See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/333783190
BIOGRAFI KEPEMIMPINAN PRESIDEN BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
Article · June 2019
CITATIONS READS
0 13,608
1 author:
Rafika zachriena Chumaira
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
1 PUBLICATION 0 CITATIONS
SEE PROFILE
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
Paper Manajemen dan Kepemimpinan - Biografi Gaya Kepemimpinan BJ Habibie - Biografi Gaya Kepemimpinan BJ Habibie View project
All content following this page was uploaded by Rafika zachriena Chumaira on 15 June 2019.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
BIOGRAFI KEPEMIMPINAN PRESIDEN BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
PASCA ORDE BARU TAHUN 1998-1999
Disusun oleh : Kelompok 6
Danistya Baghti Utama (20180610206)
Rafika Zachriena Chumaira (20180610212)
Deny Chandra (20180610216)
Alfian Adhi Asyambahy (20180610234)
Fadzri Fanzarsyah (20180610236)
Program Studi Ilmu Hukum
Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
1
ABSTRAK
Mulai dari Presiden Suharto, yang mengundurkan diri di tengah masa
pemerintahannya, Habibie, yang menjabat sebagai Wakil Presiden saat itu. Sesuai dengan
UU 1945, menggantikan Presiden Soeharto. Rising Habibie menjadi nomor satu di
Indonesia memberikan warna yang berbeda selama pemerintahan sebelumnya, yang
hampir mendominasi kancah politik selama lebih dari 30 tahun. Gaya Kepemimpinan
Habibie dianggap mampu mengubah tatanan nasional bangsa, dan dapat mengembalikan
kepercayaan rakyat terhadap rakyat. Habibie mampu mengubah dirinya untuk berbagi
dengan pengikut dalam menjalankan pemerintahan.
Dalam melihat gaya kepemimpinan Habibie yang relevan, Teori
Kepemimpinan Transformasional memungkinkan untuk digunakan sebagai dasar untuk
penelitian ini. Dapat dilihat melalui perjalanan singkat Habibie dalam masa jabatannya di
era Reformasi. Pemerintah pasca-Orde Baru, meninggalkan banyak tugas dan masalah
dari ujung timur ke barat.
Sebenarnya gaya kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya kepemimpinan
Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik. Pada masa
pemerintahan B.J Habibie ini, kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan
demokratisasi yang lebih besar. Pada saat itu pula peraturan-peraturan perundang-
undangan banyak dibuat. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya Habiebi sangat terbuka dalam berbicara tetapi tidak pandai dalam
mendengar, akrab dalam bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, suka uji
coba tapi tetapi kurang tekun dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam
2
penyelengaraan Negara Habibie pada dasarnya seorang liberal karena kehidupan dan
pendidikan yang lama di dunia barat.
Dengan gaya kepemimpinan semacam ini, sedikit demi sedikit Habibie
memberikan ruang bagi banyak orang untuk dapat bercita-cita, mengemukakan pendapat
di depan umum, dan memberi orang kebebasan untuk membangun organisasi politik dan
lainnya sebagai cita-cita reformasi setelah jatuhnya Orde Baru.
Kata kunci: Habibie, Gaya Kepemimpinan Transformasional, Gaya Kepemimpinan
Dedikatif-Fasilitatif, dan Orde Baru.
I. PENDAHULUAN
BJ Habibie adalah sosok yang sangat diidolakan oleh masyarakat. Sebagai orang
yang jenius yang mampu membuat kapal terbang dan terpakai kepandaiannya di negara
modern seperti Jerman. BJ Habibie memulai kariernya ditanah air sebagai Penasehat
Pemerintah Indonesia pada bidang teknologi tinggi dan teknologi pesawat. Dan pada
tahun 1978 BJ Habibie diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Beliau
memegang jabatan ini selama lima kali berturut-turut dalam kabinet pembangunan
hingga tahun 1998. Dan selama menjadi menristek ia juga merangkap memegang 47
posisi penting lainnya seperti, Presiden Direktur PT PAL Surabaya, Presiden Direktur
Pindad, Ketua Otorita Pembangunan Kawasan Batam, Kepala Direktur Industri
Strategis (BPIS).
