The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 19:09:22

Senja Kaca

Senja Kaca

J

fi -{

+1J"t.<ir_

\ t*i

Senja Kaca

Almino Situmorang

Senja Kaca
Oleh: Almino Situmorang

Hak (ipta © 2012 pada Penulis

Editor : Benedicta Rini W

Setting : Alek

Desain Cover : dan_dut
Korektor : Sigit A. Soputra

Diterbitkon oleh Sheila, sebuoh imprint dari CV. AND IOFFSET (Penerbit ANDI)
Jl. Beo 38-40, Telp. (0274) 561881 (Hunting), Fax. (0274) 588282 Yogyakarta 55281

Per(etakan: ANDI OFFSET
Jl. Beo 38-40, Telp. (0274) 561881 (Hunting), Fax. (0274) 588282 Yogyakarta 55281

Hak (ipta dilindungi undang-undang.
Dilorang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk
apapun, baik mara elektronis maupun mekanis, termasuk memfoto(opy, merekam atau
dengon sistem penyimponan loinnyo, tonpa izin tertulis dori Penulis.

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Situmorong, AImino
Senjo Ko(O/Almino Situmorong;
- Ed. I • - Yogyokorta: ANDI,

x + 230 him.; 13 x 19 Cm.

ISBN: 978- 979- 29 - 3094- 8
1. Fiksi

Cetakan 10 9 8 7 6 s 4 3 2
Tahun
21 20 19 18 17 16 15 14 13 12

Saya bukan orang yang suka membaca. Buat naik kelas pun,
paling nggak suka baca buku. Baca komik yang lucu-lucu juga
nggak suka. Selama 24 tahun saya hidup Cuma dua novel yang
pernah khatam saya baca yaitu Romeo and Juliet dan Laila
Majnun. Sampai akhirnya ... ada seorang ternan yang mereko-
mendasikan sebuah novel. Dalam hati pengen sih baca novel-
nya tapi apa iya bakalan khatam nih? Sampai akhirnya beli juga
dan baca. Kok dari halaman pertama .. 2 lembar.. 31embar... 20
lembar... sampai 286 lembar... what?! Saya sudah selesai baca
nih novel?! Unbelievable moment selama 24 tahun nih. Nggak
nyangka yang tadinya berpikir mungkin nggak bakalan baca,
ternyata malah selesai dalam waktu satu hari! Rasa deg-
degan ..cemas..sampai airmata menetes pun terjadi karena
baca novel itu. Nggak nyangka novel itu benar-benar menyen-
tuh sampai sedalam itu. Novelnya begitu berkesan bagi saya.
Saya berharap akan ada sambungannya atau terbit lagi novel
Almino Situmorang lainnya. Karena novelnya, sekarang saya
jadi suka membaca.

Suryaningrum Pratiwi, 24 thn
General Affair Staff, Bekasi

Keren-keren deh novel-novel yang dihasilkan oleh Mino. Saya
bahkan sempat curiga jangan-jangan semuanya adalah kisah
nyata hidupnya, hahaha, habisnya terasa riil banget. Percaya
deh, anda akan ikutan terbawa dalam romantisme dan ke-
kocakan yang tergambar dalam novelnya jika sedang mem-
bacanya. Gaya bahasanya ringan, nggak bikin ribet. Saya telah
menikmati beberapa karyanya terdahulu dan menurut saya

novel yang ini juga layak anda baca. Dijamin keren. Pasti
romantis, kocak, dan menyentuh!

Linda Saerang Waluyo, 35 thn
Director of Educational Equipment Administration, Tangerang

Novel-novel Mino selalu membuat penasaran, hingga kita ingin
tahu akhir dari ceritanya. Gaya bahasa, alur cerita dan tokoh-
tokohnya membuat kita hanyut di dalam cerita. Ditambah lagi
cara Mino mendeskripsikan lokasi kejadian (setting cerita)
dengan detail hingga mampu menginspirasi kita untuk me-
ngunjungi tempat-tempat tersebut. Selalu tidak sabar jadinya,
untuk menunggu karya-karya Mino selanjutnya.

Aster Silalahi, 34 thn
Administration Manager, Bogar

Amazing!! Saking penasarannya, saya bisa menyelesaikan
membaca tiga novel Mino dalam seminggu! Bahasanya yang
ringan dan mengalir, dengan peristiwa sehari-hari yang bisa
saja terjadi kepada siapapun tetapi tetap mampu membuat
pembaca penasaran. Di kereta, stasiun, saat istirahat jam
makan siang, saya terus membaca novel Mino. Saya terhanyut
dan merasa seperti terlibat sebagai tokoh di dalam cerita-
ceritanya. Kemampuannya menggabungkan cerita-cerita ter-
pisah menjadi satu rangkaian cerita, sungguh menakjubkan.
Nggak sabar pengen baca novel-novelnya berikutnya.

Dyah Kristiani, 37 thn
Information Assistant, Depok

iv

Saat membaca novel karya Mino, saya seperti bertemu lang-
sung dengan penulisnya dan bagai bernostalgia atas masa
laluku yang detailnya nyaris tak bisa kuingat sebagus Mino
menulisnya. Mino sukses membuatku iri atas kemampuannya
bercerita dengan kecerdasannya yang tetap eksis. Pemilihan

kata-katanya spektakuler, to the point dan tepat sasaran.

Novelnya sangat oke!
Veralina Situmeang, 36 thn

lbu Rumah Tangga, Palembang

Novel-novel Mino menggunakan kata-kata yang sederhana
sehingga mudah dipahami pembaca, dan pembaca bahkan
seperti tidak sedang membaca kisah fiksi melainkan seperti
berada di saat dan waktu yang sama dengan tokoh dan alur
cerita. Terasa nyata dan menghanyutkan. Pokoknya novelnya
sangat menarik, nggak nyesal deh belinya ...

Shinta Mathilda, 37 thn
Alumni Ul, Jakarta

v

vi

/ to 1)1!1 beloved stSter, mg best friel'ld, mg guardian
angel, and mg Aero:

LIMARTHA SITUMORANa

viii

o~ft~r lsi

Prolog -- 1
1 Mata -- 6
2 Senja--16
3 Rindu -- 79
4 Cinta -- 112
5 Adat -- 122
6 Pengantin --131
7 Jodoh -- 157
8 Padan -- 177
9 Pilu -- 187
10 Sempurna -- 204
11 lmpian -- 221

X

Kami berlima berdiri di tepi tempat tidur. Papa ter-
baring sekarat. Satu per satu kami mengucapkan
kata-kata perpisahan dengan air mata bercucuran.
Aku yang paling bungsu mendapatkan giliran terlebih dahu-
lu. Lalu Aster, Eddy, dan Angelia. Ketika tiba giliran Angelia,
belum sepatah kata pun terucap, dia sudah langsung me-
raung-raung.

Kepergian Papa meninggalkan rasa bersalah pada diri
kami semua. Masing-masing kami merasa sebagai penyebab
kematian beliau. Kami semua diam-diam ternyata merasa
sebagai pembunuh Papa, dengan alasan masing-masing.

Mama, karena merasa kurang becus merawat kesehatan
Papa.

Angelia, karena kegagalan pernikahannya. Apalagi dia
anak sulung.

Eddy, karena merasa kurang bisa diandalkan sebagai
anak laki-laki satu-satunya, belum menikah dan tak pernah
mantap dengan wanita mana pun.

Aster, karena merasa telah selalu menjadi pembangkang
pada orangtua.

Dan aku, karena ... Torang melamarku.
Tak lama setelah kegagalan pernikahan Angelia, dan
ayahku jatuh sakit, tak kusangka Torang melamarku. Mesti-
nya aku bahagia sebab aku sudah merasa yakin bahwa dialah
belahan jiwaku. Tapi yang membuatku kemudian merasa
bersalah adalah karena aku membuat keluargaku terguncang
dengan lamaran Torang yang tak mereka duga!
Aku bisa merasakan itu. Meskipun tak pernah kami bi-
carakan dengan terbuka, aku yakin keluargaku tak pernah,
menyangka aku akan merencanakan pernikahan dadakan
dalam kondisi yang tak kondusif seperti itu. Kakakku masih
berduka karena kegagalan pernikahannya dan ayahku masih

dalam masa pemulihan karena hampir stroke oleh rasa malu.

Dan aku si anak bungsu tiba-tiba ingin melangkahi ketiga
kakakku, mendahului mereka menikah.

Aku tahu alasan Torang. Dia tahu aku sungguh ingin me-
nikah didampingi kedua orangtuaku, dan kedua orangtuanya
juga sudah mendesak kami segera menikah. Entahlah, apa-
kah diam-diam Torang sudah punya insting bahwa ayahku
akan segera meninggal sehingga dia segera melamarku ba-
gai kebakaran jenggot.

Tapi akibatnya ternyata berbeda. Di luar dugaan, kese-
hatan ayahku malah semakin memburuk, sejak Torang da-

2

tang bersimpuh di depan ranjang Papa untuk memper-
suntingku. Akhirnya Papa memang meninggal! Ternyata
kami memang akan menikah tanpa kehadiran Papa.

Aku tak habis-habisnya menyesali hal itu. Seandainya
Torang tak melamarku saat itu, mungkin Papa masih bisa
sembuh, dan kami bisa menikah setelah Papa sembuh.
Mungkin menunggu sebentar setelah paling tidak salah satu
dari kakakku menikah terlebih dahulu. Tapi nasi sudah
menjadi bubur. Aku sudah membunuh ayahku!

-*-

Sore itu kami berkumpul untuk melakukan acara manulangi.
lni sungguh rekor yang langka, kata salah seorang nam-

boru, sebutan untuk tante, yaitu adik Papa. Tak tanggung-
tanggung, katanya, kau akan menikah dengan melangkahi
tiga orang kakak sekaligus!

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Walau kutahu
namboru itu hanya bercanda, tapi tetap saja terasa menusuk
di hati. Sebagai syarat pelangkah itulah aku harus manulangi
mereka, menyuapi mereka bertiga. Ketiga kakakku.

T1ga ekor ikan mas yang gemuk-gemuk sudah disiapkan
dan aku pun menyuapi ketiga kakakku sebagai tanda minta
izin dan restu mereka untuk menikah terlebih dahulu.

Acara ini tidak semudah yang kubayangkan. Perasaan
yang campur aduk telah membuatku berurai air mata, bah-
kan sebelum mulai menyuapkan nasi dan secabik daging ikan
mas ke dalam mulut Angelia yang terbuka. Tatapan matanya
bijaksana, tetap dengan senyum tegar, walau kutahu dia

3

terfuka di dalam. Setelah acara ini usai, diam-diam kudengar
dia terisak-isak sendiri di dalam kamar mandi.

Setefah aku menyuapkan nasi dan ikan mas ke dalam
mulutnya, Angelia mengunyah dengan cepat dan segera
menelannya dengan bantuan air putih. Kuhindari tatap mata
dengannya sebab aku khawatir air mataku akan semakin
membanjir.

Ketika aku menyuapkan bagian Eddy, dia menatap
nanar. Aku tak mengerti perasaan yang bergolak di hatinya.
Aku tak pernah bisa menebak perasaan seorang laki-laki yang
didahului oleh adik perempuannya untuk menikah. Aku tahu
dia takkan menangis di belakang seperti yang dilakukan
Angefia. Entah dengan cara bagaimana dia akan meluapkan
perasaannya.

Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh kakakku
Aster, yang kusuapi paling akhir. Tak kutahu apa yang dia
rasakan, walau dia tergelak dan agak tersedak dengan suap-
an ikan di dalam mulutnya. Dia bahkan sempat bercanda
mengatakan, "Jangan kasih bagian yang banyak durinya,
dong!"

Yang kutahu, tanpa sengaja terbaca olehku tulisannya
yang terbuka di monitor di komputernya pada malam hari
ketika aku masuk dan dia sedang di kamar mandi. Ketikan
yang belum selesai dalam sebuah blog, dengan baris-baris
kalimat yang menusuk hatiku dan membuatku merasa
bagaikan adik pengkhianat dan paling egois di jagat raya.

Manulangi hanya sebuah simbol, tulisnya. Simbol ke-
gagalan seorang kakak. Simbol kegagalan seorang anak

4

untuk membahagiakan orangtua. Simbol kesedihan dan kele-
mahan. Juga simbol keegoisan. Keegoisan. Kata terakhir ini
tak pernah kumengerti maknanya. Sampai suatu hari kelak.

Selesai manulangi, Mama memeluk kami satu per satu,
sambil mengatupkan rahangnya keras-keras. Mama tak
berkata apa-apa. Pelukannya sudah cukup memberitahukan
isi hatinya. Mula-mula Mama memeluk Angelia, sungguh erat
dan lama, lalu memeluk Eddy sebentar, kemudian mendekap
Aster sedikit lama, dan terakhir memelukku. Tubuhnya ber-
getar hebat. Aku mengerti arti pelukan itu. Kurasa kami
berempat mengerti, dalam hati kami masing-masing.

Aku yakin mereka bahagia untukku. Tapi tetap saja, ada
perasaan sedih, sepi, sesal, dan rasa bersalah menyerangku
bertubi-tubi. Yang kuingat, sore itu kami semua menangis.
Dengan cara kami masing-masing. Mama menangis dalam
bahasa tubuhnya. Angelia menangis di dalam kesendirian.
Eddy menangis dalam hati. Aster menangis dalam tulisan.

-*-

5

I

Ader

Jika ada satu hal pada diriku yang kini sungguh kubenci, itu
pasti adalah mataku.

Tak ada yang buruk pada mataku. Mataku tak bercela.
Dia tidak berbentuk buruk. Tidak bercacat. Mataku sempurna.

Masalahnya hanya satu. Mataku tak bisa berdusta. Dan
itu terjadi hanya jika di depan pria itu. Entah mengapa.

Bagi orang lain, mataku adalah misteri. Mataku kadang
terlalu memesona, sekaligus terlalu membingungkan. Seti-
daknya beberapa pria pernah mengakui, mataku sungguh
istimewa. Selain misterius, juga bagai menyimpan magis,

yang dengan mudah bisa memikat hati mereka dan tak
terduga seketika juga mematahkannya.

Dan aku bahkan tak menyadarinya.
Aku tak pernah meneliti mataku. Tak pernah memper-
hatikan mataku sendiri. Kini aku mendadak punya alasan
untuk itu. Tak tanggung-tanggung aku segera dengan mu-
dah menghakimi mataku sendiri. Aku bahkan membencinya
tanpa ampun. Sungguh spontan dan subjektif. Hanya karena
satu hal.
Aku mulai memperhatikan mataku, ketika dia muncul.
Aku menemukan mata pria ini, yang sejak pertama kali
selalu memandang sampai ke kedalaman mataku. Dan itu
membuatku bertanya-tanya. Apa yang dilihatnya di sana?
Apa yang dicarinya di sana? Apa yang seolah ingin di-
jelajahinya di sana, di dalam mataku?
Dan yang paling membuatku penasaran adalah, kulihat
mataku di matanya.
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, kulihat mataku
sendiri di mata orang lain.
Aku tak kuasa menahannya. Kulihat mataku terbenam di
matanya. Aku tak kuasa menghentikannya, atau menariknya
kembali. Matanya bagai membiusku total. Aku tak ingin
matanya teralih dariku. Aku ingin selamanya tenggelam di
sana.
Dan ketika dia memalingkan wajahnya, membuang pan-
dangannya, mengalihkan tatapannya dariku, aku bagai cer-
min yang jatuh berkeping-keping.

7

Kurasakan mataku luka. Mataku perih, mataku hancur.
Sebab dia tak lagi mau menatapku. Sebab dia menghindari
mataku melekat pada matanya. Sebab dia tak mengingink-
anku menatap ke dalam matanya, untuk melihat mataku di
sana.

Aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang dia coba
hindari untuk tak kutelaah. Dan bagian yang paling menye-
dihkanku adalah aku juga melihat sesuatu yang sama di
mataku.

