The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book Persiapan & Perencanaan Teknis Pelestarian BGCB

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by lailanikmatul1, 2022-09-27 01:08:46

E-book Persiapan & Perencanaan Teknis Pelestarian BGCB

E-book Persiapan & Perencanaan Teknis Pelestarian BGCB

PANDUAN PERSIAPAN &
PERENCANAAN TEKNIS
PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG
CAGAR BUDAYA

Laila Nikmatul Hummah

PENGANTAR

Berdirinya bangsa Indonesia, tidak luput dari
deretan peristiwa bersejarah yang berkaitan
dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk
merdeka maupun sejarah pada jaman
kerajaan. Sering kali, peristiwa bersejarah
tersebut berkaitan dengan objek bangunan
gedung sehingga membuat bangunan gedung
tersebut menjadi bangunan gedung cagar
budaya.

Seiring dengan bertambahnya usia, kondisi
fisik bangunan gedung cagar budaya
terancam kelestariannya. Sehingga, perlu
adanya usaha yang dilakukan guna menjaga
kondisi kelestarian bangunan gedung cagar
budaya melalui kegiatan pelestarian
bangunan gedung cagar budaya.

Dalam melaksanakan kegiatan pelestarian
bangunan gedung cagar budaya, perlu
mengacu kepada NSPK yang berlaku. Buku
Panduan Persiapan dan Perencanaan Teknis
Pelestarian BGCB ini berfokus pada tahap
persiapan dan perencanaan pelestarian
BGCB yang mengacu pada Undang-Undang
RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya
dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat No. 19 Tahun 2021
tentang Bangunan Gedung Cagar Budaya.

Harapannya, buku panduan ini dapat
meningkatkan pemahaman stakeholder
dalam pelaksanakan pelestarian BGCB
khususnya pada tahap persiapan dan
perencanaan.

Daftar Isi

02 Pengantar

03 Daftar Isi

04 BAB 1
Pendahuluan

08 BAB 2
Pemahaman
Dasar

14 BAB 3
Tahapan
Persiapan
Pelestarian BGCB

32 BAB 4 Dokumen
Rencana Teknis
Pelestarian

47 Daftar Pustaka

50 Lampiran

BAB 1

PENDAHULUAN

Bale Gili Taman Soekasada Ujung, Kab. Karangasem, Bali

Sumber : http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 4

Latar Belakang

Bangunan cagar budaya merupakan representasi dari sejarah
peristiwa Bangsa Indonesia yang wajib untuk dilestarikan.
Kegiatan pelestarian cagar budaya salah satunya memiliki
tujuan untuk melestarikan warisan budaya bangsa guna
memperkuat kepribadian bangsa.

Dalam melakukan kegiatan pelestarian BGCB, stakeholder
harus mengacu pada peraturan yang berlaku diantaranya
adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar
Budaya dan Permen PUPR No. 19 Tahun 2021 tentang Pedoman
Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung Cagar Budaya yang
Dilestarikan.

Salah satu permasalahan yang ditemui dari pelaksanaan
pelestarian BGCB adalah kurangnya pemahaman stakeholder
terkait yang diindikasikan dengan tidak disusunnya dokumen
perencanaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini
dikhawatirkan dapat menimbulkan munculnya permasalahan
pada saat pelaksanaan pelestarian BGCB.

Sejalan dengan hal tersebut, maka disusunlah Buku Panduan
Persiapan dan Perencanaan Pelestarian BGCB yang dapat
meningkatkan pemahaman stakeholder dalam melaksanakan
pelestarian BGCB.

Dengan adanya buku panduan ini, diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman stakeholder dalam melaksanakan
pelestarian BGCB khususnya pada tahap persiapan dan
perencanaan sehingga dihasilkan dokumen persiapan dan
perencanaan yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 5

maksud & Tujuan

1 Maksud

Maksud dari disusunnya Buku
Panduan Tahap Persiapan dan
Perencanaan Pelestarian BGCB
ini adalah sebagai referensi
yang dapat digunakan oleh
stakeholder dalam
melaksanakan pelestarian BGCB

2 Tujuan

Tujuan dari disusunnya Buku
Panduan Tahap Persiapan dan
Perencanaan Pelestarian BGCB
ini adalah agar pelaksanaan
pelestarian BGCB yang
dilakukan oleh stakeholder
memenuhi persyaratan sesuai
dengan peraturan yang berlaku

dasar hukum

Yang menjadi dasar hukum dari Buku Panduan ini adalah:

12

UNDANG-UNDANG PERATURAN
RI NO. 11 TAHUN PEMERINTAH NO.
2010 16 TAHUN 2021

tentang Cagar Budaya tentang Bangunan Gedung

3 4

PERMEN PUPR PERMEN PUPR
NO. 19 TAHUN NO.
2021 45/PRT/M/2007

tentang Pedoman Teknik tentang Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan
Bangunan Gedung Cagar Gedung Negara
Budaya yang Dilestarikan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 7

BAB 2

PEMAHAMAN
DASAR

Benteng Amsterdam, Maluku

Sumber : http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 8

PENGERTIAN sehingga perlu dilestarikan
CAGAR dan dikelola secara tepat
BUDAYA melalui upaya
pelindungan,
Menurut Undang-Undang pengembangan, dan
No.11 Tahun 2021, cagar pemanfaatan dalam
budaya merupakan rangka memajukan
kekayaan budaya bangsa kebudayaan nasional untuk
sebagai wujud pemikiran sebesar-besarnya
dan perilaku kehidupan kemakmuran rakyat.
manusia yang penting Status kepemilikan cagar
artinya bagi pemahaman budaya dapat dimiliki oleh
dan pengembangan negara, masyarakat hukum
sejarah, ilmu pengetahuan, adat, ataupun perorangan
dan kebudayaan dalam dengan tetap
kehidupan bermasyarakat, memperhatikan aspek
berbangsa, dan bernegara kesejarahan dalam
pemanfaatannya.

Foto Rumah Tradisional
Milik Sri Lestari
Sumber:
https://kebudayaan.kemd
ikbud.go.id/

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 9

Bangunan dapat diusulkan sebagai bangunan cagar budaya
apabila memenuhi kriteria antara lain:

Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih
Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun
Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
Pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan
Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian
bangsa

Dalam melaksanakan kegiatan pelestarian maupun
pengusulan cagar budaya, harus dilaksanakan dengan
melibatkan Tenaga Ahli Pelestarian.

KLASIFIKASI Benda cagar budaya adalah
CAGAR benda alam dan/atau benda
BUDAYA buatan manusia, baik bergerak
maupun tidak bergerak,
Pengelompokan cagar berupa kesatuan atau
budaya diklasifikasikan sesuai kelompok, bagian, atau sisa-
dengan objek dan ruang. sisa yang memiliki hubungan
erat dengan kebudayaan dan
BENDA sejarah perkembangan
manusia.
OBJEK BANGUNAN
Bangunan cagar budaya
STRUKTUR merupakan susunan binaan
yang terbuat dari benda alam
RUANG SITUS atau benda buatan manusia
KAWASAN untuk memenuhi kebutuhan
ruang baik berdinding maupun
tidak berdinding.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 10

Struktur cagar budaya Contoh Bangunan Cagar Budaya
merupakan susunan binaan
yang terbuat dari benda alam Sumber:
atau benda buatan manusia
guna memenuhi kebutuhan http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id
ruang kegiatan yang menyatu
dengan alam guna Situs cagar budaya merupakan
menampung kebutuhan lokasi yang mengandung
manusia. Salah satu hal yang benda cagar budaya, bangunan
membedakan bangunan dan cagar budaya, dan/atau
struktur cagar budaya adalah struktur cagar budaya sebagai
bangunan beratap sedangkan hasil kegiatan manusia atau
struktur tidak beratap. bukti kejadian masa lalu.

Kawasan cagar budaya adalah
satuan ruang geografis yang
memiliki dua situs cagar
budaya atau lebih yang
lokasinya berdekatan dan/atau
memperlihatkan ciri tata ruang
yang khas.

Peta Zonasi Kawasan Budaya Kotabaru DIY
Sumber: Harmonisasi Ketentuan Peruntukan

Bangunan Cagar Budaya dalam Prespektif
Regulasi Di Kawasan Budaya Kotabaru, Kota

Yogyakarta-DIY

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 11

LINGKUP
PELESTARIAN

Beberapa lingkup kegiatan pelestarian sebagaimana
diatur dalam Permen PUPR No. 19 Tahun 2021 meliputi
kegiatan perlindungan, pengembangan, dan pemugaran.

a. Perlindungan
Kegiatan perlindungan BGCB merupakan upaya yang
dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi BGCB
dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan
cara penyelamatan, pengamanan, pemeliharaan dan
pemugaran.

b. Pengembangan
Kegiatan pengembangan BGCB merupakan usaha
yang dilakukan untuk meningkatkan potensi nilai,
informasi, dan promosi BGCB serta
pemanfaatannya yang dilakukan melalui kegiatan
penelitian, revitalisasi, dan adaptasi secara
berkelanjutan dengan tidak bertentangan dengan
tujuan pelestarian.

c. Pemugaran
Pemugaran merupakan upaya yang dilakukan guna
mengembalikan kondisi fisik objek cagar budaya yang
rusak sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak,
dan/atau Teknik pengerjaan untuk memperpanjang usia
pemakaian.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 12

KAIDAH
PELESTARIAN

Mengingat umur pakai bangunan cagar budaya, dalam
melaksanakan pelestarian bangunan cagar budaya perlu
memperhatikan beberapa kaidah dalam pelestarian. Hal
ini dilakukan agar nilai kesejarahan yang dimiliki oleh
bangunan cagar budaya tetap terjaga. Adapun beberapa
kaidah pelestarian yang diatur dalam Permen PUPR No. 19
Tahun 2021 diantaranya:

a. Sedikit mungkin melakukan perubahan atau
penambahan elemen baru sesuai dengan kondisi semula
dengan perubahan yang seminimal mungkin.

b. Sedapat mungkin memperhatikan keaslian berdasarkan
penggunaan bahan, bentuk elemen, tata letak
komponen, gaya arsitektur, dan teknologi pengerjaan.

c. Penuh kehati-hatian dan bertanggung jawab dengan
menggunakan Teknik, metode, dan bahan yang tidak
merusak dalam melaksanakan kegiatan pelestarian.

d. Penggantian elemen untuk mengembalikan ke wujud
aslinya harus sedapat mungkin dikenali dan diberikan
tanda.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 13

BAB 3

TAHAPAN PERSIAPAN
PELESTARIAN BGCB

Kompleks Ke'te Kessu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Sumber : http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 14

Dalam melakukan pelestarian BGCB, perlu dilakukan
beberapa kajian yang digunakan untuk melakukan
identifikasi awal. Hal tersebut penting mengingat
pelaksanaan pelestarian haruslah mengedepankan faktor
kehati-hatian guna menjaga, melindungi, dan
mempertahankan keberadaan dan nilai penting yang
terdapat pada BGCB. Beberapa tahapan persiapan dalam
pelaksanaan pelestarian BGCB diantaranya adalah kajian
identifikasi, dokumentasi, dan usulan penanganan
pelestarian.

1. Kajian identifikasi
Kajian identifikasi atau kajian awal perlu dilakukan guna
menentukan jenis penanganan pelestarian yang secara
umum meliputi kajian:

a. Penelitian

Sejarah: merupakan dokumentasi dan arsip sejarah
bangunan dan peristiwa bersejarah yang terjadi pada
bangunan gedung termasuk dengan kronologi
perubahan fisik bangunan, era berdirinya bangunan,
ciri dan karakter atribut fisik yang khas dari BGCB.
Arsitektur: merupakan informasi mengenai
langgam/tipologi BGCB.
Arkeologi bangunan, tapak dan lingkungan:
merupakan dokumentasi dan arsip yang
menampakkan denah, tapak, serta lingkungan
sekitar BGCB yang mempengaruhi identitas BGCB.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 15

Struktur: merupakan kajian awal terhadap keandalan
pada aspek struktur bangunan eksisting.
Mekanikal, elektrikal, dan perpipaan: merupakan
kajian awal mengenai kondisi, jenis, dan denah
peletakan komponen mekanikal, elektrikal, dan
perpipaan pada BGCB.
Material: merupakan kajian mengenai bahan dan
material yang digunakan pada BGCB.

