The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bukubahasaindonesiasmpmts, 2022-01-20 02:43:43

Teks Puisi

Teks Puisi

Pelajaran 4

Teks Puisi

Fokus Pembelajaran
Penguasaan kompetensi mengidentifikasi, menelaah, dan menyimpulkan unsur-unsur
pembangun dan makna puisi yang diperdengarkan atau dibaca serta menyajikan gagasan,

perasaan, dan pendapat dalam bentuk teks puisi secara tulis/lisan.

Kegiatan 1
Membaca Puisi dan Menyampaikan Isinya

Tradisi penulisan karya sastra baru Indonesia diawali tahun 1920, saat pemerintah
Hindia Belanda mendirikan Balai Pustaka. Dengan kehadiran Balai Pustaka ini, kegiatan
menulis sastra dimulai karena periode sebelumnya dominan tradisi lisan. Periode
dimulainya tradisi menulis ini disebut sebagai periode karya sastra baru.

A. Mengenali Makna Lugas dan Makna Kiasan dalam Puisi

Dalam menulis puisi baru, penyair menggunakan kata-kata yang bermakna lugas dan
bermakna kiasan. Makna lugas berarti makna yang sebagaimana apa adanya, objektif,
bermakna tunggal, dan tidak bersifat pribadi. Makna kiasan merupakan makna kata yang
bukan sebenarnya yang ditimbulkan oleh perbandingan atau persamaan dengan hal yang
lain, misalnya, berupa perumpamaan dan ibarat.

Berdasarkan uraian di atas, bacalah puisi berikut ini, setelah itu kerjakan tugas yang
menyertainya!

PAHLAWAN TAK DIKENAL
Toto Sudarto Bachtiar

(1) Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

(2) Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

(3) Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara
merdu
Dia masih sangat muda

(4) Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang
tak dikenalnya

(5) Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya

Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda
Berdasarkan uraian dan contoh puisi di atas, kerjakanlah tugas berikut ini!
1. Tulislah makna kiasan kata-kata yang tercetak miring larik puisi berikut ini!

a. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring

b. Senyum bekunya mau berkata, kita sedang
perang

c. Kedua lengannya memeluk senapan

d. Wajah sunyi setengah tengadah

e. Menangkap sepi padang senja

f. Dunia tambah beku di tengah derap dan
suara merdu

2. Tulislah isi tiap bait puisi tersebut dan simpulkan isi keseluruhannya!
a. Bait 1

b. Bait 2

c. Bait 3

d. Bait 4

e. Bait 5

f. Simpulan

B. Mengenali Pemaknaan Puisi Berdasarkan Pengolahan Objek dan Peristiwa
Dalam puisi, penyair memanfaatkan suatu objek atau peristiwa sebagai bahan

penulisan. Objek atau peristiwa diolah dengan mencari, menemukan, dan mengungkapkan
isi inti, hakikat kebenaran, dan hikmah di baliknya. Penyair tidak hanya menggambarkan
objek dan peristiwa itu sebagaimana apa adanya.

Puisi berisi muatan pesan kehidupan dan kemanusiaan universial. Keuniversalannya
tampak dari nilai yang temuat di dalamnya berlaku dan bermanfaat bagi siapa saja, kapan
saja, di mana saja.
Bacalah puisi berikut dan kerjakan tugas yang menyertainya!

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Hartoyo Andangjaya

(1) Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka
Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
Sebelum peluit kereta pagi terjaga
Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

(2) Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
Ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara,,
Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
Merebut hidup di pasar-pasar kota

(3) Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka
Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

Berdasarkan uraian dan contoh tersebut, kerjakanlah tugas berikut ini!
1. Dalam puisi tersebut, penyair menggambarkan sosok perempuan dengan sebutan

“Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta” yang disertai
pertanyaan “Siapakah mereka” dan diikuti dengan jawaban pada larik berikutnya
pada setiap bait. Untuk, gambarkan sosok peremtuan tersebut!
a. Perempuan tersebut berasal dari ....

b. Perempuan tersebut bertujuan ke ...

c. Perempuan tersebut adalah ....

2. Jelaskan pelajaran hidup atas keteladanan perempuan dalam puisi tersebut
a. Bait 1 tentang kerajinan berusaha, yakni ....

b. Bait 2 tentang kegigihan berusaha, yakni ....

c. Bait 3 tentang keuletan dan keibuan, yakni ....

