Modul 1.4 BUDAYA POSITIF Oleh Kelas 18 B dan 21 A CGP Angkatan 7 Kabupaten Blitar
CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Disiplin Positif dan Nilainilai Kebajikan Universal Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi Keyakinan Kelas Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas Modul 1.4 BUDAYA POSITIF Muatan Materi Restitusi - Segitiga Restitusi Restitusi - Lima Posisi Kontrol
paradigma Stimulus-Respon VS pendekatan teori Kontrol 1 Makna Kata Disiplin Dalam budaya kita, kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan. Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri . Disiplin diri mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. 2 Definisi Merdeka "Merdeka’"menurut Ki Hajar adalah: mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri) Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. 3 CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 1. DISIPLIN POSITIF Kesimpulan 4 Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Dalam hal ini Ki Hajar menyatakan; “...pertanggungjawaban atau verantwoordelijkheld itulah selalu menjadi sisihannya hak atau kewajiban dari seseorang yang pegang kekuasaan atau pimpinan dalam umumnya. Adapun artinya tidak lain ialah orang tadi harus mempertanggungjawabkan dirinya serta tertibnya laku diri dari segala hak dan kewajibannya. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 469)
Petunjuk Seumur Hidup dan Keterampilan Hidup (LIfe long Gu... 4 Profil Pelajar Pancasila 1 Sikap Murid Toleransi Rasa Hormat Integritas Mandiri Menghargai Antusias 2 9 Pilar Karakter Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNYA Kemandirian dan Tanggung jawab Kejujuran (Amanah), Diplomatis Hormat dan Santun Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja Keras Kepemimpinan dan Keadilan Baik dan Rendah Hati Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan 3 CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF NILAI - NILAI KEBAJIKAN 5 6 Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Mandiri Bernalar Kritis Berkebinekaan Global Bergotong royong Kreatif Empati Keingintahuan Kreativitas Kerja sama Percaya Diri Keterampilan Hidup Dapat dipercaya Lurus Hati Pendengar yang Aktif Tidak Merendahkan Orang Lain Memberikan yang Terbaik dari Diri Petunjuk Hidup Peduli Penalaran Bekerja sama Keberanian Keingintahuan Usaha Keluwesan/Fleksibilitas Berorganisasi The Seven Essential Virtues (Building Moral Intelligence,... Empati Kebaikan Suara Hati Toleransi Kontrol Diri Keadilan Rasa Hormat The Virtues Project (Proyek Nilai-nilai Kebajikan)
Bagan Identitas Gagal Dan Identitas Sukses CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang Penghargaan Tidak Efektif Penghargaan Merusak Hubungan Penghargaan Mengurangi Ketepatan Penghargaan Menurunkan Kualitas Penghargaan Mematikan Kreativitas Penghargaan Menghukum Motivasi dari Dalam Diri (Intrinsik) RESTITUSI Proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). 1 HUKUMAN Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata. 2 KONSEKUENSI Disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid. 3 Penghargaan = Menghukum seseorang 4 CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF
Kegiatan dalam menentukan keyakinan suatu sekolah atau pun keyakinan kelas Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Murid-murid perlu mendengarkan dan memahami arti sesungguhnya tentang peraturanperaturan yang diberikan, apa nilai-nilai kebajikan dibalik peraturan tersebut, apa tujuan utamanya, dan menjadi tidak tertarik, atau takut sehingga hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan-peraturan yang mengatur mereka tanpa memahami tujuan mulianya. Tahapan dalam menciptakan program kebajikan Lihat daftar kebajikan yang telah disusun bersama (contoh pada pembelajaran 2.1). Tentukan nilai-nilai kebajikan yang ingin dijadikan perhatian utama di sekolah Anda. Curah pendapat dalam kelompok. Sempurnakan beberapa daftar nilai-nilai kebajikan yang utama, bahas kembali dalam kelompok utama. Buatlah poster atau muat di sosial media keyakinan sekolah/kelas Anda 1. 2. 3. 4. Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit. Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal. Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif. Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas. Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat. Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu. 2 CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 3. Keyakinan Kelas Mengapa keyakinan kelas ?, Mengapa tidak peraturan kelas saja? 1
