The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Arsitektur Kearifan Lokal Minangkabau

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by elgusmaini, 2021-04-05 00:44:54

Dokumentasi Informasi Minangkabau

Arsitektur Kearifan Lokal Minangkabau

LATAR BELAKANG

Indonesia memiliki banyak warisan peradaban gemilang saat ini dikenal
dengan kearifan lokal yang hingga hingga kini menjadi pengetahuan empirik,
dipraktekkan, dan dikembangkan dan serta layak direvitalisasi. Sebagai warisan masa
lalu, kearifan lokal diartikan sebagai tradisi yang dilaksanakan baik oleh individu
maupun kelompok dalam suatu wilayah kecil maupun luas, memiliki muatan nilai
penghormatan pada sesama mahluk, alam semesta dan Yang Maha Kuasa yang
ditujukan untuk mencapai kesejahteraan dan kesentosaan manusia.

Kearifan lokal juga mengacu pada kekayaan budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam sebuah masyarakat dikenal, dipercayai, diakui sebagai elemen
penting yang mampu mepertebal kohesi sosial di antara warga masyarakat.

Indonesia terkenal dengan ragam budaya yang terdiri dari suku bangsa dan
bahasa, setiap suku memiliki ciri khas yang membedakan antara satu suku dengan
suku lainnya. Salah satu ciri khas antar suku dapat dilihat dari arsitektur tradisional
atau dikenal dengan rumah adat karena arsitektur merupakan suatu cerminan dari
masyarakat penghuninya. Arsitektur yang dibangun oleh suatu kaum memiliki unsur-
unsur tertentu seperti mengkaitkan alam lingkungan sekitar dalam konsep
perancangannya, dimulai dari penempatan bangunan tersebut dibangun, hingga
elemen dan simbol yang digunakan untuk dekorasi atau hiasan bangunan. Salah satu
kearifan lokal aksitektur atau bangunan yaitu Rumah Gadang

RUANG LINGKUP OBSERVASI

1. Identifikasi Kearifan Lokal Rumah Gadang
Kearifan lokal adat Minangkabau merupakan warisan budaya yang ada di

masyarakat, yang mana pelaksanannya dilakukan secara turun-menurun oleh
masyarakat yang bersangkutan. Sumbernya adalah kebudayaan matrilineal yang
dianut masyarakat Minangkabau dan tertuang dalam beragam aturan adat. Kearifan
lokal tersebut umumnya berisi ajaran untuk memelihara dan memanfaatkan sumber
daya alam sehingga wajar masyarakat Minangkabau memiliki falsafah alam
takambang jadi guru. Kearifan lokal tersebut mengejawantah dalam karya seni, nilai
moral, adat istiadat, dan serangkaian pola hidup sehari-hari.

Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat tertentu terbukti karena kearifan
tersebut mampu bertahan dalam waktu yang relatif panjang. Tidak hanya itu,
pengetahuan dan keterampilan tradisional seharusnya menjadi aset yang penting
untuk dilestarikan. Tanpa kita sadari penggunaan metode tradisional juga akan
meningkatkan nilai penting dari cagar budaya. Minangkabau menyimpan banyak
kearifan lokal seperti yang dapat kita di melihat dari bangunan tradisional Suku
Minangkabau yang unik berupa Rumah Gadang.

2. Jenis Kearifan Lokal Rumah Gadang
Jenis kearifan lokal dari observasi yaitu jenis kearifan lokal berwujud nyata karena
Rumah Gadang termasuk aksitektur atau bangunan.

3. Tipe Kearifan Lokal Rumah Gadang

1. Hubungan dengan perumahan
Hubungan dengan perumahan yaitu Rumah Gadang yang dibuat disesuaikan dengan
iklim dan bahan baku yang tersedia Sumatera Barat.
2. Hubungan sesama manusia
Hubungan sesama manusia yaitu Rumah Gadang merupakan sistem pengetahuan
lokal sebagai hasil interaksi terus menerus yang terbangun karena kebutuhan-
kebutuhan.

