The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ajaran dan pembelajaran menurut Alkitab.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Penikmat Malam, 2023-06-05 09:13:48

Gusti A. Wadu Netu_TEP

Ajaran dan pembelajaran menurut Alkitab.

Pendidikan Agama Kristen Menurut Pandangan Alkitab Pendidikan Agama Kristen adalah suatu proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung pada Roh Kudus, yang membimbing setiap anak pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran dan pengalaman sesuai dengan kehendak Allah untuk mengupayakan anak bertumbuh dalam iman. Pengajaran Menurut Tuhan Yesus Penekanan pengajaran Yesus ialah membawa orang-orang percaya kepada pertobatan dan hubungan pribadi yang dalam dengan Allah serta siap menderita bagi Kristus. Dengan menerima pengajaran-Nya, pergumulan-pergumulan pendengar-Nya menjadi terjawab. Sebab bagi Tuhan Yesus mengajar adalah penting dan mengubahkan.


1. Yesus membasuh kaki murid-murindNya ( Yohanes 13:1-20 ) Pembahasan Dalam Alkitab banyak memberikan keterangan tentang pengajaran Tuhan Yesus Kristus. Pengajaran Tuhan Yesus Kristus merupakan pengajaran yang selalu menjawab kebutuhan murid-murid-Nya. Tidaklah heran jika orang yang mendengar Tuhan Yesus selalu tertarik pada pengajaran-Nya. Dapat dikatakan bahwa pengajaran Tuhan Yesus penuh kuasa, penuh wibawa dan penuh kasih. Dia mengajar dengan kuasa yang telah Dia terima dari Allah Bapa. Hal ini memperlihatkan bahwa mengajar amat penting dalam pelayanan Tuhan Yesus. Pengajaran Tuhan Yesus Kristus sebagai Guru Agung memiliki keunikan dan kekuasaan tersendiri. Pengajaran Yesus merupakan pengajaran segala zaman. Maksudnya sangat masih relevan dengan keadaan pendidikan dan pengajaran Pendidikan Agama Kristen masa kini. Yesus mengajar dengan berbagai cara dan metode yang sangat kreatif, efektif dan dinamis untuk mendapatkan hasil pengajaran yang sangat baik, yakni murid-muridNya menjadi lahir baru dan memiliki buah pertobatan yang sejati. Guru Pendidikan Agama Kristen pada masa kini harus hidup seperti Yesus, mengajar seperti Yesus dan memiliki tanggung jawab kepada murid seperti Yesus. Segala sesuatu kegiatan pengajaran harus seperti Tuhan Yesus. Menerapkan konsep pengajaran Tuhan Yesus di dalam pengajaran masa kini sangatlah penting untuk memberikan dampak yang besar bagi siswa. Sebagai Guru Agung, Tuhan Yesus Kristus telah memberikan banyak contoh kepada Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini, di mana dalam setiap proses belajar mengajar harus


memberikan dampak yang positif. Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini harus memiliki kuasa dalam menyampaikan setiap pengajaran kepada anak didik. Artinya, konsep dan metode serta teladan yang telah diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada kita, mampu diiplementasikan di dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang kita laksanakan. B. S. Sidjabat mengatakan “ kasih dari Allah, guru dimampukan menerapkan keadilan dikalangan anak didiknya. Hikmat dan kuasa dari Allah memunculkan di dalam dirinya kreativitas serta wibawa.” Sebab kebanyakan Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini tidak peduli bagaimana dia mengajar, yang penting melaksanakan tugasnya sebagai guru tanpa di dasarkan pada kebenaran Allah sebagaimana Tuhan Yesus senantiasa menyerahkan tugas pelayanan dan pengajaran-Nya kepada Sang Bapa. Paulus Lilik Kristianto mengatakan “Roh Kudus adalah pengajar yang sesungguhnya (Yoh. 14:26), Roh Kudus bukan hanya membimbing untuk memahami kebenaran (Yoh. 16:13) tetapi Ia juga disebut sebagai Roh Kebenaran (Yoh. 16:13)”. Artinya, seorang pengajar dikatakan efektif dalam pengajarannya jika ia memiliki dua faktor utama yaitu pertama ketegantungan pada Roh Kudus dan kedua kesucian hidup yang menjadi keteladanan dan perbuatan. Mendesaknya implementasi pengajaran Tuhan Yesus Kristus dalam proses Pendidikan Agama Kristen saat ini merupakan hal yang penting. Sebab terjadinya krisis dikalangan guru PAK dan peserta didik, sehingga membutuhkan satu konsep pengajaran yang mengubahkan. Penekanan pengajaran Yesus ialah membawa orang-orang percaya kepada pertobatan dan hubungan pribadi yang dalam dengan Allah serta siap menderita bagi Kristus. Dengan menerima pengajaran-Nya, pergumulan-pergumulan pendengar-Nya menjadi terjawab. Sebab bagi Tuhan Yesus mengajar adalah penting dan mengubahkan. Yesus mengajar berdasarkan otoritas, wibawa, dan kuasa. Orangorang yang mendengar pengajaran-Nya menjadi takjub, terpukau dan memberikan respons positif (Mat. 7:28-29). Junihot Simanjuntak mengatakan “hal yang menarik, Tuhan Yesus memberikan mandat kepada para murid untuk menjadikan segala bangsa muridNya. Mereka harus mengajarkan segala sesuatu yang telah Dia ajarkan kepada mereka (Mat. 28:19-20)”. Para murid Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan otoritas Allah sebab mereka mengandalkan panggilan sebagai guru yang telah dipercayakan Allah dalam melaksanakan tugas mengajar tersebut, yaitu menjadikan seluruh dunia menjadi murid Kristus. Sebab itu, mereka senantiasa menyerahkan hidup mereka di dalam kuasa Allah. Ketika guru PAK menerapkan apa yang diajarkan Yesus, lingkungan tidak senang dan tidak selalu menerima pengajaran tersebut. Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya mengalami hal yang sama seperti dituliskan dalam Alkitab bahwa “Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu


(Mat. 12:38)”. Banyak tantangan Dia alami, namun Yesus senantiasa menjawab dengan tepat tantangan tersebut. Lois E. Lebar mengatakan “karena Kristus mendorong pertanyaanpertanyaan dan sering kali menggunakan pertanyaan-pertanyaan, semangat pemecahan masalah terbesar seluruh kitab Injil”. Sikap guru PAK yang tidak menerapkan konsep dan metode pengajaran Tuhan Yesus dipengaruhi oleh teknologi yang semakin canggih dan tidak terkendali. Penulis berpendapat bahwa dengan adanya kecanggihan yang ada, maka guru PAK menjadikan pribadinya bergantung pada kecanggihan itu. Misalnya materi pembelajaran, persiapan kurang, tetapi dengan adanya kecanggihan semuanya bisa dilakukan tanpa mengandalkan Roh Kudus sebagai pengajar yang telah diberikan Allah kepada kita. Akibatnya pembelajaran itu tidak berlaku (tidak berpengaruh) terhadap peserta didik di mana kita mengajar. Seperti yang dikatakan oleh Lois E. Lebar bahwa “ada terlalu banyak kaum muda Kristen yang merasa seperti ini. Mereka menghadiri gereja, mendengarkan Firman Allah, dan pulang tanpa melakukan apa pun”.5 Maksudnya, karena guru tidak sungguhsungguh dalam mempersiapkan materi yang disampaikannya, sehingga para murid tidak mengharapkan sesuatu terjadi. Konsep diri seorang guru Pendidikan Agama Kristen yang profesional dalam menerapkan konsep pengajaran Tuhan Yesus Kristus yang sempurna. Terkadang pribadi seorang guru PAK tidak mampu menerapkan pengajaran tersebut disebabkan oleh masalah pribadi guru yang tidak cakap mengajar. Ada dua hal utama yang menjadi prinsip dasar pengajaran Yesus, yaitu pertama: Visi yang Jelas. Visi sangatlah penting dan menjadi prinsip dasar dalam pengajaran. Setiap pengajar harus memiliki visi yang jauh kedepan untuk dicapai dalam setiap pembelajaran yang diberikan. Tuhan Yesus dalam pengajaranNya memiliki visi yang jauh kedepan.”Yesus mengutus muridmuridNya untuk memperluas pelayanan-Nya sendiri dengan memberikan pengarahan yang spesifik untuk memandu pelayanan mereka merupakan garis besar misi Yesus (Mat.10:1-42).”13 Mengembangkan pernyataan visi dan misi untuk memadukan praktik pengajaran firman yang mengidentifikasikan tujuan utama yang spesifik. Tuhan Yesus juga memiliki visi dan misi yang spesifik dalam pengajaran atau pelayananNya bagi murid-muridNya. Kedua: Mengajar Sesuai Kebutuhan. Tuhan Yesus dalam pengajarannya memiliki prinsip dasar yakni mengajar sesuai dengan kebutuhan. J. M Price mengatakan bahwa, ”Yesus selalu memulai pengajaranNya dengan kepentingan dan keperluan murid yang mendengar. Ia mengajarkan dari pengalaman hidup orang itu sendiri dan mengantarnya ketujuan yang hendak dicapai”. Contohnya ketika ahli Taurat bertanya bagaimana ia dapat mewarisi hidup kekal, Tuhan Yesus menarik perhatian hali Taurat itu dengan hukum yang dikenalnya (Luk. 10:25-26). Tuhan Yesus memberikan pengajaran sesuai dengan kebutuhan murid dan apa hal yang


