The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 18:24:33

Starlight Coffe Shop

Starlight Coffe Shop

-~

v~ronica

Veronica

Starlight Coffee Shop
Oleh: Veronica

Hok Cipto © 2008 podo Penulis

Editor : Oktovioni HS
Setting : Sri Sulistiyoni
Desoin Cover : Weny
Korektor : Wiwin Dl/ Dee Setiowon

Diterbitkon oleh Sheila, sebuoh imprint dori CV. AND I OFFSET (Penerbit ANDI)
Jl. Beo 38-40, Telp. (0274) 561881 (Hunting), Fox. (0274) 588282 Vogyokorto 55281

Percetokon: ANDI OFFSET
Jl. Beo 38-40, Yelp. (0274) 561881 (Hunting), Fox. (0274) 588282 Yogyokorto 55281

Hok Cipto dilindungi undong-undong.
Dilorong memperbonyok otou memindohkon sebogion otou seluruh isi buku ini
dolom bentuk opopun, boik secoro elektronis moupun mekonis, termosuk
memfotocopy, merekom otou dengon sistem penyimponon loinnyo, tonpo izin
tertulis dori Penulis

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) 2

Veronica
Starlight Coffee Shop/ Veronica;
- Ed. I • - Yogyokorto: ANDI,

xii + 164 him .; 11 x 18 Cm.

ISBN: 978- 979- 29 - 0184- 9
I. Fiksi

Cetakan: 10 9 8 7 6 s 4 3

Tahun :17-16-15-14-13-12-11-10-09-08

PREFACE

Someday we 'II know
Why the sky is blue
Did the captain of the Titanic cry
Is true love once in a lifetime
Why I meant lor you

Someday we II know.... Suatu saat nanti kita
akan mengerti mengapa kita harus bertemu. Jika
suatu saat kita bertemu dengan seseorang, baik itu
lakHaki atau perempuan, dalam sebuah perjalanan
panjang nan membosankan di atas kereta dan kita
saling cocok berbincang satu sama lain, tentunya
akan sangat menyenangkan. Namun, jika kemudian
kesenangan ini sima dan kita dihadapkan pada
pilihan kesempatan bertemu dalam waktu satu
malam atau menyudahinya saat itu juga, apa yang
akan kita lakukan? Yeah, someday we 'II know the
answer.

Pernah nonton film Before Sunrise? Di film itu,
ada beberapa dialog antara Celine [Julie Delphy] dan
Jesse [Ethan Hawke] yang mengganggu pikiranku.
Aku kutip salah satu dialog dari Celine dan Jesse
yang sering membuatku bertanya-tanya kembali:
benarkah soulmate itu memang ada?

III

"Kita melompat 10-20 tahun ke depan. Kau
sudah menikah, tapi pernikahanmu sudah
tak hangat. Kau mulai menyalahkan
suamimu. Kau memikirkan semua pria yang
kau kenai selama hidupmu. Dan bagaimana
jadinya jika kau memilih salah satunya itu
aku? Jadi, anggap ini sebagai sebuah
perjalanan waktu. Kembali dari masa depan,
untuk mengetahui apa yang kau lewatkan,"
kata Jesse.

Terlepas dari film Before Sunrise, Starlight
Coffee Shop berisi semua keresahan di dalam hidup
Violetta. Keresahan melewati fase hidup. Fase
mencari nafkah, mencari pasangan hidup, pergulat-
an dengan kisah cinta masa lalu, dan kegelisahan
akan sebuah perpisahan. Violetta meluapkan semua
keresahannya di Starlight Coffee Shop. Di tempat
inilah, dia berjumpa dengan Boemi, seseorang yang
[mungkin] adalah orang yang selama ini dia cari.

Semoga Starlight Coffee Shop memberi makna
tentang arti sebuah persahabatan, sebuah per-
temuan, dan sebuah arti menikmati hidup terlepas
dari pekerjaan yang kadang menyita waktu kita.

''Pekerjaan hanya sebagai pelengkap hidup saja.
Kamu bekerja untuk bertahan hidup, tapi bukan
menghabiskan hidup untuk bekerja saja. Mengerti
dan menikmati artinya, itu baru esensi hidup. Kita
diciptakan untuk orang lain, maka hiduplah untuk
orang lain."

Z::::Veronica

IV

THANKS to

Begitu banyak inspirasi yang terlintas saat
membuat buku ini. Selain inspirasi, ada juga bentuk
gangguan-gangguan lain yang membuatku enggan
menyelesaikan bab terakhir.... Ada yang bilang,

"Seandainya ceritamu nggak pake akhir
gimana? Kan, sebetulnya nggak pernah ada bentuk
yang selesai karena semua selalu 'sedang menjadi',
tapi ntar malah kamu yang bingung.... "

Well, dengan mencari beberapa salusi, akhirnya
bab terakhir bisa selesai juga....

Pernah baca bukunya Susanna Tamara?
Judulnya Va ' dove ti porta i/ cuore atau bahasa
Indanesia-nya Pergi/ah ke Mana Hati Membawamu?
Kutipan puisi yang ada di sampul belakang bukulah
yang mendatangkan inspirasi bagi bab terakhir buku
ini.... Mau tahu puisi dari bukunya Susanna
Tamara? lni aku cuplikkan kutipan puisinya:

"Dan kelak, di saat begitu banyak jalan fer-
bentang di hadapanmu, dan kau tak tahu jalan mana
yang harus kau ambil, jangan/ah memilihnya dengan
asa/ saja, tetapi duduk/ah dan tunggu/ah sesaat.
Tariklah napas da/am-dalam, dengan penuh keper-

v

cayaan, seperti saat kau bernapas di hari
pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun
mengalihkan perhatianmu, tunggulah, dan tunggulah
lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan
dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara,
beranjaklah, dan pergilah ke mana hati mem-
bawamu..."

"Pergilah ke mana hati membawamu... " adalah
kata Susanna Tamaro dan sekarang, waktunya
untukku membawa hati ini menuliskan rangkaian
terima kasih kepada yang telah memberiku ilham
untuk membuat buku ini. Namun, aku minta maaf
kalau ada yang terlewatkan untuk ditulis di lembar
Thanks to ini. Harap maklum karena selain halaman
Thanks to terbatas, aku kan juga manusia. Jadi, bisa
saja aku lupa, so maafin ya kalau ada yang

kelupaan. ©

Well, aku mulai dari yang pertama memberiku
anugerah untuk menulis:

* Jesus Christ, I have found everything in the

moment when You have sacrificed Your life for
human being. You are the star that lights my
world with love and shines in my heart always.
Thanks for the gift that You gave mel

* My Father, for his big support that he gave me.

My Mother, for her lovely prays that she always
does at 4 am in the morning [makasih ya, Mom,
untuk sebuah pelajaran hidup dan ketegaran
hatimu yang selalu bisa menguatkan anakmu.)

VI

* Martha, my one and only sister in the world,

kayaknya hidup emang nggak lengkap kalo
tidak melihatmu melakukan something crazy in
the house.. .he...he...he. Walaupun gokil dan
kadang nggak masuk aka!, but you're my lovely
sister. ;-)

* Ndoet, Helena (thanks buat "Perkara Cinta"),

Tanti, Aridha, Linda, how long have we been
friends? One year? Ten years? Hundred years?
Or everlasting? Well, kalian adalah yang terbaik
yang pernah ada di kehidupan ini. Meski jarak
membuat kita terpisah dan kita sibuk dengan
kehidupan kita masing-masing, tapi kalian tetap
exist di kehidupanku. Angkat gelas kita and
say. .. Cheers!!

* Aryo t, ternen curhat yang kini telah mene-

mukan kebahagiaan abadi yang dia cari, semoga
kamu bahagia di sana. Lagunya Kerispatih-
Mengenangm..J masih menjadi lagu favoritku
untukmu....

