The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerpen dan Puisi Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia dan Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia. Puskesmas Muara Satu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search

Kumpulan Cerpen dan Puisi Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia dan Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia. Puskesmas Muara Satu

Kumpulan Cerpen dan Puisi Karya Ferizal Bapak Sastra PNS Indonesia dan Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia. Puskesmas Muara Satu

7Ia tidak bangun pukul empat lewat tujuh menit.Ia tidak menghitung hari dengan presisi yang sama.Namun ada sesuatu dalam dirinya yang jauh lebih sulit dijelaskan—sebuah keteguhan yang tidak berisik, tetapi tidakpernah goyah.Ana percaya bahwa hidup tidak selalu bisa diatur seperti jadwal kerja. Dan mungkin karena itulah, ia mampu melihat hal-hal yang sering luput dari mata orang lain.Pagi itu, ia duduk di tepi ranjang, memandangi jendela yang sedikit terbuka. Angin masuk perlahan, membawa aroma dunia luar yang selalu terasa berbeda setiap hari—meskipun sebenarnya sama.Di meja kecil di sampingnya, ada buku catatan.Buku itu bukan buku biasa.


8Di dalamnya, tidak ada angka-angka, tidak ada laporan, tidak ada keputusan resmi.Yang ada hanyalah potongan-potongan kehidupan.Catatan tentang orang-orang yang ia temui.Tentang percakapan yang tidak selesai.Tentang perasaan yang tidak sempat diucapkan.Ana menulis bukan untuk dikenang.Ia menulis agar tidak kehilangan dirinya sendiri.Ketika ia tiba di kantor, dunia sudah berjalan seperti biasa.Di tengah semua itu, Ana berjalan pelan.Bukan karena ia lambat, tetapi karena ia tidak ingin kehilangan setiap detail kecil yang sering dianggap tidak penting.


9Seorang petugas kebersihan yang menyapu dengan wajah lelah.Seorang pegawai muda yang menatap layar dengan mata kosong.Seorang ibu yang menelepon anaknya sambil berusaha terdengar kuat.Bagi banyak orang, mereka hanyalah latar.Bagi Ana, mereka adalah cerita.Ia pertama kali melihat Ferizal di sebuah rapat yang terlalu panjang untuk benar-benar produktif.Seperti biasa, ruangan dipenuhi kalimat-kalimat resmi yang terdengar benar, tetapi terasa kosong. Grafik ditampilkan. Target disebutkan. Kata “integritas” diulang berkali-kali, seolah dengan menyebutnya cukup sering, ia akan menjadi nyata.Ana duduk di barisan tengah, mencatat seperlunya.Lalu ia melihatnya.


10Seorang lelaki yang tidak banyak bicara, tetapi ketika berbicara, kata-katanya seperti memiliki berat yang berbeda.Ferizal tidak berbicara untuk didengar.Ia berbicara karena perlu.Dan di tengah ruangan yang penuh suara, justru kata-kata seperti itu yang paling jelas terdengar.\"Apa kita sedang mengejar angka, atau memperbaiki sistem?\"pertanyaan itu keluar dari Ferizal tanpa nada menantang, tanpa emosi berlebihan.Namun ruangan tiba-tiba terasa sedikit berubah.Beberapa orang menunduk.Beberapa berpura-pura mencatat.Beberapa lainnya menatap layar, seolah jawaban bisa ditemukan di sana.


11Ana mengangkat kepalanya.Ia tidak mengenal lelaki itu.Tapi ia mengenali sesuatu dalam dirinya.Sesuatu yang jarang ada: kejujuran yang tidak mencari panggung.Setelah rapat selesai, orang-orang keluar seperti air yang dilepaskan dari bendungan—cepat, tanpa arah yang jelas.Ana tetap duduk sebentar.Bukan karena ia tidak punya pekerjaan, tetapi karena ia tahu—momen-momen seperti ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.Ia melihat Ferizal berdiri, merapikan berkasnya dengan gerakan yang sederhana.Tidak ada kesan ingin diperhatikan.Tidak ada gestur yang dibuat-buat.