sangat dekat dengan pendengar. Prinsip-prinsip pengajaran Tuhan Yesus menurut Kitab Injil Matius 5–7, yaitu: 1. Tuhan Yesus mengajar melalui hidup dan perbuatanNya (Mat. 4; 4:23-24; 4:25). 2. Tuhan Yesus memakai pengalaman pendengar-pendengarNya untuk mengajar mereka (Mat. 13:1-9; 5:15-16). 3. Tuhan Yesus terkadang memandang obyek-obyek yang konkrit yang dilihat (Mat. 12:16 17; 6:25-34). 4. Tuhan Yesus memakai bahan/materi/media yang tepat dan sederhana untuk mengajar (Mat. 4:4, 5:5). 5. Tuhan Yesus selalu memberikan kepada pendengarNya tanggung jawab untuk mengambil keputusan secara pribadi (Mat. 7:24-27). Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam pengajaran-Nya merupakan hal penting yang harus diaplikasikan oleh para guru Pendidikan Agama Kristen masa kini. Memang tidaklah mudah seperti yang diimajinasikan, tetapi Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang baik bagi kita dalam mewujudnyatakan pengajaran yang berkuasa melalui pengajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah maupun di gereja. KESIMPULAN Untuk mengimplementasikan pengajaran Tuhan Yesus Kristus dalam kegiatan mengajar Guru Pendidikan Agama Kristen masa kini, dipengaruh oleh kehidupan yang melekat dengan Kebenaran, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Alkitab memberikan pengertian bahwa “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:4-5)”. Maksudnya seorang guru Pendidikan Agama Kristen hidupnya harus melekat dengan Sang Guru Agung sebagai teladan dalam mengajar, mengubahkan, dan melakukan tugas panggilan yang mulia agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Keteladanan guru Pendidikan Agama Kristen masa kini juga merupakan faktor penting untuk menerapkan konsep pengajaran Tuhan Yesus dalam proses belajar mengajar. Seberapa banyak guru PAK masa kini yang tidak menjadi teladan sebagai hamba Tuhan yang dipanggil sebagai pengajar. Kurangnya keteladan yang diberikan guru dalam kehidupannya sebagai pengajar, menjadikan pembelajaran yang dilakukannya menjadi hampa dan tiada berarti.


Soal! ! 1. Jelaskan Yesus sebagai guru Yang agung ? 2. Jelaskan contoh dan Yesus sebagai guru yang agung ? 3. Sebutkan dan Jelaskan 2 hat utama yang menjadi, prinsip dasar Pengajaran Yesus ?


2. Perumpamaan Tentang Seorang Penabur ( Lukas 8:4-15 ) Pengertian tentang Penabur Penabur dalam bahasa yunani (speirö) merupakan kata kerja present active participle, berkasus maskulin nominative singular, yang berarti menabur. Penabur dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer berarti orang yang menabur benih, bunga, dan sebagainya. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penabur adalah orang yang menabur benih dan sebagainya. Penabur berasal dari kata dasar tabur yang berarti sesuatu yang ingin ditanamkan. Penabur dibagi dalam dua jenis benda dan sikap. Penabur dalam arti benda yaitu suatu benda yang akan ditabur atau ditananm, seperti benih, dan sebagainya. Sedangkan sikap penabur berarti menaburkan atau menanamkan benih-benih atau perilaku yang baik terhadap orang lain. Tetapi yang menjadi fokus disini adalah penabur dalam arti benda yaitu penabur benih. Penabur benih dalam Kamus Bahasa Indonesia Komtemporer berarti alat untuk menabiur benih secara ototmatis yang ditarik oleh traktor. Penabur benih adalah orang yang melakukan kegiatan menaburkan benih di suatu lahan atau ladang. Pengertian Tentang Benih Dalam bahasa yunani (sporos) merupakan kata benda yang memiliki kasus maskulin, akusatif, tunggal yang artinya benih.Benih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah biji atau buah yang di sediakan untuk ditanam dan tumbuh menjadi benih, benih yang ditanam


harauslah buah yang cukup baik dan cukup tua. Sedangkan menurut Kamus Alkitab, benih digunakan dalam arti harafiah dari tanaman dan gandum (Ul. 11:10), seperti dalam “perumpamaan-perumpamaan Yesus (Mrk. 4:26-29, 30-32), tetapi juga dalam arti keturunan manusia (Mrk. 12:19) terutama keturunan Abraham (Rm. 4:13) yaitu Israel.Terjemahanterjemahan modern lebih menyukai istilah keturunan dari pada benih. Dalam Alkitab menjelasakan tentang bagimana kehidupan manusia. Paui A. Mengatakan “hati manusia seperti tanah,dan benih adalah Firman Allah,hati itu mampu menerimanya dan menghasilkan buah darinyan .Nanamu kecuwali beni itu di tabur di dalam tana itu tidak akan menghasilkan apa pun yang berharga.Karna itu penting sekali untuk mempersatukan bedih dengan tana itu.untuk apa beni yang sudah di baca dalam Kitab Suci jika tidak di lakukan? Dan untuk apa tanah itu dalam hati,jika tidak di tabur dengan beni itu. Benih Yang Jatuh Di Pinggiran Jalan Di dalam konteks Lukas ini, benih yang dimaksud adalah kebenaran firman Tuhan, dan penabur disini adalah Allah. Namun, jika dikaitkan dengan konteks masa kini, benih itu adalah firman sedangkan penabur disini adalah gembala/pendeta dan juga guru-guru agama Kristen. Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang mendengarkan Firman Tuhan namun tidak memahaminya dengan baik, sehingga ia tidak mengerti kemudian datanglah penjahat dan merampas yang di taburkan dalam hati orang-orang itu itulah benih yang di taburkan di pinggiran jalan. Benih juga merupakan Firman yang di tanggapi oleh Roh bagi kehidupan umat manusia, di mana orang yang tidak mau mendengarkan firman dan menerima Firman Tersebut ia seumpama sama dengan benih yang di tabur di pigiran jalan. Pinggiran jalan merupakan daerah pingiran atau daerah tepi dari suatu tanah ladang yang dekat dengan jalan raya, ia dengan mudah di lalui oleh lalu lintas itu .Banyak hati orang kafir dan hati orang beriman telah menjadi orang keras sebab firman yang mereka dengar tidak direspon dengan baik sehingga membuat mereka sulit untuk memiliki hati yang lembut. Dalam tafsiran Lukas 8:12 “pinggiran jalan” ialah orang telah mendengarkanya, dan kemudia datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam diri mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Dalam tafsiran bisa diartikan bahwa si iblis tidak senang apabila anak-anak Tuhan mendengarkan firman Tuhan dengan baik dan merepon serta melakukannya dalam kehidupan mereka sehari-hari karena bagi si iblis jikaulah anak-anak Tuhan melakukan hal itu si iblis merasa marah dan meresa gagal karena ia tidak bisa menyesatkan anak-anak Tuhan. Di Makan Burung Burung Di Udara Burung-burung dalam bahasa yunani ialah (peteinon), merupakan kata benda nominative neuter jamak, yang artinya banyak burung. Burung-burung di udara melambangkan


si iblis yang sedang mencari benih firman Tuhan yang sudah di tabur di atas tanah dan kemudian merampasnya dari hati manusia dengan tujuan agar manusia tersebut tidak menerima firman itu di dalam hatinya dan melakukannya. Tujuan iblis digambarkan seperti burung pencuri “benih” burung mencuri benih yang di taburkan oleh penabur. Benih Yang Jatuh Di Tanah Berbatu-Batu Ketika perumpamana ini diterapkan pada pengalaman hidup orang beriman maka jelas bahwa Yesus tidak meremehkan keberadaan manusia sehingga hal ini perlu diterapakan kepada setiap orang yang menerima benih sesuai situasi dan keadaan hidupnya. Apabila benih ditabur di tanah subur tentu akan mendapatkan suatu penghasilan yang menyenangkan dalam kehidupannya. Ini mengambarkan bahwa Yesus tidak menuntut harus menghasilkan seratus kali lipat namun ajaran Yesus ini memotivasi kapada murid-murid dan orang banyak yang berbondong-bondong mengikut agar murid-murid Yesus dan orang yang berbondongbondong itu setia dalal hidupnya untuk menabur. Yesus pada waktu, orang berbondongbondong mengikuti Dia maka disitulah Yesus mengajarkan bagaimana menabur benih. Artinya bahwa Firman Allah yang perlu diterapkan kedalam hati manusia. Terkhusus orang yang percaya kepada Allah, Benih yang jatuh ketanah berbatu-batu melambangkan hati orang yang mendengarkan firman Tuhan, namun hanya sementara saja karena setelah ia mengalami pencobaan dalam hidupnya ia tidak kuat dan pada akhirnya ia kembali meninggalkan Tuhan. Kata Yesus, orang seperti ini perlu menerima Firman, serta memiliki motivasi yang kuat dalam hidupnya agar dia mengikut Tuhan dengan sepenuh dan sepenuh jiwa sebab jika dia mengalami pencobaan dalam dirinya dia bisa kuat dan tetap setia kepda Tuhan walaupun dia sedang mengalami pencobaan yang berat. Benih Yang Jatuh Di Semak Duri Fiman merupakan kabar kerajaan seorang bagi setiap umat manusia,Tuhan Yesus memberikan ajaran kepada orang bayak dan murid-murid–Nya, pengajaran melalui perumpama Kebenarn Firman Tuhan. Melalui perupamaan sehingga orang-orang yang sedang mengikut Yesus bisa dapat mengerti. Orang yang memiliki hati seperti semak berduri adalah orang yang sudah di himpit dan ditekan oleh himpitan kehidupan/banyaknya kebutuhan-kebutuhan yang tak terpenuhi ataupun ujian-ujia yang menghimpit kehidupan, namun tidak bisa melewatinya. Mereka menyerah dan mencari jalan keluar pada hal-hal duniawi. Dimana orang yang hati nya sangat memiliki kekuatiran akan kebenaran firman Tuhan. Benih yang jatuh di tana yang bersemak duri, Artinya bahwa benih melambangkan Firman Allah yang dapat memberikan pengaruh kepada setiap kehidupan orang percaya, tetapi juga tidak setiap orang percaya dapat menerima Firman itu. Dengan demikan benih yang jatuh


