The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-08 03:38:53

[Erhard_Eppler]Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

Melindungi
Negara
dari Ancaman
Neoliberal
Erhard Eppler

Penerjemah: Makmur Keliat

Melindu ngi Negara
dari Ancaman Neoliberal

Penulis:
Erhard Eppler

Penerjemah versi Indonesia:
Makmur Keliat

Diterjemahka n dari versi Bahasa Inggris „The Return of the
State?“, penerjemah Alla n Blu nden, terbita n Foru mpress,

United Kingdom, 2009.

Editor Penyelaras bahasa versi Indonesia:
Dormia na Yustina Ma nuru ng

Penerbit: Friedrich-Ebert-Stiftu ng Ka ntor Perwakila n Indonesia
Jalan Kemang Selatan II No. 2A – Jakarta 12730/Indonesia
www.fes.or.id

Cetakan I, Desember 2009

Melindu ngi Negara dari Ancaman Neoliberal
Erhard Eppler, Friedrich-Ebert-Stiftu ng Ka ntor Perwakila n

Indonesia
Tebal: 344. + xviii. hala ma n

ISBN : 978-602-8855-00-2

Versi asli Jerma n „Auslaufmodell Staat?“ diterbitka n
©Suhrka mp Verlag Fra nkfurt a m Main 2005

Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupu n
sebagian dari buku ini dalam bentuk dan/ataw cara apa pu n

tanpa izin tertulis dari penerbit

Tidak u ntuk diperjual belika n.

Daftar Isi

Refleksi Historis Kembalinya Pera n “Negara”: Penga ntar v
xiv
Daftar Singkatan
1
Bab 1 Negara yang Bengis 33
67
Bab 2 Negara yang Dipreteli 95
121
Bab 3 Kekuasaan Globalisasi 153
177
Bab 4 Negara yang Diperlukan 199
219
Bab 5 Batas-Batas Swastanisasi 245
273
Bab 6 Perang dan Negara 299
327
Bab 7 Kehancuran Negara

Bab 8 Anca ma n-a nca ma n Terhadap Kebebasa n

Bab 9 Pasar, Masyarakat Mada ni da n Negara

Bab 10 Negara dan Nilai-nilai

Bab 11 Negara da n Partai-partai Politik

Bab 12 Masa Depan Negara

Lembar Tenta ng Jala n Kita Menuju Negara-Pasar?
Ta mbaha n

iii

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal
iv

Refleksi Historis Kembalinya Peran
“Negara”: Penga ntar

Bob Sugeng Hadiwinata
Guru Besar Ilmu Hubu ngan Internasional
Universitas Katolik Parahyangan Bandu ng

Dala m buku ini Erhard Eppler, ma nta n Menteri kerjasa ma
Pembangu nan Internasional (BMZ) Jerman dan salah satu
tokoh sentral Partai Sosial Demokrat (SPD), mencoba membuat
historiografi tentang negara. Dengan merujuk pada pengalaman
Eropa (terutama Jerman) dan Amerika Serikat, Eppler mencoba
mengulas bagaima na negara menghadapi masa keba ngkita n,
kejayaa n, da n kejatuha n. Di sa mping itu, Eppler juga mengulas
tentang berbagai wajah negara mulai dari wajah negara yang
bengis (malevolent) hingga wajah negara ya ng lembut da n penuh
dengan nilai-nilai moral.

Keseluruhan bahasan dalam buku ini dibu ngkus oleh tiga tema
besar: (1) keba ngkita n da n ekspa nsi negara, teruta ma pada masa
pera ng, dala m memobilisasi aparat kea ma na n u ntuk menja min
kea ma na n nasional; (2) keba ngkita n liberalisme/neo-liberalisme
yang mengurangi secara signifikan fu ngsi dan peran negara; dan
(3) kekuata n globalisasi ya ng mendorong tu mbuh nya regionalisme
sehingga mengharuskan negara u ntuk melakukan transformasi

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

sifat, fu ngsi dan peran.
Diskusi tentang negara sesu ngguhnya telah dilakukan berbagai

pakar politik sejak dekade 1970-an. Pada tahu n 1979, pakar politik
Universitas Harvard, Theda Skocpol, dala m buku nya States and
Social Revolutions menu njukka n keterkaita n a ntara “negara”
dengan “revolusi sosial” dengan menyatakan bahwa berbagai
revolusi sosial di Perancis, Rusia dan China terjadi akibat krisis
kenegaraa n ya ng diala mi rejim la ma (old-regime states crises)
da n mulainya proses konsolidasi rejim baru (new-regime states)
yang lebih stabil dan mendapat duku ngan luas. Beberapa tahu n
kemudia n, Peter Eva ns, Dietrich Rueschemeyer, da n Theda
Skocpol mengedit sebuah karya fenomenal berjudul Bringing
the State Back In (1985) ya ng menu njukka n pera n penting
negara dala m melakuka n investasi sektor publik (infrastruktur,
pendidika n, pelaya na n publik, su mberdaya ala m, dll.), distribusi
kesejahteraa n melalui sistem perpajaka n, da n membuat da n
mengimplementasika n kebijaka n sosial (pelaya na na n kesehata n,
tu nja nga n hari tua, ja mina n sosial, dll.) denga n merujuk pada
pengalaman berbagai negara Eropa, Asia dan Amerika Latin. Di
luar karya tersebut, Bob Jessop dala m buku nya State Theory:
Putting Capitalist States in their Place (1990) melakuka n review
terhadap karya-karya kau m neo-Marxis (Antonio Gramsci, Nicos
Poula ntzas, Louis Althusser, da n Ralph Miliba nd) ya ng pada
dasarnya mengakui pentingnya peran negara dalam melakukan
distribusi kesejahteraa n da n sosialisasi ideologi kelompok
penguasa (the ruling class). Masih ba nyak lagi karya-karya lain
tenta ng negara, tetapi mengingat keterbatasa n tempat ha nya
ketiga karya fenomenal tersebut di atas ya ng dapat disebutka n
pada kesempata n ini.

Buku-buku teks tersebut di atas cenderu ng ha nya dikonsu msi
kala nga n terbatas, teruta ma kelompok akademisi da n para
peneliti karena pembahasannya yang bersifat akademis-teoretis.
Berbeda dengan buku-buku teks tersebut di atas, karya Eppler
ini ditulis dengan gaya bahasa yang tidak terlalu akademis
sehingga lebih mudah dicerna oleh kau m awam. Dengan berbagai

vi

ilustrasi historis, Eppler mencoba membuat pembaca lebih mudah
mencerna pesan yang disampaikannya dengan target yang lebih
luas, termasuk politisi da n kau m awa m. Ha nya saja konteks Eropa
(Jerman) – dan pada skala lebih rendah Amerika Serikat – yang
sa ngat kental di dala m buku ini mengharuska n penerjemah u ntuk
bekerja ekstra-keras agar membuat buku ini tidak terlalu asing
bagi pembaca di luar Eropa.

Buku ini memulai pembahasan dari karakter bengis negara
denga n merujuk pada pengala ma n Jerma n di bawah kekuasaa n
Adolf Hitler. Eppler mencatat ta nggal 30 Ju ni 1934 sebagai awal
mu nculnya negara bengis (malevolent state) ketika pada saat itu
Hitler melakuka n pembersiha n terhadap kau m konservatif ya ng
dianggap berpotensi menghadang ambisinya u ntuk menguasai
seluruh Eropa. Sejak saat itu hingga sekitar 10 tahu n ke depa n,
Hitler menggu nakan segala cara – termasuk yang paling barbar
sekalipu n – u ntuk berkuasa di seluruh Eropa. Masa itulah,
bagi Eppler, merupaka n masa di ma na negara Jerma n di bawah
kekuasaa n Hitler menu njukka n wajah nya ya ng paling keja m
yang tidak saja mengobarkan peperangan tetapi juga menciptakan
benca na kema nusiaa n ya ng luar biasa.

Pada bagian lain, Eppler menu njukkan bahwa setelah Perang
Du nia Kedua usai, semangat liberalisme di kalangan para pakar
da n pemimpin negara telah menciptaka n kondisi penuru na n pera n
negara (stripping down the state). Menurut Eppler, kejadia n nya
bermula pada April 1947, ketika seju mlah pemikir liberal – a ntara
lain Friedrich August von Hayek, Ludwig von Mises, Walter
Eucken, Karl Popper, Wilhelm Ropke, da n Milton Friedma n –
berku mpul di Paris da n memutuska n pembentuka n komu nitas
ya ng khusus mempromosika n liberalisme ke seluruh du nia. Agak
menghera nka n bahwa Eppler lebih memilih konferensi terbatas
di Paris daripada konferensi pada skala lebih besar di Bretton
Woods, New Hempshire, Amerika Serikat, ya ng beberapa tahu n
sebelu m nya mempertemuka n para pakar ekonomi da n pembuat
kebijaka n u ntuk memutuska n sistem ekonomi du nia ya ng
dita ndai denga n pembentuka n lembaga keua nga n internasional

vii

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

seperti Ba nk Du nia da n IMF. Wawasa n Eppler ya ng Eropa-sentris
mu ngkin mendasari alasan mengapa dia lebih memilih Paris
daripada Bretton Woods sebagai awalnya keba ngkita n liberalisme
dan penuru nan peran negara.

Sebagaima na kita ketahui, liberalisme tidak ha nya mengura ngi
pera n negara di sektor politik da n ekonomi, tetapi juga secara
signifikan mengurangi su mber pemasukan negara. Keputusan
pemerintah negara-negara liberal – seperti Amerika dan Inggris
– u ntuk menuru nkan pajak agar mendorong pengusaha u ntuk
melakuka n investasi. Da mpak dari kebijaka n ini adalah rakyat
– temasuk kau m miskin – harus menanggu ng sendiri biaya
pendidika n, pelaya na n kesehata n, da n berbagai bentuk pelaya na n
publik lainnya. Di Jerman, Eppler menjelaskan bagaimana
kebijaka n pengura nga n pajak ya ng dilakuka n pemerintaha n
koalisi Gerhard Schroeder-Joscha Fischer telah mengecilka n
pera n negara teruta ma ketika pemerintah dihadapka n pada
keharusa n u ntuk mera mpingka n birokrasi da n menghapus
tu nja nga n kesehata n kepada masyarakat.

Penyebara n liberalisme ke seluruh du nia makin intensif,
teruta ma ketika pada tahu n 1989 negara-negara donor berku mpul
di Washington, D.C. da n menghasilka n apa ya ng oleh Joh n
Willia mson disebut “Washington Consensus”. Kesepakata n
ini kemudia n dipakai sebagai credo oleh Ba nk Du nia da n IMF
yang mensyaratkan setiap negara yang ingin mendapat fasilitas
pinja ma n dari kedua lembaga tersebut harus terlebih dahulu
menyepakati menerapka n “kebijaka n ekonomi liberal” ya ng
meliputi reformasi kebijaka n fiskal, suku bu nga ya ng ditentuka n
pasar, perdaga nga n bebas, pasar bebas, privatisasi, deregulasi, nilai
tukar mata ua ng ya ng berbasis pasar, da n sebagainya. Akhir-akhir
ini, krisis ekonomi global telah membuat para pemikir liberal
mengakui bahwa globalisasi pemikiran liberal telah menciptakan
“fu ndamentalisme pasar” yang membuat praktek bisnis terlalu
bebas bahkan nyaris tidak terjangkau oleh aturan pemerintah.

Bahkan jauh sebelu m terjadinya krisis, John Williamson
(penemu istilah “Washington Consensus”) menyataka n pada

viii

sebuah konferensi di Berlin pada tahu n 2004 bahwa setelah 15
tahu n berselang dia menyadari bahwa peran aktif negara dalam
pemba ngu na n ekonomi ternyata diperluka n. Denga n nada ya ng
sa ma, Fra ncis Fukuya ma, pemikir liberal AS da n penulis The
End of History and the Last Man (1991), dala m buku nya State-
Building: Governance and World Order (2004) menyataka n bahwa
kehadira n negara ya ng kuat sa ngat diperluka n teruta ma dala m
membuat dan memberlakukan aturan dan menjaga efisiensi
birokrasi u ntuk menghindari terjadinya penyuapa n, korupsi,
kolusi, da n sebagainya serta menja min ada nya tra nspara nsi
da n aku ntabilitas sektor publik maupu n swasta. Krisis ekonomi
global tahu n 2009 yang didahului dengan krisis lembaga-lembaga
keua nga n swasta di AS ternyata membuktika n kebenara n
pernyataan Williamson dan Fukuyama bahwa praktek bisnis
ya ng tidak terkontrol ternyata memudahka n praktek ma nipulasi,
penipua n, da n korupsi di sektor swasta ya ng pada gilira n nya
meminta pemerintah/negara u ntuk melakuka n “bail-out”.