C. Mengenali Penggunaan Kata Imaji dalam Puisi
Kata-kata yang digunakan dalam puisi bermuatan citraan (imaji). Penggunaan

citraan dimaksudkan agar gagasan dan perasaan dapat tersampaikan secara utuh dan
mendalam. Dengan begitu, penyair dapat menggambarkan secara lengkap fakta,
situasi, suasana batin, harapan, dan tantangan. Umumnya, citraan dalam puisi
berkaitan dengan penglihataan (visual), pendengaran (auditif), dan rabaan (taktil)
Perhatikanlah contoh berikut ini!

citraan penglihatan

Wajah sunyi setengah tengadah citraan
Menangkap sepi padang senja rabaan
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
citraan Dia masih sangat muda
rabaan

Berdasarkan uraian dan contoh tersebut, tulislah V jika kata yang dicetak miring
dalam larik puisi berikut merupakan citraan visual, tulis A jika merupakan citraan
auditif, tulis T jika merupakan citraan taktil, dan tulislah X jika tidak ada citraan
tertentu!

1. Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
dari manakah mereka

2. Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa

3. Sebelum peluit kereta pagi terjaga

4. Sebelum hari bermula dalam pesta kerja

5. Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta
Ke manakah mereka.

6. Di atas roda-roda baja mereka berkendara,,

7. Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota..

8. Merebut hidup di pasar-pasar kota

9. Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta,
siapakah mereka

10. Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa

11. Akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota

12. Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa..

D. Mengenali Pesan Tesirat dalam Puisi

Penggunaan kata bermakna kiasan dan penggunaan kata yang menimbulkan
citraan dalam puisi menghasilkan makna tersirat dan multitafsir. Untuk itu,

pemaknaan tersirat harus didasarkan pada keseluruhan larik dan bait dalam puisi agar
bisa diperoleh makna yang utuh.

Bacalah puisi berikut dengan seksama dan kerjakan pelatihan yang menyertainya!

GADIS PEMINTA-MINTA
Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

Tulislah huruf B jika pernyataan berikut ini benar berdasarkan isi puisi di atas dan
tulislah S jika salah! Berikan alasan atas pilihan kalian!

1. Gambaran umum isi puisi tersebut adalah keprihatinan penulis pada
kesengsaraan nasib gadis kecil yang terpaksa harus menjadi pengemis.

2. Tema puisi tersebut adalah kehidupan keras kota besar mematikan rasa
perikemanusian, tega membiarkan anak kecil jadi pengemis.

3. Sikap pengarang terhadap dalam puisi tersebut adalah sinis terhadap
warga kota dan berempati kepada gadis kecil pengemis

4. Pesan mengarang adalah ajakan kepada warga agar dapat merasakan
penderitaan orang lain yang tidak berdaya dan tidak beruntung.

Kegiatan 2
Menelaah Puisi dan Mengungkapkan Karakteristiknya

Isi puisi baru bersifat tidak terbatas, bergantung pada persoalan kehidupan yang
dipilih penyair. Secara umum, penyair tertarik pada masalah kehidupan kemanusiaan.
Penyair mengingatkan perlu penghargaan kemanusiaan yang merupakan perwujudan dan
keberadaan diri manusia. Oleh karena itu, penyair membela kaum lemah, kaum
terpinggirkan, kaum susah, orang kecil, orang yang tidak berdaya, dan orang terabaikan.
Bentuk puisi yang dihasilkan adalah distichon, terzina, kuatrin, sextet, septima, oktavo,
soneta, dan puisi bebas.

A. Menelaah Pola Puisi dan Menggubahnya

Muatan isi dan pola bentuk puisi baru bersifat bebas. Muatan isinya bisa
dikembangkan dari berbagai aspek kehidupan. Pola bentuknya mengikuti isi dan

pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang. Namun begitu, sebagai wujud
apresiasi, pembaca dapat menggubah puisi dengan tetap mengikut pola yang
diciptakan pengarangnya.

Berdasarkan uraian tersebut, bacalah puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko
Damono dan penggubahannya oleh Djoko Saryono berikut ini!

