The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-07 12:28:38

Panduan Mengelola Bisnis Warnet

Panduan Mengelola Bisnis Warnet

Panduan Sederhana

Mengelola Bisnis
WARNET di
Indonesia

Buku Panduan Sederhana
Memulai Bisnis WARNET Legal

|
||
--|||--
||
|

Diterbitkan oleh

Departemen Komunikasi dan Informatika
Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika

Bekerjasama dengan

Asosiasi Warung Internet Indonesia
(AWARI)

PENGANTAR

~ Pengantar ~

Pemerintah bersama asosiasi perlu membuat
pedoman tentang standar tata ruang warnet di

seluruh Indonesia. Walaupun rumit pada
permulaannya, standardisasi tersebut dalam
jangka panjang akan menguntungkan bagi

semua pihak.

Opini atau aspirasi yang berkembang di
seputar Warnet dan Wartel ini muncul, ketika
persoalan merebak dan merugikan citra bisnis
warnet. Padahal, telah disepakati antara
Pemerintah dan Asosiasi, ada garis pembeda
antara keduanya. Wartel adalah bisnis regulatif,
sedangkan Warnet, diserahkan mekanisme swa
regulasi dari Asosiasi.

Namun untuk mewujudkan regulasi
mandiri, perlu kematangan dan kesadaran
pelaku bisnis yang memadai. Oleh karena itu,
ditempuh solusi jalan tengah. Sambil
menunggu kedua hal tersebut, Pemerintah
dalam hal ini Departemen Komunikasi dan
Informatika, bekerjasama dengan Asosiasi
Warung Internet Indonesia (AWARI)
menyajikan Panduan Sederhana Mengelola
Bisnis Warnet di Indonesia, sebagai sarana
bimbingan teknis, administratif dan bisnis.

Panduan ini semoga bermanfaat sehingga
pelaku bisnis Warnet Pemula tidak terjebak
dalam kekeliruan dengan resiko tak kecil.

Jakarta, Juni 2007.

Tim Penyunting.

Tim Penyunting Panduan Warnet 2007

Pengarah Cahyana Ahmadjayadi
PenJab Dirjen. Aplikasi Telematika
Ketua
Sekretaris Bambang Soeprijanto
Redaktur Dir. Pemberdayaan Telematika

Azkar Badri
Kasubdit. PT Perkotaan

Edy Mufti
Kasie. Program PT Perkotaan

Muhammad Irwin Day
M. Yamin
M. Salahuddien
Nizar G. Bunyamin

Design/Layout Sri Cahaya Khoironi
Editor
Staff Set Taufiq A. Rachman

Tipografi Ifnaldy
Theresia Luciana M.
Syamsul Bahri
Osty Kurniaty

Verdana 12 pt.

Dicetak 5.000 expl/ Juni 2007

Berkenalan dengan
WARNET . . .

~ Tentang WARNET ~

I. Istilah Warung Internet.

Warung Internet, sebuah istilah yang
berkembang di kalangan penggiat Internet
sekitar tahun 1997-1998 di Indonesia. Sebutan
bagi kios yang menyewakan jasa komputer
kepada pengguna untuk mengakses Internet.
Sejak itu, muncul lomba popularitas akronim
Warung Internet, antara pilihan WARIN atau
WARNET.

Secara gramatika, jika konsisten dengan
kaidah singkatan; Warung Tegal disingkat
WARTEG dan Warung Telekomunikasi menjadi
WARTEL, maka Warung Internet seharusnya
WARIN. Namun, karena Internet lazim
dituliskan .NET (baca dot Net), maka pilihan
kedua dianggap lebih menarik.

Demikian, kisah komunitas jaringan
Internet, lebih memilih istilah WARNET. Sampai
kini, Warnet sudah diadopsi masyarakat
Indonesia.

Untuk lebih mengenal, ada beberapa
pertanyaan yang muncul:

• Bagaimana membuat warnet ?
• Perijinan usaha apa saja yang harus

saya persiapkan ?
• ISP apa yang akan saya gunakan?
• Berapa besar daya listrik yang saya

butuhkan?
• Spesifikasi komputer yang bagaimana

akan saya gunakan ?
• Jaringan komputer lokal seperti apa

yang akan saya gunakan ?
• Bagaimana cara saya memblok situs

tertentu ?
• Perangkat lunak (software) apa saja

yang saya perlukan ?

II. Sejarah Warnet.

Sejak kapan Internet masuk ke
Indonesia, masih menjadi silang pendapat,
bahkan belum selesai diperdebatkan. Namun
bukan berarti sejarahnya gelap dan Warnet
tidak membawa harapan. Sebaliknya, berbagai
usaha di bidang pemanfaatan internet bagi
berbagai keperluan hidup masyarakat, sudah
berkembang dan masih terus berlangsung.

Kegiatan Warnet bermunculan sekitar

tahun 1996-1998. Mungkin sulit menentukan
siapa pengelola Warnet pertama di Indonesia.
PT Wasantara anak perusahaan PT. POS
Indonesia dan POINTER yang merupakan spin-
off dari CNRG - ITG di Kampus ITB Bandung
yang dipelopori oleh Onno W. Purbo, itu
merupakan segelintir dari pionir Warnet.
POINTER bahkan sempat bereksperimen
dengan mobil VW Combi sebagai prototipe
Warnet keliling.

Informasi yang terpampang di jendela
depan situs web Jawa Barat menyebutkan
bahwa Bogor Internet diprakarsai oleh Dipl.
Ing. Dipl. Kfm Sudjaja Wira dan Ir. Michael S.
Sunggiardi pada pertengahan tahun 1995.
Dimulai dengan bicara-bicara santai, keduanya
sepakat membentuk suatu wadah untuk
mengakses Internet bagi warga kota Bogor.

