Bebal "Sepertinya kepiting bakar lada hitam bakal enak" Itulah satu baris kalimat yang terbesit di otakku ketika melihat sepuluh ekor kepiting batu ukuran sedang yang terikat tali rafia dalam sebuah termos biru kecil didepanku saat ini. Kalian pasti berpikir darimana aku mendapatkan kepiting ini bukan? Kalian salah jika menganggap bahwa aku membelinya di pasar ikan, karena sejatinya aku hanyalah seorang anak kuliahan berstatus 'kupu-kupu' yang lebih suka rebahan sambil menonton drama Korea atau berselancar di media sosial. Untuk apa keluar tenaga dan biaya untuk membeli sesuatu yang susah diolah ya kan? Oh ya, kepiting itu dikirimkan oleh Ayahku dari tempat perjalanan dinasnya. Ia bilang kepadaku lewat chat Whatsapp bahwa perjalanan dinasnya masih akan berlangsung lama dan mengirimkan kepiting ini sebagai hadiah karena dia mendapatkannya dengan harga murah. Jujur saja menurutku ayahku cukup beruntung mengingat bahwa harga kepiting cukup mahal, belum lagi dia bisa mendapatkan nya sebanyak ini dengan harga murah, tentu ia menemukan hidden gem ditempat dinasnya. "Kepiting nya banyak juga yah. Papah mu hoki loh, beli kepiting, murah trus banyak lagi" Itu tadi adalah sautan dari ibuku. Ia menghampiri ku dengan gamis berwarna cream dengan jilbab berwarna putih gading. Kelihatan kalau Ibu sedang bersiap untuk pergi ke sebuah acara yang entah dimana tempatnya. Perkenalkan, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus guru di SD tempatku tinggal. SD yang jaraknya hanya sekitar tiga ratus meter kurang lebih dan bisa ditempuh dengan jalan kaki itu sudah jadi tempat ibuku mengajar selama enam tahun sejak kepindahan kami kesini. Maaf lupa memberi tahu bahwa kami sekeluarga pindah dari kota ke sebuah perkampungan yang dekat dengan pegunungan karena ayahku yang seorang PNS dipindah tugaskan ke sini sejak aku SMP. Kalian pasti
bertanya, untuk apa seorang mahasiswa berada di perkampungan yang bahkan jarak dari kampung ke kota harus ditempuh selama empat jam? Tentu saja karena sekarang ini adalah libur semester. Jika tidak, tentu aku sekarang sedang ada di kost sambil rebahan dan makan snack tentu dengan layar laptop terbuka yang menampilkan salah satu drama Korea yang sedang hits. "Nanti kamu sama adek aja yang ngolah kepiting nya yah. Ibu mau ke rumah Bu Nining di dusun sebelah, ada tahlilan. Bapaknya meninggal 6 hari lalu" "Oh yaudah Bu.... Ku bakar aja ya--" "Heh, gak boleh. Pamali bakar-bakar kepiting disini" "Aah Ibu... Sarjana tapi percaya gituan" "Husss... G boleh ngomong gitu. Mau kamu didatengin Bapaknya Bu Nining?" "Yeee... Siapa takut" Aku mengucapkan kalimat pendek itu dengan percaya diri. Jujur saja aku beran, kenapa orang-orang masih percaya mitos seperti itu? Sekarang sudah bukan zamannya lagi. Kita juga diajari kalau arwah atau roh orang yang sudah meninggal akan langsung dibawa ke alam akhirat, yah... Kecuali kalau mereka mati bunuh diri. Karena mereka akan dilarang memasuki akhirat dan justru akan bergentayangan di dunia. Lagipula, Ayah dari Bu Nining juga meninggal karena sakit jantung, bukannya bunuh diri. "Yaudah, Ibu pergi dulu ya. Jangan lupa ajak adekmu masak kepiting nya. Jangan biarin dia main game mulu" "Iya-iya, Hati-hati ya Bu" Kulihat ibu keluar dengan memakai sepatu berwarna hitam. Sembari mengalihkan pandanganku ke arah kepiting, kudengar suara pintu yang tertutup dari ruang tamu, menandakan bahwa Ibu pasti sudah pergi dengan sepeda motor matic ku. Biasanya, perjalanan ibu ditempuh dengan jalan kaki atau diboncengi oleh adikku, karena sepeda motor kami hanya dua, satu
