The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Tri Muliani, 2023-10-03 01:26:06

MISTERI HOTEL TUA

GENDIS SEWU BERKARYA MISTERI HOTEL TUA Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SDN Baratajaya Surabaya


MISTERI HOTEL TUA Penulis : I Putu Dwi Suryananta D.P.W., Matthew Ernesto, Nur Aqilla, dkk. Desain Sampul : Salsabila Anjar Firhani Penyunting : Nesa Karina, Rr. Ika Widiastutik, Salsabila Anjar F, dan Sapto Wicaksono Penyunting Akhir : Faradila Elifin Malidin, Vivi Sulviana, Ayu Dewi A.S.N., Rici Alric K, dan Vegasari Yuniati Diterbitkan pada tahun 2022 oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi yang telah diberikan dalam melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.


KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji selalu kami panjatkan kepada Allah SWT atas rida-Nya sehingga mampu menyelesaikan buku ini sebagai bentuk apresiasi kepada para bibit penulis SDN Baratajaya Surabaya mengikuti Gerakan Melahirkan 1000 Penulis Dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan lancar. Pada penyusunan buku ini, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang ikut andil menyukseskan, membantu, mengarahkan, dan membimbing kami. Kami menghaturkan terima kasih kepada: 1. Mia Santi Dewi, SH, M.Si selaku Kepala Dinas dan Perpustakaan Kota Surabaya 2. Sjam Lahardo, S.Pd, M.M.Pd selaku Kepala SDN Baratajaya Surabaya 3. Yayuk Uswatul Chasanah, S.Pd selaku Kepala Perpustakaan dan guru SDN Baratajaya Surabaya


4. Para bibit penulis Gendis sewu SDN Baratajaya Surabaya 5. Kapten Tim Penulis 6. Editor Tim Penulis a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan Gubeng b. Editor Area Wilayah Timur 7. Segenap petugas Dinas Perpustakaan Kota Surabaya 8. Siswa-siswi SDN Baratajaya Surabaya Buku ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan, karena itu, dukungan berupa kritik & saran akan selalu penulis terima dengan tangan terbuka. Kami menyadari bahwa sebuah karya memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna dan masih ada kekurangan maka kami mengharap kritik


dan saran yang bisa membangun dari pembaca buku ini. Semoga buku ini menjadi manfaat bagi perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia umumnya. Surabaya, 2022 Petugas TBM se-Kecamatan Gubeng


KATA SAMBUTAN Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam membangun Kota Surabaya yang kita cintai. Kita patut bangga dan memberi apresiasi kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya tulis yang berjudul Misteri Hotel Tua. Buku para bibit penulis Gendis Sewu menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas yang telah melalui proses panjang dan berjenjang dan merupakan karya-karya imajinatif yang mengandung pesan moral dengan bahasa yang mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.


Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata, semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya dengan judul Misteri Hotel Tua bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu. Surabaya, 2022 Kepala Dinas Perpustakaan dan kearsipan Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, SH, M.Si


SEKAPUR SIRIH Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah buku antologi cerpen dengan judul Misteri Hotel Tua. Buku ini merupakan antologi cerpen kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Baratajaya Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan delapan karya tulis cerpen pendampingan petugas seKecamatan Gubeng yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.


Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas. Taman Kalimas yang merupakan singkatan dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat memberikan layanan literasi yang di dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi. Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapat reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah itu karyanya akan dIbuat dan dipublikasikan. Saya mengapresiasi kepada para bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain membaca juga mampu menulis.


Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang terdiri dari dari para tutor kelas reguler di tingkat kecamatan, para editor area (Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini terselesaikan secara baik. Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja para petugas TBM se-Kecamatan Gubeng yang berkolaborasi dengan SDN Baratajaya Surabaya. Membangun kota maka perlu disertai ‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah mudah, karena awal membangun sering kali terlihat abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun begitu, tetap terus ‘membangun’ karena ‘membangun’ manusia melalui literasi adalah sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta kita Kota Surabaya. Salam Literasi.


Surabaya, 2022 Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Dani Arijanti, SE, M.Si


DAFTAR ISI Gua yang Aneh 1 Gadis Kecil Misterius 5 Tangisan di Rumah Kosong 10 Wanita Misterius 14 Desa Misterius 18 Misteri Harga Buku 24 Misteri Hotel Tua 32 Ruang Bawah Tanah 36