dapat memlambangakan Firman Allah. Artinya bahwa, benih yang di tabur di semak duri adalah orang yang mendengarkan Firman tetapi keadaan mempengaruhinya, menghimpitnya sehingga orang tersebut tidak bertumbuh. Pengertian Tanah Yang Baik Tanah yang baik melambangkan hati seseorang, yang dapat mendengarkan ajaran Firman Tuhan dan mengaplikasikan dalam kehidupannya, benih kebenaran firman harus di terima dan dapat di lakukan dalam setiap kehidupan. Tanah dalam bahasa Yunani (gē ) artinya tanah; bumi; darat; negeri; (manusia di) dunia’ merupakan kata benda neuter feminim singular akusatif. Setiap orang percaya yang menerima benih-benih itu, kebenaran yang di terima harus dapat di kembangkan kepada orang–orang yang belum pernah menerima ajaran Tuhan dan ajar mereka dapat menerima kebenaran firman Tuhan. Orang yang melambangkan tanah yang subur harus selalu peka dalam setiap pekerjaan dan tindakan yang dapat dilakukan dalam mengutamakan ajaran yang sudah Yesus lakukan dan mau menjadi bibit-bibit yang baik bagi orang. Yang belum mengenal tentang ajaran Kritus. Sebagai orang percaya dapat menggunakan waktu untuk melakukan setiap pekerjaan yang sudah di percayakan dengan baik. Pegertian 30 kali lipat 60 kali lipat dan 100 kali lipat Penabur benih merupakan salah seorang yang menabur Firman Tuhan, kepada orang lain yang belum mengenal firman Allah, maka dia akan mendapatkan berkat dari Tuhan. Seperti yang Tuhan janjikan melalui perumpamaan ini menjadi suatu kekuatan dalam kehidupam orang yang di mana seorang harus meresponi kebenaran dan firman Tuhan itu dapat di kembangkan untuk menolong orang lain. Perumpamaan Yesus pertama yang terpopuler adalah perumpamaan tentang seorang penebur menaburkan benih di ladangnya sebagian dari benih itu jatuh di pinggiran jalan sehingga burung dapat memakannya sampai habis dan sebagaian lagi jatuh di tanah yang berbatu-batu, mengapa demikan? Karena tanahnya tipis sehingga dapat tumbuh dan mendapatkan sinar matahari yang terbit, hal ini dapat mengakibatkan tanaman layu pada saat terkena matahari. Sebagian benih itu jatuh di tengah semak duri, dan ketika semak duri itu semakin besar maka ia menghimpitnya tetapi sebagian benih itu jatuh di tempat yang subur lalu tumbuh dan berbuah ada yang 30 kali lipat dan 60 kali lipat. Jika seseorang dapat memelihara ajaran Firman Tuhan dan dapat melakukannya maka dia juga akan mendapatkan hasil seperti yang Tuhan berikan kepadanya karena dia telah memiliki firman dan memeliharan dan dapat mengaplikasikan salam kehidupanya. Tugas Dan Tanggung Jawab Penabur Benih Firman Allah Di Tanah Yang Baik


Sebagi seorang pengajar, maka ia harus mempersiapkan bahan pengajaran dan metode-metode yang akan diajarkan kepada perserta didik. Demikian halnya dengan seorang yang ditugaskan oleh Allah untuk menjadi saksi Allah. Demi terciptanya pengajaran maka Seorang guru atau pengajar perlu memberikan motivasi kepada murid seperti Kejujuran. Kejujuran merupakan hal penting bagi setiap orang. Maka setiap murid belajar jujur mengerjakan tugas yang diberikan bahkan pada saat ujian atau kejujuran dalam hal tidak mengertinya pengajaran yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab sebagai seorang pengajar Kebenaran Allah bagi peserta didik perlu bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran yang benar tentang Menghormati pendidik atau pengajar dalam setiap menabur benih Firman Tuhan. Menghormati Seorang pengajar berarti seseorang belajar mengharagainya sama dengan menghormati Tuhan sebagai wakil atau alat Tuhan untuk mengajarkan tentang Allah. Akan tetapi terlebih dahulu pengajar perlu menghargai dan melihat peserta didik sebagi biji Mata Allah yang memerlukan Kasih melalui pengajaran yang harus dilakukan berdasarkan kasih Allah. Sehingga dengan demikian sebagai pengajar tidak saja bertanggungjawab dalam hal materi atau pengajaran tetapi juga hasil dari benih Allah yang ditaburkan untuk dipertanggungjawabkannya agar peserserta didik juga memiliki pertanggungjawaban hidupnya kepada Tuhan dan menjadi saksi-Nya. KESIMPULAN Pengajar merupakan suatu tugas mulia yang perlu diterapkan oleh seseorang yang sesuai dengan keahliannya. Setiap pengajar tentu menginginkan agar materi yang di sampaikan dapat di mengerti dan dipahami oleh nara didiknya, sehingga perlu adanya strategi khusus dalam mengajar. Pengajaran Yesus menurut Injil Lukas 8:4-9. Disini Yesus berperan sebagai guru yang mengajarkan setiap orang yang mau datang dan mengikutinya, atau kepada orang-orang yang mau diajar. Yesus melakukan pengajaran tidak haanya fokus pada suatu tempat, misalnya hanya di dalam bait Allah saja. Ia melakukan pengajaran-Nya dengan berkeliling dari desa ke desa dan dari kota ke kota dengan tujuan agar banyak orang yang percaya kepada Injil. Hal ini merupakan salah satu strategi yang Yesus gunakan agar banyak jiwa/manusia yang bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Strategi merupakan suatu teknik dan taktik yang dilakukan oleh seseorang guna mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam pengajaran juga tidak terlepas dari strategi. Salah satu contoh kecil adalah Yesus. Dalam pengajarannya ia selalu menggunakan beraneka strategi dalam megajar sehingga setiap orang yang mendengarkan-Nya tidak merasa bosan.


Realitasnya memang banyak yang mengikuti Yesus. Di dalam Kitab Injil Lukas 8:4-9 tentang perumpamaan tentang seorang penabur merupakan salah satu contoh pengajaran Yesus yang menggunakan strategi. Kitab ini ditulis tidak sembarang di tulis, tetapi atas penyertaan Roh Kudus juga sehingga setiap orang menjadi percaya. Soal!! 1. Jelaskan tujuan Yesus melakukan Pengajaran berkenning dari desa ke desa ? 2. Jelaskan benih yang jatuh dalam konteks orang percaya ? 3. Sebutkan Perumpamaan Yusud yang pertama Populer ?


3. Orang Samaria yang murah hati ( Lukas 10:25-37 ) Persahabatan adalah Tema Teologis Tuhan Yesus memberi teladan dalam menjalin pergaulan. Tuhan Yesus sebagaimana dicacat di dalam Injil sangat tampak jelas bahwa Ia dekat dengan para murid-Nya. Tuhan Yesus juga terbuka kepada semua orang melampaui sekat-sekat atau batasan adat istiadat atau kebiasaan serta budaya yang berlaku pada saat itu. Ia juga berhubungan dengan para rohaniawan (Yoh. 7:42-52), penguasa (Mrk. 7:1-10), pemungut cukai (Luk. 19:1-10), orangorang berdosa (Luk. 7:36-50), orang Samaria (Yoh. 4), dan sebagainya. Tindakan dan sikap Tuhan Yesus tersebut menunjukkan bahwa persaha-batan memiliki alasan atau landasan teologis yang kuat. Dan dasar teologis tersebut menjadi standar atau pijakan tindakan bagi orang Kristen di mana pun dalam menjalin dan mempraktikkan konsep persahabatan tersebut di dalam kehidupan bermasyarakat. Firman Allah mengajarkan agar orang Kristen harus hidup saling mengasihi. Tuhan Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Selanjutnya juga Tuhan Yesus mengatakan di dalam Lukas 6:27, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu”. Rasul Yohanes dalam suratnya


mengatakan hal yang serupa agar orang Kristen hidup saling mengasihi, ”Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yoh. 4:20-21). Stevanus menyatakan bahwa kata “saudara” di sini tidak boleh dipahami secara sempit, yaitu saudara yang sekeluarga, seiman, sesuku, sebangsa, dan sebagainya. Namun, “saudara” yang dimaksudkan firman Allah tentu mencakup semua orang tanpa batasan sosial apa pun. Orang Kristen diperintahkan untuk saling mengasihi semua orang sebagai sesamanya, sebagai ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan-Nya. Pandangan Orang Yahudi terhadap Orang bukan Yahudi Sikap dan pandangan orang Yahudi terhadap orang Samaria sangat negatif. Mereka menganggap orang Samaria kelas marginal. Orang Yahudi tetap mempertahankan sikap ekslusif sebagai umat Allah, penyembah YHWH. Orang Yahudi sangat fanatik terhadap agama dan sukunya serta budayanya. Orang Yahudi kurang peduli dan kurang simpatik terhadap orang non Yahudi. Orang Yahudi lebih fokus pada sesamanya orang Yahudi. Morton Smith mengemukakan bahwa ada bukti fisik yang secara konsisten melaporkan terjadi fusi (peleburan) antara orang-orang Israel (Yahudi) dan orang-orang di sekitarnya. Ditemukan banyak sekali orang Israel hasil kawin campur dengan orang lokal dan kemudian salah satunya menjadi orang Samaria paska penaklukan Asyur di Utara dan Babel di Selatan. Sekalipun memiliki darah Yahudi, hukum rabinis tidak menganggap orang Samaria sebagai keturunan Yahudi. Orang Samaria lebih dianggap sebagai keturunan yang tidak murni. Beberapa penjelasan merujuk ras ini sebagai keturunan orang Kanaan bahkan Mesopotamia. Rekonstruksi Yesus terhadap Budaya Yahudi sebagai Orang Yahudi Terkadang orang lupa siapa Yesus yang sesungguhnya. Bagaimana pun juga, Yesus lahir dari dunia Yahudi. Ia adalah seorang Yahudi. Ia lahir dan mati sebagai seorang Yahudi. Klausner membuat pernyataan yang sangat ekstrim, bahwa Tuhan Yesus tidak dianggap bukan Yahudi malah dilihat sebagai orang yang bersifat Yahudi yang berlebihan, karena menjalankan hukum kasih Taurat secara radikal dan konsekuen. Sebaliknya pendapat yang berbeda dari Montefiori, yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus telah menyimpang dari tradisi Yahudi karena perhatian-Nya kepada orang berdosa. Namun Ia tetap demikian sampai akhir hayat-Nya sebagai orang Yahudi. Entah sengaja atau tidak, seseorang akan mulai terbiasa untuk memilih teman atau sahabat dan membedakan orang berdasarkan perbedaan-perbedaan luar yang duniawi: status


