The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 17:57:08

Kiat Sukses Bisnis Ponsel

Kiat Sukses Bisnis Ponsel

PENERBIT ANDI Was'i Abbas

Kumpul n Pengalaman Pengusaha Ponsel
yang Terbukti Tangguh

Kiat Sukses

):}§~lf3 • ~0~.........__,

Was'i Abbas

Penerbit ANDI Yogyakarta

Kiat Sukses

):lf;J~I f3 · ~o~..___.__.

Was'i Abbas

Penerbit ANDI Yogyakarta

Kiat Sukses Bisnis Ponsel
Oleh: Was'i Abbas

Hak Cipta © 2005 pada Penulis

Editor : Oktaviani Hastu Sudiyarto
Setting : Rendrasta Duta A.
Desain Cover : Rendrasta Duta A.
Korektor : Suci Nurasih

Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau
memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik
secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam, atau
dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis.

Penerbit:
C. V. AND! OFFSET (Penerbit AND/)
Jl. Beo 38-40,Telp. (0274) 56188I (Hunting), Fax (0274) 588282 Yogyakarta
55281

Percetakan:
AND/ OFFSET
Jl. Beo 38-40, Telp. (0274) 56I88I (Hunting), Fax (0274) 588282 Yogyakarta
5528I

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan

Abbas, Was 'i
Kiat Sukses Bis11is Po11Sel/Was 'i Abbas;
- Ed. I. - Yogynkarta. ANDI,
09 - 08 - 07
XIV + I46 fum.; I4x2I Cm.
10 9 8 7 6 5 4 3
ISBN: 979-763- 044-7
/. Judul
I. Marketing Channels

DDC'21: 658.84

Untuk yang selalu kurindukan
Bunda & Ayahanda

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami bersyukur ke hadirat pencipta, Allah SWT, akhirnya buku
ini dapat selesai di tengah banyak keterbatasan. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-
tingginya atas bantuan semua pihak yang terlibat langsung
maupun tidak langsung sehingga buku ini sampai ke tangan
pembaca, di antaranya-karena lembar ini tidak akan cukup
memuatnya-di barisan depan, ada Ari Wibowo, Gunawan, Oo
Nugroho, Wisnu, Adi, Edi Jarianto, Akhdiat Romawi sebagai
tim riset, kemudian Tri Agung Wibawa, Chandra Utama,
Sari Wasta, Adib Widodo, Syarifudin, Ahmad Saifullah dan
Muhammad Nasrullah yang membantu menyiapkan naskah.
Di belakang layar, ada Dani Indrayanto dan keluarga
(Mbak Ayu, Ibunda Ny Soekamto), Bapak Mathori
dan Ibu Diah Retno Wulandaru dan keluarga yang

VI

memberikan kepercayaannya sehingga roda Andal bergerak.
Ada Bapak Adi Sulistio dan keluarga (Mbak Nita, Dik Zahra)
yang sering penulis repotkan sekedar untuk curhat, dan
keluargaku tercinta, baik yang di Tangerang maupun di
Yogya, khususnya warga "Apartemen" Oleoan (Mas Edi, Mbk
Ida, Andy, Dika, Ebi, Edgar, Daeng, Emji, Are, Daeng, Nano).
Terima kasih pula untuk yang selalu "menegur" aku dengan
kelembutannya selama aku menulis buku ini, Rahajeng.
Ternan-ternan di Resimen Mahasiswa UGM yang tidak dapat
disebutkan satu per satu. Mas Indra Ismawan sebagai guru
bisnis dan menulisku dan Mas Adit yang menyiapkan kamera
digitalnya untuk digunakan Andal.

Terima kasih pula untuk Mas Saryono, ternan-ternan lama
di PMI (di antaranya, Pak Taufik, Pak Rinaldi, Mufli, Iwan,
Hendra,Aryono, Yudi dan semuanya-kapan pindah quadrant?)
dan di BAT Yogya (Pak Tedy, Ruly, Pak Didik-kapan ada proyek
lagi?). Ternan-ternan dan Bapak-Bapak di MTBEE (www.hb.se/
asialink), Andi, Ardian, Fitdri, Claudia, Dedi, Pak Pranto, Pak
Agus dan semuanya.

Special thanksuntukBapakNursyam(MaCell), BapakMahfudin
(Ogotphone), Bapak Surya (Gemini Sell) Bapak Wahyu (Djogja
Sell), Bapak Fajar (AMN Selluler), Bapak Yudho dan Istri
(Dazzle), Bapak Yuli dan Dito (Jass Group), Bapak Chandra
(Bunderan Cell), Bapak Ian Surya (Zappa Phone) dan Bapak
Sandy (Master Phone) atas kesediaannya berbagi informasi
dan semoga bisnis Bapak-bapak tambah maju.

Terima kasih pula untuk jajaran Penerbit dan Percetakan
Andi Offset, khususnya Bapak Joko Irawan Mumpuni, S.Kom

dan Bapak Eko Sujatmiko, S.Si, yang telah berkenan
menerbitkan buku ini. Tak lupa pula untuk para

Ucapan Terima Kasih VII

pembaca, terima kasih banyak karena bersedia meluangkan
waktu untuk meresapi kumpulan pengalaman. Saya ingin
besok Anda yang masuk dalam kumpulan success stories.
Untuk berbagi pengalaman lebih dalam, saya tunggu di
[email protected]

Yogya, Juli 2005



KATA PENGANTAR

8 uku Seri Kewirausahaan Populer merupakan kumpulan
pengalaman praktis para wirausaha (entrepreneur)
dalam membangun dan menjalankan bisnisnya. Buku
ini mengangkat pengalaman para wirausaha dari kalangan
bisnis skala mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang kurang
diperhatikan banyak orang. Kita diharapkan dapat belajar
hal-hal yang lebih membumi dari orang-orang yang dianggap
"kecil". Buku ini mengungkapkan pula karakteristik pribadi
unggul para wirausaha sehingga mampu menggenggam
kesuksesan yang sebetulnya tidak mudah diraih.

Saat ini, banyak beredar buku kewirausahaan. Sebagian besar
buku memuat kisah sukses para pengusaha besar, wirausaha
dari luar negeri dan banyak teori-teorinya. Buku ini
berusaha melengkapi kehausan para pembaca yang
ingin mengetahui praktik bisnis para wirausaha lokal

-X------------------------------~·~~•~ K11!1',"!1i1a)t :~tkf~§Ne®~~

Indonesia, khususnya pengusaha mikro, kecil dan menengah.
Buku ini diangkat dari kisah nyata para pengusaha yang
sekaligus pejuang ekonomi kerakyatan.

Buku dibuka dengan pengantar yang berupa rangkuman
keseluruhan cerita. Pada bagian ini, pembaca dapat
mengetahui secara umum bagaimana berbisnis ponsel yang
sukses. Agar lebih spesifik, pembaca dapat melanjutkan bedah
kasus per kasus. Bagian akhir setiap kasus menyajikan pula
kiat sukses yang dijalankan pengusaha dan tips-tips yang
menjadi kekuatan mereka. Kami berusaha menyajikan cerita
berdasarkan fakta sebenarnya tanpa penafsiran. Silahkan
pembaca menganalisa dan menyimak nilai yang bisa dipetik
dari kesuksesan berbisnis mereka.

Buku seri kewirausahaan berdasarkan riset mendalam
terhadap para pengusaha mikro, kecil dan menengah. Cerita
diangkat langsung dari pengalaman pemilik dan pengelola
agar pembaca dapat belajar dari jatuh bangunnya mereka.
Kami beruntung dan merasa bangga dapat menerima
pengalaman pertama dari para pejuang ekonomi rakyat dan
ingin membagikan pengalaman kami kepada para pembaca.

Kita paham bahwa membangun bisnis bukan sekedar
mengumpulkan uang. Membangun bisnis adalah menciptakan
sistem kehidupan, yaitu kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Buku ini dapat menjadi sarana belajar para pengusaha mikro
kecil dan menengah di Indonesia sehingga mereka dapat
bersaing lebih sehat dan giat untuk meningkatkan daya saing.
Bagi para mahasiswa dan dosen, buku ini dapat menjadi

Lreferensi menarik tentang kewirausahaan khas Indonesia.
Kemudian, bagi para calon wirausaha, buku ini dapat
• menjadi inspirasi dalam mengawali bisnis yang

Kata Pengntar XI

menjadi pilihan. Melalui buku ini, kami ingin membuktikan
bahwa berbisnis menyenangkan. Kepada semua pembaca,
kami berharap buku ini dapat mendorong tumbuh dan
berkembangnya wirausaha-wirausaha baru yang lebih andal
sehingga kehidupan perekonomian menjadi lebih berwarna.

Kami menyadari buku ini perlu penyempurnaan. Kami
mengharapkan kritik dan saran pembaca agar seri
kewirausahaan berikutnya menjadi lebih baik. Kami
menantikan Anda di email: andalbisnislmyahoo.com.

Selamat membaca, dan banggalah menjadi wirausaha.

