The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan Ajar / E-modul Biologi, Materi Hereditas SMA Kelas XII MIPA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 33 Isnin Meiva, 2020-12-16 07:16:38

Bahan Ajar Hereditas

Bahan Ajar / E-modul Biologi, Materi Hereditas SMA Kelas XII MIPA

Keywords: Hereditas

E-MODUL
BIOLOGI

HEREDITAS
Untuk siswa SMA/MA kelas XII

MIPA

START!

Oleh: Isnin Meiva (185040033) Bio A

PRAKATA

Segala puji bagi Allah, Tuhan Pencipta dan Pemelihara sekalian alam, dengan rahmat dan ‘inayah-Nya
penulisan monograf ini dapat diselesaikan. Rabb yang di jari-Nya silih berganti bahagia dan sedih dalam garis
takdir kehidupan setiap hamba-Nya. Dia yang menurunkan Alqur’an yang menjadi panduan untuk
membebaskan manusia dari belenggu kejahiliyyahan. Dengan setitik cahaya ilmu yang dilimpahkan kepada
makhluk-Nya telah membangkitkan kekuatan bagi hamba-Nya untuk merdeka, bebas, dan lepas di bumi-Nya
yang luas. Semakin merasa bebas seseorang, semakin berpasrah diri kepada-Nya.

Penulisan bahan ajar ini penulis anggap penting, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, siswa membutuhkan proses pembelajaran yang dapat membantu menghadapi segala tantangan
dan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan ajar ini dapat menjadi salah satu media yang memberi
pengetahuan tentang Biologi khusunya pada materi Pola-pola Hereditas. Bahan-bahan pelajaran yang
disajikan dalam buku ini disusun secara sederhana, praktis, dan sistematis agar mudah dipahami oleh siswa.

Penulis menyadari bahwa bahan ajar ini belum sempurna, oleh karena itu kritikan dan masukan yang
konstruktif sangat diharapkan, khususnya dari para pembaca, demi penyempurnaan tulisan ini. Semoga
tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR BAB I BAB II BAB III
ISI PENDAHULUAN PENYAJIAN PENUTUP

A. Manfaat A. Hukum Pewarisan Sifat A. Daftar pustaka (bibliografi)
B. Rumusan Kompetensi B. Menghitung Genotipe B. INDEKS
C. Tujuan Pembelajaran C. Penyimpangan Semu Hk. Mendel
D. Urutan Bahasan D. Pautan
E. Petunjuk Modul E. Gen
F. Determinasi Seks
G. Contoh
H. Ilustrasi
I. Aktivitas belajar
J. Rangkuman
K. Tes formatif

PENDAHULUAN

BAB I Perkawinan suatu makhluk hidup akan menghasilkan keturunan yang umumnya identik dengan
BAB II induknya. Hal tersebut terjadi karena sifat yang terdapat pada gen dalam mukleus sel sperma akan bergabung
BAB III dengan gen dalam nukleus sel telur. Oleh sebab itu, dari perkawinan ini akan menghasilkan individu yang
mewarisi sifat-sifat gen tersebut. Namun, tidak semua individu yang lahir mewarisi sifat-sifat dari induknya
misalnya kucing kaliko. Kucing kaliko memiliki warna yang berbeda dari kedua induknya. Dari pernyataan diatas,
prinsip genetika apakah yang dapat dijelaskan dalam mekanisme pemindahan sifat dari induk kepada
keturunanya?

Dalam bab ini, kamu akan mempelajari tentang pola-pola pewarisan sifat yang meliputi determinasi
seks, pautan gen, pindah silang, pautan seks, gagal berpisah, dan gen letal.

A. Manfaat

Setelah mempelajari uraian materi yang ada dalam modul ini, diharapkan siswa dapat menguasai
konsep Pola Hereditas serta mampu mengimplementasikannya dalam pewarisan sifat di kehidupan sehari-hari.

Kompetensi Dasar Indikator
3.6 Menganalisis pola-pola hereditas pada  Memahami istilah-istilah dalam mempelajari pola-pola hereditas.
makhluk hidup
(C1)
4.6 Menyajikan hasil penerapan pola- pola  Menjelaskan pola-pola hereditas pautan. (C2)
hereditas dalam perhitungan peluang dari  Menjelaskan pola-pola hereditas pindah silang. (C2)
persilangan yang melibatkan peristiwa pautan dan  Menghitung sifat anakan dari kasus yang disediakan berdasarkan
pindah silang
hukum Mendel I. (C2)
BAB I  Menghitung sifat anakan dari kasus yang disediakan berdasarkan

BAB II B. Rumusan Kompetensi hukum Mendel II. (C2)
BAB III  Mengaplikasikan tabel untuk mengetahui fenotipe hasil keturunan.

(C2)
 Memahami interaksi antaralel yang terjadi. (C2)
 Menghitung kemungkinan-kemungkinan rasio fenotipe berdasarkan

interaksi antaralel. (C2)
 Memahami peristiwa-peristiwa interaksi genetic terhadap hukum

Mendel. (C1)
 Mengimplementasikan pola-pola hereditas gen letal dalam

persoalan yang disajikan. (C3)
 Mengimplementasikan pola-pola hereditas nondisjungsi persoalan

yang disajikan. (C3)
 Menganalisis diagram pada suatu peristiwa hereditas (C4).

D. Urutan Bahasan

BAB I I. Hukum Pewarisan SIfat B. Interaksi Genetik
BAB II A. Hukum Mendel I 1) Atavisme
BAB III B. Hukum Mendel II 2) Epistasis dan Hipotasis
a. Epistasis Dominan
II. Menghitung Genotipe dan Fenotipe b. Epistasis Resesif
c. Epistasis Gen Dominan Rangkap
III. Penyimpangan Semu Hk. Mendel d. Epistasis Gen Rangkap dengan Kumulatif
A. Interaksi Antaralel 3) Polimeri
1) Kodominan (Codominance) 4) Kriptomeri
2) Dominansi Tidak Sempurna 5) Komplementer
3) Alel Ganda
a. Golongan Darah Sistem ABO IV. Pautan, Pindah Silang, Gagal Berpisah
b. Warna Mata pada Lalat Buah A. Pautan
c. Warna Rambut pada Kelinci B. Pindah Silang
4) Alel Letal C. Gagal Berpisah
a. Alel Letal Dominan
b. Alel Letal Resesif V. Gen Letal
c. Alel Subletal
VII. Determinasi Seks dan Pautan Seks

E. Cara Penggunaan Modul
Cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran secara umum sesuai dengan skenario

pembelajaran. Langkah-langkah belajar secara umum adalah sebagai berikut.