sosialnya, agama, suku, dan budaya, dan lain-lain. Berbagai atribut sosial inilah yang dalam dunia sosial kemudian menjadi pembeda dan bahkan menjadi pemisah antara seorang akan yang lain. Contohnya, orang Yahudi dan orang Samaria yang berabad-abad lamanya telah hidup terpisah dengan tidak saling berhubungan, berkomunikasi dan berinteraksi. Kenyataan waktu itu terdapat jurang pemisah antara orang Yahudi dan bangsa lain termasuk Samaria disebabkan karena perbedaan status sosial mereka. Salah satu jurang atau tembok pemisah itu adalah kecenderungan orang Yahudi merendahkan orang bukan Yahudi, termasuk orang Samaria. Padahal orang Samaria sejatinya secara memiliki hubungan kerabat dengan orang Yahudi dilihat dari sisi ras, bahasa bahkan agama. Ternyata mereka hidup terpisah dengan tidak saling berhubungan selama berabad-abad. Sebaliknya mereka hidup saling membenci. Sebagaimana tercatat di dalam Yohanes 4:9 dikatakan Yohanes bahwa orang-orang Yahudi tidak ada hubungan dengan orang Samaria. Para peziarah Yahudi dari Galilea ke Yerusalem kuatir akan diperlakukan secara semena-mena di Samaria, dan sering mengambil jalan memutar yang lebih panjang melintasi wilayah orang bukan Yahudi di seberang Yordan untuk mencegah konflik. Pengajaran Tuhan Yesus yang paling menyinggung perasaan orang Yahudi adalah cerita tentang orang Samaria yang murah hati yang dicatat oleh Lukas (pasal 10: 29-37). Bagi orang Yahudu, sejatinya esensi dari cerita itu bukan kebaikan Orang Samaria itu, tetapi etnisnya dan rasnya. Bruce menyatakan justru melalui Tindakan seorang Samaria pun dapat menunjukkan diri-Nya benar-benar sebagai Seorang sesama. Ditambahkan France bahwa kisah orang Samaria yang murah hati itu merupakan simbol atau lambang dari konsep dan sikap Tuhan Yesus sendiri, yakni respon konkrit terhadap sesama manusia, walaupun hal itu berarti mengabaikan rintangan-rintangan adat-istiadat atau budaya. Dikemukakan oleh Kalis Stevanus, bahwa dengan tegas Tuhan Yesus menjawab pertanyaan para ahli Taurat dan juga orang Yahudi melalui cerita orang Samaria yang murah hati yang disebut sesama manusia itu tidak sempit seperti yang dipahami orang Yahudi. Sesama manusia adalah mereka yang juga berbeda dalam kepelbagian yang ada di dalamnya. Bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap sesama? Dari contoh-contoh yang telah penulis paparkan di atas bahwa Tuhan Yesus menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa membedakan segala perbedaan yang ada di dalamnya. Entah perbedaan suku, budaya, agama atau kepercayaan serta perbedaan lainnya. Tuhan Yesus tidak membatasi diri untuk berhubungan dengan orang. Juga dikatakan oleh Verne H. Fletcher berdasarkan dari apa yang dipaparkan oleh Lukas melalui contoh-contoh di atas, semua itu merupakan bukti bahwa tidak ada peristiwa atau perkataan dari pihak Tuhan Yesus yang mengungkapkan sikap negative terhadap


orang-orang Samaria. Juga berdasarkan apa yang telah dikemukakan secara gamblang oleh Yohanes tentang sikap positif Tuhan Yesus terhadap wanita Samaria di tepi sumur Yakub (Yoh.4:3-42) hendak memperlihatkan “tembok pemisah” akan rubuh, tembok yang selama ini memisahkan antara bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Meskipun merupakan seorang Yahudi, Tuhan Yesus menerima semua orang tanpa mempersoalkan ras, jenis kelamin, etnis, orang Yahudi, orang Samaria, maupun budaya serta adat-istiadat, dan atribut sosial lainnya. Ia menyapa dan bergaul dengan semua orang. Ia terbuka, toleran, dan mau berdialog dengan semua orang. Tuhan Yesus telah melampaui keYahudian-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Kalis Stevanus, dengan sangat jelas pelayanan Tuhan Yesus sebagaimana dicatat di Injil Sinoptik, Ia sangat peduli dan memerhatikan bangsa-bangsa lain di luar bangsanya sendiri, bangsa Yahudi. Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil Kerajaan dan menjangkau daerah-daerah di luar batas keyahudian-Nya. Dan terbukti ada banyak orang dari pelbagai latar belakang percaya dan menjadi murid-Nya. Di dalam misi-Nya, Tuhan Yesus sangat menaruh minat yang besar untuk memenangkan orang-orang non Yahudi. Ia tidak pernah membeda-bedakan status seseorang yang datang kepada-Nya. Dan sangat jelas setelah kebangkitan-Nya, Ia memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh makhluk, seantero dunia ini, yang dikenal dengan sebutan Amanat Agung. Amanat Agung tersebut mendeklarasikan sekaligus menjadi bukti bahwa Tuhan Yesus hadir ke dunia untuk menjalankan misi Bapa-Nya bukan semata-mata hanya untuk orang Yahudi atau Samaria, melainkan kepada seluruh umat manusia. Injil adalah kabar baik bagi semua orang di dunia ini apapun status sosialnya. Jika seseorang ingin diselamatkan harus merespon dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hidup pribadinya. Injil harus diberitakan kepada semua manusia bukanlah erintah manusia, tapi perintah Ilahi berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Karena Injil harus diberitakan kepada semua manusia agar mereka diselamatkan dan menjadi murid Tuhan Yesus, sikap Tuhan Yesus kepada semua manusia sebagaimana dicatat di dalam Injil menjadi bukti penerimaanNya tanpa mempersoalkan perbedaan dan mempertahankan keyahudiannya. Kesimpulan Melalui kisah orang Samaria yang murah hati, orang Kristen belajar bagaimana bersikap dan memperlakukan sesamanya sebagai sahabat, sebagai sesama manusia tanpa membuat pembedaan. Dengan demikian, telah terjawab bahwa sesama manusia adalah semua orang tanpa mempedulikan latar belakang sosialnya. Siapapun, yakni tidak terba-tas oleh ras, etnis, agama maupun budaya. Hukum kasih melampaui batas ras, etnis, agama, budaya, dan


atribut sosial lain, seperti yang ditunjukkan dalam perumpamaan tersebut. Hal inilah yang dituntut dari kehidupan kristiani, bagaimana pun keadaan dan di mana pun, tampil sebagai seorang Samaria yang murah hati bagi sesama dan untuk ‘kebaikan bersama’ dan terlebih lagi sebagai wujud kesaksian bagi nama Kristus. Orang Kristen seyogianya selalu berpandangan positif terhadap sesama apa pun agama, kepercayaan, etnis, budaya, tradisi, dan status sosialnya. Sikap demikian akan mencegah ketegangan-ketegangan dan konflik dengan sesama. Soal!! 1. bagaimana tangapon orang Yaundi terhadap orang bukan Yahudi ? 2 Bagaimana Sikap Yesus terhadap sesama ? 3. Pembelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah orang sumaria Yangg baik hati ?


4. Perumpamaan tentang talenta ( Matius 25:14-30 ) Pengertian Talenta Talenta berarti kemampuan, bakat atau kapasitas seseorang yang didapatkan secara natural/alami. Bakat, dalam bahasa Inggris disebut "talent" dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "talenta". Talenta adalah kemampuan yang khas yang dimiliki seseorang untuk dapat ber- prestasi pada bidang-bidang tertentu sesuai dengan talenta yang dimilikinya. Talenta berasal dari Kata Yunani: ralavrov Talanton' terdiri dari kata kerja tao - Tlao", yang berarti "memikul", "mengangkut". Timbangan atau neraca menggunakan bentuk jamak τα ταλαντα - 'Τα Τalanta. Kemudian kata ταλαντον - Talanto digunakan untuk sesuatu yang ditimbang dengan neraca, sehingga akhirnya mengandung makna berat tertentu dari emas dan perak. Dalam Injil Matius pasal 25 ayat 14 sampai dengan 30 menceritakan bagaimana Yesus manggambarkan Kerajaan sorga sama seperti seorang yang mau bepergian keluar negeri yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Terdapat tiga orang hamba yang dipercayakan dengan tiga nilai talenta yang berbeda, yang seorang dipercayakan satu talenta, yang seorang lagi dua talenta dan seorang yang lain lagi lima talenta. Tuhan Yesus menyebut tentang hamba-hamba tersebut dipercayakan talenta menurut kesanggupannya masingmasing. Talenta yang ceritakan oleh Yesus adalah satuan nilai mata uang yang memiliki nilai cukup besar untuk dipercayakan kepada seorang hamba. Dalam hal ini talenta yang dipercayakan oleh tuan tersebut kepada hamba-hambanya berarti memiliki nilai kepercayaan dan tanggung jawab yang harus diemban oleh hamba-hamba tersebut.