Sebelum masyarakat Indonesia menggelar pemilihan umum tahun 1997, sebenarnya BJ
Habibie pernah menyampaikan niatnya kepada keluarga dan kerabat dekat secara
3
terbatas bahwa ia merencanakan berhenti dari jabatan selaku menteri setelah Kabinet
Pembangunan Enam berakhir. Akan tetapi pada tanggal 11 Maret 1998, MPR justru
memilih dan mengangkat BJ Habibie sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia
ketujuh.1
Pada saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi merata dikawasan Asia Tenggara.
Krisis moneter yang terjadi membuat situasi semakin tidak terkontrol dan berkembang
menjadi krisis multidimensional berkepanjangan diberbagai bidang.
Permasalahan yang dihadapi oleh seorang Habibie ketika menjabat menjadi seorang
Presiden begitu kompleks, mencakup semua lapisan: sosial, budaya, ekonomi, politik
dan hukum. Sistem yang ada tidak berjalan, malah penyebab keterpurukannya Negara
pada saat itu ialah sistem itu sendiri yang tersumbat ungkap Fachry Ali dalam bukunya
Esai Politik tentang Habibie(2013:205), tidak berjalan dari hilir ke hulu sebagaimana
mestinya. Puncaknya para demonstran dari semua kalangan turun ke jalanan dan
menuntut agar Presiden Soeharto segera turun dari kursi Presiden, yang telah menjabat
selama 30 tahun lebih.
Maka tepat pada tanggal 21 Mei 1998, pukul 09.05, di Istana Merdeka yang dihadiri
Menhankam atau Pangab Wiranto, Mensesneg
Saadilah Mursjid, Menteri Penerangan Alwi Dahlan, Menteri Kehakiman Muladi dan
Wapres B.J. Habibie, beserta Pimpinan Mahkamah Agung, Ketua DPR, Sekjen DPR,
1 Ahmad Shahab, Biografi Politik Presiden RI Ketiga BJ Habibie Berbasis Teknologi, Jakarta: Peace,
2008, hal.xvi.
4
dihadapan wartawan dalam dan luar negeri, Presiden Soeharto menyampaikan pidato
pengunduran dirinya sebagai Presiden.
Bila kita lihat kembali, apabila seorang Presiden berhenti dari jabatannya yang
akan dilakukan secara konstitusional, maka Wakil Presiden- lah yang akan
menggantikannya. Ini diatur dalam Undang-undang Dasar 1945, pasal 8 ayat (1), yang
isi lengkapnya adalah “Jika Presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan
kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis
masa jabatannya”. Dan selanjutnya yang terjadi, sejarah mencatat, seorang Fiskiawan
pesawat terbang memipin Republik Indonesia selama satu tahun lima bulan.
Diawal kepemimpinan seorang Habibie banyak poin-poin masalah yang sangat
harus diselesaikan. Dimulai dari Tragedi Semanggi yang menelan beberapa korban jiwa
dan luka-luka, pengusustan harta kekayaan Soeharto dan keluarganya, menaikkan
kembali mata uang Rupiah terhadap Dollar yang menyebabkan krisis ekonomi yang
melanda di Indonesia, serta pembebasan para tahanan politik yang ditahan selama masa
pemerintahan Orde Baru, dan tak kala seru hingga menyita perhatian dunia, lebih
khusus adalah PBB, permasalahan kasus Hak Asasi Manusia yang terjadi di Timor
Timur.