BAB I
BAB II
BAB III

PENYAJIAN

BAB I  Reproduksi generatif sel-sel kelamin (gamet) merupakan mata rantai penghubung antara induk dan
BAB II keturunannya. Dengan demikian, gamet inilah yang membawa sifat yang diwariskan induk kepada keturunannya. Ovum
BAB III dan sperma memberikan saham yang sama dalam mewariskan sifat-sifat menurun.
 Orang yang pertama kali mendalami pola-pola hereditas adalah Sutton. Pendapat Sutton tentang pola-pola
hereditas adalah sebagai berikut:
 Jumlah kromosom yang dikandung ovum atau sperma adalah sama, yaitu masing- masing setengah jumlah yang
dikandung oleh setiap sel tubuh.
 Organisme yang tumbuh dan berkembang dari hasil pembuahan bersifat diploid (2n), artinya setiap selnya
mengandung 2 perangkat kromosom, seperti halnya sel tubuh.
 Dalam meiosis, kedua perangkat kromosom itu memisah secara bebas dan mengelompok secara bebas dengan
kromosom lainnya.
 Meskipun mengalami mitosis dan meiosis bentuk dan identitas setiap kromosom adalah tetap serta gen sebagai
kesatuan faktor menurun adalah mantap.
 Penurunan atau pewarisan sifat-sifat dari induk kepada keturunannya melalui gen disebut hereditas. Mekanisme
pewarisan sifat mengikuti aturan-aturan tertentu yang disebut pola-pola herditas.Terdapat beberapa istilah dalam
mempelajari hereditas, yaitu sebagai berikut.

 Parental (P): induk yang disilangkan. Genotype (Tipe gen): keadaan genetic dari suatu
 Gamet (G): sel kelamin jantan atau betina. indivitu atau populasi.
 Filial (F): hasil keturunan atau anak. Fenotipe: sifat yang muncul atau dapat diamati dari
 Gen: factor pembawa sifat. suatu organisme.
 Alel: pasangan gen yang terdapat pada Karakter: istilah yang digunakan para ahli genetika
kromosom sehomolog (dari kedua induknya) yang untuk menjelaskan sifat yang diturunkan.
menunjukan sifat alternative sesamanya.

I. Hukum Pewarisan Sifat

● Hukum mendel I atau hukum segregasi

(pemisahan) adalah suatu kaidah pemisahan
pasangan alel sebebas pada saat pembelahan
meiosis dalam cara pembentukan gamet.
Hukum Mendel I dapat dibuktikan pada
penyilangan monohybrid. Monohybrid adalah
penyilangan dengan satu sifat beda yang
merupakan satu pasangan alel. Mendel
menyilangkan kacang ercis berbunga warna
ungu denmgan kacang ercis berbunga warna
putih.Hasil keturunan I berbunga warna ungu
100%.Sifat bunga warna ungu adalah dominan,

sedangkan warna putih bersifat resesif.

Rasio genotype F2 = UU : Uu : uu = 1 : 2 : 1
Rasio fenotipe F2 =
berbunga warna ungu : berbunga warna putih

75% : 25 %

BAB I ● Hukum Mendel II
BAB II
BAB III Hukum Mendel II atau hukum asortasi (berpasangan) secara bebas adalah suatu kaidah yang
menyatakan bahwa setiap alel dapat berpasangan secara bebas dengan alel lainnya yang tidak sealel
pada waktu pembentukan gamet. Hukum Mendel II dapat dijelaskan dengan penyilangan dihibrid,
yaitu penyilangan dengan dua sifat beda atau dua alel yang berbeda, misalnya sifat biji bulat dan
keriput atau warna biji kuning dan hijau. Hukum Mendel II ini hanya berlaku pada gen yang letaknya
berjauhan sehingga dapa memisah dengan bebas. Pada gen yang letaknya berdekatan, cenderung
akan terjadi tautan (tidak dapat memisah dengan bebas).

II. Menghitung Genotipe dan Fenotipe Hasil Keturunan

Hubungan antara sifat beda, jumlah jenis gamet, kemungkinan genotype, dan fenotipe pada F2
dapat dihitung dengan rumus tertentu seperti yang terdapat pada tabel berikut.

Jumlah Jumlah jenis Jumlah jenis Jumlah jenis Jumlah Perbandingan
sifat gamet F2 genotype F2 fenotipe F2 perbandingan Fenotipe F2
beda
1 21 = 2 31 = 3 2 F2
2 22 = 4 32 = 9 4
BAB I 3 23 = 8 33 = 27 8 4 3:1
BAB II 16 9 : 3 : 3 : 1
BAB III 4 24 = 16 34 = 81 16 64 27 : 9 : 9 : 3 : 3 :

3:1
256 81 : 27 : 27 : 27 :

27 : 9 : 9 : 9 : 9 :
3:3:3:3:

N 2n 3n 2n 4n

BAB I III. Penyimpangan Semu Hukum Mendel
BAB II
BAB III A. Interaksi Antaralel
1) Kodominan (Codominance) adalah dua alel dari suatu gen yang diekspresikan secara bersama-sama

dan menghasilkan fenotipe yang berbeda pada individu bergenotip heterozigot. Alel-alel kodominan tidak
memiliki hubungan dominan atau resesif serta dituliskan dengan menggunakan symbol dasar berhuruf besar
dengan huruf-huruf berbeda di atasnya.

2) Dominansi Tidak Sempurna terjadi ketika alel dominan tidak dapat menutupi alel resesif dengan
sempurna sehingga menghasilkan fenotipe “campuran” pada individu bergenotipe heterozigot. Dominansi tidak
sempurna terjadi pada bunga snapdragon, bunga pukul empat, dan ayam Andalusian.