* Fadyana, semoga engkau menemukan sese-

orang yang bisa membuatmu lebih bahagia
because you are so deserve to get it....

* Partner bekerja selama setengah tahun di Panin

Bank Plaza Mutiara, Lingkar Mega Kuningan,
Jaksel, Ocha&Wenny (CS yang cantek2); Pepi,
Ika, Bu Sutya (Teller&Head · teller yang
maniez2); Ayu (a crazy minded girl :-p), Kak Tari
(gue kangen blueberry cheese cake Marriot. Kak

VII

©); Pak Fredy, Pak Napis, Bu Rita, Fajar, Sisno,
Sahid, Adit (OB yang menganggap dirinya
ganteng :-p); Made, Mas Setyo, & Iswadi (3
security yang suka makan gorengan)...ehmm,
siapa lagi, yah? 0, iya, tentunya Bu Vita (kepala
cabang Panin Plazmut yang ngujubileh sabarnya
©)-pengen dinner di de buffet lagi bareng
kalian.... Miz u all!!

* Partner Campus Event Manager selama satu

tahun di A Mild Live Production, yang kini entah
ada di mana-lrwan 'Goshong', Wawan, Taufik,
Lempot, Saptu, Imam, Ariz (kalian adalah
partner dengan sekarung ide yang gila habis).

* Semua partner bekerja di Jogja Tv...untuk yang

satu ini, ngujubileh banyaknya yang musti
disebutin. Jadi, maaf ya kalo ada yang kelupaan
ditulis. Maklum, aku kan juga manusia,
he...he...he... -Eva, produser Good Morning
Jogja dan Jendela Pustaka yang slalu bikin
ketawa, kerja rasanya jadi ringan kalo liat dia
ketawa. ;-) Jangan pergi ke Papua ya,
Mi...he...he... -Mbak Rumini, hidup itu indah
kalo kita bisa melihat hal-hal positif dari hidup

ini... -Luh Eka, korlip yang suka minum es
jeruk, ;-) salut buat kesabaranmu... -lrine, ke

kenthir yuk, Rin.... Laper, neh...he...he... he... -
Sihar, kapan kawin, Har? -Adhi, yang ngebet
banget jadi fotografer, Well, Dhi, great idea,
excellenrl -Mas Andi Wisnu, yang slalu
bertanya-tanya: bikin apa, Den? -Pak Sugeng,

VIII

buat petuah bijaknya tentang ratu adil. Buat
semua reporter, kameramen News & Program
[semangat!!!) dan semua yang nggak bisa dise-
butin satu per satu di sini [luv u all !! thank~).

* Semua temen-temen Sastra USD angkatan

2000-Rita, Mita, Ruth, Oki, Della, Eri, dan
semuanya yang nggak bisa disebutin satu per
satu, yang lagi nyelesaiin thesis maupun yang
sekarang sedang meng·gapai mimpi di seluruh
nusantara dan luar negeri.. .. Salut.. ..

* Lovely Bashert, U2, Smashing Pumpkins, dan

karakter Boemi.... I'm still waiting for the falling
star. Pour real life down on me. 'Cause I can't
hold on to anything this good enough. Am I
good enough for you? So, take care what you
ask ofme, 'cause maybe I can't say no.

* My blue sleeping room, komputer, laptop, hot

chocolate&strawberry&coffee, MP3, my sun-
flower, dan semua gangguan aneh yang
membuatku terperanjat tiba-tiba seperti kilat
yang menyambar di pagi buta, I knew that you
are all exist in this world C&C coffee shop dan
Ojendelo coffee shop, di tempat inilah
brainstorming itu terjadi. ...

* Buat semua yang membaca cerita ini, semoga

kalian suka....

Veronica, my blue sleeping room, 4 am,
21 April '07

IX

X

DAFTAR ISI

PREFACE....................................................... iii

TUANKS TO................................................... v

DAFTAR lSI ................................................... xi

FIRST IMPRESSION....................................... 1
IDENTITY OR CUEMISTRY? •.•..•..•...•...•.•.....• 23
THE CONCERT..............................................
KERJA ••• KERJA •..KERJA .•...••...•...•..•..•...•... 69
KENAPA ORANG MENIKAH? ....................... 89
HE LOVES ME ..•HE LOVES ME NOT.......... 103
STARLIGHT COFFEE SHOP.......................... 111
LIFE MusT Go ON....................................... 127
145

XI

Faraway, so close
Up with the static and the radio

With satellite television
You can go anywhere
Miami, New Orleans
London, Belfast and Berlin

If I could stay...
Then the night would give you up
Stay...then the day would keep its trust
Stay...with the demons you drowned

Stay...with the spirit I found
Stay...and the night would be enough

[Stay-U2]

XII

1. First Impression

Violetta adalah sebuah nama yang sesuai bagi
seorang gadis yang memiliki tipe-tipe [hampir)
sempurna. Berpostur tubuh tinggi, berwajah cantik,
berkulit putih, populer, smart, mudah bergaul
dengan semua kalangan...yah, pokoknya mendekati
sempurnalah. Namun, semua itu menjadi sebuah
pemikiran lain bagi Violetta. Dia berpikir kalau saja
saat dia masih bayi bisa memilih, mungkin nama
yang tepat untuknya bukanlah Violetta. Nama yang
terlalu indah baginya ini tidak menjadi jaminan untuk
mudah mendapatkan pacar. Buktinya, di usia yang
beberapa tahun Jagi menginjak kepala tiga, dia
belum juga mendapatkan lelaki yang tepat untuk
menjadi taml?atan hati.

Sudah seperempat abad .Violetta hidup dan
bernafas. Violetta adalah supeJWoman [kata temen-
temen lelakinya]. Karena terlalu supeJWoman, jarang
sekali ada lelaki yang bisa bertahan lama saat
menjalin hubungan percintaan dengannya. Violetta
bisa menjadi seorang gadis sekaligus lelaki pada
kesempatan yang sama. Dia paling tidak suka meng-
andalkan atau bergantung pada orang lain kalau dia
sendiri bisa menyelesaikan sebuah masalah yang
menimpanya. Itulah salah satu hal yang dibenci dan

1

dihindari para lelaki yang memujanya setelah tahu
bahwa mereka menjadi tidak berguna bagi Violetta.
Violetta bisa meng-handle semua masalah yang
dihadapinya tanpa harus menunggu bantuan dari
lelaki yang memujanya.

But, by the way, Violetta tetep seorang gadis
yang memiliki kodrat sebagai seorang kaum hawa.
Buktinya, dia ga tau cara mendongkrak sedan hitam
doff-nya saat harus ganti ban karena bocor. Dia juga
ga tau caranya mengendarai mobil VW combi tua
milik Adeza, kakaknya, di saat Violetta harus ber-
gantian mobil dengan kakak laki-lakinya seminggu
tiga kali [entah kenapa harus pake ganti mobil
segala].

Violetta memiliki sifat yang supel, mudah
beradaptasi di lingkungan baru, pengertian, worka-
holic, dan coffee lover. Dia pun memiliki pasangan
setia untuk curhat di tengah malam-Bul-bul-seekor
kelinci jantan, jomblo, berumur satu tahun, dan tak
pernah bisa tidur dengan nyenyak di tengah malam.

ltulah rangkaian deskripsi menurut sudut
pandang Violetta sendiri, tapi tidak berlaku bagi
teman-temannya. Mereka cenderung mendeskripsi-
kan Violetta seperti ini: Violetta, umur: 26 tahun;
jablay; selalu gaga! dalam percintaan; bernasib jelek
dalam pergaulan dengan lain jenis; terlalu supel
hingga semua orang mengira bahwa dia sudah
bermetamorfosis menjadi seorang ibu yang suka
menggosip di acara arisan; terlalu workaholic hingga

2

lupa waktu, hari, dan tanggal pernikahan sahabat-
nya; maniak kopi hingga lingkaran matanya menjadi
hitam sehitam kopi; dan terlalu lama bergaul dengan
binatang sejenis kelinci, hingga semua orang meng-
ira Violetta sudah tidak berminat lagi berhubungan
dengan manusia.

