The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

perkembangan dan pertumbuhan peserta didik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 19:02:37

perkembangan dan pertumbuhan peserta didik

perkembangan dan pertumbuhan peserta didik

Dr. H. Sutirna, M.Pd.

Diterbitkan

PENERBIT ~t\m''',

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

oleh : Dr. H. Sutirna, M.Pd.
Hak Cipta © 2013 pada Penulis

Editor : Putri Christian

Setting : Rendra Duta

Desain Cover : dan_dut

Korektor : Arie Pramesta

Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi
buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis,
termasuk memfotocopy, merekam atau dengan sistem penyimpanan
lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.

Penerbit CV. ANDI OFFSET (Penerbit Andi)
Jl. Beo 38-40, telp (0274) 561881, Fax (0274) 588282 Yogyakarta 55281

Percetakan: ANDI OFFSET
Jl. Beo 38-40, telp (0274) 561881, Fax (0274) 588282 Yogyakarta 55281

Perpustakaan Nasional Katalog dalam Terbitan (KDT)

Sutirna.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik -

Dr. H. Sutirna, M.Pd.

- Ed. I. - Yogyakarta

20- 19- 18- 17- 16- 15- 14- 13

x + 210 him.; 16 x 23 Cm.

10 - 9 - 8 - 7 - 6 - 5 - 4 - 3 - 2 - 1

ISBN: 978 - 979 - 29 - 2328 - 5

I. Judul DDC'21: 370
1. Education

SEKAPUR SIRIH

Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan nasionat peranan
pendidikan sangat menentukan. Pendidikan diselenggarakan melalui jalur
pendidikan di sekolah (formal), pendidikan di luar sekolah (nonformal), dan
pendidikan di lingkungan keluarga (informal). Ketiga jalur pendidikan tersebut
berfungsi untuk meneruskan nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi muda
dan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan dalam
suatu Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, perlu adanya
kegiatan yang sinergis di setiap penyelenggaraan pendidikan, baik itu di
sekolah, luar sekolah, dan lingkungan keluarga. Di sekolah (formal) dan di
luar sekolah (nonformal), pemerintah telah memberikan rambu-rambu
yang jelas tentang kegiatan penyelenggaraannya, yaitu yang disebut dengan
Wawasan Wiyatamandala, dimana sekolah berfungsi untuk mendidik,
mengajar, dan melatih peserta didik untuk mempersiapkan dirinya di masa
yang akan datang. Dengan demikian, sekolah hendaknya tidak melakukan
atau melaksanakan kegiatan-kegiatan di luar tujuan pendidikan nasional.

Sementara pendidikan yang diselenggarakan di lingkungan keluarga
(informal) memegang peranan yang paling utama dan pertama karena
sebelum memasuki dunia pendidikan formal atau nonformal, lingkungan

keluarga peserta didiklah yang paling dahulu memberikan pendidikan. Oleh
karena itu, tanpa lingkungan keluarga yang kondusif, harmonis, dan aman
tenteram, mustahil peserta didik yang memasuki dunia sekolah akan menjadi
yang terbaik.

Begitupun dengan status perkembangan dan pertumbuhan peserta
didik. Peranan pendidikan di lingkungan keluarga menjadi sebuah momentum
titik awal dimana anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap
perkembangannya. Dengan perkembangan yang terbimbing melalui tahap
awal di lingkungan keluarga akan membawa dampak yang positif terhadap
perkembangan selanjutnya, baik itu di sekolah dan di lingkungan masyarakat.

Berbicara tentang pendidikan dapat dipastikan akan membicarakan
peserta didik. Membicarakan peserta didik dapat dipastikan akan
membicarakan perkembangan dan pertumbuhan peserta. Mempelajari
dan memahami perkembangan dan pertumbuhan peserta didik, baik itu
bagi calon guru, guru, dan orangtua sangatlah penting sebagai bahan untuk
membantu peserta didik/putra-putrinya dalam pendidikannya.

Buku Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik ini membahas
konsep perkembangan, perspektif psikologis dalam memahami
perkembangan, faktor-faktoryang memengaruhi perkembangan, tugas-tugas
perkembangan, karakteristik perkembangan psiko-fisik masa prenatal (dasar
biologis perkembangan manusia), perkembangan masa bayi, karakteristik
perkembangan fisik dan psikomotorik, karakteristik perkembangan sosial dan
kepribadian, dan karakteritik perkembangan kognitif dan bahasa, serta peran
layanan bimbingan konseling terhadap perkembangan dan pertumbuhan
peserta didik yang selama ini menjadi masalah dikarenakan kenakalan,
tawuran, narkoba, dan perbuatan negatif terhadap lingkungan sekitar.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta DidH.;

Pada awal kata pengantar ini penulis sampaikan ucapan terima kasih
yang setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar STKIP Siliwangi
Bandung yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada penulis
untuk membuat buku pegangan bagi mata kuliah Perkembangan dan
Pertumbuhan Peserta Didik serta kepada seluruh ternan-ternan yang telah
mendukung diterbitkannya buku ini.

Kekhilafan dan kealpaan merupakan sifat dari manusia. Oleh karena
itu, penulis mahan maaf jika dalam buku ini masih banyak kekurangan-
kekurangan, baik dalam bahasa, tulisan, dan materi yang disampaikan.
Penulis menerima kritik dan saran yang membangun sehingga terbitan-
terbitan selanjutnya akan lebih menyempurnakan buku ini. Terima kasih.

Bandung, 1 Syawal 1434 H
08 Agustus 2013

Dr. H. Sutirna, M.Pd.

Sekapur Sirih

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

DAFTAR lSI

SEKAPUR SIRIH -- iii

DAFTAR lSI --vii

BAB I KONSEP DASAR PERKEMBANGAN DAN
PERTUMBUHAN -- 1

A. Memahami Hakikat Manusia -- 2
B. Hubungan Manusia dengan Pendidikan -- 8
C. Kesimpulan -- 11
Daftar Pustaka -- 12

BAB II PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN
PESERTA DIDIK -- 13

A. Perkembangan Peserta Didik -- 13
B. Ciri-Ciri Perkembangan Peserta Didik -- 16
C. Prinsip-Prinsip Perkembangan Peserta Didik -- 17
D. Pentingnya Memahami Perkembangan Peserta Didik -- 19
E. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan -- 20
F. Tahap-Tahap Perkembangan -- 21
G. Kematangan Peserta Didik -- 32
H. Perbedaan Individual-- 39
Daftar Pustaka --57

BAB Ill MENGENAL PESERTA DIDIK MELALUI KARAKTERISTIK
UMUM --59

A. Mengenal Peserta Didik -- 60
B. lmplikasi Karakteristik Peserta Didik terhadap

Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah Maupun di Luar
Sekolah -- 65
C. Kesimpulan -- 78
Daftar Pustaka -- 80

BAB IV KONSEP KEBUTUHAN DAN PRAKTIKNYA TERHADAP
PROSES PEMBELAJARAN -- 81

A. Kebutuhan Fisiologis -- 86
B. Kebutuhan Rasa Aman -- 87
C. Kebutuhan Dicintai dan Disayangi -- 88
D. Kebutuhan Harga Diri -- 89
E. Kebutuhan Aktualisasi Diri -- 90
F. Kesimpulan -- 96

BAB V HUKUM-HUKUM PERKEMBANGAN -- 99

A. Hukum Konvergensi -- 99
B. Hukum Tempo Perkembangan -- 100
C. Hukum lrama Perkembangan -- 101
D. Hukum Kesatuan Organis -- 101
E. Hukum Hierarki Perkembangan -- 102
F. Hukum Masa Peka -- 102
G. Hukum Mengembangkan Diri -- 103
H. Hukum Rekapitulasi -- 103

BAB VI ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN --107

A. Perkembangan Moral -- 108
B. Perkembangan Disiplin -- 115
C. Perkembangan Sosial -- 118
D. Kesimpulan -- 122

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

BAB VII FAKTOR-FAKTOR PENGARUH TERHADAP
PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN -- 125

A. Ali ran Nativisme -- 126
B. Ali ran Empirisisme -- 127
C. Aliran Konvergensi -- 130
D. Kesimpulan -- 140
BAB VIII PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM

PROSES PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN
PESERTA DIDIK --143
A. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling -- 144
B. Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling -- 160
C. Fungsi Layanan Bimbingan dan Konseling -- 164
D. Prinsip-Prinsip Layanan Bimbingan dan Konseling -- 166
E. Asas Layanan Bimbingan dan Konseling -- 170
F. Peran Bimbingan Konseling dalam Memfasilitasi
Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik -- 172
G. Kesimpulan -- 178
BAB IX TUGAS MANDl Rl -- 183
DAFTAR PUSTAKA -- 197
RIWAYAT HIDUP PENULIS --201

Daftar lsi

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

KONSEP DASAR PERKEMBANGAN DAN
PERTUMBUHAN

Membicarakan konsep dasar perkembangan dan pertumbuhan
berarti membicarakan makhluk ciptaan Allah SWT. Dengan demikian,
dalam kaitannya dengan dunia pendidikan berarti kita akan membahas
tentang manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia berarti kita akan
membicarakan mengenai peserta didik.