Aspek lain dari liberalisme yang dipertanyakan oleh Eppler
adalah kebijaka n privatisasi, yakni pengaliha n pengelolaa n
pelaya na n publik dari sektor negara ke pihak swasta. Denga n
mengambil contoh pengalaman Inggris dan Jerman, Eppler
menyataka n bahwa privatisasi jasa pelaya na n kereta api telah
mengakibatkan rendahnya mutu pelayanan (jadwal sering
terla mbat, fasilitas toilet ya ng buruk, dll.). Sementara itu
privatisasi penyediaan air bersih di Bolivia mengakibatkan
naiknya harga langganan air yang mengakibatkan penduduk
beramai-ramai melakukan demonstrasi memprotes pihak
pengelola, Bechtel Corporation, yang mengharuskan perusahaan
tersebut menarik diri. Di Amerika Serikat, pengelolaan penjara
oleh pihak swasta telah meningkatkan secara signifikan ju mlah
penghu ni penjara dan jangka waktu penahanan karena pihak
pengelola berkepentinga n u ntuk memperbesar omset denga n cara
memasukka n ora ng seba nyak-ba nyaknya da n memperpa nja ng
masa penahanan setiap terpidana. Sementara itu di Amerika
Serikat, Eropa da n Afrika, privatisasi sektor kea ma na n, yakni

ix

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

dibuka nya kesempata n bagi sektor swasta u ntuk menyediaka n
perlidu nga n kea ma na n, telah mena mbah komplikasi perdaga nga n
senjata ilegal, penyelu ndupa n da n konflik di negara-negara rawa n
konflik. Privatisasi di sektor ini telah memu nculka n berbagai
kelompok PMCs (Private Military Compa nies) seperti Executive
Outcomes (Afrika Selata n), Sa ndline International (Inggris),
Military Professional Resources Incorporated/MPRI (Amerika
Serikat), dan banyak lagi yang lainnya. Sudah bukan rahasia lagi
bahwa PMCs da n berbagai kelompok para-militer seperti “Arka n
Tigers” di Balka n, FARC di Kolombia, LTTE di Sri La nka, milisi
pro-Integrasi di Timor Timur, da n sebagainya terlibat dala m
berbagai konflik internal di Serbia, Kolombia, Sierra Leone,
Liberia, Irak, Afghanistan, Indonesia dan sebagainya. Keterlibatan
mereka seringkali menciptaka n komplikasi konflik ya ng seda ng
berlangsu ng, perdagangan senjata ilegal, penyelu ndupan,
da n sebagainya. Dala m kondisi semaca m inilah pera n negara
ta mpaknya sa ngat dibutuhka n u ntuk menciptaka n ketertiba n
(order) di tengah-tengah ketidakpastia n akibat perilaku bisnis
ya ng tidak terkontrol, privatisasi ya ng membeba ni masyarakat,
da n peningkata n kompleksitas konflik internal ya ng melibatka n
kau m sipil bersenjata.

Hal lain yang oleh Eppler dianggap berperan penting bagi
kela ngsu nga n negara adalah kekuata n globalisasi. Saya ngnya,
Eppler lebih memfokuska n pembahasa n pada globalisasi ekonomi
sehingga kita kehila nga n kesempata n u ntuk mengetahui a nalisis
briliannya terhadap sisi lain globalisasi seperti globalisasi
politik (demokratisasi) da n globalisasi budaya (Westernisasi da n
Amerikanisasi). Pembatasan bahasan Eppler pada globalisasi
ekonomi menegaska n pa nda nga n para pakar globalisasi bahwa
globalisasi mu ncul dala m wajah ekonomi karena melibatka n
teknologi, modal besar, da n perusahaa n Tra nsnasional (TNCs).
Globalisasi, menurut Eppler, menciptaka n kompetisi di sektor
perdagangan dan investasi. Dengan modal rendahnya upah buruh,
negara berkemba ng memberika n a nca ma n bagi negara maju
yang melakukan offset dengan pengembangan teknologi u ntuk

kemudia n berkonsentrasi pada produk padat-teknologi (komputer,
mesin-mesin, peralata n elektrik, da n lain-lain). Kompetisi ya ng
makin ketat ini pada gilira n nya mendorong negara-negara u ntuk
membentuk organisasi regional. Percepatan integrasi Uni Eropa
sejak dua dekade terakhir ini a ntara lain akibat kebutuha n
mendesak u ntuk membentuk organisasi regional dalam rangka
peningkata n bargaining power. Proses serupa ya ng terjadi
di kawasa n lain seperti Asia Tenggara (ASEAN), Asia Timur
(EAC), Asia Selata n (SAARC), Afrika (OAS) da n Amerika Latin
(MERCOSUR) kura ng lebih dila ndasi oleh alasa n ya ng sa ma.

Namu n demikian, Eppler merasa yakin bahwa proses integrasi
regional – termasuk yang sedang dijalani Uni Eropa sekalipu n
– tidak akan pernah melenyapkan nation-states (negara bangsa).
Sebaliknya, negara-bangsa akan terus-menerus eksis, dan dalam
konteks Uni Eropa da n berbagai orga nisasi regional ya ng ada
ha nyalah sebuah komu nitas negara (community of states) ya ng
masing-masing negara tetap memiliki relevansi bagi setiap
warga nya. Globalisasi da n kecenderu nga n regionalisme ha nya
akan mendorong negara u ntuk melakukan transnasionalisasi
peran tradisionalnya dari sekadar penjaga integritas teritorial dan
kedaulata n nya saja menuju kepada apa ya ng oleh Ulrich Beck
da n Edgar Gra nde (2007 [2004]) disebut “transnational state”,
yakni negara yang mempertahankan dan mengembangkan
kekuasaa n nya melalui kerjasa ma regional/internasional, keter-
libatan dalam proses negosiasi berbagai aturan internasional,
da n keterlibata n dala m proses pembentuka n global governance
(WTO, G-20, Climate Cha nge, dll.).

Fakta-fakta tersebut membuat Eppler semakin meyakini bahwa
kehadira n negara pada tingkat “necessary” (sebatas diperluka n)
semakin penting. Gagasan “necessary state” menurut Eppler
menampilkan negara dalam wajah yang lembut dan mengemban
nilai-nilai kenegaraa n ya ng esensial seperti demokrasi,
konstitusionalisme, penegaka n huku m, da n penghargaa n terhadap
hak azasi ma nusia (hak sipil, politik, sosial, ekonomi da n budaya).
Dengan merujuk pada sistem negara federal Jerman, Eppler

xi

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

menyatakan bahwa “necessary state” hendaknya menjalankan
sekurang-kurangnya empat macam peran. Pertama, negara harus
memega ng monopoli pemu nguta n pajak kepada rakyat dala m
ra ngka distribusi kesejahteraa n, teruta ma u ntuk melakuka n
subsidi sila ng dari kelompok kaya kepada kelompok ya ng miskin.
Kedua, negara harus menegakka n kedaulata n huku m di dala m
wilayah teritorialnya tanpa harus mencampuri wilayah huku m
da n teritori negara lain u ntuk menjaga ketertiba n internasional.
Ketiga, negara harus membentuk dan terus mengembangkan
identitas nasional sehingga penduduk yang tinggal dalam suatu
wilayah tertentu dan berada dalam suatu entitas bangsa menyadari
bahwa mereka merupaka n bagia n dari komu nitas negara-ba ngsa
yang berdaulat. Keempat, negara harus terus-menerus berupaya
u ntuk mencapai tujua n kesejahteraa n bersa ma bagi seluruh
warga nya da n melakuka n intervensi seperlu nya dala m kera ngka
“social interventionist state” u ntuk menja min terjadinya keadila n
sosial dan politik bagi seluruh warga.

Eppler menyadari bahwa pada era di ma na isu kea ma na n
mulai bergeser dari isu militer kearah isu-isu non-militer
(penyakit menular, kerusaka n lingku nga n hidup, pela nggara n
HAM, sengketa perdaga nga n, perdaga nga n ma nusia, dll.) negara
makin ditu ntut u ntuk memba ngu n hubu nga n kemitraa n denga n
masyarakat sipil global (global civil society) – ya ng disebut
Eppler denga n istilah “sektor ketiga” – seperti geraka n sosial
global, jaringan masyarakat sipil yang mengemban isu khusus,
NGO internasional, dll. karena bagaimanapu n juga civil society
adalah instru men paling orisinal yang dipakai warga u ntuk
menyalurkan aspirasi dan melakukan apa yang mereka inginkan.
Namu n demikian, Eppler memperingatkan masyarakat du nia
agar tidak terlalu terbena m ke dala m eforia keba ngkita n civil
society, denga n merujuk pada keba ngkita n “uncivil and barbaric
society ” yang menggu nakan metode barbar u ntuk menakuti
lawa n-lawa n nya seperti dilakuka n kelompok-kelompok fa natik,
chauvinis, dan kriminal yang mengkalim diri sebagai bagian dari
civil society di beberapa negara Afrika, Balkan, eks-Uni Soviet,

xii

dan Asia.
Pada dasarnya buku karya Eppler ini sangat kaya akan fakta

sejarah dan pengalaman politik penulisnya membuatnya pantas
u ntuk tidak saja menjadi bahan bacaan bagi para akademisi,
politisi, peminat masalah politik, dan kalangan awam, tetapi
dapat juga dipakai sebagai salah satu buku referensi akademis bagi
mahasiswa, khususnya u ntuk bidang-bidang seperti ilmu politik,
huku m tata negara, sosiologi, ilmu pemerintahan, administrasi
publik dan ilmu hubu ngan internasional.
Bandu ng, 21 Desember 2009.

xiii

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

Daftar Singkatan

ARD Arbeitsgemeinschaft der öffentlich-rechtlichen
Rundfunkanstalten der Bundesrepublik
AS Deutschland Konsorsiu m lembaga-lembaga
ASEAN penyiaran publik
BBC Amerika Serikat
BMZ Association of Southeast Asian Nations
– Perhimpu na n Ba ngsa-ba ngsa Asia Tenggara
CDU British Broadcasting Corporation - Perusahan
CEO Penyiaran Ingrris
CIA Bundesministerium für Zusammenarbeit
CNN – Kementerian Kerjasama Pembangu nan
CSU Internasional Jerman
DCIS Christlich Demokratische Union Deutschlands
- Partai Uni Demokrat Kristen Jerman
DDR Chief Executive Officer - Petinggi Eksekutif
DGB Utama Perusahan
EAC Central Intelligence Agency - Dinas Rahasia
EU Amerika Serikat
xiv Cable News Network - Jaringan televisi berita
kabel
Christlich-Soziale Union in Bayern - Partai Uni
Sosial Kristen Bavaria
Democratic Constitutional Interventionist
State - Negara Demokratik Konstitusional
Intervensionis
Deutsche Demokratische Republik – Republik
Jerma n Timur
Deutscher Gewerkschaftbund – Federasi Serikat
Buruh Jerman
East African Community – Masyarakat Afrika
Timur
European Union - Uni Eropa

FARC Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia

– Angkata n Bersenjata Revolusioner Kolombia

FDP Freie Demokratische Partei - Partai Demokratik

Bebas

G-20 The Group of Twenty – Kelompok Dua Puluh

GDP Gross Domestic Product - Produk Domestik

Bruto

GDR German Democratic Republic - Republik

Demokratik Jerman

GNP Gross National Product - Produk Nasional Bruto

HAM Hak Asasi Manusia

ICE Intercity-Express - Perusahan Jaringan Keretapi

Cepat Antar Kota/Negara

IMF International Monetary Fund - Dana Moneter

Internasional

LTTE Liberation Tigers of Tamil Eelam - Pembebasa n

Harimau Ta mil Eela m

MERCOSUR Mercado Común del Sur – Organisasi Negara-

negara Amerika Selatan

NATO North Atlantic Treaty Organization - Orga nisasi

Keamanan Atlantik Utara

NCO Non-Commissioned Officer - Perwira Militer

Biasa

NGO Non-Governmental Organisation - Organisasi

Non Pemerintah

NSDAP Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei

- Partai Pekerja Sosialis Nasional Jerma n

OAS Organisation of Amrican States – Organisasi

Negara-neagar Amerika

OECD Organization for Economic Co-orperation and

Development - Orga nisasi Kerjasa ma Ekonomi

dan Pembangu nan

PCI Partito Comunista Italiano - Partai Komu nis

Itali

PDS Partei des Demokratischen Sozialismus - Partai

xv

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

PMC Demokratik Sosialis
PSO Private military companies - Perusahan-
RAI perusahan militer swasta
R&D Preventive security order - Tata na n Kea ma na n
RFJ Ya ng Preventif
SA Radiotelevisione Italiana - Lembaga penyiaran
pelayanan publik Itali
SAARC Research and Development - Penelitian dan
Pengemba nga n
SS Republik Federal Jerma n
SED Sturmabteilung - Tentara ya ng dilatih secara
SPD khusus u ntuk melakuka n sera nga n kekerasa n di
TNCs Jerman dalam masa Hitler
UK South Asian Association for Regional
UN Cooperation – Asosiasi Negara-negara Asia
USSR Selata n
UNESCO Schutzstaffel - Kelompok tentara intelijen pada
masa Hitler
UU Sozialistische Einheitspartei - Partai Persatuan
WASG Sosialis Jerman
Sozialdemokratische Partei Deutschlands -
Partai Sosial Demokrat Jerman
Transnational Corporations – Perusahaa n
Tra nsnasional
United Kingdom - Inggris
United Nations - Perserikata n Ba ngsa Ba ngsa
Union of Soviet Socialist Republics - Republik
Sosialis Uni Soviet
United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organization - Organisasi Pendidikan,
Ilmu Pnegetahuan dan Kebudayaan PBB
Undang-u ndang
Arbeit und Soziale Gerechtigkeit – die
Wahlalternative - Buruh da n Keadila n Sosial
- Pemilih Alternatif

