TOPENG
(Kumpulan Cerpen)
Sawali Tuhusetya
Pengantar: Maman S. Mahayana
Sekapur Sirih
Membidik Kehidupan Wong Cilik
Bagi saya, cerpen adalah upaya pengarang untuk mengabadikan
berbagai peristiwa kemanusiaan, untuk selanjutnya diwartakan kepada
publik dengan menggunakan medi bahasa. Dalam konteks demikian, terasa
naif bagi saya apabila cerpen hanya memuja keindahan. Percuma saja apabila
cerpen diekspresikan melalui idiom-idiom bahasa yang terlalu njlimet, bahkan
bombastis, sebab cerpen-cerpen semacam itu tidak akan pernah masuk
dalam khazanah pemikiran publik. Ini tidak lantas berarti bahwa cerpen jadi
“alergi” dan anti-keindahan. Sebagai teks sastra, dengan sendirinya cerpen
jelas mustahil dilahirkan dari rahim sang pengarang tanpa medium bahasa.
Meskipun demikian, ada persoalan yang lebih urgen ketimbang itu.
Banyak fenomena kemanusiaan yang menarik untuk direnungkan, diolah,
dan digodok. Saya sendiri merasa kalau rakyat kecil yang tertindas, baik oleh
rezim di dalam dirinya sendiri maupun di luar dirinya, penguasa yang
pongah, atau interaksi sosial keseharian yang sarat dengan mitos-mitos
sangat menarik untuk ditafsirkan. Untuk itulah, kumpulan cerpen (kumcer)
Topeng ini saya hadirkan.
Setidaknya, itulah yang tergambar dalam cerpen-cerpen saya yang
terpublikasikan, baik di blog ini maupun di blog Jalur Lurus. “Sepotong
Kepala”, misalnya, mengisahkan tentang nasib Sukardal yang gila lantaran
tak kuasa memanggul beban nasib yang menelikungnya. Dia harus mati
dengan cara yang tragis setelah Manirah, istrinya mengadu nasib di negeri
orang. Jasadnya hanya tinggal gembungnya saja. Sepotong kepalanya entah
di mana? Yang lebih tragis, kematian Sukardal tetap menjadi misteri. Entah
siapa yang telah tega berbuat biadab semacam itu.
“Jagal Abilawa” bertutur tentang Sumi yang tengah hamil. Repotnya,
dia nyidham tokoh dalam jagad pewayangan, Jagal Abilawa, salah satu
kerabat Pendawa yang dikenal perkasa, tetapi baik hati. Anehnya, tokoh Jagal
Abilawa yang diminta yang sudah berusia ratusan tahun. Tentu saja,
permintaan itu dianggap hal yang mustahil bagi tokoh “aku”, sang suami.
Sebagai suami yang baik, tokoh “aku” terus berupaya untuk mendapatkan
permintaan istrinya, hingga akhirnya bertemulah dengan Ki Jantur
Branjangan, seorang mantan dalang yang sudah tua. Setelah
dipersembahkan kepada istrinya, bukan main senangnya. Hidup Sumi
berubah. Dia tidak lagi memedulikan suaminya. Setiap hari hanya
bercengkerama dengan Jagal Abilawa kesayangannya. Hingga akhirnya saat
melahirkan, anak yang dilahirkan ternyata benar-benar seperti Jagal Abilawa
yang sangat rakus menyedot air susunya. Sumi meninggal menjadi korban
anak kandungnya sendiri.
“Kepala di Bilik Sarkawi” bertutur tentang Sarkawi yang malang.
Tubuhnya yang cacat menjadi bahan olok-olok orang. Atas petunjuk Ki
i
Maruto, akhirnya dia nekad mencuri septong kepala mayat tetangganya yang
sudah dikubur untuk mendapatkan kekayaan. Tragisnya, dia juga tak
sanggup melawan sebuah kekuatan dari luar dirinya. Dia mati dengan cara
yang tragis di kamar pemujaannya.
“Kang Panut” mengisahkan seorang Kang Panut yang miskin. Hidupnya
hanya mengandalkan penghasilannya sebagai tukang masak air di rumah
tetangganya yang kebetulan punya hajat. Suatu ketika dia mati dengan sebab
yang tidak jelas. Anehnya, dia hidup lagi. Itulah yang menggegerkan
kampung. Setelah hidup lagi, Kang Panut seperti menyebarkan hawa maut.
Tubuhnya berbau busuk hingga akhirnya ia diancam oleh para penduduk
kampung untuk dimusnahkan.
“Tumbal” bertutur tentang keluarga Lik Karimun yang kehilangan
anaknya yang baru berumur 7 bulan. Menurut kabar, anaknya raib karena
menjadi tumbal pembangunan sebuah jembatan desa. Intrik dan kasak-
kusuk pun menyebar. Konon, isu tumbal itu hanya digunakan untuk
menutup-nutupi kasus ditilapnya uang bandha desa oleh Pak Lurah.
Persoalan pun menjadi semakin rumit. Tragisnya, ada tiga perempuan yang
telah kehilangan bayi, tiba-tiba saja merasa menyusui seorang bayi. Mula-
mula nikmat, namun lama-lama mulut bayi itu mencengkeram dengan kuat
payudara mereka.
“Warni Ingin Pulang” bertutur tentang persoalan patriarkhi. Warni yang
nekad melaksanakan tugas sebagai guru di pulau seberang terpaksa harus
tercerabut dari akar keluarganya. Dia tidak lagi diakui sebagai anak oleh
orang tuanya. Menurut ayahnya, sebagai perempuan, Warni tidak perlu
berkarier. Namun, hal itu ditolaknya. Di tempat tugasnya, Warni menikah
dengan Laode yang amat dicintainya. Seiring dengan itu, tiba-tiba muncul
kecemburuan sosial. Para penduduk asli merasa risih dan terancam oleh
kehadiran kaum pendatang. Kekerasan pun pecah. Para penduduk asli
memusuhi kaum pendatang. Tiba-tiba saja, Warni merasa rindu dengan
kampung halamannya. Namun, ia sangsi, apakah ia masih bisa diterima di
tengah-tengah keluarganya, terutama ayahnya.
Penjara, ternyata tak selamanya bisa menjadi tempat yang tepat untuk
melakukan pertobatan. Itulah yang dialami Badrun. Dalam cerpen “Penjara”,
Badrun dengan mata kepala sendiri mencium berbagai kebusukan, mulai
dari para sipir yang nakal dengan meminta upeti para keluarga napi atau
sengaja membebaskan para napi dari sekapan penjara. Selain itu, dia harus
menjadi “korban” sodomi para napi yang sudah rindu hawa kebebasan di luar
penjara.
Apa yang akan dilakukan oleh penduduk kampung ketika ada seorang
warga yang gila dan suka mengamuk dengan parang terhunus? Jawaban itu
bisa disimak dalam “Marto Klawung”. Ya, dalam cerpen ini, Marto Klawung
yang gila sering membuat keonaran. Para penduduk sepakat untuk
membelok atau memasungnya. Pemasungan berhasil. Namun, anehnya
Marto Klawung berhasil melepaskan diri dan menemui tokoh “aku”. Dengan
pura-pura jinak, Marto Klawung secara tak terduga membabat kaki si “aku”
dengan parangnya. ii
“Sang Pembunuh” bertutur tentang tokoh “aku” yang menjadi korban
Juragan Karta beserta antek-aneknya. Masalah ganti rugi tanah yang dinilai
tidak sepadan menjadi fokus kisah ini. Tokoh “aku” yang tidak mau menerima
ganti rugi dari Juragan Karta –yang selalu berkoar-koar ingin memajukan
kampung– justru kena fitnah. Dia dinyatakan bersalah karena membunuh
temannya sendiri, Karjo. Akhirnya dia harus mendekam di penjara. Setelah
terbebas, dia pun kembali ke kampung halaman. Namun, ternyata, Narti
istrinya, telah menjadi istri muda Juragan Karta. Tokoh “aku” pun tak
sanggup memendam amarah. Dengan darah mendidih, dia melabrak Juragan
Karta dan membunuhnya.
Apa yang akan dilakukan oleh seorang ibu muda yang melihat anaknya
sedang sakit, padahal sang suami tidak ada di rumah? Itulah masalah yang
dihadapi tokoh “aku”. Panas si Ratih, anaknya, tak kunjung turun. Mau ke
rumah sakit, dhuwit tak punya. Untunglah ada Marno, pemuda yang dulu
menaksir tokoh “aku”, tapi ditolaknya. Si “aku” lebih memilih Kang Kadir
yang miskin. Berkat bantuan Marno, si Ratih sembuh. Namun, hal itu justru
memicu persoalan baru. Kang Kadir yang baru saja pulang dari kota merasa
cemburu. Maka, perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Marno dihajar Kang
Kadir hingga babak belur. Kondisi semacam itulah yang tergambar dalam
cerpen “Pulang“.
“Gapit” bertutur tentang suasana tegang dan panas pada saat
menjelang dan berlangsungnya pemilihan pilkades (pemilihan kepala desa).
Masing-masing kubu berusaha untuk meraih massa. Bahkan, seringkali
menghalalkan segala cara. Itulah yang dilakukan Gopal dalam upaya
memenangkan jagonya, Pak Bandiyo. Para penduduk pun merasa risih
dengan ulahnya yang suka bikin onar. Anehnya, Pak Bandiyo berhasil juga
jadi kepala desa. Namun, tak lama setelah pelantikan, muncul masalah baru
dan rumit. Pak Bandiyo bernasib tragis. Tubuhnya ditemukan sudah tak
bernyawa dengan luka-luka menganga. Muncul pertanyaan, siapakah
pembunuh yang sudah demikian sadis menganiaya sang kepala desa itu?
“Topeng”, ya, memang hanya sebuah topeng. Bentuknya pun sudah
tidak menarik. Permukaannya kasar. Dahinya lebar. Hidung pesek dengan
kedua pipi menonjol. Namun, banyak keanehan yang dialami Barman. Dia
selalu merasakan seolah-olah ada kekuatan gaib yang memancar dari balik
topeng itu. Suatu secara tiba-tiba pula topeng itu terlepas dari dinding.
Lantas, secepat kilat menancap dan menyatu dengan wajah Barman. Wajah
Barman pun benar-benar berubah dan berganti rupa menjadi wajah topeng
peninggalan almarhum mertuanya. Kampung pun jadi gempar.
Sementara itu, dengan nada getir dan sedikit surealis, cerpen
“Perempuan Bergaun Putih” mendedahkan nasib wong cilik yang kehilangan
seorang anak gadis yang diharapkan menjadi tumpuan keluarga kelak
sebelum disunting seorang lelaki. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sang
gadis meninggal dengan sebab yang tidak jelas. Semenjak kematian si gadis,
di bukit hutan jati selalu muncul perempuan bergaun putih yang selalu
menyenandungkan elegi pemujaan terhadap rembulan yang perih.
iii
Masih ada sembilan cerpen lain yang membidik kehidupan wong cilik,
di antaranya: “Sang Primadona”, “Santhet”, “Pengakuan”, “Aib”, “Ancaman”,
“Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi”, “Dhawangan”, “Sepasang Tanduk
Bertengger di Kepalaku”. Cerpen-cerpen tersebut bertutur sekaligus
merefleksikan kehidupan masyarakat kita yang sedang “sakit”.
Melalui cerpen-cerpen dalam kumcer ini, saya ingin mewartakan bahwa
selama ini ada sisi-sisi kemanusiaan yang (nyaris) terlupakan. Kepedulian
terhadap nasib sesama (nyaris) terkikis oleh gerusan nilai-nilai modern dan
global yang demikian dahsyat.
Semoga kumpulan kisah dalam kumcer ini bisa (sekadar) menjadi
bahasa refleksi agar kita bisa mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang
terlupakan itu dalam nurani kita.
Salam budaya!
Sawali Tuhusetya
iv
Pengantar
Cerpen dengan Aroma Eksotisme
Maman S. Mahayana
Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas
pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur
keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu
saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan
perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak
punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan
besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi
tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu.
Para epigon yang tersihir oleh narasi yang puitik, penuh aroma bunga
dengan latar cerita yang bermain di sebuah tempat yang begitu abstrak yang
berada entah di mana nun jauh di sana, terus saja menjalankan mesin
produksinya. Mereka memang produktif, tetapi sekadar menghasilkan
tumpukan karya yang penuh busa dan gelembung kata-kata. Substansi
cerita diselimuti oleh balon raksasa yang bernama narasi puitik; sedap dan
membuai, meski tidak persis sama dengan tukang obat di pasar tradisional.
Sementara itu bermunculan pula cerpenis yang coba mengusung
semangat untuk tidak ikut-ikutan mendewakan kisahan yang membuai
namun tak punya pijakan kultural. Di belahan bumi yang lain, di wilayah
Nusantara ini, sejumlah cerpenis coba bermain dalam dunia persekitarannya.
Maka cerpen-cerpennya laksana merepresentasikan potret masyarakat
tempat sastrawan yang bersangkutan itu dilahirkan dan dibesarkan dalam
lingkaran kehidupan sosial-budayanya.
Mereka punya rumah etnik dengan pekarangannya yang kaya problem
sosiologis. Mereka punya ibu budaya yang melahirkan dan mengasuhnya
hingga dewasa. Mereka tak hendak berkhianat pada ibu budayanya. Tak
ingin jadi epigon mengusung dunia yang tidak dikenalnya, meski narasinya
membuai. Mereka tak hendak pamer metafora jika yang dikisahkannya tak
punya pijakan kultural. Dalam konteks itu, cerpen-cerpen mereka itu tidak
hanya mewartakan persoalan kehidupan sosial-budaya dengan berbagai
etnisitasnya, tetapi juga sekaligus melengkapi peta sastra Indonesia yang
selama ini diperlakukan seolah-olah hanya milik kaum elitis.
Lihat saja karya-karya Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar,
Abel Tasman, Marhalim Zaini, Olyrinson –sekadar menyebut beberapa—yang
di belakangnya, ada sejarah masa lalu Kerajaan Melayu, di sekelilingnya ada
problem masyarakat puaknya yang termarjinalkan, di depannya ada hasrat
untuk membebaskan diri dari kepungan pesismisme. Lihat juga cerpen-
cerpen Jamal T Suryanata yang mengungkap kegagalan ketika tarikan tradisi
(Banjar) begitu kuat dan harapan untuk lepas dari keterkungkungan itu, tak
v
mendapat respon dari keluarga dan masyarakatnya. Lain lagi dengan Oka
Rusmini, Cok Sawitri atau Wayan Sunarta. Kultur Bali dengan Hinduismenya
digunakan sebagai sumber inspirasi. Bali dengan segala dinamika sosio-
budayanya menjadi sumber ilham; titik berangkat untuk coba menilai
kembali hakikat mempertahankan tradisi dan ketidakmampuan menghindar
perkembangan zaman dan perubahan sosial. Hal yang jauh sebelumnya
dieksplorasi Korrie Layun Rampan atas kultur dan masyarakat Dayak sebagai
ibu budayanya, atau Darman Munir atas kultur ninik-mamaknya.