Berbicara mengenai Habibie tidak terlepas dari Gaya Kepemimpinan beliau
selama menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia. Gaya atau bentuk
kepemimpinan dari seorang Habibie dapat kita lihat dari kebiasaannya sehari-hari
ataupun latar belakang yang membentuk kepribadiannya. Gaya kepemimpian seorang
Habibie adalah cenderung untuk beperilaku pemimpin yang memberikan pertimbangan
sendiri dan rangsangan intelektual (Hasibuan:2001). Dalam hal ini biasa disebut Gaya
5
Kepemimpinan transformasional, dianggap lebih revolusioner dan aktif. Melakukan
pertimbangan sendiri yang dilakukan oleh Habibie pada malam sebelum dirinya dilantik
menjadi Presiden, dan telah membuat beberapa poin untuk nantinya akan langsung
segera dijalankan oleh dirinya sendiri, para Menteri atau bawahannya2
Era Kepemimpinan Habibie ditandai beberapa perkembangan pesat dari sudut
pandang demokrasi, misalnya pemberian kebebasan mendirikan partai politik,
kebebasan pers, dan pelepasan Narapidana Politik(Napol), bahkan memberikan
kebebasan kepada rakyat Timor Timur memilih untuk merdeka atau tetap bergabung
dengan RI, pihak oposisi yang tidak setuju atas usul ini, beranggapan bahwa kesalahan
terbesar Habibie memperbolehkan diadakannya referendum provinsi Timor Timur, ia
mengajukan hal yang cukup menggemparkan publik saat itu, yaitu mengadakan jajak
pendapat bagi warga Timor Timur untuk memilih merdeka atau masih tetap menjadi
bagian dari Indonesia dan sesuai hasil referendum, Timtim pun memilih merdeka.3
Selama Habibie menjabat menjadi Presiden, sebenarnya banyak ide yang
dilahirkan, selain melanjutkan kebijakan mantan Presiden Soeharto pendahulunya.
Salah satunya seperti yang dikatakan oleh Dody Rudianto, Habibie telah berhasil
meletakan dasar-dasar bangun arsitektural ekonomi yang menjadi landasan perbaikan
2Habibie,Baharuddin Jusuf. Detik-detik yang Menentukan,Jakarta:THC
Mandiri,2006,Hal.56-58.
3100 Tokoh Yang Indonesia:Biografi Singkat Seratus Tokoh yang Mengubah
Indonesia Paling Berpengaruh dalm Sejarah Indonesia di Abad 20. Jakarta. BUKU
KITA.hal 48
6
ekonomi menuju kesejahteraan sosial, yaitu sistem ekonomi pasar sosial yang
diwacanakan pada waktu itu. Namun sangat disayangkan waktunya keburu habis.
Gagasannya terbengkalai, tidak dilanjutkan oleh presiden penggantinya.4
II. RUMUSAN MASALAH
Tulisan ini bermaksud menjawab pertanyaan yaitu. Pertama, teori kepemimpinan,
Kedua, sifat dan kepribadian BJ Habibie, Ketiga, bagaimana gaya kepemimpinan BJ
Habibie,
III. PEMBAHASAN
A. Teori Kepemimpinan
a. Teori Kepemimpinan
Teori Kepemimpinan adalah penggeneralisasian satu seri perilaku pemimpin dan
konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latar belakang historis, sebab-
musabab timbulnya kepemimpinan, persyaratan menjadi pemimpin, sifat-sifat utama
pemimpin, tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi kepemimpinan5
4 Shahab,Ahmad, Biografi Politik Presiden RI Ketiga BJ Habibie Berbasis
teknologi, Jakarta:Peace,2008,hal xvi
5Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Grafindo Persada,
2005,hal 31.
7
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan
interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan berbagai
segi,antara lain :
Latar Belakang Sejarah Pemimpin dan Kepemimpinan
Kepemimpinan muncul adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman nenek
moyang manusia berkumpul bersama, lalu bekerja bersama-sama untuk
mempertahankan eksistensi hidupnya menentang kebuasan binatang dan alam
sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerjasama antar manusia dan ada unsur kepemimpinan.
Sebab Munculnya Pemimpin.
Tiga teori yang menonjol dalam menjelaskan kemunculan pemimpin yaitu :
a) Teori Genetis menyatakan sebagai berikut :
o Pemimpin itu tidak dibuat, akan tetapi lahir jadi pemimpin oleh bakat-bakat
lama yang luar biasa sejak lahirnya.
o Dia ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi yang
bagaimanapun juga, termasuk yang khusus.
o Secara Filosofi, teori tersebut menganut pandangan deterministis.
b) Teori Sosial menyatakan sebagai berikut :
o Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk, tidak terlahir begitu saja
o Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan
pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri.
