The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sukses Memproduksi Bandeng Super Untuk Umpan, Ekspor, Dan Indukan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpus Kota Semarang, 2018-10-30 19:04:54

Sukses Memproduksi Bandeng Super Untuk Umpan, Ekspor, Dan Indukan

Sukses Memproduksi Bandeng Super Untuk Umpan, Ekspor, Dan Indukan

LilyPublisher

M. Ghufran H. Kordi K.

S-ukses memproduks.i

6t:thdeh untuk umpan,
ekspor, &
St/lper indukan

• Teknik produksi
• Pakan buatan
• Budidaya - pascapanen
• Analisis usaha

SUKSES MEMPRODUKSI

BANDENG SUPER

untuk Umpan, Ekspor & Indukan

M. Ghufran H. Kordi K.

Lily Publisher

Sultses Memproduksi Bandeng Super unluk Umpan, Ekspor, dan lndukan
Oleh: M. Ghufmn H. Konli K

Hok Gpto © 2009 poda Peoolis,

Ediito~ : Fl Sig;t Suyomoro

Setting : Alelc:
Oes,ain Cover
Korelictor : Bow'O

: Amanda / Alictor Sodewo

!-Iaiit Gpta dilindungi undong-undong.
Dilorong memperbanyok atau memindankan s,ebogion atou selurulrn isi bulitu ini
dolam bentullc: apapun, bailic recaro elektroni1s maupun meka~r~is, termasuk
memfotocopy, merekom atau cle~r~gan sistem pe~rnyimpanan loinnya, tanpa izn~rn
tertulis dari Pe~rnulis.

Diiterbitko~rn oleh ULY PUBUSHER Sebuan imprim dari Penerbiit AND~

Jl. Beo 38-40, Telp. !0274) 56] 881 (Humi~r~g}, Fox. (0274) 588282

Yogyalkarta 55281 •

Percetaka~r~: ANDI OFFSET
Jl. Beo 38-40, Telp. (0274J 561881 !Hunting), Fax. (0274) 588282
Yogyakarta 55281

Perpuslakaan Nasional: Kalalog dalam Terbilan (KDT)

Kordi, M. Ghufmn H
Sukses Memprodullc:si Bandeng Super u~rntuk Umpan, Ekspor, dan
lndukon/ M.. Ghufmn H. ll<ordi K;
- Ed. I. - Yogyakarto: ANDI,
11 11 16 1s 14 13 12 n 10 09

xii + 148 him.; 14 x 21 Cm.

10 9 8 7 6 s 4 3 2

ISBN: 978 - W9- 29 1227- 2
I. Judul
1. Fishing

DDC'21 : 639.21

Hadiah untuk ulang tahun anakku:

R_ys (R_yza Maur:yz H. Kordi KJ &
lcha (Jzzah Maur:yza H. Kordi KJ



PRRKRTR

Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu jenis ikan laut
yang telah lama dikenal sebagai ikan konsumsi. Bandeng juga
merupakan ikan yang paling banyak dibudidayakan, terutama di
tambak. Sebagai ikan budi daya, bandeng memiliki behcrapa
keunggulan dibanding jenis ikan lain. Bandeng dapat diproduksi
sebagai ikan konsumsi domestik, ekspor, ataupun digunakan
sebagai umpan dalam usaha penangkapan ikan tuna dan
cakalang.

Bandeng dipanen sesuai kebutuhan dan tujuan pemeliharaan.
Bila hendak digunakan untuk umpan tuna dan cakalang, ban-
deng dipanen setelah berukuran 10-20 ekor/kg. Yang berukuran
3-4 ekor/kg untuk konsumsi langsung. Yang berukuran 1-2
ekor/kg adalah bandeng prima atau bandeng super kualitas
ekspor, sementara yang berukuran > 4 kglekor digunakan untuk
induk.

Hingga kini masih sangat sedikit budi daya bandeng intensif

yang dimaksudkan untuk memproduksi bandeng untuk umpan,

ekspor dan induk. bandeng pun terhainba.t kJ.reno

Begitu juga dengan produksi n, ·

kini masih sangat kur:'

'~" .i;hutuhkan untuk memrroduksi band,, .... ~,. '"

memproduksi bandeng umpan tergolong super, yaitu super-
cepat. Umpan bandeng pun tergolong umpan super, terutama
karena memiliki daya tahan hidup yang lebih kuat dan mudah
ditangani. Sementara itu, produksi bandeng untuk el{spor dan
induk membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi keuntung-
annya juga sangat menjanjikan. Bandeng yang dihasilkan
berukuran super, yaitu super besar. Oleh karena itulah penulis
terdorong untuk menulis buku ini dengan harapan dapat
mendorong pertumbuhan budi daya bandeng super, khususnya
untuk kebutuhan umpan, ekspor, dan induk.

Dengan selesainya buku ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada orang-orang yang mendidik, mendorong, dan selalu
membahagiakan penulis, yaitu ibunda Sitti Untung, istri Sarifah,
ananda Ryza Mauryz H. KordiK (Ris) dan Izzah Mauryza H.
Kordi K (Icha), adinda Annisa Ismail dan aim. Thaslim Ismail,
kanda Radia H. Husen dan Murni H. Ismail, tante Fatma H.
Kordi K dan Rusni H. Kordi K, om H. Husen Untung, Karim H.
Samad, Ahmad H. Yunus dan Muhammad H. Yunus. Terima
kasih juga disampaikan kepada Penerbit ANDI Yogyakana yang
telah bersedia menerbitkan buku ini.

Semoga buku ini bermanfaat untuk pengembangan sektor
perikanan di Indonesia, khususnya pada budi daya ikan.

Paccinongang, Gowa, Sul-Sel, 2009

Penulis

M. GHUFRAN H. KORDIK.

DHFTHR lSI

PRAKATA........................................................................... v

DAFfAR ISI......................................................................... vii

DAFfAR GAMBAR ··························································· X
DAFfAR TABEL.................................................................
xi

BAB I BANDENG SUPER UNTUK UMPAN EKSPOR
DAN INDUK .......................................................
1

BABll LOKASIDANWADAHBUDIDAYA................ 9
A. Lokasi Budi Daya............................................. 9
11
1. FaktorTeknis............................................... 14
2. Faktor Sosial Ekonomi ................................

B. W adah Budi Daya............................................ 15
1. Rancang Bangun dan Konstruksi Tambak. 16
2. Rancang Bangun dan Konstruksi Keramba
Jaring Apung................................................ 25

BAB Ill TEKNIK MEMPRODUKSI BANDENG SUPER.. 37
A. Pembesaran di Tambak ................................... 37
1. Persiapan Tambak ....................................... 38
2. Penebaran dan Pemeliharaan ..................... 43

B. Pembesaran di Keramba Jaring Apung............ 45

C. Perawatan W adah Selama Pemeliharaan ........ 48
D. Pemberian Pakan dan Konversi Pakan............ 50

BAB N SARANA BUDI DAYA BANDENG INTENSIF 55
DAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR............. 55
A. Sarana Budi Daya.... .. ..... ......... .. ... .. .... .. ...... .. .... 56
1. Reservoir...................................................... 56
2. Aerator......................................................... 58
3. Pompa Air.................................................... 58
4. Pepakan........................................................ 59
5. Peralatan Panen...........................................

B. Pengelolaan Kualitas Air .... .. .... ...... .. .......... ..... 59
1. Oksigen ........................................................ 60
2. Derajat Keasaman (pH) Air......................... 64
3. Kecerahan ...... ...... ... .................... .. .. ... .......... 66
4. Suhu Air....................................................... 68
5. Asam Belerang .................................. ........ ... 70
6. Amonia... .. ............ .. .... .... .. ... ... ..... .. .... .......... . 72
7. Salinitas ........................................................ 74
8. Pengapuran Susulan.................................... 76
9. Pemupukan Susulan ................... ... ... ... ....... 80
10. Pergantian Air pada Tambak Intensif ........ 81

BAB V PENANGGULANGAN HAMA DAN PENYAKIT 85
A. Hama............................................................... 85
85
1. Predator .... ................................................... 86
2. Kompetitor .......................... ............ .. .. .. .......

~~------------------------------ Daftar lsi ix

3. Perusak Sarana............................................. 87
4. Pencuri ......................................................... 87
B. Penyakit .......................................................... 88

BABVI PENGADAANPAKANBUATAN....................... 95

BAB VII PANEN DAN PENANGANAN HASIL................ 105
A. Panen............................................................... 106
B. Penanganan Hasil Panen................................. 107
1. Pengangkutan Umpan................................. 107
2. Pengangkutan Induk............ ....................... 110
3. Mempertahankan Kesegaran Ikan.............. 111

BAB VIII ANALISIS USAHA MEMPRODUKSI
BANDENG SUPER.............................................. 115
A. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Umpan
di Tambak........................................................ 115

B. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Umpan
di Keramba Jaring Apung ................................ 119

C. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Super
untuk. Ekspor di Tambak ................................ 122

D. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Super
untuk. Ekspor di Keramba Jaring Apung.......... 126

E. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Super
untuk. Induk di Tambak................................... 130

F. Analisis Usaha Memproduksi Bandeng Super
untuk. Induk di Keramba Jaring Apung ........... 133

DAFTAR PUSTAKA............................................................ 139

DHFTHR liHMBHR

Gambar 1.1 Ikan bandeng (Chanos chanos) ....................... 4
Gambar 1.2 Bandeng Umpan .............................................. 7

Gambar 2.1 Kemiringan pematang ..................................... 17

Gambar 2.2 Skema kerniringan dasar saluran dari pintu
utarna sarnpai ke petakan tambak .................. 18

Gambar 2.3 Bentuk rakit bambu dengan 4 keramba.......... 26
Gambar 2.4 Bentuk rakit pipa besi dengan 4 keramba ...... 27
Gambar 25 Beberapa jenis jangkar..................................... 29
Gambar 2.6 Pola jaring yang akan dipotong....................... 30
Gambar 2.7 Sebuah keramba yang siap dipasang pada

rakit .................................................................. 31

Gambar 4.1 Aerator untuk mernasok oksigen .................... 57

Gambar 4.2 Posisi aerator dalam petak tarnbak bandeng
yang dikelola secara intensif ........................... 63

Gambar 4.3 Pinggan secchi dan earn penggunaannya ....... 67

Gambar 5.1 Hubungan antara lingkungan, ikan dan
patogen............................................................. 89

Gambar 7.1 Bandeng ukuran super..................................... 105

DHFTHR THBEL

Tabell.l Tipikal bandeng menurut pennintaan ............... 2

Tabel2.1 Potensi luas areal budi daya laut (untuk finfish)
di Indonesia.......................................................... 10

Tabel2.2 Penggolongan reaksi tanah menurut kisaran pH 12
Tabel2.3 Kebutuhan kapur (CaC03) untuk menetralkan

pH tanah .............................................................. 14
Tabel2.4 Daya tahan beberapa bahan pelampung ............. 28

Tabel3.1 Dosis saponin dan biji teh untuk pemberantasan
hama --------------------------------------------------------------------- 38

Tabel3.2 Nilai penetral beberapa senyawa kapur.............. 40
Tabel3.3 Jenis kapuryang digunakan di tambak............... 41

Tabel 4.1 Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan
budi daya .............................................................. 65

Tabel4.2 Hubungan antara suhu air dan kandungan
oksigen terlarut .................................................... 69

Tabel4.3 Hubungan antara pH dengan kandungan H2S
di dalam air........................................................... 71

Tabel4.4 Persentase total amonia dalam hubungannya
dengan pH dan suhu ............................................ 72

xii Sukses Merrproduksi BANJl:NG SUPER ---~"·

Tabel4.5 Klasifikasi air berdasarkan salinitas..................... 75
Tabel4.6 Efisiensi dan persentase jumlah rnasing-rnasing

ukuran butiran senyawa kapur............................ 78
Tabel4.7 Pergantian air pada tarnbak intensif ................... 81

TabelS.l Beberapa penyakit bakteri pada bandeng ........... 90
Tabel5.2 Jenis dan dosis obat untuk rnenanggulangi

penyakit bandeng ................................................. 91
Tabel5.3 Penyakit non-infeksi dan penanggulangannya .. 93

Tabel6.1 Kebutuhan zat gizi ikan bandeng ........................ 96
Tabel6.2 Hasil analisis beberapa bahan untuk pakan ikan 97

Tabel 7.1 Jurnlah dan lama pengangkutan ikan hidup ....... 108
Tabel 7.2 Beberapa jenis obat bius dan dosis

pernakaiannya ...................................................... 108
Tabel7.3 Perbedaan ikan segar dan busuk ......................... 113

BAB I
BANDENG SUPER UNTUK
UMPAN, EKSPOR DAN INDUK

Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas yang
memiliki keunggulan komparatif dan strategis dibanding
komoditas perikanan yang lain, karena (1) teknologi pembesaran
dan pembenihannya telah dikuasai dan berkembang di masya-
rakat, (2) persyaratan hidupnya tidak menuntut kriteria ke-
layakan yang tinggi mengingat bandeng toleran terhadap per-
ubahan mutu lingkungan serta tahan terhadap serangan penya-
kit, (3) merupakan ikan yang paling banyak diproduksi dan
dikonsumsi di Indonesia dalam bentuk segar dan olahan, baik
untuk konsumsi langsung maupun dalam bentuk hidup sebagai
urnpan dalam usaha penangkapan ikan tuna dan cakalang, (4)
merupakan sumber protein yang potensial bagi pemenuhan gizi
serta pendapatan masyarakat petambak dan nelayan, dan (5)
telah menjadi komoditas ekspor.

Bandeng adalah ikan yang menyumbang produksi paling banyak
terhadap kegiatan budi daya perairan (akuakultur). Dari delapan
jenis ikan budi daya utama, bandeng berada pada urutan teratas
dengan produksi mencapai 550 ribu ton di tahun 2008 dan
ditargetkan mencapai 822 ribu ton di tahun 2009, atau meng-
alami peningkatan 41,15%. Jika kenaikan produksi 41,15% dapat

dipertabankan, pada tahun 2010 produksi bandeng akan menca-
pai lebih dari 1 juta ton.

Bandeng dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, disesuaikan
dengan kebutuhan penggunaannya, seperti untuk umpan dalam
usaha penangkapan tuna dan caka1ang, untuk dikonsumsi
langsung, untuk ekspor, dan untuk induk (Tabel 1.1). Produksi
bandeng berbagai ukuran itu masih belum mampu memenuhi
kebutuhan pasar. Sebagai contoh, untuk kota Makassar, dalam
sehari membutuhkan bandeng antara S-6 ton dengan nilai Rp.
75 juta sampai Rp. 90 juta, baik untuk restoran, hotel, maupun
supermarket, sementara pasokan yang tersedia hanya mampu
memenuhi 25 % dari kebutuhan itu (Atjo, 2000).

..·Tallell.l Tipikal bandeng menurut permintaan --~-1

i TAI&ET PIODUI UIUUN IUUTUHAN WUUN6AN !

·.. .·· (6JEIOI) II •.··. '

i -

Umpan 100-200 200 juta ekar1) II' . 639.000 tanfth
Kansumsi 300-SOO
6 juta ekor2)

Ebpor S00-800 - 3) -

lnduk >UOO - 13.200 ekorjfh4)

II I I
I

S..her: Alja, 21111111

Keterangan:
1) Analisis Pranowo, et al, 1996, dalam Achmad dan
Yacob, 1998, tentang kebutuhan umpan tuna-cakalang
bagi 1.000 kapal rnwai tuna pada tahun 1996.

2) Aruilisis Achmad dan Yacob, 1998, tentang kebutuhan
konsumsi ibn pada era perdagangan bebas AFTA (2003)

dan APEC (2001).

3) Data minim, tercatat ekspor pada BOSOWA Group
mulai 1998 1 kontainer 40 feet, pengiriman tujuan
Timur Tengah.

4) Analisis Rachmansya~1 ,!! l'sman, 1998, tentang
kekurangan induk ibJ 11c, '1 ~ \ 21ng diperlukan untuk
produksi nener 570 juta eke >r 1Jhun.

Sebagian besar budi daya bandeng masih dilakukan secara
ekstensif, tradisional, dengan padat penebaran antara 3.000-
5.000 ekor/tahun. Dengan hanya mengandalkan pupuk sebagai
input untuk pertumbuhan klekap sebagai pakan alami, dan juga
konst:ruksi tambak yang seadanya, menyebabkan produksi rata-
rata yang dapat dicapai hanya sekitar 300-1.000 kg!ha/musim
(Ismail, et al, 1994). Setelah dilakukan intensifikasi dalam pem-
budidayaan dengan input teknologi, produksi bandeng dapat
ditingkatkan hingga 500 %. Penambahan input berupa pakan
dan kincir pada budi daya bandeng konsumsi dengan lama
pemeliharaan empat bulan, padat tebar ditingkatkan sampai
50.000 nenerlha/musim, maka akan dapat dihasilkan bandeng
konsumsi 5.000 kg {Yakob dan Ahmad, 1997). Pengujian ter-
sebut juga membuktikan bahwa bandeng dapat tumbuh pesat
hila dipelihara dalam tambak bekas budi daya udang intensif
(Ahmad, et al, 1998). Di KJA, bandeng dapat ditebar dengan
kepadatan tinggi. Benih dengan bernt rnta-rall:a 50 gf'ekor all:au
panjang 7-10 em dapat ditebar 500 ekor/m3. Ikan mampu
mencapai ukuran berat rata-rata 450 gf'ekor setelah dipelihara
120 hari (4 bulan).

