Pelajaran 5
Buku Fiksi dan Nonfiksi
Fokus Pembelajaran
Penguasaan kompetensi menemukan unsur-unsur; menelaah hubungan unsur-unsur; dan
membuat peta pikiran/sinopsis tentang isi buku nonfiksi/buku fiksi yang dibaca; serta
menyajikan tanggapan isi buku fiksi/nonfiksi secara lisan, tulis, dan visual.
Kegiatan 1
Membaca Biografi dan Novel serta Mengenali Perbedaannya
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra. Sebagai karya sastra, novel berisi
kisahan fiktif-imajinatif, baik pelaku, alur, maupun kejadiannya. Novel menggunakan
bahasa yang majasi, figuratif, dan hiperbolik.
Biografi merupakan salah satu karya nonfiksi. Sebagai karya nonfiksi, biografi berisi
kisahan yang faktual objektif, baik pelaku, alur, maupun kejadianya. Biografi menggunakan
bahasa yang lugas, denotatif, dan objektif.
A. Mengidentifikasi dan Mendiskusikan Fakta Fiksional Tokoh dalam Novel
Tokoh dan penokohan dalam novel bersifat fiktitf dan imajanitif. Artinya, tokoh
yang ditulis bersifat fiksi yang hanya terdapat dalam khayalan. Tokoh tersebut tidak
terdapat dalam kenyataan, meskipun sosok dan perilakunya dikembangkan dari
kenyataan
Bacalah kutipan teks kutipan novel tentang profil seorang ayah berikut ini dengan
seksama! Setelah itu, kerjakan tugas yang menyertainya!
Seorang Ayah Bernama Markoni
AYAH yang keras, begitu semua anaknya menganggap Markoni. Markoni
sadar akan hal itu, tetapi tak dapat mengubahnya. Sistem militan yang diterapkannya
di rumah adalah akibat dari penyesalan paling besar dalam hidupnya, yang tak ada
hari dilaluinya tanpa menyesalinya, yaitu tidak sempat sekolah tinggi.
Padahal, ayahnya dulu orang mampu dan pernah mengatakan sesuatu yang
semakin menambah sesak dada Markoni bahwa kalau Markoni mau sekolah,
ayahnya, Tuan Razak, yang adalah seorang Syah Bandar, bersedia membiayai
sekolahnya sampai mana pun.
“Kalau perlu menggadaikan rumah.” Terngiang-ngiang dalam telinga Markoni
kalimat itu.
Tuan Razak ingin sekali Markoni mengikuti jejaknya di bidang maritim.
Markoni dinamai begitu agar menjadi seorang markoni kapal.
“Markonis adalah orang terpandang, perwira kapal. Atasan markonis satu-
satunya hanya nahkoda,” ayahnya menyemangati Markoni.
Ayahnya berlapang hati, berbesar harapan, lantaran tahu sesungguhnya
Markoni sangat cerdas. Melihat anaknya, Tuan Razak membayangkan Manchese
Guglielmo Marconi, ilmuwan jempolan keturunan Irlandia Italia, manusia pertama
yang mampu menyeberangkan pesan tanpa kabel melintasi Samudera Atlantik. Tak
terperi jasanya bagi keselamatan kapal, bagi umat manusia.
Tuan Razak mengimpikan orang-orang memanggil anak sulungnya, Spark,
suatu panggilan keren untuk seorang radio officer, perwira radio, seperti panggilan
keren, Kep, untuk kapten kapal. Untuk itu, Markoni mesti masuk Sekolah Perwira
53
Radio Pelayaran di Tasikmalaya, aih, gagahnya. Namun, sayang seribu sayang,
Markoni memilih jalan hidup sebagai bedebah.
Baru kelas satu SMP dia sudah merokok. Lengan baju yang sudah pendek
digulung tinggi-tinggi, mending kalau lengan berotot. Potongan rambut bersurai
panjang pada bagian belakang. Mirip ekor burung bayan. Satu ciri anak bergajul.
Bolos sekolah adalah hobinya. Semua nilai yang dijunjung para pelopor pendidikan
Indonesia dikhianatinya terang-terangan pada siang bolong. Tak tahu apa yang
merasukinya, orang tua selalu dimusuhinya, pelajaran disepelekan, guru-guru
dilawan. Adalah satu keajaiban dia bisa tamat STM, jurusan Listrik.
(Dikutip dari Andrea Hirata. 2015. Ayah).
Berdasarkan penjelasan dan penggalan novel Ayah karya Andrea Herata tersebut,
kerjakanlah tugas berikut ini secara berkelompok!
1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
a. Bagaimanakah sifat tokoh Markoni sebagai ayah?
b. Bagaimana sifat tokoh Markoni sebagai siswa semasa remaja?
c. Apa yang menyebabkan penyesalan seumur hidup tokoh Markoni?
d. Bagaimana sosok tokoh Tuan Razak sebagai ayah?
e. Bagaimana impian Tuan Razak terhadap anak sulungnya?
f. Mengapa profil tokoh Markoni dan Tuan Razak dalam bacaan
tersebut tidak dapat dilacak lebih lanjut dalam dalam realitas
kehidupan?
2. Berdasarkan hasil diskusi kalian tersebut, rumuskanlah fakta fiksional tokoh novel
tersebut dalam satu paragraf dengan bahasa kalian!
B. Mengidentifikasi Fakta Objektif Tokoh dalam Biografi
Berbeda dengan novel, biografi merupakan riwayat hidup (seseorang) yang ditulis
oleh orang lain. Riwayat sesorang itu berisi fakta objektif tentang tokoh tersebut,
misalnya, identitasnya (nama, orang tua, tanggal lahir), tempat lahir, pendidikakan, dan
pandangan hidupnya.