3) Alel Ganda merupakan suatu gen yang memiliki lebih dari dua alel. Alel ganda terjadi karena perubahan
struktur DNA (mutasi) yang diwariskan.
Golongan darah sistem ABO
Warna mata pada lalat buah (Drosophila), diatur oleh suatu seri alel dengan hierarki mulai dari yang lebih
dominan ke yang lebih resesif
Warna rambut kelinci, dikendalikan oleh alel-alel dengan hierarki dominansinya.

BAB I 4) Alel Letal adalah alel yang menyebabkan B. Interaksi Genetik
BAB II kematian pada individu yang memilikinya. Alel-alel Interaksi genetic adalah interaksi antara dua
BAB III dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu alel
letal dominan, alel letal resefif, dan alel subletal. pasang gen nonalelik atau lebih yang menimbulkan fenotipe-
5) Alel letal dominan individu dengan alel letal fenotipe dengan rasio yang menyimpang secara semu
dominan yang bergenotipe homozigot akan letal terhadap hukum Mendel.
(mati sebelum lahir), sedangkan yang bergenotipe
heterozigot akan mengalami subletal. Fenotipe merupakan hasil dari produk gen
6) Alel letal resesif hanya menyebabkan kematian yang dibawa untuk diekspresika ke dalam lingkungan
pada individu yang bergenotipe homozigot resesif. tertentu. Lingkungan ini tidak hanya meliputi berbagai factor
Individu yang bergenotip heterozigot dan eksternal, melainkan juga factor internal seperti hormone
homozigot dominan adalah normal. dan enzim. Beberapa peristiwa akibat interaksi genetic
7) Alel Subletal adalah alel homozigot dominan antara lain atavisme, epitasis-hipotasis, polimeri, kriptomeri,
atau homozigot resesif yang menyebabkan dan komplementer.
kematian individu pada usia anak-anak hingga 1. Atavisme adalah interaksi beberapa gen yang
dewasa. menghasilkan sifat baru. Atavisme terjadi pada bentuk
jengger ayam ras (negeri). Empat bentuk jengger ayam ras,
yaitu rose (mawar), pea (biji), walnut (seperti kacang walnut),
dan single (tunggal).

BAB I 2. Epistasis dan Hipostasis Pada peristiwa ini, akan diperoleh angka perbandingan
BAB II Bentuk interaksi ketika suatu gen mengalahkan gen pada F2, yaitu 9 : 3 : 4
BAB III lainnya yang bukan sealel. Kedua gen yang c. Epistasis gen dominan rangkap terjadi jika dua gen
berinteraksi tersebut terletak ke dalam lokus yang dominan atau lebih menghasilkan satu fenotipe dominan
berbeda. Gen yang menutupi kemunculan karakter yang sama. Namun, jika tidak ada gen dominan satu pun,
disebut gen epistasis. Sedangkan gen yang ditutupi fenotip resesif akan muncul.
disebut gen hypostasis. d. Epistasis gen rangkap dengan efek kumulatif terjadi jika
kondisi dominan, baik homozigot maupun heterozigot,
a. Epistasis dominan terjadi jika gen yang menutupi pada salah satu lokus menghasilkan fenotipe yang sama.
kerja gen lainnya bersifat dominan. Gen dominan ini Epistasis gen rangkap dengan efek kumulatif terjadi pada
dapat menutupi gen dominan lainnya yang bukan karakter warna biji gandum. Genotype dominan pada
sealel. Pada peristiwa ini, akan didapatkan angka masing-masing lokus menghasilkan satu unit pigmen
perbandingan F2, yaitu 12 : 3 L 1. secara bebas sehingga genotype A●bb dan aaB●
menghasilkan satu unit pigmen dan fenotipe yang sama.
b. Epistasis resesif terjadi jika gen yang menutupi Genotype aabb tidak menghasilkan pigmen, sedangkan
gen lainnya bersifat homozigot resesif. Gen genotype A●B● menghasilkan dua unit pigmen dan efeknya
homozigot resesif ini dapat menutupi gen lainnya kumulatif.
yang bersifat dominan, baik yang sealel maupun
tidak sealel.

BAB I 3. Polimeri adalah interaksi dua gen atau lebih yang memengaruhi dan menguatkan suatu sifat sama. Contoh
BAB II polimeri terjadi pada karakter warna biji gandum, pigmentasi kulit, tinggi badan, pigmentasi iris mata, dan berat
BAB III buah-buahan.
4. Kriptomeri adalah sifat gen dominan yang tersembunyi jika berdiri sendiri, tetapi akan tampak pengaruhnya
jika bertemu dengan gen dominan lainnya yang bukan sealal. Kriptomeri terjadi pada percobaan Correns
terhadap sifat bunga Linaria maroccana. Jika bunga merah disilangkan dengan putih maka menghasilkan
fenotipe F1 berwarna ungu 100%. Jika antara F1 berwarna ungu disilangkan dengan sesamanya, akan diperoleh
rasio pada F2 ungu : merah : putih sebesar 9 :3 : 4. Penyelidikan terhadap plasma sel bunga menunjukkan bahwa
warna bunga disebabkan oleh adanya pigmen antosianin dan pH. Gen yang mengendalikan adanya antosiasnin
bersifat dominan (A). gen yang mengendalikan tidak adanya antosianin bersifat resesif (a). gen yang
mengendalikan plasma sel basa bersifat dodminan adalah B, sedangkan gen yang mengendalikan plasma sel
asam bersifat resesif adalah b. (Ket: Tanda ● = gen dominan atau resesif.)

Fenotipe Plasma sel Genotipe

Ungu Antosiasnin pH A●B●
Merah A●bb
Putih + Basa aaB● atau aabb

+ Asam

- Basa/asam

5. Komplementer adalah interaksi antara gen-gen dominan yang saling melengkapi dalam mengekspresikan
suatu sifat, contohnya pada bunga seet pea (Lathyrus odoratus). Warna bunga tersebut dikendalikan oleh gen
pembunuh warna bahan mentah pigmen © dan gen penumbuh enzim pengubah bahan mentah pigmen menjadi
antosianin (P). jika terdapat gen C maupun P, bunga berwarna ungu.