xvi

WDR Westdeutscher Rundfunk Köln - Penyiara n
WTO Jerma n Barat di kota Köln
ZDF World Trade Organization - Orga nisasi
Perdagangan Du nia
Zweites Deutsches Fernsehen - Televisi Jerma n
Kedua

xvii

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal
xviii

Negara yang Bengis

Bab 1

Negara yang Bengis

I. ”Negara telah berusaha u ntuk menghancurkan hidupnya
dala m empat peristiwa ya ng terpisah. Na mu n, dia lebih kuat”.
Demikianlah judul berita yang memaparkan kisah sedih Molly
Kelly, seora ng warga aborigin Australia, ya ng termuat dala m
lembaran tambahan surat kabar German Süddeutsche Zeitung
pada 10 Desember 2004. Dalam laporan dramatis dan uraian
menyentuh itu, kita mengetahui bahwa pemerintah Australia
sela ma ha mpir 60 tahu n telah menjala nka n kebijaka n pembaura n
bagi orang aborigin u ntuk menjadi bagian penduduk kulit putih
dan setiap alat yang digu nakan u ntuk mencapai tujuan itu
dia nggap absah –termasuk melakuka n penculika n terhadap a nak-
anak. Berulangkali Molly mampu u ntuk meloloskan diri dari
kebijaka n pembaura n ya ng dipaksaka n itu denga n melarika n diri
dari bahaya da n kesulita n.

Bagi jurnalis yang sedang mengikuti pelatihan, biasanya selalu
ditanamkan ajaran bahwa u ngkapan kata yang lebih tepat selalu
lebih baik dibandingkan dengan yang kurang tepat. Jadi mengapa

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

judul kepala berita nya tidak dibuat seperti ini: “Keingina n
Molly u ntuk hidup lebih kuat daripada pemerintah Australia”?
Mengapa “negara” ya ng disebut, da n buka n pemerintah, ya ng
telah menga nca m kehidupa n Molly. Da n tidak ha nya cara-cara
yang digu nakan oleh negara disebutkan tidak manusiawi: negara
juga disebutkan secara aktif berusaha u ntuk menghancurkan
kehidupa n Molly kecil itu, da n berusaha melakuka n nya denga n
keteguha n ya ng tiada habisnya denga n mena mbahka n kalimat
“pada empat peristiwa ya ng terpisah”. Inilah ga mbara n ya ng
diberika n u ntuk mengetahui seperti apakah “negara” itu. Suatu
kekuata n ya ng bengis (malevolent) denga n ra nca nga n-ra nca nga n
terhadap kehidupa n kita, da n suatu kekuata n ya ng tidak ragu-
ragu u ntuk melakukan tindakan sadis, yang selalu berusaha
u ntuk menindas. Tetapi kita dapat melawa n da n kita harus
melawa n nya.

“Ketika negara mengorbankan orang-orang yang tidak
bersalah”, demikia nlah judul kepala berita pada bagia n ulasa n seni
ya ng termuat dala m jurnal berita Jerma n Die Zeit (No.29/2004).
Tulisa n ya ng dibuat seora ng penulis provokatif itu merupaka n
suatu artikel pendek ya ng ditulis denga n tera mpil da n serius.
Tulisa n itu mengulas suatu a ma ndemen terhadap UU Kea ma na n
Udara Jerman, yang menyatakan bahwa suatu pesawat udara
yang dibajak, termasuk pesawat udara yang memuat penu mpang,
dapat ditembak jatuh atas perintah Menteri Pertahanan jika
pesawat itu terlihat tengah digu nakan sebagai suatu senjata
ya ng mematika n ora ng-ora ng lain”. Setelah mengulas berbagi
argu men baik yang menduku ng dan yang menentang, penulisnya
menyimpulkan bahwa “Bagian 14, alinea 3 UU Keamanan Udara
(yang mengijinkan penembakan jatuh suatu pesawat udara pada
situasi-situasi khusus seperti yang disebutkan) sangat dapat
dibenarka n”, teruta ma denga n alasa n ora ng-ora ng ya ng tak
bersalah pada akhirnya akan terbu nuh juga jika tidak diambil
tindakan penembakan .

Tentu saja penulis artikel ini tidak mengemba n ta nggu ng
jawab terhadap judul berita tersebut. Seluruh surat kabar

Negara yang Bengis

mempekerjaka n para spesialis u ntuk pembuata n judul berita.
Bagi spesialis, apakah judul berita itu sesuai atau tidak dengan
isi artikel, buka nlah ya ng teruta ma, u ntuk tidak menyataka n
tidak terlalu penting. Kepedulia n nya adalah judul kepala berita
itu diterima sebagai sesuatu kenyataa n ya ng tidak menyena ngka n
dan memukau pembaca, sesuatu yang selalu diharapkan oleh
spesialis ya ng telah dilatih secara psikologis itu. Da n penulis judul
kepala berita itu sa ngat menyadari bahwa kata “negara” membawa
suatu konotasi negatif. Istilah Jerma n Rechstaat – ya ng berarti
“negara konstitusional” - menga ndu ng makna positif. Demikia n
juga halnya banyak orang memaknakan kata Sozialstaat - negara
sosial atau kesejahteraa n - sebagai hal ya ng positif. Tetapi kata der
Staat - negara - merupakan suatu proposisi yang sangat berbeda
yaitu: suatu sistem yang membawa bencana, tertutup, sangat
kuat, dan berbahaya. Jadi bukankah dengan demikian negara
aka n selalu membawa korba n, bahka n ora ng-ora ng ya ng tidak
bersalah sekalipu n?

Terlebih lagi negara ta mpak sebagai suatu sistem ya ng sa ngat
jauh dari kehidupa n masyarakat da n terlihat a neh. Ba nyak
ora ng mengucapka n denga n rasa ba ngga “ini adalah kotaku”, da n
beberapa ora ng aka n menyataka n tenta ng Baden-Württemberg,
Saxony atau Jerman pada u mu mnya dengan kalimat, “ini adalah
wilayahku” atau “ini adalah negeriku”. Tetapi siapakah pernah
menyataka n “ini adalah negaraku”? Mema ng sa ngat sukar u ntuk
mencintai suatu negara - yang membenarkan pandangan mantan
Presiden Federal Jerma n, Gustav Heinema n n. Tetapi buka nkah
seora ng demokrat seharusnya melihat negara konstitusional
demokratik sebagai bagian dari harta benda miliknya, negara yang
diida mka n nya sebagai rakyat (citoyen), negara ya ng diduku ngnya
melalui pemberian pajak, negara yang dibela dengan raganya?
Jadi mengapa hal seperti ini tidak terwujud secara nyata dalam
kasus Jerma n? Mengapa istilah “pelaya n negara” (servant of the
state) kini makna nya telah berubah jika diba ndingka n denga n
makna nya pada abad ke-19 Prusia, yaitu menjadi sesuatu ya ng
tidak disukai? Mengapa, ketika melukiska n negara tengah

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah, suatu penerbit
surat kabar memperoleh persetujuan dan dapat bertu mpu pada
kepentinga n para pembaca nya?

II. Susu nan kalimat yang tampak layak dan efektif yang dibuat
penulis judul kepala berita di Die Zeit itu juga berma nfaat u ntuk
memperhatikan sesuatu yang di masa lalu tidak pernah dipikirkan
oleh para pembuat aturan huku m di parlemen yaitu: bagaimana
melindu ngi masyarakat dari serangan-serangan bu nuh diri.

Hingga saat ini seluruh perenca naa n kea ma na n telah
dibuat atas dasar asu msi bahwa para penyera ng (aggressors)
berkeingina n u ntuk mempertaha nka n kela ngsu nga n hidupnya.
Karena itu apakah negara tengah berhadapan dengan seorang
pelaku kejahata n ya ng menggu naka n kekerasa n atau denga n
suatu negara yang bermusuhan, seluruh upaya yang dilakukan
bermuara pada kegiata n melakuka n penggentara n (deterrence),
baik dala m bentuk pemberia n huku ma n atau denga n kekuata n
militer. Tapi sea ndainya penyera ng itu tidak peduli terhadap
kela ngsu nga n hidupnya, upaya apa ya ng harus dilakuka n?
Orang yang telah mati tidak dapat dihuku m dan orang-orang
yang memang berhasrat u ntuk mati tidak dapat digentarkan
denga n a nca ma n kekuata n ya ng mematika n. Itulah sebabnya
mengapa Bu ndestag Jerman menyetujui amandemen terhadap UU
Keamanan Udara, yang tidak mu ngkin terbayangkan sebelu m
peristiwa 11 September 2001 yaitu: Angkatan Udara Jerman
diijinkan u ntuk menembak jatuh pesawat udara penu mpang
yang dibajak manakala pesawat itu telah berubah menjadi bom-
bom terba ng. Negara, ya ng memiliki suatu kewajiba n u ntuk
melindu ngi kehidupa n warga nya, kini harus memperpendek masa
hidup dari manusia yang dilindu nginya itu dalam sekian menit.
Seandainya dipaksa u ntuk memberikan perintah penembakan itu,
Mantan Menteri Pertahanan Jerman, Peter Struck menyatakan
bahwa dia akan langsu ng mengu ndurkan diri setelah perintah
itu dikeluarka n. Pernyataa n nya ini memberika n suatu catata n
penting yaitu mengenai manusia yang tidak sempurna yang tengah

Negara yang Bengis

diminta u ntuk melaksanakan sesuatu yang sangat mengerikan
sehingga seandainyapu n dilakukan dirinya akan sangat sukar
u ntuk mela njutka n kehidupa n da n pekerjaaa n sebagaima na
biasa nya. Karena itu suatu bentuk baru dari kekerasa n non-negara
menghadapkan negara dengan suatu tantangan yang tidak pernah
ada sebelu m nya, dan menempatkan suatu beban yang kadangkala
tidak dapat diterima oleh ora ng-ora ng ya ng bekerja bagi negara.
Negara tidak hanya tidak populer: negara juga menjadi suatu
keniscayaa n (indispensable). Ia tidak ha nya dikenal dala m na ma
ya ng buruk; tetapi juga diminta u ntuk membuat kebaika n denga n
cara yang sama sekali baru. Karena yang dipertaruhkan pada
abad ke-21 adalah monopoli negara dala m penggu naa n kekerasa n
maka dengan sendirinya pertaruhan itu merupakan pertaruhan
terhadap keberadaa n negara.

III. Bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi siapapu n yang telah
mempelajari perjala na n sejarah abad ke-20, bahwa negara pada abad
ke-21 tengah berhadapa n denga n suatu kesulita n besar. Semakin
jauh kita meninggalka n abad ke-20 itu, suatu abad negara-ba ngsa
(nation-state), maka semakin sukar bagi kita u ntuk memaha mi
mengapa terjadi pembantaian terhadap manusia pada dua perang
du nia; da n kita semakin merasa terhina ketika mengetahui
bagaima na monopoli negara dala m penggu naa n kekerasa n - tidak
hanya di bawah Adolf Hitler dan Joseph Stalin - telah berubah
menjadi monopoli dala m melakuka n pembu nuha n. Abad ke-20
adalah abad kekerasa n, abad kekerasa n ya ng digerakka n oleh
negara, abad kekuata n eksekutif ya ng tidak terkendalika n.

Ketika ratusa n tentara Amerika Serikat dibu nuh kelompok
pemberontak di Irak, dalam kuru n satu bulan, duku ngan dalam
negeri u ntuk pera ng itu mulai memudar. Saat pera ng du nia
pertama rata-rata 250 tentara Rusia, Perancis, Jerman, Inggris,
Italia, Serbia, Hongaria, dan Amerika terbu nuh u ntuk setiap
jam nya selama empat tahu n tiga bulan. Perancis, dengan ju mlah
penduduk 40 juta jiwa, kehila nga n 1,7 juta jiwa penduduk usia
mudanya, atau sama dengan sekitar 4 % dari ju mlah penduduk

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

negeri itu. Jerma n kehila nga n 2 juta dari 70 juta penduduknya,
atau hampir sekitar 3% dari ju mlah penduduknya. Pembu nuhan
besar-besara n di Verdu n, ketika Jenderal Erich von Valkenhayn
mengerahka n pasuka n da n su mber-su mber daya nya denga n
tujua n “memusnahka n tentara Pera ncis”, tidak juga memberika n
efek jera u ntuk dapat mencegah terjadinya Perang Du nia Kedua,
dima na Uni Soviet sendiri telah mengakibatka n kematia n lebih
dari 20 juta jiwa penduduknya. Angka kematia n rata-rata per ja m
dala m pera ng itu adalah sekitar seribu ora ng, dima na korba n nya
tidak hanya tentara, tetapi juga orang-orang sipil yang meninggal
karena pemboma n, da n mereka ya ng menjadi korba n-korba n
pembu nuhan.

