The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Humor Politik Pak Presiden, Buatlah Rakyat Stres

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 17:55:04

Humor Politik Pak Presiden, Buatlah Rakyat Stres

Humor Politik Pak Presiden, Buatlah Rakyat Stres

@

PENE$ITAT{[email protected]

Ed? 9^^a.rtoho

iryfld\R9p,e2.*,\t.) P$ e1;' * ?

ltr-

hurnor politih

Pak Pnesiden,

Buatlah Rakyat

StFes

~~

Pale Pmztden Buatlah
Rslcyat Stts



Edy Sumartono
Penerbit ANDI Yogyakarta

HUMOR POLITIK Pak Presiden Buatlah Rakyat Stress
Oleh: Edy Sumartono

Hok Cipto © 7009 podo Penulis

Editor : Benedicta Rini W

Setting : Rendrosto Duto Angsono

Desoin Cover : Guntur

Korektor : Morsi I Aktor Sodewo

Hok Cipto dilindungi undong-undong.
Dilorong memperbonyok otou memindohkon sebogion otou seluruh isi buku ini dolom bentuk
opopun, boik secoro elektronis moupun mekonis, termosuk memfotocopy, merekom otou
dengon sistem penyimponon loinnyo, tonpo izin tertulis dori Penulis.

Penerbit: C.V ANDI OFFSET (Penerbit ANDI)
Jl. Beo 38-40, Telp. (0774) 561881 (Hunting), Fox. (0774) 588787 Yogyokorto 55781

Percetokon: AND I OFFSET
Jl. Beo 38-40, Telp. (0774) 561881 (Hunting), Fox. (0774) 588787 Vogyokorto 55781

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Sumortono, Edy

HUMOR POUTIK Pok Presiden Buotloh Rokyot Sires I Edy Sumortono;

- Ed. I • - Yogyokorto: AND I,

18 17 16 IS 13 12 11 10 09

xvi + 146 him.; 17 x 19 Cm. s4 32

10 9 8 7 6

ISBN: 978 - 979 - 29 - 0860 - 2

I. Judul

I. Humor

DDC'21 : 152.43

PE.N&ANTAf~:

Bagaimanakah potret Indonesia saat ini? Ter-
gantung siapa yang memotret! Namun, siapa pun
yang memotret, kita bisa sepakat bahwa negeri
ini sedang dalam krisis yang berkepanjangan. Dalam
krisis itulah muncul sisi-sisi kehidupan pedih dan perih,
tetapi kadang menggelikan. Sebaliknya, ada juga yang
menggelisahkan serta memprihatinkan.
1. Anekdot-anekdot ini bukan hanya lucu, tetapi juga

jujur, memotret realitas yang memprihatinkan dan
membuat kita miris.
2. Anekdot-anekdot yang terkumpul dalam buku ini
selain menjadi potret bagi kita saat ini, juga menjadi
pengantar untuk memasuki masa depan yang dipenuhi
ketidakpastian di negeri ini, yang pada akhirnya
membuat kehidupan rakyat terlunta-lunta.

iii

3. Anekdot-anekdot ini juga bisa mencerahkan hidup
kita dan menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita
(baik rakyat maupun negara) masih menyepelekan
tanggung jawab kita masing-masing.

4. Cerita ini juga dapat menjadi kiat dalam menghadapi
negara yang sering mengelak akan tanggung jawabnya
terhadap masyarakat, menghadapi kelompokyang ingin
menang sendiri dan suka memaksakan kehendaknya,
serta ingin mengingkari Bhineka Tunggallka. Kita tidak
perlu menanggapinya dengan marah. Marilah hadapi
mereka dengan senyum, bahkan tertawa Iebar, sebab
mereka "sedang lucu-lucunya".

Kiranya dalam susah kita tidak menyerah, dalam susah
kita mencoba untuk mencerahkan hidup agartidak red up
dan akhirnya padam. Kiranya kumpulan anekdotinidapat
dijadikan bahan refleksi atas kehidupan negeri kita dan
juga dapat menjadi pendidikan politik bagi rakyat kecil
dengan cara yang menyenangkan, mengingat rakyat
sudah muak dengan masalah politik dan para pelaku
politik. Namun, kita tidak boleh meninggalkan politik
begitu saja sebab semakin rakyat tidak peduli terhadap
masalah politik, semakin para politisi tidak terkontrol
tingkahnya. Ujung-ujungnya rakyat lagi yang susah.
Kalau tingkah para politisi masih menyengsarakan
rakyat, maka kita berucap, "Pak Presiden, buatlah
rakyat stres." Kata "presiden" dalam kalimat tersebut
dapatjuga diganti dengan "Lurah", "Bupati", "Gubernur",
"Menteri", "DPR", "Hakim", "Polisi", "Jaksa", dan lainnya.
Dan, kiranya buku ini juga menjadi sebuah pengantar
bagi rakyat agar dapat hidup selamat, kuat, dan sehat
di negeri Indonesia pada masa kini.

iv

Ada 14 topik dalam cerita ini, tetapi topik pendidikan
tidak dimasukkan dalam buku ini sebab penulis akan
membuat buku tersendiri untuk topik tersebut. Sumber
anekdot ini bermacam-macam, baik dari pengalaman
pribadi, cerita yang beredar secara umum di tengah
masyarakat, serta cerita teman dan sahabat. Semua
sumber itu dikumpulkan dan diberi sedikit catatan. Dan,
cerita ini sudah pernah diujicobakan dalam pergaulan
sehari-hari, terutama kepada Widyastuti, Canacantya,
dan Kidung yang setiap hari, dari pagi sampai malam,
tidak pernah berhenti untuk beranekdot ria. Uji coba
juga dilakukan kepada umat Gereja Kristen Indonesia
Tulungagung. Merekalah yang mau memahami
bahkan rela kalau suaminya, ayahnya, dan pendetanya
beranekdot ria dan berplesetan setiap hari.

Terima kasih kepada pihak penerbit, ANDI Offset,
yang sudi menerbitkan karya ini.

Terima kasih kepada pembaca yang mau membeli
dan membacanya: Selamat menikmati. Jangan keburu
patah semangat terhadap negeri ini. Yakinlah negeri ini
akan tetap ada jika kita tidak lupa untuk tertawa. lngat,
Tuhan memberkati negeri ini setiap hari.

Tulungagung, awal 2009
Salam hangat,

Edy Sumartono
Seorang rakyat biasa yang tinggal di pinggiran

v

vi

DAFTA.f~ JSJ

PENGANTAR -- iii
DAFTAR 151 --vii

A. RAKYAT -- 1

01. Cadangan Kalau Ada yang Mati -- 1
02. Hak Paten -- 2
03. Ada Roti Pisang, Keju, Nanas, Stroberi -- 3
04. Terpaksa Hemat -- 3
05. Saya Saja Tidak Tersinggung -- 4
06. Pak Presiden Buatlah Rakyat Stres -- 5
07. Pemadam Kebakaran --6
08. Terima Pesanan Demonstrasi -- 6
09. Tukang Becak Dan Polisi -- 7
10. Dipehaka -- 7
11. Karena Membuat Bibit Murah -- 8

vii

B. BUDAYA DAN GAYA HIDUP --11
01. Saya Tidak Simpati, Tapi XL-- 11
02. Joki -- 12
03. Astronot Indonesia Pertama Bernama
Selamet -- 13
04. Semuanya Bisa -- 13
05. Televisi Kita -- 14
06. Dilarikan Ke Rumah Sakit -- 15
07. Pasang Saja Patung Polisi -- 15
08. Aku Pikir Buatan Luar Negeri -- 16
09. Komponennya lmpor -- 17
10. Rokok --18
11. Beli Ayam Dikethaki -- 18

C. EKOLOGI -- 21
01. Bagaimana Caranya Menebang Kayu -- 21
02. Sepuluh Tahun Lagi Makan Nyamuk -- 22
03. Tanyakan Kepada Gesang -- 22
04. Kalau Ada Sisa Dimakan -- 23
05. Satu Juta Keping Koin Rp. 100,- -- 24
06. Dari Se Bentar Menjadi Trilyunan
Bentar --25
07. Hidup Seorang Biksu -- 25
08. Tisu Dan Saputangan -- 26
09. Ngirit -- 27
10. Karena Ada Departemen Kehutanan --28
11. WC Terpanjang --28
12. Kalian Harus Tahu -- 29

D. GENDER-- 31
01. Truk Gandeng -- 31
02. Trafficking dan Trafficlight -- 32
03. Tidak Pakai Baju -- 32
04. Polygon, Polytron, Poliklinik, Politeknik,

viii

dan Polygami -- 33
05. Bapak Menanak Nasi -- 34
06. Gender atau Saron -- 34
07. Karena Perempuan --35
08. Itu Sebuah Kecelakaan -- 36
09. Jadikan Aku Yang Kedua -- 36
10. Masinis Pasti Laki-Laki -- 37
11. Mbaknya Kok Hanya Sayar Satu -- 38

E. PELAYANAN UMUM -- 39
01. Belum Pernah Melahirkan -- 39
02. Kondomnya dipakai di jempol -- 40
03. Murah Kok Minta Slamet --41
04. Kereta Rakyat Desa -- 42
05. Sandalnya Jatuh? -- 43
06. Pasti Lebih Mahal -- 44
07. Rp. 30.000,- Sampai Akhirat --45
08. Belum Dipanggil -- 46
09. Apakah ini KA Swasta? --46
10. Perusahaan Lilin Negara --47
11. Tolong lni Dijabarkan --47
12. Bank Sperma -- 48
13. Dokter Gigi -- 49

F. PLURALITAS --51
01. Di Bali Diukir -- 51
02. Cekel Madura dan Ceke/ Jawa -- 52
03. Makam saja Punya Agama -- 52
04. Jembatan dan Sungai -- 53
05. Merangkak Saja Cepat -- 54
06. Jateng Pada Masa Orba -- 54
07. Citi Bank-- 56
08. Celana Dalam Elektrik -- 56
09. Kursus Bahasa Jawa -- 57

ix

10. Makan Ulat --58
11. Hasil Perkawinan --59

G. OLAHRAGA -- 61
01. Boxing Football -- 61
02. Tadi Malam Masih Nguleg Sambel -- 62
03. Sepak Bola Gajah -- 62
04. Semakin Diurus Semakin Kacau -- 63
05. Mimpi Jadi Pemain Nasional -- 63
06. Yang Kaya Pembina dan Pengurusnya -- 64
07. Berolahraga Dengan Rokok -- 65
08. Olahraga Paling Populer -- 66
09. Perusak Sepak bola Seluruh
Indonesia -- 66
10. China Vs China-- 67
11. Sarna Dengan Permen Karet -- 68

H. PEREKONOMIAN -- 69
01. Perekonomian Disusun Atas Azas
Kekeluargaan -- 69
02. Satu Truk Kecut Semua -- 70
03. Tinggal BRI -- 71
04. Ekspor TKW -- 71
05. Pengusaha Merangkap Penguasa -- 72
06. Cafe Ceret Telu -- 73
07. Kredit Macet --73
08. Home Industry-- 74
09. Dulu VOC Sekarang IMF -- 75
10. Uang Dan Tuhan -- 76
11. Boleh Pinjam Sertipikat Bapak
Menteri? -- 76

I. NEGARA DAN NASIONALISME -- 79
01. Burung Garudanya Kedinginan -- 79

X

02. Berdebat -- 80
03. Kecuali Pribadi Bangsaku -- 81
04. Taman Makam Prajurit -- 82
05. Negeri Bukan-Bukan -- 82
06. Mengkritik dengan Cara Tidak

Mengkritik -- 83
07. Tiga Versi -- 84
08. Gantian Kita Klaim -- 84
09. Beda-Beda Tipis -- 85
10. Malingsia --86
11. Bangsa yang Besar -- 87
12. Hilangnya Hormat pada Garuda -- 87

J. POLITIK DAN KEKUASAAN -- 89
01. ljazah Palsu -- 89
02. Bantuannya Mata Uang Jepang -- 90
03. Perbedaan Zaman -- 91
04. Tenggelam Dua Kali -- 91
05. Kalau Cuma .... -- 92
06. Gaya Katak -- 92
07. Mau Jadi Presiden Saja --93
08. Mau Jadi Polisi -- 94
09. Citra -- 94
10. Lebih Mudah Ketemu Tuhan -- 95
11. Jangan Keras-Keras -- 95
12. Keberhasilan Orba -- 96

K. KORUPSI -- 97
01. Padamu Negeri Kami Korupsi -- 97
02. Tukang Tambal -- 98
03. Budaya Kita yang Sukses -- 98
04. Komisi Saya Berapa? -- 99
05. Beli Eceran atau Beli Partai -- 100
06. Tuhan Pun Disuap -- 101

xi

07. Karena Korupsi -- 101
08. Sarna Anak saja Dihitung -- 102
09. Sejak Kecil Biasa Disuap -- 103
10. Jelas Saya Protes --103

L. KAMPANYE DAN PEMILU -- 105

01. Pendidikan Gratis -- 105
02. Dari Kuning Berganti Merah Akhirnya

Menyerah -- 106
03. Bukannya Rusak, tapi Tenggelam -- 106
04. Ambil Uangnya Jangan Contreng