Kesepakatan ini segera dilaksanakan
dengan menghubungi PT Indo Internet di
Jakarta yang sudah beroperasi selama satu
tahun, dan setelah berembuk dengan Ir.
Sandjaja dari Indonet, maka pada 1 Juli 1996
interkoneksi Bogor dari Indonet yang diberi
nama BoNet beroperasi dengan menggunakan
8 saluran telepon dan satu saluran leased line
ke Rawamangun, Jakarta, dengan menempati
kantor di CafeBotanicus yang berada di dalam
Kebun Raya Bogor 1.

1 http://www.bogor.net

Sumber lain menyebutkan bahwa di jawa
Tengah, juga hadir usaha sejenis.

“ Jika anda berkesempatan singgah di kota
Salatiga, kota kecil nan sejuk di Jawa Tengah
mampirlah di tempat kami `Warung - Internet

Beringin` yang diresmikan oleh Walikota
Salatiga pada tanggal 26 April 1997”

Kalimat ini masih terpampang di situs web
sebagai suatu cara mempromosikan diri.2

Beberapa WARNET pelopor di Indonesia antara
lain adalah :

– CCF - Surabaya
– Cyber Corner - Jakarta
– Warnet Maga – Jogjakarta
– Warnet Losari - Makassar

Ditempat lain, BrazzNET, berdiri 6
Desember 2000 yang berawal dengan 4
komputer, dan ruangan hanya cukup diisi 6
komputer. BraszzNet pertama kali di kelola oleh
Tedy, Jardhin dan Bismy. Bisnis ini mulai dirintis
dari 0 hingga berkembang sampai sekarang.
Tanpa diduga, sejak bulan pertama warnet
buka, peminatnya cukup banyak. Dengan
pengguna dan komputer yang semakin banyak,
serta kondisi ruangan yang sempit,
menyebabkan pengguna menunggu antrian

2 http://www.beringin.co.id/warnet/brinet.html

untuk ber Internet 3.
Jelas, fenomena diatas tadi bukanlah

yang pertama, namun setidaknya menjadi salah
satu penanda bahwa Warnet sudah hadir
sebelum krisis ekonomi menghantam bangsa
ini.

III. Internet merambah Nusantara.

Penyebaran Internet di Indonesia dimulai tahun
1994, sejak perusahaan jasa internet (Internet Service
Provider - ISP) pertama, PT Indo Internet (IndoNet)
beroperasi di Jakarta. Mulai saat itu, Internet dikenal
sebagai media bisnis, dan terus dimanfaatkan dalam
paradigma baru cara berniaga (e-commerce). Tahun
2000, Internet dikenalkan ke dunia pendidikan, melalui
program Sekolah 2000, sebuah prakarsa Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
bekerjasama dengan komunitas pendidikan.

Dalam kurun waktu 1994 sampai 2000,
masyarakat kurang mendapatkan informasi komprehensif
mengenai seluk-beluk Internet. Data peningkatan
penetrasi Internet, baik melalui rumah-tangga, kantor
maupun warnet, mengacu kepada pola-pola kuantitatif.
Contoh: Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI),
bulan Juli 2001 bersama dengan Kadin dan Asosiasi
Warnet Indonesia (AWARI) dan Asosiasi Pengusaha
Wartel Indonesia (APWI) meluncurkan Program dengan
target "500 ribu Warnet/Wartel" di seluruh Indonesia.

3 http://www.geocities.com/brazznet/sejarah.htm

Program yang bermotif bisnis dan target
kuantitatif, beruntung tidak terlaksana karena ketiadaan
bantuan dari Jepang. Sementara itu, pendekatan
program sejenis berlanjut hingga kini. Dengan minimnya
pendekatan kualitatif, maka aspek non teknologi, seperti
sosio kultural kurang mendapat perhatian. Walhasil,
penetrasi Internet tidak dibarengi peningkatan mutu dan
pemahaman yang benar.

Situasi ini ibarat memberikan suatu "alat" tanpa
disertakan "buku petunjuk penggunaan"

IV. Asosiasi Pengusaha Warnet.

Sementara itu, keperluan wadah
berhimpun para pengusaha Warnet, dirasakan
makin mendesak. Awalnya, semua kegiatan
seputar Warnet dilakukan di mailing list
[email protected] melalui di server ITB.
Karena pertimbangan bandwidth ITB yang
terbatas, maka pada tanggal 14 April 2000,
hasil diskusi komunitas, forum Warnet pindah
ke [email protected] Namun
karena beberapa alasan seiring makin di
kenalnya mailing list umum, maka berubah lagi
menjadi asosiasi-warnet @yahoogroups.com.

Tanggal 25 Mei 2000 adalah momen
bersejarah bagi perkembangan Internet, karena
telah lahir Asosiasi Warnet Indonesia, hasil
mufakat dalam sebuah pertemuan di kantor

Direktorat Menengah Kejuruan. Rapat semula
mengkaji kemungkinan kerjasama Warnet
dengan SMK dipimpin DR. Gatot Hardjo Prakoso
Direktur Menengah Kejuruan DEPDIKNAS.
Perbincangan berkembang hingga menyepakati
kelahiran Asosiasi Warnet Indonesia, yang
kemudian dikenal dengan singkatan AWARI.