Dengan teknologi budi daya, pembudidaya akan dapat mem-
produksi bandeng sesuai permintaan pasar. Dari empat ripe atau
ukman bandeng yang diproduksi, produksi bandeng umpan (80-

4 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER --·-------4'',"l!J
200 g/ekor) dan bandeng super (ukuran 500-800 g/ekor dan
4.000 g/ekor) paling sedikit. Padahal pasar untuk ketiga tipikal
ini cukup besar, yaitu untuk umpan dalam penangkapan tuna
dan cakalang, ekspor dan kebutuhan induk dalam pembenihan.

Gombar 1.1 Ikon bandeng, Chonos chonos (http:/jcontent2.eol.org}
Budi daya bandeng untuk menghasilkan umpan memiliki pros-
pek yang baik seiring menurunnya hasil tangkapan umpan alam.
Selama ini usaha penangkapan ikan tuna ( Thunnus albacares, T.
obesus, T. alalunga, T. maccoy1) dan cakalang (Katsuwonus pela-
mis) mengandalkan umpan yang ditangkap dari alam. Keter-
sediaan umpan hidup (life bait) yang cukup dan berkualitas
merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan penangkap-
an. Umpan hidup yang biasa digunakan dalam penangkapan
tuna dan cakalang antara lain ikan teri (Stolephoms sp), ikan
tembang (Sardinella Embriata), kembung (Rastrelliger kana-
gurta), pisang-pisang (Caesio sp), dan Iayang (Decaptems
msseh).
Akhir-akhir ini kapal-kapal penangkap tuna long line meman-
faatkan gelondongan bandeng sebagai umpan hidup. Gelondong-
an bandeng selain meningkatkan laju tangkap (hook rate) 3-5

Bandeng Super untuk Umpan, Ekspor dan lnduk 5

kali lebih tinggi dibanding umpan beku atau segar, juga memi-
liki daya tahan hidup lebih lama, di samping mudah ditangani.
Dengan demikian umpan bandeng dapat dikategorikan sebagai
umpan super. Hal ini menjadikan gelondongan bandeng sebagai
segmen pasar tersendiri. Di Benoa, Bali, tidak kurang dari 50
rean (1 rean = 5.500 ekor) gelondongan bandeng bernilai sekitar
seratus juta rupiah diserap kapal-kapal tuna long line setiap hari
(Anindiastuti, et al., 1993). Sedangkan di Pelabuhan Perikanan
Samudera Baru Jakarta diperkirakan 90 % dari total keperluan
bandeng umpan dipasok dari hasil budi daya petani tambak di
Karawang (Darmadi dan Pranowo, 1996).

Selain dapat bertahan hidup lebih lama dan mudah ditangani,
keunggulan bandeng sebagai umpan adalah produksinya dapat
ditingkatkan melalui budi daya. Sementara ketersediaan umpan
alam dibatasi oleh musim, sehingga jumlah produksinya fluktu-
atif. Usaha menyediakan umpan dalam jumlah besar dengan
meningkatkan produksi penangkapan juga dibatasi oleh keter-
sediaan sumber daya ikan. Sebagai contoh, ikan teri (Stolepho-
rus sp) yang merupakan salah satu ikan umpan yang sangat baik
kini mengalami tangkap lebih (over fishing) di beberapa per-
airan di Maluku dan Maluku Utara, karena penangkapan yang
intensif untuk kebutuhan umpan.

Dengan demikian gelondongan bandeng merupakan salah satu
jenis umpan yang dapat diandalkan untuk penangkapan tuna
dan cakalang, baik dalam kondisi hidup maupun matilbeku. Itu
berarti usaha budi daya bandeng untuk memproduksi umpan
juga merupakan salah satu usaha yang menguntungkan. Kajian
yang dilakukan oleh Ismail, et al. (1998) pada tambak di Kamal,
Jakarta Utara, menyebutkan bahwa usaha bandeng umpan
mempunyai keuntungan lebih tinggi dibanding usaha bandeng
konsumsi. Hal ini terlihat dari laba bersih usaha bandeng umpan

dalam satu tahun untuk tiap hekt:ar (ha) yang mencapai Rp.
28.282.670,2, sementarn laba bersih satu tahun tiap ha untuk
usaha bandeng konsumsi hanya Rp. 16.749.790,2.

Sementara itu, di Makassar, ekspor bandeng dilakukan oleh PT
Bosowa ke Timur Tengah. Permintaan juga datang dari Jepang
dan Korea Selatan. Namun, karena minimnya pasokan, ekspor
ke Trmur Tengah tersendat-sendat. Sementara itu, kebutuhan
induk dengan ulrur.m 4 kgfekor, setiap tahunnya mencapai
13.200 ekor.

Dengan asumsi sekitar 60% atau 172.950 ha luas tambak di
Indonesia (288.250 ha) digunakan untuk budi daya bandeng
secara tradisional dengan padat penebaran 5.000 ekor!ha dan 5%
(14.410 ha) diusahakan secara intensif dengan padat penebaran
50.000 ekor!ha serta dilakukan dua musim tanam dalam
setahun, maka kebutuhan nener per tahun adalah 3.170 juta
ekor. Pada tahun 1995 produksi nener barn mencapai 2.600 juta
ekor (Anonim, 1997), sehingga masih k:urang sekitar 570 juta
ekor/tahun. Agar dapat memenuhi kebutuhan nener yang
berkesinambungan maka diperlukan sekitar 71 HSL {hatcheri
skala lengkap) dan 710 HSRT {hatcheri skala rumah tangga)
dengan asumsi setiap HSL mampu memasok telur bagi 10 unit
HSRT (Rachmansyah dan Usman, 1998). Untuk mendukung
stabilitas produksi hatcheri bandeng itu, pasokan induk yang
berkualitas dan berkesinambungan dalam jumlah yang rulrup
mutlak diperlukan.. Untuk memproduksi 570 juta ekor nener
diperlukan induk sebanyak 13.200 ekor dengan asumsi bahwa
tingkat pembuahan mencapai 82 %, dan jumlah telur yang
dibuahi 790.000 butir/indukltahun, sintasan (survival rate) 20 %
serta stok induk yang dimiJiki setiap HSL minimal tiga kali lipat
dari jumlah yang digunakan. Jumlah tersebut belum tennasuk

penggantian induk yang sudah tidak produktif dan yang mati
selama kegiatan produksi

.._...... 1.2 Bandeng umpan

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa usaba budi daya
bandeng. khususnya yang memproduksi bandeng untuk umpan,
ekspor dan indukan, merupakan peluang usaba yang sangat
bagus. Perlakuan untuk memproduksi bandeng umpan, ekspor
dan induk tidak berbeda dengan memproduksi bandeng untuk
tujuan konsumsi lokal. Namun demikian, karena usaba mem-
produksi bandeng super membutuhkan waktu yang lebih lama,
terutama untuk memproduksi induk yang membutuhkan waktu
3-4 tahun, maka diperlukan pengelolaan yang lebih serius.
Budi daya bandeng secarn intensif dengan input teknologi,
seperti penggunaan kincir dan pakan, dapat meningkatkan
produksi bandeng hingga lima kali lipat.. Pemeliharnan secara
intensif dengan penerapan teknologi maju di tambak dan di
keramba jaring apung (KJA) yang ditempatkan di teluk dan
sekitar muarn sungai dengan pemilihan lokasi dan pengel!olaan
yang tepat dapat menghasilkan bandeng berlrualitas tinggi dan
meningkatkan produktivitas tambak dan KJA, termasuk yang

~ Sukses Memproduksi BANDENG SUPER --------"""·'''""""'""

khusus memproduksi bandeng untuk umpan, ekspor, dan
indukan.

BRB II
LOKRSI URN WRDRH

BUDI DRYR

Untuk rnernelihara bandeng hingga rnencapai ukuran urnpan
(80-200 g/ekor), ekspor (500-800 g/ekor) dan induk (> 4
kg/ekor) hams dilakukan dalarn wadah yang sesuai dan lokasi
yang tepat. Bandeng rnerupakan ikan yang dapat beradaptasi
pada kisaran salinitas yang luas (0--60 ppt) sehingga budi daya
bandeng dapat dilakukan pada air tawar hingga laut. Narnun
dernikian, berdasarkan berbagai percobaan, bandeng akan
turnbuh optimal pada air payau dan laut, sehingga untuk rnern-
budidayakan bandeng secara kornersial sebaiknya dilakukan
pada tarnbak air payau dan kerarnba jaring apung (KJA) di laut.

