The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Sastra Sejarah Semester 6, Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP, UNS.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Windarsih Pramita Dewi, 2024-06-30 08:34:05

Ringkasan dan Representasi Novel Kubah karya Ahmad Tohari

Ebook ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Sastra Sejarah Semester 6, Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP, UNS.

Keywords: Novel sejarah

Oleh: Windarsih Pramita Dewi K4421078/B


RINGKASAN Novel ini menceritakan perjalanan hidup Karman melalui kilas balik. Karman, seorang mantan anggota Partai Komunis, diasingkan selama 12 tahun sebelum akhirnya dibebaskan. Bagian pertama novel menggambarkan kebingungan Karman setelah kembali ke kampung halamannya di kabupaten setelah 12 tahun di Pulau B (Pulau Buangan atau Buru, Maluku Utara). Di depan Markas Komando Distrik Militer, Karman kebingungan sampai ajudan Komandan Kodim menyuruhnya pergi. Karman tidak tahu ke mana harus pergi dan takut dengan reaksi orang-orang kampungnya jika ia kembali. Ia merasa tidak memiliki apa-apa dan merasa kecil. Setelah seharian di alun-alun kabupaten, Karman memutuskan pergi ke rumah sepupunya, Gono. Di rumah Gono, ia disambut oleh anak pertama Gono, Rudio, dan istri Gono yang menangis bahagia melihat Karman kembali. Karman kemudian berbincang dengan anak Gono mengenai kabar Marni, istrinya yang telah menikah lagi dengan Parta. Bagian selanjutnya menampilkan kilas balik ke masa kecil Karman yang kehilangan ayahnya dan membantu pekerjaan rumah di rumah Haji Bakir, sehingga menjadi dekat dengan keluarga Haji Bakir dan anaknya, Rifah. Pamannya, Hasyim, mantan Laskar Hisbullah, kembali dan memutuskan untuk mengirim Karman melanjutkan pendidikan ke kota hingga Karman lulus SMP. Setelah lulus, Karman bertemu Margo, kader Partai Komunis yang menyamar sebagai guru di desa Pegatan. Margo mencari bakat unggul dan bertemu Karman. Setelah berkonsultasi dengan pemimpinnya yang dikenal sebagai Gigi Baja, bersama Truman, Margo berusaha merekrut Karman ke Partai Komunis. Berbeda dengan Margo, yang menyamar sebagai guru, Triman menyamar sebagai pemimpin Partindo. Melalui Triman, Karman mendapatkan pekerjaan di kelurahan dan buku-buku tentang komunisme, marxisme, dan administrasi perkantoran.


RINGKASAN Di tengah upaya Margo untuk semakin mengikat Karman dalam Partai Komunis, Karman terlibat masalah percintaan. Rifah, yang sejak kecil disukainya, ternyata telah dilamar Abdul Rahman, membuat Karman membenci keluarga Haji Bakir karena menolak lamarannya. Margo memanfaatkan situasi ini untuk menanamkan ideologi komunis pada Karman, meningkatkan kebenciannya terhadap Haji Bakir. Selain itu, Karman merasa marah karena sawah milik ayahnya yang ditukarkan dengan padi satu ton dianggap tidak layak. Ideologi komunis yang diperkenalkan Margo terasa sangat cocok bagi Karman, karena menurutnya tuan tanah bertindak sewenang-wenang dan tidak ada keadilan, mencerminkan pertentangan kelas sosial. Perlahan-lahan, perilaku Karman mulai berubah. Dia semakin jarang bersembahyang, hingga akhirnya mengambil golok untuk merusak tempat wudhu dari bambu. Tindakan ini memicu pertengkaran dengan pamannya, Hasyim, yang merasa Karman telah bertindak terlalu jauh dan mencoba mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, Karman tetap keras kepala dan mulai mengungkit masalah sawah ayahnya yang ditukar dengan padi milik Haji Bakir. Tak lama kemudian, Karman mendengar bahwa suami Rifah meninggal, membuatnya bimbang apakah ia harus melamar Rifah. Namun, kebenciannya kepada Haji Bakir belum mereda. Margo khawatir Karman akan berubah dan kembali ke jalan yang benar, sehingga ia dan Triman mengirim seorang perempuan penggoda bernama Suti untuk menggoda Karman, memperburuk reputasinya di desa Pegatan, dan menyebabkan Haji Bakir menolak lamarannya untuk kedua kalinya. Hal ini semakin meningkatkan kebencian Karman terhadap Haji Bakir. Meskipun masih mencintai Rifah sebagai cinta pertamanya, Karman juga jatuh cinta pada Marni dan akhirnya menikahinya. Bersama Marni, ia memiliki tiga anak: Rudio, Tini, dan Tono.


