Studi Kasus Pendidik dalam Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi Berbantukan e-LKPD Yang Terintegrasi LMS Melalui Model Pembelajaran Project Based Learning Untuk Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Jogonalan Klaten Sri Wahyuningsih. NIM. A941230127 Mahasiswa PPG Dalam Jabatan Kategori 1 Gelombang 2 Tahun 2023. [email protected] A. DESKRIPSI STUDI KASUS Dalam rangka mensukseskan Implementasi Kurikulum Merdeka tidak lepas dari adanya perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dimana pendidik perlu menyusun modul ajar. Selama menjalani perkuliahan PPG Dalam Jabatan 2023 ini saya diberikan kesempatan untuk melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) untuk menemukan permasalahan tentang keragaman karakteristik peserta didik karena kurang efektif dan efisiennya proses pembelajaran. Saya merasa tertantang dengan permasalahan ini. Dalam kurikulum merdeka, posisi pendidik sebagai penggerak merdeka belajar, tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan belajar efektif di kelas tetapi dapat membangun hubungan efektif sesuai karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Ki Hadjar Dewantara menyatakan seorang pendidik harus di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan kekuatan untuk mengembangkan potensi dan membantu dalam mencapai tujuan hidupnya. Selain itu, pendidik juga harus terus belajar sepanjang hayat dan berkembang, agar mampu mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan dirinya secara utuh, berpikir kritis dan kreatif melalui pembelajaran yang menyenangkan dalam belajar matematika. B. ANALISIS SITUASI Pada awal pertemuan saya merancang pembelajaran dengan model lama tanpa memperdulikan keragaman karakteristik peserta didik. Hal ini menyebabkan peserta didik merasa ngantuk, bosan dan tidak bersemangat dalam pembelajaran matematika. Selanjutnya, saya melakukan evaluasi pembelajaran yaitu dengan melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui kesiapan belajar. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi yang ada di kelas, saya menyajikan video yang mampu menjadi pemantik diskusi bersama di awal materi. Peran saya bukan hanya hanya sebatas memberikan informasi tetapi sebagai teman untuk membimbing dan membantu menjadi individu berkualitas dengan pendekatan holistik dan inklusif sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing peserta didik. Sebagai pendidik harus dapat memberikan pertanyaan yang tepat untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Sedangkan sebagai
peserta didik akan merasa lebih dapat memahami materi pada proses pembelajaran jika materi prasyarat telah dikuasainya dengan baik. Pihak yang terlibat dalam perancangan dan evaluasi diantaranya dosen pembimbing lapangan, guru pamong, dan mahasiswa. Dosen pembimbing lapangan dan guru pamong berperan sebagai sumber informasi dan diskusi permasahan yang muncul selama perencanaan, pelaksanaan, refleksi, evaluasi, hingga rencana tindak lanjut pembelajaran. Sedangkan mahasiswa berperan sebagai pemeran untuk menciptakan pembelajaran yang menyesuaikan kemampuan awal peserta didik sesuai dengan teori yang telah dipelajari selama perkuliahan PPG. Tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam merancang dan mengevaluasi pembelajaran adalah saya harus memiliki pemahaman yang cukup dengan memperbanyak referensi maupun diskusi dengan dosen, guru pamong serta rekan mahasiswa untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang tepat pada asesmen diagnostik. Selain itu, terdapat kemungkinan saat pelaksanaan asesmen diagnostik terdapat peserta didik yang tidak hadir sehingga akan menghambat proses pemetaan kemampuan awal peserta didik. C. ALTERNATIF SOLUSI Saya merancang dalam menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan beraneka ragam kemampuan yang dimiliki peserta didik yaitu dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yaitu dengan mengoptimalkan teknologi di sekolah serta pemanfaatan handphone sebagai media bahan pembelajaran daalam pengambilan data dan menyelesaikan kegiatan lainnya. Saya merancang materi dan bahan ajar dengan mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) yang diturunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) untuk membuat modul ajar sesuai fase/kelasnya. Setelah Tujuan Pembelajaran dirumuskan, Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP) dan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) untuk mengukur ketercapaian hasil belajar matematika peserta didik dengan meminta saran dan pendapat dari rekan sejawat dalam MGMPS. Melalui assesmen diagnostik sebagai pemantik dengan menayangkan video pembelajaran peserta mengamati dan menyampaikan pendapatnya, selanjutnya mengelompokkan peserta didik. Penyediaan bahan ajar dan e-LKPD dalam bentuk digital (e-book) yang terintegrasi dalam LMS sekolah, agar peserta didik lebih mudah membaca dan masih kesulitan dalam memahami sebuah konsep dengan berdiskusi dengan teman sebangku. Harapannya mampu menjadi pembelajar yang mandiri tanpa berpusat pada pendidik dalam kegiatan pembelajaran. Melalui diskusi dan presentasi
permasalahan secara kelompok yang disajikan dalam e-LKPD, mampu menyelesaikan masalah yang berkaitan invers fungsi dengan benar. Untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan, saya menampilkan ice breaking agar suasana belajar dari pasif menjadi lebih aktif dan semangat lagi. Di akhir pembelajaran bersama peserta didik melakukan refleksi, memberikan tanggapan hasil presentasi, semua peserta didik dapat memberikan apresiasi kelompok yang sudah mempresentasikan hasil diskusi dan terlibat aktif. Saya menganalisis dan mengamati untuk menilai ketrampilan peserta didik, merefleksi hasil presentasi kelompok dan memberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami terkait materi hari ini. Terakhir saya memberikan penguatan dan informasi hasil kegiatan pembelajaran hari ini serta materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Model pembelajaran dengan Problem Based Learning (PBL) karena proses pembelajaran lebih berpusat pada peserta didik dan menyenangkan. Perangkat pembelajaran dapat dilihat : https://anyflip.com/pmrfe/sarz/ atau https://drive.google.com/file/d/1UXocB78I15020mi61vSroX0ISKBRwuy3/view?usp =drive_link. D. EVALUASI Penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbantukan e-LKPD yang terintegrasi LMS melalui model pembelajaran PBL, mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna, menantang, dan relevan. Proses pembelajaran matematika lebih efektif karena pendidik dapat lebih fokus dalam membimbing peserta didik pada kelompok tertentu yang butuh pendampingan. Melalui diskusi bersama mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi antar peserta didik. Hasil assesmen formatif peserta didik menunjukkan ketercapaian tujuan pembelajaran lebih dari 75% dengan kriteria tuntas diatas 75, dan penilaian ketercapaian profil pelajar pancasila dengan predikat baik dan sangat baik selama pembelajaran berlangsung. Dari aspek penilaian ketrampilan berpredikat “B” dan “A”. Berdasarkan studi kasus yang telah saya alami menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu mengatasi permasalahan keragaman karakteristik peserta didik. Rencana tindak lanjut dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan keragaman gaya belajar, minat, kultural dan sebagainya. Pembelajaran yang didapatkan adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sehingga mampu menjadi pembelajar mandiri yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis.