The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

4.2 MODUL AJAR Khauf, Raja, Tawakal Kurma

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rinasusianti16, 2023-01-02 00:01:22

4.2 MODUL AJAR Khauf, Raja, Tawakal

4.2 MODUL AJAR Khauf, Raja, Tawakal Kurma

MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS X

A. Identitias Modul Program Keahlian : Semua program keahlian

Nama Penyusun : Rina Susianti, S,Pd. I Jumlah Peserta Didik : 7 Rombel (198 orang)
Jenjang Sekolah : SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru
Alokasi Waktu : 3x45 menit Kelas :X

B. Kompetensi Awal

C. Profil Pelajar Pancasila

Peserta didik akan mengembangkan kemampuan beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
Berakhlak mulia, bernalar kritis, gotong royong, berkebinekaan global, kreatif dan mandiri dalam
menyelesaikan masalah.

D. Sarana dan Prasarana

Buku cetak Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kementrian Agama Republik Indonesia 2021 kelas X,
Al- Qur’an, Laptop, alat tulis.

E. Target Peserta Didik

● Peserta didik regular : mengeksplorasi materi dan identifikasi peta konsep yang diberikan.
● Peserta didik dengan kesulitan belajar : mengeksplorasi materi dan identifikasi peta konsep secara

berulang.
● Peserta didik dengan pencapaian tertinggi: Mengeksplorasi dan mengembangkan materi serta peka

konsep dari berbagai sumber.

F. Model Pembelajaran

Point counter-point, ciritical incident, pembelajaran berbasis produk

Metode : Ceramah, tanya jawab, diskusi

A. Tujuan Pembelajaran

● Melalui model pembelajaran point counter-point, peserta didik dapat menganalisis cabang Iman:
hakikat mencintai Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal kepada-Nya, sehingga meyakini bahwa dalam
Iman terdapat banyak cabang-cabangnya, dan tercermin pada akhlak mulia dalam kehidupan
sehari-hari.

● Melalui model pembelajaran ciritical incident, peserta didik dapat menganalisis tanda-tanda mencintai
Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal kepada-Nya, sehingga meyakini bahwa dalam Iman terdapat
banyak cabang-cabangnya, dan tercermin pada akhlak mulia dalam keidupan sehari-hari.

● Melalui model pembelajaran berbasis produk, peserta didik dapat membuat dan mempresentasikan
media pembelajaran tentang hakikat mencintai Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal kepada-Nya,
sehingga meyakini bahwa dalam Iman terdapat banyak cabang-cabangnya, dan tercermin pada akhlak
mulia dalam kehidupan sehari-hari.

B. Pemahaman Bermakna

● Iman adalah sesuatu yang abstrak dan tidak mudah untuk diukur. Pada umumnya nilai-nilai keimanan
seseorang akan nampak dan mengejawantah dalam bentuk tingkah laku dan habituasi atau kebiasaan
seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga erat sekali kaitannya antara keimanan dan tingkah
laku seseorang. Semakin baik kualitas imannya, maka akan semakin baik pula perilaku dan akhlaknya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. Pertanyaan Pemantik

● Pernahkan ananda mendengar istilah khauf, raja’?
● Apa contoh perbuatan yang menceminkan sifat khauf, raja’?
● Apakah yang ananda ketahui tentang istilah tawakal?
● Apa contoh perbuatan yang mencerminkan sifat tawakal?

D. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1 Daring/Luring

1. Kegiatan Awal

a. Guru mempersiapkan alat peraga/media/bahan berupa latop, LCD.
b. Guru membuka pelajaran dengan salam dan meminta peserta didik untuk berdo’a bersama-sama,

tadarus qur’an, mempersiapkan kesiapan peserta didik, memeriksa kehadiran, kerapian, dan posisi
tempat duduk.
c. Guru memberi motivasi dan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan materi pembelajarn,
menyampaikan cakupan materi, tujuan pembelajaran, dan kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup
dan tekhnik penilaian.
d. Mengkondisikan peserta didik agar duduk secara berkelompok.

2. Kegiatan inti

a. Peserta didik bersama guru membaca Q.S Ali Imran/3: 30-33 dalil tentang Mencintai Allah SWT, serta
menghanalisis makna yang terkandung didalamnya.

b. Guru membantu siswa membaca Q. S Ali Imran/3: 30-33 dengan tartil dan membetulkan makhraj
huruf serta hukum tajwidnya.

c. Peserta didik diminta mengamati info grafis. Info grafis tersebut berisi materi tentang hakikat
mencintai Allah, khauf, Raja’, dan Tawakal.

d. Guru memberikan informasi tambahan untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap
infografis tersebut.

e. Peserta didik diminta untuk mengamati gambar (tadabur) dan menuliskan pesan-pesan moral pada
setiap gambar.

f. Guru meminta peserta didik membaca kisah inspiratif terkait dengan materi pembelajaran, yakni kisah
yang berjudul “Menekuni Al- qur’an sebagai wujud cinta kepada Allah Swt.

g. Peserta didik diminta menuliskan nilai-nilai keteladanan dari kisah inspiratif tersebut dibuku
masing-masing.

h. Selanjutnya guru meminta peserta didik untuk memulai membahas materi pembelajaran, peserta didik
diminta membentuk kelompok sesuai panduan guru.

i. Guru menjelaskan materi secara singkat.

j. Dengan model pembelajaran point counter-point peserta didik :
● Memilih tema terkait materi, yakni menganalisis makna hakikat mencintai Allah Swt, khauf,
raja’ dan Tawakal.
● Guru membagi peserta didik menjadi empat kelompok sesuai sub materi yang akan dipelajari.
● Guru meminta perwakilan masing-masing kelompok untuk menyiapkan argument sesuai
dengan pendapat kelompok.
● Guru memberi kesempatan kepada kelompok mana saja untuk memulai debat,
● Guru meminta kelompok lain untuk memberikan tanggapan, sanggahan, atau koreksi atas
argument tersebut
● Guru mengakhiri debat pada saat yang tepat, yakni ketika masing-masing kelompok telah
menyampaikan semua argument,
● Guru menyampaikan poin-poin penting dari proses debat tersebut dan mengaitkannya dengan
materi pembelajaran.

k. Guru dan peserta didik bersama-sama merumuskan kesimpulan tentang makna : hakikat mencintai
Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal.

