Kelompok 2: 5. Raden Arvidito R. P.
1. Salma Rizkia K 6. Rafa Alina Septyane
2. Luthfi Hibatullah S 7. Nabila Finaldi
3. Muhammad Irfan A 8. Nabila Fuan F.
4. Muhammad Rafli R
Wahai Rasulullah, engkau telah harum sebelum diciptakan di bumi, Engkau harum ketika berada pada tulang
dan ketika engkau berada dalam tulang rusuk Adam, ketika ia dan rusuk Nabi Ibrahim sang kekasih Allah, ketika
Hawwa menempelkan dedaunan surga ke tubuh mereka. Engkau ia dilemparkan ke sekumpulan api, sehingga
harum ketika Adam turun ke bumi engkau berada dalam tulang tidak mungkin ia terbakar. Sampai
rusuknya, ketika engkau bukan seorang manusia, bukan gumpalan kemuliaanmu yang tinggi yang menjadi saksi
daging dan bukan gumpalan darah. Bahkan engkau harum ketika akan keutamaanmu memuat dari suku yang
berupa setetes air di punggungnya Nabi Nuh 'alaihissalam ketika tinggi dan di bawahnya terdapat lapisan
naik perahu. Sementara berhala Nasr dan orang-orang kafir gunung-gunung. Ketika engkau dilahirkan,
pemujanya ditenggelamkan dalam banjir bandang. Engkau harum bumi menjadi bersinar dan cakrawala
ketika dipindah dari tulang rusuk laki-laki ke rahim wanita, ketika menjadi terang berkat cahayamu. Maka Kami
generasi berlalu diganti oleh generasi berikutnya. menerobos dalam sinar, cahaya dan
jalan-jalan petunjuk itu.
Pujian yang diriwayatkan oleh Imam at-Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir
[4167], Abu Nu’aim dalam Ma’rifah al-Shahabah juz 2 halaman 983 dan al-Hakim
dalam al-Mustadrak [5417].
https://kalam.sindonews.com/berita/1539757/70/pujian-indah-sayyidina-abbas-ke
pada-rasulullah-saw?showpage=all
Kisah Nabi dan sahabatnya dalam perangan yaitu Abu Musa Al-Asy’ari, dimana ia
juga termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang sangat luhur dianatar kaum
muslimin. Ia sendiri merupakan seseorang yang memiliki sifat dan kerpibadian yang
sangat mengagumkan, baik dari sifat cinta damai, rendah hati, baik hati. Namun ketika
sudah memasuki peperangan dengan kaum kafir, ia akan berubah menjadi sosok yang
gagah berani dan pejuang yang gigih.
Diriwayatkan juga disebuah Sabda dari Rasulullah SAW yang mengatakan
bahwa Abu Musa adalah seorang pemipin dari pasukan berkuda. Diceritakan juga
bahwa Abu Musa pernah ikut dalam peperangan bersama Rasulullah SAW, dan
dalam perang tersebut membuat telapak kaki Abu Musa sampai pecah-pecah.
Bahkan ia harus terpaksa membalut dengan sobekan kain, karena kuku pada
jarinya terkelupas habis.
Pernah sekali ketika pasukan Abu Musa dijebak dan ingin dikelabui oleh
penduduk Isfahan dengan cara mengajak perdamaian dan membayar Jizyah.
Namun dibalik itu semua hanyalah sebuah siasat semata dari kaum kafir untuk
mempersiapkan serangan selanjutnya kepada kaum Muslimin.
Namun Abu Musa berhasil mencium kebusukan mereka dengan mengajak
perdamaian yang tidak tulus. Dengan mengetahui siasat tersebut Abu Musa langsung
mempersiapkan pasukan untuk selalu bersiap dengan siaga jika terjadi pertempuran
kembali. Dan ketika mereka melancarkan serangan kembali kepada kaum muslimin,
maka Abu Musa dan pasukannya sudah tidak terkejut lagi. Dan dengan mudah Abu Musa
serta pasukan kaum muslimin berhasil memenangkan perang. Bahkan Abu Musa
memenangkan perang tersebut tidak sampai dengan setengah hari saja. dalam kehidupan
pastinya banyak kondisi atau latar belakang yang belum kita pahami dan disitulah kita
dapat mempelajari berbagai karakter.