Pengurus AWARI Periode Pertama,
dengan Ketua Rudy Rusdiah, Bendahara
Adlinsyah dan Sekretaris Abdullah Koro.
Kemudian karena kegiatan Ketua saat itu tidak
transparan terhadap komunitas, maka pada
akhir 2001, dilakukan pertemuan khusus
komunitas Warnet yang berakhir dengan
diberhentikan dan dikeluarkannya Ketua saat
itu dan kemudian diusulkan untuk mengganti
format Pengurus menjadi Presidium. Presidium
AWARI Pertama dipimpin Judith MS, Michael
Sunggiardi dan Abdullah Koro. Presidium ini
berakhir masa jabatannya pada April 2007, dan
digantikan oleh Muhammad Irwin Day, bersama
teman-teman sebagai hasil Munas AWARI 2007.

Kepengurusan hasil Munas AWARI 2007
sekaligus mengesahkan AD/ART AWARI yang
dikukuhkan dalam Akta Notaris Nomor 02
tahun 2007 tertanggal 16 Maret 2007 oleh
Nurul Larasati, S.H.

V. Harapan terhadap Warnet.

Ibarat sesendok sirup merah yang
dituangkan ke segelas air, tidak akan
menghasilkan “segelas air bening” dengan
“sesendok sirup merah”. Hasilnya, tentu
“segelas air manis berwarna kemerah-
merahan”. Demikian halnya Warnet yang
berada di tengah masyarakat, tidak akan
menghasilkan "sebuah budaya masyarakat" dan
"sebuah warnet" secara sendiri-sendiri, tetapi
"sebuah budaya baru dalam masyarakat”. Oleh
karena itu, bukan hal mustahil, jika warnet
disikapi secara "salah-kaprah" oleh para
penegak hukum dan aparat pemerintah4.

Dari Laporan penelitian terhadap Dampak
Internet bagi masyarakat 5 , menunjukan
kecenderungan yang terjadi, para pengguna
Internet mengurangi waktu menonton TV
berganti untuk mengakses Internet. Dari kajian
itu juga diketahui, bahwa mereka tidak
mengurangi waktu bersama keluarga.

Sementara di Amerika Serikat, TV bukan
merupakan barang mewah dan pemilikannya
hampir merata disetiap rumah tangga. Jika kita
tarik padanan masyarakat Indonesia,
khususnya kelompok menengah ke bawah,
maka TV masih termasuk dalam kategori
barang mewah.

4 Donny BU, ICT WaTCH Indonesia, 2005.
5 Bahan Laporan terbitan UCLA, - USA, November 2001

Karena mereka tidak punya " TV dan
waktu nonton TV”, maka ketika Internet
diperkenalkan dan dihimbau penggunaannya
bagi warga perdesaan, mungkin akan
memunculkan persoalan. Internet diharap
berperan untuk mengurangi digital divide,
meningkatkan taraf hidup, atau mencerdaskan
kehidupan bangsa. Namun akankah secepat itu
berhasil seperti yang diidam-idamkan?

Ketiadaan waktu menonton TV dikalangan
warga perdesaan, apakah akan digantikan oleh
"waktu beribadah", "waktu belajar" atau "waktu
bekerja tambahan" ketika internet hadir?

"Waktu" mana yang akan disisihkan? Menonton
TV memang tidak sebaik belajar, beribadah
atau bekerja. Apakah Internet akan sebaik
kegiatan belajar, beribadah atau bekerja?

Waktu jugalah yang akan membuktikan, berapa

besar kontribusi Internet melalui Warnet

mampu memberikan peningkatan

kesejahteraan dan kecerdasan bagi bangsa

Indonesia.

Konsep dan Manajemen

( Management and Concept )

~ Management and Concept ~

I. Konsep Warnet.

Konsep dasar warnet adalah “penggunaan
bersama koneksi internet”. Sebuah warnet
adalah tempat para pengguna berbagi
pemakaian koneksi internet dan menggunakan
fasilitas komputer pengakses secara bersama,
sehingga menekan biaya internet dan diperoleh
harga terjangkau.

Di saat awal era demam warnet, koneksi
Dial-up merupakan pilihan karena masih sedikit
jumlah peminat dan kebutuhan bandwidth
rendah. Namun kini, dengan bisnis Warnet yang
marak, maka akses internet identik dengan
penggunaan koneksi tetap (ADSL, Fiber Optik,
Leased Line dan Wifi). Akibat hal ini, warnet-
warnet terhubung ke internet selama 24 jam,
sehingga muncul fenomena ”cyber life style”
dengan rentang layanan 24 jam, 7 hari, 48
pekan dan 360 hari setahun tanpa jeda di
tengah masyarakat.

II. Ekologi Warnet.

Sumber kerancuan pemahaman jaringan,
terkait soal komponen yang menjadi bagian

utama. Kebanyakan orang, akan menjawab
bahwa aspek teknologi atau piranti keras, dari
komputerlah inti sebuah jaringan. Padahal,
pengertian yang tepat adalah teknologi saja
tidak cukup. Pemahaman bahwa teknologi
sebagai faktor utama dalam membangun
jaringan, telah mengalami perubahan bertahap.

Tanpa kita sadari, sudah sejak berabad-
abad silam, jaringan informasi bagi sebagian
ummat manusia, terbangun oleh rangkaian
penyampaian ucapan lisan. Kemudian dengan
datangnya era industri digunakan media cetak
dan elektronika. Karena itu, minimal kita
memahami bahwa sebuah jaringan, menurut
Andrew, setidaknya terdiri empat komponen
yakni warga, konten, layanan dan infrastruktur
6.

Warga

Infrastrukt Konten
ur

Layanan

Gambar Ekologi Warnet.

6
Andrew Michael Cohill, Ph.D; Sustaining Civic Networks: A Blueprint for

Community Use of Technology, USA,1999.

Warga.