Perkembangan dan pertumbuhan peserta didik seyogyanya berjalan
sebagai perbandingan senilai. Artinya, jika pertumbuhan itu berjalan dengan
baik seharusnya perkembangannya pun berjalan dengan baik. Namun, ada
saja peserta didik yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang
tidak senilai, artinya berbalik nilai.

Nah, inilah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh semua unsur yang
terkait dalam dunia pendidikan. Dari jenjang taman kanak-kanak sampai
dengan perguruan tinggi, sehingga tujuan dan fungsi pendidikan yang telah
dituangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan akan tercapai.

Oleh karena itu, sebelum mempelajari layanan pendidikan yang tepat
bagi peserta didik yang memiliki keunikan dalam segala hal, perlu sekali
memahami terlebih dahulu tentang hakikat manusia dan unsur-unsur di
dalamnya, sehingga dalam menentukan perlakuan pendidikan akan lebih
terarah sesuai dengan perbedaan setiap manusia/individu/peserta didik.

A. Memahami Hakikat Manusia

Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh
Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu
konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di bumi ini. Fungsi dan
tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah harus bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan bagi orang lain. Sedangkan tugas manusia yang hakiki
adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia adalah makhluk hidup, dalam diri manusia terdapat apa yang
terdapat dalam makhluk hid up lainnya yang bersifat khusus. Dia berkembang,
bertambah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga
dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang
lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang
dan cinta, rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa
takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan,
rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang
berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah
menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan
rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya
potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia
senantiasa berusaha mendapatkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya.
Hal ini juga dialami oleh para makhluk hidup lainnya. Hanya saja, manusia
berbeda dengan makhluk hidup lainnya dalam hal kesempurnaan tata cara

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

untuk memperoleh benda-benda pemuas kebutuhannya dan juga tata cara
untuk memuaskan kebutuhannya tersebut.

Dengan demikian, sifat hakikat manusia tidak dapat hidup sendiri
tanpa orang lain. Oleh karena itu, perkembangan dan pertumbuhan manusia
tidak bisa berjalan begitu saja tanpa ada dukungan dari lingkungan di mana
manusia itu berada.

Mari kita perhatikan beberapa pakar yang menyampaikan definisi
manusia untuk diketahui kemudian diaplikasikannya dalam berinteraksi
dengan peserta didik, baik pada saat proses belajar mengajar maupun di luar
proses belajar mengajar.

1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu di antara semua makhluk natural
dan supranatural, man usia mempunyai jiwa be bas dan hakikat yang mulia.

2. Manusia adalah kemauan bebas. lnilah kekuatannya yang luar biasa dan
tidak dapat dijelaskan: kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah
masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yang bebas
- kepadanya dunia alam (world of nature}, sejarah, dan masyarakat
sepenuhnya bergantung, serta terus-menerus melakukan campur
tangan dan bertindak atas rangkaian deterministis ini. Dua determinasi
eksistensial, kebebasan dan pilihan, telah memberinya suatu kualitas
seperti Tuhan.

3. Manusia adalah makhluk yang sadar. Sifat ini adalah kualitasnya yang
paling menonjol. Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yang
menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap
rahasia yang tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisis
masing-masing realita dan peristiwa. Ia tidak tetap tinggal pada
permukaan serba-indra dan akibat saja, tetapi mengamati apa yang ada

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

di luar pengindraan dan menyimpulkan penyebab dari akibat. Dengan
demikian, ia melewati batas pengindraannya dan memperpanjang ikatan
waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu
yang tidak dihadirinya secara objektif. Ia mendapat pegangan yang benar,
luas, dan dalam atas lingkungannya sendiri. Kesadaran adalah suatu zat
yang lebih mulia daripada eksistensi.

4. Manusia adalah makhluk yang sadar diri. Artinya bahwa ia adalah satu-
satunya makhluk hidup yang mempunyai pengetahuan atas kehadirannya
sendiri. Ia mampu mempelajari, menganalisis, mengetahui, dan menilai
dirinya.

5. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini
memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya
di sam ping Tuhan. Hal ini menyebabkan man usia memiliki kekuatan ajaib-
semu (quasi-miracolous) yang memberinya kemampuan untuk melewati
parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan
kedalaman eksistensial yang tak terbatas, dan menempatkannya pada
suatu posisi untuk menikmati apa yang belum diberikan alam.

6. Manusia adalah makhluk idealis; pemuja yang ideal. Artinya, ia tidak
pernah puas dengan apa yang ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya
menjadi apa yang seharusnya. ldealisme adalah faktor utama dalam
pergerakan dan evolusi manusia.ldealisme tidak memberikan kesempatan
untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yang ada. Kekuatan inilah
yang selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki,
mewujudkan, membuat, dan mencipta dalam alam jasmaniah dan
rohaniah.

7. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting
mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yang ada antara manusia dan

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

setiap gejala, perilaku, perbuatan, atau dimana suatu motif yang lebih
tinggi daripada motif manfaat timbul. lkatan ini mungkin dapat disebut
ikatan suci karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa, sehingga orang
merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka
demi ikatan ini.

8. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami. Ia mempunyai esensi

uniknya sendiri dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala
yang bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur
dalam alam yang independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan
mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan
alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab
yang tidak akan mempunyai arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu
pada sistem nilai.

Definisi di atas memberikan definisi yang jelas mengenai siapakah
manusia itu. Dengan demikian, pengertian hakikat manusia adalah:

1. Makhluk yang memiliki tenaga yang dapat menggerakkan hidupnya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

2. lndividu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah
laku intelektual dan sosial.

3. Makhluk yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu
mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.

4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang
tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

5. lndividu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha
mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain, dan membuat dunia
lebih baik untuk ditempati.

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan
ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.

7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung
kemungkinan baik dan jahat.

8. lndividu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan
sosial. Bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat
kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Memahami hakikat manusia bagi seorang pendidik/calon pendidik

sangatlah penting karena hal ini merupakan dasar pijakan bagi pendidik untuk
memberikan layanan pendidikan yang tepat. Apalagi dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi dimana manusia memerlukan pendidikan
yang bermutu untuk menghadapinya.

Sunaryo (Pikiran Rakyat, 22 April 2012) dalam tulisannya yang berjudul
Pedagogi Kedamaian menyampaikan bahwa pendidikan adalah proyek
penyadaran tentang makna menjadi manusia dan bagaimana seharusnya
berinteraksi dengan alam dan makhluk lain. Di dalamnya termasuk belajar
peduli dan merawat lingkungan. Dalam konteks ilmu mendidik tentang
perdamaian (pedagogy of peace) dalam pendidikan yang berlandaskan
kedamaian (peacefulness based educationL kemudian disampaikan beberapa
prinsip pendidikan yang harus dijadikan pegangan, yaitu:

1. Pendidikan kedamaian tidak harus berbentuk mata pelajaran khusus.
Pemberian pesan damai dan usaha untuk membentuk preferensi
masyarakat untuk memajukan cara-cara damai dalam menyelesaikan
persoalan, bisa disampaikan dalam pelajaran apapun. Kedamaian bukan
menjadi tujuan, tetapi harus hadir sebagai climate, sebagai iklim yang
menyelimuti belajar-mengajar.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

2. Pendidikan kedamaian adalah usaha sadar semua pihak dalam mengubah
cara-cara menyelesaikan masalah sehingga tidak mengganggu keutuhan
sosial dan keadilan. Pada sisi lain, pendidikan kedamaian adalah
pembentukan kesadaran transformatif. Tujuan pendidikan kedamaian
berhasil bila terbangun preferensi masyarakat untuk memajukan cara-
cara damai dalam menyelesaikan potensi konflik dan mengatasi berbagai
ketimpangan yang dapat memicu kekerasan.
Preferensi yang dimaksudkan adalah pilihan yang mengandung
keberpihakan. Dengan demikian, preferensi damai adalah pemajuan
cara-cara damai sekaligus penolakan terhadap kekerasan, siapa pun yang
melakukannya dan siapa pun korbannya.