***

Monday Morning Sickness, 10.00 am.

Gara-gara minum terlalu banyak kopi dan
mengutak-atik proposal even musik semalam
suntuk. Violetta tidak bisa tidur dengan tentram.
Pada realitanya, entah karena bawaan orok atau
karena dia memang tidak bisa mengatur pola
tidurnya, Violetta memang tidak bisa bangun pagi.
Baginya, bangun jam 8 sudah sangat pagi. Tapi,
sekarang sudah pukul 10 dan Violetta masih berada
di bawah selimutnya. Kalau saja bunyi alarm di
ponselnya tidak berfungsi, mungkin dia sudah
terlelap lagi dalam buaian mimpi.

"Bangun, oey, jelek, jelek, jelek, jelek, ayo
bangun!!"

Bunyi alarm aneh di ponselnya berhasil mem-
bangunkan Violetta dari mimpi panjangnya
semalam. Bunyi alarm aneh yang tak lain adalah
hasil record suara Onay, ternan kuliahnya yang
sekarang masih saja setia menjadi sasaran uneg-
uneg Violetta.

'Wuahhhhh, sial, aku terlambat! Mati akLA'

Dengan gerak secepat flashman, Violetta
langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar
rnandi. Belum sampai lima menit, dia sudah keluar
dari kamar mandi dengan rambut masih kusut dan
tubuh masih terlihat tidak tersentuh air sama sekali.

'Mandi bebek aja, ah. .... '

***

Sedan hitam doff melesat kilat ke dalam parking
area sebuah perkantoran berlantai tiga yang berlabel
"Black and Blue Production". Pak Wiryo, ·satpam
penjaga pintu masuk, terlihat menggeleng-gelengkan
kepalanya saat menyaksikan adegan seperti di film
Speed yang dibintangi Paul Walker.

Violetta turun dari sedan hitam doff-nya. Tangan
kanannya menjinjing tas berisi laptop, tangan kirinya
memegang proposal bersampul biru, lalu dia
bergegas berlari menuju lift.

3, 2, 1, GF...ting.... Pintu lift akhirnya terbuka
juga di ground floor.

'Oughhhh. ..akhirnya, masuk juga di lift ini.... '

Violetta buru-buru masuk ke dalam lift, lalu
tangannya buru-buru memencet tombol bernomor 3
yang ada di kiri pintu lift....

"Ke lantai tiga juga? Sarna donk.... "

4

Sebuah suara yang terdengar lembut meng-
agetkan Violetta yang sedari tadi sibuk mengurusi
dirinya, hingga lupa kalau ternyata ada orang lain di
dalam lift. Violetta menengok ke belakang. Seorang
laki-laki dengan tas ransel hitam dan kemeja putih
menenteng tripod. Sebuah ID card diselipkan di
pinggangnya....

'Ehmm, oke juga sty/e-nya.... Mungkin seorang
wartawan atau fotografer.... '

Violetta menggelengkan kepalanya. Dia baru
sadar kalau hal ini nggak penting melintas di
pikirannya pada saat-saat genting seperti sekarang
ini. Dia buru-buru mengalihkan perhatiannya ke
pintu lift.

***

Pagi ini, Violetta terlambat masuk kantor. Dia
tidak bisa membayangkan apa yang terjadi hari ini,
saat Pak Donny meminta proposal even musik yang
dua bulan lagi akan diadakan oleh EO mereka.
Dengan langkah setengah sadar setengah tidur,
Violetta memasuki ruang kerjanya.

Seketika itu juga, Violetta seperti disadarkan dari
tidurnya saat melihat sesosok lelaki yang sedang
berdiri di hadapannya. Wajahnya yang tampan (kata
temen-temen kantor) berubah menjadi wajah yang
mengerikan bagi Violetta saat ini. Tak pernah
dibayangkan alunan nada apa yang akan Violetta

5

dengar hari ini. Mungkin alunan nada G dengan lima
oktaf.

"VIOLETIA! JAM BERAPA IN!? SUDAH
BERAPA KALI KAMU TERLAMBAT DATANG KE
KANTOR? KAMU MASIH BERUNTUNG BE-
KERJA DI PERUSAHAAN ENTERTAINMENT
YANG MASIH MEMILIKI TOLERANSI TINGGI!
COBA KALAU KAMU KERJA DI TEMPAT lAIN,
KAMU PAST! SUDAH DIPECAT!"

Violetta melihat raut muka Pak Donny yang
penuh ar,rarah di depannya. Suara lima oktafnya
bagaikan' dua speaker aktif dengan lagu-lagu rock
metal yang hampir membuat gendang telinga
Violetta pecah. Otaknya tidak bereaksi mendengar
deretan kalimat yang diucapkan Pak Donny tanpa
jeda. Violetta hanya tertunduk lesu sambil mencoba
untuk tidak memejamkan matanya. Hingga akhir-
nya, Pak Donny berteriak tepat di dekat telinga
Violetta.

"VIOLETIA! MANA PROPOSAL YANG
KAMU BIKIN?"

'Ups!'

Otaknya mulai bekerja keras untuk mencari-cari
alasan mengapa belum menyelesaikan proposal.
Namun, Violetta bingung alasan apa yang akan dia
katakan. Mana mungkin dia mengatakan kalau dia
belum menyelesaikan proposal karena kegelisahan-
nya akan kisah cinta yang tak berujung. Bisa-bisa,
Violetta dipecat tanpa hormat. Dia juga nggak

6

mungkin akan mengatakan kalau dia belum scrr:~r~t
menyelesaikannya karena terpesona dengan llam-
paran bintang-bintang di langit malam yang selama
ini tak disadarinya.

"JANGAN SAMPAI KAMU BILANG KALAU
KAMU BELUM MENYELESAIKAN PROPOSAL
ITU!"

Dengan tatapan sayu, Violetta mengambil pro-
posal dari dalam tasnya. Kemudian, dia memberikan
kertas dengan sampul mika berwarna biru kepada
project leader EO yang supersadis.

Satu menit, dua menit, tiga menit.. ..

Violetta berdiri dan tertunduk lesu di hadapan
Pak Donny. Dia menanti kata-kata yang keluar dari
seorang project leader yang kata temen-temen
kantor adalah seorang project leader yang memiliki
wibawa. Namun, bagi Violetta, Pak Donny seperti
monster yang siap menyantapnya dengan kata-kata
sad is.

"PROPOSAL MACAM APA INI? KAMPUNG-
AN! SUDAH BERAPA LAMA KAMU MENJADI
LEADER TIM KREATIF? APA KAMU NGGAK
BISA MEMENUHI DEADLINE YANG KITA
TENTUKAN?"

Violetta tertunduk lesu mendengar kata-kata dari
Pak Dony, monster yang ternyata memiliki wajah
tampan itu membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Violetta menyadari bahwa semua ini memang

7

salahnya. Baru-baru ini, dia tidak bisa tepat waktu.
lni semua gara-gara kegelisahannya atas pencarian
jodoh yang tak kunjung usai.

Ough, andai saja Violetta bisa berhenti sejenak
dari pekerjaan yang telah menyita waktunya ini. ...
Yah, sekadar meluangkan waktu bagi hati untuk
menentukan langkah hidup nanti ketika mahligai
perkawinan harus dijalani. Ah, mahligai perkawinan?
Memikirkan saja sudah membuat pikiran kacau,
apalagi belum juga menemukan sesosok pria yang
tepat untuk dijadikan suami [suami?].