Was'iAbbas
Andal- Konsultan Kewirausahaan

_x_'-'------------------··•m•.K.•,.i~a~es~

Daftar lsi

Persembahan -- iii
Ucapan Terima Kasih -- v
Kata Pengantar -- ix
Daftar isi

1. Kiat Sukses Bisnis Ponsel (HP) -- 1
2. Unggul karena Inovasi -- 11
3. Menciptakan Imej --21
4. Memberi yang Terbaik --37
5. Jeli Melihat Peluang --53

XIV ••~Kja~e~

-~~--------~~~~~~~·~·~~·~--~

6. Memberi Konsumen Banyak Keuntungan -- 65

7. The King of Software -- 81

8. Jagoan Aksesori --95

9. Bergerak Cepat dengan Servis -- 113

10. Mencari Pelanggan -- 123

11. Berbisnis ala Yahudi -- 135

PENGANTAR

1. Kiat Sukses Bisnis Ponsel IHPJ

Bisnis ponsel, telepon genggam atau HP semakin
menjamur. Hal ini wajar karena penggunanya pun
semakin bertambah. Hampir setiap lapisan masyarakat
membutuhkan perangkat yang kini bukan lagi gaya hidup,
tetapi telah menjadi kebutuhan . Hasil survei Kompas terbaru di
Yogyakarta menunjukkan 74,05% masyarakat sudah menganggap
ponsel sebagai kebutuhan, 19,05% sebagai gaya hidup, dan
masing-masing hanya 3,40% yang mengaku tidak mempunyai
dan tidak mengetahui penggunaan "benda ajaib" itu.

Potensi pasar ponsel sangat besar, unlimited, menurut salah
seorang sumber dalam buku ini. Menurut Data Kompas, pada
tahun 2003, volume penjualan alat komunikasi di pasar
gelap Indonesia mencapai dua triliun lebih. Data belum
mencakup voucher dan aksesori sebagai pelengkap
menggunakan ponsel.

Maraknya bisnis ponsel didukung oleh ketersediaan layanan
yang makin berkembang dari operator kartu dan makin
beragamnya pilihan handset dari manufaktur. Kini, ponsel
tidak hanya untuk menelepon dan mengirim SMS. Lebih dari
itu, kita dapat menggunakan ponsel untuk ber-MMS, berfoto,
berinternet, melakukan transaksi perbankan, meminta nasihat
keagamaan, bahkan tipe-tipe tertentu menjadi sarana kantor
berjalan. Kondisi tersebut merupakan peluang menarik bagi
mereka yang ingin membuka usaha ponsel.

Toko-toko ponsel bermunculan, dari yang berskala kaki lima
sampai yang bergedung mewah. Kisah sukses pun terangkat
dari para pengusaha, yang sebagian besar masih muda. Mereka
jeli, kreatif, serta ulet dalam bekerja. Motivasi mereka berbisnis
ponsel bermacam-macam. Misalnya, Fajar, pemilik AMN
Sellular, membuka toko ponsel akibat terkena pemutusan
hubungan kerja (PHK). Ia terdorong menjadi pedagang ponsel
karena ingin keluar dari pola pikir umum keluarga yang
menganggap "sukses itu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)".
Awal memulai bisnisnya, ia dicibir. Kini, ia telah sukses dan
menjadi kebanggaan keluarga.

Berbeda dengan Ogot Phone, Mahfudin, pemiliknya, mulanya
hanya "coba-coba" karena melihat ternan, yang berdagang
ponsel second, mendapat keuntungan lebih besar. Kini, Ogot
menjadi pedagang ponsel second yang dikagumi di Yogya.

Ada pula yang memulai bisnis karena hobi. Misalnya, Wahyu,
pemilik Djogja Sell, berbisnis untuk menyalurkan hobi
berganti-ganti ponsel. Ia menyadari berganti-ganti ponsel akan
rugi karena harganya selalu turun. Lebih tegas, Surya, pemilik
Gemini, mengatakan, "Kalau kita menyukai sesuatu, sebaiknya
menjadi subyek hobi, bukan obyek." Menjadi subyek berarti

menjadi pelaku, bukan korban. Berjualan barang yang
menjadi hobi adalah upaya menjadi subyek. Inilah
yang mendorong Surya mendirikan Gemini Sell.

Pengantar: Kiat Sukses Bisnis Ponsel (HPJ 3

Pengalaman pun dapat mendorong seseorang memulai bisnis
ponsel. Pada tahap ini, pengusaha sudah berani fokus atau
spesialisasi di bidang khusus. Cobalah simak pengalaman
Dazzle dan Jass Sell yang memilih fokus masing-masing ke
bidang aksesori dan software.

Dari mana sumber keuntungan bisnis ponsel? Cukup banyak
produk atau layanan dapat menjadi ladang keuntungan.
Sebagian besar pengusaha mengakui, layanan yang paling
banyak memberikan keuntungan adalah penjualan ponsel
second dan servis. Layanan lain yang tidak kalah menggiurkan
adalah aksesori, voucher, kartu perdana dan ponsel baru.

Bunderan Sellular, misalnya, menjadi raksasa pedagang
vQu.c.h~1: \s\ u.\ang dan ka1:tu perdana di l'ogya. Dengan fokus
hanya menjual voucher, Bunderan Sellular mampu berekspansi

hingga memiliki 48 karyawan dan 12 kounter yang tersebar di

I•

Yogya. Bunderan bahkan memiliki bisnis sama di Bandung.

Mengenai aksesori ponsel, Dazzle-lah pakarnya. Melihat harga
aksesori di Yogya yang begitu mahal, Dazzle menjadi pionir
penyedia aksesori berharga murah. Keuntungan berdagang
aksesori ternyata tidak main-main. "Kami bisa mendapatkan
laba bersih sebesar 40-50%," ujar Yudho, pemilik Dazzle.

Dalam bidang software, belajarlah pada Jass Group. Ketatnya
persaingan di bisnis ponsel second mendorong Jass mengubah
fokus. Jass mengembangkan penjualan software. Melihat
jumlah peminat software makin bertambah, Jass makin serius
menekuni bidang tersebut. "Kuncinya, bagaimana sebuah
kounter bisa mendapatkan software dengan cepat. Jika tidak
aktif mencari software terbaru, kounter akan ketinggalan," ujar
Yuli, pemilik Jass, berbagi rahasia. Keuntungan layanan
software ternyata mampu bersaing dengan penjualan
second, bahkan sering lebih tinggi.

Bagaimana memulai bisnis ponsel? Banyak jalan menuju Roma
adalah pepatah yang pas diterapkan untuk memulai bisnis
ponsel. Pada dasarnya, kita tidak harus memiliki pengetahuan
mendalam terlebih dahulu. Banyak pengusaha sukses terbukti
memulai bisnis tanpa pengetahuan memadai tentang ponsel.
Mereka berani learning by doing dalam mengembangkan
bisnisnya.

Nursyam, pemilik MaCell, dapatmenjadi contoh. Awal menjual
ponsel, ia dapat dikatakan "buta" tentang alat komunikasi
tersebut. Ia sendiri belum memegang ponsel ketika memulai
bisnis. Saat ini, MaCell menjadi kounter yang disegani terutama
karena inovasi dan layanan prima yang ditonjolkan.

Mempunyai bekal banyak pengetahuan tentang dunia ponsel
mungkin akan lebih baik. Misalnya, pengalaman Wahyu
menjalankan Djogja Sell. Ia membuka bisnis setelah lama
berganti-ganti ponsel. Karena pengetahuannya, ia dapat
menjalankan roda Djogja Selllebih cepat.

Berapa modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ponsel?
Para pengusaha mengakui memulai usahanya dengan angka
rupiah beragam. ·Ada yang bermodalkan ponsel titipan,
menyediakan rupiah dalam jumlah tertentu dan ada pula yang
rela menjual kendaraan kesayangan.

Mereka berkomentar macam-macam ketika ditanya
tentang modal membuka kounter. "Bayangkan saja, ketika
akan membuka Dazzle, kita dalam masa-masa hendak
melangsungkan pernikahan. Terbayang repotnya, bukan?" ujar
pemilik Dazzle. PemilikAMN Sellular, Fajar, mengakui, "Modal

saya cukup untuk membeli satu ponsel." Bunderan
Sellular tidak mau kalah dalam hal kemandirian
memulai bisnis. "Dulu, awalnya Bunderan Sellular

Pengantar: Kiat Sukses Bisnis Ponsel !HPJ 5

didirikan secara kaki lima. Jadi, dapat dikira-kira modalnya
berapa," ujar Chandra, pengelola Bunderan Sellular.

Kita membutuhkan biaya permulaan (start up cost) relatif
agak besar untuk mendirikan toko, yaitu meliputi biaya sewa
tempat, perlengkapan toko dan persediaan. Ogotphone dapat
menjadi contohnya. Namun, kita dapat menyiasati ketiadaan
modal mendirikan toko dengan berjualan di rumah atau
menggunakan sistem bagi hasil. Dengan kata lain, banyak
cara "mengakali" masalah tempat, misalnya yang dilakukan
pemilik AMN Sellular dan Masterphone. Saat belum memiliki
modal cukup, mereka hanya beriklan di koran dan rumah
adalah tokonya. Cara seperti ini di kalangan pedagang ponsel
lazim disebut freelance.