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan
dalam melakukan penelitian terhadap aspek-aspek
BGCB diantaranya:

1) Analisis Visual
Adalah analisis terkait pandangan BGCB “dari dan
ke” arah luar serta sekitarnya, dengan radius dan
arah pandang yang telah ditentukan.

2) Tes Laboratotium
Tes laboratorium dilakukan dengan cara mengambil
sampel dari komponen, material, dan bahan
bangunan yang akan diuji. Beberapa hal yang
diujikan dalam test labolatorium meliputi:
Tes Mekanikal
Tes Kimiawi
Tes Mineralogi
Setiap pengambilan sampel dari bangunan harus
diberikan keterangan mengenai lokasi dan jenis
bangunan yang dilengkapi dengan
pendokumentasian.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 16

3) Tes In-Situ
Merupakan penelitian yang dilakukan langsung
pada lokasi objek dan material BGCB yang akan
diuji. Tes In-Situ yang dilakukan antaranya:
Tes Ultrasonic
Radiografi
Fibre-Optic Surveying
Pengukuran Radar
Liquid Penetrant Testing
Magnetomery
Infra-Red Photography
Thermography

4) Tes Lapangan
Metode pengetesan lapangan cenderung merusak
dan hanya dilakukan pada situasi tertentu apabila
dibutuhkan untuk mengetahui kerusakan/kekuatan
struktur bangunan dan kondisi tapak bangunan.
Beberapa tes lapangan yang dilakukan antaranya
adalah:
Penilaian pondasi
Pengukuran lapangan

5) Structural Modelling
Structural modelling digunakan untuk mengetahui
karakteristik kekuatan struktur bangunan dalam
menopang beban bangunan.

6) Eksavasi
Tujuan dari pelaksanaan eksavasi adalah untuk
mengamati/ mengelakukan pengecekan BGCB,

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 17

melakukan pemahaman lebih lanjut serta
menghubungkan dengan catatan rekaman terakhir
tentang peninggalan sejarah tersebut, menganalisis,
dan menginterpretasikan hasilnya, serta
menyebarkan.

Dokumentasi Proses
Eksavasi
Sumber: Laporan Eksavasi
Pondasi Kawasan Benteng
Wilem I, Ambarawa

b. identifikasi nilai penting dan

arti khusus

1) Atribut Fisik
Atribut fisik diklasifikasikan dalam beberapa bentuk
berdasarkan tingkat signifikasinya. Klasifikasi atribut
fisik dapat diuraikan sebagai berikut:
Utama
Merupakan atribut fisik yang menjadi karakter
utama serta mewakili signifikansi BGCB. Atribut
fisik utama harus dipertahankan dan tidak boleh
diubah.
Pendukung
Merupakan atribut fisik yang mendukung karakter
BGCB. Atribut fisik pendukung boleh diperbaiki

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 18

atau diganti dengan tetap menjaga nilai
signifikansi BGCB.
Non-Pendukung
Merupakan atribut fisik yang tidak mempengaruhi
karakter BGCB. Atribut fisik non-pendukung boleh
diganti, diubah, ditambah, atau dibongkar dengan
mengupayakan berkontribusi pada nilai
signifikansi BGCB.

Pengelompokan Signifikansi
Benteng Wilem I Ambarawa

Sumber: Laporan Panduan
Perancangan Kawasan Benteng

Wilem I, Ambarawa

2) Identifikasi arti khusus
Merupakan nilai atau makna yang dinyatakan dari
kontribusi BGCB sehingga memiliki arti khusus
terhadap masyarakat. Pernyataan identifikasi arti
khusus berupa pemahaman umum, keberadaan serta
nilai penting BGCB, sejarah dan kejadian penting
BGCB, kronologis perubahan fisik bangunan,

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 19

era berdirinya bangunan, ciri dan karakter, atribut fisik
khas, gaya, langgam BGCB, tapak, serta periode
terjadinya kejadian bersejarah pada bangunan.
Identifikasi arti khusu BGCB harus dapat
menggambarkan keberadaan serta terwujudnya
makna dan nilai penting BGCB diantaranya:
a) Keberadaan BGCB

Bersifat unik, langka, terbatas, dan tidak
diperbaharui
Gaya bangunan paling singkat berumur 50
tahun
Posisi, status, dan keberadaan BGCB tercermin
dari atribut fisik bangunan
Keaslian bangunan
b) Nilai Penting BGCB
Makna dan nilai penting BGCB khusus bagi
masyarakat
Arti khusus BGCB
Nilai kesejarahan terkait dengan bangunan
eksisting
Nilai filsafat dan kearifan lokal yang
ditampilkan pada bangunan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 20

c. pendataan dan penilaian kondisi

fisik bgcb

1) Tingkat Kerusakan Komponen
Mengingat umur, dampak aktifitas manusia, dan
bencana yang terjadi terhadap keberadaan BGCB
sering kali menyebabkan kerusakan. Secara umum,
tingkat kerusakan BGCB dikategorikan sebagai
berikut:
Kerusakan ringan: merupakan kerusakan yang
terjadi pada komponen non-struktural.
Kerusakan sedang: merupakan kerusakan yang
terjadi pada komponen non-struktural dan/atau
komponen struktural.
Kerusakan berat: merupakan kerusakan yang
terjadi pada Sebagian komponen bangunan
baik struktural maupun non-struktural yang
apabila setelah diperbaiki masih dapat
berfungsi dengan baik sebagaimana fungsinya..
Tingkat kerusakan bangunan akan menjadi dasar
untuk menentukan penanganan pelestarian BGCB.
Perlu dilakukan pemeriksaan kondisi kerusakan
masing-masing atribut fisik BGCB sebagai dasar
pertimbangan tambahan untuk menentukan jenis
penanganan pelestarian BGCB.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 21

ARSITEKTUR STRUKTUR

Atap Genteng penutup atap hilang, Batu belah pada pondasi Pondasi
warna dan kualitas penutup terlepas
atap mengalami degradasi.