IV. Pautan, Pindah Silang, Gagal Berpisah.

BAB I A. Pautan
BAB II Sebelum Morgan menemukan gen-gen yang terpaut, sebenarnya sudah sering terjadi penyimpangan
BAB III
perbandingan hasil persilangan menurut hukum Mendel II dalam melakukan percobaan pada berbagai jenis tanaman.
Sebagai contoh, dalam persilangan dihibrid, pada F1 akan diperoleh satu macam fenotip, dan pada F2 akan diperoleh 4
macam fenotip dengan rasio 9 : 3 : 3 : 1. Tetapi hasil penelitian kelompok Morgan, pada F2 hanya diperoleh 3 fenotip
dengan rasio 3 : 1. Kemudian bila dilakukan disilang-uji diperoleh hasil 1 : 1 : 1 : 1.

Permasalah tersebut di atas, sekarang telah diketahui bahwa jumlah gen yang terdapat di dalam setiap sel
tubuh makhluk hidup jauh lebih banyak daripada jumlah kromosom, sehingga ada beberapa gen yang berbeda tetapi
menempati kromosom yang sama. Contoh pada lalat buah (Drosophila melanogaster) hanya terdapat 4 pasang
kromosom, tetapi di dalam setiap sel diperkirakan terdapat 100.000 gen atau lebih, sehingga setiap kromosom harus
mengandung ribuan gen. Beberapa gen yang berbeda yang menempati kromosom yang sama disebut terpaut (linkage).
Untuk lebih jelasnya Anda dapat pelajari pada gambar berikut ini. Pada gambar terlihat bahwa lokus gen untuk sifat
warna tubuh hitam (mutan) dan tubuh abu-abu (wild) adalah sama. Begitupun dengan sifat yang lainnya.

Gambar 1. Peta Genetik suatu bagian Kromosom Drosophila B. Pindah Silang
Pada peristiwa meiosis, kromatid yang
BAB I
BAB II berdekatan dari kromosom yang homolog tidak selalu
BAB III berjajar berpasangan, beraturan, tetapi kadang-kadang
saling melilit yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sering
menyebabkan terjadinya gen-gen suatu kromatid tertukar
dengan gen-gen kromatid homolog. Peristiwa ini disebut
pindah silang (crossing over). Selanjutnya, silakan Anda
pelajari gambar diagram persilangan berikut ini.

Gambar 2. Diagram pindah silang selama meiosis

Menurut Sutton, jika ada gen-gen yang
mengendalikan dua sifat berbeda bertempat pada
kromosom yang sama, maka gen-gen itu tidak dapat
memisahkan diri secara bebas, lebih-lebih gen yang
letaknya berdekatan. Peristiwa pautan ini merupakan salah
satu sebab terjadinya “penyimpangan” hukum Mendel.

BAB I Pada gambar diagram di atas, tempat a. Kelompok sel yang tidak mengalami pindah silang
BAB II terjadinya pembelahan meiosis yang mengakibatkan sebanyak 80%. Setiap sel yang membelah akan
BAB III terjadinya pindahsilang. Sel-sel yang mengadakan menghasilkan sel baru yang haploid (n), terdiri atas 2
pembelahan bergenotip AaBb. Gen A terpaut dengan macam kombinasi, yaitu AB dan ab, dengan rasio 50% AB :
gen B, sedangkan gen a terpaut dengan gen b. Jika 50% ab dari 80% sel yang membelah. Jadi, frekuensi gamet
tidak terjadi peristiwa pindah silang, maka sel-sel AB adalah 50% x 80% = 40%, sedangkan frekuensi gamet ab
anakan yang terbentuk akan mempunyai susunan gen adalah 50% x 80% = 40%.
AB dan ab dengan rasio 50% : 50% atau 1 : 1 yang b. Kelompok sel yang mengalami pindah silang sebanyak
semuanya terdiri atas kombinasi parental. Tetapi, jika 20%. Setiap sel menghasilkan 2 sel gamet baru dengan
sebagian sel yang membelah mengalami pindah silang, kombinasi AB, Ab, aB, dan ab. Ab san aB terbentuk karena
maka tampak seperti pada gambar di atas. Selain adanya peristiwa pindah silang. Frekuensi masingmasing
kombinasi parental, akan terbentuk rekombinan yang kombinasi gamet adalaMhersuepbaakgaani bkeormikbuitn.asi parental
besarnya ditentukan oleh besarnya sel yang mengalami AB : 25% x 20% = 5% (RP), jumlahnya 90%.
pindah silang. Dalam gambar di atas, tampak bahwa Ab : 25% x 20% = 5%
sel yang mengalami pindah silang sebayak 20% dari aB : 25% x 20% = 5%
seluruh sel yang membelah, sedangkan 80% sel lainnya ab : 25% x 20% = 5%
tidak mengalami pindah silang, sehingga kombinasi Apabila 1) dan 2) digabungkan, maka dihasilkan macam
gamet yang dihasilkan: frekuensi sebagai berikut :

AB : 40% + 5% = 45% Merupakan kombinasi C. Gagal Berpisah (Nondisjungsi)
Ab : 40% + 5% = 45% parental (RP), jumlahnya 90%. Calvin B. Bridges salah seorang dari kelompok peneliti
Morgan telah mencoba menyilangkan lalat betina
Ab = 5% Merupakan kombinasi baru atau bermata putih dengan lalat jantan bermata merah. Dalam
aB = 5% rekombinan (RK), jumlahnya 10% beberapa percobaan diperoleh seperti yang diharapkan,
yaitu lalat betina bermata merah dan lalat jantan bermata
BAB I c. Dalam peristiwa pautan bila tidak terjadi pindah putih. Tetapi, dalam beberapa kasus pernah dihasilkan
BAB II silang, maka susunan gen pada gamet semuanya lalat betina bermata putih dan lalat jantan bermata
BAB III merupakan kombinasi parental. Sebagai akibat merah. Peristiwan yang terjadi dalam penelitian kelompok
terjadinya peristiwa pindah silang ini maka jumlah Morgan tersebut, kenyataannya itu terjadi disebabkan
macam gamet yang dihasilkan F1 terdapat 4 macam, oleh peristiwa gagal berpisah (nondisjungsi). Peristiwa ini
yaitu AB dan ab yang merupakan kombinasi parental hanya merupakan kebetulan. Pasangan kromosom pada
serta Ab dan aB merupakan rekombinan. Frekuensi waktu akan memisah satu sama lainnya saling melilit dan
kombinasi parental (KP) lebih kecil dari 50% dan gagal berpisah. Akibatnya, ada sel anak yang mendapat
frekuensi rekombinan (RK) kurang dari 50%, dua kromosom, tetapi ada yang tidak mendapat
d. Bila terjadi pindah silang, maka akan terbentuk kromosom tersebut. Salah satu contoh adalah penderita
kombinasi baru atau rekombinan yang frekuensinya Sindrom Down yang memiliki kelebihan kromosom.
selalu lebih kecil daripada kombinasi parental (RK<
KP).