Mempersilakan warga sekolah atau murid-murid di sekolah/kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang perlu disepakati di sekolah/kelas. Mencatat semua masukan-masukan para murid/warga sekolah di papan tulis atau di kertas besar (kertas ukuran poster), di mana semua anggota kelas/warga sekolah bisa melihat hasil curah pendapat. Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas’. Gantilah kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif. Contoh: Kalimat negatif: Jangan berlari di kelas atau koridor. Kalimat positif: Berjalanlah di kelas atau koridor. Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Anda mungkin akan mendapati bahwa pernyataan yang tertulis di sana masih banyak yang berupa peraturanperaturan. Selanjutnya, ajak warga sekolah/murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang dituju dari peraturan tersebut. Contoh: Berjalan di kelas, Dengarkan Guru, Datanglah Tepat Waktu berada di bawah 1 ‘payung’ yaitu keyakinan untuk ‘Saling Menghormati’ atau nilai kebajikan ‘Hormat’. Keyakinan inilah yang dimasukkan dalam daftar untuk disepakati. Kegiatan ini juga merupakan pendalaman pemahaman bentuk peraturan ke keyakinan sekolah/kelas. Tinjau ulang Keyakinan Sekolah/Kelas secara bersama-sama. Seharusnya setelah beberapa peraturan telah disatukan menjadi beberapa keyakinan maka jumlah butir pernyataan keyakinan akan berkurang. Sebaiknya keyakinan sekolah/kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar antara 3-7 prinsip/keyakinan. Bilamana terlalu banyak, maka warga kelas akan sulit mengingatnya dan akibatnya sulit untuk dijalankan. Setelah keyakinan sekolah/kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan sekolah/kelas tersebut, termasuk guru dan semua warga/murid. Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Prosedur Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 3 Contoh Keyakinan Kelas
Dunia Berkualitas Dunia Berkualitas Anda adalah tempat khusus dalam pikiran Anda, tempat Anda menyimpan gambaran representasi dari semua yang Anda inginkan: bisa berisi orang-orang, hal-hal dan apa saja yang terbaik dalam hidup Anda dan membuat Anda merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan dasar Anda. Dr. William Glasser menyebutnya seperti semacam album foto sehingga isinya tidak akan terlalu banyak, hanya akan terdiri dari beberapa hal saja yang sangat signifikan dan benar-benar terbaik dalam hidup Anda yang membuat hidup Anda menjadi lebih bermakna. Kebutuhan dasar bersifat lebih umum dan universal, sedangkan dunia berkualitas lebih unik dan personal. 5 kebutuhan dasar manusia : penguasaan, kebebasan, kesenangan, atau kasih sayang dan rasa diterima CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas Glasser menyatakan bahwa kapasitas untuk berubah ada di dalam diri kita. Jika kita dapat mengidentifikasi kebutuhan apa yang mendorong perilaku kita, maka perubahan perilaku positif dapat dimulai dengan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan cara yang positif.
Penghukum Menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan muridmurid lebih dalam lagi. Penghukum 5 Posisi Kontrol CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 5. Restitusi - Lima Posisi Kontrol Pembuat rasa bersalah Teman M Pemantau anajer Pembuat Rasa Bersalah Biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Teman Pemantau Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturanperaturan dan konsekuensi.
Manajer Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata “Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas) CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 5. Restitusi - Lima Posisi Kontrol TABEL
CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 5. Restitusi - Segitiga Restitusi Berbuat salah itu tidak apa-apa. Tidak ada manusia yang sempurna Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu. Kita bisa menyelesaikan ini. Sisi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity) Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini: Penjelasan
CGP Angkatan 7 Kab. Blitar Modul 1.4 BUDAYA POSITIF 5. Restitusi - Segitiga Restitusi Sisi 2. Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbeh... Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan caracara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan. Contoh Kalimat-kalimat mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka. “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?” “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu” Sisi 3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief) Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaanpertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga. Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga? Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati? Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal? Kamu mau jadi orang yang seperti apa?