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh 1 GUA YANG ANEH Oleh I Putu Dwi Suryananta D.P.W. Pada suatu hari, ada empat orang yang sedang bertualang. Mereka adalah Joni, Bagas, Andre, dan Nia. Mereka bertualang di tengah hutan yang lebat. Di tengah-tengah petualangan, mereka beristirahat sejenak. Bagas pergi untuk buang air kecil. Setelah menunggu sekian lama dia tidak kunjung kembali. Andre berkata, “Ke mana si Bagas pergi, kenapa lama sekali tidak kembali?” “Kita cari saja,” jawab Nia. Akhirnya mereka pun mencari Bagas dengan cara mengikuti jejak kakinya. Setelah lama mencari, mereka menemukan Bagas yang sedang memandangi sebuah gua. Muncullah sifat iseng Andre dan dia menjahili Bagas dengan cara mengagetkannya. Andre, Joni, dan Nia bertanya kepada Bagas, “Bagaimana kamu bisa disini?” “Aku mendengarkan suara rumput yang bergoyang,” jawab Bagas.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh 2 Kemudian Andre pun berkata, “Gua apa ini? Ayo kita telusuri gua ini!” “Jangan dulu, kita belum menyiapkan alat untuk menelusuri gua,” jawab Bagas. Namun, Andre ngotot untuk menelusuri gua itu. Mereka pun bersitegang, untung saja ada Nia yang melerai dan akhirnya mereka sepakat untuk datang untuk menelusuri gua itu dua minggu lagi. Kemudian mereka memberikan tanda pada gua itu agar memudahkan mereka untuk mencarinya. Dua minggu kemudian mereka kembali untuk mencari gua tersebut. Namun, setelah sampai di lokasi mereka semua kaget karena gua tersebut sudah tidak ada lagi. Hanya tersisa tanda yang mereka buat dahulu. “Ke mana gua itu? Kenapa menghilang?” tanya Bagas. “Seharusnya dua minggu lalu kita menelusuri gua ini,” sahut Andre. “Tapi kita belum menyiapkan alat untuk menelusuri gua,” jawab Bagas.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh 3 Mereka berdua pun kembali bersitegang dan Nia kembali melerainya. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang. Satu tahun kemudian, karena masih penasaran, Joni menghubungi ketiga temannya untuk mencoba melihat kembali gua itu. Akhirnya mereka kembali mencari gua yang aneh itu. Secara mengejutkan mereka berhasil menemukan gua itu dan bergegas untuk menelusurinya. Di dalam gua mereka menemukan sebuah lubang kecil yang hanya bisa dimasuki oleh satu orang saja. Mereka memutuskan Joni yang akan masuk untuk memeriksa lubang tersebut. Kemudian mereka memasang tali sebagai alat untuk turun dan naik saat kembali. Mereka membekali Joni dengan Handy Talkie (HT) untuk berkomunikasi. Setelah itu Joni pun perlahan-lahan menuruni lubang tersebut. Setelah beberapa lama, mereka mencoba menghubungi Joni melalui HT, tetapi tidak ada jawaban. Berjam-jam mereka menunggu kabar dari Joni sambil mendirikan tenda,


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gua yang Aneh 4 tetapi masih tidak ada kabar dari Joni. Dua hari berlalu Joni masih belum kembali. “Kenapa Joni tidak kunjung kembali dan tidak menghubungi kita?” ucap Nia Akhirnya Nia memutuskan untuk menyusul Joni. Nia pun turun untuk mencari Joni, tetapi sama seperti Joni, Nia juga tidak bisa dihubungi. Bagas dan Andre memeriksa lubang tersebut dari atas. Andre menyuruh Bagas untuk turun memeriksa, tetapi Bagas tidak menyadari Joni dan Nia belum kembali sampai sekarang. Mereka kembali bersitegang, dengan tidak sengaja Andre mendorong Bagas hingga terjatuh ke dalam lubang tersebut. Namun, Bagas dengan cepat meraih tangan Andre dan menariknya hingga mereka berdua terjatuh ke dalam lubang tersebut. Akhirnya keempat orang petualang tersebut menghilang dan sampai sekarang tidak ada yang mengetahui di mana letak gua tersebut dan ada apa di dalam lubang tersebut.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius 5 GADIS KECIL MISTERIUS Oleh Matthew Ernesto Utomo Seperti biasa di bulan Desember, aku sibuk dengan kegiatan Natal. Sore itu terdengar suara alunan lagu Natal dari kejauhan ditemani riuhnya gerimis hujan. Aku dan teman-teman Sekolah Minggu sedang berlatih untuk persiapan acara Natal. Kami semua berlatih dengan giat karena tinggal beberapa hari lagi. Lampu padam di saat aku dan teman-teman sedang berlatih menari, dengan terpaksa kami sudahi latihan hari itu. Bersamaan dengan hujan deras, kami menunggu dijemput orang tua masingmasing. Tibalah saatnya temanku, Yeni dijemput adiknya yang masih kecil. Adiknya berani menjemput kakaknya sendirian sambil membawa payung di tengah derasnya hujan menjelang malam itu. Saat kusapa Tia, dia diam saja tanpa ekspresi. Dia memakai baju putih seperti baju yang