Di ujung Sumatera, kita juga masih dapat berjumpa dengan Azhari,
Fikar W Eda, D. Kemalawati, Silaiman Tripa, Nasir Ag dan sederet panjang
sastrawan Aceh. Mereka –lewat karya-karyanya—coba menerjemahkan masa
lalu keagungan Kesultanan Aceh, kekayaan kultur etnik, sejarah hitam
peristiwa DOM (Daerah Operasi Militer) yang penuh bersimbah darah, dan
bencana mahadahsyat Tsunami. Jadilah karya mereka sarat nostalgia,
kekayaan budayanya, kegetiran atas tragedi kemanusiaan, dan kegelisahan
yang bersimbah harapan. Keseluruhannya lalu termanifestasikan dalam
karya yang khas mengungkap manusia Aceh yang multidimensi.
Kultur Jawa juga tak pernah sepi melahirkan sastrawannya yang tak
berkhianat pada ibu budayanya. Umar Kayam, Linus Suryadi, Kuntowijoyo,
Arwendo Atomowiloto, Suminto A Sayuti, Danarto, bahkan juga Darmanto
Jatman, dan sederet panjang nama lain, adalah sebagian sastrawan
Indonesia yang punya kesadaran kultural atas ibu budaya mereka. Beberapa
cerpenis setelah generasi Ahmad Tohari dan Gus Mus dapat pula disebutkan,
antara lain, Yanusa Nugroho dan Triyanto Triwikromo. Ahmad Tohari coba
mengangkat wong cilik Jawa pinggiran, Gus Mus memotret kehidupan dunia
pesantren lengkap dengan kisah-kisah para aulianya, Yanusa Nugroho coba
merevitalisasi kembali tafsir dunia pewayangan, dan Trianto Triwikromo
cukup piawai mengungkap mitos dan mitologi Jawa. Semuanya jadi begitu
khas, eksotik, dan mempesona.
Begitulah, ketika sastrawan coba menawarkan latar ibu budayanya,
kondisi masyarakat yang melingkarinya, dan dunia persekitarannya, maka ia
menjelma menjadi potret yang penuh dengan aroma eksotisme. Untuk karya-
karya yang seperti itu, usaha melakukan generalisasi hanya akan sampai
pada kesia-siaan. Kekhasan itu hanya milik pengarangnya. Dengan begitu,
karya-karya itu juga selalu akan menjanjikan greget dan rasa penasaran
pembacanya.
***
Antologi Perempuan Bergaun Putih karya Sawali Tuhusetya tidak
terelakkan mesti dimasukkan ke dalam kotak eksotisme itu. Meski begitu,
kekuatan yang bersumber pada kekhasan selalu akan membawa kegagalan
ketika kita coba membuat generalisasi. Jadi, sastra yang pada dasarnya khas
itu menjadi lebih khas, karena di sana ada unikum, ada eksotisme manakala
kita menelisik lebih jauh segala ceruknya. Dalam konteks itu, Sawali
Tuhusetya berhasil mengeksploitasi sisi lain dari kultur Jawa dengan segala
mitos, mitologi, sistem kepercayaan, dan dunia pewayangan yang telah
menjadi bagian tak terpisahkan dari vkiehidupan orang Jawa. Antologi yang
berisi 19 cerpen ini laksana serangkaian potret orang Jawa yang tak dapat
melepaskan diri dari tradisi yang kukuh mencengkramnya. Maka,
rasionalitas dan irasionalitas bisa menjadi peristiwa yang aneh mencekam—
mengerikan, tetapi sekaligus juga menarik, bersahaja, dan kadangkala juga
menciptakan kelucuan.
Pilihan Sawali Tuhusetya atas tema-tema yang diangkatnya seperti
merepresentasikan sikap ambivalensinya atas tradisi dengan segala
ketahayulannya, penolakan atas sisi gelap berbagai hal yang berbau klenik,
dan sekaligus ketidakmampuannya untuk mengubur ingatan kolektif itu.
Jadi, di situlah permainan Sawali. Ia dibetot masa lalu tradisi budaya yang
telah melahirkan dan membesarkannya, dan ia ingin melepaskan diri dari
segala betotan itu. Tetapi, adanya kesadaran akan ketidakmampuannya
melepaskan betotan itu, pada akhirnya, memaksa segalanya harus diterima
dan dijalani begitu saja. Mengalir dan mengikuti ke mana arus itu akan
membawanya ke muara. Maka, yang terjadi kemudian adalah coba
merevitalisasi, menafsir ulang, memberi pemaknaan baru, melakukan
aktualisasi, atau menerjemahkannya dalam bentuk transformasi. Jadilah
kemudian sejumlah cerpen dengan aura eksotisme.
Sekadar contoh kasus, sebutlah misalnya, cerpen “Topeng”,
“Dhawangan”, atau “Jagal Abilawa”. Dalam cerpen-cerpen itu, Tuhusetya
menangkap sisi lain dari tradisi kesenian Jawa. Ia mengemas dan
menempatkannya dalam konteks kekinian. Kisahannya jadi tampak realis.
Tetapi manakala kisahan itu memasuki inti masalahnya, kisah-kisah surealis
tiba-tiba saja seperti harus dihadirkan. Dan selepas itu, muncul kesadaran
bahwa di sana ada sesuatu yang negatif, sesuatu yang seyogianya
ditinggalkan, dan tetap menjadi kisah masa lalu. Jadilah rasionalitas yang
kemudian menjadi irasionalitas itu, harus dikembalikan pada rasionalitas
masyarakat masa kini.
Dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini, peristiwa dalam
cerpen “Topeng”, “Dhawangan” atau “Jagal Abilawa” itu laksana mewartakan
potret yang sesungguhnya tentang perilaku masyarakat yang kerap mencari
pembenaran –legitimasi rasional—dengan menghadirkan sesuatu yang
irasional. Pembangunan fisik, seperti jembatan, waduk, atau gedung-gedung
bertingkat, mesti didahului dengan penanaman kepala kerbau atau upacara
ritual yang bersumber dari berbagai mitos. Sejumlah menteri atau pejabat
yang memelihara guru-guru spiritual, atau para selebritas yang dalam setiap
tahun baru meminta para peramal meneropong karier mereka. Begitulah,
batas rasionalitas dan irasionalitas menjadi begitu tipis. Dalam hal ini, mitos
yang sebenarnya irasional itu, justru berfungsi sebagai sarana legitimasi,
mengukuhkan optimisme, sebagai jaminan keamanan dalam menjalani
kehidupan di masa depan.
Sawali Tuhusetya memang tidak bercerita secara eksplisit mengenai
mitos-mitos itu. Ia hanya bercerita tentang sisi lain dari tradisi kesenian di
Jawa. Tetapi makna cerpen-cerpennya sesungguhnya coba melakukan
gugatan, memberi penyadaran, bahwa dalam beberapa hal, mitos sering kali
malah menjebak, menjerat, dan orang yang percaya itu, akan terperosok pada
vii
kubangan sistem nilai yang kemudian berkembangbiak menurut pikirannya
sendiri.
***
Secara tematis dengan pemanfaatan latar yang bermain dalam ruang
lokalitas, Sawali Tuhusetya telah memilih wilayah yang aman. Ia bakal
menonjol sendiri di antara bertebarannya cerpenis yang muncul belakangan
ini. Meski begitu, titik tekan kepentingannya bukanlah di sana. Ada kekuatan
lain yang tidak dimiliki cerpenis lain yang kecenderungannya sekadar
mengandalkan kekuasaan bahasa, yaitu aura eksotisme yang hanya milik
mereka yang akrab dengan dunianya. Kesenian Jawa dengan segala sistem
kepercayaan, tata nilai, dan kisah-kisah supernaturalnya –dalam cerpen-
cerpen yang terhimpun dalam antologi ini—tentu saja berada dalam wilayah
kekuasaan Sawali. Maka, ia menjadi khas, unik. Tetapi ketika ia dikaitkan
dengan persoalan masyarakat (Indonesia) yang dalam kenyataannya tetap
berada di tengah garis demarkasi antara tradisi dan modernitas, cerpen-
cerpen Sawali Tuhusetya laksana menyodorkan kritik sosial yang tajam.
Dalam semangat multikulturalisme ketika kita bersepakat mengangkat
keindonesiaan dalam keberagamannya, dalam keberbedaannya sebagai
kekayaan kultural, maka langkah yang dilakukan Sawali Tuhusetya sangat
mungkin memberi kontribusi penting. Penting, tidak hanya bagi
pemerkayaan tema khazanah sastra Indonesia, tetapi juga penting sebagai
pintu masuk memahami kultur keindonesiaan. Dalam konteks itu pula,
pembelajaran sastra di semua peringkat sekolah, mestinya dilakukan dengan
semangat multikultural. Dan karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai
halaman depan memasuki rumah kebudayaan Indonesia. Sawali Tuhusetya
dalam antologi cerpennya ini telah menyajikan sisi lain dari sebuah halaman
rumah kebudayaan Indonesia dalam sajian yang menarik dan eksotik.
Sungguh, saya bahagia membaca antologi cerpen ini!
Bojonggede, 26 Januari 2008
viii
Persembahan
Kumpulan cerpen ini saya persembahkan buat:
1. Emak tersayang yang masih setia tinggal di kampung yang sepi;
2. Isteri saya tercinta, Sri Wahyu Utami, dan ketiga anak tersayang (Galih
Nirmalahesti, Tuhusetia Mahardhika, dan Yusa Wahid Gifari);
3. Rekan-rekan blogger, facebooker, atau tweeps yang masih terus setia
menjalin silaturahmi lewat dunia maya;
4. Rekan-rekan sejawat yang sama-sama memilih profesi guru sebagai
panggilan hidup.
ix
Daftar Isi
Sekapur Sirih ………………………………… i
Pengantar: Maman S. Mahayana ………………………………… ii
Sepotong Kepala …………………………………
Perempuan Bergaun Putih …………………………………
Kepala di Bilik Sarkawi …………………………………
Kang Panut …………………………………
Tumbal …………………………………
Warni Ingin Pulang …………………………………
Penjara …………………………………
Marto Klawung …………………………………
Sang Pembunuh …………………………………
Pulang …………………………………
Ancaman …………………………………
Topeng …………………………………
Sang Primadona …………………………………
Santhet …………………………………
Pengakuan …………………………………
Aib …………………………………
Wisuda …………………………………
Ancaman …………………………………
Gapit …………………………………
Kang Sakri dan Perempuan Pemimpi …………………………………
Dhawangan …………………………………
Jagal Abilawa …………………………………
Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku …………………………………
Sumber Cerpen …………………………………
Glosari …………………………………
x
Sepotong Kepala
Para penduduk bergidik ngeri menyaksikan jasad Sukardal yang hanya
tinggal gembungnya, seperti bangkai babi yang barusan dibantai tukang
jagal. Sepotong kepalanya menggelinding entah di mana. Bayangan
kebiadaban menggerayangi setiap kepala.
“Untuk apa orang gembung seperti Sukardal dibunuh!” teriak seseorang
disambung gumam-gumam lirih yang tumpah di tengah kerumunan
penduduk.
“Benar-benar biadab!” sahut yang lainnya.
“Kalau bukan iblis, pasti demit yang melakukannya!”
“Belum tentu juga, Kang! Aku yakin, pelakunya pasti manusia! Zaman
sekarang, cukup banyak orang yang perangainya melebihi kebiadaban iblis
dan demit!”
“Eh! Jangan sok tahu, sampeyan! Jangan suka memastikan sesuatu yang
belum jelas kebenarannya! Bisa-bisa sampeyan diperkarakan orang!”
“Kenapa mesti diperkarakan! Saya tidak menuduh siapa-siapa, kok! Apa
untungnya saya menuduh orang!”
“Eh! Masih sewot juga, sampeyan! Saya hanya mengingatkan, hati-hati bicara
dalam suasana genting seperti ini!”
“Sudah, sudah! Tak ada gunanya berdebat kusir! Tidak sopan!” potong
seorang lelaki tua berikat kepala hitam dengan suaranya yang berat dan
wibawa. Berkali-kali, lelaki tua itu memiringkan kepalanya. Bola matanya
mengerjap-ngerjap, menelanjangi jasad Sukardal yang masih terkapar di
pelataran rumah bersimbah darah. Para penduduk ikut-ikutan memelototi
jasad Sukardal.
“Bagaimana, Mbah? Ada petunjuk yang Mbah dapatkan?” tanya seseorang.
“Tidak ada!” sahut lelaki tua itu. Dingin. Kerumunan penduduk kembali
ditingkahi gumam-gumam lirih yang tak jelas alurnya. Riuh. Mereka
menebak misteri kematian Sukardal dengan jalan pikirannya masing-masing.
Sesekali terdengar suara orang bersitegang. Namun, ketika lelaki tua berikat
kepala hitam itu menegurnya, suasana kembali tenang.
“Sudahlah! Untuk apa saling beradu mulut! Semua telah terjadi! Sukardal
telah mati, tak mungkin ia bisa hidup kembali! Yang penting kita pikirkan
sekarang adalah mengurus jenazahnya untuk dimakamkan seperti layaknya
orang meninggal!” kata lelaki tua itu dengan tatapan matanya yang tajam
menyapu wajah para penduduk. Seperti tersihir, para penduduk perlahan-
lahan menjauhi jasad Sukardal, lantas segera bersijingkat melibatkan diri
dalam kesibukan mempersiapkan upacara pemakaman.Semua penduduk
kampung tahu betul siapa itu Sukardal.
Sudah hampir setahun ini, ia telah berubah akalnya. Seharian, ia lontang-
lantung ke sana ke mari, menggelantungkan celana panjangnya yang tak
pernah dicuci di bahunya dengan mulut yang selalu menyeringai, tersenyum
dingin. Sukardal tak pernah mandi, hingga para penduduk hafal betul
dengan bau tengiknya yang khas dalam jarak beberapa meter. Kaum
perempuan selalu memalingkan muka sembari menutup hidungnya rapat-
rapat jika kebetulan berpapasan dengan Sukardal. Setelah kecapaian, ia
sering tidur di pinggir jalan, di pelataran rumah, atau di bibir got.
Sudah berkali-kali keluarganya membawa dia berobat ke rumah sakit jiwa
atau ke orang pintar. Namun, gendengnya tak kunjung sembuh. Sanak
keluarganya merasa putus asa dan membiarkan Sukardal sibuk dengan
dunianya sendiri. Meskipun demikian, ia tak pernah mengganggu orang.
Bahkan dia tampak begitu akrab dengan anak-anak kecil yang suka usil dan
meledeknya. Sukardal tak pernah marah. Mulutnya selalu menyeringai,
tersenyum dingin, setiap kali diolok-olok. Sering kali ia terlihat berjoget ria
ketika beberapa anak kecil mengarak dan mengiringnya dengan lagu-lagu
sumbang yang menyindir dan menghinanya. Tapi, Sukardal justru makin
bersemangat menikmati segala sindiran, olok-olok, dan cercaan yang
ditujukan kepada dirinya.
