Modul Projek
Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Tema: Kearifan Lokal
Menelusur Masa Lampau Semarang
Disusun oleh Tim P5
SMA N1 SEMARANG
Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga tim penyusun
dapat menyelesaikan modul ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan guru sebagai fasilitator
pembelajaran projek. Pembahasan modul ini dimulai dengan menjelaskan tujuan yang akan
dicapai. Kelebihan modul ini, Anda bisa melihat keterpaduan ilmu matematika.
Pembahasan yang akan disampaikan pun disertai dengan lembar kerja yang dapat
digunakan untuk melengkapi tingkat ketercapaian dan ketuntasan.
Penyusun menyadari bahwa di dalam pembuatan modul masih banyak kekurangan,
untuk itu penyusun sangat membuka saran dan kritik yang sifatnya membangun. Mudah-
mudahan modul ini memberikan manfaat.
Semarang, September 2022
Penulis
ii
Daftar Isi
Kata Pengantar.......................................................................................................................................... ii
Tujuan, alur, dan target pencapaian target ....................................................................................
Tahapan dalam projek “Menelusur Warisan Masa Lampau” ...................................................
Road Map Projek .....................................................................................................................................
Dimensi, elemen, dan sub elemen Profil Pelajar Pancasila ......................................................
Relevansi projek ini bagi sekolah dan semua guru mata pelajaran ....................................
Cara penggunaan perangkat ajar projek ........................................................................................
Menelusur Warisan Masa Lampau
TEMUKAN
Tujuan, Alur, dan Target
Pencapaian Projek
Komitmen seluruh warga sekolah untuk sadar, konsisten, dan
berkomitmen dengan tujuan menghargai berbagai bentuk
keberagaman yang ada di lingkungan sekolah maupun luar
sekolah
Persepsi suatu budaya atau pengetahuan lokal akan rentan bias,
sehingga penting bagi kelompok guru secara sadar memahami
kemungkinan tersebut sehingga pengetahuan lokal yang diambil
adalah yang paling berguna bagi kebutuhan pembelajaran
Tujuan
Beberapa bentuk kearifan lokal seperti sastra lisan (pantun, cerita rakyat, peribahasa),
tradisi, artefak budaya, produk kesenian dan kerajinan merupakan warisan leluhur yang sangat
bernilai. Kearifan lokal ini sudah ada sejak ribuan tahun dan diciptakan untuk beragam tujuan,
di antaranya untuk menjaga sumber daya alam dan sumber daya lokal. Namun, generasi yang
hidup di masa sekarang umumnya kurang memahami makna kearifan lokal ini sehingga
tantangan yang terjadi di masa sekarang terkait sumber daya alam dan sumber daya lokal
seolah datang begitu saja tanpa ancang-ancang. Padahal beberapa nilai kearifan lokal sendiri
memiliki potensi untuk mencegah masalah yang ada terjadi (preventif).
Alur
Projek ini dimulai dengan tahap temukan, peserta didik diajak untuk mengenali bentuk dan
fungsi kearifan lokal yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Setelah itu, kegiatan
dilanjutkan dengan menemukan hubungan antara identitas diri, identitas budayanya, dan
belajar untuk memahami bahwa identitas adalah sebuah konsepsi yang dinamis dan selalu
berubah. Berangkat dari pemahaman tentang identitas ini, peserta didik membongkar
asumsinya terhadap identitas budaya yang ada di wilayahnya maupun budaya orang lain.
Dengan demikian, diharapkan peserta didik dapat menumbuhkan apresiasi terhadap budaya
dan kearifan lokal sebuah kelompok masyarakat. Tahap ini ditutup dengan menemukan
masalah atau tantangan yang terjadi di sekitarnya yang memiliki kait dengan sumber daya
alam atau sumber daya lokal.
Setelah itu projek dilanjutkan dengan tahap bayangkan, pada tahap ini peserta didik
diajak untuk melihat langsung bagaimana bentuk kearifan lokal yang ada di wilayahnya. Dari
sini peserta didik diminta untuk mengkritisi hubungan antara bentuk kearifan lokal yang
ditemukan dan fungsinya bagi masyarakat. Tahap ini diakhiri dengan membayangkan kondisi
impian yang peserta didik harapkan terjadi pada lingkungannya dan kearifan lokal yang ada di
wilayahnya.
Projek dilanjutkan dengan tahap lakukan yang bertujuan mempersiapkan
peserta didik untuk menggaungkan kearifan lokal yang ditemui dan bermakna
bagi peserta didik sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang ia miliki.
Lalu, projek diakhiri dengan tahap bagikan, di mana seluruh peserta didik
membagikan pengetahuannya akan kearifan lokal kepada warga sekolah, guru,
dan perwakilan masyarakat.
Target
Melalui projek ini, peserta didik diharapkan telah mengembangkan tiga
dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu Bernalar Kritis, Berkebinekaan Global,
dan Kreatif yang akan dijabarkan pada halaman berikutnya.
Tahapan dalam projek “Menelusur
Warisan Masa Lampau”
Road Map Projek
Dimensi, elemen, dan sub elemen
Profil Pelajar Pancasila
Relevansi projek ini bagi sekolah dan
semua guru mata pelajaran
Statistik kebudayaan tahun 2017 mencatat bahwa jumlah kesenian yang akan
punah mencapai angka 143, terdiri atas seni rupa, seni musik, seni teater, seni tari, sastra dan
kesenian lainnya. Di sisi lain, statistik kebudayaan tahun 2018 juga mencatat ada 34 bahasa
daerah yang akan punah. Hal ini penting untuk jadi perhatian kita bersama karena beberapa
ragam seni dan bahasa daerah merupakan hasil akumulasi pengetahuan lokal masyarakat
Indonesia dalam jangka waktu yang panjang. Belum lagi ditambah beberapa budaya lokal
tersebut mengandung makna mendalam untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam
dan sumber daya lokal dengan mencerminkan relasi antar manusia, relasi manusia dengan
Tuhan, dan relasi manusia dengan semesta. Nilai-nilai pengetahuan lokal yang terwujud
dalam berbagai bentuk budaya lokal ini penting untuk terus digaungkan dan diwariskan
pada generasi selanjutnya agar tetap lestari.
Sejalan dengan hal tersebut, sekolah sebagai salah satu institusi budaya memiliki
peran untuk ambil bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang kini keadaannya
semakin terancam dari waktu ke waktu. Selain itu, sekolah yang dapat memberikan
pengalaman akan keberagaman budaya yang dibutuhkan, diikuti dengan refleksi pada
tahapannya akan membentuk masukan dan pengalaman positif dari keberagaman itu
sendiri. Di mana hal ini akan menghasilkan peserta didik yang mampu mengelola
perbedaan secara konstruktif, beradaptasi dengan baik, membangun sinergi atas perbedaan
sehingga sekolah dapat mendorong peserta didik lebih mudah dan siap menjadi bagian dari
masyarakat global.
Bagaimanapun, sebagai kompas kehidupan, budaya dapat mengarahkan kita untuk
berpikir, merasa, bertindak, dan berkarya ke arah benar salah, baik buruk, pantas tidak
pantas.