Dan ketika itulah aku membenci mataku.
Mungkin dia bisa melihat itu di dalam mataku. Hingga
dia menghindari tatapanku.
Aku benci mataku. Mataku terlalu jujur. Terlalu trans-
paran. Mataku begitu gamblang, menunjukkan betapa aku
menikmati tatapan matanya. Betapa aku menyukai matanya.
Aku benci mataku. Sebab aku tak bisa menahannya
untuk tak bisa mengagumi mata laki-laki itu. Dan kutakut dia
tak tahan padaku karena itu. Kutakut dia membenci cara
mataku menatap matanya.
Bagaimana aku akan menahannya. Aku tak sanggup me-
nutupinya. Mata adalah jendela hati, segala yang kukunci
rapat dan kusembunyikan di gudang bawah tanah relung
hatiku, tersibak begitu saja saat mataku berada di depan
matanya.
Mataku yang penuh harap. Mataku yang penuh kagum.
Mataku yang penuh rindu. Mataku yang penuh ... cinta, kasih
sayang padanya.

8

Mataku yang pertama kali dicium oleh mulut seorang
pria. Oleh dia.

Mataku melihat sesuatu di sana. Di matanya. Sesuatu
yang selalu membayang di waktu-waktu senggangku, di
malam-malam sepiku. Sesuatu yang membuatku rindu me-
mandangi laut dari kejauhan. Rindu memandangi langit
rna lam.

Jauh. ltulah yang kutangkap dari isyarat matanya. Aku
merasa dia ingin aku berjauhan darinya. Jarak. Jarak yang
aman bagi kami untuk tidak saling mendekat. Batas. ltu juga
yang dia tunjukkan dengan isyarat matanya. Batas antara
hasrat dan kenyataan. Dan itu semua sungguh menyakitkan!

Setiap pertemuan menjadi sebuah penyiksaan yang
mendera rindu. Dan setiap kali berpisah, tumbuh kerinduan
baru yang lebih mendera jiwa. Kenikmatan bertemu sesaat
adalah saat memandang ke dalam bola matanya, matanya
yang menyimpan sesuatu yang penuh misteri.

Tatap matanya yang menyorot rindu, lembut, tertahan,
dan mendesak, tapi terkurung. Tatap matanya yang seolah
tak rela kami berpisah, tak ingin isi hatinya dibongkar. Tapi
dia terlalu tulus untuk bisa menutupinya.

Dan ya Tuhan, kini aku juga benci matanya. Karena aku
sungguh merindukannya. Aku sungguh ingin menatapnya.
Aku sangat ingin memandanginya. Aku teramat ingin menik-
matinya. Aku ingin menjelajahi dan mengembara dengan
leluasa di sana.

Dan aku tak bisa. Tak bisa. Karena dia tak memperboleh-
kanku. Walau hanya dengan isyarat tanpa kata.

9

Aku sungguh penasaran. Mengapa sejak kami berpan-
dangan waktu itu, dia seolah menghindariku? Apakah karena
sesuatu di mataku ataukah caraku menatapnya? Setengah
mati aku ingin tahu. Apa yang dia lihat di mataku? Mengapa
dia kini mencoba melarikan diri dariku?

Aku berusaha berkaca dan meneliti mataku. Tapi yang
kutemukan hanya butir-butir kristal bening cair yang mening-
galkan perih dan warna merah di mataku.

Wahai surga, tahukah kau, aku sungguh merindukannya.
Aku sungguh kehilangannya. Aku sungguh ingin bersama-
nya. Aku sungguh tak ingin lagi berpisah dengannya. Aku tak
ingin menatap jika tak menatap ke dalam bola matanya.

Entah apa yang dia sembunyikan.
Pada pertemuan kami berikutnya, dia tak lagi menatap-
ku. Dia sungguh jarang menatapku. Ketika kutatap, dia akan
segera berpaling. Ketika aku menatap ke arah lain, dia akan
menatapku. Aku bisa meliriknya dari ekor mataku.
Tapi aku tetap menginginkan pertemuan dengannya.
Dan kali ini berbeda.
Dia mengotot agar kami bertemu di pagi hari saja. Aku
tak mengerti, tapi karena aku sungguh merindukannya, aku
setuju saja.
Aku masih mencoba berargumen. Aku harus berangkat
kerja pagi-pagi.
Aku juga harus rapat, katanya. Mengapa kita tidak ber-
temu siang saja? tanyaku. Siang waktunya juga terbatas.
Bagaimana dengan sore, malam? Dia terdiam.

10

Kurasakan dia sedang menghindari sesuatu. Menghinda-
ri waktu berlama-lama denganku. Menghindari waktu yang
terlalu lepas bersamaku. Menghindari keadaan yang mem-
buat kami terlalu nyaman.

Aku masih sempat menjerit di telepon.
"Bertemu sambil sarapan? ltu artinya hanya tiga puluh
men it!"
"Daripada tidak sama sekali?!" balasnya.
Aku kalah. Aku sungguh rindu padanya.
Akhirnya kami bertemu. Aku ingin menatap matanya.
Aku ingin puas memandangi matanya. Aku tak peduli kopi,
roti, atau telur orak-arik sarapan di depan kami. Aku tak
Ia par. Aku hanya lapar akan matanya.
Tapi dia menyiksaku. Tak kusangka. Dia selalu mengalih-
kan tatapan. Dia selalu membuang pandang. Dia selalu
menunduk. Selalu begitu setiap kali aku berusaha menatap
matanya. Dan pertemuan yang sebentar itu ternyata hanya
menjadi sebuah siksaan baru.
"Kalau tahu buru-buru begini, aku takkan bela-belain
kemari," sungutku.
"Kalau tahu kau akan mengeluh, aku takkan memberi
tahumu kedatanganku," jawabnya.
Dan aku tersinggung karenanya.
Lalu kusadari itu adalah ekspresi lain dari kerinduanku
yang belum terpuaskan. Ungkapan kekesalanku yang belum
terobati sebab aku belum bisa menikmati matanya. Kerin-
duanku padanya belum terpuaskan. Aku mengungkapkan-
nya dengan cara yang salah.

11

"Mungkin sebaiknya rnernang kita tak perlu berternu,"
ujarku.

Sekarang dia yang tersinggung. Dia terdiarn.
Karni sarna-sarna tersinggung. Sarna-sarna terdiarn, pa-
dahal waktu karni tak banyak. Aku rnenatapnya tajarn, seolah
ingin rnenusuk bola rnatanya dengan tatapan rnataku. Dia
rnernbuang rnuka, rnengalihkan tatapannya. Aku sernakin
rnarah. Sernakin rnerasa dihindari. Sernakin rnerasa rindu.
Sernakin rnerasa luka.
Seandainya karni cukup bijaksana, waktu tiga puluh
rnenit harusnya bisa rnenjadi sangat berrnakna, hanya untuk
karni bisa saling bertatapan sepuas-puasnya untuk saling
berbagi kerinduan, saling rnengungkapkan isi hati, saling
rnenceritakan harapan-harapan tersernbunyi. Tanpa kata-
kata.
Karni tak perlu kopi, sendok, gula, krirner, telur orak-arik,
roti, atau teh untuk rnengurangi jatah waktu karni, rnenyela
dan rnengganggu perternuan karni yang sungguh singkat.
Yang karni perlukan hanya duduk tenang, saling rnernan-
dang, saling rnenatap, berbicara dengan isyarat rnata. Mes-
tinya tiga puluh rnenit adalah waktu yang sungguh rnernadai.
Tak perlu bahasa. Tak perlu kata. Tak perlu bicara.
Tapi karni salah. Salah bersikap. Karni sarna-sarna terburu
ernosi. Mungkin karena karni sarna-sarna rindu, sungguh
rindu hingga ernosi karni tak terkendali.
Harusnya ini adalah perternuan yang indah. Tapi karni
sarna-sarna telah berhasil rnenghancurkannya.

12

"Lagian, kenapa juga kita tidak bertemu sehabis jam
kantor saja," rutukku, masih saja aku menyesali.

