JENDRAL NASUTION
DAFTAR ISI :
1. Fakta – Fakta Jendral Nasution
2. The Real Queen
3. Siapakah Sebenarnya Jendral
Nasution
4. Pesona Sang Kapten
5. Perjuangan
FAKTA FAKTA JENDRAL SUDIRMAN
1. Pria kelahiran Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 tersebut merupakan anak kedua
dari tujuh bersaudara di keluarganya. Ayahnya merupakan seorang pedagang karet, kopi, dan
tekstil. Nasution menikah dengan Johanna Sunarti, yang kemudian dikaruniai dua orang putri
bernama Hendrianti Saharah Nasution dan Ade Irma Suryani Nasution.
2. Pendidikan
Ia merupakan lulusan Akademi Militer, Bandung, tahun 1942. Berdasarkan penelusuran
AKURAT.CO, AH Nasution juga pernah menempuh pendidikan di beberapa universitas. Seperti
pada tahun 1962, ia pernah mengambil jurusan Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Selain itu, di tahun yang sama ia juga pernah belajar Ilmu Negara di Universitas Andalas, Padang.
Tak hanya itu, ia juga pernah belajar di Universitas Mindanao, Filipina pada tahun 1971.
3. Karier militer
Karier militer AH Nasution tergolong cukup cemerlang. Ia pernah menempati beberpa posisi yang
sangat bagus. Seperti menjadi Wakil Panglima Besar Angkatan Darat di Yogyakarta pada tahun
1948, serta menjadi Panglima Komando Jawa TNI Angkatan Darat pada tahun 1948 hingga 1949.
Tak hanya itu, ia juga pernah dipercaya untuk menempati posisi sebagai Wakil Panglima Besar
Komando Tertinggi pada tahun 1962 hingga 1963, serta di tahun 1965.
4. Pernah menjadi KSAD dua kali
AH Nasution termasuk orang yang sangat beruntung. Berkat kerja keras serta perjuangannya, ia
menjadi satu-satunya perwira yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) selama dua kali.
Yakni pada periode pertama 27 Desember 1949 hingga 18 Oktober 1952, serta periode kedua
yakni pada 1 November 1955 hingga 21 Juni 1962
5. Karier pemerintahan
Tak hanya di dunia militer saja, salah satu tokoh perjuangan RI yang satu ini juga pernah
berkecimpung di dunia politik. Salah satunya seperti pada tahun 1959, ia pernah menjabat sebagai
Menteri Keamanan Nasional hingga tahun 1966. Kemudian, setelah masa baktinya habis, ia lalu
dipercaya untuk menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) selama satu
tahun, yakni dari 1966 hingga 1972.
6. Penghargaan
Sepanjang perjalanan kariernya, AH Nasution pernah menerima beberapa penghargaan. Di
antaranya seperti pada tahun 1997, ia pernah menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar
dengan dianugerahi pangkat Bintang Lima, pada saat ulang tahun ABRI ke-52 pada 5 Oktober
1997, bersama Soeharto dan juga Soedirman.
THE REAL QUEEN
Ibu Johana Sunarti Nasution dilahirkan di Surabaya pada 1 November 1923 dari seorang ibu
bernama Maria Frederika dan seorang ayah yang bernama Sunario gondosukumo. Beliau menikah
pada tahun 1948 di Ciwidey dalam pengungsian dan suami yang bernama Jendral Abdul Haris
Nasution seorang panglima divisi Siliwangi dan dan dikaruniai seorang putri Hendriyati dan Ade
Suma.
Aktifitas beliau selama hidup lebih dari setengah abad didedikasikan kegiatan sosial. Diantaranya
pendiri yayasan Ikrar Bhakti, penasehat DNIKS, pendiri dan ketua satu yayasan Bina Wicara dll.
Sejumlah penghargaan telah diterima beliau berkat jasa jasa nya ibu Sunarti menerima sejumlah
tanda kehormatan dari pemerintah.
