menyembahnya akan dibunuh dengan kejam (Why 13:11-18).
Daniel 9:27 mengatakan: "....pada pertengahan tujuh masa itu ia
akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan ..."
Raja itu membatalkan atau memutuskan perjanjian. la berani
menghujat Allah dan berperang melawan umat Allah. Bahkan ia
memproklamirkan dirinya sebagai allah di bait Allah (2 Tes 2:1-12,
1 Yoh 4:2-3)
5. Pengangkatan Gereja yang Sempurna (Rapture atau
Parousia)
Seperti telah diuraikan pada bagian terdahulu (teori rapture)
bahwa ada beberapa teori (pendapat) di kalangan gereja-gereja
Pentakosta. Masing-masing mempunyai ayat pendukung atau
bahkan ayat yang sama namun diartikan secara berbeda. Misalnya:
Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) menganut paham pretribulasi
yaitu gereja yang sempurna akan diangkat sebelum masa tujuh
tahun pemerintahan Antikristus di dunia. Gereja Pantekosta di
Indonesia (GPdl) menganut paham midtribulasi yaitu Gereja yang
sempurna akan disingkirkan (tidak diangkat, berarti masih di
bumi ini) sehingga tidak akan mengalami masa aniaya besar (Why
12:1-6). Dalam buku yang ditulis Dr. H. L. Senduk terdapat
pernyataan yang mengarah kepada paham midtribulasi,
"Kedatangan ini berlaku sebelum Antikristus menguasai dunia
untuk 3 1/2 tahun lamanya. Inilah yang disebut 'keangkatan'
(rapture)". Yang dimaksud yaitu Gereja yang sempurna diangkat
dan bertemu Yesus di udara. Tetapi Gereja yang tertinggal akan
mengalami masa aniaya besar. Namun ada pendapat bahwa Gereja
akan masuk ke dalam masa aniaya itu, hanya pada saat terakhir
ketika cawan murka Allah dituangkan barulah Gereja diangkat
(Why 16). Pendapat yang terakhir ini menganut paham
posttribulasi. Bahkan pendapat yang lebih ekstrim yaitu Gereja
tidak akan diangkat ataupun disingkirkan dan harus mengalami
penderitaan pada masa Antikristus memerintah.
Di manakah posisi GBI? Dalam ajaran tentang kedatangan Kristus
Pengajaran Dasar GBI - Kedatangan Kristus Kedua Kali 147
kembali (kedua kali) GBI menganut paham premilenium-
dispensasional. Artinya kita yakin bahwa kedatangan Kristus
kedua kali akan terjadi dalam dua tahap. Hal ini sama dengan apa
yang diajarkan oleh gereja mitra kita, Church of God yang adalah
gereja Pentakosta tertua dan terbesar di Amerika dan di dunia.
Dalam Declaration of Faith artikel 13 dinyatakan: "We believe in
the premillenial second coming of Jesus. First, to resurrect the
righteous dead and to catch away the living saints to Him in the air.
Second, to reign on the earth a thousand years." (Kami percaya
kedatangan Yesus yang kedua kali dengan paham premilenial.
Pertama, untuk membangkitkan orang benar dan mengangkat
orang-orang kudus-Nya yang masih hidup untuk bertemu Dia di
udara. Kedua, untuk memerintah selama seribu tahun di bumi ini).
Tetapi yang harus segera ditambahkan bahwa kita tidak perlu
melanjutkannya sampai kepada hal yang lebih rinci (detail), yaitu
soal waktu akan terjadinya pengangkatan Gereja. Mengapa?
Karena sesungguhnya tidak seorang pun yang mengetahui saatnya
(Mat 24:36, Kis 1:7). Tidak ada ayat Alkitab yang menyebutkannya
secara tegas dan jelas. Yang ada ialah penafsiran manusia atas ayat
tertentu. Dan tafsiran manusia, apalagi tentang hal yang akan
datang, bisa saja meleset dan salah. Jadi GBI sekali lagi menganut
paham premilenium dispensasional namun tidak menekankan
kepada teori pengangkatan (rapture) yang mana pun. Karena teori
dan tafsiran tersebut bersifat spekulatif.
6. Setelah Pengangkatan Gereja ke Sorga, maka akan Terjadi
Dua Peristiwa di Sorga
a. Kursi pengadilan Kristus. Mereka yang diangkat akan
menghadap Kristus bukan untuk dihukum, tetapi untuk
menerima pahala sesuai dengan perbuatannya (Rom 14:10-
12, 2 Kor 5:10, Ibr 9:27). Semua pekerjaan kita akan diuji
dengan api Tuhan sehingga nyata kualitasnya (1 Kor 3:12-
13).
b. Pesta perkawinan Anak Domba Allah. Sebelum Yesus datang
kembali dengan awan-awan kemuliaan-Nya maka terjadi
148 Pengajaran Dasar GBI - Kedatangan Kristus Kedua Kali
dahulu pesta perkawinan Anak Domba Allah. Inilah
persekutuan sempurna antara Yesus dengan Gereja-Nya (Ef
5:22-33, Why 19:1-9).
7. Sebaliknya dari Hal di Atas Setan Dicampakkan ke Bumi
dengan Segala Malaikatnya
(Why 12:9). Inilah zaman kerajaan setan yang nyata atas seluruh
dunia dalam pemerintahan Antikristus dan nabi palsu (Why 13:1-
18), selama 3 1/2 tahun (Why 12:6,14, 13:5). la mengadakan
banyak tanda dan mujizat serta menyesatkan banyak orang (1 Tes
2:9,10). Dalam masa ini Tuhan mengirim 2 orang saksi-Nya (Musa
dan Elia) untuk menguatkan iman bangsa Israel dan orang Kristen
yang tertinggal (Why 11:1-14, Mat 25:10-13, 24:40-41).
8. Pada Bunyi Sangkakala Malaikat yang Ketujuh, Sorga
Terbuka dan Tuhan Yesus Datang dengan Tentara Sorga
Menunggangi Kuda Putih untuk Membinasakan
Antikristus dan Tentaranya dalam Perang di Harmagedon
(Why 16:12-16, 19:11-21).
Inilah kedatangan Tuhan yang nyata dalam kemuliaan-Nya,
bersama Gereja-Nya dan disaksikan oleh segala bangsa (Mat
24:27-31). Antikristus dan nabi palsu dilemparkan ke dalam
lautan api (Why 19:20- 21).
9. Tuhan Yesus Mendirikan Kerajaan 1000 Tahun Damai di
Bumi ini
Dia akan memerintah segala bangsa dari Yerusalem, memerintah
bersama orang percaya (Why 2:26-27, 5:10, 20:4, Rom 8:17-18).
Iblis dirantai dalam jurang maut selama hampir 1000 tahun (Yer
3:17, Zak 14:9, Why 20:2-3). Selama waktu itu ia tidak mempunyai
pengaruh terhadap umat manusia. Periode itu merupakan masa
damai di bawah otoritas Kristus, dan tidak ada lagi perang (Yes 2:2-
4). Akan ada kemakmuran dan kelimpahan di bidang ekonomi (Yes
Pengajaran Dasar GBI - Kedatangan Kristus Kedua Kali 149
30:23-26). Kelemahan isik dan sakit penyakit akan dilenyapkan,
dan manusia akan menikmati usia yang lebih panjang (Yes 35:3-6,
65:20, Yeh 47:12). Kristus mendatangkan keadilan dan kehidupan
sosial yang sempurna (Yes 65:21-23, 66:13). Yerusalem akan
menjadi kota kudus, dan semua bangsa akan datang menyembah
TUHAN (Zak 14:16-21). Yesus Kristus dan umat-Nya akan
memerintah dalam kebenaran dan damai sejahtera. Dalam
kerajaan ini tidak ada dosa, penyakit dan kematian.
10. Hukuman Akhir dan Dunia Baru. Mendekati Akhir
Kerajaan 1000 Tahun, Iblis akan Dilepaskan Seketika dan
Terjadilah Perang Terakhir Melawan Kristus, Tuhan dan
Raja.
Iblis akan menyesatkan bangsa-bangsa untuk memberontak.