Padahal kutahu itu sudah tak mungkin, sebab kami akan
segera berpisah. Harusnya aku mendekap atau memeluknya
sebentar sebelum mengucapkan selamat pagi, selamat ber-
pisah, atau selamat beraktifitas. Tapi aku mengeluh dan me-
ngomel untuk sesuatu yang sama sekali tak penting.

Dan dia menatapku marah. Dia menatapku tajam. Sejuta
emosi tersimpan di sana. Aku membalasnya dengan tatapan
yang tak kalah tajam, tak kalah mematikan.

Kami saling menatap. Saling menahan emosi. Hingga
kusadari sesuatu. Kami sedang saling menatap. Kami sedang
saling berpandangan. Bukankah ini yang kurindukan? Bukan-
kah ini yang kunantikan? Kami saling bertatapan.

Dan demi surga, perlahan kurasakan emosi di matanya
mereda. lsyarat tatapannya melunak. Mungkin itu pun terjadi
di mataku. Perlahan kulihat bayangan mataku di dalam bola
matanya. Perlahan tapi pasti kutemukan mataku di dalam
matanya.

Jantungku berdesir. Kurasakan waktu berhenti berputar.
Ya Tuhan... Betapa rindu aku padanya. Aku tak lagi bisa
menahannya, menyimpannya, atau menyangkalnya. Kini dia
ada di depanku. Dan aku bisa melihat matanya. Bisa melihat
mataku di dalam matanya...

Lalu semua menjadi terasa sangat berbeda. Kami saling
bertatapan dengan tatapan yang berbeda. Tak lagi ada emo-
si, marah, dan kecewa di sana. Hanya ada rindu yang meluap
dan siap meledak...

13

Lalu tiba-tiba suara dering ponsel menghancurkan se-
muanya!

"Selamat pagi," serunya menjawab telepon, dengan gela-
gapan.

Dan kedua kata itu menggema di telingaku sepanjang
sisa hari. Selamat pagi. Pagi. Bukan waktu yang tepat untuk
bertemu. Pagi bukan waktu yang tepat untuk melepas rindu.
Pagi bukan waktu yang tepat untuk... berkencan!

ltu pun jika kau menyebutnya sebuah kencan. ltu pun
jika itu layak disebut sebuah kencan! Kencan yang tak pernah
berjalan selayaknya sebuah kencan yang normal.

Kencan yang normal.
Dan tak kuduga pagi itu setelah Paul pergi, mataku
basah. ltu semakin membuat aku bend pada mataku.
Aku bend mataku. Sebab tatapankulah yang mungkin
membuatnya menjauhiku. Mataku mungkin menjelaskan
padanya, walau tanpa kata-kata, betapa aku mengaguminya.
Mataku mengisyaratkan betapa aku ingin selalu meman-
danginya. Mataku menyampaikan sinyal bahwa aku sungguh
terbuai pada tatapannya. Mataku menyimpulkan bahwa aku
tak bisa hidup tanpanya. Mataku membuatnya melarikan diri
dariku.
Mataku basah karena apa yang kulihat di mata Paul. Di
sana kutemukan sebuah kepedulian, kekaguman, kegamang-
an, keretakan, keinginan, kelembutan, kerinduan, kesedihan,
perlindungan, kasih sayang, dan semua itu bercampur aduk
menjadi sesuatu yang menyakitkan. Dia tahu sesuatu yang

14

aku tidak tahu. Sesuatu yang jika diungkapkannya akan
menghancurkan aku.

Aku merasa, dia menyembunyikan sebuah alasan, bahwa
kami tak bisa bersama.

Bahwa kami tak akan bisa bersama.

-*-

15

2

5 esungguhnya, impian hatinya sederhana saja. Suatu
saat nanti dia ingin menikah di sebuah pantai, me-
madu janji seumur hidup di bawah temaram senja
yang berwarna keemasan di kala matahari terbenam, menge-
nakan gaun pengantin berwarna putih, dengan berkalung-
kan rangkaian bunga, di atas pasir pantai yang lembut, di-
iringi deburan ombak...

Sebuah bulan madu yang sederhana di pulau itu akan
menyusul kemudian. Baginya terdengar romantis sekali, ber-
ada di atas ranjang ayun berbentuk jala yang menggelantung
di atas pantai yang berpasir putih bersih, yang kedua ujung-
nya diikatkan pada batang pohon kelapa yang kokoh, di
bawah sinar matahari yang hangat...

Dan setelah itu, berdua, bersama, seumur hidup mereka
akan menikmati berlaksa-laksa senja dalam kehidupan me-
reka.

Sesederhana itu.
Tapi ternyata itu bukan perkara sederhana. Banyak sekali
kejadian yang tak bisa ditebak dan dimengerti dalam hidup
ini. Seolah sesuatu bisa terjadi di luar kuasa kita, begitu saja.
Tanpa alasan yang bisa kita jelaskan.
Satu hal yang tak bisa dia jelaskan adalah hal ini. Dia
sungguh menyukai pantai. Dia teramat mencintai senja. Dia
tergila-gila pada pemandangan matahari terbenam. Senja
adalah surga baginya. Beratus senja sudah dinikmatinya. Be-
ribu senja sudah dilewatinya. Berlaksa senja ingin dijelang-
nya, bersama seseorang yang akan mendampingi seumur
hidupnya.
Dia bahkan bermimpi suatu saat nanti akan menikah di
tepi pantai, di bawah temaram senja di kala matahari terbe-
nam. Di Hawai. Ya. Di sana. Dia sudah memilih tempat itu.
Dia juga sudah mempersiapkan hal untuk itu. Materi,
wedding planner, dan yang lainnya, termasuk satu yang ter-
penting, yang belum ditemukannya. Sang pengantin pria.
ltu adalah harapan, impian, juga keinginan. Sesuatu
yang sering tak sesuai kenyataan. lmpian adalah abstrak,
bahkan sering menampar saat kita bertemu kenyataan. Dan
kali ini dia berada di sebuah pantai. Tapi hanya seorang diri.
Dia sudah berada di sini. Hawai. Tempat impiannya se-
panjang umur. Dia tidak sedang bermimpi. Semuanya nyata.
Para pelayan hotel ini nyata, hotel ini nyata, para turis ini

17

nyata, dirinya juga nyata, setelah dia mencubit pipinya. Se-
mua nyata.

Dia berada di Hawai. ltu sesuai keinginannya. Dia sudah
berada di Hawai. Tapi itu tidak sesuai dengan rencananya.
Dia seorang diri.

Semuanya sungguh tak terduga. Dia mengambil kepu-
tusan tiba-tiba. Dan dia sudah berada di sini. Di sebuah hotel
yang menghadap ke danau, yang halamannya ditumbuhi
pohon kelapa dan pantainya dipenuhi turis asing.

Tapi mendadak dia merasa sendirian. Padahal di lobi
hotel dia bersama beberapa turis manca yang akan menjadi
ternan satu rombongan dalam paket wisata yang dipilihnya
tanpa pikir panjang,. Sang pemandu tur terlihat sedang
mempersiapkan brosur-brosur untuk mereka, sementara
menunggu beberapa peserta tur lain yang belum muncul.

"What brings you here, Miss?" tanya seseorang asing di
sebelahnya. Seorang pria berusia 30-an akhir atau mungkin
awal40-an dengan aksen Australia.

Dia, yang dipanggil Miss itu, hanya berusaha tersenyum
sambil menahan rasa terkejut. Ah pria itu hanya mencoba
berbasa-basi, pikirnya. Dahinya mengerut sedikit.

Apa alasan Anda datang kemari, Nona? Apa jawaban
yang tepat untuk pertanyaan semacam itu? Apa alasan orang
berlibur ke Hawai?

Tapi apakah harus ada alasan? Dia tak pernah berpikir
sejauh itu. Tapi ketika disambut dengan pertanyaan itu, dia
pun berpikir ulang. Apa yang membawanya datang kemari?

18

Dia termenung. Seketika dia menemukan jawabannya.
Secepat kilat dia sudah menemukan jawaban yang jelas dan
pasti, masuk akal dan akurat. Aku sedang kacau. Apakah itu
tidak terlihat di raut wajahku?