MaCell melakukan cara bagi hasil yang cukup cerdik. Setelah
merasa cukup her-freelance, pemiliknya ingin mempunyai
kounter. Namun, karena modal belum mencukupi, MaCell
menumpang di kantor biro perjalanan dengan sistem bagi
hasil.

Model paling sederhana dilakukan Bunderan Sellular. Bandar
voucher ini hanya bermodalkan payung lebar, me.ja kaca
tempat menaruh dagangan dan papan lebar tempat menulis
harga sehingga pelanggan lebih mudah berkerumun.

Bagaimana agar sukses yang Anda raih di bisnis perangkat
komunikasi terus menggiurkan? Kiat sukses para jagoan ponsel
patut dipertimbangkan. Ada beberapa strategi yang perlu
diperhatikan supaya bisnis tetap langgeng. Pertama, bangun
imej atau citra diri perusahaan yang kuat. Ini dilakukan oleh
Ogotphone dan Master Phone yang jago dalam ponsel ~
second. Ogot menonjolkan imej hitam-putih, sedangkan '
Master percaya diri dengan citra berani membeli lebih

•m_6_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _• • Kw.. •i&af:[email protected]• e~s

mahal. Keduanya memaksimalkan pelayanan pada pelanggan.
Seperti diutarakan Bunderan Cell, pelanggan adalah aset.
Semakin banyak pelanggan kita miliki, semakin banyak pula
potensi penjualan yang bisa kita raih.

Banyak cara bisa dilakukan untuk memaksimalkan pelayanan
pada pelanggan, di antaranya pemberian garansi dan sikap
ramah penjaga kounter. Intinya, kounter harus dapat menarik
hati pembeli supaya puas.

Ketiga, buatlah harga yang sesuai. Ada beberapa pilihan
dalam menentukan harga, tergantung pada strategi. Ada
yang menjual ponsel dengan harga relatif tinggi, tetapi diikuti
dengan memberikan jaminan memuaskan seperti MaCell.
AMN Cellular mengutarakan pandangan berbeda. "Lebih baik
kita menurunkan harga sedikit, tetapi ramai," kata pemiliknya.
Hati-hati dalam menetapkan harga karena dapat memengaruhi
kemampuan bersaing.

Keempat, pertimbangkan untuk spesialisasi atau fokus karena
persaingan di bisnis ponsel sangat ketat. Banyak pebisnis
yakin dengan fokusnya, seperti Bunderan yang sukses dengan
berjualan voucher. Bunderan tidak bergeming dengan iming-
iming keuntungan ponsel second atau servis. Kemudian,
Dazzle berkembang dengan bisnis aksesori, Jass semakin maju
dengan software aplikasi, sedangkan Zappa fokus pada servis.
Pemain lain umumnya fokus pada ponsel second, seperti
Ogotphone dan Masterphone.

Kelima, jangan ketinggalan informasi. Djogja Sell selalu
melakukan "cek dan ricek" untuk mengetahui tren pasar.

"Selain itu, kita harus tanggap dengan pesaing," lanjut
pemilik Djogja Sell. Harga ponsel dari detik ke detik
naik turun dan susah diprediksi. Oleh karena itu, kalau

Pengantar: Kiat Sukses Bisnis Ponsel (HPJ 7

tidak ingin hanya menjadi penggembira dalam bisnis ponsel,
kita wajib aktif berkomunikasi dengan berbagai sumber
informasi.

Keenam, rajin berinovasi. MaCell menjadi pakar dalam
inovasi, salah satunya MaCell Business Card (MBC) yang dibuat
sebagai kartu pelanggan. Dengan kartu MBC, pelanggan
mendapatkan jasa servis gratis selain spare part. Pemegang
MBC pun mendapat poin bonus yang dapat diakumulasikan.
MaCell mengembangkan pula inovasi lain, yaitu SMS Gateway,
delivery service dan lain-lain. Inovasi merupakan strategi untuk
memenangkan persaingan di tengah kompetisi yang ketat.

Ketujuh, perhatikan stok. "Imej kounter bisa dipengaruhi
oleh ketersediaan produk," ujar pemilik Djogja Sell. Kounter
yang stoknya banyak dan lengkap memudahkan konsumen
memilih. "Datang ke satu kounter, semuanya tersedia," ia
menambahkan. Stok yang terjaga membuat konsumen tidak
kecewa karena produk yang diinginkan tersedia. Ogotphone
menunjukkannya. Untuk memudahkan pengendalian stok,
Ogot menggunakan sistem komputer.

Banyak konsumen sering mendatangi kounter ponsel di.awal
bulan dan menjelang hari raya, seperti lebaran. Pada masa
itu, persediaan ponsel di pasar banyak berkurang. Penting
bagi kounter untuk menyiapkan stok jauh hari sebelumnya.
Jika tidak, kounter akan kesulitan melayani permintaan yang
tinggi dan potensi keuntungan dapat melayang.

Kedelapan, gunakan iklan dan promosi yang efektif.
Umumnya, pebisnis ponsel beriklan untuk menggenjot
penjualan. Mereka paling banyak menggunakan media
berupa koran dengan iklan paket dan pemasangan

papan reklame toko yang mencolok. Seberapa sering mereka
beriklan ditentukan oleh anggaran, persediaan dan strategi
kounter. Ada kounter memasang iklan sebulan penuh dengan
sistem paket dan ada yang hanya jika persediaan di kounter
penuh. Ada pula kounter yang beriklan hanya sekali-dua kali
dalam sebulan agar hemat dan konsumen tetap mengingat
nama tokonya.

Beriklanlah bila memang perlu karena tanpa iklan ada pula
yang dapat meraih sukses. Contohnya, Bunderan Cell tidak
pernah beriklan karena khawatir tidak mampu menampung
lonjakan pembeli. Mereka khawatir, bila beriklan, pelanggan

,_:_,

yang datang tidak terlayani maksimal.

Terakhir, kelola karyawan dengan baik. "Meskipun kita sudah
besar, kalau tidak diikuti dengan Sumber Daya Manusia (SDM)
yang bagus, akan susah," ujar pemilik Dazzle berargumen. Hal
iniberlaku terutamapada SDM penjaga toko yangberhubungan
langsung dengan para pelanggan. Untuk menunjang SDM,
kita perlu memperhatikan kesejahteraan mereka agar terpicu
untuk bekerja lebih baik.

Kualitas SDM memberikan kontribusi besar terhadap
kesuksesan di bisnis ponsel. Misalnya, Ogot membekali
karyawannya tidak hanya dengan teknik penjualan, tetapi juga
kepemimpinan. MaCell mensyaratkan karyawannya memiliki
keahlianmemengaruhiorang. Untukmendapatkanmereka,kita
dapat merekrut karyawan yang sudahberpengalaman maupun
belum. "Enaknya memakai yang sudah berpengalaman, kita
tidak susah mengajari," kata Bunderan Cell. Namun, bagi
Zappa Phone, "Tidak perlu macam-macam karena susah

mencari yang benar-benar siap."

Pengantar: Kiat Sukses Bisnis Ponsel !HPJ 9

Jika merekrut karyawan kurang berpengalaman,
konsekuensinya adalah pemilik harus bersedia menlatih
mereka. Namun, hal ini bukan .masalah rumit. "Ibaratnya,
ponsel sudah ada rumusnya. Kalau rumusnya benar, mengatasi
masalah di bisnis ponsel pun mudah," kata pemilik AMN
Cellular.

Buku ini m(myajikan sepuluh kisah sukses pebisnis ponsel
di Yogya. Tiap kisah memiliki nilai, semangat, praktik,
strategi bisnis dan kewirausahaan berbeda. Kisah mereka
diangkat mulai dari motivasi membuka usaha, tips membuka
usaha, mengelola modal, karyawan, sampai strategi dalam
membangun usaha. Oleh karena itu, membaca keseluruhan isi
buku akan membuka wawasan dan pengetahuan baru tentang
menjalankan bisnis p2nsel, terutama bagi pemula yang ingin
terjun atau sekedar tahu seluk-beluk bisnis alat komunikasi.
Bagi para pelaku bisnis ponsel, semoga buku ini menjadi
sarana berbagi pengalaman.



2. Unggul karena lnovasi

"Modal awal saya satu ponse/ second. "

PHK massal Bank Danamon tahun 1998 karena
krisis moneter membawa berkah bagi Nursyam.
Status baru sebagai pengangguran memaksanya
memutar otak mencari sumber penghasilan. Di akhir tahun
yang sama, ia mencoba memulai bisnis ponsel. Menurutnya,
mengambil langkah pertama di bisnis bukan hal sulit.
"Sebenamya, sangat mudah. Intinya hanya kerja keras dan
kemauan," ujar mantan bankir mengawali cerita mendirikan
bisnisnya.
Bisnis ponsel Nursyam mulai dari pertemanan. Dulu,
ada ternan kerja Nursyam di Bank Danamon, Bogor
memiliki Nokia 2010 yang dibeli empat ratus ribu

1 2 - - - - - - - - - - - - - •. •Ill I•IIli!K~ia~~e~

- - - •"

rupiah dan ingin dijual dengan harga enam ratus ribu rupiah.

Temannya meminta Nursyam menjualkan ponsel tersebut.

"Nanti, kita jual enam ratus. Keuntungannya lima puluh-lima

puluh," papar Nursyam.