4. Dimensi Kearifan Lokal Rumah Gadang
1. Dimensi pengetahuan lokal, yaitu masyarakat setempat memiliki pengetahuan lokal
terkait dengan lingkungan hidup seperti Rumah Gadang.
2. Dimensi nilai lokal yaitu aturan dan nilai-nilai norma yang harus yang ditaati dan
disepakati bersama oleh seluruh masyarakat untuk mengatur anggota masyarakat itu
sendiri.
3. Dimensi keterampilan lokal, yaitu kemampuan untuk berkreasi dan berinovasi yang
dapat dipergunakan sebagai kemampuan untuk bertahan hidup seperti menjadiakan
Rumah Gadang sebagai museum dan objek wisata.
4. Dimensi sumber daya lokal (sumber daya alam), yaitu sumber daya alam yang
dapat dipergunakan oleh masyarakat lokal sesuai dengan kebutuhan dan dengan
menjunjung tinggi local wisdom tersebut tidak akan mengeksploitasinya secara besar-
besaran atau dikomersilkan seperti mengunakan kayu pohon untuk membuat Rumah
Gadang tetapi disesuiakan dengan kebutuhan kita.
5. Dimensi mekanisme pengambilan keputusan lokal (kesukuan atau ketokohan),
yaitu anggota masyarakat memiliki sistem pemerintahan lokal sendiri di mana
menjunjung tinggi adat istiadat kesukuan atau tokoh yang menjadi panutan. Seperti
adanya dua rumah Gadang di minangkabau yaitu Rumah Gadang Koto Piliang dan
Rumah Gadang Bodi Candiago.
6. Dimensi solidaritas kelompok lokal, yaitu suatu masyarakat umumnya
dikelompokan oleh ikatan komunal yang dipersatukan oleh ikatan komunikasi untuk
membentuk solidaritas lokal seperti dalam bentuk ritual keagamaan dan upacara adat.
Seperti Rumah Gadang dijadikan tempat untuk bermusyawarah.

5. Proses Kearifan Lokal Rumah Gadang
Rumah Gadang merupakan rumah komunal masyarakat Minangkabau, rumah

ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah
Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama lain dengan Rumah Baanjuang.
Bentuk rumah gadang baik dari gaya, hiasan bagian dalam dan luar serta fungsi sosial
budaya Rumah Gadang mencerminkan kebudayaan dan nilai Minangkabauan. Rumah
Gadang berfungsi sebagai rumah tempat tinggal bagi anggota keluarga satu kaum,
yang mana merupakan perlambangan kehadiran satu kaum dalam satu nagari, serta
sebagai pusat kehidupan dan kerukunan seperti tempat bermufakat keluarga kaum dan
melaksanakan upacara. Bahkan sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit.

Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk
di dalam suku atau kaum yang secara turun temurun dan hanya dimiliki atau diwarisi
kepada perempuan pada kaum tersebut. Di halaman depan Rumah Gadang biasanya
terdapat dua buah bangunan rangkiang, yang digunakan untuk menyimpan padi. Kata
“Gadang” dalam bahasa Minangkabau artinya besar. Maka Rumah Gadang biasa
memiliki ukuran besar dan sering digunakan untuk menyelesaikan urusan besar,
seperti musyawarah adat dan upacara perkawinan. Rumah Gadang memiliki bentuk

seperti rumah panggung dan persegi panjang. Lantainya terbuat dari kayu. Atapnya
menonjol dan mencuat ke atas. Biasanya dicat dengan warna coklat tua. Arsitektur
Rumah Gadang yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang
melihatnya.

Rumah Gadang menurut adat dimiliki oleh kaum perempuan yang akan terus
diwariskan oleh seorang ibu kepada anak perempuannya di bawah kewenangan
pemimpin kaum atau suku yang lazim disebut Mamak Kaum. Berdasarkan adat
Minangkabau, setiap Rumah Gadang ditinggali oleh keluarga besar pihak istri yang
terdiri atas nenek, anak-anak perempuan dan cucu perempuan. Makanya, sistem
kekerabatan suku Minangkabau adalah matrilineal. Artinya mengikuti garis keturunan
ibu.