Menurut kabar yang beredar, lelaki bertubuh tambun itu stres berat setelah
mendengar berita istrinya, Manirah, hamil di perantauan dan diperistri lelaki
asing. Saat masih sehat akalnya, Sukardal begitu percaya atas kesetiaan
Manirah. Sukardal tahu, Manirah bukanlah tipe perempuan yang gampang
takluk oleh rayuan lelaki. Sebelum resmi jadi istrinya, Manirah sudah
berkali-kali dibujuk oleh Pak Jaidul, juragan tembakau yang kaya, untuk
dijadikan bini mudanya. Padahal, tidak sedikit jumlah kaum perempuan yang
kepencut sama lelaki separuh baya itu. Bukan itu saja. Manirah juga sudah
sering kali dilamar oleh para pemuda dari kampung sebelah. Maklum,
Manirah memang tergolong perempuan yang cantik. Tubuhnya padat dan
sintal, berkulit mulus. Jika tersenyum, tampak lesung pipit menghias pipinya
yang ranum, hingga sering membuat perasaan lelaki berdenyar-denyar.
Namun, Manirah tetap bergeming, malah memilih Sukardal, pemuda miskin,
sebagai suaminya.
Penghasilan Sukardal yang tak menentu dari perasan keringatnya sebagai
kusir dokar tampaknya membikin tekanan hidup keluarga muda itu makin
bertambah berat. Dininabobokan oleh kisah para TKW yang sukses,
membuat Manirah bertekad untuk ikut mengais rezeki di negeri orang.
Menyadari kekurangannya yang gagal menjanjikan harapan hidup buat
istrinya, Sukardal mengizinkan Manirah terbang ke tanah seberang. Dia
begitu percaya akan kesetiaan dan keteguhan hati istrinya, sehingga dia tak
perlu merasa khawatir dan waswas terhadap istrinya.
Kekaguman dan kebanggaan Sukardal terhadap istrinya makin bertambah
ketika dia rutin menerima kiriman duit yang terus mengalir. Berkat kerja
keras istrinya, dia mampu membangun rumah dan membeli beberapa petak
sawah. Sukardal pun berhenti dari pekerjaannya sebagai kusir dokar.
Namun, alangkah tersentaknya ketika ia mendengar kabar dari Yu Jimah,
tetangganya yang barusan pulang dari tanah seberang, bahwa Manirah telah
hamil dan diperistri oleh lelaki asing.
Kabar itu benar-benar membikin Sukardal kelimpungan. Stres berat.
Perasaan dan pikirannya seperti dihantam godam bertubi-tubi. Kekaguman
dan kebanggaan terhadap istrinya mendadak sirna. Berhari-hari lamanya,
Sukardal hanya menghabiskan waktunya untuk mengutuk dan menyumpah-
nyumpah istrinya. Tanpa disadari, Sukardal berubah menjadi lelaki yang
kehilangan akal sehatnya. Gemblung, gendeng, dan sinting. Nurani lelakinya
serasa tak sanggup lagi memahami perangai istrinya yang dianggap telah
berkhianat dan menjual kehormatannya kepada lelaki asing yang tak
dikenalnya.
Sukardal makin tenggelam dalam dunianya yang ganjil. Ia terus mengelana
dalam pengembaraan batin yang jauh. Hingga akhirnya, ketika fajar pecah di
ufuk timur, para penduduk menemukan tubuh Sukardal telah menjadi
mayat, tanpa kepala, terkapar bersimbah darah di pelataran rumahnya.
“Apakah pemakaman ini tetap kita lanjutkan, Mbah?” tanya seseorang di
balik hiruk-pikuk orang-orang di rumah mendiang Sukardal. Para penduduk
saling bertatapan. Sesekali terdengar kesibukan orang membelah kayu,
memotong bambu, dan keriuhan-keriuhan yang lain di pojok rumah sana.
“Memangnya kenapa?” sahut seorang lelaki tua berikat kepala hitam.
“Tegakah kita melihat jenazah Sukardal dikubur tanpa kepala?”
“Lebih tega mana kamu menyaksikan jenazah Sukardal tak terurus?”
“Tapi, ee…e, bukankah jenazah orang yang akan dikubur harus lengkap,
Mbah?”
“Siapa bilang? Haruskah kita menunggu kepala Sukardal ditemukan dulu?
Kalau ketemu tidak ada masalah, tapi kalau tidak bagaimana? Apakah akan
kita biarkan gembungnya sampai membusuk? Ah, yang benar saja!”
Seperti tersihir, para penduduk hanya bisa mengangguk-angguk mengiyakan
kata-kata Pak Tua itu.Akhirnya, proses pemakaman jenazah Sukardal tetap
dilanjutkan. Ketika matahari tepat di atas perkampungan, jenazah Sukardal
yang telah terkemas dalam keranda, siap diberangkatkan dari rumah duka.
Beberapa pelayat tertunduk takzim saat Pak Lebai membacakan doa. Berkali-
kali, Pak Lebai memohon kepada para pelayat untuk melepaskan kepergian
Sukardal sebagai orang yang baik dan ahli ibadah agar arwahnya diterima di
sisi-Nya. Para pelayat serentak menyahut dan mengamininya.Ketika jenazah
hendak diangkat dari pelataran, mendadak terdengar deru mobil membelah
perkampungan dan berhenti tepat di pelataran rumah mendiang Sukardal.
Para pelayat serentak menjatuhkan ekor matanya ke arah perempuan yang
baru saja keluar dari perut mobil. Mereka terkejut saat menatap seorang
perempuan cantik bertubuh sintal, padat, dan berkulit mulus itu berjalan
menuju ke rumah duka.
“Manirah?” gumam beberapa pelayat sambil mengerutkan jidatnya.
“Siapa yang meninggal, Pak?” tanya perempuan cantik itu kepada beberapa
pelayat.
“Dasar perempuan sundal! Tega-teganya kamu mengkhianati Kang Sukardal
hingga jadi gendeng! Kamulah yang telah menyebabkan kematiannya! Dasar!”
sahut seorang lelaki muda dengan sorot mata kemurkaan.
“Kang Sukardal?” teriak histeris perempuan itu sambil berjingkat menuju ke
arah keranda yang siap diangkat. Air matanya mengalir deras membanjiri
kedua belah pipinya yang ranum. Seperti dibimbing oleh sesuatu yang gaib,
tiba-tiba saja perempuan itu merangkul keranda dan hendak membukanya.
Namun, dicegah beberapa penduduk.
“Hei, perempuan sundal! Jangan kamu kotori jenazah Kang Sukardal dengan
tanganmu yang najis itu! Hu! Menjijikkan!” sergah seorang lelaki muda sambil
menarik lengan perempuan itu.
“Aku ingin melihat wajah Kang Sukardal untuk terakhir kalinya!”
“Tidak bisa! Kamu sudah bukan lagi istri Kang Sukardal!” Perempuan cantik
itu hanya bisa melongo saat beberapa penduduk mengangkat keranda itu
menjauhi pelataran. Sesekali, beberapa penduduk menoleh ke arahnya
dengan tatapan mata sinis dan kebencian. Tiba-tiba saja, perempuan cantik
itu merasakan kepalanya maat pusing. Bola matanya nanar dan berkaca-
kaca. Darahnya mendesir. Dadanya yang padat diserbu setumpuk
pertanyaan. Tubuhnya limbung, terkapar mencium tanah.Manirah,
perempuan cantik itu, belum paham juga kenapa para penduduk berubah
sinis dan benci kepadanya. Hanya Mak Sarmini, kakak perempuan Sukardal,
yang tampak santun dan menyambut baik kehadirannya.
“Kamu tahu, kenapa para penduduk berubah membencimu?”
“Tidak, Yu!”
“Setelah kamu pergi, Sukardal jadi sinting begitu mendengar kabar kamu
hamil dan diperistri orang asing! Meninggalnya pun sungguh mengerikan!
Jasadnya hanya tinggal gembungnya saja! Entah siapa yang tega
membunuhnya dengan cara yang kejam seperti itu!” Kepala Manirah serasa
dihantam sebongkah batu. Hatinya tersayat-sayat.
“Siapa yang telah menyebarkan fitnah itu, Yu! Demi Allah, saya tidak hamil
apalagi diperistri orang asing! Huh!” Manirah tak mendapatkan jawaban apa-
apa. Mak Sarmini telah berjingkat meninggalkannya. Tuduhan keji dan
kematian tragis yang merenggut nyawa Sukardal, benar-benar membuat
Manirah terpukul. Jauh-jauh ia mengadu nasib di negeri orang, ia rela jadi
gedibal orang asing, semuanya dilakukan untuk kebahagiaan keluarganya.
Tapi apa yang ia dapatkan setelah kembali ke kampung halaman, sungguh di
luar dugaan. Para penduduk benar-benar menganggap dirinya sebagai
perempuan pengkhianat dan pendosa yang pantas dikucilkan.
Pikiran Manirah jauh menerawang. Berhari-hari lamanya, ia hanya
mengurung diri di rumah. Di layar benaknya, muncul berganti-ganti wajah
Sukardal yang putih bercahaya dan sorot mata kebencian para
penduduk.Genap sepekan kematian Sukardal, para penduduk dikejutkan
kabar ditemukannya sepotong kepala lelaki gendeng itu yang hampir
tenggelam di tengah lumpur sungai. Tanpa rasa risih, dengan diiringi
beberapa penduduk, seorang lelaki muda menenteng potongan kepala
Sukardal, menuju ke rumah Manirah.
Mendengar keriuhan di luar, Manirah berjingkat dari biliknya. Begitu melihat
seorang penduduk menenteng kepala Sukardal, tiba-tiba saja dia sangat
bernafsu merebutnya, lantas mendekap dan memeluknya dengan ketulusan
yang begitu sempurna, seperti anak kecil yang telah lama merindukan barang
mainannya yang hilang.Sejak saat itu, para penduduk tak pernah melihat
Manirah keluar dari rumahnya. Menurut penuturan penduduk yang pernah
mengintipnya, Manirah selalu memeluk, menimang, dan menciumi potongan
kepala Sukardal dengan cucuran air mata yang tak pernah berhenti mengalir
dari pelupuk matanya yang sayu dan pucat. ***
(Media Indonesia, 6 Januari 2002)
Perempuan Bergaun Putih
Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut.
Temaram. Angin malam berkesiur lembut, menaburkan hawa busuk
kematian. Seisi kampung seperti tenggelam di bawah jubah gaib Malaikat
Maut. Sesekali terdengar samar lolong serigala di hutan jati yang jauh seperti
memanggil-manggil arwah para penghuni lembah kematian.
“Sampeyan masih melihat sosok perempuan bergaun putih itu?”
“Ya! Perempuan itu masih setia menunggui rembulan setiap malam di bukit
itu.”
“Siapa dia sebenarnya?”
“Tak seorang pun yang tahu. Dia hanya dikenali sebagai perempuan bergaun
putih.”
“Sejak kapan dia suka menunggui rembulan?”
“Sejak gadis kecil berkepang dua meninggal.”
“Siangnya?”
“Tak seorang pun yang tahu. Dia akan hilang ketika embun pertama jatuh di
pucuk-pucuk ilalang.”
“Hemmm …. Malamnya dia datang lagi di bukit itu?”
“Ya, setiap malam.”
“Meskipun rembulan tanggal tua?”
“Ya.”
“Masih setiakah ia menunggui rembulan yang dipujanya ketika hujan tiba?”
“Ya.”
“Adakah hubungan perempuan pemuja rembulan itu dengan lembah
kematian?”
“Tidak tahu.”
Ya! Sudah hampir tiga purnama ini, para penduduk kampung dikejutkan oleh
kehadiran sosok perempuan misterius bergaun putih. Tak seorang pun
penduduk yang tahu, siapa sesungguhnya perempuan bergaun putih itu.
Setiap rembulan menggantung di langit, dia selalu setia menunggui bukit di
bibir lembah kematian. Dari mulutnya sesekali mendesis senandung
pemujaan rembulan yang perih.
….
Rembulanku,
Aku ingin bertemu
Bidadari yang memangku kucing
Yang selalu mendongeng tentang dewa-dewi
Yang berkisah dengan batin dan jiwa
Rembulanku,
Di sini aku kesepian
Tersekap di tengah labirin cinta dan kerinduan
Kapan aku bisa bertemu
Dengan bidadari yang memangku kucing
….
Senandung pemujaan rembulan yang perih itu seringkali menghanyutkan
mimpi para penduduk kampung ketika malam mencapai puncak kematangan
yang sempurna. Oleh angin yang bertiup dari lembah kematian, suara
senandung yang perih itu seperti diterbangkan menuju ke pintu langit hingga
membahana ke seluruh penjuru kampung dengan nada yang lembut, tetapi
menyayat-nyayat rongga telinga.
Menurut penuturan beberapa penduduk, perempuan itu berwajah rata
dengan rambut tergerai memanjang hingga menyentuh lututnya. Wajah
perempuan bergaun putih itu selalu menengadah ke langit, menatap
rembulan yang dipujanya.
“Apakah perempuan itu juga yang menggerakkan burung-burung gagak itu?”
“Tidak tahu.”
“Hantukah dia?”
“Tidak tahu.”
“Apakah dia membawa tongkat?”
“Tidak!”
“Pernahkah Sampeyan mendekatinya?”
“Pernah!”
“Kapan?”
….
Percakapan dua penduduk kampung di tengah kesunyian dan kesiur angin
yang mencekam itu tiba-tiba terhenti ketika serombongan burung gagak
berkaok-kaok, berkelebat di atas bubungan atap-atap rumah, menaburkan
hawa busuk ke seluruh penjuru kampung. Konon, burung-burung gagak itu
diyakini sebagai jelmaan arwah para penghuni lembah kematian. Para
penduduk juga meyakininya sebagai pertanda buruk. Sebuah bencana akan
melanda perkampungan di bibir hutan jati itu.
***
Azan Subuh menggema dari corong surau satu-satunya di perkampungan
sunyi itu. Gemanya memantul dan menampar-nampar dinding bukit. Para
penduduk tergeragap. Seperti digerakkan oleh sesuatu yang gaib, para
penduduk menghapus sisa-sisa mimpi. Lantas, menggeliat, bergerak
membuka pintu-pintu rumah yang dingin berkabut. Dalam sekapan dingin
yang menggigit, telinga para penduduk tiba-tiba saja menangkap raungan
tangis dari sudut perkampungan.
“Siapa yang meninggal, Kang?”
“Tidak tahu.”
Siapa yang menginggal, Yu?”
“Tidak tahu.”
Seperti mendapatkan isyarat gaib, para penduduk bergegas menuju ke arah
raungan tangis itu. Sesekali terdengar suara batuk tua, tangis bocah, kokok
ayam, dan lenguh kerbau. Para penduduk datang berduyun-duyun bagaikan
rombongan masyarakat purba menuju ke sebuah altar pemujaan.
“Kenapa kamu Nduk? Kenapa?” teriak histeris seorang perempuan separo
baya ditingkah raungan tangis yang membahana, memecah kesunyian pagi.
“Ayo, Nduk, bangun!” teriak seorang lelaki separo baya dengan suara tangis
tertahan. Rombongan penduduk yang baru saja datang bersidesak
mengerumuni seorang gadis kecil yang sudah tak berdaya. Bola mata mereka
nanar, gagal membendung kawah air mata yang jebol di bendungan pelupuk
mata. Tangis histeris bersambung-sambungan. Mereka menyaksikan gadis
kecil yang biasa berdandan dengan rambut dikepang dua itu sudah tak
bernyawa. Tubuhnya terbujur kaku.