Karena sudah tidak ada pekerjaan di Bogor, Nursyam pulang
ke Yogya dan berhasil menjual ponsel dengan harga enam
ratus ribu rupiah. "Sesuai perjanjian, saya mengembalikan lima
ratus dan mengambil seratus," ujarnya. Pada waktu itu, harga
pasar Nokia 2010 di Yogya tujuh ratus ribu rupiah, tetapi ia
menjual denganharga lebih murah sesuai dengan kesepakatan.
"Sebenarnya, harganya tujuh ratus ribu, tetapi tidak apa-apa.
Hitung-hitung, membuka jalan," canda Nursyam.

Saat itu, ia belum memakai ponsel. Ia sendiri tidak mengerti
seluk-beluk alat komunikasi tersebut. "Fokus saya hanya 2010-
2010 saat itu karena tidak tahu ponsel. Saya tidak memakai
ponsel saat itu," ujar Nursyam.

Terinspirasi penjualan tersebut, Nursyam melanjutkan
bisnisnya. "Modal awal saya satu ponsel second," ujarnya.
Setelah modal balik dan ditambah keuntungan, ia membeli
satu ponsel dan menjualnya kembali. Beli dan jual kembali.
Begitu seterusnya. "Keuntungan sebaiknya dipupuk, disimpan
sedikit demi sedikit hingga modal menjadi lebih besar," jelas
Nursyam mengenai cara mengumpulkan modal.

Sukses jual-beli Nokia 2010 second, Nursyam dapat
mengumpulkan satu juta dua ratus ribu rupiah. Berbekal
dana tersebut, Nursyam berani membeli langsung ke pemasok
di Jakarta dengan harapan mendapatkan harga lebih murah

._ dan cepat. "Kalau saya mengambil dari ternan,

~~·--~-e-J_:_:_:_rt_t-~~-~_:_:_b_:_;_:_r_u~ _~_a_:_na_·._M_e_n_g_a_p_a-ti-d-:-a_k_l_a_n_g_s_u_n_g

Unggul Karena lnovasi 13

Kemudian, ia mendirikan kounter MaCell dengan menumpang
pada sebuah agen perjalanan di Jalan Mangkubumi. "Saat itu,
saya belum memiliki modal cukup untuk menyewa tempat,"
ujar Nursyam. Ia membuat kesepakatan bagi hasil dengan
pemilik agen. "Setiap laku satu ponsel, pemilik tempat
mendapatkan lima belas ribu," ceritanya tentang sistem bagi
hasil. Ia mengambil nama Macell dari kata Mangkubumi
Cellular. "Sederhana saja, c).ulu, kita membuka pertama kali
di Jalan Mangkubumi dan ternyata namanya enak didengar,"
terang Nursyam tentang asal nama bisnisnya.

Modal dan lklan

Ketiadaan modal cukup berpengaruh pada langkah awal
bisnis. Nursyam mempunyai kiat mengatasinya. "Mudah.
Kita menyesuaikan barang yang akan kita beli. Kalau
modalnya kecil, cari ponsel yang murah dan cepat laku,"
terang Nursyam. Agar barang cepat laku, kita memerlukan
iklan. "Pergunakanlah iklan yang efektif. Sesuaikan biaya
iklan dengan besarnya bisnis dan keuntungan yang ingin kita
dapatkan," terang Nursyam tentang kiat beriklan.

Iklan makin diperlukan di tengah persaingan yang ketat.
MaCell pernah mencoba menggunakan beberapa media untuk
beriklan dan senantiasa mengaji keefektifannya. MaCell menilai
iklan koran, terutama di media lokal terkemuka, cukup efektif.
Ia pun pernah mencoba iklan radio. Menurut MaCell, dari
beberapa media tersebut, iklan dari mulut ke mulut ternyata
paling efektif dan murah.

Persaingan bisnis ponsel makin ketat di Yogya, tetapi MaCell
tidak khawatir karena sudah memiliki target konsumen
yang jelas. "Target Macell adalah konsumen yang

14 • ,.l• Kijiat:S:u,ks:es::~~

datang ke kounter tanpa rnernbawa daftar harga dari iklan
di koran," ujar Nursyarn. Konsurnen yang rnernbandingkan
harga di iklan koran cenderung kurang pengalarnan. Mereka
tidak jarang menjadi korban. Karena ingin "menghancurkan"
harga dan terkenal, pengiklan berani menampilkan harga yang
terkesan murah. Sebetulnya, mereka tidak mempunyai stok.
Kalau konsumen bertanya, mereka sering mengatakan barang
sudah habis dan barang yang ada berharga lebih mahal. Hal ini
tentu mengecewakan konsumen, tetapi bagi pedagang ponsel
"nakal", ia dapat dikenal kcnsumen. Tentu ia dikenali dalam
hal nakalnya.

"Harga kita sebenarnya bukan mahal, hanya wajar," terang
Nursyam mengenai harga yang ditetapkan MaCell. "Modal
satu juta, keuntungannya lima belas ribu. Wajar, bukan? Kalau
yang lain, modal satu juta, tetapi berani rugi lima sampai
sepuluh ribu," aku Nursyam tentang harga jual ponselnya.
Konsumen mungkin membayar lebih tinggi daripada membeli
di pedagang lain. Namun, di MaCell, konsumen mendapatkan
garansi yang jelas dan layanan pascajual yang prima. Layanan
pascajual misalnya, membeli kembali ponsel pelanggan dan
tukar tambah sehingga konsumen banyak mendapatkan
keuntungan jangka panjang.

Berani Berinovasi

Kekuatan MaCell tidak hanya terlihat dari tujuh jaringan
outlet yang tersebar di Yogya dan Purwokerto, Jawa Tengah,
melainkan karena MaCell sangat giat berinovasi. Inovasi
MaCell meliputi MaCell Business Card (MBC), website, SMS

Gateway, pinjaman pulsa, delivery service, risk management
unit dan MaCell Education Center.

Unggul Karena lnovasi 1s

MBC adalah kartu keanggotaan sebagai bukti pelanggan
MaCell. Dengan kartu MBC, pelanggan mendapatkan
servis gratis, tetapi tidak termasuk spare part dan poin dari
setiap transaksi dan penggunaan layanan di MaCell. MaCell
merancang program untuk menjaga kesetiaan pelanggan.

Melalui website, pelanggan dapat mengakses segala macam
informasi tentang ponsel yang tersedia di Macell, baik harga
maupun spesifikasinya. Pelanggan dapat mengetahui pula
jumlah poin MBC-nya.

SMS Gateway merupakan terobosan pertama di Indonesia.
"Kalau di Jakarta belum ada, berarti di Indonesia belum ada,
bukan?" canda Nursyam. Melalui SMS Gateway, pelanggan
dapat mengetahui harga ponsel hanya dengan mengirimkan
SMS. Konsumen merespons layanan SMS Gateway cukup
baik. Buktinya, dalam hitungan satu bulan sejak dibuka,
pengaksesnya mencapai tiga ribu. MaCell bekerja sama dengan
Gama-Techno dalam mengembangkannya.

Untuk mengakses layanan SMS Gateway, caranya sangat
mudah. Pelanggan yang ingin mengetahui harga Nokia, hanya
mengetik MACELL NOK, kemudian mengirimkannya ke 7890.
Apabila ingin mengetahui harga Siemens, ketik MACELL SIE
dan kirimkan ke nomor yang sama. Dalam hitungan detik,
SMS Anda akan dibalas dengan daftar rincian harga merek
ponsel yang Anda inginkan. Layanan terbuka bagi pengguna
kartu GSM. Anda boleh mencobanya.

Macell pun memberikan semacam pinjaman voucher bagi
pemegang MBC. Jika pulsa mereka habis, pelanggan hanya
perlu SMS ke MaCell. Macell akan mengisi pulsanya dan
pelanggan dapat membayar di kemudian hari. Namun,
layanan masih dalam pengembangan, dengan kata lain
belum dibuka.

16

Bagi konsumen yang tidak ingin repot, MaCell menyediakan
pula layanan delivery service atau jasaantar-jemput. Konsumen
dapat membeli atau menjual ponsel hanya dengan menelepon
dan pihak MaCell akan mendatangi konsumen, dengan catatan
konsumen berada di Kota Yogya.

Inovasi lain mengenai aspek manajemen MaCell, yaitu risk
management unit yang bertugas mengukur, mengendalikan
dan mengatasi risiko kerusakan ponsel second. MaCell
menyadari bisnis ponsel second berisiko tinggi sehingga
memerlukan unit khusus untuk mengembangkan pelayanan.
Unit tersebut menangani pula servis kerusakan ponsel
pelanggan. Nursyam mengakui membentuk risk management
unit karena terinspirasi pengalaman kerjanya di perbankan.

Inovasi lain yang berdampak luas bagi industri ponsel,
khususnya di Yogya, adalah MaCell Education Center.
Lembaga kursus yang bertujuan mencetak teknisi ponsel
merupakan lembaga pendidikan pertama yang menyiapkan
tenaga-tenaga terampil di bidang ponsel. Lembaga pendidikan
terbuka untuk umum dengan sistem pendidikan yang
sebagian besar bermuatan praktik. Para peserta didik wajib
mengikuti magang di cabang-cabang MaCell. Bagi peserta
yang berprestasi memuaskan, ada peluang untuk mengisi
posisi lowong di MaCell.

