The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-09 12:13:20

Gusdur in Memoriam

Gusdur in Memoriam

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Dilarang keras untuk mengubah sebagian atau seluruhnya dari isi ebook ini tanpa seizin
dari penyusun, anda diperbolehkan untuk menyebarkan ebook ini secara luas baik untuk

tujuan komersil maupun tidak. Atas perhatiannya, Saya sampaikan terima kasih.

© http://jematik.blogspot.com

1

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Biografi Singkat, Bapak Demokrasi-Pluralis

Presiden Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang,
Jawa Timur, pada 7 September 1940. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari
keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas Muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya
adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu,
K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada
perempuan. Ayah Gus Dur, K.H. Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi

2

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Menteri Agama tahun 1949. Ibunya, Ny. Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren

Denanyar Jombang. Selain Gus Dur, adiknya Gus Dur juga merupakan sosok tokoh nasional.

Berdasarkan silsilah keluarga, Gus Dur mengaku memiliki darah Tionghoa yakni dari
keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan
Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri
Campa, puteri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V (Suara Merdeka, 22 Maret
2004).

Gus Dur sempat kuliah di Universitas Al Azhar di Kairo-Mesir (tidak selesai) selama 2
tahun dan melanjutkan studinya di Universitas Baghdad-Irak. Selesai masa studinya, Gus Dur
pun pulang ke Indonesia dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 1971.

Gus Dur terjun dalam dunia jurnalistik sebagai kaum ‘cendekiawan’ muslim yang
progresif yang berjiwa sosial demokrat. Pada masa yang sama, Gus Dur terpanggil untuk
berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Hal ini dilakukan demi menjaga agar nilai-
nilai tradisional pesantren tidak tergerus, pada saat yang sama mengembangkan pesantren. Hal
ini disebabkan pada saat itu, pesantren berusaha mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan
cara mengadopsi kurikulum pemerintah.

Karir KH Abdurrahman Wahid terus merangkak dan menjadi penulis nuntuk majalah
Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan
reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan
untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan
Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.

Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup
hanya dari satu sumber pencaharian dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan
dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya
(Barton.2002. Biografi Gus Dur, LKiS, halaman 108)

3

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Sakit Bukan Menjadi Penghalang Mengabdi

Pada Januari 1998, Gus Dur diserang stroke dan berhasil diselamatkan oleh tim dokter.
Namun, sebagai akibatnya kondisi kesehatan dan penglihatan Presiden RI ke-4 ini
memburuk. Selain karena stroke, diduga masalah kesehatannya juga disebabkan faktor keturunan
yang disebabkan hubungan darah yang erat diantara orangtuanya.

Dalam keterbatasan fisik dan kesehatnnya, Gus Dur terus mengabdikan diri untuk
masyarakat dan bangsa meski harus duduk di kursi roda. Meninggalnya Gus Dur pada 30
Desember 2009 ini membuat kita kehilangan sosok guru bangsa. Seorang tokoh bangsa yang
berani berbicara apa adanya atas nama keadilan dan kebenaran dalam kemajemukan hidup di
nusantara.

Selama hidupnya, Gus Dur mengabdikan dirinya demi bangsa. Itu terwujud dalam
pikiran dan tindakannya hampir dalam sisi dimensi eksistensinya. Gus Dur lahir dan besar di
tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pemikiran
modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan. Pada masa Orde
Baru, ketika militer sangat ditakuti, Gus Dur pasang badan melawan dwi fungsi ABRI. Sikap itu
diperlihatkan ketika menjadi Presiden dia tanpa ragu mengembalikan tentara ke barak dan
memisahkan polisi dari tentara.

Setelah tidak lagi menjabat presiden, Gus Dur kembali ke kehidupannya semula. Kendati
sudah menjadi partisan, dalam kapasitasnya sebagai deklarator dan Ketua Dewan Syuro PKB, ia
berupaya kembali muncul sebagai Bapak Bangsa. Seperti sosoknya sebelum menjabat presiden.
Meski ia pernah menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi Islam terbesar
di Indonesia dengan anggota sekitar 38 juta orang. Namun ia bukanlah orang yang sektarian. Ia
seorang negarawan. Tak jarang ia menentang siapa saja bahkan massa pendukungnya sendiri
dalam menyatakan suatu kebenaran. Ia seorang tokoh muslim yang berjiwa kebangsaan.

“Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik
untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”

-Gus Dur- (diungkap kembali oleh Hermawi Taslim)

4

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur muncul

sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Ia dikenal sebagai sosok pembela yang benar. Ia berani

berbicara dan berkata yang sesuai dengan pemikirannya yang ia anggap benar, meskipun akan

berseberangan dengan banyak orang. Apakah itu kelompok minoritas atau mayoritas.

Pembelaannya kepada kelompok minoritas dirasakan sebagai suatu hal yang berani. Reputasi ini

sangat menonjol di tahun-tahun akhir era Orde Baru. Begitu menonjolnya peran ini sehingga ia

malah dituduh lebih dekat dengan kelompok minoritas daripada komunitas mayoritas Muslim

sendiri. Padahal ia adalah seorang ulama yang oleh sebagian jamaahnya malah sudah dianggap

sebagai seorang wali.

Karir Organisasi NU

Pada awal 1980-an, Gus Dur terjun mengurus Nahdlatul Ulama (NU) setelah tiga kali
ditawarin oleh kakeknya. Dalam beberapa tahun, Gus Dur berhasil mereformasi tubuh NU
sehingga membuat namanya semakin populer di kalangan NU. Pada Musyawarah Nasional
1984, Gus Dur didaulat sebagai Ketua Umum NU. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur
fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem
pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.

Selama memimpin organisasi massa NU, Gus Dur dikenal kritis terhadap pemerintahan
Soeharto. Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk
merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila.
Wahid merencanakan acara itu dihadiri oleh paling sedikit satu juta anggota NU. Namun,
Soeharto menghalangi acara tersebut, memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi
anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Akan tetapi, acara itu dihadiri oleh 200.000 orang.
Setelah acara, Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak
diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Menjelang Munas 1994, Gus Dur menominasikan dirinya untuk masa jabatan ketiga.
Mendengar hal itu, Soeharto ingin agar Wahid tidak terpilih. Pada minggu-minggu sebelum
Munas, pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko berkampanye melawan terpilihnya
kembali Gus Dur. Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat oleh

5

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

ABRI dalam tindakan intimidasi. Terdapat juga usaha menyuap anggota NU untuk tidak

memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU untuk masa jabatan ketiga. Selama

masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai

Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang menggunakan nama ayahnya memiliki popularitas

yang besar dan berencana tetap menekan rezim Soeharto.

Menjadi Presiden RI ke-4

Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangkan
12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Dengan kemenangan partainya, Megawati
memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada Sidang Umum MPR. Namun, PDI-
P tidak memiliki mayoritas penuh, sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien
Rais membentuk Poros Tengah, koalisi partai-partai Muslim. Poros Tengah mulai
menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden dan komitmen PKB
terhadap PDI-P mulai berubah.

Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia
mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, ketua Golkar dan
ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20
Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid
kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati
hanya 313 suara.

Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati
mengamuk dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden.
Setelah meyakinkan jendral Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan
membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut
serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan
mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.

6

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Pengabdian Sebagai Presiden RI ke-4

Pasca kejatuhan rezim Orde Baru pada 1998, Indonesia mengalami ancaman disintegrasi
kedaulatan negara. Konflik meletus dibeberapa daerah dan ancaman separatis semakin nyata.
Menghadapi hal itu, Gus Dur melakukan pendekatan yang lunak terhadap daerah-daerah yang
berkecamuk. Terhadap Aceh, Gus Dur memberikan opsi referendum otonomi dan bukan
kemerdekaan seperti referendum Timor Timur. Pendekatan yang lebih lembut terhadap Aceh
dilakukan Gus Dur dengan mengurangi jumlah personel militer di Negeri Serambi Mekkah
tersebut. Netralisasi Irian Jaya, dilakukan Gus Dur pada 30 Desember 1999 dengan
mengunjungi ibukota Irian Jaya. Selama kunjungannya, Presiden Abdurrahman Wahid berhasil
meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Sebagai seorang Demokrat saya tidak bisa menghalangi keinginan rakyat Aceh untuk
menentukan nasib sendiri. Tetapi sebagai seorang republik, saya diwajibkan untuk menjaga
keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia.

-Presiden Abdurrahman Wahid dalam wawancara dengan Radio Netherland

Benar… Gus Dur lah menjadi pemimpin yang meletak fondasi perdamaian Aceh. Pada
pemerintahan Gus Durlah, pembicaraan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
Indonesia menjadi terbuka. Padahal, sebelumnya, pembicaraan dengan GAM sesuatu yang tabu,
sehingga peluang perdamaian seperti ditutup rapat, apalagi jika sampai mengakomodasi tuntutan
kemerdekaan. Saat sejumlah tokoh nasional mengecam pendekatannya untuk Aceh, Gus Dur
tetap memilih menempuh cara-cara penyelesaian yang lebih simpatik: mengajak tokoh GAM

7

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

duduk satu meja untuk membahas penyelesaian Aceh secara damai. Bahkan, secara rahasia, Gus

Dur mengirim Bondan Gunawan, Pjs Menteri Sekretaris Negara, menemui Panglima GAM

Abdullah Syafii di pedalaman Pidie. Di masa Gus Dur pula, untuk pertama kalinya tercipta Jeda

Kemanusiaan.

Selain usaha perdamaaian dalam wadah NKRI, Gus Dur disebut sebagai pionir dalam
mereformasi militer agar keluar dari ruang politik. Dibidang pluralisme, Gus Dur menjadi Bapak
“Tionghoa” Indonesia. Dialah tokoh nasional yang berani membela orang Tionghoa untuk
mendapat hak yang sama sebagai warga negara. Pada tanggal 10 Maret 2004, beberapa tokoh
Tionghoa Semarang memberikan penghargaan KH Abdurrahman Wahid sebagai “Bapak
Tionghoa”.

Hal ini tidak lepas dari jasa Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek)
menjadi hari libur opsional yang kemudian diperjuangkan menjadi Hari Libur Nasional.
Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Dan atas jasa Gus
Dur pula akhirnya pemerintah mengesahkan Kongfucu sebagai agama resmi ke-6 di Indonesia.

Selain berani membela hak minoritas etnis Tionghoa, Gus Dur juga merupakan pemimpin
tertinggi Indonesia pertama yang menyatakan permintaan maaf kepada para keluarga PKI yang
mati dan disiksa (antara 500.000 hingga 800.000 jiwa) dalam gerakan pembersihan PKI oleh
pemerintahan Orde Baru. Dalam hal ini, Gus Dur memang seorang tokoh pahlawan anti
diskriminasi. Dia menjadi inspirator pemuka agama-agama untuk melihat kemajemukan suku,
agama dan ras di Indonesia sebagian bagian dari kekayaan bangsa yang harus dipelihara dan
disatukan sebagai kekuatan pembangunan bangsa yang besar.