Jaringan bermula dari keberadaan warga,
mereka yang menciptakan informasi dan
pengetahuan serta berbagi pengalaman
diantara sesama. Wargalah yang
merupakan komponen kunci jaringan.
Sebab bila warga tidak aktif
memanfaatkan jaringan untuk memenuhi
keperluan hidup, maka tidak akan
berguna membangun jaringan.
Jaringan Akses Informasi Masyarakat 7
atau Warnet diharapkan berfungsi
menghubungkan warga dengan berbagai
pihak, baik lokal maupun keseluruh
dunia. Itulah alasan hadirnya jaringan
akses informasi masyarakat.

Konten.

Konten berupa informasi dalam bentuk
apapun, e-mail, situs web, telekonferensi,
panggilan telepon, bahkan hingga proses
pembelajaran jarak jauh. Konten dapat
berbentuk apa saja, audio, teks, video,
grafis bahkan bentuk visual lain. Pesan
singkat melalui telpon genggam adalah

7 Jaringan Akses Informasi Masyarakat disingkat JAIM, adalah
nama kegiatan implementasi program Community Access Point
(CAP) Ditjen Aplikasi Telematika – Depkominfo, sejak 2006.

salah satu bentuk konten yang cukup
populer.
Begitu pula e-mail serta informasi yang
dapat diakses melalui sebuah situs web
atau laman.

Konten terdiri dari data dan informasi
yang memiliki nilai tambah. Ia diciptakan
oleh sekelompok warga dan kemudian
dimanfaatkan oleh warga lain melalui
akses informasi jaringan.

Layanan.

Sebuah server situs web, berfungsi

sebagai penyimpan bahan dalam

komputer pribadi, sampai seseorang

memakai aplikasi web untuk melakukan

penelusuran dan melihat tampilan

halaman. Setelah dipanggil, barulah

server meminta melalui jaringan

infrastruktur untuk dikirim ke komputer

pribadi pengakses.

Aplikasi Layanan yang memungkinkan
sebuah konten dapat mengalir, terkirim

mengikuti alur satu atau banyak jaringan.
Server untuk e-mail dan server untuk

situs web adalah contoh layanan yang
dapat disiapkan oleh pengelola, dan

kemudian dimanfaatkan untuk akses

informasi oleh pengguna.

Untuk memungkinkan layanan jasa
telematika berkembang, maka perlu
didukung penyediaan dan pengoperasian
piranti keras dan piranti lunak legal atau
berbasis ”open standard, open system &
open sources”.

Infrastruktur.

Infrastrukur adalah apa yang orang awam
bayangkan sebagai bagian pokok
jaringan. Bentuknya beranekaragam,
sejak pemasangan kabel dalam
bangunan, jaringan dan sirkuit antar
gedung hingga sebuah komunitas
pengguna yang memanfaatkan jaringan.

Infrastruktur terdiri dari kabel, nirkabel,
satelit serta jaringan elektronika yang
terbangun secara utuh dan lengkap agar
memungkinkan layanan telematika
diakses oleh warga masyarakat. Karena
itu, kabel dan elektronikalah yang sering
dirujuk sebagai jaringan.

Sistemlah yang menggabungkan keempat
elemen yang semula terpisah, menjadi sebuah
jaringan untuk mengelola lalu lintas data dan
informasi agar bernilai tambah, bermanfaat
sebagai pengetahuan. Keempatnya merupakan

unsur wajib dalam jaringan, dengan

infrastruktur sebagai komponen utama.

Faktor yang tidak kalah penting adalah

keberlangsungan kehidupan sebuah

Jaringan, meliputi aspek-aspek: legal, sosial,

ekonomi atau bisnis, teknologi dan kultural.

Secara simbiosis, Jaringan Warnet perlu

membangun kolaborasi dan kerjasama dengan

berbagai institusi sosial yang ada dimasyarakat,

agar memanfaatkan sumberdaya yang ada

secara efisien.

Sementara, pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi serta sosialisasinya

sebagai upaya difusi inovasi, lazim menghadapi
hambatan budaya dalam pengadopsian di

masyarakat. Karena itu, diperlukan kerjasama

dan dukungan tokoh masyarakat informal guna
mengenalkan pemanfaatan telematika serta

mencegah terjadinya gegar budaya.

III. Manajemen Warnet.

Mengingat kondisi bisnis Warnet yang
rumit, serta tidak hanya aspek teknis, tetapi
menuntut asas legalitas dan kelangsungan
bisnis, maka hal berikut perlu diperhatikan
dalam Manajemen Warnet:

1. Membuat Rencana Bisnis.

2. Memperhatikan Legal Issue yang ada.
3. Memilih Sistem Manajemen.
4. Mempersiapkan Rencana Teknis.

Rencana Bisnis

( Bussiness Plan )

~ Bussiness Plan ~

Perencanaan Bisnis Warnet hendaklah
dilakukan sematang mungkin. Kita banyak
melihat bahwa dalam kurun waktu 8 tahun
sejak pasca krisis, 1998 hingga 2006, banyak
berkembang usaha Warnet. Namun demikian,
tidak dapat dipungkiri kenyataan bahwa tidak
sedikit pula usaha Warnet yang tutup karena
berbagai alasan, seperti bangkrut secara
financial, terkena dampak bencana atau oleh
akibat lain semisal salah kelola dalam
manajemen.

Oleh karenanya dalam mempersiapkan
Rencana Bisnis Warnet, perlu diperhatikan dan
diantisipasi kondisi 5 atau bahkan 10 tahun ke
depan.

Mengapa pandangan jauh kedepan masih
diperlukan, untuk kategori usaha kecil dan
menengah dari Warnet ?

