The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bahan ajar ini digunakan untuk proses pembelajaran PPL PPG Prajabatan 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Suarni Suarni, 2023-10-29 03:40:23

Bahan Ajar Pesawat Sederhana Kelas 8 SMP/MTs

Bahan ajar ini digunakan untuk proses pembelajaran PPL PPG Prajabatan 2023

Keywords: Bahan ajar Pesawat sederhana

PESAWAT SEDERHANA Gambar: (a) Orang mencabut paku dengan tangan; (b) orang mencabut paku dengan catut. Berdasarkan gambar di atas, dapat dicermati pekerjaan mana yang lebih mudah dilakukan. Semua jenis alat yang digunakan untuk memudahkan pekerjaan manusia disebut pesawat. Kesederhanaan dalam penggunaannya menyebabkan alat-alat tersebut dikenal dengan sebutan pesawat sederhana. Pesawat sederhana adalah alat sederhana untuk memudahkan pekerjaan manusia. Gabungan beberapa pesawat sederhana dapat membentuk pesawat rumit, contohnya mesin cuci, sepeda, mesin, mobil, dan lain-lain. Selain bertujuan untuk memudahkan pekerjaan, pesawat sederhana juga dapat membuat pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan. Pesawat sederhana dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu tuas, bidang miring, katrol, dan roda berporos. Agar lebih memahami keempat jenis pesawat sederhana tersebut, berikut akan dijelaskan satu persatu. 1. Tuas Jika suatu saat kamu kesulitan menggeser bongkahan batu yang besar, maka kamu dapat menggunakan suatu alat bantu. Alat yang dapat membantu untuk menggeser batu yang besar adalah linggis. Linggis merupakan salah satu jenis tuas. Tuas lebih dikenal dengan nama pengungkit. Pada umumnya, tuas atau pengungkit menggunakan batang besi atau kayu yang digunakan untuk mengungkit suatu benda. Terdapat tiga titik yang menggunakan gaya ketika kita mengungkit suatu benda, yaitu titik beban (TB), titik tumpu (TT), dan titik kuasa (TK). Titik beban merupakan tempat berat benda, sedangkan titik tumpu merupakan tempat bertumpunya suatu gaya. Gaya yang bekerja pada tuas disebut titik kuasa. Berdasarkan posisi atau kedudukan titik beban, titik tumpu, dan titik kuasa, tuas digolongkan menjadi tiga, yaitu tuas golongan pertama, tuas golongan kedua, dan tuas golongan ketiga.


a. Tuas Golongan Pertama Pada tuas golongan pertama, kedudukan titik tumpu terletak di antara beban dan kuasa. Contoh tuas golongan pertama ini di antaranya adalah gunting, linggis, jungkatjungkit, dan alat pencabut paku. b. Tuas Golongan Kedua Pada tuas golongan kedua, kedudukan beban terletak di antara titik tumpu dan kuasa. Contoh tuas golongan kedua ini di antaranya adalah gerobak beroda satu, alat pemotong kertas, alat pemecah kemiri, dan pembuka tutup botol. c. Tuas golongan ketiga Pada tuas golongan ketiga, kedudukan kuasa terletak di antara titik tumpu dan beban. Contoh tuas golongan ketiga ini adalah sekop yang biasa digunakan untuk memindahkan pasir. Coba perhatikan letak titik tumpu, beban, dan kuasa pada gambar berikut. 2. Bidang Miring Ketika liburan sekolah kamu mungkin pernah mengunjungi daerah pegunungan untuk mencari udara segar. Jalan-jalan di sana ternyata dibuat berkelok-kelok. Perhatikan gambar di bawah ini!