Mereka disebut sebagai Gog dan Magog (Why 20:7-8, Yeh 38-39). la
dikalahkan dan dicampakkan ke lautan api selamanya (Why 20:9-
10). Kemudian akan ada penghakiman tahta putih yang besar
(Why 20:11-15). Terjadi pula kebangkitan yang kedua. Semua
orang yang namanya tidak tercantum dalam buku kehidupan akan
dibangkitkan dan dihukum selamanya (Why 20:11-15). Akhirnya,
Allah akan menciptakan langit dan bumi baru bagi umat-Nya yang
telah ditebus dan diselamatkan dengan darah Anak-Nya sendiri
(Why 21:1-27).
E. YANG PATUT DITEKANKAN
Keyakinan yang teguh bahwa kedatangan Kristus kembali pasti
digenapi (Mat 24:35, 2 Pet 3:8-9, Bil 23:19). Apalagi janji itu tidak
hanya disampaikan malaikat (Kis 1:14), tapi diucapkan sendiri
oleh Yesus (Yoh 14:2-3). Tentang ajaran ini, GBI menganut paham
premilenium dispensasional (yaitu kedatangan Yesus kembali
yang meliputi dua tahap), namun tidak menekankan kepada teori
pengangkatan mana pun. Itulah sebabnya GBI menolak upaya
menghitung dan menetapkan saat kedatangan Yesus kembali.
Ajaran ini menyesatkan, karena Alkitab dengan tegas menyatakan
150 Pengajaran Dasar GBI - Kedatangan Kristus Kedua Kali
bahwa tidak seorang pun yang tahu, hanya Bapa sendiri (Mat
24:36, Kis 1:7).
Adalah lebih bertanggung jawab untuk mengajarkan dan
menekankan hal-hal yang diperintahkan Yesus sambil kita
menantikan kedatangan-Nya kedua kali. Perintah dan ajaran Yesus
yaitu:
Ÿ Bertahan sampai kesudahan dan hidup dalam kasih (Mat
24:12-13).
Ÿ Memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Mat 24:14).
Ÿ Berjaga-jaga (dan berdoa) serta siap sedia (Mat 24:42,44).
Ÿ Melakukan tugas yang diberikan tuannya (Mat 24:46) sambil
menjalin kebersamaan dan kerja sama di antara para hamba
(Mat 24:49-51).
Keyakinan yang sekaligus merupakan pengharapan yang penuh
bahagia ini tidak boleh membuat GBI melepas tanggung jawabnya
pada masa kini untuk menjadi terang dan garam dunia (Mat 5:13-
16). Gereja harus menjadi berkat dan mendatangkan transformasi.
"Layanilah Tuhan Yesus hari ini (dengan penuh kasih) seperti baru
kemarin kita diselamatkan (karena iman) dan besok Kristus
segera akan datang kembali (itulah pengharapan kita).
Pengajaran Dasar GBI - Kedatangan Kristus Kedua Kali 151
12
KEBANGKITAN ORANG MATI
Salah satu Pengakuan Iman GBI yang tercantum dalam Tata Gereja
GBI tertulis sebagai berikut:
"Pada akhirnya semua orang mati akan dibangkitkan. Orang benar
akan bangkit pada kebangkitan yang pertama dan menerima
hidup yang kekal, tetapi orang jahat akan bangkit pada
kebangkitan yang kedua dan menerima hukuman selama-
lamanya”.
A. PENDAHULUAN
Gereja Bethel Indonesia adalah gereja yang secara fundamental
memercayai bahwa semua orang mati akan dibangkitkan, bukan
sekedar kebangkitan dalam pengertian rohani, tetapi secara
hara iah dan isik.
Dasar kebangkitan orang percaya tentunya adalah kebangkitan
Kristus, sebab "la menjadi yang sulung dari kita sekalian" (1 Kor
15:20). Yesus berkata bahwa la adalah kebangkitan dan hidup (Yoh
11:25). Itu sebabnya Ayub berkata, "Tetapi aku tahu: Penebusku
hidup, dan akhirnya la akan bangkit di atas debu" (Ayub 19:25).
Pernyataan ini sekaligus bisa pula menjadi penghiburan bagi orang
percaya saat orang-orang yang dikasihi mereka meninggal,
tentunya mereka yang sudah percaya Yesus. Kita tidak bersedih
seperti orang yang tak berpengharapan. Kita dapat menanti-
nantikan suatu pertemuan kembali yang mengangumkan suatu
hari dengan mereka dan dengan Dia yang telah wafat dan bangkit
untuk kita.
Pernyataan pengakuan iman di atas akan sangat jelas bila setiap
kalimat dieksplorasi sehingga penekanan-penekanannya di sini
dapat menolong kita memahami secara hakiki ajaran ini.
152 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
B. "PADA AKHIRNYA SEMUA ORANG MATI AKAN
DIBANGKITKAN”
Pernyataan ini merupakan kalimat penutup dari tahapan-tahapan
yang akan terjadi menjelang dunia ini berakhir. "Pada akhirnya"
memberikan peringatan bahwa waktu dan ruang akan berakhir
eksistensinya.
Walau masih banyak orang hidup di dalam dunia waktu
kedatangan Tuhan, tetapi orang-orang yang mati (tanpa
terkecuali) akan dibangkitkan. Tidak usah kiranya kita terlalu
memusingkan bagaimana cara ALLAH membangkit mereka yang
mati di laut, yang mati dengan tubuh hancur akibat ledakan bom,
atau yang diterkam binatang buas. Gereja Bethel Indonesia
memandang bahwa Alkitab tidak menaruh perhatian yang terlalu
detail bagaimana cara-cara ALLAH membangkitkan; dengan
demikian kita tidak akan berspekulasi dengan itu. Fakta yang
terpenting adalah semua orang mati akan dibangkitkan. Dari sini
kita menegaskan bahwa manusia pada dasarnya makhluk kekal,
entah kekal di neraka atau kekal di sorga.
C. "ORANG BENAR AKAN BANGKIT PADA KEBANGKITAN YANG
PERTAMA DAN MENERIMA HIDUP KEKAL, TETAPI ORANG
JAHAT AKAN BANGKIT PADA KEBANGKITAN YANG KEDUA
DAN MENERIMA HUKUMAN SELAMA-LAMANYA”
Kebangkitan yang dimaksudkan di atas adalah kebangkitan akhir
zaman secara isik. Secara rohaniah orang percaya memang
mengalami kebangkitan untuk hidup yang baru di dunia ini seperti
yang dikatakan Alkitab, bahwa kita telah mati dan dibangkitkan
bersama-sama dengan Dia dalam baptisan, dan telah dibangkitkan
bersama-sama dengan Dia untuk suatu hidup yang baru di bawah
pimpinan Roh Kudus (Rom 6:4 dan Kol 2:12). Tetapi lebih spesi ik
pada akhir zaman ada kebangkitan orang percaya dari dunia ini
kepada kehidupan yang kekal. Hal itu nyata dari istilah "hidup" dan
"hidup yang kekal" yang digunakan Perjanjian Baru. Namun,
Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati 153
maksud dari kebangkitan kelak itu ialah hidup dengan tata waktu
ALLAH, yang tidak sama dengan tata waktu kita di dunia ini.
Seperti yang sudah ditegaskan di atas, karena manusia adalah
makhluk kekal, maka entah ia orang benar atau tidak, pasti akan
mengalami kebangkitan. Tentu, di dunia ini hidup kita tidak kekal,
kita mempunyai batas umur: tetapi pada hakekatnya kita akan
tetap kekal, apakah kekal di sorga atau di penghukuman.
Pernyataan iman di atas menegaskan keyakinan Gereja Bethel
Indonesia akan kepastian bahwa orang yang percaya kepada
Tuhan Yesus akan menerima kehidupan kekal. Dasar pemikiran ini
adalah doktrin keselamatan Kristen yang didasarkan pada:
1) Keselamatan itu adalah anugerah Tuhan Yesus, bukan karena
kebenaran manusia dengan melakukan serangkaian
peraturan-peraturan agama (Ef 2:8-9).
2) Yesus Kristus sendiri satu-satunya Pribadi yang telah
mewakili dan atas nama kita telah memenuhi semua
tuntutan hukum Taurat (baca: agama), secara sempurna,
sehingga tidak ada lagi kewajiban bagi kita memenuhi hukum
agama agar kita diselamatkan. “Sebab andaikata hukum
Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan,
maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat" (Gal
3:21). Dan itu artinya, "Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu
mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di
luar kasih karunia" (Gal 5:4). la bahkan telah menjadi kutuk
karena kita dan untuk kepentingan kita (bnd. 1 Tim 2:6, Tit
2:14). Artinya sebagai Seseorang yang diutus oleh Bapa
(ALLAH), Kristus mengambil alih kutuk Taurat dan
meletakkannya pada diri-Nya sendiri. Dengan memikul
kutuk Taurat itu, la mati di kayu salib sebagai ganti manusia.