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius 6 akan dipakai saat kita tampil di acara Natal minggu depan. “Aneh,” gumamku. “Mengapa Tia tidak membalas sapaanku, ya?” Ruthia, ya namanya Ruthia gadis cilik berusia enam tahun yang super cerewet, periang, dan manja, biasa aku panggil Tia. “Tumben Tia kuajak bicara kok tidak merespon ya, ekspresinya datar-datar saja,” aku terus bergumam penuh keheranan. Sampai saatnya aku dijemput kakakku. Sesampai di rumah aku ceritakan berulang kali ke kakak dan ibuku, tetapi sayangnya mereka anggap ceritaku tadi sebagai angin lalu. Malam ini terpaksa aku tidur sendiri karena kakakku memilih tidur di kamar tamu dengan temannya yang hari ini menginap di rumah. Menjelang pukul 23.00 aku masih terjaga, masih memikirkan kejadian tadi di aula gereja. Aku terbangun tepat pukul 05.30, tak terasa hari sudah pagi. Namun, aku harus bergegas


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius 7 mandi dan sarapan lanjut berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah, aku langsung mencari Yeni. Aku butuh jawaban untuk mengusir rasa penasaranku kemarin malam. Kenapa adiknya yang cerewet itu menjadi diam seribu bahasa saat bertemu denganku di aula gereja. “Yeni, ada yang mau kutanyakan ke kamu!” teriakku. “Ada apa? Kok kamu bikin penasaran saja,” jawab Yeni. “Yen, kemarin malam waktu kita selesai latihan di gereja saat hujan deras, lalu lampu mati. Kemudian kamu pulang duluan karena sudah dijemput Tia. Waktu itu, Tia kusapa kenapa diam saja seperti marah. Memang aku salah apa? Memang Tia enggak cerita kamu kalau marah sama aku?” cecarku. “Masa? Kemarin waktu selesai latihan aku pulang sendiri kok. Aku pinjam payung Bu Endang,” ungkap Yeni.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius 8 “Aku lihat sendiri kamu berjalan sama adikmu pakai payung. Lalu kemarin kamu pulang sama siapa?” “Yakin? Aku jadi merinding,” jawab Yeni sambil berlari menjauhiku. “Yen, aku masih penasaran!” protesku. Bel sekolah sudah berbunyi, tanda pelajaran segera dimulai. Namun, hati ini masih berkecamuk. Apa benar yang kemarin malam itu hantu, ya? batinku Hari ini pikiranku tidak fokus. Sibuk memikirkan gadis kecil berbaju putih yang misterius itu. Apa benar anak kecil itu hantu, aku pun tidak terpikir melihat kaki gadis kecil itu saat berjalan untuk membuktikan dia hantu atau manusia. Benarbenar wajahnya mirip Tia, adiknya Yeni. Sampai ibadah malam Natal berlangsung, tepat tanggal 24 Desember. Tiba saatnya aku, Yeni, dan teman-teman tampil menari di ibadah Natal. Semua berjalan dengan lancar. Kakak pendamping dari Sekolah Minggu juga senang melihat penampilan adik-adiknya. Sambil


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Gadis Kecil Misterius 9 menikmati kue, aku masih memikirkan tentang gadis kecil misterius itu. Jika gadis kecil itu muncul kembali, aku akan pastikan bahwa dia hantu atau manusia. Aku masih menunggu kedatangan gadis kecil itu untuk menjawab rasa penasaran selama ini. Gadis kecil itu tidak pernah menemuiku. Sejak kejadian malam itu, aku memastikan bahwa itu bukan Tia. Aku yakin itu makhluk tak kasat mata karena sampai saat ini tidak pernah bertemu dengan gadis kecil itu lagi. Namun, siapa pun itu aku tidak takut karena ada Tuhan yang selalu menjaga dan bersamaku.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong 10 TANGISAN DI RUMAH KOSONG Oleh Nur Aqilla Khanza Amara Di dekat rumah Meena terdapat sebuah rumah kosong yang konon katanya sering terdengar suara tangisan seorang perempuan. Meena yang kurang percaya dengan hal seperti itu menghubungi temannya, Marsya dan Khanza untuk membuktikan bersama. Dia mengajak mereka berkumpul di rumahnya pada pukul 02.00. Marsya dan Khanza pun datang memenuhi ajakan Meena. Setelah berkumpul, mereka mulai berjalan menuju ke rumah kosong tersebut tanpa sepengetahuan orang tua Meena. Saat mereka hampir tiba, Meena mendengar suara dari dalam rumah kosong itu. Dia pun bertanya kepada dua temannya. “Teman-teman, apakah kalian mendengar suara aneh dari dalam rumah tersebut?” tanya Meena. “Iya, aku juga mendengarnya,” jawab Khanza.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong 11 “Aku juga mendengarnya, Meena,” sahut Marsya. “Yuk, kita masuk!” ajak Meena. Mereka bertiga pun memberanikan diri untuk mendekati rumah tersebut. Meena perlahan membuka pintu dan memasuki rumah tersebut diikuti kedua temannya. BRAK! Terdengar suara benda jatuh dari salah satu ruangan. Mereka bertiga mendekati asal suara tersebut dengan penuh keberanian. Namun, seketika Marsya terdiam. Suara tangisan perempuan itu terdengar cukup keras di telinganya. “Teman-teman, aku mendengar ada suara tangisan seorang perempuan di ruangan itu,” ucap Marsya sambil menunjuk sebuah ruangan paling ujung. Tidak takut, mereka bertiga justru menghampiri asal suara tangisan itu. Sesampai di ruangan, mereka bingung karena hanya melihat beberapa boneka yang berserakan di lantai. Tak lama kemudian mereka bertiga mendengar suara