"Vacation," ucapnya kemudian. Lidahnya tak membiar-
kan suara hatinya meluncur keluar.

"Alone?" tanya turis itu lagi.
Mau tahu urusan orang saja dia. Seolah dia tak pantas
berlibur ke Hawai seorang diri. Seolah Hawai hanya pas
untuk mereka yang tengah dimabuk cinta. Seolah Hawai
hanya bagi para pasangan yang ingin memadu cinta. Seolah
Hawai hanya cocok untuk dikunjungi rombongan keluarga
besar.
Tapi tak urung gadis itu menjawab juga. "For a while,"
jawabnya lirih. Untuk sementara.
"Nice answer," sahut pria itu sambil tersenyum, dan ber-
henti mengusik gadis yang kini terlihat sibuk membenahi isi
tas ranselnya. Jawaban yang bagus.
Ketika sang pemandu tur mengabsen, nama belakanglah
yang disebutkan terlebih dahulu untuk para turis mancane-
gara itu.
"Miss Nainggolan, Aster?''
Dan gadis itu mengacungkan tangannya.
Saat itulah seorang pria lain melirik padanya, tanpa
disadarinya.
"Mister Paul, Reynaldo?''
Kini pria itu mengacungkan tangannya.

19

Beberapa nama lain pun disebutkan. Mayoritas mereka
adalah turis yang berpasangan. Ada satu pasangan muda
yang kemudian diketahuinya sebagai pengantin baru, turis
dari lnggris. Setelah lengkap terabsen, mereka bersama-sama
menuju shuttle bus.

Ketika Aster berjalan sambil memungut sesuatu dari da-
lam tas ranselnya, pria itu sudah berjalan di sebelahnya.

"Hei, di belakang nama Anda itu tadi, marga, ya? Anda
orang Batak ternyata," sapa pria itu.

Aster menoleh, terkejut dengan orang yang menyapa
dan isi sapaannya. Lalu dengan memaksa senyum, dia me-
nyahut.

"Hmm..., memangnya kenapa kalau saya orang Batak?"
"Takut aja." Pria itu menjawab enteng. "'Kita satu rom-
bongan."
"Takut?" Aster mendelik.
"Orang Batak katanya makan orang."
Pria itu mengucapkannya dengan nada tenang. Aster
sampai harus menyakinkan diri bahwa pria itu tidak sedang
mengintimidasinya dengan sengaja. Dia menatap mata pria
itu. Tapi mata pria itu terlihat tulus.
"Aneh. Kau tidak sadar kau sedang berlibur di mana saat
ini?" desis Aster.
"Sadar. Di Hawai, kan? Jauh-jauh ke Hawai aku takut
pada orang Batak, maksudmu? Yah, anggap saja aku sedang
nekat menghadapi rasa takutku sendiri," sahut pria itu.
Aster menahan senyum.

20

"lya, dulu memang nenek moyang orang Batak katanya
membunuh pekabar lnjil dari Eropa." Bahasa Aster terdengar
formal.

"Benar-benar makin bikin takut," ujar pria dengan nada
ringan.

Aster merasa sedikit nyaman, mungkin karena untuk ke-
sekian kalinya dia menatap mata pria itu dan yang ditemu-
kannya tetaplah hal yang sama. Ketulusan.

"Tenang saja, saya vegetarian," jawab Aster. Dia kemudi-
an menyadari nada gembira yang tiba-tiba muncul dalam
suaranya karena ada orang Indonesia lain dalam rombongan
mereka. Kini dia tidak sendirian lagi.

"Sarna dong," ujar pria itu.
"Kamu vegetarian juga?" ujar Aster sambil mendelik tak
percaya. Tadi dia hanya asal berucap. Dia bukan benar-benar
vegetarian. Maksudnya hanya berseloroh, vegetarian dari
Batak pemangsa manusia.
"Bukan. Saya juga punya marga." Paul berbicara dengan
tenang.
"Oh, pasti maksud kamu marga-satwa, kan?" tukas Aster.
Dia kini sudah merasa nyaman untuk bercanda. Saatnya
membalas pria itu.
Seketika Paul menatapnya lekat.
ltulah pertama kali mereka sating bertatapan, agak lama
dan cukup intens. Pria itu menatap Aster dengan pelototan
agak tersinggung dan menahan gemas. Sedangkan Aster me-
natapnya dengan isyarat meledek dan menantang.

21

"Tapi aku tidak takut sama kamu," bisik pria itu kemudian

sambil mengikuti Aster naik ke dalam shuttle bus.

"Lho, kokr' sahut Aster bingung.
Mereka pun duduk berdampingan.
"Aku nggak takut sama tukang makan orang kayak
kamu."
"Kenapa tidak? Ayo dong, harus takut dong...," ledek
Aster dengan nada bergurau. Dia merasa tiba-tiba semangat-
nya terpompa cepat dengan kehadiran pria ini. Entah ke-
napa.
"Aku tahu gigimu nggak akan sanggup menggigit da-
gingku." Pria itu menjawab santai.
"Maksudmur'
"Aku bisa tebak, gigimu pasti gigi palsu."
Dan sebelum Aster menyahut, pria itu sudah memasang
kuda-kuda dengan tangan di dada untuk melindungi diri,
seolah Aster akan segera mengepalkan tinju padanya. Aster
menatap lagi mata pria itu. Dan dia merasa seakan sudah tiba
di pantai. Sia melihat senja di mata itu.
Tapi Aster tiba-tiba merasa khawatir. Dia kemudian
menggeleng sambil menahan senyum.
"Paul Siregar," ujar pria itu. "ltu nama dan margaku. Mar-
ga itu jarang dipakai, hanya ada di akta kelahiran." Seolah
ada makna terselubung di balik perkataan itu, tapi Aster tak
sempat menelaahnya.
"Apa? Kau juga orang Batak?!" seru Aster tak bisa tak
percaya. Ada nada gembira di balik seruan terkejut itu.

22

''Yah, pasti aneh menemukan teman satu suku ketika kau
berlibur di Pulau Hawai ini," jawab Paul agak menyindir. "Le-
bih mudah menemukan sesama suku kalau kau berlibur di
Bali atau Samosir."

Dan Aster tak bisa menahan tawanya.
"Dan aksenmu berlogat Betawi," ucap Aster kemudian.
"Kau pasti tinggal di Jakarta."
Paul mengangguk. "Sarna lagi, kanr'
"Dan kita sama-sama keturunan pemakan manusia7'
"Anggap saja reuni di kampung halaman."
Aster tertawa panjang, tak bisa lagi ditahannya. Tak di-
duganya.
Seketika saja mereka seolah sudah kenai lama.

-*-

Dan tak pernah diduganya, dia akan mengulang hari itu di
benaknya, sebelum dia tidur malam harinya.

Hatinya kini masih seperti ombak di pantai senja tadi.
Bagaikan buih-buih ombak yang putih, yang berlomba
menggapai-gapai pantai dan mencoba menjilati kaki batu
karang. Pikirannya masih teringat pada permukaan air laut
yang biru dan hijaunya pepohonan di kejauhan. Apalagi
cahaya dari kapal yang mengiluminasi air, memancar dan
memantulkan bayangan emas yang seolah menyusup sampai
ke dasar air, dengan langit yang dilukis cahaya senja ke-
emasan bagai serpihan kristal emas yang menaburi angkasa.
Semua itu membuatnya tak bisa berkata apa-apa, bahkan
hampir tak bisa bernapas.

23

"Serasa di surga," desis Aster, seolah berbicara pada diri-
nya sendiri.

Tanpa diduganya, terdengar komentar seseorang di se-
belahnya.