Dengan karya-Nya itu la mempersatukan kehendak ALLAH
untuk menyelamatkan dunia ini dengan kutuk ALLAH
terhadap dosa dunia.
3) Kristus sudah mendamaikan dunia dengan diri-Nya (2 Kor 5:
19), pendamaikan itu terjadi oleh kematian Kristus, Anak-
154 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
Nya, ketika kita masih menjadi seteru ALLAH, bukan ketika
kita sudah 'beres'. Bahkan secara spesi ik Paulus
mengutarakan bahwa "mendamaikan" (Yunani: katallage)
yang berarti memperbaiki apa yang rusak, dan "korban
pendamaian" (Yunani: hilasmos) yaitu sebagai sarana yang
digunakan oleh Kristus untuk mendamaikan, itu
memberikan kepada kita penegasan bahwa prakarsa Kristus
sendiri yang menjamin keselamatan orang percaya.
4) Tuntutan dari harga maut itu sudah sepenuhnya dibayar
Kristus secara lunas (1 Kor 6:20, 7:23, Gal 3:13, 4:5)
Tentunya banyak lagi penegasan-penegasan Alkitab di mana
keselamatan orang percaya kelak sewaktu la datang semata-mata
adalah karena pekerjaan Kristus.
Kemudian, perlu kita perhatikan pula, ungkapan "orang benar"
dalam kalimat "orang benar akan dibangkitkan dan menerima
hidup yang kekal" tentu perlu diklari ikasi di sini. Ungkapan "orang
benar" tidak berkonotasi seolah-olah orang-orang yang mampu
mencapai suatu tingkatan perbuatan-perbuatan kesucian versi
manusia. Ini lebih merujuk kepada status orang percaya yang
sudah dibenarkan oleh ALLAH. Perhatikan kembali alasan
keselamatan di atas. "Dibenarkan" bukan berarti ALLAH
menganggap bahwa manusia sudah benar hidupnya: melainkan
karena Kristus, orang berdosa yang mengakui dosanya dan
membuka hatinya menerima Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat menjadi terhisap dalam kebenaran Anak ALLAH. "Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar
perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia
mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia
sudah pindah dari dalam maut, ke dalam hidup" (Yoh 5:24).
Kata kerja dikaioo (membenarkan) lebih erat kaitannya dengan
pembebasan dari hukuman yang adil atas dosa. Sama seperti yang
terdapat dalam pengadilan di mana seseorang dapat dinyatakan
bebas, yang berarti bahwa terdakwa tersebut tidak dapat dijatuhi
Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati 155
hukuman; demikian juga Paulus melihat bahwa seseorang dapat
dinyatakan benar, dan dosa-dosanya tidak lagi ditimpakan
kepadanya (Rom 3:24). Seperti dasar keselamatan di atas tadi,
maka sekali lagi harus ditegaskan bahwa karena manusia tidak
dapat beroleh pembenaran oleh dirinya sendiri, maka ALLAH telah
menyiapkannya. Pertanyaannya sekarang adalah, "Bagaimana
ALLAH dapat mengampuni dosa manusia namun tinggal tetap
benar?" dijawab tanpa ragu oleh Paulus dengan, "Salib Kristus."
Kemudian, ungkapan "orang benar" di kontraskan dengan
ungkapan "orang jahat," yang artinya orang yang tidak percaya
kepada Tuhan Yesus Kristus. Kejahatan mereka bukanlah sekadar
kejahatan kehidupan sehari-hari, tetapi ketidakpercayaan kepada
Kristus merupakan kejahatan yang luar biasa di mana Alkitab
banyak menegaskan bahwa penghukuman kekal menanti orang
yang tidak percaya (Yoh 3:16).
Kedua ungkapan di atas bersumber dari pernyataan dari
perkataan Injil Yohanes 5:28-29, "Janganlah kamu heran akan hal
itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam
kuburan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat
baik (=ungkapan orang benar) akan keluar dan bangkit untuk
hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan
bangkit untuk dihukum." Inspirasi irman Yohanes ini berasal dari
Daniel 12:2, "Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur
di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat
hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan
kengerian yang kekal."
D. URUTAN PERISTIWA AKHIR ZAMAN
Pengajaran akan kebangkitan yang dianut oleh Gereja Bethel
Indonesia bisa dilihat dalam seluruh tahapan-tahapan eskatologi
yang terdapat dalam buku Dasar Yang Teguh karangan J. Wesley
Brill.
156 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
Di situ dijelaskan bahwa peristiwa pengangkatan orang benar
terjadi lebih dahulu sebelum kebangkitan orang jahat untuk
penghukuman. Pengangkatan orang percaya itu terjadi sebelum
terjadinya aniaya besar (tribulasi). Meskipun diantara kalangan
Pantekosta/Karismatik ada sedikit perbedaan pandangan yaitu
sebagian memercayai bahwa Gereja tidak mengalami
penganiayaan, ada yang mengatakan bahwa sebagian orang
Kristen mengalami aniaya 7 tahun lamanya, ada pula yang
menganut bahwa Gereja akan mengalami aniaya (masa tribulasi)
selama 3 1/2 tahun pertama.
Kebangkitan pertama, seperti yang disebutkan dalam 1 Tes 4:16-
17 terjadi bersama dengan pengangkatan (rapture) orang-orang
percaya yang masih hidup setelah terlebih dahulu diubahkan.
Sementara kebangkitan yang kedua terjadi pada akhir
pemerintahan 1000 tahun, setelah Iblis dilepas untuk sementara
waktu (Why 20:4b). Kebangkitan orang-orang jahat, yang tidak
percaya kepada Tuhan Yesus, adalah untuk menerima
penghukuman kekal.
Memang ada banyak pandangan dan perdebatan di sekitar
peristiwa akhir zaman, namun ada PERSAMAAN PANDANGAN di
kalangan gereja Pantekosta dan Injili. Persamaan itu misalnya: (1)
Semua meyakini bahwa Tuhan Yesus pasti datang untuk yang
kedua kali; (2) Semua gereja dan pemikir meyakini bahwa tidak
seorang pun yang tahu kapan la datang. Sebab itu setiap orang
percaya harus siap sedia setiap waktu, sebab Alkitab mengatakan
bahwa kedatangan-Nya seperti pencuri di malam hari; (3) Semua
meyakini bahwa kebangkitan isik itu ada dan pasti terjadi; (4)
Semua meyakini bahwa orang yang percaya Tuhan Yesus tidak
dihakimi untuk penentuan sorga atau neraka, namun dalam
rangka pemberian upah/mahkota; dan penghakiman orang jahat
(yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus) adalah dalam rangka
melemparkan mereka kepada kebinasaan kekal; (5) Semua
meyakini bahwa neraka dan sorga itu ada; (6) Semua meyakini
bahwa akhirnya semua orang percaya akan hidup dalam
Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati 157
persekutuan dengan Tuhan selama-lamanya (kekal).
Skema berikut ini dapat membantu kita memahami perbandingan-
perbandingan pandangan-pandangan yang pernah ada, lengkap
dengan tokoh-tokoh pelopor pandangan-pandangan tersebut.
Skema ini diambil dari Moody's Handbook of Theology.
Kalau kita boleh simpulkan, maka sesungguhnya pandangan
eskatologi yang dianut oleh Gereja Bethel Indonesia adalah
pandangan premilenium dispensasional.