Dalam kapasitas dan ‘ambisi’-nya, Presiden Abdurrahman Wahid sering melontarkan
pendapat kontroversial. Ketika menjadi Presiden RI ke-4, ia tak gentar mengungkapkan sesuatu
yang diyakininya benar kendati banyak orang sulit memahami dan bahkan menentangnya.
Kendati suaranya sering mengundang kontroversi, tapi suara itu tak jarang malah menjadi
kemudi arus perjalanan sosial, politik dan budaya ke depan. Dia memang seorang yang tak
gentar menyatakan sesuatu yang diyakininya benar. Bahkan dia juga tak gentar menyatakan

8

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

sesuatu yang berbeda dengan pendapat banyak orang. Jika diselisik, kebenaran itu memang

seringkali tampak radikal dan mengundang kontroversi.

Kendati pendapatnya tidak selalu benar — untuk menyebut seringkali tidak benar
menurut pandangan pihak lain — adalah suatu hal yang sulit dibantah bahwa banyak
pendapatnya yang mengarahkan arus perjalanan bangsa pada rel yang benar sesuai
dengan tujuan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945. Bagi sebagian orang, pemikiran-
pemikiran Gus Dur sudah terlalu jauh melampui zaman. Ketika ia berbicara pluralisme diawal
diawal reformasi, orang-orang baru mulai menyadari pentingnya semangat pluralisme dalam
membangun bangsa yang beragam di saat ini.

Dan apabila kita meniliki pada pemikirannya, maka akan kita dapatkan bahwa sebagian
besar pendapatnya jauh dari interes politik pribadi atau kelompoknya. Ia berani berdiri di depan
untuk kepentingan orang lain atau golongan lain yang diyakninya benar. Malah sering seperti
berlawanan dengan suara kelompoknya sendiri. Juga bahkan ketika ia menjabat presiden,
sepetinya jabatan itu tak mampu mengeremnya untuk menyatakan sesuatu. Sepertinya, ia
melupakan jabatan politis yang empuk itu demi sesuatu yang diyakininya benar. Sehingga saat ia
menjabat presiden, banyak orang menganggapnya aneh karena sering kali melontarkan
pernyataan yang mengundang kontroversi.

Belum satu bulan menjabat presiden, Gus Dur sudah mencetuskan pendapat yang
memerahkan kuping sebagian besar anggota DPR. Di hadapan sidang lembaga legislatif, yang
anggotanya segaligus sebagai anggota MPR, yang baru saja memilihnya itu, Gus Dur menyebut
para anggota legislatif itu seperti anak Taman Kanak-Kanak.

Selama menjadi Presiden RI itu, Gus Dur mendapat kritik karena seringnya melakukan
kunjungan ke luar negeri sehingga dijuliki “Presiden Pewisata“. Pada tahun 2000, muncul dua
skandal yang menimpa Presiden Gus Dur yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate. Pada bulan
Mei 2000, BULOG melaporkan bahwa $4 juta menghilang dari persediaan kas Bulog.

Tukang pijit pribadi Gus Dur mengklaim bahwa ia dikirim oleh Gus Dur ke Bulog untuk
mengambil uang. Meskipun uang berhasil dikembalikan, musuh Gus Dur menuduhnya terlibat
dalam skandal ini. Pada waktu yang sama, Gus Dur juga dituduh menyimpan uang $2 juta untuk

9

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

dirinya sendiri. Uang itu merupakan sumbangan dari Sultan Brunei untuk membantu di Aceh.

Namun, Gus Dur gagal mempertanggungjawabkan dana tersebut. Skandal ini disebut skandal

Bruneigate.

Dua skandal “Buloggate” dan “Brunaigate” menjadi senjata bagi para musuh politik Gus
Dur untuk menjatuhkan jabatan kepresidenannya. Pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa
Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta
dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan
kekuatan.

Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi (1) pembubaran
MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam
waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap
Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli,
MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati
Sukarnoputri.

Itulah akhir perjalanan Gus Dur menjadi Presiden selama 20 bulan. Selama 20 bulan
memimpin, setidaknya Gus Dur telah membantu memimpin bangsa untuk berjalan menuju
proses reformasi yang lebih baik. Pemikiran dan kebijakannya yang tetap mempertahankan
NKRI dalam wadah kemajukan berdemokrasi sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila
merupakan jasa yang tidak terlupakan.

10

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Hal-Hal Positif dari Gus Dur

All religions insist on peace. From this we might think that the religious struggle for
peace is simple … but it is not. The deep problem is that people use religion wrongly in pursuit
of victory and triumph. This sad fact then leads to conflict with people who have different
beliefs.
-KH Abdurrahman Wahid- (source)

Mantan Ketua DPP PKB, Hermawi Taslim yang selama 10 tahun terakhir turut bersama
Gus Dur dalam segala aktivitasnya mengungkapkan tiga prinsip dalam hidup Gus Dur yang
selalu ia sampaikan kepada orang-orang terdekatnya.

• Pertama : Akan selalu berpihak pada yang lemah.
• Kedua : Anti-diskriminasi dalam bentuk apa pun.
• Ketiga : Tidak pernah membenci orang, sekalipun disakiti.

11

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Gus Dur merupakan salah tokoh bangsa yang berjuang paling depan melawan

radikalisme agama. Ketika radikalisme agama sedang kencang-kencangnya bertiup, Gus Dur

menantangnya dengan berani. Dia bahkan mempersiapkan pasukan sendiri bila harus berhadapan

melawan kekerasan yang dipicu agama. Gus Dur menentang semua kekerasan yang

mengatasnamakan agama. Dia juga pejuang yang tidak mengenal hambatan.

Gus Dur dalam pemerintahannya telah menghapus praktik diskriminasi di Indonesia. Tak
berlebihan kiranya bila negara dan rakyat Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya
atas darma dan baktinya. Layaknya kiranya Gus Dur mendapat penghargaan sebagai Bapak
Pluralisme dan Demokratisasi di Indonesia.

12

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Doktor kehormatan dan Penghargaan Lain

Dikancah internasional, Gus Dur banyak memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doktor
Honoris Causa) dibidang humanitarian, pluralisme, perdamaian dan demokrasi dari berbagai
lembaga pendidikan diantaranya :

• Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)
• Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)
• Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan

Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)
• Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok,

Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)
• Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)
• Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)
• Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)
• Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)

Penghargaan-penghargaan lain :

• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan

hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Bapak Tionghoa Indonesia (2004)
• Pejuang Kebebasan Pers

13

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Pemikiran-Pemikiran Gusdur

Lain Dulu,Lain Sekarang

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Ketika bangsa Indonesia berdiri, ada sebuah hal yang sangat menarik,yaitu istilah
"merdeka". Dengan kata yang digunakan dalam penggunaan berbeda-beda,maka didapat
beberapa arti dan makna. Kata merdeka berarti lepas atau bebas.

Sekarang ini, kata merdeka itu juga digunakan oleh pihak keamanan, seperti merdeka dari
penahanan atau bisa diartikan bebas. Namun,kata merdeka lebih dari bebas. Bagi sebuah bangsa,
merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kepada
kemandirian politik, ekonomi,maupun lain-lainnya.

Merdeka secara ekonomi, berarti sama sekali tidak bergantung kepada negara lain dalam
segala hal. Secara politik, berarti lepas dari penjajahan pihak lain. Contohnya, lepasnya
Indonesia dari pen-jajahan kolonial Belanda sehingga bangsa kita mampu segera
mengembangkan budaya politik, ekonomi, dan lainnya sendiri.

Kalimat seperti negara A mampu memelihara kemerdekaan yang dicapainya, baik
melalui perang maupun dengan cara berunding, merujuk kepada aspek-aspek kemerdekaan itu.
Inilah yang digunakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 kita.

Ketika almarhum Raja Ali Haji dari Riau mengubah buku Tata Bahasa Melayu, maka
dengan sengaja ia telah "memerdekakan" bahasa Melayu dari bahasa Belanda.Buku ini menjadi
cikal-bakal lahirnya bahasa Indonesia.Lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca, menjadi
cikal-bakal dari tumbuhnya kesadaran suku-suku yang ada di nusantara untuk membangun
sebuah ikatan kebangsaan.

Hal ini terlihat dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), yang menjadi salah satu bangunan
inti kebangsaan kita. Meski demikian, semangat menjadi satu bangsa ini telah tampak dalam
sejarah kita sejak abad ke-8.Padahal,Kerajaan Majapahit sendiri baru lahir di tahun 1293 Masehi.

14

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Pada abad ke-8 Masehi, seorang agamawan Budha dari Tiongkok bernama Fahien telah

melaporkan adanya semangat menghargai perbedaan di Sriwijaya,Sumatera Selatan. Dua abad

setelahnya, orang-orang Sriwijaya menyerbu Pulau Jawa melalui pela-buhan lama Pekalongan.

Dalam perjalanan mendaki Gunung Dieng,mereka ditemui oleh orang-orang Kalingga Hindu.

Orang-orang Hindu itu tidak diapa-apakan. Pasukan Sriwijaya tersebut melanjutkan
sampai di daerah Muntilan,yang sekarang ini menjadi bagian Kabupaten Magelang. Di sana
mereka membangun candi yang dinamakan Borobudur. Sebagian mereka tinggal di Borobudur
dan sebagian lagi menuju kawasan Yogyakarta sekarang.

Di kawasan baru itu, mereka dirikan Kerajaan Kalingga Budha dan mendirikan
Prambanan, sebuah candi Hindu-Budha yang segera dimusuhi oleh orang Hindu maupun orang
Budha. Mereka menganggapnya sebagai agama "campur- aduk". Di bawah pimpinan Prabu
Darmawangsa, mereka berpindah dari Prambanan ke Kediri.

Dua abad kemudian, mereka berpindah lagi ke Kerajaan Singasari di Utara kota Malang
sekarang.Di sana orang-orang Hindu-Budha itu mendirikan Kerajaan Majapahit di dukung oleh
angkatan laut Cina, yang waktu itu hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Dari sini kita
dapat melihat bahwa asas kebangsaan itu tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Namun, sekarang lahir kelompok-kelompok fundamentalis yang mengajak kita semua
meninggalkan semangat kebangsaan yang telah mempersatukan kita sebagai bangsa sejak
berabad-abad yang lalu. Sebenarnya, setelah dikuatkan oleh UUD 1945,kita telah bertekad
mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.

Hal ini seharusnya senantiasa kita ingat sebagai bagian penting dari sejarah kita sebagai
bangsa. Inilah modal bangsa kita untuk merengkuh kehidupan masa depan, bukan?

Sumber: seputar-indonesia.com, Jakarta,19 Mei 2009

15

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Sebuah Era dengan Kejadian-Kejadian Penting

Pada tahun 1919, HOS Tjokroaminoto bertemu tiap hari Kamis siang di Kota Surabaya
dengan dua saudara sepupunya. Mereka adalah KH M Hasjim As'yari dari Pondok Pesantren
Tebuireng di Jombang dan KH A Wahab Chasbullah.Tjokroaminoto disertai menantunya
Soekarno, yang kemudian hari disebut Bung Karno.

