuah replika yang ukurannya diperbesar dari benda aslinya. • Alasan pembesaran karena jika menggunakan alat peraga yang ukurannya sama dengan aslinya, maka indera perabaan tidak mampu untuk mengakses. Misalnya alat peraga binatang serangga kecil (semut, rayap, dll)
sekian