54
Bacalah kutipan teks profil tokoh dalam biografi K.H. Abdurrahman Wahid, Presiden
ke-4 Indonesia, berikut ini dengan cermat! Setelah itu, kerjakan tugas yang menyertai
bacaan berikut!
Berasal dari Pesantren
Walaupun Gus Dur selalu merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4
Agustus, tampaknya teman-teman dan keluarganya yang menghadiri pesta perayaan
hari ulang tahunnya di Istana Bogor pada hari Jum’at 4 Agustus 2000 tak sadar
bhwa sebenarnya hari lahir Gus Dur bukanlah tanggal itu. Sebagaimana juga banyak
aspek dalam hidupnya dan juga pribadinya, ada banyak hal yang tidak seperti apa
yang terlihat. Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan.
Akan tetapi, pelu diketahui bahwa tanggal itu adalah menurut kalender Islam, yakni
bahwa Gus Dur dilahirkan pada bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam kalender
Islam. Sebenarnya, tanggal 4 Sya’ban 1940 adalah tanggal 7 September. Gus Dur
dilahirkan di Denanyar, dekat kota Jombang, Jawa Timur di rumah pesantren milik
kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri.
Pesantren adalah sekolah agama Islam yang menyediakan asrama bagi murid-
muridnya. Sebuah pesantren dipimpin oleh seorang ulama, yang di Jawa dikenal
dengan istilah kiai. Oleh karena pendekatan terhadap agama Islam yang dilakukan
oleh kalangan pesantren di Pulau Jawa pada hakikatnya bersifat tradisional dan itu
telah berlangsung selama berabad-abad lampau dan oleh karena pesantren lebih
menekankan pada sufisme maka seorang kiai sangat dihormati sebagai guru
pembimbing ruhani.
Sejak didirikannya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, sebagian besar
pesantren menjadi bagian dan jaringan longgar NU. Nahdlatul Ulama yang berarti
‘kebangkitan para ulama’, adalah organisasi Islam tradisional yang terkuat, baik di
Jawa sendiri maupun di luar Jawa tempat orang-orang Jawa bermukim, seperti
Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Kekuatan terbesar NU terletak di Jawa
Timur, khususnya kota Jombang, yang merupakan kota kelahiran keluarga Gus Dur,
baik dari pihak ayah maupun ibu.
(Dikutip dari Greg Barton. 2002. Biografi Gus Dur: The Athorized Biography of
Abdurrahman Wahid).
Berdasarkan penjelasan dan penggalan biografi K.H. Abdurrahman Wahid tersebut,
kerjakanlah tugas berikut ini secara berkelompok!!
1. Tuliskan fakta objektif tokoh berdasarkan bacaan bacaan di atas!
Nama Tokoh :
Tempat lahir :
Tanggal lahir :
Ulang tahun :
Organisasi sosial :
keagaman :
Latar pesantren
2. Lengkapilah biografi tokoh tersebut berdasarkan bacaan biografinya dari
55
a. buku-buku biografi tokoh tersebut, antara lain, Greg Barton. 2002. Biografi Gus
Dur: The Athorized Biography of Abdurrahman Wahid;
b. tulisan-tulisan lepas yang ditulis oleh sahabat-sahabat dekat tokoh; dan
c. tulisan biografi tokoh yang diunggah di internet.
C. Mengenali Peristiwa Fiksional dalam Novel
Sebagaimana profil tokoh dalam novel, peristiwa, kejadian, latar tempat, dan
latar waktu dalam novel bersifat fiksi dan imajinatif. Artinya, peristiwa, kejadian, latar
tempat, dan latar waktu dalam novel tidak terjadi, tidak pernah ada, dan tidak bisa
dilacak jejak-jejak faktualnya. Peristiwa, kejadian, latar tempat, dan latar waktu dalam
novel merupakan karya kreatif-imajinatif pengarangnya.
Bacalah kutipan teks tentang peristiwa imajanatif dalam novel berikut ini dengan
cermat! Setelah itu, kerjakan tugas yang menyertai bacaan berikut!
....
Karena merasa menemukan jalan buntu, Pambudi mulai berpikir untuk mencari
pekerjaan lain. Dan keputusannya untuk meninggalkan pekerjaannya yang lama datang
dua bulan kemudian. Seorang perempuan datang menemui Pambudi. Ia mengajukan
permohonan agar diberi pinjaman padi. Mula-mula perempuan itu tidak menyebutkan
tujuan peminjaman padi itu sebelum Pambudi bertanya.
“Untuk apa padimu nanti, Mbok?”
“Akan kujual. Uangnya akan kupergunakan untuk berobat. Lihatlah, leherku
membengkak. Sakit sekali rasanya.” Mbok Ralem, demikian nama perempuan itu,
memperlihatkan lehernya yang menggembung seperti leher ular koros.
“Berapa luas sawah yang kaugarap, Mbok?”
“Oalah Nak, aku tak mempunyai sawah sedikit pun. Biasanya aku menggarap
sawah tetangga. Tetapi musim ini tidak. Aku tidak menggarap sawah.”
“Kalau begitu kau takkan mendapat pinjaman lebih dari 25 kilo. Apakah jumlah
itu cukup?”
“Pasti tidak cukup, Nak, sebab kata Pak Mantri, aku harus berobat ke Yogya.”
“Aku tidak dapat memutuskannya kalau begitu. Mari kuantar menghadap Pak
Lurah.”
Ternyata, Pak Dirga belum ada di kantornya. Sambil menunggu kedatangan
Kepala Desa Tanggir itu, Pambudi dan Mbok Ralem duduk di sebuah bangku panjang.
Perempuan itu bercerita bahwa ia sudah tiga kali berobat kepada dukun dan sekali
kepada seorang mantri kesehaatan.
