MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN
SMKN 4 BONDOWOSO
ELEMEN
CAPAIAN PEMBELAJARAN
Umum : Pada akhir fase E (kelas X), peserta didik akan mendapatkan gambaran
mengenai agribisnis tanaman sehingga mampu menumbuhkan passion
dan vision untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar.
Selain itu di akhir fase E, pada aspek hard skills peserta didik akan
mampu memahami elemen-elemen kompetensi pada mata pelajaran
Dasar-Dasar Agribisnis Tanaman.
Khusus Pada akhir fase E, peserta didik dapat memahami perkembangan proses produksi
: tanaman secara konvensional sampai modern, pertanian perkotaan (urban
farming), alat dan mesin pertanian dari yang konvensional sampai yang otomatis
dan berbasis IOT, smart farming dan isu pemanasan global, perubahan iklim,
ketersediaan pangan global, regional dan lokal, sustainable farming (pertanian
berkelanjutan), serta penerapan bioteknologi dalam pertanian.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pada akhir pembelajaran, peserta didik mampu :
1. menerangkan alat dan mesin pertanian dari yang konvensional sampai yang
otomatis dan berbasis IOT
KATA KUNCI
otomatisasi alat dan mesin pertanian, smart farming,
PROFIL PELAJAR PANCASILA
Mandiri Bernalar
Kritis
Kreatif
1
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
SARANA DAN PRASARANA
❖ Gawai ( bisa berupa handphone android, tablet, laptop dsb.)
❖ Jaringan internet yang bagus
❖ Akun gmail untuk pengumpulan tugas melalui Google Classroom
❖ Alat tulis dan buku
❖ LCD (untuk luring)
TARGET PESERTA DIDIK
Semua siswa dalam kelas masing-masing
Jumlah peserta didik dalam pembelajaran maksimal 36 peserta didik
KETERSEDIAAN MATERI MODEL & MODA PEMBELAJARAN
✓ Pengayaan untuk siswa ✓ Model Pembelajaran :
Problem Based Learning
berpencapaian tinggi: YA / TIDAK ✓ Moda Pembelajaran :
✓ Alternatif penjelasan, metode, atau daring & atau luring
aktivitas, untuk siswa yang sulit JENIS ASESMEN
memahami konsep: YA / TIDAK ✓ Observasi /pengamatan
✓ Presentasi
ASESMEN
✓ Individu
✓ Kelompok
PROFIL PELAJAR PANCASILA
Pengaturan peserta didik :
• Individu
• Kelompok ( masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang)
Metode :
• Diskusi
• Observasi
• Penugasan
2
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
MATERI AJAR
• Materi ajar :
1. Alat dan mesin pertanian dari yang konvensional sampai yang otomatis
dan berbasis IOT
• LKPD (terlampir)
• Link youtube : https://youtube/CZ2PaptT4f8 dan
https://www.youtube.com/watch?v=T-CHoAvomVE
PEMAHAMAN BERMAKNA
Salah satu tantangan pembangunan pertanian ke depan adalah
mempertahankan keberlanjutan untuk mewujudkan kedaulatan pangandan
kesejahteraan petani.
Urban Farming merupakan strategi pemanfaatan lahan di area perkotaan untuk
mengurangi ketergantungan pasar, menjadi solusi menghadapi krisis
ketahanan pangan, dan tentunya mampu meningkatkan perekonomian
masyarakat.
Smart farming (pertanian pintar) merupakan system pertanian berbasis
teknologi yang dapat membantu petani menghasilkan panen secara kuantitas
dan kualitas. Dengan penggunaan platform yang dikonektivitasikan
dengan perangkat teknologi (tablet maupun handphone) dalam pengumpulan
informasi (misalkan status hara tanah,kelembaban udara, kondisi cuaca
dsb.) yang diperoleh dari lapangan membuat pekerjaan menjadi lebih efektif
dan efisien.
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Apa pendapatmu tentang bioteknologi di bidang pertanian?
PERSIAPAN PEMBELAJARAN
Sebelum pembelajaran dimulai, pastikan bahwa :
Peserta didik :
a. Mempersiapkan alat tulis dan buku
Guru memastikan :
a. Ruang kelas, LCD, Laptop, dan materi (bahan tayang) telah siap.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
URUTAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1 6 jp Luring/ tatap muka dikelas
a Pendahuluan ( 20 menit)
Guru mengucap salam dan mengajak peserta didik berdoa untuk
- mengawali kegiatan.
