The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berisi tentang Standar Operasional Prosedur untuk penggunaan fasilitas LPSE, sebagai bagian dari Standarisasi LPSE ke-9 tentang Pengelolaan Keamanan Perangkat. e-Book ini menjadi proses terdokumentasi yang dimiliki oleh LPSE untuk memastikan bahwa layanan terkait penggunaan fasilitas dapat tersampaikan secara konsisten setiap waktu. Standar Operasional Prosedur menjadi acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja LPSE Kabupaten Wonogiri berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by wngr.breakthru, 2021-10-01 06:30:01

Standard Operating Procedure (SOP) Penggunaan Fasilitas LPSE

Berisi tentang Standar Operasional Prosedur untuk penggunaan fasilitas LPSE, sebagai bagian dari Standarisasi LPSE ke-9 tentang Pengelolaan Keamanan Perangkat. e-Book ini menjadi proses terdokumentasi yang dimiliki oleh LPSE untuk memastikan bahwa layanan terkait penggunaan fasilitas dapat tersampaikan secara konsisten setiap waktu. Standar Operasional Prosedur menjadi acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja LPSE Kabupaten Wonogiri berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri.

PEMERINTAH KABUPATEN WONOGIRI

STANDARD OPERATING PROCEDURE

PENGGUNAAN FASILITAS
LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK (LPSE)

KABUPATEN WONOGIRI
2021

Daftar Isi

1. Prosedur Penggunaan Fasilitas LPSE ................................................................................ 3
2. Formulir Pencatatan Penggunaan Fasilitas....................................................................... 4

Std.9 Penggunaan Fasilitas LPSE Hal 2

1. Prosedur Penggunaan Fasilitas LPSE

No Aktifitas Kasubag Pengelolaan Helpdesk LPSE
1 Mulai LPSE

2 Helpdesk LPSE memastikan pengunjung
melakukan pengisian buku tamu secara
lengkap serta menyerahkan tanda
pengenal diri yang sah, misal: KTP

3 Helpdesk LPSE meminta izin kepada
Kasubbag Pengelolaan LPSE untuk
menggunakan fasilitas LPSE.

4 Kasubbag Pengelolaan LPSE menentukan
apakah ijin akan diberikan atau tidak.
a. Jika ijin diberikan, maka pengunjung
dapat menggunakan fasilitas LPSE.
b. Jika tidak diijinkan, maka pengunjung
tidak dapat menggunakan fasilitas
LPSE.

5 Helpdesk LPSE memastikan selama
pengunjung menggunakan fasilitas LPSE,
pengunjung dipastikan tidak melakukan
hal-hal diluar ijin kunjungannya atau hal-
hal yang dapat berisiko terhadap fasilitas
LPSE.

6 Seusai kunjungan Helpdesk LPSE
memastikan buku tamu telah diisi dengan
lengkap.

7 Helpdesk LPSE melapor kepada Kasubbag
Pengelolaan LPSE bahwa kunjungan telah
selesai.

8 Selesai

Std.9 Penggunaan Fasilitas LPSE Hal 3



FOTO RUANG PELAYANAN

PC LPSE001 PC LPSE002

PC LPSE003 PC LPSE004

PC LPSE005 RUANG PELAYANAN

RUANG LPSE KABUPATEN WONOGIRI

LAPORAN
PENGELOLAAN KEAMANAN PERANGKAT
LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK (LPSE)

TAHUN 2020

SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN WONOGIRI
Bagian Pengadaan Barang Dan Jasa
Sub Bagian Pengelolaan LPSE

Jalan Kabupaten Nomor 4 – 5 Wonogiri 57612
Telepon (0273) 321002 Faks. (0273) 321002
Email : [email protected] Website : www.lpse.wonogirikab.go.id