Mereka mendiskusikan hubungan antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan/
nasionalisme. Terkadang hadir HM Djojosoegito, anak saudara sepupu keduanya, yang
kemudian hari (tahun 1928) mendirikan Gerakan Ahmadiyah. Dari kenyataan-kenyataan di atas
dapat dipahami mengapa Nahdlatul Ulama didirikan tahun 1926, selalu mempertahankan
gerakan tersebut.

Di kemudian hari, seluruh gerakan Islam itu dimasukkan ke elemen gerakan yang
berupaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Itu adalah perkembangan sejarah. Ada
generasi kedua dalam jajaran pendiri negeri kita, yaitu Kahar Muzakir dari PP Muhammadiyah,
KH Abdul Wahid Hasyim dari NU, dan HM Djojosoegito (pendiri gerakan Ahmadiyah).

Tiga sepupu yang lahir di bawah generasi KH M Hasjim As'yari itu banyak jasanya bagi
Indonesia. Mereka banyak mengisi kegiatan menuju kemerdekaan negeri kita. Setelah wafatnya
Djojosoegito, muncul letupan keinginan membubarkan Ahmadiyah,tanpa mengenang jasajasa
gerakan itu di atas. Padahal dalam jangka panjang,jasa-jasa itu akan diketahui masyarakat kita.

Dalam melakukan kegiatan,mereka tidak pernah kehilangan keyakinan. Apa yang mereka
lakukan hanya untuk kepentingan Indonesia merdeka.Karena itu,segala macam perbedaan
pandangan dan kepentingan mereka disisihkan.Mereka mengarahkan tujuan bagi Indonesia.
Mereka terus menjaga kesinambungan gerakan yang ada,guna memungkinkan lahirnya sebuah
kekuatan yang terus menggelorakan perjuangan.

Hingga kemudian,NU melahirkan sebuah media pada 1928yangdinamai SoearaNU. Hal
itu dilakukan guna memantapkan upaya yang ada.Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dipakai
untuk kepentingan tersebut. Dalam nomor perdana majalah Soeara NU, KH Hasjim As'yari

16

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

menyatakan bahwa ia menerima penggunaan rebana dan beduk untuk keperluan memanggil

salat.

Namun, dia menolak penggunaan kentungan kayu. Menurutnya, penggunaan beduk dan
rebana didasarkan pada sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.Sementara penggunaan
kentungan kayu tidak ada dasarnya.Hal ini disanggah oleh orang kedua NU waktu itu, yaitu KH
Faqih dari Pondok Pesantren Maskumambang di Gresik. Hal itu dimuat sebagai artikel balasan
dalam media "Soeara NU"edisi selanjutnya.KH Faqih menyatakan, "Apakah KH Hasyim lupa
pada dasar pembentukan hukum dalam NU, yaitu Alquran,hadis, ijmak,dan qiyas?" Segera
setelah itu, KH Hasyim As'yari mengumpulkan para ulama dan santri senior di Masjid
Tebuireng.

Dia menyuruh dibacakan dua artikel di atas.Kemudian, dia mengatakan, mereka boleh
menggunakan pendapat dari KH Faqih Maskumambang asalkan kentungan tidak dipakai di
Masjid Pondok Pesantren Tebuireng itu. Terlihat di sini betapa antara para ulama NU itu terdapat
sikap saling menghormati meski berbeda pendirian.

Hal inilah yang harus kita teladani dalam kehidupan nyata. Penerimaan akan perbedaan
pandangan sudah berjalan semenjak Fahien memulai pengamatannya atas masyarakat Budha di
Sriwijaya dalam abad ke-6. Prinsip ini masih terus berlanjut hingga sekarang di negeri kita dan
hingga masa yang akan datang. Sudah pasti kemerdekaan kita harus dilaksanakan dengan
bijaksana dan justru digunakan untuk lebih mengokohkan perdamaian dunia.

Karena itu, diperlukan kemampuan meletakkan perdamaian dalam penyusunan politik
luar negeri,yang diiringi dengan tujuan memperjuangkan kepentingan bersama. Bukankah
dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal-muasal
bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.

Bukankah kekuatan kita sebagai bangsa terletak dalam keberagaman yang kita miliki?
Marilahkitabangunbangsadankita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah
esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.

Sumber: Seputar Indonesia , Selasa 21 April 2009

17

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Kerja Besar Kita ke Depan

Oleh Abdurrahman Wahid

KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa
ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang
lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.

Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka
yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut
bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.

Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan
salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya,
dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas,
tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.

Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa.
Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-
raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak
dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.

Kaum minoritas agama pun meragukan iktikad baik pemerintah dalam melindungi hak-
hak mereka. Memang, terucap janji pemerintah untuk melindungi hak-hak minoritas. Namun,
tentunya pemulihan perlindungan itu tidak berupa sikap berdiam diri saja terhadap gangguan
yang muncul di mana-mana dalam dasawarsa tahun ini.

Ketika Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) diserang kanan-kiri, termasuk oleh Majelis
Ulama Indonesia (MUI), tidak ada pihak mana pun yang memperjuangkan hak mereka yang
dilindungi UUD 1945. Baru setelah berbulan-bulan lamanya hal itu dikoreksi, dengan
pengambilan sikap yang benar terhadap GAI.

Kalau dulu kita pernah disibukkan dengan hubungan antara ajaran Islam dan semangat
keagamaan yang sempit, sehingga lahirlah pertentangan kultural antara keduanya, maka sekarang

18

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

ini justru terjadi suatu hal yang tidak kita duga sama sekali; pertentangan antara ajaran Islam dan

modernisasi. Saat ini, kita tersentak oleh “penegasan” MUI bahwa Islam perlu dibela terhadap

kesalahan-kesalahan anggapan atasnya.

Karena itu, ada usulan agar karya seni seperti film Perempuan Berkalung Sorban
dilarang.Penulis sendiri sebagai orang pondok pesantren tidak melihat pembelaan seperti itu
diperlukan. Mana batas yang wajar dari yang tidak, itulah yang harus kita cari. Dinasti Sriwijaya
memerintahkan penyerangan atas Jawa Tengah, melalui pelabuhan Pekalongan.

Hasilnya adalah munculnya Borobudur sebagai manifestasi agama Buddha yang dianut
sebagian besar penduduk Sriwijaya. Namun, mereka juga menyaksikan munculnya cara baru
beragama di Jawa,yaitu kaum Hindu-Buddha.Dia bertahan terus hingga abad ke-15 Masehi,
terutama dengan memunculkan Kerajaan Majapahit. Tentu saja,pemunculannya didahului
semakin mantapnya peradaban Hindu sebelum itu.

Sementara peradaban itu sendiri didahului peradaban lokal, seperti yang dibawakan Raja
Prabu Saka di Medang Kamulan (di Malang Selatan). Jelaslah dari uraian di atas, bahwa
perkembangan budaya yang terjadi di negeri kita sangat terpengaruh oleh dialog-dialog
antaragama dan budaya, yang masih terus berjalan hingga saat ini.

Nah, kesediaan kita berdialog tentang hal itu juga sangat diperlukan,minimal untuk
memetakan masa lampau kita sendiri dan untuk mengetahui banyaknya warisan budaya yang kita
terima. Penguasaan atas warisan budaya itu sangat berharga,bukan? (*)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/212895/

19

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

NU, Muktamar XXXI dan Demokratisasi

Oleh: Abdurrahman Wahid

Muktamar NU 31 telah berakhir pada tanggal 2 Desember 2004, di asrama haji
Donohudan, Boyolali. Penulis dan banyak tokoh-tokoh NU lain “bernasib baik” mendapatkan
tempat pada hotel-hotel yang ada di kota Solo. Dua kali penulis mendapatkan panggilan, untuk
bertemu dengan para sesepuh di hotel Novotel, yang terletak di jalan Slamet Riyadi. Peristiwa
akbar itu, didahului oleh jatuhnya pesawat terbang Lion Air di lapangan terbang Adi Sumarno,
yang antara lain menelan korban jiwa KH.

Yusuf Muhammad dari DPP PKB dan dua orang tokoh NU lagi, seorang dari Jakarta
Timur, dan seorang dari Lampung. Ternyata, kecelakaan pesawat terbang itu terjadi, karena
licinnya landasan terkena air hujan rintik-rintik waktu itu, sehingga alat-alat penahan lajunya
pesawat terbang, tidak bekerja sebagaimana seharusnya, sedangkan pesawat terbang
mendaratnya juga tidak pada permulaan landasan, melainkan sudah berada di tengah-tengah.
Sebagai akibat, pesawat terbang melampaui landasan pacu, dan menuju ke sebuah kuburan di
tepian lapangan terbang tersebut.

Yang menarik bagi penulis, adalah jalannya forum muktamar itu sendiri. Ternyata, Drs.
Hasjim Muzadi telah lama mempersiapkan untuk kembali menjadi Ketua Umum Tanfidziyyah
PBNU. Untuk ini ia menggunakan cara-cara tidak terpuji, dan melupakan semua tradisi NU,
serta melanggar peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri. Secara main-main, penulis
berkelakar dengan beberapa orang teman: karena muktamar di lakukan di asrama haji
Donohudan, maka ia penuh dengan isu-isu keuangan. Bukankah ini menyangkut dana, yang
belum tentu halal-haramnya? Belum lagi kalau anak kata “hudan” dibicarakan. Bukankah ia
dapat berarti “Orang Yahudi yang kikir”?

Salah satu contoh penyimpangan dari kebiasaan, terjadi ketika panitia pusat menunjuk
restoran ayam bakar Wong Solo sebagai penyedia makanan (catering) bagi forum tersebut.
Sesuatu yang baru terjadi dalam sejarah NU yang panjang. Bukankah selama ini kaum Ibu NU
setempat, melakukan hal itu, guna memungkinkan partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan forum Akbar itu? Penulis melihat sendiri, dalam muktamar NU XXVIII di

20

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Pondok Pesantren Krapyak (Yogyakarta), bagaimana masyarakat menyerahkan lebih dari satu

ton ikan lele kepada almarhum KH. Ali Maksum.

Panitia pusat muktamar, menyebutkan bahwa muktamar tidak diselenggarakan di pondok
pesantren, karena yang ditempati akan meminta dibuatkan gedung. Tetapi diajukan anggaran dua
puluh milyar rupiah untuk forum tersebut. Namun, menurut penulis, jika dilakukan di pondok
pesantren, paling banyak hanya menelan biaya dua milyar rupiah, alias sepersepuluhnya saja.
Entah berapa jumlah uang yang dikeluarkan panitia muktamar, kita juga tidak tahu, karena
segala-galanya tidak transparan.

Hal itu dikemukakan di sini, agar secara tertulis hal itu dapat direkam sebagai informasi
yang berguna bagi NU sendiri di masa depan. Dengan demikian, perbaikan-perbaikan di masa
depan, dapat dilakukan dengan tuntas, demi kelangsungan hidup NU sendiri di masa-masa yang
akan datang. Tugas dan peranan positif NU di masa depan, adalah memimpin bangsa ini ke arah
kejayaaan dan kebesaran, bukannya sekedar menonton saja segala perkembangan yang terjadi.
Penulis melihat peranan demokratisasi, yang seharusnya ditunjukkan muktamar itu, sebagai
“contoh konstruktif” yang harus diperlihatkan NU. Namun, karena egoisme dan ambisi pribadi
jauh lebih besar dari pengertian memimpin bangsa, lalu forum itu gagal berperan demikian.