PANDANGAN BERKENAAN DENGAN AKHIR ZAMAN
KATEGORI AMILENIALISME POSTMILENIALISME PREMILENIALISME
KEDATANGAN HISTORIS
KRISTUS KEDUA
KALI Peristiwa sekali, Peristiwa sekali, Pengangkatan &
kedatangan
KEBANGKITAN tidak ada tidak ada Kristus terjadi
secara simultan;
PENGHAKIMAN perbedaan antara perbedaan antara Kristus datang
untuk memerintah
pengangkatan & pengangkatan & di bumi
kedatangan kedatangan
Kristus; Kristus; la datang
memperkenalkan setelah kerajaan
sorga 1000 tahun
Kebangkitan Kebangkitan Kebangkitan
umum orang umum orang orang percaya
percaya & yang percaya & yang pada permulaan
tidak percaya tidak percaya kerajaan 1000
pada kedatangan pada kedatangan tahun
Kristus yang kedua Kristus yang kedua
kali kali
Penghakiman Penghakiman Penghakiman
umum semua umum semua pada kedatangan
orang orang kedua kali &
penghakiman
pada akhir aniaya
158 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
KATEGORI AMILENIALISME POSTMILENIALISME PREMILENIALISME
HISTORIS
ANIAYA BESAR Tribulasi dialami Tribulasi dialami Pandangan
(TRIBULASI) pada masa pada masa post tribulasi:
sekarang sekarang Gereja mengalami
aniaya yang akan
datang
KERAJAAN 1000 Tidak ada Masa sekarang Kerajaan 1000
TAHUN
kerajaan 1000 bercampur dengan tahun ada baik
tahun secara kerajaan 1000 sekarang maupun
hara iah setelah tahun karena yang akan datang.
kedatangan kemajuan Injil Kristus sedang
Kristus. Kerajaan memerintah
hadir pada Gereja di sorga.
masa kini Kerajaan 1000 th
itu tidak harus
sungguh-sungguh
1000 tahun
ISRAEL & GEREJA Gereja adalah Gereja adalah Beberapa
Israel yang baru. Israel yang baru. perbedaan antara
Tidak ada Tidak ada Israel & Gereja
perbedaan Israel perbedaan Israel masa depan untuk
& Gereja & Gereja Israel tetap,
gereja adalah
Israel rohani
PENGANUT L. Berkhof O.T. C. Hodge B.B. W G.E. Ladd A. Reese
Allis G.c. meld W.G.T. Shedd M.J. Erickson
Beckhouwer A.H. Stong
E. KEADAAN ORANG-ORANG PERCAYA YANG DIBANGKITKAN
DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK PERCAYA
Bagian ini tentunya tidak kalah pentingnya. Seperti yang telah
dijelaskan di atas bahwa kita tidak usah memikirkan bagaimana
cara Tuhan mengumpulkan serpihan-serpihan tubuh untuk
kemudian dibangkitkan; Paulus mengecam pikiran yang
membatasi Tuhan dalam kebangkitan dengan penegasan, "Tetapi
mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati
dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang
Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati 159
kembali?” (1 Kor 15:35).
Namun, mengenai gambaran tentang tubuh orang yang telah
dibangkitkan itu, ditegaskan oleh Paulus sebagai berikut: "Tetapi
ALLAH memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang
dikehendaki-Nya ... Demikian pula halnya dengan kebangkitan
orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam
ketidakbinasaan.Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam
kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam
kekuatan. Yang ditaburkan dalam tubuh alamiah, yang
dibangkitkan adalah tubuh rohaniah ... Sama seperti kita telah
memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan
memakai rupa dari yang sorgawi. . . orang-orang mati akan
dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa . . ." (1 Kor
15:38,42-44,49, 52b).
Untuk menjelaskan gambaran dari tubuh orang yang percaya di
atas diumpamakan oleh Paulus dengan perumpamaan tentang biji
dalam 1 Kor 15:33-44. Perumpamaan ini adalah untuk menjawab
skeptisme tentang kebangkitan tubuh yang sudah menyusup ke
dalam jemaat Korintus. Perumpamaan biji ini melukiskan kuasa
ALLAH yang mampu untuk memberi hidup kepada hal-hal yang
mati. Hidup baru itu bukanlah merupakan reproduksi dari hidup
sebelumnya, tetapi sesuatu yang lebih baik. Atas dasar
perumpamaan biji ini Paulus mengajarkan bahwa walaupun
terdapat kesinambungan antara tubuh daging yang sekarang dan
tubuh kebangkitan kelak, namun ada juga perubahan. ALLAH akan
memberikan manusia semacam tubuh kemuliaan yang
mempunyai hubungan langsung dengan tubuh dagingnya yang
sekarang. Hal ini didukung lebih lanjut oleh pernyataan bahwa tiap
biji mempunyai tubuhnya sendiri (1 Kor 15:38), artinya ada
kesinambungan antara biji dan tanaman yang dihasilkannya.
Betapa indahnya gambaran tentang keadaan tubuh dari orang
yang percaya kepada Tuhan Yesus pada waktu kebangkitan itu.
Sementara, keadaan orang-orang yang tidak percaya itu tidak
secara langsung disebut Alkitab. Yang jelas, mereka akan
160 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
dibangkitkan pula tetapi dalam kehinaan dan tubuh yang tidak
dapat mati, namun menderita penderitaan yang tak berkesudahan.
Tempat mereka kelak selama-lamanya di neraka, yang dalam
Alkitab dipakai istilah gehenna. Istilah ini berbeda dengan hades
dan sheaf yang merupakan tempat penderitaan sementara yang
mirip dengan neraka kekal, sewaktu mereka belum dibangkitkan.
Sementara istilah gehenna, tempat penghukuman yang lebih
dahsyat, yang merupakan tempat penghukuman selama-lamanya
(kekal).
Istilah gehenna sendiri terdapat 12X dalam PB, yang artinya
menunjuk suatu tempat untuk penghukuman kekal yang diambil
dari kata Ibrani GE HINNOM, merujuk pada Lembah HINNOM yang
terbentang di bagian selatan dan sisi timur Yerusalem. Di lembah
tersebut, ada penyembahan kepada Dewa Molekh dan
pengorbanan bayi dalam api (2 Raj 16:3, 17:7, 21:6). Yeremia
menyatakan lembah Hinnom akan menjadi tempat penghakiman
ALLAH (Yer 7:32, 19:6). Lembah ini juga akan menjadi tempat di
mana mayat binatang dan orang jahat yang tertolak, dikuburkan.
PB kembali mempertegas bahwa, GEHENNA menjadi tempat
penghukuman akhir zaman (Mat 23:15,33, 25:41,46).
Sebenarnya menurut Alkitab banyak istilah yang dipakai untuk
menggambarkan penghukuman, yaitu istilah krima, katakrein,
krisis, yang artinya "penghakiman" atau "penghukuman."
Sementara penggunaan kata apolluein, apoleia, yang artinya
"pembinasaan." Kata yang terakhir ini menegaskan bahwa bukan
hanya manusia durhaka yang harus binasa (2 Tes 2:3), tetapi
mereka yang mengikuti manusia durhaka itu juga akan turut
binasa (2 Tes 2:10, apollumenoi).
Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati 161
KESIMPULAN
Gereja Bethel Indonesia menaruh keyakinan akan adanya masa
kebangkitan orang percaya dan kebangkitan orang yang tidak
percaya. Urutan keduanya berbeda. Yang pertama kebangkitan
orang percaya untuk menerima keselamatan. Sementara
kebangkitan orang yang tidak percaya pada urutan berikutnya,
untuk menerima penghukuman selama-lamanya.
162 Pengajaran Dasar GBI - Kebangkitan Orang Mati
13
GEREJA
Adalah penting sekali bagi para pelayan Tuhan, dan khususnya
para pendeta, memahami secara lebih mendalam tentang Gereja.
Alasannya adalah bahwa Gereja merupakan medan dimana para
hamba Tuhan atau pendeta melayani. Itulah sebabnya pada uraian
tentang Gereja berikut ini disampaikan beberapa hal dasar yang
perlu sekali diketahui, dipahami dan dihayati agar "tubuh Tuhan"
tidak terpecah-pecah.
A. PENGERTIAN GEREJA
Istilah "Gereja" dalam bahasa Indonesia atau church (bhs. Inggris)
diambil dari bahasa Portugis yaitu Igreja yang berasal dari kata
kuriake (bhs. Yunani) artinya kepunyaan Tuhan. Sedangkan kata
lain dalam bahasa Yunani yang sering digunakan untuk Gereja
adalah Ekklesia yaitu Jemaat, dan dalam bahasa Ibraninya adalah
Qahal. Baik ekklesia maupun Qahal mempunyai pengertian yang
sama yaitu dipanggil keluar dari kegelapan karena dosa dan masuk
dalam terang-Nya Allah. Orang-orang yang dipanggil keluar
tersebut diarahkan untuk menjadi satu dalam persekutuan umat
Tuhan. Gereja juga dapat berarti persekutuan iman dari orang-
orang yang mendengar firman Allah dan menerimanya dengan
iman dalam hati serta melakukannya dalam praktek hidup sehari-
hari.