Tak seorang pun penduduk yang bisa memahami, kenapa gadis kecil
berkepang dua yang suka memburu capung dan kupu-kupu ketika senja
jatuh itu tiba-tiba harus meninggalkan kampung kelahirannya untuk selama-
lamanya. Padahal, senja tadi, gadis kecil itu masih bermain-main dengan
capung dan kupu-kupu. Rambut kepangnya bergulir ke kiri dan ke kanan
setiap kali dia berlari. Bahkan, dia sempat minta minum kepada seorang
penduduk ketika rasa haus mencekik kerongkongannya.
Gadis kecil itu anak perempuan Kang Badrun dan Yu Darmi satu-satunya.
Empat anaknya yang lain laki-laki yang sulit diharapkan masa depannya.
Gadis kecil berkepang dua itulah yang didambakan Kang Badrun dan Yu
Darmi dapat mengangkat martabat keluarganya. Mengikuti jejak gadis
tetangganya merantau ke negeri orang. Mengumpulkan bekal hidup dan
sepetak tanah sebagai kado yang “wajib” dipersembahkan kepada orang
tuanya sebelum disunting seorang lelaki. Kang Badrun dan Yu Darmi sangat
menyayanginya. Namun, agaknya Tuhan berkehendak lain. Harapan Kang
Badrun dan Yu Darmi terkubur sudah bersama jasat anaknya yang telah
terbujur kaku. Tak berdaya.
Seperti biasanya, para penduduk bergegas menyiapkan upacara pemakaman.
Hampir tak ada seorang pun penduduk yang berangkat ke ladang atau
berjualan kayu rencek ke pasar. Mereka suntuk meringankan beban duka
yang tengah menjerat Kang Badrun dan Yu Darmi. Hanya anak-anak
penggembala dengan cambuk di tangan yang rutin menggiring hewan-hewan
piaraan menuju ke sebuah lembah.
Ketika matahari sepenggalah, para penduduk segera memberangkatkan
jenazah gadis kecil berkepang dua itu menuju lembah kematian. Di tengah
kemiskinan yang melilit, kematian gadis kecil berkepang dua itu merupakan
malapetaka bagi Kang Badrun dan Yu Darmi. Sempurnalah penderitaan
hidup mereka setelah sekian tahun lamanya terbenam dalam lumpur
kemiskinan bersama anak-anak mereka yang tidak jelas dan pasti masa
depannya. Mereka hanya mengandalkan hidup dengan berjualan kayu rencek
ke sebuah pasar yang jauh.
***
Penderitaan hidup Kang Badrun dan Yu Darmi makin sempurna ketika salah
satu anak lelakinya tertangkap basah mencuri uang milik kepala dusun.
Sudah jatuh tertimpa tangga, digigit anjing pula. Kang Badrun dan Yu Darmi
pun terpaksa diusir dari kampung kelahiran yang mereka cintai sesuai
dengan adat yang telah disepakati oleh para tetua kampung. Tidak pandang
bulu. Siapa pun yang melakukan pencurian, keluarganya harus
meninggalkan kampung. Tak jelas, ke mana keluarga yang bernasib kurang
beruntung itu pergi. Yang pasti, semenjak kematian gadis berkepang dua dan
kepergian keluarga Kang Badrun, kampung bagaikan dipayungi jubah
Malaikat Maut yang singup. Hawa busuk kematian tercium di setiap sudut
dan pintu-pintu rumah penduduk.
Sejak saat itu pula, para penduduk sering terusik oleh kehadiran gerombolan
burung gagak yang berkaok-kaok di atas bubungan atap-atap rumah. Yang
membuat pori-pori mereka makin merinding, hampir setiap malam mereka
menyaksikan seorang perempuan bergaun putih yang suka menunggui
rembulan di bibir lembah kematian.
“Apakah perempuan bergaun putih itu jelmaan gadis berkepang dua yang
arwahnya penasaran?”
“Tidak tahu. Tapi kalau dilihat potongan rambutnya sangat berbeda dengan
gadis kecil berkepang dua. Perempuan pemuja rembulan itu berambut
panjang hingga menyentuh lututnya..”
“Tapi kenapa munculnya kok sejak gadis berkepang dua itu meninggal?”
“Tidak tahu.”
“Kalau memang perempuan bergaun putih itu bukan jelmaan si gadis, kenapa
dan dari mana dia bisa begitu datang secara tiba-tiba?”
“Tidak tahu.”
….
Percakapan dua penduduk kampung di tengah kesunyian dan kesiur angin
yang mencekam itu tiba-tiba terhenti ketika serombongan burung gagak
berkaok-kaok, berkelebat di atas bubungan atap-atap rumah, menaburkan
hawa busuk ke seluruh penjuru kampung. Konon, burung-burung gagak itu
diyakini sebagai jelmaan arwah para penghuni lembah kematian. Para
penduduk juga meyakininya sebagai pertanda buruk. Sebuah bencana akan
melanda perkampungan di bibir hutan jati itu.
Para penduduk tersentak ketika mendengar kabar bahwa jumlah perempuan
bergaun putih yang setia menunggui bukit di bibir lembah kematian itu
makin bertambah setiap malam. Potongan tubuh, wajah, dan rambutnya
sangat mirip. Para perempuan bergaun putih yang selalu menengadah ke
langit menatap rembulan yang dipujanya itu terlihat samar-samar di bawah
siraman sinar rembulan sepotong semangka yang temaram. Terdengar
senandung koor yang pedih, menggema dari pinggang bukit lembah
kematian.
….
Rembulanku,
Aku ingin bertemu
Bidadari yang memangku kucing
Yang selalu mendongeng tentang dewa-dewi
Yang berkisah dengan batin dan jiwa
Rembulanku,
Di sini aku kesepian
Tersekap di tengah labirin cinta dan kerinduan
Kapan aku bisa bertemu
Dengan bidadari yang memangku kucing
….
Senandung pemujaan rembulan yang perih itu benar-benar menghanyutkan
mimpi para penduduk kampung ketika malam mencapai puncak kematangan
yang sempurna. Oleh angin yang bertiup dari lembah kematian, suara
senandung yang perih itu seperti diterbangkan menuju ke pintu langit hingga
membahana ke seluruh penjuru kampung dengan nada yang lembut, tetapi
menyayat-nyayat rongga telinga. Senandung koor pemujaan rembulan yang
perih itu pun seperti hendak menjebol dinding batin dan jiwa para penduduk.
Setiap malam, jumlah perempuan bergaun putih yang menengadahkan
wajahnya ke langit itu makin bertambah. Para penduduk makin tersentak
ketika pada malam berikutnya ribuan burung gagak bertengger di atas
bubungan atap dengan meninggalkan kotoran busuk yang menusuk hidung.
Setiap malam, jumlah burung gagak itu kian bertambah hingga membuat
beberapa rumah penduduk tak sanggup lagi menampung beban. Sudah
belasan rumah penduduk yang roboh; rata dengan tanah.
Atas kesepakatan dengan tetua kampung, para penduduk mengungsi ke
tempat lain. Mereka tak sanggup melawan ribuan burung gagak yang datang
dan pergi secara tak terduga pada setiap malam. Tidak jelas, ke mana mereka
harus tinggal. Hampir setiap hari, terlihat rombongan penduduk membawa
barang-barang dan ternak piaraan melintasi jalan-jalan kampung yang sunyi,
dingin, dan berkabut. Entah sampai kapan. ***
Kendal, 11 Januari 2008
Kepala di Bilik Sarkawi
Bilik Sarkawi yang sumpek, singup, dan gelap diselimuti asap dupa. Baunya
yang khas berbaur aroma kembang telon dan minyak serimpi menyedak
hidung. Sarkawi merasakan pikriannya hanyut dan tenggelam dalam arus
percumbuan yang ganjil. Melayang-layang. Sepotong kepala yang tergantung
dalam bilik itu tampak menjelma bagai wajah bidadari. Anggun, cantik,
memesona, putih bercahaya, memancarkan aura kegaiban. Sarkawi
merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Diusapnya sepotong kepala itu lembut. Mesra. Darah Sarkawi berdesir. Ada
sebuah kekuatan aneh yang tiba-tiba muncul dari balik kepala itu, lantas
merayap-rayap dan menjalar bersama aliran darah Sarkawi. Lelaki kurus itu
tersenyum penuh makna. Ia paham, sinyal itu memberi isyarat bahwa ia
harus segera bersiap memasuki pengembaraan batinnya.
Sembari duduk bersila takzim, mulut Sarkawi mulai komat-kamit merapal
mantra. Tidak jelas benar apa yang meluncur dari balik bibirnya yang pucat
itu. Lantas dnegan gerak refleks, ia segera melolos sisir dari balik saku baju
kumalnya. Sekali lagi, dengan lembut dan mesra, wajah sepotong kepala
dibelainya seperti memperlakukan seorang kekasih. Rambut sepotong kepala
yang menjuntai ke bawah itu disisirnya pelan-peln. Sarkawi tersentak.
“Di mana gembungku? Ayo kembalikan!”
Suara itu bergaung di gendang telinga Sarkawi menghiba-hiba, menggetarkan
sukma. Suara rintihan yang meluncur dari sebuah penderitaan dan
ketersiksaan. Entah! Tiba-tiba saja tubuh Sarkawi bergetar. Dadanya
berdebar-debar. Keringat dingin melelh di sekujur tubuh. Namun demikian,
jemari tangannya masih terus mempermainkan sisir di sepotong kepala itu.
Bersamaan dengan itu, suara-suara yang merintih penuh luapan penderitaan
dan ketersiksaan terus membombardir gendang telinganya. Bersambung-
sambungan.
Kini, tubuh Sarkawi menggigil dahsyat. Sepotong kepala yang tengah disisir
rambutnya itu mendadak menjelma menjadi berpuluh-puluh potong kepala
yang berserakan di lantai biliknya. Seperti digerakkan sesuatu yang gaib,
secepat kilat, berpuluh-puluh potong kepala itu menyerbu Sarkawi. Ada yang
menjilati daun telinga, bibir, dada, perut. Tidak luput, daerah kemaluannya
pun diserbu juga. Tubuh Sarkawi tampak tertutup rapat oleh puluhan potong
kepala.
Sementara itu, suara rintihan yang penuh penderitaan dan ketersiksaan
terus-terusan mendesing di gendang telainganya, bahkan semaskin
menghebat. Baju kumal yang menempel di tubuhnya basah oleh keringat
dingin. Samar-samar, telinganya menangkap suara yang begitu wibawa dari
mulut Ki Maruto, dukun yang pernah menjanjikan harapan hidup bagi
dirinya.
“Kosongkan pikiranmu, Ngger! Apa pun yang terjadi di sekelilingmu, kamu
harus tabah! Lakukan terus seperti yang pernah aku jelaskan!”
Suara Ki Maruto dengan cepat menghilang di balik kegelapan. Sarkawi
mencoba bergeming. Ia biarkan puluhan potong kepala itu menggigit dan
menjilati sekujur tubuhnya. Jemarinya terus mempermainkan sisir di atas
sepotong kepala yang tergantung di depan hidungnya. Namun demikian,
telinganya belum sanggup menepiskan suara-suara rintihan yang
memberondong dinding nuraninya. Bahkan, puluhan potong kepala itu
semakin cepat dan kuat menggigit dan menjilati sekujur tubuhnya.
***
Sarkawi memang lelaki malang. Usianya yang sudah hampir menginjak
kepala empat, ia belum bermimpi untuk hidup berumah tangga. Bukannya
tidak mau, tapi Sarkawi tahu diri. Dalam kondisi hidup yang serba kesrakat,
perempuan mana yang sanggup hidup bersama dirinya? Apalagi, secara fisik,
ia memiliki tubuh yang kurang sempurna. Kakinya pincang, besar sebelah.
Telapak tangan kirinya buntung, tanpa jari. Bola mata kirinya tertutup rapat
seonggok daging yang menggelambir tepat di keningnya. Tidak
mengherankan kalau Sarkawi selalu berada di pihak yang dikalahkan setiap
kali bergaul dengan teman-teman sekampungnya. Jadi bahan olok-olok dan
ledekan.
Sarkawi hati hati. Ia benar-benar merasa menjadi orang yang tersingkir dan
disingkirkan. Kadang ia menggugat Tuhan yang dianggap tidak adil
memperlakukan dirinya. Sebuah tindakan yang mendekati keputusasaan.
Seumur-umur, hanya almarhum ayahnya yang dianggap gencar mengayomi
Sarkawi dari hujatan dan cercaan orang-orang. Ayahnya bisa tampil garang
kalau ada orang yang mencoba mempermainkan Sarkawi. Sarkawi benar-
benar tersanjung dan “dimanjakan” di mata ayahnya. Tapi sayang, sang ayah
kburu dijemput maut saat Sarkawi masih butuh banyak pembelaan dan
pengayoman.
Batin Sarkawi benar-benar terpukul. Ia seperti berada di sebuah tepi jurang
yang terjal. Terpeleset sedikit saja, ia akan tersungkur, jatuh. Beruntunglah
ia bertemu Ki Maruto, seorang dukun yang menjanjikan harapan hidup bagi
dirinya.
“Setiap manusia diberi wewenang mbudi-daya, Ngger!” ujar Ki Maruto suatu
ketika, penuh wibawa. “Tubuhmu yang cacat bukan halangan untuk hidup
lebih baik.”
Kata-kata Ki Maruto menejukkan nurani Sarkawi. Ia betul-betul terkesan
dengan lelaki tua renta bertubuh cebol itu. Jadilah Sarkawi “cantrik” Ki
Maruto. Lewat sentuhan “gaib”-nya, Sarkawi digembleng dengan berbagai
pelatihan olah batin dan tirakat. Sarkawi sering diajak Ki Maruto menepi ke
tempat-tempat yang wingit dan angker. Bermalam di di tengah kuburan
merupakan rutinitasnya. Sarkawi juga disuruh untuk melakukan puasa
mutih – makan nasi tanpa garam—selama empat puluh hari. Dan pada hari
yang terakhir, Sarkawi harus melakukan patigeni –menepi di tempat gelap
yang tidak tertembus sinar matahari.
Laku yang berat memang. Namun, tekadnya yang bulat untuk dapat
mengubah garis hidup telah membikin Sarkawi tebal nyalinya. Hingga suatu
ketika, ia disuruh mencuri sepotong kepala mayat perempuan tetangganya
yang meninggal hari Selasa Kliwon. Caranya pun aneh. Sarkawi tidak boleh
melakukannya sembarangan, tapi harus membuat lorong bawah tanah,
mulai dari biliknya sampai ke tempat mayat itu dikubur. Gila! Ternyata
Sarkawi dapat demikian mudah melakukannya. Seperti “petunjuk” Ki
Maruto, sepotong kepala itu harus digantung dalam bilik yang terttup rapat,
gelap, dan tak tertembus sinar matahari.