Yang ada kemudian, adalah pertunjukkan komedi tidak lucu yang memperlihatkan kesenjangan
segitiga sangat besar, dalam kehidupan NU di satu sisi, ada pihak-pihak yang berambisi pribadi
untuk mempertahankan peranan dalam kehidupan NU. Di sisi kedua, para ulama sesepuh yang
merasa “nilai-nilai NU lama” dengan sengaja akan dihilangkan oleh pihak pertama itu, dan
rakyat NU kebanyakan yang sangat sedih dan bingung menyaksikan kesemua itu. Puncaknya,
terdapat dalam dua hal.

Pertama, ketika penulis menghadap KH.AM. Sahal Mahfudz, untuk menanyakan
bersediakah beliau melarang Drs. Hasjim Muzadi dari pencalonan Ketua Umum PBNU, sebuah
hak yang beliau miliki jika terpilih menjadi Rais Aam Syuriah PBNU, sesuai dengan tata tertib
forum itu sendiri. Dengan cucuran air mata, beliau menyatakan pada penulis, tidak sanggup
melakukan hal itu.

21

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Terus terang, penulis kembali ke hotel dengan niatan tidak akan peduli lagi dengan dunia

NU, karena ia hanyalah perjuangan selama di dunia ini saja. Tetapi, ia harus mengurungkan niat

itu, yang tentunya harus diiringi konsentrasi pada suksesnya PKB saja.

Keesokan malamnya, penulis dipanggil lagi ke Novotel, dan di sana para ulama sesepuh
mengeluarkan perintah tertulis agar didirikan organisasi baru, yang berpegang pada nilai-nilai
ke-NU-an yang beliau yakini. Pada waktu perintah tertulis itu di bacakan, dengan tanda tangan
puluhan orang ulama, hati penulis seperti diiris-iris tanpa disadari, di matanya terbayang para
pendiri dan pejuang NU, yang dengan ikhlas dan tekun memperjuangkan masa depan bangsa dan
negara ini.

Apa bedanya, dengan pengorbanan penulis selama puluhan tahun ini bagi demokrasi,
peri-kemanusiaan dan kebesaran Islam sendiri? Kebesaran karena Islam turut “mengangkat
derajat” agama-agama lain (termasuk aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa)?
Dengan segala kemampuan, penulis memilih perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM), dalam
bentuk perlindungan hak-hak kaum minoritas dan dialog antar agama.

*****

Penulis menyatakan akan melaksanakan tugas tersebut, dan untuk itu beberapa hari
kemudian ia dan sejumlah kawan terbang ke Cirebon, untuk menemui sejumlah sesepuh (seperti
KH. Abdullah Abbas, Syekh Muhtar Muda Nasution dari Sibuhuan/Sumatera Utara, para utusan
KH. Abdullah Faqih Langitan dan KH. Sofyan Miftah/Situbondo). Di ponpes Buntet
Astanajapura, penulis mengemukakan perlunya dikembangkan sikap akomodatif dan tidak
konfrontatif terhadap PBNU baru.

Bentuknya, antara lain berupa kesediaan menggunakan bersama kantor PBNU berlantai
sembilan itu. Sebagai pendiri gedung itu, dan hingga saat ini masih melihat ada hutang-hutang
yang belum dibayar bagi kerja tersebut, sedangkan PBNU melaporkan adanya saldo keuangan
sebesar 5,5 milyar rupiah, jelas masalahnya cukup rumit. Diharapkan, dengan adanya sikap
rekonsiliatoris, dalam beberapa tahun lagi NU akan bersatu kembali secara organisatoris,
walaupun tidak dapat mengambil bentuk semula yang sudah dikacaukan orang itu.

22

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Impian penulis itu, antara lain didasarkan atas perintah para sesepuh NU, agar organisasi

baru yang didirikan tersebut, dideklarasikan dalam muktamar luar biasa (yang penulis tidak tahu

forum NU atau bukan) bulan Juni yang akan datang. Dengan demikian, beliau-beliau melarang

adanya pengurus organisasi baru itu, saat ini, dan hanya memperkenankan adanya sejumlah

orang koordinator, baik di tingkat pusat maupun daerah. Jelas dengan demikian, bahwa

pertarungan antara NU struktural dan non-struktural itu akan berlangsung secara apik, dan tidak

berniat melukai siapapun.

Penulis sendiri ingin agar perselisihan itu segera disudahi, karena ia sendiri mempunyai
agenda besar, untuk menegakkan demokrasi bagi bangsa dan negara, serta kerja-kerja membuat
bangsa yang kuat dan negara besar, yang bersandar pada jumlah penduduk (205 sampai 208 juta
jiwa, yang besar, letak geografis yang sangat strategis dan sumber-sumber alam sangat kaya.
Tantangan itulah yang menarik hati penulis, bukannya segala urusan “tetek bengek” masalah-
masalah organisasi kemasyarakatan itu.

*****

Orang sering menyatakan, mengapakah penulis masih mementingkan NU? Bukankah
penulis sendiri (menurut bahasa mereka), jauh lebih besar dari organisasi tersebut? Jawabnya,
sebenarnya sederhana saja: tanpa NU, perjuangan menegakkan demokrasi, upaya membuat
bangsa kuat dan menciptakan kehidupan penuh keadilan dan kemakmuran, juga tidak akan
menghasilkan apa-apa. “Kesadaran” tersebutlah yang akhirnya membuat penulis menerima
perintah para sesepuh NU itu.

Jelas, itu merupakan apa yang dirumuskan al-Qur’an “negeri yang baik dan penuh
pengampunan Tuhan” (baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur). Sebagai pengejawantahan upaya
melaksanakan apa yang menjadi tujuan NU, “meluhurkan asma Allah yang sangat tinggi” (I’la-I
kalimatullah al-lati hiya al-‘ulya), maka bentuk-bentuk kegiatan itulah yang penulis pilih. Saat
ini, penulis sedang asyik membuat jaringan para pemimpin-pemikir Islam, yang berkewajiban
menyatakan “suara moderat Islam” di lingkungan dunia internasional, sebagai sebuah bentuk
kegiatan rangkaian di atas. Inilah yang membuat penulis ke New Delhi baru-baru ini, disusul
dengan kepergian ke Australia untuk enam hari saat tulisan ini didektekan.

23

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Untuk mempersiapkan muktamar luar biasa, berbagai naskah yang diperlukan dan

mencari personalia yang dibutuhkan, penulis menunjuk sebuah team yang terdiri dari sejumlah

orang aktifis NU di tingkat pusat. Ini berangsur-angsur akan dilengkapi dengan dengan

menunjuk team-team daerah tingkat satu dan dua untukk keperluan tersebut. Berarti di mulainya

kembali upaya keempat kali untuk melakukan konsolidasi di lingkungan NU.

Mula-mula, KH.A Wahab Chasbullah, Hasan Gipo dan sejumlah orang lain, untuk
menyusun gerak-langkah NU pada saat baru berdiri, kemudian ketika NU harus menjadi parpol
sebagai keputusan muktamar Palembang 1952, ketika NU kembali kepada khittah NU 1926
dalam muktamar Asembagus tahun 1984, dan kini seusai muktamar Boyolali yang diuraikan di
atas. Penulis “terlibat” dalam kerja-kerja berat setelah muktamar Asembagus dan Boyolali, tetapi
memang demikianlah yang harus dilakukan, jika kita benar-benar mencintai NU. Selebihnya,
adalah proses melestarikan dan membuang, yang umum terjadi dalam sejarah manusia, bukan?

Melbourne, 10 Desember 2004

*Penulis adalah Ketua Dewan Syura DPP PKB

Kyai Mutamakkin dan Perubahan Strategi NU

Tahun lalu, penulis diminta menyampaikan makalah dalam sebuah seminar yang
diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat Jakarta.
Seminar itu diselenggarakan untuk memperkenalkan buku karangan Zainul Milal Bizawie
tentang Kyai Ahmad Muamakkin. Dalam kesempatan itu, penulis hanya berbicara tentang hal-
hal yang mendasar, tanpa mempersiapkan sebuah makalah tertulis.

Karena harus berbicara mengenai Kyai Ahmad Mutamakkin dari Kajen, Pati (Jawa
Tengah), maka yang dipentingkannya adalah perbedaan dasar beliau dengan para ulama lain dari
massa itu. Sebagaimana diketahui, kyai yang hidup dan berkiprah dalam paruh kedua abad ke-18
Masehi, mengalami dua buah macam penguasa. Mereka adalah Amangkurat IV dari Kartasura
dan Pakubuwono II di Surakarta Hadiningrat.

Beliau terlibat dalam perdebatan seru ketika diadili oleh Katib Anom, semacam menteri
agamanya, Amangkurat IV. Pemeriksaan pandangan-pandangan beliau oleh Katib Anom, yang

24

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

notabene cucu Sunan Kudus, direkam dalam sebuah tembang Kraton yang berjudul Serat

Cebolek. Nama sebuah desa yang terletak di sebuah selatan desa Kajen di atas.

Serat yang menggunakan bahasa sastra Jawa yang tinggi ini, akhirnya dijadikan pokok
disertasi doctoral oleh Subardi, pada salah sebuah Universitas terkemuka di Australia. Disertasi
itu ditulis dalam bahasa Inggris dan sudah sewajarnya ia diterjemahkan ke dalam bahasa nasional
kita. Tetapi pokok permasalahan yang penulis bahas tidak ada dalam disertasi tersebut.

Di samping disertasi itu, ada juga sebuah kidung yang sering dibacakan dalam peringatan
kematian (haul) beliau di Kajen. Selama seminggu “orang memperingati” kematian beliau
tersebut. Puncaknya adalah pembacaan tembang/kidung tersebut di atas, dengan lebih dari 100
ribu orang hadirin. Namun, strategi yang diuraikan penulis di Ciputat itu, juga tidak muncul
dalam “keramaian” di atas.

Orang lebih tertarik kepada cerita-cerita tentang “keanehan” Kyai Mutamakkin, dari pada
melakukan pembicaraan tentang peranan Kyai tersebut, sebagai seorang alim yang
berpengetahuan agama sangat dalam. Dengan kata lain, orang lebih melihat ketokohan beliau,
dan bukannya apa yang menjadi peranan beliau dalam kehidupan beragama Islam di kalangan
kaum muslim tradisional di pantai utara Jawa Tengah (dan sedikit kawasan Jawa Timur).

Yang penulis maksudkan dengan strategi yang beliau bawakan itu adalah merumuskan
arah perkembangan dalam hubungan antara para ulama dan penguasa di Jawa waktu itu. Bupati
Rifai dari Batang (kawasan sebelah barat Jawa Tengah) juga menggunakan Serat Cebolek dari
Kraton Surakarta itu, sebagai “pendukung utama” atas kekuasaannya. Ini “dilawan” oleh para
ulama setempat sekitar satu abad setelah “pemeriksaan” atas diri Kyai Mutamakkin oleh Katib
Anom. Hal itu menunjukkan bahwa ada sebuah perkembangan sangat menarik dalam kehidupan
kaum Muslim, yang juga ditentukan oleh sikap para ulama setempat, seperti terjadi sekarang ini.
Karenanya, dalam makalahnya itu penulis mencoba melihat persoalannya dari sudut strategi
perjuangan Islam di negeri ini.