Dinding Dinding bata berlubang, Struktur atap kayu Struktur
keropos, atau terkikis lapuk atau melengkung Atap

Lantai Papan lantai kayu Balok dan kolom kayu Kolom &
hilang/roboh, ubin lantai lapuk/keropos/lembap Balok
pecah/gores/retah/gumpil

Pintu & Kaca jendela pecah, kusen Plat lantai mengalami Plat
Jendela berlumut, elemen pintu atau lendutan Lantai
jendela longgar

Finishing Lapisan cat mengelupas atau
ditutup cat baru yang tidak
sesuai. Contoh Kerusakan Struktur & Arsitektur

2) Kondisi pencahayaan, temperatur, kelembaban dan
pertukaran udara di dalam dan di luar bangunan

d. studi kelayakan pelestarian

bgcb

Pada dokumen studi kelayakan pelestarian BGCB berisi
mengenai:
1) Kesimpulan hasil penelitian, identifikasi, pendataan

dan penilaian kondisi fisik
2) Kajian kelayakan pelestarian BGCB

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 22

2. dokumentasi

a. pengambilan foto & video

Pelaksanaan dokumentasi harus dilakukan dengan
memperlihatkan kondisi sebenar-benarnya dan apa
adanya serta bukan merupakan asumsi. Kegiatan
dokumentasi meliputi:
1) Pemotretan seluruh bagian bangunan, berupa foto

tampak eksterior, interior, elemen arsitektur,
ornament, utilitas dan ME, situasi tampak, dan
lingkungan.
2) Pemotretan seluruh kegiatan yang dilakukan,
antaranya pengukuran bangunan, penjiplakan
ornament, identifikasi bahan bangunan dan
penggambaran 3D laser jika dibutuhkan.

b. pengukuran

Dalam pelaksanaan tahapan dokumentasi, perlu
dilakukan pengukuran terhadap beberapa komponen
antara lain:

Ukuran tapak
Topografi tapak
Ukuran denah bangunan
Ukuran ketinggian bangunan
Detail komponen bangunan
Detail ragam hias

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 23

c. penggambaran

Penggambaran kondisi eksisting berupa gambar
terhadap:

Denah blok bangunan (block plan)
Denah tapak (site plan)
Denah interior, lantai, plafon, dan atap
Tampak dan potongan bangunan
Denah elemen arsitektur (pintu, jendela, kolom)
Detail ornament
Dalam melakukan penggambaran kondisi eksisting
harus dilengkapi dengan keyplan pada tiap elemen
arsitektur dan ornament yang digambarkan.

3. ukuran penanganan

pelestarian

a. usulan jenis penanganan

Secara umum, jenis penanganan pelestarian meliputi
perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.
1) Perlindungan: merupakan upaya mencegah dan

menanggulangi kerusakan atau kemusnahan BGCB
dengan cara melakukan pemeliharaan atau
pemugaran.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 24

a) Pemeliharaan: merupakan upaya menjaga dan
merawat agar kondisi bangunan tetap lestari.
Tindakan perawatan dilakukan pada BGCB dengan
kondisi fisik baik atau dengan tingkat kerusakan
ringan.

b) Pemugaran: merupakan upaya memperbaiki,
memulihkan kembali bangunan sesuai bentuk
aslinya. Tindakan ini dilakukan pada BGCB dengan
tingkat kerusakan sedang hingga berat. Pemugaran
BGCB terdiri dari:

Rekonstruksi: merupakan upaya membangun
kembali keseluruhan atau Sebagian BGCB yang
hilang dengan menggunakan konstruksi baru
sehingga menjadi bentuk sebelumnya pada
periode tertentu. Dalam melakukan rekonstruksi
perlu mengutamakan prinsip keaslian bahan,
teknik pengerjaan dan tata letak, termasuk
dalam menggunakan bahan baru sebagai
pengganti.
Konsolidasi: merupakan upaya penguatan bagian
bangunan yang rusak tanpa membongkar
seluruh bangunan untuk mencegah kerusakan
lebih lanjut.
Rehabilitasi: merupakan upaya pemulihan
kondisi BGCB agar dapat dimanfaatkan kembali
dengan cara perbaikan atau perubahan dengan
tetap menjaga nilai kesejarahan. Pada umumnya,
kegiatan rehabilitasi dititikberatkan pada
penanganan yang sifatnya parsial.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 25

Restorasi: upaya untuk mengembalikan kondisi
BGCB sesuai keasliannya dengan menghilangkan
komponen tambahan atau mengganti komponen
yang hilang agar menjadi wujud sebelumnya pada
periode tertentu yang dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah.

2) Pengembangan: merupakan upaya peningkatan
potensi serta pemanfaatan BGCB yang tidak
bertentangan dengan tujuan pelestarian.
Pengembangan BGCB dapat dilakukan melalui
kegiatan revitalisasi dan adaptasi.

a) Revitalisasi: merupakan upaya untuk menumbuhkan
kembali nilai penting BGCB dengan penyesuaian
fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan
prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.

b) Adaptasi: merupakan upaya pengembangan BGCB
untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan
masa kini dengan melakukan perubahan terbatas
yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting
atau kerusakan pada bagian yang memiliki arti
penting.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 26

3) Pemanfaatan: merupakan upaya pendayagunaan
BGCB untuk kepentingan masyarakat dengan
mempertahankan kelestariannya. Pemanfaatan BGCB
perlu memperhatikan:
Batasan penanganan pemanfaatan BGCB.
Usulan penanganan pelestarian berupa
rekomendasi penanganan pemanfaatan melalui
hasil kajian.
Jika dibutuhkan dapat mencantumkan usulan
lainnya, misal usulan mengenai: insentif dan
disinsentif dan rencana manajemen pengelolaan.

b. lingkup pelestarian bgcb

Lingkup pelestarian BGCB merupakan ruang lingkup
pelestarian BGCB sesuai dengan usulan jenis
penanganan terhadap atribut fisik BGCB.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 27

a. Dalam penentuan lingkup pelaksanaan pelestarian,
perlu menyesuaikan dengan kriteria pada masing-
masing usulan penanganan yang diajukan.