A. Lokasi Budi Daya

Potensi areal untuk pernbuatan tarnbak dan penernpatan kerarn-
ba jaring apung (KJA) untuk perneliharaan bandeng rnaupun
ikan lainnya rnasih cukup luas. Untuk tarnbak diperkirakan
rnencapai 830.200 ha, sedangkan untuk KJA diperkirakan rnen-
capai antara 369.500-506.000 ha, tersebar di harnpir seluruh
wilayah Indonesia. Narnun, agar perneliharaan bandeng dapat
berhasil, pernbuatan tarnbak dan pernasangan KJA tidak boleh
dilakukan di sernbarangan ternpat.

10 Sukses Merrprod.Jksi BAN~G SUPER ---~~<

label 2.1 Potensi luos oreal budi doyo lout (untuk finfish) di Indonesia

PIOYINSI LUASAREAL LUAS IUA POTENSI
(HA} (HA} PRODUKSI
(TON/TAHUN}*
Sumatera Utara 20.000 200
200.000
Daerah lsfimewa A(eh 1.000 10 10.000
100.000
Sumatera Karat 10.000 100 600.000
I Kepulauan Riau 150.000
I 5.000
5.000
I 60.000 I 600 10.000
15.000
Sumatera Selatan 15.000 150 10.000
35.000
Jambi 500 5 50.000
40.000
Bengkulu 500 5 20.000
15.000
Lampung 1.000 10 50.000
100.000
DKI Jakarta 1.500 15 120.000
50.000
Jawa Karat 1.000 10 100.000
10.000
Jawa Tengah 3.500 35

Jawalimur 5.000 50

Kalimantan Karat 4.000 40

Kalimantan Selaton 2.000 20

Kalimantan Tengoh 1.500 15

Kalimantan Timor 5.000 50

Sulawesi Utara 10.000 100

Sulawesi Tengah 12.000 120

Sulawesi Selatan 5.000 50

! Sulawesi Tenggora 10.000 100

1i Bali 1.000 10

I

PIOVINSI LUASAIEAL ILUAS ICJA POTENSI
(HA) PIODUKSI
' (HA)

1 {TON/TAHUN}* '

Nuso lenggoro Borot 35.000 350 350.000
Nuso Tenggoro Timur 40.000 I

400 400.000

Moluku 65.000 650 ! 650.000

Irion Joyo I 65.000 650 658. . .
i
1I 1 oto I
369.500 j 3.695 I 3.695. • !

Somber : Ramelan, 1998
• Perhitongon produktivilos komoditus bondeng berdusurkun Ruhmunsyoh, etul, Ztlllll, pi~wiiiH

11111 kgjm2

Lokasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha
Secara teknis, lokasi yang digunakan untuk melakukan budi
daya berkaitan langsung dengan konstruksi, daya tahan, dan
biaya pemeliharaan wadah (tambak dan KJA). Secara biologis,
lokasi juga sangat berpengaruh terhadap tingkat produk.tivitas
usaha, bahkan keberhasilan panen. Keuntungan maksimal abn
dapat diperoleh hila lokasi yang digunakan untuk melakukan
budi daya mampu meminimalkan biaya panen dan transportasi,
mudah mengakses pasar. Oleh karena itu, di dalam memilih
lokasi, kita tidak hanya perlu mempertimbangkan faktor teknis
dan biologis, tetapi juga faktor sosial dan ekonomi.

I. Faktor Teknis

Beberapa parameter yang digunakan untuk menilai kelayakan
teknis suatu lokasi yang akan digunakan untuk membangun
tambak dan KJA, antara lain sebagai berikut:

12 Sukses Mei'Jl)roduksi BANDENG SUPER ----~-

1. Kualitas air cukup memadai. Salinitas 10-35 ppt, suhu 23-32°
C, oksigen minimal 4 ppm, pH 7-9, kadar amonia maksimal
0,1 ppm, dan total bakteri 3.000 sel/m3.

2. Kisaran pasang surut air laut untuk tambak adalah 1,7-2,5
meter.

3. Kedalaman perairan minimal yang cocok bagi KJA adalah
l1~.: yaitu jarak dari keramba dengan dasar perairan, atau
antara 7 m-15 m jarak dari permukaan air sampai ke dasar

pe1fhlt~h. Dasar perairan sebaiknya berupa pasir, pasir ber-

lufilRur,_ ~tau pasir berbatu, sehingga pemasangan jangkar
.b'agi rabt keramba dapat dengan mudah dilakukan.

4. Kecepatan arus yang ideal untuk penempatan KJA adalah
20fe:i:n-50 crnldetik.

.?:);;:

1. l},n.~iJ.k penempatan KJA, pilih lokasi teluk, selat di antara
:PB'f~p-pulau yang berdekatan, atau perairan terbuka dengan
teyl.l~bu karang penghalang (barrier reelj yang cukup

!/ :/iJ•.)

P<l.Pjang.

6. Untuk tambak sebaiknya dipilih lokasi yang mempunyai
elevasi tertentu agar pengelolaan air dapat dilakukan dengan
mudah, tambak cukup mendapatkan air pada saat terjadi
pasang harian dan dapat dikeringkan pada saat surut harian.

label 2.2 Penggolongon reoksi tonoh menurut kisoron pH

PENGGOLONGAN PH TANAH

Asom luor bioso < 4,5

Asom songot kuot 4,5- 5,0

Asom kuot 5,1 -5,5

Asom sedong 5,6- 6,0

'------------------~---- - - - - - - - - - - - -

'>" ________~ Lokasi dan Wadah Budi Daya 13

PENGGOLONGAN PH TANAH

Asom lemoh 6,1 -6,5
Netrol 6,6- 7,3

Boso lemoh 7,4 - 7,8
Boso sedong 7,9- 8,4
Boso kuot 8,5- 90
Boso son got kuot > 9,0

Sumber: Buckmon don Brody, 1982

7. Tekstur tanah yang dipilih untuk tambak harus kedap an
(tidak porous), misalnya lempung berpasir dan liat, lempung
liat (clay loam), lempung berpasir (sandy loam), dan lem-
pung berlumpur (silty loam). Di antara keempat jenis tanah
tersebut, lempung berlumpur (siltr foam) memiliki kualitas
yang paling baik, karena sangat su~'ur, kedap air, dan sangat
baik untuk dibuat pematang.

8. Tanah yang baik untuk tambat. adalah tanah yang netral
atau basa. pH tanah yang rendah akan menghasilkan pH air
yang rendah pula (Tabel 2.2). Tanah dengan pH netral sam-
pai basa kaya akan garam nutrien yang dapat merangsang
pertumbuhan pakan alami, dan pakan alami dapat tumbuh
dengan baik pada tanah yang mempunyai pH 6.6-8.5. Untuk
meningkatkan pH tanah maka perlu dilakukan pengapuran
(Tabel 2.3). Fungsi pengapuran antara lain: (1) meningkat-
kan pH tanah dan air, (2) membakar jasad-jasad renik pe-
nyebab penyakit dan hewan liar, (3) mengikat dan mengen-
dapkan butiran lumpur halus, (4) memperbaiki kualitas
tanah, dan (5) kapur yang berlebihan dapat mengikat fosfat
yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan plankton.

_...,,,<14 Sukses l\llerrprocluksi BANDENG SUPER ___411

Tabel2.3 Kebutuhon kopur (CoCOJ untuk menetrulkon pH tonah

KEBUTUHAN KAPUR (KG/HA CAC03}

I LEMPUNG LEMPUNG PASIR
BERPASIR
PHTANAH

i

4 14.320 7.160 4.475
4,0. 4,5 II

10.740 i 5.370 4.475

4,6-5,0 8.950 4.475 3.580

5,1 - 5,5 5.370 3580 1.790

5,6-6,0 3.580 1.790 895

6,1. 6,5 1.790 1.790 0

Sumher : Amrullah, 1997; Ahmad, el al, 1998

9. Tanah cukup mengandung unsur hara dan bahan organik.

10. Pembangunan tambak hams dilakukan dengan tetap mem-
perhatikan fungsi ekosistem mangrove, tidak boleh mem-
babi-buta membabatnya; hams memperhatikan dan menyi-
sakan jalur hijau (green belt) yang berfungsi sebagai zona
penyangga (buffer zone). Penempatan KJA hams dilakukan
dengan mempertimbangkan dasar perairan. Hal itu penting
untuk mencegah rusaknya temmbu karang (coral reef).

2. Faktor Sosial Ekonomi

Sedangkan beberapa parameter yang digunakan untuk menilai
kelayakan suatu lokasi dari segi sosial-ekonomi, antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Dekat dengan daerah pengembangan budi daya bandeng

sehingga mudah mendapatkan benih.

~'"~_ _ _ _ _ _ _,Lokasi dan Wadah Budi Daya 15

2. Lokasi yang dipilih untuk pembangunan tambak atau
penempatan KJA, kepemilikannya harus jelas, sehingga
tidak berbenturan dengan kepentingan instansi atau
lembaga lain di kemudian hari. Peruntukan lahan untuk
usaha harus jelas dan pasti, sesuai dengan rencana induk
pembangunan daerah setempat.