12Hanya seseorang yang melakukan apa yang harus dilakukan.Dan entah kenapa, itu terasa… langka.Hari-hari berikutnya, tanpa direncanakan, mereka mulai saling mengenal.Bukan melalui percakapan panjang.Bukan melalui pertemuan yang disengaja.Tetapi melalui kebetulan-kebetulan kecil yang terlalu sering untuk disebut kebetulan.Di lorong.Di kantin.Di depan mesin kopi yang kadang berfungsi, kadang tidak.Percakapan mereka sederhana.Tentang pekerjaan.


13\"Kamu tidak pernah terlihat lelah,\" kata Ferizal suatu sore.Ana tersenyum kecil.\"Bukan tidak lelah. Hanya… tidak semua kelelahan perlu ditunjukkan.\"Ferizal mengangguk pelan.Ia mengerti.Atau setidaknya, ia ingin mengerti.Di antara mereka, tidak ada yang spektakuler.Tidak ada drama.Tidak ada pengakuan besar.Tidak ada sesuatu yang bisa langsung disebut sebagai awal dari sebuah kisah.Namun justru di situlah sesuatu mulai tumbuh.


14Pelan.Hampir tidak terlihat.Seperti akar yang bekerja di bawah tanah, jauh dari perhatian siapa pun.Dan tanpa mereka sadari,di tengah system, dua manusia ini mulai menemukan sesuatu…Bab III: Sistem yang MengujiTidak ada yang benar-benar berubah di kantor itu.Jam tetap berdetak dengan cara yang sama.Berkas tetap datang tanpa henti.Dan manusia—seperti biasa—tetap mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya bisa mereka kendalikan.


15Namun di balik rutinitas yang tampak tenang, selalu ada arus yang bergerak diam-diam.Dan hari itu, arus itu mulai terasa.Pagi datang seperti biasa bagi Ferizal.Ia duduk di mejanya, membuka berkas pertama, lalu kedua, lalu ketiga—gerakan yang sudah begitu akrab hingga hampir tidak lagi membutuhkan kesadaran penuh.Namun pada berkas keempat, tangannya berhenti.Bukan karena isinya sulit.Bukan karena datanya tidak lengkap.Tetapi karena sesuatu di dalamnya… tidak selaras.Nama yang tercantum tidak sesuai dengan dokumen pendukung.Tanggal berubah di satu bagian, tetapi tetap di bagian lain.


16Dan yang paling mengganggu—ada tanda tangan yang terlihat benar, namun terasa… dipaksakan.Ferizal tidak langsung bereaksi.Ia membaca ulang.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Semakin ia membaca, semakin jelas satu hal:Ini bukan kesalahan biasa.Di tempat lain, Ana Maryana juga sedang menghadapi sesuatu yang serupa—meski dalam bentuk yang berbeda.Seorang perempuan datang ke mejanya pagi itu.Usianya mungkin sekitar lima puluh.Matanya lelah, tetapi tidak kosong.


17Ada sesuatu di sana—harapan yang sudah terlalu lama menunggu untuk padam, tetapi entah bagaimana masih bertahan.“Saya hanya ingin data anak saya diperbaiki,” katanya pelan.Ana membuka berkasnya.Kasus lama.Data tidak sinkron.Dokumen hilang sebagian.Sistem akan menyebutnya: tidak memenuhi syarat.Ana melihat perempuan itu, bukan hanya berkasnya.Dan di situlah masalah sebenarnya dimulai.Siang hari, sebuah rapat mendadak dipanggil.Semua kepala seksi diminta hadir.