Kriteria Pelindungan Pemeliharaan

Mempertahankan karakter utama bangunan serta
menjaga perubahan yang telah terjadi.
Menjaga kondisi eksisting bangunan dari kerusakan.
Berorientasi pada kelangsungan fisik bangunan
sehari-hari.
Menghindari perubahan bangunan gedung.
Berfokus pada eksisting bangunan yang dapat
dimanfaatkan kembali.
Dilakukan secara berkala.
Tindakan pemeliharaan tidak mengakibatkan
kerusakan baik segi tampilan maupun kinerja
bangunan.

b.1 Kriteria Pelindungan Rekonstruksi

Bertujuan memperpanjang usia bangunan dengan
membangun kembali seperti bentuk aslinya.
Mengembalikan bagian yang rusak atau hilang
dengan melestarikan komponen bersejarah yang ada.
Membangun kembali bagian yang rusak atau hilang
secara kontemporer.
Melakukan penyelidikan menyeluruh sebagai dasar
kegiatan rekonstruksi.
Membuat kembali bagian yang rusak atau hilang
secara hati-hati untuk mendapat hasil akurat.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 28

b.2 Kriteria Pelindungan Konsolidasi

Bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
melalui perkuatan struktur.
Dilakukan pada bangunan yang mengalami
kerusakan struktur sedang hingga berat.
Mempertahankan struktur utama bangunan.
Perubahan minimal terhadap ciri khas bangunan.
Metode penguatan mempertimbangkan teknologi
dan penyesuaian terdahap fungsi dan daya dukung
bangunan.

b.3 Kriteria Pelindungan Rehabilitasi

Dilakukan pada bangunan dengan kerusakan sedang
dan menengah.
Perubahan elemen bangunan yang memiliki nilai
sejarah perlu dipertahankan dan dilestarikan.
Tidak mengubah atau menambah atribut fisik yang
tidak ada bukti sejarahnya.
Mengutamakan perbaikan atribut fisik yang rusak
(tidak mengganti). Apabila diperlukan penggantian,
maka perlu penyesuaian desain, warna, tekstur, dan
bahan jika memungkinkan.
Penggantian atribut yang hilang dilakukan
dokumentasi dan dibuktikan dengan surat dan
barang bukti.
Diperbolehkan penambahan, perubahan eksterior
atau kondtruksi baru selama tidak menghilangkan
signifikansi bangunan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 29

b.4 Kriteria Pelindungan Restorasi

Mengembalikan kondisi bangunan dan
mempertahankan nilai secara kontemporer tanpa
penambahan komponen bangunan.
Mengutamakan keaslian material, desain, teknologi,
dan tata letak.
Mengutamakan perbaikan material yang rusak
dibanding penggantian.
Mengganti elemen yang rusak/hilang sesuai dengan
wujud asli pada periode waktu tertentu.
Menghilangkan elemen atau komponen tambahan.

c.1 Kriteria Pengembangan Revitalisasi

Bertujuan untuk mengingatkan pada masa lalu yang
berhubungan dengan bangunan melalui penekanan
nilai penting bangunan.
Digunakan pada bangunan yang pada masa lalu
memiliki peran penting namun kini mengalami
kemunduran.
Menghubungkan bangunan dengan kegiatan
masyarakat.
Memiliki pengaturan yang beruhubungan dengan
nilai kesejarahan bangunan.
Pengaturan fungsi bangunan terhadap aspek fisik
bangunan serta penyesuaian kegiatan yang dapat
menarik minat masyarakat sehingga signifikansinya
bagi masyarakat dapat meningkat.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 30

c.2 Kriteria Pengembangan Adaptasi

Menjaga keberlanjutan bangunan dengan
penyesuaian terhadap perubahan fungsi.
Penyesuaian fungsi tetap menjaga nilai sejarah,
estetika, sosial, dan spiritual bangunan.
Penambahan atau pengurangan bagian bangunan
tidak mengurangi nilai penting bangunan.
Konsep desain merepresentasikan nilai masa lalu dan
memenuhi kebutuhan fungsi di masa depan yang
terintegrasi.
Penambahan atribut fisik menyesuaikan bangunan
eksisting dan mudah dikenali sebagai unsur
tambahan.

c.2 Kriteria Pemanfaatan

Pemanfaatan menyesuaikan aspek pelestarian dan
tidak mengurangi nilai penting bangunan.
Pemanfaatan tetap mempertahankan karakter serta
tidak merusak atribut fisik bangunan.
Pemanfaatan dapat memungkinkan untuk fungsi
baru dengan tetap mempertahankan prinsip
pelestarian.
Pemanfaatan yang diperkirakan berdampak pada
signifikansi bangunan didahului dengan menyusun
analisis dampak lingkungan (ANDAP).
Pemanfaatan mempertimbangkan aspek
pemeliharaan dan perawatan untuk menjaga
kelaikan bangunan.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 31

BAB 4

DOKUMEN RENCANA
TEKNIS PELESTARIAN
BGCB

Observatorium Bosscha, Bandung Barat, Jawa Barat

Sumber : http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 32

1. rencana teknis

pemeliharaan

a. data umum

Meliputi nama dan alamat bangunan, tinggi bangunan,
luas lantai dasar, luas lantai keseluruhan, luas tapak, dan
data lain yang diperlukan.

b. rencana pemeliharaan rutin

Rencana pemeliharaan rutin berisi penanganan
perlindungan guna mempertahankan dan menjaga serta
merawat agar kondisi BGCB agar tetap lestari pada tiap
waktu tertentu. Dokumen tersebut diwujudakan dalam
program pemeliharaan atribut secara berkala berupa:
jadwal harian, mingguan bulanan, enam bulanan,
tahunan, tiga tahunan, dan lima tahunan.

c. rencana perawatan

Rencana perawatan berisi tindakan yang direncanakan
untuk usaha perbaikan atau penggantian bagian
bangunan gedung, komponen, bahan bangunan, dan
prasarana dan sarana agar gedung tetap laik
fungsi.Dokumen tersebut diwujudkan melalui
penyusunan program serta perbaikan kecil pada elemen
dan material bangunan dengan kerusakan ringan.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 33

d. rencana pemeriksaan berkala

Dalam rencana pemeriksaan berkala, berisi upaya
pemeriksaaan terhadap bagian bangunan gedung,
komponen dan prasarana dan sarana pada tiap satuan
waktu tertentu secara berkala guna menjaga kelaikan
fungsi bangunan.