Cara Penggunaan
Perangkat Ajar Projek ini
Perangkat ajar ini dirancang untuk membantu guru SMA/SMK (Fase E) yang berada di
sekolah penggerak untuk melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang
mengusung tema Kearifan Lokal. Di dalam perangkat ajar untuk projek “Menelusur Warisan
Masa Lampau Semarang” ini, ada 17 (enam belas) aktivitas yang saling berkaitan. Tim
Penyusun menyarankan agar projek ini dilakukan pada semester pertama kelas X
dikarenakan aktivitas yang ditawarkan disusun dengan sedemikian rupa agar peserta didik
tidak hanya mengetahui isu kearifan lokal secara teori saja, tetapi juga bisa mengkritisi
fungsi kearifan lokal tersebut dan kaitannya dengan masalah sumber daya alam atau
sumber daya lokal yang terjadi saat ini. Waktu yang direkomendasikan untuk pelaksanaan
projek ini adalah 1 (satu) semester, dengan total kurang lebih 36 pertemuan. Sebaiknya ada
jeda waktu antar aktivitas agar di satu sisi para guru mempunyai waktu yang cukup untuk
melakukan persiapan materi untuk memantik diskusi dan refleksi peserta didik. peserta
didik juga mempunyai waktu untuk berpikir, berefleksi, dan menjalankan masing-masing
aktivitas dengan baik.
Namun demikian, tim penyusun memahami bahwa kondisi tiap sekolah berbeda-beda. Oleh
karena itu, guru dan kepala sekolah mempunyai kebebasan dan kewenangan untuk
menyesuaikan jumlah aktivitas, alokasi waktu per aktivitas, dan apakah semua aktivitas
diselesaikan dalam waktu singkat atau disebar selama satu semester/satu tahun ajar. Materi
ataupun rancangan aktivitas juga bisa disesuaikan agar projek bisa berjalan efektif dan
efisien sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah juga kondisi daerah
tempat sekolah berdiri. Kami juga akan memberikan saran praktis dan alternatif pelaksanaan
beberapa aktivitas, serta rekomendasi aktivitas pengayaan, jika diperlukan.
MENELUSUR WARISAN
MASA LAMPAU
TEMUKAN
Pengantar Materi Kearifan Lokal
3JP Bahan Untuk Guru: Tujuan Pembelajaran:
Kamis, "Lagu Profil Pelajar Pancasila" peserta didik tertarik untuk
6 Oktober https://youtu.be/fHUIYAKRYns masuk ke dalam topik kearifan
2022 "Apa itu profil pelajar pancasila?" lokal
https://youtu.be/8YM4oUYPQCs peserta didik mengenal salah
“Apa itu Pengetahuan Lokal?” satu kearifan lokal yang ada
https://www.youtube.com/watch?v=4asJhKcvx_Y
"Apa itu kearifan lokal?"
https://youtu.be/t1sgDqOZr9c
Persiapan
1.Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
2. Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
3. Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar Pancasila"?
4. Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar Pancasila".
5.Guru membekali diri dengan pengetahuan akan definisi dan berbagai bentuk kearifan lokal yang memiliki
hubungan dengan keberlanjutan sumber daya alam.
Pelaksanaan
1.Guru mengawali projek dengan menghantarkan video tayangan "Apa itu pengetahuan lokal?"
2.Guru meminta peserta didik untuk menuliskan pepatah / peribahasa / nasihat-nasihat orang tua atau
orang dewasa yang masih diingat sampai saat ini (bagian-bagian dari kearifan lokal).
3.Setelah peserta didik selesai menulis, guru bersama dengan peserta didik membahas hasil tulisan peserta
didik dan menanyakan jika ada peserta didik lain yang menuliskan hal serupa.
4.Guru menggali lebih dalam apakah peserta didik tahu arti dari pepatah / peribahasa / nasihat-nasihat
tersebut. Kemudian guru memberi pengantar bahwa pepatah / peribahasa / nasihat-nasihat merupakan
salah satu bentuk kearifan lokal.
5.Setelah itu, guru bertanya kepada peserta didik tentang pengertian dan bentuk kearifan lokal yang
diketahui. Beberapa pertanyaan pemantik yang bisa dipakai:
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata kearifan lokal?
Menurutmu, apa itu kearifan lokal? Seperti apa bentuknya?
Kearifan lokal apa yang kamu ketahui? Berasal dari daerah mana kearifan lokal tersebut?
Bagaimana kamu bisa mengetahui bentuk kearifan lokal tersebut? Apakah kamu tahu atau pernah mencari
tahu makna dibalik kearifan lokal tersebut?
6. Guru menayangkan tayangan video "Apa itu kearifan lokal?" untuk memvalidasi pendapat siswa.
Tugas Tips:
Peserta didik diminta untuk mencari tahu salah satu bentuk Jika peserta didik tidak tahu akan berbagai bentuk
kearifan lokal, guru dapat memberikan beberapa
kearifan lokal Kota Semarang dari berbagai sumber contoh dari bahan bacaan di atas atau mencari bentuk
kearifan lokal yang ada di wilayah masing-masing
yang memiliki hubungan dengan keberlanjutan
sumber daya alam.
MATERI
1.Pengertian Kearifan Lokal
2.Ciri-ciri Kearifan Lokal
3.Fungsi dan Manfaat Kearifan Lokal
Kearifan Lokal
PENGERTIAN
Istilah kearifan lokal dapat ditemui dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam undang-undang tersebut, kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur
yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan
hidup secara lestari.
Menurut Robert Sibarani dalam Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan, kearifan lokal
adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya
untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Kearifan lokal juga dapat didefinisikan sebagai nilai
budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif atau
bijaksana.
Pengertian Kearifan Lokal Prabandani (2011) menyimpulkan, kearifan lokal adalah nilai-nilai, norma,
hukum-hukum dan pengetahuan yang dibentuk oleh ajaran agama, kepercayaan-kepercayaan, tata nilai
tradisional dan pengalaman-pengalaman yang diwariskan oleh leluhur yang akhirnya membentuk sistem
pengetahuan lokal yang digunakan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan sehari-hari oleh
masyarakat.
Menurut Saini, (2005), kearifan lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam
mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada komunitas tersebut daya tahan
dan daya tumbuh di dalam wilayah di mana komunitas itu berada. Dengan kata lain, kearifan lokal adalah
jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal.
Sehubungan dengan itu, Wagiran (2012) mengemukakan bahwa kearifan lokal adalah bagian dari budaya
yang menjadi modal dasar dalam peningkatan karakter, khususnya bagi peserta didik.
Sedangkan I Ketut Gobyah (Sartini, 2004) menjelaskan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah
kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan
antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada.
CIRI-CIRI
Ciri-Ciri Kearifan Lokal
Terdapat sejumlah ciri-ciri kearifan lokal, yaitu:
1. Dapat bertahan terhadap budaya asing Kearifan lokal berasal dari nilai-nilai budaya setempat yang telah
bertahan secara turun temurun diwariskan dan menjadi bagian dari kehidupan suatu masyarakat dan
bangsa. Hal ini membuat budaya asing yang masuk melalui berbagai media tidak akan membuat kearifan
lokal menjadi hilang dari masyarakat, kecuali memang dirasakan tidak dibutuhkan lagi.
2. Memiliki kemampuan untuk mengakomodasi unsur budaya asing terhadap budaya asli Kearifan lokal
adalah sesuatu yang luwes dan fleksibel, sehingga adanya unsur budaya asing dapat diakomodir tanpa
merusak kearifan lokal yang ada di masyarakat tersebut.
3. Memiliki kemampuan mengintegrasi unsur budaya asing ke dalam budaya asli Kearifan lokal selain
mengakomodir juga mampu mengintegrasikan budaya asing dalam karakteristik kearifan lokal yang ada
menjadi satu kesatuan. Misalnya, dalam pembangunan gedung, bentuk desain dan arsitektur memadukan
budaya lokal tetapi cara dan prosesnya mengikuti pembangunan modern.
4. Mempunyai kemampuan untuk mengendalikan Kearifan lokal adalah suatu warisan adat istiadat dan budaya
yang telah turun temurun. Hal ini menyebabkannya sulit dihilangkan dalam waktu yang cepat. Dengan
demikian, kearifan lokal mampu mengendalikan salah satu dampak negatif globalisasi, yaitu masuknya budaya
asing.
