Sebelum memulai diskusi, CGP diminta untuk merenungkan jawaban dari beberapa
pertanyaan berikut.
1. Bagaimana saya mengelola pembelajaran secara efektif sehingga dapat
memenuhi kebutuhan belajar murid saya?
2. Apa yang akan saya minta murid pelajari?
3. Bagaimana murid saya harus belajar, difasilitasi pembelajarannya dan berinteraksi
satu sama lain?
4. Bagaimana mereka mendemonstrasikan hasil pembelajaran mereka? Apa yang
akan mereka hasilkan?
5. Apa peran penilaian formatif dan sumatif dalam pembelajaran berdiferensiasi ?
Jawaban :
1. Selama ini saya melakukan pembelajaran dengan menggunakan kaidah yang
tertera di dalam RPP yang sudah kita buat dan dijalankan secara efektif dengan
menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang sudah di lakukan selama
ini dengan cara bervariasi dan menggunakn media pembelajaran secara kreatif
dan mudah didapatkan.
2. Selama ini saya meminta murid mempelajari bagaimana mengikuti pelajaran
dengan strategi dan metode yang bervariasi sehingga anak dapat memahami
materi dengan baik. Tetapi masih sering terjadi kekeliruan selama ini.
3. Selama ini yang telah say lakukan dengan berdiskusi secara kelompok dengan
mempresentasikan materi dengan menggunakan media yang dibuat atau yang
telah tersedia. Fasilitas yang ada berupa perangkat IT (hardwere) presentasi.
4. Dengan secara individu maupun Kelompok mereka mempresentasikan hasil
diskusi atau karya dalam pembelajaran dengan metode dan strategi tertentu.
5. Penilaian formatif untuk memberikan umpan balik kepada pembelajar yang dapat
digunakan untuk meningkatkan pengalaam murid.
Strategi Pembelajaran berdiferensiasi
Strategi Pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi
proses, dan diferensiasi produk.
Diferensiasi Konten
Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan
pemetaan kebutuhan belajar murid baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat
murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya.
Kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih
kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki
murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan
diajarkan.
Minat merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat
aktif’ dalam proses pembelajaran. Murid yang berbeda akan menunjukkan minat
pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah
untuk “menghubungkan” murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka.
Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja
murid dalam hal ini salah satu contohnya setiap murid memiliki gaya belajar yang
berbeda.
Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk
memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien
dengan demikian guru perlu memvariasikan metode dan pendekatan mengajar
mereka.
Diferensiasi Proses
Dalam kegiatan ini guru perlu memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok
atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid.
Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang
membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri.
Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario pembelajaran yang akan
dirancang. Cara diferensiasi proses di antaranya:
Kegiatan berjenjang, di mana semua murid bekerja membangun pemahaman
yang sama tetapi dilakukan dengan dukungan, tantangan dan kompleksitas yang
berbeda.
Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan melalui sudut-sudut minat,
dengan demikian akan mendorong murid mengeksplorasi berbagai materi yang
dipelajari.
Membuat agenda individual untuk murid, misalnya guru membuat daftar tugas
berisi pekerjaan umum untuk semua kelas serta daftar pekerjaan yang terkait
dengan kebutuhan individual murid. Jika murid telah selesai mengerjakan
pekerjaan umum maka mereka dapat selesai melihat agenda individual dan
pekerjaan yang dibuat khusus untuk mereka
Memfasilitasi lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas.
Dalam hal ini untuk memberikan dukungan bagi murid yang mengalami kesulitan
atau sebaliknya mendorong murid yang cepat untuk mengejar topik secara lebih
mendalam.
Mengembangkan kegiatan yang bervariasi yang mengakomodasi gaya belajar
visual, auditori dan kinestetik.
Menggunakan pengelompokan yang fleksibel yang sesuai dengan kesiapan,
kemampuan dan minat murid.
Diferensiasi Produk
Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru. Produk
adalah sesuatu yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes,
pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting
produk ini harus mencerminkan pemahaman murid yang berhubungan dengan tujuan
pembelajaran yang diharapkan.
Cara mendiferensiasi produk dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan
mempertimbangkan kebutuhan belajar murid terlebih dahulu sebelum memberikan
penugasan produk. Penugasan produk harus membantu murid secara individual atau
kelompok, menentukan kembali atau memperluas apa yang mereka pelajari selama
periode waktu tertentu (satu semester atau satu tahun). Produk sangat penting karena
mewakili pemahaman dan aplikasi dalam bentuk yang luas, produk juga merupakan
elemen kurikulum yang langsung dapat dimiliki oleh murid.
