JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3
Hesty Sukmasari, ST
SMK N 1 Purwosari
CGP A606
KABUPATEN GUNUNGKIDUL-DIY
Terimakasih kepada:
Jurnal refleksi Dwi Mingguan
Modul 2.3. ini menggunakan
model 4C
Connection, Challenge, Concept,
dan Change
Connection (Keterkaitan materi yang didapat dengan
peran saya sebagai CGP)
Pada Modul 2.3. Coaching Untuk Supervisi
Akademik, saya mendapatkan tambahan ilmu ,
pengetahuan , wawasan dan materi yang benar-
benar baru dan luar biasa.Sebelumnya saya
berpikir bahwa supervisi akademik hanya akan
saya peroleh ketika suatu saat saya menjadi
seorang pemimpin dalam sebuah lembaga
pendidikan. Saya berpikir bahwa supervisi
akademik adalah sebuah kegiatan penilaian yang
terlihat sangat menakutkan bagi guru yang akan
disupervisi, dan supervisor adalah seorang tim
penilaian yang patut diwaspadai, ditakuti atas
penilaian, dan tanggapannya atau kritikannya
terhadap kinerja guru selama ini. Itulah anggapan
dan pemikiran saya sebelum mendapat
kesempatan belajar materi ini.
Connection (Keterkaitan materi yang didapat dengan
peran saya sebagai CGP)
Kemudian, ketika mendapat kesempatan belajar
apalagi berdiskusi dengan fasilitator, Pengajar
Praktik, instruktur, bahkan dengan rekan-rekan
guru sesama Calon Guru Penggerak (CGP)
Angkatan 6 Kabupaten Gunungkidul, tentang
materi supervisi akademik dengan model
coaching, ternyata tidak harus menunggu menjadi
seorang pemimpin sebuah lembaga pendidikan
untuk belajar apa itu supervisi akademik, saat
inipun saya bisa mendapatkan kesempatan
memperoleh pengetahuan tersebut.
Connection (Keterkaitan materi yang didapat dengan peran
saya sebagai CGP)
Pengetahuan tentang supervisi akademik, tujuan dari
supervisi akademik, bagaimana strategi yang dilakukan
dalam supervisi agar supervisi tidak menjadi suatu peristiwa
yang menakutkan bagi sebagian guru. Dan bagaimana
refleksi setelah dilakukan supervisi akademik. Dan melalui
proses coaching untuk supervisi akademik yang saya pelajari
dalam modul ini, membukan mata saya lebar-lebar, bahwa
supervisi adalah hal yang menarik, hal yang menyenangkan,
dan dapat dijadikan sebagai kiblat bagi saya sebagai guru
dan mungkin bagi guru-guru lain, untuk memastikan
pembelajaran yang telah dilakukan selama ini sudah
berpihak pada murid atau tidak, sebagai sebuah tolak ukur
bagi kita untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru, baik
komptensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi
sosial, maupun kompetensi profesional. Kompetensi apa yang
sudah kita kuasai dengan baik sebagai guru, kompetensi apa
yang perlu peningkatan, dan kompetensi apa yang perlu
dikembangkan dengan lebih baik lagi.
Connection (Keterkaitan materi yang didapat dengan
peran saya sebagai CGP)
Menyimak tentang materi coaching untuk
supervisi akademik, adakah keterkaitan dengan
peran saya sebagai CGP. Tentu sangat terkait
sekali. Sebagai seorang guru, saya berperan
menuntun murid-murid saya sesuai kodranya,
sebagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Terkadang berperan sebagai coach bagi mereka,
bahkan mungkin tanpa saya sadari sebagai caoch
bagi rekan-rekan guru lain. dan proses coaching
manjadikan aktifitas saya, dalam menuntun
murid-murid saya, dalam suasana pembelajaran
ataupun suasana kolabrasi bersama teman
sejawat menjadi lebih fleksibel, akrab, dan
bermakna.
Challenge (Adakah ide, materi, atau pendapat dari
narasumber yang berbeda dari praktik yang saya
jalankan selama ini?)
Apa itu proses coaching? Berdasarkan definisi
dari beberapa ahli, dapat disimpulkan, coaching
adalah sebuah proses kolaborasi yang berbentuk
kemitraan bersama klien (coachee atau orang
yang akan kita bantu) untuk memaksimalkan
potensi atau kinerjanya melalui proses yang
menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan
proses kreatif. Dari proses coaching itu, coachee
akan menemukan sendiri jalan untuk
memaksimalkan potensi atau kinerjanya.
Bagaimana prosesnya sehingga coache mampu
menemukan sendiri jalan untuk memaksimalkan
potensinya?