"Memangnya sudah pernah ke surga?!"
Aster menoleh. Segera dia menahan kesal yang hampir
mewujud lewat pelototan matanya.
Ah, si Paul ternyata, pikirnya. Seolah jika pemuda itu
yang mengucapkan hal paling menyebalkan sekalipun, dia
bisa dimakluminya. ltu takkan membuatnya marah.
"Tak perlu makan cabe supaya tahu rasa cabe itu pedas!"
debat Aster.
"Memangnya di surga ada cabe?"
"Coba cek saja sendiri ke sana."
"Kamu saja, katanya kamu sudah tahu di surga banyak
cabe."
"Eh, ngawur! Aku tidak bilang begitu. Tadi aku hanya
memberi analogi dengan cabe!''
"Surga kok pakai analogi cabe. Ya pasti bedalah. Nah
coba gimana analogi surga?"
"Yang jelas surga nggak menerima orang kayak kamu."
"Lha, siapa bilang aku mau ke surga?"
"Nah! Memang kamu cocoknya masuk neraka!"
"Pieaseee ...," ujar seseorang, sang turis beraksen Austra-
lia, menengahi mereka. "Just take some pictures," sambung-
nya, lalu mengambil jeda sebentar, "And... shut up!" ucapnya
tegas. Ambil foto dan diamlah!
Ditegur begitu, keduanya terdiam sesaat. Agak malu.

24

Tapi kemudian, tanpa kesepakatan resmi, spontan ke-
duanya menjadikan kalimat teguran itu menjadi bahasa gu-
yonan khas di antara mereka berdua. Mereka berdua saja.
Tentu saja jika si turis tadi, yang adalah ternan serombongan
tur mereka, sedang tidak berada di dalam radius dengar
ucapan mereka.

Dan Aster terkejut menyadari betapa cepatnya mereka
menjadi akrab. Lebih terkejut lagi ketika dia menyadari bah-
wa dia menyukai hal itu.

"Selamat malam," kata Paul ketika mereka sedang berdiri
di lorong koridor hotel. "Tolong, lakukan satu hal untukku,"
mohonnya. Matanya yang selalu tenang terlihat sedang se-
rius yang dibuat-buat.

"Hmr' sa hut Aster agak bingung. "Apa itur'
"Jangan mimpikan aku."
Aster pun menahan senyum.
"Aku juga ingin meminta satu hal darimu," ucap Aster.
"Aku nggak akan memimpikan kamu kok, aku janji!" sere-
bot Paul cepat.
"Bukan itu," ujar Aster masih mengulum senyum.
"Lalur'
"Jangan mengorok," ucap Aster tenang tapi menohok.
Dan sebelum Paul membalas, Aster melanjutkan dengan
cepat.
"Walaupun dinding kamar hotel ini kedap suara, aku
yakin gelombang suara dengkuranmu bisa membangunkan
seluruh resort kepulauan ini."

25

Paul tampak agak tersinggung dibuat-buat, dahinya me-
ngerut.

"Jauh-jauh ke Hawai, tolong jangan mempermalukan
nama bangsa dan negara dengan hobi burukmu itu," tambah
Aster.

Paul hanya menahan senyum. "Kau tahu tidak kira-kira
berapa desibel gelombang bunyi dengkuranku?''

"lnfrasonik atau ultrasonik?" dengus Aster.
"Ultra milk."
Tapi Aster sudah terlalu Ieiah untuk berdebat.
"Shut up," desisnya untuk menghentikan perdebatan
yang takkan kunjung usai itu.
"And take some pictures," sam bung Paul.
Keduanya tertawa. Paul kemudian berbalik. Kamarnya
bersebelahan dengan kamar Aster, ternyata. Mereka pun
masuk ke kamar masing-masing.
Tapi Aster tak lantas bisa tidur. Hari itu sesuatu yang
aneh terjadi. Dari kemurungan yang dalam, mendadak dia
menjadi sungguh gembira. Sebuah perubahan yang terlalu
drastis baginya. Dia sungguh gembira. Terlalu gembira untuk
memejamkan matanya dan terlalu bersemangat untuk me-
nyambut esok harinya, untuk beberapa alasan yang mulai tak
bisa dijelaskannya.

-*-

Ketika Aster memutuskan untuk mengambil perjalanan ini,
tak sempat dibayangkannya detail yang membuatnya akan
menganga ini.

26

Hamparan pasir pantai berwarna hitam.
ltulah pertama kali Aster melihatnya.
Mengagumkan. Aster menahan napas. Amazing!
Aster melepaskan pandang. Seketika dadanya terasa !a-
pang, seolah hamparan air dan langit biru di depannya
berpindah ke hatinya.
Jadi inilah pantai yang diimpikannya sekian lama itu. Jadi
inilah pantai yang sering dibicarakan orang itu.
Aster dan turis yang lain terlihat tak sabar menikmati
pantai, mendadak dengan euforia jeritan seperti anak kecil
dia langsung meloncat ke dalam air.
Tapi Paul memilih memuaskan matanya dengan kamera
di tangannya.
Black sand beach. Pasir pantai yang berwarna hitam
pasti baru kali ini diinjak oleh kaki gadis itu, pikirnya. Kaki itu
jenjang, bening, dan mulus. Gadis itu terlihat sungguh gem-
bira, menjejak-jejakkan kakinya di atas pasir. Pasir hitam itu
bagaikan sedang bertempur dengan buih ombak yang putih,
terus beradu dan bergumul, bagai berusaha mendominasi
warna satu sama lain. Sedikit agak ke bagian dalam pantai,
permukaan air berwarna biru memantulkan warna langit.
Hitam dan putih terus beradu, di bawah pinggulnya yang
terbungkus kain pantai berwarna merah muda yang melam-
bai-lambai genit ditiup angin, memberi kesan kontras yang
menyolok pandangan mata. Parade warna di pantai. Hitam,
putih, biru, dan merah muda.

27

Paul berkali-kali memencet tombol kameranya. Dia ber-
henti ketika gadis itu terlihat berbalik dan melangkah ke
arahnya. Paul segera menurunkan kamera.

"Tak disangka ada pasir pantai seindah ini di sini!" seru
Aster. Ke mana soja aku selama ini!

Mengagumkan. Aster menahan napas. Luar biasa!
"Kau pasti belum pernah melihat pemandangan yang le-
bih bagus dibandingkan ini," ucap Paul. Dia berusaha ber-
sikap wajar untuk menyembunyikan tindakannya, mengam-
bil foto-foto tanpa seizin objeknya.
Rupanya ucapan Paul itu sungguh tak diduga Aster. Aster
menoleh tak percaya.
Dahinya mengkerut. Pemuda itu baru kemarin dikenal-
nya dalam tur ini, tapi cara mereka berkomunikasi bagaikan
teman lama, bahkan terlalu lama. Semakin lama kau menge-
nal seorang sahabat, semakin berani kau berucap kata kasar
padanya dan takkan dianggapnya sebagai ledekan.
"Kamu benar, biar kulengkapi kalimatmu," sahut Aster
kemudian. "Aku belum pernah melihat pemandangan lebih
bagus daripada ini bersama kerabat Phitecanthropus Erec-
tus." Aster terdengar sengaja menekankan kata bersama.
"Hmmm. Phitecanthropus masih lebih baik daripada gigi
palsu," Paul membalas.
"Apanya yang lebih baik?"
"Phitecanthropus itu real. Tapi gigi palsu itu fake."
"Maksudmu?"
'Tuh kan, fake aja nggak ngerti."

28

Aster mengalihkan. "lya nih, emang apaan sih fake? ltu
bukannya istilah: fake and give?" tanya Aster dengan tam-
pang berlagak bodoh.

Paul menahan senyum, "ltu take and give! Bisa juga
kamu mlesetin," serunya.

"Oh, baru ingat, fake itu nama grup penyanyi pria, Fake
That," seru Aster

"Take That!" Paul meralat.
"Hmm... Fake itu pasti kalo orang bule marah dan
memaki, fake you!" lanjut Aster.
"ltu... ," desis Paul, mengulum senyum. "Eh, jorok ya."
"Oh, aku tahu, itu filmnya Vin Diesel sama Paul Walker,
fake and furious," tambah Aster lagi.
"ltu fast and furious," desis Paul dan sebelum mendebat,
Paul tak bisa lagi menahan tawa.
"Menyerah, kan? Kamu takkan bisa mengalahkan aku,"
tantang Aster sinis.
Dan Paul menerima tantangan itu.
Ketika Aster kembali melangkah di depannya dan berlari
mengejar gulungan ombak, Paul masih sempat memotret
pemandangan unik itu; kain pantai berwarna merah muda
yang memberi bayangan cerah di atas pasir pantai yang
gelap. Bagaikan hari-harinya yang suram, yang kini menda-
pat sentuhan warna baru. Yang Paul tak tahu. Yang Aster
tidak sadari.
Selanjutnya mereka berdua bagaikan sedang berlomba.
Berlomba berdebat. Berlomba mencari kekurangan yang lain.