18Ruangan terasa berbeda kali ini—lebih tegang, lebih tertutup, seperti ada sesuatu yang tidak diucapkan tetapi dipahami bersama.Seorang pejabat dari pusat hadir.Bukan orang yang sering terlihat.Dan jika ia datang, biasanya bukan untuk hal kecil.“Kita perlu percepatan,” katanya singkat.“Target nasional harus tercapai sebelum kuartal berikutnya.”Kata target melayang di udara, seperti sesuatu yang tidak bisa disentuh tetapi menentukan segalanya.“Beberapa penyesuaian teknis perlu dilakukan,” lanjutnya.“Termasuk dalam proses verifikasi.”Ferizal mengangkat kepala sedikit.Penyesuaian teknis.


19Ia sudah cukup lama di sistem ini untuk tahu—kata-kata seperti itu sering berarti sesuatu yang lebih dari sekadar teknis.“Apa maksud penyesuaian?” tanya Ferizal, tenang.Ruangan sejenak hening.Pejabat itu tersenyum tipis.“Simplifikasi proses. Supaya tidak terlalu kaku.”“Kaku dalam arti…?” lanjut Ferizal.“Dalam arti kita tidak perlu terlalu terikat pada detail kecil yang menghambat capaian besar.”Kalimat itu terdengar halus.Masuk akal.Bahkan, bagi sebagian orang, terdengar bijak.Namun bagi Ferizal, kalimat itu memiliki gema yang berbeda.


20Detail kecil.Ia teringat berkas di mejanya pagi tadi.Ia teringat tanda tangan yang terasa dipaksakan.Dan ia tahu—apa yang disebut “detail kecil”sering kali adalah batas terakhir antara benar dan salah.Di sudut ruangan, Ana duduk diam.Ia tidak berbicara.Tetapi ia mendengarkan dengan sangat teliti.Dan ia merasakan hal yang sama.Ada sesuatu yang sedang digeser.Pelan.Hampir tidak terasa.


21Namun cukup untuk mengubah arah.Rapat berakhir tanpa kesimpulan yang benar-benar jelas.Hanya satu hal yang pasti:Target harus tercapai.Bagaimana caranya… diserahkan kepada mereka.Sore itu, Ferizal duduk di mejanya lebih lama dari biasanya.Berkas yang tadi ia temukan masih terbuka di layar.Ia tahu apa yang harus dilakukan secara prosedur.Ia juga tahu apa yang diharapkan secara tidak tertulis.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dua hal itu tidak berjalan di jalur yang sama.


22Ana menghampirinya tanpa banyak kata.“Kamu juga merasakannya?” tanyanya pelan.Ferizal tidak langsung menjawab.Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata,“Ya.”Hanya satu kata.Namun cukup untuk menjelaskan semuanya.Di luar, matahari mulai turun perlahan.Bayangan gedung memanjang di atas jalan.Kendaraan bergerak tanpa peduli pada keputusan-keputusan kecil yang sedang dihadapi manusia di dalam ruangan itu.“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ana.


23Ferizal menatap layar di depannya.Lalu, dengan suara yang tidak keras, tetapi sangat pasti, ia berkata:“Aku akan melakukan apa yang benar.”Ana memandangnya.Bukan dengan kagum.Bukan dengan ragu.Tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam—Karena mereka berdua tahu:Pilihan itu sederhana dalam kata,tetapi tidak pernah sederhana dalam konsekuensi.Dan di sanalah perjuangan yang sebenarnya dimulai.


24Bukan di jalanan.Bukan di panggung besar.Tetapi di meja kerja, di antara berkas-berkas, di dalam keputusan-keputusan kecil yang menentukan arah sebuah bangsa tanpa pernah disadari banyak orang.Bab IV: Harga dari KejujuranKejujuran tidak pernah datang dengan tanda peringatan.Ia tidak mengetuk pintu.Tidak memberi tahu kapan ia akan diuji.Ia hanya muncul—di saat yang paling tidak nyaman,di tempat yang paling tidak memberi ruang untuk ragu.Pagi itu, suasana kantor terasa sedikit berbeda.Tidak ada yang berubah secara kasat mata.