Kutipan 1: Puisi Aslinya

HUJAN BULAN JUNI
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
(Dikutip dari Hujan Bulan Juni)

Kutipan 2: Gubahannya

Sapardi Djoko Damono menulis Hujan Bulan Juni begini:

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Meminjam pola di atas, seorang sarjana hukum yang senang puisi bisa menulis Hujan
Pedih Nurani begini:

tak ada yang lebih tabah
dari KPK sekarang ini
dirahasiakannya remuk dirinya
kepada ranting reformasi yang patah itu

Seorang guru bahasa lantas berkata, "Dalam masa belajar dari rumah di tengah wabah
virus korona sekarang cobalah tulis sebait sajak dengan pola Hujan Bulan Juni!". Seorang
murid lalu menulis begini:

tak ada yang lebih tabah
dari petugas medis COVID-19 kini
dirahasiakannya bahaya hidupnya
kepada langit berpohon bidara itu

Seorang murid lain, yang gemar IPS, menulis begini:

tak ada yang lebih bingung

dari awam di tengah wabah korona
dirahasiakannya kekalutan hatinya
kepada doa yang menenteramkan itu
(Dikutip dari https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1645261888961860&id
=100004341947224)

Berdasarkan uraian dan contoh tersebut, kerjakan tugas berikut1

1. Setiap kalian membuat satu bait puisi dengan pola di atas!
2. Kumpulkan bait-bait puisi hasil karya kalian!
3. Kelompokkan bait-bait puisi tersebut berdasarkan tema atau pokok masalahnya!
4. Setiap tema atau pokok masalah jadikan satu puisi!

B. Menelaah Pemadatan Susunan Kata dalam Puisi

Susunan kata dalam puisi baru sangat padat. Kata-kata hubung yang tidak
perlu dihilangkan. Untuk memahaminya, pembaca perlu merekonstruksi kata-kata
yang dihilangkan tersebut. Setelah merekonstruksi, pembaca perlu menyusun
kesatuan maknanya, bahkan mengasosiasikannya dengan objek, hal, kegiatan, atau
peristiwa lain yang dimuat dalam puisi tersebut.

Bacalah puisi berikut ini dan kerjakan pelatihan yang menyertainya!

AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
(Dikutip dari Saardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni)

Berdasarkan uraian dan contoh tersebut, kerjakan tugas berikut ini!

1. Gubahlah bait kedua puisi tersebut seperti contoh gubahan bait kesatu berikut ini!
(1) Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. (Aku ingin mencintaimu) dengan
kata yang tak sempat diucapkan (oleh) kayu kepada api yang menjadikannya
abu.
(2)

2. Setelah direkonstruksi, tampaknya puisi tersebut menggunakan gaya bahasa
perumpamaan. Jelaskan maknanya!
(1)

(2)

C. Menenlaah Bentuk Uraian dalam Puisi

Salah satu bentuk puisi baru berupa uraian. Uraian tentang objek, hal,
kegiatan, atau peristiwa disusun dalam bentuk bait. Pembaca puisi dapat
mengembalikan bentuk puisi tersebut dalam bentuk uraian.

Bacalah puisi baru berbentuk uraian berikut ini dan kerjakan tugas yang
menyertainya!

Saat Terakhir yang Disisakan Hujan

Untuk Yusri Fajar

(1) Pesawat sebenarnya tidak terlambat mendarat. Namun ini
pertengahan April, bukan saat baik menikmati sakura. Kamu
pasti beradu lari dengan angin, bahkan hujan, sebelum
langit tinggal berhiaskan ranting, sebelum mahkota gugur
menyatu pada sepatu, ditikam jejak tujuh hari

(2) mungkin saja sakura telah menguntitmu sejak dalam
mimpi. Semacam pesona surga yang tidak henti-henti
digaibkan para ulama atau pendeta. Semacam kecintaan
pada yang asing sebab di bumi sendiri segalanya terasa
biasa-biasa saja. Semacam kerinduan pada pelukan yang
diberikan tubuh kepada udara. Semacam rasa sakit yang
tak dikenali juntrung perkaranya

(3) dan ketika gerimis menyerah pada angin, hujan lalu tiba
padamu Yeudio tak bisa berjanji apa pun jua. Dipandangnya
mahkota-mahkota sakura runtuh disapu angin menjauh
dibiarkannya singgah sejenak di rambut, lalu jatuh di
ujung sepatu.