- Guru menanyakan kabar peserta didik dan selalu mengingatkan
- protokol kesehatan dan selalu menjaga kesehatan.
- Guru mengingatkan kembali kepada peserta didik untuk mengisi
presensi di link yang sudah dibagikan.
b Guru memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran,
Orientasi langkah pembelajaran dan penilaian serta memberikan apersepsi
peserta dengan mengaitkan masalah yang ada di sekitar peserta didik
didik pada dengan materi yang akan dipelajari.
masalah Permasalahan yang diangkat adalah tentang :
Mengorgani - Ketersediaan lahan pertanian yang semakin berkurang
sasikan - Ketersediaan pangan baik lokal, regional maupun global
peserta - Penggunaan alat pertanian
didik Kegiatan Inti (235 menit)
Guru menyampaikan masalah yang akan dipecahkan secara
berkelompok. Masalah yang akan dipecahkan bersifat konteksual.
Dapat berupa video, maupun gambar alat-alat dan mesin pertanian
dari yang konvensional maupun otomatis, dan berbasis IOT.
- Bagaimana perkembangan penggunaan alat dan atau mesin
pertanian?
- Guru membagi peserta didik dalam kelompok.
- Peserta didik berdiskusi dan membagi tugas untuk mencari data
yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
4
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Membimbin - Peserta didik melakukan penyelidikan (mencari
g data/referensi/sumber ) untuk bahan diskusi tentang :
penyelidika 1. Alat dan atau mesin pertanian konvensional
n individu 2. Alat dan mesin pertanian modern
maupun 3. Alat dan mesin pertanian berbasis IOT
kelompok - Guru memantau keterlibatan peserta didik dalam pengumpulan
data selama proses penyelidikan.
Mengemban - Peserta didik secara berkelompok melakukan diskusi untuk
gkan dan menghasilkan solusi pemecahan masalah dan hasilnya
menyajikan dipresentasikan /disajikan dalam bentuk karya.
hasil karya - Guru memantau diskusi dan membimbing pembuatan laporan
sehingga karya setiap kelompok siap untuk dipresentasikan.
Menganalisi - Setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok lain
s dan memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan
mengevalua merangkum/membuat kesimpulan sesuai dengan masukan
si proses yang diperoleh dari kelompok lain.
pemecahan - Guru membimbing presentasi dan mendorong kelompok
masalah memberikan penghargaan serta masukan kepada kelompok lain.
- Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi
c Penutup (20 menit)
- Guru dan peserta didik melakukan refleksi tentang pembelajaran
pada pertemuan ini dengan cara menyatakan pendapat sekaligus
saran tentang bagaimana pembelajaran hari ini dari awal sampai
akhir
- Guru menyampaikan kegiatan berikutnya yaitu tentang penerapan
bioteknologi dalam pertanian.
- Doa penutup
KRITERIA PENGUKURAN KETERCAPAIAN
5
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
a. Guru membuat kriteria berhasil/tidak dari instrument performance
assessmen yang dibuat.
b. Guru membuat kriteria berhasil/tidaknya penilaian normatif dari hasil
observasi dan presentasi siswa
REFLEKSI GURU
❖ Apakah dalam pemberian materi dengan metode yang telah dilakukan serta
penjelasan teknis atau instruksi yang disampaikan untuk pembelajaran
yang akan dilakukan dapat dipahami oleh peserta didik?
❖ Bagian manakah pada rencana pembelajaran yang perlu diperbaiki?
❖ Bagaimana tanggapan peserta didik terhadap materi atau bahan ajar,
pengelolaan kelas, latihan dan penilaian yang telah dilakukan dalam
pembelajaran?
❖ Apakah dalam berjalannya proses pembelajaran sesuai dengan yang
diharapkan?
❖ Apakah arahan dan penguatan materi yang telah dipelajari dapat dipahami
oleh peserta didik?
REFLEKSI SISWA
❖ Apakah kamu memahami instruksi yang dilakukan untuk pembelajaran?
❖ Apakah media pembelajaran, alat dan bahan mempermudah kamu dalam
pembelajaran?
❖ Materi apa yang kamu pelajari pada pembelajaran yang telah dilakukan?
❖ Apakah materi yang disampaikan, didiskusikan, dan dipresentasikan dalam
pembelajaran dapat kamu pahami?
❖ Manfaat apa yang kamu peroleh dari materi pembelajaran?
❖ Sikap positif apa yang kamu peroleh selama mengikuti kegiatan
pembelajaran?