Dan sesuatu yang sangat sukar u ntuk dipahami pada saat ini
adalah tenta ng sa nak saudara dari korba n, teruta ma ibu da n istri
dari para tentara itu, bagaima na mereka menjala ni kehidupa n nya
dengan sabar tanpa mengu ngkapkan penderitan-penderitaan
yang mereka alami. Mereka menangis, banyak dari mereka putus
asa, tetapi mereka tidak melakukan protes. Di Jerman banyak
ora ng tua ya ng berduka menuliska n obituari sebagai kena nga n
bagi yang dicintai dan telah tiada. Dalam obituari itu mereka
menuliska n kalimat kena nga n bagi putera-putera mereka ya ng
telah tiada “dala m kesediha n ya ng memba nggaka n”.

Bagaimana hal-hal seperti itu dapat terjadi di Eropa di masa
lalu? Eropa ya ng Kristen da n telah tercerahka n itu? Teruta ma
di Jerman, dimana negara telah melakukan persekutuan dengan
nasionalisme yang wataknya diperlakukan seperti layaknya
agama. Perang pada masa dua perang du nia itu tidak lagi sama
seperti pera ng pada abad ke-18 ya ng dia nggap sebagai urusa n
tentara bayara n ya ng telah dilatih secara keras. Tetapi pera ng
telah dilihat sebagai urusan semua orang. Pemikiran seperti ini
telah diajarkan setiap harinya sampai merasuki jiwa raga setiap
ora ng sehingga semua nya merasaka n bahwa suatu kela ngsu nga n
hidup benar-benar tengah dipertaruhka n. Tidak ada seora ngpu n
ya ng menggugat hak negara, hak negara-ba ngsa (nation-state),
u ntuk mengirimka n seluruh generasi ke “tempat-tempat pem-

Negara yang Bengis

ba ntaia n nya”. Kala nga n penduku ng perda maia n, ya ng tidak
memberika n duku nga n terhadap pera ng, merupaka n kelompok
minoritas kecil ketika itu, mereka n terpinggirka n da n dihuku m.

Dan lihatlah apa yang telah terjadi pada saat ini? Jika ju mlah
korba n pera ng ya ng diala mi Amerika Serikat lebih besar
daripada ju mlah korba n kejahata n kekerasa n ya ng terjadi di
dalam negerinya, maka publik Amerika tidak akan menerimanya
begitu saja. Tentu saja, menggu naka n ukura n perba ndinga n
seperti itu tidak ditemukan di liputan media Amerika Serikat.
Tetapi, melakuka n suatu perba ndinga n memberi ma nfaat u ntuk
menu njukkan bahwa kita saat ini memiliki toleransi yang lebih
rendah terhadap korba n pera ng di luar negeri daripada korba n
kejahata n di dala m negeri.

Di Rusia, pada kuru n waktu 1941 hingga 1945, jutaan
pemuda mengorba nka n kehidupa n mereka u ntuk mengusir para
penyerang Jerman dari negeri itu. Namu n, kini para ibu yang
a naknya menjala ni wajib militer itu aka n turu n ke jala n-jala n
jika mereka mengetahui bahwa kehidupa n putera-putera nya
tengah dala m bahaya da n dipertaruhka n secara sia-sia. Tentu
saja negara-ba ngsa telah ma mpu melewati abad ke-20 u ntuk
mempertaha nka n kela ngsu nga n hidupnya. Tetapi kekuasaa n nya
u ntuk mengikat kebersa maa n masyarakat berkura ng. Hak azasi
manusia u ntuk hidup, dan bebas dari perlakuan buruk, kini
mendapatka n perhatia n ya ng lebih besar. Hak azasi ma nusia
tidak lagi dapat ditiadakan dengan semena-mena oleh pilihan
ya ng dibuat pemerintah atas na ma kewajiba n nasional atau atas
na ma kepentinga n nasional. Inilah ya ng merupaka n salah satu
alasan mengapa perang antar negara menjadi berkurang. Di sisi
lain, masyarakat saat ini sepakat bahwa bentuk-bentuk kekerasa n
yang dilakukan oleh aktor non-negara yang tidak terkait dengan
negara sedang merebak. Lobby senjata di Amerika Serikat
kura ng menujukka n kepedulia n bahwa akses ya ng bebas u ntuk
mendapatka n senjata gengga m meminta lebih ba nyak korba n di
dalam negeri daripada intervensi militer di luar negeri.

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

IV. Semakin jauh seseora ng penga mat meninggalka n abad ke-20,
semakin jelas pula terlihat bagaimana dua perang du nia itu memiliki
hubu nga n denga n keha ncura n peradaba n ya ng disebabka n
oleh teror yang dilakukan negara. Hubu ngan ini bukan berasal
dari pandangan bahwa orang-orang Eropa, yang sudah bosan
denga n pera ng, terseret ke Pera ng Du nia Kedua karena ada nya
gagasa n “Jerma n Raya” (Greater Germany), sehingga dipaksa
u ntuk berbaris mengikuti nada dentu ma n gendera ng Hitler.
Pa nda nga n seperti ini mema ng tidak perlu u ntuk diba ntah. Ya ng
hendak dikataka n adalah u ntuk mengingatka n ada nya kesa maa n
antara Naziisme dan Stalinisme yaitu: penhargaan yang rendah
terhadap nilai kehidupa n ma nusia (devaluation of human life).
Buka nlah kebetula n bahwa Partai Buruh Nasional Sosialis Jerma n
(Nasionalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei-NSADP) memi-
liki daya tarik terhadap sebagain besar mantan tentara yang telah
bertempur di garis depan Perang Du nia Pertama. Juga NSADP
memiliki daya tarik bagi ora ng muda ya ng kemudia n data ng
belakangan u ntuk bergabu ng melakukan tindakan-tindakan
heroisme. Namu n, karena masih sangat muda mereka juga tidak
pernah mengetahui apakah sesu ngguhnya perang itu. Siapapu n
yang telah menyaksikan bagaimana ratusan ribu tubuh tentara
Jerma n da n Pera ncis di Front Barat telah ha ncur tercabik-cabik
oleh senjata-senjata berat, dimana pelaku nya sendiri tidak pernah
melihat korba n-korba n dari tindaka n nya itu, ia berubah menjadi
manusia putus asa yang tak berpengharapan atau ia menjadi
manusia yang terbiasa dengan gagasan pembu nuhan skala
industrial. Demikia nlah ga mbara n kehidupa n ma nusia pada
u mu m nya ketika masa pera ng itu berla ngsu ng: apakah ya ng
lalu membedakan manusia yang putus asa dengan manusia yang
terbiasa denga n pembu nuha n besar-besara n itu?

Pada tahu n 1934, ketika saya berusia tujuh tahu n, secara
diam-diam saya membu ntuti dua lelaki yang sedang berjalan di
Black Forest. Salah seora ng dari lelaki itu adalah ayah saya. Ayah
saya adalah seorang ahli matematika yang gemar membaca Kant
di mala m hari. Ketika saya mendengar pembicaraa n kedua nya,

Negara yang Bengis

kerap kali saya mendengar kata-kata “tembak”, “tembaka n”
da n “pasuka n pembu nuh”. Pada mala m itu, benar-benar karena
ketidaktahua n, saya berta nya tenta ng apa ya ng tengah dibicaraka n
oleh ayah dengan sepupu nya. Dia menjawab, “baiklah, anakku,
ka mi membicaraka n tenta ng 30 Ju ni, tetapi, saya pikir, ka mi
seharusnya tidak melakuka n nya”. Bara ngkali gelomba ng
pembersihan yang dilu ncurkan secara mendadak pada 30 Ju ni
1934 merupakan salah satu mata rantai yang menghubu ngkan
pera ng du nia denga n teror negara. Setelah menjadi Ka nselir,
Hitler mengangkat dirinya sebagai pemilik otoritas judikatif
tertinggi bangsa Jerman. Satu setengah tahu n setelah menjadi
Ka nselir, Hitler, denga n menggu naka n otoritas judikatif
tertitinggi itu, melakukan pembersihan terhadap pemimpin
Sturmabteilu ng (SA), bersa ma denga n tokoh-tokoh konservatif
lain nya, termasuk pendahulu nya sebagai Ka nselir, Jenderal
Kurt von Schleicher berikut istrinya. Perilaku Hitler seeprti
ini kemu ngkina n aka n disa mbut denga n ha ngat, walau diiringi
denga n rasa ketakuta n da n marah, sea ndainya terjadi pada masa
kekuasaa n Otto von Bismarck. Tetapi lima belas tahu n setelah
berakhirnya perang, orang-orang Jerman kurang tertarik u ntuk
memperhatikan metode tak beradab itu – metode pemusnahan
illegal - dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkannya yaitu:
semakin berkura ngya ju mlah para kriminal SA. Tentara regular,
Reichswehr, merasa sa ngat sena ng denga n kekalaha n pesaingnya
da n tidak mempermasalahka n kematia n Jenderal Schleicher.
Kura ng dari ena m minggu kemudia n, ketika Reichsprasident, Paul
von Hindenburg wafat, para jenderal Reichswehr menyiapkan
naskah su mpah ya ng terkenal karena ketidakpatuta n nya itu,
yang isinya mewajibkan setiap tentara secara individual u ntuk
memberika n “ketaata n ya ng tidak bersyarat” kepada pembu nuh
Schleicher. Nasib ba ngsa tengah dipertaruhka n demikia nlah
alasa n nya. Mengapa kemudia n mempermasalahka n seju mlah
kecil pembu nuha n?

Sulit u ntuk memaha mi kediktatora n Sosialis Nasional, ya ng
kemudia n mendorong terjadinya Pera ng Du nia Kedua pada

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

akhir tahu n 1945, tanpa mengaitkannya dengan penghargaan
ya ng rendah terhadap nilai-nilai kehidupa n ya ng terjadi pada
masa Perang Du nia Pertama. Masa perang du nia pertama itu
memperlihatkan ratusan serdadu digantu ng di pohon-pohon dan
bioskop-bioskop memperlihatka n citra-citra ya ng menakutka n
ya ng mu ncul dari ka mp-ka mp konsentrasi diperlihatka n. Ketika
itu ma nusia telah mencapai titik ternadirnya. Sejak Pera ng Tiga
Puluh Tahu n (Thirty Years War) belu m pernah terjadi nilai-nilai
kehidupa n ma nusia telah begitu terhinaka n.

V. Semua nya ini terkait denga n negara, atau lebih tepatnya,
denga n negara-ba ngsa. Tetapi jenis negara apakah ya ng berhasil
u ntuk mendiskreditkan gagasan utama tentang negara hingga saat
ini?

Pertama-tama, gagasan itu bukanlah demokrasi, demokrasi
tidak memiliki hasrat u ntuk melakukan demikian. “Dalam suatu
demokrasi, saya menggu nakan demokrasi u ntuk menghilangkan
demokrasi”, demikia nlah lelucon ejeka n ya ng dikemukaka n Hitler.
Menurt Hitler ketika itu, demokrasi adalah sta ndard moral ya ng
rendah, ketinggala n za ma n, tidak lagi cocok u ntuk masa kini.
Sekara ng gilira n Führerprinzip, yaitu prinsip kepemimpina n.
Artinya seseorang memberikan perintah, yang lainnya harus
mentaati. Prinsip ini berlaku tidak hanya bagi pemerintah, yang
tidak lagi mengadakan pertemuan. Apa manfaat pertemuan, jika
tidak ada lagi hal yang perlu u ntuk dibahas? Führerprinzip juga
berlaku pada tingkat propinsi, ya ng kerap disebut denga n Gauen.
Pada tingkat ini organisasi partai dipimpin oleh seorang Gauleiter
dan pemerintahannya dijalankan oleh Reichsstatthalter (gubernur
propinsi). Da n turu n ke tingkat kabupaten (Kreis), dima na
Kreisleiter memerintah seperti raja kecil. Tidak menghera nka n
jika atmosfir suatu wilayah lokal tertentu sangat tergantu ng pada
kepribadia n dari Kresileiter itu. Tokoh-tokoh ini bermaca m-
maca m sosoknya. Mulai dari tokoh ya ng eksentrik na mu n idealis
da n jujur, ya ng memberika n kemu ngkina n bagi istri pemilik
toko penjual daging u ntuk menya mpaika n keluha n nya denga n

10

Negara yang Bengis

terus terang - dan tanpa alasan yang memadai - bahwa pimpinan
ru mah potong hewa n di tingkat keca mata n tengah melakuka n
diskriminasi terhadap bisnisnya, hingga tokoh ya ng benar-benar
penjahat kriminal, seperti kamerad Partai Hans Rauschnabel di
kota u niversitas Tübingen, ya ng menjadi tempat perdebata n di
antara para intelektual lokal tentang makna sebenarnya dari nama
tokoh ini. Perdebata n nya adalah apakah na ma Rauh Sch nable
(yang berarti si “hidu ng besar yang kasar”), atau Rausch Nabel
(karena ada “u ndur-u ndur” di kepala nya). Kedua na ma ini sesuai
dikenaka n bagi tokoh itu. Bahka n pada tingkat keca mata n (parish),
Führerprinzip, masih berlaku. Sesuatu yang menyerupai dewan
keca mata n masih ada, tetapi a nggota nya tidak lagi merupaka n
wakil rakyat yang terpilih. Sebagai gantinya, dewan itu terdiri dari
anggota-anggota partai yang dicalonkan, yang fu ngsi utamanya
adalah memberi nasehat.