Talenta dalam Matius 25:14-30 juga diyakini oleh sebagian orang kristen sebagai karunia khusus yang diberikan oleh Kristus. Kita bisa memulai memahami perumpamaan tersebut dengan pertanyaan sebagai berikut. Apakah hanya orang Kristen yang memiliki bakat atau keahlian khusus? Jawabannya, Tidak. Karena ada banyak orang di luar Kristen yang memiliki bakat-bakat tertentu, bahkan ada yang memiliki bakat yang teramat unik. Bakat Bakat (aptitude) mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potenst (potential ability) yang masih perlu dikembangan atau dilatih agar dapat terwujud. Bakat berbeda dengan kemampuan (ability) yang mengandung makna sebagai daya untuk melakukan sesuatu, sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Bakat juga berbada dengan kapasitas (capacity) dengan sinonimnya, yaitu kemampuan yang dapat dikembangkan di masa yang akan datang apabila latihan dilakukan secara optimal. Beberapa ahli cenderung membedakan bakat atas bakat umum dan bakat khusus. Berbakat atau gifted, diartikan sebagai memiliki bakat intelektual (baik umum atau khusus) dan talent sebagai bakat-bakat khusus, misalnya dalam seni musik atau seni rupa. Bakat merupakan suatu kondisi atau suatu kulaitas yang dimiliki individu yang memungkinkan individu itu untuk berkembang pada masa mendatang, mengklasifikasikan jenis-jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud menjadi empat bidang, yaitu: ➢ Bakat akademik khusus, misalnya bakat untuk memahami konsep yang berkaitan dengan angka-angka (numeric), logika bahasa (verbal), dan sejenisnya. ➢ Bakat kreatif produktif, artinya bakat dalam hal menciptakan sesuatu yang baru, misalnya menghasilkan program komputer terbaru, arsitektur terbaru, dan sejenisnya. ➢ Bakat seni, misalnya mampu mengaransemen musik yang digemari banyak orang, menciptakan lagu dalam waktu yang singkat, dan mampu melukis dengan indah dalam waktu yang relatif singkat Bakat psikomotorik, antara lain sepak bola dan bulu tangkis. ➢ Bakat sosial, antara lain mahir melakukan negosiasi, menawarkan suatu produk, berkomunikasi dalam organisasi, dan mahir dalam kepemimpinan. Sehubungan dengan cara berfungsinya, ada dua jenis bakat yaitu: Kemampuan pada bidang khusus (talent) seperti pada bakat musik, bakat menari, olah raga dan lain-lain Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan khusus misalnya bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasi kemampuan di bidang teknik arsitek.


Perkembangan Talenta Sekalipun bakat ada dipengaruhi oleh faktor keturunan turunan, namun bebera- pa keahlian didapatkan dengan cara latihan. Sesuatu akan menjadi kebiasaan atau keahlian atau bakat bila dilakukan terus menerus sejak balita hingga remaja. Kalau suatu kebiasaan baik dilakukan pada usia agak besar, diatas 12 tahun, maka hasilnya kurang maksimal, sulit tumbuh jadi yang unggul, mungkin hanya meningkat sedikit diatas rata-rata saja. Menurut Sarlito" terdapat sejumlah variabel lingkungan yang mempengaruhi berkembangnya bakat pada diri seseorang. Variabel-variabel tersebut adalah: Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk memfasilitasi dalam mengekspresikan bakat yang dimiliki, misalnya untuk bakat olahraga yaitu lapangan bermain, bakat musik yaitu alat musik, dan sejenisnya. Lingkungan sosial melalui proses sosialisasi misalnya kebudayaan tertentu membentuk tingkah laku tertentu. Misalnya di Iran mungkin tidak dapat berkembang bakat seni musik, tari, dll. Karena disana misalnya tidak dibolehkan bernyanyi. Jadi kesempatan untuk mengekspresikan bakat tersebut sangat sedikit. Lingkungan edukasi, pengembangannya melalui pendidikan formal seperti sebagaimana diajarkan di sekolah. Besar atau banyaknya latihan, pengembangan bakat melalui proses training atau latihan. Hambatan-hambatan yang ada dalam lingkungan misalnya kemiskinan, cara pengasuhan anak yang khusus, dan sebagainya. Kemungkinan untuk mengekspresikan atau mengutarakan bakat misalnya apakah diberikan kesempatan latihan yang cukup, apakah tersedia alat, dsb. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas dan bakat: a. Menciptakan lingkungan yang merangsang kreativitas Mengembangkan rasa ingin tahu anak dengan mengenalkannya pada berbagai hal atau kegiatan, misalnya dengan melakukan eksprerimen sederhana, membuat kreasi, atau mengunjungi museum. b. Melibatkan anak dalam kegiatan curah ide (brainstorming) Meminta anak untuk melontarkan beragam ide dalam kelompok, dan kemudian membahas ide-ide yang dilontarkan. Semakin banyak ide yang dihasilkan, semakin besar kemungkinkan munculnya ide-ide yang unik. c. Memberikan kesempatan untuk bereksplorasi dan mencoba Memberikan anak kebebasan untuk melakukan eksplorasi, menemukan hal-hal baru, dan sesekali membuat kesalahan sehingga ia dapat belajar menelaah berbagai sudut pandang untuk memecahkan persoalan. d. Memunculkan motivasi internal


Menghargai setiap ide maupun karya yang dihasilkan anak secara proporsional. Menghindari memberi kritik yang dapat menimbulkan kekecewaan pada anak. Menghindari juga memberi pujian secara berlebihan. Hendaknya, tidak selalu menghadapkan anak pada situasi yang kompetitif. e. Mengembangkan cara berpikir yang fleksibel dan playful Melatih anak untuk menelaah berbagai sudut pandang dalam menghadapi persoalan. f. Mengenalkan anak dengan orang-orang yang kreatif Mengenalkan anak pada seseorang yang memiliki suatu karya dan diskusikan mengenai kemampuannya. Pendidik juga dapat merancang suatu kegiatan di sekolah, misalnya dengan mengundang ahli dalam bidang tertentu untuk berbagi pengalaman. Untuk mengembangkan bakat dan minat anak, diperlukan beberapa faktor berikut: ➢ Stimulasi Faktor stimulan bakat dan minat bisa internal atau eksternal. Stimulan yang utama ialah kesadaran akan potensi diri, belajar dan terus belajar, konsentrasi dan fokus dengan kemampuan atau kelebihan diri kita. Jangan selalu melihat kepada kelemahan, karena waktu kita akan terbuang, sehingga bakat pun ikut terpendam dan minat jadi berkurang. ➢ Berusaha untuk Kreatif Berusaha kreatif dengan mencari inspirasi dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Kreativitas akan menuntun jalan kita menuju pengenalan dan pemahaman bakat, menumbuh kembangkan minat, sehingga kita dapat mengembangkannya agar bermanfaat bagi hidup kita. ➢ Pelihara Kejujuran dan Ketulusan. Kita harus jujur mengakui bakat yang kita miliki sekalipun tidak begitu kita minati. Ketulusan menyukuri bakat dapat menumbuhkan minat meskipun perlu proses dan waktu. Bakat alami itu akan tetap ada, bisa dikembangkan dan dimanfaatkan dengan meningkatkan kekuatan minat. Misalnya, kita semua bisa menulis, bakat yang bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik daripada orang lain. Ketika bakat itu disertai dengan minat yang kuat, maka bakat itu akan berkembang lebih pesat dan berkualitas. Bakat itu akan mengundang kerinduan untuk melakukannya kembali, seperti energi yang mensuplai kebutuhan.


Kesimpulan Maka kesimpulan dan pegajaran dari perumpamaan itu adalah bahwa manusia diberi kesempatan rohani yang berbeda-beda, setiap manusia diberi modal oleh Allah dengan berbeda-beda, tidak masalah yang dimiliki itu talenta sedikit atau talenta banyak, talenta kecil atau talenta besar, semuanya harus diusahakan untuk kepentingan Sang Tuan yang memberi modal talenta itu. Dalam setiap pemberian talenta-talenta kepada manusia. Ada orang-orang yang mau menggunakan kesempatan dan menggunakannya, golongan ini di mata Allah dianggap sebagai hamba yang setia. Dan golongan orang yang tidak menggunakan kesempatan dan mengusahakan talenta-nya itu, ia akan dibuang (dihukum) karena ia adalah hamba yang “tidak berguna.” Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua itu akan lebih bermanfaat jika Anda sanggup mengenalinya. Mengenal diri sendiri berarti mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada dalam diri. Tidak hanya itu, kita juga harus dapat memanfaatkan kelebihan itu semaksimal mungkin. Sebaliknya, kekurangan yang kita miliki juga harus kita terima dan siasati agar tidak membuat kita jatuh. Saat kita mampu mengenal diri dengan baik, maka kita pun akan mampu memimpin orang lain dengan baik. Banyak orang yang pada akhirnya menempuh jalan yang tidak sesuai dengan hati nurani mereka karena merasa apa yang mereka lakukan atau kerjakan tidak maksimal dengan potensi serta keahlian yang mereka miliki. Namun karena kurangnya dorongan dan dukungan beberapa orang memutuskan mengubur talenta yang ada dalam diri mereka karena tuntutan orang lain atau karir. Pemuda-pemudi misalnya, mereka yang paling banyak mengalami kesulitan dalam memutuskan apa yang harus mereka lakukan saat ini, dimana mereka memutuskan untuk mulai melihat masa depan dan berpikir logis atau tetap dalam pengharapan meraih impian yang menurut mereka terlalu jauh untuk dapat diraih. Dalam hal inilah gereja hendaknya menanamkan harapan bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Soal!! 1. Apa itu talenta ? 2. Jelaskan jenis-jenis bakat khusus baik yang masi berupa potensi maupun yang sudah berwujud ?


