The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rohmadsafarudinningrat, 2022-04-10 03:44:26

3.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Nilai-nilai Kebajikan Universal

Guru Penggerak

Keywords: Modul 3.1

3.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Nilai-nilai Kebajikan Universal

Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak (CGP)

Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya.
Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu
keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai
kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-keputusan yang diambil di sekolah akan
merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan
atau teladan bagi seluruh warga sekolah.

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip
etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan
sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik,
sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip
etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui
bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-
nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran,
Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri,
Kesabaran, dan masih banyak lagi.

2.1 Nilai-nilai Kebajikan Universal

o CGP dapat mengidentifikasi dan memahami prinsip-prinsip etika yang berdasarkan
pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dalam lingkungan pribadi
maupun kerjanya.

o CGP dapat mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati dan diyakini dalam
proses pengambilan keputusan dilema etika.

o CGP bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan
yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika.

o Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
o Sekolah adalah ‘institusi moral’ yang dirancang untuk membentuk karakter para

warganya. Seorang pemimpin di sekolah tersebut akan menghadapi situasi di mana
mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan
berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan-
keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi
oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah.
o Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-
prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun
merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran
yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang
pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang
disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa,

maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti
Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas,
Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

o Pertanyaan Pemantik:
o Anda mengetahui bahwa salah satu rekan guru Anda memberikan les privat kepada

beberapa murid pada suatu pelajaran tertentu. Murid-murid yang mengikuti les privat
telah mendapatkan soal-soal yang akan dijadikan bahan tes, dan tentunya hasil tes mereka
menjadi sangat baik dibandingkan dengan hasil murid-murid yang lain. Apa yang harus
Anda lakukan?
o Dari permasalahan tersebut di atas Anda diminta untuk membuat suatu pertimbangan
yang menyangkut dua nilai kebajikan yang sama-sama Anda junjung tinggi. Di satu sisi,
Anda berhadapan dengan kebenaran, berbuat yang benar berarti melaporkan sesuatu yang
melanggar peraturan sekolah, di sisi yang lain, rekan guru tersebut adalah sahabat Anda,
di mana nilai kesetiaan Anda sebagai seorang teman? Bila dua nilai kebajikan saling
bersinggungan apa yang harus Anda lakukan? Langkah mana yang harus Anda ambil,
keputusan apa yang dibuat?
o Seperti yang telah kita pelajari di modul 1.4 tentang Budaya Positif, mengajarkan nilai-
nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita.
Diane Gossen (1998) berpendapat bahwa bila kita ingin menumbuhkan motivasi
instrinsik dari dalam diri seseorang maka tumbuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai
kebajikan universal.

Nilai-nilai kebajikan universal

Di bawah ini ada beberapa contoh nilai-nilai kebajikan universal yang telah disepakati beberapa
institusi:

1. IBO Primary Years Program (PYP)

Sikap Murid:

o Toleransi
o Rasa Hormat
o Integritas
o Mandiri
o Menghargai
o Antusias
o Empati
o Keingintahuan
o Kreativitas
o Kerja sama
o Percaya Diri
o Komitmen

2. Sembilan Pilar Karakter Indonesian Heritage Foundation (IHF):

o Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA
o Kemandirian dan Tanggung jawab

o Kejujuran (Amanah), Diplomatis
o Hormat dan Santun
o Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong
o Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras
o Kepemimpinan dan Keadilan
o Baik dan Rendah Hati
o Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

3. Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfelong Guidelines and Life Skills)

Keterampilan Hidup

o Dapat dipercaya
o Lurus Hati
o Pendengar yang Aktif
o Tidak Merendahkan Orang Lain
o Memberikan yang Terbaik dari Diri

Petunjuk Hidup

o Peduli
o Penalaran
o Bekerja sama
o Keberanian
o Keingintahuan
o Usaha

o Keluwesan/Fleksibilitas
o Berorganisasi
o Kesabaran
o Keteguhan hati
o Kehormatan
o Memiliki Rasa humor
o Berinisiatif
o Integritas
o Pemecahan Masalah
o Sumber pengetahuan
o Tanggung jawab
o Persahabatan

4. The Seven Essential Virtues (dari Building Moral Intelligence, Michele Borba):

o Empati
o Suara Hati
o Kontrol Diri
o Rasa Hormat
o Kebaikan
o Toleransi
o Keadilan

Tugas 2.1

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,

Setelah Anda membaca nilai-nilai kebajikan dari keempat institusi tadi, sekarang pilihlah salah
satu yang menurut Anda paling menarik, bandingkan dengan nilai-nilai kebajikan atau
prinsip-prinsip yang Anda miliki di sekolah Anda. Adakah suatu perbedaan atau
persamaan? Kemudian pikirkan bagaimana nilai-nilai kebajikan yang Anda pilih dapat
disampaikan dalam pengajaran atau kira-kira bagaimana program pendalaman terhadap nilai-
nilai kebajikan tersebut dapat disampaikan kepada murid-murid di sekolah Anda?

nilai nilai kebajikan yang menurut saya menarik adalah Toleransi. Nilai nilai kebajikan dari
beberapa institusi terdapat yang paling sering disampaiakan adalah toleransi. dari hal tersebut
ternyata terdapat kesamaan dengan kondisi di sekolah kami. nilai toleransi tentunya merupakan
modal utama di lingkungan SMA N 1 belitang karena keragaman budaya, suku bangsa, agama
dll sehingga dengan toleransi yang tinggi sekolah akan berjalan baik dan terus bersinergi. Nilai
Toleransi bagi sisiwa telah menjadi pedoman siswa dalam bersikap dan berperilaku di SMA N
1 Belitang.