3. Kegiatan Penutup

a. Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
b. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran.
c. Guru mengingatkan peserta didik untuk mengulang kembali pelajaran di rumah.
d. Guru mengarahkan peserta didik untuk berdoa sebelum mengakhiri pembelajaran.
e. Peserta didik menutup pelajaran dengan berdoa bersama.

Pertemuan 2 (Daring/Luring)

1. Kegiatan Awal

a. Guru mempersiapkan alat peraga/media/bahan berupa latop, LCD.
b. Guru membuka pelajaran dengan salam dan meminta peserta didik untuk berdo’a bersama-sama,

tadarus qur’an, mempersiapkan kesiapan peserta didik, memeriksa kehadiran, kerapian, dan posisi
tempat duduk.
c. Guru memberi motivasi dan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan materi pembelajarn,
menyampaikan cakupan materi, tujuan pembelajaran, dan kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup
dan tekhnik penilaian.
d. Mengkondisikan peserta didik agar duduk secara berkelompok

2. Kegiatan inti

a. Guru mengajukan pertanyaan materi tetang makna mencintai Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal
(apersepsi).

b. Guru menyampaikan materi tetang Tanda-tanda mencintai Allah Swt, khauf, raja’, dan tawakal.

c. Guru memberikan kesempatan beberapa menit untuk mempersiapakan bahan diskusi kelompok.

d. Setiap anggota kelompok memiliki tugas untuk membaca dan memahami materi yang berbeda-beda.

e. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain sesuai dengan tugas yang harus
diselesaikan untuk menyampaikan materi yang sudah dipelajari di kolompok awal.

f. Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan tugas, maka masing-masing anggota kelompok
kembali ke kelompok awalnya. Masing-masing anggota kelompok dapat mengajukan pertanyaan jika
diperlukan..

g. Guru dan peserta didik bersama-sama merumuskan kesimpulan tentang tanda-tanda hakikat mencintai
Allah, Khauf, Rja’, dan Tawakal..

3. Kegiatan Penutup

a. Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
b. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran.
c. Guru mengingatkan peserta didik untuk mengulang kembali pelajaran di rumah.
d. Guru mengarahkan peserta didik untuk berdoa sebelum mengakhiri pembelajaran.
e. Peserta didik menutup pelajaran dengan berdoa bersama.

Pertemuan 3 (Daring/Luring)

1. Kegiatan Awal

e. Guru mempersiapkan alat peraga/media/bahan berupa latop, LCD.
f. Guru membuka pelajaran dengan salam dan meminta peserta didik untuk berdo’a bersama-sama,

tadarus qur’an, mempersiapkan kesiapan peserta didik, memeriksa kehadiran, kerapian, dan posisi
tempat duduk.
g. Guru memberi motivasi dan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan materi pembelajarn,
menyampaikan cakupan materi, tujuan pembelajaran, dan kegiatan yang akan dilakukan, serta lingkup
dan tekhnik penilaian.
h. Mengkondisikan peserta didik agar duduk secara berkelompok

2. Kegiatan inti

a. Guru mengajukan pertanyaan tentang tanda-tanda hakikat mencintai Allah (apersepsi).
b. Guru menyampaikan materi tetang cara meningkatkan Cinta kepada Allah Swt, khauf, raja’, dan

tawakal beserta contohnya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Guru bersama perserta didik merancang untuk membuat quote terkait materi.

d. Menyusun jadwal yang berisi target waktu penyelesaian pembuatan quote dan mengunggah ke media
social masing-masing.

e. Guru memantau aktivitas peserta didik dan kemajuan hasil produk.

f. Menilai hasil produk untuk mengukur ketercapaian kriteria ketuntasan minimal.

g. Mengevaluasi pengalaman saat merancang dan membuat produk

h. Guru bersama-sama peserta didik melakukan evaluasi dan refleksi.

i. Guru meminta peserta didik untuk membaca rangkuman yang berisi point-point penting materi.

3. Kegiatan Penutup

f. Peserta didik diberi kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
g. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran.
h. Guru mengingatkan peserta didik untuk mengulang kembali pelajaran di rumah.
i. Guru mengarahkan peserta didik untuk berdoa sebelum mengakhiri pembelajaran.

j. Peserta didik menutup pelajaran dengan berdoa bersama.

E. Asesmen : observasi

Sikap

● Teknik Penilaian
● Instrumen Penilaian Sikap

Profil Pelajar Pancasila Jumla
h
Skor

No Nama Siswa Beriman & Berakhla Goton Berkebinekaan
bertaqwa k mulia g global
(jujur)
1- royong (menghargai)
4 1-4 1-4 1-
4

1

2

3

4

5

Profil Pelajar Pancasila

Indikator Sikap“Beriman dan bertaqwa”:

• Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran
• Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut
• Saling menghormati, toleransi
• Memelihara hubungan baik dengan esame teman sekelas.

Rubrik pemberian skor:
• 4 = jika peserta didik melakukan 4 (empat) kegiatan tersebut
• 3 = jika peserta didik melakukan 3 (tiga) kegiatan tersebut
• 2 = jika peserta didik melakukan 2 (dua) kegiatan tersebut
• 1 = jika peserta didik melakukan 1 (satu) kegiatan tersebut.

Indikator sikap “Berakhlak mulia(jujur)”
• Tidak berbohong
• Mengembalikan kepada yang berhak bila menemukan sesuatu
• Tidak nyontek, tidak plagiarism
• Terus terang.

Rubrik pemberian skor
• 4 = jika peserta didik melakukan 4 (empat) kegiatan tersebut
• 3 = jika peserta didik melakukan 3 (tiga) kegiatan tersebut
• 2 = jika peserta didik melakukan 2 (dua) kegiatan tersebut
• 1 = jika peserta didik melakukan 1 (satu) kegiatan tersebut.

Indikator sikap “Gotong royong”
• Peduli kepada esame
• Saling membantu dalam hal kebaikan
• Ramah dengan esame.