Hal dasar itu adalah hubungan antara para ulama sebagai “pimpinan umat” di satu pihak,
dan para penguasa di pihak lain. Di masa hidup Kyai Mutamakkin, para ahli fiqh (hukum Islam)
cenderung untuk ‘membela” para penguasa, bahkan dikala melakukan kesalahan-kesalahan yang
besar. Populer sekali ungkapan bahwa para raja tradisional Jawa melakukan hubungan seksual

25

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

dengan istri mereka, dan kemudian tidak melakukan mandi Junub, para bawahan merekalah yang

melakukan hal itu. Sikap ini mungkin dilakukan karena adanya ‘ketentuan’ yang disebutkan Al-

Qur’an, agar kaum muslimin selalu taat kepada Allah, utusannya dan para penguasa (Uli Al-

Amri).

Sikap “tutup mata” atas pelanggaran-pelanggaran fiqh oleh para penguasa ini, terjadi
dalam skala yang besar dan meliputi masa yang panjang. Sebaliknya, para pemimpin tarekat,
para mursyid dan badal-badal mereka, menentang penguasa yang ada, dan menyebut nama
mereka secara terbuka di muka umum. Karena itu, kita kenal dari masa itu cerita-cerita tentang
ulama yang dibakar hidup-hidup atau di kupas kulit mereka sebagai “hukuman dari para
penguasa”.

Penentangan langsung para pemimpin tarekat itu yang kemudian dirubah oleh Kyai
Ahmad Mutamakkin. Ia tidak pernah menyerang penguasa manapun dengan menyebut nama
terang-terangan. Ia mengemukakan sebuah “strategi penentangan alternatif” yaitu dengan
menyebutkan bahwa penguasa yang baik selalu melaksanakan hal-hal yang baik pula. Dengan
melakukan pendekatan positif seperti itu, ia justru ditentang oleh para ahli fiqh pada waktu itu.
Mereka mempersoalkan hal yang menurut mereka merupakan pelanggaran fiqh yang dilakukan
Kyai Ahmad Mutamakkin.

Mereka mempersoalkan ijin yang diberikan Kyai kita itu kepada orang yang melukiskan
gambar ular dan gajah secara penuh di dinding masjidnya., yang waktu itu dianggap haram.
Demikian pula, ia bersedia menonton wayang kulit dengan lakon “Bima Suci” atau “Dewa
Ruci”, yang mengakibatkan ia dituduh mengikuti faham mereka dengan menonton lakon itu.
Tentu saja hal itu adalah sesuatu yang menggelikan hati kita dewasa ini, karena memang
masalahnya adalah sesuatu yang bersifat akhlaq/moral, dan sangat sedikit menyangkut hukum
fiqh. Itulah yang menjadi tema perdebatan antara Kyai Mutamakkin dan Katib Anom yang
dianggap mewakili para ahli fiqh.

Hampir-hampir tidak ada pihak yang mempersolakan strategi dasar yang diletakkannya
bagi kepentingan umat dalam hubungan mereka dengan para penguasa. Pertanyaan pokoknya
sekarang adalah: masih relevankah strategi dasar yang diletakkan kyai kita itu? Atau lebih jelas

26

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

lagi, haruskah Nahdlatul Ulama (NU) meneruskan strategi dasar Kyai Ahmad Mutamakkin

tersebut ataukah harus diganti dengan strategi dasar yang baru?

Dapatkah kita menempuh strategi “demokratisasi bertahap” seperti yang dilakukan oleh
para pemimpin NU sekarang? Atau NU justru harus mempelopori proses demokratisasi yang
lengkap dari sekarang? Karena itu memang adalah “tuntutan agama”, jawaban atas pertanyaan di
atas menjadi sesuatu yang sangat penting bagi kita semua sebagai bangsa. Ini menjadi penting,
setidak-tidaknya dalam sikap NU menghadapi rangkaian pemilu tahun 2004; dan dalam
hubungan antara NU dengan proses demokratisasi yang sedang berlangsung.

Mengapakah harus NU yang dihadapkan kepada pertanyaan di atas? Karena memang NU
dengan para warganya justru dihadapkan kepada tantangan klasik: setelah “lumpuhnya” gerakan-
gerakan lain di negeri kita. Untuk memberikan respon yang positif saat ini, ternyata hanya
tinggal para warga NU yang tersebar di berbagai gerakan yang diharapkan dapat menjawab
tantangan keadaan yang dihadapi bangsa kita. Karenanya, jawaban pihak NU sangat dinanti-
nanti pada saat ini karena merupakan “langkah kunci” bagi upaya merespon sikap menyepelekan
dan merendahkan demokrasi. Proses yang mudah dikatakan, namun sulit dilakukan, bukan?

Aneka Pendapat Tentang Golput

Artikel ini didiktekan hari Sabtu 18 September 2004, sambil menunggu pesawat terbang
di Cengkareng. Artikel ini dimaksudkan untuk diterbitkan 24 September 2004, beberapa hari
setelah pemilu Capres-Cawapres dipilih dalam pemilu putaran kedua. Dua hari sebelumnya,
melalui siaran-siaran radio Elshinta dan Jakarta News FM, penulis mengikuti serangkaian
pendapat para pendengar tentang pemilu tersebut.

Yang paling menarik adalah kenyataan betapa sengitnya pendapat tentang golput alias
golongan putih, yaitu para pemilih yang memilih tidak menggunakan hak pilih mereka dengan
cara tidak datang ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS), atau yang datang ke TPS namun
mencoblos kedua pasangan calon. Ini dilakukan, untuk mencegah penggunaan kertas-kertas
suara mereka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) guna kepentingan salah satu pasangan calon.
Ini menunjukkan, betapa kecilnya kepercayaan masyarakat kepada KPU, yang ada kemungkinan
melakukan manipulasi pengumuman perolehan suara mereka. Kalau para pemilih itu memang

27

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

percaya kepada KPU, tentu mereka tidak akan mencoblos kedua pasangan calon tersebut pada

waktu yang sama.

Yang sangat menarik kita, adalah begitu banyaknya para pemilih yang dalam siaran-
siaran radio niaga itu menyatakan akan melakukan golput. Sangat jelas, bahwa kelas menengah
ke atas dari bangsa kita, yang mengikuti siaran-siaran radio niaga menyatakan demikian, padahal
merekalah yang sebenarnya dituju oleh para pasangan calon itu. Toh dalam kenyataan, justru
mereka tidak memberikan suara alias golput. Ini adalah sesuatu yang bersesuaian dengan
laporan-laporan lisan dan tertulis yang penulis terima, bahwa suara golput dalam pemilu putaran
kedua ini, akan mencapai sekitar 60% suara para pemilih yang ada.

Ulil Abshar melalui lembaga pemantauannya sendiri, menyatakan sekitar 56% pemilih
akan bertindak golput alias tidak memberikan suara dalam pemilu. Ketika hal itu dikemukakan
penulis dalam pertemuan dengan tim Uni Eropa yang datang ke Jakarta untuk melakukan
pemantauan pemilu, tampak bahwa mereka tidak tahu situasi sebenarnya tentang negeri kita.

Dalam hal ini, yang sangat menarik perhatian adalah reaksi jumlah cukup besar
pendengar kedua siaran radio niaga tersebut. Mereka “melampiaskan” kemarahan kepada orang
yang akan bertindak golput itu. Mereka memahami orang-orang golput itu sebagai tidak
bertanggung jawab kepada masa depan bangsa dan negara kita. Tapi mereka sendiri lupa, bahwa
sikap tidak melawan (jika penulis dalam hal pencapresan penulis terhadap kezaliman KPU),
adalah sikap membiarkan ketidakadilan, yang sangat dicela baik oleh hukum maupun agama.

Karenanya, sikap ganda ini menunjukkan kadar kemunafikan luar biasa dari bangsa ini
dalam kehidupan bernegara. Sebenarnya mereka yang bertindak golput justru menunjukkan
perlawanan, namun karena tidak ada sistem politik yang memimpin mereka yang melakukan
perlawanan, maka jadilah sikap melawan dari mereka itu mengambil sikap golput itu.

Melalui tulisan ini, penulis menyanggah mereka yang menyatakan sikap marah-marah
itu, karena penulis kebetulan mengetahui duduk perkara persoalannya. Inilah yang mendorong
penulis untuk mendiktekan tulisan ini, agar supaya ada dokumentasi yang kemudian hari akan di
baca berulang (to be read) oleh para peneliti/sejarawan. Latar belakang inilah yang harus
diketahui pembaca sekarang ini. Jadi, sebenarnya para pendengar yang bersikap marah itu,

28

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

seharusnya melakukan introspeksi (mawas diri) atas sikap mereka sendiri, bukanya marah-marah

kepada orang lain.

Kalau sikap golput itu menjadi sangat besar, berarti sebagian besar bangsa kita memang
“cukup cerdik” sebagai “bentuk perlawanan” yang dapat dilakukan. Bahwa dalam sikap itu ada
unsur “keenganan” mengikuti pemilu, itu karena disebabkan oleh keengganan untuk
menggunakan kezaliman sebagai alat kritik terhadap kesalahan-kesalahan KPU atau sebagai
salah satu cara untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan.

Reaksi sebuah bangsa atau masyarakat tidak selamanya mengambil bentuk penolakan
langsung atas kezaliman yang dideritanya. Bukti utama dari hal ini adalah kenyataan sejarah,
bahwa kita di jajah oleh para kolonialis Belanda sebelum penjajahan Jepang, tidak dalam kurun
waktu yang sama ada yang sampai 350 tahun lamanya, ada yang “hanya” beberapa puluh tahun
saja, seperti daerah Aceh (sejak 1904 masehi hingga datangnya Jepang).

Perbedaan cukup besar dalam lamanya menjadi “daerah jajahan” itu, menunjukkan
dengan jelas perbedaan-perbedaan tersebut, yang sudah tentu akan menunjukkan perbedaan pula
dalam jumlah prosentasi suara golput dalam pemilu Capres-Cawapres putaran kedua. Ini
menunjukkan dengan jelas, betapa besar perbedaan dalam perlawanan terhadap kezaliman KPU
dari sebuah daerah ke daerah yang lain.

Sudah tentu KPU dapat saja bersikap tidak menghiraukan kenyataan-kenyataan di atas.
Mereka “sudah terbiasa” dengan melanggar undang-undang, yang sebenarnya berarti pelecehan
terhadap kedaulatan hukum di negeri kita. UU Nomor 4 tahun 1992, 23 tahun 1997, 12 tahun
2003 dan 2 buah pelanggaran terhadap UU nomor 23 tahun 2003, sebenarnya sudah membuat
KPU harus diganti, karena membuat penafsiran sendiri atas rangkaian undang-undang di atas,
yang seharusnya menjadi tugas Mahkamah Agung.