A. LATAR BELAKANG
Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) adalah unit kerja yang dibentuk di

seluruh Kementerian / Lembaga / Satuan Kerja Perangkat Daerah / Institusi (K/L/D/I)
lainnya untuk menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan barang/jasa secara
elektronik serta memfasilitasi Unit Layanan Pengadaan / Pejabat Pengadaan dalam
melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik. LPSE Kabupaten Wonogiri
sebagai unit kerja pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pelelangan secara elektronik, diminta mampu menunjukkan kinerja yang optimal atas
program dan kegiatan yang telah disusun, yang kemudian diharapkan dapat
melaksanakan fasilitasi layanan pengadaan barang / jasa yang terintegrasi secara tepat
sasaran, bersih, transparan, dan akuntabel.

Sesuai dengan Permendagri Nomor 112 Tahun 2018 tentang Pembentukan UKPBJ
Di Lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten / Kota, pengaturan ini
menempatkan LPSE Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu Sub Bagian pada Bagian
Pengadaan Barang/Jasa yang berperan sebagai UKPBJ di bawah Sekretariat Daerah
Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan Peraturan Bupati Wonogiri Nomor 67 Tahun 2019 tentang Tugas Pokok
dan Fungsi Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri disebutkan bahwa Sub Bagian
Pengelolaan Layanan Pengadaan Secara Elektronik mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan kebijakan, pelaksanaan koordinasi, monitoring dan evaluasi,
dan pembinaan administrasi bidang pengelolaan layanan pengadaan secara elektronik
yang meliputi pengelolaan seluruh sistem informasi pengadaan barang/ jasa dan
infrastrukturnya, pelaksanaan registrasi dan verifikasi pengguna seluruh sistem informasi
pengadaan barang/ jasa, pengembangan sistem informasi yang dibutuhkan oleh
pemangku kepentingan, pelayanan informasi pengadaan barang/ jasa pemerintah kepada
masyarakat luas, pengelolaan informasi kontrak, mengumpulkan dan
mendokumentasikan data barang/ jasa hasil pengadaan, mengelola informasi manajemen
barang/ jasa hasil pengadaan.

Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menyentuh hampir semua bidang
mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan hingga pertahanan dan keamanan. Teknologi
informasi dan komunikasisebagai salah satu unsur strategis dalam mendukung
penyelenggaraan pertahanan dan keamanan sudah selayaknya mendapatkan perhatian
lebih. Perangkat telekomunikasi yang digunakan untuk bertukar informasi harus dapat
dijamin keamanannya dan tidak ada celah kebocoran yang menyebabkan informasi dapat
dicuri atau disadap.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 2

Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan bidang TIK yang terkait standarisasi
keamanan perangkat LPSE agar fungsi dan kegunaan perangkat yang digunakan pada LPSE
Kabupaten Wonogiri dapat dipertanggungjawabkan terutama untuk menjamin keamanan
informasi yang dipertukarkan melalui perangkat tersebut sehingga keakuratan informasi
yang dipertukarkan tetap terjamin validitas dan kerahasiaannya.

Laporan Pengelolaan Keamanan Perangkat LPSE Kabupaten Wonogiri Tahun
Anggaran 2020 merupakan manajemen pengamanan aset perangkat LPSE dalam
mengelola perlindungan keamanan yang memadai akan aset perangkat LPSE dan
memastikan bahwa aset perangkat LPSE memiliki tingkat perlindungan yang sesuai
dengan kebutuhannya

Sebagai wujud upaya pemerintah dalam menciptakan penyelenggaraan good
governance, diharapkan laporan ini dapat mendukung penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan secara berdayaguna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab.
Pada laporan ini akan diberikan penjabaran terkait permasalahan yang terjadi pada
perangkat LPSE, log akses penggunaan perangkat dan rencana layanan ke depan.

B. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup Pengelolaan Keamanan Perangkat LPSE Kabupaten Wonogiri ini

meliputi kondisi perangkat saat ini, permasalahan dan hambatan perangkat serta
perencanaan perangkat yang akan dilakukan oleh LPSE Kabupaten Wonogiri.

