The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

KETIKA IMPIAN MENJADI MULI OlehFermini Wulan Sari,S.Pd Pagi yang cerah namun aku merasakan ada kabut disana,perasaan ku seperti mengatakan jangan kesana ,ada hal yang buruk yang akan menantimu dis (2) (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ferminiwulan5, 2025-02-27 03:05:58

KETIKA IMPIAN MENJADI MULI OlehFermini Wulan Sari,S.Pd Pagi yang cerah namun aku merasakan ada kabut disana,perasaan ku seperti mengatakan jangan kesana ,ada hal yang buruk yang akan menantimu dis (2) (1)

KETIKA IMPIAN MENJADI MULI OlehFermini Wulan Sari,S.Pd Pagi yang cerah namun aku merasakan ada kabut disana,perasaan ku seperti mengatakan jangan kesana ,ada hal yang buruk yang akan menantimu dis (2) (1)

BUKAN SEKEDAR IMPIAN KETIKA IMPIAN MENJADI MULIA BY:FERMINI WULAN SARI


KETIKA IMPIAN MENJADI MULIA Impian mulia yang bukan sekedar impian biasa Pernahkah anda memiliki impian? Hampir setiap manusia pernah memiliki impian dalam hidupnya ,namun impian hanyalah sekedar impian jika kita tidak berupaya untuk mewujudkannya Impian yang mulia harus diwujudkan ,kisah yang disajikan dalam alur pencapaian sebuah impian ,hal ini menunjukan kepada kita bahwa untuk mewujudkan sebuah impian ,dibutuhkan perjuangan yang keras,hati yang tegar dan ikhlas serta kemauan yang gigih dan butuh perjuangan. cerita ini juga menyiratkan pesan kepada pembaca agar tidak mudah menyerah dalam menggapai sebuah impian. Salam Hangat, FERMINI WULAN SARI


KETIKA IMPIAN MENJADI MULIA Impian mulia yang bukan sekedar impian biasa “Saya sebagai kepala sekolah merasa bangga dengan guru saya ibu Fermini wulan sari beliau merupakan Guru SD di SDN 07 Sariak Laweh,Kabupaten Lima puluh kota,Provinsi Sumatera Barat Beliau mempunyai semangat yang tinggi dalam bekerja,menulis merupakan hobinya yang sudah dilaksanakan semenjak SMA Saya sangat mengapresiasi guru saya untuk melanjutkan hobinya semoga buku ini merupakan awal dari kesuksesan beliau dan semoga buku ini menjadi motivasi bagi semua orang” Salam Hangat, Sunital Jadidah,S.Pd


ceritatentang penulis Nama : Lahir : Padang Tanggal lahir : 9 februari 1987 Hobiku : Menulis dan Membaca Cita-Cita : Polwan Kata-kata bijak : Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain FERMINI WULAN SARI,S.Pd


"Setiap pagi adalah lembaran kosong. Isilah dengan semangat, dan tulis kisah suksesmu."


"Ketika sebuah impian bukan hanya sekedar impian belaka namun harus diwujudkan dengan usaha dan Do’a."


Ketika Impian Menjadi Mulia Oleh: Fermini Wulan Sari, S.Pd. Waktu menunjukkan pukul 06.30 dan itu adalah waktu di mana aku harus sudah keluar dari rumah. Pagi itu, daerah tempat tinggalku diselimuti kabut, sehingga terlihat masih gelap seperti masih pukul 06.00 pagi. Aku bergegas bediri di pinggir jalan untuk menunggu angkot. Tinggal di desa kecil yang indah dan sejuk ini memang pengalaman baru bagiku. Baru setahun ini aku tinggal di sini, aku harus menyesuaikan diri dengan suhu udara di sini yang lebih sejuk dan dingin daripada daerah tempat asalku yang memang dekat dengan laut.


Banyak hal baru yang harus aku sesuaikan di sini, bukan hanya tentang udaranya yang sejuk saja, namun juga tentang transportasi umum di sini. Di tempat ini bukan sopir angkot yang menunggu kita, tapi justru kita yang harus mengejar angkot. Makanya jam segini aku sudah harus berada di pinggir jalan untuk menunggu angkot. Kamu pasti bertanya, “Kenapa tidak mengendarai sepeda motor sendiri?” Padahal di zaman seperti sekarang ini sepeda motor sudah bukan barang mewah lagi, dan bisa digunakan oleh siapa saja.