2.2 Bujukan Moral dan Dilema Etika

Tujuan Pembelajaran Khusus:
1. CGP dapat membedakan dilema etika/ethical dilemma dengan bujukan moral/moral

temptation.
2. CGP dapat mengidentifikasi jenis dilema berdasarkan 4 paradigma, baik dilema yang

dihadapi orang lain maupun diri sendiri.
3. CGP bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut.

Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Dalam Pembelajaran 1, Anda sudah mengingat kembali peristiwa di mana Anda mengambil
sebuah keputusan sulit. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut
merupakan dilema etika. Ada kalanya itu lebih berupa bujukan moral. Untuk mendalami lebih
lanjut apa perbedaan keduanya, di Pembelajaran 2 ini kita akan mempelajari jenis-jenis dilema dan
paradigma dalam pengambilan keputusan. Sebelumnya, simaklah pertanyaan pemantik berikut
dan nilailah mana yang merupakan dilema etika dan mana yang bujukan moral.
Silakan direnungkan beberapa pertanyaan pemantik berikut.

Keputusan apa yang akan Anda ambil dalam situasi-situasi di bawah ini?
1. Rayhan adalah seorang murid kelas 12 yang sangat berbakat dalam bidang seni. Dia juga sopan

dan baik hati. Dia selalu membuat orang terkesan dengan karya-karya seni yang dibuatnya.

Namun dia tidak menyukai pelajaran Matematika. Nilai-nilainya untuk pelajaran Matematika
selalu dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sebelum mengikuti Ujian Akhir SMA
dan pengumuman kelulusan SMA, Rayhan sudah diterima di universitas pilihannya di jurusan
Seni. Pada hari Ujian Sekolah pelajaran Matematika, Anda adalah guru pengawas ujiannya.
Anda memergoki Rayhan menyontek pada saat ujian sekolah Matematika. Setelah ujian
selesai, Anda memanggilnya ke ruangan Anda. Rayhan mengaku kalau ia menyontek, tapi ia
mohon Anda tidak melaporkannya pada kepala sekolah. Ia melakukannya hanya untuk lulus
SMA agar bisa kuliah di universitas impiannya. Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda
akan tetap melaporkan kepada kepala sekolah atau menyimpan rahasia ini rapat-rapat?

2. Anda adalah bendahara panitia acara Pentas Seni Akhir Tahun di sekolah Anda. Setelah acara
selesai, ketua panitia meminta Anda menggunakan dana yang tidak terpakai untuk acara
pembubaran panitia dengan mengadakan pesta kecil-kecilan. Ketua panitia meminta Anda
sebagai bendahara panitia, untuk membuat kwitansi palsu untuk membiayai acara tersebut
karena dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan semacam itu. Apa yang akan Anda
lakukan?

Situasi yang manakah yang lebih menantang/sulit bagi Anda untuk mengambil
keputusan? Mengapa?

Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara
dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan
moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan
antara benar dan salah. Dari pengalaman kita bekerja di manapun, kita telah mengetahui
bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita
menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan

seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung
jawab dan penghargaan akan hidup.

Tugas 2.2

Setelah mempelajari perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral,

sekarang Anda diminta untuk membaca kembali kasus di sekolah Anda masing-masing
yang telah Anda tulis di akhir pembelajaran Mulai dari Diri, kemudian buatlah analisis apakah
itu termasuk dilema etika atau bujukan moral dan sebutkan alasannya.

Dalam kasus yang pernah saya alami pada peserta didik saya adalah terkait pemilihan perguruan
tinggi negeri. Banyak diantara murid kami yang memilih mengambil program studi terbaik dan
sesuai keinginan atau cita citanya. Dalam kasus ini siswa atas nama M melakukan berbagai cara
untuk selalu mempertahan kan nilai raportnya untuk masuk menjadi juara umum, namun teman
temannya sudah paham bahwa siswa M dalam setiap ulangan harian dan penilaian oleh guru
melakukan kecurangan dengan membuata catatan yang digunakan untuk menjawab. Kejadian ini
sudah berlangsung 2 tahun atau 4 semester dan ternyata benar dalam 4 semester ini siswa atas
nama M tersebut juara umum. Namun pada semester ke 5 atau kelas xii kawan sekelas sudah
merasa jengah. Sebenarnya kawan sekelasnya merasa kasihan terhadap siswa karena dari keluarga
tidak mampu. Pada waktu ujian siswa M tersebut telah di ketahui oleh saya dengan kondisi
bercerita bahwa dia melakukan selama ini karena membantu orang tua supaya dapat kuliah dengan
biaya yang ringan. Dalam hal ini termasuk dilema etika. Karena anak menginginkan untuk tujuan
baik. Namun tetap salah yang dilakukan.