25Meja-meja tetap di tempatnya.Orang-orang tetap datang dengan langkah yang sama.Namun ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan—seperti riak kecil yang menandakan arus besar sedang berganti arah.Ferizal dipanggil ke ruang atasannya.Undangan itu sederhana.Tanpa nada tegas.Tanpa alasan yang dijelaskan.Dan justru karena itu, ia tahu—ini bukan percakapan biasa.Ruangan itu dingin, bukan karena pendingin udara,tetapi karena percakapan-percakapan yang terjadi di dalamnya jarang benar-benar hangat.


26Atasannya duduk di balik meja besar, dengan senyum yang sudah terlalu sering dipakai untuk berbagai situasi.“Silakan duduk, Ferizal.”Ia duduk.Tenang.Seperti biasa.“Saya dengar ada beberapa berkas yang kamu tahan prosesnya.”Nada suaranya ringan.Hampir seperti obrolan santai.“Hanya berkas yang datanya belum valid, Pak,” jawab Ferizal.“Belum valid… atau kamu terlalu kaku?”Kalimat itu meluncur pelan.Namun tepat mengenai sasaran.


27Ferizal tidak langsung menjawab.Ia tahu—ini bukan pertanyaan.Ini arah.“Kalau data tidak sesuai, seharusnya diperbaiki dulu,” katanya akhirnya.Atasannya tersenyum kecil.“Dan kalau perbaikannya memakan waktu terlalu lama?”“Lebih baik lambat daripada salah.”Hening.Beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.“Atas menginginkan percepatan,” lanjut atasannya.“Kita semua harus menyesuaikan.”


28“Kita bisa mempercepat proses tanpa mengorbankan kebenaran,” jawab Ferizal.Kali ini, senyum itu menghilang.“Dunia tidak sesederhana itu, Ferizal.”Kalimat itu bukan ancaman.Namun juga bukan nasihat.Ia berada di tengah—di wilayah abu-abu yang seringkali lebih berbahaya daripada hitam atau putih.“Kadang,” lanjut atasannya,“yang penting bukan apakah sesuatu itu sempurna,tapi apakah sesuatu itu selesai.”Ferizal menatapnya.


29Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan itu,ia melihat dengan jelas—perbedaan cara mereka memandang dunia.“Saya pikir,” kata Ferizal pelan,“yang selesai tapi salah, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar.”Atasannya bersandar.Menarik napas panjang.“Ini bukan soal kamu benar atau saya salah.”“Ini soal kita berada di dalam sistem yang punya target.”Ferizal tidak menjawab lagi.Karena ia tahu—percakapan ini tidak lagi tentang logika.


30Ini tentang batas.Di luar ruangan itu, Ana Maryana berdiri di koridor.Bukan karena ia ingin menguping.Tetapi karena ia tahu—beberapa percakapan tidak perlu didengar untuk bisa dipahami.Ia melihat pintu itu.Dan entah kenapa, ia merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang akan mengubah arah.Ketika Ferizal keluar, wajahnya tetap sama.Tenang.Terkendali.Namun Ana mengenalnya cukup untuk tahu—ada sesuatu yang baru saja terjadi.


31“Apa mereka menekan?” tanya Ana.Ferizal tersenyum tipis.“Tidak secara langsung.”“Itu yang lebih berbahaya,” jawab Ana.Ferizal mengangguk.Ia tidak perlu menjelaskan lebih jauh.Sore itu, berkas yang sama kembali muncul di mejanya.Namun kali ini, ada catatan tambahan.Tulisan singkat.Tanpa tanda tangan.“Segera proses.”


32Dua kata.Sederhana.Jelas.Dan berat.Ferizal menatap layar.Lama.Sangat lama.Di kepalanya, tidak ada keraguan tentang apa yang benar.Namun untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan— apa arti dari konsekuensi.


33Di meja sebelah, Ana sedang memandangi berkas perempuan yang datang pagi tadi.Kasus yang secara sistem hampir pasti akan ditolak.Namun hati kecilnya mengatakan sebaliknya.Ia bisa mengikuti aturan.Menutup berkas.Selesai.Atau ia bisa mencoba mencari celah— jalan kecil yang mungkin tidak tercantum, tetapi masih ada.Dua meja.Dua keputusan.Dua manusia.Dan satu sistemyang tidak selalu memberi ruang untuk keduanya.