C. KONDISI PERANGKAT LAYANAN
LPSE dalam mengelola perangkat layanan tentunya harus mempertimbangkan

beberapa kondisi yang ada pada perangkat layanan, hal tersebut tentunya mendatangkan
beberapa kebutuhan yang tidak dapat dihindari untuk mempertahankan kinerja
perangkat layanan antara lain adalah biaya pemeliharaan dan jaminan pemeliharaan.

Perangkat Layanan yang saat ini dikelola oleh LPSE Kabupaten Wonogiri antara
lain adalah :

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 3

1. Server LPSE

a. Processor (CPU)
Server LPSE saat ini menggunakan 2 buah mesin Server Lenovo ThinkServer
RD350, server rackmount ini menggunakan 1 buah processor Intel Xeon E5-2620
v3 yang merupakan keluaran kuartal ke 3 tahun 2014.
Server ini mendukung konfigurasi dua prosesor dan dimungkinkan untuk
dilakukan upgrade, namun pada tahun 2021 ini prosesor yang identik dengan
prosesor yang terpasang sudah tidak ditemui di pasaran, mengingat prosesor
tersebut merupakan keluaran tahun 2014. Upgrade prosesor seri tersebut pada
tahun 2021 ini juga kurang bijak mengingat generasinya sudah tertinggal jauh
dengan prosesor keluaran terbaru. Prosesor generasi terbaru menawarkan
performa berkali-kali lipat namun tidak membutuhkan daya yang banyak.

b. Memory (RAM)

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 4

Server ini menggunakan RAM sebesar 32 GB dan penggunaan RAM saat ini sudah
71 % dan hampir 100 % dengan Cache. Tentunya kapasitas ini perlu ditingkatkan
untuk menunjang bertambahnya pengguna aplikasi.

Process manager, menunjukkan penggunaan resource pada aplikasi LPSE yang
berjalan. Terlihat aplikasi memakan hampir 100% RAM dengan cache nya.

RAM saat ini menggunakan DDR 4 ECC dengan kecepatan 1866 Mhz, sedangkan
saat ini kecepatan RAM sudah mencapai 2666 - 3200 Mhz. Selain kapasitas RAM
yang perlu ditingkatkan, performa kecepatan RAM juga perlu ditingkatkan untuk
melayani kebutuhan di masa mendatang.

c. Storage (Harddisk)

Kemudian pada sisi storage, server tersebut menggunakan dua buah Harddisk
Cakram dengan model ST91000640NS dan ST1000NX0423 dengan kecepatan
7200 RPM SATA 3.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 5

Harddisk tersebut memiliki kelemahan yaitu akan terjadi bottleneck atau
lambat jika digunakan untuk pekerjaan baca tulis acak yang intensif (random
read write intensive), hal tersebut tentu berdampak kepada performa aplikasi
yang dijalankan menjadi lambat. Satu tingkat diatas Harddisk tersebut adalah
Harddisk Cakram dengan kecepatan 15000 RPM dengan interface SAS. Namun
hard disk Cakram 15000 RPM masih kalah performa baca tulis acak (random read
write intensive) dibandingkan dengan Solid State Drive (SSD). SSD menawarkan
kecepatan baca tulis acak ribuan kali lebih cepat dibandingkan dengan Hard Disk
SATA maupun SAS 15000 RPM. Selain itu harga SSD sudah murah, setara dengan
SAS 15000 RPM. SSD menawarkan kelebihan lain yaitu tahan getaran dan
goncangan karena tidak ada perangkat mekanikal didalamnya, perlu diingat, data
center penuh dengan getaran yang dihasilkan oleh kipas dan putaran harddisk
cakram. Dapat disimpulkan pilihan terbaik saat ini adalah dengan menggunakan
SSD.

Selain performa yang perlu diupgrade, kapasitas dari harddisk pertama dari total
1 TB sudah digunakan 4 % untuk partisi root dan 69 % untuk partisi home.