❖ Kesulitan apa yang kamu alami dalam pembelajaran?
❖ Apa saja yang kamu lakukan untuk belajar yang lebih baik?
6
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
LAMPIRAN
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK 1
No. Tema Rumusan Pengumpulan Solusi pemecahan
Masalah data masalah
1. Alat dan atau
mesin pertanian
konvensional
2. Alat dan mesin
pertanian modern
3. Alat dan mesin
pertanian
berbasis IOT
KRITERIA PENILAIAN
1. Penilaian Proses (observasi diskusi)
Berilah skor 1, 2 atau 3 yang sesuai Unsur Penilaian Jumlah
No. Nama Siswa keaktifan komunikasi skor
gagasan
1 Afreza Mayora
2 Ananda Surya Maulana
3 Andika Rohman
4 Dendik Purwanto
5 Feri Kurniawan
6 Lukmanul Hakim
7 Maraditia Firmansyah
8 Mochammad Rifki Andri F
9 Mohammad Holili
10 Mohammad Iksan
11 Muhammad Ario Pratama
Penentuan Nilai : N = Skor perolehan x 100
Skor maksimal
7
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Rubrik penilaian Skor Penilaian
Aspek yang dinilai
1 23
1 Gagasan kurang
2 Keaktifan kurang sedang bagus
3 Komunikasi
Terbata-bata sedang aktif
sedang Lancar & baik
2. Presentasi Unsur Jumlah
Berikan point 1,2 atau 3 yang sesuai. Penilaian skor
wawasan komunikasi
No. NamaSiswa Penampilan/
performance
substansi
1 Afreza Mayora
2 Ananda Surya Maulana
3 Andika Rohman
4 Dendik Purwanto
5 Feri Kurniawan
6 Lukmanul Hakim
7 Maraditia Firmansyah
8 Mochammad Rifki Andri F
9 Mohammad Holili
10 Mohammad Iksan
11 Muhammad Ario Pratama
Perhitungan nilai : Nilai = Skor yang diperoleh X 100
Skor maksimal
Rubrik penilaian Skor Penilaian
Aspek yang dinilai 1 23
1 Substansi kurang sedang mendalam
2 Wawasan kurang
3 Komunikasi sedang luas
4 Penampilan/peroformance Terbata-bata
kurang sedang Lancar &baik
sedang baik
8
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
BAHAN BACAAN
A. Perkembangan Proses Produksi Tanaman Secara Konvensional Sampai
Modern
Di dalam kehidupan manusia tidak terlepas dengan pertanian, manusia
sudah mengenal pertanian bahkan selalu berhubungan dengan pertanian.
Manusia mengenal budidaya tanaman sejak manusia mulai melakukan
kegiatan bercocok tanam. Pada awal kehidupan, manusia memenuhi
kebutuhan pangan hanya bergantung pada alam. Tanaman yang tumbuh di
alam akan diambil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia hanya
mengkonsumsi hasil tanaman dari alam dan tidak melakukan penanaman atau
budidaya.
Seiring perjalanan kehidupan manusia kebutuhan semakin meningkat,
manusia banyak tetapi hasil alam tetap maka manusia apabila mengandalkan
hasil alam tidak cukup. Manusia mulai mengenal bercocok tanam berawal dari
secara kebetulan beberapa biji-bijian yang terbuang sewaktu kaum ibu
menyiapkan makanan berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman yang
menghasilkan untuk dikonsumsi. Selanjutnya berkembang usaha bercocok
tanam sebagai salah satu kegiatan pertama pertanian. Karena kebutuhan
semakin meningkat dan hasil alam tidaklah cukup untuk memenuhi
kebutuhan, maka manusia mulai bercocok tanam dengan menyebar biji-bijian
yang ada agar tumbuh menjadi tanaman baru dan bisa dipanen.
Perkembangan pertanian dari suatu negara berjalan sesuai dengan
tahapan perkembangan masyarakat, mekanisme pasar yang berlaku,
perkembangan teknologi dan perkembangan ekonomi serta perkembangan
kelembagaan sosial.
Ada tiga tahapan perkembangan pertanian berdasarkan tingkat
kemajuandan tujuan pengelolaan sektor pertanian tersebut :
a. Tahap pertama adalah pertanian tradisional yang dicirikan dengan
tingkat produktivitas sektor pertanian yang rendah.
b. Tahap kedua adalah tahapan komersialisasi dari produk pertanian mulai
9
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN 10
dilakukan tetapi penggunaan teknologi dan modal relatif masih rendah.
c. Tahap ketiga adalah tahap seluruh produk pertanian ditujukan untuk
melayani keperluan pasar komersial dengan ciri penggunaan teknologi
serta modal yang tinggi dan mempunyai produktivitas yang tinggi pula.