“Itulah srana untuk dapat cepat kaya, Ngger!” bisik Ki Maruto secara gaib di
telnga Sarkawi. “yang perlu diingat, saben malem Jumat, kamu harus rutin
memandikannya dengan asap kemenyan, kembang telon, dan minyak
serimpi! Kalau ia menangis mencari gembungnya. Suruhlah ia memenuhi
dulu bilikmu dengan bertumpuk-tumpuk dhuwit!”
***
Para penduduk kampung tercengang melihat perubahan drastis hidup
Sarkawi. Lelaki cacat-kesrakat yang pernah jadi bahan olok-olok dan ledekan
itu kini kaya mendadak. Dalam tempo singkat, ia berhasil membangun
rumah gedhong megah berlantai keramik. Perabotnya tergolong mewah. Ia
pun tak segan-segan menyumbangakn sebagain dhuwitnya untuk keperluan
kampung, membangun masjid, atau memperbaiki jembatan. Karuan saja,
nama Sarkawi menjadi perbincangan hangat di mana-mana.
Namun demikian, perubahan mendadak itu membikin orang-orang kampung
penasaran. Mereka ingin tahu, dari mana Sarkawi memperoleh kekayaannya.
Orang-orang kampung mulai kasak-kusuk. Berbagai prasangka jelek mulai
meluncur.
“Ah, mokal toh, Kang! Sarkawi itu kerjanya apa, hem? Kalau tidak cari
pesugihan dari mana dia bisa kaya mendadak?” celetuk Pargun serius di sela-
sela kerumunan warga kampung di gardu poskamling. Mereka saling
bertatapan.
“Ya, jangan terus berprasangka buruk seperti itu, toh! Siapa tahu, dia
menjual tanah warisan!” sahut Ramijo tak kalah seriusnya.
“Alah! Warisan apa? Ayahnya itu tak mewarisi apa-apa! Kayak kita nggak
tahu saja!
Timpal Pargun bersungut-sungut. Yang lain menimplai. Riuh. Perbincangan
semakin hangat, bahkan kadang memanas. Warga kampung kian tenggelam
dalam alur perdebatan hingga larut malam, sampai akhirnya mereka
kehabisan alasan untuk berdebat.
Sementara itu, malam mulai larut. Tak ada yang berubah di kampung itu.
Gelap. Sepi. Letaknya yang terpencil, tampaknya telah membuat desa di tepi
hutan jati itu nyaris tak tersentuh kemajuan. Nglangut. Namun demikian,
malam ini seantero kampung seperti tersihir ketakutan. Lolongan serigala,
tidak seperti biasanya, seperti memanggil-manggil arwah gentayangan dari
tengah hutan jati sana. Sesekali, melintas rombongan binatang malam yang
terbang di atas rumah-rumah penduduk. Cuaca dingin membeku. Suara
serangga malam berirama aneh, membangkitkan bulu kuduk. Jubah
malaikat maut seperti tengah dikembangkan memayungi perkampungan.
Tiba-tiba saja bau bangkai yang busuk menyembur-nyembur. Merayap-rayap
di sela-sela dinding rumah penduduk. Serentak, orang-orang kampung
terbangun. Seisi rumah saling bertatapan, saling tanya, memastikan apakh
hidung mereka juga mencium bau busuk? Semakin lama, bau busuk itu kian
menusuk-nusuk hidung. Sebagian penghuni rumah sibuk memburu sumber
bau busuk itu di kolong-kolong tempat tidur kalau-kalau ada bangkai tikus
atau kodok. Namun, mereka tak mendapatkan apa-apa.
***
Fajar memecah di ufuk Timur. Bau busuk kian dahsyat menyengat hidung.
Antartetangga saling curiga dan saling tuduh, dianggap tak becus menjaga
kebersihan lantaran membiarkan bangkai binatang mengendon di rumahnya.
Namun, mereka juga saling mengelak. Kampung gempar. Para penduduk
beramai-ramai memburu sumber bau busuk itu. Masing-masing
menajamkan kepekaan indra penciumnya. Sambul mengucak-ucak mata
yang masih lekat dengan sisa-sisa mimpi, para penduduk berbondong-
bondong bagaikan kerumunan manusia purba yang hendak menantikan
hukuman para dewa. Seperti dibimbing oleh tangan-tangan gaib, para
penduduk menuju ke rumah gedong Sarkawi yang megah. Aneh! Bau busuk
itu kian mendesing-desing di lubang hidung. Sebagian penduduk yang tidak
tahan langsung muntah-muntah.
Para penduduk berjubel di skeitar rumah Sarkawi sambil menutup rapat-
rapat lubang hidungnya. Mereka yakin, di rumah Sarkawi itulah sumber bau
busuk menyembur-nyembur. Di rumah gedong itu tampak tak ada tanda-
tanda kehidupan. Sarkawi yang biasa bangun pagi juga tidak tampak batang
hidungnya.
“Sarkawi, ayo keluar Sapeyan!” teriak penduduk beramai-ramai. Tak ada
sahutan. Pintu rumah gedong itu tetap terkunci rapat.
Akhirnya, para penduduk menjebol pintu rumah Sarkawi. Seperti
disentakkan, para penduduk beramai-ramai menyerbu rumah Sarkawi.
Semua pintu kamar dijebol. Ketika beberapa penduduk menjebol daun
piuntu bilik paling belakang, mereka berteriak histeris. Mereka melihat tubuh
Sarkawi telah terbujur kaku. Dari lubang hidung, telinga, dan mulutnya tak
henti-hentinya mengeluarkan ratusan cacing tanah yang terus menggeliat
menutupi sekujur tubuhnya. Sementara itu, dalam bilik yang gelap itu
tergantung sepotong kepala yang telah berubah jadi tengkorak.
Para penduduk berlarian lintang-pukang. Entah! Khayalan apa yang berada
di balik kepala mereka. ***
Kendal, Januari 1999
(Suara Merdeka, 15 Agustus 1999)
Kang Panut
Nada tangis pilu memecah perkampungan, mengiris atap-atap rumah,
mengusik mimpi-mimpi yang membadai di layar bawah sadar para
penduduk. Fajar baru saja menggeliat dari kepungan malam yang busuk.
Sambil mengucak-ucak pelupuk mata, beberapa penduduk berjingkat dari
pembaringan, menerobos pintu, menyibak kabut dingin.
“Ada yang meninggal, ya, Kang?” tanya seseorang.
“Mungkin!” sahut yang lain.
“Kira-kira siapa yang meninggal, ya, Kang?”
“Mana aku tahu? Tapi kalau ndak salah tangisan itu dari rumah Kang Panut!”
“Tapi setahu saya keluarga Kang Panut sehat-sehat saja, kok!”
“Yah, semoga tidak ada apa-apa!”
Mereka terus berjalan menyusuri jalan desa yang dingin dan berkabut.
Tergesa-gesa. Suara tangis makin menyayat-nyayat. Para penduduk makin
tak sabar. Ketika tiba di rumah Kang Panut, mereka menyaksikan kesibukan
yang berlangsung di gubug reot berdinding bambu itu.
“Urut pergelangan kakinya!” seru seseorang.
“Bikinkan kopi, cepat!”
“Tekan jempol kakinya!”
Suara penduduk kampung yang riuh berbaur dengan bau mulut, suara
batuk, suara tangis, suara kokok ayam. Di kejauhan sana suara azan subuh
menggema, menampar dinding bukit, menggoyang lembah hantu dan demit,
menggetarkan kaki langit. Di atas pembaringan, Kang Panut tergolek tak
berdaya. Bola matanya mendelik dahsyat. Wajahnya pasi, kehilangan cahaya
kehidupan. Napasnya berat dan sesak. Kerongkongan dan rongga dadanya
seperti tersumbat beban yang mahaberat. Beberapa penduduk sibuk
mengurusnya. Namun, agaknya Tuhan telah berkehendak lain. Lelaki kurus
itu tiba-tiba meronta dahsyat, lalu diam, tak berkutik. Sekujur tubuhnya
kaku dan dingin. Mati. Seorang perempuan kurus memekik histeris; roboh
dan tersungkur ke lantai. Kabut duka bergulung-gulung menyelimuti gubug
reot itu.
Tak seorang pun menduga, Kang Panut bakal meninggal secepat itu.
Kemarin, para penduduk masih sempat menyaksikan lelaki kurus bermata
juling itu bekerja sebagai tukang masak air di rumah Pak Lurah Kimpul yang
sedang punya hajat mantu. Dengan celana kolor hitam dan kaos oblong
lusuh, Kang Panut bergelut dengan api dan asap dapur. Memasak air untuk
suguhan para tamu. Wajahnya tampak lelah. Namun, Kang Panut tak
menghiraukan. Dia terus bekerja sampai hajat usai.
Agaknya Kang Panut menikmati betul pekerjaannya itu. Hanya dengan upah
lima ribu rupiah, dia sambut tawaran setiap penduduk yang membutuhkan
tenaganya dengan senang hati. Yu Ginem, isterinya pun tak pernah berontak.
Dari dalam gubugnya yang reot itu hampir tak pernah terdengar percek-
cokan. Hanya sesekali terdengar tangis kedua anaknya yang saling berebut
makanan atau nasi kenduri dari tetangga. Selebihnya, gubug reot itu
senantiasa sunyi, tersisih di sudut perkampungan yang tak pernah terjamah
suara radio atau televisi. Jika malam tiba, dari balik gubug itu menggema
suara jangkrik atau gangsir yang bersembunyi di sela-sela gundukan cacing
tanah yang lembab dan kotor.
***
Berita kematian Kang Panut bagaikan terbawa angin, menyebar dengan cepat
ke seantero desa. Para penduduk berdatangan secara bergelombang.
Maklumlah. Hampir semua penduduk desa dari ujung barat hingga ujung
timur mengenalnya. Dia dianggap telah berjasa menghidupkan hajat banyak
orang. Seandainya tidak ada Kang Panut, pasti akan sering terjadi keributan.
Para tamu yang hadir merasa tidak dihargai lantaran tak disuguhi minuman.
Kasak-kusuk dengan mudah dan cepat berkecamuk di setiap kepala.
Memang hanya sekadar minuman. Namun, bisa menjadi persoalan besar
lantaran menyangkut harga diri dan kehormatan.
Para pelayat membludak. Gubug reot itu seolah-olah mau ambruk; tak kuasa
menampung pelayat yang berjejal-jelal. Sebagian yang lain menyingkir ke
emper rumah-rumah tetangga. Pak Lurah Kimpul pun menyempatkan hadir.
Bola matanya berkaca-kaca. Entah, pikiran apa yang tengah berkecamuk di
rongga kepalanya.
“Huh! Dasar koruptor! Untuk apa ikut-ikutan layat?” gerutu seorang pemuda
di tengah kerumunan pelayat yang berjubel.
“Hus! Jangan keras-keras! Ini bukan saatnya mengobral umpatan! Ndak
baik!”
“Alah! Memang takut?”
“Ini bukan soal takut atau tidak takut, tapi soal kepantasan! Pantaskah kita
mengumpat-umpat di tengah suasana duka seperti ini?”
“Oh, Sampean ingin membela lurah yang jelas-jelas menilap tanah bandha
desa itu, hem?”
Suasana tiba-tiba tegang. Para pelayat saling bertatapan. Orang-orang yang
semula menunduk takzim di sekeliling jasat Kang Panut terusik; bergegas
keluar gubug dengan kepala diserbu tanda tanya.
“Hei! Jangan seenaknya menuduh orang, ya?” Plak! Sebuah bogem mentah
meluncur. Terjadi keributan. Saling pukul. Para pelayat berebutan melerai.
Pak Lurah Kimpul menyibak kerumunan, mengucak-ucak bola mata di balik
kaca mata minusnya yang tebal. Jidatnya berkilat-kilat ditimpa cahaya
matahari.
“Kalian ini gimana toh? Pantaskah ribut-ribut dalam suasana seperti ini?
Bukannya mendoakan Kang Panut, tapi malah bikin keonaran. Dasar!”
sergah Pak Lurah Kimpul dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Para
pelayat kembali saling bertatapan.
“Hei, Pak Lurah! Apa hak Sampean melarang-larang orang! Jangan sok
menasihati! Berkacalah Sampean!” sahut pemuda yang tadi kena bogem
mentah dengan nada gemetaran. Jari-jarinya mengusap darah yang menetes
dari belahan bibirnya yang pecah. Pak Lurah Kimpul terkejut. Bola matanya
membelalak. Para pelayat kembali bertatapan untuk ke sekian kalinya, saling
berbisik. Suasana berubah riuh seperti kerumunan lebah mencari sarang.
“Edan! Sinthing! Gendheng! Berani-beraninya ngomong seperti itu di depan
Pak Lurah?” Seorang lelaki tua berikat kepala hitam menyeruak kerumunan
dan mencengkeram krah baju si pemuda dengan kekuatan penuh, lantas
disentakkan dengan keras. Si pemuda terjengkang.
“Sampean semua yang gendheng! Sudah kena tipu sama si Lurah brengsek
itu!” sahut si pemuda dengan tubuh sempoyongan. Telunjuknya menuding
wajah lelaki tua berikat kepala hitam dan wajah Pak Lurah Kimpul. Lantas,
beranjak menjauhi kerumunan. Darah lelaki tua berikat kepala hitam
berdesir. Rongga dadanya serasa diserbu puluhan kalajengking. Perih dan
nyeri. Bola mata Pak Lurah Kimpul berkeriyap dari balik kaca mata minus
tebalnya. Jantungnya bergetar hebat. Keringat meluncur deras di dahinya.
Berkilat-kilat. Ulu hatinya serasa dihantam godam bertubi-tubi. Cahaya
matahari seolah berubah bagaikan kilatan pedang yang siap merajam
tubuhnya. Baru kali ini dia diperlakukan sekasar itu oleh warganya sendiri.
Dia tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pemuda sundal itu.
“Sudahlah, Pak Lurah! Anggap saja dia orang gila. Buat apa diurusi?
Sekarang, mari segera kita urus jenasah Kang Panut!” rajuk lelaki tua berikat
kepala hitam sambil tersenyum. Hambar. Pak Lurah Kimpul termangu.
Pikirannya menerawang entah ke mana.
Sementara itu, para pelayat juga tak habis pikir dengan sikap si pemuda yang
dianggap keterlaluan. Dalam sejarah desa di bibir hutan jati itu, baru kali ini
ada seorang pemuda yang demikian nekat dan berani mengumbar kata-kata
kasar di depan hidung seorang pemimpin.
Tanpa tahu sebab yang pasti, dari balik gubug duka tiba-tiba terdengar suara
gaduh. Para pelayat berlarian. Berjejal-jejal.
“Kang Panut hidup lagi!” teriak seorang penduduk mengabarkan.
“Ha? Hidup lagi?” Mulut para pelayat menganga.
“Ah, tidak mungkin!”
“Lihat saja sendiri!” Para pelayat makin tak sabar.
Bagai tersihir, para pelayat terpaku menyaksikan Kang Panut duduk bersila
di atas meja. Mulutnya menyeringai, menyemburkan hawa busuk. Tampak
deretan giginya yang kuning dan kotor. Orang-orang sibuk menutup lubang
hidung.
