The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kartina pandiangan, 2023-03-08 04:46:09

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

Keywords: Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

1 2 Fact Feelings Findings Future 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal) PENUTUP Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis Kesadaran Penuh (Mindfulness Based Social Emotional Learning) dan Well Being adalah pembelajaran yang dilaksanakan secaara kolaboratif di sekolah dengan kesadaran penuh dalam kondisi sehat nyaman dan bahagia. Mindfulness and well-being dapat dicapai dengan menerapkan latihan pernapasan STOP. PSE terdiri dari 5 KSE yakni, kesadaran diri,manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Menggunakan 3 teknik penerapan yaitu, rutin, terintegrasi dengan mata pelajaran, dan protokol. Kartina Pandiangan,S.Pd. CGP A7 Mandailing Natal REFERENSI: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - Model Refleksi Dwimingguan Calon Guru Penggerak - Pendidikan Guru Penggerak, April 2022. Dalam menerapkan pembelajaran Sosial Emosional (PSE) ini menggunakan tiga teknik, yaitu: Rutin, Terintegrasi dalam mata pelajaran, dan Protokol. Penerapan PSE secara rutin di sekolah dimasukkan dalam jadwal rutin yang dilakukan di sekolah, seperti apa yang telah dicapai murid selama pembelajaran berlangsung. Penerapan PSE secara terintegrasi dengan mata pelajaran dihubungkan dengan penyelesaiaan kasus-kasus yang dialami oleh murid di kelas, di rumah atau di lingkungan sekitarnya. Sedangkan untuk penerapan PSE dalam lingkup protokol dapat diimlementasikan dalam bentuk tatatertib sekolah. Ibu Nurhayani, S.Pd. Fasilitator IBu Rina Youlinda Nurdina, S.Pd. Pangajar PRaktek DOKUMENTASI Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional M Plannng Implementasion odel : 4F FACTS (PERISTIWA): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? FEELINGS (PERASAAN): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut. 1FINDINGS (PEMBELAJARAN): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? FUTURE (PENERAPAN): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? Seperti biasa pada modul-modul sebelumnya tetap menggunakan alur belajar yang disingkat dengan akronim MERDEKA, terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata. Setelah alur belajar ini sampai pada Aksi Nyata, terlebih dahulu menyusun Modul Ajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Sosial Emosional di kelas. Memang sebelumnya dalam PBM tidak selalu menerapkan strategi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), karena saya beranggapan bahwa ini bukan materi pokok dan tidak terlalu penting. Ternyata pembelajaran ini sangat penting dan berguna, bukan hanya bagi guru dan murid, tetapi juga bagi komunitas sekolah. Pembelajaran Sosial dan Emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif bagi seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi sebenarnya memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. PSE berbasis kesadaran penuh (Mindfulness Sosial Emotional Learning) dan Well Being merupakan latihan kesadaran penuh dalam kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Dalam PSE melahirkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yaitu; Kesadaran diri, Pengelolaan diri, Kesadaran sosial, Keterampilan relasi, dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab. Hal baik yang diperoleh dalam penerapan strategi Pembelajaran Sosial Emosional dalam berbasis kesadaran penuh dan kondisi nyaman sehat dan bahagia (mindfulness and wellbeing) di kelas sangat menarik dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Saya berharap dalam menghadapi murid di kelas dalam bentuk beranekaragam dan rupa. Murid yang saya hadapi beraneka ragam dan saya hanya mau memperlakukan dalam satu model dan ragam saja. Ada murid ditemukan di kelas, indisipliner, belum duduk dengan tenang, sudah ada anak yang melapor ini dan itu, ada yang minta izin, ada yang tidak punya ini dan itu, ada yang belum sarapan, dan lain sebagainya kejadian yang dihadapi. Kalau tidak ada kesadaran penuh yang dimiliki, maka emosi ini akan membuncah sampai ke ubungubung. Saya memncoba mempraktikkan latihan dengan berkesadaran penuh (mindfulness) yaitu STOP (Stop (Berhenti), Take a Deep Breathe (Tarik Napas Dalam), Observe (Amati), Proceed (Lanjutkan)). Puji Syukur sangat dahsyat luar biasa, bisa meredam emosi negative dan rileks kembali. Untung sekali adanya Pembelajaran Sosial Emosional, berkesadaran penuh dan Well-being ini. Saya sedikit lebih nyaman dalam proses belajar mengajar, kenapa sedikit, karena tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kebiasaan perlu diubah dengan kebiasaan, saya masih butuh waktu lebih lagi untuk dapat mengontrol emosi saya setiap saat. Terkadang masih mau terbawa suasana yang melelahkan sepanjang hari. Masih belum terlalu mudah untuk berubah dari kebiasaan yang lama. Situasi kelas yang belum terkelola seperti apa yang diharapkan dalam pembelajaran berdiferensiasi, serta pembelajaran sosial emosional belum begitu matang dan maksimal untuk diterapkan. Memang memerlukan waktu dan kondisi kelas yang terkelola secara kolaborasi oleh seluruh warga sekolah. Waktu di kelas berkisar 3 x 35 menit dalam satu pertemuan, bukan hal yang mengenakkan bagi murid. Perlu diselingi ice breaking dan pengelolaan kelas yang lebih menarik. Tetapi kondisi saya agak segar dan lebih nyaman dan selalu ingin menerapkan ilmu PSE berkesadaran penuh dan well-being dengan menuai hasil yang menyenangkan hati. Pelajaran yang berharga bagi diri saya, Puji syukur dapat mengendalikan emosi (kesadaran diri), saya lebih memahami kekuatan dan kelemahan diri saya, saya harus banyak belajar dan membangun kepercayaan diri. Saya harus mampu mengelola marah, benci, jengkel, pada murid saya dengan tingkahnya yang beranekaragam(manajemen diri). Saya sudah faham tentang adanya perbedaan di antara murid-murid tetapi saya belum berempati dan belum menghargai perbedaan itu (kesadaran sosial). Saya pernah mendapati murid menangis di dalam kelas dan saya membujuknya sudah terlalu lama, kalau saya menangani kasus ini, maka PBM kurang maksimal akan berlangsung dengan efektif, maka saya meminta bantuan guru Piket untuk mengatasi murid tersebut dan kalua ada masalah yang saya temukan dan sulit untuk menemukan pemecahannya, saya aka minta solusi dari permasalahan yang saya hadapi. (Keterampilan relasi). Pembelajaran ini masih individu sentris pada guru, walaupun ada beberapa point telah diterapkan pada murid, seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi (berdoa sebelum belajar, salam, bernyanyi, disiplin, berdiskusi, menjaga kebersihan, menghargai pendapat orang lain, rasa ingin tahu, bahkan dapat melaksanakan kewajiban dengan baik). Semua harus mampu saya lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab baik di kelas, sekolah maupun komunitas dan keluarga. (Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab).


Click to View FlipBook Version