Gambarnya -- 107
05. Kayu Bakar -- 108
06. Pil Paling Mahal -- 109
07. Puskesmas Keliling --109
08. Pemilu Membuat Pilu -- 110
09. Belum Jadi saja Sudah Menyusahkan -- 111
10. Berobat Gratis -- 112
11. Yang Hitam Berambut --113
12. Tidak Membawa Sampel -- 114
13. Yang Menang Golput --115
14. Penyambung Lidah -- 116
15. Pemilu yang Penuh Keajaiban --116

M. PARLEMEN DAN PARTAI --119
01. Digerebek Pasti Ramai -- 119
02. Hanya Bisa Ngompol -- 120
03. DPR Rl -- 120
04. Dewan Penipu Rakyat -- 121
05. Pensiun Jadi Badut -- 122
06. Dewan Pencari Rupiah -- 123
07. Modal Belum Kembali --123
08. Dewan Pencari Duit -- 124
09. Partai dan Artis -- 124

xii

10. Sarna-Sarna Bersandiwara -- 125
11. Kader lnstan --126
N. HUKUM --127
01. Judi --127
02. Damai dan Konflik -- 128
03. Sekali Tiup -- 128
04. KUHP -- 129
05. Mencari Angpao -- 129
06. Lelang Perkara -- 130
07. Jaksa -- 131
08. Hakim -- 131
09. Gedung Sundar-- 132
10. Spanduk -- 132
11. Percuma --133

xiii

xiv

01. Cadangan Kalau Ada yang Mati

Pada hari kesehatan nasional, seorang pejabat
propinsi meresmikan sarana MCK di sebuah desa. Betapa
kagetnya sang pejabat melihat seorang ibu dikerumuni
enam orang anak.

"Apakah enam anak ini anak kandung lbu?" tanya
sang pejabat

"Ya, Pak. Malah kalau hidup semua, anak saya ada
delapan," jawab ibu tadi palos.

"Hari gini anaknya delapan, Bu? Apa ibu tidak
tahu kalau banyak anak semakin membebani lbu?" sang
pejabat tadi menjelaskan.

"Begini, Pak. Saya punya banyak anak itu untuk
cadangan!"

"Cadangan apa, Bu?" tanya sang pejabat heran.
"Begini, Pak. Sampai hari gini, ongkos obat, ongkos
dokter, dan ongkos rumah sakit mahal dan tidak terjangkau
orang miskin. Kalau anak saya cuma dua, kalau semua
mati berarti saya tidak punya anak. Nah ... anak saya
delapan, yang dua sudah meninggal, sekarang masih ada
enam. Dan, kalau besok ada dua lagi yang meninggal ...
kan masih ada empat, Pak."

Si miskin selalu punya cara tersendiri zmtuk bertahan hidup
di negeri yang mereka cintai, tetapi belum tentu negeri ini

mencintainya.

02. Hak Paten

"Mengapa Pak Bakri tidak mematenkan resep rawon
ini agar tidak ditiru orang lain?" tanya seorang pelanggan
yang sedang menikmati makannya.

"Apa untungnya Pak kalau saya memiliki hak
paten?" sahut Pak Bakri kepada pelanggannya.

"Banyak, Pak. Anda bisa mendapat royalti dari
orang yang memakai resep rawon ini," si pelanggan
menjelaskan.

"Ah itu berarti membuat orang lain yang berjualan
rawon menjadi susah. Biarlah ... saya tidak usah punya hak
paten," jawab Pak Bakri sambil menuang kuah rawon.

"Lho ... mengapa, Pak?" tanya pelanggan itu
he ran.

2

"Hak paten itu berarti mateni (artinya membunuh)
orang lain toh? Lebih baik tidak usah punya hak paten,"
Pak Bakri menutup pembicaraan.

Rakyat tidak serakah. Ia tahu sesamanya
butuh kehidupan.

Hai para petinggi, belajarlah dari mereka.

03. Ada Roti Pisang, Keju, Nanas, Stroberi

Seorang tukang roti tertabrak mobil. Gerobaknya
hancur dan rotinya berhamburan. Sementara, si tukang
roti itu pingsan. Setelah ia siuman, seorang dokter berkata
kepadanya, "Bapak sekarang ada di rumah sakit."

"Sebenarnya ada apa, Pak?" tanya perawat yang
berdiri di sampingnya.

Dengan setengah bingung si tukang roti menjawab,
"Ada ... roti pisang, keju, nanas, stroberi, kismis, dan susu.
Mau pesan yang mana?"

Sampai sakit pun si miskin tetap ingat untuk beketja.
Walaupun begitrt, ia masih tents miskin dan miskin tents.

04. Terpaksa Hemat

"Kampanye penghematan nasional yang menjadi
program departemen saya sangat berhasil," kata
seorang pejabat dengan bangga kepada wartawan yang
mengerumuninya.

"Apakah Bapak bisa memberikan buktinya?" desak
wartawan

3

"Lihat saja semua lapisan masyarakat dari menteri
sampai mantri, dari direktur sampai tukang cukur, ramai-
ramai memilih pahe alias paket hemat."

Kebetulan di situ ada seorang tukang cukur yang
langsung menyahut, "Pak, kalau saya pilih pahe itu bukan
berarti saya memilih paket hemat, tetapi saya terpaksa
hemat. Penghasilan saya ini super mini!"

Sunggulz memprilzatinkan hila apa yang dipikirkan petinggi
tidak pernalz nyambung denga11 kelmtrt!Jatl rakyat negeri ini.

05. Saya Saia Tidak Tersinggung

Ketika seorang pejabat mengunjungi sebuah
pemukiman kumuh yang penuh dengan orang miskin, ia
berkata, "Saya tersinggung kalau dikatakan jumlah orang
miskin bertambah. Selama masa pemerintahan saya,
jumlah orang miskin sudah diusahakan untuk ditekan.
Bukankah begitu, Saudara-saudara?"

"Ya ...," jawab penduduk di pemukiman kumuh itu.
Namun, di tengah gemuruh suara setuju, terdengar suara,
"Mengapa Pak Pejabat tersinggung kalau dikatakan jumlah
orang miskin semakin banyak. Saya saja tidak tersinggung
dikatakan sebagai orang miskin. La kok malah Bapak
yang tersinggung?"

Pemberantasan kemiskinat1 lzat1yalalz suatu komoditas politik
(klwsusnya me1ljelang pemilu), bukan sebagai usalza yang kelrwr

dari lubuk hati yang paling dalam.

4

06. Pak Presiden Buatlah Rakyat Stres

Ketika Bakri menjadi presiden, ia sering mengadakan
kunjungan kerja ke daerah. Suatu hari, ia mengunjungi
kampung halamannya. Seperti biasanya, dalam setiap
kunjungannya, Bakri selalu berdialog dengan rakyatnya.
"Saudara-saudara, kira-kira apa yang saudara butuhkan.
Terus terang saja. Bukankah saya lahir di kampung ini?
Jangan takut! Kita santai saja agar dialog kita ini akrab
dan penuh persaudaraan."