PEMELIHARAAN PERAWATAN PEMERIKSAAN BERKALA

Membersihkan debu & kotoran
interior bangunan (lantai, jendela)

HARIAN

MINGGUAN Membersihkan debu dan kotoran
detail fitur interior bangunan,
membersihkan sampah dan
kotoran pada eksterior

Membersihkan saluran air, pipa Memeriksa kelaikan fungsi runag.
pembuangan, dan sistem drainase Memeriksa ruang mesin lift &
penangkal petir
BULANAN

3 BULANAN Memeriksa kelaikan kesehatan
bangunan (Keandalan Bangunan).

Memeriksa penerangan darurat

Membersihkan dinding eksterior, Pengecatan ulang dinding jika Memeriksa kelaikan kenyamanan &
apabila ditumbuhi tanaman liar diperlukan kemudahan bangunan (keandalan
bangunan). Memeriksa kondisi atap,
6 BULANAN dinding, plafon, lantai, talang air, mekanikal

bangunan, dan panel listrik

Memeriksa & memperbaiki plester Memeriksa kelaikan fungsi
dinding yang terkelupas atau retak bangunan dan memeriksa sistem

TAHUNAN penerangan
3 TAHUNAN
5 TAHUNAN Memperbaiki fitur fisik yang Memeriksa sistem instalasi listrik
bermaterial logam & kayu, dan mekanikal elektrikal (ME)
bangunan secara keseluruhan
pengecatan keseluruhan bangunan

Memperbaiki kerusakan yang Memeriksa struktur bangunan
terjadi pada keseluruhan fitur fisik,

serta memperbaiki keramik dan
atap bila diperlukan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 34

CONTOH TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK TINGKAT SIGNIFIKANSI ATRIBUT FISIK
PEMELIHARAAN BGCB
TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK PENDUKUNG NON-PENDUKUNG
UTAMA

DIPERTAHANKAN

DIPERBAIKI

DIGANTI/DITAMBAH

DIBONGKAR

2. rencana teknis

pemugaran

a. data umum

Meliputi nama dan alamat bangunan, tinggi bangunan,
luas lantai dasar, luas lantai keseluruhan, luas tapak, dan
data lain yang diperlukan.

b. gambar hasil pengukuran

Meliputi peta tapak dan peta topografi, denah (tapak,
blok bangunan, interior, eksterior, lantai, plafon serta
atap), tampak dan potongan, dan detail komponen
bangunan.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 35

c. program tindakan penanganan

atribut fisik

Berisi tabel atribut fisik yang dipertahankan, diperbaiki,
diganti, diubah, ditambah, dan/atau dibongkar.
Penentuan program tindakan penanganan atribut fisik
perlu mengacu pada signifikansi bangunan dan atribut
fisiknya, serta kondisi kerusakan pada BGCB.

CONTOH TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK TINGKAT SIGNIFIKANSI ATRIBUT FISIK
PEMUGARAN BGCB

TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK UTAMA PENDUKUNG NON-PENDUKUNG

DIPERTAHANKAN

DIPERBAIKI

DIGANTI/DITAMBAH

DIBONGKAR RESTORASI

d. rencana teknis rekonstruksi,

konsolidasi, rehabilitasi, &

restorasi

Meliputi denah ((tapak, blok bangunan, interior,
eksterior, lantai, plafon serta atap), tampak dan
potongan, gambar struktur, mekanikal, elektrikal,
perpipaan, dan sistem utilitas, gambar detail komponen,
daftar volume pekerjaan, rencana anggaran biaya, dan
rencana kerja dan syarat.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 36

e. laporan perencanaan

rekonstruksi, konsolidasi,

rehabilitasi, & restorasi

Meliputi uraian tentang latar belakang kebutuhan
pelestarian, pendekatan dan metode pelestarian,
perhitungan struktur serta mekanikal, elektrikal, dan
perpipaan bangunan, uraian tentang perbaikan dan/atau
penggantian elemen dan/atau material bangunan, dan
lampiran dokumentasi arsip, foto, dan catatan sejarah
bangunan.

3. rencana teknis

pembongkaran

Pembongkaran dapat dilakukan apabila menurut hasil
pengamatan disik bangunan mengalami kerusakan
berat yang tidak memungkinkan untuk dilakukan upaya
pelestarian serta membahayakan keselamatan
pengguna dan masyarakat di sekitarnya. Pembongkaran
BGCB dapat ditetapkan setelah melakukan kajian
dengan hati-hati. Jika pembongkaran telah ditetapkan,
maka BGCB harus tetap dilestarikan dengan cara
perekaman data menyeluruh (preserved by record).
a) Rencana pengelolaan risiko
Rencana teknis pembongkaran (RTB) meliputi:
b) Rencana pembongkaran

Rencana kerja atau action plan tertulis lengkap
dengan gambar-gambar pendukung metode.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 37

c) Rencana pengamanan area pembongkaran
d) Metode pembongkaran

Berisikan metode pembongkaran yang akan
dilakukan dilengkapi dengan persiapan serta
perlengkapan yang dibutuhkan.
e) Rencana pengawasan pembongkaran
f) Rencana pengelolaan bahan bongkaran
Rencana pengelolaan bahan bongkaran meliputi
pembuangan, penyelamatan, penanganan,
pengangkutan, dan penyimpanan pengamanan
terhadap kerusakan material.
Penanganan pembongkaran bukan merupakan usaha
pelestarian, sehingga setelah BGCB dicabut statusnya
sebagai bangunan cagar budaya, perlu dilakukan cara
yang dapat memberikan informasi mengenai
keberadaan BGCB tersebut sebagai ‘collective memory’.
Salah satu usaha yang dapat dilaksanakan adalah
dengan membuat prasasti/batu/papan informasi berisi
doto/arsip bangunan tersebut, atau menyisakan
Sebagian/ bagian dari bangunan yang tergolong
signifikan.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 38

Bagian Bangunan Gedung Cagar Budaya
Penjara Banceury ex Ruang Presiden
Pertama RI Ketika dibongkar (atas) dan
Kondisi Sekarang (bawah)
Sumber:
Buku 2 Petunjuk Teknis Penyelenggaraan
Bangunan Gedung Cagar Budaya yang
Dilestarikan

4. rencana teknis

pemANFAATAN

a. rencana pengelolaan &

operasional

Dalam rencana pengelolaan dan operasional meliputi
antara lain:

Deskripsi kelayakan potensi nilai serta manfaat
kegiatan.
Pemanfaatan fungsi dan aktivitas pada BGCB, tapak,
dan lingkungannya.
Organisasi pengelola, pola kerjasama, dsb.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 39

Pengaturan dan pembatasan jam kunjungan dan
jumlah pengunjung.
Penentuan kegiatan yang boleh dan tidak boleh
dilakukan pada BGCB.
Rencana info-promosi, event, dsb.

b. rencana pemeliharaan

Rencana pemeliharaan pada dokumen rencana teknis
pemanfaatan berisi rencana kegiatan perlindungan
BGCB berupa kegiatan pemeliharaan, perawatan ringan,
dan pemeriksaan berkala.