BAB I Gambar 3. Penderita Sindrom Down mempunyai kelebihan kromosom yaitu mempunyai 3 kopi kromosom nomor 21
BAB II
Gagal berpisah yang terjadi pada kromosom sex juga akan menimbulkan beberapa akibat seperti yang tertera pada
tabel 3, salah satunya adalah dapat menyebabkan kematian.

BAB III

Gambar 6. Gagal Berpisah dalam Kromosom Sex

BAB I V. Gen Letal
BAB II Gen yang dapat menimbulkan kematian. Kematian terjadi
BAB III disebabkan fungsi gen terganggu sehingga tubuh organisme
tidak dapat tumbuh sempurna. Misalnya, setiap tumbuhan
memiliki klorofil. Jika gen pengendali klorofil tidak berfungsi,
maka tumbuhan tidak memiliki klorofil sehingga tumbuhan
akan mati. Gen letal dapat dibedakan menjadi gen letal resesif
dan gen letal dominan.
1) Gen Letal Resesif, individu akan mati bila mempunyai gen
homozigot resesif. Contohnya pada tumbuhan albino. 2) Letal dominan, individu akan mati bila
Tumbuhan albino itu tidak berklorofil. Misalnya, klorofil mempunyai gen homozigot dominan. Contohnya

+100dikendalikan oleh gen A sehingga tumbuhan normal bersimbol pada tikus berambut kuning. Tikus berambut kuning

AA dan tumbuhan albino bersimbol aa. Tumbuhan albinPoOaIkNaTnS disilangkan dengan tikus berambut kuning. Pada F1

muncul dari hasil persilangan antara induk heterozigot Aa dihasilkan tikus berambut kuning dan tikus tidak
dengan Aa, Keturunan yang bergenotip aa akan mati waktu berambut kuning dengan rasio 2 : 1. Untuk
kecil, karena tidak mampu melakukan fotosintesis. Jadi, tidak penjelasannya pelajari pada persilangan berikut ini.
ada tumbuhan dewasa bergenotip aa. Untuk penjelasannya
adalah sebagai berikut :

Gambar 4. persilangan letal dominan

BAB I 3) Letal pada manusia adalah gen penyebab penyakit sicklemia dan talasemia. Penjelasannya adalah sebagai berikut.
BAB II a. Sicklemia
BAB III Eritrosit penderita sicklemia (sickle cell anemia) berbentuk bulan sabit. Hal ini disebabkan adanya molekul

hemoglobin yang bersambung membentuk serabutserabut, Sel darah yang demikian menghalangi aliran darah,
terutama di dalam kapiler darah. Di samping itu, kemampuan eritosit berbentuk bulan sabit dalam mengikat oksigen
sangat rendah. Oleh karena itu, penyakit ini dapat mematikan. Sifat sicklemia ditentukan oleh gen s. Orang bergenotip
ss (homozigot resesif) menderita sicklemia, sedangkan yang bergenotip SS normal. Orang yang bergenotip Ss
merupakan pembawa berfenotip sehat. Keturunan ss diperoleh dari hasil perkawinan Ss dengan Ss. Penyakit sicklemia
dikenal juga dengan nama sickle cell diseases.

Gambar 5. Sel Darah Individu Heterozigot Sicklemia

BAB I

BAB II

BAB III 4) Talasemia adalah penyakit darah di mana eritrosit penderita bentuknya lonjong, berukuran kecil, dan jumlahnya lebih
banyak dibandingkan darah normal. Eritrosit yang demikian memiliki afinitas rendah terhadap oksigen, sehingga
penderita akan kekurangan oksigen. Penderita talasemia letal memiliki genotip homozigot dominan, yaitu ThTh yang
disebut talasemia mayor, sedangkan yang bergenotip Thth disebut talasemia minor. Orang yang bergenotip thth tidak
menderita talasemia (normal). Pengaruh talasemia baru akan tampak pada masa puber.

BAB I VI. Determinasi Seks dan Pautan Seks Untuk yang betina keduanya berbentuk batang, diberi
BAB II simbol XX sedangkan yang jantan, satu berbentuk
BAB III 1) Determinasi Seks batang seperti pada betina, juga diberi simbol X dan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis kelamin yang satu lagi berbentuk kail, diberi simbol Y. Sehingga
pada sejumlah spesies merupakan sifat yang diwariskan susunan kromosom seks jantan adalah XY.
dari generasi ke generasi berikutnya. Telah diketahui pula
bahwa jenis kelamin telah ditentukan sejak ovum dibuahi Gambar 7. Kromosom lalat buah disusun secara berpasangan
sperma atau dengan kata lain sejak terjadinya peristiwa
fertilisasi. Jenis kelamin dapat ditentukan berdasarkan
susunan kromosom di dalam sel. Salah seorang perintis
yang berhasil menemukan perbedaan susunan kromosom
sel jenis kelamin jantan dan betina adalah McClung.
Sistem XX-XY

Setiap sel tubuh lalat buah terdapat 4 pasang kromosom,

yaitu terdiri atas 3 pasang yang sama, baik yang jantan

maupun betina dan disebut autosom (kromosom tubuh)

diberi simbol A. Sedangkan yang sepasang lagi berbeda,

disebut gonosom (kromosom seks).