Rubrik pemberian skor

• 4 = jika peserta didik melakukan 4 (empat) kegiatan tersebut

• 3 = jika peserta didik melakukan 3 (tiga) kegiatan tersebut
• 2 = jika peserta didik melakukan 2 (dua) kegiatan tersebut
• 1 = jika peserta didik melakukan 1 (satu) kegiatan tersebut.

Indikator sikap “berkebinekaan global (menghargai)”

• Saling menghargai/ toleran

• Bersikap sopan untuk menegur bagi mereka yang mengejek
• Cinta produk negeri sendiri
• Menghargai dan menjaga karya-karya sekolah dan masyarakat sendiri.

Rubrik pemberian skor

• 4 = jika peserta didik melakukan 4 (empat) kegiatan tersebut

• 3 = jika peserta didik melakukan 3 (tiga) kegiatan tersebut
• 2 = jika peserta didik melakukan 2 (dua) kegiatan tersebut
• 1 = jika peserta didik melakukan 1 (satu) kegiatan tersebut.

● Pengetahuan : Tes tertulis
Teknik penilaian

2. Tes Tertulis KUNCI JAWABAN SKOR
NO SOAL

1. Akidah dan perilaku memiliki Cara menanamkan akidah dalam 15

hubungan yang saling terkait satu diri seseorang sejak usia dini:

sama lain. Perilaku manusia - Memberikan pemahaman
merupakan cermin dari aqidah dan ilmu agama sejak usia dini
keimananya. Oleh karena itu, akidah, melalui keluarga
akidah dan keimanan harus tertanam masing-masing.
dalam diri seseorang sejak dini.
Bagaiman cara menanamkan akidah - Belajar ilmu agama kepada
dalam diri seseorang sejak usia dini? ustadz, kiyai atau alim
ulama yang menguasai ilmu

agama secara luas dan

mendalam.

- Orang tua agar

membiasakan

anak-anaknya

mengamalkan ajaran Islam.

- Pembiasaan akhlak mulia di

sekolah, rumah, dan

lingkungan masyarakat.

2. Cinta seseorang kepada Allah Seorang hamba harus memiliki 15

tumbuh dari pengaruh akal dan jiwa rasa cinta kepada Allah Swt,
karena:
yang kuat akibat berfikir mendalam - Seseorang tidak akan
terhadap kekusaannya di langit dan memperoleh kesempurnaan
bumi. Cinta ini akan semakin iman tanpa mengenal
menggelora dengan merenungkan keagungan Allah Swt,

ayat-ayat al- qur’an dan merasakan kebaikan dan

membiasakan diri berzikir dengan ketulusan, mengakui
nama sifat-sifat Allah Swt? nikmat-nikmat dan
mencintai-Nya.

- Allah Swt mencintai

hamba-Nya, sehingga

mutlak seorang hamba

harus mencintai-Nya.

3. Seseorang yang cinta kepada Allah Sesuai kandungan Q.S ali- Imran 20

Swt memiliki tanda-tanda tertentu, /3: 31, tanda-tanda cinta kepada
diantaranya terungkap dalam Q.S ali- Allah Swt adalah mencintai
Imran/3: 31 berikut ini : Rasullah Swa.

 



 













 





 

Jelaskan tanda-tanda cinta kepada
Allah Swt sesuai kandungan ayat
tersebut!

4. Rasa takut merupakan sifat orang Macam-macam rasa takut menurut 20

bertaqwa, sekaligus merupakan bukti iman al- Ghazhali:

iman kepada Allah Swt. Rasa takut -Rasa takut tidk diterima taubatnya
ini semakin meningkat seiring

dengan meningkatnya pengetahuan -Rasa takut tidak istiqomah dalam
tentang Rabb nya. Sebutkan beramal shaleh
macam-macam rasa takut menurut

Imam al- Qhazali! -Takut akan mengikuti hawa nafsu

-Takut tertipu oleh gemerlap
duniawi

-Takut terperosok dalam jurang
maksiat

-Takut akan siksa kubur

-Takut terjebak akan kesibukan
yang melalaikan dari Allah Swt

-Takut menjadi sombong karena
memperoleh nikmat dari Allah Swt

-Takut mendapatkan siksaan di
dunia

-Takut tidak mendapat nikmat
syurgaMacam-macam rasa takut
menurut iman al- Ghazhali:
- Rasa takut tidk diterima
taubatnya

- Rasa takut tidak istiqomah dalam
beramal shaleh

- Takut akan mengikuti hawa nafsu

- Takut tertipu oleh gemerlap
duniawi

- Takut terperosok dalam
jurang maksiat

- Takut akan siksa kubur

- Takut terjebak akan
kesibukan yang melalaikan
dari Allah Swt

- Takut menjadi sombong
karena memperoleh nikmat
dari Allah Swt

- Takut mendapatkan siksaan
di dunia

- Takut tidak mendapatkan
nikmat syurga.

5. Ketika seseorang memiliki sifat Dampak positif bersandingnya sifat 30

Raja’ maka ia akan bersemangat khauf dan raja’ dalam diri
untuk menggapai rahmat Allah Swt seseorang yaitu:

yang maha pengampun, maha - Sifat khauf dapat mencegah
pengasih dan penyayang. Meskipun seseorang berbuat dosa,
bergelimang dosa, rasa optimis sedangkan raja’ dapat
mendapat ampunan Allah Swt tetap mendorong untuk taat

ada dalam hatinya. Namun perlu kepada Allah Swt.
diingat bahwa sifat Raja’ ini harus - Jika sifat khauf dan raja’ ini
bersanding dengan sifat khauf.
Jelaskan dampak positif melekat pada diri seseorang
maka ia tak akan mudah
menghakimi orang lain,

bersandingnya sifat khauf dan raja’ sebab semua keputusan ada
dalam diri seseorang! ditangan Allah Swt.

TOTAL NILAI 100

Instrumen Penilaian Pengetahuan

1. Soal Objektif

Kunci jawaban soal objektif:
Indikator Penilaian soal objektif
Penskoran jawaban dan pengolahan nilai:
Nilai 20 : Jika sesuai kunci jawaban
Nilai 0 : Jika jawaban tidak sesuai dengan kunci jawaban

Contoh pengolahan nilai objektif

IPK NO SKOR NILAI
1 SOAL
1 PENILAIAN
1
1. 20 Nilai perolehan KD
Jumlah 2. 20 pengetahuan :
3. 20
4. Rata-Rata dari nilai
IPK =

5. (60/100)*100 = 60

60

Soal essai
Kunci jawaban Soal essai:

Indikator Penilaian Soal essai

Penskoran Jawaban dan Pengolahan Nilai :

Nilai 25 : Jika sesuai kunci jawaban dan ada pengembangan jawaban.