SIAPAKAH SEBENARNYA JENDRAL NASUTION
Jendral Besar TNI Purn Abdul Haris Nasution dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya dalam
perang melawan penjajahan Belanda yang tertuang dalam buku yang beliau tulis " STRATEGY OF
GEURILLA WARFARE " buku yang sekarang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing
dan sekarang menjadi buku wajib akademi militer di seluruh negara.
Meski pernah menuai kecaman atas perannya sebagai konseptor DWI FUNGSI ABRI yang dikutuk
di era reformasi, jasa beliau tak dapat dilepaskan dari memperjuangkan kemerdekaan RI hingga
masa orde baru. DWI FUNGSI ABRI akhirnya dihapus karena desakan gerakan reformasi pada
tahun 1998.
Sejak kecil pak Nas suka membaca cerita sejarah anak kedua dari 7 bersaudara ini melahap buku
buku sejarah dari Nabi Muhammad Saw. Sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis. Lulus
dari ASM-B pada tahun 1938 beliau menjadi guru di Bengkulu dan Palembang kemudian beliau
tertarik di akademik militer dalam revolusi kemerdekaan beliau diberikan wewenang untuk
memimpin divisi Siliwangi dari itulah muncul ide tentang gerilya sebagai bentuk perang rakyat.
Tahun 1848 pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas PKI di Madiun ia nyaris tewas
dengan mendiang putrinya walaupun mengagumi bung karno nyatanya tokoh besar itu sering
berselisih paham.
Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jendral besar yang pernah duduk di kunci TN I menepi
drai panggung kekuasaan. Pak Nas lalu menyibukan diri dengan menulis memoar. Sampai
pertengahan 1986 jilid memoar beliau sudah beredar tentang masa muda nya, perang gerilya,
memenuhi undangan tugas, masa pancaroba, dan masa orla
PESONA SANG KAPTEN
Piere Andreas Tendean. Pria kelahiran Batavia 21 Februari merupakan putra kedua dari bapak
Tendean seorang dokter dari Minahasa dan ibunya Cornel Me seorang wanita berdarah Prancis.
Sebagai anak laki laki satu satu nya ayahnya ingin dia meneruskan masuk kedunia kedokteran tapi
Piere muda ingin sekali menjadi tentara dia pun tak mau mengecewakan hati kedua orang tua
nya. Dan dia pun akhirnya mengikuti tes difakultas Indonesia dan di istitut teknologi Bandung.
Karena keinginan Piere yang kuat akhirnya dia pun berhasil masuk ke sekolah militer di bumi
panorama Bandung.
PERJUANGAN
Inilah kisah panjang perjuangan Jenderal AH Nasution selamat dari peristiwa G30S/PKI.
Saat itu, AH Nasution bisa selamat dari kejaran PKI salah satunya dengan bantuan sang istri.
Meski Jenderal AH Nasution bisa selamat, namun nyawa anaknya harus hilang karena tertembak
peluru dari anggota PKI saat Peristiwa G30S/PKI. AH Nasution merupakan salah satu nama yang
masuk dalam beberapa target jenderal yang dihabisi pada peristiwa Gerakan 30 September / PKI
atau G30S/PKI.
Ia juga satu-satunya yang lolos dari keganasan pasukan Cakrabirawa tersebut.
Ia merupakan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution atau AH Nasution target yang selamat dari
peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965 itu. Diselamatkan Istri
Sang istri Johanna Sunarti Nasution, lah yang berperan besar dalam penyelematan heroik Jenderal
AH Nasution dan sosok ajudan Pierre Andries Tendean atau Pierre Tendean.
Dilansir dari Wartakotalive, namun hal itu harus dibayar mahal dengan kematian sang anak Ade
Irma Suryani. Putri AH Nasution dan Johanna yang baru berusia 5 tahun tersebut tewas menjadi
korban peristiwa G30S/PKI.