Empat Paradigma Dilema Etika

Silahkan Anda cermati artikel mengenai empat paradigma dilema etika berikut.

Empat Paradigma Dilema Etika Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita
telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.
Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang
bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi,
tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang
terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Secara lebih rinci, berikut adalah penjelasan dari keempat paradigma tersebut:
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah
kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara
kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok
besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti
kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok”
dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok

masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok
keluarga, atau keluarga Anda. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat
pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk
yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam
kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi
kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus
dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan
sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi
semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di
sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat
pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat
berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan
peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah Anda
harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat
karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan
rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang
pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat
pengecualian?

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema
etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau
bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi
berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau
komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Pada jaman perang, tentara yang tertangkap kadang
harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada
teman tentara yang lain. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara
mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah
salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang
kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini
bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya
pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus
membuat pilihan ini. Contohnya: Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk
digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Anda harus memilih
antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Anda telah
membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang.

Artikel disarikan dari Buku “How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas
of Ethical Living, Rusworth M.Kidder, 1995, USA: HarperCollins Publisher

Video Dilema 1
Simaklah video dilema berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya.

https://youtu.be/UPkHLOy5Ppc?list=PLfU0PkAn6x6S3oURb34Lwfuzr8OBVqroW

Pertanyaan :
1. Siapa yang menghadapi dilema?

Pak Tono
2. Apakah dua kebenaran yang ada?

 Adalah benar jika tokoh tersebut terlambat datang karenaini adalah
orang tua ( kakek)

 Tapi benar juga jika dia berangkat menuju acara pemilihan kepala
sekolah karena untuk menghormati keputusan ketua yayasan yang
menunjuk pak Tono sebagai kepala sekolah

3. Paradigma mana yang terjadi pada masing-masing dilema?
Dilema kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Dapatkah lebih dari satu dilema, berlaku untuk cerita yang sama? Bila iya, yang

manakah dan mengapa?

Dilema keadilan lawan rasa kasihan
Tindakan untuk mendapatkan suatu kepercayaan dari orang laian merupakan amanah yang
sangat besar dan sebagai guru tentunya harus menjalankan dengan pebuh tanggung jawab
dan sungguh sunggguh, namun dalam perjalannya terdapat hambatan dengan kondisi yang
berda disekitar kita dengan adanya situasi yang tidak mendukukng. Dalam video tertera
harus ada bentuk perhatian lainnya yaitu orang tua yang harus kita hormati dan menyangkut
kesehatan tentunya juga merupakan prioritas. Dan rasa Kasihan terhadap Orang tualah
yang harus menjadi focus utama terlebih dahulu.

Video dilema 2
Simaklah Video Dilema berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya.
https://youtu.be/aLwAJV9IRQM?list=PLfU0PkAn6x6S3oURb34Lwfuzr8OBVqroW

Pertanyaan :
1. Siapa yang menghadapi dilema?

Ibu Hani
2. Apakah dua kebenaran yang ada?

 Adalah benar jika tokoh tersebut memeberikan tenggat waktu untuk
pengembalian buku perpustakaan karena memang made tidak bisa
mengembalikan sesuai waktunya

 Tapi benar juga jika dia menyuruh segera mengembalikan buku yang
dipinjam made karena sesuai aturannya yang harus di patuhi seluruh
anggota perpustakaan.

3. Paradigma mana yang terjadi pada masing-masing dilema?

Dilema keadilan lawan rasa kasihan

4. Dapatkah lebih dari satu dilema, berlaku untuk cerita yang sama? Bila iya, yang
manakah dan mengapa?

Dilema individu melawan masyarakat

Hal ini dirasakan made karena made merasakan manfaat adanya buku tetapi karena
terdapat kesalahan yang dilakukan yaitu bukunya tertinggal sehingga ia berurusan
dengan perpustakaan dan merasa keberatan akan sistem pengembalian buku dengan
biaya yang mahal.

Video Dilema 3

Simaklah Video Dilema berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya.

https://youtu.be/NI__oDSi2Tg?list=PLfU0PkAn6x6S3oURb34Lwfuzr8OBVqroW

Pertanyaan :

1. Siapa yang menghadapi dilema?

Pak Budi

2. Apakah dua kebenaran yang ada?

 Adalah benar jika tokoh tersebut diam karena membantu kawan atau
rekan sejawat.

 Tapi benar juga jika dia menginformasikan kepada kepala sekolah
karena sesuai aturannya yang telah ditegakkan oleh sekolah dengan
syarat kepala sekolahnya tidak pelit dan mampu memberikan bantuan
kepada pak bambang untuk biaya operasi ceasarnya istri pak bambang..

3. Paradigma mana yang terjadi pada masing-masing dilema?

Dilema kebenaran lawan kesetiaan

4. Dapatkah lebih dari satu dilema, berlaku untuk cerita yang sama? Bila iya, yang
manakah dan mengapa?

Dilema Individu lawan masyarakat. Hal ini dirasakan pak Bambang. Karena dengan
menghadapi situasi akan kondisi keluarganya yang membutuhkan biaya maka pak bambang
harus melakukan cara mengajarkan les privat kepada Bagas. Karena keluarga juga adalah hal
yang penting.