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong 12 tangisan dari ruangan lain. Suara tersebut sangat kencang hingga mereka pun berlari ketakutan dan bergegas meninggalkan rumah tersebut. Setelah berhasil keluar, Meena dan kedua temannya bertemu dengan warga yang sedang berjaga di pos kamling. Mereka penasaran dan bertanya kepada warga mengenai latar belakang rumah kosong tersebut. Warga pun menceritakan kisah dibalik tangisan suara perempuan itu. Konon, lima tahun yang lalu telah terjadi perampokan di rumah tersebut. Rumah itu dihuni oleh seorang perempuan paruh baya dan seorang anak perempuannya yang berusia empat tahun. Pada peristiwa tersebut para perampok dengan keji membunuh seluruh penghuni rumah. Sejak saat itu, terdengar suara tangisan perempuan dari rumah tersebut. Meena dan kedua temannya akhirnya mengetahui kisah tersebut dan bergegas pulang ke rumah dengan hati yang lebih tenang karena tidak penasaran lagi. Sesampai di rumah Meena, ternyata ibu terbangun dan memarahinya.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Tangisan di Rumah Kosong 13 Kemarahan ibu ternyata lebih menakutkan daripada tangisan perempuan di rumah kosong tadi. Meena pun berjanji tidak akan mengulangi kejadian hari ini.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius 14 WANITA MISTERIUS Oleh Quenetta Alviramadhani Adeanto Pada tahun 2005 silam, sekelompok mahasiswa di salah satu Universitas Negeri Surabaya mengalami suatu kejadian yang misterius. Mereka adalah Anto, Riski, Candra, Andri, dan Nur. Kala itu mereka sedang menempuh ujian akhir semester, agar mereka bisa mengerjakan dan menjawab soal dengan baik dan benar. Anto dan Candra mengusulkan untuk belajar bersama. Setelah diskusi, mereka akhirnya memutuskan untuk belajar bersama di rumah Riski daerah Rungkut, Surabaya. Keesokan harinya sekitar pukul 18.00, Anto bersiap-siap untuk pergi ke rumah Riski. Pukul 19.00 Anto berangkat dari daerah Surabaya Barat menuju rumah Riski. Sesampai di rumah Riski, teman-teman Anto sudah datang dan mereka langsung belajar bersama. Waktu demi waktu telah dilalui tanpa terasa sudah pukul 01.00. Anto memutuskan untuk pulang


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius 15 terlebih dahulu, tetapi teman-temannya menyarankan untuk bermalam di rumah Riski saja karena sudah larut malam. Perdebatan pun terjadi antara Anto dan keempat temannya, tetapi dia bersikukuh memutuskan untuk pulang dan akan kembali esok hari. Pada saat perjalanan pulang dan tak jauh dari rumah Riski, Anto dikejutkan oleh sosok wanita dengan wajah pucat yang sedang duduk di depan rumah dengan suasana gelap tanpa ada penerangan. Anto sempat beberapa kali memandangi wanita tersebut yang terlihat menggunakan pakaian panjang seperti daster. Kirakira usia wanita tersebut antara 55 sampai 60 tahun. Saat itu Anto tetap berfikiran positif, mungkin wanita tua itu sedang menunggu penjual makanan yang lewat di perumahan tersebut. Di sepanjang perjalanan Anto bertanya-tanya dalam hatinya. Siapakah wanita tua yang dilihatnya tadi? Apakah memang seorang ibu-ibu yang sedang menunggu penjual makanan keliling atau sosok


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius 16 makhluk halus yang sengaja menampakkan wujudnya? batin Anto. Sudahlah, besok akan aku tanyakan ke Riski saja, ucap Anto dalam hati. Keesokan harinya Anto berangkat ke kampus dan segera menemui Riski untuk menceritakan kejadian yang dialaminya tadi malam. Mendengar cerita Anto, Riski tidak begitu saja percaya. Tanpa berpikir panjang, mereka memutuskan untuk mendatangi rumah tersebut setelah pulang dari kuliah. Riski ingin membuktikan apa yang dialami oleh Anto adalah benar-benar nyata. Sesampai di rumah tersebut, Anto menceritakan kembali apa yang sudah dilihatnya tadi malam kepada Riski dan menunjukkan posisi di mana wanita tersebut duduk. Riski tetap tidak percaya karena rumah yang dimaksud Anto sudah bertahun-tahun kosong dan sudah sangat lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Setelah mendengar cerita dari Riski, bulu tangan Anto merinding dan kedua lututnya gemetaran. Anto menyalakan kendaraannya dengan wajah ketakutan. Dia