34“Kalau kita terus seperti ini…” kata Ana pelan.Ferizal melirik.“Kita akan lelah,” lanjutnya.Ferizal tersenyum tipis.“Kita memang sudah lelah.”Ana menggeleng pelan.“Bukan lelah seperti itu. Lelah yang membuat kita berhenti peduli.”Kalimat itu menggantung.Dan untuk pertama kalinya hari itu,Ferizal merasa sesuatu di dalam dirinya bergerak.Bukan ragu.


35Bukan takut.Tetapi kesadaran—bahwa perjuangan ini bukan hanya tentang benar atau salah.Tetapi tentang bertahan cukup lama, tanpa kehilangan alasan mengapa kita mulai.Ia menarik napas.Lalu, dengan gerakan yang tenang,ia menutup berkas itu tanpa memprosesnya.Di saat yang sama, Ana mengambil pulpen.Dan mulai menulis catatan tambahan di berkas perempuan itu—mencari cara, sekecil apa pun, agar cerita itu tidak berakhir begitu saja.


36Di luar, langit mulai gelap.Lampu-lampu kota menyala satu per satu, seperti harapan kecil yang menolak padam.Dan di dalam gedung itu, tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan—dua manusia sedang membayar harga dari kejujuran.Bab V: Retakan yang Mulai TerlihatSistem tidak pernah berteriak ketika ia mulai retak.Ia tidak runtuh seketika.Tidak juga menunjukkan tanda-tanda dramatis seperti dalam cerita-cerita besar.Ia hanya… berubah sikap.Pelan.Hampir tidak terasa.


37Namun cukup untuk membuat mereka yang peka mulai menyadarinya.Beberapa hari setelah percakapan itu, sesuatu mulai bergeser.Tidak ada surat resmi.Tidak ada teguran tertulis.Namun perubahan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus—dan justru karena itu, lebih sulit dilawan.Ferizal mulai merasakannya lebih dulu.Aksesnya ke beberapa berkas dibatasi.Ia tidak lagi dilibatkan dalam rapat-rapat tertentu.Dan yang paling terasa—cara orang-orang berbicara kepadanya mulai berubah.


38Lebih hati-hati.Lebih singkat.Seolah ada jarak yang tiba-tiba diciptakan tanpa pernah disepakati.Di kantin, kursi di sebelahnya yang biasanya terisi… kini sering kosong. Bukan karena tidak ada yang ingin duduk.Tetapi karena terlalu banyak yang memilih untuk menjaga jarakIa tidak marah.Tidak juga terkejut.Hanya… mengerti.Di meja kerjanya, berkas-berkas tetap datang.


39Namun kini ada pola yang berbeda.Kasus-kasus sederhana diberikan kepadanya.Yang kompleks—yang dulu menjadi tanggung jawabnya—perlahan dialihkan ke orang lain.Seolah sistem sedang berkata:Kamu tetap di sini.Tapi tidak lagi sepenuhnya di dalam.Sore itu, Ana Maryana duduk di hadapannya.“Mulai terasa?” tanyanya.Ferizal mengangguk.“Mereka tidak perlu bilang apa-apa,” lanjut Ana pelan.“Cara mereka memperlakukan kita… sudah cukup jelas.”


40Ana juga tidak luput.Catatan tambahan yang ia buat di berkas perempuan itu—yang ia harap bisa menjadi jalan kecil menuju keadilan—dikembalikan kepadanya.Dengan satu komentar singkat:“Ikuti prosedur.”Dua kata.Dingin.Final.Dan menutup semua kemungkinan yang tidak tertulis dalam aturan.“Aku hanya mencoba membantu,” kata Ana suatu sore, lebih kepada dirinya sendiri.