Meski demikian, sifat administrasi publik di Jerman di bawah
pemerintaha n totalitaria n Führer, lebih kacau jika diba ndingka n
dengan masa sebelu mnya maupu n bila dibandingkan dengan masa
sesudahnya. Seringkali tidak jelas siapa yang bertanggu ng jawab
terhadap bida ng kerja ya ng dijala nka n. Karena sejajar denga n
Kreisleiter terdapat juga - karena memang telah ada sebelu mnya
- suatu Landrat, yaitu seorang pejabat administratif utama pada
tingkat kabupaten u ntuk menangani urusan pedesaan. Pada
prinsipnya tugas uta ma partai adalah memberi perintah kepada
negara, namu n tetap tidak jelas dimana dan melalui siapa perintah
ini sebaiknya dilakukan. Jadi, seorang Landrat - disamping menjadi
seorang anggota partai pada dasarnya ia juga merupakan suatu
petinggi publik yang melakukan tugas-tugasnya berdasarkan
aturan pelaksana yang ada - berusaha u ntuk melakukan
tugas-tugasnya sebagaimana telah ada sebelu mnya, seperti
mengusahakan pemeliharaan jalan di wilayah kabupatennya
- sa ngat sedikit jala n ya ng diba ngu n ketika itu - atau mencari
guru-guru ya ng baik u ntuk sekolah di desa. Tetapi jika dia tidak
memiliki keberu ntu nga n, seora ng Kleisleiter, ya ng dihasut oleh
beberapa pemimpin cabang partai di tingkat lokal, akan dapat

11

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

melakukan campur tangan semau nya. Karena campur tangan
seperti ini pula, seorang Landrat mu ngkin harus menarik suatu
perintah atau membatalkan suatu pencalonan. Segera penarikan
perintah dilakukan penduduk lokal itu sendiri lalu tidak lagi
mengetahui siapakah yang memimpin -apakah pejabat kabupaten
yang menangani urusan desa ataukah markas partai di tingkat
kabupaten. Kekacauan yang sama terjadi pada setiap tingkat
pemerintaha n, dari tingkat propinsi (Gau) hingga ke tingkat
keca mata n. Bahka n pemerintaha n Reich, demikia nlah ia disebut
- yaitu berbagai kementeria n pemerintah ya ng terus mela njutka n
fu ngsinya seperti sediakala - terus menerus berhadapan dengan
ca mpur ta nga n partai, kerapkali atas na ma sekretaris pribadi
Hitler, Martin Borma n n. Da n kementeria n-kementeria n tidak
selalu pula dengan serat merta menyerah terhadap tekanan-
teka na n partai. Terdapat perba ntaha n da n sila ng pendapat, da n
keputusa n-keputusa n dibuat menga mba ng. Ringkasnya, dala m
situasi seperti ini sukar sekali u ntuk membayangkan adanya
sistem pemerintahan dan adminsitratif yang efisien.

VI. Itu sebabnya para sejarawa n da n sosiolog kini membahas
tenta ng Reich Ketiga (der dritte Reich) sebagai suatu Doppelstaat,
dua negara yang hadir secara paralel yaitu: “negara normatif ”
(normative state) da n negara ya ng prerogatif (prerogative state).
Negara normatif pada dasarnya bertu mpu pada pejabat-pejabat
administratif lama, yang sebagian besar merupakan pelayan-
pelayan dari suatu pemerintahan regional dan bukan pada
pemerintaha n Reich ya ng terpusat: kesetiaa n mereka diberika n
pada Prussia, Bavaria, Saxony, Baden, atau kepada keca mata n-
keca mata n di tingkat lokal ya ng memperkerjaka n mereka:
Cottbus, Münster atau Grossaltdorf yang terletak di sudut-sudut
terpecil dari Württemberg. Mereka semuanya belajar u ntuk
mengikuti bu nyi aturan huku m, u ntuk tidak membedakan
warga negara, apakah warga negara itu diketahui menjadi a nggota
Nazi atau tidak. Mereka melakukannya sebagai panggilan tugas.
Orang yang sakit secara mental harus diperlakukan dengan baik

12

Negara yang Bengis

da n dirawat. Petugas pemada m kebakara n aka n memada mka n
api, ta npa melihat apakah kebakara n itu terjadi di ka ntor partai
ataukah kebakara n terjadi di sinagoga (ru mah ibadat ora ng-ora ng
Jahudi) di tingkat lokal.

Tetapi partai, da n kemudia n khususnya Schutzstaffel (SS),
berusaha mengambil alihnya dengan melakukan campur tangan
terhadap pekerjaaa n ya ng dilakuka n oleh “negara normatif” ini.
Partai mengeluarka n keputusa n-keputusa n ya ng bertenta nga n
dengan norma-norma huku m yang telah ada sejak lama, dan
tidak satupu n norma-norma huku m itu telah dihapuskan secara
resmi. Sebagai misal, Partai mengeluarka n keputusa n, bahwa
pada 9 Nopember 1938 petugas pemada m kebakara n ha nya dapat
melakukan tindakan jika bangu nan yang berdampingan dengan
sinagoga tengah tera nca m bahaya kebakara n; da n bahwa ora ng-
ora ng ya ng secara mental sakit harus dikeluarka n dari ru mah
perawata n nya (asylum) da n dibu nuh denga n menyemprotka n
gas beracu n. Para musuh Nazi mendapat nasib baik jika mereka
dihuku m pada peradilan regular di bawah huku m Sosialis Nasional,
daripada dibawa secara paksa ke suatu ka mp konsentrasi. Tokoh
seperti Fritz Erler, seora ng politisi Jerma n, kemu ngkina n telah
bertahan dalam Negara Sosialis Nasional karena dia dihuku m
oleh suatu peradilan regular u ntuk menjalani huku man penjara
seu mur hidup. Negara normatif, bahkan walaupu n norma-
norma nya diadaptasi terus menerus berdasarka n keingina n partai,
setidaknya masih dapat diramalkan. Namu n negara prerogatif
- ya ng disimbolka n melalui ka mp konsentrasi - da n ya ng
dijalankan seseorang penguasa lalim yang tak beradab, sama sekali
tidak bisa diduga perilaku nya. Negara prerogatif tidak memiliki
la ndasa n huku m da n karena itu melaksa naka n kegiata n nya jauh
dari penga mata n publik. Kehadira n ka mp-ka mp konsentrasi,
dan apa yang terjadi di sana, ditutupi oleh misteri yang gelap.
Terdapat desas-desus ya ng disa mpaika n secara bisik-bisik, tetapi
desas-desus itu merupakan suatu pantangan bagi media. Orang-
orang yang mengetahui pembu nuhan dengan penyemprotan gas
beracu n terhadap ora ng ya ng secara kejiwaa n dia nggap sakit,

13

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

diberitahuka n ha nyalah ora ng-ora ng ya ng pergi ke gereja da n
mendengar surat protes yang ditulis Uskup Theopil Wurm.

Hanya di tahu n-tahu n awal pemerintahan Sosialis National,
negara prerogatif itu berupaya u ntuk menyembu nyikan dirinya
dalam penampakan huku m. Sebagai misal, pada hari setelah
kebakara n Reischstag, Reischpresident, ya ng dipilih secara
la ngsu ng, meniadaka n seluruh kebebasa n sipil. Atau ma nakala
suatu Reischstag yang lu mpuh diijinkan u ntuk menyetujui
suatu ketentua n huku m ya ng berlaku sebelu m ta nggal resmi
ia dikeluarka n ya ng mengu mu mka n terjadinya peristiwa
pembu nuha n 30 Ju ni 1934, da n dua hari kemudia n perstiwa
itu diabsahkan dengan alasan-alasan “upaya bela diri nasional”
(national self-defense). Tetapi fakta nya, “tindaka n-tindaka n”
yang dianggap absah itu ternyata tidak dilakukan oleh polisi,
yang seharusnya memiliki tanggu ng jawab otoritas u ntuk
melakukannya, tetapi oleh SS. Dan sistem huku m yang ada tidak
memberikan landasan huku m bagi SS.

Pada tahu n 1935 tindakan diskriminatif terhadap Jahudi
diberika n suatu “la ndasa n huku m”, ya ng terdapat dala m
Undang-Undang Ras Nuremberg. Semua orang dapat melihat
bahwa u ndang-u ndang ini mengakhiri suatu tradisi huku m
ya ng telah berla ngsu ng lebih dari 150 tahu n. Tujua n uta ma dari
Undang Undang ini tak lain tak bukan adalah u ntuk memaksa
ora ng Jahudi pergi ke luar negeri denga n cara menciptaka n
kehidupa n ya ng tidak nya ma n bagi mereka. Tentu saja tidak
dimu nculkan kata pembu nuhan dalam u ndang-u ndang itu. Istilah
pembu nuha n merupaka n bagia n kewena nga n sepenuh nya dari
negara prerogatif. Tujua n nya tidak ha nya u ntuk menghindarka n
ketentua n-ketentua n huku m ya ng meluas, tetapi juga u ntuk
menghindarkan diri dari pengamatan publik.

Semakin lama rejim Sosialis Nasional berlangsu ng, semakin
dekat pula ia pada masa kepu naha n nya. Semakin besar negara
normatif dijajah atau dijadika n koloni oleh negara prerogatif
maka semakin terular pula ia oleh penyakit negara prerogatif.
Pada akhirnya suatu kemiripa n huku m bahka n tidak berhasil

14

Negara yang Bengis

dipertaha nka n, walaupu n dala m kenyataa n Konstitusi Weimar
tidak pernah dihapuska n. Apa ya ng diingat adalah kekuasaa n
yang lalim dan pemerintahan terror dari negara prerogatif.

VII. Siapapu n ya ng telah menghadiri secara rutin kebaktia n
gereja-gereja Protestan dan pertemuan dewan sinode gereja-
gereja di Jerma n Timur (Deutsche Demokratische Republik-
DDR) pasti mengetahui betapa seringnya kata “negara” mu ncul
dala m perbinca nga n. “Negara telah menawarka n”. “negara telah
melara ng”, “negara mencemaska n”, “negara mencurigai”, “negara
bermaksud” dan seterusnya. Jika seseorang menanyakan siapakah
sesu ngguhnya negara itu dalam berbagai contoh, jawaban yang
diperoleh sa ngat beraga m. “Negara” dapat berarti – sebagaima na
seseorang mu ngkin dapat saja menyimpulkannya- Menteri
Negara u ntuk Urusan-Urusan Gereja, yang u ntuk beberapa tahu n
dijabat oleh Klaus Gysi. Tetapi negara dapat juga berarti sa ma
dengan sekretaris Partai Persatuan Sosialis Jerman (Sozialistische
Einheitspartei-SED) di tingkat kabupaten, atau Sekretaris Partai
Lokal, atau bahkan seorang perwira Stasi. Cukup aneh, seseorang
yang tidak pernah disebut namanya adalah Menteri Pendidikan
da n Kebudayaa n, Margot Honecker, karena dia tidak pernah
berbicara denga n gereja. Walaupu n pada suatu peristiwa, di tahu n
1979, suaminya, Sekretaris Jenderal dan Ketua Dewan Nasional,
telah bertemu dengan para pemimpin gereja.