“Aku ingin segera sembuh, Nak. Leherku makin lama makin tercekik rasanya.”
“Ya, aku mengerti. Kukira kau memerlukan biaya yang agak banyak, sebab
untuk ongkos perjalanan ke Yogya saja tidak akan cukup dengan uang dua-tiga ribu
rupiah.”
“Memang demikian, Nak. Seandainya masih ada sesuatu yang dapat kujual,
pasti aku takkan meminjam padi di sini. Aku takut nanti tak mampu
mengembalikannya.”
....
(Ahmad Tohari. 2015. Di Kaki Bukit Cibalak)
Berdasarkan penjelasan dan penggalan novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad
Tohari tersebut, kerjakanlah tugas berikut ini secara berkelompok!
1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan penggalan novel Di Kaki
Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari tersebut!
56
a. Bagaimanakah sifat tokoh Pambudi?
b. Bagaimana sifat tokoh Mbok Ralem?
c. Peristiwa apa yang terjadi antara tokoh Pambudi dan Mbok Ralem?
d. Mengapa peristiwa, kegiatan, latar tempat, dan latar waktu dalam bacaan
tersebut tidak dapat dilacak lebih lanjut dalam dalam realitas kehidupan?
2. Berdasarkan hasil diskusi kalian tersebut, rumuskanlah peristiwa fiksional tokoh
novel tersebut dalam satu paragraf dengan bahasa kalian!
D. Mengenali Peristiwa Objektif dalam Biografi
Sebagaimana fakta objektif profil tokoh dalam biografi, peristiwa, kejadian, latar
tempat, dan latar waktu dalam biografi bersifat faktual objektif. Artinya, peristiwa,
kejadian, latar tempat, dan latar waktu dalam biografi memang pernah terjadi, pernah
ada, bahkan bisa jadi sampai sekarang masih ada. Jejak-jejaknya pun masih bisa
ditelusuri keberadaannya, misalnya, pemikiran yang tertulis dalam bukunya, jabatan
yang pernah diemban diabadikan di kantornya, dan barang peninggalannya disimpan
dalam museum.
Bacalah kutipan teks tentang peristiwa objektif dalam biografi Sarwo Edhie Wibowo
berikut ini dengan cermat! Setelah itu, kerjakan tugas yang menyertai bacaan berikut!
Menaklukkan Sungai Bogowonto
Air sungai Bogowonto mengalir deras. Bunyinya bergemuruh menyiutkan
nyali. Di beberapa bagian tampak arus sungai itu berputar di antara batu-batu besar.
Wah, makin menakutkan saja. Tapi anak-anak desar Pangen Juru Tengah yang berada
di tepi sungai itu tidak tampak takut sama sekali. Mereka tertawa-tawa riang sambil
melepas baju dan celana. Mereka mau berenang di sungai berarus deras itu.
Hanya seorang anak yang tampaknya tidak tertarik untuk ikut berenang. Ia
melihat saja teman-temannya sibuk mencopot pakaian. Anak berwajah tampan itu
bernama Edhi. Ia ikut senang melihat teman-temannya gembira.
Kelima anak di tepai sungai itu melompat bergantian ke sungai. Mereka
berteriak setiap kali tubuh mereka masuk ke air. Dalam sekejap, arus sungai
mengubur kelima tubuh kecil itu.
Di tepi sungai, Edhi kelihatan tegang. Ia melongok ke tempat teman-temannya
tadi jatuh. Anak-anak itu tetap tidak kelihatan. Tenggelamkah mereka? Edhie mulai
cemas. Bagaimana kalau teman-temannya itu terseret arus sungai?
Edhie berjalan mendekati tepi sungai. Ia berjongkok dan berusaha mencari
teman-temannya. Kepalanya didekatkan ke sungai. Edhie memanggil-manggil nama
57
teman-temannya. Tidak ada sahutan. Hanya bunyi arus sungai bergemuruh saja yang
terdengar. Edhie semakin mencemaskan nasib teman-temannya.
Tiba-tiba ....
“Waaaa!”
Teriakan tiba-tiba itu diikuti munculnya kelima anak-anak itu tepat di depan
wajah Edhie. Tentu saja Edhie kaget bukan main. Ia sempat terjengkang ke belakang.
Kelima anak itu tertawa-tawa melihat kekagetan Edhie.
Edhie berlagak marah. Wajahnya disetel cemberut. Matanya melotot, menatap
kelima temannya yang jahil.
Tapi anak-anak yang ada di tengah sungai malah tertawa lebih keras lagi.
Mereka tahu Edhie tidak pernah marah. Saat marah bohongan begitu, wajah Edhie
tampak lucu.
Edhie pun ikut tertawa. Percuma juga berlagak marah kalau teman-temannya
tidak percaya. Dengan gemas, Edhie melempari teman-temannya dengan bongkahan-
bongkahan tanah yang ada di sekitarnya.
(Bahrudin Supardi. 2012. Biografi Sarwo Edhie Wibowo: Kebenaran di Atas Jalan Tuhan).
Berdasarkan penjelasan dan penggalan Biografi Sarwo Edhie Wibowo: Kebenaran di
Atas Jalan Tuhan tersebut, kerjakanlah tugas berikut!
1. Berdasarkan bacaan tersebut, gambarkanlah realitas tokoh yang pernah terjadi tentang
tiga hal berikut ini.
a. Nama dan sifat tokoh
b. Tempat bermain tokoh
c. Jenis permainan tokoh
2. Periswa yang pernah dialami dan kegiatan yang pernah dilakukan oleh tokoh dalam
biografi dapat dilacak dari berbagai sumber, baik sumber cetak kertas maupun cetak
digital, sebagaimana tampak pada contoh berikut ini.