(4) “Ini sekuntum untukmu. Berpotretlah.” Kamu lalu berdiri
membelakangi sekuntum sakura yang disisakan hujan
Wajahmu masih tampak bahagia. Mungkin kamu berpikir
bunga ini memang bunga mahal. Sekuntum cukuplah sudah.
Kamera pun merekammu tanpa sakura, sebab angin diam-diam
merampoknya darimu

Seoul, 5 Mei 2015
(Dikutip dari Tengsoe Tjahyono,.2016. Kitab Puisi Tentang Korea
Meditasi Kimchi)

Berdasarkan uraian dan contoh di atas, kerjakanlah tugas berikut ini!

1. Gubahlah puisi di atas menjadi bentuk esai, seperti gubahan bait (1) berikut
ini!
Pesawat sebenarnya tidak terlambat mendarat. Namun ini pertengahan April, bukan
saat baik menikmati sakura. Kamu pasti beradu lari dengan angin, bahkan hujan.
Sebelum langit tinggal berhiaskan ranting, sebelum mahkota gugur menyatu pada
sepatu, dan ditikam jejak tujuh hari.

2. Tuliskan isi, pesan, atau makna puisi tersebut tiap baitnya!

(1)

(2)

(3)

(4)

D. Menelaah Penggunaan Gaya Bahasa dalam Puisi

Dalam menulis puisi, penyair menggunakan kiasan untuk menyampaikan
gagasan, pengalaman batin, perasaan, cita-cita, dan harapan hidupnya. Bahasa kiasan,
bahasa figuratif, atau majas digunakan untuk menggambarkan sesuatu dengan
menyamakan (mengiaskan) dengan sesuatu yang lain agar maksud lebih jelas.

Bahasa kiasan yang sering digunakan adalah personifikasi (penyamaan benda
mati dengan perilaku orang), metafora (penyerupaan), asosiasi (perumpamaan), dan

hiperbola (pelabelan berlebihan), litotes (perendahan diri), paradoks (pengontrasan),
sinekdoke (bagian pengganti keseluruhan), dan alusio (penautan tidak langsung
kepada peristiwa, tokoh, atau tempat).

Berdasarkan uraian tersebut, bacalah puisi berikut! Tentukan gaya bahasa atau
majas yang digunakan pada kata-kata yang dicetak miring-tebal! Perhatikan
contohnya!

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO personifikasi
W. S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.

Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.

Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Belah perutnya tapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan

Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.

Pada langkah pertama keduanya sama baja.

Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo

Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya

Kegiatan 3
Menggelar Musikalisasi Puisi

Menggelar musikalisasi puisi dilakukan dengan memilih puisi yang akan ditampilkan,
merancang pergelaran, menampilkan pergelaran, dan menilai pergelaran musikalisasi
puisi.

A. Menentukan Lirik Puitis

Pemilihan puisi untuk pergelaran musikalisasi puisi didasarkan keunikan puisi,
baik diksinya maupun maknanya, misalnya, penggunaan gaya bahasanya yang unik
dan menonjol.

Sebagai contoh, lirik lagu puitis yang menggunakan gaya bahasa atau majas
repetisi. Majas repetisi adalah gaya bahasa yang menggunakan pengulangan kata,
frasa, atau klausa yang sama dalam suatu kalimat atau larik puisi. Repetisi yang
paling sering digunakan adalah repetisi satuan kebahasan (kata, frasa, klausa) dan
repetisi semantis. Repetisi satuan kebahasaan merupakan pengulangan kata, frasa,
atau klausa, baik keseluruhan maupun sebagian. Repetisi makna merupakan
pengulangan muatan makna kata, misalnya, dengan mengulang kata bersinonim
Putarlah lagu “Jangan Ditanya” berikut ini! Perhatikan majas repetisi dalam lirik
lagu tersebut! Setelah itu, tentukan majas repetisinya dan tulis di tempat yang
tersedia!

JANGAN DITANYA
Jangan ditanya ke mana aku pergi
Jangan ditanya mengapa aku pergi

Usah dipaksa 'tuk menahan diri
Usah diminta 'ku bersabar hati

Putuslah rambut putus pula ikatan
Pecahlah piring hilang sudah harapan

Hati nan risau apakah sebabnya
Hati nan rindu apakah obatnya

Pandai dikau mempermainkan lidah
Menjual madu di bibir nan merah

Kubayar tunai dengan asmara
Kiranya dikau racun di lara

Jangan ditanya ke mana aku pergi
Jangan disesal aku takkan kembali

Tamatkan saja cerita nan sedih
Selamat tinggal 'ku bermohon diri

B. Memilih Puisi untuk Pergelaran Musikalisasi Puisi

Puisi untuk pergelaran musikalisasi puisi dipilih dengan kriteria berikut ini.
1. Puisi dapat dipilih dari karya para penyair atau karya sendiri.