Hal ini tidak lain karena bisnis warnet
merupakan bisnis jangka panjang, karena
Return of Investment (ROI) atau Balik
Modal (BEP) dari bisnis ini cukup lama
yaitu antara 2 hingga 5 tahun dan
membutuhkan modal awal yang sangat
tinggi.

Belum lagi pengadaan barang teknologi
informasi baik yang bersifat perangkat
keras atau yang bersifat perangkat lunak
dengan lisensi dan membutuhkan biaya
cukup tinggi. Sedangkan operasional
Warnet lebih banyak akan mengalami
kendala teknis dan pembaharuan alat-alat
seiring dan sejalan dengan
perkembangan teknologi yang ada.

Dipastikan, setiap 2 – 3 tahun Warnet
akan mengalami rekonstruksi ulang
dalam struktur jaringan maupun
pembaharuan alat teknologi terbaru yang
sesuai dengan permintaan pengguna dan
pengguna warnet.

Berikut ini adalah penjabaran dan hal-hal
penting yang sangat diperlukan dalam
perencanaan membangun Warnet.

I. Skala WARNET yang akan dibangun.

Pemilihan skala ini bergantung dari
jumlah dana awal yang dimiliki. Sedangkan
parameter skala warnet ini berdasarkan pada :

Aspek Skala
Menegah
Kecil Besar

Kapasitas 5 – 10 unit PC 10 – 30 unit Lebih dari 30
PC PC

Modal 50-150 juta 150-400 juta Diatas 400
juta
Komunikasi Layanan
dasar seperti publik dan Layanan pri-
sejenisnya vat dan seje-
suara, fax, e- seperti tele- nisnya misal-
mail dan medicine, nya pemberi-
akses inter- taan, train-
net distance ing, akses in-
education, formasi pa-
Fasilitas dan layanan sar, hasil
e-gov pem- bumi dan cu-
da. aca dan lain-
lain.

II. Kelas WARNET yang akan dibangun.

Pengelompokan Warnet berdasarkan
kriteria yang meliputi berbagai aspek:
kenyamanan, kecepatan akses, kemudahan

pelayanan dengan Klasifikasi :

WARNET Kelas 1 (Warnet Berlian).

Ini adalah klasifikasi yang tertinggi,
dimana untuk membangun warnet
dibutuhkan biaya yang besar hanya untuk
desain ruangan dan fasilitas penunjang.
Tujuan utama penyediaan fasilitas ekstra
adalah memberikan kenyamanan dan
kepuasan para pengguna dalam
menikmati berselancar di internet.
Klasifikasi Warnet Berlian biasanya
terdapat di tengah keramaian kota, di
pusat perbelanjaan, mall atau cafe.
Variasi tarif sewa diatas Rp. 7.000,- per
jam, bahkan hingga Rp 10.000,- karena
segmentasi pengguna biasanya golongan
masyarakat menengah keatas.

Fasilitas tidak sekedar akses internet,
melainkan juga untuk keperluan
penyelesaian bisnis, aplikasi transaksi
online, bahkan seminar, workshop dan
pendidikan jarak jauh online. Warnet
Berlian seperti ini dijumpai di Gedung Pos
Ibukota, sebagai kerjasama hibah dari
Pemerintah Republik Korea.

WARNET kelas 2 (Warnet Emas).

Klasifikasi Warnet Emas merupakan jalan

tengah antara model Warnet kelas 1 dan

Warnet kelas 3. Biasanya Warnet Emas,

mengalokasikan ruangan berdasarkan

pemisahan pengguna, misalkan:

Smooking Room, VIP Room, Gamers

Room dan alokasi ruangan khusus yang

lain.

Warnet Emas dijumpai di wilayah pusat

kota (namun bukan di pusat
perbelanjaan), tempat keramaian,

wilayah kompleks perumahan atau ada
pula yang berada di area pendidikan

seperti sekolah dan kampus. Fasilitas
yang disediakan dalam Warnet Emas

lazimnya khusus ditujukan untuk

menjaring pengguna potensial dari
pengguna tetap. Dengan demikian, walau

sekilas dikenakan tarif relatif murah,
namun karena pengguna secara

konsisten menggunakannya, maka secara
keseluruhan akan mampu memberi

dukungan keberlangsungan usaha.

Warnet Kelas 3 (Warnet Perak).

Klasifikasi Warnet Perak sebagai model
yang paling umum, yang sifatnya adalah
penyediaan layanan dasar. Oleh karena
itu, pembangunan Warnet Perak tidak
membutuhkan dana yang besar untuk

desain dan fasilitas pendukung lain.

Bahkan, dengan model sederhana,

kursipun dapat digantikan dengan model

Warnet Lesehan, yang menggunakan

hamparan karpet untuk pengguna.

Warnet Perak sangat banyak ditemukan

di berbagai kota. Pemilik dari bisnis

Warnet Perak adalah pengusaha kecil,

menengah dan warga koperasi yang

mengawali bisnis dengan modal awal

terbatas. Biasanya Warnet Perak

ditemukan di pinggiran kota, kompleks

perumahan, wilayah kos-kosan

dipemukiman penduduk dekat kampus

dan bahkan di gang kecil sekalipun.

Layanan yang diberikan biasanya

hanyalah akses internet dilengkapi

dengan fasilitas pencetakan serta jasa

pemanfaatan komputer.

III. Pola Manajemen.

Mengelola bisnis Warnet, dapat dilakukan
dalam berbagai format pengelolaan, baik
sebagai usaha sambilan dalam keluarga, atau
menjadi sebuah lahan bisnis khusus yang
ditangani secara profesional.

Untuk keperluan dukungan keterampilan
ataupun pertimbangan membagi resiko usaha,
maka secara sederhana daapt dilakukan

perbedaan model pengelolaan manajemen
warnet menjadi:

Manajemen warung.