3. Bagaimana cara manusia hidup yang baik terdefinisikan dalam budaya.
Definisi tadi bisa merujuk pada agama, hukum, atau kaidah apa pun
yang dinilai fungsional. Seperti halnya budaya yang memiliki unsur-unsur
universal namun kerap hadir secara kontekstual, cara manusia memaknai
dan mengajarkan kedamaian bisa mengacu pada standar universal dan
lokal sekaligus.

Dalam konteks global, kaidah ini mengingatkan pentingnya mengelola
potensi kesalahpahaman akibat perbedaan budaya. Kadang orang
memiliki bahasa dan cara yang berbeda untuk maksud yang sama.
Kepekaan budaya menjadi faktor penting dalam memajukan pendidikan
kedamaian. Pada titik inilah nisbah antara pendidikan kedamaian dengan
pembentukan warga negara global dengan identitas dan karakter lokal
menemukan simpulnya.

4. Hal yang mendasar dalam pendidikan kedamaian adalah komitmen
guru dalam membentuk pengalaman dan preferensi murid-muridnya
untuk mengedepankan cara-cara damai meskipun beragam kesulitan

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

akan menghadang. Di dalamnya termasuk merangsang hak koletif untuk
mewujudkan mimpi bersama tentang dunia yang aman dan kehidupan
tidak saling mencederai.

Selanjutnya dalam tulisan tersebut disampaikan tiga pilar tentang
kehidupan manusia yang baik yang dikutip dari seorang ulama besar, yaitu
Hasan AI-Bashri. Ketiga pilar tersebut adalah (1) kebiasaan seseorang jangan
saling mengganggu, (2) selalu menawarkan bantuan, dan (3) selalu hadir
dengan wajah tersenyum/berseri.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki
potensi untuk menuju manusia yang baik tersebut dengan memberikan
pendidikan kedamaian bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya sesuai dengan
hakikat manusia itu sendiri.

Pendidikanlah yang memiliki garda terdepan untuk membangun
manusia menjadi lebih baik dengan tindakan semua guru yang humanistik
(memanusiakan manusia) secara bersama-sama dalam satu ikatan untuk
memberikan pendidikan yang terbaik bagi manusia sehingga tujuan man usia
secara hakiki akan tercapai, yaitu bahagia didunia dan bahagia di akhir zaman.

B. Hubungan Manusia dengan Pendidikan

Pendidikan adalah investasi suatu bangsa, pendidikan adalah bekal
hidup dan kehidupan manusia di masa kini dan masa mendatang, dan
pendidikan memiliki pengaruh terhadap semua aspek kehidupan. Hal ini
sesuai dengan aliran pendidikan kaum Empirisme, di mana lingkungan
pendidikan akan berpengaruh terhadap perkembangan manusia.

Multahim (2005) menyampaikan bahwa pada masyarakat yang masih
sederhana (primitif), keluarga merupakan lingkungan atau lembaga yang
paling dominan dalam pembentukan kepribadian anak. Akan tetapi, pada

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

masyarakat yang sudah maju, sebagai fungsi untuk pembentukan dan
pertumbuhan pribadi anakdiganti oleh suatu lembaga formal (persekolahan).
Ada tiga fungsi sekolah dalam pembentukan kepribadian anak, yaitu:

1. Memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
mengembangkan daya intelektual agar anak dapat hidup layak dalam
masyarakat.

2. Membentuk kepribadian anak agar sesuai dengan nilai-nilai dan norma
yang ada dalam masyarakat.

3. Mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan
bakatnya, melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari
generasi yang satu ke generasi berikutnya.
Dari uraian tersebut jelas bahwa manusia dengan pendidikan

(lingkungan sekolah) memiliki hubungan yang sangat penting dalam
rangka mengembangkan segala potensi diri untuk masa depan serta
menumbuhkembangkan kepribadiannya sesuai dengan jati diri bangsa
Indonesia.

Apalagijika kita perhatikan perkembangan duniayangsemakin modern,
dimana budaya (culture) bangsa lain yang tidak menampakkan ciri budaya
bangsa Indonesia semakin hari semakin tidak dapat dibendung atau dicegah
keberadaannya. Sopan santun (etika) juga semakin hari semakin jauh dari tata
kesopanan jati diri bangsa Indonesia. Bahkan fenomena yang mengerikan
sekarang ini banyak terjadi adalah anak kandung menganiaya orangtuanya,
orangtua membunuh anak kandungnya, tawuran antarkampung, tawuran
antarpelajar bahkan mahasiswa, dan sejenisnya.

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa kaitan pendidikan dengan
man usia sangatlah erat dalam memberikan pengertian-pengertian yang jelas
tentang budaya dan etika bangsa Indonesia kepada peserta didik dengan
memberikan pelayanan pendidikan yang optimal.

Ada dua asas yang terkait dengan perlunya pendidikan bagi manusia
dalam mengarungi hidup dan kehidupan, yaitu:

1. Asas-Asas Keharusan atau Perlunya Pendidikan bagi Manusia
Terdapat tiga asas keharusan pendidikan. Pertama, manusia sebagai

makhluk yang belum selesai, artinya man usia harus merencanakan, berbuat,
dan menjadi. Dengan demikian, setiap saat man usia dapat menjadi lebih atau
kurang dari keadaannya. Contoh manusia belum selesai adalah manusia lahir
dalam keadaaan tidak berdaya sehingga memerlukan bantuan orangtuanya
atau orang lain dan selain itu manusia harus mengejar masa depan untuk
mencapai tujuannya. Kedua, tugas dan tujuan manusia adalah menjadi
manusia, yaitu aspek potensi untuk menjadi apa dan siapa, merupakan
tugas yang harus diwujudkan oleh setiap orang. Ketiga, perkembangan
manusia bersifat terbuka, yaitu manusia mungkin berkembang sesuai
dengan kodratnya dan martabat kemanusiaanya, sebaliknya mungkin pula
berkembang ke arah yang kurang sesuai. Contohnya, manusia memiliki
kesempatan memperoleh kepandaian, kesehatan jasmani rohani, tata krama
yang baik, dan tujuan hidupnya.

2. Asas-Asas Kemungkinan Pendidikan
Ada lima asas antropologi yang mendasari kesimpulan bahwa manusia

mungkin dididik atau dapat dididik. Pertama, asas potensial, yaitu manusia
akan dapat dididik karena memiliki potensi untuk dapat menjadi manusia.
Kedua, asas dinamika, yaitu manusia selalu menginginkan dan mengejar
segala yang lebih dari apa yang telah dicapainya. Ketiga, asas individualitas,
yaitu manusia sebagai makhluk individu tidak akan pasif, melainkan bebas

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

dan aktif berupaya untuk mewujudkan dirinya. Keempat, asas sosialitas,
yaitu manusia butuh bergaul dengan orang lain. Kelima, asas moralitas, yaitu
man usia memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan tidak baik,
dan pada dasarnya ia berpotensi untuk berperilaku baik atas dasar kebebasan
dan tanggung jawabnya. (www.jember blogspot.com. 2012)

C. Kesimpulan

Manusia adalah salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling
sempurna dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Salah satu
yang membedakan manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya adalah manusia
diberikan akal atau pikiran. Akal inilah yang akan menjadikan manusia itu
dapat menentukan pilihan jalan kehidupannya.

Agar jalan kehidupan manusia sejalan dengan kodratnya dan
menghasilkan manusia yang baik (dalam hal ini peserta didik) diperlukan
perlakuan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Pendidikan sekolah
memiliki peranan terdepan setelah pendidikan keluarga yang paling utama.
Oleh karena itu, man usia dan pendidikan sangat penting; tidak bisa diabaikan
keberadaannya.

Agar pendidikan berhasil menciptakan peserta didik yang memiliki
pengetahuan dan keterampilan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan di
dunia pendidikan dalam pelaksanaannya, yaitu seperti yang Sunaryo (2013)
katakan bahwa ada tiga pilar tentang kehidupan manusia yang baik yang
dikutip dari seorang ulama besar, yaitu Hasan AI-Bashri. Ketiga pilar tersebut
adalah (1) kebiasaan seseorang jangan saling mengganggu, (2} selalu
menawarkan bantuan, dan (3} selalu hadir dengan wajah tersenyum/berseri.