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo (lahir di Desa Pangen
Juru Tengah, Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925 – meninggal
di Jakarta, 9 November 1989 pada umur 64 tahun) adalah seorang tokoh
militer Indonesia. Ia adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu negara
Republik Indonesia, yang merupakan istri dari Presiden ke-6 Republik
Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga ayah dari
mantan KSAD, Pramono Edhie Wibowo. Ia memiliki peran yang sangat
besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dalam
posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini).
Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar
Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.
Berdasarkan contoh di atas, gambarkanlah peristiwa yang pernah dialami dan
kegiatan yang pernah dilakukan oleh tokoh yang kalian idolakan! Tulisalah dalam
1—3 paragaf profil tokoh!
58
a. Identitas tokoh
b. Peristiwa penting (1)
c. Peristiwa penting (2)
Kegiatan 2
Menelaah Penggunaan Kalimat Efektif dan Gaya Bahasa dalam Karya
Fiksi dan Nonfiksi
Keefektifan kalimat, keakuratan penggunaan makna, dan ketepatan penggunaan gaya bahasa
sangat diperlukan dalam menulis. Keefektifan kalimat, antara lain, ditandai oleh kepaduan
dan kesetaraan kalimat. Keakuratan makna kalimat dapat diperoleh dengan penggunaan kata
bermakna denotatif dan konotatif secara akurat. Ketepatan penggunaan gaya bahasa sangat
bergantung pada genre tulisan dan konteks kalimatnya.
A. Menelaah Kepaduan Kalimat
Kepaduan kalimat didasarkan hubungan yang erat antara subjek dan predikat
kalimat. Untuk itu, di antara subjek dan predikat kalimat diupayakan tidak disela atau
disisipi unsur lain. Pada umumnya, unsur yang diselakan adalah keterangan kalimat.
Kalimat menjadi padu jika fungsi keterangan kalimat diletakkan di awal atau di akhir
kalimat. Jika terletak di awal kalimat, sebelum subjek diberi pemisah dengan tanda baca
koma (,).
Perhatikanlah contoh berikut ini!
1. Rara membaca buku di perpustakaan sekolah. (Kalimat padu)
2. Di perpustakaan sekolah, Rara membaca buku. (Kalimat padu)
3. Rara di perpustakaan sekolah membaca buku. (Kalimat tidak padu)
Dalam kalimat tersebut, Rara (Subjek), membaca (Predikat), buku (Objek), di
perputakaan sekolah (Keterangan). Kalimat nomor 1 dan 2 merupakan kalimat padu
karena Subjek dan Predikat kalimat erat tidak disela unsur lain. Adapun kalimat nomor
3 tidak padu karena antara Subjek dan Predikat disela oleh unsur keterangan.
Perbaikilah kalimat tidak padu berikut ini menjadi kalimat padu! Tulislah perbaikan
kalian di tempat kosong yang telah disediakan!
59
1. Pambudi sebagai orang yang jujur ingin memajukan desanya melalui koperasi
lumbung desa.
2. Mbok Ralem janda miskin yang terserang sakit di lehernya akan meminjam padi
untuk mengobati sakitnya.
3. Dirga dengan sombong dan congkakya tidak menyetujui usul Pambudi bahkan
menagih pinjaman Mbok Ralem beberapa waktu yang lalu yang belum dibayar
4. Poyo pemuda yang mau jadi kaki tangan Dirga membuat pembukuan yang
dimanipulasi.
5. Lurah Dirga sepulang Pambudi dari Yogya mencari jalan untuk mencelakakan
Pambudi. Pambudi setelah kejadian yang membuat mundur jadi pengurus koperasi
pergi ke Yogya untuk kuliah
B. Menelaah Kesetaraan Kata dalam Kalimat
Pada umumnya, dalam kalimat majemuk atau kalimat luas, suatu fungsi kalimat
dapat terdiri atas beberapa kata atau kelompok kata inti. Kelompok kata itu harus setara.
Kesetaraan itu ditandai oleh kesamaan jenis dan kesamaan bentuk kata inti, misalnya,
satu fungsi itu itu harus diisi oleh kelompok kata inti harus berkelas benda semua, kata
kerja semua, dan kata sifat semua. Demikian juga, bentuk katanya, misalnya, bentuk
yang menyatakan proses semua, hal semua, atau keadaan semua.
1. a. Rida mengambil batu dan dilempar ke danau. Bentuk kata kerja tidak
setara
b. Rida mengambil batu dan melempar ke danau. Bentuk kata kerja setara
2. a. Prosedur pengiriman berkas resmi meliputi kegiatan Jenis kata tidak sekelas,
pengepakan dokumen, pencatatan identitas tujuan, bentuk tidak setara
mengirim ke agen, dan menerima tanda bukti
pengiriman
b. Prosedur pengiriman berkas resmi meliputi kegiatan Jenis dan bentuk kata setara
pengepakan dokumen, pencatatan identitas tujuan,
pengiriman ke agen, dan penerimaan tanda bukti
pengiriman
60
c. Prosedur pengiriman berkas resmi meliputi kegiatan Jenis dan bentuk kata setara
mengirim dokumen, mencatat identitas tujuan,
mengirim ke agen, dan menerima tanda bukti
pengiriman
Perbaikilah penggunaan kata tidak setara dalam kalimatberikut ini! Tulislah perbaikan
kalian di tempat kosong yang telah disediakan!
1. Mereka telah mendatangi tempat perkemahan dan dibagikan kue ke peserta
kemah.
2. Tenaga medis telah mengorbankan segala yang mereka miliki, antara lain,
mereka kehilangan waktu bertemu keluarga dan tidak punya waktu istirahat.