Pola pengelolaan warnet secara pribadi,

informal dan dilakukan sekaligus oleh

pemilik atau anggota keluarga.

Sedangkan Administrasi pengelolaanpun

sangat sederhana, sekedar melakukan

pencatatan transaksi dan menjurnalkan

pada setiap periode untuk mengetahui

perkembangan usaha dan untung rugi.

Sebagai sebuah usaha keluarga, model

manajemen warung tidak

memperhitungkan secara ketat persoalan

penghapusan inventaris dan nilai mutasi

setiap barang sebagai bagian dari

investasi. Tidak jarang, manajemen

warung dilakukan tanpa membedakan

urusan bisnis warnet dengan keperluan

pengeluaran keluarga sehari-hari,

sehingga sulit dilakukan audit secara

benar dan proporsional.

Dalam skala usaha kecil, Warnet Perak

masih mungkin dikelola demikian. Namun
jika berkembang dan berusaha untuk

menganekaragamkan layanan, maka
pengelolaan manajemen warung dinilai

tidak memadai.

Manajemen standar.

Pola pengelolaan warnet dengan

menerapkan sistem administarsi,

pembukuan dan penataan keuangan

secara terstruktur, sistematis dan teratur

dengan tertib.

Pedoman administrasi dan manajemen
keuangan digunakan sesuai ketentuan

yang ada, atau panduan bisnis yang
tersedia. Bahkan berbagai aplikasi

tersedia untuk memudahkan penanganan
manajemen, dan walaupun dilakukans

ecara perorangan atau individual, namun

memudahkan untuk dilakukan audit atau
pengawasan karena diterapkan standar

baku dalam penanganannya.

Manajemen perusahaan.

Pola pengelolaan warnet dengan model

ini dapat diterapkan, jika bisnis Warnet

sudah mencapai skala Warnet Berlian

yang ditunjang dengan berbagai

dukungan fasilitas layanan

beranekaragam. Selain itu, juga dengan

diterapkannya model usaha berjenjang

atau dengan cara waralaba, sehingga

memerlukan perekrutan staf secara
tersendiri.

Keuntungan dari penerapan manajemen

perusahaan modern, adalah

memungkinkan disertakan dana publik

yang mensyaratkan audit dan

transparansi keuangan.

LEGALITAS

( Legal Issue )

~ Legal Issue ~

Sebagaimana layaknya kegiatan yang
diakui sah, dalam menjalankan usaha Warnet
perlu mentaati berbagai ketentuan peraturan
perundangan. Merupakan kewajiban setiap
orang atau badan hukum untuk melengkapi
persyaratan administrasi dan teknis perizinan,
kewajiban pajak serta retribusi daerah dan lain-
lainnya.

I. Perijinan yang harus dibuat.

Sama seperti Biro Perjalanan Wisata,
Warung Tegal atau Kios di Pasar, maka untuk
mendirikan Warnet memerlukan izin sebelum
dioperasikan. Berbagai ketentuan hukum wajib
difahami dan dilaksanakan. Untuk itu hendaklah
perizinan diproses lebih dahulu dan sebaiknya
dilakukan langsung tanpa perantara. Kecuali
jika keberadaan biro jasa resmi diakui, dan
secara transparan mencantumkan tarif yang
dilegalisir oleh instansi teknis terkait.

Beberapa diantara perizinan adalah:

– Surat Domisili Usaha (Kecamatan).
– Surat Izin Gangguan Lingkungan / HO

(Kepolisian). dan

– Surat TDP (Tanda Daftar Perusahaan).

– Surat Izin Usaha Perdagangan
Perusahaan (SIUPP).

Jenis, ragam dan besarnya biaya untuk

mengurus izin tersebut bervariasi, berbeda dari
satu tempat dengan tempat lain. Sesuai dengan

tuntutan Reformasi, Otonomi daerah dan
Desentralisasi, maka masing-masing daerah

berwenang menentukan sumber pendapatan
daerah sesuai dengan landasan hukum yang

ada.

II. Perpajakan yang harus dipenuhi.

Selain membayar biaya perizinan, maka
kewajiban seorang pengusaha, termasuk
pengelola Warnet adalah memenuhi kewajiban
pajak, retribusi dan iuran daerah secara
berkala, sesuai dengan ketentuan yang ada.
Retribusi listrik, kebersihan, keamanan dan
bahkan iuran kampung, RT/RW secara bulanan
adalah kewajiban yang harus ditunaikan,
apabila pengelola berharap akan menjalankan
bisnis secara langgeng dan aman.

Sementara secara tetap, pengelola juga
harus menunaikan pembayaran pajak
penghasilan, pajak penjualan, dengan
menggunakan formulir dan prosedur yang
sudah diatur, seperti:

– NPWP pribadi / NPWP perusahaan (Dirjen
Pajak).

– Pengisian SPT untuk membayar Ppn/Pph.

III. Lisensi Perangkat Lunak Komputer.

Komputer adalah perangkat keras yang
sangat vital dalam bisnis warnet, karena
perangkat ini yang akan digunakan oleh
pengguna dan pengakses internet di warnet.

Setiap komputer (PC) memiliki sistem
didalamnya agar dapat dioperasikan. Sistem ini
berupa sebuah perangkat lunak (software) yang
dasarnya terdiri atas perhitungan coding 0 dan
1, namun berkat kemajuan teknologi dan
visual, angka 0 dan 1 tadi dapat dilihat dalam
bentuk lain sehingga mampu membuat sebuah
PC menjadi sangat berharga dan dapat
digunakan.