Aduh, kenapa di saat genfjng seperti ini masih
bisa memikirkan siapa caJon suami kelak. ... Duh, ga
penling banget, sih. ... Aduh, gimana ya cara menye-
lamatkan diri dari monster ini. .. . Salah ngomong
dikit bisa mampus neh. .. . '

Tok. ..tok.. .tok. .. .

Bunyi suara pintu diketuk dari luar. Kemudian,
si Lika, sekretaris Pak Donny, masuk ke dalam
ruangan yang semakin lama semakin terasa panas
bagi Violetta. Meskipun, AC ruangan kurang dari 20
derajat Celcius.

'Oh, God, thank You! You 've saved me.... '

Violetta berkomat-kamit setelah kedatangan
Lika mengalihkan perhatian Pak Dony dari proposal
yang katanya kampungan.

"Pak Dony, perm!Sl. Maaf, mengganggu
sebentar. Ada tamu dari majalah Musik Kita.

B

Orangnya sudah menunggu di ruang pertemuan,
katanya mau meliput acara even musik kita bulan
depan .... "

"Ok, Lika, thanks! Bilang ke dia, saya akan
segera menemuinya."

'Oh, God. ..oh, Uka...thanks, you've saved me
now....

Violetta komat-kamit lagi sambil menghela nafas
yang sedari tadi hampir mencekiknya.

"Violetta, kenapa kamu bengong? Ayo, ikut
saya ke ruang pertemuan!"

"Apa, Pak? Ke ruang pertemuan? Tapi,
tapi. ..saya masih harus mengerjakan prop...."

"Udah! Ga usah pake alasan! Ikut saja!"

Dengan langkah yang sedikit terpaksa, Violetta
berjalan di belakang Pak Donny, mengikutinya ke
ruang pertemuan. Dia tidak percaya bahwa hari ini
menjadi hari yang terburuk baginya. Monday is a
bad day.... Baru kali ini, hari .Senin yang bagi
Violetta merupakan hari keberuntungannya
sekarang berubah menjadi hari malangnya.

Proposal belum kelar dan harus menemui klien
di saat rasa kantuk Violetta tak bisa ditahan. Muka
kucel, rambut kriwel, kemeja lecek, dan satu lagi:
high heels yang warnanya ga senada dengan
roknya.... Duh, kayak bukan Violetta yang biasanya
tampil cantik, memukau, dan modis....

g

"Selamat siang Pak Donny, senang bertemu
dengan Anda. Kenalkan, nama saya Boemi, saya
fotografer dari majalah Musik Kita yang bulan depan
akan meliput even musik dari PH Anda."

"Ya, ya, ya, senang berkenalan dengan Anda.
Memiliki rekan dari media memang sebuah
keuntungan sendiri bagi saya.... Saya suka bekerja
sama dengan majalah Musik Kita karena meng-
angkat musik-musik etnik kontemporer. ltu sesuai
dengan misi PH saya.... Oya, ini kenalkan salah satu
leader dari tim kreatif kami yang bulan besok akan
menangani even musik yang akan Anda liput.. .. "

"Hai, saya Violetta.... "

"Saya Boemi. ..kalau ga salah, tadi kita bertemu
di lift, ya? Tadi, Anda terlihat terburu-buru...dikejar
deadline, ya?" kata Boemi sambil mengulurkan
tangan ke Violetta.

'Oh, my Gosh...kenapa dia harus ngomong
kalau tadi kami sudah berte;n'' di Jj(t? Di depan Pak
Donny lagi, aduh. ..mampus.... ·

Violetta berkomat-kamit seperti sedang menye-
but mantra pemanggil hujan agar dia bisa kabur dari
ruangan. Namun sialnya, dia harus berbincang-
bincang lebih lanjut dengan fotografer yang tadi
sempat menyita perhatiannya karena penampilan-
nya yang eye catching, sehingga me-mancing radar
ketertarikan bagi setiap wanita yang melihat-
nya...termasuk Violetta. Sialnya lagi ... makhluk eye
catching itu sekarang berada di hadapan Violetta....

10

"Nah, Boemi, Anda bisa berbincang-bincang
dengan Violetta selintas tentang even musik yang
akan diadakan bulan depan.... Saya harus mening-
galkan kantor, ada janji dengan sponsor utama
kami...."

Pak Donny meninggalkan ruang pertemuan
sambil menyerahkan proposal bersampul biru
kepada Violetta.

"Perbaiki lagi konsepnya, minggu depan
serahkan ke saya!"

Violetta hanya mengangguk sambil tak henti-
hentinya mengelus dadanya berulang-ulang dan
menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
Violetta tidak menyadari bahwa ada yang
memperhatikan tingkah lakunya yang agak sedikit
aneh bin ajaib. Fotografer bernama Boemi itu
sedang memperhatikan gerak-gerik Violetta yang
semakin aneh. Sepertinya, tidak mencerminkan
seorang leader sebuah tim kreatif production house.

"Kamu kenapa? Is there something wrong with
you?"

Boemi hampir mengeluarkan kameranya untuk
mengabadikan sisi lain seorang leader tim kreatif ini.

"Ups, jangan ambil foto saya sembarangan,
ya.... "

"Wah, kamu sudah merusak angle-ku.... Is there
something wrong with you? Kayaknya, kamu lagi
nggak fit ya hari ini. ..kok, ga semangat gitu.... "

11

"Aduh, cerewet banget sih fotografer ini. .. ,"
gumam Violetta.

" What? Kamu bilang apa barusan?"

"Em...mmmm.. .notMng...sorry, Boemi, I don't
realize that you were here.... "

"Jadi, dari tadi kamu pikir aku hantu?!"

Wah, ternyata fotografer ini gampang akrab juga
sama orang yang baru dikenalnya. Wah, oke juga,
neh! Penampilan oke, attitude cool, pembawaan
humoris, dan satu yang membuat Violetta tidak
berhenti memandang laki-laki yang sedang berada di
hadapannya: dia adalah seorang fotografer! Ya, laki-
laki dengan profesi yang diidam-idamkan Violetta
sejak dulu.

Laki-laki yang selalu ada di mimpinya sejak dulu
dia berada di bangku SMU-punya pacar seorang
fotografer. Sebuah profesi yang penuh seni artistik
dan sensual. Violetta hampir ngiler membayangkan
sensasi yang indah dengan Boemi, membayangkan
kalau Boemi adalah jodohnya kelak.... Aduh,
kenapa jadi mikir sampai sini, ya? Kayaknya kok off
the record ...

"Woil/11 Helloooo.... Knock. ..knock. ... Is there
anybody home?"

Boemi menjentikkan Jarmya di hadapan mata
Violetta yang sedari tadi tidak berkedip memandang
Boemi. Setelah jentikan jari itu, Violetta seperti di-

12

sadarkan dari lamunannya... (lamunan atau hipnotis,
ya?).

"Let's go out to have a cup of coffee and
mea! ... "

Akhirnya, otak Violetta bekerja juga setelah tadi
membeku selama beberapa detik.

"Wah, kenapa ga dari tadi, Non? Aku udah
laper, neh.... Let's go out.... Pake motorku aja,
yah.... "

"Kok. pake motor, sih? Panas-panas gm1,
nenteng tripod .. and look at me, Boemi! Aku pake
rok and high heels...."

"Aduh, ya udah, deh. Kita naik becak aja,
gimana? Lebih natural, sesuai dengan rok motif
batik parang yang sedang kamu pake itu.... "

"Becak? Kamu bercanda?! Aku bawa mobil,
kenapa harus naek becak, sih? Kan, enggak
efisien.... "

Ups, Violetta menutup mulutnya. Dia baru sadar
kalau tabiat buruknya muncul kalau lagi dikejar
deadline. Ujung-ujungnya, emosi tidak terkontrol,
yah seperti sekarang ini.