Sedangkan harddisk kedua, kapasitas penyimpanan saat ini sudah mencapai 755
GB dari ukuran Harddisk 1 TB. Sehingga sudah saatnya diupgrade.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 6

Hasil pemantauan kesehatan hard disk menunjukan nilai Raw Read Error Rate
yang tinggi, hal ini dikarenakan harddisk cakram masih menggunakan mekanik
yang sensitif terhadap goncangan. Penggunaan Solid State Drive (SSD) akan
mengurangi error karena sudah tidak menggunakan perangkat mekanikal.

d. Remote Management
Fitur Remote Management Modul, atau Intelligent Platform Management
Interface (IPMI) memungkinkan Administrator untuk memantau kondisi
hardware, meremote fisik server (power on, power off, reset), install ulang dari
jarak jauh, dan remote console atau layar dari jarak jauh.
Untuk menggunakan fitur remote management pada server ini, perlu membeli
lisensi tambahan per tahun. Untuk upgrade server sebaiknya menggunakan
server yang sudah include IPMI tanpa tambahan biaya.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 7

e. Powersupply
Server Lenovo RD 350 dengan nomor seri 70d8002wia hanya dilengkapi dengan
1 buah power supply, tanpa fitur redundant power supply atau backup. Fitur
redundant power supply sangat penting pada server dengan data critical,
sehingga apabila terjadi kegagalan powersupply, tidak perlu ada downtime.

2. Komputer Desktop untuk Server
a. Processor
PC Desktop yang digunakan saat ini adalah HP/Compaq dengan seri cq3622l.
Komputer ini menggunakan processor Intel Core i3-2120. Processor ini
merupakan generasi kedua Intel Core keluaran tahun 2011 awal dengan 2 core 4
thread, dan hanya memiliki cache sebesar 3 MB. Sedangkan pada saat ini
prosesor intel sudah mencapai generasi 11, sudah tertinggal 9 generasi atau 9
tahun. Prosesor seri tersebut saat ini sudah tidak memadai untuk menjalankan
aplikasi dan sistem operasi terbaru.

b. Memory (RAM)
RAM dari PC desktop ini hanya 2 GB DDR3 1333 Mhz, Ukuran RAM dan Kapasitas
tersebut sudah sangat kepayahan untuk menjalankan aplikasi sehari-hari.
Kebutuhan RAM ideal untuk penggunaan sehari-hari saat ini adalah 16 GB.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 8

c. Storage
Tentunya media penyimpanan di PC desktop ini adalah Hard disk cakram biasa,
performa jauh masih lambat dibandingkan dengan Solid State Drive (SSD).

d. VGA Card / Graphic Card
PC desktop ini menggunakan internal graphic card Intel HD 2000 dengan memory
hanya 786MB.

e. Sistem Operasi
PC Desktop ini menggunakan Microsoft Windows 7, yang sekarang sudah
dihentikan updatenya. Tidak ada update berarti rawan keamanannya. Jika
menggunakan windows 10, Resource CPU, RAM, dan Harddisk sudah tidak
mumpuni.

3. Personal Computer (PC) untuk Ruang Layanan
PC pada ruangan layanan menggunakan processor Intel Core i3-2120T 32 bit dengan
RAM 2GB . Processor ini merupakan generasi kedua Intel Core keluaran tahun 2011
awal dengan 2 core 4 thread, dan hanya memiliki cache sebesar 3 MB. Sedangkan
pada saat ini prosesor intel sudah mencapai generasi 11, sudah tertinggal 9 generasi
atau 9 tahun. Prosesor seri tersebut saat ini sudah tidak memadai untuk menjalankan
aplikasi dan sistem operasi terbaru.
Pada ruang layanan LPSE, terdapat 6 buah PC dengan spesifikasi tersebut yang terdiri
dari :

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 9

1) PC LPSE001 Hal 10
2) PC LPSE002
3) PC LPSE003
4) PC LPSE004

Laporan Keamanan Perangkat LPSE

5) PC LPSE005
6) PC LPSE006

D. PENGGUNAAN PERANGKAT LAYANAN

Perangkat LPSE saat ini digunakan untuk pelayanan pendampingan implementasi

SPSE dan SiRUP bagi seluruh pengguna se-Kabupaten Wonogiri sebagaimana formulir

penggunaan fasilitas terlampir.