RINGKASAN Selama pernikahannya dengan Marni, Karman tetap mengizinkan Marni beribadah meskipun ia mengklaim sebagai ateis. Marni berharap suatu hari suaminya akan berubah. Keadaan mulai berubah saat memasuki tahun 60-an, dan mencapai puncaknya pada tahun 1965. Peristiwa dahsyat pada malam 1 Oktober mengubah situasi. Karman menjadi ketakutan dan mudah terkejut oleh hal-hal kecil. Ketakutannya semakin meningkat setelah mengetahui bahwa Margo dan laki-laki bergigi baja telah dieksekusi mati. Akhirnya, ia memutuskan untuk menemui Triman. Sebelum pergi, ia berpamitan kepada Marni dan mengatakan bahwa Marni tidak perlu mencarinya. Namun, sebelum sampai di rumah Triman, ia bertemu dengan iring-iringan tentara yang telah menangkap Triman. Karman yang ketakutan memutuskan bersembunyi di makam keramat bernama Lubuk Waru. Selama beberapa hari bersembunyi di sana, ia bertemu dengan Kastagethek yang sedang mencari ikan. Sambil menunggu jebakannya terisi, Kastagethek bersembahyang dan berdoa, yang menggugah hati Karman. Ketika Kastagethek mulai memasak air, nasi, dan membakar ikan, Karman tak tahan lagi dengan rasa laparnya dan muncul dari persembunyiannya untuk makan bersama Kastagethek. Selama makan, Karman beberapa kali tersentuh oleh sikap pasrah Kastagethek pada kuasa Tuhan dan penerimaannya atas apa yang dimilikinya. Sebelum pergi, Kastagethek memberi Karman lima ikan, karena mengira Karman sedang mencari ikan untuk istrinya, bukan bersembunyi. Karman merasa terharu dan kagum dengan kehidupan dan pemikiran Kastagetek yang sederhana. Kastagetek adalah orang yang hanya menggantungkan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupannya yang damai itulah yang membuat Karma iri kepadanya. Karman melanjutkan perjalanannya ke Astana Lopajang,


RINGKASAN Setelah melanjutkan perjalanan ke Astana Lopajang, ia akhirnya tertangkap, tetapi karena sedang sakit terserang malaria pada waktu itu dan orang-orang tidak tega menghabisinya, Karman akhirnya dikirim ke pulau pengasingan selama 12 tahun sebagai hukuman. Karman telah kembali menjadi Karman yang dulu, dan masyarakat Pegaten telah menerima kehadirannya. Masjid Haji Bakir makin tua, temboknya rapuh dan tampak retak-retak di beberapa bagian. Para jamaah sepakat hendak merenovasi masjid. Semua orang mendapat bagiannya masing-masing. Karman memberanikan diri meminta bagiannya. Ketika tinggal dalam pengangsingan, Karman pernah belajar mematri dan mengelas. Keinginan Karman mendapat sambutan. Karman mendapat bagian untuk membuat kubah Masjid. Ia ingin membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu. Untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu Karman memperbaiki dan membuat kubah pada masjid Haji Bakir. Berkart hasil kerja kerasnya, Karman mendapatkan pujian dari orang-orang Pegaten. Karman merasa sangat bahagia. Cerita ini diakhiri dengan dilamarnya Tini oleh Jabir, anak dari Rifah yang dulu hampir dinikahi Karman dan cucu dari Haji Bakir yang dulu pernah ia benci. Selain itu, Karman ingin membuat kubah baru untuk masjid milik Haji Bakir yang sudah rusak. la menolak untuk menerima upah, hanya ingin mendapatkan kembali kepercayaan warga Pegatan. Ketika kubah masjid itu selesai dan terpasang, semua orang yang melihatnya memuji keindahan karya Karman. Dengan itu, Karman merasa bahwa ia telah menemukan kembali kebahagiaan yang sempat hilang dari hidupnya. Selesai.