Aku bukannya tidak mampu membeli sepeda motor, namun ada rasa trauma dan takut saat aku mengendarai sepeda motor. Aku pernah mengalami kecelakaan saat sedang berkendara, dan setelah kejadian itu aku menjadi takut mengendarai sepeda motor. Mungkin kamu mengira aku pengecut dan penakut. Ya, namun setidaknya sampai saat ini aku masih berusaha melawan rasa takut itu.


“Teeet, teeet, teeet, ” suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Aku terkejut, “Eh, Pak Sopir, apakah angkot ini sampai ke Nagari Gadang, Pak?” Aku berujar kepada sopir angkot itu. Rute angkot itu harus selalu aku tanya, kalau tidak, aku bisa-bisa tidak akan sampai ke tempat tujuan, karna ada rute angkot yang hanya sampai separuh perjalanan ke sekolah. Ya, aku memang sekolah, namun jangan berfikiran kalau aku masih sekolah ya! Aku seorang guru yang bertugas di sebuah daerah yang indah dan sejuk, daerah yang berada di kaki bukit.


Menjadi seorang guru di daerah terpencil sebenarnya bukanlah impianku. Aku sebenarnya memilki impian menjadi seoran polwan, sewaktu lulus SMA aku pernah mencoba mendaftar tes polwan, namun saat mengikuti tes tersebut aku terhalang oleh kekuranganku, karena aku tidak mahir berenang. Aku harus mengubur impianku menjadi polwan dan memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus aku lakukan agar aku tidak menganggur setelah lulus SMA. Akhirnya aku ikut seleksi masuk perguruan tinggi. Pada saat itu aku mengambil pilihan pertama jurusan hukum dan pilihan kedua ilmu sosial di salah satu universitas terbaik di provinsiku. Namun, memang aku belum beruntung, karena kedua jurusan pilihanku itu memiliki passing grade yang cukup tinggi.


Ya, sekali lagi aku harus mengubur impianku. Sebelumnya aku telah diberikan pilihan oleh orang tuaku, jika ingin kuliah maka harus di universitas negeri yang biaya kuliahnya terjangkau oleh keuangan orang tuaku saat itu. Pada saat aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kondisi ekonomi kami terbilang pas-pasan. Aku anak sulung dari empat bersaudara. Adikku yang pertama sudah SMP, yang kedua dan ketiga duduk di bangku sekolah dasar. Jadi tanggungan orang tuaku terhadap pendidikan kami bisa terbilang cukup berat.


Aku sebagai anak yang tertua terpaksa harus mengalah demi adik-adikku. Ayahku seorang pegawai negeri sipil, namun dengan golongan yang rendah. Gaji ayah setiap bulannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok kami sekeluarga. Sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, namun beliau selalu berusaha membantu menambah pendapatan keluarga dengan cara membuat kue dan mengantar ke warung-warung terdekat. Aku selalu bersyukur memiliki orang tua seperti mereka yang bertanggung jawab dan menyayangi anak-anaknya, serta mengajarkan kami kesederhanaan.


Aku yang terbiasa hidup sederhana dari kecil, terkadang suka membantu ibu membuat kue dan mengantarkan ke warung. Hitung-hitung menambah uang jajanku. Hal itu kurasakan sampai saat sekarang ini, saat aku sudah berumah tangga dan sudah bekerja, aku tidak merasa malu berjualan di sekolah.


Impianku untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus terkubur. “Aku tidak akan kuliah tahun ini, ” ujarku ketika ayah bertanya apa rencanaku selanjutnya setelah aku dinyatakan tidak lulus dari perguruan tinggi yang aku pilih. “Aku akan ikut les menjahit, Yah. Nanti setelah akupandai menjahit, aku akan bekerja dan menghasilkan uang, sehingga bisa membantu ayah dan ibu membiayai sekolah adik-adik, ” ujarku.


Mendengar ucapanku itu, ibu spontan menitikkan air mata, “Apakah keputusanmu itu sudah dipikirkan dengan matang, Wi?” Tanya ibu. “Iya, Bu. Aku sudah memikirkannya dan keputusanku sudah bulat. Aku juga akan menabung untuk biaya kuliah tahun depan, Bu. Insya Allah, jika aku bisa kuliah tahun depan, aku tidak ingin memberatkan ayah dan ibu. Air mata bercucuran di pipi ibu, “Ibu minta maaf ya, Nak, karena ibu tidak punya uang, kamu jadi tidak bisa kuliah.”