Pada tahapan pertama atau tahap pertanian tradisional, para petani
biasanya menggarap tanah hanya sebatas yang dapat dikelola oleh tenaga kerja
keluarga tanpa memerlukan tenaga kerja bayaran, keadaan lingkungan statis,
penggunaan teknologi sangat terbatas, sistem kelembagaan sosial kaku,pasar
terpencar-pencar serta jaringan komunikasi antar daerah pedesaan dan
perkotaan kurang memadai dan cenderung menghambat perkembangan
produksi.
Proses perkembangan pertanian pada umumnya berkaitan dengan
upaya perubahan dari sistem pertanian yang mempunyai produktivitas rendah
kepada sistem lebih modern yang mempunyai produktivitasnya relatif tinggi
dan yang mungkin menimbulkan dampak sampingan terhadap lingkungan
akibat penggunaan teknologi dan asupan (input) pertanian modern. Dampak
sampingan tersebut tidak hanya ditemui pada pertanian modern tetapi juga
ditemui pada pertanian tradisional, sebagai akibat dari pertumbuhan
penduduk yang meningkat cepat. Meskipun selama ini pertanian tradisional
telah sukses mengelola sumberdaya pertanian tanpa melahirkan kerusakan
sumberdaya yang tidak dapat diperbaiki, tetapi permasalahan lingkungan
akan timbul akibat tekanan populasi penduduk terhadap lahan yang tersedia
relatif sempit sehingga daya dukungnya rendah.
Pertanian tradisional di daerah tropik dicirikan khususnya oleh adanya
tekanan untuk terus melakukan perluasan areal yang menyebabkan kerusakan
lingkungan. Pengaruh langsung dari perluasan areal tersebut termasuk
terjadinya pencucian hara yang relatif cepat dan adanya degradasi dari kualitas
lahan karena pembukaan hutan. Kerusakan kualitas lahan karena pertanaman
yang bersifat permanen pada lahan yang relatif miskin sehingga tidak dapat
dimanfaatkan lagi tanpa adanya upaya peningkatan kesuburan tanah. Juga
terjadi erosi tanah akibat hujan deras dan musim kering yang panjang atau
banjir, dan hilangnya sumberdaya hutan akibat adanya ladang berpindah.
Meskipun kerusakan sumberdaya alam tersebut dapat dicegah dandiperbaiki
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN 11
jika dana tersedia, tetapi beberapa diantaranya relatif sangat mahal, sehingga
lama kelamaan menjadi tidak dapat diperbaiki sama sekali.
Kerentaan dari ekosistem tropis telah menyebabkan kerusakan
sumberdaya alam berjalan dengan cepat, dan yang lebih memprihatinkan
adalah perbaikannya berjalan dengan lambat. Namun demikian masih ada
celah untuk pencegahan kerusakan sumberdaya alam dengan menyusun
perencanaan yang tepat dan tindakan antisipasi. Misalnya tenaga kerja di
pedesaan yang bekerja tidak penuh atau setengah pengangguran dapat
dimobilisasi untuk membuat terasering di daerah pegunungan atau dilibatkan
dalam program reboisasi atau penghutanan kembali hutan-hutan yang telah
rusak.