Ketidakmengertian KPU akan fungsi dirinya dan fungsi Mahkamah Agung menunjukkan
dengan jelas, bahwa ia tidak pantas menyelenggarakan pemilu tahun ini, ataupun waktu-waktu
yang lain. Kombinasi antara arogansi dirinya dan ketakutan alat-alat pemerintahan lainnya
kepada KPU, akhirnya membuahkan “pelanggaran hukum” sangat besar, berupa penyelenggara
pemilu oleh lembaga compang-camping ini. Karena itu, pantaslah banyak orang yang tidak yakin
pemilu Capres-Cawapres putaran kedua akan berjalan dengan benar.

29

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Bagaimanakah halnya dengan “suara golput” dalam rangkaian kegiatan pemilu tahun ini?

Jika ini memang berjumlah besar, dan merupakan mayoritas sikap para pemilih, dengan

sendirinya hasil pemilu yang berlangsung pada putaran kedua ini, akan mencerminkan sebuah

kenyataan pahit: Sebuah pemerintahan yang tidak memiliki kredibilitas maupun legitimitas untuk

“memimpin” bangsa dan negara kita, selama 5 tahun yang akan datang. Lalu, dapatkah

pemerintahan seperti itu bertahan lama, dan melaksanakan program-programnya sendiri?

Bukankah dengan demikian, lalu terjadi sebuah “distorsi sikap” dalam kehidupan masyarakat.

Di satu pihak, masyarakat memastikan adanya sebuah keharusan untuk mempunyai
pimpinan yang akan memimpin bangsa ini untuk mengatasi krisis multidimensi yang
dihadapinya. Di pihak lain, mereka juga mengetahui bahwa pemerintahan yang ada secara moral
dan secara politis, tidak memiliki dukungan yang diperlukannya, guna memimpin pemerintahan
secara efektif. Karenanya, persoalan utamanya adalah bagaimana memastikan bahwa langkah-
langkah yang diambil pemerintah, harus memperoleh dukungan mayoritas dengan cepat.

Ini adalah tantangan utama yang harus dihadapi oleh Presiden baru, dalam masa depan
yang singkat. Mungkin inilah “jebakan politik dan moral” yang harus dihadapi pemerintah
minoritas hasil rangkaian pemilu 2004. selama kita tidak bersedia menyelesaikan masalah ini
dengan terbuka, selama ini pula kita akan dihadapkan kepada keadaan serba tidak pasti, yang
tentunya tidak memungkinkan bangsa kita memiliki kekuatan yang seharusnya ada untuk
memecahkannya perlu ada jawaban, yang kelihatannya mudah dikatakan, namun sangat sulit
dilaksanakan bukan?

***

30

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Mengapa Saya Golput?

Oleh: Abdurrahman Wahid

Kita semua tahu, bahwa dalam pemilu capres-cawapres 20 September 2004 nanti,
terdapat dua pasanagan: Megawati Soekarnoputri (M)- Hasyim Muzadi (H) di satu sisi dan
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - M. Jusuf Kalla (MJK). Tiap kali ditanya orang, penulis
menyatakan tidak akan memilih pasangan manapun sikap ini dinamai golongan putih atau
golput.

Karena ditanya berulang kali dimana-mana, maka penulis memutuskan untuk
mengemukakan jawaban itu dalam sebuah artikel yang kali ini Anda baca sendiri. Penulis
berharap, dengan demikian tidak ada lagi yang bertanya, dan terus terang saja tidak akan ada
yang dapat merubahnya. Namun penulis akan memenuhi ketentuan undang-undang tentang hal
ini: tidak mengajak siapapun, melainkan melakukan tindakan yang merupakan pilihan
pribadinya, tanpa ajakan formal kepada siapapun juga.

Alasan utama bagi penulis bersikap golput, bagi penulis adalah melakukan hal itu
sebagaimana protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi
Pemilihan Umum (KPU) yang menurut penulis melanggar sejumlah undang-undang (UU), UU
No. 23/1992 tentang Kesehatan, No.4/1997 tentang Penyandang Cacat, No. 12/2003 tentang
Pemilu Legislatif dan dua pelanggaran terhadap UU No.23/2003 tentang Pemilu Presiden.
Bahwa, pengadilan kita yang diwakili baik oleh Mahkamah Agung (MA) Mahkamah Konstitusi
(MK) pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta maupun Pengadilan Negeri semuanya
berdiam diri terhadap 5 buah pelanggaran itu, di mata penulis tidak berarti KPU tidak melakukan
pelanggaran UU, bahkan dimanapun dan kapanpun penulis selalu menyatakan sistem hukum kita
sedang dikuasai oleh ‘mafia peradilan”.

Sikap golput penulis itu, adalah sebuah sikap moral yang merupakan hak penulis sebagai
warga negara, menurut tata hukum yang berlaku. Kalaupun penulis ditangkap karena bersikap
demikian, maka berarti memang keseluruhan sistem politik kita sudah menjadi busuk dan
kediktatoran atas nama “kedaulatan hukum” menjadi ciri kehidupan bangsa secara keseluruhan.
Bagaimanakah hal itu dapat terjadi, tentu akan menjadi “urusan” bangsa kita, dan bukannya

31

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

masalah pribadi penulis semata-mata. Mungkin, pada saat itu penulis sudah mengajar di sebuah

Universitas di negeri lain karena tidak dapat lagi hidup dengan merdeka di negeri sendiri.

Namun, penulis tidak mengharapkan Allah akan membuat keadaan di negeri menjadi
demikian. Apa sebabnya? Karena bangsa kita akan hidup dalam ketakutan yang mencekam,
untuk dapat benar-benar merdeka dan mempertahankan kebenaran. Apapun ucapan orang, bahwa
telah terjadi reformasi pada tahun 1998, tapi dalam kenyataan reformasi itu telah “dicuri orang”,
dan sistem politik kita hampir-hampir tidak mengalami perubahan.

Karena itulah benar kata orang, bahwa kita adalah “bangsa lunak” yang tidak berani
mempertahankan pendirian, seperti diungkapkan Gunnar Myrdal melalui bukunya “Asian
Drama”, yang penulis baca beberapa tahun yang lalu. Adapun pendapat bahwa demokrasi dapat
berkembang secara bertahap/incremental, penulis sanggah dengan ungkapan demokrasi harus
datang secara total. Adolf Hitler yang kemudian dianggap menjadi diktaktor besar karena
membunuh sekitar 35 juta orang melalui Perang Dunia II bermula dari demokrasi Republik
Weimar ini tahun 1930-an.

Dari bangsa besar berjumlah lebih dari 205 juta jiwa, tidak ada seorangpun manusia
Indonesia yang berani menyatakan secara terbuka atas sikap yang diambil KPU itu. Kalaupun
ada, itupun tidak didengar orang, karena dinyatakan oleh berbagai Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dan kelompok-kelompok mahasiswa yang tidak menguasai “pendapat
umum” (public opinion).

Karena itu, dengan segala rasa simpati dan syukur, masih ada manusia Indonesia yang
bersikap demikian, dan penulis berketetapan hati akan terus memperjuangkan demokrasi di
negeri kita. Sementara para pemimpin di negeri kita saat ini, sedang asyik memperjuangkan
kepentingan sendiri melalui pelestarian status quo sistem politik dari masa lampau. Demokrasi
hanya ada di kertas, melalui pembentukan berbagai lembaga seperti pihak eksekutif, legislative,
yudikatif tetapi yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Herankah kita jika KPU lalu menjadi arogan, dan mengembangkan fungsi
ekstrakonstitusional yang sebenarnya telah diatur oleh Undang-Undang Dasar. Ia menganggap
diri benar, karena lembaga-lembaga pemerintah tidak berani melakukan koreksi aapapun atas

32

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

dirinya. Padahal, untuk tiap pelanggaran KPU terhadap sebuah undang-undang yang ditentukan

oleh sistem hukum nasional kita, hukumannya maksimal adalah kurungan badan selama 5 tahun.

Jadi, secara keseluruhan, Nazarudin Syamsuddin selaku Ketua KPU diancam dengan kurungan

badan maksimal selama 25 tahun. Namun, sampai hari inipun ternyata baru ada gugatan perdata

di muka Pengadilan Negeri di Jakarta pusat oleh penulis agar KPU membayarnya 1 triliun rupiah

selaku penggantian atas kehilangan hak-hak sipilnya untuk menjadi calon Presiden.

Sementara itu telah dipakai “logika aneh” oleh PTUN di Jakarta, yang rekomendasikan
oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk memeriksa keberatan hukum penulis atas
keputusan KPU yang dianggap penulis melanggar hukum. PTUN menyatakan, tidak dapat
melanjutkan pemeriksaan atas perkara itu, karena jika dilakukan agenda ketatanegaraan bisa
terganggu.

Bukankah justru kasus hukum pada pengadilan apapun di negeri kita, justru dimaksudkan
untuk “memberi keadilan” kepada para warga negara kita. Keanehan-keanehan seperti inilah
yang dapat diselesaikan jika perundang-undangan dapat dirumuskan oleh lembaga-lembaga
perwakilan yang dipilih secara demokratis. Dengan ungkapan lain, upaya KPU yang dilakukan
sekarang berarti langkah-langkah untuk mempertahankan status quo sistem politik “akal-akalan”
yang ada dewasa ini.

Kenyataan demi kenyataan yang penulis gambarkan di atas, tidak heran jika lalu
mendorongnya kepada sikap menolak berpartisipasi dalam sebuah “pemilu” yang hanya akan
mempertahankan dan melestarikan status quo? Penulis beranggapan, keikutsertaannya dalam
pemilu seperti itu, hanya akan berarti kerja “memperpanjang penderitaan” saja. Karenanya ia lalu
mengambil sikap “bergolput ria”.

Apa akibatnya bagi sistem politik kita yang ada dewasa ini? Mungkin dengan sikap
penulis itu, akan cukup banyak anak-anak bangsa yang tergerak hati dan pikiran mereka untuk
melakukan perlawanan lebih jauh. Bukankah hal itu sama dengan sikap Bung Hatta yang
ditahun-tahun 50-an meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden dan menerbitkan bukunya
“Demokrasi Kita”?

33

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Ini berarti semua upaya telah dilakukan, penulis tinggal menyerahkan perjuangan pada

tahap berikut kepada generasi muda yang akan memimpin bangsa ini. Penulis tidak menyesal

telah mengambil keputusan seperti ini, walaupun harus menyatakan dalam tulisan ini, bahwa

“api demokrasi” tetap menyala dalam dadanya dan akan dibawanya ke liang kubur.

Kalau bangsa ini menghendaki ia turut serta dalam perjuangan menegakkan demokrasi di
masa mendatang, harus ada “petunjuk yang jelas” bagi penulis. Bukankah dengan demikian,
penulis tidak meninggalkan gelanggang perjuangan, yang dalam bahasa wayang kulit disebut
sebagai “colong playu”? Tetapi ini adalah kesadaran (yang mungkin juga keliru), bahwa
memang memperjuangkan demokrasi untuk sebuah negeri dan bagi sebuah bangsa, memang
mudah dikatakan, tetapi sulit dilaksanakan (sendirian saja), bukan?.