Gambar: Jalan menuju pegunungan berkelok-kelok Jalan yang berkelok-kelok menuju pegunungan memanfaatkan cara kerja bidang miring. Bidang miring adalah permukaan rata yang menghubungkan dua tempat yang berbeda ketinggiannya. Dengan dibuat berkelok-kelok pengendara kendaraan bermotor lebih mudah melewati jalan yang menanjak. Orang yang memindahkan drum ke dalam bak truk dengan menggunakan papan sebagai bidang miringnya. Dengan demikian, drum berat yang besar ukurannya lebih mudah dipindahkan ke atas truk. Bidang miring memiliki keuntungan, yaitu kita dapat memindahkan benda ke tempat yang lebih tinggi dengan gaya yang lebih kecil. Namun demikian, bidang miring juga memiliki kelemahan, yaitu jarak yang di tempuh untuk memindahkan benda menjadi lebih jauh. Prinsip kerja bidang miring juga dapat kamu temukan pada beberapa perkakas, contohnya kampak, pisau, pahat, obeng, dan sekrup. Berbeda dengan bidang miring lainnya, pada perkakas yang bergerak adalah alatnya. 3. Katrol Di awal pembahasan, kamu telah mengenal salah satu jenis pesawat sederhana yang ada di sekolahmu, yaitu katrol. Katrol merupakan roda yang berputar pada porosnya. Biasanya pada katrol juga terdapat tali atau rantai sebagai penghubungnya. Berdasarkan cara kerjanya, katrol merupakan jenis pengungkit karena memiliki titik tumpu, kuasa, dan beban. Katrol digolongkan menjadi tiga, yaitu katrol tetap, katrol bebas, dan katrol majemuk. a. Katrol Tetap Katrol tetap merupakan katrol yang posisinya tidak berpindah pada saat digunakan. Katrol jenis ini biasanya dipasang pada tempat tertentu. Katrol yang digunakan pada tiang bendera dan sumur timba adalah contoh katrol tetap.


b. Katrol Bebas Berbeda dengan katrol tetap, pada katrol bebas kedudukan atau posisi katrol berubah dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Katrol jenis ini biasanya ditempatkan di atas tali yang kedudukannya dapat berubah, seperti tampak pada gambar di bawah. Salah satu ujung tali diikat pada tempat tertentu. Jika ujung yang lainnya ditarik maka katrol akan bergerak. Katrol jenis ini bisa kita temukan pada alat-alat pengangkat peti kemas di pelabuhan. c. Katrol Majemuk Katrol majemuk merupakan perpaduan dari katrol tetap dan katrol bebas. Kedua katrol ini dihubungkan dengan tali. Pada katrol majemuk, beban dikaitkan pada katrol bebas. Salah satu ujung tali dikaitkan pada penampang katrol tetap. Jika ujung tali yang lainnya ditarik maka beban akan terangkat beserta bergeraknya katrol bebas ke atas. Katrol majemuk 4. Roda Berporos Roda berporos merupakan roda yang dihubungkan dengan sebuah poros yang dapat berputar bersama-sama. Roda berporos merupakan salah satu jenis pesawat sederhana yang banyak ditemukan pada alat-alat seperti setir mobil, setir kapal, roda sepeda, roda kendaraan bermotor, dan gerinda. Roda berporos pada sepada dan kendaraan bermotor


INFO IPA Kapal Phinisi Kebanggaan Suku Bugis Apakah kamu pernah mendengar lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”? Lagu tersebut sebenarnya menceritakan kondisi para leluhur bangsa di masa lampau. Kita telah mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dipisahkan oleh lautan. Beberapa masyarakat di zaman dahulu menggunakan kapal untuk berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Salah satu suku yang terkenal dan akrab dengan lautan adalah suku Bugis. Suku Bugis dikenal sebagai suku yang andal dan juga piawai dalam mengarungi lautan hingga samudra di Nusantara maupun dunia. Para masyarakat Bugis menaklukan lautan dengan bermodalkan sebuah kapal legendaris, yakni kapal Phinisi. Kapal Phinisi adalah kapal layar tradisional khas masyarakat Bugis. Ciri khas dari kapal phinisi ialah memiliki dua tiang utama serta tujuh buah layar. Tiga layar berada di bagian depan, dua di bagian tengah, dan dua di bagian belakang. Video Pembelajaran Untuk mengetahui lebih jelas tentang materi Pesawat Sederhana. Silahkan disimak tayangan video berikut. (Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=rey9tDY97Xs )