Jadi Gereja bukan hanya merupakan suatu perkumpulan
melainkan sebuah persekutuan yang lahir dari Allah. Alkitab
menyatakan bahwa yang mendirikan Gereja adalah Tuhan Yesus
(Mat 16:18). Gereja adalah buah tangan pekerjaan Roh Kudus. Dan
yang paling penting dalam Gereja adalah penyataan Allah,
pemilihan oleh Allah, kehendak Allah untuk mengumpulkan
orang-orang beriman. Firman Allah menyatakan; "Bukan kamu
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 163
yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu" (Yoh 15:16).
Karena itu Gereja bukanlah hasil perbuatan pendeta atau tua-tua
jemaat melainkan perbuatan Allah dalam Kristus Yesus melalui
Roh Kudus.
Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa gereja terdiri dari 2 (dua)
macam yaitu gereja yang kelihatan dan Gereja yang tak kelihatan.
Gereja yang kelihatan berarti gereja lokal atau gereja setempat
yakni persekutuan orang beriman, yang masih hidup. Sedangkan
Gereja yang tak kelihatan terdiri dari orang beriman dari segala
zaman dan telah menerima anugerah keselamatan.
Untuk memperjelas perbandingan antara gereja yang kelihatan
dan Gereja yang tidak kelihatan perhatikanlah tabel berikut ini.
PERBANDINGAN ANTARA GEREJA YANG KELIHATAN
& GEREJA YANG TIDAK KELIHATAN
GEREJA YANG KELIHATAN GEREJA YANG TIDAK KELIHATAN
(VISIBLE) (INVISIBLE)
Anggota: orang yang telah Anggota: orang-orang yang telah
diselamatkan dan yang masih hidup. diselamatkan dari segala zaman,
yang masih hidup dan yang sudah
Meliputi gereja-gereja lokal. mati.
Berbeda-beda dalam denominasi. Hanya satu Gereja yang universal.
Bukan merupakan sebuah
Bagian dari Tubuh Kristus. denominasi.
Berbeda dalam sistim pemerintahan Tubuh Kristus seluruhnya.
gereja. Kristus satu-satunya Kepala Gereja.
164 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
B. HUBUNGAN KRISTUS DENGAN GEREJA-NYA
Ada beberapa gambaran tentang hubungan Kristus dengan Gereja-
Nya. Gambaran itu akan dijelaskan melalui bagan di bawah ini:
ANALOGI KRISTUS DAN JEMAAT-NYA
KRISTUS GEREJA REFERENSI AYAT ALKITAB
Kepala, Batu- Tubuh, Bangunan “lalah kepala tubuh, yaitu jemaat"
penjuru Bait Allah (Kol 1:18a).
Tunangan "... Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Mempelai Pria Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan,
rapih tersusun, menjadi bait Allah"
(Ef 2:20-21).
Perawan suci "Karena aku telah mempertunangkan
kamu kepada satu laki-laki untuk
membawa kamu sebagai perawan suci
kepada Kristus" (2 Kor 11:2).
Mempelai "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan
wanita kepadamu pengantin perempuan,
mempelai Anak Domba" (Why 21:9).
Pemilik Umat kepunyaan "Untuk membebaskan kita dari segala
kejahatan dan untuk menguduskan bagi
Gembala diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya
Anak Sulung sendiri" (Tit 2:14).
Imam Besar
Domba Allah "Gembalakanlah kawanan domba Allah,
...apabila Gembala Agung datang, kamu
akan menerima mahkota...." (1 Pet 5:2-4)
Anggota keluarga "...kamu...anggota keluarga Allah"
(Ef 2:19).
"...lalah yang sulung...” (Kol 1:18b).
Umat Allah “Karena kita sekarang mempunyai Imam
Besar Agung" (Ibr 4:14).
"Tetapi kamulah... umat kepunyaan Allah
sendiri" (1 Pet 2:9).
C. SIFAT-SIFAT GEREJA
Gereja memiliki 4 (empat) sifat yakni esa, kudus, rasuli dan am.
1. Gereja yang Esa
Firman Allah menyatakan; "Dan berusahalah memelihara
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 165
kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera; satu tubuh dan satu
Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan
yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu
baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua
dan oleh semua dan di dalam semua." (Ef 4:3-6). Menjelang akhir
pelayanan-Nya di bumi ini, Tuhan Yesus berdoa; "Supaya mereka
semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku
dan Aku di dalam Engkau...." (Yoh 17:21). Penggenapan doa
tersebut tidak hanya terjadi dari pihakTuhan. Setiap umat Tuhan
dan hamba-hamba Tuhan seharusnya terpanggil untuk
mewujudkan doa Yesus tersebut baik dalam konsep
pengakuannya maupun dalam upaya dan tindakan yang mengarah
kepada kesatuan tersebut.
Dari kedua ayat tersebut kita dapat merasakan apa yang dirasakan
oleh Krisrus Yesus, Kepala Gereja. la tidak menghendaki adanya
perpecahan. Tuhan menginginkan persatuan dan keutuhan dalam
Gereja-Nya. Segala bentuk perpecahan dikecam oleh firman Allah
seperti yang dapat kita baca dalam 1 Korintus 3:1-9. Dalam bacaan
itu Paulus, rasul Kristus, menegur jemaat di Korintus yang terbagi-
bagi atau terpecah-belah dalam kelompok-kelompok.
Namun dalam arti apakah keesaan itu dapat dipahami dan
diwujudkan? Menurut pandangan mata biasa, kita dapat
menyaksikan gereja dengan berbagai nama organisasi atau terdiri
dari banyak denominasi. Perlu sekali dipahami bahwa pengertian
Gereja yang esa bukanlah dalam arti satu denominasi atau satu
'merek' gereja. Gereja yang esa harus dipahami sebagai Gereja
yang terdiri dari keanekaragaman. Ada gereja yang bersifat
kedaerahan atau kesukuan, dan ada pula gereja nasional yang
terdiri dari berbagai latar belakang etniknya seperti Gereja Bethel
Indonesia.
Oleh karena itu kita tidak boleh menganggap gereja kitalah yang
paling benar dan gereja-gereja yang lain tidak benar atau sesat.
Semua Gereja dibenarkan oleh karena karya penebusan Tuhan
166 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
Yesus Kristus. Hal lain yang perlu disampaikan juga adalah bahwa
kita harus memiliki prinsip yang alkitabiah seperti dikemukakan
oleh firman Tuhan; "Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh
oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh,
sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang
terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu
baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua
dan oleh semua dan di dalam semua" (Ef 4:3-6). Jadi yang
memimpin Gereja pada hakekatnya bukanlah ketua sinode gereja
melainkan Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Sebab
alasan inilah maka Pdt. Dr. H.L. Senduk mendorong dan membawa
Gereja Bethel Indonesia (GBI) ke dalam 3 (tiga) wadah persatuan
gereja yaitu Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI),
Persekutuan Injili Indonesia (Pll) dan Persekutuan Gereja
Pentakosta di Indonesia (PGPI).
Ada yang menuduh bahwa Gereja Bethel Indonesia tidak
mempunyai pendirian, karena ia berada di tiga wadah
persekutuan tersebut. Tuduhan itu tidak benar. Yang benar adalah
bahwa Gereja Bethel Indonesia sebagai gereja nasional
mempunyai komitmen untuk mewujudkan Gereja yang esa
bersama-sama dengan gereja yang lain. GBI masuk dalam wadah
PGI untuk menyatakan kesaksian bahwa GBI bukanlah gereja yang
eksklusif atau menganggap diri paling benar. GBI juga turut
mendukung terbentuknya wadah persekutuan Injili yakni Pll. Dan
GBI juga turut mendirikan wadah persekutuan gereja Pentakosta
yaitu PGPI. Jadi para pejabat GBI tidak boleh menjadi orang yang
tertutup dan eksklusif, melainkan memiliki wawasan yang luas. la
harus mau menjadi berkat bagi orang percaya dan mitra kerja
dengan hamba-hamba Tuhan lain dari berbagai denominasi
gereja.