Lalu, berdirilah seorang bapak. "Kami ini stres
memikirkan berbagai kenaikan seperti misalnya kenaikan
sembilan kebutuhan pokok, kenaikan SPP anak, kenaikan
sarana produksi pertanian, kenaikan BBM, dan lain-lain.
Tolonglah kami, Pak Presiden!"

"Bapak-Bapak dan lbu-lbu, kenaikan harga-harga
itu terjadi karena adanya globalisasi perdagangan. Kita
mengikuti harga-harga dunia. Harap kalian mengerti dan
memaklumi, ya!" Lalu, Bakri membetulkan duduknya dan
meminta yang lain untuk bertanya, "Mungkin ada yang
hendak disampaikan lagi?"

Beberapa orang menyampaikan berbagai kesulitan
hidup mereka, tetapi jawaban Presiden Bakri hampir
sama-rakyat harap mengerti dan memaklumi. Di akhir
dialog tersebut, seorang bapak tua berdiri, "Pak Presiden,
setelah mendengar semua jawaban Bapak tadi, saya
hanya ada satu permintaan saja."

"Sampaikan saja permintaan Bapak. Jangan malu!"
desak Bakri.

5

"Pak Presiden, buatlah rakyat stres!" jawab Bapak
Tua dengan nada perintah.

Pemimpin semestinya peka kepada yang lemah dan yang kecil
dan bukan malalz mellgeksploitasinya.

07. Pemadam Kebakaran

Ketika para pemuka dari berbagai agama berkumpul
menjelang peringatan 17 Agustus, mereka saling bertukar
pengalaman.

"Ya, kita sebagai pemuka agama dihubungi
pemerintah hanya kalau mereka punya keperluan. Kalau
tidak ada keperluan ya dibiarkan," kata Pak Kyai.

"Seperti sekarang ini, ya, Pak Kyai," tambah Pak
Suryo, pemuka agama Hindu.

"Jadi, kita ini tugasnya seperti pemadam kebakaran.
Kalau ada kebakaran ditelepon dan dipentingkan, kalau
sudah padam apinya, pemadamnya dilupakan," sang
Pendeta tidak mau ketinggalan.

Di negeri ini, agama hanya dipakai sebagai a/at legitimasi ba,~i
kekuasaan negara, bukan dipakai sebagai sumber moral etika

bagi negara.

08. Terima Pesanan Demonstrasi

"Hei, Umar, sablonmu laris sekali. Apakah semua
partai, LSM, dan gerakan mahasiswa pesan kepada
kamu?" tanya Deys sambil mengaduk-aduk kaos
bergambar yang tertumpuk di atas meja.

"Saat ini, aku tidak hanya terima pesanan sablon,
tapi juga terima pesanan demo. Yang terakhir ini bisnis
paling menjanjikan. Dan, ingatlah Deys, selama bangsa ini

6

saling menghujat, aku akan terus ketiban rezeki nomplok,"
jawab Umar.

"Apalagi menjelang pemilu, ya!" Deys menambahi.

Ketika demokrasi menjadi demo-crazy,
maka yang teljadi hanyalah luifat-mengl11ifat melulu.

09. Tukang Becak dan Polisi

"Hei, Pak, sudah tahu lampu merah tanda berhenti,
mengapa jalan terus, dasar tukang becak bodoh!" bentak
seorang polisi lalu lintas kepada tukang becak.

Tukang becak itu menjawab dengan enteng, "Kalau
saya pintar, saya jadi polisi seperti sampeyan1 ••• tidak jadi
tukang becak. Tahu!"

Lebih mudah memperbodoh rakyat daripada memandaikan
mereka.

10. Dipehaka

"Badrun, apa hari ini kamu tidak kerja?" tanya Dudi
temannya.

"Tidak, Dud. Aku dipehaka sama bas."
"Mengapa?"
"Begini ceritanya, dengar ya. Kemarin ada seorang
petani yang banyak uangnya mau membeli lemari es.
Lalu, aku bertanya kepada bapak itu, 'Apakah di rumah
Bapak sudah ada aliran listrik?' Petani itu menjawab,

1 Sampeyan dalam bahasa Indonesia berarti Anda.

7

'Belum.' Kemudian, aku menjelaskan, 'Kalau di rumah
belum ada listrik, untuk apa beli lemari es?' Lantas, petani
yang banyak uangnya itu pergi meninggalkan toko dan
sialnya ... bos mendengar dari belakang."

Dalam salah satu monolognya, Butet Kartaradjasa, pernah
berkata, "Kamu benar, maka kamu salah."

11. Karena Membuat Bibit Murah

Seorang petani yang lugu, tapi cerdas, yang tinggal
di Nganjuk Jawa Timur, risau dengan harga bibit yang terus
melambung tinggi. "Bagaimana bisa sejahtera kalau bibit
harus dibeli dari pabrik dengan harga tinggi," ia berkata
sendiri dalam keresahannya.

Berbekal segenggam bibitjagung, ia bereksperimen
membuat bibit jagung yang murah dan sesuai dengan
kondisi tanah di ladangnya. Teman-teman petaninya
senang, tetapi pabrik bibit jagung di Surabaya gelisah.

Pabrik tersebut memperkarakan petani lugu itu di
Pengadilan Negeri Nganjuk.

"Mengapa saya diadili? Apa salah saya, Pak
Hakim?" tanya petani lugu ketakutan.

"Anda bersalah mencuri hak paten bibit jagung,"
jawab Hakim.

"Saya tidak mencuri .... Saya buat bibit sendiri
dan menjualnya tanpa merek. Betul! Saya tidak pernah
melakukannya!"

Akhirnya, si petani lugu tetap dijatuhi hukuman,
walaupun ia tidak tahu apa salahnya. Baru beberapa

8

tahun kemudian, seorang relewan dari Lembaga Bantuan
Hukum mendengar kisahnya, lalu mendampinginya.
Dan, si petani lugu itu bertanya kepada relawan itu, "Apa
sebenarnya salah saya, Mas. Dulu saya kok dituduh
melanggar hak paten dan dihukum?"

"Salah Bapak adalah membuat bibit jagung yang
murah dan merakyat!"

Negara ini lebih berpilwk kepada korporasi global daripada
rakyatnya sendiri

9

10

B, BUDA.YA. DA.N &A.YA.
HIDUP

01. Saya Tidak Simpati, Tapi XL

Akhir 2007, banjir melanda sebagian wilayah Jawa
Tengah dan Jawa Timur yang dilalui Bengawan Solo. Pak
Deys, sebagai kepala desa, mengimbau para pemuda
desanya, "Saat ini banyak terjadi bencana, maka kalian,
anak-anak muda, harus menolong mereka yang terkena
bencana!"