8
c) Teori Ekologis atau Sintesis (muncul sebagai reaksi dari kedua teori tersebut
lebih dahulu), menyatakan bahwa seorang akan sukses menjadi kepemimpinan dan
bakat-bakat ini sempat dikembangkan melalui pengalaman dan usaha Pendidikan juga
sesuai dengan tuntutan lingkungan ekologisnya.6
b. Kepemimpinan Transformasional
Istilah Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership)
merupakan hasil suatu perkembangan pemikiran beberapa teoritis kepemimpinan.
Diawali oleh pemikiran MacGregor Burns tahun 1979 yang menggunakan istilah
Transforming Leadership (Kepemimpinan Mentransformasi) kemudian dikembangkan
oleh Benard M. Bass tahun 1985 dalam bukunya yang berjudul Leadership and
Perfomance Beyond Expectations yang menggunakan Transforming Leadership yang
menurut diinspirasi oleh pemikiran Burns.7 Semenjak Bass, istilah Transformational
Leadership merupakan istilah baku dalam ilmu kepemimpinan. Mengenai pengertian, isi
dan proses dari istilah Kepemimpinan Transformasional terjadi perbedaan antara
teoritisi kepemimpinan, walaupun mempunyai benang merah yang sama.
Konsep Kepemimpinan Transformasional dimulai oleh James MacGregor Burns
(1979) dalam bukunya yang mendapat hadiah Pulitzer Praise dan National Book Award
yang berjudul Leadership. Dalam bukunya tersebut, Burns menggunakan istilah
kepemimpinan mentransformasi. Bass memformulasikan pengertian konsep
kepemimpinan transformasional berbeda dengan Burns. Dalam hal ini, latar belakang
pendidikan mereka yang membuat masing-masing pandangan. Burns yang seorang
6 Ibid,hal 34-35.
7 Wirawan. Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitian. Jakarta:
Raja Grafindo Persada. 2013
9
ilmuwan politik sedangkan Bass merupakan psikologi industri, maka pola pikir mereka
berbeda.
Burns memformulasikan kepemimpinan Mentransformasionalkan sebagai berikut:
a) Antara pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama yang melukiskan nilai-
nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi dan harapan mereka. Pemimpin melihat
tujuan tersebut dan bertindak atas namanya sendiri dan atas nama para pengikutnya.
Agar pencapaian yang terjadi, memiliki rasa bangga terhadap semua pengikut, tidak
hanya pemimpin.
b) Walaupun pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama, akan tetapi tingkat
level dan potensi mereka untuk mencapai tujuan tersebut berbeda. Menurut Burns
esensi dari hubungan pemimpin dan pengikut adalha interaksi orang dengan level
motivasi dan potensi kekuasaan, termasuk keterampilan, untuk mencapai tujuan
bersama.
c) Kepemimpinan mentransformasikan berusaha mengembangkan sistem yang sedang
berlangsung dengan mengemukakan visi yang mendorong berkembangnya masyarakat
baru. Visi ini mengubungkan nilai-nilai pemimpin dan pengikut kemudian
menyatukannya. Keduanya saling mengangkat ke level yang lebih tinggi menciptakan
moral yang makin lama makin meninggi. Kepemimpinan mentransformasi merupakan
kepemimpinan moral yang meningkatkan perilaku manusia.
d) Kepemimpinan mentransformasi akhirnya mengajarkan para pengikut bagaimana
menjadi pemimpin dengan melaksanakan peran aktif dalam perubahan. Ikut sertanya
pengikut dalam perubahan secara aktif membuat pengikut menjadi pemimpin.