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Wanita Misterius 17 bergegas meninggalkan rumah kosong itu. Namun, kendaraan Anto tidak mau menyala. Setelah dicoba berulangkali akhirnya motor Anto menyala dan mereka langsung tancap gas pergi ke rumah Riski dengan sangat ketakutan. Sesampai di rumah, Riski menasihati Anto. “Anto, lain kali kalau sudah larut malam sebaiknya kamu menginap di rumahku saja. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu di perjalanan,” nasihat Riski kepada Anto. “Baik, Riski. Aku akan mendengarkan nasihatmu. Tadi malam aku sungguh sangat menyesal,” jawab Anto. Setelah itu, mereka saling bersalaman dan berharap kejadian ini tidak terulang kembali.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 18 DESA MISTERIUS Oleh Salsabila Azka Nacita Pada suatu hari Aku, Quenetta, Aliyah, Callysta, dan Zahira sedang bersepeda. Kami bersepeda di luar area perumahan. Tidak jauh dari area perumahan, kami menemukan lahan kosong. Lahan tersebut sekarang dibuat satu desa, tetapi anehnya desa itu tidak ada namanya dan terlihat sunyi sepi. Kami merasa ketakutan dan kembali pulang ke rumah. “Kita pulang dulu saja dan besok kembali lagi bersama Kakakku, Bang Jibril,” kata Quenetta. “Setuju, Bang Jibril ‘kan lebih tua jadi lebih berpengalaman juga,’’ jawab Zahira. Akhirnya kami pulang ke rumah masingmasing. Keesokan harinya sebelum pergi ke desa misterius, kami berkumpul di rumahku. Setelah semua berkumpul, kami pun mulai berangkat menuju desa tersebut. Ketika sudah sampai, kami meletakkan sepeda di area luar desa. Saat


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 19 memasuki desa misterius, langit yang cerah berubah menjadi gelap gulita. Suasana semakin terasa sepi dan sunyi seperti dikelilingi oleh hantu. Namun, kami masih berani untuk terus memasuki wilayah desa aneh ini. Di dalam desa tersebut juga ada perumahan, sekolah, dan rumah sakit yang terlihat angker. Kami pun masuk satu per satu ke tempat itu. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah perumahan. Terdapat nama-nama penghuni yang tinggal di perumahan itu. Nama yang tertulis aneh dan seram, Aliyah merasa ketakutan. “Teman-teman, aku takut terjadi sesuatu dengan kita,’’ kata Aliyah. “Tidak usah takut Aliyah, ada kita yang akan membantu kamu jika terjadi sesuatu,’’ jawabku. Tidak lama kemudian ada orang yang terbungkus perban seluruh tubuhnya melewati kami. Kami pun lari karena ketakutan dan orang yang terbungkus perban itu telah menghilang.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 20 Sesudah melihat area perumahan, kami pergi ke bangunan sekolah yang ada di desa tersebut. Bangunan sekolahnya sangat besar, tetapi lantai, tembok, dan atapnya terlihat tidak terawat. Ruangan kelas penuh dengan debu dan banyak sarang laba-laba di pojok ruangan. Kami juga melihat ada gudang di sekolah itu. Kemudian kami pun pergi melihatnya karena penasaran. Saat memasuki gudang, kami melihat ada peti mati dan ada sebuah lemari yang membuat kami penasaran. Setelah dibuka ternyata isinya tengkorak manusia yang masih lengkap. Hiiiiii …, dalam hatiku berbisik. Saat melihat tengkorak itu, seperti ada bayangan yang mendatangi. Kami pun melihat ke belakang dan ternyata ada tengkorak hidup yang sedang mendatangi kami. “Aaaaaa …!” aku teriak ketakutan. Bang Jibril langsung menendang tengkorak itu. Tengkorak itu pun terjatuh dan menghilang. Kami langsung pergi keluar dari bangunan sekolah, tetapi Callysta jatuh terpeleset. Bang Jibril dengan


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 21 sigap langsung menggandeng tangan Callysta dan menggendongnya keluar. Saat semua sudah berada di luar, Quenetta langsung menutup pintu sekolah agar tengkorak tadi tidak mengikuti kami. Kami bergegas pergi ke rumah sakit yang ada di wilayah desa itu. Pada saat masuk di rumah sakit, banyak sekali tetesan darah. “Awas terpeleset teman-teman!” kataku. “Baik, kita akan jalan dengan hati-hati,” jawab semuanya. Di salah satu ruangan yaitu ruang operasi, sepertinya ada suster ngesot. Mukanya berdarah, rambutnya menutupi separuh muka dan matanya yang berwarna merah sangat menyeramkan. Suster itu melihat ke arah kami karena mendengar ada suara hentakan kaki. Suster tersebut mulai mengejar dan kami langsung berlari ke pintu keluar. Namun, saat kami sudah dekat dengan pintu keluar, pintu tersebut tertutup sendiri. Kami pun panik dan dengan cepat suster itu melompat ke arah kami. Ada batu di dekatku dan aku langsung mengambilnya kemudian melempar tepat di bagian