Video dilema 4

Simaklah video dilema berikut dan jawablah pertanyaan yang menyertainya

https://youtu.be/U0Mw-qTCFRQ?list=PLfU0PkAn6x6S3oURb34Lwfuzr8OBVqroW
Pertanyaan :

1. Siapa yang menghadapi dilema?

Ica
2. Apakah dua kebenaran yang ada?

 Adalah benar jika tokoh tersebut memberitahukan informasi berkenaan
kegiatan main bola kepada guru karena hal tersebut adalah sikap jujur

 Tapi benar juga jika dia tidak menyampaikan informasi kepada kawan
akan pengumpulan dana karya wisata karena ide bazar dari guru
sosiologi kurang menarik bagi siswa

3. Paradigma mana yang terjadi pada masing-masing dilema?

Dilema individu lawan masyarakat

4. Dapatkah lebih dari satu dilema, berlaku untuk cerita yang sama? Bila iya, yang
manakah dan mengapa?

Jangka pendek lawan jangka panjang
Hal ini terjadi pada Ibu guru sosiologi terkait hukuman yang dilakukannya kepada siswa
yang tidak mengikuti kegiatan pengumpulan dana. Padahal tidak boleh menjatuhkan hukuman
sperti tersebut pada peserta didik.
2.3 Tigas Prinsip Pengambilan Keputusan

Tujuan Pembelajaran:

CGP sebagai pemimpin pembelajaran dapat memahami dan memilih 1 dari 3 prinsip dalam

pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika.

Pertanyaan Pemantik:

Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan
moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena

manusia memiliki kesadaran moral.
(Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43).

Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang
tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau
prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-
prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang
mengandung unsur dilema etika.

Silakan Anda membaca 3 (tiga) pernyataan di bawah ini:

1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak.

2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Anda.
3. Melakukan apa yang Anda harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Anda.

Selama ini pada saat mengambil keputusan, landasan pemikiran Anda memiliki
kecenderungan pada prinsip nomor 1, 2, atau 3? Silakan tanpa berpikir panjang, Anda langsung
menuliskan jawaban Anda di secarik kertas.

Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan
baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah
yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang
seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus
dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang
mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab,
nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

3 Prinsip Dilema Etika

Silakan cermati video yang berisi penjelasan mengenai tiga prinsip pengambilan keputusan
dengan unsur dilema etika ini.
https://youtu.be/8r_VEIrPFVc

Apa pemahaman Anda dari video prinsip dilema etika di atas, adakah sesuatu yang tidak
terduga, atau adakah pertanyaan lanjutan yang masih ingin Anda pelajari selanjutnya
pada sesi pendampingan fasilitator dan mentor?
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Di lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang. Berpijak pada aliran ulitarianism,
yaitu mengerjakan apa yang dapat menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah orang terbanyak.
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
Ikuti prinsip atau aturan – aturan yang telah ditetapkan. Berpijak dari filsafat, yaitu deontologis,
dari bahasa yunani “deon” yang berarti tugas atau kewajiban.
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Memutuskan sesuatu dengan pemikiran, apa yang anda harapkan orang lain lakukan terhadap
anda.
Selanjutnya apakah terdapat taham dalam pengambilan atau penggunaan prinsip berikut!
Tugas 2.3 (Wawancara)

Temuilah seorang rekan kerja Anda, dan tanyakan apakah rekan Anda tersebut bersedia
memberikan pendapat mereka terhadap studi kasus di bawah ini. Anda diharapkan memilih satu
kasus dari empat kasus yang disediakan. Bila bersedia, rekamlah hasil wawancara Anda,
bisa dalam bentuk video atau audio.

Kasus 1

Ibu Tati adalah guru kelas V yang merupakan rekan kerja Anda, yang mana sama-sama mengajar
kelas V yang kelasnya paralel. Ruangan kelas ibu Tati pun persis di sebelah ruangan kelas Anda.
Ibu Tati terkenal sangat disiplin dan cenderung ‘galak’. Pada sisi lain, ibu Tati juga pekerja keras
dan murid-muridnya pun selalu mendapatkan nilai-nilai yang sangat baik. Sebagian murid-murid
sangat takut kepada ibu Tati, dan sebagian lain bisa menyesuaikan diri. Kepala Sekolah Anda dan
orang tua murid juga sangat menghargai ibu Tati. Suatu hari, Anda mendengar tangisan seorang
murid dan pergi keluar untuk melihat asal suara tangisan tersebut. Anda melihat seorang murid
perempuan, kelas V sedang berlutut di atas bebatuan sekolah yang sangat panas hari itu,
menghadap di depan pintu kelas ibu Tati. Anda melihat ibu Tati tampak tidak menghiraukan suara
tangisan muridnya dan tetap mengajar seperti biasa, namun Anda bisa melihat bahwa beberapa
murid di kelas ibu Tati mencoba untuk mencuri pandangan keluar kelas melihat temannya yang
sedang menangis dan berlutut di terik matahari. Apa yang harus Anda lakukan? Apakah guru lain
dapat menginterupsi di mana saat itu ada guru lain yang memiliki wewenang atas kelas yang
dipimpinnya? Dalam kondisi ini apa yang bisa Anda lakukan? Dapatkah Anda menginterupsi,
mengapa, dan bagaimana?