3. Peralatan harus dibawa semua, tetapi harus bersih, steril, berbentuk polos, dan
berwarna cerah.
4. Sekolah kita telah melaksanakan program penghijauan halaman, kesehatan
lingkungan, dan merehabilitasi tempat kumuh.
5. Keberhasilan itu diperoleh dengan keuletan, kegigihan, sabar, dan peduli.
C. Menelaah Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Teks nonfiksi memaparkan dan menjelaskan objek, peristiwa, atau hal secara
objektif, lugas, dan jelas. Untuk tujuan itu, bahasa yang digunakan harus memiliki makna
yang sebenarnya dan mengacu langsung pada objek, peristiwa, atau hal yang dibahas.
Dengan kata lain, maknanya adalah makna denotatif atau lugas.
Dalam tulisan nonfiksi, penulis harus berhati-hati dan cermat dalam penggunaan
makna yang tidak langsung yang ditimbulkan oleh makna tambahan terhadap makna
dasarnya, baik berupa nilai, rasa, atau gambaran tertentu. Makna tambahan atas makna
dasar tersebut lazim disebut sebagai makna konotatif, baik konotasi positif maupun
konotasi negatif.
Kata yang dicetak miring pada contoh 1 berikut bermakna denotatif, sedangkan
pada nomor 2 bermakna konotatif.
1. Saat pandemi Covid-19 ini, setiap datang ke rumah harus cuci tangan.
2. Saat anak buah berbuat salah, atasannya selalu cuci tangan dari tanggung jawabnya.
Berdasarkan uraian dan contoh tersebut, kerjakanlah tugas berikut ini!
1. Kata yang dicetak miring dalam kalimat berikut bermakna denotatif. Gunakan kata
tersebut dalam kalimat lain dengan makna konotatif. Jelaskan makna denotatif dan
makna konotatif dalam kalimat-kalimat tersebut!
a. Baju merah harus dijahit dengan benang
merah agar serasi.
b. Karang taruna itu rajin sekali, mereka menggulung
tikar setiap acara usai warga RT ini.
61
c. Kelompok pemuda itu membantu pengembangan
peternakan sapi perah warga sini.
d. Masakannya menyehatkan yang ditandai adanya
bau kencur saat dihidangkan.
e. Posisi badan tidak tepat, saat ini tulang
punggungku terasa sakit, mungkin terklir.
f. Setiap peserta diskusi mengangkat tangan
sebelum mengajukan pertanyaan.
2. Kata yang dicetak miring dalam kalimat berikut bermakna konotatif. Gunakan kata
terebut dalam kalimat lain dengan makna denotatif. Jelaskan makna konotatif dan
makna denotatif dalam kalimat-kalimat tersebut!
a. Kejujuran pegawai itu menyebabkan dia sebagai
tangan kanan pimpinannya.
b. Perkara yang melibatkan keluarga itu sayang
sekali harus dibawa ke meja hijau.
c. Rasa syukur kurang tertanam di hatinya sehingga
artis muda itu lupa daratan.
d. Si tangan panjang merupakan sebutan yang
diberikan masyarakat sekitar terhadap begundal
itu.
e. Bawahan tidak nyaman saat dijadikan kambing
hitam oleh atasannya.
f. Tutur kata anak itu membuat temannya makan
hati yang berakibat dia kurang teman bergaul.
62
D. Menelaah Penggunaan Majas Perbandingan, Majas Pertentangan, dan Pertautan
Dalam karya fiksi banyak digunakan majas, yakni cara melukiskan sesuatu dengan
jalan menyamakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain. Dengan kata lain, majas itu
mengiaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Berdasarkan teknik penyamaan atau
pengiasannya, majas dibedakan atas majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas
pertautan.
Majas perbandingan merupakan pelukisan objek dengan pembandingan
(penyamaan, pelebihan, atau penggantian) suatu objek dengan objek yang lainnya,
misalnya, personifikasi (penyamaan benda mati dengan perilaku orang), metafora
(penyerupaan), asosiasi (perumpamaan), dan hiperbola (pelabelan berlebihan).
Majas pertentangan merupakan pelukisan hal dengan menyatakan maksud
sebaliknya, misalnya, litotes (perendahan diri), paradoks (pengontrasan), dan antitesis
(pemasangan antonimi).
Majas pertautan merupakan pelukisan hal dengan dengan menautkan dengan
sebagian atau keseluruhan benda atau peristiwa, misalnya, metonimia (penatuan dengan
orang, benda, hal), sinekdoke (bagian pengganti keseluruhan), dan alusio (penautan tidak
langsung kepada peristiwa, tokoh, atau tempat).
Lingkarilah huruf Ba jika pernyataan di bawah ini merupakan majas perbandingan,
lingkarilah huruf Te jika majas pertentangan, dan lingkarilah huruf Ta jika merupakan
majas pertautan!
1. Besar kecil tidak masalah, yang penting buahnya manis. Ba Te Ta
2. Cukup satu kepala sebagai penyampai putusan rapat ini. Ba Te Ta
3. Dia menangis sampai air matanya habis setelah HP-nya hilang. Ba Te Ta
4. Dua ekor ayam cukup untuk makan-makan kita siang nanti Ba Te Ta
5. Jejak pemikiran tampak buah pena yang dihasilkannya Ba Te Ta
6. Keberhasilan ini merupakan realisasi dari buah pikiran kita semua. Ba Te Ta
7. Kerja siang malam sampai kakiku terasa mau lepas. Ba Te Ta
8. Laptopku mogok setelah dipakai berhari-hari. Ba Te Ta
9. Pohonan tampak bersedih di musim kemarau panjang ini Ba Te Ta
10. Silakan menikmati makanan seadanya ini. Ba Te Ta
11. Tinggi rendah nilai kita bergantung perilaku kita. Ba Te Ta
12. Yang ada hanya pondok sederhana ini untuk eman-teman. Ba Te Ta
Kegiatan 3
Menulis Tanggapan Buku Fiksi dan Nonfiksi
Menulis tanggapan buku fiksi dapat bertitiktolak dari unsur-unsur fiksi, misalnya,
tokoh dan penokohan, alur, latar, tema, dan nilai-nilai yang dalam novel. Menulis tanggapan
buku nonfiksi, misalnya, biografi dapat bertitiktolak dari unsur-unsur biografi, misalnya,
ketokohan, rangkaian peristiwa, kehidupan tokoh, dan perkembangan pemikiran dan karya-
karyanya.