"Bagaimana caranya, Pak?" Nino, seorang pemuda
yang turut hadir, bertanya kepada Pak Deys.

"Caranya banyak sekali. Kita bisa menolong mereka
dengan mengumpulkan uang, lalu mengirimkannya. Bisa
juga dengan mendoakan mereka. Singkatnya, kita harus

11

memberikan simpati kepada mereka."
Nino menjadi gelisah mendengar jawaban Pak

Deys. Melihat Nino yang tampak gelisah, Pak Deys
mendekatinya, "Mengapa kamu gelisah, Nino?"

"Saya tidak mungkin memberi simpati, Pak."
"Mengapa?"
"Saya pakai XL."

Gaya hidup konsumtif sudah sedemikian rupa
merasuki kehidupan negeri ini.

02. Joki

"Bagaimana kau bisa lulus UMPTN, sedangkan
nilaimu pas-pasan saja?" tanya Bakri kepada Badrun
penuh keheranan.

"Pakai joki," jawab Badrun.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apa
hubungannya UMPTN dengan balap kuda?" tanya Bakri
palos.
"Kamu tidak mengerti hubungan joki dengan
UMPTN ... pantas saja kamu gagal UMPTN." Jawaban
Badrun semakin membuat Bakri bingung.

Yang amat mengkhawatirkan dalam kehidupan di negeri ini
adalah ramainya orang melewati jalan pintas.

12

03. Astronot Indonesia Pertama Bernama
Selamet

Ketika Pak Bakri dan Deys jalan-jalan di Bandung,
mereka sempat mampir ke Observatorium Bintang
Bosscha di Lembang.

"Kita ini bangsa besar, tetapi kita belum
mampu menguasai angkasa luar," Bakri mengawali
percakapannya.

"Siapa bilang, Bakri. Neil Amstrong itu ke bulan
bersama orang Indonesia, tepatnya orang Jawa."

"Masak iya, Deys? Saya tidak percaya. Berita dari
mana itu?"

"Dari Almarhum Presiden Soeharto. Almarhum
mengatakan Neil Amstrong telah mendarat di bulan
dengan se/amet."

Dalam negeri yang otoriter,
bahasa dan budaya selalu tunduk pada kemauan penguasa.

04. Semuanya Bisa

Seorang konsultan Pengembangan Sumber Daya
Manusia dari Amerika Serikat kagum terhadap potensi
manusia Indonesia.

"Saya harus mengatakan dengan jujur bahwa
manusia Indonesia benar-benar hebat. Semua bisa
mereka lakukan. Manusia yang serba bisa."

"Contoh konkretnya apa?" tanya seorang
wartawan.

13

"Lho ... lihatlah para anggota Parlemen. Mereka
bisa jadi politisi, artis, saudagar, dan tentara sekaligus.
Namun, sayang ... tidak satu pun dari yang mereka emban
bisa-"

"Dilakukan!" sergap wartawan.
"Tapi kan tetap bisa," konsultan Sumberdaya dari
Amerika Serikat itu tidak mau kalah.
"Ya, memang bisa. Bisa tidak dilakukan .... Ha ... ha
... ," mereka berdua tertawa.

Ketika seseorang merasa bisa mengeljakan semua, sebenarnya
orang itu tidak bisa mengeljakan apa-apa, dan itulah yang

dilakukan oleh sebagian besar penduduk negeri ini.

05. Televisi Kita

"Televisi kita ini seperti iklan teh botol Sosro," kata
Deys kepada Bakri.

"Maksudmu apa?" Bakri minta penjelasan
"Kalau iklan teh botol Sosro mengatakan, 'Apa pun
makanannya, teh botol Sosro minumnya,' kalau televisi
kita, 'Apa pun acaranya, teror dan horor isinya."'
"Dan, perlu ditambah lagi, 'Apa pun tayangannya,
yang muncul dilayar selalu paha, takhta, serta harta,'"
sahut Bakri tidak mau ketinggalan.

Tanpa disadari, televisi bukan lagi menjadi sahabat, tetapi telah
menjadi rawn pembrmuh masa depan generasi muda di negeri

!Ill.

14

06. Dilarikan ke Rumah Sakit

"Bakri, mengapa banyak korban kecelakaan lalu
lintas dan korban bencana alam akhirnya meninggal,
padahal sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat?" tanya
Deys temannya yang baru datang dari rumah sakit.

"Ya karena dilarikan ke rumah sakit!" jawab Bakri
"Sudah benar kan tindakan melarikan korban ke
rumah sakit? Masa dilarikan ke pasar!" prates Deys
"Ya jelas mati .... Orang yang sehat saja pasti Ieiah
berlari ke rumah sakit, apalagi orang yang kakinya patah.
Kalau jarak TKP (tempat kejadian perkara ) dengan rumah
sakitjauh ... misalnya korban gempa Jogja beberapa tahun
lalu, TKP-nya di Bantul, rumah sakitnya di Jogja, apakah
tidak menambah jumlah korban yang meninggal?"
"Betul katamu Bakri. Orang yang kakinya tidak patah
saja capai berlari dari Bantul sampai RS Sardjito Jogja.
Dan, dijamin pasti klenger1, apalagi yang kakinya patah ...
sudah pasti tidak selamat," Umar menambahkan.

Berbahasa per/11 kelugasan, tanpa hams ditttt11pi dengm1
nifemisme. Namun, Budaya kita pemth kepura-puraan.

07. Pasang soja Patung Polisi

Sering terjadi kecelakaan lalu lintas di perempatan
jalan besar, walaupun di perempatan tersebut sudah
dipasang lampu lalu lintas. Maka polisi berinisiatif
mengadakan acara sarasehan dengan warga kota itu
tentang berkendara yang aman.

1 Pingsan, tidak berdaya.

15

Dalam sarasehan tersebut, Kapolres berkeluh-
kesah tentang perilaku berlalu lintas warga kota itu.

"Mereka itu baru tertib jika ada polisi yang jaga,
lalu bagaimana menyelesaikan persoalan ini? Jumlah
personal polisi sangat terbatas, tidak mungkin polisi
menjaga perempatan jalan selama 24 jam terus-menerus.
Tolonglah saya."

"Solusinya gampang, Pak Kapolres," Bakri menang-
gapi keluh-kesah Kapolres.

"Tolong katakan," pinta Pak Kapolres.
"Pasang saja patung polisi di tiap-tiap perempat-
an."

Kedisplinan kita masih terpaku pada sosok manusia,
bukan pad4 lwkw11 dan peraturannya.

08. Aku Pikir Buatan Luar Negeri

"Wah! Jaket kulitmu bagus sekali, Nak. Bapak juga
ingin yag seperti itu," kata Pak Karta.

"Ya, minggu depan akan saya belikan, Pak," jawab
anak Pak Karta.