Kasus 2

Anda adalah Kepala Sekolah di SMA Tunas Gemilang. Pak Doddy adalah seorang guru
Matematika di sekolah yang Anda pimpin. Ia adalah guru yang kompeten dan memiliki semangat
belajar yang tinggi. Ia menguasai bidang yang diajarkan dan metode mengajarnya juga mudah
dimengerti oleh murid-murid, namun ia memiliki beberapa masalah dalam pengendalian emosi
dan pengelolaan waktu. Beberapa kali Anda mendapat keluhan baik dari murid-murid maupun
orang tua murid bahwa Pak Doddy kerap marah-marah pada murid-muridnya ketika ia kecewa
pada sikap atau kinerja mereka. Anda telah menyampaikan keluhan-keluhan tersebut pada Pak
Doddy dan membimbingnya untuk memperbaikinya. Pak Doddy juga kerap kali terlambat dalam
menyelesaikan tanggung jawabnya, seperti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,
membuat soal ujian, dan juga mengisi nilai raport siswa. Kejadian terakhir, Pak Doddy terbukti
memanipulasi laporan keuangan kepanitiaan kegiatan study tour ke Yogya, dimana ia menjadi
bendaharanya. Akhirnya di akhir tahun ajaran, Anda memutuskan untuk tidak memperpanjang
kontrak kerja Pak Doddy.

Pak Doddy dapat menerima keputusan sekolah. Ia segera mencari pekerjaan baru dengan melamar
ke beberapa sekolah. Pak Doddy juga secara personal meminta Anda untuk memberikan
rekomendasi bila ada sekolah yang memintanya. Anda pun mengiyakannya. Pada suatu hari, Anda
mendapat email dari bagian Sumber Daya Manusia/SDM, SMA Cahaya Hati yang meminta Anda
mengisi lembar rekomendasi mengenai kinerja Pak Doddy sehubungan dengan lamaran Pak
Doddy ke sekolah tersebut sebagai Koordinator Guru Matematika. Di formulir itu ada beberapa
pertanyaan tentang pengendalian emosi, pengelolaan waktu, juga tentang integritas.

Anda paham betul bahwa kalau Anda mengisi dengan sebenar-benarnya, Pak Doddy tidak akan
mendapatkan pekerjaan tersebut. Padahal sekolah tersebut adalah sekolah yang baik dan posisi
yang dituju adalah posisi yang baik. Anda juga tahu, sebagai kepala keluarga dengan istri yang
tidak bekerja dan 3 anak yang masih kecil-kecil, Pak Doddy sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengisi form tersebut dengan apa-adanya, atau
akan anda buat sedikit lebih baik dari fakta yang terjadi? Apa yang akan menjadi pertimbangan
ketika Anda melakukan itu?

Kasus 3

Anda adalah guru pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Karakter Mulia. 4 hari lagi adalah hari
pembagian raport Semester 1. Sebelumnya, semua guru telah menyerahkan daftar nilai murid-
murid pada pelajaran yang diampunya pada kepala sekolah, Ibu Rosdiana. Ibu Rosdiana adalah
Kepala Sekolah yang baru bertugas di SMA Karakter Mulia di tahun ajaran ini.

Hari ini Ibu Rosdiana mengadakan rapat guru. Ia membuka pertemuan dengan berterima kasih
atas kerja keras para guru dalam mengajar murid-murid selama ini dan juga telah mengumpulkan
nilai rapor dengan tepat waktu. Kemudian ia menyampaikan bahwa secara umum, nilai raport yang
diberikan oleh guru-guru terlalu rendah dan tidak mencukupi untuk mendukung murid-murid
masuk perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur nilai raport atau jalur tanpa tes. Ia dengan tegas
menyatakan, kalau nilai rapor tetap seperti itu, maka murid-murid sekolah kita sampai kapan pun
tidak pernah bisa diterima di PTN dengan jalur nilai raport. Ia juga menyatakan bahwa salah satu
target kerjanya di SMA karakter Mulia adalah membuat 25% murid diterima di PTN dengan jalur
raport. Oleh karena itu, sejak murid-murid di kelas 10, nilai raport mereka harus dibuat bagus dan
menunjukkan grafik peningkatan.

Ibu Rosdiana akhirnya meminta guru-guru untuk menaikkan nilai murid-murid 10 poin, maka bila
nilai murid 70 maka akan menjadi 80, dan seterusnya, demi membantu masa depan mereka, dan
juga demi nama baik sekolah agar kepercayaan masyarakat meningkat bila banyak murid-murid
sekolah ini yang diterima di PTN dengan jalur nilai rapor. Anda telah mengajar di sekolah ini
selama lebih dari 5 tahun, dan selama ini Anda merasa diberi otoritas dan kepercayaan penuh
dalam memberikan penilaian pada murid-murid Anda, selama ada bukti-bukti penilaian yang
lengkap, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Anda merasa kredibilitas Anda diragukan dan
integritas anda dipertanyakan. Bila Anda meningkatkan Apa yang akan anda lakukan dan atas
dasar apa Anda melakukan itu?