6. Nilai Kearifan Lokal Rumah Gadang
1. Nilai-nilai sosial

Minangkabau membedakan antara individu dengan lembaga, dan
masingmasing menempati ruang tertentu yang berbeda satu sama lain. kehidupan
sosial dianalogikan seperti rumah gadang, memiliki bilik-bilik atau kamar-kamar
privasi, memiliki laniar safu tempat anggota satu bilik bercengkrama di luar bilik,
lanjar dua tempat warga bilik warga bilik satu rumah gadang saling berinteraksi
sesamanya, dan memiliki lanjar tiga tempat warga rumah gadang bersangkutan
berinteraksi dengan kerabat dekat yang berbeda rumah gadang, memiliki lanjar empat
atau surambi (serambi) untuk berinteraksi dengan tamu, serta memiliki halaman dan
pamedanan sebagai tempat berinteraksi secara sosiokultural lebih luas dengan warga
kampung atau nagari. Oleh karena itu, dalam adat Minangkabau dikenal adanya
konsep biliak ketek (bilik kecil) dan biliak gadang (bilik besar), atau konsep biliak
awak (bilik kita) dan biliak urang (bilik orang). Biliak ketek adalah ruang sosial
tempat individu atau kelompok kecil bebas dengan eksistensi dan privasinya, yang
tidak boleh dicampuri oleh individu atau kelompok lain tanpa hak. Biliak gadang
adalah ruang sosial yang menampung kepentingan bersama individu-individu atau
kelompok-kelompok dalam interaksi antar group dalam tataran kesederajatan.
2. Nilai-nilai politis

Dalam kehidupan biliak gadang, biliak ketek-biliak ketek secara bertingkat
dari bawah menjadi anak tangga menuju tingkatan di atasnya. Proses mobilisasi dari
tangga lebih rendah menuju tangga yang lebih tinggi atau sebaliknya disebut
bajanjang naiak batanggo turun (berjenjang naik bertangga turun). Maknanya,
seumpama ada persoalan dalam biliak ketek, maka pcrsoalan itu akan dibawa ke
bailik yang setingkat lebih besar. Bila pada biliak yang setingkat lebih besar persoalan
itu dapat diselesaikan, maka proses betanggo narak itu berhenti sampai di situ, tetapi
apabila hal itu tidak terpenuhi maka persoalan itu seterusnya akan dibawa ke bilik
yang lebih besar lagi, demikian seterusnya.
3. Nilai-nilai etika dan moral

Rumah gadang merupakan institusi pengontrol bagi terjaganya etik dan moral
keluarga dan martabat perempuan. Rumah gadang sebagai rumah kediaman keluarga
matrilineal didesain sedemikian rupa sehingga posisinya membelakangi atau
setidaknya merusuki jalan, dan jika menghadap jalan, maka posisi tangganya adalah
di sisi kiri dan kanan rumah dalam posisi menghadap jalan pula. Posisi seperti itu
didesain agar aktivitas warga rumah gadang tersebut-yang terdiri atas perempuan dan
kanak-kanak tidak terlihat orang lain dari jalan. Demikian pula aturan-aturan untuk
mengontrol perilaku perempuan agar tidak menjatuhkan dirinya ke dalam tindakan

yang merendahkan diri dan keluarga komunalnya sendiri. Ajaran moral yang
berfungsi sebagai alat kontrol itu adalah teks sumbang dan salah.
4. Nilai-nilai ekonomi (hemat, cermat, dan solidaritas sosial)
Rumah gadang dengan segala komponennya pendukungnya, terutama elemen
rangkiang, mengandung nilai-nilai ekonomi (hemat dan cermat) serta solidaritas sosial.
Sebagaimana dijelaskan bahwa rangkiang terdiri atas tiga jenis dengan fungsinya
masing-masing, yakni:

1. Sitinjau lauik beras untuk keluarga, khususnya untuk upacara.
2. Sitangka apa, beras untuk desa miskin dan kelaparan.
3. Sibayau-bayau, beras untuk keperluan konsumsi sehari-hari.
5. Nilai-nilai budaya
Semua nilai yang diuraikan di atas merupakan nilai-nilai budaya apabila
nilainilai itu disadari dan dihayati serta menjadi standar perilaku bagi warga rumah
gadang dan warga Minangkabau secara umum. Apabila nilai-nilai abstrak demikian
tidak lagi disadari, dihayati, dan dijadikan standar perilaku masyarakat pendukungnya,
maka nilai-nilal tersebut tidak mencapai taraf sebagai nilai budaya.

Ringkasan wawancara

Rumah gadang merupakan rumah adat Minangkabau. Bangunan ini disebut
rumah gadang tidak hanya karena ukurannya yang gadang (besar), tetapi juga karena
fungsinya yang besar. Rumah gadang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal
bersama, tapi juga sebagai tempat bermusyawarah, sebagai tempat melaksanakan
upacara adat, dan sebagai simbol eksistensi suatu kaum dalam nagari. Rumah adat ini
juga disebut rumah bagonjong karena bentuk atapnya yang melengkung runcing yang
disebut gonjong mirip lengkung tanduk kerbau. Rumah gadang bisa menjadi salah
satu bukti fisik keberadaan Suku Minangkabau sekaligus menjadi identitas
karakteristik bagi Suku Minangkabau.