Baru kenai Boemi hari ini, kayaknya sudah
seperti ternan sendiri yang dengan seenaknya bisa
terkena amarah Violetta. Untung Boemi terlihat
punya pembawaan yang tenang dan sabar. Coba

ld

kalau seandainya Boemi seperti Pak Donny, lengkap
sudah kemalangan Violetta di hari Senin ini.

"Sori ya, Boemi, maaf kalau kata-kataku sedikit
nggak sopan."

"No problemo, sudah biasa mengalami hal
seperti ini. Bahkan, kata-kata darimu masih terasa
sopan bagiku. Aku pernah mendapatkan yang
terburuk dari ini, ehmm, mungkin kamu emang
perlu piknik buat nenangin emosi. ... Aku tahu, pasti
deadline itu yang bikin kamu sensi.... lya, kan?
Hehehehehe....

Oke deh, pake mobil kamu, tapi biarkan aku
yang menyetir. Aku nggak mau nyawaku melayang
kalau kamu yang pegang setir.... Biasanya, orang
yang lagi sensi bawa mobilnya ngawur, kayak lagi
dikejar polisi.... Hehehe...."

"Sial kamu...."

Boemi tersenyum simpul sambil menenteng
tripod-nya. Sebelum keluar dari ruang pertemuan,
dia memberikan sepotong cokelat kecil kepada
Violetta.

"Kata orang, makan cokelat bisa menenangkan
pikiran yang lagi kacau...."

Boemi tersenyum sambil melihat ekspresi
Violetta yang tak bisa didefinisikan, lagi senang atau
sedih.

14

. ,....

'Aduh, nih orang kok baik banget, sih?
Perhatian Jagi, sempat-sempatnya ngasih aku
coke/at.... Ck. .. ck. .. ck. .. bener-bener first impression
yang sangat amazing.... '

Violetta mulai komat-kamit lagi sambil menuju
ke pintu lift.

"Kamu selalu bawa cokelat ya, Boemi?"

"Ehm.. .iya. Aku selalu bawa cokelat ke
manapun aku lagi kerja. Bagiku, makan cokelat bisa
membuatku lebih relaks menjalani hari. .. hehehe."

Ting ....

Pintu lift terbuka. Violetta dan Boemi masuk ke
dalam boks kecil ini and you know what? Di lift ini,
hanya ada mereka berdua....

"You look cool with your white shirt... ," Violetta
memulai pembicaraan dengan topik yang nggak
penting ini.

Dia lalu terkesima dengan dirinya sendiri.
Apakah otaknya sudah salah mengirim sinyal ke
bibirnya, hingga dia bisa memuja laki-laki yang baru
saja dikenalnya. Kali ini, seakan-akan akal sehatnya
runtuh saat Sang Pencipta mengirimkan sesosok
Boemi yang first impressio.rrnya bener-bener
membuat Violetta membeku dalam tanya:

'Apakah dia jodohku, ya? Aduh, lagi-/agi topik
ini.. .. It's enough!'

15

Boemi hanya tersenyum mendengar pujian yang
Violetta lontarkan...dan suasana kembali mem-
beku ....

3, 2, 1. GF, ting.

Akhirnya, pintu lift yang membuka, membuat
kebekuan itu mencair.... Beku yang mencair dan
semakin lumer saat nada dering MP3 dari ponscl
Boemi berbunyi bersamaan dengan nada dering
MP3 dari ponsel Violetta, yang anehnya, nada
dering mereka sama....

"Bisa saja kau menikmati, walau cinta bukan
dasarnya-ikatan kasih seorang dara-hanya karena
saling memuja-bisa saja kau mengalami cerita orang
kesepian-kesepian akan seorang teman-teman
sehati-teman bercinta-teman bicara yang kau
inginkan. ... "

"Lho, kok bisa sama??!!"

Mereka berdua saling berteriak dan saling
terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya,
keduanya mengangkat panggilan dering ponsel yang
sedari tadi menjerit lantang.

***

Taman Sari Food Court, 01.00 pm.

"Mau pesen apa, Boemi?"

"Apa aja, deh, yang mengenyangkan!"

16

"It doesn't make sense, Boemi. Aku pikir kamu
punya makanan kesukaan di tempat ini. Dengan
sederet pilihan cowt makanan, kenapa kamu nggak
mencoba untuk memilih sendiri?"

"Uh, dasar, apakah seorang leader dari tim
kreatif sering menggunakan kata 'sense? Kalo gitu,
aku pesen chicken teriyaki plus mix juice-guava mix
watermelon...puas? Make sense-kah?"

"Ha, ha, ha, ha.... Akhirnya, kamu kepancing
emosi juga ya, Boemi.... Padahal, aku hanya
mengujimu...sejauh mana kamu sabar menghadapi
seseorang seperti aku.... Oke, karena kamu adalah
tamuku, aku pesankan untukmu. Please, have a sit
and wait for a moment...."

"Oke, Violetta!"

"Cukup panggil Ta saja, yah...."

"Ok, Ta.... "

Waiter mengantarkan pesanan makanan mereka
berdua. Hot plate chicken teriyaki, mix juice guava-
watermelon, hot plate tenpayaki, dan vanilla latte.
Semuanya sudah tersedia di meja.

"Wah, kok masakan Jepang semua ya, Ta?''

"Aku suka sensemasakan Jepang, Boemi. ..."

"By the way; gimana perkembangan proposal
even musikmu? Konsepnya udah matang? Denger-
denger, band tamunya dari Netherland, yah?"

17

"Iya, musik akustikan cctnlJTlr klasik dari
Belanda. Namanya Netherlands Rhytm. Lima orang
Belanda. Daniel van Oel pegang biola, Carola van
Rijn dan Sander Zijlstra pegang gitar, Mendy Kunz
pegang claviola, dan Iris Possen sebagai vokalis.... "

"'t seems great!"

"Yeah, you knL-~;· what? Mereka jauh-jauh
datang dari Belanda ~;arena ingin menunjukkan
musik sekaligus berbagi tentang kebudayaan
mereka. It seems that they really appredate their
culture and they want to preserve jt well Ah, coba
ya, kalau orang-orang di Indonesia juga menghargai
kebudayaan asli mereka masing-masing, pasti tidak
ada satu orang pun yang merasa kehilangan jati diri
mereka.... Its so konk...."

"Emmm... yeah ...you]·e dghrl Semua memang
butuh proses yang datang dari kesadaran setiap
individu.... By the way, kira-kira kapan kamu bisa
mengantar aku ke venue ternpat konser?"

"Two days! Gjve me two days to nnjsh the
proposal and I'll take you there.... "

"Okay. .. that s hne. "

"Habis ini mau ke mana? Balik ke kantor atau
masih mau jalan-jalan?"

"Hmmm...balik ke kantor dan menyelesaikan
pekerjaanku sebelum pekerjaan lain datang.... "

18

"Oh...ya udah. Padahal, aku pengen ngajak
kamu nonton. Ada film bagus hari ini, mungkin bisa
merangsang otak untuk mengeluarkan inovasi
baru...tapi kamu ternyata tipe wanita yang tidak
suka menunda pekerjaan.... Is that right? Maybe
next time we 'II see that movie...ifyou don't mind ..."

"Yeah, next time we'll see. Boemi, kamu emang
pintar menganalisis seseorang. Jangan-jangan, kamu
pernah kuliah di Psikologi yah sebelum akhirnya
memutuskan untuk menjadi seorang fotografer?"

"Ah, nggak. Aku hanya suka mengamati orang
banyak dengan berbagai karakter mereka.... It's
interesting to know other's characteristic, perfom-
ance, and self expression. ..."

'Oh God, ha1i ini Engkau begitu baik kepadaku,
sudah mempertemukanku dengan Boemi yang
begitu menyentuh rasa sakitku akan sebuah
penantian. Saat pertama kali berjumpa dengannya,
seakan-akan aku sudah mengenalnya sebelum kami
bertemu. Apakah dia Engkau turunkan ke bumi
untukku? Kenapa hati ini merasa begitu tenang
berada di dekatnya, meski baru pertama kali
bertemu?'

