The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nanakhadafi95, 2022-10-23 10:43:21

RESUME KB 3

RESUME KB 3

RESUME KB 3

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DAN WAWASAN KEBANGSAAN DALAM
PRESPEKTIF QURAN HADIS

A. Nilai-Nilai Dalam Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak- anak agar dapat

mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif kepada lingkungan di mana ia
tinggal. Nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada anak-anak adalah nilai-nilai
universal (nilai agama, nilai moral, nilai kewarganergaraan, nilai adat istiadat, nilai budaya,
nilai hukum dan lain-lain, yang mana nilai-nilai tersebut dapat diterima oleh semua
golongan sehingga mampu dijadikan pemersatu bagi seluruh masyarakat yang terdiri dari
beraneka ragam budaya, agama, ras, adat istiadat, suku, dan latarbelakang.

Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa
yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia
harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya. 18 nilai-
nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah: Religius.Jujur.Toleransi,
Disiplin,Kerja Keras,Kreatif,Mandiri,Demokratis,Rasa Ingin Tahu,Semangat
Kebangsaan. Cinta Tanah Air,Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta
Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial dan Tanggung Jawab.

Selain nilai-nilai dalam pendidikan karakter seperti di atas , Indonesia Heritage
Fondation menyusun sembilan pilar karakter. Kesembilan pilar tersebut merupakan
nilainilai universal yang di antaranya yaitu: Cinta Tuhan dan segenap ciptaanya,
Kemandirian dan tanggung jawab, Kejujuran/ amanah, Hormat dan santun,
Dermawan, suka menolong dan gotong- royong, Percaya diri, kreatif dan pekerja keras,
Kepemimpinan dan keadilan, Baik dan rendah hati,Toleransi, kedamaian dan kesatuan.

B. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dan Wawasan Kebangsaan Dalam Perspektif Qu’ran
(Surat Yusuf)
1. Kelompok I (Surat Yusuf Ayat 1-6)
Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan sebagai
sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut,
toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam menghadapi
perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan mampu
memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada
ketentuan dan ketetapan agama. Nilai karakter ini bisa kita temukan dengan
memahami bahwa kepribadian Nabi Yusuf dan Ya’kub adalah pribadi orang yang
taat kepada Allah dan mematuhi syariat agama. Itulah sebab utama mengapa mereka
berdua dipilih sebagai Nabi pengembat risalah umat.
2. Kelompok II (Surat Yusuf Ayat 7-20)
Nilai Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas
dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat,
lingkungan (alam sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah
yang penulis temukan dalam karakter ya’kub, karena kepeduliannya sebagai
ayah untuk memberikan kasih sayang dan perlindungan terhadap anaknya
demi kemashlahatan bersama.
3. Kelompok III (Surat Yusuf Ayat 21-29)
Nilai Tanggung Jawab Walaupun sebelumnya sudah disebutkan tentang tanggung
jawab, namun pada kelompok ini sosok figur yang memiliki tanggung jawab
menurut penulis adalah raja mesir yang membeli Yusuf dari keterpurukan dan setelah
dibuang oleh saudarasaudaranya. Namun yang menjadi fokus kita adalah
kepedulian dan tanggungjawab keluarga itu dalam membesarkan dan mengayomi
Yusuf kecil hingga beranjak dewasa, ini merupakan keutamaan yang Allah berikan
kepada beliau di permukaan bumi ini.
Nilai Kejujuran Nilai kejujuran merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan

dan pekerjaan. Hal itu ada pada pribadi Yusuf sebagai karakter yang melekat
padanya.
4. Kelompok IV (Surat Yusuf Ayat 30-35)

Rasa Ingin Tahu Rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang
selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu
yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. Dan inilah yang bisa kita lihat dari
sosok wanita-wanita pembesar di Mesir yang selalu berupaya mengetahui lebih
meluas dan mendalam sesuatu yang didengarnya.

Cinta damai Yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain
merasa senang dan amam atas kehadiran dirinya. Ini dapat kita lihat setelah Yusuf
mengetahui makar dan tujuan dia dipanggil oleh Zulaikha karen sesuatu yang tidak
baik lalu beliau memilih lebih baik penjara daripada terkesan mengganggu orang
lain dan menyusahkan orang lain dengan kehadiran dirinya.
5. Kelompok VI (Surat Yusuf Ayat 36-42)

Bersahabat/Komunikatif Sebagaimana yang telah penulis sebutkan pada bab
sebelumnya bahwa komunikatif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain. Sikap yang mendorong
seseorang untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,
dan mengakui serta menhgormati keberhasilan orang lain.

Kerja keras Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukan upaya sungguh-
sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas
(belajar/pekerjaan) dengan sebaik- baiknya. Selain itu, kerja keras juga merupakan
perilaku yang menunjukan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai
hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
6. Kelompok VI (Surat Yusuf Ayat 42-49)

Rasa Ingin Tahu Karakter ini sudah disebutkan sebelumnya, namun pada
kelompok ayat ini beranjak dari munculnya mimpi raja. Raja menceritakan perihal
mimpinya itu kepada para pejabat pemerintahannya, serta agamawan, dan orang yang
cerdik dan pandai tentang takwil mimpi.