kupakai untuk menyelesaikan studi ilmu komunikasi ku di kota, satunya lagi dipakai adikku untuk pulang pergi ke sekolah SMP-nya yang juga bekas sekolah lamaku. "Zidan, sini. Bantu kakak masak kepiting. Jangan ML mulu" "Iya bentar... Ini lagi nge-rank. Sabar dong" Suara serak khas bocah yang baru menginjak masa puber bergema dari ruang tengah rumahku. Zidan, adik laki-laki ku masih berkutat dengan game online nya, mengabaikan aku yang sibuk membersihkan kepiting yang akan ku olah ini. Kepiting yang sudah kubersihkan itu pun kumasukkan ke dalam kuali besar yang muat untuk diisi lima ekor kepiting sekaligus. Tidak lupa menambahkan air, garam, dan daun salam agar bau dari kepiting yang direbus ini tidak amis nantinya. Jujur saja, aku tidak sabar untuk membakar kepiting ini matang. Bumbu untuk bakaran sudah kusiapkan bahkan sebelum aku membersihkan kepiting tadi. Ibu mungkin tidak sadar bahwa aku akan tetap melanjutkan pembakaran kepiting ku. Sembari menunggu kepiting nya matang, aku mengambil smartphone yang daritadi ku taruh di atas kulkas dekat tempat cuci piring dimana aku membersihkan kepiting nya. Duduk di salah satu kursi yang terletak dekat rak piring dan segera tenggelam dalam kegiatan yang sering kulakukan, berselancar di sosial media sembari menggulirkan layar berisi video pendek dengan ibu jariku. Alarm yang tiba-tiba berbunyi dari smartphone ku jujur saja membuatku sedikit terkejut. Bagaimana tidak? Aku sedang keasyikan menonton satu video yang membahas salah satu girl group K-pop yang menjadi favorit ku. Aku sungguh lupa sudah mengaktifkan alarm agar waktu merebus kepiting nya pas dan tidak berlebihan karena keasyikan bermain di media sosial. Kepiting bakar tentu tidak boleh direbus berlebihan dong!? Tentu saja timer diperlukan agar tingkat kematangan nya tidak lebih dari setengah. Bersamaan dengan diriku yang mematikan kompor, adikku pun keluar dari kamarnya, memperlihatkan wajah cemberut yang cukup menggelitik untukku. Ku rasa dia kalah ketika bermain dan mungkin bertemu tim yang kurang kompeten. Langsung saja kuminta dia untuk mengambil kan daun pisang
yang sudah kupersiapkan sedari sore yang kuletakkan di atas tempat penyimpanan beras. "Ini daun buat apa kak? " Buat bakar kepiting, bakal enak loh in--" "Tapi kan tadi ibu ngelarang. Aku denger loh Kak" "Bawel banget sih kamu, emang masih percaya gituan yah? Di kota aja banyak resto yg jualan kepiting bakar" "Tapi kalau didatengin hantu gimana kak? Aku Takut nih" "Udah-udah, gak bakalan datang itu. Bacain ayat kursi juga lari pasti. Ini kepiting nya bakal enak kok. Santai aja. Nanti jangan bilang Ibu yah, kita makan kepiting bakarnya berdua aja. Ok? " Meyakinkan adikku itu cukup mudah. Dia orang yang sangat penurut, bahkan kepadaku yang sering menjahilinya sekalipun. Meskipun dia diselimuti rasa takut karena mitos yang didengarnya dari Ibu, aku bisa meyakinkan nya untuk menyetujui keputusanku. Anggukan darinya menandai bahwa ia pun bersedia membantu ku mempersiapkan segala persiapan untuk membakar kepiting. Mulai dari menyalakan arang di tungku pembakaran, membantuku melumuri