Kerusakan sumber daya alam pada pertanian modern timbul terutama
akibat dari penggunaan pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit serta
rerumputan, dan dari kegiatan irigasi. Pengaruh sampingan dari penggunaan
pestisida perlu dilihat secara hati- hati. Daya racunnya terhadap ikan dan
burung serta persistensi (daya tahan) dan daya jelajahnya di alam membuatnya
menjadi berbahaya jauh melampaui sasaran areal dari penggunaan pestisida
tersebut. Sedangkan proyek konstruksi sistem irigasi, apabila tidak sesuai
dengan fasilitas drainasenya kemungkinan besar dapat meningkatkan salinasi
dari air irigasi tersebut. Bahkan penggunaan varietas unggul baru baik pada
komoditas padi, jagung, dan gandum kadangkala menimbulkan efek samping,
baik karena penanaman varietas unggul tersebut membutuhkan pestisida
dalam jumlah banyak maupun karena varietas unggul baru tersebut
menggantikan spesies lokal yang telah mengalami seleksi alami yang lebih
cocok dengan lingkungan setempat dan yang diperlukan untuk proses
persilangan. Pengolahan tanah secara terus menerus yang dipermudah dengan
adanya mekanisasi pertanian juga dapat merusak struktur tanah. Pertanian
modern tidak dapat melepaskan ketergantungannya pada produk kimia
(pupuk dan pestisida), varietas unggul baru yang mempunyai produktivitas
tinggi dan irigasi. Harus diupayakan agar efek sampingannya dapat dicegah
atau diminimalkan dengan perencanaan pembangunan pertanian yang
komprehensif.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Pengukuran lengas tanah. Sumber : balingtan.pertanian.go.id
Pengalaman menunjukkan bahwa diversifikasi usahatani merupakan
suatu langkah transisi yang efektif. Dengan langkah ini tanaman pokok tidak
lagi mendominasi karena tanaman perdagangan yang baru diintroduksikan
seperti sayuran, buah-buahan, kakao, kopi dan tanaman lainnya sudah mulai
dijalankan bersama dengan usaha peternakan atau perikanan secara
sederhana. Upaya diversifikasi tersebut relatif telah meningkatkan
produktifitas usahatani yang sebelumnya sering menyebabkan terjadinya
pengangguran tidak kentara.
Diversifikasi tanaman. Sumber : pertanian-mesuji.id 12
Usaha diversifikasi ini sangat diperlukan mengingat angkatan kerja di
pedesaan sering berlimpah dan dengan diversifikasi angkatan kerja tersebut
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal. Pada tahapan ini, pemakaian alat
dan mesin pertanian mulai diintroduksi, demikian pula penggunaan benih
varietas unggul baru, serta pupuk, pestisida dan irigasi. Dengan demikian para
petani mampu memperoleh surplus produksi yang dapat dijual serta
mengurangi risiko kegagalan panen.
Seiring perkembangan budidaya pertanian, dewasa ini dengan adanya
perkembangan tehnologi, budidaya tanaman juga mulai berkembang. Dengan
memanfaatkan teknologi digitalisasi.
B. PERKEMBANGAN ALAT MESIN PERTANIAN
Pada zaman purba orang belum mengenal cara bercocok tanam,
manusia hanya mengambil bahan makanan yang dihasilkan alam. Namun
untuk mengambil bahan makananpun memerlukan alat. Pada zaman ini
manusia menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu.
Alat-alat yang digunakan pada masa ini antara lain: Kapak perimbas
untuk merimbas kayu, menguliti binatang, dan memecah tulang. Kapak
genggam untuk menggali umbi dan memotong hewan buruan. Alat serpih
digunakan sebagai pisau.
Kapak perimbas, Sumber : kompas.com Kapak genggam, Sumber :
Idsejarah.net
Karena kebutuhan pangan terus meningkat, maka manusia mulai 13
mengenal cara bercocok tanam walaupun masih sangat sederhana. Alat
bercocok tanam yang digunakan pada saat itu masih berasal dari batu yang
dihaluskan misalnya beliung persegi untuk menebang kayu dan mencangkul.
Kapak lonjong untuk mengolah tanah.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Kapak/beliung persegi, Sumber Idsejarah.net
Seiring perkembangan peradapan manusia dan cara bercocok tanam
maka mulailah terjadi perkembangan alat yang tadinya hanya berasal dari
batu, mulai berkembang alat-alat yang berasal dari logam walaupun
jumlahnya sedikit, karena ketersediaan logam terbatas. Alat-alat pertanian
berasal dari logam masih berkembang sampai sekarang, dan masih banyak
digunakan dalam kegiatan bercocok tanam.
Berikut ini adalah contoh alat-alat pertanian yang masih banyak
digunakan secara konvensional :
a. Cangkul adalah alat bercocok tanam tradisional yang berfungsi
untuk menggali tanah, memindahkan, maupun meratakan tanah
serta membersihkan tanah tempat tanaman bertumbuh dari rumput.
b. Kipas adalah alat bercocok tanam tradisional yang berfungsi untuk
membersihkan padi yang sudah dipanen dengan caramengipas padi
c. Bajak adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin
yang berfungsi untuk menggemburkan tanah / lahan sebelum
ditanami dengan bibit tanaman.
d. Sekop adalah alat bercocok tanam yang berfungsi untuk untuk
memindahkan tanah dari satu tempat ke tempat lain.