Konsep Dasar Perkembangan dan Pertumbuhan

Daftar Pustaka

http://je m be rsa ntri. blogspot. com/2012/1 0/ha kikat-man usia-dan-
pendidikan.html.

Multahim, D. 2005. Pendidikan Agama Islam. Semarang: Aneka llmu.
Sunaryo, Kartadinata. 2013. "Pendidikan Kedamaian". Pikiran Rakyat. 22

April 2012.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN
PESERTA DIDIK

A. Perkembangan Peserta Didik

Banyak ahli psikologi maupun ahli pendidikan mendefiniskan
perkembangan dengan berbagai cara sesuai keilmuan yang dimilikinya.
Namun, semua pendapat tentang perkembangan dapat disimpulkan berupa
perubahan seseorang ke arah yang lebih maju, dewasa, atau lebih matang.
Nana Syaodih (2009) menyimpulkan bahwa perkembangan itu adalah
penyempurnaan dan peningkatan fungsi secara kualitas.

Perubahan ke arah yang lebih maju di sini tidak serta merta semudah
membalikan dua telapak tangan, tetapi perubahan melalui suatu proses.
Oleh karena itu, sebagian besar ahli membicarakan perkembangan berkaitan
dengan prosesnya.

Manusia adalah mahluk yang berdimensi biopsikososiospiritual.
Sejak masih dalam kandungan, manusia merupakan kesatuan psikofisis
yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan
dan perkembangan merupakan sifat kodrat manusia yang harus mendapat
perhatian secara saksama. Apalagi di dunia pendidikan (di sekolah) hal ini

merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pendidik
dalam rangka menfasilitasi peserta didik untuk lebih baik. Dengan kata
lain, dalam mengaplikasikan perkembangan tidak boleh pilih kasih atau
diskriminasi terhadap peserta didik.

Dengan demikian, perkembangan itu merupakan suatu deretan
perubahan yang tersusun dan berarti, yang berlangsung pada individu dalam
jangka waktu tertentu. Perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan
mental/perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat.
Perkembangan juga merupakan proses yang sifatnya menyeluruh/ho/istic;
mencakup proses biologis, kognitif, dan psikososial.

Perhatikan tabel 2.1 tentang pandangan perkembangan secara
tradisional dan kontemporer berikut ini.

Tabel 2.1 Pandangan Perkembangan secara Tradisional dan
Kontemporer

Pandangan kaum tradisional Pandangan kontemporer tentang
berpendapat bahwa perkembangan manusia yang
perkembangan lebih ditekankan menekankan pada perkembangan
pad a: rentang hidup (life-span}, yakni
perubahan yang terjadi selama
1) Kematangan rentang kehidupan mulai
dari konsepsi sampai dengan
2) Pertumbuhan meninggal.

3) Perubahan yang ekstrem
selama masa bayi, anak-anak,
dan remaja.

Sementara perubahan selama

masa dewasa dan penurunan

pada usia lanjut kurang

menda rhatian.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Jelas sekali pandangan tradisional ini tidak menyeluruh memandang
perkembangan hanya terbatas sampai dengan tahap remaja sedangkan
untuk tahap berikutnya tidak diakomodasi. Sedangkan pandangan kaum
kontemporer menyatakan bahwa perkembangan itu terjadi secara terus-
menerus selama individu masih hidup atau dengan kata lain sampai individu
meninggal dunia.

Contoh kasus misalnya ketika Anda duduk di bangku SD Anda
mempunyai seorang teman. Teman SD Anda tersebut menjadi mahasiswa
berprestasi di perguruan tinggi bahkan sekarang menjadi orang terkenal dan
sukses dalam karier, sampai-sampai Anda terkejut dan tidak percaya karena
Anda benar-benar mengetahui kemampuan orang tersebut. Dari kasus ini
dapat disimpulkan bahwa perkembangan seseorang tidak dapat diprediksi
oleh siapa saja, dan perkembangan akan terus berproses selama individu
masih hidup.

Bagaimanakah aplikasinya dalam dunia pendidikan? Sama seperti
kasus di atas, guru tidak bisa mengatakan kalimat atau kata-kata yang sangat
memvonis saat peserta didik menjalani proses pembelajaran, misal, "Tolol
kamu .... Bodoh kamu .... Selalu tidak bisa setiap ulangan," dan sebagainya.
Lima atau sepuluh tahun yang akan datang dikhawatirkan anak didik
yang selalu dicemohkan tersebut menjadi orang terpandai dalam bidang
kedokteran, ahli gizi, atau menjadi guru. Akhirnya bagaimana sikap Anda
jika Anda berbuat atau melakukan proses pembelajaran seperti itu dan
mengalami kenyataan seperti cerita di atas?

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada alat
ukur untuk mengukur perkembangan anak. Dengan kata lain, tidak dapat
dikatakan hasilnya pada saat itu secara mutlak. Misalnya, anak yang kita
berikan materi pada saat itu adalah anak yang tidak dapat mengikuti atau
selalu lambat dalam menerima materi dibandingkan dengan temannya. Kita

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

bisa mengaplikasikan perkembangan peserta didik dengan selalu bersandar
kepada kata-kata bijak yang sering diutarakan oleh para orangtua, yaitu
"Kuda Sumbawa dengan larinya yang kencang dapat dipastikan bisa diburu
atau didapat, namun nasib anak/individu/manusia tidak bisa ditebak".

B. Ciri-Ciri Perkembangan Peserta Didik

Ciri-ciri perkembangan individu dapat diperhatikan di bawah ini:

1. Seumur hidup (life-long), artinya tidak ada periode usia yang mendominasi
perkembangan individu.

2. Multidimentional, artinya terdiri atas biologis, kognitif, dan sosial. Bahkan
dalam satu dimensi terdapat banyak komponen, misalnya inteligensi:
inteligensi abstrak, inteligensi nonverbal, inteligensi sosial, dsb.

3. Multidirectionalbeberapa komponen dari suatu dimensi dapat meningkat
dalam pertumbuhan, sementara komponen lain menurun. Misalnya,
orang dewasa dapat semakin arif tetapi kecepatan memproses informasi
lebih buruk.

4. lentur (plastis}, artinya bergantung pada kondisi kehidupan individu.
Lebih rinci lagi ciri perkembangan dapat diperhatikan dari segi fisik dan

psikis.

Tabel 2.2 Perkembangan dari Segi Fisik dan Psikis

Terjadinya Perubahan tinggi Bertambahnya
perubahan badan/berat badan/ perbendaharaan kata-kata,
organ-organ tubuh matangnya kemampuan
lain. berpikir, mengingat, dan
menggunakan imajinasi
kreatifnya.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Perubahan Proporsi tubuh Perubahan imajinasi
dalam proporsi berubah sesuai dari fantasi ke realitas,
dengan fase perhatiannya dari diri
Lenyapnya tanda perkembangannya. sendiri ke orang lain/teman
tanda lama kelompok sebaya.
Lenyapnya kelenjar Masa mengoceh/meraba
Diperoleh tanda- thymus (kelenjar
tanda baru kanak-kanak) yang gerak-gerik kanak-kanak I
terletak pada bagian
dada, kelenjar pineal merangkak, perilaku impulsive
pada bagian bawah (dorongan untuk bertindak
otak, gigi susu, dan sebelum berpikir).
rambut-rambut halus.
Rasa ingin tahu terutama
Pergantian gigi, yang berhubungan dengan
karakteristik seks pada ilmu pengetahuan, seks,
usia remaja sekunder nilai moral, dan keyakinan
(perubahan anggota beragama.
tubuh) dan primer
(menstruasi/mimpi
basah).

C. Prinsip-Prinsip Perkembangan Peserta Didik

Prinsip perkembangan peserta didik sebagai berikut:

1. Proses perkembangan setiap individu prinsipnya tidak pernah berhenti
(never ending process). Artinya, perkembangannya terus-menerus atau
berubah-ubah yang dipengaruhi oleh pengalaman dan belajar sepanjang
hayat dari sejak masa konsepsi sampai tua atau sampai pada masa
kematangan individu.