3. Tersedia tenaga kerja yang cukup, baik tenaga kerja biasa
maupun tenaga kerja ahli.

4. Lokasi mudah dijangkau. Artinya, tersedia sarana dan pra-
sarana transportasi yang memadai.

5. Tersedia alat dan bahan, atau setidaknya mudah untuk
mengadakannya.

6. Tersedia sumber tenaga listrik yang memadai, misalnya
PLN, untuk kebutuhan operasional usaha, terutama untuk
menggerakkan aerator dan pompa air.

7. Kemampuan pasar untuk menyerap produk cukup terbuka,
atau setidaknya dapat diprediksikan bahwa saat panen,
produksi akan dapat diserap pasar.

8. Lokasi usaha cukup aman, baik dari gangguan hama maupun
pencuri.

9. Ada dukungan, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

B. Wadah Budi Daya

Untuk memproduksi bandeng umpan, ekspor dan induk, usaha
pembudidayaan dapat dilakukan di tambak dan keramba jaring
apung (KJA). Tambak untuk budi daya bandeng tidak harus
baru. Bandeng dapat turnbuh optimal pada tambak bekas budi
daya intensif udang windu (Penaeus monodon). Untuk pem-

16 Sukses Merrproduksi BANI:£NG SUPER ---~:.

besaran di KJA pun juga dapat menggunakan KJA bekas tempat
pemeliharaan ikan laut yang lain.

I. Rancang Bangun dan Konstruksi Tambak

Satu unit tambak terdiri dari beberapa bagian penting yang
mana antara yang satu dengan yang lain merupakan satu kesatu-
an yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Membangun tambak
adalah membuat bagian-bagian tambak itu menjadi satu, yaitu
pematangltanggul, saluran, pintu air, dan petak tambak.

Pematang. Pematang atau tanggul harus mampu menaropung
ketinggian air maksimum. Jadi, elevasi pematang harus JJba-
ngun berdasarkan pasang tertinggi air laut yang pernah terjadi.
Pematang tidak boleh rembes atau bocor, harus mampu me-
lindungi area dari tekanan air dalam segala kondisi. Itu berarti
pematang harus cukup kuat, tidak mudah jebol karena tekanan
air, atau tidak mudah tererosi. Selain itu, kemungkinan untuk
membuat pematang yang juga dapat digunakan sebagai jalan
yang dapat dilalui kendaraan roda empat perlu pula diper-
hitungkan.

Lokasi dan Wadah Budi Daya 17

2
A

B

c0

= = ==Keterongan :A kemiringon 1:2 B kemiringon 1:1 C kemiringon 2:1 D

kemiringon 2: I di1engkopi berm
Gombar 2.1 Kemiringon pemotong

Pematang dapat dibuat dari tanah, beton, atau dengan kom-
binasi antara pematang tanah dan beton. Pematang utama mem-
punyai Iebar atas 2-3 m dan lebar bawah 4-5 m, dengan
kemi ringan rata-rata 1:2, tinggi pematang 1,5-2 m. Sedangkan
pematang pembagi mempunyai lebar atas 1-2 m dan lebar
bawah 2-3 m, tinggi 1,5-2 m dan kemiringan rata 1:1,5 sampai
1:2. Pematang yang baik mempunyai kemiringan sekurang-
kurangnya 1:2 untuk pematang utama, sedangkan pematang
pembagi I: 1 san:~>ai 1:15.

I~ Suk.ses Menprodlksi I3.4.Nil:NG SUPER ---""f!i

Saluran. Pada budi daya bandeng intensif, untuk mencegah
akumulasi patogen dalam petak tambak, saluran air masuk dan
keluar harus dibuat secara terpisah. Tinggi dasar saluran air
masuk lebih rendah dari dasar tambak guna mengurangi ter-
jadinya pelumpuran dalam petak. Sebagai upaya mempermudah
pembagian air ke dalam petak, saluran air masuk dapat di-
fungsikan sebagai tandon dengan mengatur bukaan pintu air
utama. Lebar dasar saluran air sangat bervariasi, tergantung luas
hamparan yang akan diairi. Sebagai ilustrasi, dasar saluran 12 m
dapat dignnakan untuk mengairi petak tambak seluas 50-100 ba.

; il .JGZ.l~:it.:i:~C~~ ~ ""1! 1!
l i I I""11:
~ ~~ ~
-~ "!!. 3
I "ifiil."ill ~~ ~ !.ii

!! l i f i:r>.il~~~&.il
ii &
§::: ~
~" ~
~

~

Gambar 2.2 Skemo kemiringon dosor soluron dori pinto utomo sompoi ke petokon
lombok

Berbeda dengan saluran air masuk, dasar saluran air keluar
minima] 15 em lebih rendah dari dasar tambak terendah. Bila
elevasi dasar saluran air keluar sama atau lebih tinggi dari dasar
tambak, maka akan timbul masalah pada pengeringan dasar
tambak. Disarankan air yang keluar dari hamparan tambak
dialirkan melewati vegetasi mangrove supaya tidak mencemari
lingkungan sekitar tambak. Telah diketahui bahwa vegetasi
mangrove merupakan biofilter yang handal bagi air limbah
tambak.

~,.,_ _ _ _ _ _ _,lokasi dan Wadah Bud Daya 19

Baik saluran air :masuk maupun keluar terbagi atas saluran
primer (utama), selrunder, dan tersier. Salman primer merupa-
kan saluran yang berhubungan langsung dengan sumber air,
seperti laut atau sungai. Salman sekunder menghubungkan sa-
luran utama dengan saluran tersier yang berhubungan Jangsung
dengan tambak. Pada kasus tertentu, pada hamparan tambak
yang tidak begitu luas, salman sekunder juga bisa difungsikan
sebagai saluran tersier.

Salman pada tambak umumnya menggunakan sistem terbuka
dengan penampang berbentuk trapesium dengan air yang meng-
alir akibat gaya grnvitasi. Namun ada pula salman tambak
tertutup, memakai pipa paralon/PVC. Salman tertutup biasanya
dipakai untuk menyalurkan air yang dipompa dari laut. Pada
umumnya itu digunakan hila sumber air yang ada di sekitar
tambak sangat kotor sehingga terpaksa harus mengambil air dari
tengah laut yang kondisi airnya masih bersih. Cara tersebut
membutuhkan biaya operasional tinggi dan hanya mampu me-
masok air untuk bebernpa hektar tambak saja. Untuk tambak
yang luasnya mencapai puluhan hektar, pemakaian salman te:r-
tutup sangat mahal dan tidak efisien, lebih tepat menggunakan
salman ripe te:rbuka.

Penghitungan debit ~ yang digunakan untuk menentukan ka-
pasitas salman tidak didasa:rkan pada volume air tambak selu-
ruhnya, melainkan volume air yang harus diganti pe:r hari untuk
seluruh tambak, mengingat tidak seluruh tambak harus diganti
airnya setiap hari. Hal itu te:rgantung metode budidayanya. Bila
debit air yang masuk sudah dihitung, kapasitas saluran mini-
mum yang dibuat harus mampu memenuhi kebutuhan air
seluruh tambak sehingga tambak dapat te:rlayani sesuai :rencana.
Luas penampang saluran dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut:

Q=VxA

Di mana: Q =debit air (m3/detik)

V = kecepatan aliran (m/detik)

A = luas penampang saluran (m2)

Dalam membuat desain saluran, kecepatan aliran air harus dapat
diatur sedemikian rupa sehingga aliran air di dalam saluran
tidakterlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Aliran air yang
terlalu cepat dapat menyebabkan erosi pada dinding saluran,
sedangkan aliran yang terlalu lambat dapat menyebabkan
pengendapan yang dapat mempercepat pendangkalan. Biasanya
kecepatan aliran air pada saluran tanah adalah antara 0,5-0,7
m/detik.