Dalam cerita tersebut tergambar bahwa kita jangan terlalu mudah percaya dengan
perkataan ataupun perbuatan orang, terlebih orang yang baru kita kenal dalam kata lain
belum mengenalinya dengan jauh. Kita harus mencari tahu maksud dan tujuan dari yang
orang tersebut lakukan. Dalam Islam kita tidak boleh berprasangka buruh terhadap
seseorang, namun bersikap hati-hati sangat disarankan agar kita tidak tertipu.
adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang nelong adab dalam menuntut ilmi adalah sebab yang menolong berkahnya
mendapatkan ilmu ilmu
Abu Zakariya An Anbari rahmahullah mengatakan:
Dengan adab dalam menuntut ilmu,maka ilmu menjadi berkah, yaitu
و أدب ﺑﻼ ﻋﻠم ﻛروح ﺑﻼ ﺟﺳد،ﻋﻠم ﺑﻼ أدب ﻛﻧﺎر ﺑﻼ ﺣطب ilmu terus bertambah dan mendatangkan manfaat.
“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu Imam Al Ajurri rahmahullah setelah menjelaskan beberapa adab
seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal Istimia’ [2], dinukil dari penuntut ilmu beliau mengatakan:
Min Washaya Al Ulama Ii Thalabatil Ilmi [10]).
ﺣﺗﻰ ﯾﺗﻌﻠم ﻣﺎ ﯾزداد ﺑﮫ ﻋﻧد ﷲ ﻓﮭﻣﺎ ﻓﻲ دﯾﻧﮫ
“(hendaknya amalkan semua adab ini) hingga Allah menambahkan
kepadanya pemahaman tentang agamanya”
Adab terhadap ilmu merupakan adab kepada Allah dan Rasul-Nya
Sebagaimana dalil-dalil tentang memuliakan ilmu dan ulama yang telah kami sebutkan.
Manfaat untuk para pecinta nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna keimanan
salah seorang dari kalian, sampai aku lebih dicintainya daripada orang
tuanya, anaknya, ataupun seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
beliau lah yang menyampaikan kepada kita ayat-ayat Allah dan menjelaskan
kandungannya kepada umat manusia. Dengan dakwahnya teranglah
hidayah dan agama Islam ini bagi umat manusia. Tentu mencintai Nabi
adalah ibadah yang sangat utama, bahkan ciri seorang mukmin. Akan tetapi,
mukmin yang sejati adalah mukmin yang mencintai Rasulullah sesuai
dengan apa yang beliau tuntunkan.
Kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah diukur dengan
merayakan hari kelahiran beliau atau tidak merayakannya. Bukankah kita juga
mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan puluhan ribu sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya? Apakah kita juga harus merayakan hari
kelahiran mereka semua, untuk membuktikan kecintaan kita kepada mereka?
Kalau begitu berapa miliar dana yang harus dikeluarkan? Bukankah lebih baik
dana itu untuk membangun masjid, madrasah, shadaqah fakir miskin dan
maslahat-maslahat agama lainnya?
Terakhir, kami nukilkan nasihat dari para ulama Islam untuk para pecinta Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Manfaat untuk para pecinta nabi
SktIbwemaaalahlaraiaaashmbanndlaglSmitascymiIeuaabnkfip,ncuma’uiippyraMkatakaanhaakngisamt’(iutnydeadaalahakkrjuhanahlrdijlaaeaahnllhgaia-yalsbaambejblaalraaarpgghakieinnuansylayb‘iaanaaann,mrsh“uuseKunu(nabdnbiuanaeamcghrhapg/:smaaeebjlsamukiadrsanpa’lna,inumnh“rIRy)nik.anaaKusd-ttaueeierllldnaeua)ghnhl.l”aaatsnuhseneapsstlahauukasnnaalalgtna,nglbm,ulaajhahehnnnuwygg‘aaaiaknklauaitlhiiai n
pIptmoeeknnaoddmhaa-phataluo-tlkAusouih(azSpa(aam’hipareuabnnhay.iti”m)m, maphaeunslgkla)i,phmubneesrokpriaepnsuagnn-,om“reTarneetgkapmalmaenheonslegathkiaimamsui.neDnyagaindkeujantuighjaeinjlaaukhcpappaernaandaypaantg
indah.”