Aku berusaha menyeka air mata di pipi ibu, “Tidak, Bu. Ini bukan salah Ibu atau pun Ayah. Ibu tidak perlu meminta maaf! Dewi melakukan ini semua karena dewi memang ingin, Bu. Dewi ingin belajar menjahit untuk menambah keterampilan Dewi. Ibu jangan menangis lagi! Allah itu maha adil, Bu. Setiap kita punya takdir masing-masing, dan tidak akan pernah tertukar, Bu. Dewi yakin suatu saat takdir Allah akan berpihak pada Dewi. Dewi hanya harus bersabar dan selalu berharap agar Allah mengabulkan semua doa-doa Dewi, Bu.” Ibu memelukku dan berkata, “Kamu anak Ibu yang terbaik dan Ibu akan selalu mendoakan anak Ibu sukses nantinya, ” aku mengaminkan di dalam hati.


“Bu, mobilnya sampai ke sana kok, ” Pak sopir membuyarkan lamunanku lagi, “Ah, iya, Pak.” Aku naik angkot itu yang kebetulan sudah hampir penuh dengan anak sekolah. Angkot berukuran kecil namun isinya penuh sesak dengan guru-guru, anak sekolah, juga warga desa yang akan pergi ke sawah dan ladang. Nah, itulah kendaraan yang setiap hari membawaku ke sekolah. Aku tidak merasa sedih walau hanya mendapat tempat duduk di paling belakang, karena memang itu satusatunya tempat duduk yang masih kosong.


Keramahan dan tegur sapa warga serta guru-guru lain yang senasib denganku menghiasi perjalanan kami menuju sekolah. Tak terasa aku sudah sampai di persimpangan jalan menuju sekolah. Aku berhenti di persimpangan itu dan membayar ongkosnya. Namun, aku belum sampai di sekolah, aku masih harus berjuang menuju sekolah. Aku harus berjalan kaki sekitar lebih kurang satu kilo meter lagi untuk mencapai sekolah. Jalan perbukitan, mendaki dan menurun, namun semua yang kulalui setiap hari tidak menyurutkan langkahku untuk bisa mencerdaskan anak bangsa.


Aku menghela napas panjang pada saat aku sampai di pendakian terakhir menuju sekolah. Udara yang segar dengan pemandangan yang hijau, serta hamparan sawah luas yang menyejukkan mata. Ya, beginilah kehidupan di desa semuanya masih terjaga dan alami, jauh dari polusi udara. Sehingga, sejauh apa pun perjalananku tidak membuatku lelah, karena udara yang masih segar dan sejuk.


Tinggal beberapa langkah lagi dan aku sampai di sekolah, aku membayangkan wajah-wajah polos itu yang datang menyambutku di depan pagar sekolah. Aku merasa bahagia bertemu mereka, aku merasa dirindukan setiap hari oleh mereka. Mereka selalu menunggu kedatanganku, itulah yang membuat aku semangat setiap harinya, hingga hilang lelahku dalam perjalanan tadi. “Bu Dewi, kami sudah membersihkan kelas tadi, Bu. Ayo lihat kelas kita yang sudah bersih, Bu!” kata salah seorang muridku. “Iya, bagus, Nak! Berarti anak-anak Ibu sudah mendengarkan nasehat ibu kemarin mengenai disiplin, ” ujarku sambil membelai kepala mereka. Mereka terlihat sangat bahagia.


“Bu, ini ada cabe dan terung yang tadi baru aku petik di kebun, ” kata Nada salah seorang muridku sambil menyodorkan sebuah bungkusan berwarna merah. Keluarga Nada memang punya kebun yang cukup luas, yang ditanami tumbuhan cabe, terung, dan tomat. Terkadang ada juga yang ditanami jagung. Nada menarik tanganku untuk menyerahkan bungkusan itu, namun kali ini dengan lembut aku menolak pemberian nada tesebut, “Maaf ya, Nak. Ibu tidak bisa menerima pemberian kamu. Oiya, nanti bila kamu panen lagi sebaiknya dijual saja ya, Nak! Kamu bisa mendapatkan uang, lumayan untuk membeli kebutuhan sekolah kamu, ” aku tidak mau menerima pemberian dari muridku, sebab aku tidak ingin menimbulkan persepsi negatif dari murid-murid yang lain.