kepiting dengan bumbu, sampai di tahap membungkus kepiting dengan daun pisang serta membakarnya di atas tungku pembakaran. Dari lima kepiting yang kurebus, kami memutuskan untuk hanya membakar dua ekor dan sisanya disisakan untuk dimakan nanti setelah ibu pulang. Sembari menunggu kepiting bakarnya matang, tanpa sengaja ku dengar ada suara berdecit dari arah ruang makan. Aku pun langsung menyuruh adikku untuk mengawasi kepiting nya dan memutuskan untuk mengecek suara tersebut. Ternyata jendela dekat dispenser terbuka, membiarkan angin malam berhembus ke dalam rumah kami. Aku pun bergegas menutupnya. Ketika akan menutup jendela, aku lihat ada sosok yang melihat kearah kami dari kejauhan. Jendela ruang makan ini menghadap ke arah selatan yang langsung mengarahkan pandangan ke pemandangan perkebunan kakao
milik warga. Mungkin hanya warga yang iseng mengecek kebunnya kupikir. Aku tidak terlalu mempedulikan pemandangan yang kulihat dan langsung menutup jendela yang tadi terbuka dan mengunci slotnya dan langsung kembali ke dapur tempat adikku sedang memperhatikan sebuah bungkusan daun pisang berisi dua ekor kepiting sembari memperhatikan api dari arang yang menyala. Setelah kami rasa cukup, kami langsung mengangkat bungkusan berisi kepiting itu dan menaruhnya di sebuah nampan kecil dan membukanya. Terlihat kepiting bakar yang menggugah selera dengan aroma lada dan saus tiram yang khas yang membuat kami berdua meneguk liur secara bersamaan. Ketika kami hendak mencoba kepiting tersebut tiba-tiba pintu ruang depan yang berdecit dan terbuka seraya dibarengi dengan sautan salam. Sial, aku tidak tau ternyata ibu secepat ini akan pulang. Tadinya kupikir ia kan cukup lama berada di tahlilan itu. Belum lagi kepiting ini baru saja matang dan kami berdua bahkan belum sempat mencicipinya. "Assalamu'alaikum... Nak, udah dimasak kepitingnya?" "Udah Bu, ini udah selesai dibakar sama kakak. Eh!?" Aduh Zidan!!... Kenapa kamu malah keceplosan ke Ibu? Padahal sudah kukatakan bahwa jangan beritahu Ibu soal kepiting bakarnya. Ibu pasti akan kesal. "Astaghfirullah Kak!!! Kenapa kepiting nya dibakar? Kan udah Ibu bilang jangan dibakar. Kamu ini bebal banget" "I-iya maaf Bu.... Tapi cobain deh, enak kok" "Hhhhh... Gak bisa dibilangin kamu yah. Ini si adek juga malah ikut-ikutan. Coba sini Ibu cobain. Kalau g enak buang aja. Gapapa mubazir, daripada didatengin sama dedemit" "Masih aja percaya gituan Bu" "Heh, kamu mau didatengin demit?"
Dan terjadi lagi, perseteruan soal mitos yang didengar oleh Ibu dari warga setempat. Mitos yang terpatahkan oleh warga kota yang banyak menjual kepiting bakaar tanpa pernah mengalami kejadian mistis. Aku pun berani mencobanya karena aku juga paham bahwa itu hanyalah mitos zaman dulu yang sudah tidak berlaku lagi sekarang. Lelah berdebat akhirnya Ibu mengalah dan mencoba kepiting bakar yang ku buat, ia memuji masakan ku dan berkata bahwa kepiting bakar yang ku buat sangat enak, rasanya pas dan tidak terlalu tajam. Aku cukup senang melihatnya menikmati hidangan yang kubuat. Tanpa sengaja aku melihat ke arah pintu depan yang sedang terbuka. Aku melihat ada beberapa orang berdiri di seberang jalan dan melihat ke arah rumah kami. "Bu Itu yg di depan siapa yah?" "Siapa apanya? Orang g keliatan siapa-siapa. Kamu ini ada-ada aja" Sialan. Sekarang aku percaya apa yang ibu bilang.