29

Bagaikan buih ombak putih dan pasir pantai hitam yang terus
saling menghantam. Entah apa yang mereka ingin buktikan.

"Kenapa kalian tidak ikut acara Amazing Race saja?"
tanya turis dengan aksen Australia itu. Rupanya dia sungguh
memperhatikan mereka berdua.

"lkut Amazing Race sama dia?'' jawab Aster sambil me-
nunjuk Paul, dalam bahasa lnggris. "Belum berangkat saja
kita pasti langsung dieliminasi," ucapnya ke sang turis.

"Bukan dieliminasi, tapi mengundurkan diri karena dia

lupa bawa pil antimo, you know, pil anti mabuk perjalanan,"

serang Paul balik, dengan muka menghadap si turis dan
menunjuk ke arah Aster.

"Bukan, kita pasti dieliminasi karena muka dia mirip tero-
ris. Begitu lihat tampangnya, dia pasti langsung disekap di
imigrasi," balas Aster.

"Salah. Pasti karena kamu terkunci di toilet bandara dan
nggak bisa keluar," ujar Paullagi.

"Nggak mungkin! Pasti gagal karena kamu nggak ngerti
bahasa orang lokal, karena kamu cuma bisa bahasa tarzan!"
sa hut Aster.

"Masih mendingan bisa bahasa tarzan, daripada kamu,
bahasa leluhur sendiri pun nggak bisa."

Dan sebelum Aster membalas, si turis yang melempar-
kan ide tadi langsung menutup kuping sambil menggumam-
kan kata-kata. Dari gerak bibirnya mereka bisa tebak : Shut
up!

Keduanya ternyata hanya bisa berhenti berdebat dan
sama-sama terdiam ketika menikmati matahari terbenam.

30

Seolah hanya senja lah yang bisa membius mereka dan
menghentikan perdebatan mereka yang tak berujung.

Langit merah saga dengan deburan ombak, angin semi-
lir, keheningan, dan magis dari pantai seolah membuat me-
reka terhipnotis.

Mengapa senja begitu menarik? Mengapa jutaan orang
datang dari penjuru dunia hanya untuk menikmati senja? Apa
yang menarik dari kepergian matahari meninggalkan terang
menuju gelap? Apa yang membuat senja bisa menghipnotis
orang? Mengapa senja bisa membuat orang tergila-gila dan
bahkan jatuh cinta? Mengapa senja bisa sebegitu meme-
sona? Mengapa ratusan, ribuan, bahkan selaksa senja tak
pernah membuat mata bosan memandang?

Senja yang misterius.
Bukankah senja adalah kesepian, kesedihan, kepiluan,
dan perpisahan? Bukankah senja adalah keremangan, sesua-
tu yang tak pasti, penuh pengharapan atas ketidakpastian
dan ketertinggalan?
Kini dia melihat senja bagai kaca, melihat dirinya dalam
senja. Senja adalah dia, adalah keraguan, kegalauan, kesu-
raman. ltu adalah dirinya. Dilihatnya senja dalam dirinya.
Senja kaca.
Senja adalah sepi. Senja adalah sunyi. Senja adalah luka.
Senja adalah perpisahan.
Senja adalah dia. Aster.
Kesepian, kesedihan, kepiluan, luka dan air mata, itulah
yang kini dibawanya, dan ingin ditumpahkannya di hadapan
sang senja.

31

Apa pun senja, Aster sudah terlanjur jatuh cinta padanya.
Jatuh cinta pada senja. Dan Aster tak peduli, tak pernah
peduli.

"Kita akan berlayar ke Kohala Coast Sunset, tempat
paling indah di pulau ini," kata sang pemandu tur. "Bagi yang
suka lumba-lumba, bisa menikmati sepuasnya lumba-lumba
yang biasanya akan mengiringi sepanjang pelayaran kita. Kita
akan menikmati makan malam buffet dengan menu antara
lain ayam muda saus nenas dan, tentu saja champagne toast
on sunset."

Dan ucapan sang pemandu tur tentu membuat rom-
bongan tur bersorak. Seketika semangat mereka seperti mi-
nyak yang dipantik dan segera menyala berkobar-kobar.

"Wow! Champagne toast on sunset!" pekik seseorang
kegirangan.

"Tak percuma aku jauh-jauh datang kemari," desis Aster.
"Tak percuma aku berutang ke sana kemari demi per-
jalanan ini," balas Paul.
"Please... ," desis Aster menahan senyum. "Tak mungkin
kau berutang hanya untuk datang kemari."
"Ah. Kau hanya belum mengenalku," desis Paul.
Aster menangkap makna lain dalam kalimat itu. Akankah
kita soling mengenallebih jauh?
"Oh ya, kamu bisa minum champagne, kan7' ujar Paul
dengan nada agak menyindir dan meremehkan.
Dan kesabaran Aster pun terusik. "Shut up...."
"I'll take some pictures," serobot Paul.
Dan eskpresinya membuat Aster tidak jadi mengamuk.

32

Kata-kata teguran salah turis beraksen Australia tempo
hari, konon telah sungguh khas buat mereka.

Jika Paul mengucapkan kata, "Pieaseee...," maka segera
Aster akan melanjutkan.

"Just take some pictures, and shut up!"
Atau jika salah satu mengucapkan shut up, akan segera
dilanjutkan dengan yang lain dengan /'II take some pictures.
Setelahnya mereka berdua akan tertawa tergelak-gelak.
Terkadang mereka dengan kreatif memvariasikan kali-
mat 'fenomenal' tersebut.
"Please, I'm taking some pictures," kata Paul ketika Aster
mengeluh kepanasan.
"Just shut up!" serobot Aster.
Dan tak bisa tidak Paul harus berhenti dulu untuk terta-
wa.
"Any question7' tanya sang pemandu.
"Kenapa pasir pantai ini hitam?'' tanya Aster setelah
mengacungkan tangannya.
"Good question!" jawab si pemandu. "It's created by
ancient lava flows."
Aster mengernyit sejenak, lalu mengangguk dan berteri-
ma kasih.
Paul mendehem, Aster pun segera menoleh.
"Kenapa kamu?'' tanya Aster curiga. Dilihatnya eskpresi
aneh Paul.
"Batuk," desis Paul, dengan jelas menyembunyikan se-
suatu.

33

"Ada pertanyaan lain? Any other question?'' tanya sang
pemandu tur.

Seorang turis lain bertanya, tapi Aster tak mendengarkan
sebab Paul berbisik sesuatu padanya.

"Tolong jangan bertanya lagi," bisik Paul. "Pieaseee ...."
Aster menoleh tak mengerti.
"Nilai mata pelajaran geografimu waktu sekolah pasti
rendah," lanjut Paul masih berbisik.
Aster menatap dengan mata menantang. "Maksudmu?''
"Masa kamu menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu?
Memangnya sebelum kemari kamu tidak baca panduan
wisata Hawai?''cecar Paul. "Siapa pun tahu kalau pasir hitam
ini terjadi karena letusan gunung berapi."
"Wait a minute," balas Aster sambil melotot. "Apa uru-
sanmu jika aku bertanya. Toh tour guide-nya tidak protes."
"Kamu malu-maluin bangsa dan negara," bisik Paullagi.
"Kalau begitu kamu pindah kewarganegaraan saja!" seru
Aster sambil mengibaskan tangan.
"Yes, Miss?" tanya sang pemandu wisata yang mengira
Aster akan mengajukan pertanyaan lagi.
"No, nothing. Thank you," jawab Aster agak salah ting-
kah. Tidak, tak ada. Terima kasih.
Sementara Paul masih mendehem di sebelahnya.
"Aku yakin nilai geografimu hanya enam," ujar Paul lagi.
"Atau jangan-jangan lima!"
Dan Aster sudah tak minat berdebat.
"Sebenarnya nilaiku hanya empat," desis Aster sinis.
"Puas?"