2. Gereja yang Kudus
Gereja yang kudus berarti Gereja yang terdiri dari orang-orang
kudus. Firman Allah menyatakan; "Tetapi kamulah bangsa yang
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 167
terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan
Allah sediri,..." (1 Pet 2:9). Alkitab juga memerintahkan; "Kuduslah
kamu, sebab Aku kudus." (1 Pet 1:17). Bahkan pada bagian lain
Alkitab menyatakan: "Kristus telah mengasihi jemaat-Nya dan
telah menyerahkan diriNya baginya untuk menguduskannya,
sesudah ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air
dan irman, supaya dengan demikian la menempatkan jemaat di
hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau
yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela" (Ef
5:25b-27). Tetapi kekudusan umat Tuhan itu tidak diperoleh
dengan otomatis. Bahkan gereja tidak dapat mengambil alih
tindakan-tindakan Yesus, baik melalui upacara-upacara atau
sakramen-sakramen untuk menguduskan anggota gereja tersebut.
Upacara dan sakramen hanya sarana atau media saja. Kekudusan
Gereja adalah buah dari karya Kristus di bukit Golgota. Bagi gereja
reformasi penekanan Gereja yang suci bukan didasarkan pada
kesucian dari orang-orang yang dapat hidup saleh saja, melainkan
karena Kristus menyucikan orang percaya dengan darah-Nya.
Pengudusan Gereja atau orang percaya terjadi sebagai hasil dari
persekutuan pribadi dengan Tuhan Yesus dan persekutuan dengan
sesama orang percaya.
Dari hal tersebut dapat pula terlihat adanya dua bentuk
pengudusan. Yang pertama, kekudusan secara pasif yang terjadi
sebagai anugerah atau pemberian cuma-cuma dari Tuhan
terhadap orang yang percaya kepada korban yang telah
dikerjakan-Nya. Kekudusan yang dimiliki oleh orang percaya ini
bukanlah hasil dari perbuatan baik atau amal yang dilakukannya.
Kedua, kekudusan secara aktif. Setelah jemaat menerima
kekudusan dari Tuhan maka ia harus hidup kudus sebagai bukti
bahwa ia telah menjadi orang kudus. Jadi, segala perbuatan baik
dilakukan oleh orang percaya bukan supaya ia menjadi kudus
melainkan karena ia telah menerima kekudusan dari Tuhan.
Istilah kudus atau suci dalam Alkitab berarti “dipisahkan,
disendirikan atau dikhususkan.” Gereja yang kudus berarti Gereja
168 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
adalah jemaat Tuhan yang telah dipisahkan dari dunia yang gelap
dan masuk kepada terangNya yang ajaib. Gereja yang kudus berarti
juga Gereja sebagai jemaat disendirikan, agar Allah memiliki
persekutuan yang akrab dan "intim" dengan umat yang menjadi
kesayangan-Nya ini. Gereja yang kudus diartikan sebagai jemaat
yang dikhususkan untuk menjadi alat di dalam tangan-Nya bagi
kemuliaan Tuhan sendiri.
3. Gereja yang Rasuli
Firman Allah menyatakan, "Demikianlah kamu bukan lagi orang
asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang
kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas
dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus yang sebagai batu
penjuru" (Ef 2:19-20). Gereja rasuli adalah suatu komunitas atau
persekutuan umat Tuhan yang dibangun dan bertumbuh di atas
dasar pengajaran para rasul. Mereka telah meninggalkan warisan
iman yang sangat berharga sampai sekarang dan hingga masa yang
akan datang, seperti yang terdapat dalam Perjanjian Baru baik Injil
maupun kitab dan surat-suratnya.Warisan rasul-rasul yang
tertulis itu bahkan telah diterima dan diakui sebagai firman Allah
yang diilhamkan oleh Roh Kudus.
Pada dekade belakangan ini terjadi kegerakan di dalam gereja
Tuhan yang disebut dengan gerakan kerasulan. Gereja yang rasuli
(Apostolic church) berarti gereja yang dipimpin oleh seorang rasul
atau seorang yang mempunyai strategi kerasulan. Itu berarti
bahwa gereja menanggapi secara sungguh-sungguh Amanat
Agung yang diberikan oleh Tuhan Yesus yaitu untuk pergi
menjadikan segala bangsa murid Yesus. Gereja yang demikian
bukanlah gereja yang statis dan diam. Mereka adalah gereja yang
dinamis, hidup serta bergerak. Gereja yang rasuli tidak bersifat
pasif menunggu di tempat datangnya jiwa-jiwa. Sebaliknya gereja
rasuli akan pergi ke luar menjemput dan mencari jiwa yang
terhilang, menobatkan dan memenangkan mereka bagi Kristus.
Gereja yang rasuli juga terdiri dari umat yang berani hidup di masa
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 169
kini dan memandang ke masa depan. Mereka tidak hidup hanya
berdasarkan pada pengalaman masa lampau, sekalipun masa lalu
tidak dapat diabaikan begitu saja. Jadi gereja harus bersifat
proaktif untuk terus bertumbuh dan berkembang demi nama
Tuhan Yesus, Kepala Gereja. Di sisi lain, gereja yang rasuli
menuntut seorang pemimpin yang visioner dan misioner. Artinya,
gereja harus melihat apa yang Tuhan lihat, dan melakukan apa
yang Tuhan mau untuk dilakukan bagi dan di dalam gereja-Nya.
4. Gereja yang Am
Gereja yang am harus juga dipahami secara berdampingan dengan
sifat Gereja yang esa. Bahwa Gereja yang esa adalah gereja yang am.
Gereja yang esa tanpa sifat gereja yang am akan menyebabkan
gereja yang tertutup (eksklusif). Gereja yang am berarti gereja
yang universal; menyeluruh dan mendunia. Gereja tidak terikat
pada satu atau beberapa denominasi saja pada satu wilayah
tertentu. Gereja yang am meliputi persekutuan jemaat Tuhan dari
segala suku, bangsa, kaum, dan bahasa.
Dengan demikian kita tidak hanya melihat gereja yang ada di lokasi
sekitar kita berada. Mata kita harus dapat memandang jauh
melampaui apa yang dapat dipandang oleh mata jasmani ini.
Gereja yang am harus dilihat secara rohani dengan hati nurani
yang tulus pula. Gereja tidak boleh eksklusif atau tertutup. Gereja
harus bersikap inklusif yaitu terbuka kepada gereja-gereja lain
yang ada di sekitarnya.
Gereja yang am juga merupakan gambaran dari sifat Gereja yang
terdiri dari banyak anggota dengan satu Kepala yakni Tuhan Yesus
Kristus. Sebagai sesama anggota tubuh berarti kita saling
tergantung dan bergantung, saling membutuhkan dan dibutuhkan.
170 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
D. KARAKTERISTIK GEREJA
Karakteristik menunjukkan ciri-ciri yang dimiliki oleh sebuah
persekutuan yang disebut gereja, yaitu sebagai berikut:
1. Memberitakan Firman Allah
Memberitakan firman Allah adalah tugas yang sangat penting yang
harus dilaksanakan oleh gereja Tuhan. Bila gereja sudah tidak
memberitakan firman Tuhan berarti ia bukan Gereja lagi. Dengan
karakteristik ini gereja hendaknya selalu memeriksa dirinya,
apakah ia telah memberitakan firman Allah dengan sungguh-
sungguh? Ada orang yang menjawab pertanyaan itu dengan cepat
dan berkata, "Tentu saja gereja memberitakan firman Allah."
Namun jika kita mau jujur di hadapan Tuhan, ada gereja yang tidak
atau kurang memberitakan firman Allah. la hanya menyampaikan
gagasan-gagasan yang baik dan indah dengan mengutip beberapa
ayat Alkitab. la tidak sungguh-sungguh menggali Alkitab dan
mengenal isi hati Tuhan. Akibatnya ia hanya menyampaikan
prinsip-prinsip atau iloso i yang bersifat antroposentris atau
berpusat pada manusia. Jadi gereja harus mengembangkan
penafsiran Alkitab secara benar.
Di samping hal tersebut di atas, gereja, atau para hamba Tuhan
khususnya, harus dengan sungguh-sungguh memiliki hubungan
pribadi dengan Tuhan sehingga ia dapat mengenal Tuhannya
secara pribadi. Dengan demikian ia dapat menyampaikan firman
Allah, yakni segala sesuatu yang Tuhan ingin untuk disampaikan. la
tidak memikirkan apa yang orang ingin dengar dari padanya,
melainkan ia merenungkan dan menyampaikan apa yang Tuhan
mau katakan.