Nilai 20 : Jika jawaban sesuai kunci jawaban.

Nilai 10 : Jika jawaban kurang sesuai dengan kunci jawaban.
Nilai 5 : Jika jawaban tidak sesuai dengan kunci jawaban.

Contoh pengolahan nilai essai NILAI

IPK NO SOAL SKOR
PENILAIAN

1 1. 30 Nilai perolehan KD

pengetahuan :

Rata-Rata dari nilai IPK =

(100/100)*100 = 100

F. Pengayaan dan Remedial

CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah :
Kelas/Semester :
Mata Pelajaran :
Ulangan Harian Ke :
Tanggal Ulangan Harian :
Bentuk Ulangan Harian :
Materi Ulangan Harian :
(KD / Indikator) :
KKM :

Nama Nilai Indikator Bentuk Nilai Setelah Keterangan
No Peserta Ulangan yang Belum Tindakan Remedial
Remedial
Didik Dikuasai

1
2
3
4
5
6
dts

Pengayaan dilaksanakan apabila pencapaian hasil belajar peserta didik sudah

mencapai dan melebihi KKM,tetapi peserta didik belum puas dengan hasil belajar

yang dicapai dan atau peserta didik dengan daya nalar yang tinggi diberikan

lemabar kerja mandiri untuk tugas yang tersetruktur. Guru memberikan soal

pengayaan sebagai berikut :

1. Membaca buku-buku tentang materi yang relevan.
2. Mencari informasi secara online tentang materi
3. Membaca surat kabar, majalah, serta berita online tentang materi
4. Mengamati langsung tentang materi yang ada di lingkungan sekitar.

A. LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Menekuni Al- Qur’an sebagai ujud Cinta kepada Allah Swt

K.H. M. Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) adalah putra dari K.H. Abdullah Rosyad bin K.H.
Hasan Basri. Ilmu Al-Qur`an diperoleh dari ayahnya sendiri, kemudian mendalaminya di
Makkah dan Madinah melalui Syaikh Abdullah Sanqara, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh
Yusuf Hajar, dan beberapa syaikh lainnya. Selama 21 tahun belajar di Makkah dan Madinah,
beliau kembali ke Kauman, Yogyakarta pada tahun 1909 M. Selain ahli qira’atsab’ah (tujuh
bacaan Al-Qur`an), beliau juga mendalami ilmu lain melalui K.H. Abdullah (Kanggotan,
Bantul, Yogyakarta), K.H. Kholil (Bangkalan, Madura), dan K.H. Shalih (Darat, Semarang).
Dikisahkan saat baru berusia 10 tahun,

beliau belajar kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Suatu ketika, saat akan shalat
berjamaah, K.H. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat, sambil berkata: “Seharusnya
yang berhak menjadi imam adalah anak ini (sambil menunjuk K.H. M. Munawwir), meskipun
masih usia belia, tetapi ahli qiraat.” Sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., beliau menekuni
Al-Qur`an dengan usaha yang amat gigih, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama
3 tahun, kemudian sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, kemudian sekali
khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan membaca Al-Qur`an selama 40 hari
berturut-turut. Beliau selalu menunaikan shalat fardu pada awal waktu diiringi dengan shalat
sunah rawatib. Secara rutin setiap setelah ashar dan subuh selalu mewiridkan Al-Qur`an.
Setiap satu pekan sekali beliau mengkhatamkan Al-Qur`an, yakni pada hari Kamis sore. Hal
ini rutin beliau lakukan sejak usia 15 tahun. Di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta K.H. M.
Munawwir fokus mengajarkan Al-Qur`an kepada para santri. Mereka sangat menghormati
beliau karena memiliki kewibawaan akhlak dan ilmu yang sangat tinggi. Di antara
murid-murid beliau yang meneruskan perjuangan pengajaran Al-Qur`an adalah K.H. Arwani
Amin (Kudus, Jawa Tengah), K.H. Badawi (Kendal, Jawa Tengah), Kyai Zuhdi (Nganjuk,
Jawa Timur), K.H. Muntaha (Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah), K.H. Murtadla (Buntet,
Cirebon, Jawa Barat), K.H. Hasbullah (Wonokromo, Yogyakarta). Beliau wafat pada hari
Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M, dimakamkan di pemakaman Dongkelan,
sekitar 2 km dari kompleks pesantren Krapyak. Karena banyaknya orang yang bertakziyah,
bertindak sebagai imam shalat jenazah secara bergiliran adalah K.H. Manshur (Popongan,
Solo, Jawa Tengah), K.H. R. Asnawi (Kudus, Jawa Tengah), dan KH. Ma’shum (Rembang,
Jawa Tengah).

Sumber: Manaqibus Syaikh: K.H. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarya, diterbitkan
oleh Majelis Ahlein (Keluarga Besar Bani Munawwir) Pesantren Krapyak, tahun 1975

Dari kisah inspiratif yang telah dibaca diatas:

Baca dan cermatilah artikel di bawah ini, kemudian tulislah nilai-nilai keteladanan yang dapat diambil dari
artikel tersebut!

B. BAHAN BACAAN GURU DAN PESERTA DIDIK
a) Hakikat Mencintai Allah Swt.
Cinta kepada Allah Swt (mahabbatullah) berarti menempatkan Allah swt. Dalam hati sanubari.
Cinta seseorang kepada Allah tumbuh dari pengaruh akal dan jiwa yang kuat akibat berpikir
mendalam terhadap kekuasaan-Nya di langit dan di bumi.