Gadis kecil itu bersimbah darah dalam pelukan Johanna Sunarti Nasution.
Selain sosok Johanna, ajudan AH Nasution yakni Pierre Tendean, berperan besar menyelamatkan
jenderal Nasution.
Pada akhirnya, Pierre Tendean gugur dan kini dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi.
Anak sulung AH Nasution, Hendrianti Sahara Nasution menceritakan peritiwa yang merenggut
nyawa adiknya itu.
Dalam wawancara yang disiarkan oleh TV One, Hendrianti mengatakan sang adik tewas tertembak
dari jarak dekat.
Hendrianti menggambarkan peristiwa berdarah itu di tempat kejadian, di kediaman AH Nasution
yang kini dijadikan museum, di Menteng, Jakarta Pusat.
Pada pukul 03.30 WIB dini hari, Jenderal AH Nasution dan istrinya Johanna terbangun dari tidur.
"Pukul 03.30 pagi, ibu saya dan ayah terbangun gara-gara nyamuk. Terdengar pintu digerebek, ibu
saya melihat pasukan Cakrabirawa masuk," kata Hendrianti.
Menyadari hal tersebut, istri Jenderal AH Nasution yakni Johanna Sunarti Nasution langsung
menutup pintu. "Itu yang akan membunuh kamu sudah datang," kata Johanna kepada suaminya.
Kemudian, pasukan Cakrabirawa menembaki pintu tersebut.
"Lalu bapak (AH Nasution) bangun dan bilang biar saya hadapi, tapi ibu bilang jangan," kata
Hendrianti.
Saat penyerbuan terjadi, Ade Irma Suryani bersama ayah dan ibunya.
Johanna berusaha melindungi AH Nasution, ia menyerahkan Ade Irma Suryani kepada adik
iparnya.
"Ibu bilang ke adik bapak, tolong pegang Irma, karena dia harus menyelamatkan bapak.
Sementara ibu beliau nangis lihat ayah ditembak," cerita Hendrianti.
Adik AH Nasution menuruti permintaan Johanna, ia menggendong Ade Irma Suryani.
Namun, ia panik dan tak sengaja membuka pintu yang diberondong oleh pasukan Cakrabirawa.
"Langsung, (pasukan Cakrabirawa) menembak adik saya. Jaraknya segini (sambil menunjuk
diorama tempat ditembaknya Ade Irma dalam jarak dekat)," katanya.
"Adik saya ditembak, peluru masuk ke tangan tante saya, dan menembus ke badan adik saya,"
ujarnya.
Setelah Ade Irma Suryani tertembak, pintu ditutup kembali oleh Johanna Nasution.
Ia langsung menggendong tubuh anaknya yang bersimbah darah, sambil mengantar AH Nasution
untuk menyelamatkan diri.
Bahkan Hendrianti mengatakan darah versi asli lebih banyak dibandingkan yang ada di diorama.
Ternyata ada sekitar tiga peluru yang bersarang di punggung kecil Ade Irma Suryani.
Mengutip dari halaman Facebook Museum of Jenderal Besar Dr AH Nasution, Hendrianti
menjelaskan saat peritiwa itu terjadi usianya masih 13 tahun.
Saat rumahnya dikepung Cakrabirawa, ia tidur di kamar seberang kamar orangtuanya.
Ia terbangun saat mendengar suara tembakan.
Putri sulung AH Nasution itu berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat dari jendela
yang tingginya 2 meter.
"Sampai tulang kaki saya patah yang saya rasakan sakitnya sampai sekarang, paha kaki saya yang
kanan penuh dengan pen penyambung tulang," ucapnya.
Sambil menahan rasa sakit, ia mencari ajudan.
Ia kemudian bersembunyi di kamar ajudan dan diberi tahu keselamatan keluarganya sedang di
ujung tanduk.
"Tak berapa lama terjadi ribut-ribut di ruang jaga dan ajudan pak Nas Lettu Czi Pierre Tendean
diculik. Sampai pagi saya bersembunyi," katanya.