5. Memiliki kemampuan untuk memberi arah pada perkembangan budaya Kearifan lokal merupakan nilai-nilai
yang dianut oleh suatu masyarakat yang menjadi pedoman untuk bersikap dan bertindak. Melalui kearifan
lokal, masyarakat akan mampu mengembangkan budaya secara terarah. Ciri-ciri tersebut dijelaskan dalam buku
Pemimpin Perubahan Lintas Budaya oleh Wustari L. H. Mangundjaya.
FUNGSI DAN MANFAAT
Fungsi dan Manfaat Kearifan Lokal Wustari L. H. Mangundjaya dalam bukunya menjelaskan beberapa macam
fungsi kearifan lokal, yaitu:
1. Konservasi dan pelestarian sumber daya alam Sumber daya alam termasuk dalam kategori kearifan lokal.
Dengan demikian, adanya kearifan lokal dapat membantu masyarakat dalam melakukan konservasi dan
pelestarian sumber daya alam berlandaskan nilai dan tradisi masyarakat. Contohnya, pelestarian hutan dan
tanaman.
2. Pengembangan sumber daya manusia Kearifan lokal mencakup nilai-nilai yang menjadi acuan sikap dan
perilaku seseorang. Hal ini berhubungan dengan proses pengembangan sumber daya manusia (SDM). Oleh
sebab itu, berbagai kegiatan pengembangan SDM sebaiknya berlandaskan kearifan lokal. Misalnya, kegiatan
yang berkaitan dengan upacara daur hidup.
3. Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan Nilai budaya yang melekat di masyarakat dalam suatu
daerah tidak akan lepas dari kearifan lokal. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan kebudayaan dapat
berkembang baik jika berlandaskan kearifan lokal.
4. Sebagai petuah, kepercayaan, sastra, dan pantangan Seseorang dapat bersikap dan berperilaku dengan
landasan kearifan lokal sebagai penuntun karena mengandung nilai, tradisi, dan adat istiadat. Hal ini
ditampilkan dalam norma-norma masyarakat yang berisi acuan serta pantangan untuk bertindak.
5. Bermakna sosial Kearifan lokal memiliki makna sosial yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Dengan
adanya kearifan lokal, suatu bangsa atau masyarakat memiliki ciri tertentu. 6. Berhubungan dengan etika dan
moral Dalam berbagai upacara keagamaan yang berhubungan dengan tata nilai, etika maupun moral, kearifan
lokal dapat diwujudkan. Misalnya, upacara ngaben di Bali mengandung nilai-nilai etika dan moral yang baik
untuk dipelajari.
Contoh kearifan lokal yang menggambarkan keadaan sosial salah satunya adalah kearifan lokal pantang larang
masyarakat Suku Melayu Sambas yang berada di Kalimantan, sebagaimana dijelaskan dalam buku Nilai-Nilai
Kearifan Lokal dan Implementasinya dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Pantang larang adalah pantangan dan
larangan yang dijadikan patokan dalam kehidupan Suku Melayu Sambas. Pantang larang mencakup: Adat
sebagai kebiasaan untuk menghormati yang lebih tua. Adat yang dikhususkan pada pelaksanaan upacara. Adat
yang berkaitan dengan lingkungan yang harus dihormati. Adat sebagai hukuman kepada masyarakat. Adat
istiadat yang berkaitan dengan berbagai perilaku ritual yang bersifat magis. Adat sebagai sistem kelembagaan.
Kearifan lokal tersebut merupakan aturan yang tidak tertulis, tetapi disepakati dan dilaksanakan bersama.
Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Kearifan Lokal adalah Nilai Luhur, Pahami Ciri-Ciri dan
Fungsinya" , https://katadata.co.id/iftitah/berita/6200d042cf539/kearifan-lokal-adalah-nilai-luhur-pahami-ciri-ciri-
dan-fungsinya
Penulis: Iftitah Nurul Laily
Editor: Iftitah Nurul Laily
PENUGASAN 1
Peserta didik diminta untuk mencari tahu salah
satu bentuk kearifan lokal di Kota Semarang
dari berbagai macam sumber!
LEMBAR KERJA
Bentuk dan Fungsi Kearifan Lokal
3 JP Bahan Untuk Guru: Tujuan Pembelajaran:
Jumat, "Lagu Profil Pelajar Pancasila" peserta didik mengkritisi salah
7 Oktober https://youtu.be/fHUIYAKRYns satu bentuk kearifan lokal
2022 "Apa itu profil pelajar pancasila: bernalar kritis?" dengan melihat unsur
https://youtu.be/00dnTqai5ec geografi, demografi, dan
“Wayang Orang” psikografis
https://www.youtube.com/watch?v=Hngo07G- peserta didik mengenal
i_Y kearifan lokal, bentuk, dan
“Beginilah nasib dari Wayang Orang Ngesti fungsinya terhadap
Pandowo masyakarat
https://youtu.be/3Lk83IFXsCQ
Persiapan
1.Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
2.Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
3.Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:bernalar kritis"?
4.Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:bernalar kritis".
5.Guru membekali diri dengan pengetahuan akan salah satu bentuk kearifan lokal:
“Wayang Orang ” dan bagaimana dampaknya terhadap kesenian di kota Semarang.
Pelaksanaan
1.Guru meminta peserta didik untuk menceritakan hasil temuan mereka dari tugas
Lembar Kerja 1 tentang salah satu bentuk kearifan lokal di Semarang.
2.Guru memutar video “Wayang Orang” untuk penguatan dan berjaga-jaga jika ada
peserta didik yang tidak mengerjakan tugas
3.Guru menggali lebih dalam pengetahuan peserta didik akan “Wayang Orang" Beberapa
pertanyaan pemantik yang dapat dipakai adalah sebagai berikut:
Menurutmu, mengapa “Wayang Orang” ada?
Di manakah letak gedung pertunjukan "Wayang Orang" di Semarang"?
Bagaimana mereka mencari penonton?
4. Guru lalu menceritakan bentuk kearifan lokal yang beragam, mulai dari cerita rakyat,
legenda, lagu daerah, peribahasa, nasihat, tarian, dlsb. yang memiliki fungsi beragam pula.
Tidak semua pengetahuan lokal bisa dijelaskan secara ilmiah maupun digunakan untuk
pengelolaan bencana
Tugas:
Presentasikanlah Lembar Kerja 1 yang diberikan pada pertemuan
sebelumnya berupa PPT!
Materi
1.Fungsi Kearifan Lokal
2.Bentuk Kearifan Lokal
BENTUK KEARIFAN LOKAL
Ada 2 aspek bentuk kearifan lokal, diantaranya:
Kearifan Lokal yang Berwujud Nyata (Tangible)
Wujud nyata kearifan lokal, antara lain:
Tekstual. Sejumlah jenis kearifan lokal tekstual meliputi sistem nilai, tata cara, ketentuan khusus yang
dirangkum dalam tulisan yang dapat ditemukan dalam prasi (budaya menulis diatas daun lontar), kalender dan
kitab tradisional primbon.
Arsitektural atau bangunan.
Karya seni berupa benda cagar alam atau tradisional seperti batik, keris dan lainnya.
Kearifan Lokal yang Tidak Berwujud (Intangible)
Kearifan lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang disampaikan secara oral dan turun-temurun yang dapat
berupa kidung dan nyanyian dengan kandungan nilai ajaran tradisional. Lewat petuah dan bentuk intangible
lainnya, nilai sosial disampaikan secara verbal/oral dari generasi ke generasi. Contoh kearifan lokal dari etika
lingkungan sunda, antara lain:
Kudu inget ka bali geusan ngajadi (manusia bagian dari alam, harus mencintai alam, tidak tepisahkan dari
alam).