Yogyakarta, 10 September 2004

34

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

Anekdot-anekdot Gusdur

1. Kaum Almarhum

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur?
Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-
sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke
makam para ulama dan leluhur.

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan
lagi.” Katanya.

******************************

2. Berdoa Sebelum Makan

Waktu Gus Dur menjabat Presiden RI, sekali waktu beliau bertemu dengan para romo (pastor)
seluruh Keuskupan Agung Semarang. Dan, tak ketinggalan Gus Dur menyelipkan ceritanya. Ini
pastor-pastor itu di sebuah negeri senang berburu binatang buas.

Sekali waktu, selesai misa hari Minggu, seorang pastor pergi ke hutan berburu binatang buas. Ia
melihat seekor harimau. Langsung sang pastor mengokang senapannya dan menembak: “Dor –
dor!” Wah, ternyata tembakannya meleset dan sang harimau balik mengejar sang pastor. Pastor
segera berlari mengambil langkah seribu. Tiba-tiba si pastor berhadapan dengan jurang yang
dalam. Si pastor langsung berhenti, berlutut, dan mengatupkan tangannya berdoa sebelum
diterkam harimau. Berdoa sebelum mati.

Selesai berdoa, sang pastor terheran-heran karena ternyata ia masih hidup, tidak diterkam
harimau. Waktu ia menoleh ke kanan, dilihatnya harimau itu berlutut di sampingnya dan berdoa
sambil mengatupkan kedua kaki depannya, seperti orang Katolik mengatupkan kedua tangannya
ketika sedang berdoa. Si pastor lalu bertanya kepada harimau, “Harimau, kamu kok tidak

35

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

menerkam saya, malah malah kamu ikut-ikutan berdoa seperti saya. Mengapa?” Jawab harimau:

“Ya, saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!”

*******************************

3. Kuli dan Kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi.
Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka
bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa
Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin,
Amin, Amin! Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa
Anda berkerumun di sini?” “Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka
itu pasti kyai.”

*******************************

4. Obrolan Presiden

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia
mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh
dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan.

Seperti biasa... setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan
negerinya. Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian
dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?" "Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab
Clinton dengan bangganya.

Nggak mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau
nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya. Presiden

36

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?" "Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis

tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya
keluar pesawat... "Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur. "Lho kok
bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.
"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.

*******************************

5. Sate Babi

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.

Ajudan : Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?

Gus Dur : Babi

Ajudan : Yang lebih haram lagi

Gus Dur : Mmmm … babi mengandung babi! Ajudan: Yang paling haram?

Gus Dur : Mmmm … nggg … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate

babi!

*******************************

6. Lagi Asyik Baca

Bertahun-tahun, saya heran kenapa sih Indonesia “Tidak maju-maju” meski mereka sudah
merdeka 60 tahun lebih. Tapi sekarang…saya sudah tahu alasannya. Berdasarkan data statistik:

Jumlah penduduk Indonesia ada 225 juta. 100 juta di antaranya adalah para pensiunan dan anak-
anak. Jadi yang kerja cuma 125 juta.

Jumlah pelajar dan mahasiswa adalah 78 juta. Jadi tinggal 47 orang yang kerja. Yang kerja buat
pemerintah pusat jadi pegawai negeri ada 31 juta, jadi tinggal 16 juta yang kerja (karena PNS
cuma main catur dan baca koran). Ada 4,5 juta yang jadi TNI dan Polisi. Jadi tinggal 11,5 juta
yang kerja (karena TNI dan Polisi tidak ada kerjaan).

37

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen-departemen lain jumlahnya

10.500.000. Jadi sisanya tinggal 1.000.000. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh

Indonesia ada 888.000. Jadi sisa 112.000 orang saja yang kerja.

Ada 111.998 orang yang di penjara. Jadi tinggal sisa dua orang saja yang masih bisa kerja. Siapa
mereka??? Yaaa…tentu saja SAYA dan ANDA! Tapi kan sekarang ANDA lagi asyik baca buku
sambil cekikak-cekikik sendiri. Jadi tinggal saya sendiri dong yang kerja!!!! Pantes aja kalau
begini Indonesia tidak maju-maju……..!

*******************************

7. Membuang Presiden

Apa akibatnya kalau seorang presiden terlampau lama memegang kekuasaan? Apalagi jika
ditambah seringnya ia membohongi rakyatnya sendiri? Tentu rakyat akan protes dan marah,
karena menganggap presidennya telah berkhianat.

Tapi ini cerita Gus Dur tentang seorang presiden Filipina yang punya tiga orang anak. Merasa
ayah mereka adalah orang nomor satu di negerinya, anak-anal sang presiden pun lantas
bertingkah neko-neko.

Anak kedua presiden ingin mencari popularitas dengan menyebarkan jutaan lembar uang kertas
pecahan 5 peso dari sebuah pesawat terbang. Kakaknya tak mau kalah pamor. Dengan pesawat
yang digunakan adiknya sebelumnya, sang kakak menyebarkan jumlah uang jauh lebih banyak
dari adiknya.

Anak perempuan presiden juga ingin populer, tapi tidak mau meniru cara yang dilakukan oleh
kedua kakaknya. Karena bingung, ia pun bertanya kepada pilot pesawat yang ikut menyebarkan
uang bersama dua kakaknya itu.

“Mas kapten, aku ingin populer seperti dua kakakku sebelumnya, tapi tindakan populer apa yang
bisa membahagiakan rakyat?” “Gampang sekali: Buang saja ayah nona dari atas pesawat.”

*******************************

38

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

8. Becak, Dilarang Masuk

Saat menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD
tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika
melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu
gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak
Pak polisi. “Oh saya melihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya.
Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang
masuk,” bentak Pak polisi lagi.

“Tidak pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti
sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

*******************************

9. Argometer Japan yang Cepat

Di luar Hotel Hilton, Gus Dur bersama sahabatnya yang seorang turis Jepang mau pergi ke
Bandara. Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang banget, menyalip taksi
tersebut. Dengan bangga si Jepang berteriak, “Aaaah Toyota made in Japan sangat cepat…!”

Enggak lama kemudian mobil lain nyalip juga taksi tersebut. Si Jepang teriak lagi “Aaaah Nissan
made ini Japan sangat cepat.” Enggak lama kemudian lewat lagi satu mobil menyalip mobil
tersebut dan si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi made in Japan sangat cepat…!” Gus Dur
dan sopir taksi itu merasa kesal melihat si Jepang ini bener-bener nasionalis.Kemudian,
sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke si Jepang.

Supir taksi : “100 dolar please…”

39

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010
Si Jepang : 100 dolars…?! Its not that far from the hotel…!!”

Gus Dur : “Aaaah… Argometer made ini Japan kan sangat cepat sekali!!”

*******************************

10. Pikiran porno

Dalam suatu kesempatan Gus Dur mengeluarkan sebuah pernyataan yang sebenarnya tidak
dimaksudkan untuk menghina. Namun dengan itu bagian dari upaya Gus Dur menyampaikan
joke.”Alquran itu kita suci yang paling porno. Ya kan bener, di dalamnya ada kalimat menyusui.

Berarti mengeluarkan tetek. Ya udah, cabul kan?” Mungkin dengan hanya kalimat guyonan itu
sebagian masih ada yang merasa diresahkan. Masa sih ulama yang terkenal wali kaya gitu?
Maka, di lain waktu Gus Dur mengulangi penjelasannya dengan memilih bahasa yang lebih
sopan. “Maksudnya, itu ayat jadi porno kalau yang baca lagi punya pikiran yang ngeres.

Kalau nggak, ya udah. Berarti beres.” Masih nggak puas. Karenanya pertanyaan berikutnya
segera menyusul. “Tapi Gus, Alquran kan bahasanya sopan?” “Betul, juga bahasa di luar
Alquran banyak yang sopan. Tapi, waktu teman saya naik bus, lihat orang lagi bunting. Terus dia
mbatin kenapa bisa bunting? Mendadak ‘barangnya’ (alat kelaminnya) berdiri gara-gara
pikirannya itu,” jawab Gus Dur.

*******************************

11. Atlet Berlari dikejar Serdadu

Hampir tak ada negara yang rela ketinggalan mengikuti Olimpiade . Acara empat tahunan itu
merupakan salah satu cara promosi negara masing-masing. Dan tentu saja , peristiwa ini juga
sangat bergengsi karena acara ini diliput oleh semua media massa negara peserta. Wajarlah kalau
setiap negara berusaha mengirimkan atlet terbaiknya, dengan harapan mereka bisa mendapatkan
emas. Begitulah sambutan Gus Dur saat melepas tim Indonesia ke Olimpiade Sidney yang baru
lalu.

40

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Gus Dur lalu bercerita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Suriah. Pada waktu Olimpiade

beberapa tahun yang lalu, tuturnya, kebetulan pelari asal Suriah merebut medali emas. Sang

pelari mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya, bahkan selisih waktunya

pun terpaut jauh.

Maka, dia langsung dikerubuti wartawan karena punya nilai berita yang sangat tinggi.
“Apa sih rahasia kemenangan anda?” tanya wartawan. “Mudah saja,” jawab si pelari Suriah,
enteng, “Tiap kali bersiap-siap akan start, saya membayangkan ada serdadu Israel di belakang
saya yang mau menembak saya.”

*******************************

12. Peluru Juga Habis

Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia, tidak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme
hancur, dan para birokrat tidak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas. Di
masa sosialisme, memang rakyat sering antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan
pokok, tapi manajemennya rapi, sehingga semua orang kebagian jatah. Sekarang, masyarakat
tetap harus antre, tapi karena manejemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan
banyak orang yang tidak kebagian jatah.

Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem
baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tidak kebagian,
aktivis itu menulis di buku catatannya, “roti habis.”

Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebih banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat
“bahan bakar habis!”, kemudian dia menuju ke antrean sabun. Wah pemerintah kapitalis baru ini
betul-betul brengsek, banyak sekali masyarakat yang tidak mendapat jatah sabun. Dia menulis
besar-besar “SABUN HABIS!”.

Tanpa dia sadari, dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean
sabun itu, si intel menegur “Hey bung! dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus, apa sih yang
kamu catat?”.

41

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan

pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat . “Untung kamu ya, sekarang sudah

jaman reformasi”, ujar sang intel, “Kalau dulu, kamu sudah ditembak”. Sambil melangkah pergi,

aktivis itu mencatat, “Peluru juga habis!

*******************************

13. Tiga Polisi Jujur

Gus Dur sering terang-terangan ketika mengkritik. Tidak terkecuali ketika mengkritik dan
menyindir polisi. Menurut Gus Dur di negeri ini hanya ada tiga polisi yang jujur. “Pertama,
patung polisi. Kedua, polisi tidur. Ketiga, polisi Hoegeng (mantan Kepala Polisian RI).”
Lainnya? Gus Dur hanya tersenyum.