REPRESENTASI Representasi sejarah dalam novel Kubah yang pertama bisa dilihat di halaman 7 yang berbunyi : "Karman merasa makin terasing. Sangat jelas terasakan ada garis pemisah yang tajam antara dirinya dan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bagian dari bumi dan lingkungan yang sedang dipijaknya. Karman merasa dirinya begitu kecil; bukan apa-apa. Semut pun bukan. "Ya, tentu saja, aku kan hanya seorang bekas Tapol, tahanan politik!" Begitu Karman berkali-kali meyakinkan dirinya." Hal ini dapat direpresentasikan dengan kejadian nyata yang terjadi di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan jurnal : Syahrul, S. (2015). Dakwah Natio-education Pada Masyarakat Eks Tahanan Politik Di Kampung Nanga-nanga Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, 16(2), 305-319. Masyarakat eks tahanan politik Kampung Nanga-Nanga Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara adalah komunitas yang diasingkan dari hiruk-pikuk penyelenggaraan negara akibat peristiwa 30 September 1965. Meskipun reformasi pada mei 1998 memberi harapan rehabilitasi, tetapi kondisi traumatik yang demikian kuat tidak memberi perubahan berarti dalam kehidupan sosial masyarakat kampung NangaNanga. Proses isolasi masyarakat eks tahanan politik yang telah berlangsung cukup lama di tempat itu menciptakan stigma bahwa kampung Nanga-Nanga dan masyarakatnya merupakan lapisan asing dalam struktur masyarakat di Kota Kendari.


REPRESENTASI Akibat dari pengasingan itu masyarakat kampung Nanga-Nanga menunjukkan beberapa perilaku seperti: pesimisme dalam berbangsa dan bernegara, apriori terhadap lembaga pendidikan, sensitif terhadap agama, dan tertutup dalam pergaulan sosial. Cap sebagai pengikut partai terlarang mengakibatkan hilangnya hak keluarga eks Tapol untuk memperoleh akses dan aktif dalam kegiatan yang diatur negara seperti menjadi PNS atau aparat negara lainnya. Mereka akhirnya kehilangan harapan dan cita-cita sehingga menganggap sekolah tidak penting. Suara Kendari.com menulis bahwa “Hingga tahun 2005, generasi kedua dan ketiga dari mereka belum juga menikmati listrik, air bersih dan jalanan menuju ke kampung itu masih tetap rusak. Kondisi masyarakat eks tahanan politik di kampung Nanga-Nanga yang mayoritas beragama Islam menghadirkan tawaran tentang perlunya pendekatan agama dalam konteks membangun kesadaran berbangsa dan menumbuhkan semangat untuk bersekolah. Pendekatan strategis tersebut diharapkan menjadi gerakan dakwah kebangsaan dan perbaikan layanan pendidikan. Akibatnya strategi dakwah ini menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat baik pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa dan lembaga pendidikan.


REPRESENTASI Representasi sejarah dalam novel Kubah yang kedua bisa dilihat di halaman 170 yang berbunyi : "Ya. Semasa kecil Karman beriman penuh terhadap ajaran bahwa segala yang maujud berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan pula. Namun, setelah menjadi orang parrao, keimanan semacam itu dibuang jauh atas pengaruh Margo dan kawan-kawan." Hal ini dapat direpresentasikan dengan kejadian nyata yang terjadi di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan jurnal : Humaedi, M. A. (2017). Konversi Keagamaan Pasca 1965, Mengurai Dampak Sosial Budaya Dan Hubungan Islam Kristen Di Pedesaan Jawa. Harmoni, 16(2), 218-240. Meskipun pembersihan PKI telah dianggap selesai di tahun 1967, namun mantan orang PKI yang berjumlah 180 di atas dalam hubungan sosial di Petungkriono kerap dij auhi, diacuhi, dicurigai, dan sering mendapatkan teror mental dan fi sik dari anggota masyarakat lain dan aparat pemerintah. Beberapa orang Islam dari kelompok NU dan Masjumi, dalam khutbah dan ceramah umum memfatwa hukum mati orang-orang PKI yang dianggap anti Tuhan tersebut. Padahal, sebelum dan saat pecahnya G 30 S, sebagian besar simpatisan PKI itu adalah orang yang beragama Islam. Jumlah selebihnya, tidak mencapai bilangan 40 adalah mereka yang berasal dari Komunitas Kristen Sadrach dan penganut agama Hindu yang tersebar di sepanjang pegunungan Dieng.


REFERENSI Humaedi, M. A. (2017). Konversi Keagamaan Pasca 1965, Mengurai Dampak Sosial Budaya Dan Hubungan Islam Kristen Di Pedesaan Jawa. Harmoni, 16(2), 218-240. 1. Syahrul, S. (2015). Dakwah Natio-education Pada Masyarakat Eks Tahanan Politik Di Kampung Nangananga Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, 16(2), 305- 319. 2.


Click to View FlipBook Version