Hirup katungkul ku pati, paeh teu nyaho di mangsa (segala sesuatu ada batasnya, termasuk sumber daya alam
dan lingkungan).
RUANG LINGKUP KEARIFAN LOKAL
Kearifan lokal ini menjadi fenomena yang global dan komprehensif. Ruang lingkup kearifan lokal sangat beragam
dan banyak tak terbatas ruang. Kearifan lokal lebih menekankan pada tempat dan lokalitas dari kearifan tersebut
sehingga tak harus suatu kearifan yang belum nampak dalam suatu komunitas sebagai hasil interaksi dengan
lingkungan, alam dan interaksi dengan masyarakat dan budaya yang lain.
Contoh Kearifan Lokal
Berikut ini contoh bentuk kearifan lokal, diantaranya yaitu:
Musik daerah.
Tarian daerah.
Bahasa daerah.
Berikut beberapa contoh kearifan lokal di Indonesia, diantaranya yaitu:
Bebie (Muara Enim-Sumatera Selatan)
Bebie yaitu tradisi menanam dan memanen padi bersama-sama dengan tujuan agar prose panen padi selesai
dengan cepat, setelah panen selesai maka akan diadakan perayaan sebagai bentuk rasa syukur atas kesuksesan
panen.
Awig-Awig (Lombok Barat dan Bali)
Awig-awig adalah aturan adat yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertindak disuatu interaksi sosial dan
mengelola serta menjaga lingkungan dan sumber daya alam yang ada di wilayah Bali dan Lombok Barat.
Hutan Larangan Adat (Desa Rumbio Kec. Kampar Prov. Riau)
Adanya hutan larangan adat bertujuan agar masyarakat melestarikan hutan bersama-sama , dimana terdapat
peraturan tak boleh melakukan penebangan pohon di hutan dan apabila peraturan tersebut dilarang maka pelaku
akan dikenakan sanksi berupa denda dengan beras 100 kg atau uang senilai Rp 6.000.000,-
Cingcowong (Sebagian besar wilayah Jawa Barat)
Cingcowong adalah upacara adat yang dilakukan untuk meminta hujan, dan upacara ini dilakukan masyarakat
Luragung secara turun temurun agar tetap lestari.
PENUGASAN 2
Tugas:
Presentasikanlah Lembar Kerja 1 yang diberikan pada pertemuan
sebelumnya berupa PPT !
Pengaruh Identitas Kelompok
Bahan untuk Guru: Tujuan Pembelajaran:
"Lagu Profil Pelajar Pancasila"
3JP https://youtu.be/fHUIYAKRYns
Jumat, 30 "Apa itu profil pelajar pancasila:
September berkebhinekaan global?"
https://youtu.be/3acQoqgS8-4
2022 :"Apa itu identitas kelompok?"
https://youtu.be/WcQnV36NaHQ
Persiapan
1.Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
2.Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
3.Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:berkebhinekaan global?"
4.Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:berkebhinekaan global?"
5.Guru membekali diri dengan pengetahuan akan identitas kelompok berdasarkan
tayangan video "Apa itu identitas kelompok?"
6.Guru mempersiapkan kartu bemain peran dan memahami cara bermain peran sebagai
bentuk implementasi identitas kelompok.
Pelaksanaan
1.Guru membagi peserta didik menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok akan diberi satu
kartu role play yang tidak boleh diketahui oleh kelompok lainnya. (Penjelasan cara
bermain ada di halaman selanjutnya)
2.Setelah selesai bermain peran, guru merangkum seluruh tebakan peserta didik pada saat
bermain,, misalnya pada peran kelompok rock dapat ditebak dari simbol tangan, gaya
bernyanyi, dan lagu yang dibawakan. Ciri khas setiap kelompok yang dimainkan oleh
setiap anggota dapat membuat orang lain mengenali kelompok tersebut. Ini merupakan
analogi bahwa identitas kelompok atau identitas budaya dapat mempengaruhi identitas
diri tiap orang di dalam kelompok tersebut, sebaliknya identitas diri juga dapat
mencerminkan identitas kelompok yang melekat padanya.
3.Guru kemudian mengantar peserta didik untuk mengenali identitas kelompok yang
melekat pada diri dengan beberapa pertanyaan berikut:
Hal apa yang melekat pada dirimu yang mencerminkan identitas kelompokmu? (jika
terkait kelompok suku maka bisa jadi logat bicara, aksesoris yang dipakai, dlsb. Jika
terkait kelompok agama bisa jadi yang muncul adalah simbol keagamaan seperti tasbih,
salib, atau gaya berpakaian, seperti kerudung, dlsb. Jika terkait kelompok olahraga atau
hobi tertentu tercermin pada sepatu yang digunakan, dlsb.)
Ceritakan bagaimana proses identitas kelompok itu dapat melekat pada dirimu. (Apakah
kebiasaan di rumah atau terinspirasi kelompok tertentu)
Tugas:
Guru meminta peserta didik untuk memetakan identitas dirinya dan identitas
sosial yang melekat padanya dengan melengkapi lembar kerja pemetaan
identitas diri “Siapakah Aku?” Lembar Kerja 2 dibawa di pertemuan
selanjutnya.
3JP
Jumat, 30
Drama MiniSeptember
2022j
Cara Bermain:
1.Bagi peserta didik menjadi 6 kelompok
2.Setiap kelompok mendapat satu kartu peran kelompok yang akan dimainkan, kartu ini tidak boleh
diketahui oleh kelompok lain
3.Peserta didik diberi waktu + 15 menit untuk mempersiapkan kelompok untuk memainkan peran kelompok
yang didapat. peserta didik dibebaskan untuk mengekspresikan peran dengan mengatur gaya rambut, gaya
berpakaian, tarian, atau nyanyian yang menunjukkan ciri khas dari peran tersebut
4.Setelah waktu persiapan selesai, setiap kelompok menampilkan peran mereka di depan kelas. Setelah
selesai, kelompok lain menebak peran apa yang baru saja dimainkan disertai dengan alasannya
5.Setelah seluruh kelompok tampil, guru bersama peserta didik mengapresiasi seluruh penampilan dengan
tepuk tangan bersama
Hal yang perlu diperhatikan:
1.Ketika kelompok lain menebak peran kelompok yang tampil beserta alasannya, guru sebagai fasilitator
bertanya kembali apakah betul alasan yang diberikan sudah pasti menjadi ciri khas / identitas kelompok
tertentu, misal:
a.“Apa benar jika gaya mengangguk-anggukkan kepala mengikuti instrumen musik sembari menjulurkan
lidah sudah pasti kelompok rock?”
b.Ada tidak orang yang menikmati musik dengan mengangguk-anggukkan kepala sambil menjulurkan
lidah tapi bukan kelompok rock?
c.Apakah semua anggota kelompok rock selalu menganggukkan kepala dan menjulurkan lidah?
d.Bagaimana tanggapan kelompok lain?
2.Guru menutup kegiatan dengan penguatan bahwa prasangka bisa terbentuk dari ciri khas / citra yang
dibawakan. Untuk itu, demi menghindari diri dari prasangka atau bias, yang perlu dilakukan adalah
menanyakan langsung dari sumbernya bukan menciptakan asumsi atau prasangka.
Materi
1.Identitas Individu
2.Identitas Kelompok
Pengertian Individu
Individu berasal dari kata in-dividere yang berarti tidak dapat dibagi-bagi (atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri
sendiri, atau manusia perseorangan. Individu yang dimaksud adalah insan (manusia), aristoteles berpendapat bahawa
manusia merupakan penjumlahan dari kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri seperti kemampuan-
kemampuan vegetatif (makan dan berkembang biak), kemampuan sensitif (bergerak, bernafsu, perasaan dan mengamati) dan
kemampuan intelektif (kecerdasan).