5. Kasih Kepada Allah adalah perintah yang utama ( Ulangan 6:1-25 ) Pendidikan gama Kristen harus mampu mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam pergaulan antar pribadi dan kehidupan sosial dengan menunjukkan bahwa siswa atau Peserta didik Kristen bertumbuh sebagai pribadi dewasa yang tidak kehilangan identitas. Peserta didik mampu hidup bersama dengan orang lain tanpa kehilangan identitas. Peserta didik mengekspresikan identitasnya dalam kebersamaan dengan orang lain sebagai murid Kristus melalui sikap menghargai orang lain, tidak membeda-bedakan status ekonomi. derajat, sara, dan lain-lain, hidup bersimpati dan berempati pada orang lain, Hidup henar dan suci dalam persahabatan. Alkitab adalah sumber utama dan pertama bagi pelaksanaan dan keseluruhan isi pendidikan agama Kristen. Dapat dipastikan bahwa seluruh kitab dan seluruh nas merupakan materi ajar pendidikan agama Kristen. Salah satu kitab yang sangat sarat dengan materi ajar bagi anak siswa adalah kitab Ulangan. Bahkan dapat kitab Ulangan dapat disbeut sebagai pijakan dasar dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen, karena di dalamnya dibangun teologia dasar pendidikan agama bagi bangsa Israel, yang tentunya juga sangat relevan untuk masa kini dalam konteks Pendidikan Agama Kristen. Pola Pembelajaran Berdasarkan Ulangan 6: 1-9 Untuk memulai menguraikan pokok utama yaitu Pola Pengajaran, perlu diutarakan pokok-pokok yang terkandung di dalamnya. Hal-hal yang terkandung di dalamnya antara lain: isi pengajaran, tujuan pengajaran, proses pengajaran, dan evaluasi pembelajaran


Musa adalah penulis kitab Taurat, kitab Ulangan salah satunya. Musa adalah seorang pemimpin terbesar yang pernah hidup di masa Perjanjian Lama. Dalam Kitab Ulangan, kita mempunyai kata-kata terakhirnya kepada bangsa Israel. Dalam serangkaian amanat Musa menantang generasi yang baru untuk mentaati syarat-syarat Perjanjian Sinai dan mengikut Tuhan dengan segenap hati mereka. Apabila mereka sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, ketaatan seperti itu tidak akan membosankan, melainkan merupakan suatu reaksi yang timbul dari komitmen yang mendalam. Musa mendorong Yosua dan seluruh umat itu agar tetap kuat dan berani serta menduduki Tanah Perjanjian. Dengan penyertaan dan pemeliharaan Allah yang besar, Israel mengalami kelimpahan berkat Allah pada waktu mereka hidup bagi Tuhan di Tanah Perjanjian yang telah dijanjikan oleh Allah kepada nenek moyang mereka." Kitab Ulangan merupakan kitab terakhir dalam Pentateukh yang memperoleh namanya dari kata Yunani "deuteronomian touto di Ulangan 17:18, yang berarti "pemberian hukum yang kedua"." Sebenarnya ungkapan ini dalam naskah Ibrani lebih tepat berarti "salinan hukum ini", tetapi penggunaan yang populer dari hukum kedua" yang menghubungkan kitab ini dengan Perjanjian Sinai dari Kitab Keluaran, yang berhubungan erat dengan Kitab Ulangan. Bersama pengulangan Sepuluh Hukum dalam pasal 5, kitab Ulangan yang berisi banyak hukum yang sama dengan yang ditemukan dalam kitab Keluaran, terutama Kitab Perjanjian (Kel.21-23). Musa ingin mengingatkan bangsa ini tentang tanggung jawabnya untuk melaksanakan berbagai aturan hukum dan mematuhi syarat-syarat Perjanjian Sinai Apabila kita mengamati perkataan terakhirnya kepada Israel, secara efektif Musa memimpin bangsa ini untuk memperbaharuhi Perjanjian Sinai ketika ia mengenangkan empat puluh tahun yang dilewatkan di padang gurun. Kitab ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang Israel akan kesetiaan Allah dan mendorong mereka agar mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka. Karena bangsa ini akhirnya siap memasuki Kanaan. Kitab Musa yang kelima ini berbeda dengan empat kitabnya yang lain, sebagaimana Injil Yohanes berbeda dengan tiga Injil Sinoptis. Baik Kitab Ulangan maupun Kitab Yohanes berisi hanyak hal baru yang penting dan menyajikan percakapan atau amanat penting dari "Musa dan Tuhan Yesus", pada akhir kehidupan jasmani mereka. Kitab ini menekankan perlunya mengasihi Allah dan melayani Dia dengan setia." Setelah empat dasawarsa mengembara di padang gurun, Musa ingin sekali menantang generasi muda untuk mengikuti Tuhan dengan segenap hati mereka, Musa ingin memperbaharuhi perjanjian yang diikat oleh orang tua mereka di Gunung Sinai dan berusaha memberi dorongan dan peringatan kepada mereka yang sungguh-sungguh akan menduduki Tanah Perjanjian. Kesempatan besar bagi Israel sungguh dapat direalisasikan. namun karena


bangsa ini menjauhkan diri dari Allah, maka pembaharuan diadakan untuk generasi haru. Mereka perlu komitmen yang sama dengan tetap menunjukkan ketaatan yang lebih baik, Allah tidak menghendaki ada pembrontakan dari umat Israel. Karena itu mereka perlu diingatkan bahkan diajar agar tetap pegang teguh janji Tuhan dengan menunjukkan ketaatan dan kesetiaan kepada Allah. Kitab Ulangan adalah kitab peralihan. Peralihan itu dinyatakan dengan 4 cara yaitu: 1) Peralihan ke suatu generasi baru, karena generasi tua yang keluar dari Mesir dan dihitung di Sinai tinggal hanya 3 orang saja yaitu Kaleb. Yosua dan Musa, dan saatnya perlu ada generasi baru yang dilahirkan selama dalam perjalanan penggembaraan di padang gurun., 2) Peralihan ke suatu pemilikan baru. Pengembaraan di padang gurun akan beralih menjadi pendudukan Kanaan, 3) Peralihan ke suatu pengalaman baru atau hidup baru. Kemah diganti dengan rumah, kehidupan pengembaraan berubah menjadi kehidupan menetap dan makanan padang gurun dengan makanan susu, madu, gandum dan anggur Kanaan., 4) Peralihan ke suatu penyataan Tuhan, menjadi penyataan KasihNya. Pola Pembelajaran berdasarkan Ulangan 6:1-9 ialah seperangkat unsur-unsur dalam pembelajaran yang menjadi pedoman dalam pengembangan pembelajaran dengan dasar firman Tuhan yaitu Ulangan 6:1-9 untuk meningkatkan kualitas rohani umat, seperangkat pembelajaran yang terdiri dari 5 komponen yaitu 1) isi/materi pengajaran, 2) tujuan pengajaran, 3) proses pembelajaran dan 4) evaluasi pembelajaran dan 5) metode pengajaran. 1) Isi Pengajaran Fokus utama isi pembelajaran Allah kepada Umat Israel berdasarkan Taurat Tuhan yang disampaikan dalam Perjanjian Sinai yang diterima Musa di Gunung Sinai berupa Loh Batu dengan segala peraturan yang ada di dalamnya. Banyak pembelajaran Allah yang disampaikan kepada Musa, namun sejak diturunkan dua loh batu, maka Israel diajar untuk taat dan mengasihi Allah dengan segenap hati. 2) Tujuan Pengajaran Tujuan merupakan arah yang harus dituju. Sesuatu yang diharapkan oleh karena telah melakukan tindakan atau perintah. Tujuan pembelajaran berdasarkan dalam Ulangan 6:4-7, memberikan penjelasan bahwa tujuan pembelajaran bagi umat Israel adalah: Supaya Takut akan Tuhan (Ulangan 6:2a) yaitu supaya takut akan Tuhan dan tetap memegang ketetapan dan peraturan. Supaya Lanjut Umur (Ulangan 6:2b), Supaya Baik Keadaanmu serta Lanjut Umurmu (Ul.6:3b), dan Supaya kamu menjadi sangat banyak (Ulangan 6:3c). Berikut dijelaskan masing-masing tujuan pembelajaran tersebut. 3) Proses Pengajaran


Anak kalimat berikut ini: “ ...yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Tuhan..” (Ulangan 1:1b), memberi petunjuk adanya komuniasi Musa dengan Umat Israel. Musa sebagai pengajar dan umat Israel sebagai murid yang diajar. Kejadian 6:4 tertulis “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu. Allah kita, Tuhan itu Esa!”. Sebenarnya Allah sendiri yang mengajar umat Israel, tetapi oleh karena ketidaktaatan dan ketidakkudusan umat Israel, menyebabkan mereka tidak mampu menerima ajaran dengan komunikasi langsung dengan Allah, mereka tidak mampu menghadap Allah muka dengan muka. Oleh Karena itu Allah berbicara kepada Musa yang dipilih sebagai wakil Allah untuk menyampaikan pengajaran-Nya kepada umat Israel. Pada dasarnya, proses pembelajaran adalah proses penyampaian pesan-pesan (bahan ajar) dari seorang pendidik kepada anak didik yang di dalamnya terjadi beberapa proses interaksi seperti hubungan komunikasi, penggunaan metode-metode, proses belajar (menangkap gagasan, menemukan pemahaman-pemahaman baru), dan proses melakukan tindakan baru seperti apa-apa yang sudah dipelajari. Dalam proses itu, pengajar dalam hal ini Musa dituntut taat dan setia kepada Allah dan mengandalkan dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam kuasa-Nya. 4) Evaluasi Pengajaran Kata "untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya (Ulangan 6:1c). Memberi petunjuk pada perjanjian Allah kepada nenek moyang Israel pada waktu itu Perjanjian Allah dengan Abraham (Kejadian 12: 2a), yaitu :" Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar". Istilah evaluasi memiliki dua bentuk, yaitu yang pertama, evaluasi yang berbentuk suatu test (penilaian) berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab murid, Misalnya test harian, test tengah pengajaran, test akhir di akhir pengajaran. Test semacam ini bisa berbentuk subyektif (essay) atau obyektif test semacam ini bisa berbetuk: Pilihan Benar- Salah (B-S), Pilihahan ganda. Isian, Multiple Choise, Pilihan sebab akibat, Pilihan Ganda berganda, dan lain-lain. Yang kedua, evaluasi yang berbentuk feedback (umpan balik) atas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Hal hal yang dievaluasi menyangkut pelaksanaan dalam pembelajaran atau yang disebut komponen-komponen pengajaran, yaitu, baik materi, tujuan, proses pengajaran, dan evaluasi itu sendiri. Selain komponen pembelajaran yang perlu dievalusi, juga unsur-unsur pembelajaran yang meliputi: Pengajar, Murid, dan Isi pengajaran". Evaluasi dalam pembelajaran selalu di dahului aktivitas, selanjutnya menengok kembali aktivitas yang telah dilakukan sesuai dengan yang direncanakan atau yang diharapkan. 5) Metode Pembelajaran Berdasarkan Ulangan 6:1-25


Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. Pengajar yang telah berpengalaman sependapat bahwa masalah yang sangat penting bagi pengajar harus mempersiapkan metode yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan serta isi materi yang diajarkan. Metode yang digunakan menentukan suksesnya pembelajaran selaku pengajar. Jadi metode pembelajaran berdasarkan Ulangan 6:1-25 merupakan metode pembelajaran yang Alkitabiah sebagaimana yang disampaikan Allah kepada Musa untuk dilakukan dalam pembelajaran kepada umat Israel. Metode pembelajaran berdasarkan Ulangan 6:1-25 digambarkan dengan 4 indikator dalam variabel ini yaitu: 1) metode pengulangan, 2) metode diskusi (membicarakan), 3) metode Hafalan (Mengingat) dan 4) Metode Penerapan. Dalam hal ini pembelajaran melalui Musa, karena umat Israel tidak berkenan dihadapan Allah, sehingga melalui Musa, Allah berkenan menyampaikan pengajaranNya. Banyak metode yang Allah pakai untuk mengkomunikasikan kepada umat. Melalui sarana atau media, maka maksud Allah dapat disampaikan kepada umat Allah. Dengan memperhatikan keseluruhan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Ulangan 6:1-25 mengandung beberapa prinsip sebagai pola pengajaran, yaitu sebagai berikut: pertama, isi pengajaran dalam ulangan 6:1-25 adalah berupa ketetapan dan peraturan, perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan dengan segenap kekuatan. Kedua, pengajaran dalam Ulangan 6:1-25 memiliki tujuan pengajaran yang sangat jelas, yaitu supaya umat Israel dan keturunnya sepanjang masa Takut akan Tuhan, lanjut umur, memiliki keadaan yang baik dan bisa menjadi banyak sebagaimana telah dimandatkan Allah kepada manusia pertama dalam kitab Kejadian. Ketiga, pengajaran dalam Ulangan 6:1-25 juga menjelaskan proses pengajaran dimana Allah sebagai pengajar utama dan selanjutnya para Nabi dan orang tua menjadi agen-agen sesuai dengan perintah Allah. Pembelajaran dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Keempat, pembelajaran dalam Ulangan juga mengandung evaluasi pembelajaran yang unik, yaitu melalui suatu tindakan feedback yaitu menengok kembali aktifitas yang telah berlalu atau telah dilakukan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dalam arti beberapa masa lalu atau masa periode yang lampau, pada masa kehidupan umat Israel dibawah pimpinan Musa. Dalam hal ini evaluasi atas kehidupan umat Israel yang diajar oleh Allah sendiri melalui Musa. Apakah tetap dalam kondisi yang sama atau kondisi meningkat atau sebaliknya kondisi yang memprihatinkan dalam arti bangsa Israel tidak mengindahkan perintah dan ajaranNya.


Kelima, kitab Ulangan 6 juga memuat metode Pembelajaran yang sangat khas, aplikatif dan sederhana yaitu berupa metode pengulangan, metode diskusi (membicarakan), metode hafalan (Mengingat) dan metode penerapan. Soal!! 1. Apa metode pembelajaran menurut ulangan 6:1-25 ? 2. Dalam kitab Ulangan 6:1-25, kenapa Alkitab sebagai sumber utama dalam pembelajaran? 3. Apa prinsip dari kitab Ulangan 6:1-25 ?


Materi 6 Nasihat dan peringatan (Amsal 8:1-10) Pembahasan Hikmat dapat datang dari yang mengasihi Tuhan (8-9). Sekalipun orang tua kita tidaklah sempurna, tetapi Tuhan dapat memakai mereka untuk mengingatkan kita agar hidup di jalan yang benar. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk tidak mengabaikan nasihat orang tua termasuk nasihat dalam memilih teman. Sebab, kita perlu menyadari realitas bahwa tidak setiap pertemanan membawa kebaikan bagi diri kita. Pertemanan yang salah dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa. Memang dosa yang mereka tawarkan akan selalu terlihat menarik, karena dosa itu sendiri menawarkan cara yang cepat untuk mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Dosa juga selalu memanipulasi kita agar tidak merasa bersalah pada saat kita melihat banyak orang melakukan perbuatan dosa. Dengan demikian, ketika kita berusaha melawan arus dan hidup benar, kita akan terlihat aneh, bodoh, tidak populer, bahkan dikucilkan. Sadarilah bahwa dosa tidak pernah membawa kebaikan bagi kita. Sebaliknya, dosa membawa penderitaan dan kematian. Oleh sebab itu, kita harus belajar membuat pilihan bukan berdasarkan kenikmatan yang sementara atau dorongan nafsu kita, melainkan berdasarkan pertimbangan jangka panjang. Hal itu juga berarti bahwa kita harus berani menolak untuk berteman dengan orang-orang yang menarik kita kepada aktivitas yang salah dan yang sengaja menunjukkan perbuatan dosanya kepada kita untuk kita ikuti (10). Sebab,


jika kita terus berteman dengan mereka dan menoleransi perbuatan dosa mereka, bukan tidak mungkin suatu saat kita pun akan terpengaruh dan berbuat dosa yang sama dengan mereka. Kesimpulan Ada contoh yang luarbiasa baik yang bisa kita temukan di dalam Alkitab tentang anak-anak yang berhasil dididik dengan baik. Salah satu contoh yang ada bisa kita lihat di sini, Yeremia 35:5-10. Di depan anggota-anggota kaum orang Rekhab itu aku meletakkan piala-piala penuh anggur dan cawan-cawan, lalu aku berkata kepada mereka: "Silakan minum anggur!" Tetapi mereka menjawab: "Kami tidak minum anggur, sebab Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami, telah memberi perintah kepada kami, katanya: Janganlah kamu atau anak-anakmupun minum anggur sampai selama-lamanya; janganlah kamu mendirikan rumah, janganlah kamu menabur benih; janganlah kamu membuat atau mempunyai kebun anggur, melainkan haruslah kamu diam di kemah-kemah selama hidupmu, supaya lama kamu hidup di tanah, di mana kamu tinggal sebagai orang asing! Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur. Evaluasi 1. Apa yang di maksud dengan hikmat? 2. Siapa pemberi Hikmat yang benar dan sempurna? 3. Apakah dengan hikmat yang benar kita di selamatkan ?


Materi 7 Hikmat yang benar (Amsal 1:2-7) Pembahasan Bagaimana kehadiran Allah dalam kehidupan, Dia berkarya, bekerja, menuntun dan mengarahkan hidup manusia tentulah tidak akan dapat dipahami, dimengerti dan tidak akan tergambar dalam akal pikiran orang yang tidak menerima Roh Allah diam dan bekerja dalam kehidupan seseorang. Hikmat Allah, bukanlah hikmat yang berasal dari dunia ini, yang sudah ada sebelum dunia di jadikan itulah yang dinyatakan bagi kita orang percaya melului Roh Tuhan yang diam dalam diri orang percaya. Dengan demikian, Tuhan memberikan kepada setiap orang percaya kemuliaan (ay.7) yang begitu besar, sebab hikmat yang kita miliki melebihi orang yang hanya mengandalkan hikmat duniawi. Pengetahuan, pengertian, kebijaksanaan, hikmat yang ada sebelum dunia dijadikan itu dicurahkan kepada kita orang yang percaya kepada Kristus. Ll Memiliki hikmat Allah hanya dapat bekerja dalam diri seorang yang menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Menerima curahan Roh-Nya diam dan bekerja dalam dirinya. Rasul Paulus menuliaskan bahwa memiliki hikmat Allah adalah “memiliki pikiran Kristus”. Artinya bahwa Kristus adalah penyataan hikmat Allah dalam dunia ini, yang tentunya hikmat manusia tidak dapat memahami ini, dan menganggap hal ini adalah ‘kebodohan’.


Namun mengenal dan mempercayai Kristus menjadikan kita sebagai orang yang beruntung. Pengetahuan dan iman kita kepada Kristus telah menjadikan kita berada diatas hikmat manusia. Dikatakan pada ayat 9 “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”Pengetahuan, peradaban dan tehnologi akan selalu berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Dahulu berbeda dengan sekarang dan akan beda pula pada hari yang akan datang. Apa yang baik sekarang belum tentu sesuatu yang baik pada masa yang akan datang, dan pengetahuan manusia. Kesimpulan Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda – baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan – untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Evaluasi 1. Bagaimana Allah hadir dalam kehidupan kita? 2. Apakah kita beruntung di pilih sebagai umat kepunyaan Allah? 3. Apakah Hikmat itu berasal dari dunia atau dari Allah Bapa ?