Tantanuan Bisnis

Selain berisiko, biaya operasional bisnis ponsel cukup tinggi.
Biaya paling besar adalah membayar gaji karyawan. Karyawan

MaCell mencapai 75 orang dan sebagian besar lulusan
perguruan tinggi. Syarat penting menjadi bagian
keluarga besar MaCell adalah keahlian memengaruhi

Unggul Karena lnovasi 17

orang, terutama sales kounter. "Sales kounter kita harus orang
yang bisa memengaruhi bukan dari sisi harga produk. Kalau
hanya dari harga, karyawan kita tidak perlu lulusan D3 atau
Sl", ujar Nursyam yang merasa beruntung di-PHK.

MaCell sangat serius mengelola karyawan dan terbukti
dengan adanya divisi sumber daya manusia di organisasinya.
Mungkin hanya MaCell, satu-satunya pedagang ponsel yang
memiliki struktur organisasi resmi, meskipun sering diubah-
ubah untuk menyesuaikan tantangan bisnis.

Berdasarkan struktur organisasinya, MaCell mempunyai
lima bagian penting yang dikomandani oleh masing-masing
satu orang manajer, yaitu bagian pemasaran, operasional,
SDM, servis serta keuangan dan akuntansi. Berdasarkan
tingkatannya, di bawah manajer, ada supervisor wilayah untuk
bagian pemasaran dan kepala seksi untuk bagian lain.

Kepedulian MaCell mengembangkan bisnis sangat besar dan
tampak dari adanya staf Research and Development di bagian
marketing. Bagian tersebut menghasilkan banyak inovasi yang
membuat MaCell tidak hanya sekedar pedagang ponsel.

Selain gaji, biaya operasional terbesar kedua adalah sewa tempat
yang tersebar di tujuh lokasi. "Kita adalah kontraktor. Jadi,
di mana-mana, pekerjaannya mengontrak," canda Nursyam.
Biaya sewa satu kounter ukuran sepuluh meter persegi di mall
ternama di Yogya mencapai enam juta rupiah per bulan. Untuk
luas yang lebih kecil, misalnya sembilan meter persegi, Macell
harus merogoh kantong sebesar empat juta rupiah.

Meskipun berisiko tinggi, bagi Nursyam, yang
memodali bisnisnya dari sisa hasil menikah, bisnis
ponsel tetap sangat menarik dan menantang. Tantangan

1B • .• K j .a ~t Sukses~

---------------- ,m & *

di bisnis ponsel bagi Nursyam adalah tantangan berbagi peran,

mengembangkan karyawan dan mengikuti fluktuasi harga.

Berbagi peran menjadi tantangan bagi Nursyam karena ia
adalah pemilik sekaligus pengelola. Memilah peran pemilik
dan pengelola dengan baik tidaklah mudah karena banyak
perbedaan kepentingan beradu. "Saya selalu mencoba
menyelesaikan pekerjaan dan masalah yang timbul secepat
mungkin," ujarnya mengenai tips mengatasi masalah beda
kepentingan.

Mengembangkan karyawan agar selalu bersinergi mendorong
tujuan-tujuan MaCell bukan hal ringan pula. Tujuh puluh lebih
karyawan memberanikan MaCell membentuk Divisi Sumber
Daya Manusia. Divisi bertugas mengembangkan keahlian
SDM MaCell dari karyawan level depan sampai manajer.
Mengenai karyawan, Nursyam berujar, "Saya mempunyai cita-
cita membuat semua karyawan merasa bangga dapat menjadi
salah satu bagian Macell". Ini terbukti dengan banyaknya
alumni MaCell yang berhasil masuk ke perusahaan bonafid,
seperti Telkomsel dan BRI.

Tantangan lain yang agak merepotkan adalah mengikuti
fluktuasi harga. Tidak jarang MaCell merugi akibat perubahan
harga yang tidak terduga. "Harga ponsel berubah dalam
hitungan detik," ujar Nursyam. Jadi, kita harus selalu waspada
mengikuti perkembangannya atau akan rugi.

Sebagai generasi pionir bisnis ponsel di Yogya, MaCell pernah
pula mengalami pasang surut. Dalam kondisi normal, omset
per hari dapat mencapai sembilan puluh juta hingga seratus

dua puluh jutaan rupiah. Saat ini, tantangan terberat
Nursyam adalah menjaga nama baik MaCell di mata
konsumen, pemasok dan pesaing. "Macell berusaha

Unggu/ Karena lnovasi 1g

menghindari konflik dengan tiga unsur tersebut karena
bagaimanapun, mereka telah membantu mengembangkan
kita/' ujar Nursyam.

Ke depannya, selama peraturan pemerintah tidak berubah
seperti di luar negeri, Nursyam yakin bisnis ponsel masih tetap
prospektif. Oleh karena itu, ia tidak ingin beralih ke bisnis
lain. "Di luar negeri, telah berkembang pembelian ponsel
dengan subsidi operator. Konsumen hanya membeli simcard
dan ponsel disediakan operator kartu. Kalau sudah begini,
otomatis pedagang ponsel mati kutu/' ujarnya.

MaCell mempunyai harapan pada konsumen, lembaga
swadaya masyarakat (LSM) dan pemerintah. MaCell berharap
konsumen ikut menjaga nama baik MaCell. Jika konsumen
puas, berceritalah pada yang lain. Jika konsumen kecew a
dengan pelayanannya, datanglah kembali ke MaCell. MaCell
berharap pula agar konsumen lebihberhati-hati dalam memilih
ponsel. Konsumen jangan melihat ponsel hanya dari harga
iklan karena tidak semua ponsel murah berkualitas. "Sayang,
hila membeli ponsel murah, tetapi harus merogoh kantong
lebih dalam untuk memperbaikinya/ ' ujar Nursyam.

Harapan serupa ditujukan pada LSM agar lebih aktif
menanggapi iklan yang menyesatkan konsumen. "Lembaga
konsumen lebih aktif menghadapi iklan. Kasihan konsumen
kalau sampai tertipu/' pinta p engusaha yang selalu mencatat
kem ajuan karyawannya.

Kemudian, MaCell berharap p ada pemerintah agar membantu
para pengusaha ponset misalnya memberikan kredit yang
syaratnya ringan. "Bagaimanapun, bisnis ponsel telah ikut
mengurangi jumlah pengan gguran di Indonesia.
Artinya, bisnis ikut meningkatkan taraf hidup
masyarakat/' tambah Nursyam.

1. Mengutamakan pelayanan purnajual. Layanan purnajual tidak
hanya berupa janji tetapi garansi yang sebenarnya.

2. Giat berinovasi atau membuat terobosan. lnovasi MaCell
meliputi Mace// Business Card (MBC), Macel/ Education Center,
website, SMS Gateway, risk management unit dan jasa antar
jemput. Terobosan menjadi kekuatan MaCell dalam menghadapi
ketatnya persaingan di bisnis ponsel.

3. MaCell memberikan perhatian tinggi terhadap pengembangan
SDM, misalnya membentuk divisi SDM di organisasinya dan
mendirikan MaCe// Education Center yang terbuka untuk

umum.

Tips Sukses MaCell

• "Berapa pun keuntungan yang diperoleh bukan masalah.
Keuntungan tersebut jangan dibelanjakan semuanya, disimpan
sedikit demi sedikit hingga modal menjadi lebih besar."

• "Modal awal saya hanya cukup untuk membeli satu ponsel
second."

• "Sebenarnya, harga kita tidak mahal, hanya wajar."
• "Saya mempunyai cita-cita membuat semua karyawan merasa

bangga dapat menjadi salah satu bagian Macell."
• "Macell berusaha menghindari konflik dengan tiga unsur tersebut

(pelanggan, pemasok, pesaing) karena bagaimanapun, mereka
telah membantu mengembangkan kita."
• "Harga ponsel berubah dalam hitungan detik."

3. Menciptakan lmej

"Konsumen adalah bas. "

Masyarakat di seluruh Yogya pasti mengetahui nama
toko ponsel satu ini. Dengan menyebut namanya,
maka bayangan mereka akan tertuju pada toko ponsel
berwama dominan hitam-putih dan terletak di Jalan Gejayan-
sentra bisnis strategis di Kota Pelajar.
Kebesaran nama Ogotphone tidak lepas dari pribadi Mahfudin,
pemilik usaha ponsel. Sebelum ia terjun ke dunia perponselan,
ada sekelumit kisah yang melatarbelakangi. Pria asal Banten
mulai menapaki jalan bisnisnya dengan berjualan
barang bekas di pasar klithikan-pasar berbagai komoditi
dengan kuantitas kecil (klithik). Para pedagang yang

2 2 • .• Kja~er.;.,....==

~· ~~- - - - - - · - - - - - - - - - - II! &
umumnya kaki lima memanfaatkan emperan toko yang sudah
tutup mulai petang hari dengan berjajar di hampir sepanjang
sisi barat Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. "Sepertinya, senang
sekali di sana, penuh keakraban, harganya murah, kualitasnya
lumayan. Dulu, saya pun berjualan majalah di klithikan dan
semua yangberbaubarang bekas," kenang Mahfudin mengenai
sejarah bisnisnya.