Kasus 4

Pak Budiman merupakan guru matematika di SMP Karunia. Pak Budiman dikenal sebagai guru
yang rajin, ramah, penyabar, dan disukai banyak murid. Suatu hari saat Pak Budiman sedang
mengajar di jam pelajaran pertama di kelas 8A, tiba – tiba datang orang tua salah satu murid kelas
8A, Abdul, di depan pintu kelas VIII. Bapak Anwar, ayah Abdul mengacungkan parang sambil
berteriak dan memanggil – manggil Abdul agar segera pulang untuk ikut panen ikan di tambak.
Sontak pak Budiman merasa kaget dan takut, demikian juga dengan murid–murid yang
lainnya. Abdul hanya bisa menangis ketakutan dan bersembunyi di pojok kelas sambil berteriak
tidak mau pulang. Dalam situasi dan kondisi seperti itu apakah yang akan dilakukan Anda bila
Anda berada di posisi pak Budiman? (Kasus ini ditulis oleh salah satu CGP Angkatan 1, ditulis
ulang oleh penulis modul dengan beberapa modifikasi).

1. Tanyakan kira-kira rekan Anda di sekolah keputusan seperti apa yang akan diambil
untuk menangani kasus seperti di atas?

2. Berikan tanggapan/pendapat Anda atas keputusan yang dibuat rekan kerja Anda.
3. Kira-kira prinsip mana yang menjadi landasan berpikir rekan kerja Anda, dalam

mengambil keputusan.
4. Berbedakah pengambilan keputusan rekan Anda dengan Anda sendiri?
5. Tulis dan jelaskan pandangan-pandangan Anda bilamana pendapat Anda dan rekan

kerja Anda berbeda, apakah Anda berbeda prinsip dalam pengambilan keputusan?
6. Mengapa Anda berpendapat seperti itu, faktor-faktor apa yang menentukan pendapat

Anda?

Berikut jawaban saya
Dan saya jawab melalui link
https://drive.google.com/file/d/1SKpNzTSWNT83D2URipx2s8pRGmapnOXW/view?usp=shari
ng

Prinsip Pengambilan Keputusan
Question #1
1
Response is required

Setelah Anda melakukan wawancara, salinlah tautan rekaman wawancara Anda pada kolom
dibawah ini dengan rincian:

1. Studi kasus yang dipilih: Studi kasus 1/2/3/4
2. Tautan rekaman wawancara yang diunggah ke google drive: ...
Studi kasus yang say pilih adalah Kasus 2
Berikut
link https://drive.google.com/file/d/1SKpNzTSWNT83D2URipx2s8pRGmapnOXW/view?usp=s
haring
Terima kasih
Question #2
2
Response is required

Pengambilan Keputusan seperti apa yang diajukan oleh rekan kerja Anda?
*) Pilih salah satu jawaban dari kemungkinan yang Anda bisa lakukan dalam studi kasus yang
dipilih.

Menghiraukan murid yang menangis, itu bukan urusan Anda.
Menanyakan kepada Ibu Tati perihal muridnya yang menangis.
Menyapa murid yang sedang menangis dan memintanya untuk minta maaf kepada bu Tati
bila berbuat salah.
Melaporkan kepada Kepala Sekolah tentang kejadian tersebut.
Jawaban lain, jelaskan! tetap emmberikan informasi yang lebih baim dari fakta dalam
pengisian formulir
Question #3
3
Response is required

Bila Anda berada dalam situasi di mana Anda adalah rekan dari guru yang ada di studi kasus
1/2/3/4, apakah yang akan Anda lakukan? Berbedakah jalan keluar Anda dengan rekan guru
Anda?
yang saya lakukan tetap mencar pekerjaan ditempat lain atau di sekolah SMA tersebut, tinggal
menunggu keputusan kepala sekolah laam dalam pengisian formulir tersebut. Saya yakin kepala
sekolah saya yang lama arif dalam mengambil keputusan.

Question #4
4
Response is required

Kira-kira rekan kerja Anda mengambil keputusan seperti yang diambil karena berlandaskan
prinsip yang mana dari ketiga prinsip dilema etika? Kira-kira bagaimana prinsip Anda sendiri?
prinsip dilema etika yang diambil rekan saya adalah adanya prinsip berbasis hasil akhir dan
berbasis rasa peduli. Saya memilki pandangan yang sama dengan rekan saya tersebut.
Question #5
5
Response is required

Dari ketiga prinsip dilema etika ini, apakah yang tidak terduga atau menarik dari ketiga prinsip
ini?
hal yang menarik adalah Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) kaena hal ini lah
yang paling sulit dilakukan seluruh kepala sekolah.
Question #6
6
Response is required

Pertanyaan-pertanyaan apakah yang masih mengganjal atau ingin Anda ketahui lebih lanjut
tentang 3 prinsip dilema etika?
Sekali lagi terkait disetiap ke 3 prinsip tersebut adakah tahapan tahapan yang paling bisa kita
lakukan jikalu nanti kita menemukan studi kasus/ kasus yang harus ditangani ?.