Violetta bergumam dalam hati. Matanya
menerawang jauh ke jendela di depannya, mene-
robos keluar jendela, lalu menuju ke awan biru yang
mulai tampak mendung.

"Ta, kamu mikir apa, sih? Perasaan, dari tadi
kamu kebanyakan melamun.... "

19

"Enggak, Boemi, nggak pa-pa.... I'm fine. Balik,
yuk, udah jam 3 sore neh, Boemi.. .. "

"Ok, aku yang nyetir lagi, yah.... "

Parking Area Taman Sari Food Court

Sedan hitam doff melaju dari area parkir menuju
jalan raya yang semakin sore, semakin padat. Di
dalam mobil, hati Violetta berkecamuk, antara
perasaan hampa dan bahagia. Perbedaan kedua hal
ini tampak absurd bagi Violetta. Kehadiran Boemi
seperti menyadarkannya dari sebuah mimpi
panjang.

Come on, Violetta, it's real/ Boemiis real/'

Suara hati Violetta seperti sedang mem-
pengaruhi pikirannya.

"Bila cinta menggugah rasa/ begitu indah
mengukir hatiku/ menyentuh jiwaku/ hapuskan
semua ge/isah/

Terang saja aku menantinya/ terang saja aku
mendambanya/ terang saja aku merindunya/karena
dia/ karena dia/ begitu indah//"

Lagunya Padi-Begitu Indah mengalun dengan
sempuma dari MP3 di mobil Violetta. Suasana
romantis terasa nyata, apalagi ditambah awan
mendung yang bergelanyut di sore hari ini. The
atmosphere is perfect. Sempuma untuk dua orang
berlainan jenis yang mungkin sedang dilanda cinta
alias kasmaran, tapi tidak bagi Violetta. Suasana

20 ..

semacam ini malah membuat Violetta menjadi
melankolis dramatis. Lagu ini mengingatkannya
pada sang mantan kekasih yang dulu pernah
membelikannya koleksi lagu dari semua album Padi
lengkap dengan CD player dan earphone.

'Aaarrrghh. ..it's enough/' teriak Violetta dalam
hatinya.

Lalu, dengan gerakan refleks dari simpul otak
syarafnya, dia menekan remote MP3 dan mengganti
lagu yang dinyanyikan Padi.

"Kok diganti? Udah lama aku nggak ndengerin
lagunya Padi. Rendevouc-lah dikit-dikit, sambil
mengingat masa-masa muda dulu.... Hehehe....
Ayo, di-replay lagi lagu yang tadi!"

"Nggak, ah...."

Violetta memencet tombol off pada remote
MP3-nya. Dia tidak ingin mengingat-ingat lagi
kenangan masa lalunya yang masih terasa getir bila
diingat.

"Kok malah dimatiin, sih? Wah, it doesn't make
sense." teriak Boemi sambil menyindir Violetta.

"Boemi! ltu kan kata-kataku!"

Sedan hitam doff. meluncur memasuki area
parkir Black and Blue Production. Ada kesunyian di
dalam mobil itu. Boemi memarkir sedan doff
Violetta tidak jauh dari jalan menuju pintu lift.

21

"Aku pulang dulu ya, Ta! Nice to meet you.
Thanks for the lunch. Contact me if you've finished
your proposal and we can see the movie...
ups... salah. ..l mean we can see the venue...ok?
Hope see you soon!"

"Ok, I'll call you soon, nice to know you,
Boemi! Be careful! See you!"

***

Black and Blue Production Office

06.00 pm Violetta's Room

Violetta akhirnya bisa bernafas !ega setelah
menyelesaikan proposal even musik yang dua bulan
lagi akan berlangsung. Sebelum menutup laptopnya,
dia sempat menulis sesuatu di blog-nya.

Topic today: First Impression

First impression bisa membuat seseorang
melambung tinggi dalam hitungan menit, bahkan
mungkin dalam hitungan detik. Seperti lagunya
Peterpan Khayalan Tingkat Tinggi. Begitu pula yang
terjadi hari ini. Boemi menjadi khayalan tingkat
tingginya Violetta. Semoga kali ini kegetiran Violetta
bisa terhapus dengan hadirnya sesosok Boemi yang
begitu menyita perhatiannya. Mungkin Boemi
sedang meruang di hatinya. Violetta hampir tak bisa
memejamkan matanya karena setiap kali matanya
terpejam, yang dilihatnya adalah tatap mata Boemi
yang begitu teduh.

22

..

-to be continued-

Laptop dimatikan, tubuh letihnya direbahkan di
atas sofa empuk yang ada di sudut ruangan
kantornya. Sofa empuk berwarna hitam itu menjadi
sofa favoritnya di kantor. Benda mati itu seakan-
akan tahu kegelisahan Violetta.

Empuknya busa di sofa hitam seakan bisa
menghapus letih yang dirasakan Violetta setelah
lembur berjam-jam di depan laptopnya. Itulah satu-
satunya alasan mengapa Violetta menginginkan sofa
hitam itu menjadi sofa pribadinya yang ditempatkan
dalam ruangan kantornya. Karena sangat meng-
inginkan sofa hitam itu, Violetta hampir nekat
membawanya pulang ke rumah.

Aneh memang, tapi benda mati itu seperti
second sou/-nya Violetta. Semua letih berhasil
diserap oleh benda mati itu, bahkan ide-ide
cemerlang muncul saat Violetta merebahkan
tubuhnya di atas sofa hitam itu. Bagi setiap
penghuni kantor Black and Blue Production, sofa
hitam itu hanya sebuah sofa. Namun, bagi Violetta,
sofa hitam itu menjadi inspirasinya....

Seandainya Violetta punya uang untuk mem-
belinya, dia pasti akan mengusung benda mati itu
untuk ikut pulang ke rumahnya. Namun, harga sofa
hitam itu lebih mahal daripada harga laptop yang dia
beli.

'Oughhh...khayalan tingkat tinggi lagi neh. ... '

22

.

"Loh, Non Violetta kok belum pulang? Udah
jam 8 malam lho, Non.... "

Tiba-tiba, suara Pak Wiryo membuyarkan
lamunan Violetta. Dia buru-buru melihat jam dinding
yang berdetak halus di salah satu tembok ruangan
kantornya.

''Hah? Udah jam 8 malam??? Aduh, aku lupa
ada janjian sama Onay! Makasih ya, Pak, udah
dibangunin dari mimpi. ... Hehehe.....,

Pak Wiryo hanya bengong melihat Violetta
memasukkan semua berkas kerjanya ke dalam tas
dan menenteng laptopnya, lalu berlari menuju pintu
lift.

***

Bip...bip.... Ponsel Violetta berbunyi. Sebuah
pesan masuk ke inbox-nya saat Violetta sedang
melaju dengan sedan hitam doff-nya.

From: Onay

Ta, kmu dmn? Ak udah nunggu 1 jam di starlight,
udah ngabisin 3 cangkir hot machiato & hmpir
kayak orng bego yg kcanduan kopi. Bahkan
dsangka tukang parkir krn ak mondar mandir ktmpt
parkir u/nyari sedan hitam doff mu! Kmu jd ksini g?

Reply from Violetta:
On the way Nay...sbri y Nay, tunggu bentar, 10
menit lg nyampe!

24

From: Onay
HA? BARU DI JALAN Ta? Aduh, buruan! Kalo
dalam 10 menit kmu g nyampe, ak pulang!

***

Starlight Coffee Shop, 08.20 pm.

"Sori, Nay...sori banget. Tadi aku nyelesaiin
proposal even buat acara musik dua bulan besok. ... "

"Ah, udah, ga pa-pa. Aku ngerti, tapi jangan
biarkan aku nunggu selama ini donk, Ta. Kamu tega
banget!"