"Cepat sekali kau bertugas ke luar negeri lagi.
Bukankah baru kemarin kamu datang dari Rusia?" kata
Pak Karta kepada anaknya.

"Saya tidak ke luar negeri, Pak. Minggu depan saya
ke Bandung. Jaket ini buatan Cibaduyut," anak Pak Karta
menjelaskan kepada bapaknya.

"Ah ... tidak perlu kau belikan jaket," kata Pak Karta
singkat.

16

"Mengapa, Pak?" tanya anak Pak Karta bingung.
"Aku pikir jaket kulitmu itu buatan luar negeri,"

jawab Pak Karta singkat.

Walaup1111 sudah merdeka lebih dari sete11gah abad,
tetapi selera auak 11egeri masih teljajah.

09. Komponennya lmpor

"Kamu tahu nggak, tempe semurah ini ada
komponen impornya, bahkan komponen utamanya
diimpor dari Amerika," kata Deys sambil memasukkan
tempe mendoan ke dalam mulutnya.

"Ah, yang benar. Masak tempe mengandung
silikon," protes Bakri.

"Kedelai itu komponen utamanya tempe, sedangkan
kedelai di Indonesia itu hampir separuhnya diimpor dari
Amerika," dengan mulut komat-kamit, Deys menghabiskan
medoan-nya dan menjawab Bakri.

"Katanya kita negara agraris, masak impor palawija,"
protes Bakri.

"Ya, kita ini negara agraris yang berbasis impor.
Artinya negaranya agraris, tetapi petani dan ladangnya di
Amerika," Deys meyakinkan Bakri.

"Kalau begitu hebat dong kita ini!" jawab Bakri.

Karena bisa beli, kita lupa tanam; karena bisa utang, kita lupa
dagang; karena bisa ngemplang, kita tidak bayar utang.

17

lO.Rokok

"Kehidupan anak muda sekarang itu bisa dilihat
dari rokok yang diisapnya," kata Bakri kepada Umar
temannya.

"Ah, masa iya? Coba jelaskan!" Umar ingin tahu
lebih lanjut tentang pernyataan Bakri.

Dengan tersenyum, Bakri menjawab Umar, "Kalau
cowok isap rokok Jarum Super artinya dia play boy.
Jarum Super itu artinya Jarang di Rumah Suka cari
Perempuan."

"Kalau rokoknya Gudang Garam?" Umar bertanya
lagi.

"Gudang garam itu disingkat GG. ltu rokoknya
tante-tante girang. GG artinya Gede dan Garang," Bakri
tertawa.

"Kalau Dji Sam Soe?" Umar semakin menjadi
menanyai Bakri.

"ltu rokoknya orang doyan selingkuh. Dji Sam Soe
itu, artinya Ojika Sama-sama Soeka, silakan," jawab Bakri
sambil membetulkan duduknya.

Gaya hidup hedonis sudah merasuki anak negeri sedemikian
rupa. Waspadalah!

11. Beli Ayam Dikethaki z

"Mas Bagus nanti jangan lupa ya beli ayam
Kentucky," pesan Sisi adik Bagus yang paling kecil.

2 Dikethaki (bahasa Jawa) artinya dipukuli kepalanya.

18

"Beli ayam kok dikethaki itu apa ndak sakit to,
Gus?" tanya Mbah Marto kepada Bagus cucunya ketika
mendengar Sisi titip untuk dibelikan Kentucky Fried
Chicken.

"Bukan dikethaki, tetapi di Kentucky Fried Chicken.
ltu lho ayam goreng ala Amerika," jawab Bagus.

"Ya tetap sama saja. Kamu beli ayam dikethaki
sama orang Amerika."

"Maksud Mbah apa kok saya dikethaki sama orang
Amerika?"

"Ya jelas Gus. Yang punya Amerika, pasti yang
untung besar ya Amerika. ltu kan sama saja kamu
dikethaki!"

JValaupun secara politik sudah merdeka s~jak talwn 1945,
tetapi ekonomi kita masih dijajah melalui iming-iming hidup

modern ala Amerika.

19

20

01. Bagaimana Caranya Menebang Kayu

"Saya sedih melihat hancurnya lingkungan hidup
kita. Hutan sudah menjadi cerita masa lalu. Bagaimana
kita mengembalikan hutan dan melestarikan hutan yang
masih tersisa ini?" tanya seorang pejabat kehutanan pada
sebuah seminar Penyelamatan Hutan Hujan Tropis.

"Ah, itu gampang, Pak. Lagu yang diajarkan kepada
anak TK yang harus diubah," jawab seorang peserta.

"Coba jelaskan," pinta pejabat kehutanan.
"Begini, Pak. Kalau dulu, lagunya berbunyi
lihat-lihat Anakku begini/ah caranya menebang kayu ....

21

Sekarang diubah bunyinya menjadi ... lihat-lihat Anakku
beginilah caranya menanam pohon ... ," peserta seminar
itu mengakhiri penjelasannya.

Butuh satu generasi baru yang telah diubah paradigmanya
untuk menyelamatkan lwtan di negeri ini.

02. Sepuluh Tahun lagi Makan Nyamuk

"Apakah kamu pernah bertanya kepada penjualnya,
katak yang dimasak itu hasil penangkaran atau tangkapan
dari alam?" tanya Umar kepada Deys yang hobi makan
swike (masakan dari daging katak).

"Masa bodoh mau dari alam atau penangkaran
memangnya ada apa?" kata Deys.

"Kalau kataknya hasil penangkaran, hob.imu bisa
berlanjut sampai tua, tapi kalau kataknya tangkapan dari
alam, sepuluh tahun lagi kamu makan nyamuk," Umar
menjelaskan kepada Deys.

"Kok bisa?" Deys memprotes
"Sebab kataknya sudah habis, tinggal nyamuknya
yang masih banyak karena tidak ada pemangsanya,"
jawab Umar.

Demi pemt dan kesenan,'San segelintir orang,
negeri ini rela mengorbankan kelestarian a/am.

03. Tanyakan kepada Gesang

"Awal tahun ini Bengawan Solo mengamuk dari
hulu sampai hilir, padahal sudah dua puluh tahun lebih
tidak pernah banjir, apa penyebabnya, ya?" Bakri bertanya
kepada ternan ronda malamnya di gardu siskamling.

22

"Hutannya habis," jawab Martin.
"Tapi Menteri Kehutanan bilang kalau penggundulan
hutan bukan penyebab banjir," jawab Bakri mengutip
sebuah koran.
"Ah, daripada repot-repot cari penyebab banjir
Bengawan Solo, tanyakan saja kepada Gesang mumpung
masih hidup," Deys ikut nimbrung dalam diskusi banjir.
"Kok tanya Gesang?" desak Martin.
"Karena menurut dia, Bengawan Solo itu air
menga/ir sampai jauh, coba kalau dia menulis lagunya air
menga/ir sampai Solo, banjir tidak akan sampai ke Jawa
Timur," Deys menjelaskan dengan berbusa-busa.