Raut sedih kesedihan terlihat jelas di wajah Nada, ia mengambil kembali bungkusan itu dan memasukan ke dalam tasnya. Aku pun merasa bersalah sudah menolak pemberian yang tulus dari seorang gadis kecil. “Nada jangan sedih begitu, Nak! Ibu bukannya tidak suka dengan pemberianmu, namun sebaiknya kamu menjual hasil kebunmu ke pasar dan itu bisa menghasilkan uang. O ya, nanti ibu mau cabe atau terung, Ibuk bisa beli ke kamu kan?” hiburku. Akhirnya wajah polos itu kembali tersenyum, “Iya, Bu. Nanti kalau Ibu mau pesan, bilang sama aku saja ya, Bu!” Aku ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka


Aku sadar bahwa dalam keceriaan dan kebahagiaan murid-muridku, ada kebahagiaan tersendiri yang aku dapatkan. Aku memang mengubur impianku di masa lalu, namun di masa depan aku mendapat impian yang lebih baik dari impianku di masa lalu. Itu semua aku anggap sebagai sebuah nikmat Tuhan yang sangat berharga. Impianku itu bukan sekedar impian biasa namun impian mulia yang telah aku dapatkan sekarang, yaitu mencerdaskan anak bangsa, membentuk karakter generasi muda. Tidak mudah memang dalam menggapainya tanpa usaha dan doa, terutama doa orang tua dan orangorang tersayang


Sebuah impian hanya bisa kita dapatkan denganusaha dan kerja keras ,karena sebuah impian tidakakan bisa terwujud jika hanya kita jadikan sebuahkhayalan belaka,namun usaha dan kerja keras kitajuga iringi dengan do’a .sebuah usaha yang gigih danpenuh dengan kerikil tajam.ibarat kita menghadapisebuah perjalanan yang terdapat banyak tanjakandan tikungan serta jalan yang penuh bebatuan .jalanitu harus kita tempuh walaupun kita harusmenggunakan berbagai cara.


Perjuangkan impianmu walaupun terkadang impian tersebut bukan cita-citamu dari awal,namun seiring berjalannya waktu impian tersebut yang akan membuatmu dikenal dan menjadi sebuah kekuatan untukmu bisa melangkah ke depan untuk lebih baik lagi.karena sejatinya sebuah impian akan menjadi mulia dan berharga jika didapatkan dengan usaha dan kerja keras.


Mimpi -mimpi yang ingin kamu wujudkan walaupun semua penuh tantangan ,kamu harus berusaha untuk mencapainya sekuat tenaga.jangan pernah menyerah dan berputus asa karena pemenang sejati adalah orangorang yang pernah bangkit dari kegagalan


jangan pernah takut untuk bermimpi,wujudkan mimpi dan impianmu walaupun berbagai rintangan dan tantangan yang kita hadapi namun sebuah impian jangan hanya jadikan sebuah impian namun wujudkan impian menjadi sebuah impian mulia


Kegagalan adalah kunci menuju sukses,semua orang pasti pernah mengalami kegagalan ,namun orang yang tetap berusaha bangkit dari sebuah kegagalan dan keterpurukan maka orang itulah yang disebut sebagai pemenang


Profil Penulis Fermini Wulan Sari, S.Pd. lahir di Padang pada tanggal 9 Februari 1987. Putri pertama dari seorang ayah yang juga pegawai negeri sipil di Padang dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Anak sulung dari 4 bersaudara ini melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Padang setelah lulus SMAN 10 di padang. Penulis memang menyukai bidang menulis yang merupakan hobinya semenjak duduk di bangku SMA. Namun, belum dikembangkan secara maksimal, dan menulis cerpen ini merupakan pengalaman yang berharga bagi penulis,semoga bisa menjadi inspirasi bagi pembaca. Penulis dapat dihubungi melalui akun facebook Fermini Wulan Sari.


Profil Penulis Fermini Wulan Sari, S.Pd. lahir di Padang pada tanggal 9 Februari 1987. Putri pertama dari seorang ayah yang juga pegawai negeri sipil di Padang dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Anak sulung dari 4 bersaudara ini melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Padang setelah lulus SMA di padang. Penulis memang menyukai bidang menulis yang merupakan hobinya semenjak duduk di bangku SMA. Namun, belum dikembangkan secara maksimal, dan menulis cerpen ini merupakan pengalaman yang berharga bagi penulis,semoga bisa menjadi inspirasi bagi pembaca. Penulis dapat dihubungi melalui akun facebook Fermini Wulan Sari.


“Terkadang orang tuamu tidak mampu memberi semua yang kamu inginkan... Tapi percayalah bahwa mereka berusaha memberimu semua yang mereka miliki”


“Jika langitmu sudah cerah ,jangan lupakan payung yang menemanimu di saat badai”


Semua hanya tentang waktu.tunggulah dan tetap berdo’a,jangan berubah apalagi menyerah”


“Setiap orang sedang bertarung dengan kesulitannya masing-masing ,dan sebagian lain sedang bersyukur dengan hidupnya masingmasing “


Click to View FlipBook Version