A. Mengidentifikasi Penokohan dan Peristiwa dalam Novel
63
Menulis tanggapan penokohan dalam novel berarti mengungkap dan mengulas
proses kreatif fiktif-imajinatif dalam menghadirkan tokoh novel. Proses kreatif yang
dilakukan adalah menciptakan atau menghadirkan tokoh fiktif. Tokoh yang diciptakan
atau dihadirkan bisa didasarkan pada pengamalan diri sendiri atau orang lain. Realitas
pengalaman kehidupan yang pernah atau sedang dihadapi penulis diungkapkan secara
imajinatif dan mewadahinya menjadi tokoh dan peristiwa khayal.
Bacalah penggalan novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari berikut ini. Setelah
itu, kerjakan tugas yang menyertainya!
....
Setelah Pak Dirga datang, Pambudi membawa tamuya masuk ke kamar kerja
Kepala Desa. Dengan suara lirih dan gemetar, Mbok Ralem mengutarakan
maksudnya kepada Pak Dirga. Selama berbicara perempuan itu tidak sekalipun
menatap wajah lurahnya. Pak Dirga tidak segera memberi jawaban. Ia hanya melihat
sepintas saja pada leher Mbok Ralem. Kemudian dengan pandangan mata lurus Pak
Dirga berkata, “Mbok Ralem, sebenarnya seorang seperti kamu tidak bisa mendapat
pinjaman. Aku tahu, banyak peminjam yang mengembalikan pinjamannya saja tidak
dapat, apalagi bunganya. Jawablah sekarang dengan jujur, “Apakah dulu kau pernah
meminjam padi dari lumbung?”
Wajah Mbok Ralem pucat mendadak. Betul, dua tahun yang lalu ia meminjam
sepuluh kilo padi dari lumbung. Dua panenan berikutnya hama wereng memusnahkan
padinya selagi masih hijau. Jadi ia tidak bisa mengumpulkan bawon. Jangankan untuk
mengembalikan pinjaman, untuk makan bersama dua orang anaknya saja sudah tidak
ada. Perempuan itu terkejut ketika Pak Dirga mengulangi pertanyaannya. Dengan
suara yang bergumam di tenggorokan Mbok Ralem mengakui dakwaan lurahnya.
“Pambudi!” kata Pak Dirga. “Hitung sekarang berapa pinjaman perempuan ini
berikut bunganya sekarang.”
“Dua puluh tujuh setengah kilo,” jawab Pambudi dengan suara setengah
tertahan.
“Nah, itu. Utangmu dua tahun yang lalu belum bisa kaubayar kembali.
Sekarang kau mau pinjam lagi, bagaimana?”
Mbok Ralem meremas-remas jarinya sendiri. Benjolan di lehernya terasa
menggigit. Bibirnya gemetar mau berbicara, tetapi tidak sepatah kata pun berhasil
diucapkannya. Sebagai gantinya air matanya mengalir dengan deras. Kemudian Mbok
Ralem bangkit karena merasa tidak mampu lagi berkata walau hanya sepatah. Apalagi
kalau ia teringat kepada dua anaknya yang ditinggal di rumah, yang disuruh menjaga
ubi yang sedang direbus dalam kuali. Sebenarnya sebelum berjalan Mbok Ralem
memandang kepada Pambudi. Sebuah batu besar terasa jatuh menimpa anak muda itu.
Pandangan mata Mbok Ralem, pandangan seorang perempuan Tanggir yang takkan
dapat diucapakan oleh Pambudi sepanjang hidupnya. Mata orang yang tidak berdaya.
Mata yang cekung, merah, dan basah. Pandangan yang mewakili kegetiran yang
mutlak, yang akan menarik hati nurani siapa pun dari persembunyiannya.
“Nanti dulu, Pak. Jadi orang ini tidak akan diberi kesempatan untuk berobat ke
Yogya?” kata Pambudi seraya bangkit dari duduknya.
“Lho ... kenapa kau bertanya begitu? Sudah lama kau mengurus lumbung,
bukan? Tentu kau sudah hafal kententuan-ketentuan yang harus ditaati oleh seorang
peminjam bukan? Mbok Ralem tidak menggarap sawah sedikit pun. Mbok Ralem
bahkan masih menangguhkan utangnya. Tapi baiklah, beri ia pinjaman dua puluh
kilo. Dengan hanya bertindak demikian sesungguhnya aku telah menempuh risiko.”
64
“Padi sejumlah itu takkan ada artinya untuk perawatan penyakit yang diderita
Mbok Ralem. Saya mempunyai sebuah usul, Pak.”
“Cepat katakan!”
“Sepantasnya Mbok Ralem diperlakukan secara khusus. Ia sakit. Wajarlah bila
ia diberi pinjaman sebesar yang ia perlukan untuk biaya penyembuhan penyakitnya
itu. Apa artinya ia diberi pinjaman bila jumlahnya tidak cukup sehingga penyakitnya
tidak diapa-apakan?”