5. rencana teknis

pengembangan

Usaha pengembangan BGCB merupakan upaya
peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi BGCB
serta pemanfaatannya melalui penelitian m revitalisasim
dan adaptasi secara berkelanjutan serta tidak
bertentangan dengan tujuan pelestarian. Jenis
penanganan pelestarian berupa pengembangan terdiri
dari revitalisasi dan adaptasi.

Revitalisasi merupakan pengembangan BGCB yang
berupaya untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai
penting BGCB dengan penyesuaian fungsi ruang baru
yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan
nilai budaya masyarakat. Penanganan pengembangan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 40

berupa revitalisasi dapat dilakukan jika terdapat
rencana perubahan fisik/fungsi BGCB.

Adaptasi merupakan upaya pengembangan BGCB untuk
kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini
dengan cara melakukan perubahan terbatas yang tidak
mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan
pada bagian yang mempunyai nilai penting.

Dalam dokumen perencanaan teknis penanganan

meliputi pembahasan terhadap:

a. kebutuhan penanganan atribut

fisik

Terlebih dahulu ditentukan signifikansi bangunan dan
atribut fisiknya, serta kondisi kerusakan, sehingga
muncul beberapa kebutuhan dalam penanganan yang
akan dilakukan sesuai dengan klasifikasinya. Kebutuhan
penanganan berupa program perbaikan sesuai jenis
penanganan pelestarian pengembangan.

CONTOH TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK TINGKAT SIGNIFIKANSI ATRIBUT FISIK
PENGEMBANGAN BGCB

TINDAKAN PADA ATRIBUT FISIK UTAMA PENDUKUNG NON-PENDUKUNG

DIPERTAHANKAN

DIPERBAIKI

DIGANTI/DITAMBAH

DIBONGKAR

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 41

b. skenario & konsep penanganan

pengembangan

Berdasarkan kajian sebelumnya diperlukan scenario dan
konsep rencana pelestarian BGCB sebagai arahan dalam
pelaksanaan pemugaran dengan tetap memperhatikan
prinsip pelestarian. Skenario dan konsep pengembangan
meliputi:

Skenario pelestarian meliputi visi dan misi
pelestarian BGCB.
Konsep penanganan pelestarian, penataan pola
ruang berdasarkan fungsi, persyaratan ruang yang
dibutuhkan, serta pemanfaatan, pengelolaan dan
pemeliharaannya.
Program tindakan terhadap atribut fisik sesuai
prioritas.
Konsep tata bangunan gedung cagar budaya,
keandalan, pelestarian BGCB.
Program pengembangan meliputi detail
penanganan yang akan dilakukan pada elemen,
material, atribut fisik, tapak, maupun lingkungan
BGCB.
Detail tindakan terhadap atribut fisik BGCB.
Spesifikasi pengerjaan dan Teknik pengerjaan, serta
detail material yang akan digunakan.

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 42

materi & produk pada tiap tahapan
penyelenggaraan

TAHAP PERSIAPAN A. PELINDUNGAN 1 Ide Pelestarian
2 Kajian Awal

3 Usulan Penanganan Pelestarian BGCB

B. PENGEMBANGAN C. PEMANFAATAN D. PEMBONGKARAN

4 Konsultasi/Rekomendasi ke-1 TABG-CB

TAHAP 1 Kajian Lanjutan
PERENCANAAN
2 Penyusunan Dokumen 2 Penyusunan Dokumen 2 Penyusunan Dokumen
Perencanaan Perencanaan Perencanaan
Pelindungan Pemanfaatan
Pengembangan

3. Konsultasi/rekomendasi ke-2 TABG-CB

TAHAP PELAKSANAAN 1 Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
FISIK 2 Pelaksanaan Fisik

3 Pengawasan Pelaksanaan/Supervisi
4 Pengendalian Pelaksanaan

TAHAP 1 Sertifikat Laik Fungsi (SLF)
PEMANFAATAN 2 Pemanfaatan dan Operasional

TAHAP 3 Monitoring dan Evaluasi
PEMBONGKARAN 4 Dokumentasi/Pengarsipan Dokumen Pelestarian

1Kajian lanjutan +
Preserved by record
2 Penyusunan dok.

Rencana Teknis
Pembongkatan (RTB)
3 Pencabutan status BGCB
4 Perizinan Membongkar
5 Pelaksanaan Fisik

6 Pengawasan

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 43

BAGAN ALUR KEGIATAN PENYELENGGARAAN BGCB YANG DILESTARIKAN PRODUK/DOKUMEN

TAHAP PERSIAPAN 1 4 IDE PELESTARIAN
DOKUMEN KAJIAN AWAL
IDE PELESTARIAN KONSULTASI KE 1 TABG-CB
1.Dokumen kelengkapan administrasi
PEMILIK/PENGELOLA TABG-CB (& masy. hukum adat) 2.Dokumen Kesejarahan & arkeologis
3.Penelitian awal kondisi fisik
2 4.Pemahaman signifikansi
5.Peraturan daerah setempat
KAJIAN IDENTIFIKASI (KAJIAN AWAL) 6.Review tujuan & rencana pelestarian

Penyedia Jasa: Konsultan Perencana USULAN PENANGANAN
PELESTARIAN
3 LEMBAR KONSULTASI KE-1
TABG-CB
USULAN PENANGANAN PELESTARIAN

Pemilik/Pengelola & Penyedia Jasa

A. PELINDUNGAN B. PENGEMBANGAN C. PEMANFAATAN D. PEMBONGKARAN
ADAPTASI REVITALISASI
PEMELIHARAAN PEMUGARAN

Pemeliharaan & Rekonstruksi I Konsolidasi I

Perawatan Rehabilitasi I Restorasi

5 DOKUMEN KAJIAN LANJUTAN

KAJIAN LANJUTAN 1.Dokumentasi lanjutan
2.Kajian atribut fisik
Penyedia Jasa: Konsultan Perencana 3.Konsep pelestarian & kebutuhan