e. Sabit alat
aw 14
f. Ani-ani adalah alat bercocok tanam tradisional berupa sebuah pisau
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
tangkai bulir padi yang sudah matang. Dengan perkembangan
budidaya tanaman untuk memanen padi dilakukan dengan
menggunakan sabit
g. Lesung air berfungsi untuk menumbuk padi yang telah dipanen agar
terkelupas dan menjadi beras.
h. Tongkat kayu / tugal adalah alat bercocok tanam tradisional dengan
ujung runcing yang berfungsi untuk membuat lubang pada tanah
yang akan ditanami bibit tanaman dengan cara menumbuk tanah.
i. Garu. Tahap kedua dalam mengolah tanah dilakukan dengan
menggunakan garu. Hasilnya, tanah akan menjadi jauh lebih gembur
dan rata, tata kelola air menjadi jauh lebih baik, tanaman liar yang
menganggu dan berpotensi merusak hasil pertanian juga hancur.
Ada beberapa jenis garu yang biasa digunakan:
1. Garu Sisir -> Garu sisir lazim digunakan pada tanah bongkah
untuk membuatnya lebih subur. Namun, penggunaannya akan
lebih optimal pada saat lahan pertanian tersebut masih basah
setelah diolah menggunakan alat pembajak
2. Garu Piring -> Garu ini dimanfaatkan untuk memangkas
rumput pada permukaan tanah yang akan ditanami,
menghancurkan lapisan tanah sehingga lebih lembut dan siap
untuk ditanami. Setelah benih disebar, garu piring juga dapat
digunakan untuk menutup biji tersebut agar sepenuhnya
tertimbun tanah.
3. Garu Paku -> Memiliki gigi-gigi yang menyerupai paku, garu
jenis ini dimanfaatkan untuk meratakan serta menghaluskan
tanah setelah dibajak. Apabila telah masanya untuk menyiangi
tanaman yang baru tumbuh, para petani juga bisa
menggunakan alat ini.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Pacul. Sumber : faceboook.com Garu tanah. Sumber :
shopee.co.id
Sabit . sumber : blibli.com Bajak. Sumber :
jatengprov.go.id
Kipas. Sumber : facebook.com Ani-ani. Sumber :
kompasiana.com
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Lesung. Sumber : republika.co.id Tugal. Sumber : infopublik.id
Dengan berkembangnya teknologi saat ini, pekerjaan para petani juga
semakin dimudahkan dengan hadirnya alat-alat pertanian modern yang
bisa digunakan seperti di bawah ini:
a. Traktor adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan mesin
yang berfungsi untuk menggemburkan tanah yang akan ditanami
dengan bibit tanaman.
Sumber : quick.co.id
b. Rotavator adalah alat bercocok tanam modern dengan bantuan
mesin yang berfungsi untuk menggemburkan tanah dengan cara
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Sumber : solidworld.com
c. Mesin penanam jagung. Mesin penanam jagung adalah alat
bercocok tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsi
untuk menanam bibit jagung.
Sumber : shopee.co.id
d. Mesin penanam padi. Mesin penanam padi adalah alat bercocok
tanam modern dengan bantuan mesin yang berfungsiuntuk
menanam bibit tanaman padi yang masih tumbuh kecil.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
e. Pompa irigasi adalah salah satu alat bercocok tanam yang
berfungsi untuk mengairi lahan tanaman sehingga tanaman
bertumbuh dengan baik.
Sumber : klikglodok.com
f. Power weeder adalah salah satu alat bercocok tanam modern
dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mebersihkan gulma
atau tanaman penganggu dari lahan tanaman.
Sumber : amazon.in
g. Thereser adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan
bantuan mesin yang berfungsi untuk membersihkan padi yang telah
dipanen dari sisa kotoran.
19
Sumber : facebook.com
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
h. Mesin pengering padi adalah salah satu alat bercocok tanam
modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk mengeringkan
padi yang masih lembab atau basah yang baru dipanen dari sawah.
Sumber : shopee.co.id
i. Harvester adalah salah satu alat bercocok tanam modern dengan
bantuan mesin yang berfungsi untuk memanen padi dengan cara
memotong padi dan merontokkan batang dan daunnya hingga
menghasilkan padi tanpa batang dan daun.
Sumber : trelleborg.com
j. Mesin semprot adalah salah satu alat bercocok tanam modern
dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyemprot tanaman
dengan pupuk cair sebagai sumber makanan tamabahan pada
tanaman maupun menyemprot tanaman dengan obat pengusir /
pemberantas hama.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Sumber : amtast.id
k. Mesin penebar pupuk adalah salah satu alat bercocok tanam
modern dengan bantuan mesin yang berfungsi untuk menyebarkan
pupuk berbentuk serbuk pada tanaman.