10
e) Menurut Burns tingkat tertinggi dari Kepemimpinan Mentransformasi adalah
terciptanya nilai-nilai akhir yang meliputi keadilan, kebebasan, kemerdekaan,
persamaan dan persaudaraan dalam masyarakat. Burns memberi contoh Kepemimpinan
Mentransformasi adalah kepemimpinan yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi (India),
Vladimir Ilich Lenin (Rusia), Mao Zedong (China), dan Martin Luther King Jr.
(Amerika).8
B. Gaya Kepemimpinan BJ Habibie
Sebenarnya gaya kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya kepemimpinan
Dedikatif-Fasilitatif, yang merupakan sendi dari Kepemimpinan Demokratik. Pada
masa pemerintahan B.J Habibie ini, kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga
melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Pada saat itu pula peraturan-
peraturan perundang-undangan banyak dibuat. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam penyelengaraan Negara Habibie pada dasarnya seorang liberal karena kehidupa
n dan pendidikan yang lama di dunia barat. Gaya komunikasinya penuh spontanitas,
meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam
situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara
cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak
cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik
ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia. BJ
Habibie, landasan pokok bagi hubungan kerjasama menurut seorang BJ. Habibie adalah
saling percaya.
8 James Macgregor Burns dalam Ibid.,hlm. 139
11
Berdasarkan uraian diatas gaya kepemimpinan BJ Habibie identik dengan gaya
kepemimpinan yang Demokratis. Dalam gaya kepemimpinan yang demokratis biasanya
memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan
komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.
* Kelebihan dan Kekurangan Gaya Kepemimpinan Demokrasi
- Kelebihan
1.Memberikan kebebasan yang besar kepada kelompok untuk mengadakan kontrol
terhadap supervisor.
2. Merasa lebih bertanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan.
3. Produktivitas lebih tinggi
4. Pemimpin dan bawahan dapat saling mengenal dan dapat saling mengisi.
5. Keputusan serta tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya ras ikut memiliki, serta
terbinanya moral yang tinggi.
- Kekurangan
1. Banyak membutuhkan komunikasi dan koordinasi.
2. Membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengambil keputusan.
3. Memberikan persyaratan tingkat “skil” (kepandaian) yang relatif tinggi bagi
pemimpin.
4. Dibutuhkan adanya toleransi yg besar kepada kedua belah pihak karena jika tidak
dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam kepemimpinannya menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3,
BJ Habibie mempunyai tiga landasan prilaku:
12
a) sandaran kekuatan rohani. Salah satu hal yang menonjol dari BJ Habibie adalah sifat
keberagamaannya yang kental. BJ Habibie meyakini apa pun yang terjadi adalah
kehendak Tuhan, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kehendak manusia.
b) kekuasaan adalah amanah. Salah satu yang mendasari prilaku kepemimpinan BJ
Habibie adalah pemahamannya
tentang ”kekuasaan”.
Menurut BJ Habibie kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan
sarana perjuangan atau pengabdian kepada bangsa dan negara. Kekuasaan adalah aman
ah yang harus ditunaikan dengan baik, demi kepentingan rakyat dalam arti yang
sebenarnya.
c) inner dialog. Terbawa dari kebiasaanya sebagai seorang insinyur, yang harus
memperhitungkan dengan terperinci segala sesuatunya. BJ Habibie melontarkan
pertanyaan kepada dirinya sendiri mengenai hal-hal mendasar yang terkait dengan
permasalahan yang sedang dihadapi.
13
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Gaya kepemimpinan BJ Habibie identik dengan gaya kepemimpinan
yang Demokratis. Dalam gaya kepemimpinan yang demokratis biasanya memandang
peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas. Salah satu Penyebab Turunnya BJ.
Habibie juga dikarenakan lepasnya timor-timor dari NKRI. Konteks yang terjadi pada
Habibie dapat dimengerti melalui sudut pandang yang berbeda, karena jalan pemikiran
Habibie, dilalui dengan cara yang berbeda. Sehingga kita harus melihat dari kacamata
sama dengan yang ada pada latar belakang Habibie. Corak dari gaya kepemimpinan
Habibie tidak banyak didasari atas kepentingan politik. Bahwa sesungguhnya,
pencapaian Habibie dalam menangani masalah di negeri ini, tidak dengan upaya dirinya
sendiri semata. Tetapi Habibie mencoba menjadikan dirinya model (role model) dalam
pergerakkan membawa perubahan dari rezim orde baru menuju reformasi tersebut.