Kapal ini sendiri memiliki sejarah panjang. Tertuang dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, kapal phinisi sudah ada sejak abad ke-14 M. Pada naskah tersebut, diceritakan kapal ini pertama kali dibuat oleh putra mahkota Kerajaan Luwu yang bernama Sawerigading. Sawerigading membuat kapal phinisi dari pohon welengreng (pohon dewata) yang dikenal cukup kuat dan juga kokoh. Kapal ini dibuat oleh Sawerigading untuk melakukan perjalanan menuju Tiongkok. Ia berminat mempersunting seorang putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Setelah sekian lama ia menikahi We Cudai dan menetap di Tiongkok, Sawerigading ingin pulang ke kampung halamannya. Singkat cerita ia pun menaiki kapal buatannya untuk kembali ke Luwu. Namun, ketika berada di dekat Pantai Luwu kapal Sawerigading menghantam ombak hingga terpecah. Pecahan-pecahan kapal Sawerigading terdampar ke tiga tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo. Pecahan-pecahan kapal ini kemudian disatukan kembali oleh masyarakat menjadi sebuah kapal megah yang dinamakan dengan Kapal Phinisi. Ada tiga tahap dalam proses pembuatan kapal phinisi dengan cara tradisional yang dimiliki oleh suku Bugis. Pertama adalah penentuan hari baik dalam pencarian kayu fondasi. Kayu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal bisa berasal dari empat jenis kayu, yaitu kayu besi, kayu bitti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati. Selanjutnya, kayu yang hendak digunakan akan dipotong dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dirakit. Perakitannya dengan memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Dalam proses perakitan juga terdapat hal yang unik, yaitu saat pemotongan lunas harus menghadap timur laut. Proses pemotongan kayu harus dilakukan dengan gergaji tanpa henti. Maka dari itu, pemotongan kayu memerlukan tenaga seseorang yang cukup kuat. Setelah proses perakitan yang berlangsung hingga berbulan-bulan, tahapan terakhir dari pembuatan kapal phinisi adalah peluncuran kapal ke lautan. Pada tahapan ini, terdapat sebuah upacara atau ritual khusus yang dinamakan dengan upacara maccera lopi (menyucikan kapal). Upacara ini dilakukan dengan prosesi pemotongan hewan. Apabila bobot kapal kurang dari 100 ton maka hewan yang dikorbankan adalah seekor kambing, sedangkan jika lebih dari 100 ton hewan yang dikorbankan adalah seekor sapi. Kabupaten Bulukumba, tepatnya di daerah Tana Beru sampai saat ini masih menjadi daerah yang memproduksi kapal phinisi ini. Uniknya lagi, para pengrajin tetap mempertahankan cara pembuatan kapal phinisi. Tidak ada gambar ataupun kepustakaan lainnya dalam cara pembuatannya, para pengrajin hanya mengandalkan ilmu yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun. Kabupaten Bulukumba menjadi salah satu opsi destinasi wisata kebudayaan yang menghibur sekaligus mengedukasi. (Sumber : https://ditsmp.kemdikbud.go.id/perahu-pinisi-suku-bugis-dan-pelaut-andal/)


GLOSARIUM Pesawat Sederhana : Alat yang digunakan untuk mempermudah melakukan usaha atau pekerjaan. Usaha : Besarnya energi atau gaya yang diberikan untuk memindahkan atau menggerakkan suatu benda atau objek. Pengungkit (Tuas) : Pesawat sederhana yang digunakan untuk mengubah efek atau hasil suatu gaya. Bidang Miring : Jenis pesawat sederhana dengan menggunakan bidang datar yang dibentuk hingga menciptakan sudut tertentu agar memperkecil gaya kuasa. Katrol : Pesawat sederhana berupa roda beralur yang terhubung dengan tali dan digunakan untuk memudahkan dalam melakukan kerja karena katrol dapat mengubah arah gaya ketika menarik atau mengangkat beban.


DAFTAR PUSTAKA Fajar Tri M, Okky. dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek. Lestari, Sri Handayani, dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hermawan, Deni. Pesawat Sederhana. Academia Edu. Diakses 29 November 2023 dari https://www.academia.edu/34120864/Pesawat_Sederhana Admin SMP. 2022. Perahu Pinisi, Suku Bugis, dan Pelaut Andal. Direktorat Sekolah Menengah Pertama. Diakses 29 November 2023 dari https://ditsmp. kemdikbud.go.id/perahu-pinisi-suku-bugis-dan-pelaut-andal/


Click to View FlipBook Version