Tetapi mengapa para teolog tidak denga n mudah menyataka n:
Menteri Luar Negeri menginginka n kita u ntuk…”, atau “SED
meminta…” atau “Sekretaris keca mata n kita menga nca m
u ntuk..”. ? Dasar penjelasa n nya mu ngkin terletak pada teologi
Lutheria n itu sendiri. Semua ora ng ya ng telah berbicara kepada
gereja adalah wakil-wakil dari “penguasa yaitu orang-orang yang
memiliki wewena ng terhadap kita”, ya ng mewajibka n ora ng-ora ng
Kristen u ntuk memperlihatka n ketaata n nya (dikaitka n denga n
u ngkapan Santo Paulus, dalam kitab Roma, Bab 13 orang Kristen
harus mendengarka n perkataa n Kristus), bahka n jika penguasa
tersebut membuat ateisme sebagai doktrin resmi negara. Mengakui

15

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

wewenang negara merupakan bagian dari tradisi Lutherian. Karena
itu, kepemimpina n di jerma n Timur tidak memiliki kesulita n
besar denga n Lutheria n ya ng lebih konservatif. Na mu n Paulus
tidak menulis, baik kepada jemaat di Roma atau kepada jemat di
Korintus, bahwa seseora ng harus tu nduk pada suatu partai negara
yang resmi.

Tetapi terdapat alasa n lain nya juga. Di negara Sosialis Nasional
para uskup atau dewa n gereja sa ngat mengenal benar, apakah
mereka tengah berurusan dengan seorang pejabat NSDAP atau
dengan seseorang dari Kementerian Urusan Gereja. Mereka masih
menaruh kepercayaa n, walau tidak ba nyak, kepada para petinggi
negara bahkan jika petinggi negara itu sedang mengenakan
emblem partai di pakaiannya. Kepercayaan ini telah tu mbuh
selama beberapa abad antara gereja dan negara, dan yang terus
berlaku hingga masa Paul von Hindenburg. Tetapi NSDAP,
bahkan walau merupakan satu-satu nya partai resmi negara, tetap
merupaka n suatu orga nisasi ya ng “pa nda nga n du nia”-nya telah
terbukti anti-Kristen. Para uskup bersedia u ntuk mendapatkan
perintah dari negara, tetapi tidak dari partai. Dan mereka juga
cukup ma mpu u ntuk mengeksploitasi konflik di a ntara kedua nya.
Ini ya ng dikataka n sejarawa n dewasa ini dala m kalimat: konflik
antara negara normatif dengan negara prerogatif.

Pembagian negara dalam negara ganda seperti itu tidak
ditemuka n di Jerma n Timur. Alasa n perta ma, tidak terdapat
pemimpin karismatik yang dapat mengeluarkan perintah tanpa
mempertimbangkan huku m, yang ucapannya adalah huku m.
Tetapi sebagai ga ntinya, ada ya ng disebut sebagai politbiro,
yang mengadakan pertemuan secara teratur setiap minggu nya,
mengeluarka n resolusi da n instruksi-instruksi kepada pemerintah.
Instruksi-instruksi itu sudah pasti ditaati oleh dewan perwakilan
rakyat Jerma n Timur , u ntuk tidak menyebut dewa n itu sebagai
pertemua n Kongres Partai. Tetapi setidaknya dewa n perwakila n
rakyat Jerma n Timur menja min keingina n politbiro secara resmi
dalam bentuk Undang-Undang dan resolusi yang mu ngkin tidak
selalu sesuai denga n gagasa n mereka tenta ng makna ketentua n

16

Negara yang Bengis

huku m. Tetapi setidaknya dewa n perwakila n rakyat Jerma n
Timur itu mengklarifikasika n kapa n masyarakat terlihat dala m
hubu ngannnya dengan huku m. Ketika migrasi dari Jerman
Timur dipa nda ng sebagai suatu pela nggara n atura n huku m,
ketentua n ini tentu saja merupaka n suatu penya ngkala n terhadap
hak azasi manusia yaitu hak manusia u ntuk bebas berpindah
tempat tinggal. Meski demikia n, denga n keluarnya ketentua n
huku m ini, setiap orang setidaknya akan mengetahui apa yang
akan mereka dapatkan jika mereka mencoba u ntuk melarikan
diri dari negeri itu da n mengala mi kegagala n. Negara Jerma n
Timur ebih dapat dira malka n daripada negara Sosialis Nasional.
SED telah mengkooptasi sistem administratif da n huku m u ntuk
tujuan-tujuan yang lebih sistematik dan yang lebih menyeluruh
daripada NSDAP. Karena itu negara Jerma n Timur tidak memiliki
ada nya kebutuha n u ntuk menghadirka n suatu negara prerogatif
yang berjalan seiring dengan dirinya.

Setiap a nak sekolah pasti mengetahui pa nda nga n Marxist
tentang “negara borjuis“ (bourgeois state). Negara merupakan
alat dari kelas penguasa, yaitu kelompok borjuis. Tetapi negara
dapat juga menjadi alat bagi sosialisme setidaknya u ntuk periode
transisi yang lebih panjang. Negara sosialis seperti inilah yang
dirasaka n gereja ketika mereka berhubu nga n denga n nya,
terlepas dari apakah gereja tengah mengadakan pertemuan
dengan Menteri Negara atau dengan sekretaris SED pada tingkat
kabupaten. Ha nya operator-operator politik ya ng cerdik, seperti
kepala Sekretariat Federasi Gereja-Gereja Eva ngelis, Ma nfred
Stolpe, dapat berhasil menarik manfaat bagi gereja dengan adanya
perbedaan pandangan dan ras hormat itu , yang memilah tugas-
tugas yang fu ngsional dengan yang organisasi.

VIII. Apa ya ng dirasaka n penduduk Jerma n Timur tenta ng negara
seperti ini? Tentu saja ha nya sekelompok kecil minoritas ya ng
benar-benar percaya da n secara aktif memberika n duku nga n
kepada negara seperti ini. Lain nya, bahka n minoritas ya ng lebih
kecil, membencinya, kelompok ini menenta ng negera seperti ini

17

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

dan bermaksud u ntuk menghindar darinya sesegera mu ngkin.
Dan bagainana sikap terbesar dari penduduknya?

Mayoritas berusaha membiasakan diri dengannya, tidak
mempercayainya, sebagaimana halnya, negara tidak mempercayai
mereka. Pada akhirnya negara jenis ini terdorong u ntuk menjadi
sesuatu kekuasaa n ya ng memasuki segala kehidupa n. Sebagia n
besar penduduk berda mai denga n kekuasaa n seperti ini da n
terbiasa dengan gagasan bahwa negara melaksanakan segalanya
dan oleh karena itu bertanggu ng jawab terhadap segalanya.

Tidak ada lagi ya ng na ma nya “negara bapak ka ndu ng” (Vater
Staat), yang sejak lama telah diimpikan orang-orang Jerman.
Sebaliknya yang mu ncul adalah “negara bapak tiri” (stiefvater).
Ora ng-ora ng tidak menyena ngi kehadira n negara seperti ini:
mereka kadang membuat lelucon tentangnya, mengecamnya
diam-diam, menyetel siaran televisi dari negara lain pada jam 8
mala m hari da n memberika n - ketika doronga n nya begitu kuat
- kepercayaa n terhadap mata ua ng negara lain. Tetapi terdapat
pengakua n bahwa “bapak tiri” memenuhi kewajiba nya terhadap
a nak-a nak dari hasil perkawina n nya itu – ta npa melimpahinya
denga n rasa terima kasih. “Bapak tiri” itu berkewajiba n u ntuk
memberika n mereka pekerjaaa n tetap, ya ng harus tetap diberika n
meskipu n a nak-a naknya tidak bekerja denga n baik. “Bapak tiri”
juga harus bertanggu ngjawab u ntuk memberikan biaya sewa
peru mahan yang murah dengan alat pemanas dan air hangat di
dalam nya, bahkan jika ini membawa akibat pemeliharan dan
perbaikan terhadap peru mahan yang ada tidak dapat dilakukan.
Dan tentu saja “bapak tiri” itu juga harus memberikan jaminan
da na pensiu n da n asura nsi kesehata n. Karena seluruh bisnis
dimiliki oleh negara maka jika ekonomi berada dala m kesulita n
kesalaha n itu terletak pada negara. Ilmua n La ndolf Scherzer
pernah menggambarkan bagaimana seorang sekretaris partai SED
harus bekerja keras ha nya u ntuk mendapatka n sesuatu bara ng
ya ng pasti aka n dapat denga n mudah ditemuka n di pasar. .

Da n SED biasa nya paha m benar bahwa suatu kebiasaa n
dan adat-istiadat telah melahirkan suatu perasaan u ntuk

18

Negara yang Bengis

mendapatka n perlakua n istimewa ta npa harus bekerja keras
(sense of entitlement). Ketika ditanyakan tentang terjadinya
pemborosan energi sebagai akibat dari sistem sewa yang murah
dengan biaya pemanasan di dalamnya, jawaban yang diberikan
oleh a nggota komite sentral adalah bahwa itu merupaka n suatu
petu njuk prestasi sosial dan seseorang dianjurkan u ntuk
tidak mempermasalahkannya. Dan jika seseorang mengajukan
keluha n tenta ng ada nya gena nga n air da nau ya ng dipenuhi
kotora n tinja ya ng berbau di u nit-u nit wilayah peternaka n
babi, para a nggota komite sentral ha nya memberika n ta nggapa n
dengan menyatakan bahwa masalah lingku ngan kurang penting
dibandingkan dengan membuat masyarakat mendapatkan daging
babi denga n harga murah di meja maka n. “Ayah tiri” itu tidak
merasa nya ma n u ntuk meciptaka n kesulita n-kesulita n terhadap
“a nak-a nak tiri”nya. “Ayah tiri” itu memiliki kekhawatira n bahwa
jika kesulita n-kesulita n seperti itu dilakuka n maka “a nak-a nak”
tirinya mu ngkin memahami dan mengecam tindakan seperti itu
sebagai suatu petu njuk adanya penolakan u ntuk melaksanakan
tanggu ng jawab perawatan yang harus diembannya.

Jadi pada satu sisi “negara bapak tiri” di Jerma n Timur
merupaka n sebuah sasara n ketidakpercayaa n da n kerapkali
penghinaan, sembari di saat yang pada u mu mnya mengharapkan
“negara bapak tiri” itu memberikan perhatian dan duku ngan
yang menyeluruh. Harapan seperti ini bahkan tidak akan dapat
dipenuhi oleh suatu “negara bapak kandu ng” yang memiliki nalar
terhadap a nak-a naknya karena jika itu dilakuka n ha nya aka n
menciptaka n contoh ya ng jelek da n kebiasaa n ya ng buruk.

Setelah reu nifikasi Jerma n, seperti ya ng diduga, a nak-a nak
tiri ya ng dibebaska n itu memberika n kepada Republik Federal
Jerma n suatu kepercayaa n penuh. Tetapi harapa n ini segera pupus
ketika “negara bapak ka ndu ng” ya ng baru itu menu njukka n
dirinya tidak berkeingina n atau tidak ma mpu u ntuk mewujudka n
harapan-harapannya yang telah ada sejak mereka memiliki “bapak
tiri”. Terlebih lagi, karena didorong oleh ada nya kebutuha n u ntuk
melakukan persaingan secara global, penyatuan Jerman justru

19

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

terjadi pada saat ketika model kapitalisme Jerma n ya ng moderat
tengah digantikan oleh suatu model anglo-saxon, yang tidak
keberata n terhadap aspek predator (naluri u ntuk memusa nahka n
pihak lain). Karena itu banyak warga negara yang berasal dari
Jerma n Timur merasa bahwa mereka telah mengga ntika n ayah
tiri mereka dengan seorang ayah dari neraka.

Persoalan-persoalan reu nifikasi tidak bisa diselesaikan
denga n kenaifa n ya ng saat ini tengah ditu njukka n pemerintah
Federal Republik Jerma n (RFJ), ya ng semata-mata membiarka n
urusan ini ditangani pasar dan birokrat. Pemerintah tidak pernah
mengajukan pertanyaan: apa yang seharusnya dilakukan orang-
orang Jerman saat ini dengan adanya hadiah penyatuan itu.
Perta nyaa n ini penting diajuka n ketika apa ya ng telah diperoleh
orang-orang Jerman dan berada dipangkuan mereka tidak
sejalan dengan apa yang telah mereka pikirkan sebelu mnya.
Sebagai gantinya, pemerintah malah mengirimkan para petinggi
pemerintah ke bagia n Timur, ya ng tugas uta ma nya adalah
mengajar para penduduk lokal yang tercengang dan terheran-
heran tentang bagaimana u ntuk mengorgansir suatu kantor
dinas pajak atau ka ntor distrik, da n tenta ng ketentua n-ketentua n
huku m apakah ya ng harus dia mati da n kapa nkah ketentua n
huku m itu harus diamati. Penyatuan negara yang sejak lama
telah dirinduka n mu ncul dala m bentuk kehadira n para birokrat
denga n rasa kepekaaa n ya ng beraga m. Tidaklah menghera nka n
ha nya sekelompok kecil minoritas saja ya ng menerima kehadira n
negara ini sebagai bagian dari harta benda yang mereka miliki.