TAHAP PELAKSANAAN 6a 6a 6a 7 penanganan atribut fisik
4.Penelitian lainnya
PENYUSUNAN RENCANA PENYUSUNAN RENCANA PENYUSUNAN RENCANA KONSULTASI KE 2 TABG-CB
DOKUMEN RENCANA TEKNIS
TEKNIS PEMELIHARAAN TEKNIS PELESTARIAN PEMANFAATAN & TABG-CB (& masy. hukum adat)
1.Rencana teknis (pemugaran,
Penyedia Jasa Penyedia Jasa PEMELIHARAAN revitalisasi, adaptasi) BGCB yang
dilestarikan
PENYUSUNAN RENCANA Penyedia Jasa
2.Rencana pemanfaatan & pemeliharaan
PEMANFAATAN & BGCB

PEMELIHARAAN LEMBAR KONSULTANSI KE-2
TABG-CB
Penyedia Jasa

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 44

TAHAP PELAKSANAANBAGAN ALUR KEGIATAN PENYELENGGARAAN BGCB YANG DILESTARIKAN PRODUK/DOKUMEN

TAHAP PEMANFAATAN 8 IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN
(CAGAR BUDAYA)
PERIZINAN IMB DOKUMEN PELAKSANAAN

Regulator: Pusat, Provinsi, Kab/Kota 1.Pelaksanaan fisik sesuai Dokumen
Rencana Teknis
9
2.Penanganan atribut fisik
PELAKSANAAN FISIK 3.Metode pelaksanaan
4.Laporan pelaksanaan
Pemeliharaan I Rekonstruksi I Konsolidasi I Rehabilitasi I Restorasi I Revitalisasi I Adaptasi I Pemanfaatan
Penyedia Jasa: Konsultan Perencana LAPORAN PENGAWASAN
PELAKSANAAN
10 LAPORAN PENGENDALIAN
PELESTARIAN
PENGAWASAN PELAKSANAAN /SUPERVISI
1.Sertifikat laik fungsi (SLF)
Penyedia Jasa 2.Laporan pemanfaatan
3.Laporan Monitoring & Evaluasi
11 4.Dokumentasi pelestarian

PENGENDALIAN PELAKSANAAN/
PENGAWASAN BERKALA

Penyedia Jasa

12

SERTIFIKAT LAIK FUNGSI

Regulator: Pusat, Provinsi, Kab/Kota

13

PEMANFAATAN

Pemilik/ Pengelola

14

MONITORING & EVALUASI

Regulator/TABG-CB

15

DOKUMENTASI PELESTARIAN

Penyedia jasa kepada Pemilik/Pengelola

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 45

BAGAN ALUR KEGIATAN PENYELENGGARAAN BGCB YANG DILESTARIKAN PRODUK/DOKUMEN

TAHAP PEMBONGKARAN DOKUMENTASI KESELURUHAN PENCABUTAN PENETAPAN 1.Surat pencabutan status cagar budaya
PRESERVED BY RECORD STATUS CAGAR BUDAYA 2.Dokumentasi keseluruhan (Preserved

Penyedia jasa kepada Pemilik/ Pengelola Pemda setempat by Record)
3.Dokumen rencana teknis
PELAKSANAAN FISIK PENYUSUNAN DOKUMEN
PEMBONGKARAN RTB pembongkaran (RTB)
4.Izin pembongkaran
Penyedia jasa atau Swakelola Penyedia jasa 5.Dokumen pelaksanaan
6.Laporan pengawasan
PERIZINAN PEMBONGKARAN
PENGAWASAN
Penyedia jasa, Pemilik, Pengelola
Regulator/ TABG-CB

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 46

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010
Tentang Cagar Budaya

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
2021 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2021 Tentang
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Cagar Budaya Yang Dilestarikan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2021 Tentang
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Cagar Budaya Yang Dilestarikan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Republik Indonesia Nomor: 45/PRT/M/2007 Tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung
Negara

Buku 1 Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Cagar Budaya yang Dilestarikan (Pengantar)

Buku 2 Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bangunan Gedung
Cagar Budaya yang Dilestarikan (Perlindungan -
Pengembangan - Pemanfaatan - Pembongkaran)

Ulfia C. Kleden, Fahril Fanani. Jurnal Harmonisasi Ketentuan
Peruntukan Bangunan Cagar Budaya Dalam Prespektif
Regulasi di Kawasan Budaya Kotabaru, Kota Yogyakarta-

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 47

DIY. Fakultas Teknik. STTNAS Yogyakarta. Yogyakarta
PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Eksavasi

Pondasi, Dokumentasi dan Inventarisasi Kerusakan
(Pengukuran Detail Kondisi Eksisting Bangunan)
Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah.
Jakarta
PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Inventarisasi
Kerusakan, Dokumentasi dan Inventarisasi Kerusakan
(Pengukuran Detail Kondisi Eksisting Bangunan)
Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah.
Jakarta
PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Panduan
Pelestarian, Dokumentasi dan Inventarisasi Kerusakan
(Pengukuran Detail Kondisi Eksisting Bangunan)
Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah.
Jakarta
PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Panduan
Perancangan, Dokumentasi dan Inventarisasi Kerusakan
(Pengukuran Detail Kondisi Eksisting Bangunan)
Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah.
Jakarta
PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Pemeriksaan
Material, Dokumentasi dan Inventarisasi Kerusakan
(Pengukuran Detail Kondisi Eksisting Bangunan)
Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah.
Jakarta

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 48

PT. Putra Wahana Barokah. 2021. Laporan Akhir Penelitian
Sejarah dan Arsitektur, Dokumentasi dan Inventarisasi
Kerusakan (Pengukuran Detail Kondisi Eksisting
Bangunan) Kawasan Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa
Tengah. Jakarta

Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 49

LAMPIRAN

Benteng Willem I, Ambarawa, Jawa Tengah

Sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/
Identifikasi & Perencanaan Pelestarian Bangunan Gedung Gagar Budaya I 50


Click to View FlipBook Version