"lya deh, Nay, sori. ... By the way, malem ini
aku traktir kamu tiramisu sama blueberry cheese
cake deh, Nay.... "

"Hah? Serius neh, Ta?''

"lya, sebagai permintaan maafku karena kamu
udah nunggu selama ini. ..tapi besok gantian kamu
yang traktir ya, Nay!"

"Yah, sama aja.... "

''Oya, gimana, Nay, udah dapet kabar dari
Felix?"

By the way, Felix adalah temen baik Violetta
dari kecil. Sekarang, Felix menjadi tunangan sahabat
baiknya Violetta, yang bernama Onay. Felix sedang
pergi ke Stockholm, ibukota Swedia. Orangtua Felix
berbisnis di Stockholm dan Felix sendiri punya t..saha

25

di Yogya, semacam art furniture export-import, gitu
deh.

Nah, kali ini Onay mau dilamar sama Felix. Jadi,
Felix harus menjemput orangtuanya yang ada di
Stockholm untuk melamar Onay. Namun, udah
sebulan ini tak ada kabar dari Felix. Onay jadi was-
was, resah menanti caJon suaminya. Jangan-jangan,
Felix nggak balik lagi ke Yogya.

Nah, biasanya kalau Onay lagi resah gelisah
gundah guiana, dia pasti curhatnya ke Violetta,
seperti yang terjadi malam ini di Starlight coffee
shop.

"Belum neh, Ta.... Gimana ya, Ta? Jangan-
jangan, dia ngebatalin lamarannya.... "

"Positive thinking, Nay.... Mungkin dia sibuk
dengan bisnisnya atau dia malah lagi nyiapin
semuanya sebagai kejutan buat kamu.... "

"Tapi...ponselnya nggak bisa dihubungi, email
dariku juga nggak dibales.... Gimana neh, Ta? Aku
takut kehilangan dia.... "

"Positive thinking, Nay.... Felix itu bukan tipe
cowok playboy, meski dia punya berjuta-juta
kesempatan untuk menjadi seorang playboy. Tapi,
you knowlah Nay, dia nggak bisa jauh darimu...."

"Tapi, buktinya apa? Dihubungi aja nggak bisa.
Boro-boro kirim email, ponsel aja off.... Jangan-
jangan, dia lagi selingkuh ya, Ta?''

26

"Hushh...ngaco! Felix bukan tipe cowok kayak
gitu, Nay! Aku udah temenan sama dia dari kecil.
Aku tahu dia bukan tipe cowok yang mudah lari dari
hati yang satu ke hati yang lain. Apalagi, dia berniat
serius mau melamarmu.... Just be patient and wait
for him, jangan berprasangka yang negatif...."

"Tapi, Ta...gimana kalo dia bener-bener
ngebatalin lamaran itu dan aku nggak jadi nikah
sama dia. Padahal, aku udah bilang sama orang
rumah, Mom and Dad udah kuberitahu, bahkan
nenek kakekku sampai semua keluarga besarku
udah pada tahu, Ta.... Gimana kalau akhirnya batal?
Selain sakit hati, aku juga malu...."

"Aduh...aku heran, kenapa sih kamu yang jadi
repot mikirin lamaran itu. Sudahlah, Nay, positive
thinking, semuanya akan berjalan seperti yang kamu
inginkan. Hanya tinggal sejauh mana kamu sabar,
ini mungkin ujian dari Felix. Tahu sendiri kan kalau
dia suka menguji kesabaran orang? Udahlah, Nay.
Lagian, selama delapan tahun kebersamaan kalian,
Felix selalu ada untukmu, kan? Jangan terlalu
mendramatisasi, Nay, bisa menyakiti diri sendiri!"

"Hhhhhh...oke deh, Ta. Aku nurut kamu aja,
deh. Kamu kan yang selama ini ngerti hubungan aku
dan Felix.... Semoga semuanya cepet clear yah,
Ta.... "

"Nah, gitu donk, Nay...."

"Kamu sendiri gimana, Ta? Udah nemuin
pengganti Ollive?"

27

Serrr...degup jantung Violetta tiba-tiba berdetak
kencang mendengar nama Ollive, mantan kekasih
Violetta yang berasal dari Jerman. Violetta ber-
pacaran dengannya hampir satu tahun. Bagi
Violetta, kebersamaan dengan Ollive adalah keber-
samaan yang paling indah baginya karena lelaki
berkebangsaan Jerman itu telah mengambil sebagian
memori otaknya.

Bagi Violetta, rasanya susah mencintai dan
memahami orang dalam waktu bersamaan. Ollive
pernah mau melamar Violetta, tapi dengan satu
syarat: Ollive nggak mau tinggal di Indonesia. Jadi,
dengan kata lain, Violetta harus mengubah kewarga-
negaraannya dan tinggal di Frankfurt, sebuah kota
terbesar di negara bagian Hessen di Jerman, tempat
asal Ollive.

Bagi Violetta, hal itu nggak mungkin dia lakuin.
Selain Violetta nggak mau jauh-jauh dari keluarga-
nya, dia juga nggak rela harus berganti kewargane-
garaannya hanya karena menikah dengan Ollive.
Violetta terlalu mencintai Yogya. Baginya, Yogya
telah menjadi kota terindah dalam hidupnya. Banyak
sekali sudut kota yang menyimpan kenangannya
semasa kecil hingga kini, seperempat abad dia hidup
dan bernafas di kota Yogya.

Semua tentang Ollive menjadi sebuah kegetiran
yang menempati sebagian memori otak Violetta,
bercampur dengan memori indahnya bersama
Ollive. Saat Ollive pergi meninggalkan Indonesia, ia

28

meninggalkan setangkup luka di hat! Violetta. Ollive
memutuskan untuk melanjutkan hidupnya tanpa
Violetta.

"Ta, kamu kenapa? Aku salah ngomong, ya?"

"Arrghhh, Nay. Ollive gimana kabarnya, yah?
Aku belum bisa melupakannya, meski aku tahu
memikirkannya adalah sia-sia, hanya menyakiti diri
sendiri. ... "

"Udahlah, Ta.... Lagian, masih banyak cowok
lain yang lebih mau berkorban untukmu!"

"Tapi masalahnya, apakah ada yang mau mem-
perjuangkan apa yang ingin mereka perjuangkan
dalam hidup, seperti cinta misalnya...."

"Pastilah ada, just believe yourself right now!"

"Tadi, aku ketemu sama Boemi. Entah kenapa,
aku bisa ngerasa nyaman saat ada di dekatnya.... "

"Boemi? Siapa itu? Karyawan baru? Klien
kantor? Temen chatting?"

"Fotografer majalah Musik Kita, Nay."

"Fotografer? Akhirnya, kamu bisa jatuh cinta
lagi, Ta.... Setelah sekian lama kamu berkutat
dengan kelinci, ternyata kamu masih tertarik juga
sama manusia...."

"Sial kamu, Nay!"

"Tapi bener, kan? Akhirnya, kamu bisa jatuh
cinta lagi. ... "

29

"Aku nggak ngerti, Nay.... Hanya saja aku
merasa ada yang aneh dengan Boemi. ... "

"Aneh gimana??"

"Saat pertama bertemu dengan Boemi, aku
seperti telah mengenalnya, tapi entah kenai di
mana...atau mungkin ini hanya perasaanku saja ya,
Nay.... Mungkin aku terlalu mudah terbawa suasana
hati atau mungkin karena first sighf? I'm not
sure.... "

"Maybe first impression. ... "

"Arst impression? Yah, bisa saja.... "

"Atau karena ada chemistry di antara kamu dan
Boemi? Buktinya, mata kamu berbinar-binar saat
kamu bercerita tentangnya."