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 22 matanya, akhirnya mata suster itu mengeluarkan darah dan menghilang. Bang Jibril berusaha mendobrak pintunya, setelah terbuka kami segera keluar dari rumah sakit tersebut. Kami pun segera pergi keluar dari desa yang menyeramkan itu. Kami melalui semua kejadian di desa itu dalam waktu dua jam. Setelah berhasil keluar dari desa itu, kami pergi mencari kantor polisi untuk menceritakan kejadian itu. Namun, polisi tersebut menyuruh kami pulang, karena waktu sudah menjelang sore. Kami pun beranjak pulang dan melihat lagi keesokan harinya. Keesokan harinya kami pergi ke area desa itu. Sesampai di sana ternyata sudah tidak ada desa yang kami kunjungi, tetapi hanya ada kuburan. Kami heran bercampur bingung, kemudian kami segera pergi ke kantor polisi dan menanyakannya. “Permisi Pak, bagaimana hasil penyelidikan kemarin? Kenapa bisa muncul dan menghilang desanya?” tanya Quenetta.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Desa Misterius 23 “Maaf, Bapak tidak seberapa tahu,” jawab Pak Polisi sambil tersenyum. “Oh begitu, terima kasih Bapak atas informasinya,” Quenetta berterima kasih kepadanya dengan tersenyum. Pak Polisi tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum. Kami pun pergi meninggalkan kantor polisi sambil merasa heran. “Kenapa saat Quenetta bertanya kepada Pak Polisi, dia tidak menjawab dan saat Quenetta berterima kasih dia hanya tersenyum?” tanya Aliyah dengan muka bingung. “Mungkin saja …,” jawab Zahira sambil melihat ke arah kantor polisi dengan muka ketakutan. Kami pun melihat ke arah kantor polisi dan ternyata sudah menjadi kuburan. Kami segera pergi dari tempat itu dan tidak akan pernah kembali.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 24 MISTERI HARGA BUKU Oleh Satria Bima Narendra Setelah liburan kenaikan usai, Arya kembali bersekolah. Saat bel berbunyi semua murid memasuki ruang kelas dan duduk di bangku masing-masing dengan tertib. Ibu guru memasuki kelas dan mulai mengumumkan buku pelajaran kelas empat yang akan digunakan di semester ini bisa dibeli di koperasi sekolah. Beliau membagikan daftar harga buku untuk diberikan kepada orang tua. Bima memperhatikan harga buku-buku tersebut dengan teliti. Bima menarik napas panjang sambil menggumam, “Aduh ... mahal sekali harga bukubuku ini ya.” Arya yang duduk di sebelah Bima pun menyahut, “Iya Bim, sudah mahal kita enggak boleh fotokopi. Parahnya lagi kita enggak bisa pinjam buku-buku itu ke kakak kelas karena bukunya berbeda dari tahun kemarin.”


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 25 “Yang benar kamu, Arya? Padahal aku baru saja mau pinjam ke kakak kelas yang kukenal,” ucap Bima kecewa. Saat perjalanan pulang dari sekolah, Bima terus memikirkan buku pelajarannya. Bagaimana aku harus meminta uang kepada ayah untuk membeli buku-buku itu? Dari mana ayah mendapatkan uang? Ah, kasihan ayah, pikir Bima. Tak terasa Bima sudah sampai di depan rumahnya. “Asalamualaikum, Bunda,” ucap Bima. “Waalaikumsalam anakku sayang, kok pulang sekolah lesu sih? Kamu sakit, Nak?” tanya bunda ketika melihat raut muka Bima. “Enggak, Bunda. Aku ganti baju dulu ya, Bunda,” jawab Bima. Bunda merasa ada suatu hal yang mengganggu pikiran Bima. Pada waktu makan siang akan kutanyakan lagi, ada masalah apa di sekolahnya, batin Bunda.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 26 Di meja makan bunda kembali bertanya kepada Bima, “Kamu ada masalah apa di sekolah, Nak?” “Bima sedang memikirkan harga buku pelajaran yang mahal, Bun. Buku-buku itu harus dibeli karena sudah beda materi dengan yang tahun lalu. Bima tidak bisa meminjam punya kakak kelas,” jawab Bima lesu. “Coba Bunda lihat daftar harga buku-buku itu,” pinta Bunda. Bima pun masuk ke kamar untuk mengambilnya dari dalam tas. Kemudian bunda membaca daftar harga yang tertera di kertas itu. “Memang mahal sekali, berbeda dengan tahun kemarin. Nanti kita bicarakan dengan Ayah sepulang dari kantor, ya?” ucap Bunda. Bima pun mengangguk tanda menyetujui pendapat Bunda. Sepulang ayah dari kantor, Bima pun menyampaikan tentang hal tersebut. “Harga buku pelajarannya mahal, bagaimana kalau beli di pasar buku murah saja Bim? Kamu bisa lihat sampul depan buku-buku itu