Gambar 8. Hubungan kromosom dengan determinasi seks pada lalat buah

BAB I

BAB II Sel tubuh manusia mengandung 46 kromosom dengan 2) Pautan Seks
BAB III kariotipnya dapat dituliskan sebagai berikut. Morgan telah menyilangkan lalat buah jantan bermata putih
- Pada wanita, terdapat 44 A + XX atau 22 AA + XX, jika (ww) dengan lalat betina bermata merah (WW). Pada F1
mengalami meiosis maka akan menghasilkan sel telur diperoleh 100% bermata merah. Selanjutnya, keturunan F1
dengan kariotip 22 A + X. disilangkan sesamanya sehingga diperoleh keturunan F2: 75%
- Pada laki-laki, terdapat 44 A + XY atau 22 AA + XY, jika bermata merah dan 25% bermata putih. Anehnya, lalat buah
mengalami meiosis maka akan menghasilkan sperma jantan selalu bermata putih meskipun diulang beberapa kali.
dengan kariotip 22 A + X dan 22 A + Y. Diagram persilangannya seperti pada gambar berikut ini.

BAB I Berdasarkan hasil percobaan tersebut,
BAB II Morgan menyusun hipotesis sebagai berikut.
BAB III a) Faktor warna mata merah dominan terhadap faktor

mata putih.
b) Gen yang bertanggung jawab atas warna mata ini

terkandung di dalam kromosom X.
c) Dalam kromosom Y tidak terdapat gen yang

bertanggung jawab atas warna mata.
Selanjutnya, Morgan menyatakan bahwa

gen atau sifat yang terkandung pada krmosom seks
ini disebut ”terpaut seks” (sex linkage) dan
peristiwanya disebut ”pautan seks”.

Gambar 9. Penyilangan Morgan pada Lalat Buah

BAB I Aktivitas belajar
BAB II
BAB III MONOHIBRID
Tujuan : Membuat model percobaan hukum mendel I dan II untuk menentukan perbandingan fenotif
dari persilangan monohibrid dan dihibrid dengan menggunakan kancing genetika.
Alat dan Bahan :
1) 2 buah gelas kimia
2) 30 pasang kancing genetika warna merah dominan
3) 30 pasang kancing genetika warna putih resesif
4) Buku catatan
Cara Kerja :

+1001) Ambil 30 pasang kancing genetika berwarna merah kemudian letakkan pada gelas kimia 1.

2) Ambil 30 pasang kancing genetika berwarna putih kPeOmIuNdTiaSn letakkan pada gelas kimia 2.

3) Pisahkan setiap pasang kancing genetika antara jantan (memiliki tonjolan) serta betina (tidak
memiliki tonjolan) baik kancing genetika yang berwarna putih atau merah pada gelas kimia yang
berbeda.

BAB I 4) Kocoklah kedua gelas kimia agar letak kancing genetika setiap warna tidak berkumpul
BAB II di satu sudut.
BAB III 5) Ambil satu persatu kancing genetika jantan dan kancing genetika betina secara
bersamaan dengan mata tertutup untuk kemudian di pasangkan dan diletakkan secara
berjajar.
6) Lakukan kegiatan 5 secara berulang sampai kancing genetika habis.
7) Jika ada pasangan kancing genetika berwarna merah dan putih, maka letakkan kancing
genetika berwarna merah diatas sebagai tanda dominan.
8) Hitunglah jumlah pasangan kancing genetika yang berwarna merahmerah, merah- putih,
putih-putih.
9) Catatlah hasil penghitungan.

BAB I DIHIBRID
BAB II Tujuan:
BAB III Membuat model percobaan hukum mendel I dan II untuk menentukan perbandingan fenotif dari persilangan
monohibrid dan dihibrid dengan menggunakan kancing genetika.
Alat dan Bahan:
1) 4 buah gelas kimia
2) 30 pasang kancing genetika warna merah dominan
3) 30 pasang kancing genetika warna putih resesif
4) 30 pasang kancing genetika warna kuning dominan
5) 30 pasang kancing genetika warna hijau resesif
6) Buku catatan
Cara Kerja:
1) Ambil 30 pasang kancing genetika berwarna merah kemudian letakkan pada gelas kimia 1.
2) Ambil 30 pasang kancing genetika berwarna putih kemudian letakkan pada gelas kimia 2. Ambil 30 pasang
kancing genetika berwarna kuning kemudian letakkan pada gelas kimia 3.

BAB I 3) Ambil 30 pasang kancing genetika berwarna hijau kemudian letakkan pada gelas kimia 4.
BAB II 4) Pisahkan setiap pasang kancing genetika antara jantan (memiliki tonjolan) serta betina (tidak
BAB III memiliki tonjolan) baik kancing genetika yang berwarna putih dan merah pada gelas kimia 1 dan 2,
serta kancing genetika berwarna kuning dan hijau pada gelas kimia 3 dan 4.
5) Kocoklah keempat gelas kimia agar letak kancing genetika setiap warna tidak berkumpul di satu
sudut.
6) Ambil satu persatu kancing genetika jantan dan kancing genetika betina secara bersamaan
dengan mata tertutup untuk kemudian di pasangkan dan diletakkan secara berjajar.
7) Lakukan kegiatan 7 secara berulang sampai kancing genetika habis.
8) Jika ada pasangan kancing genetika berwarna merah dan putih, maka letakkan kancing genetika
berwarna merah diatas sebagai tanda dominan.
9) Jika ada pasangan kancing genetika berwarna kuning dan hijau, maka letakkan kancing genetika
berwarna kuning diatas sebagai tanda dominan.
10) Hitunglah jumlah pasangan kancing genetika yang berwarna merah dominan + kuning dominan,
merah dominan + hijau, putih + kuning dominan, putih + hijau.
11) Catatlah hasil penghitungan.

Tugas / Latihan

Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang tersedia.