❖ Dalil Hakikat Mencintai Allah Swt
Q.S. al-Baqarah/2: 165

    

   

   

     

   

  

    

  

165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya
kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat
siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

❖ Tanda-Tanda Cinta kepada Allah Swt.
a) Mencintai Rasulullah Saw.
Di antara tanda seseorang mencintai Allah adalah adanya rasa cinta kepada rasul-Nya
sebagaimana yang firman Allah Swt. Dalam Q.S Ali Imran/3: 31

    



 

 

  

  

31. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

b) Mencintai Al-Qur’an

Seseorang yang cinta kepada Allah Swt. pasti akan cinta kepada Al-Qur’an. Kecintaan
kepada Al-Qur’an akan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Saw sebagai
penerima wahyu. Dengan demikian orang yang mencintai Al-Qur’an akan selalu
membaca dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari dan juga mencintai
sunah-sunah Rasulullah Saw.

c) Mendahulukan Perkara yang Dicintai oleh Allah Swt.
Apa pun yang dicintai oleh Allah Swt. akan lebih diutamakan oleh seseorang yang
mencintai Allah Swt. Keikhlasan hati orang-oang yang cinta kepada Allah Swt. berbuah
amal kebaikan kepada seluruh aktivitas kehidupannya, mereka merasa ringan untuk
meninggalkan semua urusan demi melaksanakan perintah Dzat yang dicintai.

d) Tak Gentar Menghadapi Hinaan
Kecintaan seseorang kepada Allah Swt. akan menjadikannya teguh dalam mengamalkan
ajaran Islam. Kekuatan cinta membuatnya kuat menghadapi berbagai macam hujatan,
hinaan, cemoohan, dan ujaran kebencian.

❖ Cara Meningkatkan Cinta kepada Allah Swt.
a) Memahami Besarnya Cinta Allah Swt. kepada Hamba-Nya
Meningkatkan rasa cinta kepada Allah Swt. dapat dilakukan dengan memahami betapa
besarnya cinta Allah Swt. kepada hamba-Nya. Allah tidak pernah berhenti memberikan
nikmat kepada hamba-Nya tanpa terkecuali, baik yang mukmin ataupun tidak, dan juga
meskipun manusia berbuat dosa dan maksiat.

b) Senantiasa Membersihkan Hati
Hati akan bersih jika diisi dengan cinta kepada Allah Swt. dengan cara melakukan
perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan selalu mengingatnya dengan berzikir.

c) Mempelajari Ilmu Agama secara Mendalam
Seseorang yang mempelajari ilmu agama secara luas dan mendalam akan
menjadikannya semakin cinta kepada Allah Swt. Dengan mempelajari ilmu agama akan
semakin kuat pula rasa kagum kepada Allah Swt karena mengetahui lebih dalam
kebesaran dan keagungan-Nya.

2. Hakikat Takut kepada Allah Swt (Khauf)
❖ Pengertian Khauf
Secara bahasa, khauf adalah lawan kata al-amnu. Al-Amnu adalah rasa aman, dan khauf
adalah rasa takut. Khauf adalah perasaan takut terhadap siksa dan keadaan yang tidak
mengenakkan karena kemaksiatan dan dosa yang telah diperbuat.

Bagi seorang muslim, perasaan ini mutlak dihadirkan. Karena akan mengantarkan pada satu
keadaan spiritual yang mendukung kualitas keberagamaan seorang muslim.

Orang yang memiliki rasa khauf akan selalu percaya diri, allah berfirman dalam surat
‫ن‬Aَ ‫ْو‬n‫ ُز‬-‫ ِٕى‬N‫ْلفَ ۤا‬u‫ا‬r‫ُه ُم‬ay‫ َك‬a‫ ِٕى‬t‫و ٰۤل‬5ُ‫فَا‬2‫ ِه‬:‫َو َم ْن ّيُ ِط ِع هّٰلا َ َو َر ُس ْولَ ٗه َويَ ْخ َش هّٰلا َ َويَتَّ ْق‬
Artinya : Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan
bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Dan orang yang beriman pasti memiliki rasa khauf, Allah berfirman dalam surat Ali-Imran
ayat 175 :
‫ِإنَّ َما ٰ َذلِ ُك ُم ال َّش ْي َطا ُن يُ َخ ِّو ُف َأ ْولِيَا َءهُ فَاَل تَ َخافُو ُه ْم َو َخافُو ِن ِإ ْن ُك ْنتُ ْم‬
Artinya : “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika
kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 175).

❖ Manfaat Memiliki Rasa Khauf
Khauf dapat meningkatkan kualitas ima seorang muslim, berikut manfaat memiliki sifat
khauf :
1. Terhindar dari kemaksiatan, sebab jika kita sadar allah maha melihat lagi maha
mengetahui, kita akan takut untuk melakukan kemaksiatan.
2. Mampu menjaga tutur kata dan perbuatannya dari perilaku maksiat yang dilarang oleh
Allah.
3. Semakin hari bertambah rajin ibadahnya dan amal kebaikannya.
4. Tampak berani menghadapi setiap rintangan, sepanjang untuk membela kebenaran,
sebab dalam hatinya tidak ada rasa takut selain hanya kepada Allah SWT.
5. Jika disebutkan nama Allah, hatinya bergetar dan jiwanya tunduk khusyuk
mengagungkan nama-Nya.
6. Senantiasa menjauhi dan menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

❖ Cara menumbuhkan rasa Khauf
rasa khauf dapat ditimbulkan dengan cara sebagai berikut :
1. Selalu patuh dan taat rerhadap perintah allah dan menjauhi.laeangannya.
2. Senanriasa menyadari bahwa Allah maha melihat lagi apa maha menferahui.
3. Mentadaburi al-qur'an
4. Selalu berpikiran bahwa ajal bisa datang kapan saja.

3. Hakikat Berharap kepada Allah Swt. ( Raja’)
❖ Pengertian Raja’
Secara bahasa, raja’ (‫ )رجاء‬berasal dari kata rajâ — yarjû – rajâ-an, yang berarti mengharap
dan pengharapan. Yakni mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rahmat
dari-Nya.
Imam Ghazali dalam Minhajul Abidin menjelaskan, raja’ adalah kebahagiaan dan
semangatnya hati (al ibtihaj) karena mengetahui begitu banyak karunia Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan menjadi tenang (al istirwah) karena mengingat keluasan rahmat-Nya.
Sebagaimana khauf, raja’ hukumnya juga wajib. Ia harus dimiliki setiap mukmin.
Lawannya adalah putus asa (al ya’su) dan Allah melarangnya.