Ketika lwtan hanya dililwt sebagai kebrm kayu yang siap
dipoto11g dan dihabisi, maka banjir akan IIICI!iadi langgana•1.

04. Kalau Ada Sisa Dimakan

"Aku heran dengan Pak Deys. Mengapa kalau
kita ke rumahnya dan makan bersama, kalau ada yang
tidak menghabiskan makanannya pasti beliau yang
menghabiskannya tanpa rasa jijik," kata Bakri kepada
Siska.

"Mungkin dia rakus," jawab Siska.
"Belum tentu, lebih baik kita tanyakan saja," usul
Umar.
Kemudian, mereka bertiga menjumpai Pak Deys
dan menanyakannya, "Pak, mengapa Pak Deys selalu
menghabiskan makanan yang tersisa di piring orang lain
ketika makan bersama-sama?"

23

"Dengarkan, Nak, sebutir nasi pun adalah berkat
Tuhan yang perlu disyukuri, jangan dibuang percuma.
Lagi pula, beras bisa menjadi nasi itu melibatkan seluruh
makhluk hidup."

Tidak boros dan berhemat sumber daya alam adalah
cinta paling dasar

untuk menyelamatkan alam ini.

05. Satu Juta Keping Koin Rp. 100,-

"Hei, Umar, apa yang kau lakukan di siang bolong
begini?" tanya Bakri ketika melihat Umar sahabatnya
mengumpulkan sampah plastik.

"Sudah tahu masih tanya, mending kamu membantu
mengumpulkan botol-botol plastik, tas plastik, dan semua
sampah yang terbuat dari plastik," jawab Umar.

"Untuk apa?"
"Agar bumi kita lebih bersih!"
"Percuma, Umar. Tindakanmu tidak ada artinya.
Kamu melakukannya hanya sendirian, sedangkan
sebagian besar penghuni bumi ini tidak bersikap seperti
kamu. Mengapa kamu tetap lakukan?"
"Hei, Bakri, dengar ya. Kalau kamu setia
mengumpulkan mata uang Rp 100,- saja, koin yang saat
ini sudah tidak ada artinya itu, bila terkumpul satu juta
keping, kamu punya uang berapa?"
"Seratus juta rupiah!"

24

"Kamu telah menemukan jawaban mengapa saya
melakukan semua yang kau lihat ini."

Bagaimana jadinya hruni ini hila sebagian mmmsia yang menglmni
bepikir tmtuk apa mencintai htuni hila hanya seorang diri.

06. Dari Se Bentar Meniadi Trilyunan Bentar

"Ma, mengapa selalu belanja di toko di sebelah
rumah. Mama kan tahu harganya lebih mahal, stok
barangnya tidak baru. Kalau begini terus, Nina bosan
menemani Mama belanja."

"Nina, Mama sengaja belanja di toko sebelah rumah
karena dapat ditempuh dengan jalan kaki, tidak usah pakai
mobil," jawab mama Nina dengan sabar.

"Memangnya kalau pakai mobil boros, ya? Kan
hanya sebentar, Ma."

"Memang sebentar. Se bentar itu artinya sama
dengan satu bentar to? kalau semua penduduk kota
ini pikirannya seperti kamu, se bentar dikalikan jumlah
penduduk kota ini hasilnya bisa beribu-ribu bentar. Kalau
semua penduduk negeri ini melakukan hal yang sama,
kalau semua penguni bumi juga sama perilakunya,
hasilnya trilyunan bentar."

lvfenyelamatkan bt1111i dimulai dari hal-Ira/ kecil yang ada di
sekitar kita, mulai saat ini dan di sini.

07. Hidup Seorang Biksu

"Biksu, mengapa Anda tidak membuang saja jubah
usang itu. Sudah dimakan tikus lagi," tanya seorang
pengunjung biara.

25

"Dengarkan, Saudara, tentang kehidupan kami di
biara ini. Kami hanya memiliki beberapa jubah saja. Dan,
bila jubah saya ini robek, saya akan tambal-"

Seorang pengunjung yang Jain memotong
pembicaraan sang biksu, "Kalau sudah tidak mungkin
ditamballagi diapakan?"

"Kami gunting untuk dijadikan lap atau sarung
bantal dan yang sudah usang dipakai untuk kesed dan
kesed yang sudah rusak dibakar untuk ditaburkan sebagai
pupuk."

"Apakah tidak mematikan tanaman sebab kain
sekarang berasal dari serat sintetis?" seorang pengunjung
Jainnya Jagi berkomentar.

"Tidak. Sebab jubah kami berasal dari kapas alami
yang kami pintal sendiri."

Dalam pola konsumsi, kita hams mcmaksimalkan scgala produk
yang kita pakai.

08. Tisu dan Saputangan

"Hei, Siska, hari gini masih pakai saputangan,
katrok. Modern dikit gitu lho. Pakai tisu," komentar Maria
ketika melihat Siska melap mulutnya setelah makan.

"Siska kamu ini seperti gadis jadul. Modis dikit dong,"
Mita tidak mau ketinggalan mengomentari penampilan
Siska temannya.

"Kalian yang katrok. Hari gini tidak pake produk
daur ulang," balas Siska.

"Maksudmu apa, Sis? Apa yang didaur ulang?"
tanya Mita dan Maria.

26

"Kalau kalian pakai tisu berapa hutan yang harus
dibabat?"

"Apa hubungannya tisu dengan pembabatan
hutan?" Maria menambahi.

"Dengarya, tisu ini dibuat dari bubur kayu. Bila dalam
sehari satu orang memakai satu bungkus tisu, berapa
bungkus tisu yang dibutuhkan bila separuh penduduk
Indonesia memakai tisu hanya sekadar untuk lap mulut?"

Gaya hidup kita sering membebani a/am sedemikiar1 mpa.

09. Ngirit

"Hei, Minah, kalau cuci, kran airnya jangan dibuka
terus. Airnya terbuang percuma," kata Bu Siska kepada
pembantunya.

"Air tidak bayar saja kok ngirit. Air ini kan dari mata
air di belakang rumah," jawab Minah.

"lya. Tapi orang lain juga butuh air, Minah."
"Tapi, sumber air di belakang rumah tidak mungkin
habis, Bu."
Merasa tidak mungkin menjelaskan kepada Minah,
Bu Siska diam dan masuk ke dalam rumah.
Sore hari, tetangga sebelah rumah membakar
sampah dan asapnya masuk dapur. Kebetulan Minah
sedang memasak dan ia merasa sesak, lalu keluar dapur
dan memberi tahu Bu Siska.
"Bu, asap dari sebelah masuk dapur ... membuat
saya sesak napas. Tolong, Bu. beri tahu tetangga sebelah
agar memadamkan apinya."