"Hushh, ngaco! Nggak penting ah, Nay....
Pulang, yuk. ... Udah tengah malam, nih, besok aku
kerja.... "

"Tumben kamu dulu yang ngajak pulang. Biasa-
nya, kamu yang pengen berlama-lama di Starlight
coffee shop sampe coffee shop-nya mau tutup,
kamu baru mau pulang.... "

"Starlight coffee shop emang tempat favorit
untuk curhat masalah cinta, tapi sekarang aku udah
ngerasa capek, Nay.... "

"Ok, let's go home.... "

dO

Sedan hitam doff milik Violetta dan Taft biru
milik Onay melaju di dua jalur yang berbeda. Melaju
kencang, lalu derunya hilang dalam malam yang
semakin larut.

***

dl

22

2. Identity or Chemistry?

06.00 am.

''Oey, bangun oey, Ta! Aku mau mmjem
sedanmu! Mana kuncinya?" ~eriak Adeza, kakak laki-
laki Violetta.

"Ta, kamu tidur apa pingsan, sih? Sebagai
seorang perempuan, jam segini belum bangun? Ck,
ck, ck, ck, Adikku, mau jadi apa Indonesia kalau
semua orang tidurnya kayak kamu. Bla...bla...
bla...bla.... "

Adeza masih terus ngedumel, seperti tiba-tiba
menjadi guru PPKN dan dosen mata kuliah
Pancasila.

"Ta!!!!!!!!! Kamu sembunyiin di mana sih kunci
mobilmu? Buruan, Ta! Aku harus jemput Mona,
neh. Dia paling ga suka aku bawa VW combi, jadi
aku harus bawa sedanmu.... "

"Aduh!!! Nggak penting amat sih, Za! Pagi-pagi
gini bangunin aku hanya gara-gara mau nganter
Mona pake sedanku? Bukannya kamu yang pilih beli
VW combi daripada beli sedan? Kenapa sekarang
malah mau pinjem sedanku? Lagian, aku nggak bisa

bawa mobil ajaibmu itu. Setirnya dan bodinya gede,
nggak sepadan dengan tubuhku.... Bla...bla...bla.... "

Akhirnya, Violetta terpaksa bangun dari mimpi-
nya. Violetta harus rela membela diri saat kakaknya
mau meminjam mobil sedannya. Violetta nggak mau
harus susah payah naik VW combi yang bodinya
bikin dia stres. Belum lagi kalau mogok di jalan, atau
ban bocor, atau kalau ruang parkir di kantornya
penuh, dia harus cari tempat parkir lain.

Udah berkali-kali Violetta mengalah demi
kakaknya, tapi kali ini dia baru tahu alasan kenapa
harus bergantian mobil dengan kakaknya. ltu semua
gara-gara Mona, fotomodel kelas teri yang nguju-
bileh matrenya. Mona adalah adik kelas Violetta.

Violetta nyesel udah ngenalin Mona sama
kakaknya, yang ujung-ujungnya jadi beribet kayak
gini semenjak Mona jadi fotomodel kelas teri,
kepribadiannya berubah 180 derajat. Tapi entah
kenapa, kakaknya masih juga rela berkorban untuk
Mona. Cinta memang buta! Yah, semoga aja Mona
bukan calon istri kakaknya.

"Please, Ta...aku harus jemput Mona jam 7
neh, dia ada pemotretan.... "

"Suruh naik taksi aja deh, Kak!"

"Kok kamu jadi tega gitu sih, Ta."

"Aduh, kakakku tercinta, tersayang, open your
eyes deh. Kak! Mona itu belum jadi fotomodel
terkenal sekelas Arzeti atau Karenina. Lagian, buat

d4

apa sih bela-belain berkorban terus-menerus buat
dia? Take and give emang perlu dalam hubungan
percintaan, tapi kalau aku liat, kamu terus deh yang
'give' .... Nyadar deh, Kak!"

Adeza terdiam selama beberapa detik di depan
tempat tidur Violetta. Matanya seakan-akan tidak
berkedip, menerawang jauh ke jendela yang ada di
belakang Violetta.

"Kayaknya kamu bener, Ta.... "

Tiba-tiba, kakaknya meninggalkan Violetta.
Seperti ada rasa bersalah di hati Violetta karena
mungkin kata-katanya barusan membuat kakaknya
merasa sakit. Namun, ini lebih baik daripada
kakaknya terlambat menyadari bahwa selama ini dia
hanya diperalat sama Mona. Selama dua bulan
terakhir ini, hubungan kakaknya dengan Mona
hanya sebatas sopir pribadi dengan majikan, bukan
layaknya sepasang kekasih.

***

Black and Blue Production, 07.00 am.

Violetta berjalan dengan langkah santai sambil
menikmati indahnya taman bunga yang ada di
belakang ruang parkir gedung kantornya. Dia
mampir ke outlet coffee shop yang selalu menyedia-
kan satu cup kopi setiap pagi. Dengan 2000 rupiah,
dia bisa mendapatkan satu cup cappucino di pagi
ini. Violetta menyeruput kopinya di sebuah bangku

d5

taman, tak jauh dari taman bunga. Lalu, tiba-tiba
seseorang datang dan duduk di sampingnya.

"Tumben, berangkat pagi? Pasti kerjaan udah
beres?"

Violetta melihat seseorang yang tiba-tiba ada di
sampingnya. Rangga. Salah satu temen kantornya
yang mengurusi deal dengan artis di Black and Blue
Production. Kata Rey, salah satu tim kreatif yang
satu tim juga sama Violetta, Rangga pernah
ngomong ke Rey kalau dia naksir berat sama
Violetta. Entah kenapa bisa naksir berat, yang
Violetta tahu, Rangga itu punya pacar di mana-
mana. Playboy cap jempol gitu deh...pinter merayu
dan ngegombal.

"Ebmm, gitu deh.... "

Violetta lagi males berbincang-bincang dengan
Rangga. Jadi, dia memilih untuk ngomong seperlu-
nya aja.

"Udah tahu belum kalau nanti ada rapat?"

"Ehmm, udah.... "

"Rapat dengan semua divisi membicarakan
proposal yang kamu bikin."

Violetta hampir tersedak mendengar kata pro-
posal. Karena dengan kata lain, rapat hari ini adalah
rapat untuk membahas semua detil proposal yang
dia bikin kemarin dan dengan kata lain pula, dia
harus mempresentasikan proposalnya di hadapan

d6

semua divisi Black and Blue Production. Padahal,
Violetta belum menyiapkan bahan presentasi
selengkap mungkin. Hanya berbekal proposal dan
satu agenda kerjanya.

Vhhh...great! Lengkap sudah hari ini!'

"Rapatnya jam berapa?"

"Jam delapan, emang kenapa? Breakfast dulu,
yuk! Fried rice and lemon tea kayaknya enak
disantap pagi ini, apalagi ditemani kamu, jadi
tambah bersemangat...mau, ga?''

Violetta nggak habis pikir sama laki-laki ini,
pagi-pagi udah ngegombal.

"Ehmmm, sori, aku udah sarapan. Sampai
ketemu di ruang rapat!"

Violetta berlari menuju pintu lift dan mening-
galkan Rangga yang terlihat masih ingin berbasa-basi
dengannya. Violetta harus mempersiapkan presen-
tasi hari ini yang mendadak. Pak Donny memang
suka membuat rapat secara mendadak. Selain Lika
sebagai sekretaris kantor, Rangga juga menjadi salah
satu koordinator lapangan Pak Donny. Untung saia
tadi dia ketemu Rangga yang ngasih tahu kalau hari
ini ada rapat. Yah, walaupun playboy cap jempol,
ada untungnya juga bertemu dia pagi ini.

Ruang Rapat Black and Blue Production,
08.00 am (teng].

d7


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Panduan Praktis Pengelolaan Proyek Konstruksi Dengan Microsoft Project 2000
Next Book
Strategi Tembus Perguruan Tinggi Favorit Geografi