Implementasi penggunaan Sistem Pengadaan Secara Elektronik di lingkungan

Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk paket tender dan non tender dapat digambarkan

melalui tabel sebagai berikut :

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Kabupaten Wonogiri

Melalui Sistem Pengadaan Secara Elektronik (e-procurement)

Tahun 2016 – 2021

No. Tahun Jumlah Jumlah Non Ket.
Tender Tender
12 (Paket) (Paket) 5
1. 2016 4 Paket Non Tender Belum diakomodir SPSE
2. 2017 3 - Paket Non Tender Belum diakomodir SPSE
3. 2018 245 - Paket Non Tender Belum diakomodir SPSE
4. 2019 202 - Paket Non Tender mulai menggunakan SPSE
5. 2020 162 232 Refokusing anggaran
6. 2021 131 178 Data RUP di SiRUP TA. 2021, Paket Non
83 6.922 Tender termasuk Pencatatan Non Tender
180

Jumlah Total 1.003 7.332

Sumber : www.lpse.wonogirikab.go.id & www.sirup.lkpp.go.id

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 11

Data tabel di atas masih ditambah dengan paket-paket dan kegiatan yang berkaitan
dengan pengadaan secara elektronik lainnya yang dalam prakteknya saling terintegrasi
melalui aplikasi SPSE, seperti : pencatatan non tender, pencatatan swakelola,
penginputan dan pengumuman Rencana Umum Pengadaan (RUP) melalui aplikasi SiRUP,
pengadaan dengan sistem e-purchasing melalui e-katalog, dan lainnya.

Selain pemrosesan pengadaan secara elektronik, aplikasi SPSE juga melakukan
proses pengaktifan dan penyimpanan data akun para pelaku pengadaan seperti: PPK,
Pokja Pemilihan, Pejabat Pengadaan, termasuk pelaku usaha/penyedia barang/jasa.

Dari data-data di atas, menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap aplikasi SPSE ini
akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan
akan penggunaan aplikasi SPSE ini dan dalam rangka mengikuti perubahan regulasi,
lingkungan, kebutuhan instansi dan terutama perubahan teknologi informasi yang
semakin berkembang, tentunya harus didukung dengan infrastruktur teknologi informasi
yang memadai berupa server dan perangkat pendukung yang terkini yang mempunyai
kemampuan menyimpan data secara elektronik dengan lebih baik dan mendukung
penggunaan aplikasi SPSE dengan proses yang lebih cepat.

Perangkat data pada ruang server saat ini menggunakan sistem co-location pada
Dinas Kominfo Kabupaten Wonogiri dengan kondisi terakhir sebagai berikut :
1. Processor (CPU)

Server LPSE yang saat ini ada menggunakan 2 buah mesin Server Lenovo Think
Server RD350, server rackmount ini menggunakan 1 buah processor Intel Xeon E5-
2620 v3 yang merupakan keluaran kuartal ke-3 tahun 2014.

Server ini mendukung konfigurasi dua prosesor dan dimungkinkan untuk
dilakukan upgrade, namun pada tahun 2021 ini prosesor yang identik dengan
prosesor yang terpasang sudah tidak ditemui di pasaran, mengingat prosesor
tersebut merupakan keluaran tahun 2014. Upgrade prosesor seri tersebut pada
tahun 2021 ini juga kurang bijak mengingat generasinya sudah tertinggal jauh dengan
prosesor keluaran terbaru. Prosesor generasi terbaru menawarkan performa berkali-
kali lipat namun tidak membutuhkan daya yang banyak.