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 171
2. Melaksanakan Sakramen
Gereja Bethel Indonesia termasuk salah satu gereja Protestan yang
mengakui adanya 2 (dua) sakramen. Yang ditetapkan oleh Allah
sendiri yaitu baptisan dan perjamuan kudus.
Berkenaan dengan pelaksanaannya, maka yang berhak
melakukannya adalah gereja sebagai suatu lembaga yang didirikan
dan ditetapkan oleh Allah sendiri. Sebuah persekutuan atau
perkumpulan Kristen tidak dapat melaksanakan sakramen.
Aturan yang lebih jelas mengenai hal ini dijelaskan dalam Tata
Dasar dan Tata Tertib GBI.
3. Menerapkan Disiplin Gereja
Sebuah gereja juga perlu menetapkan dan menegakkan disiplin
bagi para anggotanya yang melakukan dosa. Tujuan pelaksanaan
disiplin gereja bukanlah supaya jemaat kudus, karena pengudusan
jemaat merupakan pekerjaan Kristus.
Bila gereja melaksanakan disiplin gereja, hal ini disebabkan oleh
kerinduan agar jemaat bertumbuh imannya dan dapat disadarkan
dari dosanya, dan kemudian dibawa kembali kepada Tuhan untuk
menjadi umat kesayangan-Nya. Sebaliknya gereja yang tidak
menerapkan disiplin akan menimbulkan kekacauan, ketidak-
adilan dan ketidaktertiban. Pada akhirnya jemaat yang tidak
dikenakan disiplin akan tetap tinggal dalam dosa dan tidak
memiliki pertumbuhan iman yang baik.
Untuk melaksanakan disiplin dengan benar maka gereja harus
memperhatikan ketetapan yang sudah dibuat oleh Yesus sendiri:
"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat
mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya
kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau
dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi,
perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan
mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak
172 Pengajaran Dasar GBI -Gereja
mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang
yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai" (Mat
18:15-18).
E. PEMERINTAHAN DALAM GEREJA
Maka akan didapati adanya dua pandangan yaitu respon yang
setuju dan tidak setuju.
Jika dikatakan bahwa gereja adalah sebuah organisasi,
Gereja Tuhan dan bahkan orang percaya harusnya berani
menyatakan bahwa Gereja lebih dari sekedar organisasi; Gereja
adalah organisme yang hidup. Kepala Gereja adalah Yesus Kristus
(Ef 1:22-23) yang memelihara Gereja serta memberikan hidup
rohani kepadanya. Akan tetapi, organisme yang hidup harus
mempunyai struktur.
Demikian pula, Gereja memiliki susunan bagian-bagian yang rapih
dan tersusun. Susunan yang dimaksud dapat ditemukan bila
menyelidiki pola gereja rasuli. Struktur yang dinyatakan dalam
Perjanjian Baru sangat sederhana, namun prinsipnya ialah bahwa
hanya organisasi yang penting bagi kelangsungan kehidupan
Gereja yang harus dipakai.
Sedangkan dalam Tata Dasar Gereja Bethel Indonesia butir 1
dikemukakan mengenai Wujud Gereja, dan pada butir 1.4 terdapat
sebuah pernyataan yang menyebutkan sebagai berikut: "Gereja
adalah Organisme Ilahi yang hidup dan berkembang terus
menerus dalam suatu organisasi yang berazaskan Alkitab." Hal ini
sangat penting untuk dikemukakan dan dipahami secara baik.
Gereja adalah organisme yang berorganisasi, dan gereja yang
berorganisasi haruslah juga sebuah organisme. Karena itu sebagai
organisasi, gereja tidak boleh larut dalam urusan-urusan yang
bersifat duniawi sebab gereja adalah milik Allah, yang ada dan
hidup untuk kemuliaan-Nya.
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 173
Pada tulisan yang lain ada pula ahli teologi yang berpendapat lain,
la mengatakan, “Tetapi apakah itu Ekklesia? Apakah itu Gereja:
Gereja yang harus ditata atau diatur?” Atas pertanyaan ini kita
dapat berikan bermacam-macam jawaban yang bersifat teologis
atau alkitabiah. Tetapi kalau kita meninjau Gereja dari bentuk
pemunculannya di dunia, ia - pada satu pihak - adalah suatu
perhimpunan manusia biasa, yang mempunyai kesamaan-
kesamaan tertentu dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan di
dunia seperti: negara, partai politik, perkumpulan sosial dan lain
lain. Tetapi kalau kita melihatnya dari segi hakikatnya, ia - pada lain
pihak - adalah suatu persekutuan rohani, dengan Yesus Kristus
sebagai Kepala. Sebagai persekutuan rohani, ia adalah obyek dari
percaya atau iman Kristen: 'Aku percaya akan adanya suatu Gereja
Kristen yang kudus dan am'."
Dari dua pendapat tersebut di atas maka jelaslah bahwa Gereja
sebagai organisme juga merupakan sebuah organisasi. Jadi Gereja
memiliki sifat ilahi dan insani. Gereja bersifat ilahi karena gereja
sebagai organisme lahir dari Allah. Sedangkan sebagai organisasi,
gereja memerlukan penataan dari manusia. Dan sebagai
organisasi maka aturan yang jelas, seimbang dan memadai perlu
dibuat dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Aturan yang telah
disepakati bersama tersebut harus dilaksanakan bukan semata
untuk peraturan, melainkan bagi pertumbuhan dan
perkembangan Tubuh Kristus agar kerajaan Allah datang dan
nama Allah dimuliakan di bumi seperti di sorga.
Di dalam sebuah buku diuraikan tentang sistem pemerintahan
gereja. Dalam uraian tersebut dikemukakan 3 bentuk pemahaman
tentang sistem pemerintahan gereja yakni episkopal, presbiterial -
sinodal dan kongregasionalisme.
1. Episkopal
Pada zaman Perjanjian Baru pemerintahan jemaat-jemaat
dipimpin langsung oleh para rasul. Setelah jemaat berkembang
174 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
dan makin banyak jumlah orang yang percaya, para rasul
melibatkan orang-orang yang dapat membantu. Mereka yang
disebut diaken dipilih oleh rasul-rasul untuk melayani meja. Dan
mereka harus memiliki kuali ikasi tertentu seperti yang telah
ditetapkan yakni terkenal baik, penuh Roh dan hikmat. Sedangkan
para rasul memusatkan perhatiannya pada doa dan pelayanan
irman (Kis 6: 1-6)
Namun demikian ketika firman Allah makin tersebar, jumlah orang
percaya pun makin bertambah banyak. Bahkan setelah Paulus,
Barnabas, dll. melaksanakan perjalanan misi, banyak jemaat
didirikan di berbagai kota dan provinsi. Sungguh merupakan suatu
perkembangan yang menyenangkan, namun juga menyedihkan.
Menyenangkan karena jumlah orang yang diselamatkan semakin
bertambah, tetapi menyedihkan karena gereja pada waktu itu
mengalami krisis kepemimpinan. Dalam keadaan seperti itu para
rasul tidak dapat menangani jemaat secara langsung. Karena itu
mereka mengangkat pemimpin-pemimpin jemaat di Efesus,
Smirna, Pergamus, dsb., bahkan oleh Rasul Yohanes, mereka
disebut "Malaikat Sidang Jemaat" (band. Why 2:18; 12,18; 3:1,
7,14).
Masalah lain yang dihadapi jemaat-jemaat pada waktu itu adalah
munculnya guru-guru palsu dan terjadinya perpecahan di antara
jemaat. Oleh sebab itu para pemimpin jemaat haruslah orang yang
dapat diandalkan yaitu;
Ÿ Seorang pemimpin rohani yang kuat.
Ÿ Mampu menjaga kekudusan jemaat sebagai tanda hadirnya
Roh Kudus dalam jemaat tersebut.
Ÿ Kesaksian yang kuat dari keesaan jemaat dan,
Ÿ Suatu tradisi rasuli yang terpercaya sebagai jaminan bagi
kepastian keselamatan dari anggota jemaat.