2. Proses perkembangan setiap individu prinsipnya saling memengaruhi.
Artinya, perkembangan individu saling memengaruhi atau ada korelasi
antara fisik, emosi, intelegensi, dan sosial. Dengan demikian, prosesnya
tidak berdiri sendiri.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

3. Proses perkembangan setiap individu prinsipnya mengikuti pola atau arah
tertentu. Artinya, setiap tahap perkembangan sebelumnya akan menjadi
dasar perkembangan selanjutnya. Dengan kata lain, perkembangan
individu sebelumnya merupakan prasyarat untuk menghadapi
perkembangan selanjutnya.

4. Proses perkembangan setiap individu prinsipnya terjadi pada tempo yang
berlainan. Artinya, perkembangan individu tidak ada yang sa rna. Ada yang
perkembangannya lambat, sedang, dan cepat.

5. Proses perkembangan setiap individu prinsipnya harus berjalan dengan
normal, yaitu dimulai dari tahap bayi, kanak-kanak, anak, remaja, dewasa,
dan masa tua.

6. Proses perkembangan setiap individu pnns1pnya memiliki ciri khas.
Artinya, setiap fase perkembangannya memiliki ciri khas. Misalnya, anak
usia dua tahun memusatkan untuk mengenali lingkungan dan menguasai
gerak fisik serta belajar berbicara.
Nana Syaodih (2009) menyimpulkan berdasarkan hasil penelitian, yang

merupakan prinsip perkembangan, di antaranya:

1. Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi seluruh aspek.
2. Setiap individu memiliki kecepatan dan kualitas perkembangan yang

berbeda.
3. Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu.
4. Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
5. Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju

ke arah yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi.
6. Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase

perkembangan.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Ditiik

7. Sampai batas-batas tertentu perkembangan sesuatu aspek dapat
dipercepat atau diperlambat.

8. Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi
dengan aspek lainnya.

9. Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang tertentu perkembangan pria
berbeda dengan wanita.

D. Pentingnya Memahami Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan dunia semakin hari semakin tidak terbayangkan
oleh akal manusia, begitupun dengan dampak yang akan terjadi ketika
perkembangan dunia tersebut masuk dalam diri peserta didik. Dengan
demikian, memahami perkembangan anak merupakan faktorterpenting agar
anak dapat dibimbing dan difasilitasi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman
dalam menghadapi dunia yang semakin modern ini.

Misalnya kita perhatikan perkembangan masa anak-anak yang tumbuh
dengan cepat dan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap
perkembangan selanjutnya. Jika tahap perkembangan fase anak-anak ini
tidak dipahami oleh guru, orangtua, masyarakat, sekolah, dan pemerintah
betapa sedihnya anak-anakjika tahap perkembangannya tidak dilalui dengan
tepat. Apa yang akan terjadi?

Dengan memperhatikan permisalan di atas, jelaslah bahwa
pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu pengembangan
diri anak dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

Dalam ciri-ciri guru yang bermutu (teacher quality) memahami
perkembangan peserta didik merupakan salah satu dari enam ciri guru
yang bermutu. Enam ciri guru yang bermutu adalah memahami dan
memperhatikan pribadi siswa, menghargai dan memperlakukan siswa yang

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

sama, interaksi sosial dengan siswa, motivasi belajar, sikap profesi, dan sikap
reflektif.

Berdasarkan uraian di atas sangat jelas bahwa mempelajari dan
memahami perkembangan peserta didik merupakan kewajiban bagi seorang
guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Jika hal ini tidak
dilakukan guru, maka guru tersebut belum termasuk dalam ciri-ciri guru
yang berkualitas.

E. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan

Selama terjadinya proses perkembangan tidak luput dari adanya faktor
yang memengaruhi. Wardani (1998) menyampaikan ada tiga aliran yang
berpendapat tentang faktor pengaruh dari perkembangan anak. Aliran-aliran
tersebut dapat diperhatikan tabel 2.3 berikut:

label 2.3 Aliran-Aiiran yang Memengaruhi Perkembangan Manusia

1 Nativisme Pelopor aliran nativisme adalah Schopen-
hauer. Ia berpendapat bahwa perkemban-
gan anak dipengaruhi oleh faktor pem-
bawaan atau keturunan (heriditi). Sebagai
contoh, wajah atau perilaku anak akan
berkembang sesuai dengan wajah atau
perilaku orangtuanya. Lingkungan, dalam
hal ini pendidikan, sama sekali tidak di-
anggap mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan anak. Oleh karena itu, ali-
ran ini berpendapat bahwa pendidikan
tidak ada gunanya dalam perkembangan
individu.

Anak pemusik akan menjadi pemusik,
anak koruptor akan menjadi koruptor,
anak guru akan menjadi guru. Bagaimana
pendapat Anda?

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

2 Empirisme Pelopor aliran ini adalah John Lock yang
3 Konvergensi menentang aliran nativisme. Dia ber-
pendapat bahwa perkembangan individu
semata-mata dipengaruhi oleh faktor ling-
kungan atau luar. Anak yang baru lahir dii-
baratkan bagaikan kertas putih yang bersih
yang dapat ditulisi apa saja. Oleh karena
itu, pendidikan dan lingkungan sangat
berperan dalam perkembangan individu
untuk masa depan. Teori aliran ini dikenal
dengan teori "Tabula Rasa". Anak orang
baik-baik yang ada di lingkungan penjahat
akan menjadi seorang penjahat, anak pen-
jahat yang dididik oleh seorang guru akan
menjadi guru. Bagaimana menurut Anda?

Aliran nativisme dengan aliran empirisme
selalu bertentangan, kemudian munculah
aliran konvergensi yang dipelopori oleh
William Stern yang mempertemukan an-
tara dua aliran yang selalu bertentangan.
Aliran konvergensi berpendapat bahwa
perkembangan individu dipengaruhi baik
oleh faktor bawaan maupun oleh faktor
lingkungan/pendidikan. Dengan demikian,
faktor bawaan dan lingkungan dapat me-
nentukan arah perkembangan seseorang
dengan menyediakan kondisi yang ideal.

F. Tahap-Tahap Perkembangan

Tahap perkembangan individu berbeda-beda menurut dasar atau
pandangan yang digunakan dalam melihat perkembangan individu. Tahap
perkembangan individu ada yang dilihat berdasarkan aspek perkembangan
biologis, aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan afektif, aspek
didaktis, dan aspek-aspek lainnya. Dengan demikian, pembagian fase-
fasenya juga akan berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang diambil.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

1. Aspek Perkembangan Biologis
Tokoh yang membagi fase-fase perkembangan berdasarkan

perkembangan biologis yaitu Aristotales. Aristoteles membagi menjadi tiga
fase yang masing-masing berjarak 7 tahun setiap fase.

Tabel 2.4 Tahapan Perkembangan Menurut Aristoteles

masa bermain atau masa kanak-kanak.
II 7 -14 tahun Masa anak atau masa belajar atau masa

sekolah rendah {sekolah dasar sedera
Ill 14-21 tahun Masa remaja atau pubertas, atau masa

peralihan dari masa anak menjadi orang
dewasa.
(Sumber: Sumadi Suryabrata, 1990; Nana Syaodih, 2009)

Selanjutnya masa perkembangan menurut Jean Jacques Rousseau,
seorang filsuf dan negarawan Perancis, yang membagi menjadi empat tahap
perkembangan, yaitu:

Tabel 2.5 Tahapan Perkembangan Menurut J.J. Rousseau

II 2-12 tahun sebagai

Ill 12 15 Masa remaja, anak hidup sebagai

tahun petualang, perkembangan intelek dan

pertimbangan.

IV 15 124 Masa remaja sesungguhnya, individu

tahun hidup sebagai manusia beradab:

pertumbuhan kelamin, sosial, dan kata

hati.

(Sumber: Nana Syaodih, 2009)

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Ahli psikologi perkembangan lain, yaitu Stanley Hall juga membagi
perkembangan anak menjadi empat tahap, yaitu:

Tabel 2.6 Tahapan Perkembangan Menurut Stanley Hall

0-4 tahun Masa kanak-kanak sebagai binatang
melata dan berjalan.

II 4-8 tahun Masa anak, seb mburu.

Ill 8-12 tahun Masa puber atau remaja awal, sebagai

biadab atau liar.

IV 12/13 - Masa adolesen atau remaja

Dewasa sesungguhnya dimulai dengan masa

gejolak perasaan, konflik nilai, dan

berakhir sebagai manusia peradaban

modern.