2. Memori (RAM)
Server ini menggunakan RAM sebesar 32 GB dan penggunaan RAM saat ini

sudah 71% dan hampir 100% dengan Cache. Tentunya kapasitas ini perlu ditingkatkan
untuk menunjang bertambahnya pengguna aplikasi. Apabila dilihat dari process

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 12

manager, menunjukkan penggunaan resource pada aplikasi SPSE yang
berjalan,terlihat aplikasi memakan hampir 100% RAM dengan cache nya.

RAM saat ini menggunakan DDR 4 ECC dengan kecepatan 1866 Mhz, sedangkan
saat ini kecepatan RAM sudah mencapai 2666 - 3200 Mhz. Selain kapasitas RAM yang
perlu ditingkatkan, performa kecepatan RAM juga perlu ditingkatkan untuk melayani
kebutuhan di masa mendatang.

3. Storage (Hard Disk)
Kemudian pada sisi storage, server tersebut menggunakan dua buah Hard disk

Cakram dengan model ST91000640NS dan ST1000NX0423 dengan kecepatan 7200
RPM SATA 3.

Hard disk tersebut memiliki kelemahan yaitu akan terjadi bottleneck atau
lambat jika digunakan untuk pekerjaan baca tulis acak yang intensif (random read
write intensive), hal tersebut tentu berdampak kepada performa aplikasi yang
dijalankan menjadi lambat. Satu tingkat di atas Hard disk tersebut adalah Hard disk
Cakram dengan kecepatan 15000 RPM dengan interface SAS. Namun hard disk
Cakram 15000 RPM masih kalah performa baca tulis acak (random read write
intensive) dibandingkan dengan Solid State Drive (SSD). SSD menawarkan kecepatan
baca tulis acak ribuan kali lebih cepat dibandingkan dengan Hard Disk SATA maupun
SAS 15000 RPM. Selain itu harga SSD sudah murah, setara dengan SAS 15000 RPM.
SSD menawarkan kelebihan lain yaitu tahan getaran dan goncangan karena tidak ada
perangkat mekanikal di dalamnya, perlu diingat data center penuh dengan getaran
yang dihasilkan oleh kipas dan putaran hard disk cakram. Dapat disimpulkan pilihan
terbaik saat ini adalah dengan menggunakan SSD. Selain performa yang perlu di-
upgrade, kapasitas dari hard disk pertama dari total 1 TB sudah digunakan 4% untuk
partisi root dan 69% untuk partisi home.

Sedangkan hard disk kedua, kapasitas penyimpanan saat ini sudah mencapai
755 GB dari ukuran Harddisk 1 TB. Sehingga sudah saatnya di-upgrade. Hasil
pemantauan kesehatan hard disk menunjukan nilai Raw Read Error Rate yang tinggi,
hal ini dikarenakan hard disk cakram masih menggunakan mekanik yang sensitif
terhadap goncangan. Penggunaan Solid State Drive (SSD) akan mengurangi error
karena sudah tidak menggunakan perangkat mekanikal.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 13

4. Remote Management
Poin selanjutnya yang menjadi alasan perlunya upgrade server adalah

dibutuhkannya fitur Remote Management Modul, atau Intelligent Platform
Management Interface (IPMI). Fitur ini memungkinkan Administrator untuk
memantau kondisi hardware, meremote fisik server (power on, power off, reset),
install ulang dari jarak jauh, dan remote console atau layar dari jarak jauh.

Untuk menggunakan fitur remote management pada server ini, perlu membeli
lisensi tambahan per tahun. Untuk upgrade server sebaiknya menggunakan server
yang sudah include IPMI tanpa tambahan biaya.

5. Power Supply
Server Lenovo RD 350 dengan nomor seri 70d8002wia hanya dilengkapi dengan

1 buah power supply, tanpa fitur redundant power supply atau backup. Fitur
redundant power supply sangat penting pada server dengan data critical, sehingga
apabila terjadi kegagalan power supply, tidak perlu ada downtime.