Beberapa bulan kemudian, dia bertemu ternan lama yang
berprofesi penjual ponsel second. Ia tertarik melihat
keuntungan bisnis temannya. Ketertarikannya semakin kuat
karena pasokan ponsel second berasal dari Roxy, yaitu pusat
penjualan ponsel di Jakarta, yang letaknya tidak jauh dari
tempat asalnya.

Mahfudin lalu berpikir, tentu tidak salah jika mencoba
menjalani bisnis ponsel. Ketika mudik, ia mampir ke Roxy dan
membeli ponsel second. Kemudian, ia menjualnya di klithikan.
"Ternyata, keuntungannya lumayan, bahkan bisa dikatakan
sangat lumayan waktu itu," kenangnya.

Keuntungan dari pengalaman pertama membuat Mahfudin
tergiur untuk terus menjalani bisnis ponsel. Ia mengambil
keputusan tepat karena terbukti bahwa bisnis yang ia rintis
tahun 1998-an telah berkembang menjadi bisnis besar. Kini,
ia telah memiliki dua outlet ponsel ternama, Ogotphone dan
Bigot. Awal tahun 2005, Mahfudin mempunyai tambahan
outlet baru yang dinamakan GOTHIC di Jalan Gejayan.

Mengenai nama outletnya, ia menjelaskan, Ogot adalah
panggilan akrabnya sejak kecil. Pengusaha asal Rangkas

Bitung, Banten ingin mengabadikan nama kecilnya
dalam bisnis. Kemudian, 'bigot' berasal dari bahasa
Inggris yang berarti 'orang-orang yang fanatik'. "Di

Menciptakan lmej 23

sisi Jain, Bigot berasal dari 'bi' (dua) dan 'got' (Ogot), jadi
'Ogot yang kedua'," terang Mahfudin. "Selain itu, ada anekdot
bahwa Bigot berasal dari kata 'big' (besar). Kebetulan, orang
yang melayani di Bigot tinggi besar semua," ujarnya agak
bercanda.

Strategi Bisnis

Saat pertama kali menjalankan bisnis ponsel, Mahfudin pun
menjual voucher. "Bahkan, pernah ada pelanggan saya jauh-
jauh dari Jalan Wates kemari hanya untuk membeli voucher,"
ujarnya. Sekarang, pasar voucher sudah menyempit karena
peniual voucher bertambah dan tersebar di mana-mana.
"Coba lihat! Penjual toko kelontong, penjual minyak tanah,
dokter, toko besi, sampai-sampai penjual daging ayam pun
ikut menjual voucher. Itulah sebabnya, Ogot tidak lagi menjual
voucher," terangnya.

Bagaimana Mahfudin membesarkan bisnisnya? Ia memulainya
dengan gencar beriklan dan berpromosi. Ogot sedikit
berbeda. Mahfudin mengakui, Ogot memang haus iklan.
"Ka\au ki\a mempunyai kekuatan clan prod.uk, tetapi ticiak
dikomunikasikan, orang tidak akan tahu," argumennya
mengenai iklan. Oleh karena itu, Ogot menggunakan beberapa
media untuk beriklan, misalnya Kedaulatan Rakyat (KR) dan
Jawa Pos. Komentarnya tentang keefektifan iklan di koran,
"Yang lebih menonjol KR karena imejnya sekarang bukan
koran berita, melainkan koran iklan."

Dalam hal promosi tid.ak langsung, Ogot melakukannya
dengan cara memberikan bantuan kepada proyek
pembangunan masjid, amal kepada fakir miskin dan
ikut membantu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

24 •••Kja~e;
·¢~~- - - - - - - - - - - - - - - - 11111·

Bantuan menjadi wujud nyata kepedulian Ogot terhadap

masyarakat. Kendati secara nominal sumbangan hanya sedikit,

ia yakin doa mereka membantu bisnisnya menjadi lebih besar.

Media promosi lain yang digunakan Ogot dalam membangun
imej merek yang kuat di mata konsumen adalah stiker dan
gantungan kunci. Dengan upaya-upaya tersebut, ia berharap
konsumen selalu ingat Ogot. "Kita ingin jika konsumen
mengingat ponsel second, mereka mengingat Ogotphone,"
ujar Mahfudin.

Kemudian, Ogotberupaya pula mendidik konsumen mengenai
harga dan kualitas ponsel yang layak. Mereka ingin konsumen
mengerti bahwa harga ponsel second yang tinggi bukan
berarti harus dijauhi. Konsumen perlu mempertimbangkan
kualitas secara seksama agar tidak kecewa setelah membeli.
"Oleh karena itu, kalimat di iklan kami adalah 'Perhatikan
Kualitasnya, Bukan Obralnya'," kata Mahfudin mengenai cara
mendidik konsumen.

Ogot ingin membidik semua kalangan. Ia tidak memfokuskan
pada satu kalangan tertentu. Ogot menargetkan pasarnya ke
semua kelas yang membutuhkan ponsel tanpa ada pembedaan.
"Produk yang kami tawarkan bervariasi dari ponsel yang
berkisar tiga ratusan ribu hingga enam jutaan. Semuanya ada,"
terang Mahfudin yang mempunyai prinsip selalu ingin nomor
satu.

Ogotphone memiliki beberapa strategi untuk menjaga
konsumen agar tetap menjadikannya tempat rujukan ketika
membutuhkan ponsel second. Pertama, menjaga variasi

produk selalu lengkap agar konsumen lebih nyaman
dan dapat memilih yang terbaik tanpa berpindah toko.
Ogotphone menyediakan pilihan produk yang lengkap

Menciptakan lmej 23

sisi lain, Bigot berasal dari 'bi' (dua) dan 'got' (Ogot), jadi
'Ogot yang kedua'," terang Mahfudin. "Selain itu, ada anekdot
bahwa Bigot berasal dari kata 'big' (besar). Kebetulan, orang
yang melayani di Bigot tinggi besar semua," ujarnya agak
bercanda.

Strategi Bisnis

Saat pertama kali menjalankan bisnis ponsel, Mahfudin pun
menjual voucher. "Bahkan, pernah ada pelanggan saya jauh-
jauh dari Jalan Wates kemari hanya untuk membeli voucher,"
ujarnya. Sekarang, pasar voucher sudah menyempit karena
penjual voucher bertambah dan tersebar di mana-mana.
"Coba lihat! Penjual toko kelontong, penjual minyak tanah,
dokter, toko besi, sampai-sampai penjual daging ayam pun
ikut menjual voucher. Itulah sebabnya, Ogot tidak lagi menjual
voucher," terangnya.

Bagaimana Mahfudin membesarkan bisnisnya? Ia memulainya
dengan gencar beriklan dan berpromosi. Ogot sedikit
berbeda. Mahfudin mengakui, Ogot memang haus iklan.
"Kalau kita mempunyai kekuatan dan produk, tetapi tidak
dikomunikasikan, orang tidak akan tahu," argumennya
mengenai iklan. Oleh karena itu, Ogot menggunakan beberapa
media untuk beriklan, misalnya Kedaulatan Rakyat (KR) dan
Jawa Pos. Komentarnya tentang keefektifan iklan di koran,
"Yang lebih menonjol KR karena imejnya sekarang bukan
koran berita, melainkan koran iklan."

Dalam hal promosi tiflak langsung, Ogot melakukannya
dengan cara memberikan bantuan kepada proyek
pembangunan masjid, amal kepada fakir miskin dan
ikut membantu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

24 • .!•iii,K. ja~~e<=';-~=-<==

----------------

Bantuan menjadi wujud nyata kepedulian Ogot terhadap

masyarakat. Kendati secara nominal sumbangan hanya sedikit,

ia yakin doa mereka membantu bisnisnya menjadi lebih besar.

Media promosi lain yang digunakan Ogot dalam membangun
imej merek yang kuat di mata konsumen adalah stiker dan
gantungan kunci. Dengan upaya-upaya tersebut, ia berharap
konsumen selalu ingat Ogot. "Kita ingin jika konsumen
mengingat ponsel second, mereka mengingat Ogotphone,"
ujar Mahfudin.

Kemudian, Ogotberupaya pula mendidik konsumen mengenai
harga dan kualitas ponsel yang layak. Mereka ingin konsumen
mengerti bahwa harga ponsel second yang tinggi bukan
berarti harus dijauhi. Konsumen perlu mempertimbangkan
kualitas secara seksama agar tidak kecewa setelah membeli.
"Oleh karena itu, kalimat di iklan kami adalah 'Perhatikan
Kualitasnya, Bukan Obralnya'," kata Mahfudin mengenai cara
mendidik konsumen.

Ogot ingin membidik semua kalangan. Ia tidak memfokuskan
pada satu kalangan tertentu. Ogot menargetkan pasarnya ke
semua kelas yang membutuhkan ponsel tanpa ada pembedaan.
"Produk yang kami tawarkan bervariasi dari ponsel yang
berkisar tiga ratusan ribu hingga enam jutaan. Semuanya ada,"
terang Mahfudin yang mempunyai prinsip selalu ingin nomor
satu.