Software ini dibuat dan dikembangkan
oleh berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari
perusahaan hingga personal. Pencipta software
ini tentunya menjadi pemilik walaupun ada
sebagian yang hanya pengembang saja.
Pencipta software ini juga tentunya akan
menjaga ciptaannya dan memiliki hak atas
intelektualitasnya. Atas dasar hak intelktual
itulah akhirnya tercipta apa yang dinamakan

Lisensi.
Lisensi software pada dasarnya tidak

berbeda jauh dengan lisensi intektualitas lain
seperti lisensi penulis buku, lisensi penulis
novel, lisensi pencipta lagu, lisensi penyanyi
lagu, lisensi pengarang cerita, lisensi pembuat
film dan jenis-jenis lisensi yang bersifat
intelektualitas lainnya.

Lisensi intelektualitas yang mana software
termasuk didalamnya adalah lisensi dimana kita
hanya diberikan hak pakai, bukan sebagai
pemilik. Jadi yang harus dipahami dari lisensi
software adalah :

Lisensi yang kita bayarkan (beli) untuk software
hanyalah sebagai hak guna pakai, bukan

sebagai lisensi kepemilikan. Karena kepemilikan
sesungguhnya masih melekat pada pembuat,
perancang dan pencipta sofware itu sendiri.
Oleh karenanya terdapat batasan-batasan dan
aturan dalam penggunaan lisensi
intelektualitas(software) ini.

Dalam dunia software, lisensi ini ada
beberapa macam. Ada lisensi yang mengklaim
sebagai hak milik pembuat, ada yang
memberikan bebas kepada siapa saja untuk
dikembangkan dengan basis yang tetap sama,
ada pula yang memberikannya terbatas sesuai
keinginan pemilik software. Dan dengan alasan
apapun, pembeli dalam hal ini harus tetap
menjunjung tinggi dan patuh pada aturan

tentang lisensi ini.

Yang umum dan yang banyak digunakan

pada saat ini , jenis lisensi ini terbagi menjadi 4
(empat) yaitu :

1. Lisensi Tertutup (propriatery).

Jenis lisensi ini biasanya dimiliki oleh

perusahaan pembuat software. Dengan

ditutupnya lisensi ini, artinya seseorang

yang akan menggunakan software

perusahaan tersebut harus mengikuti

peraturan yang dibuat oleh perusahaan

tersebut. Seperti halnya transaksi

pembelian barang, pengguna software

tersebut juga harus menebus dengan nilai

harga yang ditentukan. Karena lisensi ini

tertutup maka software yang sudah dibeli

tidak bisa dimodifikasi atau

dikembangkan oleh orang, perusahaan,

lembaga atau organisasi yang berada

diluar perusahaan pemilik tanpa seijin

pemiliknya sehingga dapat dikenakan

tuntutan hukum oleh pemilik software

tersebut.

Contoh software yang menggunakan jenis

lisensi ini diantaranya adalah Microsoft

WINDOWS, OSX Tiger, Adobe

PHOTOSHOP, CorelDRAW, Autodesk

AUTOCAD, Symantec NORTON Anti-Virus

dan Microsoft OFFICE.



2. Lisensi Terbuka (open-source).

Jenis lisensi ini sangat diminati oleh

banyak kalangan, dari mulai kalangan

pendidikan, personal, perusahaan hingga

kenegaraan dengan segala macam

maksud dan tujuannya. Lisensi ini

membebaskan pengguna dari biaya,

karenanya banyak komunitas yang sangat

mendukung untuk meperbaiki dan

mengembangkan, bahkan banyak yang

memodifikasinya dengan tetap

menggunakan basis yang asli dan

menggunakannya untuk keperluan

pribadi, pendidikan, kenegaraan ataupun

komersil. Lisensi ini yang umum dikenal

dengan GNU/GPL (GNU General Public

License).

Salah satu contoh lisensi ini yang terkenal

adalah Operating System LINUX,
OpenOffice dan The GIMP.

3. Lisensi Terbatas (limited).

Jenis lisensi ini banyak ditemui di
internet, biasanya lisensi ini banyak
berupa software aplikasi seperti
multimedia, pengolah gambar, pengolah
suara dan banyak macam yang lainnya.
Biasanya pula lisensi ini bebas digunakan

tanpa membayar oleh kalangan terbatas
saja misalnya hanya boleh digunakan
oleh perorangan dan software-nya pun
dikurangi kelengkapan fitur-nya atau
dapat pula merupakan software DEMO,
sedangkan jika akan digunakan untuk
perusahaan, komersial atau organisasi
maka diharuskan membayar dengan
harga tertentu ke pemilik dan pembuat
software untuk kemudian bisa menikmati
semua kelengkapan fitur software
tersebut.

Contoh software yang memakai lisensi ini
salah satunya adalah NullSoft WINAMP
dan IrfanView. Software tersebut boleh
digunakan oleh siapapun yang bersifat
perorangan, namun software tersebut
tidak boleh digunakan untuk komersial
dan perusahaan, termasuk untuk Warnet.

4. Lisensi Bebas (free).

Lisensi ini memperbolehkan siapa saja
menggunakan, baik itu personal maupun
komersial. Walaupun biasanya terbatas
sekali dengan fiturnya, namun
perusahaan atau organisasi komersial
yang membutuhkan software alternatif
dapat menggunakan software ini daripada
harus membayar sejumlah uang untuk
lisensi. Bahkan biasanya pengembang

dan pemilik software yang menggunakan

lisensi ini membebaskan untuk

menyebarluaskan, memperbanyak dalam

bentuk media apapun dan

memperkenalkan dari mulut ke mulut.

Hanya saja pemiliknya melarang software

untuk dimodifikasi dan dikembangkan

oleh perorangan, organisasi ataupun

perusahaan.