Materi 8 Menjadi anak-anak terang (Yohanes 1:4-5) Pembahasan Sebagai anak-anak pasti takut sama yang namanya kegelapan, apalagi saat malam hari ? Karena saat gelap kita tidak dapat melihat sekeliling kita. Maka kita membutuhkan yang namanya Terang. Terang itu menjadi sumber kehidupan bagi kita, jika adanya terang kita dapat melihat keadaan sekeliling kita. Pada zaman dahulu, ada sebuah negeri yang selalu terang-benderang di siang hari dan gelap gulita di malam hari. Penduduk negeri itu merasa sangat kesulitan saat malam tiba, karena tidak ada cahaya sama sekali. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan untuk mencari solusi. Setelah berdiskusi, mereka akhirnya sepakat untuk mengumpulkan semua sumber cahaya yang mereka miliki di siang hari dan menyalakannya bersama di malam hari. Saat malam tiba, mereka menyalakan semua sumber cahaya yang mereka miliki, termasuk lampu minyak, lilin, dan api unggun. Akibatnya, negeri itu menjadi terang-benderang di malam hari, dan penduduknya sangat senang. Dari cerita diatas menunjukkan bahwa adanya terang itu merupakan hal baik dalam hidup kita, dalam Yohanes 1:4 memberitahukan kita bahwa kita butuh terang yang sesungguhnya yaitu Tuhan Yesus sebagai juru selamat kita, selain kita membutuhkan terang untuk menerangi rumah tempat kita tinggal, kita juga membutuhkan terang dalam diri kita agar kita bisa menjadi anak-anak Tuhan Yesus yang hidup menurut kehendak-Nya. Yaitu kita harus rajin beribadah,


rajin berdoa, rajin membaca Alkitab, dengar-dengaran dengan orang tua, dan terus berbuat baik kepada siapa pun itu. Sedangkan gelap itu membuat kita tidak tahu akan apapun, kita akan melawan dan tidak mau mendengarkan perintah orang tua terlebih Tuhan Yesus. Ketika kita sudah menjadi anak terang kita memiliki sifat dan kepribadian seperti Tuhan Yesus, pada Yohanes 1:5 memberitahukan kepada kita bahwa kegelapan itu tidak dapat menguasai kita jika kita sudah berada dalam terang. Dari cerita diatas menunjukkan bahwa adanya terang itu merupakan hal baik dalam hidup kita, dalam Yohanes 1:4 memberitahukan kita bahwa kita butuh terang yang sesungguhnya yaitu Tuhan Yesus sebagai juru selamat kita, selain kita membutuhkan terang untuk menerangi rumah tempat kita tinggal, kita juga membutuhkan terang dalam diri kita agar kita bisa menjadi anak-anak Tuhan Yesus yang hidup menurut kehendak-Nya. Ketika kita sudah menjadi anak terang kita memiliki sifat dan kepribadian seperti Tuhan Yesus, pada Yohanes 1:5 memberitahukan kepada kita bahwa kegelapan itu tidak dapat menguasai kita jika kita sudah berada dalam terang. Kesimpulan Kadang, persoalan utamanya, orang dewasa itu sering menganggap anak-anak kecil itu gak eksis, gak penting. Dalam Perjanjian Baru, kita tahu bahwa murid-murid pernah menyuruh anak-anak pergi karena dianggap gak penting (Matius 19:13-14). Evaluasi 1.Apakah kita membutuhkan terang ? 2. Bagaimana hidup menurut anak-anak terterang? 3. Apa yang terjadi jika tidak ada terang ?


Materi 9 Ayub menaati perintah Tuhan dalam menjalankan Tugas (Ayub 1:1-5) Pembahasan Ayub terus berusaha memiliki karakter keempat itu dalam kehidupannya setiap hari. Jika Ayub gagal, maka Ayub akan segera meminta ampun kepada Allah atas kesalahannya/kesalahannya. Demikan yang selalu Ayub lakukan : minta ampun atas setiap dosanya. Setelah itu Ayub kembali berjuang untuk menghidupi keempat karakter itu. Ayub tidak hanya meminta ampun untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk anak-anaknya. Karena itu, Ayub memelihara karakter-karakter yang menyenangkan Allah dari hari ke hari. Allah senang dengan kehidupan Ayub. Kita sebagai anak-anak kita harus patuh dan taat kepada perintah orang tua, terlebih kepada Tuhan Yesus. Jika kita menjadi anak-anak yang taat maka kita akan disayangi. Ada sebuah Kisah luar biasa di Alkitab tentang seseorang yang sangat taat kepada Allah, sampai ia dicobai juga Ia masih tetap taat. Ada seorang laki-laki dari tanah Us yang jujur dan saleh bernama Ayub. Ayub selalu menjauhi kejahatan karena ketakutannya pada Allah. Bagi Ayub, Allah adalah Yang Berdaulat dan berhak melakukan apapun. Allah berhak untuk memberikan segala sesuatu serta berhak mengambil kembali segala yang diberikan-Nya. Ayub sedang berdoa Gambar disamping menunjukkan ketaatan Ayub dimana saat ia mengalami masa sulit ia tidak marah kepada Tuhan, tetapi ia tetap berdoa kepada Tuhan.Dikisahkan, Ayub adalah


seorang yang kaya raya. Ia memiliki 7000 ekor domba, 3000 ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, serta hamba sahaya dengan jumlah yang sangat banyak. Ayub menjadi orang terkaya di negeri timur. Melihat Ayub yang sangat taat pada Allah, setan berkata pada Allah, “tentu saja dia taat kepada-mu, Engkau memberkati dan melindunginya dengan tanah dan binatang, coba ambil semuanya, pasti dia tidak mau lagi menyembah-Mu.” Allah mengizinkan setan untuk menguji Ayub. Kenapa Tuhan mengizinkannya? Sebab Ia yakin Ayub tidak akan tergoda dan tetap taat pada-Nya. Setan mulai menguji Ayub dengan mendatangkannya bencana. Seluruh ternak Ayub dimusnahkan. Pertama sapi, keledai, dan untanya dicuri. Lalu domba-domba Ayub juga dibakar habis. Para penjaga binatang mati terbunuh. Tidak hanya itu, semua anak Ayub mati ketika sedang berpesta karena tempatnya roboh. Bahkan setan tak henti-hentinya membuat Ayub lebih menderita dengan menumbuhkan bisul di seluruh tubuh Ayub. Namun, seluruh penderitaan Ayub tersebut tidak menghentikan ketaatannya pada Allah. Ketika mendapat cobaan yang begitu berat, ia tidak mengutuk Allah. Justru sebaliknya, Ayub makin memuji keagungan Allah. Ringkasan Dari kisah Ayub banyak hal yang dapat kita pelajari darinya selain ketaatan yang dimilikinya. Seperti ia tetap percaya kepada Allah walau ia sudah kehilangan segalanya, dari kisahnya ia telah kehilangan seluruh kekayaannya, ia telah kehilangan anak-anaknya, tetapi ia tetap setia dan taat kepada Allah. Evaluasi 1. Apa yang di dapatkan dari kisah Ayub? 2. Apakah kita harus sempurna dalam didikan? 3. Apakah kita harus menerima didikan dengan hati yg tulus ?


Materi 10 Pengajaran Tuhan Yesus dan implementasinya (Lukas 8:4-9) Pembahasan Pengajaran yang benar, pengenalan akan Tuhan merupakan suatu yang dapat mempengaruhi kehidupan kepribadian seseorang dalam bertumbuh dalam iman dan pengenalannya akan Yesus bahkan pengajaran dapat mempengaruhi aspek kehidupan seseorang dan dapat mempengaruhi setiap tingkah laku, perkataan dan perbuatannya. Pengajaran yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid melalui keteladanan dan kasihNya tidak membuat semua murid-murid Tuhan Yesus menjadi setia dan benar-benar percaya kepada-Nya. Pengajaran Tuhan Yesus sangat sempurna dan dapat mengubahkan setiap hati yang mau menerima pengajaran-Nya. Hidup dalam Tuhan mengalami himpitan, tekanan bahkan masalah tetapi penyertaan Tuhan tidak akan pernah hilang. Jika seseorang berada dalam pengajaran yang benar dan memiliki pemahaman yang benar maka ia akan bertahan dan tetap percaya kepada pengajaran yang benar itu yaitu, Firman Tuhan.Penelitian ini dilakukan untuk mencapai tujuan sebagai berikut: Menjelaskan seorang guru PAK dapat memiliki keteladanan, dan karakter Yesus dalam memberikan pengajaran yang benar berdasarkan Firman Tuhan dan guru Pendidikan Agama Kristen memiliki strategi dalam pengajarannya sehingga lebih mudah untuk di terima bagi peserta didik yang sulit untuk menerima pengajaran. Metode Penelitian yang penulis gunakan dalam penyusunan skripsi ini menggunakan penelitian kualitatif murni atau (Library research). Berdasarkan hasil yang


diperoleh atau ditemukan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : perumpamaan tentang seorang penabur merujuk kepada para pelayan Tuhan, baik pemberita Firman, bahkan guru. Kata perumpamaan merupakan suatu analogi yang Tuhan Yesus gunakan agar mudah di mengerti dan di pahami oleh setiap pendengar. Ringkasan Pengajar merupakan suatu tugas mulia yang perlu diterapkan oleh seseorang yangSesuai dengan keahliannya. Setiap pengajar tentu menginginkan agar materi yang sampaikan dapat di mengerti dan dipahami oleh nara didiknya, sehingga perlu adanya strategi khusus dalam mengajar.Di Dalam pembahasan bab-bab sebelumnya menjelaskan tentang pengajaran Yesus menurut Injil Lukas 8:4-9. Disini Yesus berperan sebagai guru yang mengajarkan setiap orang yang mau datang dan mengikutinya, atau kepada orang-orang yang mau diajar. Evaluasi 1. Siapa yang harus jadi pelaku firman ? 2. Bagaimana peneran pelaku firman sebagia benih yang tumbu di tanah subur ? 3. Siapa yang harus kita teladani dalam pengajaran Guru pak dalam pelaku firman ?


BIODATA PENULIS Nama : Gusti A. Wadu Netu Nim : 10120210047 Tempat, tanggal lahir : Sabu, 17 juni 2000 Alamat : Naimata Status : Mahasiswa Prodi/jurusan : PAK/ Pendidikan Agama Kristen Fakultas : FKIP-IAKN KUPANG Moto hidup : Do the best, Get the best


Click to View FlipBook Version