7. Kelompok VII (Surat Yusuf Ayat 54-57)
Menghargai prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui, serta
menghormati keberhasilan orang lain. Ini yang tampak dari kepribadian Raja, ketika
yusuf telah berprestasi mentakwilkan mimpinya dan berusaha mengaktualisasikan
takwil mimpi tersebut agar perekonomian masyarakat tetap aman dan terkendali,
lalu bentuk penghormatan dan penghargaan yang dinerikan Raja kepada yusuf.
8. Kelompok VIII (Surat Yusuf Ayat 58-68)

Nilai tanggung jawab, walaupun karakter ini sudah sebutkan sebelumnya. Namun
pada kelompok ayat ini afiliasi dari karakter tanggung jawab itu terlihat dari sikap
Yusuf yang berusaha menyiapkan dan menyimpan hasil panen selama tujuh tahun
berturut-turut demi perbekalan untuk menghadapi musim paceklik di tahun-tahun
berikutnya. Pada ayat berikutnya ini juga terlihat karakter tanggung jawab yang ada
pada pribadi Ya’kub terhadap keselamatan anak-anaknya, karena beliau sangat
perhatian dan mencintai anak-anaknya. Dan mereka juga mematuhi arahan dari
ayahnya.

Nilai kepedulian sosial Pada kelompok ayat ini juga tercermin karakter
kepedulian sosial dri pribadi yusuf, berkat wahyu yang Allah karuniakan kepada
beliau untuk mengetahui takwil mimipi dan kebenaran dari takwil itu, sehingga
muncullah kepedulian sosial dari pribadi yusuf. Manusia pada dasarnya merupakan
makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain.

Semangat kebangsaan, Karakter semangat kebangsaan dapat kita dapati dan
kita lihat dalam diri para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan
negara Republik Indonesia tanpa mengharapkan balasan maupun pujian dari orang
lain.
9. Kelompok IX (Surat Yusuf Ayat 69-79)

Nilai kejujuran, Sebenarnya nilai kejujuran ini sudah kita sebutkan dan
sudah ada pada ayat sebelumnya, namun pada kelompok ayat ini menjelaskan
tentang tulus dan jujurnya niatan saudara yusuf untuk mendapatkan bahan
makanan dan tidak terbetik sedikitpun untuk melakukan tipu muslihat.

10. Kelompok X (Surat Yusuf Ayat 80-93)
Religius Perasaan religius ialah perasaan berkaitan dengan Tuhan atau Yang

Maha Kuasa, antara lain takjub, kagum, percaya, yakin keimanan, tawakal, pasrah
diri, rendah hati ketergantungan pada Ilahi,merasa diri sangat kecil, kesadaran akan
dosa dan lain-lain.

Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Relegiusitas
diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan. Seberapa kokoh kenyakinan.
Seberapa pelaksanaa ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama
yang dianutnya. Inilah yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
11. Kelompok XI (Surat Yusuf Ayat 94-104).

Cinta damai Cinta damai ini bisa dipahami apabila okepribadian sesorang
memiliki sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa
senang dan amam atas kehadiran dirinya. Dan inilah yang terdapat dalam
kepribadian Ya’kub ketika memafkan kesalahan anak-naknya yang telah berdusta,
kemudian memohonkan ampunan kepada Allah untuk mereka. Dan sikap ini juga
terdapat dalam diri Yusuf, dengan penuh rasa suka dan lapang dada beliau
menyambut kedatangan keluarganya, yang membuat mereka merasa damai.

C. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dan Wawasan Kebangsaan Dalam Perspektif Hadis
Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam agar dalam memberikan pendidikan

kepada anak itu dilakukan secara bertahap. Pada usia 7 tahun anak sekedar diperintah untuk
shalat, kalau tidak mau, tidak usah dipukul. Akan tetapi pada usia 10 tahun, ketika
diperintah untuk shalat, anak tidak mau shalat, maka orang tua diperbolehkan untuk
memukul anaknya pada bagian yang tidak membahayakan, misalnya, punggung; agar si
anak mau melaksanakan shalat. Hadis yang memerintah shalat anak oleh orang tuanya
sejalan dengan nilai-nilai karakter atau perilaku manusia terhadap Tuhan-Allah SWT.
Nilai-nilai perilaku manusia terhadap Tuhan meliputi: taat kepada Tuhan, syukur, ikhlas,
sabar, tawakkal (berserah diri kepada Tuhan). 10 Nilai-nilai perilaku manusia terhadap
Tuhan ini akan membentuk karakter spiritual atau keimanan atau ketakwaan kepada Allah
SWT. Hadis tentang perintah shalat kepada anak juga mengandung nilai-nilai perilaku
manusia terhadap diri sendiri. Nilai-nilai perilaku manusia terhadap diri sendiri

mengandung karakter reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif, inovatif,
mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban,
pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah,
pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet atau gigih, teliti, berinisiatif,
berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis,
hemat, efisien, menghargai, dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta
keindahan, sportif, tabah, terbuka, dan tertib.


Click to View FlipBook Version