Diferensiasi produk meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan atau keragaman dan
memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran
yang diinginkan. Sangat penting bagi guru untuk menentukan ekspetasi pada murid, di
antaranya menentukan: 1) kualitas pekerjaan apa yang diinginkan; 2) konten apa yang
harus ada pada produk; 3) Bagaimana cara mengerjakannya; 4) Sifat dari produk akhir
apa yang diharapkan
Walaupun murid memberikan informasi tambahan membantu guru memodifikasi
prasyarat produk yang harus dihasilkan agar sesuai dengan kesiapan, minat dan
kebutuhan belajar individu namun gurulah yang tetap harus mengetahui dan
mengkomunikasikan indikator kualitas dari produk tersebut.
Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi
Apa yang kita lakukan sebagai guru untuk menciptakan lingkungan yang mendukung
pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan
“learning community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua anggotanya
adalah pembelajar. Guru akan mengembangkan murid-muridnya untuk mengembangkan
sikap-sikap dan praktik-praktik yang selalu mendukung lingkungan belajar. Komunitas
belajar yang efektif mendukung pembelajaran berdiferensiasi adalah:
1. Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan
baik. Iklim ini bukan hanya dilihat dari sikap dan tindakan guru yang ramah dan
menyabut murid tetapi juga sikap yang ditunjukkan antarmurid. Ruang kelas akan
dipenuhi dengan hasil belajar murid atau berbagai hal di mama murid berperan di
dalamnya.
2. Setiap orang dalam kelas akan saling menghargai. Baik guru murid orang tua
maupun kepala sekolah akan berbagi kebutuhan, perasaan diterima, dihormati,
aman sukses dan sebagainya. Apapun perbedaan yang dimiliki mereka semua
tentu memiliki perasaan dan emosi manusia yang sama oleh karena itu dalam
kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi guru akan
membelajarkan murid muridnya untuk membedakan perasaan yang mereka miliki
terhadap apa yang dilakukan oleh seseorang dan nilai dari orang tersebut. Guru
membantu murid memecahkan secara konsruktif dan tidak akan pernah membuat
perasaan siapapun menjadi kecil.
3. Murid akan merasa aman. Aman tidak hanya secara fisik tetapi juga secara
psikis. Murid-murid yang berada dalam kelas tahu persis mereka boleh bertanya
jika membutuhkan bertanya, mengatakan tidak tahu jika tidak tahu. Mereka tahu
bahwa dalam belajar mereka dapat mengambil risiko untuk mencoba berbagai ide-
ide kreatif.
4. Ada harapan bagi pertumbuhan. Tujuan pembelajaran berdiferensiasi untuk
membantu setiap murid tumbuh semaksimal mungkin sesuai kemampuannya.
Dengan demikian guru akan berusaha mengetahui perkembangan setiap
muridnya dan perkembangan kelasnya secara keseluruhan. Murid juga akan
belajar memaknai pertumbuhan mereka sendiri. Mereka akan berbicara tujuan
pembelajaran dan cara pencapaiannya. Semua pertumbuhan yang ditunjukkan
murid seberapa kecilnya akan layak dicatat dan diperhatikan oleh guru.
Pertumbuhan setiap murid akan berbeda-beda bentuknya. Pertumbuhan tersebut
adalah sebuah perayaan dan pertumbuhan tersebut tidak akan lebih daripada
apapun.
5. Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan. Guru mencari tahu di mana posisi
murid dikaitkan dengan tujuan pembelajaran utama yang ingin dicapai dan
kemudian memberikan pengalaman belajar yang akan mendorong murid sedikit
lebih jauh dan lebih cepat daripada kemampuan mereka saat ini atau zona
nyaman mereka. Guru akan merancang pembelajaran yang sedikit melampaui
apa yang murid kuasai saat itu, pada saat itu murid akan keluar dari zona nyaman
mereka dan merasakan sedikit tantangan. Saat murid mengalami tantangan
tersebut guru akan memastikan bahwa dukungan akan diberikan pada murid
tersebut, sehingga tantangan tersebut dapat dilampaui sehingga murid tidak akan
menjadi frustasi. Bantuan atau dukungan inilah yang disebut “scaffolding”. Jadi
pembelajaran yang dirancang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit sehingga
setiap murid dapat merasakan kesuksesan.