IX. Pengalaman dari generasi tua juga penderitaan yang telah
mereka alami di dalam negara dan yang disebabkan negara, dan
dala m beberapa contoh kasus lain nya tenta ng kontribusi apakah
yang telah mereka berikan di dalam pengalaman dan penderitaan
itu, diteruska n kepada generasi muda tidak ha nya ketika bertemu
di meja makan dan di tempat-tempat minu m, tetapi juga di ruang
kelas da n di gedu ng pertemua n kuliah. Beberapa pengala ma n itu
diceritaka n lebih akurat daripada ya ng lain nya. Da n kelompok

20

Negara yang Bengis

generasi muda mendengarka n denga n perasaa n hera n da n kerap
kali berbaur dengan perasaan benci terhadap pengalaman-
pengala ma n itu. Tentu nya pengala ma n itu menjadi suatu kisah
yang berbeda jika kita membandingkannya dengan karya sastra
ya ng mengu ngkapka n ketakuta n terhadap suatu negara ya ng
sa ngat kuat, ya ng memerintah denga n pera ng da n terror. Karya
sastra yang berpengaruh luas di sini adalah buku yang ditulis oleh
George Orwell, denga n judul Ninety Eighty-Four. Buku ini telah
mempengaruhi cara berpikir dan perasaan sebagian besar orang-
ora ng Eropa pada paruh kedua abad ke-20 da n juga kerapkali
mempengaruhi tindakan-tindakan politik mereka. Ditulis pada
tahu n 1948, novel itu hingga saat ini masih terbaca seperti suatu
mimpi buruk yang membangu nkan seseorang dari tidur lelap
ya ng pa nja ng. Tidaklah merupaka n suatu kebetula n dystopia
(kecemasa n terjadinya kemiskina n, penderitaa n, pembu ngka ma n)
terhadap tirani totaliter ini dipublikasikan tidak lama setelah
Pera ng Du nia Kedua, ketika Stalinisme bersa ma pasuka n nya
telah memperoleh keberhasila n, da n pada saat pihak Sekutu
tengah dikejutka n oleh kejahata n-kejahata n menakutka n ya ng
dilakukan oleh negara prerogatif Jerman.

Dala m negara Ocea nia, negara rekaa n ya ng dikemuka n dala m
novel Orwell itu, negara prerogatif menelan negara normatif,
mirip dengan apa yang telah terjadi dalam hari-hari terakhir rejim
Nazi. Winston Smith, karakter utama yang terdapat dalam novel
itu, menyimpulkan bahwa, “tidak satupu n bertentangan dengan
u nda ng-u nda ng”, bahka n pembuata n catata n kehidupa n pribadi.
Alasan yang diberikan sangat sederhana yaitu karena tidak
terdapat aturan huku m sehingga tidak satupu n bertentangan
denga n u nda ng-u nda ng. Tetapi tentu saja suatu catata n kehidupa n
dapat dia nggap menjadi suatu bentuk “kejahata n pemikira n”
(thoughtcrime) dan dapat dihuku m mati. Jika tidak terdapat
atura n-atura n huku m da n karena itu tidak dikenal ada nya konsep
keabsaha n huku m (legality), maka kehidupa n individu aka n
selalu beradasarkan atas dasar belas kasihan dari orang-orang
ya ng berada dala m kekuasaa n.

21

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

Di dalam catatan-catatan - yang sangat rahasia - dari Emmanuel
Goldstein, musuh utama yang sangat berbahaya, yang merupakan
target haria n dari propaga nda “Kebencia n Dua Menit”, kita
membaca: “Di Oceania tidak terdapat aturan huku m. Pikiran-
pikiran dan tindakan-tindakan secara formal pasti tidak dilarang,
na mu n ma nakala terdeteksi, berarti kematia n. Pembersiha n
terus menerus, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan dan
penghila nga n buka nlah dikenaka n sebagai huku ma n terhadap
kejahata n ya ng telah dilakuka n tetapi semata-mata u ntuk
penghilangan terhadap orang-orang yang dianggap mu ngkin
aka n melakuka n suatu kejahata n di masa depa n”. (George Orwell,
Nineteen Eighty-Four, London 1989, hlm. 220)

Partai - yang memutuskan siapa yang berhak hidup dan siapa
ya ng tidak- menggu naka n “polisi ya ng mena nga ni kejahata n
pemikira n” (gedankenpolizei) ya ng bahka n tidak mempercayai
para pegawai “Kementeria n Kebenara n” (Ministry of Trurth).
Kemeteria n ini merupaka n tempat Winston Smith bekerja. Tentu
saja Kementeria n Kebenara n ini tidak memberika n “kebenara n”
sebagaimana yang kita pahami dengan istilah itu, tetapi ia
bertugas u ntuk terus menerus memaknaka n kembali apa ya ng
dimaksud denga n kebenara n, ta npa sa ma sekali mengaitka n nya
dengan fakta-fakta. Karena itu Winston - baik dengan sembu nyi-
bu nyi atau sebagai suatu lelucon sinis - menciptakan seorang
figur pahlawa n nya sendiri ya ng dina mai reka n Ogilvy. Dia
menciptakan kisah hidup seseorang yang merupakan contoh bagi
ora ng lain, ya ng tentu saja harus menjadi konsisten denga n masa
pera ng ya ng dilakuka n Ocea nia terhadap Asia Timur (wilayah
rekaan dalam novel itu), tetapi sekarang terhadap Eurasia (yang
juga merupakan wilayah rekaan). “Pada usia tiga tahu n rekan
Ogilvy telah menolak semua boneka maina n kecuali boneka
tabuha n dru m, senjata seperti mesin, da n sebuah helikopter
mainan. Pada usia enam tahu n - setahu n lebih awal, karena
dianggap istiemewa - dia bergabu ng dengan mata-mata; pada usia
sembilan tahu n ia telah menjadi pemimpin pasukan. Pada usia
sebelas tahu n, ia mengaduka n pa ma n nya kepada “polisi ya ng

22

Negara yang Bengis

mena nga ni kejahata n pemikira n” setelah mendengar pembicaraa n
ya ng disinyalir mengarah pada kecenderu nga n tindaka n
kriminal. Pada usia tujuh belas tahu n ia telah menjadi orang yang
membentuk organisasi Liga Anti-Sex Ju nior di tingkat distrik.
Pada usia sembilan belas tahu n ia telah membuat rancangan
suatu gra nat ta nga n ya ng telah dikemba ngka n oleh Kementeria n
Perda maia n, da n ketika uji coba perta ma nya, telah membu nuh
tiga puluh satu tawanan Eurasia dalam satu letusan. Pada usia dua
puluh tiga tahu n, ia telah hilang dalam suatu tugas. Diburu oleh
pesawat-pesawat jet musuh sewaktu melakukan penerbangan di
Samudera India dengan membawa pesan-pesan yang penting, dia
telah membebani badannya dengan senjata mesin dan melompat
keluar dari helikopter ke laut lepas, sudah berakhir kata si saudara
tuanya, yang pasti akan memu nculkan perasaan iri. Si saudara
tua mena mbahka n suatu catata n kecil tenta ng kemurnia n da n
keteguha n sikap da n hidup dari reka n Ogilvy. Ia adalah ora ng
yang menghindarkan dirinya dari segala sesuatu yang buruk yang
dapat merusak fisiknya, ia buka n perokok, tidak ada waktu u ntuk
rekreasi kecuali menghabiska n waktu hari-harinya di tempat
olah raga, dan telah memutuskan u ntuk hidup membujang,
karena berkeyakina n bahwa perkawina n da n perhatia n terhadap
keluarga tidak berjala n seiring denga n pengabdia n dua puluh
empat ja m setiap harinya u ntuk memenuhi kewajiba n. Dia
tidak memiliki baha n pokok pembicara n kecuali menya ngkut
pembicaraan tentang azas-azas u ntuk mendidik anak agar taat
sepenuhnya terhadap ideolog, yang disebutnya dengan Ingsoc.
Ia tidak memiliki tujua n dala m hidupnya kecuali melakuka n
penaklukan terhadap musuh Eurasia, dan u mu mnya melakukan
perburua n terhadap mata-mata, pelaku sabotase, pelaku kejahata n
pemikira n da n para penghia nat”, (ibid., hlm. 49)

Biografi yang diidealkan ini, dibuat oleh pahlawan novel
tersebut, Winston Smith. Tokoh uta ma Winston dala m buku ini
menu njukkan dalam bentuk suatu karikatur tentang hal-hal yang
diharapkan negara dari warganya -dan juga menggambarkan
kema mpua n ya ng dimiliki negara u ntuk mendapatka n harapa n

23

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

itu dari warga negaranya.

X. Jika negara memutuska n hal-hal apa ya ng benar, tentu saja
negara itu pasti menemuka n kesulita n ketika konstelasi politik
mengala mi perubaha n da n ketika musuh ya ng diga mbarka n da n
objek kebencia n juga berubah. Karena itu mesin propaga nda Nazi -
a ntara Agustus 1939 da n Ju ni 1941 - berjua ng denga n keras u ntuk
menjelaska n kepada ora ng-ora ng Jerma n mengapa Uni Soviet
telah menjadi “musuh No 1 du nia”, hingga pada ta nggal 22 Agustus
1939 - u ntuk mengejutka n “Bolshevisme Jahudi”- kemudia n
menganggap Uni Soviet menjadi seorang mitra dan sahabat dalam
perjuangan melawan “pemerintahan yang dikuasai oleh orang-
ora ng kaya” (plutocracy) Barat ya ng ha nya berla ngsu ng hingga
22 Ju ni 1941 da n kemudia n berubah kembali ke arah sikap ya ng
lama, yaitu melihat Uni Soviet menjadi penyebab dari seluruh
keburuka n da n objek kebencia n ya ng harus diha ncurka n.

Karena itulah sejarah Oceania harus terus menerus ditulis.
Dan versi yang memiliki otoritas adalah versi yang paling baru.
“Kemampuan u ntuk melenturkan perjalanan sejarah masa
lalu” (mutability of the past) adalah “ajara n uta ma dari Ingsoc”
demikianlah yang disimpulkan oleh Goldstein. Dengan kata lain
Ingsoc adalah suatu pandangan du nia yang dipaksakan oleh
suatu negara yang berhasrat u ntuk menjadikan dirinya menganut
“sosialisme gaya Inggris”. Masa lalu harus selalu menjadi serupa
dengan apa yang diinginkan oleh Partai. “Hal ini dianggap sesuatu
ya ng baik bahka n ketika, seperti kerap terjadi, pengakua n
terhadap peristiwanya harus diubah beberapa kali dalam perjalan
kuru n waktu setahu n” (ibid., hlm.222)

Tidak ha nya huku m telah dihapuska n, tetapi juga
“kebenara n” ya ng dicari da n dihormati sejak awal kehidupa n
ma nusia. Tetapi pencaria n kebenara n merupaka n usaha u ntuk
memaha mi kenyataa n, u ntuk “mena ngkap” kenyataa n itu dala m
makna apapu n; karena itu ketika kebenara n hila ng, ya ng disebut
denga n kenyataa n tentu saja denga n sendirinya pergi menghila ng
mengikuti kebenara n.

24

Negara yang Bengis

Tentu saja, George Orwell, telah membukuka n suatu tulisa n
yang sangat baik tentang bahasa politik pada tahu n 1946. Dia
sangat paham benar bahwa jika seseorang ingin menghancurkan
kebenara n, maka ora ng tersebut harus memulainya denga n
menghancurkan bahasa. Dan yang terdapat di dalam Oceania
Nineteen Eighty-Four itu, adalah pengha ncura n ya ng dilakuka n
sa ngat keja m. Bagi Orwell aspek dystopia ya ng mengala mi
dehu minisasi ini demikian pentingnya sehingga dia menambahkan
ke dala m novel itu suatu la mpira n setebal 15 hala ma n ya ng
diperu ntuka n u ntuk “bahasa baru” ya ng disebutnya denga n
istilah “Newspeak”. Kata “bahasa baru” itu sebenarnya berbeda
dari hampir seluruh bahasa lainnya dalam pengertian ju mlah
kata yang dimiliki bahasa itu semakin lama semakin sedikit
dan bukannya semakin besar pada setiap tahu nnya. Setiap
pengura nga n merupaka n suatu keu ntu nga n, karena itu berarti
semakin kecil rua ng piliha n ya ng tersedia, da n denga n demikia n
semakin kecil pula bujuka n u ntuk memaknaka n nya. Tujua n
utamanya adalah u ntuk mengu ngkapkan sesuatu ucapan bahasa
tanpa perlu melibatkan pusat-pusat otak tetapi semata-mata
mu ncul dari su mber suara ya ng terletak di kerongonga n.