2. Puisi berisi pesan-pesan yang dapat meningkatkan wawasan atau sikap positif
terhadap kehidupan.

3. Puisi dapat ditampilkan melalui pergelaran musikalisasi puisi dengan durasi
waktu 10-20 menit.

Berdasarkan kriteria tersebut, pilihlah puisi yang akan kalian tampilkan dalam
pergelaran musikalisasi puisi! Sebagai contoh, puisi berikut ini memenuhi kriteria
untuk ditampilkan dalam musikalisasi puisi! Bacalah puisi berikut, hayati dan
jelaskanlah maknanya!

SURAT DARI IBU
Asrul Sani

Pergi ke dunia anak-anaku sayang
pergi ke hidup bebas!
Sesama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Sesama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
Boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
"Tentang cinta dan hidupmu pagi hari"

C. Merancang Kegiatan Pergelaran Musikalisasi Puisi

Puisi yang telah dipilih untuk ditampilkan dalam pergelaran musikalisasi
puisi perlu dianalisis, dipahami, dan ditandai sesuai dengan kepentingan
musikalisasi. Keberhasilan pergelaran itu sangat ditentukan oleh pemahaman isi
puisi dan kesesuaiannya dengan unsur-unsur musik pengiringnya.

Diskusikan bersama-sama kelompokmu hal-hal berikut!

1. Jelaskan gambaran umum isi puisi yang kalian pilih dengan memahami satuan
makna dalam setiap bait!

2. Pesan-pesan apa yang harus disampaikan kepada pendengar atau penonton melalui
pembacaan puisi yang kalian pilih?

3. Bagaimana suasana yang harus diwujudkan jika puisi yang kalian pilih tersebut
dibacakan?

4. Pilihlah seorang ketua untuk mengatur persiapan pergelaran! Petugas-petugas yang
harus disiapkan, misalnya: pembaca atau tim pembaca, tim paduan suaa, tim peraga
gerak latar, dan tim pemusik.

5. Rancanglah hal-hal berikut.
a. Ketua bertugas sebagai sutradara yang memimpin seluruh anggota kelompok
untuk merancang dan melaksanakan pergelaran.
b. Tim pembaca bekerja sama dengan tim lainnya untuk berlatih membaca teks
dengan teknik pembacaan puisi.
c. Tim paduan suara bekerja sama dengan tim pemusik, merancang dan berlatih
menyanyikan lagu-lagu pengiring pembacaan puisi.
d. Tim peraga gerak latar bekerja sama dengan tim yang lain, merancang dan
berlatih melakukan peragaan gerak yang sesuai dengan tema dan irama
pembacaan puisi.
e. Setiap anggota tim dapat merangkap tugas, misalnya sebagai penata busana
atau penata panggung.
f. Beri nama kelompok kalian dengan nama penyair yang puisinya kalian pilih!

D. Menampilkan Pergelaran Musikalisasi Puisi secara Bergiliran dalam Kelas dan
Memilih Penampil Terbaik

1. Lakukan pengecekan kesiapan tim untuk menampilkan pergelaran musikalisasi puisi
2. Jika sudah, aturlah jadwal pergelaran bersama kelompok yang lainnya.
3. Agar tidak mengganggu kegiatan pembelajaran kelas lain, kegiatan ini dapat kalian

lakukan di aula atau halaman sekolah.
4. Lakukan perekaman video sebagai dokumentasi!
5. Lakukan penilaian dengan ketentuan berikut ini

a. Untuk melengkapi kegiatan ini, pilihlah kelompok penampil terbaik!
b. Tunjuklah tim penilai yang terdiri atas dua orang wakil atau utusan kelompok.
c. Tim penilai harus bekerja secara jujur dan adil.
d. Mintalah bimbingan Bapak dan Ibu Guru jika mengalami kesulitan dalam

penilaian!
e. Gunakan rambu-rambu berikut ini!

Aspek Penilaian Kelompok 8 9 10
123456 7

Vokal dan Penghayatan

(10—20)

Gaya Pembacaan

(10—20)

Kesesuaian Gerak dengan

Pembacaan
(10—20)

Kesesuaian Musik dengan

Pembacaan

(20—25)

Kreativitas Penampilan
(5—15)

Total Nilai


Click to View FlipBook Version