27

"Asap tidak bayar saja kok ngirit," jawab Bu Siska.

Sepertinya alam memberikan banyak hal kepada kita secara
cuma-cuma, padahal ada harga yang hams kita bayar.

10. Karena Ada Departemen Kehutanan

"Bagaimana awal pertamanya hutan di daerah ini
habis?" tanya seorang wartawan yang meliput kerusakan
hutan.

"Awalnya yang dituduh merusak hutan adalah kami,
masyarakat adat. Kalau memang kami yang merusak
hutan, pasti sudah ratusan tahun yang lampau hutan ini
tidak berbekas," jawab tetua adat.

"Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan
hutan?" tanya wartawan itu.

"Pemerintah!" jawab tetua.
"Mengapa pemerintah?" tanya wartawan.
"Karena ada Departemen Kehutanan dan dialah
yang membuat jalan masuk ke hutan!" jawab tetua adat
singkat dan padat.

Karena diurus menteri, fwtan malah semakin dihabisi.

11. WC Terpaniang

Indonesia menjadi tuan rumah Kongres Asosiasi
Toilet lnternasional. Ketua Panita pelaksananya bingung
untuk menyajikan produk toilet Indonesia yang lain
daripada yang lain sebab teknologi pertoiletan belum
maju.

28

"Apa yang bisa kita sajikan sebagai produk unggulan
kita?"

"Ah, itu sih gampang, Pak. Ajak saja jalan-jalan di
pinggir kali," kata salah satu panitia.

"Apa maksudmu?"
"Para delegasi dari luar negeri akan takjub melihat
toilet terpanjang di dunia."

Ketika sungai masih dipandang sebagai tempat pembuangan
atau jamban, jangan /wrap negeri ini akmz selzat dan bersih

12. Kalian Harus Tahu

"Ca, kamu ini jadu/, pakai jas model lama. Beli
di mana?" tanya teman Cica dalam sebuah resepsi
perkawinan.

"lni tidak beli. lni jas punya ayahku dulu. Biar jadul,
tapi masih keren," jawab Cica.

"Ah, kamu ketinggalan mode. Kok kamu mau pakai
jas bekas ayahmu?" tanya teman Cica lagi.

Cica maju, tampil di depan teman-temannya yang
hadir di resepsi perkawinan itu, dan berkata, "Kalian harus
tahu, untuk memproduksi 1 kg katun butuh 270 liter air untuk
menanam kapasnya. Lha jas ini butuh berapa kilogram
kapas ... tinggal mengalikan. Makanya aku memakai jas
bapakku yang kau sebut jadul itu. Kalau sudah begini ...
kalian yang jadu/ ... tidak mau hidup dengan wawasan
ekologis."

Kita tidak pemah talw dan matt talw tentang proses produksi
yang kita pakai, talwnya hanya beli, pakai, dan bua11g

29

30

01. Truk Gandeng

"lbu-ibu, kita sebagai wanita harus bangga sebab
kita berbeda dengan laki-laki yang hanya mencari nafkah
saja. Kita perempuan punya peran ganda; mencari uang
dan juga mengasuh anak. ltulah yang disebut peran
ganda. ltulah kehormatan kita sebagai wanita," sambutan
ketua PKK ketika peringatan hari Kartini.

"Saya tidak setuju dengan pendapat ketua PKK.
Mestinya mengasuh anak itu bukan hanya tugas para ibu,
bapak juga. Kalau yang dikatakan lbu Ketua itu ibaratnya
kita wanita truk gandeng," komentar Siska, seorang ibu
muda.

"Apa maksud Bu Siska dengan truk gandeng?"
ketua PKK ingin penjelasan lebih lanjut dari Siska.

"Truk gandeng itu sudah bawa muatannya sendiri,

31

tetapi masih narik muatan yang ada di belakangnya. ltulah
kita, lbu-ibu," Siska menutup penjelasannya.

Ketidakadilan gender sering dibungkus dengan sebuah pujian
dan kehormatan yang sebenamya palsu.

02. Trafficking dan Trafficlight

"Pemerintah ini bagaimana, kasus perdagangan
perempuan atau trafficking selalu berulang, apa tidak
bisa mencegahnya? Kita kan punya polisi. Mereka
bisa dikerahkan untuk menuntaskan kasus trafficking,"
komentar seorang ibu yang baru saja membaca koran.

"Polisi disuruh menyelesaikan kasus trafficking?
Mencegah kendaraan yang menyerobot lampu merah di
trafficlight saja kedodoran, apalagi mencegah lalu lintas
perdagangan perempuan," sahut anak perempuannya
dari dalam kamar.

Ketidakseriusan negara melind11ngi warganya merttpakan
penyebab kas11s perdagangan man11sia selalu berulang dan

sebagian besar korbmmya adalah wanita

03. Tidak Pakai Baju

Budi berumur lima tahun. Ia diajak orang tuanya
berlibur ke pantai. Ia mandi di pantai, sedang ibu dan
bapaknya menunggui di warung makan pinggir pantai.
Ketika ia selesai mandi, ia mendekati ibunya.

"Apakah ada anak-anak lain yang mandi, Budi?"
tanya ibunya.

32

"Ya," jawab Budi singkat.
"Laki-laki atau perempuan?" ibunya Budi bertanya
lagi.
"Bagaimana aku tahu, Bu. Mereka tidak berpakaian,"
jawab Budi dengan palos sambil menghabiskan es krim di
tangannya.

Tanpa pakaian, laki-laki dan perempuan adalah sama.
Tidak dibeda-bedakan menurut struktur.

04. Polygon, Polytron, Poliklinik, Politeknik,
dan Polygami

"Akhir-akhir ini banyak pria yang berpoligami, ini
gejala apa? Apakah karena ada seorang tokoh nasional
yang terkenal berpoligami, lalu semua ikut-ikutan?" tanya
Deys kepada Umar.

"Bukan karena pengaruh seorang yang terkenal
itu," jawab Umar.

"Lalu, pengaruh apa?" Deys mendesak Umar.
"Ya karena kita sudah terbiasa dengan poly. Ada
polygon, polyklinik, Polytron, karena itu bagi sebagaian
orang, berpolygami sama seperti naik sepeda polygon,
sama seperti membeli tv Polytron, sama seperti masuk
poliklinik, atau bahkan sama seperti daftar di politeknik."

Semakin hari, di negeri ini orang semakin melm!ia hidup yang
hedonis. Harta, paha, dan takhta menjadi tritologi hidupnya
yang dibtmgkus dengan nilai-11ilai agama.

33


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Humor Dahsyat, Untuk Pembicara
Next Book
Im-2 Intisari Matematika 2, Untuk SMAMA kelas XI IPS