BAB I 1. Pak Budi menyilangkan galur murni kacang kapri berbiji bulat warna kuning (BBKK) dan biji keriput warna hijau
BAB II (bbkk). Persilangan dilakukan sampai mendapat keturunan F2 menghasilkan biji sejumlah 3.200 buah. Secara
BAB III berurutan, jumlah biji bulat warna kuning dan biji keriput warna hijau adalah. . .
a. 200 dan 600
b. 200 dan 1.200
c. 200 dan 1800
d. 600 dan 200
e. 1.800 dan 200
2. Pada penyilangan bunga Linaria maroccana bungan merah (Aabb) dengan bunga putih (aaBB) menghasilkan bunga
ungu (AaBb). Apabila F1 disilangkan dengan bungan merah (Aabb), berapakah rasio fenotip F2nya antara ungu : putih
: merah?
a. 3 : 2 :3
b. 6 : 2 : 8
c. 9 : 3 : 4
d. 9 : 4 : 3
e. 12: 3 : 1

3. Disilangkan tanaman mangga bulat manis (BBMM) dengan buah lonjong manis (bbMm). Hasil persilangannya adalah. . .
a. 100% bulat manis
b. 75% bulat manis : 25% lonjong manis
c. 50% bulat manis : 50% lonjong manis
d. 50% bulat manis : 50% lonjong pahit
e. 100% lonjong manis
4. Pada suatu daerah dengan 10.000 penduduk, terdapat 4% warga albino, maka perbandingan jumlah orang yang berkulit
normal homozigot dan heterozigot secara berurutan adalah. . .
a. 6.400 dan 1.600
b. 6.400 dan 3.200
c. 3.200 dan 1.600
d. 3.200 dan 400
e. 1.600 dan 400
5. Interaksi antara dua pasang gen yang mengendalikan karakter bentuk pial ayam, dilambangkan dengan R-P- untuk ayam
berpial walnut, R-pp untuk ayam berpial rose, rrP_ untuk ayam berpial pea, dan rrpp untuk ayam berpial single. Persilangan antara
ayam berpial walnut dan berpial pea menghasilkan keturunan walnut dan rose dengan rasio 3 : 1. Berdasarkan hasil persilangan
di atas, genotip induknya adalah. . .

a.RRPP x rrPP
b.RRPp x rrPp
c.RrPP x rrPP
d.RrPP x rrPp
e.RrPp x rrPp

6. Di suatu kota yang berpenduduk 100.000 jiwa, dengan komposisi laki-laki dan perempuan sama, terdapat 5% penduduk laki-laki
menderita buta warna. Penduduk kota tersebut yang bersifat normal, tetapi membawa gen buta warna diperkirakan berjumlah. .
a. 2.500 orang
b. 4.750 orang
c. 5.000 orang
d. 9.500 orang
e. 45.125 orang

7. Gen C dan P yang saling berinteraksi dan melengkapi menyebabkan seseorang berfenotip normal (tidak bisu-tuli). Sebaliknya,
jika salah satu gen tidak ada, menyebabkan seseorang berfenotip bisu-tuli. Persilangan antara laki-laki bisu-tuli (Ccpp) dan
wanita bisu-tuli (ccPP) akan menghasilkan keturunan bisu-tuli sebanyak...

a. 0% b. 25% c. 50% d. 75% e. 100%

8. Jika diketahui populasi penduduk kota Kediri adalah 25 juta dan didapatkan penderita albino adalah 16% dari
total penduduk, maka jumlah penduduk yang normal heterozigot adalah. . .
a. 18 juta b. 14 juta c. 12 juta d. 10 juta e. 8 juta
Untuk soal nomor 9 dan 10.
Ditemukan bahwa gen H mengatur warna hitam, sedangkan alelnya gen h mengatur warna abu-abu. Adapun gen

P mengatur panjang sayap dan alelnya gen p mengatur sayap pendek. Jarak antara HP adalah 10%.
9. Berapa rasio fenotip hasil test cross HhPp yang mengalami pindah silang? a. 9 : 1 : 1 : 9
b. 9 : 1 : 9 : 1
c. 1 : 1 : 9 : 9
d. 1 : 9 : 9 : 1
e. 1 : 9 : 1 : 9
10. Berapa nilai pindah silangnya ?
a. 70%
b. 80%
c. 90%
d. 100%
e. 60%

Rangkuman

BAB I Pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya mengikuti aturan tertentu (pola-pola
BAB II hereditas). Hukum Mendel I merupakan kaidah pemisahan alel secara bebas pada saat pembelahan
BAB III meiosis dalam pembentukan gamet yang dapat dibuktikan dalam persilangan monohybrid dengan
pembentukan gamet yang dapat dibuktikan dalam persilangan monohybrid dengan hasil rasio fenotip
F2 adalah 3 :1. Sementara itu, Hukum Mendel II merupakan kaidah yang menyatakan bahwa setiap
alel berpasangan secara bebas dengan alel lainnya yang tidak sealel pada waktu pembentukan
gamet. Hukum Mendel II dapat dibuktikan dalam persilangan dihibrid dengan hasil rasio fenotipe F2
sebesar 9 : 3: 3 : 1.

Angka perbandingan yang menyimpang dengan hukum Mendel (penyimpangan semu
hukum Mendel) merupakan akibat dari interaksi antarakek (kodominan, dominansi tidak sempurna,
alel ganda, dan alel letal) dan interaksi genetikk(atavisme, epistasis- hipostasis, polimeri, kriptomeri
dan komplementer). Bentuk peristiwa lainnya dalam pola hereditas, antara lain tautan (linkage),
pindah silang (crossingover), dan gagal berpisah (nondisjunction)

Tes formatif

1. Apa yang dimaksud dengan Alel?
a. Gen tunggal yang terdapat pada kromosom yang menghasilkan anakan yang bersifat sama.
b. Gen tunggal yang terdapat pada kromosom yang menghasilkan anakan yang bersifat berbeda.
c. Pasangan gen yang terdapat pada kromosom sehomolog yang menentukan sifat alternatis sesamanya.
d. Pasangan gen yang terdapat pada kromosom tidak sehomolog yang menentukan sifat anakan.