Pjntu ajr. Pintu air berfungsi untuk mengatur pemenuhan ke-
butuhan air dalam tarnbak, baik kelompok tambak maupun
seluruh hamparan tambak, dengan cara rnemasukkan atau me-
ngeluarkan air ke atau dari dalam daerah tambak yang diairi.
Dipandang dari perannya dalam mengatur pemenuhan kebutuh-
an air, pintu air dibedakan rnenjadi tiga, yaitu: (1) Pintu utama,
yakni pintu air yang menghubungkan sumber air dengan surn-
ber saluran utama. Pintu ini biasanya berukuran cukup lebar,
untuk mengatur debit air ke seluruh hamparan tambak. Sebagai
sarana pembagi air, pintu air utama harus mampu mengalirkan
air secara merata ke hamparan maupun ke kelompok-kelompok
tambak yang dilayani. Agar air bisa merata ke seluruh hamparan
tambak, sejauh kondisi lahan memungkinkan, pintu utama
sebaiknya ditempatkan di bagian tengah hamparan tambak de-
ngan saluran utama membentang di tengahnya. (2) Pintu sekun-
der, merupakan pintu air yang mengatur aliran air dari saluran
utama ke saluran sekunder yang melayani satu kelompok
tambak yang terdiri dari beberapa petak tambak. (3) Pintu

)"~,.~---------------Lokasi dan Wadah Budi Daya 21

tersier, merupakan pintu yang langsung melayani petakan
tambak dan dapat pula dipakai untuk mengatur air dalam
saluran tersier bila ada (bila jaringan irigasi tambak cukup luas).
Sebagai sarana untuk memasukkan air dari saluran ke petakan
tambak, pintu ini harus mampu memasukkan air sebanyak-
banyaknya pada waktu air laut pasang. Sebaliknya, sebagai
sarana untuk membuang air dari tambak ke saluran, pintu air ini
juga harus mampu mengeluarkan air dalam waktu yang relatif
singkat. Selain untuk mengatur debit air dalam petakan tambak,
pintu air tersier juga berfungsi untuk menahan air pada saat
pintu ditutup.

Dari segi konstruksi, pintu air dapat dibedakan menjadi 2 tipe,
yaitu pintu tipe terbuka dan tipe tertutup. Pintu air tipe terbuka
pada umumnya dibangun pada saluran air yang lebar, misalnya
pintu air utama pada saluran utama pemasukan air; sedangkan
pintu air tipe tertutup biasanya dibangun pada pematang tam-
bak yang langsung melayani petakan tambak atau bisa juga
dibangun pada pematang yang juga berfungsi sebagai jalan yang
dapat dilalui kendaraan roda empat.

Dalam petak tambak intensif, letak pintu air masuk dan keluar
terpisah sehingga mampu mencegah pencampuran langsung
antara air yang baru masuk dan air yang hendak keluar dari
petak tambak. Pintu air yang terbuat dari papan tidak begitu
cocok untuk tambak bandeng intensif karena tidak praktis bagi
pengaturan ketinggian air. Selain itu, pintu air yang terbuat dari
kayu juga harus dilengkapi dengan cerucuk untuk memper-
tahankan posisinya agar tidak berubah akibat aliran air yang
mengikis fondasi. Pipa paralon yang dilengkapi pipa tegak lebih
praktis untuk pergantian air. Diameter pipa paralon yang di-
gunakan, baik pada pintu air masuk maupun pintu air keluar,
tergantung luas petak dan lama pergantian air yang dikehen-

daki. Pada umumnya satu buah pipa bediameter 8 inci sudah
memadai untuk petak seluas 0,25 ha, dan untuk petak yang
luasnya 0,5 ha, dua buah pipa paralon 8 inci sudah mampu
digunakan untuk mengganti air secara cepat.

Semua pipa harus dilengkapi dengan waring untuk mencegah
ikan liar masuk ke dalam petak dan ikan bandeng keluar dari
petak. Karena pintu air yang menggunakan pipa memiliki per-
mukaan yang relatif licin, untuk mencegah terjadinya pengikis-
an tanah di sekitar permukaan pipa akibat tekanan air, baik dari
dalam maupun dari luar petak, pipa yang digunakan sebaiknya
dipasangi penahan kebocoran (antiseeps collar) di sekeliling
pipa. Antiseeps collardapat dibuat dari kayu maupun bahan lain
yang tidak dapat dirembesi air dan tahan terhadap gigitan
kepiting serta hewan pengerat lain yang biasa hidup di tambak.
Fungsi antiseeps collar, selain untuk mencegah aliran air sejajar,
juga untuk mencegah pipa bergeser dari posisi awal, apalagi bila
pipa itu dilengkapi dengan pipa tegak yang digunakan untuk
mengganti air.

Petak tambak. Dalam menentukan rancang bangun dan kons-
truksi tambak, jumlah oksigen terlarut dan fluktuasi suhu air
harus menjadi pertimbangan utama. Pada suhu tinggi, kejenuh-
an oksigen terlarut menjadi lebih rendah, sementara metabolis-
me ikan cenderung lebih cepat sehingga membutuhkan pakan
dan oksigen yang lebih banyak. Saat pergantian air, kedalaman
air optimal, maksimasi difusi oksigen dari udara dan penem-
patan aerator yang tepat dapat memantapkan suhu dan konsen-
trasi oksigen terlarut. Dalam kaitannya dengan kemudahan
pergantian air, pompa harus ditempatkan sedemikian rupa se-
hingga mampu mengairi sebanyak mungkin petak tambak.

)'·~,-J"'t>------------Lokasi dan Wadah Budi Daya 23

Air rQasuk ke dalam petak tambak melalui pipa yang dilengkapi
saringan (waring) di ujung yang masuk ke petak. Air keluar dari
petak tambak melalui pipa paralon yang dilengkapi saringan dan
pipa tegak (standing pipe) di dalam dan luar petak. Luas petak
sebaiknya tidak lebih dari 0,5 ha dengan dimensi empat persegi
panjang atau bujur sangkar. Bentuk petak empat persegi panjang
sebaiknya dibuat tegak lurus arah angin dominan. Bentuk petak
empat persegi panjang juga memudahkan pemanenan, yaitu
dengan menggerakkan alat panen dari depan ke belakang. Jika
usaha pemeliharaan bandeng dimulai dari nener pasca larva (20-
25 hari), maka tambak dapat dibagi dalam beberapa petak sesuai
kebutuhan.

1. Petak pendederan merupakan petak yang digunakan untuk
aklimatisasi nener sampai mampu beradaptasi di petak tam-
bak yang lebih luas. Nener produksi hatcheri sudah terbiasa
hidup dalam lingkungan yang terbatas (bak bervolume
maksimal 30 ton) dan salinitas (kadar garam) yang relatif
konstan (32-35 ppt). Oleh karena itulah nener perlu
beradaptasi dengan lingkungan yang relatif luas dan kurang
stabil. Luas petak pendederan bervariasi, namun demi
kemudahan panen sebaiknya tidak lebih luas dari 200 m2•
Kedalaman air harus dipertahankan tidak lebih dari 50 em
agar klekap dan plankton dapat tumbuh.

Petak pendederan juga dapat dibuat dari bentangan waring
yang dibentuk segi empat di petak pembesaran atau peng-
gelondongan. Panen lebih mudah dilakukan pada petak
yang dibangun dari waring daripada yang dari tanah. Selain
itu, penghematan penggunaan lahan juga dapat dilakukan
karena kalau waring diangkat, petak itu kemudian dapat
digunakan sebagai petak penggelondongan atau pembesaran.

24 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER --·-------<G'fc'M

2. Petak penggelondongan digunakan untuk menghasilkan
gelondongan (fingerling), bandeng yang siap dijual ke
petambak lain atau ditebar ke petak tersendiri untuk meng-
hasilkan bandeng yang lebih besar. Ukuran petak gelon-
dongan tidak jauh berbeda dengan ukuran petak pendeder-
an, hanya saja biasanya dilengkapi dengan pintu air yang
berhubungan langsung dengan petak pembesaran. Pada budi
daya bandeng intensif, petak penggelondongan tidak di-
gunakan karena yang ditebar di petak pembesaran adalah
gelondongan muda yang sudah diadaptasikan di petak
pendederan.

3. Petak pembesaran dibuat relatif lebih luas dibanding petak
pendederan dan penggelondongan. Pertumbuhan ikan budi
daya dipengaruhi oleh banyak faktor, yang salah satunya
adalah ruang. Dalam ruangan yang lebih luas, dengan asumsi
semua faktor yang berpengaruh dapat terpenuhi, maka ikan
akan tumbuh lebih cepat. Pada budi daya bandeng intensif,
luas petak juga dikaitkan dengan kemudahan pemanenan
hasil yang sangat tinggi, yang dapat mencapai 8 ton/ha.
Sebaiknya luas petak pembesaran tidak lebih dari 5.000 m2.

Petak tambak udang intensif yang terlantar sangat cocok
untuk pembesaran bandeng intensif. Berdasarkan penelitian
di lapangan, tidak ada pengaruh negatif dari bekas tambak
udang terhadap sintasan dan pertumbuhan bandeng. Dalam
kasus tertentu, misalnya saat cuaca mendung berhari-hari
dan kandungan bahan organik yang tinggi, yang meng-
akibatkan menurunnya konsentrasi oksigen terlarut, petak
pembesaran itu perlu dilengkapi dengan kincir dan pampa
air.