❖ Keutamaan Raja’
a) Terwujudnya Cita-Cita
Orang yang berharap kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala, ia akan mendapatkan apa yang
ia harapkan.
‫يَقُو ُل هَّللا ُ تَ َعالَى َأنَا ِع ْن َد َظ ِّن َع ْب ِدى بِى‬
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.”
Ketika seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, Allah akan mewujudkan kebaikan dan
harapan tersebut. Sebaliknya, ketika seseorang berburuk sangka kepada Allah dan putus
asa dari rahmat Allah, ia pun akan mendapatkan apa yang yakini tersebut.

b) Dimudahkan Istiqamah dalam Kebenaran

Orang yang memiliki raja’ akan Allah mudahkan istiqamah dalam kebenaran, bahkan Allah
memudahkannya untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
‫لَقَ ْد َكا َن لَ ُك ْم فِي َر ُسو ِل هَّللا ِ ُأ ْس َوةٌ َح َسنَةٌ لِ َم ْن َكا َن يَ ْر ُجو هَّللا َ َوا ْليَ ْو َم اَآْل ِخ َر َو َذ َك َر هَّللا َ َكثِي ًرا‬
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

c) Selamat dari Siksa
‫لاَ يَ ُموتَ َّن َأ َح ُد ُك ْم ِإلاَّ َو ُه َو يُ ْح ِس ُن الظَّ َّن بِاهَّل ِ َع َّز َو َج َّل‬
Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati sebelum berbaik sangka kepada Allah
Azza wa Jalla. (HR. Muslim)
Mujahid rahimahullah mengatakan, seorang hamba pada hari kiamat diperintahkan masuk
neraka. Lalu hamba itu berkata, “Aku tidak pernah menyangka yang seperti ini.”Allah
bertanya,“Lalu apa yang engkau sangkakan?” Hamba itu menjawab, “Engkau mengampuni
dosaku.”Allah berfirman, “Beri dia jalan ke surga.”

d) Berjumpa dengan Allah
Salah satu raja’ yang sering diulang dalam Al Qur’an adalah harapan bertemu Allah. Ini
merupakan raja’ tertinggi dan Allah pasti akan mengabulkannya.
‫َم ْن َكا َن يَ ْر ُجو لِقَا َء هَّللا ِ فَِإ َّن َأ َج َل هَّللا ِ َآَل ٍت َو ُه َو ال َّس ِمي ُع ا ْل َعلِي ُم‬
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang
dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS. Al Ankabut: 5)

e) Terhindar dari Putus Asa
Orang yang memiliki raja’ benar-benar memahami betapa luasnya rahmat Allah, betapa
agung kasih sayang-Nya dan betapa besar ampunan-Nya. Maka ia takkan pernah putus asa,
bahkan sebesar apa pun ia pernah berdosa.
‫َولَ ْو يَ ْعلَ ُم ا ْل َكافِ ُر َما ِع ْن َد هَّللا ِ ِم َن ال َّر ْح َم ِة َما قَنِطَ ِم ْن َجنَّتِ ِه َأ َح ٌد‬
Dan jika saja orang kafir tahu rahmat Allah, tidak seorang pun (dari mereka) yang putus
asa terhadap surga-Nya. (HR. Muslim)

❖ Cara Menumbuhkan dan Menguatkan Raja’
Bagaimana agar raja’ tumbuh dan kuat di hati kita? Ada beberapa kiat yang bisa kita
amalkan.
a) Mengingat Anugerah dan Nikmat Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan begitu banyak nikmat dan anugerah-Nya
kepada kita. Bahkan tanpa kita minta.Bukankah kita tak pernah meminta memiliki dua
tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga. Orang tua juga tidak memohon sedetil itu saat
anaknya berada dalam kandungan. Namun Allah telah mengagunerahkannya.
Betapa banyaknya nikmat yang tak pernah berlalu dari kehidupan kita. Jantung yang terus
berdetak, nadi yang terus berdenyut, oksigen gratis yang terus kita hirup, sinar matahari
yang membuat manusia dan bumi terus hidup.
Belum lagi rezeki yang Allah karuniakan hingga tak seorang pun di antara kita yang mati
kelaparan. Bahkan semua manusia Allah beri rezeki; tak peduli ia mukmin atau kafir, taat
atau ahli maksiat, bertaqwa atau pendosa.

‫َو َما ِم ْن َدابَّ ٍة فِي اَأْل ْر ِض ِإاَّل َعلَى هَّللا ِ ِر ْزقُ َها‬

Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rezekinya… (QS. Hud: 6)
Mengingat nikmat dan anugerah ini membuat raja’ akan menguat.

b) Menghayati Banyaknya Janji Allah
Menghayati banyaknya janji Allah berupa pahala besar dan kemuliaan juga menguatkan
raja’ kepada-Nya. Allah memberikan pahala dan kemuliaan berdasarkan kemurahan-Nya.
Seandainya semata-mata hanya berdasarkan amal, niscaya sedikit sekali pahala yang
didapat manusia.

Lihatlah, Allah menjanjikan balasan amal kebaikan dilipatgandakan 10 kali lipat. Bahkan
ada yang 700 kali lipat seperti sedekah. Ada yang lebih besar lagi, ila masya Allah. Sampai
dengan batasan yang dikehendaki Allah.

‫ فَِإ ْن َع ِملَ َها فَا ْكتُبُو َها بِ ِم ْثلِ َها َوِإ ْن تَ َر َك َها ِم ْن َأ ْجلِى‬، ‫يَقُو ُل هَّللا ُ ِإ َذا َأ َرا َد َع ْب ِدى َأ ْن يَ ْع َم َل َسيَِّئةً فَلاَ تَ ْكتُبُو َها َعلَ ْي ِه َحتَّى يَ ْع َملَ َها‬
‫ فَِإ ْن َع ِملَ َها فَا ْكتُبُو َها لَهُ بِ َع ْش ِر َأ ْمثَالِ َها ِإلَى‬، ً‫فَا ْكتُبُو َها لَهُ َح َسنَةً َوِإ َذا َأ َرا َد َأ ْن يَ ْع َم َل َح َسنَةً فَلَ ْم يَ ْع َم ْل َها فَا ْكتُبُو َها لَهُ َح َسنَة‬
‫َس ْب ِع ِماَئ ٍة‬
“Allah berfirman, ‘Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat hingga
ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka catatlah satu kejelekan yang
semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan
untuknya. Jika ia bertekad melakukan satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu
kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan tersebut, maka catatlah baginya 10 kebaikan yang
semisal hingga 700 kali lipat.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

c) Merenungkan Luasnya Rahmat Allah
Dia lebih mendahulukan kasih sayang-Nya daripada murka-Nya karena Dia Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, Mahakaya lagi Mahamulia. Serta Maha Penyantun kepada
hamba-hamba-Nya.