41Ferizal menatapnya.“Kamu membantu,” katanya.“Hanya saja… tidak semua bantuan diinginkan oleh mereka.”Ana tersenyum tipis.Senyum yang tidak sepenuhnya pahit, tetapi juga tidak lagiringan.Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa—atau setidaknya, terlihat seperti biasa.Namun di dalam diri mereka, ada sesuatu yang perlahan berubah.Pada suatu pagi, seorang pegawai muda menghampiri Ferizal.“Pak… saya mau tanya soal berkas ini.”


42Ferizal mengangguk, mempersilakan.Ia menjelaskan dengan sabar, seperti biasa.Namun di tengah penjelasan, pegawai itu berkata pelan:“Saya sebenarnya sudah diminta untuk langsung proses, Pak… tanpa terlalu dicek.”Ferizal berhenti sejenak.“Menurut kamu, itu benar?” tanyanya.Pegawai itu ragu.Matanya berpindah dari berkas ke wajah Ferizal.“Kalau ikut aturan… tidak, Pak.”“Kalau ikut tekanan?”Pegawai itu tidak menjawab.Karena jawabannya sudah jelas.


43Ferizal tidak memberi ceramah.Ia hanya berkata:“Suatu hari nanti, kamu akan hidup dengan keputusankeputusan yang kamu ambil hari ini. Pastikan kamu bisa berdamai dengan itu.”Pegawai itu mengangguk pelan.Dan untuk pertama kalinya,ia benar-benar memahami bahwa pekerjaan ini bukan hanya soal pekerjaan.Sore menjelang malam,kantor mulai sepi.Lampu-lampu tetap menyala,tetapi suara manusia mulai berkurang.


44Ferizal masih di mejanya.Ana mendekat.“Kamu pernah berpikir untuk berhenti?” tanya Ana tiba-tiba.Pertanyaan itu tidak datang dengan emosi.Tidak juga dengan tekanan.Hanya… jujur.Ferizal berpikir sejenak.“Pernah,” jawabnya.“Kapan?”“Sekarang.”Ana tidak kaget.


45Ia hanya mengangguk pelan.“Kenapa tidak?” lanjutnya.Ferizal menatap ruangan itu.Meja-meja.Kursi-kursi.Berkas-berkas.Semua terlihat biasa.Namun ia tahudi balik semua itu, ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.“Karena kalau aku pergi,” katanya pelan,“aku tidak tahu siapa yang akan tetap bertahan.”Ana memandangnya.


46Dan untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal,ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar keteguhan.Ia melihat… kesepian.Kesepian seseorang yang memilih jalan yang benar,di tempat yang tidak selalu menghargai kebenaran.“Aku tidak akan pergi,” kata Ana pelan.Ferizal menoleh.“Kita tidak harus kuat sendirian,” lanjutnya.Kalimat itu sederhana.Namun cukup untuk mengubah sesuatu yang tak terlihat.


47Di luar, malam turun sepenuhnya.Lampu kota menyala lebih terang.Suara kendaraan berkurang.Dan gedung itu berdiri diam—menyimpan ratusan cerita yang tidak pernah benar-benar diceritakan.Di dalamnya,retakan sudah mulai terlihat.Bukan pada dinding. Bukan pada struktur.Tetapi pada sesuatu yang jauh lebih rapuh—kepercayaan.Sampai suatu hari, ia menerima sebuah berkas.Kasus sederhana, katanya.Perubahan data.Koreksi kecil.Namun ketika ia periksa, ada sesuatu yang tidak cocok.


48Ia membawa berkas itu ke atasannya.“Ini perlu diperbaiki dulu, Pak.”Atasannya melihat sekilas.Lalu berkata:“Tidak perlu. Proses saja.”Ferizal mengerutkan dahi.“Datanya tidak sesuai, Pak.”Atasannya menghela napas.Lalu menatapnya lebih lama.“Ferizal, kamu jangan sok bersih. Belajar dulu memahami situasi.”