1,r'~~-------------------------kasi dan Wadah Budi Da!:la 25

2. Rancang Bangun dan Konstruksi Keramba
Jaring Apung

Keramba jaring apung (KJA) adalah salah satu wadah budi daya
ikan yang cukup ideal, yang ditempatkan di badan air dalam.
Ada beberapa macam ukuran KJA yang digunakan dalam
pemeliharaan ikan laut, termasuk bandeng, mulai dari ukuran
paling kecil hingga yang paling besar. Ukuran yang umum
digunakan adalah yang rakit 2 m x 2 m, 4 m x 4 m, 5 m x Sm,
6 m x 6 m, 7 m x 7 m, 8 m x 8 m, atau 10m x 10m, dan ukuran
keramba 3m x 3m x 3m. Ukuran mata jaring (mesh size)
disesuaikan dengan ukuran ikan yang dipelihara.

Sebuah KJA terdiri atas bagian-bagian yang berupa rakit,
pelampung, pemberat, jangkar, keramba/kantong jaring, dan
gudang (rumah jaga). Bagian-bagian ini membentuk satu unit
KJA yang saling memperkuat satu dengan yang lain.

Rakit. Rakit adalah kerangka yang mengapung di permukaan air
dan berfungsi sebagai tempat menggantung keramba, dudukan
bangunan gudang, dan jalan. Dalam pembuatan KJA, langkah
pertama yang harus dilakukan adalah membuat rakit. Pembuat-
an rakit ini dilakukan di perairan pantai yang dangkal agar
mudah pengerjaannya dan sekaligus mudah untuk memindah-
kannya ke lokasi penempatannya. Kerangka rakit dapat dibuat
dari bambu bulat, balok kayu, kayu bulat, pipa besi, besi siku,
dan paralon. Namun, yang umum digunakan adalah bambu
bulat dan kayu.

Untuk membuat 1 unit rakit dari bambu dengan 4 keramba
berukuran 3m x 3m x 3m, dibutuhkan 10 batang bambu yang
memiliki diameter 10 cm-12 em dengan panjang 8 m. Untuk
mengikat rakit, dapat digunakan tali polietilen, ijuk/amit, atau-
pun kawat. Bambu dan pelampung dipasang sedemikian rupa

26 Sukses N\emproduksi BANDENG SUPER ---------•~~'1'11!
sehingga tidak mudah rusak. Pengikatan bambu di setiap sudut
rakit paling luar, harus kuat dan kokoh. Pengikatan tersebut
dapat dilakukan dengan kedua ujung bambu dilubangi dan
kemudian lubang tersebut dimasuki kayu.
Untuk membuat rakit dari pipa besi, dibutuhkan pipa besi
berdiameter 4 em dengan panjang sekitar 6 m. Selain itu, juga
dibutuhkan penjepit pipa, mur, dan baut (disesuaikan dengan
tebal papan), papan yang panjangnya sekitar 4 m dengan tebal
3 em, plat besi dengan panjang SO em, lebar SO em, dan tebal
2mm.

Gam bar 2.3 Bentuk rakit bambu dengan 4 keramba

>·,,;**'"'________________Lokasi dan Wadah Budi Daya 27

Gambar 2.4 Bentuk rakit pipa besi dengan 4 keramba
Untuk membuat rakit yang terbuat dari pipa besi dapat dimulai
dengan menyambung pipa besi menggunakan pipa shok
sehingga didapatkan pipa besi dengan panjang 9 m. Dua pipa
besi sepanjang 9 m tersebut diletakkan berdampingan dengan
jarak sekitar 50 em. Plat besi penopang papan pijakan
dimasukkan ke dalam kedua pipa besi tersebut. Pekerjaan ini
dilakukan berulang-ulang hingga terbentuk sebuah rakit dengan
4 buah keramba.
Rakit ini terdiri atas beberapa unit yang dilengkapi dengan
lantai dan rumah jaga. Bagian rakit yang digunakan untuk
menempatkan rumah jaga tidak perlu dipasangi keramba.

2~ Sukses Memproduksi BANDENG SUPER --·-------~1,_

Pelampung. Pelampung berfungsi untuk mengapungkan keram-
ba/kantong jaring, rakit, bangunan gudang, ruang jaga, dan
pelataran kerja. Bahan yang dapat digunakan sebagai pelampung
antara lain busa plastik (styrofoam) berdiameter 70 cm-80 em
dengan panjang 80 cm-100 em atau drum minyak ukuran 200
liter. Dapat juga menggunakan bambu atau gelondongan kayu.
Sebuah rakit berukuran 8 m x 8 m dengan keramba berukuran
3m x 3m x 3m, minimal memerlukan 9 buah pelampung. Bagi
bahan pelampung yang mudah berkarat, misalnya drum,
sebaiknya dilapis dengan cat antikarat atau dibungkus plastik
untuk mencegah tumbuhnya fouHng (jasad penempel pada
bangunan yang terendam air laut, misalnya kerang, teritip,
cacing, dan sebagainya). Pelampung dari bahan stirofom sebaik-
nya dibungkus plastik karena bila tidak maka dalam waktu tiga
bulan saja sudah akan ditempeli fouHng sehingga akan
mengurangi daya apungnya. Daya tahan beberapa jenis bahan
pelampung disajikan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Doyo tohon beberopo bohon pelompung

JENIS PELAMPUNG DAYA TAHAN PENYEBAB KERUSAKAN
{TAHUN)
Drum plostik 3 Sinor motohori don gesekon
Drum besi 0,5- 1,0 foulingdon korosi
Stirofom >5 Gigiton ikon don hewon oir
Drum besi dibungkus plostik 0,8- 1,0 foulingdon korosi
fibregloss >5 Sinor motahari don gesekan
Bambu 1,0- 1,5 fouling, sinar matahari
Gelondongan kayu 1 fouling, menyerap air

)· ',.,~----------------Lokasi dan Wadah Budi Day a 29
fangkar dan Pemberat. Jangkar atau tapu berfungsi untuk
menahan KJA dari pengaruh arus air, angin, ombak, dan pasang-
surut, sehingga KJA tetap di tempat yang telah ditetapkan. Besar
dan berat jangkar disesuaikan dengan besar keeilnya KJA, tetapi
umumnya digunakan jangkar dengan berat 30 kg-40 kg, yang
kemudian ditambah dengan karung berisi pasir. Tali jangkar
yang digunakan berdiameter 3 em-5 em, dengan panjang 3 kali
kedalaman perairan. Jadi, bila kedalaman perairan 10 m, maka
panjang tali jangkar adalah 30 m. Untuk setiap unit KJA,
dipasang 4 buah jangkar pada masing-masing sudutnya.

Gombar 2.5 Beberopo jenis jongkor

Bahan pembuat jangkar dapat berupa besi baja, semen beton,
atau batu serta pasir yang dimasukkan dalam karung. Untuk
jangkar dari beton, dibuat dari batu kerikil dan pasir dengan
perbandingan 1 bagian semen dengan 1 bagian batu kerikil dan
2 bagian pasir. Jangkar beton, saat meneetaknya, sebaiknya
diberi pengikat besi berdiameter 2,5 em pada bagian ujungnya
dan dibentuk mirip jangkar. Jangkar beton yang lebih praktis
dibuat dengan meneetaknya dalam potongan drum yang telah
dipasangi telinga besi untuk mengikatkan tambang.

30 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER ------·--·<r~f":

Pemberat berfungsi untuk merenggangkan keramba/kantong
jaring hingga bentuknya dapat sempurna di dalam air. Pembe-
rat dapat berupa batu yang dibungkus, batang besi bulat, besi
beton, atau campuran semen dan pasir dengan berat 3 kg-4
kg!buah. Sebagai pengikat digunakan tali berdiameter 1 em.

Keramba. Keramba atau kantong jaring berfungsi sebagai wadah
untuk memelihara dan melindungi ikan dari serangan predator
dan pengganggu lain. Biasanya keramba yang siap dipasang pada
rakit belum tersedia di pasar. Bahan yang tersedia masih dalam
bentuk jaring polietilen (PE) yang digulung dan dijual ber-
dasarkan bobot. Bahan keramba harus tahan air dan dapat me-
nahan beban, terutama pada saat panen. Salah satu bahan yang
memenuhi persyaratan tersebut adalah jaring polietilen yang
dipakai untuk jaring trawl Selain jaring polietilen, jaring kawat
terbungkus plastik juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat
keramba.

17,14 m (3m)

1-

• • •a a a a
~E
-r-
•b
E

-

Keterangan: a = untuk sisi sam ping b =untuk sisi bawah
Gombar 2.6 Pola jaring yang akan dipotong

"'f.,'l!•----------------Lokasi dan Wadah Budi Daya 31

Berdasarkan tujuan dan fungsinya, keramba dibedakan menjadi
keramba pendederan, keramba penggelondongan, dan keramba
pembesaran. Keramba pendederan umumnya dibuat dari jaring
yang bermata jaring (mesh sjze) keeil (kurang lebih 4 mm).
Keramba ini dapat ditempatkan di dalam keramba yang lebih
besar. Dalam satu petak keramba berukuran 3m x 3m dapat
ditempatkan dua atau tiga kurungan pendederan dengan
kedalaman 1,5 m. Ukuran panjang jaring yang digunakan adalah
sekitar 3m x 1m x 1,5m atau 3m x 1,5 m x 1,5m.