Sumber : id.wikipedia.org
SMART FARMING
Smart farming adalah sistem pertanian berbasis teknologi yang
dapat membantu petani meningkatkan hasil panen secara kuantitas dan
kualitas. Smart farming merupakan metode pertanian cerdas berbasis
teknologi. Terdapat beberapa teknologi pertanian yang digunakan di
antaranya penyiraman otomatis, drone sprayer (drone penyemprot pestisida
dan pupuk cair), drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan) serta soil
and weather sensor (sensor tanah dan cuaca).
21
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Drone sprayer
Sumber : bushhguidelines.org
FARMING, PRESISI, DAN TERINTEGRASI
Penerapan metode smart farming 4.0 bukan sekedar tentang
penerapan teknologi pertanian. Namun, kunci utama dari metode ini adalah
tentang data yang terukur. Apa saja yang dibutuhkan tanaman untuk
mencapai hasil produksi yang optimal? Apa yang harus dilakukan petani?
Semua pertanyaan ini bisa dijawab dengan penerapan metode smart farming
4.0.
Keberadaan sensor tanah dan cuaca yang terpasang di lahan
pertanian, akan membantu petani dalam mendapatkan data tentang
tanamannya. Data yang dapat diperoleh dari sensor ini di antaranya seperti
kelembapan udara dan tanah, suhu, pH tanah, kadar air, curah hujan, hingga
kecepatan angin. Data tersebut dapat digunakan petani untuk memantau
kondisi lahannya.
22
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Sistem irigasi pintar ECOMOTION. Sumber : faceboook.com
Sistem Irigasi Pintar ENCOMOTION misalnya, suatu sistem yang
digunakan untuk melakukan penyiraman secara tepat dan presisi. Sistem
irigasi pintar ENCOMOTION ini menggunakan dua alat yang bernama
SiJamoor dan SiRamot. Sijamoor berperan sebagai sensor untuk memantau
kondisi lingkungan sekitar tanaman sedangkan SiRamot berperan sebagai
alat yang mengatur jumlah air yang akan diberikan pada tanaman.
Pada dasarnya, SiJamoor merupakan sensor cuaca yang akan
memantau dan mengumpulkan data secara berkala mengenai suhu,
kelembapan, intensitas cahaya, curah hujan, serta kecepatan dan arah
angin. Kemudian data tersebut secara otomatis akan terkirim dan
tersimpan pada dashboard dan aplikasi Encomotion. Kemudian data
tersebut akan digunakan oleh SiRamot (alat pengatur) untuk menentukan
jumlah air yang diberikan pada tanaman. Penyiraman otomatis akan
dilakukan oleh sistem irigasi pintar pada pukul 8 pagi dan 4 sore.
I
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
PENERAPAN INTERNET OF THINGS (IoT) SOLUSI DI SEKTOR PERTANIAN 24
Penerapan Internet of Things (IoT) pada sektor pertanian menjadi
gagasan baru yang harus dikembangkan dan sangat tepat untuk direalisasikan
pada sektor pertanian. Karena Internet of Things (IoT) mampu menjawab
semua permasalahan yang dimiliki oleh petani. Sensor- sensor yang dimiliki
Internet of Things (IoT) dalam sektor pertanian mampumendeteksi tingkat
kesuburan tanah, pengendalian penyakit maupun hama. Kemudian,
teknologi wireless yang ada pada Internet of Things (IoT)mampu mendeteksi
cuaca dan iklim. Selain itu, teknologi Internet of Things (IoT) mampu
melakukan penjadwalan otomatisasi penyiraman, penyemprotan pestisida
dan pemupukan. Dengan berbagai kekuatan yangada pada Internet of
Things (IoT) menjadi potensi dan solusi yang sangat besar untuk mendukung
dan membantu petani di Indonesia.
Perkembangan IoT
Perkembangan teknologi di dunia semakin pesat seiring maraknya
digitalisasi di berbagai sektor. Tantangan bagi pelaku bisnis yaitu
bagaimana sistem yang digunakan dapat mudah diakses dimana saja dan
kapan saja. Sehingga hal itu mendorong tumbuhnya teknologi Internet of
Things (IoT).