“Perihal sakitnya, itu terserah kepadanya dan kepada sanak familinya. Atau ia
dapat mengajukan permohonan bantuan kepada kas Lembaga Sosial Desa. Aku ketua
lembaga itu, dan tahu benar kasnya melompong.”
“Ya Pak, tapi maaf. Saya mengingatkan Bapak akan sebuah pasal dalam
peraturan perlumbungan. Bahwa sepertiga keuntungan lumbung koperasi tersedia
bagi pengeluaran-pengeluaran darurat yang harus dipikul oleh desa, seperti bila ada
bencana banjir, kebakaran, dan sebagainya. Bagaimana bila Mbok Ralem kita beri
uang berobat dari dana darurat itu. Saya tahu, dana itu ada dan pasti cukup.”
“Dengar. Apa yang terjadi pada Mbok Ralem adalah sakit. Bukan bencana
banjir, bukan bencana kebakaran. Pokoknya aku tidak bisa memberi pinjaman sebesar
yang ia perlukan. Apalagi dana darurat yang kau maksud itu harus kita berikan cuma-
cuma. Tidak mungkin. Aku telah mempunyai rencana besar yang pelaksanaannya
akan dibiayai dengan dana darurat itu.”
“Apa lagi rencana Bapak itu?”
“Kau tidak perlu tahu! Oh, maksudku kau belum saatnya kuberitahu.”
“Kali ini saya harus tahu. Soalnya, saya ingin tahu, penting mana rencana
Bapak itu dengan keharusan menolong Mbok Ralem. Maaf, Pak, sesungguhnya saya
merasa masygul. Untuk membiayai pelantikan Bapak beberapa bulan yang lalu, kas
dana darurat susut 125.000 rupiah. Sebaliknya Bapak tidak merelakan sedikit pun
uang dana darurat itu untuk menolong Mbok Ralem. Sekarang katakan terus terang,
apalagi rencana Bapak dengan uang milik bersama itu?”
Pak Dirga menyembunyikan kagetnya dengan cepat-cepat menyalakan rokok.
Ia tidak mengira akan dikejar dengan pertanyaan yang menyelidik seperti itu.
Memang ia telah menyuruh Poyo mengeluarkan uang dari kas dana darurat untuk
pergelaran wayang kulit dengan dalang yang dipesan sendiri oleh Bu Camat. Tarifnya
bukan main. Untuk membeli rokok yang disuguhkan kepada tamu saja Pak Dirga
harus membayar 30.000 rupiah. Tadinya ia akan menyerah, kalau kas dana darurat
tidak boleh dibobolnya. Dan si Pambudi ini, bocah nakal yang sangat berbeda dengan
Poyo. Apa maunya? Oh, tetapi Pak Dirga merasa pasti, ia dapat menjinakkan hati
anak yang masih ingusan seperti Pambudi ini. Maka ia segera mengendurkan urat-
urat di wajahnya. Seyumnya terkembang, ramah tetapi jelas licik.
....
(Dikutip dari Ahmad Tohari. 2015. Di Kaki Bukit Cibalak)
Lengkapilah pernyataan rumpang berikut sesuai dengan teks di atas!
1. Tokoh Pambudi dapat digambarkan sebagai pribadi yang
2. Tokoh Dirga dapat digambarkan sebagai pribadi yang
3. Tokoh Ralem dapat digambarkan sebagai pribadi yang
65
4. Gambaran tokoh-tokoh tersebut diperoleh berdasarkan situasi masyarakat
yang
5. Gambaran tokoh-tokoh tersebut diciptakan berdasarkan pertentangan sifat
manusia yang
6. Gambaran tokoh-tokoh tersebut didasarkan pada hasrat perilaku manusia yang
B. Mengidentifikasi Ketokohan dan Peristiwa dalam Biografi
Menulis tanggapan ketokohan dalam biografi berarti menulis hal-hal yang
berhubungan fakta-fakta tokoh dalam biografi. Fakta-fakta tokoh itu merupakan
karakteristik ketokohannya, misalnya, kegigihannya, keuletannya, ketangguhannya,
karyanya, dan jejak peninggalannya. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, pembaca dapat
mengambil hikmah dan nilai dari keteladanan tokoh tersebut.
Bacalah kutipan biografi K.H. Hasyim Asy’ari berikut. Setelah itu, kerjakanlah pelatihan
yang menyertainya!
Pesantren di Sarang Penyamun
Desa Tebuireng sebelumnya merupakan kawasan maksiat. Hasyim Asy’ari
masuk dan mendirikan pondok pesantren dengan hanya dua murid.
Tekad Hasyim Asy’ari sudah bulat. Ia akan membangun pondok pesantrennya
sendiri. Setelah berzikir dan berdoa, ia pun memilih kawasan Tebuireng, Jombang,
untuk mewujudkan cita-citanya itu. Pada tahun 1899—saat itu umurnya 28 tahun—
Hasyim memboyong keluarganya, pindah dari Nggendang, Jombang, tempatnya
selama ini bermukim, menuju Tebuireng.
Niat ini awalnya ditentang semua saudara dan teman-teman dekatnya. Bahkan
ia diejek dan ditertawai kiai-kiai lain. Mereka tahu Tebuireng adalah daerah yang
berbahaya dan tanpa agama. Orang menyebut Desa Tebuireng sebagai desa tanpa
perikemanusiaan. Penduduk di sana punya hobi merampok dan lokasi pelacuran
bertebaran di sepanjang jalan. “Menyiarkan agama Islam ini artinya memperbaiki
manusia,” kata Hasyim kepada yang menentangnya kala itu.