Kejahata n-kejahata n pada tingkat pemikira n (thoughtcrimes)
ya ng dapat dikenaka n huku ma n mati aka n mustahil dapat
dilakukan seandainya kata-kata u ntuk mengu ngkapkannya tidak
lagi ada. “banyak kata yang tidak terhitu ng ju mlahnya seperti
kehormata n, keadila n, moralitas, internasionalisme, demokrasi
da n aga ma hila ng denga n begitu saja” (ibid., hlm.318). Da n kata
“bebas” ha nya digu naka n dala m pengertia n “bebas dari parasit”.
(ibid., hlm.201)

Karena karya-karya yang ditulis dalam Bahasa Inggris
tradisional tidak dapat diterjemahka n ke dala m “bahasa baru”,
pemusnahan terhadap perjalanan sejarah intelektual dilakukan
ha nya denga n suatu pukula n. Tidak ada tradisi, tidak ada sejarah
– ya ng ada ha nyalah “masa kini ya ng tidak pernah berakhir”.
Karena itu tujuan utama yang ingin dicapai Partai Negara adalah
“menghila ngka n sela ma nya seluruh kemu ngkina n u ntuk

25

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

hadirnya pemikira n independen”. (ibid., hlm.201)
Tidak ha nya pikira n, tetapi juga emosi - seperti kebencia n,

kecemasa n, kemaraha n, kemena nga n, kerendaha n hati - makna nya
dikura ngi u ntuk dapat dijadika n alat melaya ni kepentinga n-
kepentinga n Partai Negara:. (ibid., hlm.279). Akibatnya cinta a ntara
Winston dan Julia harus berakhir dengan pemusnahan terhadap
kedua ora ng ya ng saling mengasihi itu. Pemusnaha n tidak semata-
mata ha nya berarti kematia n. Pemusnaha n denga n kematia n
tidak cukup bagi penguasa-penguasa baru. Ya ng harus perta ma
dilakukan adalah manusia individu nya harus dihancurkan,
ditransformasikan menjadi hewan yang lari terbirit-birit
ketakuta n da n mena ngis tersedu-seda n denga n cara melakuka n
penyiksaan. Pada akhirnya dua mahluk yang saling mencintai itu
menghianati satu dengan lainnya. Mereka tidak diijinkan u ntuk
mati sebagai manusia yang saling mencintai. Jika tujuan seperti
ini tidak dapat dicapai, kemena nga n negara dirasaka n kura ng
lengkap.

XI. Tidaklah penting u ntuk mengulas apakah visi Orwell
mengenai suatu negara totaliter ya ng menghila ngka n kema nusia n
disebabka n oleh kemu ncula n Uni Soviet atau karena Reich ya ng
ya ng ha ncur berkeping pada masa Hitler. Denga n ketaja ma n ya ng
sa ngat mengesa nka n Orwell melakuka n a nalisis terhadap kedua
sistem hingga penarika n logika kesimpula n nya. Da n karena
dia merupakan seorang penulis kreatif dia tidak menyibukkan
diri dengan pemahaman-pemahaman yang abstrak. Dua tahu n
sebelu m kematia n nya dia menuliska n tenta ng dystopia ya ng
sa ngat berpengaruh da n terus merasuk ingata n pada abad ke-
20. Apakah aparatur kekuasaa n ya ng sempurna seperti ya ng
dilukiska n Orwell masih dapat disebut sebagai “negara” adalah
suatu persoalan yang nantinya akan dibahas lebih jauh dalam
bagian berikutnya.

Ketika 1984 pada akhirnya berlalu, du nia dan khususnya di
Eropa bergerak menjauh dari visi horror ya ng dikemukaka n pada
tahu n 1948 itu. Spa nyol, Ju na ni da n Portugis telah telah memiliki

26

Negara yang Bengis

demokrasi, dan Jerman kini memiliki suatu pemerintahan
demokratik ya ng berkesina mbu nga n. Ena m tahu n kemudia n
komu nisme ha ncur ta npa perlawa na n berarti dari ora ng-ora ng
ya ng disingkirka n dari kekuasaa n. Tidak ada seora ngpu n ya ng
dapat menyatakan bagian mana dari visi peringatan Orwell itu
yang telah mempengaruhi hasil perjalanan sejarah yang sangat
berbeda ini. Jelasnya adalah bahwa citra dystopia gaya Orwellian
telah merasuki kesadara n Eropa bahwa mereka telah dapat
bertaha na n mela njutka n kehidupnya melawa n nazisme da n
komu nisme. Hitler da n Stalin telah menjadi sejarah masa lalu;
mereka merupakan bab-bab yang telah selesai di Eropa. Namu n
Orwell dan pengaruhnya hidup terus.

Da n saya tidak tengah membicaraka n tenta ng sekelompok
kecil intelektual - ya ng ketika menteri-menteri dala m negeri
Eropa menyatakan bahwa cap jempol di paspor kita akan
memba ntu u ntuk menghadapi kejahata n - mereka denga n seketika
memu nculkan Orwell. Hal yang sedang saya perbicangkan
adalah hubu nga n kolektif kita denga n negara. Dihadapka n
denga n suatu lembaga ya ng cenderu ng kearah penggu naa n
kekuasaa n berlebiha n seperti ya ng diuraika n Orwell, kita sa ngat
dianjurkan u ntuk menganut sikap waspada yang lebih banyak,
u ntuk tidak menyatakan sikap melawan dan penuh sakwasangka.
Tentu saja ha nya sekelompok kecil ora ng saja ya ng telah menarik
kesimpula n dari peringata n ya ng diberika n Orwell bahwa kita
sesu ngguh nya aka n lebih baik ta npa negara sa ma sekali. Tetapi
karya Orwell kemu ngkina n menyebabka n ora ng-ora ng Eropa
u mu m nya memiliki kecemasa n terhadap kehadira n negara ya ng
terlalu kuat, da n pada saat ya ng sa ma ha nya terdapat sekelompok
kecil ya ng memiliki kecemasa n terhadap negara ya ng terlalu
lemah atau sea ndainya negara itu benar-benar tidak bertenaga
sama sekali - dan kini negara itu barangkali memang telah tidak
bertenaga.

Ya ng memetik ma nfaat dari kecemasa n-kecemasa n terhadap
negara yang terlalu kuat ini adalah perusahaan-perusahaan global.
Orwell sendiri tidak pernah berkeingina n u ntuk memberika n

27

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

duku nga n kepada perusahaa n-perusahaa n global ini. Penguasa-
penguasa dari perusahan terglobalkan ini tersenyu m dengan
perasaan gembira karena mereka memiliki pengaruh lebih kuat
daripada seora ng kepala pemerintaha n demokratik di Eropa.
Dengan hanya memberikan ancaman u ntuk tidak melakukan
sesuatu - yaitu tidak melakukan penanaman modal- mereka dapat
lebih mempengaruhi pembuatan anggaran daripada pemerintah,
menteri-menteri keua nga n, atau bahka n sesu ngguh nya penguasa-
penguasa itu lebih berpengaruh daripada 600 orang anggota
parlemen.

Tentu saja pengala ma n sejarah pada dasarnya telah
mengajarka n kepada kita u ntuk mema nda ng bahwa negara ya ng
menguasai segalanya merupakan ancaman yang lebih besar
dibandingkan ancaman yang berasal negara yang tak berdaya.
Namu n citra-citra menakutkan yang telah digambarkan melalui
karya sastra dari seora ng Eropa ya ng cerdas dari abad ke-20 ini
tentu saja akan terus menerus mempengaruhi generasi-generasi
ya ng telah dibesarka n di dala m negara-negara konstitusional
demokratik ya ng mapa n. Judul kepala berita surat kabar ya ng
dikutip pada bagian awal bab ini - negara telah berusaha u ntuk
menghancurkan hidupnya dalam empat peristiwa yang terpisah
- dapat menyerupai kisah Julia yang digambarkan Winston Smith.
Tetapi kalimat berikutnya –“dia lebih kuat”— ha mpir tidak
dapat diberlakuka n kepada dirinya. Tidak ada seora ng pu n ya ng
mampu bertahan menghadapi totalitarian Oceania seperti yang
diga mbarka n Orwell. Tidak ha nya negara ya ng diga mbarka n nya
benar-benar bermaksud mengha ncurka n setiap ciri individualitas,
tetapi negara itu juga memiliki kekuasa n u ntuk melakuka n
demikian. Inilah yang membedakan totalitarian Oceanian dengan
“totalitaria nisme” ya ng diuraika n oleh teoritisi politik Ha n nah
Arendt. Dan ini yang menjelaskan mengapa dampak politik karya
Orwell Nineteen Eighty-Four masih terus dirasaka n.

28

Negara yang Bengis

Ketera nga n Ta mbaha n

Konsep/ Hal. Uraia n ri ngkas berupa ketera nga n
Peristiwa/Nama tambahan yang perlu untuk
Ora ng/Tempat
Greater Germany dicantumkan sebagai catatan kaki dalam
Black Forest halaman buku yang terkait.
Peristiwa 30 Ju ni
1934 8 Jerman Raya merupakan istilah yang
mu ncul dala m masa pera ng du nia kedua.
Stumarbteilung Istilah ini mu ncul setelah Nazi Jerman
memperluas wilayah pendudukannya
Jenderal Kurt von denga n cara ekspa nsi militer.
Schleicher
8 Black Forest adalah suatu kawasa n huta n
yang terletak di wilayah pegu nu ngan
di sebelah barat daya Jerman. Hutan ini
terletak di negara bagian Wurtemmberg.

9 Peristiwa 30 Ju ni 1934 adalah peristiwa
penangkapan dan pembu nuhan
terorganisir yang dilakukan terhadap
Ernst Rohm, pemimpin Sturmabteilu ng,
dan beberapa pengikutnya. Penangkapan
dan pembu nuhan ini, yang diperintahkan
oleh Hitler, berla ngsu ng dari 30 Ju ni 1934
hingga 2 Juli 1934. Hitler melakukan
tindakan ini karena merasa terancam dan
menjadi titik balik pemerintahan di Jerman
karena ia menyatakan dirinya sebagai
“hakim tertinggi rakyat Jerma n”.

9 Stumarbteiung adalah organisasi para
militer partai Nazi. Dikenal juga denga n
singkata n SA, Stu marbteilu ng terkenal
sebagai pembuat onar jalanan, Organisasi
para militer ini memainkan peran ku nci
dala m memu nculka n kekuasaa n Hitler
pada tahu n 1920-an dan 1930-an. Namu n,
setelah peristiwa 30 Ju ni 1934, SA
kehila nga n pera n nya.

9 Jenderal Kurt von Schleicher, merupaka n
Kanselir Jerman terakhir dalam masa
Republik Weimer. Ia dibu nuh Hitler pada
peristiwa 30 Ju ni 1934 karena dituduh
melakuka n persekongkola n denga n
Stu marbteilu ng u ntuk menggulingkan
Hitler.

29

Melindungi Negara dari Ancaman Neoliberal

Otto von 9 Otto von Bismarck adalah pemimpin
Bismarck Prussia terkemuka ya ng hidup pada
abad ke-19. Ia dikenal menjadi tokoh
Paul von yang menyatukan Jerman di bawah
Hindenburg Kekaisara n Jerma n. Dia dikenal juga denga n
Reich Ketiga nama “Kaisar Besi” karena melakukan
Schutzstaffel penu mpasan terhadap pergerakan
Fritz Erler demokrasi sosial. Namu n pada saat yang
sa ma merupaka n tokoh ya ng memulai
pengenalan sistem jaminan sosial bagi para
buruh.

9 Paul von Hindenberg adalah perwira
terkemuka Jerma n da n merupaka n
Presiden pada masa Republik Weimar.
Ia merupaka n musuh politik Hitler.
Pemerintaha n konstitusional ha nya berhasil
digulingka n Hitler setelah kematia n Paul
von Hindenburg.

12 Reich Ketiga adalah nama lain bagi Jerman
di bawah pemerintahan Nazi. Disebut
dengan istilah Kekaisaran Ketiga, u ntuk
membedakannya dengan masa Kekasiran
Romawi Suci (kekaisara n perta ma)
da n kedua (Kekaisara n Jerma n). Masa
Kekaisaran Ketiga mu ncul setelah Jerman
menjadi pihak yang kalah dalam masa
Perang Du nia Pertama.

13 Dala m bahasa Indonesia berarti “Skuadron
Pelindu ng”, Schutzstaffel orga nisasi sayap
militer dari partai Nazi Jerman. Disingkat
dengan nama popular SS, Schutzstaffel
ya ng didirika n pada tahu n 1925 oleh Hitler,
merekrut para perwiranya berdasarkan
kemurnia n ras da n kesetiaa n terhadap
partai Nazi.

13 Fritz Erler adalah seora ng pemikir strategis
Jerma n terkemuka. Pada pertengaha n
1960-an ia menyatakan bahwa terdapat tiga
tujuan dari politik luar negeri Jerman yaitu
memelihara perdamaian, mempertahankan
kemerdekaa n negeri itu da n menyatuka n
Jerma n. Menurutnya ketiga tujua n ini tidak
dapat dipisahkan satu dengan lainnya

30


Click to View FlipBook Version
Previous Book
BIGDEALonlineversion
Next Book
[Al_Chaidar]NEGARA ISLAM INDONESIA Antara Fitnah & Realita