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 27 di koperasi sekolah, kemudian kita membelinya di luar saja,” ayah menyampaikan pendapatnya. “Baik, Ayah,” kata Bima. Besoknya Bima pergi ke koperasi sekolah untuk melihat sampul buku kelas empat dan mencatat nama penulis serta penerbitnya. Malam harinya, Bima dan ayah pergi ke pasar buku murah. Bima mulai mencari buku-buku yang diperlukan dan akhirnya ia berhasil menemukan yang sama dengan yang dijual di koperasi sekolah. “Bagaimana harga buku di pasar ini jauh lebih murah daripada di koperasi sekolah ya?” tanya Bima heran. “Apa kamu yakin buku-bukunya sama?” tanya ayah. “Iya, yakin Yah,” jawab Bima. “Dik, karena buku-buku yang dibeli banyak maka kami memberikan diskon sebesar 25%,” kata penjual buku. “Terima kasih, Mas,” Bima pun lega bisa membeli semua buku yang dibutuhkannya.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 28 Keesokan harinya, Bima berangkat sekolah dengan penuh semangat. Di gerbang sekolah, Bima bertemu dengan Nando. “Halo, Bima. Kamu sudah beli buku di koperasi sekolah?” tanya Nando. “Tidak Ndo, aku beli di pasar buku murah. Buku yang kubeli harganya jauh lebih murah daripada di koperasi sekolah,” jawab Bima. “Kamu yang benar Bim? Kenapa bisa begitu?” tanya Nando heran. “Itu dia yang bikin aku heran, Ndo. Coba nanti aku mau menanyakan masalah ini ke koperasi sekolah,” ucap Bima. Saat istirahat tiba, Bima segera pergi ke koperasi ditemani Arya dan Nando untuk menanyakan masalah harga buku yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan buku yang dijual di pasar buku murah. “Selamat siang Bu, bisa kami minta waktunya sebentar?” sapa Bima. “Siang, ada apa ini Bim?” jawab Bu Dina penjaga koperasi sekolah.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 29 “Begini Bu, kemarin saya membeli bukubuku pelajaran di pasar buku murah, tetapi harganya kenapa berbeda jauh ya, Bu?” “Bisa Ibu lihat buku-buku apa saja yang kamu beli di luar?” “Ini Bu, silakan!” Bima menyerahkan bukubuku itu ke Bu Dina untuk dicek harganya. “Benar Bim, buku-buku ini sama persis dengan yang dijual di koperasi sekolah. Nanti Ibu cek lagi, siapa tahu ada kesalahan kami sebagai petugas koperasi dalam menghitung harga,” kata Bu Dina. Akhirnya Bima, Arya, dan Nando kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. KRIIING! Bel sekolah berbunyi, Bima segera mengemasi buku-bukunya. “Bim, kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah,” ucap salah seorang temannya. Bima kaget mendengarnya. Bima takut jangan-jangan ia melakukan kesalahan. Dia pun bergegas menuju ruang kepala sekolah.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 30 “Permisi, Pak,” ucap Bima sembari mengetuk pintu ruang kepala sekolah. “Ayo, Bima silakan masuk, di sini ada perwakilan dari penerbit buku kelas empat, bisa kamu ceritakan bagaimana kronologinya?” pinta Bapak Kepala Sekolah. Bima pun menjelaskan kejadian yang dia alami. “Kami perwakilan dari penerbit buku ingin meminta maaf kepada sekolah karena harga buku menjadi lebih mahal daripada yang ada di pasar. Hal ini disebabkan karena ada salah satu distributor buku kami yang berbuat curang. Dia sudah mengubah harga buku yang telah ditetapkan. Terima kasih kami ucapkan karena Bima sudah membuat kami tahu akan kecurangan yang terjadi. Untuk itu kami akan memberikan hadiah paket buku cerita khusus untuk Bima,” jelas perwakilan penerbit buku. “Wah, terima kasih banyak. Saya tidak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti ini,” ucap Bima.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Harga Buku 31 Bima pun lega bisa mengetahui kenapa harga buku itu bisa jauh berbeda. Akhirnya misteri harga buku bisa terpecahkan juga dan tidak membuat Bima, Arya, dan Nando penasaran lagi.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua 32 MISTERI HOTEL TUA Oleh Sulthan Nazhirul Asrofi Namaku Ari, aku anak kedua dari dua bersaudara. Hari ini adalah hari terakhir aku duduk di kelas empat. Besok pagi aku ikut orang tuaku mengambil rapor di sekolah. Keesokan hari setelah mengambil rapor, aku langsung masuk kamar sambil membayangkan liburan bersama keluarga pasti sangat seru. Tak lama kemudian, aku dipanggil oleh orang tuaku. Mereka mau mengajak liburan bersama ke wisata Air Terjun Dlundung di Trawas. Kami berencana berangkat besok pagi. Ibu menyuruhku mempersiapkan barang yang akan dibawa besok. Esok hari sebelum berangkat kami sarapan terlebih dahulu. Pukul 08.00 kami memutuskan berangkat menuju wisata Air Terjun Dlundung. Sesampai di sana, aku melihat pemandangan yang sangat indah dan udaranya yang sejuk. Hatiku sangat senang, di sana aku dapat bermain dan merasakan segarnya air. Aku juga