6. Ada keadilan dalam bentuk nyata. Dalam kelas yang menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi, adil berarti berusaha memastikan semua murid
mendapatkan apa yang dia butuhkan untuk tumbuh dan sukses. Murid dan guru
adalah sebuah tim untuk berusaha untuk berusaha memastikan bahwa kelas
berjalan dengan baik untuk semua orang di kelas tersebut.
7. Guru dan berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan
bersama. Setiap orang harus mengambil tanggung jawab baik untuk
kesejahteraan diri mereka sendiri maupun kesejahteraan orang lain. Untuk itu guru
dan murid bekerja sama untuk kesuksesan bersama. Walaupun guru pemimpin
kelas, namun murid juga secara sadar mengambil tanggung jawab untuk
kesuksesan kelasnya. Mereka akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan
mereka, memecahkan semua permasalahan dengan cara yang konstruktif dan
akan membantu mengembangkan rutinitas yang efektif.
Peran Penilaian dalam Pembelajaran Berdiferensiasi
Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memegang peranan yang
sangat penting. Guru diharapkan memiliki pemahaman yang terus berkembang secara
terus menerus tentang kemajuan akademik murid-muridnya agar ia bisa merencanakan
pembelajaran sesuai dengan kemajuan tersebut. Guru diharapkan dapat mengetahui
dimana posisi murid-muridnya saat mereka akan belajar dan mengaitkannya dengan
tujuan pembelajaran yang diharapkan. Ini tentunya akan berbeda-beda untuk setiap
murid, untuk setiap mata pelajaran, untuk setiap materi, dan bahkan untuk setiap waktu,
karena kondisi psikologis dan kemampuan seorang anak mungkin saja berbeda dari
waktu ke waktu. Penilaian, dalam hal ini akan berfungsi seperti sebuah kompas yang
mengarahkan dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi. Tomlinson & Moon (2013)
mengatakan bahwa penilaian adalah proses mengumpulkan, mensintesis, dan
menafsirkan informasi di kelas untuk tujuan membantu pengambilan keputusan guru. Ini
mencakup berbagai informasi yang membantu guru untuk memahami murid mereka,
memantau proses belajar mengajar, dan membangun komunitas kelas yang efektif. Di
dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam 3 perspektif:
1. Assessment for learning - Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses
pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses
belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian
yang berkelanjutan (on-going assessment).
2. Assessment of learning - Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran
selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif.
3. Assessment as learning - Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan muridmurid
secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai
penilaian formatif.
Berikut ini adalah beberapa contoh strategi penilaian formatif yang mungkin dapat
dilakukan guru dengan mudah:
1. Tiket Keluar. Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua murid
sebelum kelas berakhir. Murid menulis jawaban mereka pada kartu atau selembar kertas
dan menyerahkannya saat mereka keluar kelas. Teknik penilaian formatif ini melibatkan
semua murid dan memberikan bukti yang sangat penting tentang pembelajaran saat itu
bagi guru.
2. Tiket Masuk. Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua murid
sebelum pelajaran dimulai. Jawaban murid dapat menilai pemahaman awal murid terkait
dengan materi yang akan didiskusikan atau sebagai ringkasan pemahaman murid
terhadap materi hari sebelumnya.
3. Berbagi 30 Detik. Dengan strategi ini, murid secara bergiliran melaporkan sesuatu
yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik. Target yang Anda cari dalam
kegiatan ini adalah bagaimana pemahaman murid dikaitkan dengan kriteria keberhasilan
yang diharapkan. Dapat dijadikan sebagai rutinitas di akhir pelajaran sehingga semua
murid memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, berbagi wawasan, dan mengklarifikasi
apa yang dipelajari.
4. Nama dalam toples. Guru bisa meminta murid menulis nama mereka di selembar
potongan kertas & kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa
mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian
secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples, dan meminta beberapa
anak yang namanya tertulis di potongan kertas tersebut menjawab pertanyaan secara
bergantian.
5. 3-2-1. Di akhir pembelajaran, strategi ini memberikan murid cara untuk merangkum
atau bahkan mempertanyakan apa yang baru saja mereka pelajari. Tiga petunjuk dapat
disediakan bagi murid untuk menanggapi yaitu: 3 hal yang tidak murid ketahui
sebelumnya, 2 hal yang mengejutkan murid tentang topik tersebut, 1 hal yang ingin murid
mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari.