BAB I 2. Bagaimana ciri-ciri dari pola hereditas pautan?
BAB II a. - pada persilangan AaBb, gamet hanya 2 macam
BAB III - jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1
b. - pada persilangan AaBb, gamet hanya 2 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
c. - pada persilangan AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
d. - pada persilangan, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1

BAB I 3. Bagaimana ciri-ciri dari pola hereditas pindah silang (crossing over)?
BAB II a. - semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam
- Jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1
b. - semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
c. - semisal pada AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
d. - semisal pada AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1

BAB III 4. Bagaimana rasio warna anakan dari bunga mawar merah dengan warna putih, jika warna merah adalah
dominan, sedangkan warna merah bersifat resesif?

a. 100% : 0 %
a. 75% : 25%
b. 50% : 50%
d. 25% : 75%

5. Pada penyilangan tanaman kacang ercis berbiji bulat dan berwarna kuning dengan tanaman kacang ercis berbiji keriput dan
berwarna hijau, dihasilkan keturunan pertama (F1) kacang ercis berbiji bulat dan berwarna kuning.Biji berwarna kuning dan
berbiji bulat bersifat dominan.Sementara itu, bentuk biji keriput dan keriput dam berwarna hijau berwarna hijau bersifat
resesif.Jika keturunan pertama tanaman ercis berbiji bulat berwarna kuning disilangkan dengan sesamanya, berapa rasio
kacang ercis berbiji bulat hijau dan bulat kuning?
a. 9 : 1 b. 3 : 3 c. 3 : 1 d. 1 : 3 e. 3 : 9

6. Perhatikan soal dibawah ini

P : merah-bulat X putih-lonjong

MMBB mmbb


G : MB mb

F-1: MmBb(merah-bulat)

F-2: F-1 X F-1

MmBb MmBb

Gamet : MB, Mb, mB, mb

F-2

MB Mb mB mb 7. Hemofilia merupakan kelainan berupa darah sukar
membeku jika terjadi luka.Darah penderita tidak memiliki zat
MMBB MMBb MmBB MmBb antihemofilia globulin sehingga tidak mampu membentuk
tromboplastin.Tromboplastin merupakan substansi dalam
MB 1 2 3 4 pembekuan darah.Wanita bergenotipe homozigot
(hemophilia) tidak pernah ada di dunia, sehingga wanita
Mb MMbb MmBb Mmbb memiliki kecenderungan berfenotipe normal atau carrier
(pembawa). Dari kasus yang disajikan, interaksi antaralel
MMBb 6 7 8 apa yang terjadi?
a. Alel Subletal
5 b. Alel Letal Resesif
c. Alel Letal Dominan
MmBB MmBb mmBB mmB d. Alel Ganda
e. Alel Letal Tidak Sempurna
mB 9 10 11 b 12

MmBb Mmbb mmBb Mmbb

mb 13 14 15 16

Dari bagan diatas, individu yang memiliki fenotipe merah-bulat
adalah?
a. 2,4,7, dan 9
b. 3,6,10, dan 12
c. 4,7,11, dan 15
d. 5,6,10, dan 13

8. Kelinci betina abu-abu muda (cchc) dikawinkan dengan kelinci 10. Pada jenis gen lethal dominan contohnya pada
jantan warna abu-abu (Cch).bagaimana rasio fenotipe anak-anak
kelinci yang dilahirkan? persilangan antara tikus kuning dengan sesamanya,
a. 2 : 1 : 1 b. 9 : 3 : 1 c. 1 : 3 : 1 d. 2 : 1 : 2 e. 3 : 9 : 1
bagaimana rasio fenotif yang hidup dari persilangan
9. Pemunculan warna rambut tikus dikendalikan oleh kerja dua
macam enzim yang masing-masing dikendalikan oleh gen tersebut?
dominan B (black) dan Grey (grey). Jika gen B dan gen G berada
bersama-sama, akan menunjukan warna abu-abu. Jika hanya a. 1:1 b. 2:1 c. 2:2 d. 2:1
terdapat gen dominan B, akan menunjukan warna hitam. Namun,
jika terdapat alel resesif bb, akan menunjukan warna putih. 11. Persilangan antara Drosophilla melanogaster dimana
Interaksi apakah yang sesuai dengan penggambaran di atas? lalat betina mengalami gagal berpisah. Lalat betina yang
a. Epistasis dominan mengalami gagal berpisah membentuk tiga macam
b. Epistasis resesif kemungkinan gamet yaitu?
c. Epistasis gen dominan rangkap a. X, XX, YY, 0
d. Epistasis gen rangkap dengan efek kumulatif b. X, XY, 0
e. Epistasis gen resesif tangkap c. X, XX, 0
a. X, Y, XX, YY, 0

12. Analisislah diagram mengenai pautan seks berikut :

PENUTUP

Daftar pustaka (bibliografi)

BAB I • Iraningtyas. (2015). BIOLOGI untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
BAB II • Nurfikria. (2016). Modul Mata Pelajaran Biologi Kesehatan Sekolah Menengah Kejuruan. PUSAT PENGEMBANGAN
BAB III DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK).
• Suhaeny, A. (2016). (MODUL GURU PEMBELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI SEKOLAH MENENGAH ATAS
(SMA). PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) .

BAB I GLOSARIUM
BAB II
BAB III • Alel: gen-gen yang terletak pada lokus yang sama (bersesuaian) dalam kromosom homolog.

• Atavisme: interaksi antar gen yang menghasilkan filial atau keturunan dengan fenotip yang

berbeda dari induknya

• Crossing over: peristiwa penukaran segmen dari kromatid-kromatid bukan saudara dari sepasang

kromosom homolog.

• Determinasi Seks: proses penentuan jenis kelamin pada makhluk hidup berdasarkan kromosom

kelamin.

• Drosophila: lalat buah atau lalat cuka, organisme model yang paling banyak dipahami secara

konseptual dalam ilmu pengetahuan, sehingga ideal untuk menyampaikan konsep dasar biologi

• Eritosit: jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi mengikat oksigen yang diperlukan untuk

oksidasi jaringan-jaringan tubuh lewat darah

• Fenotipe: Fenotipe adalah karakteristik atau sifat yang dapat diamati dari suatu organisme, seperti

morfologi, pengembangan, sifat biokimia, fisiologi, dan perilaku.

• Filial: individu-individu yang dihasilkan oleh perkawinan organisme parental

BAB I SELAMAT
BAB II
BAB III BELAJAR..

CREDITS: This presentation template was
created by Slidesgo, including icons by

Flaticon, infographics & images by Freepik

Please keep this slide for attribution


Click to View FlipBook Version