Internet of Things (IoT) mendeskripsikan jaringan objek fisik yang terpasang
dengan sensor, perangkat lunak, dan teknologi lain. Tujuannya yaitu untuk
menghubungkan dan bertukar data dengan perangkat sistem lain melalui
internet. “Konsep pertanian presisi tidak terlepas dari IoT, Data yang ada di
lapangan dikumpulkan oleh berbagai sensor di lapangan. Data yang dikirim
melalui internet untuk diolah dan dibuat keputusan lebih lanjut ( Wibowo,
N.H., dalam Permana 2019).
Penerapan Internet of Thing (IoT) pada pertanian dapat berupa
teknologi sensor untuk penggunaan air, sensor untuk mendeteksi serangan
hama, dan juga sensor yang mengetahui emisi lingkungan. Dengan
penerapan tersebut hasil pertanian dapat meningkat dengan pesat dan
akurat. Selain itu, IoT dapat mempermudah pengawasan lahan produksi
melalui smartphone.
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
Manfaat penggunaan IoT pada sektor pertanian
Penggunaan IoT bisa mewujudkan pertanian presisi (precision
farming) dan irigasi pintar. Artinya, melalui penggunaan sensor yang
diterapkan di lahan pertanian memungkinkan petani mendapatkan
informasi detail topografi, tingkat kesuburan, tingkat keasaman hingga
suhu tanah, bahkan dapat mengukur cuaca serta memprediksi pola cuaca.
Tantangan penerapan IoT pada sektor pertanian
IoT memiliki tantangan berupa terbatasnya daya listrik dan perangkat
komunikasi di lapangan. Hal tersebut karena sebagian besar daerah
pertanian di Indonesia berada di remote area yang terbatas infrastrukturnya.
Pada saat penerapannya pun masih ada tantangan yang dihadapi, yaitu
mengedukasi petani dalam penggunaan teknologi ini untuk mendukung
kegiatan/operasional mereka sehari-hari. Untuk mengatasi tantangan
tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta
maupun petani itu sendiri.
Dengan berkembangnya Internet of Things (IoT) pada sektor
pertanian maka berpotensi pada peningkatan produktivitas pertanian,
meningkatkan ketertarikan golongan milenial dalam bertani, dan dampak
positif lingkungan seperti penggunaan air yang akurat. Namun, tantangan
penerapan IoT perlu dihadapi oleh kita semua untuk kemajuan pertanian di
Indonesia.
25
MODUL AJAR DASAR-DASAR AGRIBISNIS TANAMAN
DAFTAR PUSTAKA
Abay, U, . 2020. Aplikasi Bioteknologi Dalam Dunia Pertanian.
https://www.swadayaonline.com/artikel/6421/Aplikasi-Bioteknologi-dalam-
Dunia-Pertanian/ , diakses tanggal 25 September 2021
Handewi, P.S.R., Mewa, A., 2002. Ketahanan Pangan : Konsep, Pengukuran dan
Strategi, FAE, Volume 20 No.1 : 12-24. Bogor
Kurnia, IGA.M. 2014. Bioteknologi Pertanian,
https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/bioteknologi -
pertanian-76 , diakses tanggal 25 September 2021.
Kusmiadi, E., 2014. Pengantar Ilmu Pertanian, repository.ut.ac.id
Permana, A. 2019. Alumni ITB Ciptakan Inovasi Alat Precision Farming,
https://www.itb.ac.id/news/read/57142/home/alumni-itb-ciptakan-inovasi-
alat-precision-farming , diakses tanggal 25 September 2021.
Rivai, R.S., Iwan, S.A., 2011. Konsep Dan Implementasi Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan Di Indonesia, Forum Penelitian Agro Ekonomi, Volume 29
No.1:13-25, Bogor.
Rubiah, H. 2021. Encomotion, Sistem Irigasi Pintar, Alat Penyiram Tanaman
Otomatis, https://www.biopsagrotekno.co.id/encomotion-sistem-irigasi-
pintar-alat-penyiram-tanaman-otomatis/ , diakses tanggal 25 Sepetember
2021.
Safitri, N.N., 2020. Peran Bioteknologi Tanaman Dalam Bidang Pertanian,
https://www.bengkulunews.co.id/peran-bioteknologi-tanaman-dalam-
bidang-pertanian , diakses tanggal 25 September 2021
Setiawan, M.I., Hery, B., Koespiadi. 2015. Pengembangan sentra pertanian perkotaan
(urban Farming) menggunakan struktur air inflated greenhouse, Prosiding
Seminar Nasional Fakultas Teknik Sipil Universitas Narotama, Surabaya.