IZarc, FoxitReader dan FreePDF adalah
salah satu contoh dari software ini.

Selain kewajiban publik yang harus

ditunaikan oleh pengusaha Warnet, maka untuk
mentaati ketentuan hukum juga harus dipenuhi

adanya praktek usaha legal secara benar dan

tertib.

Tidak seperti pengusaha atau pekerja
bidang lain yang cukup menyediakan piranti

keras untuk menjalankan bisnisnya, maka
pengelola Warnet berkewajiban memiliki lisensi

piranti lunak.

Persoalan yang relatif rumit adalah
pemakaian piranti lunak legal. Kenyataan dalam

masyarakat, terutama dikalangan pengusaha
warnet, pemakaian piranti lunak bajakan atau

illegal software masih terdapat. Semula,
fenomena ini sekedar kelatahan atau karena

ketidaktahuan. Namun karena dampaknya

merugikan pihak lain dan menjadikan salah

satu penyebab rendahnya kesadaran dan
penghargaan terhadap karya cipta, maka
dilakukan langkah penegakan hukum.

Pemerintah melakukan dua pendekatan sekaligus;
pencegahan dengan penyuluhan peningkatan kesadaran
HaKI dan penggunaan software legal, serta penegakan
hukum untuk memberantas pembajakan piranti lunak.

Strategi Bisnis
dan

Keamanan Investasi

~ Strategy & Security ~

I. Pangsa Pasar.

Pengguna Internet identik dengan kaum
muda, pelajar dan mahasiswa direntang usia
15-25 tahun. Walau semula dominasi pengguna
internet kaum pria, dengan makin terbuka
wawasan jender, maka keseimbangan kini
sudah semakin terjaga. Perlu di cermati pula
kalangan kaum pekerja di rentang umur 25-40
tahun, sebagai pasar potensial. Kini, kebutuhan
pemakaian internet, tidak hanya bisnis, tetapi
berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat.

Warnet mentargetkan pangsa pasar pada
kaum pelajar atau mahasiswa, perlu
memperhatikan karakteristik mereka. Pangsa
pasar ini umumnya sensitif terhadap harga,
sesuai dengan kondisi kemampuan kantong.
Karena itu, keterjangkauan layanan, perlu
menjadi pertimbangan pertama.

Pangsa pasar ini juga unik, karena jumlah
yang besar dan sebaran merata baik di kota
atau desa. Beda dengan kaum pekerja,
umumnya tidak terlalu sensitif pada harga tapi
memiliki tuntutan kenyamanan, serta sebaran
yang terkonsentrasi di kota atau pusat kawasan
industri.
II. Pemilihan Lokasi.

Pilihan Lokasi kegiatan Warnet, tentu
pertama dan terutama, harus dilihat dari segi
lalu lintas orang, pemenuhan keperluan akan
informasi, maupun jenis layanan jasa lain.
Penentuan lokasi, perlu memerhitungkan juga
faktor negatif dari kegiatan yang bertentangan
dengan karakter bisnis Warnet. Misal, tempat
keramaian dan permainan yang
membahayakan, pusat kegiatan yang
berpotensi mencemari udara dan mengganggu
kenyamanan pengguna. Bahkan usaha yang
mengeluarkan aroma menyengat, berdampak
ketidaknyamanan bagi pengguna warnet perlu
dijauhi.

Target pasar memang perlu dicermati,
sebab akan mempengaruhi pemilihan lokasi
warnet. Bagi Warnet Perak, maka lokasi yang
tepat di daerah konsentrasi pelajar dan
mahasiswa, sekitar sekolah atau kampus. Perlu
diketahui, bahwa penetapan pangsa pasar,
lokasi usaha yang terkonsentrasikan,
menyebabkan persaingan warnet makin ketat.
Sehingga, bagi pebisnis pendatang baru, perlu
berfikir ulang untuk menjadikan daerah kampus
sebagai target lokasi untuk membuka warnet.

Selain lokasi terkonsentrasi di kampus,
pemukiman padat penduduk, maka kompleks
perumahan juga merupakan pilihan lain.
Apalagi jika penghuninya tergolong masyarakat
kelas menengah, dimana koneksi internet
menjadi kebutuhan. Disisi lain, kepemilikan

akses internet pribadi dinilai masih mahal,
sehingga belum tumbuh minat internet pribadi.
Selain itu, di lokasi padat penduduk
memberikan peluang untuk memasarkan
langsung koneksi internet ke rumah secara
sewa. Konsep RT/RW-Net dapat di
implementasikan, sebagai model pemanfaatan
akses internet secara bersama diantara Kepala
keluarga, dengan pengelolaan diserahkan
kepada pebisnis Warnet.

Ringkasnya, Lokasi penting untuk
keberhasilan bisnis warnet, walau bukan satu-
satunya. Masih ada faktor lain, misal:
kenyamanan ruangan, harga yang terjangkau,
variasi produk, dan promosi dll. Kesemua hal
itu dibundel dalam strategi produk layanan
warnet.

III. Strategi Pelayanan Warnet.

Kenyamanan pengguna menjadi faktor
penting lain bagi keberhasilan bisnis warnet.
Warnet dengan harga tinggi, namun
menawarkan kenyamanan pengguna, lebih
mudah menjaring pengguna dibandingkan
warnet murah, tetapi gerah. Sementara itu,
layanan internet murah tidak harus diartikan
sebagai sengsara dalam ber-Internet ria. Oleh
karena itu, sesuai kondisi keuangan pangsa
pasar, maka untuk kenyamanan dapat disiasati


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Siasat Bisnis - Menang di Asia Pasific
Next Book
Contoh Rencana Strategis Pengembangan Usaha