Ogotphone memiliki beberapa strategi untuk menjaga
konsumen agar tetap menjadikannya tempat rujukan ketika
membutuhkan ponsel second. Pertama, menjaga variasi

produk selalu lengkap agar konsumen lebih nyaman
dan dapat memilih yang terbaik tanpa berpindah toko.
Ogotphone menyediakan pilihan produk yang lengkap

Menciptakan lmej

dari ponsellow-end sampai high-end dan dari yang berharga tiga
ratusan ribu hingga enam jutaan lebih. "Kami memprediksikan
bahwa kami paling unggul di ponsel second. Kemudian, jika
dilihat stok barangnya, kami paling lengkap. Pelayanannya
paling ramah dan mudah dalam menangani komplain," ujar
pengusaha muda yang enggan menganggap pedagang ponsel
lain sebagai saingan.

Untuk menjaga kelengkapan persediaannya, Ogot
menggunakan sistem komputer karena memudahkan
pengelolaan stok. Dengan menggunakan komputer, semua
data mengenai jumlah stok dan harga dapat dipantau. Ogot
bangga menjadi yang pertama menggunakan sistem komputer.
"Mungkin Ogotphone yang pertama memakai sistem bar code
komputer di kalangan pedagang ponsel second di Yogya," ujar
Mahfudin.

Komputerisasi memungkinkan karyawan lebih cepat mencari
produk dan mengetahui jumlah yang masih tersedia. Apabila
ada indikasi suatu produk akan mengalami out of stock (habis),
Ogotphone segera mencari stok tambahan ke distributor atau
pedagang lain.

Strategi kedua berkaitan dengan pelayanan konsumen.
Karyawan Ogot harus mampu melayani setiap penggunjung
dengan ramah. Seluruh karyawan berusaha membuat
atmosfer kekeluargaan menyelimuti kounter beretalase hitam-
putih. "Kepuasan pelanggan yang pertama," ujarnya. Ogot
akan memenuhi keinginan pelanggan. "Kami di sini bukan
laki-laki atau perempuan 'pemuas', tetapi berusaha membuat
konsumen merasakan kepuasan," tambahnya.

Bagi Ogot, konsumen adalah keluarga, yaitu bagian Ogot
sendiri. Mahfudin menanamkan pada karyawannya

26

untuk memperlakukan pelanggan seperti anggota keluarga,
misalnya, berusaha selalu menyapa lebih dulu. "Kami tak
segan-segan menyapa konsumen di jalan. Kadangkala mereka
berpikir, 'Siapa, ya? Tidak kenal kok menyapa?" jelasnya.

Kepuasan pelanggan di Ogot didukung dengan pelayanan
pascapembelian (after sales service). Pelayanan meliputi garansi
dan pelayanan atas komplain produk yang telah dibeli.
Ogotphone berusaha menciptakan kesan bahwa segala macam
keluhan mudah diselesaikan. "Apabila memang terdapat
kerusakan pada produk yang tidak berasal dari konsumen,
maka Ogot bertanggung jawab penuh atas kerusakan,"
tandasnya mantap.

Ogot tidak main-main dalam memberi garansi. "Kami
berkomitmen bahwa produk kami berkualitas bagus. Kalau
kurang bagus, kami akan berusaha melindungi hak-hak
konsumen," lanjutnya. "Kami memberikan garansi sampai
satu minggu. Jika memang ada masalah, maka kami akan
mengembalikan uangnya 100% tanpa dipotong biaya apapun,"
ujarnya mantap mengenai kiatnya mendapatkan pelanggan.

After sales service lainnya adalah pembelian kembali ponsel
konsumen. Ogot merasa wajib menerima kembali ponsel
konsumen untuk mengurangi kerugian mereka. "Dengan
menjual kembali ke Ogotphone, konsumen tidak akan
rugi banyak. Mereka hanya menanggung biaya depresiasi
pemakaian," ujar pengusaha muda yang suka jalan-jalan dan
mendengarkan musik keras.

Kita sudah sering mendengar pepatah klasik "pembeli
adalah raja." Ogotphone mengubah pepatah menjadi
"konsumen adalah bos." Mahfudin mengatakan, "raja"
diganti menjadi "bos" karena raja ada pada abad-abad

Menciptakan lmej 27

lalu, sedangkan sekarang bukan lagi zaman kerajaan. Ia lebih
suka menganggap konsumen adalah bos karena merupakan
singkatan nama perusahaannya "Bintang Ogot Selatan".

Strategi keempat, introspeksi diri. "Kita melakukan introspeksi
bila ada konsumen yang tidak puas dengan segala hal di
Ogotphone," ujar Mahfudin. Pihak manajemen segera mengaji
komplain dan melakukan perbaikan.

Strategi kelima, menguatkan imej merek hitam-putih adalah
Ogot. "Orang usaha harus mempunyai merek dan imej
merek," ujar Mahfudin yang menerapkan konsep bisnis pada
papan reklame toko, interior toko dan seragam karyawan
dengan menonjolkan dua warna kontras tersebut. Mahfudin
mewajibkan konsultan produknya mengenakan dress code
hitam-putih.

Setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu, seluruh konsultan di
Ogotphone wajib berpakaian hitam-hitam, sedangkan hari
lainnya, berpakaian putih-putih. "Kalau ada konsultan saya
yang tidak menaati atau salah pakai dress code, ia diminta
mentraktir makan siang," terang Mahfudin sambil bercanda.

Ia menjelaskan, jika suatu saat ada konsumen membeli
produk dari Ogot lalu bercerita kepada rekannya. Konsumen
mengatakan, "Aku membeli di Ogot." Konsumen lain
menimpali, "Ogotphone yangbajunya hitam-putih?" Demikian
ia memaparkan mengenai perlunya dress code.

Menurut Mahfudin, hitam-putih menyimbolkan sifat
Ogotphone. WarnaputihmenyimbolkanOgotmelakukanbisnis
secara jujur dan bersih. "Komitmen saya dengan warna
putih, saya orangnya bersih, jujur dan adil. Sebenarnya, , ,
ini tidak perlu diucapkan, tapi dipraktikkan." Warna

2B • .• mKjma~e~-iL~-==

--------------- m

hitam menyimbolkan ketegasan, konsistensi serta komitrnen

tinggi Ogotphone untuk berbisnis secara adil.

Hubungan dengan Pemasok dan Kineria
Produk

Ogot tidak menerapkan sistem kontrak dengan pemasok. Ogot
menggunakan sistem beli putus. Artinya, setelah pembayaran
lunas, hubungan antara Ogot dan pemasok selesai. "Jadi, beli
dan bayar, ya cash and carry," katanya. "Kecuali, jika untuk
produk baru, mungkin bisa menggunakan sistem bayar
mundur. Kita membayar kira-kira 2-10 hari," terang Mahfudin
yang mengaku sistem tunai lebih mudah daripada sistem
kontrak. Sistem tunai membuat Ogot lebih mandiri.

Tidak semua barang yang dimiliki Ogotphone berasal dari
distributor. Distributor hanya memasok 50% dan sisanya
dari para pelanggan. Ogotphone belum menjalin kerjasama
resmi dengan dealer, meskipun banyak pelanggan yang
menanyakannya. Konsumen memerlukan jalinan kerjasama
dengan dealer agar dapat membeli ponsel baru bergaransi
resmi di Ogot. Menanggapi hal tersebut, Ogotphone berusaha
mewujudkannya secepat mungkin.

Dari berbagai produk yang tersedia, Mahfudin mengakui
Nokia menjadi terdepan dalam tingkat penjualan. Pelanggan
selalu mencari hampir segala macam tipe Nokia. Adapun
urutan kedua dan seterusnya dipegang oleh Siemens,
Samsung dan Sony Ericsson. Penjualan Siemens kadang lebih
banyak daripada Samsung atau Sony Ericsson. Namun, di lain

1\. waktu, mungkin Samsung mengambil alih. Jadi, tidak

L tetap. "Untuk peringkat kedua dan seterusnya selalu

111 berputar. Namun, untuk tingkat penjualan terbanyak,

Menciptakan lmej 29

Nokia selalu nornor satu," ungkap Mahfudin.

Manaiemen Karvawan

Dua toko Mahfudin dihuni oleh 16 karyawan. Sebagian
dari rnereka bertugas sebagai teknisi dan konsultan produk,
istilah Mahfudin untuk rnenyebut salesnya. Saat pertarna kali
berdiri, ia hanya rnerniliki 3 orang karyawan yang direkrut
dari daerahnya. Karena rnerasa tidak cocok dengan karyawan
satu daerahnya, ia rnencari karyawan yang rnerniliki ikatan
satu karnpus. Narnun, ia kernbali rnerasa tidak cocok dengan
rnereka. "Hanya ada satu ternan kuliah yang sarnpai saat ini
rnasih rnenjadi asisten saya," katanya.

Akhirnya, Mahfudin rnerekrut karyawan dengan cara
rnernbuka lowongan pekerjaan di media cetak dan berhasil
rnendapatkan karyawan yang diharapkan. Mereka rnasih
bertahan sarnpai saat ini. Adapun kualifikasi yang dibutuhkan
Ogot adalah karyawan yang jujur, bertanggung jawab, disiplin,
profesional, rnerniliki kornitrnen tinggi terhadap pekerjaan dan
kernarnpuan kornunikasi yang bagus. "Dan bahasa Inggris
lisannya harus bagus", canda pengusaha yang ingin rnernbantu
rnengurangi tingkat penggangguran.