Setelah hari menjelang pagi, Johanna mencari Hendrianti sambil menggendong Ade Irma yang
terluka.
AH Nasution menyelamatkan diri dengan cara melompat pagar ke Kedubes Irak yang ada di
sebelah.
Ia bersembunyi di belakang tong untuk menyelamatkan diri dari penculikan dan pembunuhan.
Ade Irma dibawa ke RSPAD untuk diberikan pertolongan.
Gadis kecil itu harus menjalani operasi beberapa kali.
Hendrianti yang tak kuasa melihat adiknya yang bersimbah darah hanya bisa menangis.
"Adik saya bilang, 'Kakak jangan nangis, adik sehat'," katanya.
Selain menenangkan Hendrianti, Ade Irma juga bertanya kepada sang ibu.
"Adik tanya ke ibu saya, 'Kenapa ayah mau dibunuh mama?"
Kalimat tersebut diucapkan sebelum Ade Irma Suryani meninggal dunia.
Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.
"Tanggal 6 Oktober adik saya dipanggil Allah. Saya sebagai manusia sudah memaafkan mereka
tapi peritiwa ini tidak boleh dilupakan," ucapnya.
Tragedi dini hari pada 1 Oktober 1965 mengakhiri hidup Pierre Tendean pada peristiwa G30S/PKI.
Tidak hanya mengawal Jenderal AH Nasution, Lettu Pierre Tendean pun akrab dengan Ade Irma
Suryani.
Potret berdua mereka bahkan terpajang di Museum AH Nasution.
Namun, segala kecemerlangan dalam bidang militer dan masa depan cerah Lettu Pierre Tendean
harus berakhir.
Saat itu (30/9/1965) Lettu Pierre Tendean biasanya pulang ke Semarang merayakan ulang tahun
sang ibu.
Namun, ia menunda kepulangannya karena tugasnya sebagai pengawal Jenderal AH Nasution.
Ia tengah beristirahat di ruang tamu, di rumah Jenderal AH Nasution, Jalan Teuku Umar Nomor 40,
Jakarta Pusat.
Namun, waktu istirahatnya terganggu karena ada keributan.
Lettu Pierre Tendean pun langsung bergegas mencari sumber keributan itu.
Ternyata keributan itu berasal dari segerombol orang.
Disebutkan bawah orang-orang yang datang ke rumah AH Nasution adalah pasukan Cakrabirawa.
Mereka pun menodongkan senjata pada Lettu Pierre Tendean.
Lettu Pierre Tendean tak bisa berkutik. Ia dikepung pasukan itu.
Demi melindungi atasan, Lettu Pierre Tendean pun menyebut dirinya sebagai Jenderal AH
Nasution.
"Saya Jenderal AH Nasution," ujarnya.
Akhirnya, ia yang dikira Jenderal AH Nasution langsung diculik.
Sementara itu, nyawa putri Jenderal AH Nasution, Ade Irma, tak tertolong karena tertembak.
Pada akhirnya, Lettu Pierre Tendean harus gugur di tangan orang-orang yang menyerangnya.
Meski Pierre Tendean tak lagi bernyawa, kakinya diikat lalu dimasukkan ke dalam sumur, di
Lubang Buaya.
Pada usianya yang masih muda, Lettu Pierre Tendean tinggal menjadi kenangan dalam peristiwa
mengerikan itu.
Kematiannya memberikan luka mendalam terhadap keluarganya.
Padahal, pada November 1965, Lettu Pierre Tendean dijadwalkan akan menikahi Rukmini Chaimin
di Medan.
Takdir berkata lain. Ia meninggal mengatasnamakan atasannya di depan para pembunuh itu.
Sebagai bentuk penghormatan, ia pun dinaikkan pangkatnya menjadi kapten.
Kapten Tendean pun ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada 5 Oktober 1965.