Lain halnya degan pendapat descartes, bahwa manusia terdiri atas zat rohaniah ditambah zat materil. Akan tetapi, willhem
wuntt menegaskan bahwa jiwa manusia itu materil merupakan suatu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan sebagai
keseluruhan. Individu dalam hal ini merupakan konsep sosiologi yang berarti bahwa konsep individu tidak boleh diartikan
sama dengan konsep sosial. Individu itu memiliki arti yang agak belainan. Jika dalam kehidupan sehari-hari individu
menunjuk pada pribadi orang, sedangkan dalam sosiologi individu menunjuk pada subjek yang melakukan sesuatu, yang
mempunyai pikiran, yang mempunyai kehendak, kebebasan, memberi arti (meaning) pada sesuatu, yang mampu menilai
tindakan dan hasil tindakannya sendiri.
Dengan kata lain, individu adalah subjek yang bertindak (aktor), subjek yang melakukan sesuatu hal, subjek yang memiliki
pikiran, subjek yang memiliki keinginan, subjek yang memiliki kebebasan dan subjek yang memberi arti (meaning). Pada
pengertian idividu sebagai konsep sosiologi, pengertian subjek menunjuk pada semua keadaan yang berhubungan dengan
dunia internal manusia. Sedangkan konsep objek tidak teralu berbeda jauh artinya dari yang diartikan dalam ilmu-ilmu alam,
seperti batu, air dan semua benda umumnya. Secara biologis, pengaruh gen yang diwariskan orang tuanya atau bahkan
leluhur sebelumnya sangat mempengaruhi kelahiran individu. Untuk melahirkan individu yang normal, selain dipengaruhi
oleh gen juga sangat tergantung pada kondisi yang sehat di tempat calon individu itu dilahirkan. Kondisi sehat yang
dimaksud adalah kondisi pranatalis di dalam rahim ibu.
Pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya sangat dipengaruhi oleh berbagai masukan dari lingkungan
sekitarnya. Salah satu lingkungan yang sehat adalah lingkungan pendidikan, melalui pendidikan individu dapat terbina dan
terlatih potensinya. Nursid sumaatmadja (1998) menyatakan bahwa “kepribadian merupakan keseluruhan prilaku individu
yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fisikal yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi
lingkungan yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental-psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari
lingkungan”.
Bagan proses pembentukan individu menjadi pribadi
Pada hakikatnya manusia adalah mahluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesama
manusialain di dalam mejalani kehidupan. Freedman (1962 : 112) menyatakan bahwa manusia merupakan mahluk yang tidak
dilahirkan dengan kecakapan untuk “immadiate adaptation to environment” atau kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan segera terhadap lingkungan. Naluri manusia untuk selalu brhubungan dengan sesamanya ini dilandasi oleh alasan-
alasan sebagai berikut:
1. Keinginan manusia untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat).
2. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekelilingnya.
3. Naluri manusia untuk selalu hidup dengan yang lainnya disebut sebagai “gregariousness”.
Pengertian Kelompok sosial
Lahirnya kelompok sosial disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk berhubungan, tapi tidak semua hubungan tersebut
dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Soerjono soekanto (1982 : 111) mengemukakan beberapa persyaratan terbentuknya
kelompok sosial, yaitu :
1. Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan lainnya dalam kelompok.
3. Adanya suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok yang bersangkutan yang merupakan unsur pengikat
atau pemersatu. Faktor tersebut dapat berupa nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama ataupun ideologi
yang sama.
4. Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Mac iver (1961 : 213) kelompok sosial adalah : “kelompok sosial terbentuk melalui proses interaksi dan sosialisasi, dimana
manusia berhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan
memiliki kebersamaan untuk tolong menolong”.
Proses yang berlangsung dalam kelompok sosial adalah “proses sosialisasi”. Buhler (1968 : 172) menyatakan bahwa proses
sosialisasi adalah “proses yang membantu individu dalam kelompok melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana cara
hidup dan berfikir kelompoknya agar ia dapat berperan serta berfungsi bagi kelompoknya”.
Berdasarkan pengalaman dalam kelompok, manusia mempunyai sistem tingkah laku (behavior system) yang dipengaruhi
oleh watak pribadinya. Sistem prilaku ini yang akan membentuk suatu sikap (attitude)
Lembar Kerja 2
Identitas Diri dan Kelompok
2 JP, Materi untuk Guru: Tujuan Pembelajaran:
Rabu, 5 peserta didik mampu
Oktober "Lagu Profil Pelajar Pancasila" mengenali dan
https://youtu.be/fHUIYAKRYns mengidentifikasi bentuk
2022 "Apa itu profil pelajar pancasila: kreatif?"
https://youtu.be/3acQoqgS8-4
“Kethoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya 1 (TIDAK) mati” sebuah kelompok
https://www.youtube.com/watch?v=r_yMfE0hTXE
Video untuk peserta didik:
Kisah Sadiman, Pejuang Lingkungan Tanami Bukit Gundul
Selama 24 Tahun | Cerita Kita tvOne - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=d8d9jB6IDBg
https://www.youtube.com/watch?v=dMen-u7Jnu8
Persiapan
Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:kreatif?"
Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:kreatif?"
Pelaksanaan
Guru melihat dan memberi masukan atas lembar kerja 2 peserta didik, kemudian
menceritakan bahwa identitas diri dapat dipengaruhi oleh orang terdekat, seperti
keluarga, teman, tetangga, dlsb.
Setelah selesai, peserta didik diminta untuk menyimpan lembar kerja 2 dengan baik atau
mendokumentasikan lembar kerja tersebut agar dapat dipakai kembali pada kegiatan
berikutnya.
Guru mengajak peserta didik untuk memetakan identitas kelompok di mana ia
bergabung, misalnya: tim paskibra, basket, teman bermain dan mengerjakan tugas
bersama, bahkan teman yang sering kumpul bersama di warung depan sekolah (peserta
didik memilih satu kelompok saja)
Di dalam kegiatan ini terdapat pertanyaan pemantik, seperti:
a.Siapa saja anggota dalam kelompok tersebut?
b.Apa kekuatan / potensi / kelebihan yang dimiliki teman
c.Bahasa apa yang sering digunakan? Jargon apa yang sering muncul?
d.Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama-sama, relasi seperti apa yang dibangun?
e.Apakah ada tantangan yang pernah dihadapi bersama-sama? Misalnya lomba,
pertandingan, mengerjakan tugas bersama dlsb.
Setelah selesai, guru kemudian menceritakan bahwa sebuah kelompok dapat
membentuk budaya yang dibutuhkan oleh kelompok itu sendiri, lalu mengajak peserta
didik untuk melihat identitas kelompok masyarakat tersebut. (Ketoprak Tobong)
Guru bersama dengan peserta didik merefleksikan video yang telah ditonton dalam
bentuk Lembar Kerja 3.
Penugasan 3
Reflesikan tayangan video Kethoprak Tobong!
Lembar Kerja 3
Identitas Diri dan Kelompok
3 JP, Materi untuk Guru dan Siswa: "Lagu Profil Tujuan Pembelajaran:
Kamis 6 Pelajar Pancasila" peserta didik mampu
Oktober 2022 https://youtu.be/fHUIYAKRYns mengidentifikasi kekuatan
"Apa itu profil pelajar pancasila: bernalar kritis?"
https://youtu.be/3acQoqgS8-4 kelompoknya.
Persiapan
Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:bernalar kritis?"
Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:bernalar kritis?"
Pelaksanaan
1.Guru mereview bahwa kekuatan kelompok sangat dipengaruhi oleh kekuatan diri dan
kekuatan diri dapat membentuk budaya yang menjadi ciri khas sebuah kelompok.