3.1.a.4.2. Eksplorasi Konsep - Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Bacalah sebuah artikel mengenai konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Sebagai seorang
pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah
keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah
keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan
dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang
membingungkan, ada 9 langkah yang dapat Anda lakukan. Anda dapat memilih salah satu dari
kasus-kasus yang telah dibahas sebelumnya di modul ini untuk Anda gunakan sebagai contoh.

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan Mengapa langkah ini
penting untuk Anda lakukan? Pertama, penting bagi kita untuk
mengidentifikasi masalah yang sedang kita hadapi, alih-alih
langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih
saksama. Kedua, penting bagi kita untuk memastikan bahwa
masalah yang kita hadapi memang betul-betul berhubungan dengan
aspek moral, bukan sekedar masalah yang berhubungan dengan

sopan santun dan norma sosial. Tidak mudah untuk bisa mengenali
hal ini. Kalau kita terlalu berlebihan, kita bisa terjebak dalam situasi
seolah-olah kita terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita
akan mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil. Sebaliknya
bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak
bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika dalam masalah
yang sedang kita hadapi..
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Bila kita telah
mengenali bahwa ada masalah moral di situasi yang sedang kita
hadapi, pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Bukan berarti
kalau permasalahan tersebut bukan dilema kita, maka kita menjadi
tidak peduli. Karena kalau permasalahan ini sudah menyangkut
aspek moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.
3. Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang
lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut,
bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata
apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut
penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-
faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut,
sehingga data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang
melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian
seseorang dalam situasi tersebut. Kita juga harus bisa menganalisis

hal-hal apa saja yang potensial yang bisa terjadi di waktu yang akan
datang.
4. . Pengujian benar atau salah

1. Uji Legal Pertanyaan penting di uji ini adalah apakah ada
aspek pelanggaran hukum dalam situasi itu? Bila
jawabannya adalah iya, maka situasi yang ada bukanlah
antara benar lawan benar (dilema etika), namun antara benar
lawan salah (bujukan moral). Keputusan yang harus diambil
dalam situasi adalah pilihan antara mematuhi hukum atau
tidak, dan keputusan ini bukan keputusan yang berhubungan
dengan moral

2. 2. Uji Regulasi/Standar Profesional Bila situasi yang
dihadapi adalah dilema etika, dan tidak ada aspek
pelanggaran hukum di dalamnya, mari kita uji, apakah ada
pelanggaran peraturan atau kode etik di dalamnya. Konflik
yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi
sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa
seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah
dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena
melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan
kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

3. Uji Intuisi Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan
dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah

dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal
yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini
akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau
berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun
mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung
menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk
banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk
melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-
sama benar.
4. Uji Publikasi Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan
ini dipublikasikan di media cetak maupun elektronik dan
menjadi viral di media sosial. Sesuatu yang Anda anggap
merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi
publik? Coba Anda bayangkan bila hal itu terjadi. Bila Anda
merasa tidak nyaman kemungkinan besar Anda sedang
menghadapi benar situasi benar lawan salah atau bujukan
moral.
5. Uji Panutan/Idola Dalam langkah ini, Anda akan
membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang
yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda.
Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun
keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena
beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang

sangat berarti bagi Anda. Yang perlu dicatat dari kelima uji
keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip
pengambilan keputusan yaitu: Uji Intuisi berhubungan
dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking)
yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya
tentang prinsip-prinsip yang mendalam. Uji publikasi,
sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil
akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil
akhir. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip
berpikir berbasis rasa peduli (CareBased Thinking), dimana
ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda
meletakkan diri Anda pada posisi orang lain. Bila situasi
dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji
keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka
sebaiknya jangan mengambil resiko membuat keputusan
yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena
situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema,
namun bujukan moral.
5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. Dari keempat paradigma
berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi yang sedang
Anda hadapi ini? - Individu lawan masyarakat (individual vs
community) - Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) -
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) - Jangka pendek lawan

jangka panjang (short term vs long term) Pentingnya
mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan
permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang
Anda hadapi betulbetul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti
kebajikan yang sama-sama penting.
6. 6. Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema,
mana yang akan dipakai? Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-
Based Thinking) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based
Thinking) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
7. Investigasi Opsi Trilema Dalam mengambil keputusan, seringkali
ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi
di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri
kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini.
Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak
terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah
kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan
investigasi opsi trilema.
8. 8. Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita
harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara
moral untuk melakukannya.
9. 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Ketika keputusan sudah
diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil
pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan
sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga
merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih
menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang
penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan
mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal

Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan

Bapak dan Ibu CGP,
Dalam proses pengambilan keputusan, selain mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan, keterampilan yang telah Bapak Ibu pelajari pada modul-modul sebelumnya akan
sangat membantu misalnya keterampilan coaching, karena keterampilan ini membekali seorang
guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk
memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan
dengan baik.
Selain keterampilan coaching, untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan
kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran
sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills). Proses
pengambilan keputusan seharusnya juga dilakukan dengan kesadaran penuh (mindful) dengan
berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Hal-hal tersebut telah Bapak dan Ibu dapatkan di
modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional.