Di antara rahmat Allah, ketika Dia mengistiqamahkan kita di jalan-Nya. Berhimpun dalam
misi suci melanjutkan perjuangan Nabi. Mendakwahkan agama-Nya, memperjuangkan
tegaknya keadilan dan mewujudkan kesejahteraan.

Hanya dengan rahmat-Nya, seseorang akan masuk surga. Sebab sesungguhnya
amal-amalnya tidak cukup untuk tiket ke surga, bahkan tidak cukup untuk membayar
nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan.
ُ‫ قَالُوا َولاَ َأ ْن َت يَا َر ُسو َل هَّللا ِ قَا َل َولاَ َأنَا ِإلاَّ َأ ْن يَتَ َغ َّم َدنِ َى هَّللا ُ ِم ْنه‬.ُ‫َس ِّد ُدوا َوقَا ِربُوا َوَأ ْب ِش ُروا فَِإنَّهُ لَ ْن يُ ْد ِخ َل ا ْل َجنَّةَ َأ َح ًدا َع َملُه‬
‫بِ َر ْح َم ٍة‬
“Berkatalah yang benar, mendekatlah kepada Allah dan terimalah kabar gembira bahwa
sekali-kali amal seseorang tidak bisa memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya,
“Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak pula aku, kecuali jika
Allah melimpahkan dengan rahmat-Nya.” (HR. Muslim)

d) Mengingat Luasnya Ampunan Allah
Inilah salah satu penguat raja’ yang membuat seorang hamba mestinya jauh dari kata putus
asa. Sebab senantiasa ada pintu taubat, senantiasa ada ampunan-Nya.

‫ فَقَا َل هَّللا ُ فَبِ ِع َّزتِى َو َجلاَلِى لاَ َأ ْب َر ُح‬.‫ِإ َّن ِإ ْبلِي َس قَا َل لِ َربِّ ِه بِ ِع َّزتِ َك َو َجلاَلِ َك لاَ َأ ْب َر ُح ُأ ْغ ِوى بَنِى آ َد َم َما َدا َم ِت اَأل ْر َوا ُح فِي ِه ْم‬
‫َأ ْغفِ ُر لَ ُه ْم َما ا ْستَ ْغفَ ُرونِى‬
Sesungguhnya iblis berkata kepada Rabb-nya. “Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, aku
senantiasa akan menyesatkan Bani Adam selagi masih ada ruh di dalam diri mereka.” Lalu
Allah berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa mengampuni dosa
mereka selagi mereka memohon ampunan kepada-Ku.” (HR. Ahmad; shahih)
Demikian pengertian, keutamaan dan cara menumbuhkan khauf dan raja’. Semoga Allah
menganugerahi kita kedua sifat itu, menjadi karakter yang senantiasa menjaga perbuatan
dan kata-kata kita. Dengannya, semoga Allah melimpahkan ridha dan rahmat-Nya serta
memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

4. Hakikat Tawakkal kepada Allah Swt.
❖ Pengertian Tawakal
Dalam pengertian yang sederhana, tawakal artinya “mewakilkan”, sedangkan secara lebih
luas, tawakal artinya menyerahkan segala permasalahan kepada Allah swt. Dengan sepenuh
hati dan berpegang teguh kepada-Nya serta tetap berusaha semaksimal mungkin sehingga
tidak merasa sedih dan kecewa terhadap apa pun keputusan yang diberikan-Nya.

Rasulullah menganjurkan untuk senantiasa bertawakal kepada Allah. Dengan bertawakal
kepada Allah setiap perbuatan akan diridai-Nya. Bahkan, Allah akan memberikan rezeki
kepada orang yang bertawakal.

Perintah untuk bertawakal tercantum pada firman.allah dalam.surat al-Maidah ayat 23 :
‫َو َعلَى هّٰلا ِ فَتَ َو َّكلُ ْٓوا اِ ْن ُك ْنتُ ْم ُّمْؤ ِمنِ ْين‬
Artinya : Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman

❖ Manfaat Tawakkal kepada Allah Swt
a) Mendapatkan Kemudahan di Dunia dan Akhirat.
Manfaat tawakal yang pertama ialah mendapatkan kemudahan kehidupan di dunia dan
akhirat. Sikap berserah diri usai berusaha maksimal.Meski terkadang bukan hal mudah,
diperlukan keikhlasan yang kuat, berusaha untuk tidak berprasangka buruk terhadap
Allah SWT. Bahkan Allah telah menjamin kemudahan bagi setiap hamba yang
bertawakal, sebesar apapun cobaan yang tengah menimpa. Hal ini seperti yang
tercantum dalam ayat kitab suci Alquran berikut:

"Barang siapa yang bertawakal kepada allah niscaya dia akan membukakan jalan
keluarnya dan dia memberikan rejekinya dari arah yang tidak disangka sangka. dan
barang siapa yang bertawakal kepadanya kepada allah niscaya allah akan mencukupkan
keperluannya. Sesungguhnya allah melaksanakan tugasnya, sungguh dia telah
mengadakan ketentuan bagi setiap." (QS Ath-Thalaq ayat 1-2).

b) Tegar dan Selalu Siap Menghadapi Masalah
Manfaat tawakal dalam kehidupan Islam selanjutnya, akan memberi kemudahan dalam
beradaptasi dengan berbagai masalah yang dihadapi. Secara naluri, kita akan terbiasa
untuk sigap akan ujian hidup yang akan dihadapi berikutnya.
Lantaran orang yang selalu tawakal, biasanya akan lebih berprasangka baik kepada
setiap takdir yang diberikan Allah. Oleh sebab itu, pribadinya akan mudah beradaptasi
dengan masalah sesulit apapun. Selain itu, kita akan menjadi sosok yang lebih sabar
serta lebih cepat bangkit setelah menerima suatu kegagalan.