6. Refleksi. Apapun bentuk refleksi yang dilakukan, refleksi dapat menjadi alat penilaian
formatif yang sangat berguna bagi guru untuk mengetahui sejauh mana pemahaman
murid dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka.
7. Pojok pemahaman. Minta murid pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman
mereka. Jika mereka tidak memahami topik yang sedang dibahas, mereka dapat pergi
ke salah satu sudut dengan murid yang memiliki tingkat pemahaman yang sama.
Sementara jika sudah memahami, mereka dapat pergi ke sudut yang lain. Ini dapat
menjadi informasi buat guru, misalnya jika guru ingin memasangkan murid yang “sudah
mengerti” dengan murid yang kesulitan dan meminta murid berkolaborasi untuk
memahami materi yang menantang.
8. Strategi 5 jari. Minta murid mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang
diajarkan dengan menggunakan 5 jari. 5 jika mereka sudah paham sekali, 1 jika mereka
tidak paham sama sekali. Cara ini cukup cepat dan mudah untuk mengetahui gambaran
umum pemahaman murid sehingga guru dapat menyesuaikan pembelajaran selanjutnya
berdasarkan informasi ini.
Pertanyaan untuk diskusi daring:
1. Informasi atau fakta apa yang disampaikan dalam video dan artikel tersebut?
2. Gagasan baru apa yang Anda dapatkan dari video dan artikel yang Anda lihat?
3. Apakah yang menurut Anda akan sulit diimplementasikan? Mengapa?
4. Pertanyaan apakah yang masih Anda miliki atau klarifikasi apakah yang masih
Anda perlukan terkait dengan isi video dan artikel tersebut?
Jawaban:
1. Strategi Pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi
proses, dan diferensiasi produk. Dan Lingkungan yang Mendukung
Pembelajaran yang Berdiferensiasi
1. Diferensiasi konten berarti membedakan materi pengetahuan dan
keterampilan yang diberikan kepada murid tetapi tetap sesuai
kurikulum.Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan
mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid baik itu dalam
aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid
atau kombinasi dari ketiganya.
2. Diferensiasi Proses pembedaan pada bagaimana murid mengambil,
memproses dan memahami konten. Dalam kegiatan ini guru perlu
memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok atau mandiri.
Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid.
Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid
yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar
secara mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario
pembelajaran yang akan dirancang.
3. Diferensiasi Produk pembeda antara produk sejenis, baik dengan
kompetitor maupun dengan produk inti yang kita miliki. Produk adalah hasil
pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru. Produk adalah
sesuatu yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes,
pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya.
4. Lingkungan yang Mendukung Pembelajaran yang Berdiferensiasi.
Pembelajaran berdiferensiasi harus dibangun dengan “learning
community” atau komunitas belajar yaitu komunitas yang semua
anggotanya adalah pembelajar. Guru akan mengembangkan murid-
muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang
selalu mendukung lingkungan belajar.
2. Gagasan mengenai penerapan pembelajaran diferensiasi yang menuntut guru
untuk lebih kreatif dalam memetakan kebutuhan siswa sehingga guru bisa lebih
adil kepada siswa. Adil dalam artian tidak menyamaratakan tugas akan tetapi
harus melihat dari segi kesiapan,minat bakat masing-masing siswa serta profil
belajar siswa, Sehingga pembelajaran di kelas akan bermakna bagi murid.
3. Menurut saya yang sulit untuk diimplikasikan adalah kegiatan penilaian formatif.
Sebab penilaian formatif dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung
secara berkelanjutan dan konsisten, sedangkan kadangkala sebagai guru karena
terbentur beberapa tugas diluar pembelajaran di kelas konsistensi tersebut sangat
sulit untuk dilakukan.
4. Menurut saya yang sulit untuk diimplikasikan adalah kegiatan penilaian formatif.
Sebab penilaian formatif dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung
secara berkelanjutan dan konsisten, sedangkan kadangkala sebagai guru karena
terbentur beberapa tugas diluar pembelajaran di kelas konsistensi tersebut sangat
sulit untuk dilakukan.
Gambar. 3 Aspek Kesiapan Belajar Gambar. Diferensiasi Konten
Gambar. Diferensiasi Proses Gambar. Diferensiasi Produk
5. .
https://rohmadsafarudin.blogspot.com/2022/02/21a41-forum-diskusi-eksplorasi-
konsep.html