49Kalimat itu tidak menjelaskan apa pun.Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya… bergerak.“Apa maksudnya, Pak?”Atasannya tersenyum tipis.“Tidak semua hal harus dilihat terlalu detail.”Detail.Kata itu terasa akrab.Dan asing sekaligus.Ferizal pulang hari itu dengan berkas di tangannya.Ia tidak memprosesnya.


50Ia membacanya lagi.Dan lagi.Mencari alasan—menolak, untuk mengerti.Cerita lama dengan Ayah “Beberapa tahun lalu…” “Ia teringat masa ketika…”Malam itu, ayahnya bertanya:“Kamu kenapa diam saja?”Ferizal mengangkat kepala.“Ayah… kalau kita tahu sesuatu itu salah, tapi semua orang bilang itu tidak masalah…kita harus bagaimana?”Ayahnya tidak langsung menjawab.


51Ia menaruh koran yang sedang dibacanya.Lalu menatap Ferizal dengan tenang.“Kalau kamu tanya dunia, dunia akan bilang ikut saja.”Ia berhenti sejenak.“Kalau kamu tanya hati kamu, jawabannya biasanya lebih sulit.”Ferizal diam.“Terus?” tanyanya.Ayahnya tersenyum kecil.“Masalahnya bukan kamu tahu mana yang benar atau salah.”“Masalahnya adalah…apakah kamu siap hidup dengan pilihan itu.”


52Malam itu, Ferizal tidak banyak tidur.Bukan karena ia tidak tahu apa yang benar.Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia menyadari—Kebenaran tidak pernah datang sendirian.Ia selalu membawa konsekuensi.Keesokan harinya, ia kembali ke kantor.Membuka berkas itu.Menarik napas panjang.Dan ia memilih—menolak memprosesnya.


53Tidak ada yang terjadi hari itu.Tidak ada teguran.Tidak ada hukuman.Namun sejak saat itu, ia mulai memahami sesuatu yang tidak diajarkan dalam pelatihan mana pun:Ia teringat satu hal: wajah ayahnya malam itu.Dan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar hilang—apakah kamu siap hidup dengan pilihan itu?Ia tersenyum tipis. Bukan karena ia tidak lelah.Tetapi karena ia tahu—ia sudah pernah berada di titik ini sebelumnya.Dan seperti dulu, ia akan memilih hal yang sama.


54Karena baginya, idealisme bukan tentang menjadi benar sekali.Tetapi tentang tidak berhenti memilih yang benar,meskipun dunia perlahan berhenti melakukannya.Ia bekerja dengan jujur. Menolak hal-hal yang tidak sesuai.Membantu orang-orang yang datang dengan harapan di tangan mereka.Dan dunia, dalam batas tertentu, memberinya ruang.Bab VI : Situasi Di Rumah Ana MaryanaPada suatu malam, di rumah Ana Maryana yang biasanya hangat itu, udara terasa berbeda.Lebih sunyi. Lebih berat.Ibu Ana Maryana sedang sakit


55Inilah percakapan terakhir Ibunya memanggilnya pelan.“Ana…”Ia mendekat.“Iya, Bu.”“Kalau nanti kamu harus menghadapi dunia yang tidak adil,”kata ibunya perlahan,“jangan ikut menjadi tidak adil.”Ana menahan napas.Ia tidak ingin menangis.Tidak di depan ibunya.


56“Janji?”Ana mengangguk.“Janji.”Itu adalah janji yang diucapkan tanpa benar-benar mengerti betapa beratnya.Beberapa hari kemudian, ibunya pergi.Di dalam sunyi lorong birokrasi, kejujuran bukanlah sekadar kata yang tertera dalam teks sumpah jabatan, melainkan warisan suci yang berdenyut dalam nadi setiap abdi negara. Bagi Ferizal, pesan sang ayah adalah kompas di tengah badai; sebuah pengingat bahwa masalah terbesar bukanlah mengetahui mana yang benar atau salah, melainkan kesiapan hati untuk hidup dengan konsekuensi dari pilihan tersebut.


Click to View FlipBook Version