2.Guru mengajak peserta didik untuk bekerja berkelompok (lebih kurang 6 orang) dan
mendiskusikan kekuatan diri setiap anggota kelompok dalam Lembar Kerja 4.
3.Guru memfasilitasi peserta didik untuk berdiskusi dan memberi contoh cara pengisian
Lembar Kerja 4.
4.Guru mendorong peserta didik untuk merumuskan kata-kata penyemangat atau jargon
yang dibutuhkan oleh kelompok tersebut dan menjadi pendorong kelompok untuk
bekerjasama dan bersinergi. (Biarkan peserta didik berkreasi menciptakan jargon mereka
sendiri, izinkan peserta didik mencari referensi beberapa kalimat/kata penyemangat dari
orang-orang terkenal).
5.Setelah selesai, guru kemudian menceritakan bahwa hasil kerja kelompok tersebut akan
dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya.
Bahan: Lembar kerja Kekuatan Kelompok (LK 04) alat tulis, alat warna
Peran Guru: Narasumber dan Fasilitator
Lembar Kerja 4
3 JP, Identitas Diri dan Kelompok 3
Kamis Materi Guru dan Siswa "Lagu Profil Pelajar
6 Oktober 2022 Pancasila"
https://youtu.be/fHUIYAKRYns
"Apa itu profil pelajar pancasila: Tujuan Pembelajaran:
peserta didik mampu mengidentifikasi
berkebhinekaan global?"
kekuatan kelompoknya.
https://youtu.be/3acQoqgS8-4
Persiapan
Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:berkebhinekaan global?"
Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:berkebhinekaan global?"
Pelaksanaan
1.Guru meminta setiap kelompok untuk mepresentasikan hasil diskusi mereka dengan
menunjukkan Lembar Kerja 4 "Kekuatan Kelompok".
2.Guru meminta semua peserta didik mendengarkan dan mengapresiasi presentasi
kelompok lain.
3.Guru memberikan penguatan.
4.Guru mengingatkan peserta didik untuk mengisi jurnal kegiatan seperti contoh pada file
berikut:
3JP Tantangan di Sekitarku Tujuan Pembelajaran
Jumat, 7 peserta didik merasakan
Oktober Materi Guru dan Siswa atau mengalami langsung
"Lagu Profil Pelajar Pancasila" tantangan / masalah yang
2022 https://youtu.be/fHUIYAKRYns terjadi di sekitarnya
"Apa itu profil pelajar pancasila: kreatif?"
https://youtu.be/3acQoqgS8-4
Persiapan
Guru bersama siswa mengulas kembali tentang keyakinan kelas.
Guru bersama siswa menyanyikan lagu "Profil Pelajar Pancasila"
Guru mengajak siswa untuk menyimak video tayangan apa itu "Profil Pelajar
Pancasila:kreatif?"
Guru bersama siswa melakukan tanya-jawab terkait tayangan video "Profil Pelajar
Pancasila:kreatif?"
Pelaksanaan
1.Di dalam kelas, guru mengajak peserta didik untuk mengingat kembali masalah apa yang
terjadi di sekitarnya yang paling meresahkan baginya.
2.Peserta didik diminta menuliskannya pada Lembar Kerja 5.
3.Setelah itu, guru meminta siswa bekerja berkelompok kemudian mengajak peserta didik
untuk pergi ke area luar kelas dan sekitar sekolah untuk merasakan tantangan atau masalah
yang terjadi di lingkungan sekitar sekolah dengan menggunakan inderanya.
4.Peserta didik diminta untuk mendokumentasikan tantangan atau masalah yang dirasakan.
5.Setelah selesai, seluruh peserta didik kembali ke kelas, melengkapi catatan lembar kerja
6.Guru mengingatkan peserta didik untuk menyimpan lembar kerja tersebut agar dapat
dipakai pada kegiatan berikutnya.
7.Pada pertemuan selanjutnya, guru meminta setiap kelompok untuk mpresentasikan hasil
temuan mereka.
●8.Guru mengingatkan peserta didik untuk mengiri jurnal kegiatan .
Tips:
Ketika melakukan pengamatan di luar sekolah ajak peserta
didik untuk fokus pada inderanya, misalnya: saat ingin fokus
pada indera pendengaran, tutuplah mata dan fokus pada
apa yang terdengar. Minta teman kelompok untuk
menemani proses ini agar tidak membahayakan diri di jalan
sekitar sekolah
Tugas:
Guru meminta peserta didik untuk melakukan refleksi pada lembar “Sungai Rasa”
LEMBAR KERJA 5
Refleksi Sungai Rasa
Sungai rasa adalah wadah releksi untuk tahap
TEMUKAN.
BAYANGKAN
Menelusur Warisan Masa Lampau
36JP Materi Guru dan Siswa Tujuan Pembelajaran:
Jumat, "Lagu Profil Pelajar Pancasila" peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk kearifan lokal
7 Oktober 2022 https://youtu.be/fHUIYAKRYns
"Apa itu profil pelajar pancasila: yang ada di wilayahnya
kreatif?" peserta didik mengalami langsung bentuk kearifan lokal yang
https://youtu.be/3acQoqgS8-4
ada dan bagaimana struktur geografi, demografi, dan psikografis di sekitarnya
peserta didik menemukan kekuatan atau potensi masyarakat
peserta didik mampu mengidentifikasi masalah yang ada
Persiapan
1.Guru menyiapkan beberapa alternatif tempat yang bisa dijadikan obyek observasi dan
pengambilan data, misalnya: batik ke sentra industri batik Laweyan/Kauman, keris di Alun-alun,
jumputan, gamelan, sentra produksi rambak/abon di Jagalan, pembuatan srabi, seni tari di
Kraton, arsitektur yang dianggap peninggalan (heritage) atau home industry, cerita rakyat lain
yang memiliki nilai kearifan lokal.
Pelaksanaan
2.Guru meriviu pembelajaran sebelumnya. “Anak-anak, pada pertemuan sebelumnya, kalian
telah belajar bagaimana mengenali identitas diri, identitas kelompok serta kekuatannya. Kalian
juga sudah berlatih menemukan tantangan/masalah di lingkungan sekolah yang meresahkan
menggunakan panca indera kalian”. “Pembelajaran minggu lalu merupakan bekal bagi kalian
untuk mulai melakukan survey keluar lingkungan sekolah”.
2.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran proyek minggu ke 4 bulan November ini. (lihat
kanan atas) Guru menyampaikan bahwa setiap kelompok berdiskusi dan menyepakati bentuk
kearifan lokal dan tempat yang dikunjungi. (Peserta didik diminta untuk menuliskan asumsi
tentang identitas kelompok masyarakat yang dituju sebelum berangkat.) (Guru memberikan LK
06/Lembar Pengamatan dan menjelaskan cara mengisinya.)
3.(sesuai jadwal sesi) Peserta didik melakukan survey ke lokasi. Selama observasi peserta didik
diminta untuk mencari tahu tujuan atau manfaat dari kearifan lokal yang ditemukan,
mengonfirmasi asumsi di awal, dan mendokumentasikannya dengan lengkap. Guru fasilitator
yang mengajar pada jadwal wajib memonitor siswanya.
Catatan: Tips:
Tempat yang dipilih memiliki beragam budaya lokal / pengetahuan lokal Jika di dekat sekolah ditemui
kelompok masyarakat yang
yang mengatur hubungan antar sesama manusia, manusia dengan menjalankan bentuk kearifan lokal
Tuhan, dan manusia dengan semesta. secara turun temurun maka tidak
diperlukan perjalanan jauh.
Arahkan peserta didik untuk
survey ke tempat yang visible dan
doable, (dekat, irit, mudah
dijangkau) yaitu tempat yang
memiliki budaya atau
pengetahuan lokal di lingkungan
dekat sekolah atau lingkungan
rumah peserta didik dengan
kriteria destinasi seperti pada
catatan.