Rumah gadang berbentuk segi empat yang mengembang ke atas. Lengkung
badan rumah landai seperti badan kapal. Rumah Gadang berupa rumah panggung
dengan lantai papan sekitar satu atau dua meter diatas permukaan tanah, dan terdapat
tangga di bagian depan untuk masuk rumah gadang. Bagian dalam rumah gadang
terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Lanjar adalah bagian antara
deretan tiang depan dan belakang, sedangkan ruang adalah bagian antara tiang kiri
dan kanan. Lanjar belakang berfungsi sebagai kamar tidur, lanjar tengah berfungsi
sebagai ruang makan atau ruang keluarga, dan lanjar depan berfungsi sebagai ruang
tamu.

Pada dasarnya denah rumah gadang sederhana yaitu persegi panjang dengan
pembagian ruang yang sederhana, namun menyiratkan banyak makna. Berlakunya
sistem matrilineal (garis keturunan menurut garis keturunan ibu) juga dapat dilihat
dari cara hidup di rumah gadang. Kentalnya Agama Islam juga tergambar dari pola
hidup dan kepercayaan dalam rumah gadang sesuai dengan falsafah Suku
Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Bangunan rumah
gadang menunjukkan penyesuaian dengan alam tropis yang juga sesuai dengan
falsafah Suku Minangkabau “alam takambang jadi guru”. Aktifitas di rumah gadang

seperti cara duduk, cara berbicara, dan cara bersikap baik laki-laki dan perempuan
memiliki norma tertentu sesuai dengan aturan adat.

Rumah gadang adalah ciri khas dari minangkabau dan selalu dilestarikan oleh
masyarakat minangkabau dari nenek moyang sampai dengan sekarang. Namun pada
kenyataannya sekarang, keberadaan rumah gadang semakin berkurang baik kualitas
maupun kuantitasnya. Hal ini terjadi karena bangunan rumah gadang yang ada
sekarang sudah mengalami kerusakan dan pelapukan atau mungkin hancur karena
berbagai faktor, sementara kita lebih cenderung membuat bangunan baru dengan
bahan dan gaya yang lebih modern mengikuti perkembangan zaman. Hal ini juga
menunjukkan terjadi perubahan cara hidup dan mulai berkurangnya rasa hormat
terhadap adat. Selain itu, besarnya biaya pembangunan rumah gadang dan kesulitan
untuk mendapatkan bahan dan tukang tradisional juga menjadi faktor berkurangnya
keberadaan rumah gadang. Ini berarti laju kemunduran kualitas dan kuantitas
bangunan rumah gadang tidak sebanding dengan usaha kita untuk mempertahankan
dan melestarikannya.

Dari segi bahan, hampir seluruh komponen bangunan rumah gadang dibuat
dari kayu kecuali atap (biasanya dibuat dari ijuk atau seng) dan sandi (dari batu kali
berbentuk pipih yang berfungsi sebagai pondasi bangunan). Oleh karena itu, salah
satu upaya pelestarian yang dilakukan adalah melestarikan bahan kayu sebagai
komponen utama bangunan rumah gadang. Pelestarian terhadap fisik bangunan,
diharapkan akan membawa konsekuensi terhadap pelestarian nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya.

Rumah gadang dapat dibedakan berdasarkan ukuran, kelarasan, dan
luhak. ,menurut ukurannya, rumah gadang dibedakan atas lipek pandan (memiliki dua
lanjar dan dua gonjong), bahah bubuang (memiliki tiga lanjar dan empat jonjong), dan
gajah maharam (memiliki empat lanjat dan enam atau lebih gonjong). Berdasarkna
kelarsan (model kepemimpinan) rumah gadang dibedakan atas :
1. Kelarasan koto piliang, rumah gadangnya bernama si timnjau lauik. Rumah ini
memiliki anjung di dua ujung rumah (anjuang adalah ruang kecil yang lantainya lebih
tinggi), maka ia disebut juga urmah baanjuang.
2. Kelarasan bodi caniago, rumahnya lazim disebut gadang lantainya datar tidak
beranjung dan tidak berserambi.

Nilai-nilai kearifan lokal rumah gadang yaitu nilai-nilai sosial, nilai-nilai etika dan
moral, dan nilai-nilai budaya.


Click to View FlipBook Version