Keramba penggelondongan umumnya berukuran 3m x 3m x 3m.
Bahan untuk keramba penggelondongan adalah jaring PE
dengan mata jaring 1 inei. Untuk keramba pembesaran, ukuran-
nya 3m x 3m x 3m, menggunakan jaring PE bermata jaring 1,5
inei-2 inei.

Untuk meneegah serangan predator, digunakan jaring PE No.
380 D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh sjze) 2 inei (5,08 em)
sebagai kantong luar dan No. 380 D/13 dengan ukuran mata
jaring 1 inei (2,5 em) atau 1,5 inei (3,81 em) sebagai kantong
bagian dalam.

I "
3m
I

• •• tI
I
I
I

I
I
I

-----t!-~ --
.

timah

Gombar 2.7 Sebuah keramba yang siap dipasang pede rakit

32 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER _________,~tr:

Untuk membuat keramba diperlukan bahan dan alat yang
berupa jaring polietilen, tambang plastik berdiameter 5 mm
untuk tali ris bagian atas dan bawah, tambang plastik 2 mm
untuk merajut jaring di sisi kantong jaring dan gantungan sinker
(pemberat), coban (braider), yaitu alat untuk merajut jaring;
gunting, pisau, silet, dan perlengkapan lainnya.

Untuk membuat sebuah keramba dari jaring dengan ukuran
tertentu, ada caranya. Biasanya untuk membuat keramba ada
istilah hang in ratio, yaitu nilai persentase jika jaring yang
terdiri dari mata jaring direntangkan antara dua ujung jaring.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

s L-i/L X 100 %

Di mana:
L = Panjang jaring dalam keadaan tertarik (direntangkan)
1 = Panjang jaring tidak direntangkan

Sebagai contoh, untuk membuat sebuah keramba berukuran 3m
x 3m x 3m, dengan mata jaring 1 inci (2,5 em) dan hang in ratio
= 30%, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

L = ill-S= 12/1-0,3 = 17,14 m

Dengan demikian panjang tiap sisi keramba adalah:
17,14/4 = 4,28 m

Dengan jumlah mata jaring:
428/2,5 = 171

Kedalaman atau tinggi keramba dihitung dengan rumus:
D = d/ v2S - S22 = 3/ v 2 X 0,3 -- 0,32 = 4,20 m

.~----------------Lokasi dan Wadah Budi Daya 33

Dengan jumlah mata jaring:
420/2,5 = 168

Di mana
d = kedalaman atau tinggi keramba sesudah hang jn ratjo.

Keramba dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk kubus tak
tertutup. Tepi sisi samping keramba (Gambar 2.6) dihubungkan
dengan tepi sisi bawah dan dirajut dengan tali plastik her-
diameter 2 mm. Setiap tepi sisi keramba ditelusuri dengan tali
berdiameter 5 mm dan dirajut. Khusus untuk bagian tepi bawah
keramba, pada tali dimasukkan timah-timah berlobang sebesar
biji kacang atau lebih dengan jarak satu sama lain 5 em.

Pemasangan dan Penempatan Keramba fan'ng Apung. Bila rakit
budi daya sudah dipasangi pelampung, itu berarti rakit sudah
siap diceburkan ke perairan dan diletakkan pada posisi yang
ditentukan. Untuk membawa rakit ke lokasi dapat dilakukan
dengan cara menaikinya dan langsung mendayungkannya atau
ditarik menggunakan perahu motor.

Sesampai di lokasi, keempat sudut rakit diikat tambang yang
dihubungkan dengan jangkar. Bila pemasangan jangkar telah
selesai dan rakit telah berada pada posisinya, selanjutnya dilaku-
kan pemasangan keramba/kantong jaring. Caranya, kaitkan tali
ris setiap sudut atas kantong jaring dengan sudut rakit. Untuk
memperkuat kedudukan kantong jaring ini, maka dilakukan
beberapa pengikatan lagi di antara tali ris bagian atas dengan sisi
rakit.

Agar keramba/kantong pnng dapat meregang sesuai bentuk
yang diinginkan maka harus dipasangi pemberat pada setiap
sudut keramba. Caranya adalah dengan mengikatkan pemberat

34 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER --------~

pada tali pemberat, sedang ujung yang lain diikatkan pada
bingkai di sudut-sudut keramba. Ujung tali yang terletak di
dekat pemberat dibelitkan pada tali sudut bawah keramba dan
diturunkan ke air hingga keramba menjadi tegang. Kemudian
tarik tali pemberat kira-kira 10 em dan ikatkan kembali pada
bingkai rakit di sudut keramba. Dengan cara demikian maka
akan terjadi penegangan pada tali pemberat dan bukan pada
keramba.

Penempatan KJA merupakan hal yang perlu diperhatikan.
Produktivitas KJA sangat dipengaruhi oleh penempatan atau
tata letaknya. Oleh karena itu, di dalam menempatkan unit KJA,
kita perlu mempertimbangkan kondisi perairan, terutama arus
air. Hal ini berkaitan erat dengan sirkulasi air dalam keramba,
yang antara lain ditentukan oleh tata letak KJA, ukuran keramba
(luas dan kedalaman), ukuran mata jaring, jumlah keramba yang
searah dengan arus, jarak antar-keramba, dan lama pemelihara-
an. Memburuknya lingkungan perairan di sekitar KJA akan
memengaruhi pertumbuhan ikan yang dipelihara di dalam
keramba.

Umumnya keramba ditempatkan tegak lurus dengan arah arus
agar semua unit keramba memiliki peluang pergantian air yang
sama. Arus di lingkungan teluk biasanya berupa arus pasang
surut yang memiliki pola yang relatif tetap, yaitu mengikuti
gerakan pasang surut. Semakin banyak unit keramba yang ter-
susun sejajar dengan arah arus, semakin lemah arus yang
mengaliri keramba yang terletak lebih ke hilir. Perbedaan
kekuatan arus pada setiap baris keramba dapat mencapai 20 %.
Hal itu juga sangat dipengaruhi oleh ukuran keramba, ukuran
mata jaring, dan perkembangan populasi jasad yang menempel
pada keramba.

)~---,~-------------Lokasi dan Wadah Budi Daya 35

Kesalahan tata letak keramba, apalagi jika dibarengi dengan se-
makin memburuknya lingkungan perairan, dapat memacu per-
kembangan penyakit. Sirkulasi air yang tidak lancar, kepadatan
yang tinggi, dan penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan,
dapat menyebabkan kadar oksigen terlarut menjadi rendah,
terutama pada pasang tertinggi atau surut terendah. Demikian
juga pada malam hari ketika arus air sangat lemah. Hal semacam
itu dapat diatasi dengan pengelolaan unit KJA yang meliputi
pembersihan keramba jaring, pergantian keramba jaring secara
berkala, serta penempatan unit keramba searah arus yang tidak
lebih dari 3 buah.

36 Sukses Memproduksi BANDENG SUPER ----------<G"!f~

BAB Ill
TEKN IK MEMPRODUKS I

BANDENG SUPER

Bandeng untuk umpan (80-200 g/ekor), ekspor (ukuran 500-800
g/ekor) dan untuk induk (4 kg/ekor) diproduksi dalam usaha
budi daya intensif. Untuk memproduksi bandeng umpan di-
butuhkan waktu pemeliharaan 3 bulan di tambak atau 2 bulan
di keramba jaring apung (KJA), sangat pendek atau supercepat.
Bandeng untuk tujuan ekspor dibutuhkan waktu 7-9 bulan di
tambak dan 4-5 bulan untuk pemeliharaan di keramba jaring
apung (KJA). Sedangkan untuk produksi bandeng super tujuan
indukan membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk pembesar-
an di tambak dan 3 tahun untuk pembesaran di KJA.

Pemeliharaan bandeng intensif adalah penerapan padat pene-
baran tinggi dengan input teknologi berupa pemberian pakan
dan penggunaan kincir. Tahap-tahap pelaksanaan pemeliharaan
bandeng secara intensif di tambak dan KJA akan dijelaskan di
bawah ini.

A. Pembesaran di Tambak

Usaha pembesaran bandeng untuk memproduksi bandeng super
dapat dilakukan pada tambak baru maupun tambak lama, ter-
masuk tambak bekas budi daya udang intensif. Namun


Click to View FlipBook Version
Previous Book
Student Book Series Microsoft Windows Vista
Next Book
Plurk++ Jaring Teman Plus Jaring Duit