2JP Benang Merah Keberlanjutan
Rabu, 12
Oktober -peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk kearifan lokal yang ada di
wilayahnya beserta fungsinya bagi masyarakat
2022 -peserta didik mampu menganalisis bentuk kearifan lokal yang ada dan
bagaimana hubungannya dengan struktur geografi, demografi, dan psikografis di
sekitarnya
-peserta didik mampu mengkritisi kekuatan atau potensi masyarakat
-Peserta didik mampu menemukan tantangan/masalah terkait kearifan
lokal/tempat yang dikunjungi
Persiapan
Guru Pengampu Proyek perlu melihat kembali video di link berikut.
https://www.youtube.com/watch?v=4asJhKcvx_Y
Pelaksanaan
1.Guru meminta peserta didik untuk mengidentifikasi bentuk kearifan lokal yang ditemukan
dan hubungannya dengan kondisi masyarakat, kondisi sumber daya alam, dan sumber daya
lokal. Beberapa pertanyaan yang dapat dipakai:
a.Temukan apakah bentuk kearifan lokal tersebut bersifat ritual dan spritual?
b.Apakah bentuk kearifan lokal tersebut bertujuan untuk menjaga sumber daya alam atau
sumber daya lokal yang tersedia? Bagaimana kearifan lokal ini dapat meningkatkan
kesejahteraan penduduk lokal?
c.Apa nilai-nilai yang ingin dibangun dari kearifan lokal tersebut?
2.Peserta didik diminta melakukan identifikasi selengkap-lengkapnya berdasarkan hasil
wawancara dan temuan langsung di lapangan. (Lengkapi LK 03/Catatan Pengamatan dan
kumpulkan. (SELASA)
3.Setelah menuliskan seluruh temuan pada lembar kerja LK 03, guru mengajak peserta didik
untuk menganalisis bentuk kearifan lokal dan membuka lembar kerja selanjutnya. (Lengkapi
LK 04/Benang Merah) (RABU)
4.Peserta didik diminta untuk mengidentifikasi apakah ada tantangan/masalah yang ditemui
atau yang dirasakankurang nyaman/meresahkan oleh peserta didik saat kunjungan.
(Lengkapi LK 05/Tantangan yg ditemukan di lokasi) (KAMIS)
Tips:
Arahkan peserta didik untuk jeli mengamati
dan menemukan fakta di lapangan. Selain itu
pertajam analisa peserta didik untuk
menemukan masalah/tantangan yang
ditemukan saat kunjungan. Biarkan peserta
didik menjelaskan masalah/tantangan
tersebut berdasar data yang diperoleh, gali
sumber-sumber yang diperoleh sewaktu
wawancara. Jangan terburu-buru mengajak
siswa untuk menemukan solusi.
LEMBAR KERJA 4
LEMBAR KERJA 5
3JP Kondisi Impian
Kamis, 13
Oktober 2022 Tujuan Pembelajaran:
-peserta didik mampu menuliskan /
menggambarkan kondisi ideal / harapan terkait
tantangan / masalah yang ia temui (mengacu
pada LK 05/Tantangan)
Pelaksanaan
1.Guru mengajak peserta didik untuk mengingat kembali kegiatan sebelumnya dengan
beberapa pertanyaan pemantik seperti berikut:
a.Bagaimana perasaanmu setelah menemukan bentuk kearifan lokal yang ada di wilayahmu?
b.Pikiran apa yang muncul setelah melihat hubungan antara kearifan lokal dan fungsinya
terhadap masyarakat?
1.Setelah itu, peserta didik diminta untuk membayangkan dan menggambarkan kondisi ideal
atau harapan terkait tantangan yang pernah ia rasakan dan bentuk kearifan lokal yang
ditemui. Beberapa pertanyaan pemantik yang dapat dipakai:
a.Bagaimana kondisi ideal atau impian yang kamu harapkan terjadi terkait dengan kearifan
lokal yang sudah kalian kunjungi?
b.Coba bayangkan bagaimana ekspresi wajah masyarakat dalam mimpimu tersebut?
Bagaimana interaksi antar makhluk hidup yang terjadi?
c.Lalu, bagaimana keadaan sumber daya alam (udara, air, tanah, tumbuhan, hewan, dlsb) dan
sumber daya lokal (budaya, sistem masyarakat, dlsb.) pada kondisi ideal itu?
d.Tuliskan kondisi ideal tersebut dalam sebuah paragraf/gambar/sketsa untuk dibagi ke kelas.
(Pertemuan selanjutnya)
Tips:
Saat menggambarkan kondisi ideal,
peserta didik diharapkan mencurahkan
ide/gagasannya.
Guru harus meyakinkan peserta didik
menyadari adanya KESENJANGAN antara
fakta yang ditemui beserta tantangannya
di lapangan dengan kondisi ideal/impian.
Kesenjangan inilah yang akan menjadi
dasar peserta didik untuk memunculkan
Aksi Nyata mereka pada tahap
selanjutnya.
3JP Sesi Berbagi
Jumat, 14
Oktober 2022 Tujuan Pembelajaran:
-peserta didik mampu berbagi visi
tentang kondisi ideal/impian mereka
-Peserta didik mampu memberikan
apresiasi dan tanggapan terhadap visi
kelompok lain
Pelaksanaan:
1.Guru mengajak peserta didik untuk duduk dalam posisi setengah lingkaran.
2.Setiap kelompok peserta didik membawa hasil karya visi yang menggambarkan kondisi
impian/ideal tiap kelompok dan menceritakannya kepada teman lainnya.
3.Setelah berbagi cerita, guru meminta kelompok lain untuk memberikan umpan balik dengan
memakai kartu kategori berikut ini dan menuliskan alasan mengapa kartu tersebut yang
diberikan:
Tugas: Tips untuk Guru:
Guru meminta peserta didik untuk melakukan refleksi pada -Ingatkan peserta didik bahwa
Gform.: https://forms.gle/vPJYmenMJWdZkH8i7 kartu tantangan bukan
' bertujuan untuk menjegal atau
merubah mimpi kelompok,
melainkan untuk membangun
kesadaran kritis akan kondisi
ideal yang diharapkan.
-Dokumentasikan hasil karya
peserta didik untuk dipakai
pada kegiatan berikutnya
REFLEKSI
LAKUKAN
“Aksi Pelestarian
Kearifan Lokal”
3JP Lestari Budaya Lokalku:
Jumat, 14 Identifikasi Potensi Diri & Kelompok
Oktober
Objektif:
2022 -peserta didik mampu mengidentifikasi potensi
diri dan kelompok di sekolah
Pelaksanaan:
1.Guru mengajak peserta didik untuk membuka kembali lembar kerja kegiatan 2 “Identitas Diri
dan Sosial”
2.Dari lembar tersebut guru meminta peserta didik di dalam kelompok untuk menuliskan
kembali kemampuan / keterampilan / kebisaan / hobi diri setiap anggota kelompok pada
lembar kerja yang baru
3.Peserta didik diminta untuk merajut identitas anggota kelompok menjadi potensi kelompok
Cerita Rakyat
Lestari Budaya Lokalku:
Menentukan Bentuk Aksi
2JP
Rabu, Tujuan Pembelajaran:
19 Oktober 2022 Peserta didik mampu menyadari/menentukan
aksi apa yang paling mungkin ia lakukan saat ini
dengan melihat potensi diri dan kelompok (aksi
tersebut mendukung harapan/kondisi idealnya
terwujud)
PERSIAPAN
1.Guru mempersiapkan bentuk-bentuk aksi yang dapat dilakukan oleh peserta didik,
misalnya merancang drama pertunjukan, poster, membuat lagu, membuat video, vlog,
membuat galeri foto, membuat komik, atau membuat produk.