“Kang? Sampean hidup lagi, Kang?” tanya Yu Ginem sambil merangkul Kang
Panut. Sepasang mata perempuan kurus itu berkaca-kaca seolah tak percaya
dengan apa yang dilihatnya. Kang Panut tak menjawab. Mulutnya terus
menyeringai, menyemburkan hawa busuk. Namun, di rongga hidung Yu
Ginem bagaikan aroma bunga dari sorga. “Puji syukur Ya Allah, suamiku
hidup kembali!” lanjutnya sembari membungkus tubuh suaminya dengan
sarung dan kaos oblong lusuh. Yu Ginem serasa bermimpi. Tubuhnya
gemetar saking senangnya. Para pelayat masih termangu sembari menutup
hidung rapat-rapat.
“Nem, ini anugerah dari Sing Nggawe Urip. Kamu harus bersyukur, suamimu
telah kembali! Mungkin belum saatnya suamimu menghadap Gusti Allah!”
kata lelaki tua berikat kepala hitam sambil mendekati Yu Ginem dan Kang
Panut. Pak Lurah membuntutinya sambil menutup hidung rapat-rapat.
“Ya, Mbah!” jawab Yu Ginem sambil mengangguk-angguk.
“Nut, Panut!” sapa lelaki berikat kepala hitam. “Kamu masih mengenalku,
toh?” Tak ada reaksi. Kang Panut hanya menyeringai. Hawa busuk
menyembur-nyembur. Perut Pak Lurah tiba-tiba terasa mual seperti
digerayangi ratusan cacing pita. Dan dia tak kuat lagi menahan isi perut yang
terus menyodok-nyodok kerongkongannya. Lelaki tambun itu muntah-
muntah. Para pelayat berpandangan.
“Pak Lurah sakit?” tanya lelaki tua berikat kepala hitam.
“Iya, Mbah! Maaf, aku pulang dulu, ya?”
“Iya, mangga! Sebaiknya begitu!”
Terdengar deru kendaraan memecah perkampungan. Mata para penduduk
mengikuti laju Pak Lurah Kimpul hingga hilang di tikungan.
“Para sedulur!” kata lelaki tua berikat kepala hitam sambil berdiri di samping
Kang Panut yang tak henti-hentinya menyeringai. Yu Ginem tampak menyisir
rambut Kang Panut yang acak-acakan dan berbau. “Kita sudah sama-sama
melihat, Panut dalam keadaan segar-bugar. Gusti Allah masih menghendaki
dia bersama kita! Nah, sekarang, anggap tidak pernah terjadi apa-apa! Para
sedulur boleh pulang!” Para penduduk berbisik-bisik. Riuh. Sambil menutup
hidung, mereka berdesakan meninggalkan gubug reot itu.
***
Kabar hidupnya kembali Kang Panut dengan cepat tersebar ke desa-desa
tetangga, meluas ke kecamatan, kabupaten, bahkan hingga ke kota-kota
terdekat. Para wartawan media cetak dan elektronik saling berlomba meliput
peristiwa menghebohkan itu. Orang-orang kesehatan merasa tertantang
untuk melakukan riset khusus. Rombongan orang dari berbagai kalangan
terusik untuk membuktikan kebenaran cerita yang berkembang dari mulut
ke mulut. Desa di bibir hutan jati yang biasanya sunyi itu pun mendadak
ramai dan sibuk.
Para wartawan, orang-orang kesehatan, dan mereka yang berdatangan dari
berbagai kota ingin sekali mendengar penuturan langsung dari Kang Panut.
Apa sebenarnya yang dia alami ketika berada dalam alam kematian. Namun,
sia-sia. Kang Panut hanya bisa menyeringai, menyemburkan hawa busuk.
Tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya yang selalu dikerumuni lalat
dan serangga. Mereka yang semula penasaran tiba-tiba merasa jijik dan
takut.
Waktu terus berlalu. Kehadiran Kang Panut tiba-tiba menjadi masalah besar.
Setiap malam, kabarnya dia suka keluyuran, mendatangi rumah penduduk
secara tak terduga, menyeringai, meninggalkan hawa busuk. Pernah suatu
malam, Kang Panut mendatangi rumah penduduk yang sedang menggelar
pesta hajat mantu. Di atas panggung, para biduan dangdut sedang hangat-
hangatnya menghibur para penonton. Tiba-tiba tercium bau busuk. Makin
lama makin menusuk-nusuk hidung. Tanpa diduga, Kang Panut sudah
berada di depan tungku perapian seperti yang sering dia lakukan sebelum
mati suri. Keruan saja, para penonton bubar. Rombongan pemain musik dan
biduannya kabur menyelamatkan diri. Tuan rumah pingsan.
Konon, pada siang hari Kang Panut selalu mendekam di dalam gubug
reotnya. Ada yang bilang, dia tak sekadar tertidur, tetapi benar-benar mati.
Anehnya, pada malam hari dia kembali beraksi; datang ke rumah-rumah
penduduk secara tiba-tiba. Desa seperti diselubungi bau mayat yang amat
busuk. Para penduduk benar-benar tersiksa.
“Kita harus ambil tindakan secepatnya, Pak Lurah!” kata lelaki tua berikat
kepala hitam di rumah Pak Lurah Kimpul yang besar dan megah. Para
penduduk yang mendampinginya mengangguk-angguk. “Kalau tidak, desa
kita bakalan dikucilkan desa-desa tetangga!”
“Lalu, apa rencana Sampean?”
“Kita singkirkan saja dia!”
“Caranya?”
“Serahkan saja kepada saya dan anak-anak!”
“Baik, aku setuju!”
Maka, keesokan harinya, di bawah komando lelaki tua berikat kepala hitam,
para penduduk dengan wajah beringas berbondong-bondong menggrebeg
gubug Kang Panut. Namun, belum sempat rencana penyingkiran Kang Panut
terwujud, seorang pemuda menghalang-halanginya.
“Keliru besar kalau kalian hendak menyingkirkan Kang Panut!” kata si
pemuda berkacak pinggang.
“Hei, pemuda keparat! Menyingkirlah sebelum pedang-pedang itu membabat
lehermu!” sergah lelaki tua berikat kepala hitam dengan gusar.
“Tunggu dulu, Pak Tua! Sebenarnya yang lebih pantas disingkirkan itu Pak
Lurah Kimpul yang jelas-jelas menilap tanah bandha desa! Bukan Kang
Panut yang tidak bersalah! Tubuh
Kang Panut memang busuk, tapi mental Lurah Kimpul jauh lebih busuk!”
“Anak-anak, habisi saja dia!” komando lelaki tua berikat kepala hitam.
Namun, tak ada reaksi. Para penduduk tiba-tiba tersungkur seperti daun-
daun berguguran. Dari dalam gubug reot, tiba-tiba menyembur hawa busuk
yang jauh lebih dahsyat; menggetarkan seisi desa. ***
Kendal, September 2004
(Suara Merdeka, 3 Oktober 2004)
Tumbal
Orang-orang bagai rusa masuk kampung. Bingung. Subuh tadi, anak Lik
Karimun yang baru berusia tujuh bulan, hilang. Konon, si Nok tiba-tiba raib
dari sisi tetek simboknya. Kontan saja Yu Painem menjerit-jerit histeris. Lik
Karimun yang tidur di sisi Yu Painem pun limbung. Tubuhnya loyo.
“Wah! Ini pasti ulah demit jembatan itu lagi. Sudah tiga anak yang jadi
tumbal!” kata seorang lelaki tua di sela-sela kerumuman banyak orang di
rumah Lik Karimun.
Suasana bagai lebah mencari sarang. Onar dalam kebingungan. Saling
pandang. Saling tanya. Namun, tak ada jawaban. Mereka mengurai menurut
alur pikiran masing-masing.
“Kalau begitu, betul-betul gawat kampung kita. Kita harus mbudidaya agar
demit itu tak lagi seliweran kemari!” lanjut lelaki tua itu penuh dendam.
Suasana kian menyiratkan kebimbangan. Rumah Lik Karimun penuh sesak.
Rumah berdinding bambu itu bagaikan hendak runtuh. Suara-suara tangis,
kebingungan, dan kengerian campur aduk dalam ketakpastian.
Di bilik, sesosok wanita kurus dan pucat tak sanggup lagi menjerit. Wajahnya
kuyu. Rambutnya terburai acak-acakan. Tubuh kurus itu nggelosor di atas
amben bertikar lusuh. Di belakang rumah, seorang lelaki bertubuh gempal
tersandar lemas di pohon kelapa. Orang-orang di sekelilingnya tak bisa
berbuat apa-apa. Pandang mata memelas terpancar dari wajah mereka.
Orang-orang kian berjubel. Banyak orang salat subuh tergesa-gesa. Bahkan,
banyak pula yang pura-pura lupa salat.
Subuh itu, kampung di tepi kali itu berselimut kabut duka. Singup. Memang
sudah tiga anak raib tak diketahui rimbanya. Orang tua mereka tak tahu
pasti, kapan anak-anak itu raib. Tahu-tahu, anak-anak itu hilang dari
pelukan ibunya. Pertama, anak Pakdhe Darso. Kedua, anak ketujuh Kang
Sunari. Dan ketiga, yang barusan itu, anak pertama Lik Karimun. Yu Rati,
istri Pakdhe Darso, dan Yu Blonok, istri Kang Sunari, sedikit terhibur juga di
tengah-tengah duka yang menyeruak kampung. Mereka merasa mendapat
teman, sama-sama kehilangan anak.
“Untungnya kok ya bukan anak kita saja yang dipangan demit ya, Yu!” bisik
Yu Rati di telinga Yu Blonok yang menanggapinya dengan anggukan.
***
Matahari sepenggalah. Kehidupan kampung berhenti. Ada rasa solidaritas
yang harus mereka tunjukkan kepada Lik Karimun dan Yu Painem.
Bagaimanapun, keduanya adalah sepasang suami-istri yang baru punya
anak, patut diringankan duka mereka.
Ketika matahari mulai meninggi, orang-orang kampung masih berjubel di
sekitar rumah Lik Karimun, sembari ngobrol ngalor-ngidul. Namun, wajah
kecemasan dan waswas tetap membayang.
“Para Sedulur! Kampung kita baru tertimpa musibah, kita harus mawas diri!”
kata seorang lelaki tua berikat kepala hitam. Sorot matanya tajam.
Menyiratkan wibawa.
Orang-orang terhenyak. Serentak menatap lelaki tua itu, lalu menunduk. Tak
seorang pun yang berceloteh. Hanya gumam-gumam pendek yang tertelan di
tenggorokan. Lelaki tua berpipi cekung itu terus bicara panjang lebar. Dia
mengingatkan, penduduk kampung harus kembali ke tradisi leluhur yang
sudah lama mereka tinggalkan.
“Kita harus bersedekah bumi di makam Nyai Gending. Nyai Gendinglah yang
mbahureka kampung kita ini!” sambungnya bersemangat. Sorot matanya
kian tajam menyapu kerumunan. Suaranya lantang, keras, penuh ketegasan.
“karena murka, Nyai Gending menyuruh para demit untuk menculik anak
cucu kita sebagai tumbal jembatan!” Terdiam sejenak. Lalu, matanya yang
tajam seperti mata elang itu menatap satu persatu orang-orang di
sekelilingnya.
Sementara itu, di rumah Lik Karimun, para wanita masih saja sibuk
menolong Yu Painem yang pingsan. Ada yang memijit kaki, kepala, perut, dan
sebagian lagi memaksakan telur mentah masuk ke mulut Yu Painem yang
kaku. Sebagian lagi, para lelaki, berusaha membujuk Lik Karimun yang
masih bersandar di pohon kelapa dengan tatapan kosong.
“Ini tidak lain karena bangunan jembatan itu! Jembatan yang dibangun di
bekas tempat keramat itu minta tumbal anak-anak!” lelaki tua berikat kepala
hitam itu masih meneruskan ceramahnya. Orang-orang mengangguk. Ellaki
tua yang biasa dipanggil Mbah Kamin itu tersenyum tipis. Kebanggan
memancar di wajahnya yang keriput.
Dari depan gang, muncul rombongan Pak Kades beserta perangkatnya.
Setelah saling bersalaman, rombongan Pak Kades segera menuju rumah Lik
Karimun. Ada pancaran kebencian menggantung di wajah Mbah kamin atas
kedatangan pemimpin desa itu. Lelaki tua kurus itu segera beringsut,
berbaur bersama orang-orang kampung menuju rumah Lik Karimun.
Di belakang rumah, beberapa lelaki memapah Lik Karimun. Pak Kades
tersentak. “Sungguh memprihatinkan kehidupan keluarga ini,” pikirnya.
Berkali-kali, kepala desa yang masih muda itu mengerutkan jidat.
“Para Sedulur …,” kata Pak Kades sembari menyapu kerumunan. Matanya
yang tersembunyi di balik kacamata minus berkeriyap. “Kejadian ini sudah
kami laporkan kepada pihak yang berwajib. Kami memperoleh keterangan
bahwa akhir-akhir ini memang ada sekelompok orang yang terlibat dalam
penculikan bayi!”
Orang-orang kampung terhenyak. Mereka saling tatap dan saling tanya.
Kebingungan menyeruak dada mereka. Suasana mendadak kacau. Di pojok
emper Lik Karimun, beberapa orang terlibat perdebatan. Riuh.
“Tenang para Sedulur!” sergah Pak Kades.
“Tapi, Pak, kalau ini ulah manusia, pasti jejaknya bisa diketahui orang-orang
kampung!” sahut seseorang.
“Betuuul!” timpal yang lain serempak.
Pak Kades membetulkan letak kacamatanya. Lalu, dengan tenang berupaya
menyiasati suasana yang kacau itu.
“Justru karena itulah kami minta bantuan pihakyang berwajib untuk
menyelidiki kasus ini!” jawab Pak Kades.
Orang-orang kampung tak percaya. Mereka yakin anak-anak yang hilang itu
telah menjadi tumbal pembangunan jembatan. Suasana memanas.
Pertentangan pendapat antara orang-orang kampung dan Pak Kades tak
terelakkan. Malah sudah ada warga yang berani menuding-nudiong Pak
Kades sebagai pamong yang tak becus ngemong warga. Namun, Pak Kades
tetap tenang.
“Sekali lagi, tenang … tenang! Persoalan ini sudah ditangani pihak yang
berwajib. Kita tak perlu berdebat dengan saudara sendiri!” tegasnya. Orang-
orang kampung tak peduli. Mereka masih bersitegang.
“Gagalkan saja pembangunan jembatan itu! Gagalkan! Biar tak ada lagi anak-
anak yang jadi tumbal!” teriak seorang lelaki muda berjidat klimis. Matanya
mencereng, menatap tajam Pak Kdes.
Suasana kian tak terkendali. Hampir saja rumah berdinding bambu itu
menjadi ajang perkelahian ketika dengan serta-merta lelaki muda berjidat
klimis itu melabrak Pak Kades. Pak Kades tak sempat menghindar hingga
kacamatanya jatuh. Untunglah para perangkatnya berhasil melerai. Lelaki
muda berjidat klimis itu bersungut-sungut meninggalkan kerumunan.
“Pembangunan jembatan itu kan hanya kedok Sampeyan toh, Pak! Iya, toh?