Sekarang, mari kita terapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada studi
kasus yang Anda pilih pada penugasan mandiri di pembelajaran 2.3 sebelumnya:
Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi kasus tersebut?

Nilai nilai yang bertentangan pada kasus 2 tersebut adalah nilai integritas, kejujuran,
kepemimpinan dan keadilan. Hal tersebut dapat diwujudkan dari tindakan kepala sekolah yang
dalam mengisi formulir tersebut tidak sesuai fakta yang mengakibatkan integritas seorang kepala
sekolah berada di posisi yang rendah serta dalam diri sendiri telah membohongi sendiri dengan
memanipulasi data.

Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah
dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema
saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua
seharusnya merasa terpanggil.

Maka saya selaku kepala sekolah pada kasus 2 ini telah mengetahui masalah moral yang terjadi
maka akan selamanya akan bersikap seperti ini ketika menghadapi kasus, maka salah satu bentuk
pertanggungjawaban adalah segera melakukan evaluasi diri dan perlunya dialog dengan pak doddy
selaku orang yang bersangkutan guna kebaikan sistem dan semuanya. Maka apa hasil dari
kesepakatan itulah yang terbaik dari keputusan bertanggungjawab yang sedang dihadapi.

Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya
apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya

terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting
untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada
faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa
menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin
dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja
yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.

yang pertama adalah kondisi keluarga pak Doddy dengan perekonomian yang kurang maka pak
doddy di tuntut untuk lebih bekerja kelras lagi. Dan fakta berikutnya adalah formulir yang telah
diisi maka yang terjadi formulir tersebut akan menghasilkan formulir palsu dan dapat
mengakibatkan kerusakan sistem yang dibangun pada sma terbaru pak doddy.

Langkah 4: Pengujian benar atau salah

1. Uji Legal
Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek
pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara
benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat
keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan
dengan moral.

2. Uji Regulasi/Standar Profesional
Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada
pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang
harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang
calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa

dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek
sehubungan dengan profesi Anda.
3. Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah
ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan
membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan
ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin
Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana.
Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat
dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.
4. Uji Halaman Depan Koran
Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari
koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi
konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan
terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.
5. Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang
yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah
pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau
adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip
pengambilan keputusan yaitu:

 Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang
tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.

 Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir
(Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.

 Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based
Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan
diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau
bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang
membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi
moral dilema, namun bujukan moral.

Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut.

1. Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji lega)
2. Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus tersebut? (Uji

regulasi)
3. Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi ini?

(Uji intuisi)
4. Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman depan

koran? Apakah anda merasa nyaman?
5. Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam situasi

ini?

Jawaban

1. Dalam Formulir tadi jikalau terdapat pembubuhan materai mka secara legal akan
berdampak hukum.
2. terdapat pelanggaran kode etik terkait profesiobalisme dan integrasi sebagai pemimpin
3. terdapat perasaan salah terhadap sekolah baru pak Doddy
4. Tidak sama sekali dan permasalahan tersebut seharusnya tidak menjadi bahan
konsumsi masyarakat.
5. pasti akan mengarahkan dengan tetap menulis formulir sesuai fakta namun demikian
kita dapat membantu pak doddy dengan bentuk yang lain supaya kondisi keluarga pak
doddy terbantu.

Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan
namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul
mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang terjadi pada
situasi tersebut?

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) dan Jangka pendek lawan jangka
panjang (short term vs long term)
Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi
Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?
 Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
 Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
 Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai?
 Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema
 Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam
situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir
sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan
masalah.

 Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk
menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?

Opsi berikutnya adalah tetap menjaga tali silaturahmi dengan Pak doddy dan membantu dengan
cara lain misalkan memberikan bantuan dengan kekeluargaan dan bisa kita lakukan menggunakan
pengambilan opsi untuk mencari kan sekolah lain yang tidak menggunaka pengisian formulir
tetang profil diri yang berkaitan dengan latar belakan calon pegawai. Sehingga investigasi opsi
trilema dapat dilaksanakan.

Langkah 8: Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan
keberanian secara moral untuk melakukannya.
Apa keputusan yang akan Anda ambil?

tetap mengisikan formulir sesuai fakta dan membantu kondisi pak doddy dengan cara yang lain.

Langkah 9: Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil
pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.
Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.

Pelajaran yang kita ambil adalah kita harus melihat bagaimanakah kondisi atau latar belakang
permasalahan yang utama dan sekiranya kita dapat membantu dengan acar yang lebih manusiawi
serta menegdepankan integritas kita sebagai guru dan juga pimpinan. Selanjutnya terkait evaluasi
yaitu kita harus berfikir lebih panjang sebelum melakukan tindakan atau pengambil keputusan
bertanggungjawab, dan dapat digunakan sebagai referensi pada kasus serupa.


Click to View FlipBook Version