*******************************

14. Jenderal

Pada saat selesai melantik WAKAPOLRI di Istana, Gus Dur mengadakan konferensi pers
dengan wartawan. Pada kesempatan itu, salah satunya diungkapkan tentang permintaan Gus Dur
agar Jenderal Surojo BIMANTORO - KAPOLRI - mengundurkan diri. Ketika konferensi pers
itu usai, dan Gus Dur dipapah memasuki mobil, beberapa wartawan mulai tidak mengerubutinya
lagi.

Gus Dur berkata :"Hei, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak ?"

"Apa itu Gus ?" tanya para wartawan serentak.

"Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan
siapa saja," ujar Gus Dur.

"Wah, siapa itu Gus ?" keroyok para wartawan yang tadinya sudah mulai menjauh. Mereka
berlarian untuk mendapatkan berita eksklusif itu.

42

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

"Ok, saya akan katakan," kata Gus Dur meyakinkan." Jenderal itu adalah Jendral..(General)

Electric ..."

"Wooo kok itu sih Gus ?" protes para wartawan.

"Lha kalian ini, maunya bikin gosip melulu. Lha saya kan bener kalau General Electric itu paling
berbahaya. Coba, mau nggak kamu kesetrum lampunya General Electric ? Berbahaya khan ?!,
kamu bisa mati kan kalau kesetrum????"

*******************************

15. Kombak-Kambek Rp. 5000

Seorang wisatawan asal Amerika, kata Gus Dur, datang ke Jogjakarta ingin melihat-lihat
beberapa tempat wisata. Seminggu dia berada di kota gudeg itu, setelah mengunjungi beberapa
tempat wisata kali ini ia ingin ke kebun binatang Gembira Loka.

Setelah bertanya letak kebun binatang itu kepada petugas hotel tempatnya menginap, akhirnya ia
putuskan untuk mengunjunginya dengan naik becak. Sebab semua jenis angkutan sudah pernah
ia coba kecuali becak.

Sambil membawa ransel kecilnya turis inipun segera memanggil tukang becak yang mangkal di
depan hotelnya.

"How much to Gembira Loka?" tanya sang turis.

Sambil memekarkan lima jari tangan kanannya si tukang becak menjawab, "five thousand
kombak-kambek mister !".

*******************************

43

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

16. Tiang listrik bengkok

Suatu kali, Gus Dur bepergian bersama rombongan kyai NU dengan naik bus . Seorang kyai
dalam rombongan itu dikenal punya hobi menyandarkan tangannya di jendela mobil . Kadang
tangannya samapi ke luar jendela .

Dan betul, saat perjalanan itu, tangan sanga kyai itu keluar dari jendela. Kebetulan Gus Dur
melihatnya, lalu iapun mengingatkan pak kyai ini agar memasukkan tangannya, suapay tidak
cedera kalau-kalau menyenggol tiang listrik . Kyai itu menolak .

Merasa jengkel peringatannya tidak dihiraukan, akhirnya Gus Dur bilang " Tolong, pak kyai,
tangannya jangan dikeluarkan, kalau kesenggol tiang listrik, tiang lisriknya bisa bengkok."

Sang kyai segera memasukkan tangannya - tampaknya dia puas "kesaktian"nya diakui .

*******************************

17. Eternit

Suatu kali ada seorang Kiai asal Madura yang membanggakan pembangunan pesantrennya pada
Gus Dur. "Wah pesantren saya sudah jadi. Lengkap bangunannya luas, bertingkat," katanya
dengan wajah bangga. "Kapan-kapan Gus Dur harus ke sana, soalnya sudah lengkap dengan
eternit" tambahnya lagi.

"Eternit "? Tanya Gus Dur sambil berfikir setiap bangunan kan memang perlu eternit (langit-
langit plafon-red)

"Itu yang pakai ada komputernya," jelasnya lagi.

"Ohh…. Internet," jawab Gus Dur bersama-sama beberapa orang yang hadir.

*******************************

44

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

18. Mengapa Clinton Ngakak?

Saat Presiden Gus Dur bertemu Presiden AS Bill Clinton, Januari 2000, tentu saja banyak diliput
pers. Koran-koran Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton, dan Clinton terlihat
ketawa terbahak sampai kepalanya mendongak.

Apa yang dikatakan Gus Dur sampqi membuat Clinton terpingkal-pingkal begitu?

Menurut Gus Dur, barangkali tentang joke yang disampaikan Presiden John Kennedy.

Gus Dur bercerita, suatau hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja
Presiden AS. Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight
Eisenhower menaruh peralatan golfnya.

"Ini lho, perpustakaannya Eisenhower," kata Kennedy mengejek pendahulunya itu. Clinton
terpingkal mendengarkan cerita Gus Dur itu.

Dari mana Tus Dur mendapat cerita itu? "Saya baca di buku Ted Sorrensen," kata Gus Dur.

"Lho jadi Presiden Clinton sendiri tidak tahu cerita itu?" tanya Jaya Suprana.

"Ya mungkin nggak tahu, sebab dia nggak baca buku. Mana mungkin Presiden Amerika baca
buku? Kalau dia baca buku berarti kelihatan dia nggak punya kerjaan.

Nah, kalau Presiden Indonesia, justru harus baca buku sebab nggak ada kerjaan," timpal Gus
Dur.

*******************************

19. Salah Sebut

SAAT diundang pada suatu acara di Malang Jawa Timur, Gus Dur ditunggu banyak pihak.
Banser pun yang selalu sibuk bila Gus Dur ada acara di daerahnya juga memantau melalui HT
yang selalu digenggamnya. Salah seorang anggota Banser berada di Bandara Abdurrahman
Saleh, Malang. Ia senantiasa melaporkan perkembangan di sana setiap saat.

45

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Begitu pesawat yang ditumpangi Gus Dur mendarat, dia senang bukan main. Maka dengan

penuh semangat dia langsung melapor ke panitia lokasi acara, melalui HT nya. Karena begitu

bersemangat diapun gugup tak karuan.

"Halo, kontek, kontek! Kiai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di bandara Abdurrahman
Wahid," katanya. Tentu saja panitia yang menerima laporannya kaget dan sekaligus tertawa.

*******************************

20. Gila NU

RUMAH Gus Dur di kawasan Ciganjur sehari-harinya tak pernah sepi dari tamu. Dari pagi
hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang
dari kalnagn NU maupun bukan. Tak jarang mereka datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, menurut Gus Dur ada tiga tipe orang NU. "Kalau mereka
datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan membicarakan tentang NU, itu
biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," tegas Gus Dur.

Orang NU jenis kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam duabelas sampai jam
satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, "Itu namanya
orang gila NU," katanya.

Orang jenis ketiga, Gus?

"Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya jam dua dinihari hingga jam
enam pagi, itu namanya orang NU yang gila," katanya.

*******************************

46

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010

21. Saudara Kamar Mandi

SUATU ketika seorang Kiai kedatangan tamu seorang Bupati. Sang Kiai dalam sambutannya
mengatakan, "Kami sudah membangun beberapa kamarmandi dan saudara-saudaranya," Hadirin
pun bingung mendengarnya, termasuk pak Bupati.

Ternyata yang dimaksud sang Kiai selain kamar mandi juga telah dibangun WC. Karena di
depan para tamu dan orang banyak, sang Kiai segan menyebut kata WC. Maka ia menghaluskan
kata itu, karena dianggap kurang patut.

*******************************

22. Malu dan Kemaluan

KISAH ini terjadi di Jawa Timur (Jatim). Suatu kali ada seorang caleg (calon legislative) PKB
marah-marah karena namanya tidak masuk dalam daftar calon terpilih. K.H . Hasyim Muzadi
(Yang saat itu adalah Ketua DPWNU Jatim) bilang, "Wis to (sudahlah-red), soal caleg itu kan
masalah dunia. Itu soal kecil."

Tapi caleg batal itu tetap jengkel, kata si Caleg, "Bukan begitu Kiai. Tapi ini masalah kemaluan."

Sambil terkekeh, Gus Dur berkomentar, " Ya begitu itu orang NU. Malu dan kemaluan
dicampur-campur."

*******************************

23. " Nyedot kang ? "

" Para santri dilarang keras merokok !" Begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren,
termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kyai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyantri . Tapi,
namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol .

47

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com

2010

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam . Suasanapun jadi gelap

gulita . Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan

mencari udara segar .

Diluar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambil merokok . Seorang santri
yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu .

"Nyedot , Kang?" sapa si santri sambil menghampiri "senior"nya yang sedang asyik merokok itu.

langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang "yunior". Saat
dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali wajah orang tadi .

saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya
.

" Hei , rokokku jangan dibawa ! " teriak Kyai Fattah .

*******************************

24. Indonesia Minta di Jajah

Dalam sebuah seminar beberapa tahun yang lalu Gus Dur mengungkapkan bahwa Belanda bukan
sebuah negara yang besar, tidak punya modal, tidak punya pemikir-pemikir ulung, jadi mereka
tidak memberikan apa-apa kepada kita, malah merampok kita habis-habisan.

Lain dengan India yang dijajah Inggris, atau Filipina yang dijajah Amerika. Negara-negara
penjajah yang itu punya sesuatu yang diberikan kepada negara-negara yang dijajah, misalnya
saja tentang sistim hukum yang lebih teratur, dsb.

Nah, lalu ada pemikiran gila, supaya Inggris dan Amerika memberikan sesuatu kepada kita.

Bagaimana caranya?

Kita nyatakan perang melawan Inggris dan Amerika!

48

Gusdur In Memoriam http://jematik.blogspot.com 2010
Lho, kenapa begitu?

Logikanya kita kan pasti kalah, jadi kita akan dijajah lagi oleh Amerikan dan Inggris.

Masalahnya sekarang, bukannya kalau kita kalah.

Masalahnya adalah, bagaimana kalau Indonesia yang menang ???

*******************************

25. Takut Istri

Memberikan contoh dengan lelucon adalah kebiasaan Gus Dur ketika berpidato. Tujuannya, kata
kyai ini agar hadirin dapat memahami maksud dari apa yang disampaikan.

Dalam sebuah forum yang membahas soal kesetaraan laki-laki dan perempuan, seorang peserta
bertanya kepada kyai eksentrik ini, yang isinya mungkin agak "pribadi."

Peserta itu bertanya, apakah Kyai sebesar Gus Dur juga takut pada istri?

Mendengar pertanyaan yang "sensistif" itu Gus Dur menjelaskan dengan "bijak" (jika tidak mau
disebut berkelit).

"Begini ya..... Saya punya cerita," kata Gus Dur memulai, sementara peserta sudah siap-siap
dengan serius mendengarkan jawaban tentang "jeroan" rumah tangga Gus Dur.

"Nanti di akhirat, orang dibagi dua barisan,"

Gus Dur melanjutkan,"barisan pertama untuk orang-orang yang takut sama istrinya. Barisan
kedua untuk yang berani sama istrinya."

Peserta seminar yang tadinya serius, langsung dapat menerka ini pasti guyonan.

"Di barisan pertama orang antri berduyun-duyun. Ternyata di barisan kedua cuma ada satu
orang, badanya kecil lagi."

49


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Flip book Athira
Next Book
Biografi Hasan Al-Banna