(Sumber: Nana Syaodih, 2009)

Kemudian Sigmund Freud, seorang ahli psikologi Jerman yang
beraliran psikoanalisis, mengemukakan perkembangan individu berdasarkan
perkembangan seksualnya.

Tabel 2.7 Tahapan Perkembangan Menurut Sigmund Freud

0-2 tahun Masa bayi yang disebutnya sebagai

tahap oral (oral stage). Pada masa ini,
bayi akan merasa senang kalau ada

rangsangan benda, makanan, dan

benda yan lainnya pada mulut.

II 2-4 tahun Masa anal (anal stage), bayi akan

merasa senang jika buang air besar

karena ran n pada dubur (anal).

Ill 4-6 tahun Masa falik (phalic stage), anak akan

merasa senang bila ada rangsangan
atau sentuhan pada kelaminnya.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

IV 6-12 tahun Masa latensi (latency stage) dorongan

seksualnya tidak nampak sebab

tersembunyi dalam berbagai aktivitas

dan hubungan sosial.

v 12 tahun - Masa genital (genital stage)

Dewasa merupakan kematangan kehidupan

seksual. lndividu pada masa ini siap

untuk melahirkan keturunan dan

melaksanakan fungsi-fungsi sebagai

ayah dan ibu.

(Sumber: Nana Syaodih, 2009)

Sedangkan Erikson mengemukakan perkembangan kepribadian anak
yang lebih bersifat menyeluruh. Ia membagi seluruh perkembangan anak
sebagai berikut:

Tabel 2.8 Tahapan Perkembangan Menu rut Erikson

0- 1 tahun Masa bayi, yang ditandai oleh
kepercayaan-ketidakpercayaan terutama
kepada orangtua trust-mistrust).

II 1- 3 tahun Masa kanak-kanak, ditandai oleh adanya
otonomi di satu pihak dan rasa malu di
lain ·hak (autonom -shame).

Ill 3- 6 tahun Masa prasekolah, ditandai oleh rasa
inisiatif dan rasa bersalah (initiative -
guilt).

IV 6 -12 tahun Masa sekolah, ditandai oleh kemampuan

untuk menciptakan sesuatu dan rasa

rendah diri (industry- inferiority).

v 12 18 Masa remaja, ditandai oleh integritas

tahun diri dan kebingungan (identity- identity

(Sumber: Nana Syaodih, 2009)

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Masa anak kecil lebih dikenal dengan masa bermain yang sering
ditandai dengan munculnya reaksi-reaksi positif dan negatif, refleks (spontan,
tiba-tiba), pengamatan mulai dari diri sendiri, hubungan sosial terbatas (ibu,
bapak, kakak, adik, keluarga), serta sifat naif egosentris. Hal ini semua dapat
dilihat dari tingkah lakunya, misal ingin mengambil gelas minum (dia tidak
tahu jika gelas minum itu mudah pecah jika terjatuh), gerakan yang lucu
secara spontan/tiba-tiba, bergaya dengan gerakan menari dan bernyanyi,
dia baru mengenal hanya ibu dan ayah, serta suka terlihat sangat egosentris
dengan kekanak-kanakannya.

Bagaimana dengan pengaruhnya terhadap dunia pendidikan untuk
perkembangan tahap masa kanak-kanak ini? Oleh karena itu, pada saat fase
I inilah diperlukan dunia pendidikan dengan pendekatan pembelajaran masa
bermain. Artinya, semua kegiatan pembelajaran seyogyanya bernuansa
bermain, misalnya di Taman Kanak-Kanak, Play Group, PAUD, Kelompok
Bermain (Kober), dan lain-lain.

Masa fase I inilah yang sering disebut dengan masa keemasan (go/dent
age) dimana sebagai penentu masa yang akan datang atau cikal bakal
generasi penerus bangsa.

Gambar 2.1 Siswa Taman Kanak-Kanak

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Selanjutnya, pada masa sekolah rendah atau masa belajar awal
(tingkatan Sekolah Dasar sederajatL mulai timbul keinginan untuk belajar
pada diri anak. Muncul adanya pengaruh orang lain, mulai berkembangnya
interaksi sosiat dan mulai nampak adanya perkembangan kekuatan dan
kesehatan jasmani. Misalnya, perintah orangtua tidak akan bisa mengalahkan
Bapak/lbu Guru sekolahnya (contohnya membantu pekerjaan rumah, anak
akan menolakjika tidak sama dengan perintah gurunya di sekolah). Pada fase
II ini dunia pendidikan perlu memberikan fasilitas yang sesuai dengan tahap
perkembangannya karena anak mulai akan meninggalkan dunia anak-anak.

Gambar 2.2 Siswa Sekolah Dasar

Kemudian masa remaja atau pubertas ini merupakan masa yang
penuh dengan gejolak karena perkembangan biologisnya sangat begitu
cepat bahkan masa ini disebut masa yang sangat rentan terhadap pergaulan
remaja.

Aristoteles mengatakan bahwa anak menganggap masa ini adalah masa
yang paling indah namun juga paling kritis dalam kehidupannya sehingga
muncul perasaan negatif yang berupa perasaan tidak senang, lesu, manarik
diri dari masyarakat, atau reaksi negatif lainnya.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Masa ini berada pada rnasa sekolah rnenengah dirnana rernaja rnulai
rnernbutuhkan ternan yang dapat rnengerti dirinya dan rnulai rnencari
pegangan hidup. Wardani (1994) rnernbagi tahapan ini rnenjadi tiga tahap.
Tahap pertama, rernaja pada tahap ini rnerindukan sesuatu yang dianggap
bernilai narnun bentuknya belurn jelas (pada tahap ini sering rnenulis-nulis
puisi yang rnernuja alarn atau bentuk lain). Tahap kedua, rernaja rnulai
rnenernukan pengidolaan, yaitu pribadi-pribadi yang dikagurni (ternan
seperrnainan, ternan lawan jenis, idola artis pujaannya). Tahap ketiga, rernaja
rnulai dengan rnenentukan pilihan nilai dengan rnengujinya dalarn kehidupan
nyata atau dengan berjalan berdasarkan pengalarnan.

Dari tahapan anak-anak, anak, dan rernaja sernua tidak selalu akan
berjalan dengan rnulus, tetapi dapat dipastikan selalu ada proses jatuh
bangun. Artinya, harnbatan-harnbatan pasti selalu datang. Oleh karena
itu, dunia pendidikan harus dapat memberikan pengertian tentang
perkernbangan siswa ketika terjadi adanya harnbatan-harnbatan sehingga
remaja dapat rnernahaminya serta mengerti arti hidup dan kehidupan.

Gam bar 2.3 Siswa SMP

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

2. Aspek Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan yang populer adalah teori perkembangan kognitif

yang dikembangkan oleh Piaget. Piaget membagi tahap perkembangan
menjadi tiga tahap yang utama dan selanjutnya ditambah satu tahap
menjadi empat tahap. Uraian perkembangan kognitif menurut Piaget dapat
diperhatikan tabel berikut:

Tabel 2.9 Tahap Perkembangan Menurut Piaget

Sensori Motor 0 - 2 Tahap ini ditandai Pra PAUD
tahun oleh seorang individu

berinteraksi dengan
lingkungannya melalui
alat indera dan
gerakan. Perkembangan
kognitif pada tahap
ini didasarkan pada
pengalaman langsung
dengan pancaindra.
Owens, Jr. (1984)
mengatakan secara
berangsur-angsur
anak mulai mampu
mempresentasikan
realita melalui simbol
dan menemukan
cara-cara memenuhi
keinginannya.

Kegiatannya misalnya
mengambil sesuatu
dengan menarik kursi,
menirukan gerakan
tertentu, dan mengenal
teman-temannya.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Praoperasional 2-7 Tahap ini juga disebut Kober, TK,
Operasi Konkret dengan tahap intuitif Play Group
Operasi Formal tahun dimana terjadinya sederajat
perkembangan fungsi
7-11 simbol, bahasa, sDI M I
pemecahan masalah
tahun yang bersifat fisik Sederajat
serta kemampuan
mengategorisasikan.
Proses berpikir pada
masa ini ditandai dengan
keterpusatan, tak dapat
diubah, dan egosenrtis.

Proses berpikir anak
harus konkret, belum
bisa berpikir abstrak.
Dengan demikian,
pada masa ini dalam
menyelesaikan masalah
anak menggunakan
logika-logika yang
konkret atau bersifat

fisik. Kemudian pada
tahap ini pula anak sudah
mulai dapat menyusun
kategori berdasa rka n
hierarki.