Desa Tebuireng menjadi kawasan “jahiliah” karena ada pabrik gula warisan
Belanda. Para buruhnya tinggal di sekitar pabrik. Mereka gemar berjudi, hura-hura
di pasar malam, dan keluar masuk tempat pelacuran yang tumbuh subur. Penyamun
juga berdatangan ke tempat ini, menyatroni para buruh berkantong tebal atau
memalak mereka yang keluar-masuk tempat pelacuran.
Hasyim muda tetap nekat. Ia mendirikan pondok yang hanya terletak sekitar
seratus meter di seberang pabrik. Awalnya ia mendirikan sebuah pondok beratap
rumbia. Hanya berukuran 6 X 8 meter persegi, pondok itu terbagi atas dua ruangan.
Hanya dua santri yang berguru di situ pada mulanya. Beberapa bulan kemudian,
jumlah santri bertambah jadi 28 orang.
66
Meski lumayan banyak, para santri itu tidak bisa hidup tenang. Selama dua
tahun pertama, mereka tidur berdesakan di dalam bilik-bilik dan tidak berani
merapatkan tubuh ke dinding yang terbuat dari gedek (anyaman bambu). Saat itu
sering terjadi “perang kecil” antara santri dan penduduk yang tidak suka kepada
mereka. Para penduduk, terutama di malam hari, sering menyerang mereka dengan
menusukkan tombak dan parang dari balik dinding. “Para begundal saat itu ganas
sekali,” kata Imam Tauhid, 87 tahun, salah satu pelayan Kiai Hasyim yang kini
masih hidup, kepada Tempo. Imam kini bermukim di Dusun Balongjambe, Pare
Kediri.
Perlahan-lahan, perang ini dimenangi Hasyim dengan para santrinya. Menurut
Imam, satu per satu perampok itu angkat kaki. Lokasi pelacuran dan judi pun
mereka gusur. Pesantren Tebuireng mulai kebajiran santri hingga mencapai 200
orang. Pada 6 Februari 1906, pesantren ini mendapat pengakuan dan pemerintah
Hindia Belanda.
Pada zaman revolusi, Pesantren Tebuireng pernah diserbu Belanda karena
dianggap membangkang. Mahmad Baedlowi, salah satu cucu Hasyim bercerita
kepada Tempo, pesantren itu sempat berkali-kali diserang tentara Belanda. Keluarga
Hasyim dan para santri terpaksa mengungsi. Belanda bahkan pernah membangun
markas tentaranya di sisi utara pesantren. Kendati pesantren dibombardir pasukan
Belanda, bisa dibilang mortir-mortir Belanda tidak pernah mengenainya. “Bom
mereka selalu meleset dan hanya meledak di sekitar pesantren,” kata pria 73 tahun
itu.
Setelah seabad lebih tumbuh, Pesantren Tebuireng kini berkembang pesat.
Tebuireng menjadi pelopor pesantren modern. Pesantren yang kini berdiri di atas
lahan 12 hektare itu terbagi atas tiga kompleks bangunan yang berdekatan: asrama
putra-putri, gedung SMP dan SMA, serta sebuah universitas. Jumlah santrinya kini
sekitar 1500 orang.
Akhir Maret 2011, saat Tempo mengunjungi Tebuireng, terlihat pesantren
legendaris itu tengah dibenahi. Sejumlah gedung dipugar. Menurut Salahuddin
Wahid, salah satu putra Wahid Hasyim yang memimpin pesantren itu, bangunan asli
pesantren tetap dipertahankan. Salah satu bangunan yang berkali-kali direnovasi tapi
tetap dipertahankan. Salah satu bangunan yang berkali-kali direnovasi tapi tetap
dipertahankan bentuknya adalah masjid yang dibangun Hasyim Asy’ari. “Kami
ingin pesantren terus berdiri hingga kiamat nanti,” kata kiai yang biasa disapa Gus
Solah itu.
(Dikutip dari Seri Buku Tempo. 2011. Wahid Hasyim: untuk Republik dari Tebuireng)
Lengkapilah pernyataan rumpang berikut sesuai dengan teks di atas!
1. Kondisi desa sebelum didirikan pondok pesantren adalah
2. Pemikiran tokoh perlunya pendirian pondok pesantren di desa itu adalah
3. Pandangan tokoh lain atas pemikiran tokoh adalah
4. Sifat ketokohan pelaku yang bisa diteladani adalah
67
5. Jejak peninggalan ketokohan berupa
6. Perkembangan jejak peninggalan tokoh sampai saat ini adalah
C. Menulis dan Menyunting Tanggapan Penokohan dalam Novel
1. Bacalah lebih lanjut novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari tersebut atau
bacalah sebuah novel yang diunggah di internet!
2. Idenfikasi penokohan dan peristiwanya!
3. Berilah ulasan berdasarkan kriteria proses kreatif fiktif-imajantif dalam penciptaan
tokoh dan peristiwa dalam novel tersebut!
4. Tukarkanlah hasil tulisan kalian dengan salah satu karya teman kemudian kalian
saling mengoreksi dan memberi masukan!
5. Suntinglah tulisan tanggapan tersebut berdasarkan masukan teman-teman kalian!
D. Menulis dan Menyunting Tanggapan Ketokohan dalam Biografi
1. Bacalah lebih lanjut buku biografi Wahid Hasyim: untuk Republik dari Tebuireng
tersebut atau baca sebuah buku biografi pilihan kalian!
2. Idenfikasilah ketokohan dan peristiwanya!
3. Berilah ulasan berdasarkan kriteria perjalanan hidup tohoh dan kesejarahan peristiwa
dalam buku biografi tersebut!
4. Tukarkanlah hasil tulisan kalian dengan salah satu karya teman kemudian kalian
saling mengoreksi dan memberi masukan!
5. Suntinglah tulisan tanggapan tersebut berdasarkan masukan teman-teman kalian!
68