PELAKSANAAN
1.Guru dan siswa menyepakati pementasan drama berdasarkan cerita rakyat sebagai aksi
besar.
2.Guru dan siswa membentuk kelompok yang terdiri atas 15-17 anggota (1 kelas dibagi
menjadi 2 kelompok besar)
3. Guru mengarahkan kelompok besar untuk menggali berbagai cerita rakyat yang ada di
Semarang dan belum banyak terekspos, mulai terlupakan, dan belum ada manuskripnya.
4. Siswa bersama kelompok besar menentukan beberapa cerita rakyat yang telah digali dari
sumber internet.
5. Siswa bersama kelompok besar menyepakati satu cerita rakyat untuk dijadikan
pementasan drama dengan menentukan jenis pementasan, antara lain:
Drama sendra tari
Drama musical bahasa inggris
Drama panggung Indonesia
6. Guru dan siswa menyepakati pembentukan kepanitiaan pementasaan, dengan tagihan
utama sebagai berikut:
naskah drama
naskah komik
pementasan
7. Guru dan siswa menyepakati pembentukan kepanitiaan terlampir.
TUGAS:
1.Carilah beberapa cerita rakyat Semarang yang belum terkekspos/ tidak
populer!
2. Tentukan satu cerita untuk digali lebih dalam dan catatlah poin-poin
penting dari cerita rakyat yang telah ditentukan!
Persiapan Pementasan
PRAPEMENTASAN
PEMENTASAN
PASCAPEMENTASANA
PRAPEMENTASAN
1.Membentuk Kepanitiaan
Produksi (dipimpin oleh pimpinan produksi/produser)
- Tugas Pimpinan Produksi:
a. Pimpinan produksi membentuk tim dan melakukan koordinasi tim
b. Membuat rencana dan jadwal kerja/latihan
c. Mengontrol pelaksanaan produksi
Tim produksi yang dibentuk pimpinan produksi terdiri atas:
- Sekretaris bertugas membuat surat perizinan dan menyusun dokumen pementasan.
- Bendahara bertugas melakukan pembukuan pendanaan produksi.
- Seksi dokumentasi bertugas menyediakan kebutuhan alat dan bahan dokumentasi .
- Seksi publikasi bertugas membuat rancangan media publikasi seperti poster.
- Seksi pendanaan/ sponsorship bertugas membuat proposal untuk penadanaan
pementasan
- Penata panggung bertugas merancang barang-barang pementasan.
- Penata kostum atau busana bertugas menyediakan dan merancang kostum serta
tambahan aksesoris pada kostum.
- Penata rias bertugas menata rias pemeran pementasan.
- Penata cahaya bertugas menyediakan dan menata cahaya (lighting).
- Penata bunyi bertugas menyediakan dan menata bunyi.
- Penata musik (sound) bertugas menyediakan dan menata sound.
Sutradara
- Tugas sutradara:
a. Buat naskah drama
b. Seleksi pemain
c. Buat jadwal latihan
Tim Konten Kreator
- Mengolah bahan mentah dari tim dokumentasi untuk dijadikan konten berupa:
a. Membuat jadwal posting
b. setiap hari membuat konten untuk di up di media sosial (foto atau video pendek)
c. Membuat poster pementasan
d. Membuat trailer pementasan
Tim Komik
- Tugas tim:
a. Koordinasi dengan tim naskah
b. Mengubah naskah drama menjadi komik
PEMENTASAN
1. Tim Produksi
Pimpinan produksi bertugas mengontrol jalannya pementasan dan menyelesaikan
masalah saat terjadi kesalahan pementasan.
Sekretaris bertugas mencatat dan mengarsipkan dokumen selama pementasan.
Bendahara bertugas mengelola pendanaan.
Tim dokumentasi merekam pementasan berlangsung.
Seksi pendanaan bekerja sama dengan ticketing dan bendahara terhadap keluar
masuknya dana.
Seksi konsumsi menyiapkan konsumsi saat pementasan.
Seksi keamanan mengatur kenyamanan penonton.
2. Tim Artistik
Sutradara mengawasi jalannya pementasan.
Pemeran melakukan peran sesuai naskah.
Penata panggung mengatur pergantian setting pementasan.
Penata cahaya menata sumber cahaya sesuai rencana dan disepakati sutradara.
Penata busana menata kostum/busana pemeran dan memperbaiki jika kostum rusak.
Penata rias menata riasan wajah pemeran dan memperbaiki riasan.
Penata bunyi bertugas mengatur dan menginstalasi sumber bunyi sesuai rencana.
Penata musik bertugas manata musik sesuai isi pementasan.
PASCAPEMENTASAN
1. Evaluasi Kerja
Evaluasi kerja dilakukan oleh pemimpin produksi dan dilakukan setelah penonton
pulang.
Dalam pelaksanaannya semua anggota mengemukakan kendala yang dihadapi dari pra
produksi sampai pasca produksi dan memberikan solusi.
Dalam evaluasi ini, seluruh tim menyampaikan laporan kerja tiap bidang atau divisi.
Kemudian, hasil evaluasi kerja menjadi catatan bersama agar pementasan selanjutnya
dapat lebih baik.
2. Evaluasi Pementasan
Evaluasi ini dilakukan dengan melihat apa kelebihan dan kekurangan selama
pementasan.
Kemudian, diwujudkan dalam tulisan evaluasi agar dibaca oleh tim pementasan.
The Magic of Book
Create your own
world inside the
book.
Lestari Budaya Lokalku: Tips untuk Guru:
Persiapan Aksi -Guru dapat menghadirkan
3JP narasumber terkait atau
Kamis,
20 Oktober memberikan kontak narasumber
(atas persetujuan narasumber)
2022 jika peserta didik membutuhkan
materi lebih terkait bentuk
kearifan lokal yang ingin
digaungkan.
Pelaksanaan
1.Guru mengajak peserta didik untuk mempersiapkan aksi pelestarian budaya lokal dengan
bimbingan narasumber dengan materi:
a. pementasan drama
b. Pembuatan komik
c. Pembuatan poster
d. Pembuatan trailer
2. Peserta didik diajak untuk membuat kesepakatan akan rancangan tahapan pengerjaan dan
timeline aksi
Tugas
Peserta didik mengerjakan persiapan aksi pelestarian
budaya lokal secara mandiri dengan teman kelompok, guru
bertugas mengecek laju aksi peserta didik.
Lestari Budaya Lokalku:
Wujudkan Aksi Nyata
Pelaksanaan
1.Tiap kelompok peserta didik menyelesaikan wujud aksi nyata mereka. Bentuk Aksi Nyata
sebenarnya bisa apa saja seperti kampanye, drama, poster, infografis, tarian atau
pertunjukan lain, namun setiap kelompok disarankan mendokumentasikan Aksi Nyata
tersebut dalam bentuk video untuk diunggah di youtube.
2.Guru memonitor perwujudan Aksi Nyata tersebut dan memberikan umpan balik. Mintalah
siswa mendokumentasikan kerja kelompok mereka baik daring maupun luring dalam
bentuk foto kegiatan luring atau screenshoot kegiatan daring sebagai presensi
pembelajaran hari Selasa, Rabu dan Kamis.
3.Rencana Panen Hasil/Pameran Aksi Nyata dilaksanakan minggu pertama bulan Oktober
dengan melihat situasi dan kondisi sesuai yang diatur oleh Dinas Pendidikan Provinsi.
Tugas:
Guru meminta peserta didik untuk mengumpulkan rencana Aksi Nyata. (bisa
berupa proposal sederhana berupa word atau ppt )
REFLEKSI LAKUKAN
Create your own world inside the book.