Agar uang Bandes terus mengucur dan Sampeyan bisa menilapnya!” kecam
lelaki muda berjidat klimis itu sebelum pergi dari rumah Lik Karimun.
Kali ini, sang pemimpin itu panik. Kursi kadesnya seolah tergoyang.
Tujuannya menjernihkan persoalan anak yang hilang pupus sudah. Malah
kini dia seperti dilempari telur busuk oleh warganya. Tanpa permisi, Pak
Kades beserta perangkatnya meninggalkan rumah Lik Karimun.
***
Matahari memanggang bumi. Panas menyengat. Lik Karimun dan Yu Painem
yang berduka tak pernah tahu kejadian di sekelilingnya. Rumahnya telah
menjadi ajang saling menabur benih kebencian, kasak-kusuk, dan
prasangka. Orang-orang kampung masih berjubel. Hanya beberapa orang
yang sudah pergi.
Tuduhan lelaki muda terhadap Pak Kades membius mereka. Tuduhan itu
mereka yakini lantaran dalam waktu singkat, Pak Kades berhasil
membangun rumah bagus dan membeli sebuah mobil. Kasus hilangnya
anak-anak itu tergeser dan tak lagi menjadi perbincangan menarik.
Lima hari sudah kasus itu berlalu. Belum ada perkembangan berita baru.
Warga kampung masih dihinggapi kecemasan dan ketidakpastian. Malam-
malam berlalu dalam kecemasan, kebingungan, dan kekhawatiran. Kampung
sunyi. Singup. Jubah Malaikat Maut bagai memayungi perkampungan.
Pada malam keenam, pas dini hari, mereka tersentak. Mereka mendengar
suara rintihan wanita memecah kesunyian. Rintihan yang sambung-
menyambung silih berganti. Mengiris-iris nurani.
Pagi harinya, tersiar kabar: malam itu Yu Rati, Yu Blonok, dan Yu Painem
merasa menyusui seorang bayi. Mula-mula nikmat, namun lama-lama mulut
bayi itu mencengkeram dengan kuat payudara mereka. Mereka merintih
kesakitan, namun mulut-mulut bayi itu terus menyedot kuat-kuat. Para ibu
itu merasakan bukan hanya air susu yang tersedot, melainkan juga darah
mereka. ***
Warni Ingin Pulang
Warni tercenung di kamarnya. Dadanya tiba-tiba sesak. Benaknya jatuh ke
tempat yang jauh. Ia rindu Emak, Bapak, dan adik lelaki satu-satunya di
tanah Jawa, yang sudah hampir sepuluh tahun ditinggalkannya. Kenekadan
Warni untuk menerima tugas sebagai guru di luar Jawa seakan bebar-benar
telah memutuskan hubungan darah dengan keluarganya. Ia sudah berkali-
kali mencoba mengirim surat ke Jawa, tapi belum pernah sekali pun
mendapatkan balasan. Warni tidak tahu, apakah surat yang dikirim memang
tidak pernah sampai ke alamat yang dituju atau surat itu sampai ke tangan
keluarganya, tapi sengaja tidak dibalas, yang bisa diartikan ia sudah tidak
lagi dianggap sebagai anggota keluarga.
“Kamu hanya perempuan, Warni. Buat apa jauh-jauh meninggalkan
kampung halaman hanya untuk memburu duit? Tanpa harus bekerja pun
ayah sanggup menanggung hidupmu, bahkan sampai kelak kamu hidup
berumah tangga!” kata-kata ayahnya menari-nari di lorong ingatannya.
Ayah memang Warni tergolong orang kaya yang terpandang di kampung.
Sawahnya berpetak-petak. Rumahnya paling besar dan megah. Sebagai
seorang mantan kepala desa, ayah Warni begitu dihormati para penduduk.
Namun, Warni tidak sepenuhnya setuju dengan sebagian sikap yang
ditunjukkan oleh ayahnyayang dianggap tidak adil dalam memperlakukan
dirinya. Dalam soal jodoh, misalnya, ayahnya bersikap otoriter. Warni tidak
diberi kesempatan untuk memilih. Oleh ayahnya, Warni hendak dijodohkan
dengan Joko, putra Pak Mantri Darpan. Tapi, Warni tidak suka dengan Joko
yang pemalas dan congak, sering membangga-banggakan kekayaan orang
tuanya. Oleh sebab itu, ketika ia memperoleh nota tugas sebagai guru dan
ditempatkan di luar Jawa, Warni amat senang. Paling tidak, hal itu bisa
dijadikan dalih untuk menghindari Joko.
“Maaf, Ayah! Soal tugas adalah soal tanggung jawab. Bukan perkara lelaki
atau perempuan! Lagi pula kenapa, sih, Ayah masih saja membedakan
perempuan dan lelaki. Lantas bedanya dimana?” berontak Warni.
“Warni! Apa pun alasanmu, perempuan itu dalam kehidupan rumah tangga
kelak tetap di bawah lelaki. Dan ingat, secara moral kamu sudah punya
ikatan dengan Joko, putra Pak Mantri itu!”
“Itulah yang membuat saya tidak setuju! Di zaman yang sudah modern ini,
Ayah masih saja memaksakan jodoh. Kalau cocok, sih, enggak masalah. Tapi
kalau enggak, apa ada jaminan aku bisa hidup bahagia?” berondong Warni.
“Sudah, aku tidak mau berdebat. Sekarang tinggal pilih, tetap nekad atau
mengikuti kemauan Bapak!”
Dua buah pilihan yang sama-sama sulit bagi Warni. Kalau harus mengikuti
kemauan ayahnya, itu berarti ia menolak panggilan hidupnya sebagai
seorang guru dan harus siap hidup berumah tangga dengan Joko yang tidak
dicintainya. Itu sama saja ia telah ikut mengembangkan budaya patriarki
yang selama ini ditentangnya. Warni memang bukan tipe feminis, tapi ia amat
tidak sependapat kalau kaum perempuan selalu dimitoskan sebagai kanca
wingking, yang hanya diserahi tugas mengurus dapur, sumur, dan kasur.
Namun, jika ia tidak mengikuti keinginan ayahnya, itu sama artinya telah
melempar telur busuk ke wajah ayahnya yang begitu dihormati oleh orang-
orang di kampung.
Beberapa hari lamanya, warni hanya ngendon di kamar. Ada segumpal
mendung yang menggelayuti pikirannya. Sulit mengambil keputusan. Apalagi
Ayah, Emak, dan adiknya selalu memasang wajah cemberut yang agaknya
sudah sulit diajak kompromi. Namun, nota tugas yang ada dalam genggaman
tangannya seperti sudah mengisyaratkan kalau ia harus secepatnya
menunaikan tugas suci itu. Dalam kondisi seperti itu hanya pamannya, Om
rajimo yang cukup toleran, dapat memahami keinginannya.
“Warni, kalau itu sudah menjadi keyakinanmu, berangkatlah. Om
merestuimu. Om hanya berpesan, hati-hati membawa diri di kampung orang.
Apalagi disana nanti tak ada sanak saudara,” kata pamannya lembut dan
penuh pengertian. Kata-kata pamannya seperti mampu menyibak mendung
yang bergelayut di benaknya, memantapkan langkahnya untuk segera
menunaikan panggilan nuraninya, menjadi seorang pendidik di daerah yang
jauh.
Akhirnya, Warni menetapkan pilihan menjadi seorang guru. Ketika hendak
pamitan dengan keluarganya, ia sudah tak sanggup berkata-kata. Semua
perasaannya ditumpahkan lewat surat yang dititipkan kepada Om Ramijo
untuk disampaikan pada ayahnya. Dalam surat itu, Warni dengan gamblang
menjelaskan bahwa kepergiannya bukan dimaksudkan menentang kehendak
orang tua. Namun, semata-mata memenuhi panggilan suci sebagai seorang
pendidik yang mesti di jalaninya. Selain itu, Warni dengan tegas memohon
pengertian ayahnya agar tidak diskriminatif. Sudah saatnya kaum
perempuan diberi hak yang sama dengan kaum lelaki. Bebas menentukan
pilihan hidup sesuai dengan fitrah dan hati nuraninya.
Warni tidak tahu bagaimana reaksi ayahnya setelah membaca surat itu. Ia
hanya tahu, saat ia dilepas ayahnya dengan wajah dingin dan sorot mata
memancarkan amarah. Beruntung, Warni masih merasakan sikap arif dan
kelembutan dari emaknya. Meski tidak setuju atas kepergiannya ke luar
Jawa, Warni masih merasakan sisa-sisa perhatian dan kasih sayang di
rongga hati emaknya. Dipeluknya erat-erat tubuh emaknya. Desah napas dan
getaran hati mereka menyatu dalam keharuan. Warni serasa tak sanggup
menahan arus air mata yang deras menjebol bendungan pelupuk matanya.
Demikian juga ketika berpamitan dengan Totok, adiknya. Kedua bola mata
adiknya itu tampak berkaca-kaca. Terasa amat berat melepas kepergiannya.
Akhirnya, Warni benar-benar terbang ke daerah yang jauh, tempat yang
diharapkan dapat menyematkan pengabdiannya untuk kepentingan sesama.
***
Di tempat tugasnya, Warni diterima dengan ramah dan sambutan hangat dari
kepala sekolah dan rekan-rekan gurunya yang sudah lama bertugas. Rumah
dinas pun sudah disediakan, berada di kompleks sebuah gedung SLTP yang
tampak kokoh dan megah.
Sebagian beras, rekan-rekan gurunya adalah kaum pendatang. Dari berita
yang ia dengar, penduduk asli daerah itu masih terbilang kolot. Kehidupan
mereka masih amat tergantung pada alam. Berladang dan berburu
merupakan mata pencaharian utama mereka. Memang ada beberapa
perkebunan kopi yang menghampar luas, tapi itu pun dikuasai oleh para
pemilik modal luar. Kesadaran penduduk asli akan pentingnya pendidikan
tampaknya belum tumbuh. Anak-anak mereka masih enggan duduk di
bangku sekolah. Sejak kecil, anak-anak sudah diperkenalkan dengan pola
hidup sederhana oleh orang tua mereka masing-masing. Magang di lahan dan
di hutan, setelah besar menikah, lantas membangun permukiman liar di
sekitar hutan. Tampaknya, mereka belum bisa hidup menyatu dengan kaum
pendatang. Mereka lebih suka hidup di pinggir-pinggir hutan, menyatu
dengan alam. Hanya sebagian kecil penduduk asli yang mau hidup membaur
dengan kaum pendatang,terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai
pemerintah.
Waktu terus berlalu. Pembawaannya yang lincah dan sikapnya yang luwes
membuat Warni mudah diterima dalam pergaulan. Tak ada hambatan yang
ia rasakan selama bertugas. Semuanya berjalan lancar. Hanya terkadang ia
harus berhadapan dengan siswanya yang tergolong nakal.
Naluri sebagai pendidik membikin Warni sering gelisah melihat anak-anak
penduduk asli yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Hidup mereka
seperti tersekap dalam lorong yang gelap dan sunyi. Terisolir. Warni
berkeinginan membuka mata hati mereka akan pentingnya pendidikan. Ia
ingin mengajari mereka baca tulis dan menghitung. Keinginan itu ternyata
tak disetujui Pak Harahap, kepala sekolah. Menurutnya terlalu riskan kalau
itu harus dilakukan. Apalagi, mereka belum bisa hidup menyatu dengan para
penduduk yang lain. Bisa-bisa timbul kesalahpahaman. Namun, hasrat
Warni agaknya sulit dibendung. Gagal mengajak Pak Harahap bekerja sama,
Warni bergegas menemui Pak Matilda, camat setempat yang sudah ia kenal
baik. Oleh Pak Matilda, gagasan Warni disambut dengan baik.
Sebenarnya, jarak antara rumah dinas Warni dengan permukiman penduduk
tidak terlalu jauh. Hanya dipisahkan sebuah bukit kecil setelah melintasi
sebuah hamparan kebun kopi yang agak luas. Namun, lantaran tidak ada
jalinan komunikasi, jarak yang dekat itu terasa jauh. Oleh Pak Matilda, Warni
diperkenalkan kepada para penduduk. Ia tak tahu persis bahasa yang mereka
ucapkan. Warni hanya bersikap seramah mungkin dan selalu tersenyum.
Para penduduk yang berkumpul tampak mengangguk-angguk. Terasa benar
Pak Matilda berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sementara, itu puluhan
anak kecil sibuk dengan dunianya, bermain pedang-pedangan. Riuh.
Agak merinding juga menatap wajah-wajah penduduk asli yang tampak
dingin dan acuh melihat kehadiran dirinya. Namun, Pak Matilda sering
menghiburnya. Konon, hal itu sudah menjadi ciri khas penduduk setempat
dalam menyambut kehadiran orang asing. Pak Matilda terus memberikan
dorongan. Lama-lama, Warni terbiasa bergaul dengan para penduduk, hingga
akhirnya ia berhasil mengajak anak-anak belajar membaca, menulis, dan
berhitung. Warni betul-betul menikmati misinya itu di sela-sela tugas
utamanya sebagai guru di sebuah SLTP. Para penduduk mulai bisa menerima
kehadirannya.
Misi pendidikan Warni ternyata membawa hikmah tersendiri. Entah
bagaimana alur ceritanya, tiba-tiba saja warni terpikat oleh kehadiran Leode,
seorang pendatang yang sukses sebagai pengusaha perkebunan kopi.
Orangnya masih muda, tampan, dan berkulit bersih. Namun, bukan semata-
mata itu yang membikin hati Warni terpikat, melainkan perhatian Leode yang
cukup besar untuk mengentaskan penduduk asli dari keterbelakangan.
Dengan kekayaannya, Leode sering memberikan bantuan kepada mereka.
Bahkan, pemuda itu bersedia membangun sebuah gedung sekolah di tengah-
tengah pemukiman para penduduk. Hati Warni semakin terpikat. Oleh sebab
itu, Warni tak kuasa menolak ketika Laode meminang dirinya sebagai
pendamping hidup.
***
Tanpa terasa,sudah sembilan tahun Warni meninggalkan kampung
halamannya. Kini, ia sudah dikaruniai dua anak yang sehat, hasil
perkawinannya dengan Laode yang simpatik dan penuh pengertian itu. Warni
benar-benar bahagia. Tekad dan keyakinan yang kuat untuk mengentaskan
penduduk setempat dari kebodohan dan keterbelakangan membuat dirinya
begitu disegani dan dihormati oleh berbagai kalangan. Namun, kebahagiaan
itu tak berlangsung lama.
Memasuki tahun kesepuluh, sebuah peristiwa besar terjadi. Saat itu, di
Jakarta pecah demonstrasi besar-besaran menurut rezim yang lama lengser
dari panggung kekuasaan. Tak lama kemudian, bola reformasi menggelinding
ke seluruh penjuru Tanah Air. Rakyat yang selama ini tertekan tiba-tiba
berubah bagaikan kuda liar, larut dalam eforia. Rakyat merasa bebas untuk
berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri.