6. Uninterruptible Power Supply (UPS)
UPS merupakan salah satu perangkat untuk dapat memberikan suplai daya

yang tidak terganggu sebagai penunjang server yang sangat penting agar aplikasi SPSE
tetap dapat diakses untuk sementara waktu dalam kondisi tanpa listrik. UPS
merupakan sistem penyedia daya listrik yang sangat penting dan diperlukan sekaligus
dijadikan sebagai benteng dari kegagalan daya serta kerusakan sistem dan hardware.
UPS akan menjadi sistem yang sangat penting dan sangat diperlukan pada server LPSE
untuk menjamin keberlangsungan aplikasi SPSE agar tidak terganggu. Sedangkan
untuk kondisi UPS yang digunakan pada server LPSE saat ini dirasa sudah mengalami
penurunan performa sehingga sangat layak juga disarankan untuk diganti.

E. PEMELIHARAAN PERANGKAT LAYANAN
Pemeliharaan perangkat LPSE dalam hal ini yaitu server adalah bagian dari

manajemen server yang dilakukan agar sebuah server dapat bekerja dengan seefisien
mungkin dan dapat bekerja dengan baik tanpa adanya masalah yang memungkinkan
terjadinya sebuah server gagal berfungsi (down) atau terganggu kinerjanya.

Dalam manajemen server ada beberapa hal yang perlu diketahui diantaranya
adalah: perangkat (hardware) jaringan apa saja yang digunakan, arsitektur (topology /
design) jaringan komputer yang dipilih beserta kelemahan dan kelebihannya serta layanan

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 14

apa saja yang digunakan oleh server yang ingin di kelola (management). Tanpa adanya
informasi-informasi tersebut seorang admin sistem LPSE akan kesulitan dalam
mengelolanya.

Di dalam sebuah server semua perangkat seperti system operasi, hardware, aplikasi
dan jaringan merupakan elemen yang sangat penting dan mutlak harus ada, karena tanpa
adanya salah satu dari komponen tersebut maka server tidak akan dapat bekerja. Sebuah
server yang sudah dikelola (manajemen) dengan baik dan benar, termasuk aplikasi dan
Sistem operasinya, tetapi tidak ada jaringan yang menghubungkan antara komputer dan
client, maka server tersebut tidak akan dapat melayani client karena tidak ada perangkat
komunikasi diantara keduanya.

Pemeliharaan server yang dilakukan oleh admin sistem LPSE secara rutin dilakukan
sedikitnya 1 bulan 1 kali terdiri dari beberapa tahap persiapan sebagai berikut :
1. Persiapan SDM
2. Persiapan dokumen pemeriksaan.
3. Persiapan Komponen hardware pengganti

Pemeriksaan rutin yang dilakukan terhadap server harus memenuhi syarat
keamanan sebagai berikut :
1. Indikator power harus dalam keadaan normal
2. Indikator kerja HDD (blinking)
4. Kondisi dan kecepatan cooler fan
5. Panas processor maksimal 70oC
6. Utilisasi Processor maksimal 80%
7. Utilisasi HDD maksimum 80%
8. Uitlisasi memory maksimum 80%

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam mengelola sebuah server diantaranya
adalah :
1. Server Monitoring

a. Memastikan bahwa DNS Server telah tersetting sebagaimana mestinya.
b. Mengawasi server apakah berfungsi dengan baik atau tidak.
c. Mengelola log server dan menganalisa trafik terhadap server dalam bentuk

laporan berkala.
2. Server Management

a. Mengatur struktur direktori di server.
b. Bertanggungjawab terhadap konfigurasi server baik dari sisi keamanan maupun

fitur-fitur (modul) yang perlu di sediakan.

Laporan Keamanan Perangkat LPSE Hal 15










Click to View FlipBook Version