Habibie berkeinginan, agar pengikutnya dapat mengerti dan Habibie mengerti apa yang
di inginkan pengikut agar perwujudan dari reformasi itu terlaksana.
Maka dalam pelaksanaannya sebagai pemimpin bangsa, Habibie mampu termasuk
dalam pemimpin visioner. Habibie mampu melihat ke depan bagaimana bangsa ini akan
berkembang dan dengan kokoh dari bawah dapat bertahan dari permasalahan yang
nantinya akan datang kembali. Sehingga, meskipun hanya kurun waktu satu tahun,
Habibie mampu dengan maksimal dan optimis mengendalikan kembali negara
Indonesia, dibawah pemerintahan baru.
2. Saran
14
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa
kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk
memimpin diri sendiri. Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh
tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin.
Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti.
Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak
mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung
kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipim
pin.
15
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Habibie, B.J. Detik-Detik yang Menentukan. Jakarta: THC Mandiri. 2006.
Kartono, Kartini. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal
itu. Jakarta: PT. GrafindoPersada. 2005.
Shahab, Ahmad. Biografi Politik Presiden RI Ketiga BJ Habibie Berbasis Teknologi.
Jakarta: Peace. 2008.
100 Tokoh Yang Mengubah Indonesia: Biografi Singkat Seratus Tokoh yang
Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia di Abad 20. Jakarta. BUKU KITA.hal
48
Wirawan. Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku, Organisasi, Aplikasi dan
Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2013.
Ibid,hal 34-35.
James Macgregor Burns dalam Ibid.,hlm. 139
Benard M. Bass dalam Ibid.,hlm. 140
Bimantara, R. I. (2011, May). Sejarah ketatanegaraan Indonesia pada masa Habibie.
Desember
Manna Br.S, F. (2013, July 27). B. J. Habibie political policy in 1998 up to 1999.
Sovya, H. (2013, Desember 20). Mengenal Gaya Kepemimpinan Presiden di
Indonesia.
Syakdiah. (2015). Presiden Republik Indonesia dan Gaya Ke- pemimpinannya.
Ahmad Watik Pratiknya, dkk, 1999. Pandangan dan Langkah Reformasi B.J.
Habibie. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
16
Gunawan Y, 2009, The Effect of Leader-Member Exchange on the Innovative Work
Behavior, Thesis, IMBA NCKU. Diunduh
dari http://www.airitilibrary.com/Publication/alDetailedMesh1?DocID=U0026-
0812200915120927 tanggal 14 Juni 2019
JURNAL
Na’imah, H. (2015). Peralihan Kekuasaan Presiden Dalam Lintasan Sejarah
Ketatanegaraan Indonesia. KHAZANAH Jurnal Studi Islam dan Humaniora, Vol.
13, No.1, 166.
KARYA ILMIAH
Firnandus, A. F. (2015). Pemerintahan Presiden B.J. Habibie (1998-1999) Kebijakan
Politik Dalam Negeri. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
WEBSITE
http://heregeralds.blogspot.com/2015/11/biografi-kepemimpinan-presiden-bj.html
https://id.scribd.com/document/353084832/Gaya-Kepemimpinan-Presiden-Habibi
http://annisadwinuri.blogspot.com/2013/01/gaya-kepemimpinan-bj-habibie.html
17
LEMBAR PENILAIAN SEJAWAT
No. Mahasiswa Nama Persentase Bekerja (0-
100)
20180610206 Danistya Baghti Utama 75
20180610212 Rafika Zachriena Chumaira 90
20180610216 75
20180610234 Deny Chandra 75
20180610236 Alfian Adhi Asyambahy 70
Fadzri Fanzarsyah
18
19
View publication stats