Seperti dikutip dari Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah berikut:
"Ketahuilah, tawakal bertempat di hati. Sedangkan gerakan fisik lahiriah tidak
menafikan kerja tawakal di hati setelah keyakinan seorang hamba mantap di hati bahwa
takdir berasal dari Allah SWT. Jika suatu kenyataan itu tampak sulit, maka berlaku
takdir-Nya. Tetapi jika suatu kenyataan sesuai dengan keinginannya, maka itu terjadi
berkat kemudahan yang diberikan Allah." (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah
Al-Qusyairiyyah).

c) Melatih Kemandirian
Manfaat tawakal berikutnya adalah mampu melatih kemandirian. Karena seringnya
sikap berpasrah dan ikhtiar, secara perlahan kedewasaan ikut terpupuk. Dengan sikap
tawakal, seseorang akan memahami kekurangan dan kelebihan dari suatu keadaan yang
diberikan Allah. Sikap berserah diri kepada Allah, secara tidak langsung akan melatih
seseorang untuk mandiri. Dengan begitu, kita akan bisa menghargai setiap kekurangan
dan kelebihan yang ada. Baik pada diri sendiri, maupun segala sesuatu yang ada di
sekeliling.

Seperti yang tertuang dalam Alquran, penggalan ayat berikut ini:
"Hendaklah hanya kepada allah sajalah orang mukmin itu bertawakal, Dan bertawakalah
kepada allah yang maha hidup (abadi) yang tidak akan pernah binasa. maka bertasbihlah
atas namanya dan pujilah dia." (QS Al-Furqan ayat 58)

d) Memperkuat Iman dan Pantang Menyerah
Manfaat tawakal selanjutnya yang tak kalah penting yakni mampu mempertebal
keimanan dan menghindari diri dari mudah menyerah. Perilaku tawakal akan membuat
seseorang menjadi lebih sabar dan selalu bersyukur. Lakukan dengan hati yang tulus dan
berusaha yang terbaik. Lalu berserah diri kepada Allah serta berprasangka baik atas
hasil yang diberikan.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
"Semangatlah kalian terhadap hal hal yang bermanfaat bagi kalian dan mohonlah
pertolongan kepada allah." (HR. Muslim 2664)

e) Diberikan Rezeki yang Cukup
Manfaat tawakal dalam kehidupan berikutnya adalah diberikan rezeki yang cukup Allah
SWT. Seperti diketahui, semakin banyak bersyukur dan berserah diri, Tuhan akan
memberi kecukupan dalam hidup. Rezeki ini bisa berupa kesehatan, kebahagiaan,
kecukupan harta, dan masih banyak lagi.

Dalam QS Ali Imran Allah berfirman :"Sesungguhnya allah itu mencintai dan
menyayangi orang orang yang bertawakal." (Qs.Ali imran :159)

Selain itu, Nabi Muhammad SAW pun bersabda demikian:
"Seandainya kalian sungguh sungguh bertawakal kepada allah, sesungguhnya allah akan
memberi kalian rezeki sebagaimana allah memberikan rezeki kepada seekor burung

yang pergi dalam keadaan perutnya yang lapar lalu kembali lagi tetapi dalam keadaan
kenyang." (HR. Imam ahmad, Tirmidzi, ibnu hibban serta Al hakim)

f) Jauh dari Godaan
Manfaat tawakal dalam kehidupan umat Islam berikutnya, yaitu dapat memperkuat hati
dan menjauhkan dari segala godaan. Senantiasa bertawakal dalam berusaha dan bekerja,
maka hatinya menjadi lebih kuat. Allah akan membantu kita supaya terhindar dari
godaan, yang membujuk untuk melakukan suatu keburukan.

"Sungguh, syaitan itu tidak berpengaruh terhadap orang-orang yang shaleh dan beriman
dan bertawakal kepada tuhannya." (QS An-Nahl ayat 99).

g) Kenikmatan yang Tak Ada Habisnya
Selain rezeki yang berkecukupan, manfaat tawakal selanjutnya adalah diberikan
kenikmatan yang tiada henti. Allah SWT menyukai setiap hamba yang mau berusaha,
tidak banyak mengeluh dan berserah diri. Dalam hal ini, Allah pun akan memberikan
kenikmatan atau kesenangan yang tidak terduga bagi hambanya yang bertawakal.

Dalam hal ini, Allah berfirman : "Apapun kenikmatan yang diberikan padamu ,semua
itu adalah kesenangan hidup yang bersifat dunia. Sedangkan apa pun kenikmatan yang
ada di sisi allah lebih baik dan kekal hanya untuk orang orang yang beriman yang hanya
bertawakal selama hidupnya semata mata karena allah SWT." (QS. Asy-Syura: 36)

h) Dipermudahkan jalannya menuju surga
Manfaat tawakal dalam kehidupan yang terakhir adalah diberikan kemudahan masuk
surga. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW yang mengajarkan untuk bertawakal.
Ada hikmah tersendiri bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni dipermudah
jalannya menuju surga atas segala perbuatan baiknya dan sikap tawakal.

"Mereka yang tidak membual, tidak berkata-kata bohong, tidak mencuri hak orang lain,
tidak membuat ramalan ramalan yang buruk kepada rabb mereka bertawakal, maka
surga akan menjadi milikmu." (H.R. Al-bukhary dan Muslim).

E. GLOSARIUM Peninjauan secara cermat
Melakukan penilaian
Observasi Tidak memihak/apa adanya
Evaluasi Dipaparkan secara runtut dan mudah dipahami
Objektif Mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa
Sistematis yang diucapkan atau dibaca orang
Simak

F. DAFTAR PUSTAKA

Al- Ghazali, Muhammad 2001. Selalu melibatkan Allah. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Guru Mata Pelajaran
Rina Susianti,. SP.d.I


Click to View FlipBook Version