Imbas reformasi menembus ke tempat Warni bertugas. Penduduk asli yang
selama ini merasa dirampas kekayaannya oleh kaum pendatang tiba-tiba saja
menuntut keadilan secara sepihak. Entah dihasut siapa, warga asli tiba-tiba
berubah. Secara berkelompok mereka beramai-ramai mendatangi
pemukiman para pendatang sambil membawa senjata tajam. Gedung-gedung
milik pemerintah dibakar, gedung sekolah dihancurkan, toko-toko dijarah,
pemiliknya dianiaya. Termasuk juga kebun kopi milik Laode yang siap
dipanen, dijarah beramai-ramai. Kebaikan Laode dan pengorbanan Warni
terhadap penduduk setempat sudah tidak dianggap. Berkali-kali keluarganya
diteror.
Aparat pemerintah dan keamanan gagal mengendalikan ulah beringas
penduduk setempat. Keadaan itu membikin kaum pendatang geram. Mereka
bertekad menyatukan diri untuk membalas tindakan penduduk setempat
yang dinilai sudah di luar batas. Kaum pendatang mempersenjatai diri.
Pertikaian terbuka tak dapat dihindari. Korban berjatuhan di sana sini. Kaum
pendatang dan penduduk setempat sama-sama kalap. Akal sehat dan nurani
terbang entah kemana.
Suasana perkampungan benar-benar mencekam. Denting senjata tajam,
suara tangis, dan jeritan histeris membahana, membelah langit, membelah
hati nurani. Setiap hari selalu saja ada korban yang terbunuh atau terluka
parah, meregang nyawa terkena sabetan senjata tajam. Darah segar tercecer
di mana-mana, di depan pintu rumah,di perkebunan, di ladang, di tepi hutan,
bahkan di tempat ibadah. Sudah puluhan nyawa melayang, menjadi korban
pertikaian sia-sia.
Warni terguguk di kamarnya. Hatinya pedih teriris-iris. Laode, suaminya, kini
entah berada dimana. Warni hanya bisa mengurung diri di rumah dengan
kedua anaknya, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Tiba-tiba saja Warni
ingin pulang ke Jawa. Ia sudah demikian rindu hidup di kampung
halamannya yang tenteram. Menyatu bersama orang tua dan sanak
saudaranya. Namun, ia sangsi, apakah ia masih bisa diterima di tengah-
tengah keluarganya, terutama ayahnya.
Sementara itu, di luar rumah, kecamuk pertikaian masih terus berlanjut. Bau
anyir darah terbang menusuk hidung. Warni gusar. Ia makin panik ketika
pintu rumahnya mendadak digedor-gedor orang dengan paksa, ditingkah
langkah-langkah kaki dan teriakan orang memanggil-manggil nama
suaminya dengan kasar. Entah, tiba-tiba saja Warni merasakan rumahnya
diselubungi hawa kematian. ***
Kendal, Desember 2000
(Nova, No. 676/XIII- 11 Februari 2001)
Penjara
Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas.
Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa mimpi. Ia tidak tahu,
sudah jam berapa sekarang. Sel tempat ia disekap memang sangat tidak
memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti pergantian setiap detik,
menit, jam, bahkan hari. Ia pun tak ingat lagi, sudah berapa lama menjadi
penghuni penjara terkutuk yang sumpek, pengap, dan bau ini.
Yang menjengkelkan, ia harus sering bergaul dengan para penghuni penjara
berperangai kasar. Ia sering dijadikan sasaran amarah dan ledakan emosi
para pesakitan yang sudah kebelet ingin mencium bau kebebasan di luar
tembok penjara. Gertakan, makian, sumpah-serapah, ancaman, pukulan,
bahkan ludah bacin tak jarang harus ia terima, tanpa perlawanan. Sangat
konyol jika harus melawan mereka. Di penjara ini, hanya okol dan nyali yang
berbicara. Makin kuat okol dan nyalinya, mereka malah disegani dan bisa
dengan bebas memperlakukan napi lain seenak perutnya.
Yang lebih menjengkelkan, tak jarang Badrun dipaksa melayani nafsu birahi
para pendosa yang sudah lama tak pernah mencium ketiak perempuan itu.
Perlakuan mereka sungguh kasar bagaikan kuda liar. Melakukan sodomi
tanpa kenal waktu. Ia benar-benar merasa jijik dan muak, tapi tak mampu
berbuat apa-apa.
Badrun mengambil napas. Bau kotoran dan air kencing segera menyergap
hidungnya. Jlamprang –teman satu selnya yang bertubuh kekar dan penuh
tato— masih tidur mendengkur, tengkurap di atas tikar lusuh. Badrun
melangkah berat menuju lubang bilik berjeruji besi. Di luar sana, ekor
matanya segera hinggap pada lalu-lalang para sipir berseragam yang sibuk
mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-
bincang, tertawa-tawa, lantas menyebar ke bilik-bilik, menatap para napi
dengan wajah garang dan tak bersahabat.
Huh! Benar-benar menjengkelkan, rutuknya dalam hati. Ulah para sipir
penjara pun ternyata tak kalah brengseknya. Dengan mata kepalanya sendiri,
ia sering menyaksikan beberapa sipir dengan sikap licik tega “menjual”
tugasnya demi uang, tak tahan rayuan napi berkantong tebal yang ingin
segera bebas dari sekapan bilik penjara. Dengan berpura-pura mengejar napi
yang melarikan diri, sebenarnya mereka sedang berupaya untuk
meloloskannya dari kepungan. Berkali-kali peristiwa itu terjadi. Tapi para
pejabat teras penjara menganggapnya sebagai risiko sebuah pekerjaan, tanpa
ada kemauan untuk mengendalikan dan “memenjarakan” mental
bawahannya yang korup. Kalau mental para sipir seperti itu terus dibiarkan,
mana mungkin penjara ini mampu menjadi tempat pertobatan bagi para
pendosa? Tanya Badrun pada dirinya sendiri.
***
Badrun sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Sebelum menjadi penghuni
penjara ini, ia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil. Ia amat senang dan
bahagia dengan pekerjaannya itu. Selain banyak teman sekampungnya yang
bekerja di sana, para buruh juga diantarjemput oleh bus pabrik.
Penghasilannya kecil memang, tapi itu dianggapnya lebih baik ketimbang
harus menjadi “bromocorah” yang suka bikin susah sesamanya. Yang jadi
masalah, Sumarni, istrinya, tampaknya sangat tersiksa dengan cara hidup
seperti itu. Setiap kali kalender jatuh di angka 20 ke atas, isterinya terus
uring-uringan. Berwajah suntrut, sampai-sampai tak berkenan tidur di atas
ranjang bersamanya.
“Mbok ya cari sampingan apa gitu toh, Kang! Masak Sampeyan tega
membiarkan nasib kita terus-terusan seperti ini! Coba,
Kang, Sampeyan pikir! Utang kita di warung Bu Karni makin menumpuk,
sementara uang sekolah si Darpono sudah nunggak lima bulan! Ini kemarin
dapat surat dari sekolah!” Berondong istrinya dengan mata melotot. Badrun
tergeragap.
Diambilnya surat yang tergeletak di atas meja berdebu. Tangan Badrun
gemetar. Dahinya berkerut. Bola matanya berkaca-kaca ketika membaca isi
surat itu. Sepengetahuannya, uang sekolah anak sulungnya itu selalu ia
beresi setiap awal bulan sebelum seluruh penghasilannya jatuh ke tangan
isterinya. Ia curiga, jangan-jangan Darpono telah menyalahgunakannya.
Tiba-tiba saja darahnya berdesir. Giginya gemeletuk, menahan amarah.
Dadanya naik-turun. Ia segera berjingkat menuju bilik anaknya dengan
perasaan tak menentu. Di atas kasur tua lusuh, ia melihat Darpono, anak
sulungnya, masih meringkuk di balik sarungnya. Dengan amarah yang
memuncak, dibangunkan anaknya dengan paksa. Darpono geragapan.
Sembari mengucak-ngucak pelupuk mata, bocah yang baru beranjak remaja
itu melihat ayahnya seperti monster yang menakutkan.
“Ayo, jawab dengan jujur! Kamu gunakan untuk apa uang sekolah yang ayah
berikan, hem?” Bentak Badrun sambil mengguncang-guncang bahu Darpono
yang duduk termangu.
“Ayo, jawab!” Tak ada jawaban. Darpono mematung. Di luar sana, sesekali
melintas deru kendaraan, samar-samar, lantas lenyap ditelan kabut pagi.
Sepi. Hanya terdengar rengekan anak bungsunya dan suara isterinya yang
ngedumel dari arah dapur.
Dada Badrun bergemuruh. Wajahnya memerah. Ia merasa telah
dipermainkan. Plak! Plak! Plak! Tanpa disadari, telapak tangannya telah
menari-nari di wajah anaknya. Darpono merasa kesakitan, terjerembab
mencium lantai tanah. Hidungnya mengucurkan darah. Dari arah belakang,
istrinya buru-buru menerobos bilik yang sumpek itu sambil menggendong si
bungsu yang masih terus merengek-rengek.
“Sampeyan jangan gila, Kang! Kalau sampai terjadi apa-apa, apa tidak
Sampeyan sendiri yang rugi?” sergahnya sambil meredam amarah suaminya.
Dengan kelembutan naluri seorang ibu yang masih tersisa, perempuan kurus
bermata cekung itu bergegas membelai wajah Darpono yang terguguk di
lantai.
“Biar saja! Itulah upah seorang anak yang mulai belajar jadi penipu!” sahut
Badrun ketus.
“Wong diminta Emak, kkk… katanya untuk mbayar utang Bu Karni, kok!”
jawab Darpono gagap. Badrun tersentak. Kepalanya segera berpaling
menatap wajah isterinya yang tiba-tiba memucat. Salah tingkah.
“Itu juga salah Sampeyan, jadi lelaki nggak becus ngurus kebutuhan
keluarga!” sergah Sumarni merasa tidak bersalah.
“Eee… eee! Sudah jelas salah masih bisa cari-cari alasan! Aku sudah banting
tulang setiap hari, semuanya untuk keluarga! Tak pernah sepeser pun aku
mengantongi uang! Kalau sampai nggak cukup, mestinya kamu yang ngaca,
becus nggak ngurus uang belanja?” sahut Badrun sewot, tidak seperti
biasanya yang selalu mengalah. Ia merasa, kesabarannya telah habis.
Pertengkaran Badrun dan isterinya makin memuncak. Rumah reot itu seperti
diselubungi kabut. Beberapa orang tetangga tampak ikut menguping sambil
mengobral gunjingan miring. Badrun merasa risih. Tanpa pamit, ia bergegas
menerobos pintu, menyahut pakaian seragam pabrik, lantas menembus jalan
raya dengan perasaan amat masygul.
Setiba di pabrik, benak Badrun makin kacau, memikirkan nasib hidup
keluarganya yang belum juga bergeser dari lumpur kemiskinan. Tiba-tiba
saja gendang telinganya menangkap gemuruh demonstrasi ratusan buruh
yang menuntut kenaikan upah. Dengan spanduk seadanya, mereka
mengecam bos pabrik yang dianggap tidak pernah memperhatikan
kesejahteraan para buruh. Mereka merasa, selama ini hanya dijadikan
sebagai “sapi perah”. Badrun mengambil serangkum napas, lantas bergabung
bersama para pengunjuk rasa. Di bawah siraman terik matahari, para buruh
terus meneriakkan yel-yel. Dengan penuh semangat, Badrun ikut-ikutan
menuntut kenaikan upah. Mulutnya terus berteriak-teriak. Kedua tangannya
mengepal ke udara seperti hendak meninju langit. Siapa tahu, dengan cara
seperti ini nasibnya akan berubah, pikirnya.
Para pengunjuk rasa makin bertambah dan terus bertambah. Di bawah terik
matahari, mereka terus bersemangat meneriakkan yel-yel, menuntut agar
upah dinaikkan 200%. Jika tidak dituruti, mereka mengancam akan
melakukan mogok kerja total. Aksi mereka didukung oleh beberapa kelompok
LSM.
Namun, unjuk rasa itu gagal membuahkan hasil. Tuntutan kenaikan upah
itu dinilai pihak pabrik tidak masuk akal dan bersikukuh untuk menaikkan
upah hanya sebesar 10%. Merasa tak digubris, para buruh mewujudkan
ancamannya. Mereka melakukan mogok kerja total. Tapi, kejadian itu tak
mengubah keputusan pihak pabrik. Malah berakibat fatal bagi para buruh
pabrik. Sebagian pengunjuk rasa yang gencar menyuarakan tuntutan –
termasuk Badrun—dipecat tanpa diberi pesangon.
Badrun benar-benar sial. Ia harus pontang-panting ke sana kemari memburu
nasib. Sudah hampir sebulan ia mengacak-acak seantero kota, nasib baik
belum juga berpihak kepadanya. Pekerjaan belum juga ia dapatkan, hingga
akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki separuh baya berperut buncit dan
berpipi gembul di bawah reruntuhan gedung yang habis dibakar para
pengunjuk rasa yang kalap. Dengan santun, lelaki separuh baya itu
menawari sebuah pekerjaan mudah dengan imbalan yang cukup
menggiurkan. Satu juta rupiah sekali kerja. Wajah Badrun berbinar.
Setumpuk dhuwit melayang-layang di layar benaknya. Tanpa banyak alasan,
Badrun menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan lelaki yang tidak dikenalnya
itu. Ia benar-benar merasa beruntung. Tanpa harus mengeluarkan banyak
keringat, beberapa lembar ratusan ribu sudah jatuh ke tangannya. Badrun
pun dengan jitu berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.
Namun, alangkah terkejutnya ketika Badrun baru berjalan dalam langkah
seratus meter, gendang telinganya tiba-tiba mendengar ledakan dahsyat,
diikuti suara berderak-derak dan jeritan histeris bersambung-sambungan.
Ketika menoleh ke belakang, bola matanya membelalak. Mulutnya menganga.
Ia tidak percaya terhadap pemandangan di hadapannya. Sebuah gedung
plaza yang megah, yang barusan ia tinggalkan itu dalam sekejap telah porak-
poranda. Beberapa sosok tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para
pengunjung berlarian lintang-pukang ditingkah jerit dan pekik histeris.
Terdengar pula raungan sirine mobil patroli aparat kepolisian mebelah
kepanikan orang-orang. Suasana kacau.
Badrun tidak tahu, apa yang menjadi penyebab meledaknya pusat
perbelanjaan masyarakat kota itu. Mungkinkah benda dalam plastik kresek
yang tadi ia taruh di sebuah sudut etalase? Belum sempat ia memperoleh
jawaban, tiga orang anggota polisi bertubuh tegap telah memborgolnya.
Badrun tergeragap bagaikan rusa masuk kampung.
“Heh, ayo pijit!” Jangan bengong di situ!” seru sebuah suara yang besar dan
berat. Badrun menoleh, tersentak. Rupanya, Jlamprang telah bangun. Itu
artinya, ia harus siap melayani semua keinginan penjahat bertubuh kekar
penuh tato yang konon sudah pernah membunuh belasan orang tak berdosa.
Badrun tak menduga kalau harus menjalani hidup di penjara, bergaul
dengan para pendosa yang tangannya sudah terbiasa berlumuran darah.
Entah! Sampai kapan ia harus menjadi penghuni bilik berbau busuk itu! ***