11 Proses berpikir pada SMP s.d PT
masa ini sudah mulai
tahun abstrak, penalaran
ke atas yang kompleks sudah
mulai digunakan, dan
sudah dapat menguji
satu hipotesis dalam
mentalnya.

(Sumber: l{ana Syaodih, 2009)

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

3. Aspek Perkembangan Afektif
Lawrence Kohlberg, berdasarkan penelitiannya selama kurang lebih

lima tahun, menyimpulkan adanya tiga tingkat perkembangan moral. Masing-
masing tingkat terbagi menjadi dua tahap sehingga seluruhnya menjadi
enam tahap. Tahap-tahap tersebut dapat diperhatikan pada gam bar berikut:

•G;.Hati Nt.tr'ani
•5. P.~rjC1r'ljian Masyarakat

•zLKep~tuhar) akan peraturan-hufru~
•3;Agar.~li'I.U!!i baik atau diberi ptijlan

untuk mencapai tujUaiipribadi
•1!\l'l~~ghindari hukuman dan mendapatkanganjaran

Gambar 2.4 Tahap-Tahap Perkembangan Moral dari Lawrence Kohl berg

Pada tahap perkembangan yang disampaikan Kohlberg tidak
menggunakan tahapan usia perkembangan seperti ahli-ahli lain. Dalam hal ini
Domald B. Helm dan Jeffrey (1981) menyampaikan bahwa tahap menghindari
hukuman dan mencari rasa senang berkembang pada masa bayi dan
kanak-kanak. Tahap berbuat baik hanya sebagai alat memenuhi kebutuhan
berkembang pada masa anak kecil. Tahap berbuat baik hanya dilakukan agar
dikenal dan dipuji serta karena patuh akan peraturan. Dua tahapan tertinggi,
berbuat baik dilakukan karena telah merupakan persetujuan masyarakat dan
timbul dari hati nurani berkembang pada masa remaja dan dewasa.

Menurut Kohlberg sendiri ada kemungkinan seseorang perkembangan
moralnya hanya sampai tahap lima atau empat atau lebih rendah dari itu
meskipun ia telah dewasa.

Donald B. Helms dan Jeffrrey S. Turner (1981) memberikan urutan
lengkap dari perkembangan individu, yaitu:

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Perkembangan Menurut Donal dan Jeffrey

Pranatal Masa sebelum lahir dari masa konsepsi
sam i lahir.
Kanak-Kanak 2-3/4 tahun
Anak Kecil 3/4- tahun
Anak 6-12 tahun
Remaja 12-19 tahun
Dewasa Muda 19-30 tahun
Dewasa 30-65 tahun
Usia 65 ke atas
(Sumber: Nana Syaodih, 2009)

4. Aspek Didaktis
Tahap perkembangan anak berdasarkan kepada aspek didaktis adalah

dimana anak atau individu perkembangannya dibagi menjadi beberapa tahap
sebelum memasuki dunia pendidikan sampai dengan pendidikan tinggi,
dapat penulis gambarkan perkembangan aspek didaktis sebagai berikut:

Prasekolah 0- 6 tahun Dimana anak memperoleh
Sekolah Dasar 7- 12 tahun pendidikan dengan pendekatan
bermain dan intinya memberikan
kegembiraan sambil belajar.

Dimana anak memperoleh

pendidikan dasar guna

melanjutkan ke pendidikan

menengah pertama. Pendidikan

yang diperoleh lebih menekankan

kepada dasar-dasar ilmu yang

akan dipelajari di tingkat

menen rtama.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Sekolah 13-16 tahun Anak memasuki dunia pendidikan
Menengah menengah pertama sebagai
Pertama
pondasi untuk di tingkat sekolah
Sekolah
Menengah Atas menengah atas.

Perguruan Tinggi 17-20 tahun lndividu telah memasuki dunia

pendidikan tingkat atas sebagai
persiapan memasuki tingkat PT.

21 ke atas lndividu memasuki dunia
pendidikan tinggi sebagai bekal

untuk meningkatkan kehidupan.

G. Kematangan Peserta Didik

Perkembangan setiap individu akan membawa dampak terhadap
kematangan individu itu sendiri. Kematangan setiap individu tidak akan
sama perjalanannya, namun akan terjadi berbeda-beda, ada yang mencapai
kematangannya sangat cepat dan ada juga yang lambat kematangannya.
Wardani (1994) mengatakan bahwa kematangan seseorang tercapai jika
seseorang tersebut telah menemukan pegangan atau nilai-nilai yang mereka
cari, yaitu menjelang berakhirnya masa remaja atau mulainya masa dewasa.

Kematangan dapat mencakup berbagai bentuk, yaitu kematangan fisik
atau jasmani, kematangan sosial, kematangan emosional, serta kematangan
cara berpikir dan bersikap.

Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak,
kapasitas sensorik, dan keterampilan motorik (Papalia & Olds, 2001).
Perubahan pada tubuh/fisik ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat
tubuh, pertumbuhan tulang otot, serta kematangan organ seksual dan fungsi
reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak menjadi
tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Kematangan fisik atau jasmani dapat diperhatikan ketika seseorang
pertumbuhannya pesat, misalnya pada anak laki-laki ketika berjalan dengan
tegap karena dada dan bahunya semakin membentuk bidang, sedangkan
pada anak perempuan ditandai ketika berjalan dengan melenggang
pinggulnya karena pinggulnya membesar.

Husdarta & Kusmaedi (2012) memberikan penjelasan rinci
perkembangan kematangan fisik dari tahap anak kecil sampai dengan
dewasa, sebagai berikut:
1. Tahap Anak Kecil (Fase Early Childhood)

Pada tahap ini, pertumbuhan jaringan otot mengalami perubahan
yang sangat cepat. Kekuatan otot ini memungkinkan untuk mulai menipu
melakukan bermacam-macam gerak dasar yang semakin baik, yaitu
garakan berjalan, berlari, melompat, dan meloncat, berjingkat, melempar,
menangkap, dan memukul.
2. Tahap Anak Besar (Fase Late Childhood)

Perkembangan kemampuan fisik mengalami perubahan sejalan dengan
pertumbuhan fisiknya. Pertumbuhan fisik anak besar secara proporsional
relatif melambat dibandingkan dengan pada tahap anak kecil dan pada masa
bayi. Tubuh yang tumbuh makin tinggi dan makin besar dapat meningkatkan
kemampuan fisiknya. Kemampuan fisik yang cukup besar adalah kekuatan,
fleksibilitas, dan keseimbangan.

Secara rinci perkembangan fisik dapat diperhatikan pada tabel berikut:

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

6- 7 tahun (kelas a. Waktu reaksi lambat, koordinasi
1 dan 2 SD/MI kurang baik.
sederajat)
b. Koordinasi mata dan tangan
berkembang, masih belum dapat
menggunakan otot kecil.

c. Kesehatan umum belum stabil,
mudah sakit, dan daya tahan tubuh
kurang.

8- 9 tahun (Kelas 3 a. Terdapat perbaikan koordinasi tubuh.
dan 4 SD/MI)
b. Ketahanan bertambah, anak pria
gemar aktivitas yang ada kontak fisik,
seperti berkelahi dan bergulat.

c. Koordinasi tangan dan mata lebih
baik.

d. Pada sisi fisiologi, anak-anak wanita
lebih maju 1 tahun daripada pria.

e. Koordinasi otot dan syarat masih
kurang baik.

f. Sistem peredaran darah dan jantung
serta pernapasan masih belum kuat
dan tahan lama.

g. Perbedaan individu mulai nyata dan
terang.

h. Sering terjadi kecelakaan yang
disebabkan mobilitas yang tinggi
da masa ini.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

10- 11 tahun (kelas a. Kekuatan wanita lebih lemah
5 dan 6 SD/MI) daripada laki-laki.

b. Kenaikan tekanan darah dan
metabolisme agak tajam.

c. Pada wanita mulai mencapai
kematangan seksual, pada laki-
laki hanya 5% yang mencapai
kematangan seksual setelah umur 12
tahun.