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua 33 berendam di bawah curahan air terjun. Tak terasa hari menginjak sore, kami pun bergegas pulang. Saat perjalanan pulang, turun hujan yang sangat deras sehingga membuat kami sekeluarga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Orang tuaku memutuskan untuk menginap di hotel. Saat perjalanan mencari hotel, ternyata semua penuh. Hanya ada satu hotel tua yang tersisa. Kami sekeluarga turun dari mobil, lalu ibu bertanya pada petugas, “Pak, apakah ada kamar kosong?” “Ada, tinggal satu kamar,” jawab petugas hotel. Kemudian kami berjalan menuju kamar. Suasananya terasa sunyi dan sepi. Apa orang-orang sudah tidur? batinku. Kami menempati kamar paling ujung yang sepi dan suram. Kami masuk, kamarnya bagus dan bersih. Kemudian aku membuka jendela belakang. Pemandangan dari jendela belakang terlihat gelap membuatku takut sehingga


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua 34 jendelanya kututup kembali. Akhirnya kami beristirahat. Tak lama kemudian terdengar suara berisik orang berbicara. Aku membuka pintu depan, tetapi tidak ada siapa pun di luar. Aku bertanya kepada kakak, “Apakah Kakak mendengar suara?” Kakakku menjawab, “Ya, aku juga mendengar.” Aku bertanya kembali, “Dari mana asal suara tadi?” Lalu kakakku hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak tahu dari mana asal suara tersebut.” Malam semakin larut semua orang tertidur pulas. Kemudian terdengar suara orang membanting pintu. Aku terkejut hingga membuatku terbangun dari tidur. Kucoba memejamkan mataku sambil bersembunyi di balik selimut. Keesokan paginya, kami memutuskan untuk segera pulang. Suasana di sekitar hotel masih


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Misteri Hotel Tua 35 terasa sunyi dan sepi seperti tidak terawat. Dalam perjalanan pulang aku masih penasaran. Hotelnya seram dan misterius, batinku.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Ruang Bawah Tanah 36 RUANG BAWAH TANAH Oleh Zhafirah Sakhi Cahya Anwari KRIIING! Bel sekolah berbunyi, pertanda saatnya pulang sekolah. Rani masih asyik menatap handphone-nya. "Teman-teman, aku membaca berita di handphone bahwa ada ruang bawah tanah di belakang sekolah kita," ucap Rani. Namun, Vina tidak percaya bahwa ada ruang bawah tanah di sekolahnya. "Itu hanya berita bohong!" kata Vina dengan keras. "Mari kita buktikan saja!" Rani bersikeras. "Baiklah!" ucap Vina dengan sombongnya. Rani mengajak Aliya dan Tika untuk ikut, dia pun mengunjungi rumah mereka berdua. Kemudian, Aliya dan Tika setuju untuk bertualang menyusuri ruang bawah tanah bersama Rani. Mereka pun sepakat untuk berangkat pada hari libur.


Gendis Sewu Berkarya: Misteri Hotel Tua – Ruang Bawah Tanah 37 Hari Minggu pun tiba, Rani, Aliya, dan Tika berkumpul di taman. Mereka berdiskusi untuk membawa barang apa saja saat di ruang bawah tanah nanti. Mereka pun memutuskan untuk berangkat pada malam hari. Menjelang malam, saatnya Rani dan temanteman menuju lokasi. Sesampai di sana, mereka mengeluarkan alat masing-masing. Mereka masuk dengan perlahan dan hati-hati. Aliya mulai menyalakan senter yang dia bawa, Rani mulai merekam area sekitar, sedangkan Tika hanya mengawasi. Mereka bertiga mulai berjalan lebih dalam lagi. Sesaat kemudian, salah satu dari mereka mulai mendengar suara aneh. Seperti ada orang yang meletakkan barang. Rani bergegas merekam ke arah suara itu dan berjalan mengendap-endap agar orang di sana tidak curiga. Keesokan harinya saat masuk sekolah, Rani menceritakan semuanya kepada Vina. Namun, Vina tetap tidak mau percaya. Rani pun menunjukkan video rekamannya kemarin, dan Vina


Click to View FlipBook Version