Challenge (Adakah ide, materi, atau pendapat dari
narasumber yang berbeda dari praktik yang saya
jalankan selama ini?)
Berdasarkan paparan meteri yang saya dapatkan dari Program Guru
Penggerak ini, coaching memiliki tujuan dan prinsip lebih kearah
memberdayakan, lebih kepada membantu seseorang untuk belajar
daripada mengajarinya, itulah kenapa coaching berbeda dengan
bentuk-bentuk pengembangan diri yang lain seperti mentor, konseling,
fasilitasi, atau training. Contoh, dalam mentoring, mentor membagikan
pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya untuk membantu
mentee mengembangkan dirinya, sedangkan dalam coaching, coach
menuntun cochee, menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi
tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki.
Perhatikan kata membagikan dalam mentor, dan kata menuntun dalam
coach. Artinya coach sekalpun membantu, tapi sifatnya menuntun
seseorang melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi
pemikiran dan proses kreatif sehingga dia menemukan sendiri, apa yang
harus dilakukannya untuk bangkit dan berjalan menuju perubahan yang
dia inginkan. Dan proses coaching sangat sesuai dengan salah satu
tujuan pengembangan diri, yaitu agar guru menjadi otonom, yaitu dapat
mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan memodifikasi diri secara
mandiri.
Challenge (Adakah ide, materi, atau pendapat dari
narasumber yang berbeda dari praktik yang saya
jalankan selama ini?)
Untuk membantu orang lain menjadi, coachee, atau rekan guru untuk
mengembangkan kompetensinyanya dan menjadi otonom, maka kita
perlu memiliki paradgima berpikir coaching terlebih dahulu. Paradigma
tersebut adalah :
1.Fokus pada coache/rekan yang akan dikembangkan
2.Bersikap terbuka dan ingin tahu
3.Memiliki kesadaran diri yang kuat
4.Mampu melihat peluang baru dan masa depan
Saat fokus pada coachee, kita sebagai coach, fokus pada topik yang
dibawakan, apa yang perlu dilakukan atau dikuasai untuk mencapai
tujuan tersebut, sehingga melalui percakapan kreatif dan bermakna,
dapat membawa kemajuan pada mereka. Seorang coach juga harus
bersikap terbuka berusaha tidak menghakimi, melabel, berasumsi, atau
menganalisis pemikiran orang lain. Tetap menunjukkan rasa ingin tahu
yang besar terhadap keinginan dan ide-ide dari coachee. Dalam proses
coaching itu, agar coach mampu menangkap perubahan yang terjadi
selama , emosi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, maka coach
perlu memiliki kesadaran diri yang kuat. Dan yang terpenting dalam
coaching ini adalah, bagaimana seorang coach mampu melihat peluang
baru dan masa depan karena coach mendorong seseorang untuk fokus
pada solusi.
Challenge (Adakah ide, materi, atau pendapat dari
narasumber yang berbeda dari praktik yang saya
jalankan selama ini?)
Dari beberapa paradigma diatas, ternyata berbeda
dengan paradigma dan perilaku saya sebagai guru selama
ini. Jika dikaitkan dengan hasil proses pembelajaran yang
kurang maksimal, bisa dikatakan saya sebagai guru kurang
fokus. Baik terhadap kebutuhan belajar murid-murid saya
maupun terhadap strategi pembelajaran yang saya
lakukan. Kesibukan-kesibukan yang sering menyita waktu
saya, adalah salah satu faktor saya selama ini ternyata
kurang bersikap terbuka terhadap murid. Terkadang
memberi mereka label sesuai perilaku yang lebih
mendominasi siswa-siswa saya, sering terbawa emosi saat
berhadapan dengan perilaku murid yang kurang sesuai
dengan tata tertib sekolah atau etika berprilaku, dan
kurang menunjukkan rasa ingin tahu terhadap kebutuhan
belajar, kebutuhan dasar, perkembangan, atau perubahan
perilaku siswa-siswa saya.
Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang
saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus
dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau
bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)
Setelah membaca tentang konsep caoching secara
singkat di atas, menarik bukan. Bukan karena ini
adalah materi yang baru kita kenal, bukan pula
karena coaching berbeda deng bentuk-bentuk
pengembangan diri lainnya, tapi karena dalam
proses coaching, coach hanya menuntun, tidak adak
paksaan, tidak pula mengajari, apalagi menggurui
atau menyuruh. Tapi bagaimana coach menemukan
sendiri solusi dan jalan menuju peningkatan
kompetensi dirinya atau solusi dari keinginannya
melalui proses menggali ide-ide kreatif dalam diri
coachee. Dan yang sangat menarik dalam coaching
adalah istilah kemitraan.
Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang
saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus
dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau
bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)
Selain prinsip coaching, ada lagi hal penting yang perlu selalu
kita bawa selama kita menjadi CGP dan menempatkan diri
sebagai coach, yaitu kita perlu terus meningkatkan 3
kompetensi inti coaching. Apa saja ketiga kompetensi inti itu?
Yang pertama, kehadiran penuh atau kemampuan untuk hadir
sepenuhnya (jiwa dan raga) saat berhadapan dengan coachee,
sehingga badan, hati, dan pikiran selaras saat melakukan
percakapan dengan coachee. Yang kedua yaitu mendengarkan
aktif atau menyimak, dan yang terakhir yaitu kemampuan
untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Tujuannya adalah
untuk menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulus
pemikiran coachee, memunculkan hal-hal baru yang mungkin
belum terpikirkan sebelumnya dan yang dapat mengungkapkan
coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri
dan komptensinya.
Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang
saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus
dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau
bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)
Dalam coaching, proses menuntun yang dilakukan coach salah
satunya melalui sebuah percakapan bermakna. Untuk itu
dibutuhkan kemampuan seorang coach. Kemampuan untuk
dapat menavigasi tujuan dan arah Percakapan yang
dibutuhkan coachee dan kemampuan untuk menciptakan alur
percakapan, sehingga proses percakapan coaching menjadi
efektif dan bermakna.
Dalam kemampuan menentukan tujuan dan arah percakapan,
seorang coach harus bisa menentukan apakah percakapan
untuk perencanaan, apakah untuk pemecahan masalah, apakah
untuk berefleksi, ataukan percakapan untuk kalibrasi, atau
bahkan dalam sebuah percakapan mencakup keempat tujuan
percakapan tersebut. Dan terkait dengan kemampuan
menciptakan alur percakapan yang efektif dan bermakna,
maka dalam materi caoching yang saya pelajari, kita kenal
yaitu alur TIRTA.
Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang
saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus
dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau
bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)
TIRTA kepanjangan dari : T yaitu tujuan. Artinya antara coach
dan coachee perlu menentukan tujuan pembicaraan yang akan
berlangsung dan idealnya tujuan ini datang dari coachee. Huruf
yang kedua dari kata TIRTA yaitu I. I merupakan kepanjangan
dari identifikasi. Artinya coach perlu melakukan penggalian dan
pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan
menghubungkan dengan fakta yang ada pada saat sesi
percakapan. Misalnya coach bertanya kepada coachee "apa
kekuatan Bapak/Ibu/saudara dalam mencapai tujuan
tersebut?". Huruf ketiga dari kata TIRTA adalah R, yang
merupakan kepanjangan dari rencana aksi, artinya alternatif
solusi untuk rencana yang akan dibuat. Misalnya "Apa ukuran
keberhasilan rencana aksi Bapak/Ibu?". Dan huruf terakhir dari
kata TIRTA adalah TA yaitu kepanjangan dari tanggung jawab
yang artinya bagaimana seorang coach mampu menuntun
coachee membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk
langkah selanjutnya
Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang
saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus
dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau
bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)
Dari beberapa konsep-konsep utama tentang
coaching, dapat disimpulkan bahwa dengan proses
caoching terutama dalam supervisi akademik, akan
membantu murid-murid kita atau rekan guru
menemukan potensi dirinya, menuntun mereka
menjadi lebih mampu mengembangkan dan
meningkatkan komptensinya secara sadar, secara
mandiri, dan penuh motivasi bukan karena paksaan
atau sesuai suruhan atau perintah dari kita sebagai
mitra yang membantunya mengembangkan diri.
Change (Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin
Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari
ini? )
Setelah mempelajari materi coaching ini, ternyata mampu
meluruskan paradigma saya tentang bagaimana kita
harusnya memandang dan memperlakukan murid dan orang
lain saat kita memposisikan diri sebagai coach, bagaimana
seharusnya menempatkan diri dalam proses menuntun murid
atau membantu rekan-rekan kita atau orang lain. Dan lebih
khusus lagi, bagaimana sebuah supervisi dapat berubah dari
suasana menakutkan menjadi menyenangkan, dari sebuah
penilaian kinerja menjadi sebuah sharing dan diskusi
pengalaman dalam melakukan pembelajaran yang berpihak
pada murid, dan pada akhirnya menjadi sebuah refleksi
bermakna yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur atau
pijakan bagi guru dalam melakukan pengembangan kinerja.