3. Tahap Remaja (Adolescence)
Pada masa ini anak mengalami masa pertumbuhan yang paling pesat.

Hal ini ditandai oleh perkembangan biologis kompleks dalam hal ukuran tubuh,
kematangan seksual, fisiologis. Pertumbuhan fisik mengalami percepatan
pada tahun-tahun pertama kemudian selanjutnya lambat. Perkembangan
kematangan fisik paling menonjol adalah dalam hal kekuatan, kecepatan,
dan ketahanan kardiospiratori.

Berdasarkan hasil penelitian tentang perkembangan kemampuan
fisik pada masa remaja didapatkan kesimpulan, antara lain: (1) kekuatan
otot merupakan kemampuan mengerahkan kekuatan dan kecepatan
bersama-sama mencapai tingkat optimal kurang lebih satu tahun sesudah
pencapaian pertumbuhan ukuran tubuh maksimal; (2) pada masa remaja
pelaksanaan program aerobik yang baik dapat meningkatkan kemampuan
kardiorespiratori sampai dengan 20%.

Teori kematangan sosial (social maturity) atau kadang disebut dengan
kematangan emosional, pertama kali dicetuskan oleh Robert Kagan (1982)
seorang psikolog Harvard melalui bukunya, The Evolving Self, yang pada
intinya mengatakan bahwa:

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

1. Kematangan sosial berkembang secara bertahap, sebagaimana halnya
dengan kematangan kognitif, dimulai dari pemahaman sosial yang
sederhana sampai dengan pemahaman sosial yang kompleks.

2. Apresiasi lingkungan sosial dan emosi manusia sesungguhnya tidak cukup
akurat untuk mengukur kompleksitas lingkungan sosial, tetapi mereka
tetap merupakan representasi terbaik dari apa yang dapat dilakukan
masyarakat pada waktu tertentu.

3. Kemampuan untuk merasakan atau memahami apresiasi lingkungan
sosial yang lebih kompleks akan berkembang seiring kematangan sosial.
Jadi mula-mula seseorang hanya mampu memahami apresiasi lingkungan
hanya dari sisi subjektif. Kemudian secara bertahap menjadi mampu
memahaminya dari perspektif yang berbeda-beda.

4. Tahapan baru dari perkembangan sosial/emosional seseorang
muncul ketika akhirnya mereka mampu melihat dirinya dalam perspektif
sosial yang lebih besar dan luas dan mampu memahami segala aspek
secara lebih objektif.

5. Secara progresif tahapan ini semakin berkembang seiring kematangan
diri, di mana subjektivitas makin berkurang dan tumbuh kemampuan
menghargai orang lain dan masyarakat yang lebih luas.

6. Secara teoretik tahapan ini berakhir seiring dengan kemampuan
memahami sesuatu yang objektif secara objektif. Atau dengan kata lain
ketika kematangan sosialnya sudah sama dengan kematangan sosial
sebagian besar warga masyarakat lingkungannya.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Kegan (dalam Lilik Aslichati, 2011) membagi tahapan perkembangan
dari kematangan sosial dalam lima tahap, yaitu:

Tabel 2.13 Tahap Perkembangan Kematangan Sosial Kegan

Incorporative Pada awalnya, semua bayi sepenuhnya
lnpulsive
Imperial subjektif. Mereka sama sekali tidak tahu cara

Interpersonal menginterpretasi segala sesuatu. Mereka hanya
lnstitusional
bisa mengenali wajah kedua orangtuanya dan

oran -oran lain terdekat.

Pada fase ini bayi mulai berlatih menggunakan
refleks dan indranya untuk mengenali bahwa
di dunia ini ada hal-hal lain yang bukan dirinya.

Pada masa ini anak menjadi "Raja Kecil"
yang menuntut semua orang memenuhi
kebutuhannya, karen ayang ada pad a kesadaran
dirinya hanya dia yang memiliki kebutuhan.
Anak di sini tidak memahami bahwa orang lain
pun sama memiliki kebutuhan yang mungkin
sama dengan mereka.

Pada fase ini anak mulai memahami ada
kebutuhan orang lain di luar sana yang juga
harus dihormati dan dipenuhi, anakjuga sudah
mampu melakukan koordinasi, integrasi, dan
kerjasama dengan orang-orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya.

Pada fase ini anak mulai mempunyai gagasan,
prinsip, nilai, dan mampu membuat skala
prioritas dalam memenuhi kebutuhannya.
Nilai-nilai keberanian, kejujuran, empati,
simpati, dan semacamnya sudah tumbuh
kuat pada masa ini. Pada masa ini pula anak
sudah mampu menempatkan dirinya di antara
pergaulan keluarga, masyarakat sekitar, dan

rakat lebih luas.

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

Jika fase-fase di atas dapat dijalani dengan mulus oleh seorang anak,
maka anak tersebut dapat diharapkan akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi
atau orang dewasa yang matang secara emosional atau sosial. Pribadi-
pribadi seperti inilah yang diharapkan akan menjadi masyarakat madani yang
kuat dan sehat. Dengan demikian, peran pendidikan sejak usia dini sampai
dengan perguruan tinggi sangat penting untuk dapat memberikan layanan
pendidikan yang tepat di masa-masa perkembangan kematangan seseorang
melalui proses pendidikan.

Kematangan emosional merupakan aspek yang sangat dekat dengan
kepribadian. Bentuk kepribadian inilah yang akan dibawa individu dalam
kehidupan sehari-hari bagi diri dan lingkungan mereka. Seseorang dapat
dikatakan telah matang emosinya apabila telah dapat berpikir secara objektif.
Kematangan emosi merupakan ekspresi emosi yang bersifat konstruktif dan
interaktif. lndividu yang telah mencapai kematangan emosi ditandai oleh
adanya kemampuan dalam mengontrol emosi, mampu berpikir realistik,
memahami diri sendiri, dan mampu menempatkan emosi di saat dan tempat
yang tepat atau ditandai oleh stabilnya seluruh aspek yang memengaruhi
emosi seseorang untuk menghadapi permasalahannya, sehingga ledakan-
ledakan emosi yang selalu meluap-luap secara bertahap mulai mengendor/
melemah.

Kematangan cara berpikir dan bersikap ini akan tumbuh ketika
kematangan sosial dan emosionalnya telah stabil atau tumbuh dengan baik.

Aplikasi yang diterapkan terhadap guru dalam mengajar, mendidik, dan
membimbing peserta didik adalah seyogyanya dalam melaksanakan tugas
dan tanggung jawabnya cenderung arif dalam memahami perkembangan
kematangan peserta didik karena kematangan peserta didik tidak sama.
Contoh: tayangan film Laskar Pelangi dimana guru yang selalu memahami
perkembangan, pertumbuhan, dan kematangan peserta didiknya dengan

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik

arif dan bijaksana, akhirnya dapat mengantarkan anak-anaknya menuju
kesuksesan dalam segala bidang walaupun dalam keadaan yang sangat
minim sarana dan prasarana sekolah tersebut.

H. Perbedaan Individual

lndividu dilahirkan dengan membawa karakter masing-masing dan
tidak mungkin ada yang sama antara individu yang satu dengan yang lainnya
sehingga individu itu dikatakan unik. Perkembanganlah yang membuat
individu menjadi berbeda sesuai faktor-faktor yang memengaruhinya, baik
faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah faktor yang terdapat
dalam diri individu, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat
di luar individu.

Perbedaan individu inilah yang akan melahirkan perbedaan-perbedaan
kebutuhannya, artinya setiap individu yang satu dengan yang lainnya akan
memiliki kebutuhan yang berbeda. Hal ini juga akan sangat berpengaruh
terhadap layanan kebutuhan pendidikan.

Namun, apa yang terjadi selama ini di dunia pendidikan? Layanan
kebutuhan pendidikan selama ini selalu disamaratakan dalam proses
pembelajaran, sedangkan jika kita perhatikan perkembangan individu
yang melahirkan perbedaan individu yang berbeda membutuhkan layanan
pendidikan yang berbeda pula seharusnya.

Mari kita perhatikan contoh berikut: "ketika guru akan memberikan
materi pengajaran di satu kelas, rata-rata guru menjelaskan materi secara
klasikal dan menganggap semua anak memiliki tahap berpikir yang sama
sehingga sampai saat ini hasil pembelajaran apapun di bangsa kita secara
kelompok masih jauh prestasinya dibandingkan negara-negara lain."

Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik


Click to View FlipBook Version
Previous Book
MBS-1000%20Property%20Fact%20Sheet%20-%20Single%20Pages%2010.29.18
Next Book
Strategi Tembus SMP Favorit IPS Dan Sukses UAS SD MI