34

Paul berlagak puas mendengarnya. Dia mengangguk sok
bijaksana. Hanya dengan cara begitu mereka bisa membuat
turis beraksen Australia itu tidak menoleh lagi dan mendelik
kesal pada mereka.

Dan sepanjang perjalanan, Paul mengoceh pada Aster
yang terdiam.

"Hawai, tempat kita berada sekarang, ada di Samudra
Pasifik. Di sebelah barat Benua Amerika. Dari dasar laut di
bawah Pulau Hawai ini konon ada lava yang keluar dan
menyebabkan munculnya pulau-pulau," ujar Paul. Aster
mendengarkan dengan eskpresi yang mulanya terpaksa, tapi
lama-lama jadi tertarik.

''Tahu nggak-''
"Nggak!" Aster sengaja menyela sebelum Paul selesai
berbicara.
''Tahu nggak," ulang Paul berusaha tidak terganggu, "Ko-
non dasar laut di bawah Pulau Hawai ini adalah tempat
terpanas di dunia. Trus, gunung berapi di Hawai juga lebih
tinggi daripada Himalaya. Di sinilah dua gunung berapi yang
paling mengesankan di dunia, yaitu Mauna Loa dan Kilauea."
Ketika Paul bercerita, Aster merasa pria itu semakin
terlihat menarik, mungkin karena dia terdengar cerdas dan
berilmu. Pria intelek itu rupanya menarik. Seksi. Sejenak
Aster teringat, hal seperti itulah yang menjadi alasan
Sondang, adiknya, jatuh cinta pada calon suaminya. Ah,
mendadak Aster sedih. Bayangan itu masih membuat hatinya
ngilu.

35

''Terpikir nggak, kalau aktivitas gunung berapi memberi-
kan kontribusi besar atas terbentuknya kekayaan flora7' sam-
bung Paul, yang segera dijawab Aster dengan singkat dan
pad at.

"Nggak tuh."
Paul meneruskan dengan emosi stabil.
"Di tur berikutnya kita akan melihat spesies tanaman
yang tumbuh di Taman Nasional Hawai Volcanoes, yang ma-
suk dalam daftar warisan dunia di UNESCO. Jadi, jangan
datang ke Hawai hanya untuk menikmati senja atau matahari
terbenam!"

"Baiklah, mister tour guide," sa hut Aster sinis, lagi.

Paul menatapnya dengan gemas, tapi sinar matanya
tetap tulus.

"Aku yakin sejarah letusan gunung berapi di Indonesia
pun tidak kau ketahui," ledek Paul untuk menggodanya.

Aster tidak memprotes. "Kenapa aku harus tahu? Kan

kalau perlu, tinggal tanya sama mister tour guide!" ledeknya.
"Shut up...," desis Paul dengan nada putus asa yang

dibuat-buat.

"I'll take some pictures!" sa hut Aster.

Paul menutup muka dengan kedua telapak tangannya,
nyaris putus asa.

"Eh tahu nggak, guru geografi kami waktu SMA, akhirnya
masuk rumah sakitjiwa lho," ujar Aster santai.

Paul segera membuka tangannya.

-*-

36

Hari yang cerah. Mereka menuju dataran tinggi untuk menik-
mati panorama laut dari ketinggian. Aster berulang kali me-
ngusap wajahnya yang berkeringat dengan tisu.

"Sepertinya ransel kamu berat?" desis Paul sambil mereka
melangkah. "Sepertinya kamu perhatian sekali," balas Aster.
"Mau bantu bawain?" "Pieaseee ... deh," jawab Paul sambil
memutar bola mata.

"Shut up and take some pictures," sa hut Aster segera.
"Aku cuma khawatir kau membawa bantal dan guling
dalam ranselmu," kata Paul. "Padahal kan kita cuma mau
mendaki sedikit, bukan berkemah."
"Bukan cuma bantal-guling," jawab Aster. "Kasurnya juga
kubawa kok."
"Please ...," desis Paul sambil menahan tawanya.
"I'm taking some pictures," sambar Aster lagi.
"Yakin tidak mau kubantu bawain ranselmu?" tawari
Paul.
Aster menggeleng. "Tidak, isinya terlalu berharga. Takut
kamu curi."
Paul hanya mendelik.
Dan ketika mereka sudah sampai di atas, segera Paul
konsentrasi, dengan sikap akan shut up and taking some
pictures, ketika Aster mendekatinya.
Ternyata Paul masih sempat melirik Aster yang sedang
mengeluarkan sesuatu dari ranselnya yang menggembung.
"Sebenarnya apa sih isi ranselmu?'' desis Paul sambil be-
berapa kali memencet tombol yang membuat kameranya
berbunyi khas.

37

"Shut up and take some pictures," jawab Aster.
"Aku tahu, kau pasti bawa kompor untuk masak mi ins-
tan, kan?'' gumam Paul, sebelum dia memencet kamera.
Cekrek-cekrek...
"Bukan. Aku bawa tabung gas kecil untuk meledakkan
gunung ini," jawab Aster.
Bbrruues!!!
Seketika Paul menoleh.
Sebuah letusan kecil tiba-tiba terdengar. Tepukan keras
benda di tangan Aster itu memancing reaksi sekitar dengan
cepat. Beberapa pasang mata di sekitar mereka yang juga
mendengarnya dengan jelas langsung menoleh dan melotot
keheranan.
"Astaga!" gumam Paul menahan gemas.
Tapi ekspresi Aster membuat siapa pun tak bisa marah-
lugu dan tanpa dosa./nnocent.
Aster tengah memegang plastik besar kemasan cheetos
berukuran jumbo di depan dadanya, yang baru saja ditepuk-
nya hingga mengeluarkan suara yang mengejutkan. Muka-
nya belepotan remah-remah cheetos dan bumbunya.
"Cheetos, anyone?'' ujar Aster sambil mengangkat ke-
masan cheetosnya dengan ekspresi menahan senyum takut-
takut. Ada yang mau cheetos?
Beberapa orang hanya menggeleng-geleng. Tak lama,
semua orang pun kembali pada kesibukan semula, shut up
and taking some pictures.
"Jadi isi tasmu hanya berbungkus-bungkus cheetos
jumbo?" cela Paul.

38

''Tidak juga. Senapan juga ada," jawab Aster tenang.
"Hah?'' dengus Paul, menoleh bingung.
"Kau masih mau mendengar letusan berikutnya? " bisik
Aster dengan ekspresi menantang.
Kali ini Paul tak bisa lagi memotret. Dia segera menurun-
kan kamera dan menoleh pada Aster, dengan ekspresi seolah
terlalu capek, bagai sedang menghadapi seorang anak kecil
yang nakal.
"Mana, keluarin," ujar Paul antara menantang dan meng-
ancam.
Aster segera merogoh sesuatu dalam ranselnya sambil
menyerahkan bungkus cheetos-nya ke tangan Paul.
"Ta-da!" ujar Aster sambil mengeluarkan sebuah ... senap-
an plastik!
Seketika Paul tersedak. Cheetos yang baru dikunyahnya
segera menghambur dan sebagian meloncat ke tenggorok-
annya tanpa terkunyah sempurna.
Paul terbatuk-batuk. Aster spontan menepuk-nepuk
punggungnya sambil tertawa keras.
''Tenang, tenang ...," ujar Aster, masih sempat-sempatnya
mencomot cheetos dengan tangan yang satu lagi dan me-
ngunyahnya.
"Ya ampp..., uhuk-uhuk... ," ujar Paul yang masih terba-
tuk.
"Shut up," potong Aster dan menghentikan tepukannya
di punggung Paul. Segera dikeluarkannya minuman bersoda
dari ranselnya. Disodorkannya pada Paul, yang langsung me-
nenggaknya.

39


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Sure You Can! Ujian Nasional Bahasa Inggris
Next Book
Teknik Mengelola Image Digital Secara Profesional Menggunakan Adobe Photoshop CS2