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 175
2. Presbiterial - Sinodal
Kepemimpinan presbiterial-sinodal berasal dari Calvin yang
muncul pada zaman reformasi dapat dikatakan sebagai aksi protes
dari sistem kepemimpinan episkopal yang mengalami
kemerosotan akibat hirarki yang monarkis.
Adapun ciri-ciri utama dari kepemimpinan presbiterial-sinodal
adalah:
Ÿ Titik tolaknya ialah jemaat / gereja setempat.
Ÿ Pimpinan/ pemerintahan gereja dipercayakan kepada suatu
majelis, yang beranggotakan pejabat-pejabat gerejawi.
Ÿ Selain sidang jemaat / gereja, masih ada sidang-sidang lain
yang lebih luas bidang cakupannya.
Ÿ Mempunyai satu kemandirian, terutama terhadap
pemerintah, khususnya di bidang tugas dan pelayanan
pejabat-pejabat gerejawi.
3. Kongregasionalisme
Sistem pemerintahan kongregasionalisme pertama kali muncul di
Skotlandia pada bulan Desember 1557. Sebuah perkumpulan yang
bernama Congregation of the Lord didirikan oleh Robert Browne
(1550-1633), muncul untuk menghilangkan Gereja Negara yang
ada di Inggris. Sedangkan ciri-ciri sistem pemerintahan
kongregasionalisme adalah:
Ÿ Bentuk kongregasionalisme adalah kongregasi-kongregasi.
Mereka tidak mengenal struktur super yang di atasnya, dan
kongregasi bukan bagian dari gereja daerah atau suatu gereja
bangsa/ nasional.
Ÿ Tidak mengakui wibawa sidang-sidang yang mengikat
(misalnya: ketetapan sidang sinode).
Ÿ Otoritas dalam gereja ialah Kristus dan Alkitab. Kristus
memberi otoritas pada kongregasi atau anggota-anggota
kongres secara individu.
176 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
Ÿ Para pejabat dalam kongregasi adalah gembala, pengajar,
penatua dan diaken.
Ÿ Pengangkatan pejabat oleh Kristus dilakukan melalui
kongregasi.
Ÿ Pejabat-pejabat tidak memerintah melainkan melayani,
karena pemerintah dalam kongregasi adalah Kristus.
Ÿ Keabsahan keputusan para pejabat tergantung pada
persetujuan kongregasi.
F. SISTEM PEMERINTAHAN GEREJA BETHEL INDONESIA
Setelah kita menyimak uraian tentang 3 sistem pemerintahan
gereja maka pada bagian ini kita akan meninjau sistem
pemerintahan yang ada di Gereja Bethel Indonesia (GBI). Menurut
Tata Dasar GBI tahun 2000, butir 7.8 dinyatakan: Gembala jemaat
adalah pimpinan jemaat lokal. Sedangkan dalam Tata Tertib GBI
Bab II tentang Pejabat GBI, bagian A. Umum, pasal 11 menyatakan;
Pengangkatan atau pembebasan tugas Pembela Sidang adalah
wewenang Gembala Jemaat (ayat 11.1.1). Dan pengangkatan atau
pembebasan tugas Pengerja sebagai pelayan jemaat penuh waktu
adalah wewenang Gembala Jemaat (ayat 11.2.1).
Menurut Pdt. DR. H.L. Senduk sebagai pendiri GBI, tentang struktur
GBI menyatakan bahwa sistem pemerintahan GBI adalah
desentralisasi, artinya kepada pendeta setempat dibagikan
kekuasaan dan wewenang untuk memimpin jemaatnya. Dari
uraian tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pimpinan tertinggi dalam jemaat adalah Gembala Jemaat yang
dapat juga disamakan dengan episkopos. Puncak kepemimpinan
dalam GBI tidak dilakukan oleh majelis jemaat atau presbiter,
meski pelayanan dan pertimbangan-pertimbangan yang mereka
berikan sangat penting dalam perkembangan jemaat.
Kepemimpinan dalam jemaat GBI tidak terletak pada jemaat atau
kongregasi, walaupun dukungan dan partisipasi mereka besar
artinya bagi kemajuan dan keberhasilan jemaat. Oleh sebab itu
pendeta sebagai pimpinan jemaat tidak boleh otoriter sebab ia
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 177
memerlukan majelis dan anggota jemaat. Gaya kepemimpinan
episkopal sebenarnya bersifat teokrasi namun tidak kaku.
Dipihak lain pendeta sebagai pemimpin jemaat di GBI tidak berdiri
sendiri. Meskipun bersifat otonom sebagai salah seorang pejabat
di GBI, ia terikat pada aturan organisasi GBI. Dalam uraian
mengenai "Sistem Pemerintahan GBI", Pdt. George Tapiheru
mengemukakan; "... Pendeta/ Gembala Jemaat terikat dalam satu
kesatuan dengan gembala jemaat GBI lainnya, dalam hal ini
sebagai anggota dari Sinode GBI yang mempunyai aturan
organisasi dan tertuang dalam Tata Dasar dan Tata Tertib GBI,
sehingga selain ia mempunyai kewenangan atas jemaat lokal, ia
mempunyai juga kewajiban terhadap jemaat, Majelis Daerah
(MD)/ Badan Pekerja Daerah (BPD) dan Badan Pekerja Sinode
(BPS), (Tata Dasar Bab II, bagian A, pasal 5). ...Bahkan sebagai
pejabat GBI ia bisa dikenakan disiplin gereja apabila melanggar
firman Tuhan, Pengakuan Iman dan pengajaran GBI, Tata Dasar
dan Tata Tertib GBI (Tata Tertib GBI, bab XII).
Dalam pembahasan tentang sistem pemerintahan GBI maka dari
uraian di atas terdapat gambaran yang semakin terang. Untuk
memperjelas hal ini, Pdt. George Tapiheru juga menjelaskan
sebagai berikut; "Sistem GBI adalah episkopal - sinodal. Artinya
ada kewenangan pada jemaat lokal (dalam hal ini gembala jemaat /
pendeta adalah pemimpin jemaat lokal). Namun ada juga
kewenangan pada pimpinan daerah dan pusat (BPD dan BPH).
Gembala jemaat mempunyai hak otonom untuk mengatur
jemaatnya, namun ia juga mempunyai kewajiban terhadap sesama
GBI, terhadap BPD dan BPH. la harus mengembangkan jemaatnya,
tetapi ia juga harus memelihara persekutuan dan kerja sama yang
baik dengan gembala jemaat GBI lainnya (Tata Gereja GBI Bab I,
Pasal 7.1) dan mengikuti aturan yang disepakati (Tata Gereja GBI
Bab I, Pasal 5). la bebas mengatur manajemen dan administrasi
serta program jemaat lokal, tetapi ia tidak bebas dalam hal
pengajarannya. Pengajarannya harus selaras dengan pengajaran
GBI yang tertuang dalam Pengakuan Iman GBI dan uraiannya.
178 Pengajaran Dasar GBI - Gereja
Jadi dapatlah disimpulkan dan ditegaskan bahwa sistem
pemerintahan di GBI adalah episkopal - sinodal. Namun karena
istilah episkopal lebih cenderung menunjukkan sistem
pemerintahan yang sentralistik maka diusulkan beberapa nama.
Pertama, sistem pemerintahan di Gereja Bethel Indonesia dapat
disebut sebagai sistem PASTORAL-SINODAL karena pastor atau
gembala-lah yang berperan aktif dalam jemaat setempat. Kedua,
sistem pemerintahan APOSTOLIK - SINODAL. Alasannya hampir
sama yakni bahwa yang paling dominan di dalam GBI adalah
gembala jemaatnya sendiri sama seperti yang terjadi pada zaman
gereja mula-mula. Bahwa pemimpin dalam sebuah jemaat adalah
apostolos atau rasul karena ia memiliki hubungan dekat dengan
Allah sehingga dapat lebih mengenal maksud dan isi hati Tuhan
dalam bentuk visi dan misi gereja tersebut.
Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa kedua sistem
pemerintahan tersebut, baik pastoral-sinodal maupun apostolik-
sinodal, bersifat desentralisasi atau mandiri. Dengan demikian
diharapkan muncul kebaktian-kebaktian besar yang akan
dipimpin oleh seorang pastor (gembala) atau apostolos (rasul).
Pengajaran Dasar GBI - Gereja 179
180 Pengajaran Dasar GBI