Ia rnenganggap bagian penjualan Ogotphone bukan sales,
rnelainkan konsultan produk. Alasannya, "Konsultan
produk berbeda dengan sales. Konsultan produk harus lebih
rnengetahui inforrnasi tentang produk yang dipasarkan."
Tugas rnereka adalah rnernbantu konsurnen rnernilih produk
yang ingin dibeli. "Misalnya, ada seseorang datang ke kounter
karni dan rnengatakan, 'Saya seorang pebisnis di bidang
X dan rnobilitas saya antara kota A, B dan kota C. Saya
rnerniliki dana sekian. Ponsel mana yang cocok untuk

saya?' Tugas konsultan produk menyediakan pilihan kepada
konsumen sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya, konsultan
mengatakan, 'Ponsel ini harganya cocok tapi fiturnya kurang
bagus, ponsel yang ini bagus tapi purnajualnya jatuh. Kalau
Bapak dalam setengah tahun berniat tidak berganti ponsel,
lebih baik ponsel yang ini,"' papar Mahfudin.

Konsultan produk dituntut dapat menjelaskan kelebihan dan
kelemahan tiap produk secara lengkap agar konsumen dapat
bertukar pikiran dengan nyaman. Itulah kelebihan konsultan
produk dari sales.

Status karyawan di Ogotphone dibedakan menjadi penuh dan
paruh waktu. Karyawan penuh bekerja di toko selama 12 jam
dalam satu hari. Mereka mendapatkan gaji sebesar enam ratus
ribu rupiah dalam satu bulan dan jika berprestasi, ditambah
bonus harian dan bonus bulanan. Sebaliknya, mereka yang
paruh waktu, bekerja kurang dari 12 jam sehari dengan gaji
sebesar empat ratus ribu rupiah plus bonus harian dan bonus
bulanan. Bonus memungkinkan pendapatan karyawan paruh
waktu lebih besar dibandingkan dengan karyawan penuh,
tergantung prestasinya.

Dalam catatan Ogotphone, pernah ada karyawan paruh
waktu mendapatkan gaji satu juta rupiah dalam satu bulan,
melebihi karyawan yang bekerja penuh. "Pemberian bonus
yang besar diharapkan menjadi cambuk bagi karyawan agar
meningkatkan kinerjanya," ujar Mahfudin.

Selain bonus prestasi, pimpinan Ogotphone mengaku
memiliki setidaknya dua strategi untuk menjaga kinerja

··-···"--kd-aur_ay_aa_wra_ahn--dte_etn_ag_pa_ntin_k·g_agr_yi_a.-Pw-ea-rtn_a._m"_Ma_,i_sma_len_ny-jaa_,g_saa_ky_oa_mk_aund-iak-na-gsi
mendatangi karyawan dan mengatakan, 'Kamu sudah

'.--

Menciptakan lmej 31

baik menerima telepon seperti itu, tetapi lebih baik kalau
seperti ini'," ujarnya. Menurut Mahfudin, komunikasi dua arah
sangat penting karena pemimpin dapat mengetahui masalah
yang dihadapi oleh karyawan dan karyawan mengetahui apa
yang diharapkan oleh pemimpin.

Kedua, "Jumatgathering". Seluruh jajarankaryawan berkumpul
setiap hari Jumat. "Biasanya, setelah sholat Jumat kami ada
pertemuan," terang Mahfudin. Acara mingguan bersifat
tidak formal karena hanya berkumpul dan saling bertukar
pikiran (brainstorming) tentang Ogotphone dan Bigot. Hal ini,
menurutnya, dapat menjaga hubungan baik antar karyawan
dan tentu dapat menumbuhkan ide-ide baru untuk memajukan
kedua outlet.

Ogot tidak menggunakan bagan struktur organisasi (chart)
seperti lazimnya perusahaan. Mahfudin berharap ketiadaan
struktur resmi dapat mengikis jenjang sosial yang mengganggu
komunikasi antar karyawan. Di perusahan milik Mahfudin,
hanya ada dua tingkatan, yaitu pemilik dan karyawan. Para
karyawan terbagi menurut tugas masing-masing, seperti
teknisi, konsultan produk dan yang lainnya. Pembagian
hanya bersifat pembedaan jenis tugas, bukan jenjang karir
atau pangkat. Pemilik sendiri hanya membuat konsep dan
keputusan strategis di setiap kebijakan Ogotphone. Urusan
operasional dipercayakan kepada para karyawan, yang diajari
tidak hanya teknik penjualan, melainkan kepemimpinan.

Prospek dan Tantanuan Bisnis

Saat pertama kali menggeluti bisnis ponsel, Mahfudin

_3__2 _ _,_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _• .•: ~j"~~e~

mengaku memiliki modal sangat minim. Saat itu, Mahfudin
hanya memiliki sepuluh juta rupiah untuk menyewa sebuah
kounter. Dana berasal dari keuntungan bisnis kerajinan. Setelah
enam tahun berjalan, seluruh aset yang dimiliki bisnisnya
mencapai enam ratus juta rupiah. Dengan kata lain, dalam
waktu enam tahun, tokonya mampu mengembangkan modal
hingga 60 kali lipat.

Saat ini, Mahfudin mampu meraup omset sebesar empat
hingga lima puluh juta rupiah setiap hari dari dua outletnya.
Dari omset tersebut, ia mampu membukukan pendapatan
kotor sebesar lima puluh juta rupiah setiap bulan. "Namun,
hasil belum dipotong gaji pegawai, biaya sewa, perawatan dan
pengeluaran lainnya. Dari biaya-biaya tersebut, alokasi dana
untuk gaji karyawan adalah yang terbesar," katanya.

Dalam mengembangkan bisnis ponsel, Mahfudin merasakan
manis dan pahit-getirnya bisnis yang ia mulai dari nol.
Menurutnya, memulai bisnis ponsel sangat mudah dan dapat
dilakukan siapa pun. "Bisnis ini mudah, tetapi meskipun
begitu, bisnis ponsel memiliki tantangan yang besar," ujarnya.

Saat ini, ada tiga tantangan besar yang menjadi perhatian
Ogot. Pertama, meningkatkan pangsa pasar di Yogya yang
memiliki potensi pasar ponsel second luar biasa. Setiap tahun,
puluhan ribu mahasiswa baru berdatangan ke Yogya. Setiap .
tahun, pengguna ponsel di Yogya bertambah tanpa pernah
surut. Kedua, meningkatkcn kepercayaan konsumen. Ogot
ingin konsumennya memiliki kesetiaan tinggi.

Ketiga, mencari tambahan modal. Saat awal, Ogot merasa
kekurangan dana untuk iklan. Ia mengatasinya dengan
menerbitkan obligasi (surat hutang) yang secara
perlahan dapat dilunasi hingga tinggal 10%. Sisanya

Menciptakan lmej 33

sudah menjadi milik Mahfudin. Ogot membutuhkan tambahan
modal untuk bermain ponsel baru. "Saya tidak ingin uang yang
berputar untuk ponsel second digunakan untuk menyubsidi
ponsel baru. Jadi, manajemen kedua jenis ponsel lebih baik
dipisahkan karena saya ingin tetap profesional," jelasnya.

Hal menarik lainnya, pandangan konsumen tentang ponsel
berubah. Pertama kali meledak, ponsel dicari karena fungsinya
untuk menelpon bagi mereka yang mobilitasnya tinggi dan
karena SMS-nya. "Saat ini, konsumen tidak lagi mencari ponsel
karena fungsinya, tetapi lebih pada fashion," ujar Mahfudin.
Setiap kegiatan berbeda, konsumen merasa membutuhkan tipe
ponsel berbeda pula. Konsumen cepat bosan dengan ponsel
yang dipakai. "Sekarang ini, orang jarang memakai ponsel
lebih dari setengah tahun," tambahnya.

Hal yang tidakmenarik adalah mendapatkan produk rusak, baik
dari konsumen maupun distributor karena tentu merugikan
Ogot. Ogotphone pernah mendapatkan ponsel rusak dari
distributor yang harganya lima juta rupiah. Setelah beberapa
kali diteliti, ponsel ternyata sudah tidak dapat digunakan
kembali dan tidak dapat diperbaiki. Ponsel batangan dari
konsumen pun kadang membawa masalah bagi Ogot.

Bagi Mahfudin, prospek bisnis ponsel sangat menarik dan ia
percaya, setidaknya dalam kurun waktu lima tahun yang akan
datang, bisnis ponsel akan terus mengalami kemajuan pesat.
"Saya sudah memprediksikan bersama ternan-ternan seprofesi.
Saya percaya bahwa dalam lima tahun ke depan prospek bisnis
ponsel akan sangat menarik," jelas pengusaha muda yang
ingin menjadi pengembang bagi kaum marginal.


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Jadi Cewek Cantik,Gampang Kok
Next Book
Kupas Tuntas Rahasia Dibalik Keajaiban Dahsyat Flash Disk